Tempus Fugit, Amor Manet [Chapter 6]

tfam

 

Ketika sang atlet lari dan drummer sebuah band yang belum debut dipertemukan dengan cara tidak terduga dan masing-masing mulai memiliki rasa. | Waktu boleh saja berlalu, tapi cinta akan tetap tinggal | “Sunbae, gumawo…” | “Aku… aku janji akan lebih mengenalmu.” | “The best love story is when you fall in love with the most unexpected person at the most unexpected time”― Anonymous

Len K present… Tempus Fugit, Amor Manet

Rate: T, PG-15

Romance, Hurt/Comfort, Supranatural, a bit humor

Chanyeol EXO, Cha Iseul (OC), Minho SHINee, Kai-Sehun-Chen-Lay EXO dan beberapa idol/actor dan OC sebagai support cast

Warning: AU, Semi-canon, OOC (maybe), typo, humor garing, rush

Poster by Aqueera at https://posterdesigner.wordpress.com

A/N                        : Disini Chanyeol dan Iseul beda sekolah. Hope you don’t get confuse.

.

.

.

Chapter 6

.

                Penyesalan selalu datang di akhir, ‘kan? Dan Minho mengalaminya. Ia menyesal telah bersikap dingin setelah penolakan yang dilakukan Iseul. Akibatnya? Kali ini tiap kali ia mencoba menghubungi Iseul, tidak ada balasan yang ia dapatkan. Dan setiap kali Minho menyempatkan waktu berkunjung ke rumah Iseul, rumah itu kosong. Tidak ada orang disana.

Pikirannya berkecamuk; dimana Iseul?

Apakah ia tidak bisa bertemu Iseul―sekali saja, untuk saat ini―untuk mengucap kata maaf pada Iseul secara langsung? Dan memperbaiki semuanya…

Apakah ia tidak bisa… mendengar alasan sebenarnya di balik penolakan Iseul?

Apakah ia tidak bisa… menemui Iseul lagi?

Apakah ia… benar-benar kehilangan kesempatan?

 


 

Tempus Fugit, Amor Manet

Standard disclaimer applied

Storyline belong to me, Nuevelavhasta

Chapter 6 Moonlight, Clear and Bright

 


 

 

“Eunji, nilai matimu memang berkurang. Tapi tidak ada yang bisa dibanggakan dari hal itu. Kau masih menunjukkan penurunan. Sebenarnya ada apa denganmu?” cecar Seungho seraya membaca laporan individual Eunji yang ditulis oleh manajer klub.

Jemari Eunji bermain dengan busur panahnya. Diomeli Seungho di depan anggota klub panah yang lain adalah hal yang buruk, juga gawat.

“Itu… itu, sunbae…” ragu. Eunji merasa gamang apakah ia harus bercerita atau tidak. Di depan anggota klub panahan yang lain? Errr, tidak mungkin.

Seungho, seakan bisa membaca gelagat Eunji, segera menyiapkan anak buahnya dan membubarkan latihan rutin hari ini. Dan sebelum Eunji melesat pergi, Seungho sudah buru-buru menarik Eunji dan berpesan agar tinggal sejenak.

Eunji tidak bisa menolak perintah (atau permintaan?) kapten tim-nya itu. Ia terpaksa menunggu Seungho selesai berbenah seraya berdoa agar dirinya selamat dari amukan si kapten kali ini.

Dan Seungho, berharap hari ini ia bisa tahu kenapa performa salah satu junior yang dibanggakannya (secara diam-diam) itu menurun. Atau jika Seungho berani jujur pada dirinya sendiri, sesungguhnya ia sedikit bersyukur atas penurunan performa Eunji. Ia bisa memanfaatkan kesempatan itu untuk berdua dengan Eunji. Terdengar kejam ya?

Kajja.” Seungho menarik pergelangan tangan Eunji.

“Kita mau kemana sunbae?” tanya Eunji yang berada dalam tarikan Seungho.

“Ikut saja. Aku yang traktir,” jawab Seungho dengan acuh seperti biasa.

Eunji menurut saja. Ia sedang tidak dalam mood untuk bersitegang dengan ketua klubnya―yang belakangan ini menaruh perhatian lebih padanya. Ah, tapi kita semua tahu bukan itu yang dipikirkan Eunji saat ini. Bahkan bisa dikata jika Eunji tidak begitu peka akan sinyal yang dikirimkan Seungho padanya. Ah tidak, sinyal yang dikirimkan Seungho-pun masih terlalu lemah.

Yah, jalan masih terbentang panjang bagi mereka berdua untuk ke depannya.

Rupanya Seungho mengajak Eunji ke sebuah café yang letaknya tidak begitu jauh dari sekolah mereka. Petang ini café cukup ramai. Beruntung Seungho masih bisa menemukan meja kosong untuk dirinya dan Eunji.

“Kau… ingin pesan apa?” alis Seungho sedikit bertaut kala melihat Eunji yang lesu.

Dagu juniornya itu tergeletak begitu saja di meja. Matanya yang biasanya berbinar kini terlihat meredup. Rambutnya… yah, masih terlihat berantakan seperti biasa setelah latihan rutin. Tapi bagi Seungho, pemandangan ini cukup mengerikan.

Bukan, bukan karena rambut Eunji yang berantakan dan dikucir asal-asalan. Melainkan karena gelagat Eunji sendiri. Dalam kasus normal, Eunji adalah seorang gadis dengan semangat berlebih dengan mata yang selalu berbinar dan suara melengking yang bisa keluar kapan saja. Melihat Eunji yang drop sekarang ini tentu sangatlah tidak mengenakkan.

Strawberry smoothies saja,” balas Eunji dengan hampir tidak jelas.

“Makanannya?”

“…apa saja. Yang penting manis.”

Seungho sebenarnya ingin bercanda dengan melontarkan sahutan “kalau begitu pesan aku saja” tapi ia urungkan. Atmosfernya saat ini sedang tidak mendukung. Yang ada bisa-bisa ia jadi korban amukan Eunji. Dan…! Akan sangat aneh dan lucu jika seorang Seungho yang terkenal galak, serius, kejam, tiba-tiba mengatakan kalimat gombal seperti tadi. Maka kemudian Seungho beralih pada pelayan bercelemek coklat yang siap dengan nota dan pena. “Kalau begitu kami pesan dua chocolate pancake, satu strawberry smoothies, dan satu green-tea smoothies.”

Pelayan itu menuliskan pesanan Seungho dengan cepat sebelum pergi membawa daftar menu.

Kini tinggal ada Seungho yang kebingungan harus bagaimana menyikapi keadaan Eunji. Eunji masih belum berubah dari posisinya tadi.

