A Note

22 poster nean

A Note

oneshoot // teen // romance – sad // Kim Jong Dae (EXO), Park Soo Hae (OC)

→ thanks for this cute poster, Kimiham ←

.

anneandreas

.

.

PicsArt_1448600142405

 

.

……………..

Laki-laki itu menyukai tempat ini, karena tempat ini dekat dari rumahnya yang bising.

Laki-laki itu menyukai tempat ini, karena tempat ini gratis.

Laki-laki itu menyukai tempat ini, karena tempat ini nyaman.

Laki-laki itu menyukai tempat ini, bila saja gadis itu tidak datang setiap hari ke sini dan tidak menatapnya terus menerus seperti itu!

…………

~~~

…………

Kim Jong Dae mendorong pintu kaca perpustakaan umum itu dengan menggunakan tenaga lebih besar dari yang seharusnya. Ia sedang kesal hari ini sehingga ia datang ke perpustakaan ini untuk menenangkan diri. Setidaknya itulah alasan yang ia katakan pada dirinya sendiri, nyatanya ia memang datang ke sini setiap hari.

…………

Setelah mengucapkan salam kepada Kim Shi Yoon noona, penjaga perpustakaan yang tentu saja sudah sangat menghapal kehadirannya, Jong Dae masuk dan duduk di salah satu kursi yang selalu ia duduki di dalam perpustakaan itu.

…………

Jong Dae baru saja mulai dapat menenangkan pikirannya ketika pintu perpustakaan berdecit dan seseorang masuk ke dalam perpustakaan.

…………

Jong Dae menghela napas panjang.

…………

Gadis itu lagi.

…………

Jong Dae menatap kedatangan gadis itu dengan pandangan menyelidik.

…………

Gadis itu tampak seperti gadis normal lainnya, Jong Dae menebak usia gadis itu mungkin empat atau lima tahun lebih muda dari dirinya. Gadis itu memiliki wajah manis dengan rambut yang biasa ia ikat. Ia tidak tampak seperti seorang sasaeng, apalagi penguntit. Tapi mengapa gadis itu rela datang setiap hari ke tempat ini, seperti Jong Dae, dan tidak pernah bosan menatapnya setiap hari.

…………

Seperti biasa, setelah memasuki perpustakaan, gadis itu akan duduk di kursi yang berjarak tidak jauh dari Jong Dae. Dia akan meletakkan tasnya, mengeluarkan handphone dari dalam tasnya, dan akan mulai menatap Jong Dae diam-diam.

…………

Jong Dae masih menatap gadis itu ketika gadis itu mulai mengalihkan pandangannya pada Jong Dae. Dan gadis itu terkejut ketika tatapan mereka bertemu sehingga ia menundukkan kepalanya seketika.

…………

Akhirnya Jong Dae mengalihkan pandangannya ke handphone yang ada di depannya setelah ia meyakinkan diri bahwa gadis itu tidak menatapnya lagi. Namun baru saja ia asyik dengan benda kotak yang ada dihadapannya itu, ia merasa ada sepasang mata yang sedang mengamatinya lagi. Diam-diam Jong Dae melirik ke arah sepasang mata yang ia curigai.

Benar saja! Lagi-lagi gadis itu sedang menatapnya.

…………

Apa yang salah pada dirinya?

Mengapa gadis itu datang setiap hari ke tempat ini hanya untuk menatapnya?

Hey! Jong Dae tidak termasuk dalam deretan laki-laki populer di kampusnya.

Ia juga bukan seorang jenius.

Ia tidak mengenal gadis itu.

Jadi, apa yang salah?

…………

Jong Dae masih melirik gadis itu ketika ia mengalihkan pandangannya dari Jong Dae dan mulai berdiri sambil membawa tumpukan buku. Sepertinya ia akan mengembalikan buku-buku itu ke raknya masing-masing. Melihat peluang itu, Jong Dae segera mengambil kertas dan bolpoin dari dalam tasnya dan mulai menulis sesuatu.

…………

~~~

…………

Park Soo Hae mengalihkan pandangannya dari Jong Dae dan mulai berdiri dari kursinya, membawa tumpukan buku yang telah dibacanya di rumah untuk dikembalikan ke rak perpustakaan. Masih ada suatu perasaan yang mengganjal semenjak tadi pandangan matanya bertemu dengan pandangan mata Jong Dae.

