Tempus Fugit, Amor Manet [Chapter 5.5]

tfam

Ketika sang atlet lari dan drummer sebuah band yang belum debut dipertemukan dengan cara tidak terduga dan masing-masing mulai memiliki rasa. | Waktu boleh saja berlalu, tapi cinta akan tetap tinggal | “Sunbae, gumawo…” | “Aku… aku janji akan lebih mengenalmu.” | “The best love story is when you fall in love with the most unexpected person at the most unexpected time”― Anonymous

Len K present… Tempus Fugit, Amor Manet

Rate: T, PG-15

Romance, Hurt/Comfort, Supranatural, a bit humor

Chanyeol EXO, Cha Iseul (OC), Minho SHINee, Kai-Sehun-Chen-Lay EXO dan beberapa idol/actor dan OC sebagai support cast

Warning: AU, Semi-canon, OOC (maybe), typo, humor garing, rush

Poster by Aqueera at https://posterdesigner.wordpress.com

A/N                        : Disini Chanyeol dan Iseul beda sekolah. Hope you don’t get confuse.

.

.


“Kau bodoh sekali Iseul!”

“Apa sunbae marah pada Iseul?”

“Kudengar The FOO akan bubar.”

“Sampai kapan kalian akan perang dingin?”

“Halo sajangnim. Ini aku, soal kontrak itu…”

 


 

Tempus Fugit, Amor Manet

Standard disclaimer applied © Nuevelavhasta

Chapter 5.5 ― (re)solve

 


 

 

Mentari pagi masih agak malas untuk keluar. Sama seperti Chanyeol yang masih betah menggulung tubuh jangkungnya dalam selimut. Berbanding terbalik dengan noona-nya yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya dan kini bersiap menggedor-gedor pintu kamar Chanyeol.

Ya! Chanyeol-ah! Ppalli ireona!” Yoora berteriak seraya menggedor-gedor pintu Chanyeol dengan keras.

Di dalam, si empunya kamar hanya menggeliat malas. “Lima menit lagi, Noona,” erangnya tak berdosa. Salahkan kasurnya yang selalu punya gaya gravitasi tinggi dibanding tempat lain di muka bumi dan mungkin tambahan obat tidur.

“Tidak ada lima menit Chanyeol! Bangun sekarang atau aku akan menyuruh ayah untuk melemparmu dari jendela!”

Chanyeol bergegas bangun. Sungguh, memanggil ayahnya untuk membangunkannya bukanlah suatu gagasan yang bagus. Pun dengan memanggil ibunya. Walau noona-nya saja sudah cukup menyiksa, tapi itu tidak sebanding dengan kedua orangtuanya.

“Iya, iya, aku bangun! Sekarang cepat Noona pergi sana!” titah Chanyeol dibarengi dengan gerutuan.

Dari luar terdengar suara heels yang dikenakan Yoora berbenturan dengan lantai lalu menuruni tangga.

Dengan semangat yang sudah hampir padam, Chanyeol menyibak selimutnya dan melipatnya asal-asalan. Mata Chanyeol kemudian tertumbuk pada kontrak dari Mediant Entertainment yang tertimpa beberapa buku-bukunya.

Entahlah, pikiran Chanyeol campur-aduk saat ia melihat kontrak itu, lagi. Kontrak sialan, batinnya. Hanya karena secarik kertas pengabul mimpinya dan teman-temannya, kini ia dan teman-temannya harus saling mendiamkan.

“CHANYEOL!”

Teriakan dari noona-nya membuat Chanyeol bergegas menuju ke kamar mandi.

 


 

 

Alarm di nakas samping tempat tidur Iseul berbunyi.

Perlahan, gadis itu membuka matanya. Akhirnya, setelah dua hari berada di rumah sakit kini dirinya sudah kembali ke rumah tercinta. Ia membuka selimutnya perlahan. Jujur, pagi ini ia merasa begitu malas pada hari pertamanya masuk ke sekolah setelah jatuh dan dirawat dua hari.

Tangan Iseul bergerak menuju pelipisnya. Perban yang sempat melilit lingkar kepalanya kini digantikan oleh sebuah kapas berbentuk persegi. Kata oppa-nya, penyembuhan lukanya akan cukup makan waktu meski tidak begitu parah. Yah, terserahlah. Iseul cukup mempercayakan luka ini pada oppa-nya. Dan nanti kalau meninggalkan bekas, tinggal minta pada oppa-nya untuk membelikan krim anti keloid untuknya.

Iseul lalu menyibak selimutnya. Tatapannya berubah ketika ia melihat kakinya sendiri. Dirinya masih trauma akan kejadian malam itu. Dimana kakinya tiba-tiba tidak bisa digerakkan.

