See You Again (Chapter 3)

[EXOFFI] Freelance – Agusthina Eylis Setiowati-Nana Kwon - Freelance - See You Again (Chapter 2)

Main Cast: Sehun, OC

Genre: Crime, Physiology, Hurt

Rating: PG-15

Previous: 2

Cr poster: Jazzyrocka@IFA

Sebelumnya pernah dipos: https://hunhunter.wordpress.com/

Aku akan terus menunggu sampai kau menjawab pertanyaanku. –Oh Sehun

Beberapa hari ini mood Sena hilang bagaikan ditelan bumi lebih tepatnya karena insiden yang melibatkannya dengan lelaki bernama Oh Sehun. Bagaimana bisa ia menciumnya lalu mengatakan mencintai orang lain sedangkan yang ada dihadapannya adalah dirinya seorang. Oh, apakah ia terlalu berharap pada pria berkulit putih itu?

Perlu diketahui juga sesudah insiden ciuman tempo hari ia sama sekali tidak sudi melihat wajah lelaki Oh itu.

Bagaimana bisa ia sama sekali tidak meminta maaf? Batin Sena.

Kini Sena tanpa sadar menyuarakan kekesalannya di dalam kelas bahkan tidak tahu mendapat tatapan tajam dari dosen Jung serta teman-temannya yang sedang menahan tawa menunggu pertunjukkan yang akan segera terjadi.

“Nona Ahn,” panggil dosen Jung disamping Sena, pria gempal itu mencoba menarik perhatian mahasiswinya yang sedang menatap keluar jendela itu.

“Nona Ahn,” panggilnya lagi berusaha sabar.

“Bagaimana bisa ia sudah menciumku dan sama sekali tidak meminta maaf?” omel Sena terus menerus.

“Ehem, mungkin pria itu tidak mencintaimu,” jawab dosen Jung ketika mendengar Sena melontarkan pertanyaan sendiri pada dirinya.

“Lalu, apa yang harus aku lakukan?” tanya Sena lagi.

“Buatlah essay 50 halaman dan kumpulkan di mejaku besok tepat pukul tujuh pagi.”

Mendengar suara yang tidak asing sontak Sena mengalihkan pandangannya dari jendela disampingnya dan tersenyum canggung menatap dosennya itu dan jangan tanyakan reaksi teman sekelasnya merea semua akhirnya tertawa terbahak.

.

Sena menguap bosan melihat deretan kalimat dibuku yang tebalnya kira-kira 5000 halaman itu, ia harus membuat essay sedangkan ia sama sekali tidak pandai menulis dan bodohnya kenapa tadi ia tidak mencoba untuk menawar jumlah halaman essay pada dosen Jung? Ia kembali menghembuskan nafasnya melalui mulutnya. Mencoba bersabar.

Ini semua karena Oh Sehun.

Itulah yang ada dibatinnya sedari tadi, Oh Sehun. Lelaki yang sudah mencuri ciuman pertamanya, lelaki yang membuat pikirannya hanya tertuju padanya dan lelaki yang sudah merusak seluruh kinerja otaknya sehingga tidak bisa berfikir secara logis.

Sena kemudian meletakkan kepalanya dan menutup matanya di atas meja baca perpustakaan itu dan berharap memperoleh ide untuk menyelesaikan tugas essaynya itu. Selang beberapa menit ia kembali membuka matanya dan betapa terkejutnya ia melihat lelaki dengan senyum menawannya sedang meletakkan kepalanya di meja seperti yang ia lakukan serta menatapnya.

Yo, Ahn Sena. Aku rasa kau sedang butuh bantuan?” kekehnya begitu menyadari raut wajah Sena yang berubah cerah begitu menyadari seseorang yang ia butuhkan ada dihadapannya.

“Sunbae, bagaimana bisa sunbae ada disini?” tanya Sena dengan raut wajah malu.

“Aku mendapatkan berita bahwa nobita sedang membutuhkan bantuan dari doraemon. Dan lagipula, doraemon ini memang memiliki hobi di perpustakaan saat selesai kuliah.”

Sena hanya menanggapi jawaban Jinyoung dengan senyuman malu, bagaimana ia bisa lupa bahwa Jinyoung merupakan salah satu mahasiswa terbaik jurusan arsitektur dan waktu luangnya yang dihabiskan dengan membaca buku.

“Aku dengar kau diberi tugas oleh dosen Jung untuk membuat essay?”