…………

“Apakah aku terlihat begitu jelas sedang menatapnya?” pikir Soo Hae

…………

Soo Hae akhirnya berjalan kembali ke kursinya dan menemukan sebuah kertas terlipat di atas meja.

Sepertinya kertas ini bukan miliknya karena ia tidak melihatnya sebelum ia meninggalkan kursinya tadi.

Apakah ada seseorang yang meletakkan kertas ini di sini?

…………

Soo Hae duduk dan membuka lipatan kertas itu.

…………

“Mengapa kau memperhatikanku seperti itu setiap hari?”

…………

Pesan di dalam lipatan kertas itu tanpa nama pengirim, tapi Soo Hae yakin betul siapa penulisnya. Wajahnya tegang dan ia menjadi takut. Dengan segera Soo Hae mengambil tasnya, berdiri dan mulai melangkah keluar dari perpustakaan.

…………

~~~

…………

Jong Dae melirik diam-diam ke arah gadis itu ketika gadis itu mulai duduk di kursinya setelah ia mengembalikan buku-buku yang telah dibacanya.

…………

Ia membuka pesan yang ditulis Jong Dae.

…………

Tangan gadis itu tampak gemetar dan wajahnya menjadi tegang. Lalu gadis itu meraih tas yang ada di sampingnya, berdiri dan mulai melangkah keluar dari perpustakaan.

…………

Oh, sial! Kenapa gadis itu malah pergi?

…………

Dengan terburu-buru Jong Dae memasukkan handphone ke dalam tas dan mulai mengejar gadis itu. Bukan maksudnya untuk menakuti gadis itu, ia hanya penasaran mengapa gadis itu terus-menerus memperhatikannya setiap hari.

…………

Jong Dae menemukan gadis itu berjalan belum terlalu jauh dari perpustakan.

…………

“Hey!” panggil Jong Dae

…………

Gadis itu tidak menggubris panggilan Jong Dae sehingga Jong Dae berlari dan meraih lengan gadis itu. Tidak seperti dugaannya, gadis itu berteriak kaget, membuat beberapa orang yang ada di daerah itu menatap mereka. Spontan Jong Dae melepaskan tangannya dari lengan gadis itu dan gadis itu berlari menjauhi Jong Dae.

…………

Apa lagi yang salah?

Ia menatapku setiap hari tetapi ia berteriak ketakutan ketika aku di dekatnya?

…………

~~~

…………

Kim Jong Dae membuka pintu perpustakaan. Seperti biasa, hari ini ia datang lagi ke perpustakaan. Ia sudah menahan kegelisahannya sejak kemarin, hari ini ia akan meminta maaf secara baik-baik kepada gadis itu atas kesalahannya kemarin. Ya, jika menarik lengan orang yang memperhatikanmu setiap hari bisa dianggap suatu kesalahan.

…………

Jong Dae duduk di kursi yang biasa ia tempati dan memperhatikan pintu masuk. Ia berharap gadis itu akan datang.

…………

Satu menit, sepuluh menit, hingga satu jam berlalu tetapi gadis itu tidak kunjung datang.

…………

Jong Dae mulai bosan, ia mengambil beberapa komik dari rak dan mulai membacanya.

…………

Pintu perpustakaan berdecit.

…………

Jong Dae langsung mengalihkan pandangannya ke arah pintu perpustakaan. Akhirnya gadis itu datang juga. Jong Dae mulai tersenyum saat sebuah lengan jaket terlihat muncul di pintu perpustakaan dan senyumnya menghilang ketika ia menyadari seseorang yang baru saja datang bukanlah gadis yang ia tunggu.

…………

Karena gadis yang ia tunggu tidak berjenggot.

…………

Jong Dae kembali fokus kepada komik di hadapannya dan selalu siaga setiap kali ia mendengar pintu perpustakaan terbuka. Jong Dae terus menunggu di dalam perpustakaan itu hingga hari kunjung malam tetapi gadis itu tetap tidak datang.

