Tempus Fugit, Amor Manet [Chapter 04]

tfam

Ketika sang atlet lari dan drummer sebuah band yang belum debut dipertemukan dengan cara tidak terduga dan masing-masing mulai memiliki rasa. | Waktu boleh saja berlalu, tapi cinta akan tetap tinggal | “Sunbae, gumawo…” | “Aku… aku janji akan lebih mengenalmu.” | “The best love story is when you fall in love with the most unexpected person at the most unexpected time”― Anonymous

Len K present… Tempus Fugit, Amor Manet

Rate: T, PG-15

Romance, Hurt/Comfort, Supranatural, a bit humor

Chanyeol EXO, Cha Iseul (OC), Minho SHINee, Kai-Sehun-Chen-Lay EXO dan beberapa idol/actor dan OC sebagai support cast

Warning: AU, Semi-canon, OOC (maybe), typo, humor garing, rush

Poster by Aqueera at https://posterdesigner.wordpress.com

A/N                        : Disini Chanyeol dan Iseul beda sekolah. Hope you don’t get confuse.

.

.

.

 

                “Tentu tidak! Justru aku akan menjadi cupid bagimu dan Minho sunbae. Aku akan menembakkan panah cinta ini tepat ke hati kalian masing-masing! Shoo! Shoo!”

                “Jung.Eunji!”

                “Hehehehe.”

                “Omona! Itu mereka! Itu mereka! The FOO! Jongdae, Yixing, Jongin, Sehun, Chanyeol!”

                Manik Iseul melirik kesamping kirinya. Eunji sudah benar-benar melupakannya sekarang. Sahabatnya itu sudah berpindah ke dalam mode fangirling. Yah, tidak masalah bagi Iseul. Sejujurnya, Iseul juga cukup menikmati penampilan The FOO. Tidak buruk, mereka terbilang bagus. Sekarang Iseul sedikit mengerti kenapa Eunji bisa tergila-gila dengan The FOO.

                Keduanya saling berpegangan tangan dalam diam di malam musim gugur di persimpangan jalan. Lampu merah memberi mereka sekedar jeda untuk tetap seperti itu. Sekali lagi waktu terasa berhenti. Dan sesaat terasa aneh saat tautan keduanya menjadi erat.

                “Sunbae?” panggil Iseul.

                “Hn?”

                “Lampunya sudah hijau.”

                “Biarkan seperti ini. Sampai lampunya hijau lagi…”

                “Dua Emas Untuk Korea Dari Putra-Putri Berbakat Korea”.

                “Kudengar mereka berdua dekat,” celetuk Yoora.

                “Nuguya?”

                Yoora menunjuk-nunjuk dua atlet dalam foto berita tadi, “Dua orang ini.”

                “Tidak mengejutkan. Mereka berdua sama-sama atlet,” sahut Chanyeol datar.

.

.

Chapter 4 ― Thanks, But No Thanks

.

.

                “Pemanasnya sudah bekerja lagi!” Chanyeol menuruni anak tangga dengan cepat-cepat.

Hal pertama yang ia lakukan ketika mencapai lantai basement ialah merentangkan tangannya lebar-lebar sebelum akhirnya duduk di singgasananya―kursi bundar yang cukup tinggi di belakang satu set drum.

“Pak Tua yang baik,” kekeh Jongin. Satu sudut bibirnya terangkat keatas ketika merasakan basement yang biasa mereka gunakan sebagai tempat latihan terasa hangat.

Basement sederhana dan ala kadarnya yang mereka kunjungi kali ini adalah tempat latihan rutin mereka. Seorang Pak Tua pemilik toko alat musik di atas berbaik hati menyewakan basementnya dengan harga murah kepada The FOO. Kesempatan ini tidak mungkin disia-siakan oleh The FOO. Daripada menyewa studio dengan tarif per jam, basement di bawah toko alat musik ini tidaklah buruk. Harganya juga jauh lebih murah, dan dibayar perbulan.

Tempatnya memang tidak begitu luas, tapi sudah cukup untuk mereka berlima. Set drum milik Chanyeol adalah satu-satunya instrumen yang ditinggal disini. Oh, hampir saja lupa. Sebuah piano milik Yixing juga. Sehun dan Jongin lebih memilih membawa pulang instrumen mereka. Di salah satu sudut basement, ada sebuah sofa besar berwarna merah marun yang lusuh―yang biasanya mereka gunakan untuk istirahat.

Lalu ada meja persegi panjang rendah dari kayu yang diatasnya berserakan berbagai barang; snack, beberapa sampah, gumpalan-gumpalan kertas, serta buku untuk menulis lagu dan beberapa benda yang hampir tidak bisa diidentifikasi. Berantakan khas anak laki-laki. Di sekeliling tembok sudah dilapisi dengan karpet warna biru. Awalnya mereka menggunakan wadah telur yang terbuat dari kertas kardus. Tapi pemasukan mereka meningkat belakangan ini sehingga mereka mampu mengganti wadah telur itu dengan karpet.

Hari ini bulan Desember baru saja berjalan dua minggu. Namun suhu sudah mulai turun dengan cukup drastis walau salju belum turun. Belakangan Chanyeol cs mengetahui jika pemanas basement rusak dan itu menyebabkan latihan rutin mereka terganggu. Hei, siapa yang mau terbujur kaku di basement? Siapa yang mau jari-jarinya patah tanpa mengeluarkan darah ketika tengah bermain?

Kejadian ini mereka adukan ke Pak Tua pemilik toko musik di atas. Mereka tidak menyangka reaksi Pak Tua bisa secepat ini. Setelah ini mungkin mereka harus memberi sesuatu ke Pak Tua. Entah apa itu. Karena berkatnya, hari ini mereka bisa berlatih kembali.

Dan tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk tersedot ke dalam kegiatan mereka masing-masing; Jongdae yang bergumam seperti menyanyikan nada sambil tiduran di sofa lusuh itu, Chanyeol yang masih asyik mendengarkan musik dari mp3 playernya namun tangannya memainkan stik drumnya, Yixing dengan lagu gubahannya yang ia presentasikan dalam tuts-tuts piano, serta Jongin dan Sehun yang sudah berkencan dengan senar masing-masing.

“Yixing,” panggilan dari Jongin tidak menghentikan permainan jari Yixing di pianonya.

Ne?” balas Yixing sopan seperti biasa.

“Bagaimana dengan demo yang terakhir kita kirimkan itu?”

Sementara yang lain mulai tertarik dengan jawaban Yixing, yang ditanya justru masih berkutat dengan lagu gubahannya. Membiarkan ada jeda menggantung sebelum ia menjawab, “Ditolak,” dengan cueknya.

“Eh? Ditolak?” sahut Sehun.

Eo, ditolak. Lagi.” Yixing masih berkutat dengan lagunya. Mencoret beberapa nada di kertas yang ia rasa tidak pas, lalu mencari yang pas dengan bermain piano, menulis nada yang pas, dan berulang terus seperti itu.

“Kenapa kau tidak memberitahu kami?” nada Jongin mulai berubah.

Yixing berhenti memainkan pianonya dan menatap Jongin. “Hasilnya sama seperti sebelum-sebelumnya ‘kan? Jadi untuk apa aku memberi tahu kalian?”

Bukan hanya Jongin yang terkejut, tapi semua yang ada di ruangan itu. Semua kesibukan mereka terhenti karena ucapan Yixing. Yixing boleh jadi seseorang yang agak ‘lamban’ dan celetukannya tidak jarang tepat sasaran. Tapi bukan itu yang membuat kaget.

Melainkan nada bicara Yixing. Nada bicara yang menusuk itu paling sering digunakan oleh Jongdae hingga sudah menjadi trademark seorang Kim Jongdae. Tapi apa yang terjadi? Barusan seorang Zhang Yixing yang terhitung polos benar-benar meng-copy nada nyinyir bin sarkastik milik Jongdae.

“Hei! Ada masalah denganku? Kenapa nadamu tiba-tiba jadi sinis begitu?” emosi Jongin mulai tersulut.

Yixing mengangkat bahu cuek, “Aku hanya bicara kenyataan,” ucapnya dengan nada datar seperti yang selama ini ia gunakan. Namun apa yang dikatakan Yixing selanjutnya lebih mengejutkan lagi, “Kurasa kita harus mengambil istirahat sejenak, berhenti mengirimkan demo-demo kita.”

“Hei! Ada masalah apa kau ini?!”

Semua terjadi begitu cepat. Saat ini Jongin sudah mengabaikan gitarnya dan mencengkram kerah baju Yixing disertai kilatan amarah di matanya.

“Apa maksudmu dengan ‘berhenti mengirimkan demo’? Kau ingin kita berhenti berusaha, berhenti mencoba, HAH?!” nada Jongin semakin meninggi.

“Jongin, keumanhae!”

