My Liar Girl [Chapter 1]

MLG

Title : My Liar Girl [Chapter 1]

Author : Ariana Nana

Cast : – Kim Ara

 – Lee Yian

 – Han Jihyun

 – Oh Sehun

 – Park Hana

 – Kim Jong In

Genre : Romance, schoollife

Lenght : Chapter

Disclaimer : FF ini asli buatanku. Terinspirasi dari khayalan gilaku yang sudah mencapai tingkat tertinggi dan teraneh sepanjang hidupku. Ff ini juga pernah di post di blog pribadiku ffsekaiexo88.wordpress.com . Jika ada kesamaan tokoh dan ide, ketahuilah bahwa itu hanyalah kebetulan belaka. Don’t bash and please RCL ☺

***

“Jika aku mengatakan aku membencimu itu adalah sebuah kebohongan besar. Tapi jika aku mengatakan bahwa aku mencintaimu.. aku bersungguh-sungguh tentang hal itu..”

— HAPPY READING —

“Tolong keluarkan aku dari sini.. tolong aku…”

Suara rintihan terdengar dari sebuah ruangan gelap di ujung koridor sebuah sekolah menengah atas di Seoul. Suara itu berasal dari seorang gadis yang mencoba untuk membuka pintu yang terkunci di depannya. Gadis itu terus mencoba walaupun kecil kemungkinan dapat membuka daun pintu yang terkunci rapat itu. Seragam yang digunakan gadis itu robek dan kotor. Penampilan gadis itu benar-benar berantakan dan sangat menyedihkan. Rambutnya berantakan dan terdapat bercak darah di sudut bibirnya.

Gadis itu menggedor-gedor pintu lebih keras lagi, berhaap akan ada seorang malaikat yang mau menlongnya. Di lihatnya jam yang bertengger manis di pergelangan tangan kirinya yang menunjukkan pukul sembilan lewat sepuluh. Gadis itu ketakutan. Hari sudah mulai malam dan ia terkunci sendirian di dalam ruangan yang gelap ini.

Tiba-tiba gadis itu menghentikan aksinya menggedor-gedor pintu saat ia mendengar langkah kaki yang semakin mendekat ke arahnya. Gadis itu melangkah mundur menjauhi pintu, mencoba untuk waspada. Ia mengambil bongkahan kayu yang berasal dari kursi yang rusak dan memegangnya dengan kencang sambil bersiap-siap memukul siapa saja yang akan melukainya. Detik berikutnya terdengar suara pintu yang terbuka dan gadis itu terkejut saat menemukan seorang lelaki berdiri di belakang pintu itu.

“K-kau…”

“Apa kau tidak apa-apa?” tanya lelaki itu sembari berjalan mendekat. Gadis itu hanya diam di tempatnya. Bibirnya terlalu kelu untuk mengucapnya sepatah kata yang ingin ia ucapkan.

Gadis itu bahkan masih saja diam saat lelaki itu memeriksa setiap inci tubuhnya. Memastikan bahwa tidak ada luka serius yang dialami gadis itu. Gadis itu hanya memperhatikan lelaki yang tidak dikenalnya sama sekali itu. Dari sorot matanya, gadis itu bisa melihat bahwa lelaki itu cukup khawatir dengan keadaannya. Tapi, siapa lelaki itu? Gadis itu benar-benar tidak mengenalnya.

“Kenapa kau hanya diam? Aku mencarimu kemana-mana tadi.”

Kini lelaki itu memeluk gadis itu dengan erat. Gadis itu hanya diam dalam dekapan lelaki itu. Pikiranya masih memproses, mencari tahu siapa sebenarnya lelaki yang menolongnya ini? Ia seperti tidak asing namun sama sekali tidak mengenalnya. Tak ada satu namapun yang muncul di otaknya. Gadis itu mendongakkan kepalanya, menatap lelaki yang lebih tinggi lima belas senti senti darinya itu.

“Siapa kau?”

Mendengar pertanyaan yang diajukan gadis itu, lelaki itu melepaskan pelukannya. Ia menatap gadis itu lekat-lekat. Jarak diantara keduanya sangat dekat. Lelaki itu menatap mata coklat milik gadis itu dalam-dalam. Ia memegang bahu gadis itu lalu tersenyum lembut.