…………

~~~

…………

Sinar mentari yang mengintip dari balik ventilasi kamar membuat Jong Dae menggeliat di atas kasurnya. Ia membuka matanya namun tampak enggan melakukan aktifitasnya hari ini. Hari libur seperti ini memang lebih baik digunakan untuk tidur sepanjang hari.

…………

Sudah empat hari Jong Dae tidak datang ke perpustakaan. Ia masih merasa bersalah atas pesan singkat yang ia letakkan di meja gadis itu dan membuat gadis itu berteriak di pinggir jalan, ia semakin merasa bersalah ketika setiap hari selama satu minggu setelah kejadian itu, gadis itu tidak pernah datang lagi ke perpustakaan meskipun Jong Dae sudah menunggunya di sana sepanjang hari.

…………

Jong Dae sudah hampir kembali tertidur ketika handphonenya berbunyi tanda sms masuk.

…………

From: Shi Yoon Noona

Jong Dae, kemana saja kau sudah 4 hari tidak datang?

Seri komik lanjutan kesayanganmu sudah ada di sini.

Kau tidak ingin membacanya?

…………

Jong Dae membaca pesan dari penjaga perpustakaan itu dengan alis yang bekerut. Tentu saja Shi Yoon noona tidak tahu alasan Jong Dae tidak datang empat hari ini, dan bahkan hari ini pun dia tidak berniat untuk datang ke perpustakaan, namun seri komik lanjutan kesayangannya yang sudah lama dinantikannya begitu menggoda untuk dibaca.

…………

~~~

…………

“Ah, kau datang rupanya. Aku kira kau sudah tidak tertarik lagi dengan seri komik itu! Kemana saja kau selama ini?” sapa Shi Yoon sesaat setelah Jong Dae membuka pintu perpustakaan

…………

“Aku sedang sibuk, noona.” jawab Jong Dae sambil tertawa

“Ternyata kau bisa memiliki kesibukan juga, aku pikir kesibukanmu hanyalah datang ke tempat ini setiap hari. Serial komik kesayanganmu itu aku simpan di dalam rak pertama sebelah kiri. Kau adalah pembaca pertama. Bukankah noona ini sangat baik hati?”

“Kau yang terbaik noona! Shi Yoon noona jjang!” jawab Jong Dae sambil mengangkat kedua ibu jarinya lalu berjalan ke arah rak yang ditunjuk Shi Yoon

…………

Jong Dae membawa semua komik serial dan banyak buku bacaan lain ke kursi tempat ia biasa duduk dan mulai membaca semuanya satu per satu. Ia berusaha mengacuhkan suara pintu perpustakaan yang berdecit, karena semakin ia menyadari gadis itu tidak datang, semakin ia merasa bersalah.

…………

Tumpukan komik dan buku di depan Jong Dae telah selesai ia baca ketika hari mulai beranjak sore. Ia sudah berniat pulang karena hari ini pun gadis itu tidak datang. Namun sebuah komik terjatuh ke kolong mejanya ketika ia berdiri untuk mengembalikan buku itu ke rak asalnya. Jong Dae berjongkok ke arah komik yang terjatuh itu dan ia menemukan sebuah kertas terlipat di dalam laci meja.

…………

Jong Dae bukan orang yang ingin tahu urusan orang lain tetapi lipatan kertas itu mengingatkannya pada pesan yang pernah ia berikan untuk gadis itu. Jong Dae mengambil lipatan kertas itu dan membukanya.

…………

Untuk Kim Jong Dae

Maafkan aku karena aku berteriak dan lari pada waktu itu, aku terlalu takut menunjukkan wajahku padamu. Tapi lalu aku menyesal, aku ingin bertemu denganmu lagi, tetapi aku juga terlalu malu untuk datang ke perpustakaan. Jadi, aku menunggumu di taman dekat perpustakaan, jam lima sore. Maukah kau memaafkanku? Maukah kau menemuiku?

…………

Jong Dae memasukkan lipatan kertas itu ke saku bajunya lalu berlari keluar dari perpustakaan menuju taman yang dimaksud gadis pengirim pesan itu. Ia tidak tahu sudah berapa hari pesan itu ada di laci mejanya, tapi ia berharap gadis itu masih menunggunya hari ini.

…………

Napas Jong Dae masih terengah-engah sesampainya ia di taman yang dimaksud gadis itu. Pandangannya menyapu segala arah, mencari gadis yang menulis pesan untuknya. Akhirnya sudut mata Jong Dae menangkap satu titik kecil di ujung taman yang ia yakini adalah bayangan gadis yang sedang ia cari.

…………

Jong Dae melangkah dengan hati-hati ke arah gadis yang dulu selalu menatapnya setiap hari. Ia berhenti dan berdiri di depan gadis yang masih menunduk itu.