Sena menjawab dengan menganggukan kepalanya polos.

“Kau tahu berita itu menyebar diseluruh kampus dan yang membuatku terkejut adalah kau di cium oleh seseorang?”

Mata Sena sepersekian detik berikutnya membulat sempurna dan bagaimana dengan reputasinya di kampusnya yang sebagai mahasiswi baru.

“Kau ditolak oleh lelaki yang ingin kau berikan jaket itu?”

***

Lelaki jangkung itu menyusuri lorong rumah sakit setelah bertemu dengan dokter pribadinya –Cho Youngpil. Dalam hatinya ia senang begitu mendengar penuturan dari dokternya itu.

Kalau begitu berdekatanlah dengan wanita yang membuatmu mengingat saat kau berumur 16 tahun itu.

Kalimatnya masih terngiang, ya, entah mengapa tanpa sengaja kemarin dari dalam dirinya ada dorongan untuk mencium adik dari Jaehyun dan ia melihat kilasan masa lalunya –cinta pertamanya, Ahn Sooyoung. Namun, kini yang menjadi masalahnya bagaimana ia bisa berdekatan dengan Sena sedangkan selama beberapa hari ini gadis itu menghindarinya. Oh, bahkan menatapnya saja enggan.

Sehun mengusap rambutnya kasar begitu mengingat insiden ciuman yang tidak disengaja itu. Ia berani bersumpah ia tidak sengaja dan tidak tahu dengan mencium Sena ia bisa mengingat masa lalunya walaupun hanya sekilas. Apakah ia harus minta maaf? Itu bukan gayanya sama sekali.

.

Sehun melangkahkan kaki panjangnya menuju ke depan pintu kamar berwarna kuning tepat di depan kamarnya. Ia segera keluar dari kamarnya begitu mendengar suara pintu ditutup dengan cara dibanting.

Entahlah, kini ia bahkan merasa takut hanya untuk mengetuk pintu kamar seorang gadis yang lebih muda darinya dan menyebalkan, menurutnya.

Ia menarik nafas melalui mulutnya lalu menghembuskannya lagi, ia mengulanginya sampai beberapa kali. Tangannya sudah terangkat hendak mengetuk pintu dihadapannya namun gerakannya terhenti begitu melihat pintu itu dibuka dari dalam.

“Aish, aku pasti gila bahkan aku melihatnya di depan pintu kamarku,” Sena bermonolog sendiri meninggalkan Sehun dan menuju ke kulkas untuk mengambil air putih.

Merasa tidak dipedulikan Sehun mengambil langkah panjang menuju dapur untuk menghampiri gadis yang tengah meneguk air putih dari botol ukura sedang dari kulkas.

“Ya, Ahn Sena. Kau tidak melihat ada orang di depanmu?”

Mendengar suara dingin yang sudah beberapa hari ini ia tidak dengar, ia segera menyemburkan air yang ada dimulutnya tepat di muka Oh Sehun. Lelaki itu menggeram untuk menahan emosinya yang sudah di ubun-ubun akibat ulah Sena.

“K-kau nyata?” tanya Sena sembari mengarahkan jari telunjuknya ke wajah Sehun.

“Kau pikir aku ini hantu?”

Sena terdiam. Ia sama sekali tidak berniat untuk membalas perkataan pria itu. Toh, Sehun sama sekali tidak menyukainya dan belum meminta maaf padanya atas kejadian tempo hari. Dengan perlahan ia mengambil langkah untuk meninggalkan Sehun dengan wajah basah kuyupnya itu di dapur.

“Mau kemana kau?” tanya Sehun sembari menarik kerah baju bagian belakang Sena dan membuatnya untuk menatap wajahnya.

“Lepas, Oh Sehun.” teriakkan Sena membuat Sehun segera melepaskan tangannya yang tertaut di pakaian gadis itu. “Aku harap kita tidak saling bertemu untuk beberapa hari ke depan. Aku masih sangat marah padamu.” Setelah mengatakan itu Sena segera mengambil langkah menuju kamarnya dan Sehun dapat mendengar suara pintu di tutup.

.

Jaehyun tidak dapat menyalahkan Sehun sepenuhnya berkaitan dengan fakta ia ‘mencium’ sang adik. Ia juga tidak marah sama sekali saat Sena memberitahunya dengan penuh semangat dengan tujuan memarahi Sehun. Well, Jaehyun hanya merasa bahwa disini bukan hanya Sehun saja yang salah melainkan juga Sena, kenapa ia tidak menampar Oh Sehun saat itu juga dan malah menerima ciuman yang tidak sengaja itu bukan?

