Never

Untitled copy

Title : Never

Author : Imkeyo

Genre : Romance | Angst | School life | Ke-baper-an

Ratting : G

Main Cast : Kim Jongin | Song Aerin | Lee Hara

Length: Oneshoot

Author’s Note : Hai hai. Bosen ga sama author? Kalo bosen, Kai nya aku bawa pulang lagi hahaha /kidding. Mungkin ini post terakhir sebelum efektif belajar minggu depan. Kurikilum sekarang sangat menyita waktu untuk bikin ff :’

Jadi silahkan dinikmati fanfict nya dan maaf karena seperti yang sebelumnya, fanfict ini aneh –“

 

Warning: Typo’s dan maaf kalo feelnya ga dapet

 

 

 

Hara meringis memegangi keningnya. Kepalanya mendadak pusing dan lidahnya perih karena tidak sengaja tergigit giginya sendiri. Ia menyesal karena berjalan tanpa berhenti bercerita dan mengabaikan keadaan sekitar. Kalau saja tubuhnya tidak terlalu mungil dan mulutnya tidak cerewet.Ia kesal setengah mati sekarang. Mendelik pada punggung di depannya yang berdiri kaku. Seperti tidak menyadari kesalahannya. Sumber dari penderitaan mendadaknya. Tangannya tanpa sadar melayang. Kebagian punggung yang tadi ia tabrak dengan keningnya.

TTAKK

Hening. Hara seharusnya puas dengan bunyi itu. Ia seharusnya sedang berlari atau mungkin mendebat orang ini. Tanda kalau telapak tangannya sukses mendarat dipunggung sahabatnya. Sebaliknya, keningnya yang tadi menabrak punggung itu berkerut. Reaksi pemilik punggung mirip seperti tembok. Tidak bergerak. Tidak juga bergeser. Padahal ia yakin pukulan tadi lebih dari cukup untuk membuat gadis didepannya melakukan serangan balasan.

“Aerin, kau kenapa?” Tidak ada jawaban. Guncangan pada bahunya hanya membuatnya bergoyang sedikit. Sepertinya Hara memang menabrak tembok tadi.

Baru ketika matanya menatap kedepan seperti arah pandang Aerin, ia mengerti apa yang menyebabkan seluruh tubuh sahabatnya menegang. Hara juga memandangnya, sosok tinggi berkulit kecoklatan yang berjalan kearah mereka dengan senyum lebar tanpa dosa. Menampakkan barisan giginya yang rapih. Mata Aerin terpaku pada sosok itu. Terpesona, mungkin. Sementara Hara menatap laki-laki itu dengan tatapan bingung yang ia tutupi dengan tampang datar –tidak peduli- miliknya.

Dia masih berjalan. Tepat kearah mereka. Masih dengan senyum. Senyum yang menunjukkan ia tidak melihat tatapan tidak biasa Aerin. Tatapan yang biasa kau tujukan hanya pada orang tertentu yang berhasil menyimpan nama dihatinya.

“Hai, Ai,” Aerin tersenyum kaku. Otaknya terlalu sibuk mengatur detak jantungnya hingga tidak bisa memproses senyum yang akan terpasang di bibirnya.

“Kau baru mau kekantin? Belum makan?” lagi, dengan senyuman mautnya. Membuat sistem tubuh Aerin serasa error. Untunglah kepalanya masih bisa digunakan untuk menggeleng meskipun perlahan.

“Astaga,Ai, kau lucu sekali,” dia terkekeh dihadapan Aerin. Tinggi Aerin yang hanya sebatas dadanya mempermudah tangannya dengan santai mengacak puncak kepala Aerin. Dan dia berhasil. Pipi Aerin memerah. Aliran darah Aerin sepertinya berpusat dipipinya. Jantungnya juga semakin kacau didalam sana.

“Makan yang banyak, Ai,” setelahnya dia berlalu dengan bola basket ditangannya. Benar-benar pergi meninggalkan kedua gadis yang terdiam dengan pikiran melayang setelah sekali lagi mengacak puncak kepala Aerin ditambah cubitan di pipin Aerin yang merona.

 

=====

“Kau pacaran dengan Jongin Sunbae?”