“Tidak biasanya kau lesu.” Hei, diam-diam Seungho merindukan lengkingan protes yang selalu Eunji tujukan padanya―karena tindakan semena-mena tapi ada maksud terselubung pada Eunji.

Eunji menghela nafasnya. “Aku juga manusia, sunbae. Mood­-ku mengalami naik dan turun. Seperti roller coaster.”

Seungho melipat tangannya di atas meja dan memajukan tubuhnya. Merasa tertarik. “Wae? The FOO sudah baik-baik saja. Kudengar kemarin mereka baru saja kembali ke Nowhere. Apa karena itu? Karena kau tidak bisa melihat penampilan mereka?” semua orang, termasuk Seungho, sudah paham benar jika Eunji sangat menggilai band satu itu.

Kepala Eunji bergerak karena gelengan. “Aniya. Aku sudah mendapatkan tempat untuk melihat mereka minggu depan di Eternal Memory.”

“Lalu? Ayolah Eunji, kau tidak bisa seperti ini terus. Sepanjang tahun akan ada turnamen dan seleksi ketat. Kau menyerah untuk masuk dalam jajaran tim nasional? Aku berharap padamu, tahu.” Omel Seungho. Asumsikan kata berharap di sini ialah berharap Eunji bisa jadi juniornya dengan prestasi membanggakan. Jangan asumsikan Seungho berharap Eunji bisa peka akan sinyal-sinyal ambigu yang dikirimkannya.

Manik Eunji membesar sebentar. Jadi… Seungho menaruh harapan padanya? Ugh, itu terdengar aneh di telinga Eunji. Namun gadis itu sedang tidak ingin membahas itu.

“Aku belum menyerah untuk masuk tim nasional.” Eunji mencebik dan menatap kesal seniornya itu. Mentang-mentang kau atlet jenius yang sudah bisa masuk tim nasional dalam usia muda, batin Eunji kesal.

Seungho menghela nafas lega. Yah, setidaknya ia harus ingat jika Eunji bukanlah tipe orang yang gampang menyerah. “Baguslah kalau begitu. Lalu kenapa akhir-akhir ini performamu menurun tajam? Sebagai atlet professional kau tidak bisa membiarkan hal ini terjadi. Jika bukan karena The FOO, lalu apa?”

“Iseul.”

“Huh? Apa?”

“Iseul.”

Dahi Seungho mengernyit sejadinya. Oke, nama itu tidak asing baginya. Atlet lari kebanggaan Korea, juniornya di sekolah, merangkap teman dekat Eunji dan orang yang disukai oleh Minho. Tambahan lagi, orang yang juga sudah mencampakkan Minho.

Tapi sekali lagi, Seungho masih belum bisa menemukan kaitan nama salah satu juniornya itu dengan Eunji. Apa mereka bertengkar?

“Ya-yaahh, dia kenapa?” tak tahan, Seungho akhirnya bertanya.

Eunji dengan suka rela menubrukkan dahinya ke meja. Eunji, memang apa yang bisa kau harapkan dari Iblis Sadis Berkedok Sunbae Tampan Yang Tidak Peka itu?!

“Kau memang payah, sunbae!” ejek Eunji. Dan sebelum Seungho menyahut, Eunji sudah mendahuluinya, “Iseul sudah tidak masuk selama dua minggu. Aku sudah kehilangan kontak dengannya selama itu. Minho sunbae juga. Daniel ssaem yang notabene adalah wali kelas kami hanya mengatakan jika Iseul sakit. Beliau sendiri juga berkata jika Iseul tidak ingin dijenguk dan sebaiknya kami, teman-temannya, tidak usah khawatir padanya. Bagaimana aku bisa tenang-tenang saja jika aku sendiri begitu clueless akan keadaan sahabatku sendiri?” cerocos Eunji.

Ah, kali ini semua terasa masuk akal bagi Seungho. Ia mengangguk mengerti. Begitu semua clue sudah terkumpul, dirinya bisa jadi Sherlock Holmes dadakan.

Bersamaan dengan itu, pesanan mereka datang. Seungho mengucapkan terima kasih pada si pelayan sebelum pelayan itu pergi. Dan Eunji hanya menatap hidangan di depannya dengan kurang bernafsu.

Meokkeora. Aku tidak membayar itu semua hanya untuk kau nikmati secara visual,” titah Seungho dalam nada absolut.

Well, Eunji tidak punya pilihan lain. Ia tidak menolak untuk memesan makanan tadi. Lagipula, kapan lagi seniornya yang sadis itu mau mentraktirnya―lagi?

Walau tidak menunjukkan ekspresi yang berarti, tapi dalam hati Seungho lega Eunji masih mau melahap pancake-nya. Artinya Eunji tidak setertekan itu sampai tidak mau menyentuh makanan. Untuk beberapa saat, keduanya menikmati hidangan mereka tanpa saling bicara.

“Soal Iseul…” Seungho menjeda kalimatnya. Eunji juga berhenti mengiris pancake-nya. Kini Seungho bisa melihat binar mata yang ia sukai itu kembali ada, “soal Iseul… kudengar ia mengambil cuti.”

Mw-mwo? Cuti? Darimana sunbae tahu? Dan kenapa cuti? Apa Iseul akan menjalani suatu pelatihan khusus di luar negeri atau semacamnya?” nah, kecerewetan Eunji sudah kembali.

“Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan beberapa guru di ruang guru beberapa hari yang lalu,” jawab Seungho lalu kembali makan. Eunji masih menatapnya penuh tahu dan penuh harap, “…dan itu bukan karena Iseul akan menjalani pelatihan atau sejenisnya―”

“Lalu kenapa?”

Harusnya Seungho kesal karena ada seseorang yang memotong kalimatnya. Itu sudah menjadi kebiasaan baginya. Namun kali ini Seungho tidak bisa marah atau kesal. Karena selain yang menyela itu adalah Eunji, tapi kali ini berbeda.

“Iseul sakit.”

Mwo?! Sakit?! Sakit apa?!” suara Eunji melengking begitu tinggi hingga semua pengunjung mengalihkan atensi mereka ke meja Eunji dan Seungho.

Seungho berdecih kesal pada juniornya itu. Dan Eunji meringis pelan pada Seungho sebelum mengangguk-anggukkan kepalanya ke seluruh penjuru café untuk minta maaf.

“Iseul sakit apa, sunbae?” desak Eunji dengan suara lebih pelan.

Seungho mengangkat bahunya. “Nado molla. Aku hanya menguping sampai situ saja. Atau lebih tepatnya pembicaraan para guru itu berhenti sampai di situ.” Eunji melemas di tempatnya. “Kenapa kau tidak mengunjungi rumahnya saja?” tanya Seungho.

“Tidak tahu rumahnya.”

“Setelah lebih setahun satu kelas dengannya?”