Kini ia hanya dapat menatap Sehun dengan tatapan tidak tahu harus mengatakan apa dengan kenyataan Sena sudah beberapa hari tidak mau bergabung makan dengan mereka berdua.

“Aku rasa kau harus minta maaf,” kata Jaehyun sembari memasukkan jjangmyun ke dalam mulutnya.

“Aku tahu,” jawab Sehun singkat. Jaehyun menganggukkan kepala mendengar jawaban Sehun sebagai tanda bahwa ia mengerti.

“Aku juga minta maaf padamu, adikmu pasti sangat marah padamu karena kau tidak memarahiku hyung.”

“Hei, itu bukan sepenuhnya salahmu jadi tidak usah minta maaf padaku.”

Jaehyun kembali memakan hidangan makan malamnya setelah berusaha menenangkan Sehun. Menurutnya secara pribadi hal seperti itu bisa terjadi diantara adiknya dan Sehun, ya bisa saja terjadi.

.

Lelaki bertubuh tinggi yang berdiri di depan mobil berwarna merah menggunakan kacamata itu menjadi perhatian bagi siapa saja yang melewatinya. Khususnya kaum hawa, tentunya. Tiada yang lebih indah melihat ciptaan Tuhan yang sempurna sehabis mendengarkan ocehan dosen di kelas bukan?

Sedangkan, seorang gadis dengan tampang kusut sehabis mengikuti kelas desainnya berjalan dengan malas menuju ke pintu keluar kampusnya itu. Bahkan ia sama sekali tidak berminat mendengar mahasiswi lain memekik karena melihat lelaki tampan –katanya. Ia sendiri juga heran kemana insting seorang wanita yang mendengar gosip, lelaki memiliki wajah tampan, mobil yang bagus serta postur tubuh yang sexy.

Ia terus berjalan tanpa menyadari telah melewati seorang pria yang tengah dikerumuni oleh mahasiswi kampusnya itu hingga sebuah suara terdengar ditelinganya.

“Ahn Sena!” ia berhenti melangkah merasa sangat familiar dengan suara husky itu.

“Ya, berhenti Ahn Sena,” mendengar seruan kedua kalinya ia memutuskan untuk memutar badannya dan rahangnya nyaris saja jatuh.

“Oh Sehun.”

.

Suasana di mobil milik pria Oh itu masih sunyi. Tidak ada sama sekali mencoba untuk memulai pembicaraan diantara mereka. Ya, Sena sangat gengsi untuk memulai tentu saja apalagi perasaannya masih kesal akan insiden kecupan atau malah ciuman panas mereka beberapa hari yang lalu.

Sehun dengan tiba-tiba menepikan mobilnya dan menatap Sena dengan tatapan tajamnya sedangkan gadis itu hanya bisa menelan ludah ketika tiba-tiba kepala pria itu makin mendekat kearahnya. Ia bahkan sudah menutup mata sampai ia merasakan bagian depan tubuhnya menjadi kencang karena terpasang seatbelt. Oh, ia merasa sangat malu. Kenapa ia mengharapkan Sehun menciumnya?

“Kau kecewa?” tanya Sehun dengan diikuti suara kekehannya.

“S-siapa yang kecewa dan karena apa?” jawab Sena balik sembari mencoba untuk menetralkan nada bicaranya.

“Lupakan saja,” kata Sehun. “Lain kali gunakan seatbeltmu, akan sangat berbahaya jika yang mengendarai mobil bukan aku.” Sambung lelaki Oh itu kemudian.

“Ya! Kau pikir kau mengendarai dengan sangat aman apa?” balas Sena tak terima dengan ucapan Sehun barusan sedangkan Sehun hanya menganggukan kepala untuk menjawab pertanyaan gadis yang ada disebelahnya tanpa melihat siapa lawan bicaranya. “Cih, Oh Sehun kau mau membawaku kemana sebenarnya, huh?”

“Gangwon-do.”

“Apa Jae oppa juga ada disana?” Sena rasa mereka dalam penyelidikan dan membutuhkan bantuannya, dalam hati kecilnya ia berharap tidak mengacaukan tim yang diketuai oleh kakaknya itu –lagi.