…………

Mengapa gadis itu tidak merespon sedangkan ia pasti tahu ada bayangan seseorang yang berdiri di depannya?

…………

“Hey..” sapa Jong Dae ragu

…………

Gadis itu menatap Jong Dae dan tidak disangka, ia tersenyum, manis.

…………

“Apakah aku boleh duduk di sini?” tanya Jong Dae lagi

Gadis itu tidak menjawab pertanyaan Jong Dae namun bergeser sedikit dari tempatnya duduk, memberi ruang bagi Jong Dae untuk duduk di kursi yang sama dengan dirinya.

…………

Jong Dae mulai merasa kikuk saat gadis yang berkata ingin bertemu dengannya ini tidak mengatakan satu hal pun setelah akhirnya mereka bertemu.

…………

“Siapa namamu?” tanya Jong Dae

“Soo Hae. Park Soo Hae.” jawab gadis itu ragu

“Aku membaca surat yang kau masukkan di laci meja perpustakaan.”

Ne.” jawab Soo Hae singkat

“Apakah kau sudah lama menunggu di sini?”

“Aku menunggumu setiap hari di sini.”

…………

Hening. Tidak ada percakapan lagi setelah jawaban singkat Soo Hae. Keduanya mematung seiring dengan matahari yang mulai bersembunyi dibalik gelapnya malam.

…………

“Maafkan aku.” sebuah kalimat keluar bersamaan dari bibir mereka masing-masing

Jong Dae dan Soo Hae kemudian tertawa menyadari kekakuan yang menyelimuti mereka sejak mereka bertemu.

…………

“Untuk apa kau meminta maaf? Seharusnya aku yang meminta maaf.” kata Jong Dae

“Tidak, aku harus meminta maaf karena membuatmu tidak nyaman setiap hari.” jawab Soo Hae sambil tersenyum

“Dan aku harus meminta maaf karena membuatmu berteriak setelah itu.”

“Lalu aku akan meminta maaf karena menyuruhmu datang ke sini setelah aku membuatmu malu di pinggir jalan.”

“Dan aku membuatmu menunggu tanpa kepastian di sini setiap hari.”

Soo Hae tertawa, “Baiklah, aku mengalah, aku sudah memaafkanmu.”

Jong Dae tersenyum melihat Soo Hae yang tertawa ceria di depannya.

…………

“Aku harus kembali. Ini sudah malam.” lanjut Soo Hae

“Baiklah. Bagaimana kau akan pulang?”

“Aku akan berjalan ke halte bus itu dan menunggu bus di sana.”

“Apakah besok kita bisa bertemu lagi di sini? Besok aku libur dan kita bisa bertemu dari siang hari.”

Soo Hae hanya tersenyum.

…………

Jong Dae mengantar Soo Hae ke halte bus dan memastikan Soo Hae ada di dalam bus bersama dengan orang-orang yang naik bus dari halte yang sama sebelum akhirnya ia melangkah pulang ke rumahnya.

…………

Tapi mengapa Soo Hae tidak menjawab ajakan Jong Dae untuk bertemu besok?

Apakah ia ingin membuat Jong Dae menunggunya seperti Jong Dae membuatnya menunggu?