“Demi Tuhan, sudah ku katakan berkali-kali. Aku tidak berpacaran dengannya, Hara,”

“Lalu kenapa Jongin Sunbae bersikap seperti itu?”

“Kau tanya saja padanya,”

“Song Aerin, aku serius,”

“Kau pikir aku bercanda? Aku juga bingung, Hara. Aku.Tidak.Tahu.”

Keduanya menghembuskan nafas lelah dari mulut mereka dan menghempaskan punggung mereka ke sandaran kursi. Pertanyaan yang sama selama sepuluh menit yang juga dijawab dengan jawaban yang sama. Yang berbeda hanya ekspresi dan nada bicara mereka. Awalnya mereka tenang, kemudian mulai bicara dengan urat yang menegang dan nada frustasi. Mereka memilih berhenti daripada harus membuat seisi kantin mendengar percakapan tanpa arah mereka.

“Ai? Sejak kapan kau dipanggil seperti itu?” pertanyaan berbeda namun tetap di topik yang sama. Aerin mengangkat kepalanya. Menunjukkan wajah kusutnya yang dari tadi ia sembunyikan dibalik tundukkan kepala dan poni panjangnya.

“Sejak kami berjabat tangan tanda perkenalan. Saat itu juga dia mengganti nama panggilanku menjadi Ai,” hanya dia yang memanggilku Ai, lanjutnya di dalam hati.

“Dia suka padamu?” Aerin menghentikan gerakan tangannya yang mengaduk minuman favoritnya. Menatap Hara sebentar, memikirkan jawaban yang tepat.

“…kurasa tidak. Atau mungkin iya? Arrrggghhhhh…..Aku sungguh tidak tahu Ra-ya,” kemudian ia kembali mengaduk minumannya lebih cepat dengan sedotan setelah berteriak frustasi.

“Baiklah aku ganti pertanyaannya. Kau suka padanya?”

Untuk pertanyaan yang ini, hanya dia jawab dengan tatapan nanar. Ia juga bingung. Awalnya tidak. Saat mereka pertama kali bertemu, tidak terasa apapun yang aneh pada tubuh Aerin. Jantungnya berdetak dengan irama semestinya. Warna pucat wajahnya tidak pernah menjadi merah hingga menjalar ke telinga. Tidak ada keluhan tentang geli diperutnya dan waktu tidurnya tidak berubah. Otaknya terus bekerja dan tidak pernah berhenti mendadak. Semuanya normal. Semuanya baik-baik saja.

Hingga akhirnya, semua berbalik 1800 setelah ia berjabat tangan dan bertukar nama dengan Kim Jongin yang berada satu tingkat diatasnya. Hal-hal normal itu meninggalkannya semakin jauh. Seiring dengan jaraknya yang semakin dekat dengan Jongin. Perlakukannya seperti Aerin bagian penting dalam hidup Kim Jongin. Otak kapasitas rendahnya malah semakin terisi penuh dengan Jongin dimana seharusnya otak itu terisi rumus-rumus memuakkan yang ia perlukan untuk lulus.

Dia yang panik dengan keabnormalan tubuhnya setiap Jongin berada dalam radius tertentu. Tapi Jongin yang tetap tenang dengan segala perhatiannya tanpa merasakan perubahan Aerin.Semuanya membingungkan Aerin.

Ada apa dengan Jongin?

Apa dia menyukainya?

Kenapa tidak jujur tentang perasaannya saja?

Kenapa terus menerus membuat Aerin terombang-ambing karena sikapnya?

Kenapa aku terkesan mengharapkannya?

“Aerin?” Hara memanggilnya. Sedikit mengguncang bahu Aerin untuk menyentaknya kembali dari lamunannya.

Sedikit tersentak, Aerin mengangkat kepalanya. Ia bisa melihat raut prihatin sahabatnya. Ia juga tidak bisa menyembunyikan raut resah diwajahnya dari Hara.

“Aku harus bagaimana, Ra-ya?”

“Tanyakan padanya,”

=====

‘Tanyakan padanya,’

Aerin masih berdiam ditempatnya. Mengepalkan kedua tangan disamping tubuhnya. Membiarkan suara Hara berputar-putar dikepalanya tanpa ia realisasikan.

“Tuhan, bagaimana ini?”