“Kenapa kau diam saja, hah?! Jawab aku!” mengabaikan peringatan Chanyeol tadi, Jongin justru makin erat mencengkram kerah baju Yixing dan makin emosi.

Tidak ada yang bersuara. Semua diam menyaksikan ketegangan yang tengah terjadi. Terlalu terkejut dengan perkataan Yixing barusan, sibuk dengan gagasan masing-masing, dan sibuk menyaksikan Jongin dan Yixing yang tengah berseteru. Di saat-saat seperti ini, sehalus apapun gesekan yang terjadi bisa menyebabkan ledakan yang lebih besar.

Bukannya mereka tidak penasaran. Mereka semua penasaran kenapa Yixing berkata demikian. Bukannya mereka tidak peduli dan membiarkan dua sahabat mereka bentrok. Mereka hanya berpikir mungkin ini cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah ini. Hei, bukankah wajar jika lelaki menyelesaikan masalahnya dengan cara begini?

“Tapi… kenapa, Yixing?” Jongdae akhirnya angkat suara.

Cengkraman Jongin di kerahnya memang tidak mengendur sama sekali, tapi Yixing tidak merasa takut setitikpun. “Kurasa kita butuh rehat sejenak. Menjernihkan pikiran kita, perform tanpa ada bayang-bayang takut ditolak lagi, lalu―”

“Hentikan omong kosongmu itu, Zhang Yixing!” Jongin memotong kalimat Yixing dengan sebuah seruan yang memekakkan telinga. Emosi yang dibendungnya tidak mampu bertahan lagi. “Apa kau sudah gila? Apa kau tidak ingin kita segera debut? Apa kau sudah menyerah dengan semua mimpi yang kita bangun berlima? Apa kau sudah tidak punya niatan untuk berada dalam band ini? Apa kau sudah lelah karena semua lagumu dan Chanyeol ditolak terus-menerus?” Jongin memberondong Yixing dengan semua pertanyaan yang berkecamuk di benaknya.

Sehun mengusap lehernya. Risih karena perselisihan besar yang baru pertama kali terjadi ini. “Oy, Jongin… sudahlah. Itu―”

“Mana jawabanmu, keparat?!” lagi, Jongin mengabaikan kawannya.

Manik Yixing masih menatap lurus ke manik milik Jongin tanpa gentar. “Aku tidak gila, tapi terserah jika kau menganggapku gila. Aku juga ingin segera debut, sama seperti kalian. Tidak, aku tidak menyerah pada mimpi-mimpi kita. Aku masih, dan akan selalu berada dalam band ini. Dan ya, aku juga lelah. Mungkin Chanyeol juga sama lelahnya denganku―”

Chanyeol yang namanya disebut seketika membulatkan matanya. Persis seperti orang tolol. Sejenak Chanyeol pikir Jongin akan menatap sinis padanya. Namun Jongin masih tidak mengalihkan atensinya dari Yixing.

“―tapi dia tidak mengatakannya. Rasanya sakit, kau tahu? Berusaha mati-matian setiap hari mencari komposisi nada yang pas, ketika kau menemukannya… meyakini jika itu usaha terbaik yang bisa kau berikan, yakin jika orang-orang di luar sana bakal menerimanya tapi nyatanya ditolak, rasanya sangat sakit. Kupikir setelah semua penolakan aku akan terbiasa, akan kebal. Tapi tidak. Justru rasa sakitnya makin terasa. Kau mungkin tidak begitu merasakannya karena kau bukanlah komposer―”

Buaakk!!

Tanpa tedeng aling-aling, Jongin sudah mendaratkan tinjunya ke pipi kiri Yixing.

“Kau pikir hanya kau yang merasa sakit?! Hanya karena kau seorang komposer di band ini maka rasa sakitmu melebihi yang lain. Begitu? Kau pikir kami semua tidak merasakan rasa sakitnya?! Sedangkal itukah pikiranmu, bangsat?! Kita ini berlima! Semua kegagalan, rasa senang, kita merasakannya bersama-sama!”

“Jongin, Jongin, sudah cukup! Hentikan!”

“Kendalikan dirimu, Jongin!”

Sehun dan Jongdae buru-buru menarik Jongin yang sudah bersiap menghajar Yixing lagi. Keduanya memegangi lengan Jongin seraya menyeret Jongin untuk keluar dari ruang latihan mereka. Sementara Chanyeol menghampiri Yixing. Menanyakan apakah rekan sesama komposernya itu baik-baik saja, juga membawa Yixing ke apotek terdekat. Tinju Jongin tadi memberi bonus memar dan bibir sobek di wajah Yixing.

Setelah kejadian ini, Chanyeol segera menghubungi pihak Eternal Memory dan Nowhere untuk membatalkan penampilan mereka. Dalam jangka waktu yang belum ditentukan dengan alasan sang vokalis menderita sakit tenggorokan.

 

***

 

Tiga hari semenjak pertengkaran antara Jongin dan Yixing―yang sampai sekarang belum terselesaikan, di tempat lain salah satu penggemar berat mereka berkali-kali mendesah kecewa. Menu makan siangnya kali ini hanya dimainkan menggunakan sumpit stainless steel miliknya.

Sahabat si penggemar berat tadi―yang kini menatap aneh ke si penggemar berat itu, merasa heran. Si penggemar berat The FOO ini bukanlah orang yang suka pilih-pilih makanan atau punya sindrom ‘aku-tidak-nafsu-makan’. Dia juga bukan tipe wanita yang sering khawatir akan berat badan layaknya remaja putri lainnya.

“Kau… kenapa?” selidik Iseul. Matanya bergantian menatap Eunji dan menu makan siang Eunji yang hanya berkurang dua sumpitan.

“Tidak nafsu makan,” sahut Eunji singkat, masih memainkan makan siangnya dengan sumpit.

Uwo! Iseul tidak salah dengar, ‘kan? Seorang Eunji tidak nafsu makan? Klub panahan harus segera mendengar hal ini!

Wae? Seungho sunbae memarahimu lagi?” Iseul hanya asal tebak. Popularitas ketua klub panahan sekaligus atlet panahan nasional merangkap kakak kelas mereka itu tidak perlu diragukan. Wajahnya memang tampan dengan senyum menawan. Tapi saat ia marah, tidak akan ada yang bisa lolos darinya. Tampan namun mengerikan. Hanya gadis-gadis masokis yang mau mengejar-ngejar setan berkedok ‘sunbae’ itu.

“Che! Enak saja!” Eunji mencebikkan bibirnya, “mana mungkin aku tidak nafsu makan hanya karena setan seperti dia.”

Iseul tertawa hambar. Memang tidak mungkin sahabatnya ini runtuh hanya karena omelan atau hukuman dari Seungho sunbae. “Lalu?”

“Aku tidak bisa melihat mereka lagi,” cicit Eunji.

Mwo?”

“Mereka pergi.” Ekspresi wajah Eunji berubah menjadi―lebih―jelek karena sudut-sudut bibirnya tertekuk ke bawah.

“Huh?”

“Mereka pergi. Dan entah kapan mereka akan kembali.”

“Eunji, aku―”

“Bagaimana mereka bisa melakukan ini padaku, Iseul?! Bagaimana bisa?!”

Dahi Iseul makin berkerut. Tidak paham sama sekali akan ocehan Eunji yang menurutnya begitu berlebih. “Aku tidak paham dengan apa yang kau katakan, Eunji!”

“Bagaimana jika mereka benar-benar pergi dan tak kembali lagi? Bagaimana aku bisa hidup setelahnya? Bagaimana aku harus melupakan mereka? Mereka membuatku mencintai mereka tanpa pernah mengajarkan bagaimana caranya melupakan mereka! Bukankah itu kejam sekali, Iseul?”

“Demi Tuhan, Jung Eunji! Kau ini bicara apa, sih?!” gertak Iseul.

Satu detik.

Dua detik.

Belum ada kata apapun yang meluncur dari bibir Eunji yang mewek hebat. Hanya tatap mata sendu Eunji dan mimik wajah menyedihkannya yang bisa ditangkap indra penglihatan Iseul. Dahi Iseul kembali berkerut melihat kelakuan aneh sahabatnya itu.

“Jadi? Tidak ingin bicara?” pancing Iseul.

“Hwaaaa! Iseeeeuuuuuullll! The FOO mengambil cuti untuk jangka waktu yang belum ditentukan! Mereka tidak akan tampil di Eternal Memory, atau Nowhere, atau dimanapun karena vokalis mereka tengah sakit tenggorokan!”

Mendengarnya, Iseul langsung sweatdrop.

“Hanya itu?” Iseul menahan pekikannya.

Masih mewek dengan tampang menyedihkan, Eunji mengangguk pelan.

“Hanya karena The FOO cuti untuk sementara waktu karena vokalis mereka sakit, kau berubah menjadi beribu-ribu kali lebih aneh seperti ini? Juga tidak nafsu makan?!” pertanyaan Iseul kembali direspon oleh anggukan dari Eunji.