Eunji mencebik lagi. Oke, kali ini ia kelihatan sedikit kejam. Setelah setahun lebih satu kelas dan menjadi sahabat paling dekat Iseul, ia sendiri tidak tahu dimana rumah Iseul. “Daniel ssaem tidak mau memberitahu. Dan tidak mungkin aku mengendap-endap ke ruangan arsip.”

Seungho menghela nafasnya. “Dasar payah.”

“…”

“…Minho?”

Sebuah bohlam imajiner muncul di atas kepala Eunji. “Sunbae benar! Minho sunbae pasti tahu dimana rumah Iseul berada! Kyaaa, sunbae pintar! Sunbae jjang! Kenapa tidak teprikirkan olehku sebelumnya, ya?”

Seungho mendecih. “Kau saja yang bodoh dan payah.”

Mwoya? Kejamnya kau, sunbae!”

“Kenyataan, kok.”

“Hhu!” jadi walau Eunji mengerucutkan bibirnya sampai maju beberapa senti, tapi dalam hati Eunji berterima kasih pada seniornya satu ini. Tidak selamanya seniornya itu menyebalkan, menakutkan, dan tidak berperasaan.

 

***

 

“Ingat, kau harus kembali sebelum jam sembilan besok pagi untuk menjalani pemeriksaan rutin dan terapi. Aku tidak mau repot-repot membuatkan alasan untukmu jika kau terlambat,” omel Chisoo pada adiknya, Iseul, yang terduduk di ranjang rumah sakit.

Iseul tertawa. “Iya, iya, Oppa ini cerewet sekali ya, sejak co-ass di sini.”

“Hei, Korea University Medical Center bukan tempat untuk main-main,” tukas Chisoo.

Iseul tersenyum penuh pengertian. “Iya, aku tahu kok.”

Chisoo melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. “Sudah dulu ya? Sebentar lagi aku ada jam jaga di UGD. Sebentar lagi ayah dan ibu akan kemari lalu mengantarmu pulang ke rumah lama mengambil beberapa barang, ‘kan?”

“Mm-hm.”

“Ingat. Kembali kemari sebelum jam sembilan besok pagi,” pesan Chisoo untuk yang kesekian kalinya diimbuhi penekanan ditiap silabel.

Neeeee!” balas Iseul riang disertai lambaian tangan yang belum berhenti sebelum oppa-nya benar-benar menghilang dari pandangannya.

Jadi untuk memperjelas, semenjak penyakit Iseul makin parah, Iseul dan keluarganya pindah ke rumah mereka yang berada di dekat Korea University Medical Center untuk memudahkan perawatan. Ditambah, Chisoo sudah mulai magang di sana. Jadi semua terasa lebih mudah.

Kecuali perasaan aneh yang selalu mengganjal hati Iseul.

“Iseul, kau sudah siap?” ibu Iseul berjalan memasuki kamar anaknya setelah jeda beberapa menit dengan obrolan Iseul dan Chisoo.

Ne, eomma,” jawab Iseul sambil berusaha meraih kursi roda yang berada setia di samping tempat tidurnya.

Melihat ini, ayah Iseul segera menghampiri putri bungsunya itu. “Biar ayah bantu.” Ayah Iseul dengan sigap melingkarkan tangan Iseul ke pundaknya dan membantu putrinya untuk duduk di kursi roda. Hati kepala keluarga Cha itu semakin teriris lantaran merasakan tubuh putrinya yang teramat ringan untuk ukuran remaja seusianya. Sangat ringan dan lemah. Wajahnya juga begitu pucat dengan sepuhan senyum yang selalu menghiasi.

Gumawoyo, abeoji.” Iseul tersenyum ceria. Senyum yang diam-diam menorah perih di hati ayah dan ibunya.

Bagaimana bisa putri mereka yang begitu ceria dan mencintai lari harus berakhir di kursi roda karena penyakitnya yang kambuh lagi?

Kajja,” ajak ayahnya seraya mendorong kursi rodanya keluar.

.

.

Eunji bergantian menatap rumah di hadapannya dan tulisan tangan Minho yang berupa alamat Iseul di secarik kertas. Yang ada di hadapannya ini benar rumah Iseul. Tapi seperti kata Minho, rumah Iseul kosong. Walau sudah berkali-kali Eunji memencet bel, tak kunjung ada orang yang membukakan pintu pagar untuknya.

Benar kata Minho, rumah Iseul seperti ditinggalkan.

Ah ya, bicara soal Minho, dia hanya bisa memberikan alamat rumah Iseul pada Eunji karena hari ini ia tidak bisa membolos pada jadwal latihan rutinnya. Eunji paham, untuk atlet sekaliber nasional dan bisa dibilang internasional, jelas Minho adalah orang yang sibuk.

“Mungkin aku harus mencoba kemari besok lagi,” gumam Eunji pada dirinya sendiri dan mulai melangkahkan kakinya untuk pergi.

Namun baru beberapa langkah, Eunji terhenti.

Ia mendengar sesuatu.

Suara mobil mendekat kemudian berhenti. Lalu walau ada suara-suara yang asing, tapi Eunji masih bisa mengenali suara Iseul. Ya, tidak salah lagi! Itu jelas-jelas adalah suara Iseul!

Eunji kontan berbalik. Entah apa yang ia rasakan sekarang. Cemas, kalut, bingung, tak terima, khawatir, semua begitu campur aduk hingga rasanya begitu menyesakkan dada Eunji. Dan yang lebih membuat Eunji bertanya-tanya adalah… kenapa Iseul bisa berada di atas kursi roda?

Ragu. Eunji merasa ragu apakah ia harus memanggil―dan menemui―Iseul atau tidak. “I… Iseul!” tapi pada akhirnya Eunji memberanikan diri untuk berseru.

Lalu tatapannya dengan Iseul bersirobok. Dua-duanya sama-sama merasa kaget.

.

.

Tidak ada yang berbicara lagi sejak Iseul memberi penjelasan pada Eunji. Kedua sahabat karib itu duduk bersebelahan di ruang tengah rumah Iseul.

Lelehan airmata masih jatuh di pipi Eunji. Jarak yang terbentang antara dirinya dengan Iseul seakan menggambarkan kekecewaannya pada Iseul. Eunji merasa Iseul menganggapnya orang asing karena tidak bercerita mengenai apapun padanya.

Sekarang Eunji mengerti kenapa Iseul sering jatuh sakit. Sekarang Eunji mengerti kenapa Iseul harus berakhir di kursi roda. Mengapa wajah Iseul terlihat lebih pucat dari biasanya. Eunji tahu alasan di balik itu semua.

Sementara Iseul hanya tersenyum tipis dengan tenangnya. Gadis itu sudah tahu konsekuensi atas semua tindakannya hingga sekarang ini.