“Tidak,” Sehun menghentikan mobil ketika rambu menunjukkan warna merahnya, “hanya kau dan aku.”

Sena menganggukan kepalanya mengerti.

Tunggu..

Hanya Sena dan Sehun.

“Apa kau gila?”

.

Sena pov

Aku masih tidak percaya ini, Sehun mendapatkan ijin dari Jae oppa untuk menemaninya ke daerah asalnya, Gangwon-do. Ya, setidaknya aku dan keluargaku juga pernah tinggal disini hanya saja aku sudah tidak ingat alamat dimana aku tinggal.

Aku hanya mengetahui dari eomma, kami pernah tinggal disini dan aku juga mengalami kecelakaan disini. Eomma bilang ia trauma jika melihat jalanan Gangwon-do, itu mengingatkannya pada hari kecelakaanku dan kepalaku yang penuh darah. Oleh karena itu, setelah aku melakukan operasi di rumah sakit di Gangwon-do kami sekeluarga pindah dan menempatkanku di rumah sakit terbaik di Gwangju. Aku tersadar dari koma di rumah sakit tempat tinggal kami yang baru dan tanpa mengingat kejadian disaat aku mengalami kecelakaan mobil sedikitpun.

“Kita sudah sampai, cepat keluar dan bantu aku mengeluarkan koper yang ada dibagasi,” kata Sehun dengan gaya bossy.

Aku hanya menghembuskan nafas mencoba untuk tidak marah padanya dan segera menuju ke bagasi mobil ini. Mataku membulat begitu melihat ada koper berwarna kuning di bagasi ini.

“Bawa barangmu masuk sendiri,” kata Sehun singkat mengangkat koper berwarna silver dengan corak aneh miliknya sendiri.

“Sehun, kita menginap?” tanyaku membawa koper ini masuk ke dalam rumah bercat putih itu.

“Ya,” Sehun menjawab singkat dan segera menarik koperku kearah pintu berwarna coklat di lantai satu ini. “Kamarmu.” Satu hal pertama kali yang aku rasakan di rumah ini, hangat. Entahlah, padahal aku sangat yakin eomma Sehun dibunuh di rumah ini. Tapi kenapa aku sama sekali tidak merasa takut?

“Kalau ada yang kau perlukan kau bisa mengetuk kamarku di lantai dua,” lelaki itu segera keluar dari kamar ini dan membawa kopernya ke lantai dua yang bisa aku yakini kamarnya sendiri.

.

Author pov

Sena masih memandangi bingkai foto yang terpajang di ruang tamu itu dan terkadang tersenyum kecil begitu menyadari Sehun kecil amat menggemaskan difotonya dulu. Ya, dulu, begitu ia mengingat betapa menyebalkannya Sehun sekarang ia kehilangannya senyumnya. Oh, ia bahkan kembali teringat fakta lelaki itu belum meminta maaf padanya dan sekarang ia menyeretnya untuk menemaninya menginap di rumah lamanya.

“Ayo, kita keluar,” Sehun menggunakan jaket sembari menuruni anak tangga dan menatap Sena yang tengah menatap foto-foto yang terpajang diruang keluarga itu.

“Hun, apakah ini eommamu?” tanya Sena sembari menunjuk foto dimana Sehun yang kira-kira baru masuk sekolah menengah atas tengah merangkul ibunya.

“Ya, ayo aku sudah lapar.” Sena tahu Sehun menjawab pertanyaannya tanpa minat dan ia sedang berusaha untuk menghindari keingintahuannya lebih lanjut.

.

Suasana mewah kentara sekali di rumah besar itu. Terlihat wanita berusia berkepala lima sedang menikmati whine di kursi mahalnya. Ia menatap seorang lelaki yang tidak jauh dari umurnya di hadapannya dengan tatapan datar.

“Apa? Ia kembali ke rumah itu?” tanyanya bersuara.

“Ne, nyonya. Apakah aku harus membunuhnya sekarang juga?” tanya sang pria sembari menundukkan kepalanya.

“Jangan, akan sangat menarik jika mengetahui anak wanita jalang itu masih hidup dan seakan menantangku untuk mengakhiri hidupnya. Dan oh, aku ingin melihat apakah ia setampan ayahnya.” Wanita itu kembali menyesap whinenya dengan anggun dan segera mengalihkan pandangannya ke jendela besar yang terletak di ruangan itu.

“Awasi anak itu, semua pergerakkannya.”

.

