Everything Has Changed (Chapter 17)

Everything Has Changed

Everything Has Changed

[ Chapter 17 | Romance, School life | General ]
with Kim Jongin,
Oh Sehun,
and OC Jung Yunhee as the main cast

by

Eunike

[ I own the story and art. ]

Series : Prolog + Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 |  Chapter 5 |  Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8 | Chapter 9 | Chapter 10 | Chapter 11 | Chapter 12 | Chapter 13 | Chapter 14 | Chapter 15 | Chapter 16 | Chapter 17

***

“Mungkin perasaan kita hanya ilusi. Sebagai pelarian dari ketidakterimaan atas kenyataan yang tidak sesuai harapan.”

“Lantas jika ini hanya ilusi, kenapa di sini rasanya sakit sekali?”

***

Previous chapter:

Yunhee baru saja  keluar dari rumah sakit dan mengajak Sehun untuk bertemu untuk meminta maaf atas perkataan kasarnya kemarin. Ternyata Sehun memiliki rencana lain dan mengajak Yunhee untuk pergi bersama, dan gadis itu menyetujuinya.

Mereka sempat mengobrol sejenak di kedai es krim untuk membahas masa lalu Sehun. Setelah itu, mereka mampir ke taman bermain dan memutuskan untuk menghabiskan hari dengan bersenang-senang; seakan untuk melupakan masalah mereka barang sejenak.

***

Mana yang lebih buruk; kabur dari realita atau membiarkan dirimu jatuh terpelanting ketika kenyataan memupuskan harapanmu? Kedunya sama saja. Sama-sama menghancurkan; sama-sama menyesakkan relung hati; seakan menghimpit dadamu dengan beban ribuan ton.

Sakit. Pilu. Menyesakkan. Bahkan waktu terkadang tak mampu mengobati.

Dan Yunhee sadar jelas; masalah yang menghadangnya akan terus berdiri di sana dan menunggu dirinya untuk menyerah pada takdir.

“Sehun-ah,” panggilnya seraya berusaha tersenyum, dengan mata menatap komidi putar dan lampu-lampu yang menyala menemani senja di ujung langit.

Sehun memutar kepalanya untuk menatap Yunhee dan tersenyum tipis. “Hm?”

“Kita akan menginap di mana nanti?” tanya gadis itu. Sebelah tangannya membuka bungkus cokelat batang yang baru saja didapat Sehun dari kedai di dekat sana.

“Aku tahu salah satu tempat penginapan di dekat sini. Tidak terlalu buruk, walau kualitasnya masih di bawah apartemen kita dulu.”

“Tidak masalah. Kita menginap di sana saja.”

“Kau yakin?”

Yunhee menggigit cokelatnya dan beralih untuk menatap Sehun. “Memangnya kenapa? Aku tidak masalah, asal tidak dipenuhi serangga dan atapnya aman.”

Laki-laki itu refleks terkekeh lalu berujar dengan pelan, “Tapi hanya ada satu kamar.”

“APA?”

Nah. Sehun sudah menduga reaksi berlebihan dari Yunhee yang seperti itu. Untung tubuhnya sudah otomatis untuk meminggir sedikit ke samping sebelum telinganya berubah tuli hanya dalam hitungan detik.

“Apanya yang apa? Aku tidak suka mengulang kalimat, kau tahu,” sahut Sehun santai. Menurutnya, tidur di satu kamar bukan masalah besar. Lagi pula ia tidak berniat melakukan yang macam-macam, Demi Tuhan. Ia masih tahu batas wajar.

“Kita cari penginapan lain,” tandas Yunhee tegas. Ia menggigit cokelatnya lagi, kali ini dengan gusar dan disahut tawa dari Sehun.

“Jangan sok begitu. Waktu itu ‘kan kita juga pernah tidur seapartemen. Apanya yang jadi masalah sih?”

Kontan Yunhee memukul bahu laki-laki itu dengan pipi memanas―mungkin sudah semerah tomat. Entah kenapa kejadian itu masih melekat jelas di benaknya, dan tiba-tiba disusul dengan insiden di bus.

“Itu ‘kan tidak senagaja!” Yunhee berseru kesal. Tangannya sudah siap untuk memukuli bahu Sehun lagi.

Ya! Ya! Ya! Berhenti dulu―aduh. Apanya yang tidak sengaja? Kau sendiri yang sengaja tidur di sofaku, masa seperti itu bisa dibilang tidak senagaja? Hei, berhenti memukul!”

“Siapa suruh menyuruh masuk!”

“Siapa suruh kau menurut?”

Skak mat. Yunhee mengatup bibirnya rapat-rapat, tidak tahu harus membalas apa. Sepertinya kali ini Sehun berhasil membalas dendam dengan berbagai argumen yang sebelumnya dimenangkan oleh Yunhee.

Gadis itu lantas melejitkan bahunya dan bersender ke kursi yang mereka duduki; berpura-pura santai kendati dalam hati ia sedang memikirkan cara untuk membalas. “Tetap saja kau yang salah,” kekeuhnya keras kepala.

Sehun terkekeh pelan. “Kenapa aku yang salah di saat kau yang tidur di sana? Harusnya kau berterimakasih atas kebaikan hatiku untuk tidak membangunkanmu dan menyeretmu keluar.”

“Kau. Tetap. Salah,” tandasnya.

“Dasar keras kepala. Kalau kalah, ya kalah saja. Jangan maksa begini,” ejek Sehun geli seraya menertawakan wajah Yunhee yang benar-benar kelihatan kalah telak.

Akhirnya, tidak ada cara lain. Yunhee menarik napas lalu beralih untuk menatap Sehun dengan intens; seakan mencoba merampas perhatian laki-laki itu seratus persen untuk  terarah padanya. “Sehun, kau tahu tidak fakta terpenting yang ada sekarang?”

Sehun mengedipkan matanya; sedikit terkejut dengan perubahan atmosfir yang dimainkan Yunhee. “Apa?” tanyanya sedikit penasaran.