“Ka-kau kejam. Tidak pernah memberitahuku soal kanker sumsum tulang belakang yang menyerangmu,” ujar Eunji terisak.

“Aku hanya tidak ingin kau… dan semuanya, khawatir.”

Pa-pabo! Justru sekarang aku makin khawatir padamu!”

Iseul tersenyum lebih lebar mendengar seruan Eunji. Ia tahu ini konyol, tapi ia sendiri merasa senang mendengar seruan Eunji.

“Hey, Eunji…” panggil Iseul lembut, “jangan ceritakan ini pada siapapun, ne? Nanti, jika semua berjalan lancar dan aku sudah baikan, kau boleh menceritakan semuanya pada yang lain.”

Eunji tidak menyahut.

Iseul sendiri hatinya terasa teriris. Sesungguhnya ia sendiri tidak begitu yakin apa ia bisa sembuh atau kemungkinan terburuklah yang akan menyambutnya nanti. Tapi untuk bagian ini, ia tidak ingin bercerita pada siapapun. Biarlah hanya keluarganya yang tahu.

“Eunji…” suara Iseul yang bergetar saat memanggil nama Eunji membuat sahabatnya itu beringsut mendekat.

Tidak ada kata lagi yang keluar dari bibir Iseul. Gadis yang duduk di atas kursi roda itu menangkupkan kedua tangannya ke wajahnya sendiri. Bahunya lama-lama bergetar. Isakannya mulai terdengar. Dan tetes airmatanya tidak bisa disembunyikan lagi.

Melihat sahabatnya menangis, Eunji buru-buru merangkul Iseul. Selama ini Iseul berjuang sendiri. Tidak berkoar-koar mengenai penyakitnya karena Eunji tahu sahabatnya itu tidak ingin dikasihani, tidak ingin membuat orang lain khawatir. Sekarang, Eunji bisa merasakan betapa Iseul sebenarnya tersiksa.

“E-Eunji, aku… aku… hiks, hiks, aku… rasanya sakit, Eunji. Sangat sakit…” Iseul terisak di pelukan Eunji. Dan Eunji hanya terdiam mendengarkan walau ia juga tidak bisa membendung airmatanya. “Saat kakiku tidak bisa digerakkan, aku marah Eunji. Mereka bukan kakiku, mereka tidak mau menuruti kemauanku. Kakiku jahat Eunji…”

Eunji mengeratkan pelukannya. Bisa ia rasakan derasnya airmata Iseul mulai merembes ke pori-pori seragamnya. Tidak ada yang bisa Eunji lakukan kecuali mendekap erat Iseul. Jika ia angkat suara maka dirinya akan ikut menangis. Ya, sekarang ini Eunji mati-matian menahan tangisnya agar tidak tumpah.

Tapi gagal.

Eunji tetap menangis sama seperti Iseul. Namun Eunji menangis dalam diam.

“Hiks… hiks… aku benci aku yang sekarang. Tidak bisa lari padahal aku sangat menginginkannya. Aku ingin… lari, Eunji! Aku tidak mau ada di kursi roda ini!”

Setelahnya raungan penolakan dan tangis Iseul tidak berarti apa-apa bagi Eunji. Eunji sudah cukup tahu betapa sahabatnya itu terluka saat ini. Saat sesuatu yang kau cintai sepenuh hati diambil paksa darimu, siapa yang tidak terluka?

Dan Iseul sedang mengalaminya saat ini. Iseul menyukai lari lebih dari apapun dan kini ia harus terduduk di kursi roda. Bukan satu kenyataan manis tentu.

Dua sahabat itu saling menangis, berpelukan, berbagi cerita dan rasa gundah-sesak di dada melalui linangan airmata. Tidak ada yang bicara, tapi keduanya sudah saling mengetahui apa yang isi hati masing-masing.

 

***

 

Tepuk tangan meriah bergegas memenuhi tiap sudut Eternal Memory setelah The FOO selesai membawakan lagu milik TRAX yang berjudul Blind. Vokal luar biasa milik Jongdae dipadukan dengan permainan apik tiap personilnya dan sedikit aransemen―tapi tidak menghilangkan cita rasa lagu aslinya―berhasil membuat seluruh pengunjung terpukau.

The FOO lalu membungkuk hormat sebagai tanda terima kasih dan berbincang sebentar dengan para pengunjung sebelum menuju ke backstage. Dimana manajer Eternal Memory sudah menunggu mereka. Ah, ditambah honor mereka untuk malam ini tentu saja.

Sedikit bonus diberikan manajer itu pada sekumpulan pemuda itu. Kata beliau sebagai imbalan karena penampilan The FOO malam ini mampu mendongkrak angka pengunjung café. Lalu setelah berkali-kali membungkuk dan berujar terima kasih tanpa henti, The FOO pergi dari Eternal Memory untuk pulang ke rumah masing-masing.

“Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada sambutan antusias penonton.” Chanyeol merentangkan tangannya lebar-lebar ke samping. Tidak dipedulikannya stik drum-nya yang hampir saja mengenai Sehun dan Jongdae.

“Sialan kau! Hati-hati!” Sehun berjengit ke samping dan menendang betis belakang Chanyeol. Pemuda bertubuh paling tinggi itu lalu dengan dramatis jatuh terduduk di tanah sambil mengaduh. Sungguh, drama sekali.

“Jangan pedulikan dia!” Jongdae menggiring teman-temannya yang lain untuk terus melangkah, “mungkin besok pagi petugas sampah sudah akan membawanya.” Jongdae memamerkan seringaian jahilnya pada Chanyeol yang masih terduduk di belakang.

“Oy! Berhenti kau, Jongdae! Mulutmu belum kusumpal dengan sepatuku!” dengan tergopoh Chanyeol bangkit dan segera melilit leher Jongdae dengan lengan kanannya.

Interaksi mereka yang seperti itu berlangsung seperti biasa; awalnya hanya ada dua pelaku namun lama-lama semuanya menjadi pelaku. Saling ejek, saling maki, saling pukul, saling tendang, diselingi tawa atau body-gag, itu sudah jadi hal biasa.

“Indahnya.” Tiba-tiba saja Yixing berujar dengan seulas senyum tipis.

Kawan-kawannya yang lain menatap Yixing heran.

“Apa yang indah? Foto terbaru Miranda Kerr?” tidak perlu ditanya siapa ini.

“Langitnya?” Jongdae berusaha terlihat normal di antara sahabat-sahabat idiotnya.

Noona-noona seksi di sana?” Jongin menunjuk ke satu arah seraya berbisik. Teman-temannya mengikuti arah telunjuknya dan bersiul kecil mendapati tiga orang gadis dengan dandanan seksi melintas. Lalu kemudian mereka jadi saling tuduh ‘mata keranjang’ dilanjut saling elak dan goda.