“Kau benar-benar tidak tahu siapa aku? Kau tidak mengingatku?”

Kembali gadis itu hanya diam. Ia menggeleng lemah menandakan bahwa ia tidak mengenal lelaki itu sama sekali. Melihat respon dari gadis itu, lelaki itu hanya tersenyum miring lalu mendekatnya wajahnya.

“Tapi kau pasti akan mengingat yang ini..”

CHUUP~~

Lelaki itu tiba-tiba saja mencium gadis itu yang sontak membuat sang gadis membelalakkan matanya saat merasakan sebuah material lembut nan basah yang menempel di bibirnya. Gadis itu mencoba melepaskan pagutan bibir mereka saat lelaki itu mulai melumat bibirnya pelan. Tak mau kegiatannya berakhir begitu saja, lelaki itu justru kembali menarik gadis itu ke dalam dekapannya. Sebelah tangannya ia gunakan untuk memegang pinggang gadis itu dan sebelahnya lagi ia gunakan untuk menarik tengkuk gadis itu agar semakin memperdalam ciuman mereka.

Sang gadis merintih pelan saat lelaki itu mulai berani menggigit bibirnya. Bahkan kini tangan lelaki itu yang tadinya berada di pinggangnya, mulai merangkak masuk ke kemeja putihnya dan mengelus punggungnya yang polos. Gadis itu mulai kehilangan akal sehatnya. Ia bahkan mulai membalas ciuman lelaki itu dan tangannya yang bebas ia gunakan untuk membuka kancing kemeja lelaki satu persatu. Terus membukanya hingga tersisa satu kancing. Dan saat ia berhasil membuka semua kancing kemeja itu, tiba-tiba saja…

BYURRR~~

“Aaarrggghhh~~~~”

Gadis itu tiba-tiba saja berteriak dan melompat bangun dari ranjangnya saat merasakan sesuatu yang dingin mengguyur tubuhnya. Ia segera membuka matanya dan menemukan Ibunya tengah berdiri di depannya, menatapnya dengan tajam dan sebelah tangannya memegang sebuah ember kecil. Gadis itu langsung mengusap wajahnya yang basah dengan kasar.

“Ibu!!!! Kenapa Ibu menyiramku dengan air lagi??!!!” kembali gadis itu berteriak sambil mencak-mencak tak karuan karena kembali mendapati Ibunya menyiramnya dengan air dingin untuk membangunkannya. Ini bukan pertama atau kedua kalinya, tapi ini sudah terjadi sejak setahun yang lalu.

“Salahmu sendiri kenapa tidak bangun-bangun. Saat Ibu masih membangunkanmu dengan manis, harusnya kau segera bangun. Lagipula, apa yang kau mimpikan barusan? Kau memonyongkan bibirmu sambil mendesah tak karuan. Kau pasti bermimpi kotor kan??!!”

Gadis itu hanya bengong di tempatnya saat mendengar apa yang dikatakan Ibunya. Ia tak berani menjawab ataupun berteriak lagi. Ia justru memegang birbinya. Jadi, tadi hanya mimpi? Kenapa rasanya sangat nyata?

“Ayo cepat mandi dan antar Ibu ke pasar!” perintah Ibunya sambil meninggalkan putri semata wayangnya yang masih terdiam di tempatnya berdiri.

“Kim Ara.. cepat mandi!!” perintah Ibu kembali karena gadis yang ternyata bernama Kim Ara itu tak kunjung melakukan apa yang di perintahkan Ibunya. Terpaksa Ara menyeret kakinya keluar kamar menuju kamar mandi yang tak jauh dari kamarnya.

“Huh.. aku tidak percaya aku bisa bermimpi hal-hal senista itu.” Gumamnya sambil melangkah pergi.

***

Ara berjalan mengekori Ibunya sambil membawa kantong belanja yang penuh dengan sayuran dan ikan-ikan yang baru dibeli Ibunya. Ia menghembuskan nafas berkali-kali karena Ibunya sangat tidak peduli dengan keadaannya yang membawa banyak barang sedangkan Ibunya hanya berjalan santai sambil membawa tas jinjingnya. Ara berhenti berjalan dan berteriak kesal.

“Ibu, setidaknya bantu aku membawakan ini.” Katanya membuat Ibunya langsung berhenti berjalan dan berbalik menatapnya.

