Tempus Fugit, Amor Manet [Chapter 03]

tfam

 

Ketika sang atlet lari dan drummer sebuah band yang belum debut dipertemukan dengan cara tidak terduga dan masing-masing mulai memiliki rasa. | “Sunbae, gumawo…” | “Aku… aku janji akan lebih mengenalmu.” | “The best love story is when you fall in love with the most unexpected person at the most unexpected time”― Anonymous

Len K present… Tempus Fugit, Amor Manet

Rate: T, PG-15

Romance, Hurt/Comfort, Supranatural, a bit humor

Chanyeol EXO, Cha Iseul (OC), Minho SHINee, Kai-Sehun-Chen-Lay EXO dan beberapa idol/actor dan OC sebagai support cast

Warning: AU, Semi-canon, OOC (maybe), typo, humor garing, rush

Poster by Aqueera at posterdesigner.wordpress.com

A/N                        : Disini Chanyeol dan Iseul beda sekolah. Hope you don’t get confuse.

.

.

“…Jadi, gentlemen… band kita lolos seleksi untuk mengisi acara festival musim panas sekolah!” antusiasme Jongin menular dengan cepat ke yang lain.

“Akh!” Iseul menggigit bibir bawahnya. Rasa nyeri pada tulang-tulangnya mulai menjalar.

                ‘Kumohon, jangan sekarang!’ batin Iseul menjerit memohon. ‘Aku tidak akan menyerah hanya karena ini!’

                “Iseul! Lari!”

“Kau ini. Manja sekali ya?”

                “Eh?”

                Tidak jadi. Iseul tidak jadi menangis. Karena sekarang ia tersenyum, lebih hangat dari yang tadi. Di hadapannya, Minho sudah mengulurkan tangannya pada Iseul. Tanpa keraguan, Iseul menerima uluran tangan itu dan mencoba berdiri meski cukup menyiksanya.

                “Chukkae,” ujar Minho disertai senyuman.

                “Ne, gumawo sunbae. Sunbae-do chukkae.”

                Lama-lama rasa gugup yang menyelimuti Chanyeol dan kawan-kawannya mulai sirna. Sekarang mereka merasa lebih rileks dan menikmati penampilan mereka. Ditambah dengan fanchant dari penonton. Bahkan beberapa dari penonton ikut bernyanyi.

                Sensasi inilah yang didambakan oleh personil The FOO. Reaksi positif dari penonton sudah seperti suplemen bagi mereka.

                “Soalnya… aku ingin tahu rumahmu. Bukan hanya itu, aku juga… ingin mengenalmu lebih jauh,” kata Minho malu-malu.

                “Kau ini yang bicara apa, Iseul. Bukankah kau sendiri yang bilang jika Minho-ya adalah senior yang paling kau kagumi?” perkataan ibunya membuat Iseul tak berkutik.

                “Eomma!”

 

***

 

Chapter 3 As The Helpless Autumn Leaves Are Caught Against The Flow

.

.

                “Aku lelah!” Jongin membenahi letak gitar di gendongannya begitu ia dan rekan satu bandnya menjejakkan kaki di luar Eternal Memory.

“Ditambah cuacanya yang dingin membuatku makin lapar.” Sehun menyelipkan pick ke dalam saku celananya lalu membenahi syalnya.

Musim gugur baru saja berjalan setengah bulan tapi cuaca seringkali naik turun sekenanya. Contohnya seperti malam ini, dimana suhu tiba-tiba turun cukup drastis dan cepat. Membuat orang-orang sudah bergidik membayangkan bagaimana mereka akan membeku nanti saat musim dingin.

Meski begitu, The FOO masih bersemangat untuk tampil. Atau lebih tepat disebut jadwal tampil mereka semakin padat saja. Kini mereka sudah berhasil menjadi rookie dalam jajaran live-performer di Eternal Memory dan sudah memiliki jadwal manggung tetap di Nowhere. Kadang jika tugas-tugas sekolah berbaik hati tidak mencekik mereka, mereka akan dengan senang hati tampil di Hongdae bersama street-performer lainnya.