Aniya,” kekeh Yixing.

“Eh? Lalu apa?” Sehun bertanya mewakili semuanya.

Satu sudut bibir Yixing terangkat. “Demo kita ditolak lagi.”

Tidak ada desah kecewa yang terdengar. Semuanya melontarkan tanggapan masing-masing dengan bersahutan. Kata-kata seperti ‘sudah kuduga’, ‘ahh, kukira apa?’, ‘eish, itu lagi’, dan lain-lain terdengar. Mereka sudah kebal akan penolakan seperti itu.

“Jauh lebih indah tugas esai Bahasa Korea sebanyak empat halaman folio,” celetuk Jongdae dengan senyum penuh percaya diri. Karena―

“SIAL! AKU LUPA!”

“TUGAS!”

“Memang ada tugas ya?”

“MATI AKU!”

―teman-temannya pasti lupa akan tugas itu.

 

***

                Tidak biasanya seorang Choi Minho berdiri di tepi lapangan tempat klub panahan berlatih. Bisa dikatakan tidak pernah malah. Tapi kali ini pemuda bertubuh tegap nan atletis itu punya alasan tersendiri. Setelah kemarin memberikan alamat Iseul pada Eunji, kini Minho berharap bisa mendapatkan laporan langsung mengenai Iseul dari Eunji.

Begitu latihan larinya selesai, tanpa buang-buang waktu lebih banyak lagi Minho langsung melesat ke tempat klub panahan biasa mengadakan latihan. Sayangnya sesi latihan klub panahan belum selesai. Jadi terpaksa Minho harus menunggu seraya bermain ponsel.

“Minho sunbae?” panggilan itu mengalihkan fokus Minho dari ponselnya.

“Ah, Eunji! Untunglah kau menghampiriku. Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu!” saking senangnya melihat juniornya itu, Minho sedikit hyper.

Beberapa anggota klub panahan yang baru selesai latihan melewati Minho dan Eunji. Sesekali mereka menyapa Minho, Eunji, atau keduanya. Seungho juga. Tapi bukan sapaan yang kapten tim panahan itu lontarkan. Melainkan ancaman untuk Eunji dan ‘aku duluan’ untuk Minho. Eunji sudah naik pitam ketika Minho memanggilnya.

“Jadi Sunbae ingin bertanya apa?” tanya Eunji setelah emosinya kembali stabil.

“Kemarin kau ke rumah Iseul?” Minho balas bertanya.

“…ya.”

Sorot mata Minho berubah jadi antusias. “Kau bertemu dengannya? Bagaimana keadaannya? Kenapa dia tidak masuk sekolah selama ini? Apa dia berbicara mengenai sesuatu yang lain? Apa sebenarnya dia marah padaku?”

Eunji menghembuskan nafasnya pelan. Kemudian menggeleng. “Aku tidak bertemu dengannya. Seperti yang Sunbae katakan padaku, rumahnya kosong.” Eunji berdusta.

Sorot antusias di mata Minho perlahan meredup sebelum hilang sepenuhnya. Bahunya kini kendor. “Apa jangan-jangan ia pindah?” lirihnya.

“Jangan konyol, Sunbae. Nama Iseul masih terdaftar sebagai siswa di sini.”

“Jadi… kenapa?”

Eunji diam. Masalah Iseul yang cuti dari sekolah sepertinya memang dirahasiakan oleh segenap guru di sekolah ini.

“Aku juga tidak tahu, Sunbae. Kalau hanya itu yang ingin Sunbae tanyakan, maka jawabannya sudah jelas. Kalau begitu, aku pulang dahulu.”

Minho tidak menyahut salam Eunji. Ia terlalu sibuk larut dalam pikirannya sendiri. Dan terlalu larut dalam penyesalannya.

 

***

 

Kursi roda yang dinaiki Iseul bergerak sedikit lebih cepat di lorong rumah sakit. Bukan tanpa alasan, karena si pendorong―Eunji―mendorongnya dengan sedikit berlari. Dan perbuatan Eunji ini berhasil menarik perhatian segenap manusia di lorong-lorong rumah sakit, teguran dari para perawat dan dokter yang melintas, dan dibalas kata ‘maaf’ dari Iseul dan Eunji serta bungkukan badan dari Eunji yang terus mendorong.

Sore ini Iseul terlambat untuk jadwal terapi rutinnya. Semua ini gara-gara Eunji. Setelah memastikan dirinya tidak terikat kesibukan apapun, untuk pertama kalinya Eunji menjenguk Iseul. Dua remaja itu bercerita banyak sambil makan camilan hingga lupa waktu.

Akibatnya? Seperti yang sudah dijabarkan; terlambat untuk terapi rutin.

“E-Eunji, tidak perlu sekencang ini. Ahn Jaehyun ssaem bukan orang yang mengerikan.” Iseul akui, didorong oleh Eunji yang berlari adalah salah satu pengalaman paling mengerikan dalam hidupnya. Setelah ini ia berjanji untuk lebih memperhatikan waktu.

Tidak ada gubrisan dari Eunji. Hanya terdengar deru nafas gadis itu yang putus-putus. Iseul tidak mampu berbuat apa-apa selain berdoa dan mengeratkan pegangannya.

Dan akhirnya, dua gadis itu berhasil masuk ruang terapi dengan hebohnya.

“Jaehyun ssaem, annyeong…” Iseul tersenyum kikuk pada terapisnya yang berdiri keheranan melihatnya masuk dengan tiba-tiba.

“…eo, annyeong.” Jaehyun masih belum mengerti kenapa pasiennya itu masuk tiba-tiba da nada seorang gadis lain yang kini bersimpuh dengan nafas putus-putus di belakang pasiennya.

“Aku terlambat ya?” pertanyaan Iseul membawa kesadaran Jaehyun kembali.

“Ya, memang. Tapi tidak begitu lama kok. Hanya… sepuluh menit. Dan… siapa gadis di belakangmu yang kehabisan nafas itu?” tunjuk Jaehyun.

“Oh! Dia sahabatku, Jung Eunji. Dia ini atlet panahan lho, Ssaem. Dan dia juga alasan kenapa aku terlambat. Tadi dia menjengukku dan kami keasyikan mengobrol, hehe.”

“Hm, begitu.” Jaehyun mengangguk paham. Kemudian ia meraih satu botol air mineral dan mengulurkannya pada Eunji. “Minum ini, kau pasti lelah.”

Dan Eunji tidak langsung menyahut.

Yah, bagaimana akan menyahut jika seorang pria berwajah tampan mengulurkan minuman padamu persis seperti adegan di drama-drama dan komik atau anime romance?! Rasanya Eunji begitu iri pada Iseul yang bisa diterapi oleh terapis setampan itu! Tinggi, putih, tampan, bibir merah yang menggoda, ya ampun!