Yunhee tersenyum misterius untuk mendramatisir situasi. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan lalu berbisik pelan, “Laki-laki itu selalu salah. Jadi―aku menang.”

“Apa-apaan―”

“Skak mat,” putus Yunhee sebelum tertawa keras dan nyaris menjatuhkan cokelat dari genggamannya. Bibirnya hampir saja keram tatkala Sehun hanya menatapnya dengan pandangan datar.

“Apa? Kau tidak terima dengan keunggulanku memenangkan argumen? Hahaha.” Yunhee masih tertawa―antara rasa puas dan mengejek.

Kontan saja, dengan satu kalimat pendek, Sehun memberikan skak mat lain yang langsung membuat Yunhee terdiam dengan pipi dan telinga memanas.

“Ada cokelat di gigimu.”

Shit.

***

Sesuai janjinya tadi siang, kali ini Yunhee yang menraktir makan. Memang, uangnya juga pas-pasan. Tapi setidaknya walau makan di pinggir jalan seperti ini sanggup mengisi perut mereka dan tidak membiarkan mereka mati kelaparan.

Prinsip Yunhee selalu sama; yang penting makan.

“Kau membawa obatmu?” Tiba-tiba Sehun bertanya ketika mereka baru saja memesan makan. Matanya menatap mobil yang berlalu-lalang tidak jauh dari tempat mereka terduduk, dari balik jendela tenda yang menaungi tempat makan sederhana mereka.

Yunhee merogoh kantong jeansnya dan tersenyum lebar, “Bawa.”

“Jangan sampai ketinggalan,” ujar Sehun lagi.

“Ck. Kau jadi terdengar seperti nenek-nenek overprotektif,” balas Yunhee seraya mengembalikan obatnya ke dalam kantong jeans. Matanya mengikuti arah pandang Sehun, lantas tersenyum tipis. “Ramai banget ya.”

“Aku tahu. Aku tidak buta, kalau kau lupa,” sahut Sehun sarkastis seperti biasa. Ia menopangkan dagunya pada sebelah tangan dan berganti untuk menatap Yunhee. Sekilas, gadis itu terlihat baik-baik saja. Sehun tidak mengerti mengapa ia masih bisa tersenyum seperti itu dengan masalah yang jelas-jelas sudah siap menghantamnya kapan saja. Tapi sinar dari kedua bola mata cokelat itu; bersinar begitu sayu dan tidak bisa dipungkiri; Sehun merasa sesak melihat sinar kerapuhan yang bersemanyam di sana.

“Kalau merasa kurang enak badan bilang saja.” Sehun berbicara lagi.

Yunhee menolehkan pandangannya dan menatap Sehun dengan mata memicing. “Tolong, jangan perlakukan aku seperti pasien penyakitan,” tegasnya sedikit menukas.

Sehun hanya mengangkat kedua bahunya dan beralih menatap wanita tua yang sedang menyiapkan makan malam mereka dengan sedikit gelagapan akibat banyaknya pelanggan di malam itu. “Aku hanya takut kau kenapa-napa,” gumamnya agak samar.

Dan kali ini, Yunhee menjawab dengan kekehan pelan. “Aku kuat, kau tahu.”

Terjadi jeda selama beberapa saat. Rasanya begitu senyap, bahkan walau deru mesin mobil dan klakson di ujung jalan sesekali terdengar dan canda-tawa dari mahasiswa di meja sebelah mereka nyatanya sangat berisik. Namun rasanya masih senyap.

Sehun menggeleng pelan sembari menarik kedua bibirnya sedikit ke atas, dan mengucapkan sederet kalimat dengan nada yang tak biasanya; entah kenapa terdengar lembut di telinga Yunhee, kendati menusuknya tepat di hati.

“Jangan berpura-pura tegar. Kita sama-sama sedang hancur.”

Yunhee berkedip beberapa kali dan membiarkan tawa sumbangnya menyahut dengan enggan. “Aku benci mengakui hal ini. Tapi kau benar,” tuturnya sedikit gemetar. “Kita sama-sama sedang hancur―dan berusaha lari dari kenyataan. Apa lagi kesamaan kita selain ini?”

Tidak sampai satu detik, Sehun menjawab dengan tepat. “Kita sama-sama bodoh.”

Gadis itu terkekeh dengan mata berubah sendu. Ia menatap laki-laki di hadapannya dengan begitu intens; dan untuk kedua kalinya dalam sehari, gadis itu mampu mengubah atmosfir mereka dengan mahir. Hanya saja, kali ini ia benar-benar serius.

“Sehun―” panggilnya dengan suara sedikit serak, “―untuk kali ini saja. Di malam ini. Bisakah kita berpura-pura untuk baik-baik saja?”

Pertanyaan itu seakan menghantam dadanya kuat-kuat. Sehun tidak punya pilihan lain. Situasi seperti ini seolah telah mendorong mereka semakin jauh menuju titik di mana pada akhirnya, mereka mau tak mau menerima kenyataan pahit tersebut dan diam-diam berusaha melepas satu sama lain.

“Ya,” jawabnya dengan suara nyaris tercekat di tenggorokan.

***

“Kau tidak bisa menghubunginya?” tanya Nyonya Kim dengan kecemasan yang jelas menggelayuti paras ayunya. Ia menatap Jongin yang jauh lebih cemas.

“Tidak. Aku tidak tahu kemana lagi harus mencarinya,” sahut Jongin putus asa. Dengan helaan napas panjang, ia membanting tubuhnya ke atas kursi dan mengacak rambutnya frustasi. Berbagai kemungkinan sudah hadir di benaknya sejak beberapa saat lalu, dan Jongin tidak peduli kemungkinan mana yang benar, asal Yunhee baik-baik saja.

“Minhee, kau tidak apa-apa?” Nyonya Kim beralih menatap Ibu Yunhee yang hanya bergeming di sofa ruang tamu mereka.