Heol, Eunji! Heol! Mereka hanya cuti sementara. Vokalis mereka sakit, itu artinya saat vokalis mereka sudah sembuh mereka bisa tampil lagi.”

“Ta-tapi bagaimana jika setelah vokalis mereka sembuh mereka benar-benar tidak akan kembali? Bagaimana jika diam-diam ada konflik internal dan ini hanyalah bualan belaka untuk menutupinya? Jika itu terjadi, bagaimana jika mereka bubar? Bagaimana? Bagaimana?”

Iseul memijit pelipisnya. Seketika kepalanya terasa pening mendengar ocehan tidak bermutu dari Eunji. “Kau… berpikir terlalu berlebihan. Terlalu jauh. Terlalu negatif.”

“Aku hanya berpikir tentang kemungkinan terburuk untuk bersiap-siap, seandainya hal-hal itu benar-benar terjadi, aku harus bagaimana,” elak Eunji.

“Kau berlebihan. Tiitk. Yang perlu kau lakukan sekarang ini adalah berdoa agar vokalis mereka cepat sembuh dan agar semua pikiran-pikiran negatifmu itu tidak jadi kenyataan.”

Eunji diam. Ia berpikir sejenak. Perkataan Iseul jauh lebih masuk akal ketimbang semua hal yang ia labeli sebagai ‘kemungkinan terburuk’. “Kau benar, tapi―”

Sikkeureo,” Iseul memotong kalimat Eunji yang keluar setelah beberapa menit berpikir dengan lembut, “diam atau kau akan kuhabisi,” lanjut Iseul seraya berdiri dari bangkunya.

Eodi?” tanya Eunji cepat. Ia takut jika Iseul benar-benar ngambek padanya karena curahan hatinya yang berlebihan tadi.

“Toilet. Mau ikut? Aku bisa merendam kepalamu itu ke dalam wc. Siapa tahu kau jadi lebih waras dan tidak merengek-rengek mengenai masalah sepele seperti tadi. Dan… siapa tahu pikiran-pikiran negatifmu ikut hilang.” Iseul tersenyum licik.

Eunji bergidik jijik. “Ani. Gumawo.”

Iseul tertawa renyah sebelum benar-benar pergi ke toilet.

.

.

Dengan tergesa, Iseul membuka satu-persatu bilik toilet perempuan. Tidak lupa meneliti tiap sudut toilet. Setelah memastikan bahwa hanya ada dia sendiri di toilet, Iseul segera menutup dan mengunci pintu toilet dari dalam.

Nafas Iseul menjadi lebih pendek-pendek, keringat dingin mulai terbentuk di dahinya. Serta tangannya sedikit gemetar saat ia mengeluarkan obat-obatan yang selalu ia kantongi di dalam saku blazernya. Rasa nyeri yang lagi-lagi ia rasakan membuat tubuhnya jadi sedikit tidak stabil.

Rasa nyeri itu berangsur-angsur hilang ketika obat sudah memasuki tubuhnya.

Iseul tidak langsung keluar. Ia masih bergeming di tempatnya―di depan wastafel dan sebuah cermin besar. Ia lalu menyalakan keran dan membasuh wajahnya dengan air. Kemudian melihat pantulan dirinya sendiri yang nampak sedikit berantakan di cermin.

Betapa Iseul sangat membenci saat-saat seperti ini. Saat nyeri tiba-tiba ia rasakan, juga saat obat-obat yang diberikan Hongsik sonsaengnim bisa meredakan rasa nyeri itu. Ia sudah sangat bergantung kepada obat. Ingin sekali menolaknya tapi ia tahu ia tidak bisa.

 

***

 

Seminggu sudah berlalu sejak insiden pertengkaran di ruang latihan itu. Genap sudah seminggu ini The FOO tidak perform di manapun. Mustahil untuk perform ketika dua anggota mereka masih berselisih.

The FOO masih berlatih. Tanpa Jongin atau Yixing. Ya, jadi jika ada Jongin, maka Yixing tidak ada. Pun sebaliknya. Di sekolah juga mereka saling menjauh tanpa berusaha menyembunyikannya. Yixing yang tetap pada pendiriannya, dan Jongin yang tetap keras kepala tidak mau memikirkan lagi keputusan Yixing.

Bagaimana dengan Sehun, Jongdae, dan Chanyeol? Ketiganya tentu tidak bisa berbuat banyak. Ketiganya dibuat bingung oleh ulah dua rekan mereka. Jika mereka ingin mengirimkan demo, sebenarnya itu bisa saja. Masih ada Chanyeol yang berperan sebagai komposer. Tapi jika Jongin mengetahui hal ini masalah pasti tambah runyam.

Apakah ini artinya mereka satu suara dengan keputusan Yixing? Errr, tidak juga. Fifty-fifty? Kurang lebih begitu. Mereka paham maksud Yixing bagaimana. Namun mengingat Yixing yang memutuskan hal ini secara mendadak membuat mereka kurang setuju.

Tapi apa yang bisa mereka perbuat? Mereka bertiga sudah berusaha membujuk Jongin dan Yixing untuk berbaikan―secara tidak langsung tentunya, tapi ditanggapi dingin oleh keduanya. Tidak ada niat berdamai dari Jongin maupun Yixing. Keduanya keukeuh dengan pendirian mereka. Tidak ada yang mau mengucapkan kata ‘maaf’ terlebih dahulu.

Di dalam band mereka, mereka tidak mengenal istilah ‘leader’. Bagi mereka, mereka semua sama saja. Lagipula, menyematkan gelar ‘leader’ kepada salah satu dari mereka bukanlah gagasan yang bagus. Ayolah, salah satu dari bocah-bocah tengil dan idiot plus gila seperti mereka menjadi leader? Yang benar saja! Bencana namanya!

Tapi karena itu pula mereka merasa kesulitan kali ini. Seandainya saja sosok leader itu benar-benar ada sekarang, mungkin leader itulah yang akan menjadi pihak penengah. Seorang yang penuh kharisma dan bijaksana sebagai penengah. Benar-benar tipikal leader yang tidak ada sama sekali dalam diri mereka berlima.

Stop! Stop!” Jongdae mengomando Sehun dan Chanyeol untuk berhenti bermain.

Sore ini, ruang latihan mereka lagi-lagi hanya terisi tiga orang.

“Tetap saja, permainan gitarmu terasa berbeda dari milik Jongin.” Atensi Jongdae tertuju pada Sehun―yang kali ini mengambil alih posisi Jongin sebagai gitaris.

Geureom! Instrumenku itu bass, bukan gitar. Wajar saja jika rasanya berbeda!” balas Sehun tidak terima.

Eo, eo, aku tidak menyalahkanmu, kok.” Segera Jongdae menjatuhkan dirinya ke sofa butut yang ada di sana.

Sehun sudah meletakkan gitar yang biasanya dimainkan Jongin sementara Chanyeol masih asyik duduk di belakang set drumnya.

“Kalau begini terus, band kita bisa tamat riwayatnya.”

“Aku sudah tahu itu, Chanyeeoooool.” Balasan Jongdae terdengar kurang jelas karena ia membenamkan wajahnya ke sofa.

“Aish! Dua orang itu, kenapa mereka harus jadi begitu keras kepala dan tidak mau berterus terang?! Menyusahkan orang lain saja!” Sehun merutuki kedua rekannya yang absen kali ini.

Ketiganya diam sejenak. Tidak ada yang tahu apakah pikiran mereka sedang berjalan ataukah kosong kali ini.

Keundae…” suara bariton Sehun memecah keheningan, “aku mengerti maksud Yixing….”

“Kalau dianalogikan, itu seperti panah. Kau tahu? Agar dapat meluncur dengan cepat, maka anak panah itu harus ditarik mundur sejauh mungkin. Artinya, tidak selamanya mengambil langkah mundur itu merupakan suatu kegagalan, ‘kan?” Chanyeol berceloteh. Yang tumbennya, terdengar cerdas dan berkelas.

Eo, semacam itu,” Jongdae sepertinya mengabaikan kesan berkelas yang tadi ada pada ucapan Chanyeol, “lagipula… tidak ada salahnya berhenti mengirimkan demo. Setidaknya kita jadi lebih fokus dalam perform tanpa perlu mengkhawatirkan jawaban apa yang akan kita dapat untuk demo kita. Rehat sejenak untuk merefresh pikiran kita.”

“Tapi Jongin tidak mau menggunakan otaknya untuk masalah ini. Dia mengedepankan emosinya hingga kita jadi berantakan seperti ini,” sambar Sehun yang diselingi jeda sejenak, “kita tidak bisa begini terus, ‘kan? Sebentar lagi Natal dan tahun baru. Jika kita seperti ini terus, ada berapa banyak job yang akan hilang dari tangan kita? Akan ada berapa banyak gadis-gadis yang kecewa karena tidak melihatku? Ya ampun, aku tidak mau dicap sebagai anak nakal oleh Sinterklas karena membuat banyak gadis menangis karenaku.”