Jantung Iseul berdesir. Bagaimana jika… tidak bisa digerakkan lagi? Tapi pada akhirnya Iseul mencoba. Kelegaan terpancar dari wajahnya ketika kakinya sudah berganti posisi. Senyumnya perlahan mengembang tatkala merasakan telapak kakinya bersentuhan dengan lantai. Terutama saat jemari kakinya bergerak-gerak bebas.

Untuk hari ini, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

.

.

                Chanyeol meletakkan tasnya di meja. Hari ini, sama seperti hari-hari setelah ia dan teman-teman bandnya berselisih, Chanyeol dan keempat temannya itu tidak pernah duduk berdekatan.

Tidak ada sapaan selamat pagi. Tidak ada tepukan hangat menyapa punggung disertai cengiran kadang jitakan. Tidak ada yang berbicara ketika saling berpapasan. Tidak ada obrolan hangat penuh antusias di antara mereka.

Semuanya menghilang begitu saja, dengan cepat, juga tiba-tiba.

Bahkan antara Chanyeol dengan Yixing sekalipun. Kelima pemuda itu seolah-olah tidak mengenal satu sama lain.

Saling mendiamkan. Saling buang muka. Saling memendam rasa kesal.

Orang awam saja sudah tahu jika sedang terjadi sesuatu di antara mereka. Tentu saja, kelima pemuda itu tidak berusaha menutupi perselisihan mereka sedikitpun.

Sudah jadi rahasia umum jika The FOO sedang mengalami konflik internal. Tempo lalu, saat perselisihan kelimanya memuncak, Chanyeol segera menghubungi Nowhere dan Eternal Memory, mengatakan jika The FOO tidak bisa tampil dalam jangka waktu yang belum ditentukan. Jika beberapa saat lalu mereka bisa menggunakan alasan Jongdae si vokalis sakit, maka sekarang tidak.

Chanyeol berkata apa adanya; ada sedikit masalah di antara kami.

Setelah itu beritanya tersebar begitu cepat. Spekulasi berputar deras mengenai keretakan band itu. Dan tentu, spekulasi bahwa The FOO berselisih karena kontrak adalah yang paling santer terdengar. Jangan melupakan fakta bahwa beberapa waktu lalu ada seseorang yang berteriak bahwa The FOO mendapat kontrak.

Tidak ada yang menjadi pihak ketiga atau mediator di antara mereka. Siapa juga yang mau mendekati orang dengan aura gelap yang menumpuk?

Bisik-bisik para siswa mengenai The FOO bisa didengar diseluruh penjuru sekolah. Dan akan semakin santer ketika salah satu personilnya lewat.

Para fans The FOO-pun dilanda kecemasan. Bagaimana jika The FOO… benar-benar akan bubar?

 


 

 

“Kau bodoh, Iseul!” Eunji memijat pelipisnya.

Belum cukup berita mengenai The FOO yang sedang berselisih karena kontrak dan terancam bubar membuat dunianya jungkir-balik, sekarang Iseul semakin menjungkir-balikkan dunianya setelah bercerita soal Minho sunbae yang menyatakan perasaannya pada Iseul.

Rasanya Eunji ingin memaki dan memarahi Iseul dengan suara melengkingnya. Tapi mustahil ia lakukan setelah semalaman menangisi nasib The FOO. Lihat, kantung matanya saja tidak bisa disamarkan oleh bedak.

“…” di tempat duduknya, Iseul terdiam. Ia sendiri tidak ingin membantah Eunji.

Jam kosong membuat kelas jadi berisik walau sudah ada tugas. Dan itu membuat kepala Eunji makin berdenyut-denyut.

“Kalian berdua itu sudah jelas sama-sama suka. Minho sunbae bahkan sudah menyatakan perasaannya terang-terangan padamu. Tapi kenapa kau harus menolaknya? Itu sungguh tidak masuk akal, Iseul! Dimana logikamu? Sudah kau buang?” Eunji emosi.

Iseul tersenyum getir. “Justru karena aku menyukai, menyanyangi Minho sunbae maka aku tidak bisa menjadi kekasihnya. Aku bisa saja melukainya nanti.”

Rahang bawah Eunji serasa digantungi pemberat puluhan ton. “Alasan konyol macam apa itu?! Sungguh Iseul, aku tidak mengerti apa yang ada di pikiranmu!”

“Kau mengatakan hal yang sama dengan Minho sunbae, Eunji.”

“Apa itu penting sekarang?”

“…”

“…jadi sekarang bagaimana? Minho sunbae jelas-jelas kecewa, marah, apapunlah itu namanya padamu. Kau tidak ingin menjelaskan sesuatu padanya? Ah, juga padaku. Tidak ingin?” cecar Eunji penuh penekanan.

Iseul tersenyum penuh misteri. “Sekarang ini tidak bisa.”

Eunji memutar kedua bola matanya malas. “Terserah.”