Dengan senyum tenang yang dibuatnya selugas mungkin, dan tangan saling meremat, Ibu Yunhee mencoba menjawab dengan tenang. “Aku yakin dia baik-baik saja.” Walau kenyataannya, hati kecilnya tahu; Yunhee tidak mungkin baik-baik saja.

“Dia pergi bersama si Oh itu?” tanya Jongin mengabaikan lirikkan ibunya yang tajam akibat nadanya yang sedikit ketus.

Singkat, Ibu Yunhee mengangguk membenarkan.

Jongin kontan berdecih. “Si brengsek itu―”

“Jong,” tegur Nyonya Kim mendengar kalimat kasar yang keluar dari mulut anaknya.

Jongin mengacak rambutnya dengan frustasi dan melempar ponsel digenggamannya ke atas meja. Tahu begitu, ia tidak akan repot-repot menelepon sana-sini untuk menanyai keberadaan Yunhee.

Sebab, walau ia benci mengakui hal ini, tapi asal bersama Sehun, Jongin tahu bahwa Yunhee akan baik-baik saja.

Tidak peduli sesakit apa hatinya membayangkan mereka berdua, tapi asal gadis itu baik-baik saja, Jongin merasa baik.

***

Sudah satu jam mereka duduk di sana; sibuk berincang mengenai ini-itu dan menertawakan para pejalan kaki yang memiliki selera berbusana yang aneh.

“Lihat―yang itu!” tunjuk Yunhee ke arah perempuan berambut hijau terang dan baju berwarna cokelat usang. “Aneh sekali gaya rambutnya!”

“Seperti air mancur,” tambah Sehun membenarkan dan tertawa kecil. Ia ganti menunjuk seorang pria berambut cepak yang sedang menunggu bis. “Nah, yang itu tambah aneh.”

“Air mancur ‘kan warna biru. Mana ada warna hijau,” sahut Yunhee tidak mengerti seraya mengikuti arah pandang Sehun. “Menurutku masih lebih aneh perempuan tadi.”

Sehun mengerang tidak setuju. “Yang ini jelas lebih aneh!”

“Ck, kau buta? Mending cepak dibanding wig hijau mentereng!” sahut Yunhee.

“Tahu darimana kalau itu wig? Dasar sok tahu.”

“Kau saja yang tidak tahu. Mana ada rambut sekaku itu.”

“Tahu darimana kalau itu kaku? Kau hanya melihatnya dari radius sepulu meter,” tukas Sehun, kali ini sambil menggeplak pelan kepala Yunhee.

“Aish! Kau tidak berhak memukulku.” Yunhee mendelik tidak terima. Ia menarik napas untuk melontarkan berbait-bait omelan untuk Sehun ketika tiba-tiba matanya menatap sesuatu yang tidak lazim.

“Sehun―” Ia nyaris menggigit bibir bawahnya ketika mengucapkan nama laki-laki itu. Matanya menatap lurus ke depan, tanpa berkedip.

Dan Sehun sepertinya menyadari hal itu.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga det―mereka tidak tahan lagi untuk tidak tertawa terpingkal.

“DIA SUDAH GILA!” jerit Yunhee tidak tahan dan langsung meledak dalam tawa. Matanya memerah dan berair, akibat terlalu semangat.

Tidak jauh beda dengan Sehun, laki-laki itu malah nyaris terjungkal ke belakang begitu otaknya selesai mencerna. Bibirnya keram akibat menahan tawa agar suaranya tidak terlalu mengganggu pelanggan lain.

“Dia benar-benar sinting,” lanjut Yunhee lagi dengan tangan memegangi perut.

“Sst! Jangan keras-kersa, nanti kita diusir―hahaha.” Sehun berusaha mengingatkan gadis itu tapi sepertinya percuma. Yunhee masih memerhatikan pemandangan di depannya dan tertawa semakin keras.

Mungkin hanya mereka yang sadar. Mungkin hanya mereka yang sedang melihat ke arah luar sehingga pelanggan lain hanya menatap mereka dengan tidak mengerti.

Sehun menatap si pria berambut cepak di luar sana; yang kini kepalanya sudah botak plontos lantaran rambutnya―yang ternyata ialah sebuah wig―terbang ditiup angin dan berayun-ayun di udara seperti daun musim gugur yang jatuh dari dahannya.

Perutnya yang tambun dan berlipat membuat mereka semakin geli dan tidak kuasa menahan tawa.

“Kayak badut lari dikejar banteng,” cerocos Yunhee―tidak sadar dengan tatapan pelanggan di sekitar mereka yang sudah berganti dengan tatapan terganggu.

Untung saja Sehun lebih dulu sadar dan langsung menyekap mulut Yunhee untuk berhenti terpingkal. “Sst―diam sebentar,” ujarnya disela-sela usaha menahan tawa.

Yunhee mengangguk menurut dan ikut berusaha menahan tawa.

Inhale, exhale,” gumamnya dengan dahi berkerut samar akibat menahan gejolak tawa yang masih meledak-ledak. “Inhale, exhale.”

BRUK!

Pria tadi tiba-tiba menabrak tiang dengan kepala plontosnya menyeruduk lebih dulu.

Refleks, Yunhee hilang konsentrasinya untuk menahan tawa dan langsung jatuh terpingkal.

Ya! Kalian berdua, keluar!” seru wanita pemilik kedai makanan yang mereka tumpangi.

Mau tidak mau, Sehun menarik tangan Yunhee dengan sisa-sisa tawanya dan berlari keluar. Napasnya tersenggal dan perutnya masih sakit karena tertawa tanpa henti.

“Kita sudah gila,” ujarnya disela tawa dan berjalan tidak tentu arah sambil memegangi perut. Mengabaikan tatapan aneh dari pedestrian di sekitar mereka.

Yunhee masih sibuk tertawa dan bertopang pada lengan Sehun agar tidak jatuh. Ia menepuk bahu laki-laki itu beberapa kali lalu memutuskan untuk menjatuhkan diri ke atas tanah kosong di samping kedai tersebut.