Oke, awalnya Jongdae dan Chanyeol angguk-angguk setuju karena perkataan Sehun tadi. Tapi semakin lama, perkataan Sehun makin kacau dan mulai menunjukkan kenarsisannya. Dan percayalah, itu membuat telinga Jongdae dan Chanyeol jadi risih!

Mwoya? Berhenti mengucapkan hal-hal omong kosong nan menjijikkan!” Chanyeol dengan mudahnya menjitak kepala Sehun menggunakan stik drumnya.

“Ya ampun,” Jongdae cukup menghela nafas saja.

 

***

 

“Yixing! Ayo makan siang bersamaku!”

Siang ini saat jam istirahat makan siang, sesuai kesepakatan trio Chanyeol–Jongdae–Sehun, Chanyeol berusaha membujuk Yixing untuk makan siang bersamanya. Sebenarnya ini hanyalah akal-akalan mereka bertiga agar Yixing bisa satu meja dengan Jongin dan perang dingin tak berguna ini selesai dengan cepat.

Yixing yang baru saja menambahkan sekotak susu di nampan makan siangnya menatap wajah Chanyeol yang berekspresi konyol dengan mimik stoic.

“Ayolah! Sudah lama kita tidak makan bersama di cafeteria!” Chanyeol membujuk Yixing lebih keras karena tidak kunjung ada respon dari Yixing.

“Hm, oke.” Akhirnya Yixing mau setelah diam beberapa saat.

“Yaaaaa… joah!” Chanyeol bisa saja menyenggol lengan Yixing lebih keras lagi jika Yixing―pun dirinya tidak membawa nampan penuh makanan.

Keduanya berjalan beriringan. Lebih tepatnya Chanyeol yang menuntun Yixing ke meja yang sudah ia tentukan bersama Jongdae dan Sehun.

Kelihatannya Chanyeol begitu tenang. Tapi justru karena amat guguplah ia jadi begitu tenang. Sosok Jongin yang duduk di samping Jongdae tidak mungkin tidak kelihatan dari jarak enam meter sekalipun Jongin duduk membelakangi arah datang Chanyeol dan Yixing.

Diam-diam Chanyeol melirik ke Yixing di sampingnya. Tidak ada tanda-tanda Yixing ingin kabur atau protes. Raut wajah Yixing juga masih stoic seperti biasa. Tunggu… jadi apa ini artinya Yixing sudah berniat baikan dengan Jongin?

“O! Chanyeol! Sini!” Sehun, duduk menghadap arah datang Chanyeol, dengan sedikit bersandiwara―pura-pura tidak tahu Chanyeol dan Yixing akan datang, melambaikan tangannya. Tentu saja ia sengaja tidak menyebut nama Yixing. Bisa-bisa Jongin langsung pergi nantinya.

Chanyeol membalas lambaian Sehun dengan cengiran. Kakinya sudah gatal ingin segera duduk di sana tapi ia tidak bisa meninggalkan Yixing di belakang. Tapi ia juga sudah tidak betah dengan atmosfer aneh yang ia rasakan ini.

“Mengganti susu kotak dengan yoghurt?” Chanyeol langsung menempati tempat di samping Sehun dan sedikit berbasa-basi.

“Hanya ingin suasana baru,” Sehun tersenyum tipis.

Semua masih terkendali, jika itu yang kalian ingin tahu. Jongin dan Jongdae masih sibuk dengan makanan mereka. Kecuali Jongdae dengan pemikirannya dan hatinya yang harap-harap cemas akan rencana ini.

Tapi itu tidak berlangsung lama.

Segera setelah menyadari ada seseorang yang duduk di sampingnya, Jongin menghentikan makannya. Pun halnya Jongdae.

Dan percakapan yang diselingi tawa oleh Chanyeol dan Sehun langsung berhenti. Seketika suasana menjadi lebih mencekam.

Jauh lebih mencekam lagi tatkala Jongin sudah menatap tajam ke orang tadi―Yixing. Sedangkan Yixing tetap makan dengan cueknya. Entah dia tidak menyadari atau pura-pura tidak tahu akan aura permusuhan yang kini menebal di sekeliling Jongin.

“Errr… itu… kami…” bahkan Chanyeol yang biasanya tidak bisa diam kini harus tergagap merangkai kata-kata.

Srakk!

Tidak ada sepatah katapun yang keluar. Namun Jongin sudah pergi. Nampannya ia tinggalkan begitu saja di meja. Sedangkan Yixing masih menikmati makannya tanpa terganggu sama sekali. Dan trio sisanya saling lempar pandang dalam kepanikan. Atau kegelisahan?

“Heish! Geu saekki-ah…!” Jongdae mendesis dan bergegas menyusul Jongin. Sama, nampannya ia tinggalkan begitu saja.

Kini di meja hanya ada tiga orang dan lima nampan dalam situasi yang canggung setengah mati. Yixing tidak diragukan lagi masih menyantap makan siangnya dengan tenang. Tapi justru karena itulah Chanyeol dan Sehun jadi semakin gelisah.

.

.

“Oy! Jongin!” Jongdae berjalan cepat sambil terus memanggil-manggil Jongin yang cukup jauh di depan.

Koridor belakang sekolah yang langsung terhubung dengan taman belakang sekolah cukup ramai sehingga beberapa pasang mata sempat menatap penasaran kearah Jongdae. Dan Jongin. Tapi setelahnya mereka tidak begitu peduli.

“Oy! Saekki-ah!” nada Jongdae naik. Tapi tidak ada yang ambil pusing. Bahkan Jongin tetap berlalu. Seakan umpatan tadi tidak ditujukan padanya.

Jongdae ingin mengumpat lagi. Tapi kemudian ia sadar jika itu sia-sia saja. Yang lebih dibutuhkan saat ini bukanlah aksi dari mulutnya, melainkan aksi yang sebenarnya.

Jadi Jongdae berlari kecil dan menarik bahu Jongin kasar, “Ya saekki-ah! Apa telingamu kini sudah membusuk?” tanya Jongdae dalam nada sarkastik.

Langkah Jongin berhenti dan ia menatap Jongdae malas. “Mwo? Kau marah karena aku menggagalkan rencana kalian?”

Tanpa diduga, Jongin sudah mengetahui rencana tiga sahabatnya. Namun Jongdae juga tidak terkejut.

“Baguslah kau menyadarinya. Kalau begitu bukankah kau seharusnya ikut andil agar rencana kami berhasil? Bukannya lari seperti pengecut.”

Pats! Tangan Jongin menepis kasar tangan Jongdae yang berada di bahunya.

Mworago? Pengecut? Kau bilang aku pengecut?!―”

EO! Bukankah itu sudah terlihat jelas?” potong Jongdae dengan nada lebih tinggi.

“Cih! Aku tak sudi bekerja sama dengan keparat itu untuk mensukseskan rencana kalian.” Jongin mengalihkan topik. Entah karena ia tidak mau mengakui julukan pengecut itu atau ia tidak ingin berlarut-larut dalam argumen konyol dengan Jongdae.

Ya, jongsincharyo… sampai kapan kau akan mempertahankan ego dan gengsimu, hah? Sampai kapan kau tidak mau menggunakan otakmu untuk mencerna apa yang dikatakan Yixing? Kita ini makhluk yang lebih sering menggunakan logika, tapi kenapa kau mendahulukan emosimu?”

Iptamuro.”

Andwe!” tolak Jongdae tegas, “kurasa aku harus membenturkan kepalamu ke sesuatu yang keras agar pikiranmu kembali berjalan.”

“…”

Jongdae menghela nafas kasar dan mengalihkan wajahnya kearah lain sejenak. Lalu kembali menatap kesal kepada pemuda yang namanya hanya beda satu suku kata di belakang darinya. Sekilas mereka ‘nampak’ seperti saudara, karena nama mereka tentunya.

Tapi percayalah, tidak ada yang sama dari mereka kecuali nama yang hampir sama dan kegilaan mereka. Tinggi Jongin menjulang menembus angka seratus delapan puluh, sedang Jongdae harus puas di kisaran seratus tujuh puluh. Jongin memiliki kulit yang lebih gelap dibanding orang Korea lainnya, Jongdae tidak. Suara Jongdae melengking tinggi, Jongin tidak, dan beberapa perbedaan lainnya.

“Sebentar lagi Natal, juga tahun baru. Apa kau sadar berapa banyak job yang kita tolak karena perselisihan ini? Apa kau pernah membayangkan harus berapa kali aku membuat suaraku serak seperti Jason Statham tiap ada telepon masuk ke ponselku, menanyakan kapan kita bisa perform lagi? Hei, menirukan suara Jason Statham itu tidak mudah….”

“…” Jongin masih diam sebagai responnya.

