Up And Down

Displaying hani.jpg

Up And Down

Storyline by Miichanie

Ahn Hani (EXID), Oh Sehun (EXO)|| Poetry, Fantasy|| Teen|| Drabble

Disclaimer: Sudah dipost di personal blog aku https://milkshakevanillaworld.wordpress.com dan https://koreanfanbasefanfiction.wordpress.com dengan pengubahan seadanya (?)

Summary: Aku merasa kepalaku terombang – ambing sekarang.

WARNING!!! I’M TYPO-ABLE!

Miichanie [2015]

Aku mencoba tidur. Insomnia sialan itu membuatku terjaga dari pukul 23.14. Aku membuat badanku senyaman mungkin. Minum susu, sudah. Memakai piyama hangat dan selimut tebal, sudah. Lampu yang remang, sudah. Astaga! Aku lupa menghidupkan musik klasik.

Mungkin, klasik tidak untuk kali ini. Bagaimana dengan musik ballad? Terdengar menarik. Aku meraih handphone yang tergeletak dinakas dan memutar lagu Adele – Someone Like You. Memejamkan mata, mencoba melawan insomnia ini. Seiring berjalannya waktu, suara khas itu mulai mendayu-dayu dan membuatku mengantuk. Tapi aku masih terjaga.

.

Hey, pintu apa ini?

Kenapa aku baru sadar bahwa sekelilingku lumayan gelap? Hanya ada 1 lilin terang didekat pintu itu. Rasa penasaran menggerogoti pikiranku membuatku gatal untuk membuka pintu tersebut. Dengan tangan yang sedikit bergetar –kurasa aku gugup–, aku meraih kenop pintu.

Ceklek

“Aaahh!”

Apa – apaan ini?! Ugh,aku merasa kepalaku terombang – ambing sekarang. Sedetik setelah aku membuka pintu itu, aku merasa diriku berputar hebat. Tidak mual, hanya efek ketakutan dan panic membuat kepalaku pusing. Aku merasa tubuhku kaku. Ada apa ini?

Aku memejamkan mataku erat. Tak lama, aku merasa semuanya berhenti. Entahlah, mungkin perasaanku saja. Aku membuka mataku dan menemukan diriku sendiri dengan gaun. Bukankah aku memakai piyama tadi?

“Astaga, nona Hani! Berhenti melamun disitu. Sebentar lagi, syuting akan dimulai.” Pekik seorang wanita gemuk yang kutafsir mungkin berumur 35 tahun. Aku tak pernah melihatnya sebelumnya. Ia memanggilku apa barusan? Ha – Hani? Siapa itu? Bukankah namaku jelas – jelas Ahn Heeyeon?

Haish, wanita jaman sekarang suka sekali melamun.” Gerutunya. Aku masih tak mengerti. Siapa dia? Aku memberanikan bertanya kepada wanita itu. “M – maaf. Tapi, siapa bibi? Siapa Hani?” tanyaku ragu. Wanita itu menatapku aneh dan tertawa dengan keras. Ia memukul kepalaku pelan.

Aigoo, kau kenapa, hah? Tentu saja aku Bibi Kim, periasmu. Siapa Hani? Pertanyaan apa itu. Hani itu kau, sayang. Ahn Hani, aktris yang sedang popular karena dramanya sendiri.”

Aku menatapnya tak percaya. Saat melihat cermin itu, aku ingin menangis sekencang – kencangnya. Itu memang aku, Ahn Heeyeon! Perempuan berumur 18 tahun yang sering mengalami insomnia! Tapi, kenapa wajahku terlihat lebih dewasa dan, ehm cantik? Dikaca itu, tertempel sebuah foto. Aku mengambil foto itu dan mengerjapkan mataku beberapa kali.

Itu fotoku bersama seorang pria. Siapa pria ini? Ia mengecup pipiku difoto ini, tapi, aku sungguh tidak mengenalnya. Wajahnya tampan, kulit putih dengan tubuh tinggi, dan tampak angkuh. Bibi Kim melihat foto itu.

“Itu lawan mainmu. Oh Sehun. Lelaki yang hanya terpaut 1 bulan lebih muda darimu. Hei, bukankah ia tunanganmu?” ujar Bibi Kim. Kekasih? Jadi, lelaki ini tunanganku!? “Bibi serius? Lelaki ini tunanganku?” tanyaku tak percaya. Mulut Bibi Kim menganga tak percaya. Ia mendekatiku dan memukul bokongku kencang. Yak! Ibuku saja hanya sekali memukulnya. Lancang sekali ia!

“Kau lupa tunanganmu sendiri, hah!? Astaga, bagaimana bisa Sehun mempunyai calon istri sepertimu? Aku tak percaya.” Omelnya. Aku hanya meringis kesakitan. Aku mencoba menghindar. Yah, bermain peran sedikit tak apa kan? Aku cengengesan. “Hehe, aku hanya bercanda. Baiklah, aku keluar dulu, ne?” Aku langsung pergi dari tempat tersebut melalui pintu bertuliskan ‘Exit’. Mengabaikan tatapan aneh dari Bibi Kim

Déjà vu?

Apa itu Oh Sehun yang disebut – sebut oleh wanita tadi? *dasar hani gasopan* Karena, wajahnya mirip. Ya, aku yakin itu memang dia karena sekarang ia sedang melambaikan tangannya kearahku.

Apa? Melambaikan tangan?