…………

~~~

…………

Jong Dae berjalan dengan langkah ringan sambil membawa dua kaleng cola ke arah taman. Lalu ia mengambil tempat duduk di kursi yang sama seperti kemarin dan mulai menunggu.

…………

Satu jam berlalu.

Dua jam berlalu.

Tiga jam berlalu.

…………

Belum ada tanda-tanda kedatangan Soo Hae di taman ini.

Bahkan soda di dalam kaleng minuman yang dibawa Jong Dae sudah tidak dingin lagi.

…………

Namun Jong Dae tidak akan menyerah semudah ini.

Soo Hae bahkan menunggunya berhari-hari ketika Jong Dae belum datang.

Ia bukan laki-laki lemah.

…………

Jam yang melingkar di tangan kiri Jong Dae sudah hampir menunjuk ke angka lima ketika sebuah bus berhenti di halte tidak jauh dari taman. Jong Dae memperhatikan satu per satu orang yang turun dari bus itu, dan matanya menangkap bayangan Soo Hae di sana. Jong Dae bangkit dari kursi dan mulai berlari ke arah gadis yang ia yakini sebagai Soo Hae dan menarik lengannya.

…………

Gadis itu mengerjap namun tidak berteriak.

“Siapa kau?” tanya gadis itu

Kening Jong Dae berkerut, ia tidak bisa memahami apa yang baru saja ia dengar.

“Apakah kau tidak mengenalku? Aku Jong Dae.” jawab Jong Dae bingung

“Kau? Laki-laki yang bernama Kim Jong Dae?”

…………

Jong Dae melepaskan pegangannya pada gadis yang ada di depannya ini.

Bukankah dia Soo Hae?

Mengapa gadis ini tidak mengenalnya?

Apakah ia amnesia?

…………

“Bukankah kau Park Soo Hae?” tanya Jong Dae ragu

“Aku Park Soo Rae. Park Soo Hae adalah adik kembarku.” jawab gadis itu

…………

Ternyata gadis yang selama ini menatapnya memiliki saudara kembar yang terlihat sama persis seperti dirinya.

…………

“Dimana Soo Hae?” tanya Jong Dae

“Kau mau bertemu dengannya? Dia tidak akan datang ke sini.” jawab Soo Rae

“Mengapa? Apakah ia sakit?”

“Ikut aku, Soo Hae tinggal tidak jauh dari sini.”

“Kau tidak tinggal di rumah yang sama dengan Soo Hae?”

…………

Soo Rae tidak menjawab.

Jong Dae bingung karena pertanyaannya tidak dijawab namun ia tetap berjalan mengikuti di belakang Soo Rae.

…………

Perasaan Jong Dae semakin bingung ketika mereka sampai di rumah peristirahatan terakhir, tempat orang-orang menyimpan abu jenazah orang yang sudah meninggal dan dikremasi. Ia ingin bertanya kepada Soo Rae yang terus berjalan di depannya namun bibirnya terbungkam ketika Soo Rae berhenti di depan sebuah kotak kaca.

…………

Jong Dae ikut berhenti dan memperhatikan kotak kaca yang ada di depannya.

Di dalamnya ada sebuah guci abu, sebuah frame yang membingkai foto keluarga, serta sebuah plaster luka yang sudah usang.

…………

“Apakah kau mengingat plaster itu?” tanya Soo Rae memecahkan keheningan

Jong Dae menggeleng, “Tidak.”

“Plaster itulah yang membuat Soo Hae menyimpan cinta padamu selama tujuh tahun ini.” jawab Soo Rae lirih

“Apa maksudmu?” tanya Jong Dae bingung

Soo Rae menunduk lesu, “Dia tampak sangat senang ketika akhirnya ia punya keberanian untuk menulis pesan padamu. Dia berkata dia akan segera bertemu denganmu, dia sudah mengumpulkan keberanian untuk menemuimu. Dia berkata dia akan pulang dengan bahagia. Namun nyatanya dia tidak pernah pulang kembali ke rumah.”

…………

~~~

…………

Lima hari sebelumnya

…………

“Soo Rae, lihat! Aku akhirnya menulis surat untuk Jong Dae oppa.”

“Bukan masalah kau bisa menulis surat untuknya, masalahnya adalah apakah kau berani memberikan surat itu kepadanya. Sementara selama tujuh tahun ini kau hanya berani menatapnya diam-diam.” jawab Soo Rae dengan senyum mengejek

…………

“Hey, kau jangan mengejekku. Aku akan meletakkan surat ini di laci meja tempat ia biasa duduk dan akan menunggu di taman. Aku akan bertemu dengannya!” jawab Soo Hae riang

…………

“Baiklah, baiklah. Aku berdoa kau akan bertemu dengan dia secepatnya. Sungguh beruntung laki-laki yang bernama Kim Jong Dae itu.”

…………

“Akulah yang beruntung bisa mencintai laki-laki baik seperti dirinya, Soo Rae. Ia seperti malaikat untukku.” jawab Soo Hae

…………

“Apa yang akan kau lakukan bila ia tidak datang?” tanya Soo Rae cemas

…………

“Aku akan terus menunggunya sampai aku bertemu dengan dirinya.” jawab Soo Hae

…………

“Kau sungguh gila.” jawab Soo Rae sambil menggeleng-geleng

…………

“Aku tidak gila, Soo Rae. Aku hanya jatuh cinta. Percayalah, aku akan pulang dengan bahagia! Lihat saja nanti.” jawab Soo Hae sambil tersenyum lalu melipat surat yang baru saja ia tulis

…………

Keesokan harinya Soo Hae datang ke perpustakaan dan meletakkan lipatan kertas berisi surat di dalam laci tempat Jong Dae biasa duduk. Setelah meletakkan kertas itu di sana, ia berangkat ke taman dan mulai menunggu di sana.