“Hei, seharusnya siapa yang memerintah siapa? Kau kan sudah Ibu perintah untuk membawakan semua barang belanjaan Ibu.” Jawab Ibunya santai sambil mengipasi dirinya dengan kipas yang tadi di bawanya karena udara cukup panas.

“Tapi bukan berarti Ibu tak membawa apapun kan? Aku lelah membawa semua belanjaan ini, Bu.” Keluh Ara.

“Nyonya Kim, apa yang terjadi disini?” tanya seorang wanita yang seumuran dengan Ibunya Ara pada Ibu Ara. Mengetahui ada orang lain disekitar mereka, Ibu Ara langsung memasang senyum manisnya.

“Tidak ada apa-apa. Hanya saja seseorang mulai mengabaikan perintahku.” Jawab Ibu Ara sambil melirik pada Ara yang menatapnya kesal.

‘Apa-apaan ini? Apakah Ibu berniat menyindirku?’ batin Ara.

“Memangnya siapa? Owh ada Ara.. kau baik sekali nak mau membawakan semua barang belanjaan Ibumu.” Kata wanita itu beralih menatap Ara, membuat Ara langsung menyunggingkan senyum miring pada Ibunya.

“Ah tidak juga. Dia hanya akan membantuku saat dia mau. Selebihnya dia malah asyik dengan dunianya sendiri.” Komentar Ibunya sambil tersenyum mengejek pada Ara.

“Kim Ara? apakah kau mengisi waktu liburanmu dengan membantu Ibumu di kedai? Waah.. kau sangat perhatian.” Kini seorang gadis yang seusia dengan Ara ikut bicara, padahal sedari tadi ia hanya diam di belakang wanita itu.

“Owh, apakah ini Han Jihyun? Kau cantik sekali..” puji Ibu Ara sambil menatap Jihyun dari atas hingga bawah membuat Ara mengerucutkan bibirnya sebal.

‘Ibu selalu saja seperti itu jika melihat ada gadis yang lebih cantik dariku.’ Batin Ara, lagi.

“Terimakasih, Bibi.” Kata Jihyun dengan manis membuat Ara ingin muntah.

“Andaikan aku memiliki putri sepertimu, yang cantik, baik dan pintar. Kau sangat beruntung, Nyonya Han. Tidak seperti aku yang memiliki putri seperti itu.” Kata Ibu Ara sambil melirik Ara dengan dengan ekor matanya. Ara semakin kesal saja apalagi ia sempat melihat Jihyun yang tertawa mencibir padanya.

“Tidak juga, Nyonya Kim. Putrimu juga cantik, dia juga penuh perhatian pada Ibunya.” Kata Nyonya Han pada Ibu Ara.

“Ibu, ayo kita pulang. Cuaca jadi semakin panas.” Kata Ara pada Ibunya, namun Ibunya masih saja asyik mengobrol hal-hal yang tidak penting dengan Ibunya Jihyun.

“Ibu….” panggil Ara.

Karena kesal Ibunya tak mempedulikan, dan juga karena Ibunya merendahkannya di depan teman sekelasnya itu, Ara memilih pergi dari sana. Ia juga meninggalkan barang belanjaan yang tadi dibawanya di pinggir jalan. Ia lalu berjalan dengan cepat di jalan setapak yang kecil menuju rumahnya yang letaknya sudah tak jauh lagi.

“Ibu benar-benar keterlaluan. Hanya karena aku tidak secantik dirinya bukan berarti dia harus mengejekku di depan mereka. Andai saja Ibu tidak menikah dengan ayah, pasti aku juga tidak akan sejelek ini.” Rutuk Ara dalam hatinya sambil terus berjalan. Cuaca semakin panas membuat Ara semakin mempercepat laju jalannya. Apalagi desanya terletak di pinggir laut, membuat cuaca yang panas menjadi semakin panas.

“Hei, Kim Ara.” panggil seseorang sambil menghampiri Ara yang masih saja terus berjalan. “Ara.. apa kau mendengarku?” panggilnya lagi sambil menghentikan sepedanya di depan Ara.

Ara langsung berhenti saat sebuah sepeda berhenti di depannya. Ia menatap pemiliknya dengan kesal sambil berkacak pinggang. “Hei, kau tidak bisa naik sepeda dengan benar ya?” tanya Ara dengan kesal.