Bau rerumputan di musim gugur lekas menyambut indra penciuman mereka, tapi Yunhee merasa tidak masalah. Tawanya perlahan mereda seiring Sehun yang ikut merebahkan tubuh di samping Yunhee.

“Bintangnya banyak,” gumam gadis itu tiba-tiba.

“Hm.”

Situasi berubah menjadi hening―namun terasa begitu nyaman. Mereka tidak saling bertukar kata selama beberapa menit; sibuk menyelam dengan pikiran masing-masing, seraya menikmat langit bertabur bintang yang menaungi malam mereka bersama dengan samar-samar deru mesin mobil.

Sehun terpaku dengan benak memutar kejadian yang lalu; ketika ia sedang dalam sesi curhat dengan Luhan. Diam-diam, ia terkekeh pelan.

“Hun,” panggil gadis itu tiba-tiba.

Sehun hanya menoleh tanpa menyahut. Matanya langsung bersirobok dengan wajah Yunhee yang kerasan menengadah ke arah langit.

“Ketika kau merasa nyaman dengan keheningan, di saat itulah kau sadar bahwa kau sedang jatuh cinta,” bisik Yunhee tiba-tiba, dengan nada sedikit melantur. “Aku membaca kalimat itu di salah satu novel perpustakaan. Dan sekarang aku baru mengerti mengenai hal itu.”

“Apa maksudmu?” balas Sehun agak ragu, takut-takut mendengar balasan tidak terduga dari Yunhee; yang tampak seperti kantong penuh petasan yang tidak diketahuinya kapan akan dinyalakan dan meledak satu persatu.

Lima detik berlalu, sebelum Yunhee kembali angkat bicara. “Aku jatuh cinta.”

Dan ribuan gejolak perasaan memenuhi dada seorang Oh Sehun, seakan nyaris meledak dengan pengakuan Yunhee berusan. Separuh dari dirinya penasaran dengan siapa gadis itu jatuh cinta, namun sebagian dari dirinya lagi takut dengan jawaban yang akan dilontarkan Yunhee.

Lagi-lagi, dengan ragu, Sehun kembali bertanya, “Dengan siapa?”

Yunhee tersenyum tipis.

“Dengan laki-laki di sampingku.”

Oh Tuhan, Sehun pasti tertidur di suatu tempat dan sedang bermimpi.

***

“Dengan laki-laki di sampingku.” Suara Yunhee mungkin terdengar mencicit, seperti tikus terjepit lemari, atau seperti meja belajar yang keberatan buku sedang digeser. Tapi kalimatnya barusan, ia ucapkan apa adanya.

Sejujurnya ia tidak pernah berencana untuk mengatakan hal itu. Tidak di malam sebelum orangtua mereka bertunangan. Tapi gadis itu sadar, ia tidak punya pilihan lain. Ia tidak tahu kapan dan apakah masih ada kesempatan untuknya mengutarakan perasaan. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini; mungkin saja esok hari mereka tidak lagi sedekat ini. Mungkin saja esok hari mereka tidak memiliki kesempatan untuk berbicara.

Mungkins aja esok hari tidak akan tiba.

Siapa yang tahu?

Dan untuk selanjutnya, ia merasa bersalah dengan Jongin.

“A-Apa?” Suara Sehun terdengar menggagap. Tersirat nada tidak percaya bercampur keterkejutan yang sarat.

Yunhee tersenyum tipis dan membiarkan tubuhnya menyamping ke arah Sehun. “Aku jatuh cinta denganmu. Apakah perasaan ini salah?”

Laki-laki itu berkedip beberapa kali; seakan hendak mengenyahkan Yunhee yang tampak seperti ilusi. Hatinya merasa nyaman untuk beberapa saat, namun berikutnya rasa sesak telak menghantam dadanya; mengingat mereka adalah ketidakmungkinan yang tidak mungkin menjadi nyata.

Sehun menelan ludahnya dengan susah payah dan napas menderu dengan berat. “Tidak. Sama sekali tidak salah,” jawabnya nyaris berbisik. Butuh satu sekon untuknya melanjutkan kalimat dengan bibir gemetar,

“Hanya saja datang di saat yang tidak tepat.”

Dan Yunhee mengakui hal tersebut.

Perasaan ini sudah terlambat, dan mereka tidak bisa apa-apa.

“Percuma ‘kan, jika aku mengatakan bahwa aku juga mencintaimu?” Sehun bertanya dengan kegegaran yang semakin nyata. Matanya memanas, tapi ia tidak mau kelihatan lemah.

Yunhee tersenyum tipis.

Dengan lembut, Sehun menarik tubuhnya mendekat dan menyapukan bibirnya di atas milik Yunhee. Rasanya begitu manis dan lembut, menenangkannya untuk sesaat. Sebelum akhirnya dadanya kembali berdenyut pilu dan sesak memenuhi relung hatinya.

“Mungkin kita memang tidak ditakdirkan bersama,” bisik Yunhee selepas bibirnya bertaut dengan Sehun. Ia menatap laki-laki itu dengan sendu, dan menyentuh pipinya dengan tangan sedingin es. “Mungkin perasaan kita hanya ilusi. Sebagai pelarian dari ketidakterimaan atas kenyataan yang tidak sesuai harapan.”

Sehun menahan tangan Yunhee untuk tetap berada di wajahnya, lantas memejamkan mata dengan bibir terenyum hambar. “Lantas jika perasaan ini hanya ilusi―” ia memindahkan tangan Yunhee untuk menyentuh dadanya, “―kenapa di sini rasanya sakit sekali?”

Setetes air mata tidak mampu ditampungnya lagi. Yunhee menyeka dengan sebelah tangannya yang bebas. Bibirnya tertawa dengan sumbang, sebagai usaha yang gagal untuk mencairkan suasana. “Hari ini rasanya random sekali. Barusan kita tertawa, dan kenapa sekarang rasanya ingin menangis?”

“Bukankah itu yang namanya cinta?”