“Aku yakin sebenarnya kau tidak tahan dengan situasi perang dingin seperti sekarang ini,” ucapan Jongdae sukses membuat dirinya mendapat tatapan nanar dari Jongin, “kalau begitu kenapa kau tidak berpikir lagi? Dengan kepala dingin tentunya. Kau tidak ingin dicap sebagai anak nakal oleh Santa lalu tidak mendapat hadiah saat Natal besok, ‘kan?”

“Jongdae, bicaramu konyol.”

Waaaaeeeeee?!” dua oktaf berhasil dijangkau Jongdae, “kau pikir dirimu juga tidak konyol, huh? Berkacalah dahulu!”

“Tapi kau bicara soal Santa yang tidak nya―”

“Hoi! Kau salah fokus!”

Beruntung kali ini Jongin punya stok kesabaran lebih dalam menghadapi Jongdae. Jika tidak mungkin sekarang sepatunya sudah bersarang di wajah Jongdae, atau menyumpal mulut vokalis itu.

“Terserah saja kau, Jongdae,” tukas Jongin kemudian berlalu pergi.

“Oy! Kim Jongin! Kim Jongin! Oy! Berhenti kau, keparat sialan! Ya!”

Percuma saja, Jongin tidak menggubris seruan itu.

 

***

 

Atensi Minho menyebar ke seluruh penjuru kelas Iseul. Tidak usah ditanya lagi siapa yang Minho cari. Jawabannya sudah jadi rahasia umum. Tapi memang dasar Minho yang kurang fokus tiap kali menghadapi sesuatu yang berhubungan dengan Iseul, mencari Iseul di ruangan kelas saja dirinya tidak becus.

“O, Minho sunbae! Mencari Iseul, ya?”

Fokus Minho kini teralihkan pada sesosok gadis dengan rambut panjang dan senyum lebar yang ada di hadapannya. Oh, Minho tahu siapa hobaenya ini. Jung Eunji, atlet panahan. Dilihat dari ransel yang menggantung di pundak Eunji, sudah jelas Eunji akan pulang dan Minho sepertinya menghalangi jalan keluar Eunji.

Eo. Syukurlah kau sudah tahu jawabannya.” Minho tersenyum.

“Itu sudah jadi rahasia umum, kok,” balas Eunji tersenyum. “Sebentar, akan kupanggilkan Iseul. Ooooooyyy! Cha Iseul…! Minho sunbae mencarimu!”

Minho kali ini menyadari kesalahannya, yaitu tidak segera merespon tawaran Eunji tadi dengan tolakan halus. Kenapa? Karena Eunji baru saja memanggil Iseul dengan volume keras hingga perhatian seluruh kelas tertuju padanya.

Bahkan laki-laki sepopuler dan setampan Minho bisa mati kutu dalam situasi begini! Terlebih saat pandangannya bertemu dengan milik Iseul yang malu-malu. Ya ampun, rasanya Minho ingin langsung lari dengan kecepatan yang selalu ia gunakan tiap lomba.

Ya, apa kalian lihat-lihat? Urus urusan kalian sendiri! Yang dicari Minho sunbae itu Iseul, bukan kalian. Makanya hush, hush! Biarkan dua orang ini berdua saja.” Eunji menunjuk-nunjuk teman-teman satu kelasnya. Kemudian ia kembali pada Minho. “Nah sunbae, Iseul akan kemari sebentar lagi dan aku sudah mengusir para pengganggu. Jadi nikmati waktu kalian berdua, oke? Iseul, sampai jumpa! Jangan lupa berikan aku laporannya, dah!” dan Eunji melenggang melewati Minho dengan santainya.

Iseul menghampiri Minho dengan senyum malu dan sedikit rona merah di pipi. “Eunji memang begitu, aku harap sunbae maklum dan tidak tersinggung.”

Minho tertawa lepas. “Aniya. Gwaenchana. Menyenangkan jika mengenal orang seperti dia. Ngomong-ngomong, laporan apa yang ia bicarakan? Apakah laporan pelajaran tertentu? Mau kubantu?” tanpa diminta, Minho sudah menawarkan bantuan.

“A-a, bukan, bukan! Bukan seperti itu!” tidak heran jika Iseul mendadak gagap. Yang dimaksud Eunji itu laporan tentang apa yang terjadi antara dirinya dan Minho. Beruntung Minho tidak begitu peka.

“Lalu?”

“Bukan apa-apa. Sungguh, sunbae.” Iseul masih berusaha meyakinkan Minho. “Lalu ada perlu apa sunbae denganku?”

“A-ah, itu…” giliran Minho yang tergagap. “Aku ingin mengajakmu jalan-jalan saat malam Natal besok. Apa kau mau?”

Jantung Iseul rasanya mau meledak dan kupu-kupu beterbangan di perutnya. Kaget? Jelas. Sampai Iseul rasanya mau melompat-lompat kegirangan sambil berteriak-teriak jika dirinya tengah sendiri dan tidak berada di hadapan Minho.

Ne, aku mau.” Jawaban Iseul meluncur lebih cepat dari yang ia sendiri duga. Raut wajah Minho langsung berubah cerah, “tapi aku harus ijin dulu pada ibuku.” Kecerahan raut wajah Minho meredup, tapi senyumnya masih bertahan.

Geurae. Segera hubungi aku setelah tahu jawabannya.”

“Tentu!”

“Kalau begitu… mau pulang bersama?”

“…ne, sunbae.”

.

.

Layaknya seorang ibu yang bisa mengenali anomali pada diri anaknya, pun dengan ibu Iseul. Sepanjang makan malam, ibu Iseul bisa membaca ada sesuatu yang tidak beres dengan putri bungsunya itu. Dan saat acara makan selesai, ibu Iseul baru bisa bertanya.

“Apa kau ingin membicarakan sesuatu, Iseul?”

Pertanyaan ibunya yang tepat sasaran membuat Iseul gelagapan.

“E-err, iya.”

“Apa itu?”

Iseul tidak langsung menjawab. Manik matanya bergantian menatap ayah dan ibunya. Hatinya bersyukur lega karena kakak laki-lakinya tidak berada di rumah saat ini. Jika tidak, tentu dirinya sudah jadi bulan-bulanan kakaknya. Diejek terus-menerus sebagai remaja yang sedang kasmaran.

Ayah dan ibu Iseul masih menatap penuh tanda tanya, setengah menanti jawaban dari Iseul. Akhirnya Iseul kembali menata hatinya untuk bertanya.

“Itu… Minho sunbae mengajakku jalan-jalan saat malam Natal. Apa… ayah dan ibu mengijinkan?” hati Iseul tidak bisa sepenuhnya lega karena dia belum menerima jawaban.

“Minho? Minho yang dulu itu? Yang pernah mengantarmu pulang saat hujan? Minho yang merupakan seniormu itu? Sesama atlet lari yang kau kagumi itu?” melihat ibunya yang berubah ke dalam mode fangirling membuat Iseul sweatdrop.

“Ya-yah, hapus bagian terakhir pertanyaan ibu. Tapi… yah, Minho siapa lagi?”

“Tentu saja boleh! Iya ‘kan, ayah?” ibu Iseul menyenggol lengan suaminya.

Ayah Iseul terkekeh. “Ayah tidak keberatan jika kau pergi bersama Minho.”

“Terima kasih, ayah, ibu!” oh, Iseul punya berita bagus untuk Minho sunbae.

 

***

 

Jongin berdiri dengan kesal dan gelisah di depan pintu rumah Chanyeol yang dihiasi sebuah mistletoe. Sudah tidak terhitung lagi berapa kali ia memencet bel rumah sahabatnya itu. Jika saja Chanyeol tidak memaksanya untuk menemani Chanyeol di malam hari di hari Natal ini―karena noona dan kedua orangtua Chanyeol sedang pergi, maka Jongin sudah akan kabur.

Tapi kenapa ketika ia tiba di depan rumah Chanyeol, dirinya tidak segera disambut? Yah, minimal ada sahutan dari dalam. Memintanya menunggu sebentar jika Chanyeol sedang sibuk di dalam. Tapi nyatanya dirinya justru diabaikan.

Ditambah guguran salju yang makin gencar turun, bisa-bisa Jongin membeku disini! jongin segera membuat catatan mental untuk menghajar Chanyeol begitu bocah idiot itu menampakkan batang hidungnya.

“Jongin?”

Jongin menoleh ke asal suara.

Mimpi buruk apa ia semalam? Setelah diabaikan di tengah hujan salju, kini Yixing muncul. Tepat.di.hadapannya.

Oke, rasa marah Jongin memang sudah mulai berkurang. Tapi bukan berarti ia siap menghadapi Yixing kapanpun itu.

“Kau juga diundang Chanyeol?” Yixing bertanya seperti biasa, seakan mereka tidak sedang perang dingin.

Eo… eo.” Kini Jongin terjebak dalam suasana canggung. Ia menambahkan satu lagi catatan mental untuk dirinya; mencekik Chanyeol. Ini semua pasti ulah Chanyeol! Tidak diragukan lagi!