“Salahmu sendiri daritadi aku panggil tapi kau tak mendengarku. Kau sedang melamun ya?” kata orang itu dengan wajah penasarannya.

“Yian oppa, aku sedang tidak ingin bercanda denganmu.” Kata Ara dengan nada ketus pada orang yang bernama Yian itu, tepatnya Lee Yian.

“Hei.. hei.. jangan marah-marah seperti itu, nanti kau semakin jelek saja.” Ejek Yian sambil terus berjalan disamping Ara dengan menuntun sepedanya.

“Tidak marahpun aku juga sudah jelek, oppa.” Ralat Ara tanpa menoleh pada Yian, hal itu membuat Yian merasa bersalah.

“Kata siapa kau jelek? Kau cukup cantik jika kau mau merawat dirimu dengan baik. Dan satu lagi, jangan mudah marah. Seorang gadis akan terlihat jelek jika sedang marah-marah.” Kata Yian mencoba menasehati Ara.

“LEE YIAN!!!! Jika tak ada hal berguna yang ingin kau katakan, sebaiknya kau pergi saja.” Teriak Ara kesal pada Yian, membuat Yian langsung menutup telinganya karena mendengar suara cempreng Ara.

“Yaak!!! Kim Ara, bisakah kau tidak berteriak? Kau justru akan membuat telingaku tuli.” Kata Yian kesal. “Kau ini, beginikah kau bersikap pada orang yang sudah bersahabat padamu selama sepuluh tahun? Temperamenmu benar-benar buruk.” Sambungnya sambil mengerucutkan bibirnya.

“Hei, melihatmu seperti itu membuatku ingin langsung menciummu, oppa.” Celetuk Ara karena melihat Yian yang mengerucutkan bibirnya. Sontak saja Yian langsung menutup bibirnya dengan telapak tangannya.

“Hahahaha….” Ara tertawa keras melihat sikap Yian yang seperti itu. “Aku hanya bercanda, Oppa. Baiklah, apa yang ingin kau katakan padaku?” tanyanya pada Yian. Kini mereka sudah duduk di bangku panjang yang ada di taman.

“Kau tahu kan jika kita sudah sepuluh tahun bersahabat?” tanya Yian yang dijawab anggukan kepala oleh Ara. “Kau juga tahu kan jika selama ini tak ada rahasia apapun diantara kita?” kembali Ara mengangguk. “Itulah mengapa aku berniat mengatakan hal ini padamu.”

“Apa?” tanya Ara penasaran.

“Kim Ara, sebenarnya aku menyukai seseorang. Dan itu sudah berlangsung sejak lama.”

“A-APA?????” Ara langsung terlonjak kaget mendengar pengakuan Yian. Ia bahkan mencubit pipinya sendiri karena tak percaya jika Yian mau mengatakan hal itu padanya.

“Aku serius, Ara.” kata Yian karena melihat tingkah Ara.

“Siapa gadis yang beruntung itu? Apa aku mengenalnya?” tanya Ara antusias.

“Dia.. teman sekelas kita, dan tentu saja kau mengenalnya.”

‘Siapa ya gadis yang disukai Yian Oppa? Aku mengenalnya? Apakah itu aku? Aahh!!! Tentu saja itu tidak mungkin.’ Batin Ara menduga-duga hal yang tidak-tidak.

“Hei, kau mendengarku?” tanya Yian karena Ara hanya terdiam sejak tadi.

“Apa? Owh, tentu saja aku mendengarkanmu, Oppa.” Jawab Ara cepat. “Daan.. apa kau berniat untuk mengungkapkannya?”

“Tentu saja. Tapi, aku tidak yakin, Ara.”

“Beritahu aku siapa orangnya agar aku bisa membantumu.” Kata Ara.

“Kau pasti sudah mengenalnya. Dia sangat dekat denganku, selalu ada saat aku membutuhkannya dan kami sudah mengenal sejak kecil.” Kata Yian memberikan clue pada Ara.

‘Sudah mengenal, dekat dari kecil dan selalu ada… Apa jangan-jangan gadis yang disukai Yian Oppa itu aku? Benarkah? Rasanya aku akan berteriak histeris sekarang jika memang benar Yian Oppa juga memiliki perasaan yang sama denganku.’ Batin Ara, lagi.