Yunhee meneguk ludahnya yang menggumpal dengan susah payah dan menarik tangannya dari dada Sehun dengan perlahan. Ia kembali menengadah menatap bintang, setengah hati berharap ada meteor yang jatuh dan menghantam tubuhnya saat itu juga.

“Aku benar-benar mencintaimu, Hun.”

“Aku tahu.”

“Untuk malam ini, kau tidak bisa membalas kata-kataku? Kalau kau juga merasakan hal yang sama?” Yunhee mati-matian menahan air matanya yang mengancam untuk jatuh lagi.

Jarum detik berputar satu kali penuh dan Sehun tak kunjung angkat suara. Ia berusaha menetralkan deru napasnya yang mendadak tidak stabil, dan menjawab dengan suara rendah,

“…Maaf, Yun.”

Saat itu rembulan tengah bersinar temaram, dan sayup-sayup angin musim gugur menemani mereka; dua manusia yang tengah menginjak fase remaja; dengan luka batin yang kembali terkuak oleh mesin waktu.

Tidak bisakkah udara musim gugur membekukan malam ini, sehingga mereka bisa terus berlagak baik-baik saja?

Satu jam berlalu seiring mereka melangkah menuju tempat penginapan. Yunhee berjalan gontai di depan, dengan kepala sesekali menengadah menatap langit; seakan berharap ada bintang jatuh dan ia bisa memanjatkan harapannya untuk menjadi nyata.

Langkah mereka bergaung di sepanjang koridor yang sepi, ditemani gemerincing kunci yang diputar ke samping untuk membuka pintu. Yunhee langsung merebahkan tubuhnya ke atas kasur sedangkan Sehun beranjak ke balkon dan bergeming di sana.

“Kau tidak tidur?” tanya Yunhee dengan suara sedikit serak dari tempatnya.

“Nanti. Kau duluan saja,” sahut Sehun singkat.

Setelah bicara begitu, Sehun hanya melirik Yunhee dari ujung matanya dan membiarkan gadis itu memejamkan mata. Untuk saat ini, ia tidak dalam situasi yang nyaman untuk beristirahat.

***

“Luhan Hyung?” Sehun melekapkan ponselnya ke telinga setelah yakin Yunhee sudah terlelap. Ia menumpukan sebagian beban tubuhnya pada susuran pagar balkon dan menatap jauh ke depan; di mana lampu kota berkelap-kelip di tengah malam menggegap, menemani langit yang menaungi dalam diam.

“Ya! Sehun! Kemana saja kau!” Terdengar nada bicara Luhan yang langsung meninggi di ujung sambungan sana.

Dengan malas, Sehun merengut dan mendengus kesal. “Berisik. Pelankan suaramu.”

“Kau pergi kemana? Kau membawa Yunhee pergi? Kau tahu sendiri kondisi gadis itu belum se―”

“Hyung. Tolong,” Sehun memutus ucapan Luhan dengan nada rendah dan penuh penekanan, “Aku menghubungimu bukan untuk mendapat makian seperti ini.”

“A-Apa? Makian katamu?” Luhan terkekeh sarkastis di ujung sana. “Kau sudah gila! Yunhee bisa saja kenapa-napa di jalan dan kau dengan santainya bilang―”

“Hyung,” selanya lagi. “Aku sudah mengatakan semuanya pada Yunhee.”

Rupanya kalimat tersebut mampu membungkam mulut Luhan yang semula menyerocos. Dengan sedikit terkesiap, terdengar pertanyaan Luhan dari ujung sana dengan agak ragu, “Semuanya?”

Sehun mengangguk kendati ia tahu Luhan tidak bisa melihatnya. “Hm. Semua. Tentang Jiae.”

Luhan menahan napasnya di ujung sana. “Lalu―”

“Dan dia mengatakan kalau ia mencintaiku.”

Hening.

Luhan tidak berkata apa-apa selama lima detik penuh. Terdengar suara gemerisik di ujung sana, tapi Sehun memilih untuk tidak bereaksi apa-apa dan menunggu sahutan dari sobatnya itu.

“Aku tidak percaya―maksudku, dia mengatakannya padamu? Secara langsung?”

“Hm.”

“Dan.. kau mengutarakan perasaanmu juga?”

Kali ini pertanyaan Luhan yang membungkam Sehun.

Butuh beberapa sekon untuk Sehun menetralkan deru napasnya yang mendadak memburu. “Tidak,” jawabnya dengan suara berat.

“A-Apa?!” ―suara gemerisik lagi― “Kenapa? Kau benar-benar tidak melakukannya? Tapi bukankah kau mencintainya juga, Hun?”

Sehun menunduk menatap lampu bangunan di bawahnya yang berkedip-kedip samar, mungkin karena sudah lama tidak diganti bohlamnya. “Ya. Aku.. sangat mencintainya”

“Lantas kenapa?” Luhan masih tidak habis pikir.

Sejenak ia merasa ragu untuk menjawab, namun akhirnya seuntai kalimat itu meluncur juga dari bibirnya. “Bukankah percuma saja? Aku mengatakannya atau tidak, perasaan ini tidak akan berubah, dan aku akan tetap mencintainya… bahkan walau ini adalah perasaan yang tidak seharusnya.” Sehun menarik napas dan menghembuskannya dengan terbata. “Percuma untuknya mengetahui perasaan ini, jika pada akhirnya kita tidak bisa bersama. Bukan begitu?”

“Bodoh.”

“Luhan Hyung―”

“Percuma atau tidak, ia tetap berhak mengetahui perasaanmu,” tandas Luhan dengan tegas. Sampai-sampai Sehun bisa merasakan tatapan tajam dari sobatnya itu, yang langsung menyadarkannya.

Hening lagi selama lima detik.

“Luhan Hyung,” panggilnya dengan pelan.

“Hm?”

“Terimakasih.”