 

***

 

“Aku pulang.” Chanyeol berkata dengan malas. Sama malasnya saat ia melepas sepatunya dan meletakkannya di rak sepatu tidak jauh dari pintu masuk rumahnya.

Chanyeol masuk. Rumah terasa sepi. Ayahnya pasti sedang bekerja dan ibunya pasti berada di restoran keluarganya; Viva Polo. Tapi alunan musik yang terdengar dari kamar kakaknya yang berada tepat di sebelah kamarnya menandakan jika kakaknya itu berada di rumah.

Chanyeol masuk ke kamarnya dan segera berganti baju dan merebahkan dirinya di kasurnya yang empuk. Rasa malas yang melandanya mencegahnya untuk mengerjakan beberapa tugas baru ataupun yang belum selesai. Ketika matanya kembali bersua dengan kontrak yang terselip di antara buku-buku, Chanyeol mendesah berat.

“Kudengar The FOO akan bubar.” Tanpa permisi, Yoora―kakak Chanyeol, masuk tanpa ijin ke kamar adiknya itu, “memang benar ya?” langkah Yoora membawanya mendekat kepada Chanyeol. Presenter itu kemudian memilih untuk duduk di kursi meja belajar Chanyeol, masih bersebelahan dengan Chanyeol.

“Haaaahhh…” Chanyeol menggeram tidak jelas sambil berguling membelakangi kakaknya. Kehadiran kakaknya dan pertanyaan kakaknya tadi hanya makin membuat mood-nya makin terjun bebas.

“Sampai kapan kalian akan perang dingin?”

Chanyeol tertegun sejenak, “Sampai kapan-kapan juga bisa,” jawabnya disertai gerutuan.

Yoora meraih jilidan kertas yang menyita perhatiannya. Dibukanya jilidan yang berupa tawaran kontrak itu, lalu dibacanya. “Kalau begini terus, kalian akan benar-benar bubar lho.”

Chanyeol menekan bantal kuat-kuat ke telinganya. “Noona! Kau ini cerewet sekali!”

“Lho? Aku ‘kan hanya ingin menyemangati adikku tersayang yang belakangan ini nampak murung karena konflik batin dan konflik dengan teman-temannya,” elak Yoora.

Bibir Chanyeol mengerucut. “Lupakan. Yang ada Noona hanya memperburuk mood-ku!”

Yoora terkekeh. “Hhe, begitu ya? Hm, jadi bagaimana?”

“Apanya?”

“Soal kontrakmu itu.”

Untuk sesaat, Chanyeol terkejut dan ingin bertanya darimana kakaknya bisa tahu mengenai hal itu. Tapi ia urungkan karena itu akan membuatnya (makin) terlihat bodoh. Hello, kakaknya ini presenter berita. Sudah pasti sering bersinggungan dengan reporter. Dan kita semua tahu para reporter dan orang-orang sebangsanya dituntut untuk up-to-date. Kakaknya pasti mendengar berita itu dari kawan reporternya.

“Menggoda tapi tidak tertarik…”

“Hm?” gumam Yoora dalam nada tanya karena tahu perkataan adiknya itu belum selesai.

“…daripada menjadi produser lalu debut di band lain, aku lebih memilih untuk tidak mengambil kontrak itu dan debut berlima sebagai The FOO. Tapi yah… aku tidak tahu dengan yang lain. Mungkin mereka akan menerimanya. Yah, sudah jelas jika mereka lelah dengan penolakan yang selalu kami alami. Aku… memang komposer payah….”

Ctak!

Noona!” Chanyeol mengerang kala sentilan kakaknya memberi rasa panas pada punggungnya. Maniknya membulat ketika melihat lembaran kontrak itu berada tidak di tempat yang seharusnya. “Noona sudah membaca kontraknya?!”

“Heish, dasar anak nakal! Merahasiakan hal ini dari keluargamu sendiri itu bukanlah tindakan terpuji.”

“Jangan bilang-bilang ayah dan ibu, Noona!”

“Iya, iya. Kau bisa bersekutu denganku.”

“…”

“Yakin kau akan menolaknya?” Chanyeol mengangguk. “Kalau begitu buang saja kontrak ini ke tempat sampah. Atau bakar saja.” Yoora mengulurkan kontrak itu pada Chanyeol.

Dengan sigap, Chanyeol menerimanya dan hendak melesat pergi dari kamarnya sebelum Yoora memanggilnya.

Mwo, Noona?”

“Percaya saja pada teman-temanmu,” kata Yoora sembari melewati Chanyeol yang terbengong tidak paham akan maksud Yoora.

 

***

 

“Jung Eunji! Fokus!”

Sudah tidak terhitung berapa kali Seungho meneriakkan kata-kata yang sama pada Eunji. Sudah tidak terhitung pula berapa kali Eunji menggerutu dan menggigit bibir bawahnya karena teriakan Seungho.