“Kalau begitu ayo cari rumah makan. Kurasa bayaran kali ini bertambah sedikit,” Jongdae menyeringai lebar. Selebar lembaran-lembaran won yang ia tata dan ia kipas-kipaskan tepat di depan wajahnya.

Tak! Tak! Tak!

Kajja! Kali ini daging panggang akan membungkam nyanyian perut kita! Bulgogi! ” ketukan stik drum di tangan Chanyeol menambah berisik suaranya.

“Mahal,” potong Yixing cepat, “jika melihat porsi makan kita berlima, uang bayaran kita kali ini tidak akan cukup. Maka dari itu, solusinya adalah… ramyeon instan!”

Keempat teman Yixing langsung sweatdrop mendengar ocehan Yixing. Yah, ramyeon instan panas di tengah cuaca dingin begini memang tidak buruk. Tapi yang benar saja?!

“Ampun! Perutku akan langsung melilit jika makan mi dalam keadaan kosong!” Sehun berseru. Belum apa-apa ia sudah memegangi perutnya seakan sakitnya itu sudah tiba.

Jjajangmyeon?”

“Yixing, itu juga mi! Mereka bahkan punya akhiran yang sama! Ada ‘-myeon’ di akhir kedua kata itu, Yixing!” Sehun berseru dalam sekali tarikan napas. Yixing memang jenius dalam hal membuat atau menggubah lagu, tapi dalam hal-hal seperti ini Sehun rasa tidak.

“Kalau begitu bagaimana dengan semangkuk sup rumput laut? Setelahnya kita bisa makan-makan hot bar. Eottae? Joah?” usul Jongdae.

“Itu jauh lebih baik daripada usulan Yixing.” Sehun memberi lirikan malas kearah Yixing yang masih bertahan dengan wajah stoicnya.

“Pokoknya aku tidak mau keluar uang sepeserpun,” sahut Jongin.

“Kalian cerewet sekali! Ayo lekas makan!” seru Chanyeol.

 

***

 

Jika ini bukan sekolah khusus atlet, mungkin orang-orang sudah berpikir Eunji adalah seorang pemburu yang salah tempat. Bagaimana tidak? Eunji berkeliaran di seluruh koridor dengan mengenakan perlengkapan memanah lengkap―busur di tangan dan sewadah anak panah tergantung di punggung. Kepalanya menolah-noleh tanpa terhitung. Sudah jelas ia mencari-cari sesuatu. Atau seseorang.

“Dimana Iseul?” desis Eunji melalui sela-sela giginya.

Ah, rupanya Eunji mencari seseorang.

“Iseul! Jangan lupa untuk latihan besok lusa. Kutunggu di tempat biasa, oke?”

Eunji familiar dengan suara bass itu. Pun matanya saat ia menemukan sosok Minho yang muncul dari pertigaan koridor. Di mana ada Minho, di situ ada Iseul. Pepatah itu menjadi populer belakangan ini.

Kontan saja Eunji berlari kearah Minho. Karena di sana ia pasti menemukan Iseul.

“Iseul! E-eh, annyeong sunbae!” Eunji tersenyum kikuk ketika pandangan Minho tertuju pada dirinya. Ia ‘kan tidak bermaksud menyapa Minho, tapi kenapa seniornya itu justru menatapnya? Sambil tersenyum pula.

“Hai, Eunji!” tangan Minho terangkat menyapa ramah Eunji yang makin kikuk dibuatnya, “kalau begitu sampai ketemu besok lusa, Iseul! Dah!” akhirnya Minho berlari kecil seraya melambaikan tangannya pada Iseul.

“Oh, kencan lagi?” Eunji menyeringai jahil pada Iseul yang masih melambaikan tangan.

