I Want to Say…(Chapter 3)

Judul: I Want To Say…
Author: Kim & Rachelmin
Cast: Find it by yourself
Summary: ‘Aku hanya ingin berkata, aku tahu siapa dia…’
Warning: Character death, Thriller scene, Author menetukan cast berdasarkan undian, harap maklum.

NO PLAGIAT NO BASH!! YANG PLAGIAT SAYA SUMPAHIN JOMBLO!!
(Sorry for typo! It’s not me again!)

Happy reading!

Chapter 3

Someone >β–Ό<

Aku berjalan memasuki ruang direktur perusahaan tempatku bekerja. Baru-baru ini salah satu pimpinan perusahaan meninggal dunia. Kantor diliburkan karena sedang dalam masa berkabung. Banyak yang sedih atas meninggalnya direktur muda itu, karena dia cukup disayang oleh karyawannya.

"Oh, kau ternyata, ada apa?" Tanya Tn. Kim, ayah dari direktur muda itu, dan juga pemilik perusahaan ini. Aku hanya tersenyum, lalu sedikit membungkuk sebelum masuk.

"Saya baru dengar kabarnya, jadi, benar, Sajangnim meninggal?" Tanyaku dengan raut wajah yang langsung berubah. Raut wajah Tn. Kim langsung berubah sedih.

"Ya, dia dan adiknya diserang penjahat saat dalam perjalanan," jawab Tn. Kim. Aku hanya mengangguk-angguk mengerti.

"Lalu bagaimana keadaan Chohyun aghassi?" Tanyaku. Bagaimanapun juga aku harus tahu keadaannya.

"Hah… keadaannya buruk. Dia mengalami amnesia ringan dan pita suaranya putus." Kata Daepyonim dengan wajah sedih. ‘Bagus!’ Batinku sambil menyeringai.

“Daepyonim, aku punya berita penting untukmu,” kataku sambil merangkul bahunya. Daepyonim memandangku bingung.

“Berita apa?” Tanyanya bingung. Kulihat alisnya berkerut dan wajahnya heran.

“Ini berita menarik,” kataku berputar di belakangnya. Daepyonin menautkan alisnya. Ah… haruskah aku memanggilnya ‘tua bangka’?

“Aku yang membunuh anakmu!” Bisikku di telinganya. Seketika wajahnya terlihat kaget, dan matanya membesar karena shock.

“K-kau!” Teriak Daepyonim sambil menunjukku. Salah satu tangannya mencengkram dada kirinya. Napasnya mulai pendek-pendek. Ia mulai mengobrak-abrik mejanya, mencari sesuatu. Dengan santainya aku mengeluarkan sebuah botol kecil dari saku jasku.

“Mencari ini?” Tanyaku sambil menampakkan senyuman jahat. Dia menatap obat jantung di tanganku.

“Biadab kau!” Pekiknya marah. Dia mengerang kesakitan lalu jatuh terduduk.

‘Matilah kau, Pak tua!’ Batinku sambil menatapnya yang sudah terbaring sambil mengerang kesakitan di lantai.

Normal >β–‘<

Chohyun berlari di koridor rumah sakit. Tao dan Yongwoo mengikuti di belakangnya. Begitu mereka sampai di depan ICU, Chohyun melihat ibunya, Luhan, dan Kris berdiri dengan gelisah di depan pintu ICU. Mereka semua kelihatan kacau dan gelisah.

"Sebenarnya apa yang terjadi? Daepyonim gwenchana yo?" Tanya Tao kepada Kris.

"Aku tadi menemukan ayahmu tergeletak di dalam ruangannya dalam keadaan pingsan," kata Luhan kepada Chohyun.

‘Yang nanya siapa, yang ditanya siapa, yang jawab siapa, yang dikasih tahu siapa,’ batin Yongwoo sambil memutar bola matanya malas.

Pintu ICU terbuka menampakkan seorang lelaki paruh baya. Matanya mengamati orang-orang yang berada di situ satu persatu. Wajahnya kelihatan serius.

“Bagaimana keadaannya, dok?” Tanya Ny. Kim cemas. Dia sangat khawatir dengan keadaan suaminya.

“Apa ada nona Chohyun di sini? Pasien terus memanggil nona Chohyun.” Kata sang dokter. Chohyun melangkah mendekati dokter itu, kemudian memberikan isyarat bahwa dia adalah Chohyun.

“Pasien terus memanggil nama anda, sepertinya beliau ingin bertemu dengan anda,” kata dokter.