Bukan tanpa alasan Seungho memarahi juniornya satu itu. Sejak awal latihan, anak panah Eunji kerap melenceng. Mendarat di luar area lima poin dan bahkan mendapat nilai mati.

Eunji sendiri juga kesal akan kondisinya yang tidak biasa ini. Ketidakjelasan akan nasib The FOO dan kekesalan pada Iseul cukup berpengaruh pada performanya di latihan rutin sore ini di klub.

“Latihan hari ini selesai! Silahkan berkemas-kemas dan pulang!” komando dari Seungho disambut desah lega, “kecuali Eunji.” Mata Seungho memicing pada sosok Eunji, “kau tetap tinggal di sini,” imbuhnya tegas.

Eunji mengangguk-angguk mengerti di posisinya. Nampaknya sore harinya kali ini belum cukup buruk. Yah, walau Seungho itu tampan dan nantinya akan ada cukup banyak siswi yang iri dengannya karena ia ‘berduaan’ dengan Seungho, tapi percayalah… tidak seindah itu. Jangan melupakan fakta jika Seungho ini Si Tampan Berhati-Berperilaku Iblis nan Sadistik.

“Ayo.” Seungho yang sudah selesai berbenah menghampiri Eunji yang kelihatan menunggunya.

Eodi?”

“Ki-kita bicarakan penurunanmu belakangan ini di tempat lain.”

“Hah?” Eunji terkejut bukan main mendengar kegagapan di awal kalimat seniornya yang terkenal galak itu.

“Tsk! Kau tuli ya?” Seungho kembali galak.

“Err… tidak.”

“Kalau begitu ayo ke tempat lain untuk membicarakan penurunanmu belakangan ini. Kecuali kau mau membicarakan hal itu di sini. Tempat dimana aku yakin kau sudah merasa jenuh.”

Eunji tersenyum samar. Hei, seniornya ini bisa pengertian juga rupanya!

“Baiklah.”

Keduanya berjalan keluar beriringan dari lapangan tempat latihan mereka. Karena hari sudah semakin sore, beberapa klub sudah membubarkan diri.

Tidak ada yang berbicara hingga akhirnya Eunji bertanya, “Memang kita akan kemana sunbae?”

Huk! Bagai ditonjok petinju tepat di ulu hati, Seungho baru sadar jika dia belum menentukan tempat untuk bicara berdua dengan Eunji. “Ba-bagaimana kalau café terdekat?”

“Hooo, boleh, boleh. Tapi sunbae yang bayar ya?” goda Eunji.

Seungho menghela nafas. “Karena aku sedang baik hati dan merasa kasihan padamu, maka jawabannya adalah ya.”

“Asyik! Yeoksi Seungho sunbae!” Eunji melompat kegirangan.

Jeda kembali mengisi. Namun saat mata Eunji menangkap sosok Minho yang tengah berjalan di kejauhan, buru-buru Eunji berlari ke sosok itu.

YA! Jung Eunji! Mau kemana kau?!” teriak Seungho.

Percuma. Eunji tetap berlari kearah Minho.

SUNBAE!” panggilnya lantang.

Minho berhenti dan menoleh. Mendapati Eunji berlari kearahnya dan berhenti dengan nafas terengah. “Ada apa?” tanyanya.

“Haahh… haahh…” Eunji menormalkan nafasnya dahulu. Sementara Minho menunggu dengan sabar. “Sunbae?” panggil Eunji lagi.

Eo?”

Manik Eunji menatap lurus ke manik Minho. “Apa sunbae marah pada Iseul?”

Bisa dilihat dari perubahan raut wajah Minho jika Minho sendiri cukup terkejut dengan pertanyaan Eunji yang begitu tiba-tiba. Namun alih-alih menjawab, Minho justru berbalik pergi.

Sunbae!” jadi sebelum Minho melangkah lebih jauh lagi, Eunji meraih pergelangan tangan Minho, “chakkamanayo! Daedaphaebwayo, juseyo…”

Minho menatap Eunji datar. “Aku… aku sendiri… juga bingung.” Ada keraguan dalam perkataan Minho.

“Kumohon…”

“Hn?”

“Kumohon jangan marah pada Iseul. Jujur, saat aku mendengar ceritanya aku sendiri juga tidak mengerti, aku tidak paham akan apa yang ada di pikirannya. Kenapa ia bisa berkata seperti itu… aku juga tidak tahu sama sekali.”

“…”

“…tapi Iseul mengatakan sesuatu.” Lagi, Eunji memberi jeda, “ia bilang jika ia melakukan ini semua karena ia menyanyangi sunbae. Dia bilang jika dia bisa melukai sunbae. A-aku tahu itu konyol!” sela Eunji cepat. Minho menutup kembali mulutnya, “aku tahu itu konyol. Bahkan sesama orang asing saja kita bisa saling melukai tanpa sadar. Aku… aku juga tidak paham. Tapi kumohon sunbae! Jangan marah pada Iseul.”