Lambaian tangan Iseul berhenti. “Eh? Kencan? Apa-apaan kau ini? Aku dan Minho sunbae hanya akan latihan bersama untuk seleksi nasional,” elak Iseul.

“Che…. Alasan. Kau dan Minho sunbae adalah pelari termuda, terbaik Korea saat ini. Kalian berdua sudah jelas-jelas jadi kandidat kuat dalam tim nasional untuk olimpiade tahun ini. Kenapa harus repot-repot latihan? Bilang saja kalau kalian ingin menggunakan alasan latihan sebagai kencan. Kalian ingin berduaan di sela-sela latihan atau setelah latihan, ‘kan? Iya ‘kan?”

“Eunji! Kau ini apa-apaan sih?”

Eunji tergelak. Dan semakin keras ketika Iseul melangkah menjauhinya dengan pipi bersemu merah.

“Hey, Iseul!” Eunji berlari kecil menyusul Iseul. “Hey, kau terlihat manis saat marah seperti sekarang ini. Lihat siapa yang wajahnya semerah tomat? Iseul!”

“Eunji!” Iseul merengek sepenuh hati.

“Oke, oke, bercanda!” Eunji mengacungkan telunjuk dan jari tengahnya seraya tersenyum lebar yang menjadi khasnya.

“…”

“…”

“Jadi kenapa kau mencariku? Lengkap dengan peralatan panah seperti itu? Kau tidak berencana membunuhku ‘kan?” Iseul menunjuk-nunjuk busur dan anak panah yang dibawa Eunji.

“Tentu tidak! Justru aku akan menjadi cupid bagimu dan Minho sunbae. Aku akan menembakkan panah cinta ini tepat ke hati kalian masing-masing! Shoo! Shoo!”

“Jung.Eunji!”

“Hehehehe.”

“Jangan tertawa! Kau belum jawab pertanyaanku!”

“Ah, benar! Aku ingin pamer sesuatu padamu!”

Mwo?”

“Sebentar,” Eunji nampak sibuk merogoh-rogoh sesuatu di saku celana trainingnya, “ini!” sesuatu yang dimaksud Eunji sudah berkibar-kibar di tangan Eunji.

Iseul hanya bisa mengernyitkan dahinya heran dan melihat kearah Eunji yang tersenyum lebar dan lembaran foto ukuran 5R di tangan Eunji secara bergantian. Bagi Iseul tidak ada yang spesial. Baik itu senyum Eunji atau foto di tangan Eunji.

“Apanya yang istimewa?” tanya Iseul.

“Apanya yang istimewa?” beo Eunji. Senyumnya kini sudah hilang. Tergantikan oleh ekspresi terkejut, “apanya yang istimewa katamu?! Ini adalah foto The FOO dan tanda tangan tiap membernya! Aku mendapatkannya dengan penuh perjuangan. Demi ini aku harus membayar lebih saat ingin melihat penampilan mereka di Nowhere!” histeris Eunji.

Foto itu telah berpindah ke tangan Iseul. Baru Iseul sadari jika memang ada lima tanda tangan berbeda di balik foto itu. Juga sosok Eunji yang nampak kegirangan bisa berfoto bersama band indie favoritnya, favorit Eunji.

“Hho, jadi ini alasanmu bekerja paruh waktu mati-matian?”

“Tentu saja!”

“Yah, baguslah kalau begitu. Tapi sayang seperti biasa, aku tidak begitu tertarik dengan mereka. Dengan The FOO, dengan band favoritmu itu, jadi reaksiku biasa saja.” Iseul mengembalikan foto itu kepada Eunji.

Eunji tahu kalau akhirnya akan seperti ini setiap kali ia memamerkan segala sesuatu yang berhubungan dengan The FOO. Iseul tidak akan pernah tertarik dengan The FOO karena Iseul hanya tertarik pada Coldplay dan Red Hot Chilli Pepper. Tapi setidaknya Iseul mau mendengarkan segala ocehannya mengenai The FOO. Itu sudah cukup baginya.