***

Tepat saat ia membalikkan badan, gadis itu ternyata sudah berdiri di sana; di balik pintu balkon dengan tatapan tak terdefinisi. Entah Yunhee sudah mendengar semua percakapannya dengan Luhan atau tidak, Sehun tidak terlalu peduli. Bukankah sekarang mereka masih berlagak untuk baik-baik saja?

Dengan langkah tegas, ia berjalan mendekat dan menarik Yunhee ke dalam rengkuhannya. Tangannya dengan lembut membelai surai cokelatnya dan mencium puncak kepalanya dengan segenap perasaan.

Perlahan, dengan suara lembut yang sarat makna, Sehun berbisik tepat di telinga Yunhee, “Aku mencintaimu.”

Tangan mungil gadis itu balas memeluknya dengan erat. Kepalanya bersandar pada dada bidang milik Sehun; seakan ikut mendengarkan irama konstan yang bedegup di sana.

“Tidurlah,” bisik Yunhee.

Namun Sehun tetap bergeming. “Sebentar lagi.”

Seulas senyum tergaris di bibirnya, dengan sendu namun tulus dan tegas. “Sebentar lagi pagi,” sambung gadis itu.

Sehun membuka pejaman matanya dan melirik jam yang tergantung di dinding samping mereka.

23:59 pm.

Sebentar lagi saatnya untuk kembali menatap realita.

Mereka masing-masing terdiam; tetap merengkuh satu sama lain dengan erat. Enggan kehilangan barang sejenak.

Namun waktu yang berlalu tak bisa diperlambat, dan kini sudah saatnya.

00:01 am.

Rengkuh hangat itu mengendur; diganti dengan sergapan angin malam yang dingin.

Siap atau tidak siap, mereka tetap harus mengakui kenyataan yang ada.

Bahwa hari ini, orangtua mereka bertunangan.

***

Matahari terbit lebih cepat dari dugaannya. Sambil memakai dasi kemeja asal-asalan, Jongin berlari menuju gerbang sekolah dengan peluh yang sudah membasahi pelipisnya.

Beberapa menit lagi bel masuk dan ia tidak mau ketinggalan terlambat dan terpaksa pulang.

Setidaknya, jika di sekolah, ia bisa melupakan masalahnya barang sejenak.

“Jongin! Lari!” Tiba-tiba seruan dari arah belakang memanggilnya. Refleks, Jongin menoleh ke belakang dan disambut dengan sambaran tangan dari Chanyeol yang ternyata juga terlambat.

Dengan sekuat tenaga, Chanyeol menarik tangan Jongin dan berlari ke depan. Napasnya sudah tersenggal dan seragamnya lebih kucel dari Jongin. Namun ia belum patah semangat dan kakinya tetap bergerak cepat untuk mencapai sekolah.

08:00 am.

Mereka sampai dengan selamat. Tumben, dewi fortuna berpihak padanya.

Jongin tertawa lega dan menepuk punggung Chanyeol yang lebih jangkung darinya, lalu berjalan santai ke dalam kelas seraya menetralkan deru napasnya.

“Bagaimana dengan Yunhee?” Chanyeol tiba-tiba bertanya sembari membuka pintu kelas.

“Baik, mungkin,” jawab Jongin singkat. Matanya langsung terarah ke tempat duduk Yunhee yang kosong, lalu berganti menatap meja Sehun. Mereka sama-sama tidak masuk.

Chanyeol yang menyadari arah pandang Jongin lantas menepuk pundak sobatnya. “Mereka berduaan, lagi?”

Jongin melejitkan bahunya; enggan memperpanjang urusan tersebut.

Tepat saat itu, Baekhyun―si rambut mangkuk yang digandrungi para gadis lantaran suaranya yang melena―berlari dari belakang kelas dan melakukan brofist dengan Chanyeol, disusul dengan Jongin.

“Oi, Jong! Mukamu seperti habis disiram air toilet.” Baekhyun terkekeh pelan melihat wajah Jongin yang sedikit pucat dan berkantong mata.

“Diam, bacon,” tukas Jongin sambil melempar tasnya ke atas meja dan menjatuhkan tubuh ke atas kursi.

Chanyeol dan Baekhyun―seperti biasa―bersenda-gurau dan menertawai hal-hal bodoh bersama. Jongin sedang tidak dalam mood untuk bergabung. Ia bahkan tidak minat untuk sekadar memerhatikan obrolan mereka.

Matanya memandang lurus keluar jendela; menatap langit biru yang terlihat cerah.

Apa Yunhee pergi jauh dari sini?

Apa Yunhee juga melihat langit secerah ini?

Jongin melarut dalam pikirannya sendiri sampai tiba-tiba, tanpa sadar, ia berucap, “Apa sahabat memang tidak ditakdirkan untuk bersama?”

Sayup-sayup, suara kelas menjadi hening dan ia merasa sendiri. Berargumen dengan benaknya yang dipenuhi dengan berbagai opsi dari pertanyaannya. Sesungguhnya mau sampai kapan―

PLETAK!

―sebuah spidol papan tulis mendarat tepat di keningnya.

“Kim Jongin! Perhatikan pelajaran!”

“A-Ah! Maaf Songsaenim!”

***

Sekali kau terjerat dengan takdir, maka kau tidak akan mampu berpaling barang sejenak pun.

Kabur? Hanyalah opsi delusi. Kau terlanjur terbelenggu oleh rantai sekuat baja, yang tidak memampukanmu untuk melangkah menjauh dari skenario takdir.

Yunhee menatap kosong plafon di atasnya; yang berwarna putih polos dan membosankan, dengan perasaan berkecamuk.

Sehun―laki-laki itu―berpamit untuk pergi keluar sudah sejak setengah jam yang lalu. Dan belum kembali sampai saat ini. Membuat Yunhee kian tenggelam di batin dan benaknya, dengan satu pertanyaan yang terus terngiang;

inikah akhir dari segalanya?

Sakit. Dadanya berdenyut pilu.