Minho memejamkan mata sejenak. Ternyata bukan hanya dia yang tidak mengerti alasan Iseul dibalik ini semua. “Akan… kucoba,” lirih Minho.

Senyum Eunji langsung mengembang. Tapi sebelum ucapan terima kasih keluar dari mulutnya, sebuah teriakan membawa aura horror bagi Eunji.

“Jung Eunji! Berani kau mengabaikan seniormu!” Seungho berseru. Langkahnya lebar-lebar dan cepat hingga dalam hitungan detik saja Seungho sudah berdiri di belakang Eunji.

“Err… sunbae?” bulu kudul Eunji meremang tatkala Seungho sudah mencengkram kerah belakang bajunya. Setelah ini Eunji akan menyesali habis-habisan keputusannya yang langsung berlari tanpa menjelaskan apa-apa pada senior setan-nya ini.

Eunji melemparkan tatapan memelas minta tolong pada Minho di depannya. Tapi sepertinya Minho tidak cukup peka untuk mengerti sinyal yang dikirim oleh Eunji.

“Jadi dia kabur darimu, Seungho?” tanya Minho.

“Ya, tepat sekali.” Seungho menarik Eunji mendekat padanya.

“Kau bisa membawanya pergi sekarang. Urusan kami sudah selesai kok. Aku pulang dulu. Annyeong,” tukas Minho sebelum pergi.

Eo!” balas Seungho. Tatapannya beralih pada Eunji yang sudah berkeringat dingin. “Nah, sekarang giliranmu ikut aku!” tanpa pikir panjang, Seungho menyeret Eunji melalui cengkraman tangannya di kerah belakang baju Eunji.

Su-sunbae! Keumanhae! Aku tercekik! Sunbae! Seungho sunbae! Sunbae! Biarkan aku berjalan dengan benar! Sunbae, aku tidak bisa mengikuti langkahmu! Terlebih aku berjalan mundur sekarang ini. Sunbae! Kau dengar tidak? SUNBAEEEEE!”

 

***

 

Malam sebelum tenggat waktu yang diberikan oleh CEO Mediant Entertainment, Chanyeol sedang mengerjakan tugas di meja belajarnya.

Kali ini tidak ada kertas kontrak yang selalu mengusik pikirannya. Karena kontrak itu sudah beberapa hari lalu ia buang ke tempat sampah.

Menyesal? Tidak. Meski ada rasa takut bagaimana jika ada teman-temannya yang menerima kontrak itu. Formasi The FOO akan berubah. Rasanya akan jadi begitu berbeda dan aneh. Juga, entah apa mereka bisa saling menerima itu dengan lapang dada atau tidak.

Tapi Chanyeol teringat akan perkataan kakaknya. Tentang ia yang harus percaya pada teman-temannya. Ya, ia harus melakukannya. Ia sudah empat sampai lima tahun bersama teman-temannya itu. Ia harus percaya.

Mengenai nanti hasilnya bagaimana, lebih baik ia tidak memusingkan itu sekarang. Tugasnya lebih membutuhkan konsentrasinya.

 


 

 

Di lain tempat, Yixing tengah bermain piano upright di ruang keluarga rumahnya. Masih ditemani buku musik yang ia gunakan untuk menulis not-not balok hasil gubahannya. Sementara di sebelah kanan buku itu, beberapa partitur terlihat agak berantakan.

Dan jika kita melihat ke tempat sampah, kita bisa menemukan lembaran kontrak yang tadinya terjilid rapi kini sudah berubah bentuk menjadi bola-bola kertas.

 


 

 

Di belakang rumahnya, Jongin bangkit dari duduknya di ayunan kayu yang besar. Langit malam tidak pernah bisa membuatnya betah melihat keatas sana.

Berjalan ke depan, Jongin mengeluarkan korek api dan lembaran kontrak. Lalu dengan dramatisnya, Jongin membakar kontrak itu. Hal yang harusnya ia lakukan sejak dulu. Tapi ia juga tidak bisa mengabaikan kontrak itu begitu saja, dulunya.

“Jongin! Kau mau membakar bungaku?!” di belakang Jongin, noona Jongin menjerit histeris melihat kobaran api di tanah.

“Tidak, Noona!”

 


 

 

Jongdae sedang senang karena keponakan-keponakannya datang. Makan malam kali ini Jongdae lebih berisik dari biasanya. Setelahnya, Jongdae lebih memilih untuk bermain dengan Mirae dan Joohyuk, dua keponakannya yang masih duduk di bangku TK.

Oppa! Apa aku boleh menggambar di kertas ini?” Mirae bertanya seraya menggoyang-goyangkan kertas di tangannya.

Jongdae meneliti kertas itu sejenak. Rupanya itu adalah kertas kontrak itu. “Tentu saja. Corat-coret saja semaumu,” balas Jongdae sumringah.