“Aku tahu. Tapi kali ini aku harap kau mau mengabulkan permintaanku.”

“Permintaan?”

Kedua siswi itu berhenti di depan loker mereka berdua yang bersebelahan. Eunji melepas peralatan panahnya dan meletakkannya ke dalam loker miliknya. Sedangkan Iseul mengganti sepatu larinya dengan sepatu biasa yang ia simpan di loker.

Setelahnya mereka tidak langsung pergi. Mematut diri sebentar di cermin kecil yang mereka temple di dalam loker mereka merupakan hal wajib. Dan juga sedikit bedak, sisir, atau minyak wangi.

“Iya, permintaan. Nanti malam aku akan menculikmu ke Hongdae. Kudengar The FOO akan tampil di sana. Aku tentu tidak bisa melewatkannya. Karena selain gratis, mereka adalah The FOO. Terlebih aku tidak bisa melihat penampilan mereka di Eternal Memory minggu lalu karena ada seleksi di pagi harinya. Kau mau ya? Ya? Ya?”

Iseul mengacuhkan Eunji dan melenggang kearah cafeteria.

“Iseul! Naega jinjja butakhaeyo!” Eunji menepuk kedua tangannya memohon. Tapi Iseul masih mengacuhkannya. “Cha-Iseul, jebal.” Sekarang Eunji menambah fitur puppy eyes di wajahnya.

Baik Iseul maupun Eunji masih berjalan berdampingan. Iseul juga masih mengacuhkan Eunji. Tapi sebenarnya Iseul tengah berpikir. Apakah jadwalnya malam ini kosong? Bagaimana dengan tugas-tugasnya yang sempat terbengkalai karena latihan? Oh, dia sudah menyelesaikan semuanya beberapa hari lalu dibantu oleh Chisoo.

Lalu pemeriksaan rutin? Itu masih empat hari lagi. Janji dengan orang lain? Satu-satunya janji yang dibuat Iseul dalam waktu dekat ini adalah latihan bersama Minho sunbae besok lusa. Acara-acara spesial? Seleksi nasional masih minggu depan dan semoga dia masuk dalam jajaran tim inti nasional. Bersama Minho.

Oke, itu artinya Iseul benar-benar bebas malam ini, ‘kan?

Iseul melirik Eunji yang masih dalam pose memohon ditambah puppy eyes melalui ekor matanya. “Geurae. Aku free untuk malam ini. Ah tidak, aku sudah di-booking oleh Jung Eunji.” Sebuah senyum mengakhiri kalimat Iseul.

Mata Eunji langsung berbinar dan menghambur memeluk Iseul. “Iseul jjang!”

Arayo,” sahut Iseul menyombongkan diri.

Tawa keduanya lalu pecah.

.

.

Hongdae akan menjadi semakin hidup di malam hari. Atmosfernya terasa benar-benar berbeda dengan Hongdae saat matahari masih merajai langit. Lampu-lampu dan toko-toko terlihat lebih meriah dengan kerlip. Trotoar-trotoar sepertinya tidak berkurang sepinya. Masih banyak orang-orang terutama anak-anak muda yang berkeliaran saat malam hari. Beberapa turis juga terlihat lalu-lalang.

Dan jangan lupakan para street-performer.

Udara dingin khas musim gugur tidak menghalangi mereka untuk unjuk kebolehan di hadapan orang-orang. Tak jarang beberapa dari penampilan mereka mampu membentuk kerumunan kecil dan decak kagum.

Dance berbagai genre, bernyanyi, bermain alat musik, atau atraksi lainnya. Semua orang bebas ingin unjuk kebolehan di sini!

Daebak!” Iseul terpukau saat melewati seseorang yang melakukan atraksi dengan api.