Aerin bersender pada tembok dibelakangnya. Satu-satunya penghalang yang menyembunyikan tubuhnya dari Jongin. Matanya terpejam. Memantapkan niatnya yang tadi sudah bulat namun tiba-tiba menyusut begitu melihat sosok Jongin. Entah bagaimana, tapi sepertinya orang itu tidak pernah berhenti tersenyum. Karena setiap menemukan Jongin dengan matanya, senyum itu tidak pernah tidak ia lihat. Senyum yang berhasil meluluhkan Aerin dan selalu menempel diingatan Aerin.

“Ayolah, Aerin. Kau bisa,” ia meyakinkan dirinya. Menegakkan kembali tubuhnya yang tadi sudah nyaman bersandar begitu melihat beberapa laki-laki yang tadi mengelilingi Jongin pergi satu persatu. Nyalinya kembali terkumpul. Ia harus melakukannya, kalau mau tidurnya malam ini tenang.

Oppa…” Jongin berbalik. Tersenyum manis ketika tahu Aerin lah yang memanggilnya. Berjalan mendekati Aerin yang kakinya mendadak lemas.

“Ai? Ada apa? Tidak biasanya,” Aerin diam. Mencoba menarik oksigen yang sekarang bercampur dengan parfum Jongin. Parfum yang dalam lima detik berhasil menjadi candunya.

Ia sadar sekarang Jongin tepat didepannya. Hanya beberapa meter darinya. Itu yang membuatnya gugup hingga sulit mengangkat kepala. Meski tidak melihatnya,perasaan Aerin yang berkata mata Jongin menatapnya dalam diam. Dia menunggu.

“Kau kenapa? Ada yang kau butuhkan?”

“T…tidak,” suaranya terdengar mengenaskan. Serak dan gugup. Ae Rin merutuki dirinya sendiri. Seharusnya ia hanya menggeleng.

“Lalu? Kenapa kau berkeringat? Kau sakit?” Aerin mengusap pelipisnya. Bahkan ia tidak sadar sudah berkeringan sebanyak ini.

“Jangan bilang ada yang menyakitimu?” Aerin cepat-cepat mengangkat kepalanya sebelum spekulasi Jongin yang satu ini semakin liar. Kepalanya menggeleng cepat. Membuat wajah Jongin yang sempat tegang kembali rileks. Ia hanya butuh waktu untuk menghapus gugupnya. Tapi lagi-lagi, Jongin tidak menyadarinya.

“Lalu?”

“Aku ingin bertanya…” Aerin menjedanya. Tidak, gugupnya belum hilang, malah semakin parah. Berbagai kemungkinan jawaban Jongin berkelebat di otaknya. Ia takut jika jawaban Jongin tidak sesuai yang ia fikirkan selama ini. Tapi ia tidak bisa hidup seperti ini. Hidup dengan bayangan memiliki Jongin yang memang tidak dimilikinya. Aerin menelan ludahnya. Sekali lagi menarik nafasnya dalam-dalam.

“…perasaan oppa, bagaimana?”

Jongin diam. Ia mendengar dengan jelas pertanyaan Aerin. Ia mengerti apa maksudnya. Tapi ia tidak tahu bagaimana menjawabnya. Mencari jawaban yang tepat tidak semudah yang kau bayangkan. Otaknya terus berputar, hingga suara penuh kegugupan itu kembali memecah keheningan mereka.

“Kenapa kau begitu perhatian padaku?”

“Kenapa sikapmu begitu manis padaku?”

“Kenapa kau memanggilku Ai? Kau tahukan apa artinya itu?”

 

Jongin tidak mungkin tidak tahu artinya. Kosa kata jepang yang tiba-tiba saja ia ingat saat melihat Aerin. Ai, cinta. Kalimat singkat yang menampung banyak arti didalamnya.

“Kau….tidak maksudku apa arti Song Aerin bagimu, oppa?” Jongin mengepal tangannya kuat. Terlihat bingung dan gugup. Disaat gugup Aerin menghilang, kini Jongin yang merasakannya. Jika tadi Jongin yang menunggu, kali ini giliran Aerin yang harus sabar menunggu.