A-Akh―” Dengan gemetar tangannya berusaha meraih tabung yang ia letakkan di atas nakas. Jemarinya kepayahan untuk memutar tutup tabung itu dengan sisa-sisa tenaga.

Terlalu sesak.

Teralu pilu.

Rasanya sulit sekali bernapas.

Sekali lagi, pertanyaan itu melintas di pikirannya;

Benarkah ini akhirnya?

Jika iya, Tuhan, aku ingin mereka bahagia.

Akh!”

―BRUKK!

.

.

.

TBC

.

.

[A/N]: It’s been a longgg timeeee /nyanyi/ /lalu ditampar/. Rasa-rasanya udah lama banget ya, sejak aku terakhir nge-post seri EHC ini. Jadi pertama-tama, aku mau minta maaf atas keterlambatanku buat ngelanjut fanfict ini. Mungkin banyak dari reader yang udah jenuh menunggu dan menyerah, wkwk. Maafkan saya. Sejujurnya, niatku mau ngelanjut ini setelah UN. Tapi entah kenapa kena writer’s blockmungkin karena sebelumnya udah lama gak nulisdan berakhir benar-benar stuck sampe terbengkalai berbulan-bulan. Tapi untungnya sekarang mood udah balik X)

Aku mau ngucapin termakasih buat yang (mungkin) masih mau ada yang baca. Mau gimana pun juga aku udah bertekad buat ngelanjutin ini sampe akhir/? /ngakak bentar/. Dan aku juga mau minta maaf seandai feel-nya kurang dapet. Tbh, aku ngerasa agak canggung pas awal nulis chapter ini dan udah lupa sama beberapa kata yang sering dipake dulu wkwkwk. Sekian, maaf (lagi) kalau ini A/N-nya kepanjangan.

XOXO!!!!

Yang mau sekedar chit-chat atau fangirl-an bareng mungkin bisa hubungin aku di twitter (ceritanya pamer berhubung abis ganti username) dan LINE dengan ID: euntheana.

Thankseu!

36 tanggapan untuk “Everything Has Changed (Chapter 17)”

  1. yeeeee…. lalala~lululu akhirnya keluar juga…
    lumutan nunggu ff ini keluar, btw bgus bnget thor ff nya , kita yg bacanya bikin sesak juga..
    hiks hiks… anyway, mkasih ya thor FF INI MASIH DILANJUTIN, kirain udh gk dilanjutin lgi.. abis lama bnget nungguinnya.. ditunggu lanjutannya ya thor, aku disisni tetap setia menunggu ff ini dilanjutin, fighthing thor! AUTHOR JJANG! FIGHTHING! KEEP WRITHING YA THOR….. tapi beneran deh thor ceritanya bikin aku sedih juga, ngeliat kisah mereka berdua… 😦 tapi aku seneng akhirnya si sehun bilang juga kalau di cinta sama si yunhee…

  2. wae kenapa tbc disituuuuu waeee. Yunhee butuh pertolongaan. Sehun plese cepet dateng bisa2nya sehun pergi, yunhee butuh pengawasan kaan. Huhuhu. Ternyta yunhee cinta sehun. Dan mereka saling mengungkapkan. Lantas bagai mana dengan jongin. Huhuhu

  3. huaaaaa akhirnyaa bisa baca lanjutanyaaa setelah nunggu berabad-abad lamanya. dari liburan kapan tau. thooorrr makasihh udah mau lanjutin. makiiiinn eerrr.. haha.. ayo dong dilanjut lagi. aku tuh seneng sama gaya bahasanya. hehe..

  4. Knp knp knp bru kbaca stlh 2 bulan di post..
    huuuu
    lmbt
    aku yg pling ngebet nungguin ff ini. Di chap sblmnya aku ningglin jejak smpe 2 kli kpn ff ini dilnjutin. Akhirnyaaa.
    ya ampun..kasian sehun ma yunhee. Sling mncintai tpi mlah jdi calon kaka adik tiri gitu ya.
    Tpi kn orgtuanya msih tahap tunangan..msih ad waktu buat ngehancurin rencana prnikahannya (evil kluar ). Sehun jgn nyerah gitu aja fong dgn mslh yg dihadapi. Psti ad jln kluarnya ko. . Moga mreka bersama.
    buat jongin, moga bisa mnjdi org yg sllu bisa tuk yunhee andalkan bila yunhee dlm keadaan apapun. Aplgi keadaan yunhee skrg. Moga jongin bisa mngesampingkan prsaannya lebih dlu ke yunhee.
    Buat author mksih dah mau nglanjutin ff nya. Chap 18 nya udah ada ap blm thor, ini kn dah 2 bulan. Klau udh ada pngen lngsung baca aaahh ^^
    Smngt buat authornya.

  5. Knp knp knp bru kbaca stlh 2 bulan di post..
    huuuu
    lmbt
    aku yg pling ngebet nungguin ff ini. Di chap sblmnya aku ningglin jejak smpe 2 kli kpn ff ini dilnjutin. Akhirnyaaa.
    ya ampun..kasian sehun ma yunhee. Sling mncintai tpi mlah jdi calon kaka adik tiri gitu ya.
    Tpi kn orgtuanya msih tahap tunangan..msih ad waktu buat ngehancurin rencana prnikahannya (evil kluar ). Sehun jgn nyerah gitu aja fong dgn mslh yg dihadapi. Psti ad jln kluarnya ko. . Moga mreka bersama.
    buat jongin, moga bisa mnjdi org yg sllu bisa tuk yunhee andalkan bila yunhee dlm keadaan apapun. Aplgi keadaan yunhee skrg. Moga jongin bisa mngesampingkan prsaannya lebih dlu ke yunhee.