“Kalau aku lipat-lipat?” sahut Joohyuk.

“Silahkan. Kalian bisa berbuat sesuka kalian dengan kertas itu.”

“YEAY!”

 


 

 

Sehun berdiri di balkon kamarnya. Sedari tadi pandangannya tidak lepas dari deretan nomor di layar ponselnya. Di tangan kirinya, kontrak miliknya terbuka.

Akhirnya Sehun memutuskan untuk menelepon nomor itu.

Annyeonghaseyo sajangnim. Ini aku, Sehun. Dari… The FOO,” lidah Sehun terasa kelu saat membicarakan nama itu, “aku ingin membicarakan soal kontrak darimu itu.”

 

***

 

Hari ini sudah hari ketiga Iseul tidak masuk sekolah. Dan tepat dua hari sejak Eunji kehilangan kontak dengan Iseul. Bukan hanya Eunji, tapi juga semua teman-teman Iseul. Baik itu di sekolah maupun luar sekolah.

Bahkan sekarang Minho menyesali keputusannya yang mendiamkan Iseul setelah penolakan itu. Minho belum sempat berkata apapun pada Iseul setelah itu. Dan sekarang, Iseul menghilang.

Kata beberapa guru, Iseul sakit.

Tapi fakta itu tidak bisa melegakan hati Eunji dan Minho yang resah.

 


 

 

Hari masih terlalu pagi, tapi Chanyeol sudah melangkah menuju ruang musik. Hari ini ia ingin mencoba satu-dua bait lagu yang baru dibuatnya di tengah konflik kemarin. Sampai saat ini―batas tenggat waktu kontrak itu―Chanyeol masih memikirkan kontrak itu. Tapi Chanyeol segera mengusir pikiran itu jauh-jauh.

“Hah?” Chanyeol terpaku di ambang pintu.

Begitu ia membuka pintu, yang didapatinya adalah Jongin yang sedang bermain gitar akustik.

Keduanya saling pandang. Bingung, iya. Kikuk, iya. Rasanya tidak enak.

“Ku-kupikir kau akan menerima kontrak itu,” kata Chanyeol.

Jongin tertawa. Tawa perdana setelah konflik internal mereka. “Ya, michyeona? Apa kau sudah lupa siapa yang terang-terangan tidak menyetujui kontrak itu, heh? Itu aku!”

Tawa Chanyeol lepas setelah ia menyadari fakta kecil itu. “Majayo!” Chanyeol segera duduk di samping Jongin. “Bagaimana yang lain?”

Jongin mengangkat bahu cuek. Lagi-lagi perasaan was-was menghinggapi mereka.

Keheningan ini sungguh membuat mereka semakin tidak nyaman.

“Wah, tumben kalian begitu rajin!” Jongdae, masuk ke ruang musik dengan tawanya yang menyebalkan dan tatapan penuh mengejek.

Saekki-ah! Kemari kau! Dasar bocah sialan!”

“Memangnya kau rajin, hah?!”

Jongin dan Chanyeol langsung menghabisi Jongdae yang tertawa-tawa senang.

“Jika kalian mempunyai waktu untuk bercanda seperti itu, lebih gunakan waktu itu untuk latihan. Tsk, sampai kapan aku harus mengingatkan kalian?”

Ketiga pemuda yang tengah bergulat itu melihat kearah pintu secara bersamaan. Sosok Yixing baru saja memasuki ruang musik. Raut wajahnya masih stoic seperti biasa.

“YIXING!” Ketiga pemuda yang tadinya tengah bergulat itu kini menyerbu Yixing dan menjadikan pianis band mereka itu sebagai sasaran.

Tawa keempatnya begitu lepas. Siapa sangka jika masalahnya akan terselesaikan dengan semudah itu? Maksudnya, setelah perang dingin satu minggu kini begitu pertama kali bertemu mereka sudah bisa saling pukul, saling tendang, saling jitak, dan tertawa bersama.

Dasar anak laki-laki, eh?

“Kurang Sehun,” Chanyeol bergumam ketika pergulatan mereka sudah selesai. Keempatnya saling rebah di lantai ruang musik dengan tidak elitnya.

“Mungkin dia menerima kontrak itu,” balas Jongin sinis.

“Ya, mengingat dia sendiri jugalah yang memaksa CEO itu memberi kita waktu untuk berpikir. Sekarang mungkin ia sudah di ruangan CEO kemarin dan merundingkan mengenai rencana masa training dan debut. Jika saja aku menerima kontrak itu, maka sekarang ini aku sudah ijin tidak masuk, berunding bersama CEO itu, lalu menjalani hari-hariku sebagai trainee kemudian debut,” kata Jongdae panjang-lebar.

“Siapa bilang aku menerimanya?” tanya sebuah suara.