Tidak ada suara lagi setelah Yixing memencet bel rumah Chanyeol.

Dua orang pemuda yang sedang bertengkar berdiri bersebelahan… bukan hal yang bagus.

“Percuma. Aku sudah hampir menghancurkan bel sialan itu tapi tidak ada yang keluar,” ujar Jongin. “Dasar bocah sialan, akan kuhabisi dia nanti,” Jongin melanjutkan perkataannya dengan bersenandika.

“Dia pasti mengerjai kita.” Yixing mendengus geli.

“Ya, pasti.”

Kemudian hening lagi selama beberapa menit. Antara Jongin dan Yixing, Jongin-lah yang kelihatan amat gelisah. Begitu berlawanan dengan Yixing yang tenang.

“Hei,” panggil Jongin. Yixing tidak menyahut tapi hanya menoleh. Jongin tahu itu isyarat baginya untuk melanjutkan perkataannya, “kau tahu? Aku… minta maaf soal… kejadian itu. yah, kau tahu ‘kan, jika kita ini remaja dengan emosi labil? Jadi… aku… minta maaf. Kau benar, kurasa. Tidak, kau memang ada benarnya. Maaf.”

Yixing tersenyum. “Siapa juga yang marah padamu?”

Jongin mengerjap tak percaya lalu tertawa. “Heish, neo jinjja…”

“Uwwoooo! Jadi mitos yang mengatakan dimana ada dua orang yang saling bermusuhan akan bisa berbaikan jika mereka melewati atau berada di depan mistletoe itu benar adanya!”

Jongin dan Yixing sama-sama mendongak keatas. Ketiga sahabat mereka sudah tertawa-tawa senang di atas sana. Kentara sekali mereka bertiga tengah mengejek Jongin dan Yixing.

“Oy! Chanyeol! Sialan kau! Membiarkan diriku di luar hujan salju seperti ini. Turun kau sekarang juga!” seru Jongin.

“Hahahahahaha!” Chanyeol tertawa sekeras yang ia bisa. Sengaja ia keraskan untuk mengejek.

Saling lempar pandang, Jongin dan Yixing bergegas mundur beberapa langkah. Meraih segumpal salju lalu membentuknya menjadi bola salju. Kemudian melemparkannya secara bersamaan kearah tiga teman mereka.

Lemparan yang bagus. Sama sekali tidak meleset dari sasaran. Dan kini Jongin dan Yixing saling tertawa dan ber-high-five merayakan keberhasilan mereka. Tiga teman mereka di atas memang mengumpati mereka. Tapi mereka berlima tertawa bersama.

Setelahnya, The FOO kembali berlatih berlima. Konflik mereka sudah terselesaikan. The FOO kembali perform. Sudah bisa ditebak bagaimana histerisnya Eunji ketika mengetahui hal ini.

 

***

 

Setelah Natal berlalu, liburan musim dingin terasa datang lebih cepat. Sekolah-sekolah mulai libur dan akan kembali masuk di awal Februari. Euforia menyambut datangnya tahun baru kental terasa.

The FOO, yang mendapat tawaran untuk tampil di malam tahun baru, menolak semua tawaran itu karena lebih memilih datang ke “Homigot Sunrise Festival”. Festival tahunan melihat matahari terbit pertama di tahun baru yang diadakan di Pohang, Gyeongsakbuk-do―sisi paling timur dari Semenanjung Korea.

Iseul dan klub lari, ditambah teman-temannya yang lain juga merencanakan hal yang sama: pergi ke “Homigot Sunrise Festival”. Minho? Tentu saja pemuda itu ada! Tapi yah, walaupun mereka datang secara rombongan, ujung-ujungnya pasti mereka akan berpencar dan kembali berkumpul saat akan kembali pulang.

Jadi singkatnya, Chanyeol dan Iseul berada di satu tempat tapi mereka tidak saling menyadari. Mereka sibuk masing-masing. Chanyeol bersama teman-temannya alias The FOO, dan Iseul sudah pasti berdua bersama Minho.

Ada berbagai pertunjukkan budaya, konser musik, dan pertunjukkan kembang api yang bisa dinikmati.

Biasanya The FOO yang tampil menghibur para audiens, tapi kali ini―saat konser musik, biarlah mereka menjadi audiens. Toh, penampilan band lokal maupun band indie yang berpartisipasi tidaklah buruk. Tidak jarang anak-anak The FOO ikut melantunkan lagu yang sedang dinyanyikan.

Di waktu yang sama, lain tempat tapi masih satu lokasi, Iseul juga menikmati konser musik yang tengah berlangsung. Sesekali ia berbicara pada Minho, berkomentar mengenai band yang tengah tampil.

Pertunjukkan kembang api baru dimulai ketika hitung mundur pergantian tahun selesai. Begitu sorakan “Selamat tahun baru!” diserukan, berbagai rupa kembang api pancarona ditembakkan ke kanvas hitam di atas, menjadi hiasan tersendiri bagi langit hitam yang kelihatan polos.

Setelahnya acara tidak selesai. Masih ada acara melihat matahari terbit, bukan? Di sela-sela waktu itu, panitia acara membagikan kertas dan balon atau layang-layang kepada pengunjung. Kertas-kertas itu nantinya masing-masing ditulisi harapan-harapan para pengunjung kemudian diikat ke balon atau layang-layang. Setelah itu, para pengunjung beramai-ramai menerbangkan balon atau layang-layang yang telah diberi kertas berisi harapan itu ke langit.

Ppalliwa!” Sehun berseru tidak sabaran.

Chanyeol yang sedang mengikat kelima balon milik mereka berdecih kesal. “Sabar sebentar,” sahutnya singkat. “Sudah selesai! Mari kita terbangkan!”

Kelima pemuda itu menatap kertas berisi harapan milik mereka. Kalimat mereka memang berbeda, pun dengan deretan harapan yang mereka tulis hingga sesak. Tapi ada yang satu yang sama: Semoga The FOO cepat debut! Tahun ini kami akan debut!

Hana, dul, set!” Chanyeol memberi aba-aba.

Dan begitu hitungan ketiga, kelima balon mereka yang diikat jadi satu terbang bebas ke atas. Makin ke atas, makin jauh, hingga lenyap dari jangkauan atensi mereka. Dalam hati, mereka berharap harapan-harapan itu akan terkabul.

 


 

 

“Sudah selesai?” Minho bertanya pada Iseul.

“Mm!” angguk Iseul.

“Kalau begitu mari kita terbangkan bersama.”

Dua balon dengan warna sama menyusul balon-balon lain untuk naik ke angkasa. Pemilik kedua balon tadi sama-sama menatap balon mereka yang terbang makin jauh.

“Iseul,” panggil Minho tanpa mengalihkan tatapannya dari balon miliknya yang terlihat makin kecil.

“Hm?” sama, Iseul juga belum bosan melihat balonnya.

“Apa yang kau tulis tadi?”

Iseul tertawa kecil, “Bimileyo.” Iseul mengerling jahil pada Minho disertai kikikan. “Bagaimana dengan sunbae sendiri? Harapan apa saja yang sunbae tulis?”

Minho tersenyum. “Banyak. Sangat banyak sampai kertasnya tidak muat.”

“Kalau begitu aku juga sama.”

“Kau ini.” Minho mengacak pelan rambut Iseul.

.

Aku ingin terus berlari. Aku ingin cepat sembuh. Aku ingin ayah dan ibu berumur panjang dan sehat selalu. Aku ingin Oppa cepat-cepat jadi dokter. Aku ingin semua orang di sekitarku bahagia. Aku ingin penyakitku hilang agar aku tidak merasa kesakitan lagi dan membuat ayah, ibu dan Oppa cemas. Dan juga… aku ingin perasaanku tersampaikan pada Minho sunbae, entah bagaimana caranya.

.

                Aku ingin jadi pelari tercepat di dunia, hahahaha. Kesehatan dan kesejahteraan untuk keluargaku. Lalu keberanian. Aku butuh itu untuk menyampaikan perasaanku pada Iseul. Yaaaa… aku tahu aku terdengar seperti pengecut, tapi tidak apa ‘kan?

.

.

“Matahari terbit pertama di tahun baru!” Chanyeol histeris menunjuk-nunjuk semburat jingga di ufuk timur.

Perpaduan laut, garis horizon, dan langit yang mulai berwarna ke-oranye-an merupakan salah satu lukisan terindah yang dibuat oleh alam. Semua pengunjung festival terhipnotis oleh pemandangan itu. Tidak merasa jengah setitikpun saat melihat sang mentari makin naik ke atas.

“Indah, ya?” Minho berkomentar.

“Sangat,” lirih Iseul.

Cuacanya masih dingin, tapi mentari yang nun jauh di ufuk timur sana seakan menghangatkan suasana festival. Langit gelap perlahan menghilang. Tergantikan oleh langit yang mulai nampak kebiruan dengan semburat oranye.