“Kalau begitu, cepat nyatakan perasaanmu padanya.” Kata Ara. ‘Karena aku sudah menunggunya sejak lama, Oppa.’, sambungnya dalam hati.

“Baiklah. Kau pasti akan tahu siapa dia saat aku sudah menyatakan perasaanku padanya.” Kata Yian bersemangat, membuat Ara tersenyum senang.

‘Tentu saja. Aku berharap gadis beruntung yang kau sukai itu adalah aku, Oppa.’ Batinnya menjawab.

“Terimakasih sahabat kecilku. Kau membuatku yakin jika dia juga memiliki perasaan yang sama denganku. Aku beruntung memilikimu sebagai sahabatku, Ara.” kata Yian sambil mengacak-acak rambut Ara yang hanya dibalas senyuman oleh Ara. Dalam hati ia juga berharap jika gadis itu adalah dirinya.

***

Hari berganti menjadi malam. Matahari sudah kembali ke peraduannya dan digantikan oleh sang dewi malam. Cuaca sangat cerah malam itu. Langit yang dihiasi cahaya bulan di temani oleh kerlap-kerlip dari sinar bintang yang tersebar di seluruh cakrawala. Di sebuah kedai kecil di tepian pantai, banyak orang yang berdatangan mengunjungi kedai yang cukup terkenal tersebut.

Di dalam kedai yang ramai dengan pengunjung tersebut, Ara tengah melayani seorang pelanggan. Ia menanyakan apa yang ingin di pesan oleh pelanggan itu, mencatatnya dan kemudian mengantarkan pesanan itu. Kedai itu milik Ibu Ara dan sudah sejak kecil Ara terbiasa membantu Ibunya. Apalagi setelah kepergian Ayahnya yang membuat Ibunya harus bekerja lebih keras lagi.

Selesai melayani pelanggan terakhirnya, Ara mengusap titik-titik keringat yang menempel di pelipisnya sembari duduk di salah satu kursi yang kosong. Nampan yang di pegangnya ia gunakan sebagai kipas karena udara cukup panas malam ini, maklum saja sekarang adalah musim panas. Mata Ara menerawang keluar, menatap deburan ombak yang dapat terlihat dengan jelas dari dalam kedai. Tak lama matanya menangkap sosok lelaki yang sangat dikenalnya tengah bersama dengan seorang gadis. Lee Yian dan Han Jihyun.

Melihat hal itu, Ara segera bangkit dari duduknya. Ia meletakkan nampan yang dipegangnya dan berpamitan pada Ibunya untuk pergi keluar sebentar. Setelah mendapat ijin dari Ibunya, Ara segera berlari mendekati kedua orang yang sangat dikenalnya itu. Dua menit kemudian ia sudah berdiri di belakang kedua orang itu.

“Yi-“

“Kau tidak percaya padaku, Jihyun?”

Kata yang ingin diucapkan Ara menggantung di udara saat mendengar Yian bertanya pada Jihyun. Ia memilih diam sebentar karena tak berniat mengganggu kedua orang itu.

“Bukan begitu. Aku pikir, ini terlalu tiba-tiba, Yian.” Kata Jihyun, menatap ke laut yang ada di depannya.

“Tapi bagiku ini tidak mengejutkan. Aku sudah memikirkannya matang-matang. Awalnya aku mengira ini hanya rasa simpati saja. Tapi semakin lama aku sadar jika aku memang benar-benar menyukaimu, lebih dari teman.” Jelas Yian, membuat Ara mengerutkan keningnya. Ia pikir ia salah dengar. Maksudnya, apa yang sedang Yian bicarakan dengan Jihyun?

“Sebenarnya aku juga menganggapmu lebih dari sekedar teman. Tapi aku tak berani mengatakannya.” Jawab Jihyun.

“J-jadi.. kau juga menyukaiku?” tanya Yian, terkejut dengan penuturan Jihyun yang menurutnya sangat mengejutkan baginya. Jihyun hanya mengangguk malu-malu dan itu membuat Yian tersenyum bahagia. Jadi selama ini ia tidak sia-sia menyimpan perasaan pada teman sekelasnya itu.