Namun ia tidak bisa berlama-lama menikmati atraksi itu karena Eunji tidak mau melepaskan genggaman tangannya sedari tadi.

“Ah, itu tidak ada apa-apanya dibandingkan penampilan The FOO! Aduh, dimana ya, mereka akan perform? Kenapa aku bisa lupa?”

“Dasar payah,” cibir Iseul.

Tidak ada tanggapan apapun yang keluar dari mulut Eunji yang masih sibuk mencari.

Itu sama sekali tidak mengganggu Iseul. Justru Iseul menikmati saat ini walau ia ditarik-tarik Eunji entah kemana. Kalau dipikir-pikir, sudah cukup lama Iseul tidak pergi ke Hongdae saat malam hari. Apa jangan-jangan Iseul terlalu sibuk berlatih?

“Itu dia! Itu dia! Ayo lekas kesana!” Eunji menunjuk-nunjuk ke sebuah kerumunan dengan antusias dan segera berlari ke sana.

“Eu-Eunji!” Iseul cukup terkejut dengan gerakan tiba-tiba sahabatnya itu. Dia sendiri bahkan tidak bisa menjelaskan bagaimana Eunji bisa yakin kerumunan itu merupakan The FOO. Bisa saja itu street-performer yang lain, bukan?

Tapi Iseul hanya bisa pasrah ditarik-tarik oleh Eunji. Juga saat Eunji membawanya menerobos kerumunan demi melihat The FOO dari dekat. Iseul tidak menyangka jika kerumunan yang terbentuk ini sangat ramai.

Omona! Itu mereka! Itu mereka! The FOO! Jongdae, Yixing, Jongin, Sehun, Chanyeol!”

Iseul sama sekali tidak terkesan saat nama-nama asing itu meluncur ke telinganya. Tapi melihat Eunji yang kegirangan seperti itu membuat Iseul mau tak mau tertawa kecil.

Dirinya dan Eunji berhasil berada di barisan terdepan. Kelima pemuda dengan instrumen mereka masing-masing berada hanya beberapa meter dari hadapan mereka. Wajah mereka memang tidak terlihat terlalu jelas melalui lampu jalan, tapi Iseul bisa memastikan bahwa kelima-limanya berwajah lumayan.

Oke, tampan kalau itu mau kalian.

Bukankah dengan wajah seperti itu mereka bisa saja menjadi boysgroup? Kenapa mereka memilih menjadi band? Pikir Iseul.

“Waaaaaahhh… malam ini ada banyak orang yang datang, pasti akan menjadi seru!”

Seorang pemuda dengan garis rahang tegas angkat bicara. Iseul menebak jika dia adalah vokalis The FOO.

“Woooo!”

Ne, ne. Neomu neomu neomu neomu neomu kamsahamnida atas kedatangan kalian di sini. Geurae, untuk menghangatkan malam yang cukup dingin ini kami akan membawakan sebuah lagu, soundtrackMinami Sineyo’ atau ‘You Are Beautiful’, yang berjudul ‘Still, As Ever’. Junbi, si-jak!”

“Woooo!”

Si pemain drum mulai menabuh set drum kecilnya diikuti petikan gitar dari pemuda berkulit tan. Lalu dentingan piano dan bass masuk hampir bersamaan.

Hei, suaranya boleh juga! Aransemen mereka juga tidak buruk!’ batin Iseul saat pemuda bergaris rahang tegas tadi mulai bernyanyi.

Manik Iseul melirik kesamping kirinya. Eunji sudah benar-benar melupakannya sekarang. Sahabatnya itu sudah berpindah ke dalam mode fangirling. Yah, tidak masalah bagi Iseul. Sejujurnya, Iseul juga cukup menikmati penampilan The FOO. Tidak buruk, mereka terbilang bagus. Sekarang Iseul sedikit mengerti kenapa Eunji bisa tergila-gila dengan The FOO.