“Kau bisa menunggu di sana sementara Iseul terapi.” Telunjuk Jaehyun mengarah pada sebuah bangku panjang di salah satu sudut ruang terapi.

Eunji hanya mengangguk dan bergegas ke bangku yang ditunjuk Jaehyun. Sedangkan Jaehyun mulai mendorong kursi roda Iseul ke sudut lain. Eunji bisa melihat Iseul dibawa ke dekat dua palang besi yang biasanya digunakan untuk latihan berjalan.

Kemudian saat Jaehyun membantu Iseul turun dari kursi rodanya dan memapah Iseul, Eunji menjerit ingin dalam hati. Tapi rasa ‘cemburu’ itu tidak berlangsung lama.

Karena setelahnya apa yang dilihat Eunji sungguh menyanyat hatinya.

Iseul yang biasanya ia lihat berlari dengan bebas di track lari kini harus tertatih. Berjalan langkah demi langkah dengan amat pelan dengan dua tangan mencengkram palang besi setinggi pinggang. Meski tidak bisa melihat wajah Iseul dengan jelas, Eunji sudah paham betapa sulitnya keadaan Iseul saat ini.

“Iseul! Gwaenchana?” nada khawatir dalam pertanyaan Jaehyun menyentak kesadaran Eunji.

Iseul jatuh terduduk setelah mencoba dua meter berjalan. Bisa dilihat peluh mulai membanjiri wajahnya yang pucat.

“Bagaimana kalau istirahat sebentar?” tawar Jaehyun.

“Hahahaha,” di luar dugaan, Iseul tertawa, “Sonsaengnim bicara apa? Aku ‘kan baru mulai terapinya. Lagipula aku ini atlet lari. Staminaku sangatlah banyak. Ditambah, ada Eunji disini. Aku tidak ingin terlihat lemah di hadapan sahabatku sendiri, maka dari itu… aku tidak ingin orang lain datang menjengukku.” Air muka Iseul berubah sendu, “tapi Eunji itu bandel! Itu yang tidak kusuka darinya!”

Eunji terhenyak di tempatnya. Baru sekarang ia menyadari alasan sesungguhnya mengapa Iseul tidak ingin orang lain tahu penyakitnya, tidak ingin orang lain menjenguknya. Iseul tidak ingin terlihat lemah, Iseul tidak ingin membuat orang lain khawatir dengan keadaannya, Iseul tidak ingin dikasihani oleh siapapun.

Jaehyun ikut tertawa dan membantu Iseul untuk bangun. “Geurae, kalau itu maumu. Tapi kali ini lakukan dengan lebih berhati-hati dan jangan memaksakan dirimu.”

Ne, Sonsaengnim.”

 

***

 

Suasana di ruangan dokter Han Jihoon siang ini terasa cukup mencekam. Sang dokter duduk di depan mejanya dengan kursi menghadap kearah Iseul dan kedua orangtua serta kakak Iseul. Di meja sang dokter, ada sebuah komputer yang menampilkan hasil pemeriksaan Iseul dan beberapa dokumen terlihat tergeletak.

“…walaupun semua berjalan baik, akan tetapi―”

Ye, aku mengerti, Sonsaengnim,” potong Iseul. Raut wajahnya begitu tegas penuh keyakinan, berbanding terbalik dengan kedua orangtuanya dan kakaknya yang gamang, “tapi setidaknya biarkan aku melakukannya. Aku sudah membicarakannya dengan orangtua dan kakakku. Aku siap untuk ini. Aku ingin melakukannya. Operasi itu… aku menginginkannya.”

 

***

 

Dua hari setelahnya Iseul menjalani operasi cangkok sumsum tulang belakang. Operasinya berlangsung cukup lama tapi terhitung berjalan dengan lancar. Kini Iseul sudah bisa kembali ke kamarnya sendiri setelah sempat masuk ICU selama sehari pasca operasi.

Malam ini, Iseul tidak sendirian. Kakaknya yang harusnya pulang setelah jadwal magangnya selesai menemaninya. Sementara kedua orangtuanya pulang ke rumah atas permintaan Iseul. Gadis itu tahu kedua orangtuanya sangat lelah dan berniat memberi mereka waktu untuk istirahat.

Oppa,” panggil Iseul yang terbaring di ranjang.

“Hm?” Chisoo yang duduk di kursi tidak jauh dari ranjang Iseul hanya bergumam sebagai balasannya.

Iseul tidak langsung menyahut. Gambaran bulan purnama yang bersinar terang di luar kamar menyita perhatiannya. Dalam kamarnya yang remang, cahaya bulan purnama itu menyusup masuk melalui jendela kamar yang terbuka. Sesekali angin malam ikut masuk.

Entah kenapa, suasana ini dan bulan purnama itu membuat Iseul merasa tenang.

“Aku ingin segera pulang. Bersekolah lagi, berkumpul bersama teman-teman, berlari lagi dan mengikuti berbagai lomba dan kejuaraan… seperti dulu lagi.” Manik Iseul masih terpancang pada sang dewi malam di luar sana.

Chisoo tersenyum. Dibawanya tubuh jangkungnya untuk mendekat ke tepi ranjang Iseul. Tangannya lalu bergerak mengusap sayang kepala adiknya itu. Muka Iseul yang masih sedikit pucat nampak bertambah pucat karena tersepuh sinar rembulan.

Ne, kau akan segera dapat melakukan itu semua,” Chisoo tersenyum, pun halnya dengan Iseul, “sekarang… tidurlah. Kau harus banyak istirahat agar cepat sembuh.”

“Mm.”

Dan rembulan malam itu dan wajah Chisoo yang tersenyum adalah hal terakhir yang dilihat oleh Iseul. Senyum pada malam itu adalah senyum terakhir Iseul. Karena esoknya…

Iseul mengalami koma.

 

― Lanjut? ―

 

Glossary              :

  • Kajja : ayo! (ajakan pergi)
  • Meokkeora : (meokkeo: makan)
  • Nado molla : aku juga nggak tahu
  • Jjang : terrrbaaikkk /ala Boboiboy/
  • Ye : Ya (lebih sopan)

 

A/N        :

                Haloooooo, masih ingat Author Cakep Paling Ces Pleng dan fanfiksi ini? Lama nggak ‘ketemu’ ya? Kira-kira berapa lama? Tiga minggu, kurang-lebih… mungkin? Ada yang kangen nggak? Ada yang nungguin nggak? Hahahaha.