Oh, panitia acara kembali sibuk. Mereka kali ini sibuk membagi-bagikan tteokguk secara gratis kepada para pengunjung. Hal ini juga menjadi bagian rutin dari festival ini.

Tentunya para panitia disambut senyum cerah para pengunjung. Semangkuk tteokguk yang masih mengepulkan uap panas di pagi hari yang dingin, siapa yang kuasa menolak? Makanan yang paling enak adalah makanan gratis. Iya, ‘kan?

“Kau tunggu disini sebentar. Aku akan cari minuman.” Minho menepuk pundak Iseul. Setengah muutnya masih penuh dengan tteokguk.

Iseul mengangguk paham dan Minho bergegas pergi. Iseul tidak mau buru-buru menikmati tteokguk gratis nan hangat miliknya. Ia makan dengan perlahan-lahan dengan tujuan saat tteokguk-nya habis, ia akan bisa langsung minum minuman yang dibelikan oleh Minho. Tapi saat tteokguk-nya habis Minho belum juga kembali. Terpaksa Iseul menunggu.

Omo!” Iseul berseru kecil. ‘Tidak sekarang, kumohon…’, batin Iseul seraya memegangi kakinya yang tiba-tiba merasa nyeri. Ia mencoba menahannya tapi tidak bisa.

Dengan sisa kekuatan yang ia miliki, Iseul mencoba mencari tempat untuk sekedar beristirahat. Nanti ia bisa menelepon Minho untuk memberitahukan lokasinya. Namun sebelum Iseul menemukan tempat, ia sudah terjatuh.

Andwe, andwe, andwe…” airmata mulai menggenangi pelupuk Iseul. Badannya terasa begitu lemas dan ia bisa merasakan denyut jantungnya meningkat. Yang lebih parah, ia tidak bisa menggerakkan kakinya. “Andwe…” Iseul tertunduk, menangis tanpa suara. Di tengah keramaian ini, ia diabaikan.

“Nona, kau tidak apa-apa?” sebuah suara bertanya pada Iseul.

Buru-buru Iseul mengusap airmatanya dengan kasar. “Tidak. Aku―”

“Iseul! Neo gwaenchana?” kali ini suara yang lain menyahut. Dalam nadanya tersirat rasa khawatir yang teramat sangat. Sosok pemilik suara itu segera berjongkok di samping Iseul.

Iseul kembali ingin menangis. Ia tahu siapa sosok itu tanpa harus melihat. Itu Minho.

Su-sunbae, aku…”

Minho menoleh. “Dia bersamaku. Tidak apa-apa, aku bisa mengurusnya,” katanya pada pemuda yang tadi sempat bertanya pada Iseul.

“Begitu. Baiklah kalau begitu. Segera bawa dia ke klinik jika kakinya terkilir,” pesan pemuda itu sebelum pergi yang dibalas anggukan oleh Minho.

“Iseul, neo gwaenchana? Kau kenapa? Kenapa bisa begini? Ada yang melukaimu? Apa kau merasa sakit di satu tempat?”

Iseul menggeleng. ‘Tidak ada yang melukaiku, kecuali penyakitku. Dan rasanya sakit… di sekujur tubuhku. Terutama kakiku. Aku… aku tidak bisa menggerakkan kakiku, sunbae.’

“Kau bisa berjalan?”

Deg! Jantung Iseul serasa dihantam palu godam. “Ku-kurasa tidak.” Iseul mencoba membuat suaranya tidak bergetar.

Minho bergegas berpindah ke depan Iseul. “Ayo, naik ke punggungku. Kita cari klinik terdekat.”

Iseul terpaku melihat punggung Minho. Ia merasa ragu. Tapi sekarang ia tidak punya pilihan. Akhirnya ia berakhir dalam gendongan Minho. Alih-alih mengalung di leher Minho, tangan Iseul justru memegang kedua pundak Minho dengan gugup. Sekali lagi, ini Minho―orang yang Iseul sukai.

“Apa aku berat, sunbae?” Iseul mencoba berkelakar.

“Hmm, bagaimana ya? Kurasa kau harus menurunkan berat badan beberapa gram,” kekeh Minho.

Iseul tertawa. Entah kenapa ia merasa jauh lebih sanggup menahan rasa sakit ini.

 


 

 

Di tengah lautan manusia ini, atensi Chanyeol tertuju pada seorang gadis yang terduduk di bawah. Batinnya bertanya-tanya ada apa dengan gadis itu? Tidak mungkin ‘kan ia sedang duduk-duduk manis? Posisinya sedikit ganjil.

Didorong rasa penasaran, Chanyeol mendekati gadis itu.

“Nona, kau tidak apa-apa?” Chanyeol berusaha melihat wajah gadis itu tapi tidak bisa.

“Tidak. Aku―”

“Iseul! Neo gwaenchana?” jawaban gadis itu terpotong ketika seorang pemuda datang. dari nada bicaranya Chanyeol mengasumsikan jika pemuda itu adalah kekasih gadis itu.

Su-sunbae, aku…” o-ow, tebakan Chanyeol salah rupanya!

Pemuda yang dipanggil ‘sunbae’ itu menoleh. “Dia bersamaku. Tidak apa-apa, aku bisa mengurusnya,” katanya pada Chanyeol.

“Begitu. Baiklah kalau begitu. Segera bawa dia ke klinik jika kakinya terkilir,” Chanyeol berpesan sebelum pergi. Tapi matanya tidak bisa lepas dari dua orang itu. Bahkan saat si pemuda tadi membawa si gadis pergi dalam gendongannya, Chanyeol masih saja menatap mereka.

“Hoi! Di sini kau rupanya. Ada apa?” Jongin yang baru datang mengikuti arah pandang Chanyeol. Tapi dia jadi kebingungan sendiri.

“Ah, tidak apa-apa.”

Kajja. Yang lain ingin cari rumah makan yang sedang buka. Tteokguk tadi kurang cukup untuk mengganjal perut karet kita,” ajak Jongin.

Eo.”

 

― Lanjut? ―

 

Glossary              :

  • Keumanhae : Hentikan
  • Heol : Ya ampun, OMG (yang doyan liat drakor pasti akrab sama istilah gaul satu ini)
  • Sikkeureo : Diamlah (err, Len rasa ini gak kasar ._. )
  • Eodi : Ke mana? Diambil dari kata ‘Eodiseo
  • Geureom : Tentu saja
  • Keundae : Tapi
  • Geu saekki : Baj***an itu. (Saekki: yaahh, itulah… itu tadi. Nama lainnya tupai tapi ditambah –an, hehehe. ‘Geu’ itu berarti bla bla bla itu. Ex: geu yeoja: perempuan itu)
  • Jongsincharyo : Sadarlah
  • Mworago : Apa katamu?
  • Iptamuro : Diamlah (yang ini baru kasar)
  • Neo jinjja : Kau ini benar-benar
  • Hobae : junior, adik tingkat/ adik kelas
  • Tteokguk : Sup kue beras
  • Hana, dul, set : Satu, dua, tiga… sayang semuanya. Hahahaha. Just kidding.
  • Bimileyo : Diambil dari kata ‘bimil’ yang artinya rahasia.

 

A/N        :

                Sebelumnya… mohon maaf yang sebesar-besarnya atas keterlambatan update cerita ini >.< Yah, beberapa kejadian di real-life minta diperhatiin lebih. Hikseu, padahal gak ada yang ngasih Len perhatian lebih T.T . Kelihatan ngenes emang nasib seorang single macem Len. Tapi sebagai ‘Single Paling Ces Pleng Abad Ini’, Len pantang meratapi nasib! Yang sama-sama sendiri mana suaranyaaaa?