  6. kkkkkkyyyyyaaaa….
    Akhirnya di post juga, astaga q udah nunggu lama bnget eonnie..
    ampe q bca berkali2 gra2 suka bnget ama alur critanya..
    Belum baca sih yg ini, yg pnting udah ninggalin jejak,, hehhee..
    Gomawoyo…
    Keep writhink eonnie, fighting…

  7. yaaaaaa….. keren
    ah suka bgt pas momen yunhee sama sehun aaah~ Mereka so sweet bgt
    lanjut thor … ga sabar nih … penasaran sama akhirnya

  8. Anyyeong 😀
    aku silent readrs hehe 😉 . Bru kelar bca chap 1 ampe ke 17. Wueehhhh wuaahhh….. Keren banget (y) mantap banget ff nya.
    Aku benci klo akhirnya yunhee sama sehun entlah,, aku gk suka, kagk rela, kagk redo. Ayolah thor!! Jebal…. Sma bangkai donk endingnya. *maksabanget :v 😀
    plith…. Sm bgjong doooonk

    persahabatn yg si jalin sejak lama berakhir karna pihak baru. Masa?
    Ayolah thor.. Hbungan yg terjalin antra dua jenis insan tak akn brthan lama klo bkn tanpa ada prasaan antra kedua pihak. 😦
    ini pndapatku hihi 😀
    *maaf udh silent reader 🙂

  9. Daebaaak thorr. Nyeseek banget diposisi yunhee-sehun. Orangtua mereka mau tunangan lagiiiT_T huaaaa aku ga tega kalo dua org ini dipisah thorr. Jongin kasian ya ga bisa dapetin yunhee, sabar ya jongin cari yg lain aja^^

  10. Hueeeeeeh sedih hueeee baper baper baper
    Sehun sama yunhee hueeeee baper baper baper
    Mana pas yunhee say love ke sehun yg keputer lagu thunder kan nyeseek bgt akunyaaaaa hueeeeeeeeeee baper baper baper pokoknya bapeeeeer
    Emg lama bgt ini ff nggak di lanjutin tpi demi mendukung yunhee sama sehun(?) aku bakal tetep tunggu ff ini
    Intinya chap ini bikin baper
    Dan sebenernya aku lupa pas di awal itu kok bisa sehun sama yunhee nyari tempat nginap
    Aku kira aku blm baca tpi pas liat lagi awalnya chap sebelumnya aku udah bacaaa…..jadi ya udah aku lanjut aja baca chap ini meski lupa akhir chap sebelumnya dan ternyata malah bikin bapeeeer hueeee
    Di tunggu nextnya kalo bisa jgn lama” ya

  11. Akhirnya setelah sekian lama nunggu, yaampun kasian banget cerita cintanya yunhee sama sehun, akhirnya mereka saling jujur satu sama lain, btw itu si yunhee kenapa?semoga yunhee baik baik aja dan bahagia ya sama sehun, ditunggu ya lanjutannya penasaran banget, hwaiting!!!

  12. Uwwwaaaahhh.. Udah lama banget nungguin kelanjutan cerita ini, kirain udah gak bakal dilanjutin lagi..
    Ceritanya tetep bagus.. Ya walaupun agak lupa sedikit sama part sebelumnya.. 😀
    Ditunggu ya kelanjutannya.. Semoga gak terlalu lama.. 😀

  13. NIKEEEEEEEE SUMPAH YAAA LAMA BANGET GAK CHAT KITAAA ASTAGAAAA KANGEN TAU GAKKK😂😂😭
    feel nya tetep dapet, sampe baper pas sehun meluk yunhee terus bilang laff yuu AAAAA BERASA PENGEN MATI(?)
    ditunggu banget nextchapnya nikkkk XOXO ❤ ❤ ❤ ❤

    1. HOLAAA RANTEY!!! XD /NYANYI SEE YOU AGAIN LAGI/

      Wah untung ya feel-nya masih dapet 8″) Tbh, aku juga baper pas nulis bagian itu wkwk. Sipsippp, thanks a lot ranteeeey ❤ imyyyyy

  14. Akhirnya… tenang kak, aku masih setia menunggu. Yunhee suka Sehun ternyata… cieeee…. Sehun juga udah ngungkapin perasaannya. Meskipun nunggu lama, tapi terbayar kok dengan pernyataan cinta mereka. Lain kali lebih cepat dipost ya 🙂
    Kutunggu kelanjutanya ^^

  15. Akhirnya ini lanjut juga… aku sendiri hampir putus asa/? Karena kepo luar biasa sama lanjutannya… oh ayolah SehunYunhee harus bersatu… tapi Jongin pasti sakit banget ㅜ.ㅜ cepetan diupdate chap 18 nya… kepo…. fighting ^^

  16. Homina…..Homina….Homina…….akhirnya dilanjut!!!!kyaaaaaaaaaaaaaaa….kangen banget sama ff ini ><
    Walau pun isinya nyesek….tapi di sisi lain aku seneng banget karna ffnya dilanjutin 😀
    Dan aku masih berharap semoga sesuatu keajaiban bisa terjadi…orang tua mereka ngak jadi tunangan *semoga
    Dan kenyataan yunhee yg tidak baik2 saja apa memungkinkan ibunya tetap kekeuh bertunangan?
    Yah walau pun tetap aku kasihan sama jongin 😦 tapi mau gimana lagi yunhee mencintai sehun *hiks* aku dukung aja semoga mereka bersama….dan yunhee sehat dan bahagia tentunya…tapi TBCnya something banget sih 😥
    Pokoknya aku tunggu banget dear lanjutannya..semoga ngak lama2 dilanjutnya XD
    Semangat!!!!
    Dan btw aku suka banget kata2 yg "ketidakmungkinan yang tidak mungkin menjadi nyata" kata2nya cocok banget buat kisah cintaku kepada bias XD *menusuk banget

    1. Wkwk entah kenapa aku refleks ketawa pas baca kalimat awalnya XD

      Hehehe iya nih, balik-balik dari hiatus bawaannya lagi pengen nyiksa emosi orang(?). Tapi aku juga kasian sama Jongin sih :”) Dia berasa anak baik-baik yang kurang beruntung di sini hahaha

      Ecie buat bias. Sakit tapi gak berdarah, ya? Anyway, makasih Aria masih bersedia baca XD

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s