“A-apa yang sedang kalian bicarakan? Yian Oppa, k-kau…” perlahan Ara tak dapat menyembunyikan dirinya di belakang mereka. Ia mengeluarkan suaranya, begitu terkejut dengan kenyataan yang baru di dapatnya.

“Ara?” Jihyun dan Yian menoleh bersamaan setelah mendengar suara Ara di belakang mereka. Segera Yian menarik Ara mendekatinya dan meletakkan lengannya di bahu Ara.

“Ara, aku sangat bahagia.” Kata Yian, dengan senyum cerah di bibirnya membuat matanya yang sipit membentuk bulan sabit.

“K-kenapa?”

Yian mendekatkan dirinya di dekat Ara. “Dia, ternyata juga menyukaiku.” Bisik Yian.

“Maksudmu Jihyun? Jadi kau menyukai Jihyun?” tanya Ara dengan wajah penuh kebingungan.

Dan anggukan kepala Yian membuat Ara semakin yakin jika apa yang dilihatnya itu nyata. Bahkan kini ia melihat Yian dan Jihyun yang menggandeng tangan mereka dengan malu-malu. Ara sendiri hanya diam dengan wajah penuh kebingungan serta keterkejutan menyaksikan orang yang disukainya itu sudah bersama dengan orang lain.

‘Jadi, orang yang dimaksud Yian Oppa itu Jihyun? Kupikir, dia juga menyukaiku.. Jadi, aku hanyalah seseorang yang cintanya bertepuk sebelah tangan? Kenapa?’ batin Ara sedih.

“Ara, kau baik-baik saja? Apa kau menangis?” tanya Jihyun saat melihat Ara yang hanya diam, lalu tiba-tiba menitikkan airmata.

Segera Ara tersadar dan mengusap airmatanya dengan cepat. “Aku… aku hanya bahagia melihat Yian Oppa bahagia bersama orang yang disukainya. Selamat untuk kalian berdua.” Kata Ara dengan kikuk. Ia tersenyum sangat lebar, senyum yang dipaksakan membuatnya terlihat sangat aneh.

“Terimakasih, Ara.” kata Jihyun dan Yian bersamaan.

“Kurasa, aku harus segera pulang. Aku masih harus membantu Ibu di kedai.” Kata Ara cepat saat airmatanya mulai meluncur kembali. Tanpa menunggu jawaban dari keduanya, ia segera berlari sambil memegangi dadanya yang terasa sakit.

‘Jadi, beginikah rasanya cinta tak berbalas? Kenapa sangat menyakitkan?’

Bukannya kembali ke kedai seperti apa yang tadi ia katakan, Ara kustru berlari menuju dermaga yang letaknya tak jauh dari tempat ia berada tadi. Dermaga itu cukup sepi, sehingga Ara berhenti di sana dan membiarkan dirinya menangis sepuasnya. Ia bahkan menangis dengan keras dan sampai sesenggukan.

Ara menyalahkan dirinya, kenapa ia begitu percaya diri jika Yian itu menyukainya? Jelas-jelas Yian hanya menganggapnya sebagai sahabat saja. Apalagi jika dibandingkan dengan Jihyun, Ara jelas tidak ada apa-apanya. Jihyun begitu cantik, murah senyum, baik hati dan juga pandai. Apalagi Jihyun adalah anak kepala desa di desanya. Sedangkan ia, hanyalah anak seorang janda yang menjual makanan di kedai sederhana, tidak cantik dan tidak terlalu pandai. Mana mungkin ia memiliki pemikiran jika Yian akan menyukainya? Pastilah Yian yang anak seorang kaya, pasti akan memilih seseorang yang sederajat dan pantas dengannya. Bukan dirinya yang berada di kelas bawah. Ara merutuki dirinya sendiri.

Angin laut yang membawa udara dingin menerpa rambut panjang Ara yang terurai. Merasakan hembusannya, Ara mengeratkan jaket tipis yang dipakainya sambil mengusap airmatanya yang sedaritadi terus mengalir. Ditatapnya laut luas yang membentang di hadapannya. Pikirannya menerawang jauh entah kemana, sehingga ia tak sadar jika sedari tadi ada seseorang yang berdiri tak jauh di belakangnya.

“Menangis tidak akan menyelesaikan masalah, Nona.” Celetuk seseorang yang berada di belakang Ara, membuat Ara terlonjak kaget dan menoleh ke belakang.