Keempat pemuda yang tadinya rebah itu kini berdiri tegak, dengan kesusahan karena kekagetan mereka berdampak pada tidak seimbangnya tubuh mereka.

Di ambang pintu, sosok yang baru mereka bicarakan terlihat berdiri menjulang dengan tangan dilipat di depan dada. Jangan lupakan, smirk-nya yang menyebalkan dan minta ditampar menggunakan sepatu itu.

“Bocah keparat kau!”

Ya, iriwa! Akan kubunuh kau!”

“Bocah tengik!”

“Awas kau, Sehun!”

Sehun tahu setelah ini ia akan dijadikan bulan-bulanan oleh empat kawannya itu. Harusnya ia kabur. Tapi ia tidak melakukannya. Ia justru tersenyum, tertawa seraya menyambut makian, pukulan, jitakan, dan tendangan dari empat kawannya itu.

 

***

 

“Kita harus menjenguknya sonsaengnim. Iseul sudah tidak masuk sekolah selama sepuluh hari. Kenapa kita tidak kunjung menjenguknya?” Eunji bertanya dengan tidak sabaran pada Daniel Choi sonsaengnim yang menjadi wali kelasnya. Tidak dipedulikannya kondisi ruang guru yang riuh-rendah.

Daniel ssaem melepas kacamatanya. “Iseul mengatakan padaku untuk tidak usah menjenguknya.”

“Tapi―”

“Ini permintaan Iseul sendiri,” potong Daniel cepat dan mampu membungkam mulut Eunji.

Bibir Eunji terkatup rapat. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Sudah sepuluh hari Iseul absen tanpa menghubunginya sama sekali. Nomornya aktif tapi tidak mau menjawab teleponnya atau sekedar membalas sms-nya.

Di luar, Minho bersandar pada tembok. Menunggu Eunji dengan gelisah.

“Iseul… sakit apa?” tanya Eunji.

“Maaf, pihak sekolah diminta untuk merahasiakan ini oleh Iseul sendiri, dan pihak keluarga Iseul. Kami tidak bisa melanggarnya.” Jawaban Daniel benar-benar tidak membuat Eunji merasa puas.

Sonsaengnim…” pinta Eunji dengan mata memelas.

“Maaf, aku tidak bisa Eunji. Sekarang, lebih baik kau kembali ke kelas. Jam pelajaran berikutnya akan dimulai lima menit lagi.”

Eunji menyerah. Jika sudah seperti ini dia tidak bisa menggoyahkan Daniel sonsaengnim. Dengan langkah gontai, Eunji keluar dari ruang guru.

“Bagaimana?” buru Minho begitu ia keluar.

Eunji menggeleng lemah. Tapi dari perkataan Daniel ssaem, Eunji sudah merasa ada yang tidak beres.

 

― Lanjut? ―

 

Glossary              :

  • Ppalli ireona : cepat bangun (ppalli: cepat. Ireona: bangun)
  • Eodi : dimana
  • Yeoksi : seperti yang diharapkan
  • Chakkamanayo : sebentar
  • Daedaphaebwayo : jawablah
  • Michyeona : (dalam nada tanya) kau sudah gila?
  • Majayo : bener banget
  • Saekki : baj***an
  • Iriwa : kemari (agar terdengar sopan, tambahkan partikel –yo, jadi iriwayo)

 

A/N        :

                Kelar juga chapter 5.5-nya! /guling-guling/ Sebenernya chapter ini ha-rus-nya gampang bikinnya. Toh, tinggal ngembangin poin-poin di chap 5 yang belum masuk. Tapi yah, kadang (atau seringnya) ekspektasi itu tidak sesuai realita. Nih otak imajinasinya udah kemana-mana. Begitu duduk manis di depan laptop dan buka file fanfiksi ini yang ada malah nge-blank -_-

Ini juga nulisnya karena keingetan mulu. Kayak ada yang bisikin, woi Len, udah mau seminggu lho… masak chap 5.5-nya belum lu rampungin? Kapan publish? Jadi yaaa… beginilah jadinya, hohoho. 😀

Akhir-akhir ini juga gak tau kenapa aura Len jadi berubah lebih berwarna-warni. Doyannya mlipir ke fanfiksi-fanfiksi humor dan berimajinasi terus sama fanfiksi Len yang lain, yang “Kebimbangan Para Fujoshi” XD Padahal ‘kan fanfiksi ini tuh mood-nya harus rada nyesek-nyesek gimana gitu. Jadi pas mau nulis aneh rasanya. Mood-nya nggak pas. 😀

Eh tapi gimana chapter 5.5 ini? Mind to review? Yang mau tanya-tanya, kasih kritik-saran, ataupun diskusi soal fanfiksi ini silahkan corat-coret kolom komentar 🙂

Oh ya, yang suka maen ke fanfiction.net dan/atau yang punya akun disana, bisa kali PM-an ama Len di : Kuroshi Len ( https://www.fanfiction.net/~kuroshilen ) . Terus Len juga baru bikin blog nih. Yang mau mampir, tuker-tuker pikiran atau spazzing-an idol, bisalah mampir ke https://iamintheblackside.wordpress.com 🙂 Ditunggu ya!