Maaf ya Len ngilang selama itu. Tapi kalo kalian cari Len di hati kalian pasti Len ada di sana kok! /LEN PLIS/ Biasalah, real-life minta perhatian lebih. Terus pas mau lanjut nulis Len kena accident gitu, yang berujung pada WB dan males lanjutin ni fanfiksi, teheee. Sebenernya kerangka buat chap ini udah ada, cuma ya itu… kalo udah kena WB syusyah lanjutnya.

Terus pas udah hampir jadi―tinggal bikin ending, rupanya exoffi ini lagi ada perombakan author. Dimana semua author di-kick, dan author lama yang mau gabung harus daftar lagi. Jadi deh, Len nungguin email balesan owner buat dimasukin jadi author lagi dimari.

Cerita buat chap 6 kali ini rasanya pendek ya? Sebenernya kerangkanya panjang banget, cuma Len rasa kalo dijadiin satu entar kesannya rush banget. Jadi aja Len pendekin. XD

And tbh, Len agak susah pas nulis adegan Iseul yang nangis. Kalo baca ulang tuh rasanya kayak “Lu payah banget Len! Serius!”. Hwhwhwhw, tapi gimana menurut readers sekalian? Dan The FOO… maaf nak, kalian cuma dapet satu scene kali ini. Soalnya sengaja Len pengen nekanin ke Iseul’s side-nya.

Di sini udah ketahuan ‘kan, Iseul sakit apa? 🙂 Sebenernya Len mau kasih scene Minho jenguk si Iseul. Cuma nanti nggak seru lagi buat kedepannya. Jadi anggep aja Minho bener-bener nggak tahu kalo Iseul ini lagi sakit.

Duh, Len ngerasa chap ini nggak begitu greget /ini semua karena WB menyerang!/ -_- Pendek pula /silahkan protes Len/ Yah, but do you have something on your mind about this chap? Mau kasih komen, tanya-tanya, kritik-saran, diskusi soal fanfiksi ini, atau cuma mau ngecengin Len /WOIIII/ silahkan corat-coret kolom komentar 😀

Yosh, sebelum pamit mau promo dikit. Baca juga fanfiksi Len yang lainnya ye? Yang punya akun fanfiction.net bisa kali PM-an ama Len dimari : Kuroshi Len (https://www.fanfiction.net/u/6415019/). Mampir juga di blog Len yang baru bikin : https://iamintheblackside.wordpress.com

 

Oke, segitu dulu dari Len. Sorede, see you next chap/another fanfiction! 😀

 

Alien Tjakep bin Absurd Paling Ces Pleng,

 

 

Len

31 tanggapan untuk “Tempus Fugit, Amor Manet [Chapter 6]”

  1. Len apa kbr? 🙋 udah mkn apa udah mupon?? Ah.. sdih bgt itu pas akhr’ny 2 shbt bs ktmu, saling pluk dlm tangisan 😭 huwaa~
    Gpp wlw scene’ny d’foo cm dikit di chap ini, I’m glad mrk happy2 aja, no more drama2 cold war ky kmrn2. Kirain pas Lay bilang indah’ny tu yg di mksd cengkrama’ny/canda2an’ny mrk. Sarcastic’ny Chen itu over bgt 😆 ptugas kbrshn di bw2, ㅋㅋㅋㅋㅋ
    Mgkn krn pnykt’ny 이슬 dah ckp prh & so far dy slalu forsir u/ lthn2 & tournament2, jd 1x’ny collapse smp sgitu’ny 😯 kshn jg si 민호 tenggelam dlm rasa brslh & msh blm tau ttg pnykt 이슬.
    Bwt 승호 & 은지 slowly but surely yo 😉

  2. dooohhh gue bru baca masa *ga nanya. -_- ISEULLL KENAPA KOMA LEN???!!! gue gk bisa diginiin *lebay lanjut deh, cepetan itu knapa bsa koma. lgi enak ceritanya eh, sad lageeee…. lanjut cepetannnn >_<

    1. Ya ampun, dikau rupanya juga baca epep daku yg ini kak?! Kenapa baru komen sekarang heh? XD
      Kenapa koma? Suka-suka authornya lah :v /dikepret/

  3. NJIIIIRRRRR LEN ISEUL KOMA AAAAAAKKKKKK SIAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAL KOK KOMA SIH OMAYGAT UDAH SENENG AJA GITU SELESE OPRASI MALAH MAEN TIDUR LAGI AJA WOOOOOYYYYYYYY KAMVRET BANGET BALOM KETEMU CHANYEOL JANAN TIDURAN PANJANG DULU WOOOOOOOY HADUUUH KENAPA HARUS BEGINI AKU TAK KUASA/plak!
    setelah kemaren baca email dan cek home ternyata gak ada fic ini , malah pas cek profil udah ada ._. langsung baca aja deh wkwk tapi komennya sekarang *maapkeun maapkeun*
    eh, eh, len, eunji-seungho lagi eksis banget yah di part ini… jadi mikir mending nge-ship mereka aja dari pada nge-ship chan-seul yang gak pernah muncul-muncul… tapi enggak, aku tetap dukung chan-seul ((LEN KAPAN SIH CHAN-SEUL MUNCUL DUUUUUUUUH))
    ah, aku selalu suka jenis pertemanan cowok-cowok (apalagi yang keceh badai cem the foo) main jorok-jorokan, maki-makian, cekik-cekikan, ah indah banget/dor!
    akhirnya eunji tau juga yah :”” IYA SIP LEN MINHO JANGAN TAU BIAR DIA NGERASA BERSALAH TERUS HAHAA *jahat* salah dia sendiri main ngambek-ngambekan segala…
    HUWEEEEE ISEUL KOMAA CHANYEOL BELUM KETEMU KAMU MBAK JANGAN MATI DULU
    btw len bikin nyess deh ada nama mbak MIRANDA KERR segala… itu NYESS BANGET LEN BACANYA dan lagi gak ada nama sehun setelah itu tapi parahnya aku tau itu sehun ((alay, semua juga tau))
    udah ah, ngerusuh, fic ini ketimbun sih len jadi aku gak nemu, sekali lagi maapkeun maapkeu yaw :3 haha, udah ah, udah pamit kok gak pergi-pergi, ya udah, sampai jumpa lagi len, ya udah daah, ya udah oke sip ini gak abis-abis

    1. Sumpah, Len CENGO baca komenmu Nida xD Antara gemes-ngakak-pengen kelekin kamu xD
      No need to sorry. Yang harusnya minta maaf itu Len, lama apdet soalnya :3
      Iya, soalnya tanpa Eunji-Seungho fanfiksi ini bakal kerasa kering kayak sawah deket rumah xD Kenapa nggak nge-ship dua-duanya aja? Wkwkwkwk
      Anw, Len suka banget tiap nulis The FOO. Karena menjiwai, bisa dibilang mereka nggak jauh beda ama Len
      Kenapa? Miranda Kerr itu tante-tante seksi tau! #fans
      Cieee yang grogi xD