Sena menatap sekelilingnya dengan tatapan berbinar bagaimana tidak, Sehun mengajaknya ke Yongpyong Resort. Kini mereka tengah berada di kereta kabel menuju ke puncaknya guna ski malam hari.

“Wah,” mulut Sena terus terbuka menggumamkan decak kagumnya melihat lampu dibawah tubuh mereka yang menyinari jalur ski.

“Aku dengar kau pandai bermain ski,” kata Sehun yang melihat raut wajah Sena yang begitu bahagia. Dan gadis itu sama sekali tidak mengindahkan perkataan Sehun, ia masih terlalu sibuk untuk mendengarkan lelaki disampingnya.

“Aku tidak percaya, aku benar-benar ada di tempat ini,” gumam Sena yang terdengar oleh Sehun.

Sedangkan, lelaki itu ia terus tersenyum melihat gadis disampingnya yang terus melontarkan kekagumannya disini. Ia terus melakukan pengamatan secara hati-hati pada gadis itu. Takut-takut nanti tertangkap basah oleh Sena.

“Sehun, bagaimana kau bisa mendapatkan ijin dari Jae oppa?” tanya Sena yang menghadapkan kepalanya kepada Sehun setelah menyadari ia ada di kereta kabel dengan orang lain.

“Ia yang menyuruhku untuk mengajakmu, bukan mauku membawamu kesini,” jawab Sehun dengan melipat tangannya di depan dadanya.

Sena menjatuhkan rahangnya, bukan karena kekagumannya tetapi karena jawaban Sehun yang membuat moodnya seketika anjlok. Apa ia kini terlalu berharap?

“Seharusnya kau bilang dari awal sehingga aku tidak mau ikut denganmu,” balas Sena ketus.

Lelaki itu malah terkesan cuek, dan tidak menanggapi perkataan gadis yang lebih muda darinya itu. Ia segera melangkah begitu kereta yang mereka tumpangi sudah sampai di stasiun bagian atas. Kemudian, ia bersiap untuk meluncur bersama salju yang ada disitu tetapi ia menoleh kebelakang ketika melihat Sena dengan raut wajah cemberut melangkah ke arahnya.

“Jangan pedulikan aku.”

.

Sehun masih mengunyah jjambong di restoran yang ada di area ski ini dengan menatap Sena yang sedang cemberut dan hanya mengobrak-abrik saladnya. Sehun bahkan tak habis pikir di gadis itu masih sempat-sempatnya menjaga proporsi tubuhnya ketika liburan.

“Cepat dihabiskan sehingga kita bisa pulang,” kata Sehun sambil menyeruput kuah mie berwarna merah itu.

Sedangkan gadis yang diajak bicara olehnya masih tetap untuk enggan menjawab perkataan Sehun. didalam benaknya ia merasa sebagai gadis yang amat bodoh, bagaimana bisa ia terlalu berharap bahwa lelaki itu yang meminta ijin pada kakaknya dan bukan kakaknya yang menyuruh mengajak Sena kemari?

Dan apakah ia terlalu menyukai pria menyebalkan dihadapannya ini sehingga ia sangat mengharapkan kalau Sehun mengajaknya untuk liburan bersama dalam rangka kencan?

“Aku sudah selesai,” akhirnya ia menyerah untuk menyelesaikan makan malamnya dan berdiri dari kursinya. Sehun menatap bingung Sena yang sudah pergi meninggalkannya.

“Ada apa dengan gadis itu?”

.

Sena pov

Aku berada di depan pintu berwarna putih dengan membawa kotak berwarna merah yang aku yakini berisi syal yang sudah aku rajut. Kemudian, tanganku terangkat untuk mengetuk pintu dihadapanku.

Tok.. tok.. tok..

Namun masih belum ada jawaban setelah aku menunggu lebih dari 30 menit lamanya. Biasanya, nyonya Oh akan segera menyambutku dan menyuruhku ke kamar yang berada di lantai 2. Padahal cuaca sedang mendung disini bahkan guntur sudah mulai terdengar.

Ahh, aku buka saja. Biasanya juga aku masuk seenaknya sendiri. Batinku.

Mataku terbelalak ketika melihat seorang lelaki berumur 17 tahun tengah tak sadarkan diri. Aku menjatuhkan kotak berisi pemberianku kepadanya dan segera berlari kearahnya.