Chohyun mengangguk singkat, kemudian mengikuti dokter masuk ke dalam ruang ICU. Begitu ia masuk, ia melihat ayahnya yang terbaring lemah. Chohyun langsung berjalan ke sisi ranjang ayahnya, kemudian menyentuh tangannya pelan. Begitu Tn. Kim merasakan keberadaan Chohyun di sampingnya, ia menggenggam tangan Chohyun, dan menatap matanya.

“Chohyun-ah! Tatto kupu-kupu hitam! Dia… Akh!!” Tiba-tiba tubuh Tn. Kim kejang-kejang. Dokter yang berada di dalam ruangan tersebut langsung bertindak dan menyuruh Chohyun keluar, sementara beberapa suster langsung masuk ke dalam ruangan itu dan membantu dokter tadi. Chohyun pun keluar dengan wajah panik dan air matanya menggenang di pelupuk mata.

“Ada apa?! Kenapa?!” Tanya Ny. Kim dengan wajah khawatir. Chohyun hanya menggeleng pelan dan menunduk.

Tidak lama kemudian dokter keluar dengan wajah kacau. Dia mengusap wajahnya kasar. Wajahnya sedih dan suram. Ia memandangi orang-orang yang memandangnya penuh harap di hadapannya satu persatu. Sang dokterpun menghela napasnya berat.

“Maaf, saya sudah berusaha sebisa saya, tapi saya tidak bisa menyelamatkannya.” Kata dokter dengan sedih. Ny. Kim jatuh terduduk dan menangis tersedu-sedu. Chohyun berdiri terpaku. Pipinya sudah dibasahi air mata. Tiba-tiba Ny. Kim bangkit dan dengan tatapan kosong dia berjalan ke depan Chohyun. Tangannya mencengkram bahu Chohyun dengan kencang.

“Ini semua gara-gara kamu!! Anakku mati gara-gara kamu!! Suamiku mati gara-gara kamu!! Dasar anak sialan!! Dasar PEMBUNUH!!!” Jerit Ny. Kim histeris sambil mengguncang-guncangkan bahu Chohyun.

‘Eomma..!’ Batin Chohyun sedih sambil menangis terisak. Kris yang melihatnya langsung menarik Ny. Kim dan menenangkannya. Sedangkan Chohyun ditarik Tao dan Yongwoo.

“Tao! Yongwoo! Bawa Chohyun pergi!” Perintah Luhan. Tao mengangguk dan menarik Chohyun pergi bersama Yongwoo. Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang menyeringai.
.
.
.
.
.
.
.
.

Awan kelabu menggantung di langit. Seakan langit ikut berkabung, hujan turun membasahi bumi. Terlihat seorang gadis yang dibalut hanbok hitam. Mata gadis itu hanya bisa menatap kosong saat abu ayahnya dikebumikan. Dilihatnya ibunya yang menangis histeris sambil memeluk nisan ayahnya. Chohyun sudah tidak bisa menangis lagi. Bahkan rasanya untuk sekedar menitikkan air matanya ia sudah tidak sanggup lagi.

Chohyun memandangi ibunya yang sekarang sedang ditarik paksa oleh bibi-bibinya. Sepeninggalan ibunya, Chohyun berjalan menuju nisan ayahnya dan mengusapnya pelan. Kemudian beralih kesebelah nisan ayahnya dimana nisan kakaknya berada. Kemudian ia berdiri. Seketika kilat matanya berubah.

Aku akan mengungkap semuanya! Demi oppa, demi appa, gak boleh ada yang mati lagi sehabis ini. Cukup appa yang terakhir! Batinnya sambil meninggalkan pemakaman.

Chapter 3 end.

Ok! Ini saya! Bkn author gila kemaren! Dia sudah saya usir ditengah penulisan chapter ini. Dan saya melanjutkan penulisan. Jadi sekarang saya ada di sini. Ok jgn lupa, sebelum backpage ini, silahkan R.C.L! Comment yang banyak biar ff ini cepet update! Baiklah sampai jumpa di chapter selanjutnya! Salam EXO L!

A. Min: AAAAARGH!!! GUE DIUSIR!!! BELOM SELESE JUGA PADAHAL!!!
Tao: Berisik! /ngebuang A. Min ke rawa-rawa/

N.b : kemungkinan chap dpn akan dipassword, yang mau nanya passwordnya kirim emailku aja : yasmin.novandi@gmail.com, akan kukasih password sama yg udh comment~

10 tanggapan untuk “I Want to Say…(Chapter 3)”

  1. sedih bgt.. ayahnya juga meninggal 😦 org yg bertatto kupu” hitam itu ciri” pembunuhnya ya?
    Next chapter~~

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s