…………

Namun hingga pukul lima sore, bahkan hingga hari menjadi gelap, Jong Dae tidak datang juga. Soo Hae berdiri dari kursi taman itu dan berniat pulang.

…………

“Mungkin ia belum menemukan surat yang aku tulis untuknya. Aku akan kembali besok, aku akan menunggu setiap hari sampai ia bertemu denganku. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri.” Soo Hae berkata pada dirinya sendiri

…………

Soo Hae sedang berjalan ke arah halte bus saat tiba-tiba sebuah cahaya silau menyeruak di hadapannya, membuat pandangannya kabur. Detik selanjutnya yang terjadi adalah terdengar sebuah suara klakson yang memekakkan telinga dan benturan keras yang membuat tubuh Soo Hae terpental sejauh tiga meter dan mendarat dengan keras di atas aspal.

Soo Hae tidak dapat membuka matanya lagi.

…………

~~~

…………

Tujuh tahun yang lalu

Soo Hae kecil yang masih mengenakan seragam sekolah dasar sedang mengayuh sepedanya dari sekolah menuju ke rumah. Namun sebuah batu membuat Soo Hae kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Lutut Soo Hae kecil terluka dan mengeluarkan darah sementara sepedanya sudah tergeletak di sampingnya.

…………

Soo Hae kecil ingin menangis. Namun Chan Yeol oppa akan memarahinya jika ia menangis. Soo Hae harus menjadi gadis yang kuat dan tegar, begitu kata Chan Yeol oppa. Sejak kematian ayah dan ibunya, Soo Hae dan Soo Rae, saudara kembarnya, tinggal bersama Park Chan Yeol yang menjadi kepala keluarga menggantikan ayah dan ibu mereka.

…………

Soo Hae sedang berusaha berdiri ketika ia melihat seorang oppa berseragam sekolah menengah berlutut di depannya.

“Kau terjatuh?” tanya oppa itu

Soo Hae mengangguk.

“Sakit?” tanya oppa itu lagi sambil menunjuk lutut Soo Hae yang mengeluarkan darah

Soo Hae menggeleng.

“Kau gadis pintar. Aku akan membantumu membersihkan lukamu lalu kau bisa pulang.” kata oppa itu sambil mengusap puncak kepala Soo Hae

Soo Hae mengangguk dan mengikuti oppa itu duduk di kursi taman dengan langkah tertatih.

…………

Oppa itu membersihkan luka di lutut Soo Hae dengan air mineral yang ada di dalam botol minumnya, dan mengambil dua buah plaster luka dari dalam tasnya.

Satu plaster ditempelkan oppa itu ke lutut Soo Hae dan ia mengarahkan plaster yang lain ke depan Soo Hae.

…………

“Ini untukmu. Sesampainya di rumah kau harus membuka plaster itu, memberinya obat lalu menempelkan plaster yang ini ke lukamu. Kau akan segera sembuh.” kata oppa itu.

Soo Hae mengangguk.

“Baiklah, kau harus pulang. Sebentar lagi sore. Apa kau bisa pulang sendiri?”

Soo Hae mengangguk lagi.

…………

“Baiklah, aku juga akan pulang kalau begitu. Sampai jumpa.” kata oppa itu lalu mulai berjalan berbalik arah

…………

Gomawo oppa.” Soo Hae akhirnya bisa membuka mulutnya

Oppa itu berbalik arah dan menatap Soo Hae lagi.

Ne..” jawab oppa itu sambil tersenyum cerah

…………

Sesampainya di rumah, Soo Hae kecil langsung berlari ke arah Chan Yeol oppa dan Soo Rae yang sudah duduk di meja makan.

…………

“Mengapa kau baru pulang, Soo Hae?” tanya Chan Yeol

“Tadi aku terjatuh dari sepeda.” jawab Soo Hae

“Benarkah? Apakah kau terluka?” tanya Soo Rae

Ne, lututku berdarah.” jawab Soo Hae sambil menunjukkan luka yang ada di lututnya

…………

Chan Yeol bangkit dari tempatnya duduk dan berlutut di depan Soo Hae, melihat plaster yang tertempel rapih di lutut Soo Hae.