“Sehun oppa,” aku terus memanggilnya. Oh, Tuhan apa yang terjadi disini bahkan aku dapat melihat darah dari kepalanya dan lantai rumah ini juga berlumur dengan darah. “Sehun oppa,” aku sudah tidak dapat membendung airmataku lagi dan selanjutnya aku minta tolong.

Namun, bukan pertolongan yang datang melainkan malaikat penjemput kematian dari lantai 2 yang membawa tubuh nyonya Oh yang sudah terpotong di beberapa bagian. Nafasku makin tercekat begitu melihat orang yang menggunakan topeng joker itu berjalan kearahku.

“Sehun oppa, cepat bangun kita harus lari,” aku terus menggoyangkan tubuhnya dan terus menangis. Aku tak mungkin meninggalkannya begitu saja.

“Lari, sooyoung-ah.” Sehun tersadar dan berkata dengan nafas yang terputus-putus, “lari karena saharusnya kau tidak datang malam ini.”

Aku menangis melihatnya yang mulai kehilangan kesadaran lagi. “Oppa, Sehun oppa!”

Aku segera bangun dan berlari ketika pembunuh itu melangkahkan kakinya lebar menghampiriku. Aku terus berteriak minta tolong namun sepertinya tidak ada yang mendengarku, aku terus berlari dan terus melihat kebelakang melihat pembunuh itu masih mengerjarku. Tanpa aku sadari aku telah berlari hingga ke jalan raya dan.. boomm.. yang aku tahu semua tulangku mati rasa dan satu hal yang aku lihat seseorang bertopeng joker.

.

Tok.. tok.. tok..

“Ahn Sena! Ahn Sena!” Sehun berlari begitu mendengar jeritan dari lantai satu dan suara minta tolong dari kamar Sena. Tentunya, ia khawatir begitu mendengar jeritan seorang gadis di malam hari.

“Ahn Se–” kalimatnya terputus ketika pintu terbuka dan Sena langsung memeluk tubuhnya.

“Aku mimpi buruk, Hun.” Katanya sambil mulai kembali terisak di pelukan Sehun. Sejujurnya, pria itu sendiri sama sekali tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya berharap dengan dirinya yang membiarkan gadis itu memeluknya perasaan gadis itu akan membaik.

“Ssstt, ada aku disini semua akan baik-baik saja.”

“A-aku selalu bermimpi yang sama tetapi saat aku terbangun, hiks.. aku sama sekali tidak mengingat apa yang ada dimimpiku. Aku hanya merasa ketakutan yang luar biasa.” Sehun mengusap kepala Sena dan menepuk punggung gadis itu.

“Itu hanya mimpi Sena, semua baik-baik saja.”

.

Mereka berdua berakhir disini, dikamar Sehun. Ya, hari sudah semakin malam dan Sena tidak bisa kembali terlelap dan ia takut apabila menutup matanya akan kembali pada mimpi yang sama. Sedangkan, Sehun sendiri duduk di kursi meja belajar yang dulu ia gunakan semasa sekolah menengah.

Sena terus bergerak kesana kemari untuk mencari posisi yang nyaman agar ia segera tertidur dan itu membuat Sehun sedikit jengah. “Ya, Ahn Sena aku sudah mengantuk sampai kapan kau mau terus membuka matamu?”

Mendengar pertanyaan Sehun membuat gadis itu terduduk diranjang berukuran sedang itu. Ia menatap Sehun dengan tatapan memelasnya.

“Bisakah kau disini sebentar lagi? Aku yakin secepatnya aku akan tertidur,” Sena sangat berharap pria itu mengerti akan kondisinya. Sehun menganggukan kepalanya malas dan menatap tubuh mungil itu yang kembali terbungkus oleh selimut tebal berwarna biru itu.

“Ada yang harus kuberitahu kepadamu, Hun.” Kata Jaehyun pada Sehun yang tengah mengemasi baju-bajunya ke koper.

“Apa hyung?” tanya Sehun sambil mengambil beberapa bajunya dari lemari.

“Sena selalu mimpi buruk,” Jaehyun mengambil nafas sebelum melanjutkan kalimatnya, “biasanya ia akan tertidur kembali setelah dipeluk oleh eommaku.”

“Lalu?”

“Kau masih ingat kejadian saat kasus Shin Seunghwan? Saat kau di rumah sakit ia mimpi buruk dan akan tertidur kembali jika ada yang memeluknya –aku.”