“Aku…tidak tahu,”

“Aku hanya melakukan apa yang ingin aku lakukan,”

“Aku akan mengikuti kata hatiku,”

“Maaf jika aku menyakitimu, tapi Ai, kau adalah adik yang manis bagiku,”

“…..”

Akhirnya. Jongin menghancurkan hatinya dalam satu tarikan nafas. Entah dia menyadarinya atau tidak, nafas Aerin tercekat. Ada cairan bening yang mulai memenuhi matanya.

“Ai?”

Ai? Kenapa sekarang Aerin begitu membenci kata itu? Padahal awalnya dia sangat menyukai panggilan itu. Ai, cinta. Itu yang dia tahu. Ia kira nama itu berarti sesuatu untuknya dan Jongin. Aerin terlalu berharap. Nama itu hanya berarti untuknya. Cinta Jongin tidak pernah ada padanya. Jongin tidak pernah mencintainya. Ai, hanya sebatas nama tanpa arti bagi Jongin.

Cukup. Ia sudah mendengar jawaban Jongin. Ia harus cepat-cepat pergi. Kalau saja ia tidak cepat-cepat berbalik, memunggungi Jongin dan berjalan menjauhinya, airmatanya pasti akan jatuh didepan mata Jongin. Terlihat seperti gadis lemah adalah pilihan terakhir dalam hidupnya. Aerin mengabaikan kata maaf Jongin yang terdengar menyebalkan ditelinganya. Ia sakit, dan Jongin harusnya tahu itu.

Aerin tersenyum, miris. Jadi ini kisah cintanya?

Miris. Konyol. Menyedihkan.

Ia harus berterimakasih pada Jongin karena untuk pertama kalinya, ia menertawakan nasibnya sendiri

 

=End=

 

 

38 tanggapan untuk “Never”

  1. aduh meni sakit ya:( cowonya jahat:(
    sequelnya ya kudu harus wajib thor:(
    sayang authornya aku mah
    engga deng aku mah sayang lee min ho

  2. Daebak thor!!!! sequel nya dong =((
    Biar seru.. sayany, pemilihan kata sm ungkapan nya udah bagus bgt lohhh =((

    1. Maafin ㅠㅅㅠ
      Aku mau baca ff author yg lain.. mau liat lagi contoh penyusunan kata katany ㅅㅅ

  3. Udh mrlayang dgn sikapx kai…ehhh malah jatu gtu aj saat dgr kta adik…untg disitu kai ga bilang klo dia puny kekasih…behhhh klo iya gimana kbrx tuh si ae ae

  4. wah baru pertama kali baca ff disini.. langsung kesemsem xD
    suka deh kata katanya.. jelas banget alurnya, gak muter2 ^^

  5. Ko jd inget pas tempo hari kai kirim kado istimewa pd seorang gadis kecil/tp lupa namanya..pd inget g c pas exo liris album exodus..pan sehun jg ikutan kirim kado buat miranda kerr…
    Tp bagus thorrr.d lanjut yo!

  6. Suka pemilihan kata-katanya thor 👍 ceritanya juga bagus, deg degan juga masa nungguin jawaban kai hahaha penguatan untuk sequelnya~~~~ keep writting thor 🙂

  7. Jongin memberikan harapan palsu apalagi melihat Aerin yang dulunya tak ada perasaan padanya tapi sekarang ia menyukai kai tapi kai hanya menganggapnya adiknya yang manis.
    Ya ampun aku sangat kasihan padanya .
    Sad ending

  8. Bad ending ya jadinya. Huaah disini Jongin keliatan banget kerennya. Ceritanya manis dan kata-katanya terangkai dengan baik. Daebak!

  9. kyaaa gue kira si kkamjong bakalan suka juga sama aerin ternyata kkamjong php, sakit tau digituin jong sakit >_< jadi baper deh ah

  10. yuhuuuuuu~~~ butuh sequel pisaaan. bener ini mah harus ada jongin’s side nyaaa.. biar tau kenyataannyaa… cielah. sekian terima sehun=D

  11. Sequel! Jongin’s side nya manaaa thorrr. Huhu kasian Aerin, kena php nya jongin. Sequel ya thor, sama coba itu cara kenalan nya dijelasin aku penasaran ehehe. Keep writing thor♡

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s