“Siapa kau?” tanya Ara dengan suara sengau, sambil mengusap air mata di pipinya dengan kasar.

“Hanya seseorang yang kebetulan lewat. Kau tak seharusnya menangis hanya karena cinta yang bertepuk sebelah tangan. Apalagi jika berpikir bahwa kau tak pantas untuknya hanya dari segi fisik.” Kata seseorang itu yang ternyata adalah seorang lelaki.

Ara menatapnya dengan bingung. Bagaimana bisa lelaki itu tahu? Apa ia bisa membaca pikiran Ara? Lelaki jangkung berkulit putih susu yang memiliki wajah cukup tampan itu menatap Ara balik. Ia tersenyum misterius lalu berjalan mendekati Ara.

“Jangan berpikir jika aku bisa membaca pikiranmu, itu tergambar jelas di wajahmu.” Kata lelaki itu sambil menunjuk Ara dengan telunjuknya. “Hei, aku memiliki tahi lalat di bawah bibirmu, dan itu sangat indah.”

“Hah???” Ara hanya mampu terbengong mendengarkan apa yang dikatakan lelaki asing itu.

“Jangan menangis lagi, karena itu akan membuat matamu semakin tak terlihat. Baiklah, sampai jumpa.” Kata lelaki itu, seolah tak mempedulikan Ara yang kebingungan dihadapannya. Lelaki itu lalu berjalan menjauhi dermaga sambil memasukkan tangannya di kedua saku celananya. Sementara Ara hanya menatapnya dalam diam.

“Ara, apa yang kau lakukan disini? Ibu mencarimu kemana-mana.” Pandangan Ara beralih pada Ibu Ara yang tiba-tiba saja sudah berdiri di depannya. Ara menatap Ibunya sejenak. “Kau kenapa? Kenapa kau pergi keluar selama itu?” sambung Ibunya dengan nada khawatir. Ara hanya diam menatap Ibunya, memperhatikan wajah cantik Ibunya dengan seksama.

Memang, jika diperhatikan Ibu Ara memiliki wajah yang cantik sedangkan Ara yang notabene adalah anaknya sama sekali tidak mewarisi kecantikan Ibunya. Bahkan banyak tetangga mereka yang menyangsikan bahwa mereka adalah Ibu dan anak. Dan entah kenapa, Ara juga tidak tahu kenapa, ia justru memiliki wajah seperti Ayahnya. Dan ia cukup kecewa dengan itu.

“Ibu… bagaimana jika aku berubah menjadi cantik?”

“Hah??!!!”

TBC

20 tanggapan untuk “My Liar Girl [Chapter 1]”

  1. Ah kasian bgt jd ara… kamu pasti bs berubah jd cantik kok ara… tinggal poles pake make up, perawatan, klo kurang puas bisa oplas tp klo pny bnyk uang… Korea kan udh biasa sama oplas … hrs ttp semangat donk

  2. Kasian banget ara dengerin omongan si yian nyatain cintanya ama si jihyun..sumpah itu nyesek bangett
    emng penampilan si ara gimna kok dia bisa gak cantik
    itu cowo yg ngomong ama ara siapa??? Penasan ff cepet di pos ya jgn lama-lama

  3. Yaampun ara:’
    Jgan bilang kalo dia mau makeover dirinya:3 Sabar ara, masih ada namja yg lain kok:’)

    Next ya thor~

  4. ya ampun kasian banget ara nya,,, cinta bertepuk sebelah tangan emang sakit… iya udahlah Ara,,, mendingan kamu berubah jadi cantik aja, supaya tetangga2 berhenti mengatakan kamu bukan anak ibumu wkwkwkwk. chapter 2 nya jangan lama2 yaaa

  5. kasian banget si ara nya,,,ngenes dah jadi ara…
    semoga sehun yang bakal nyukain dan sayangin si ara,
    di tunggu chapter 2 nya thor,jan lama2…buat happy end ok

  6. Pernah baca ini tpi dimana ya??
    Di sini juga kah??
    Di tunggu nextnya
    Btw yg kebetulan lewat itu sehun kah??
    Berubah cantik gimana sih maunya ara?? Jgn oplas deh….aduh aaku udah main nuduh aja hihihi

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s