    2. ih mending dikelekin tante cantik cem miranda :p
      yaudah kita maaf-maafan/dor!
      iya seling-seling gitu enak len, bikin gak tegang kan… sedikit nge-ship sama eunji-seungho. tapi gak se-nge-ship kapel yang gak keluar-keluar sampe detik ini haha
      iya len aku suka bacanya haha asyik aja gitu liat pertemanan mereka, jadi inget temen-temen somplakku :”’)
      iya cantik lagi, cuman ya potek aku bacanya
      gak grogi :p

    1. Hai, terima kasih sudah penasaran dan sudah mau menunggu yang bikin, eh maksudnya nunggu epepnya xD
      Kalo penasaran silahkan ditunggu terus kalo nggak mau jadi arwah penasaran /disetrika/ 😀

  4. EMAKKKK AKHIRNYA NI FF UPDATE JUGAKKKKK,LEEEENNN MAKASIHH SUDAHH UPDATEEE❤❤
    NO ISEUL KOK KOMA SIHH,GIMANAA DONG KALOO DIA KOMAA??
    Ah Eunji gk peka banget sih_- mungkin wi-fi nya si Seungho gk kuat kali ya😁
    NEXT CHAP NYA CEPETAN YO LENNN *tevar cium:v*

    1. Lope-lope kamu kurang banyak ih, hahaha
      Lah gimana gimana? Koma ya udah koma aja, kagak bangun 😀 /disetrika/
      Seungho-nya masih pae 2G, bukan 4G LTE atau 5G :v
      Nggak janji, bhak! :v 😀

  5. Kasihan iseul ia harus berjuang melawan penyakitnya yang sudah parah apalagi ia koma . Oh tidak cepatlah sembuh agar ia bisa mengikuti kejuaraan berlari lagi kumohon.
    Next chapternya ya thor

  6. ya ampunnnn.. akhirnya keluar jg chap 6 nyaa… senangnya..
    tiap hari kepoin fanfic ini kpan keluarnya .. akhirnya keluar jg.. hehe.. aduh bingung deh mau coment gimana lg.. tp aku mau nanya ni si isseul ama chanyeol kpan ya ktemu lg.. ??? udh gk sabar nunggu mereka ketemu ni.. hehe
    yg pasti aku bakal setia nunggu next chap nya ,, semangat ya buat Len 😀

    1. Kamu nggak kepoin Len? Tanya udah makan belum, udah mupon belum, nggak? :’) /WOOOOIIII/
      Kapan ya kapan? Len juga nggak tahu /plak/ xD
      Sankyu very hamnida 😀

  7. Aku selalu nunggu ff kakak yg satu ini. Meskipun agak lupa dkt ceritanya, dikit lho tapi tetep inget jalan ceritanya-intinya- trs iseul sejak kpn punya penyakit itu?? Trs gmn pertemuan iseul sm chanyeol?? Mereka kenalannya kpn kl ketemu sih udh. Kenalannya yg kpn? Trs kisah antr chanseul gmn?? Udh aja deh udh kebanyakan tanya. Eummm apa kurang banyak?

    1. Ada yang manggil Len kakaaaaaakkk!! /peluk-hangat-nan-erat putri/ ditendang/ xD
      Nggak apa-apa /bo’ong/, lupa cerita tinggal search ama baca ulang, asal jangan lupain Len ya? :”) /LEN PLIS/
      Sejak kapan punya penyakit? Nanti di chapter depan-depan bakal dibahas kok 🙂 Ketemunya dua main cast kita? Yaaa gitu deh, liat aja nanti, hahahahaha. Kenalannya kalo udah ketemu dong pastinya 🙂
      Kisah ChanSeul? Setia aja ama fanfiksi ini sama Len /heh?/ nanti juga tau 😀

  8. yawdah. Len. Len. Len. aku udh panggil yang bener kan Len? wkwkww. masih lama gk sih?? udh ngebet pisan. /njirmaksa/ /readersaneh/ wakaka. dianya gk peka. sinyal udh dmna mna. sinyal terus dikirim dianya tau tapi cuek. huaaaa:’ cuman ada di kaka ade zone:v /njircurhatdah/ /readersmacamapaini?/ /komen macam apa ini?/

    1. Tjakeeeppp 🙂
      Lama nggak ya? Nggak selama penantian kamu ke dia kok 😀
      Cieee yang di kaka-ade zone ciee :v mupon aja deh daripada makin sakit. Kamu bukan masokis ‘kan? /authornyagila/

  9. Aku aku aku aku selalu nunggu kamu kok Len hehehe
    Iya bener chapter ini bener2 cuma ngebahas Iseul. Semoga chapter kedepan Iseul segera dipertemukan dgn Prince Yoda yaa hehehe (alias Chanyeol) biar ada bayangan hubungan mereka gitu Len hehehe 😀
    Aku jg rada bingung baca chapter ini Len gatau deh kenapa apa aku nya jg yg kurang fokus kali yaa soalnya baca ff sekalian kerja wahahaha ntar di gaplok bos atuuuttt 😀
    Ditunggu selanjutnya yaaaaa ^^

    1. Aaaahh rasanya ada yang nungguin tuh beda ya? Kayak ada manis-manisnya gitu :”D
      Amin, mari kita doakan xD
      Semoga dina yang nggak fokus, bukan karena Len yang payah amin /disetrika dina/ xD
      Tetep setia ya? Wkwkwkwk

  10. eunteu first comment? bae. yee.. Len eonni balik. ternyata iseul sakit itu. aduh scene TheFOO nya dikit pisaan.. kasian ditolak lagi. aku ada beberapa pertanyaan. kapan chanyeol iseul ketemu? kapan the foo debut? kapan si dia peka? eh?. pokoknya segitu deh.

    1. Nak, kamu salah kalo panggil Len itu eonni TAT Jangan panggil Len pake embel-embel lain please. Len itu cuma bocah, bocah! /asah gunting/ Len aja, jangan kasih embel-embel laen, mwahahaha
      Yeeee, suka-suka Len sebagai author dong mau kasih The FOO scene banyak apa dikit, nista apa ngenes /ditendang/
      Kapan mereka ketemu? Itu… ah! Entar spoiler kagak seru lagi. Pokoknya bakal ketemu deh xD Kapan The FOO debut? Kalo dijawab spoiler, wkwkwk. Masih agak lama, pokoknya bakal debut deh xD Kapan si dia peka? Periksa sinyal kamu, udah kuat apa belum. Kalo sinyal kamu udah 4G LTE ampe 6G(?) dianya belum peka, coba cheat dia. Kalo belum peka juga, larungin aja si dia ke laut /heh?/

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s