“Jadi, maksudmu aku harus memeluknya jika tiba-tiba ia mimpi buruk?”

Sehun seakan mendapatkan pencerahan setelah mengingat perkataan Jaehyun tadi pagi. Gadis itu selalu merasa tidak aman ketika ketakutan. Sehun bahkan amat tahu saat pertama kali ia mendobrak kamar di club untuk menangkap Shin Seunghwan mata gadis itu terlihat gelisah.

Ia sudah menunggu selama 30 menit lebih namun tidak ada tanda-tanda Sena tertidur, ia berinisiatif menggunakan cara yang dianjurkan oleh Jaehyun. Perlahan ia bangun dari duduknya dan masuk keselimut yang sama dengan Sena.

“O-oh S-sehun, apa yang kau lakukan?” tanya Sena begitu merasakan sepasang tangan kekar memeluknya dari belakang.

“Tidurlah, aku tahu dari Jae hyung kau tidak bisa tidur setelah mimpi buruk apabila tidak dipeluk,” jawab Sehun santai dan makin mempererat pelukannya. Sena makin gelisah, bukan karena takut Sehun melakukan hal yang macam-macam melainkan detak jantungnya yang makin menggila dan pelukan Sehun terlalu nyaman untuk membuatnya berpikir lelaki itu akan melakukan hal tak senonoh.

“Sena, apa kau mau bermain jujur denganku?” lelaki Oh itu mengeluarkan suaranya namun sama sekali tidak Sena jawab, ia masih mencoba menetralkan detak jantungnya.

“Aku minta maaf atas kejadian beberapa hari yang lalu,” oh kalimat Sehun bahkan makin membuat Sena tidak waras karena merasakan kupu-kupu di perutnya ketika mengingat bibir basah Sehun yang melumat bibirnya.

“Dan hari ini aku yang meminta hyung untuk mengijinkanmu pergi bersamaku,” setelah mendengar penuturan jujur Sehun, gadis itu langsung membalikan tubuhnya dan menghadap Sehun lalu melihat mata lelaki itu. Hasilnya sama sekali tidak ada kebohongan.

“Kenapa kau mengatakannya? Bukankah lebih baik kau berbohong Sehun?”

“Aku tahu kecewa jika bukan aku yang mengajakmu,” jawab Sehun percaya diri.

“Cih, percaya diri sekali.” Cibir Sena dan kembali membelakangi Sehun. sedangkan, lelaki itu dengan senang hati memeluk tubuh mungil itu dari belakang.

“Sebenarnya aku ingin meminta tolong padamu, Ahn Sena.” Perkataan Sehun hanya di tanggapi oleh gumaman gadis yang berada dipelukannya.

“Berkencanlah denganku.”

.

.

.

TBC

 

Hello, long time yaa^^ saya sudah menjadi author tetap nih. Makasih buat admin exo fanfiction indonesia yang sudah kasih kesempatan. Maaf juga buat para readers karena lama banget nggak posting.

Jadi, aku mau jawab beberapa pertanyaan mengenai FF ini.

Apa Ahn Sena itu Ahn Sooyoung?

Iya, Sena sama Sooyoung itu orang yang sama. Cuma ganti identitas saja.

Ayah Sehun dimana?

Ayah Sehun masih hidup, tapi aku masih belum bisa jelasin dimana dia sekarang.

Apa Sehun sudah ingat di chapter 2 kemarin?

Belum, pertanyaan ini kejawab di chapter ini.

Dan untuk ingatan Sena-Sehun aku nggak yakin kapan buat mereka ingat. Yang jelas nggak chapter deket-deket ini lha yaa. Untuk mimpi mereka nanti di chapter-chapter berikutnya bakal lebih terperinci. Kalian tahu kan mimpi Sena di chapter 1? Dan di chapter ini lebih jelas mimpinya.

Okee, sekian deh. Author terlalu banyak omong yaa. See you in chapter 4! J

 

Regards,

Nana Kwon

5 tanggapan untuk “See You Again (Chapter 3)”

  1. Wahhh…q rsa sehun mau mmafaatkn sena biar dy bs mngngat lalux. Pdhl yg scr tdk lgsg sena adl ms lalux sendr.

  2. Woaa sehun permintaan tolongnya berbahaya nih.. Kekeke.. Jadi penasaran siapa sih wanita yg bunuh ibunya sehun sama ngincar sehun tu.. Di next ya thor.. Ditunggu banget next chapnya kekeke ^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s