See you at the next chapter!

29 tanggapan untuk “Tempus Fugit, Amor Manet [Chapter 5.5]”

  1. Alhmdllh.. 😇 / sujud sykr / my flower boys dah baekan lg, udah jgn conflict2 lg ya, xan kan anak2 baik, ganteng2.
    Gelagat’ny 승호 ke 은지 sih dah jlas, dy da rasa, smoga berbalas ya. Btw, bias’ny 은지 di d’foo siapa? Kyny sblm2ny d’foo klo manggung bw-in lagu org trus pdhl kan di d’foo ada 2 composer hebat, bw-in lagu mrk sendiri aja. Dsr shbt, wlw di rmh msng2 te2p kompakan gt mrk melenyapkan kontrak sial itu 😋

  2. hhhhhhuuuaaa akhirnya masalah the foo selesai… seneng deh..
    itu si iseul apa kabar ko gk masuk ampe 10 hari?
    apa dia pindah sekolah? entahlah,,,
    yg pasti aku selalu nunggu chap selanjutnya…

  3. maaf baru komen sekarang. Iseul kenapa?? kok aku pnya firasat gk.baik yaa ke isseul, isseul pasti ketemu chanyeol kan?? ihhh.. seru banget deeh.. feels dichapter ini dapet banget. pokoknya keren len.

  4. LEEEEEEN KEMANA AJAAAAH??? UDAH AKU BISIKIN DARI DULU TAUK
    oke baru awal-awal langsung cengo aja baca kalimat …the foo akan bubar? mana diulang ulang terus kata BUBARnya aku kan jadi… ehm, lupakan.
    sempet gemes juga gegara sehun main telpon-telpon aja.. Bang Seh aku makin mencintaimu haha XD XD XD
    iseul sakit lagi? bahkan sampe sepuluh hari? ya kalik, gak mungkin lah eunji sama minho gak khawatir. kenapa mereka nggak ke rumah iseul aja ya? apa gak dibukain pintu sama chi? (itu kok malah manggilnya chi hahaha biar ah)
    gimanapun juga aku dukung keputusan iseul :” dia ingin minho bahagia :”) dan biarkan iseul nanti sama chanyeol haha *ngeyel sama pairing yang gak pernah dimunculin lagi sama len setelah ketemuan secuil part lalu-lalu*

    1. Aku bisa tuh. Ah, itu wp terlantar, tapi karena waktu Len cari di eyang gugel tu blog ngilang, jadinya Len pindah ke wp itu tadi. Mampir kalo berkenan 🙂

  5. Ahahahaha.. The FOO baikan lagi.. haduhh.. labil banget dah orang” itu :-D, eunji ama seungho lucu banget.. hehe
    aku tunggu next chap nya ya 🙂

  6. uuhhh… suka sama akhirnya THE FOO, kirain sehun nerima kontraknya… ternyata enggakkkk.. seneng lihatnya ato bacanya kalo gitu…
    tapi tentang iseul nya kenapa? penasaran sama si iseul…
    next ya thorr… 🙂 hwaiting… 🙂

    1. Waaaah, glad to know it 🙂
      Chap depan bakal kejawab kok. Hehehe, panggilnya Len aja ya? Gumawo 😀

  7. Akhirnyaaaa~~~
    Aku setia bgt nunggu chapter ff ini always perfect dan penasaran
    Cepet2 kelarin yaaa heheheh ga sabar gimana pertemuan chanyeol sama iseul nya
    Gimana perkembangan hubungan mereka
    Ini kayaknya bakalan panjang bgt neh hehe tp aku ttp setia sama ff ini ^^
    Fighting~!

    1. Aduh duh duh gak komen lg deh ahahaha 😀
      Jadi, kapan lanjutannya nih Len? Kayaknya masih panjang bener nih penantian diriku hikshiks hahaha 😀
      Banyakin pertemuannya si Yeol sama Iseul nya dooonggg

    2. Lebih panjangan penantian Len ke dia tau gak? Lebih panjang lagi sakitnya hati Len waktu tau dia udah bye ke Len :”) /WOIAPAINIWOI/
      Nagih mulu, bisa ngasih apa? :p

    1. Weh, beneran? Hahahahaha, makasih ya?
      Ganti pen-name? Yaaa dulu-dulu sempet, sekarang pen-name Len ya Nuevelavhasta ini. Cuma biar panggilnya gampang, panggil Len aja.
      Chap depan kejawab kok.
      Iya xD Akhirnya ada yang bisa baca hint-nya xD

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s