Juga, Len rada sedih gitu liat statistik pengunjung wp ini yang loyo. Pasti pada kangen Len ya? /diamuk author, staff wp, ama owner wp/ plis deh, Len -_- / dan EXOFFI mau buka cabang lho. Yang minat ikutan ya? Len disini aja jadi author :3

Chapter empat ini panjang yaaaa? Dua puluh halaman di ms.word dengan 6k+ words! Tepatnya 6373 buat ceritanya sendiri. Tidak termasuk flashback di awal, judul chapter, glossary, dan A/N ini. Muehehehe. Yaah, anggep aja sebagai bentuk permintaan maaf Len atas keterlambatan update :3

Di chapter ini lagi-lagi ada poin cerita yang seharusnya gak ada tapi jadi ada, dan ada satu poin yang hilang (tapi bakal muncul di next chapter kok). Soalnya kalo poin yang ilang itu ditulis bakal keliatan aneh, selain itu ceritanya bakal jadi panjang. Males Len buatnya /dor/ ditendang/

Di sini Len rasa The FOO dapet scene lebih banyak :3 Iyalah, soalnya yang jadi fokus di chapter ini konflik internal The FOO. By the way, apa konfliknya udah nge­-feel? Berasa aneh gak? Berasa kecepetan gak? Yah, sebagai ‘single paling ces pleng abad ini’ yang baik hati, polos /hoeks/, tidak sombong, rajin menabung dan tidak pernah ngutang, Len ini gak betah kalo perang dingin lama-lama. Hati sendiri aja udah dingin kok, masa mau ditambahin? XD

Terus… Minho sama Iseul ‘kan jalan-jalan pas malem Natal, tapi kok scene mereka pas jalan-jalan itu gak ada sih, Len? Ya, itu karena Len sengaja /doenggg!/ Selain Len rasa scenenya juga gak penting-penting banget /dihajar Iseul–Minho shipper/ selain itu Len nulisnya bakal lebih lama, lebih panjang, dan itu melelahkan sekaligus merepotkan. Mendokusai tingkat tinggi /dikeroyok readers/ Hahahahaha. Iseul sakit apaan sih, sebenernya? Err, itu akan terungkap di chapter lain :3

Disini Len juga nyebut-nyebut nama Jason Statham. Ada yang tau dia? Itu lho, om-om botak yang main di Transporter The Series /dikekep om Statham/. Dia kece, gak kalah kece dari Vin Diesel. Sama-sama botak /dikekep lagi ama om Statham plus om Vin/ tapi badannya om Jason Statham ini lebih kecil dari om Vin. Suaranya om Statham gak tau kenapa kadang suka kedengeran macem orang lagi sakit. Hahahaha. /ampun om/

Buat “Homigot Sunrise Festival”-nya, Len cuma obrak-abrik mbah gugel. Gak tau juga urutan acaranya bijimane soalnya belum pernah ikutan. Jadi terima aja ya, ama urutan yang ada di fanfic ini? Wkwkwkwk. Udah nge-feel belom sih?

EH TAPI DISINI ‘KAN KETIGA PEMERAN UTAMA KITA KETEMUAN SECARA GAK SENGAJA LHOOO! /caps jebol/ Minho, Iseul, ama Chanyeol saling ketemuan tapi mereka gak sadar. Interaksi mereka juga seupil banget. Tapi gimana menurut readers sekalian? 😀

Buat typo yang sekiranya masih bercokol, maaf… Len belum sempet cek lagi. Iya sih udah Len baca, tapi baca cepat. Hahahaha. Abis udah gak sabar buat publish :3 /halah, padahal kalo di cek lagi juga kadang masih ada typo :3 /

Yosshaaa, segitu aja cuap-cuap Len. Terima kasih buat yang sudah mau ngikutin fanfic ini, juga yang bersedia nunggu lanjutan fanfic ini :’) Tetap setia sama fanfic ini ya? Setia sama Len juga gak apa-apa kok.lol. Daaaannn… panggil saya ‘LEN’ atau ‘PAL’, oke? JANGAN PANGGIL SAYA ‘THOR’ /caps jebol lagi/ 🙂 Soredewa, see you next chapter bareng author cakep paling ces pleng ini! 🙂

23 tanggapan untuk “Tempus Fugit, Amor Manet [Chapter 04]”

  1. Aku sayang Len 🙆 author genius yg udah bnyk menghasilkan bnyk ff bermutu yg sngt menghibur.
    Krn crita’ny sru, no problemo mo spanjang apa jg bkl saya bc 😊
    Sykr alhmdllh, cold war’ny dah slese di bwh guyuran hjn salju beratapkan daun2 mistletoe 🌿 di dpn gate rmh 찬열. Udah adem tuh ya pala’ny Kai di ujanin salju, ㅋㅋㅋㅋㅋ
    Kyaa~ kenarsisan 세훈-ku itu fakta bgt 😍 누나 trmsk ke dlm ja2ran gadis2 yg akan sngt bersedih klo kamu vacum any longer.. 😢 Aduh, spt’ny udah stadium bnyk ya itu pnykt’ny 이슬, kshn.. 😟

    1. Ya ampun, akhirnya ada yang bilang sayang Len, rasanya kayak ada manis-manisnya gitu :”) /woiii/
      Seneng deh kalo bikin gregetan xD

  2. KADANG GUA SUKA PUCING PALA BERBI. ISSEUL AKHIRNYA BAKAL LANJUT AMA MINHO APA BANTING SETIR/? AMA CEYE?!
    HUANJU GUA UDAH BULUKAN GREGET CANTEKS NUNGGUIN MOMENT CHANYEOL-ISSEUL NIH -_-
    CHANSEUL MOMENT KAPAN NONGOL YG FLUFFYNYA THORR :’3
    DITUNGGU YEH

  3. akhh gk sabar nunggu moment mereka….
    gmna yh pertemuan selanjutnya… gk sabar deh….
    plis… jng lama” len lanjutnya… nti keburu lumutan… hahahahah

  4. akhirnyaaaa… keluar jg chap 4 nya.. 🙂 stelah sekian lama menunggu hehe.. makin bagus fanficnya, aku tunggu chap selanjutnya ya.. bingung mau coment apa 😀

  5. akhirnyaaaa.. keluar jg chap 4 nya.. 🙂 stelah sekian lama menunggu hehe.. makin bagus fanficnya, aku tunggu chap selanjutnya ya.. bingung mau coment apa 😀

  6. Yosh jadi iseul dan minho sama-sama suka apalagi melihat mereka seperti nyaman jika bersama tapi mengapa chanyeol ia menyukai iseuk tertarik padanya .
    Semiga saja iseul cepat sembun kakinya .
    Kasihan ia jika harus sedih .
    Tetapi aku suka semangat padahal ia sakit tapi bisa menjadi pelari internasional.
    Huhuhu next chapternya ya thor

    1. Salma-san, dari bahasa anda kenapa saya berpikir anda ini orang melayu ya? /sopan mode-on/ xD
      Panggil Len aja ya?

  7. len akhirnya balik… baru aja batin kok gak muncul-muncul :3
    bagian yang the foo konflik itu aku sampe gemes loh, doa dalem hati biar gak bubar atau membernya gak keluar (ini bikin baper plis banget) tapi akhirnya konflik mereka selesai juga, aku seneng banget haha
    daaaan
    AKU GEMES kenapa Chanyeol-Iseul segitu doang len… aku menunggu terus loh *kode
    tapi gak papa ding, len pasti udah buat pertemuan yang indah di masa depan *eaaak
    minho-iseul sama-sama suka… aku takut nanti iseul gak sama chanyeol (biasa, iseul-chanyeol shipper)

    1. Cieee yang nungguin Len, ciee yang kangen. Len gak ngilang kok, jangan samain Len sama tukang PHP yah? :3 /dikekep Hee/
      CIEE YANG BAPER! /caps jebol/ btw, Len baru sadar kalo konflik mereka juga bisa mengarah kesana (keluarnya member) xD
      Yaaaa abis yaaa cuma segitu /digetok/ Yakin indah? Len orangnya kejem lhoh 3:)

    2. panggil nida aja hehe
      jangan ulangi bagian keluarnya member deh, makin baper wkwk
      aku percaya sama len, paling gak ada indahnya secuil gak papa haha

    3. Hahahaha, oke nida. Hari gini masih baper? xD
      Percaya sama aku? /Seketika Len ngerasa lagi ada di drama-drama/

  8. Aaahhhh ini keren. tpi adegan ketiga makhluk/? itu ketemu dikit banget yah. tpi, gpp lh krna aku lbh ska adegan The Foo yg aneh bin idiot #ditabokExoL lebih banyak. lanjut chapnya jan lama-lama ya thor eh, Len, eh, Pal, eh, Thor *gtu aja trus smpe LuTaoKris balik* hahahahha semangat nulisnyaaaaa~~~~

    1. Syukurlah mereka bisa jadi idiot di sini /dihajar fans-garis-keras-yang-tidak-rela-idolnya-ternistakan/
      Kalo kamu panggil ‘Thor’ nanti yang muncul abangnya Loki loh

  9. adduuh, aku manggil apa ya? kalau manggil len takutnya author lebih tua dari aku. ya langsung aja deh yaa..
    chapter nya ini kepanjangan ya? aku gk sadar tuh.. asal baca ajaa.. soalnya ngebet pengen bacaa, nunggu aku dari sebelum negara api menyerang:v iya thor len, pertemuan.pemeran utamanya seupil.pisaaann. moga mogaa, di chapter selanjutnya bisa lebih panjang dan lebih jelaass.. chap ini jelas ko, cuman scene scene yang diinginkan kurang banyak. keep writing thor len^^„ I Love THE FOO!!/eh?.

    1. Hey, hey, apa itu thor len? Udah, jangan bingung mikirin umur! Panggil Len aja 😉 /kedip genit/
      Ga sadar kepanjangan? Duh, jadi udah bisa menebus telat update-nya nih? ;”
      Emang kamu maunya scene yang bijimane?
      Lah, kamu gak cinta sama aku? /Len… plis deh/

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s