…………

“Apakah kau menangis?” tanya Chan Yeol

Aniya. Aku tidak menangis karena aku bertemu oppa yang baik hati. Ia menempelkan plaster dan memberikan ku satu plaster lainnya.” jawab Soo Hae riang sambil memamerkan sebuah plaster yang ia ambil dari saku seragamnya

…………

“Kau tampak seperti benar-benar menyukai oppa itu, Soo Hae.” kata Soo Rae

Ne. Aku menyukainya. Jinjja jinjja! Aku melihat name tag di seragam sekolah yang ia gunakan. Namanya Jong Dae. Kim Jong Dae.”

…………

~~ THE END ~~

…………

Epilog:

Mau tau kehidupan Shi Yoon noona selain sebagai penjaga perpustakaan yang dekat dengan Jong Dae?

Baca kisahnya di sini –> Siblings

…………….

Author’s Note:

Hai halo annyeong!!

Gomawo buat readernim yeorebun yang uca baca oneshoot aku..

Aku balik dengan sequel character aku yang baru.. ^^

Seperti yang udah aku ceritain secara ‘gaje’ di post yang sebelumnya,,

tokoh di cerita ini nanti nyambung-nyambung di cerita lain-lainnya (?)..

I hope para readernim sekalian menikmati membaca sequel character aku ini ya..

Dan aku selalu lebih mengharapkan komen kritik saran buat aku.. >.<

Maapkan bahasa campur gak jelas ini (wkwkwk)

Kansahamnida.. *bow*

34 tanggapan untuk “A Note”

  1. wah..
    kalo yang ini beneran sedih deh…
    hiks…
    kasian ya jong dae nya,,,padahal dia udah mau buka hati eh tapi ternyata gadis yang selama ini menatap dia diam2 malah ga ada..
    huwaaaa…

    1. iya kasian jong dae nya..
      tapi soo hae nya juga kasian..
      gimana kalo jong dae sama soo rae aja kan mirip? /plak *abaikan aja wkwkwk

      Makasi yaaa komen lagii hihihi..

  2. keren ‘0’
    lagi obrak abrik gugel, dapatnya ff ini..
    awalnya aku mikir chen bakal suka sama soo hae, eh malah ceweknya meninggal ‘-‘

    brarti itu hantu dong ‘□’
    ceritanya keren, jjang
    keep writing thor

    1. hehe.. kalo chen nya suka sama soo hae lalu mereka hidup bahagia selamanya *macam dongeng /plak! , ceritanya jadi agak mainstream..
      aku kan anti mainstream.. :v *songong *tabokinaja
      iya bisa dibilang itu hantu.. wkwkwk

      makasi semangatnyaa,, makasih juga uda komen.. >.<

  3. trus cewek yg ketemuan sama Jongdae di taman itu siapa klo si soo hae udah meninggal? hantu? o_o aduh kasian chanyeol dapet cewek yg blom bisa move on trus gk lama salah satu adiknya meninggal kecelakaan juga -_-

    1. iyaa,, bisa dibilang begitulah,, hantu – arwah.. hohohoo..

      Chanyeol tegar,, jadi kepala keluarga,, cinta sama cewek yang belum moveon plus kehilangan satu adek kembarnya.. TT___TT

      makasi ya uda komeen.. >.<

  4. yang pertama aku pikir cuma YA AMPUN JONGDAE KENAPA NGGAK PEKA
    ada merhatiin malah bingung… itu suka!!! suka!!
    tapi pada akhirnya jongdae tau kan alasan soohae ngeliatin dia… tapi kenapa malah soohee pergi… ah kenapa seperti itu :” tapi keren kok kak.. bikin gemes deh x3

    1. iyaaaa,, laki-laki emang suka begitu,, GAK PEKA..
      #eh
      #inibukancurcol wlwlwlw
      Iyaaa,, ternyata ada yang suka sama dia udah tujuh taun padahal.. :”|
      makasi nidaaa.. >.<

  5. yaaaah gak sama* dong akhirannya ㅠㅠㅠㅠ nyesel gak ya jongdae? blm sempet kenal trnyata udh meninggal dluan so hee nya

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s