Aku mengerjap, mencoba tidak terlihat aneh. Berjalan mendekatinya dan mengambil kertas yang ia sodorkan. Ia mengusak rambutku pelan. Astaga, jika aku tidak mengingat statusnya sebagai ‘tunanganku’, aku bersumpah telah mematahkan tangannya! Berani sekali ia menyentuh rambut berhargaku.

“Darimana saja? Kukira kau pingsan tadi.” Kekehnya. Aku yang tak mengerti hanya tertawa kaku. Aku mencoba membaca kertas itu. Ini naskah dramanya. Ooh, jadi aku menjadi tokoh yang…

“Galak, dingin, bertindak semaunya?” lirihku. Itu semua bukan sifatku. Aku adalah orang yang ribut, bertindak dengan pikiranku dahulu –ini menurutku-, yah walau aku memang galak. Sehun mengibaskan tangannya diwajahku.

“Kau melamun? Mau kubelikan kopi?” tanyanya. Aku mengerjapkan mataku dan mengangguk. Ia mencium pipiku dan pergi. Aku merasa pipiku terbakar sekarang. Mengusap kasar bekas bibirnya tadi dan duduk dikursi yang tak jauh dari tempatku berdiri.

Apa yang terjadi sebenarnya? Bukankah tadi aku sedang mencoba tidur? Apa ini mimpi? Bagaimana bisa mimpi terasa nyata?

Atau,

Aku baru saja mengalami Lucid Dream* !? Ya, tak salah lagi. Ini adalah Lucid Dream. Keadaan dimana kita berada diambang sadar dan tidur. Pukulan Bibi Kim dibokongku tadi terasa sakit karena aku masih ‘sedikit’ sadar. Jika begitu, aku harus sadar dan bangun secepatnya. Walau, aku masih ingin bertemu dengan si Sehun – Sehun itu.

Aku sadar bahwa Sehun mulai kembali dengan 2 gelas kopi ditangannya. Apa yang ingin kulakukan ini mungkin memang terdengar konyol dan gila. Tapi, ini kulakukan agar aku cepat sadar.

Bruk!

“GYAAAA PANAS!” teriakku ketika cairan berwarna cokelat pekat dengan bau menyengat itu mengenai kepala dan sekujur tubuhku. Lambat laun, ia mendengar suara Sehun yang semakin kecil seiring dengan matanya yang tertutup.

.

“Astaga! Akhirnya aku bangun. Tunggu, ini bukan mimpi lagi kan?” aku mencoba menampar pipiku sendiri. Panas. Oke, aku mencoba berkaca dan berteriak kegirangan. Ini memang aku, Ahn Heeyeon yang berumur 18 tahun. Bukan Ahn Hani atau wanita berumur 26 tahun. Aku meloncat – loncat dan berteriak.

“Astaga, Heeyeon! Berhenti berteriak!” Ibuku tiba – tiba masuk. Aku langsung memeluknya erat. Astaga, ibu sulit bernafas sepertinya. “Ibu, tumben masuk kekamarku. Ada apa?”

“Haish, dasar. Itu, ada tetangga baru. Ia sangat tampan. Namanya Oh Sehun. Kalau bisa, dekati dia.” Bisik ibuku sambil mengerling. Ia keluar. OH SEHUN!? Oh Sehun siapa? Oh Sehun yang dimimpi? Atau Oh Sehun lainnya? Tapi, tak mungkin namanya sama!

Aku langsung menuruni tangga dan berhenti dengan nafas terengah. Disofa ruang tamu, tampak seorang lelaki dengan rambut hitam duduk membelakangiku. Aku yang tak sabar langsung berjalan kearahnya dan membalik bahunya.

Ini memang Oh –sialan- Sehun. Ini memang dia! Astaga, bagaimana ini? Aku tak ingin bertunangan dengannya. Aku tak ingin menjadi aktris. Aku tak mau apa yang kuimpikan menjadi nyata!

“Ah, kau Heeyeon yang dibicarakan ibumu ya? Aku Oh Sehun, salam kenal.” Ucapnya sembari menyodorkan tangannya. Tidak, ini semua salah. Aku mundur beberapa langkah. Aku tak menyadari ibuku yang membawa teh dan beberapa cemilan lainnya. Dan menabrakku.

“Astaga, ibu! Panas! Kulitku panas!” aku berteriak bak orang gila. Tapi sungguh. Ini semua sangat panas. Aku mulai berlarian tak tentu arah dan malah berjalan keluar rumah. Masih tak sadar. Aku terus berjalan dengan sebelah mata tertutup. Menangis. Hanya itu yang bisa kulakukan.

Bagaimana bisa Oh Sehun nyata? Bagaimana bisa ia masuk kedalam mimpiku dengan fisik yang sama? Bagaimana bisa ini terjadi?

Aku tak sadar bahwa truk kencang sedang menuju kearahku. Semua terasa berlalu begitu saja. Hingga aku sadar bahwa diriku sudah terpental sejauh 5 meter dari tempat awalku. Aku merasa bahwa bau anyir melekat ditubuhku. Darah segar mengalir dari dahi dan tanganku. Mati rasa. Aku memejamkan mataku yang terasa berat sekali.

Yah, setidaknya aku tak perlu memikirkan masa depanku setelah ini.

-END-

PS: Lucid Dream: Bisa diartikan sebagai sebuah pengalaman di alam mimpi, di mana kita bisa mengontrol mimpi kita, merasakan hal-hal di dalamnya, dan yang terpenting adalah tetap tersadar selama bermimpi.

10 tanggapan untuk “Up And Down”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s