 

***

 

“…jadi itulah formasi tim lari inti untuk olimpiade di Amerika mendatang. Sebulan untuk persiapan kurasa sudah cukup. Selama itu aku minta kalian tetap berlatih dan menjaga kesehatan. Jangan terlambat saat hari H. Oke, cukup sekian dan sekarang kalian boleh kembali ke rumah masing-masing. Hati-hati di jalan!”

Ne, coach!”

Para atlet yang berkumpul di gymnasium itu mulai membubarkan diri menuju ke ruang ganti untuk mengambil barang-barang mereka.

Iseul tidak begitu memperhatikan sekitarnya setelah pelatih mengumumkan siapa saja yang akan mewakili Korea. Sapaan-sapaan singkat masih ia balas dan percakapan-percakapan ringan masih ia ikuti. Tapi semua seperti angin lalu. Pikirannya terfokus pada satu hal; ia dan Minho lagi-lagi berada dalam tim inti.

“Hei, kita satu tim lagi!”

Eye-smile Iseul muncul. “Ne, Minho sunbae!” Iseul berlari kecil hingga ia sejajar dengan seniornya itu.

“Kuantar pulang?”

“Yah, kalau aku menolak, sunbae juga akan tetap mengantarku pulang.”

Minho terkekeh. “Bagus kalau kau sudah tahu.”

Geureom!”

Saat Minho dan Iseul keluar dari gymnasium, langit sudah mulai berwarna gelap. Udara juga semakin dingin mencubit.

“Mau kutraktir?” tawar Minho.

“Traktir apa?”

Ramnyeon di swalayan di depan situ.” Telunjuk Minho terarah ke swalayan dua puluh empat jam yang terletak beberapa meter di depan mereka.

“Hanya ramnyeon,” Iseul pura-pura kecewa, “tapi boleh juga.”

Satu tempat kosong di depan swalayan itupun akhirnya ditempati oleh Iseul dan Minho ditambah dua cup ramnyeon instan jumbo. Keduanya tidak peduli jika hari makin larut tanpa terasa karena obrolan mereka. Tidak peduli jika mereka bisa saja tiba-tiba tersedak karena lelucon yang terselip dalam obrolan mereka.

Atau saat beberapa pengunjung mencuri pandang kearah mereka, mereka juga tidak peduli. Saat sisa kuah ramnyeon mereka mulai dingin, mereka tidak peduli. Selama mereka berdua bisa bersama, seperti ini.

Waktu terasa berhenti saat mereka berdua bersama, berjalan berdampingan. Lalu-lalang orang-orang di trotoar tidak bisa memisahkan mereka atau bahkan mendistraksi mereka. Dua orang itu sama-sama memendam perasaan yang sama. Mereka merasakan rasa yang sama tapi belum ada yang mau mengutarakan rasa itu.

“Eh?” Iseul cukup terkejut saat jemari-jemari Minho mulai menaut miliknya. Saat Iseul melihat ke kanan, Minho hanya memalingkan wajahnya kearah lain.

Lengkungan itu muncul lagi di bibir Iseul. Tanpa sadar, jemarinya membalas tautan Minho.

Keduanya saling berpegangan tangan dalam diam di malam musim gugur di persimpangan jalan. Lampu merah memberi mereka sekedar jeda untuk tetap seperti itu. Sekali lagi waktu terasa berhenti. Dan sesaat terasa aneh saat tautan keduanya menjadi erat.

Sunbae?” panggil Iseul.

“Hn?”

“Lampunya sudah hijau.”

“Biarkan seperti ini. Sampai lampunya hijau lagi…”

“…”

“…setelah itu, jangan dilepas.”

Iseul tersenyum tipis. “Aku pasti tidak bisa menolak.”

“Tentu saja.”

 

***

 

“Bagaimana? Diterima? Atau ditolak?” Chanyeol langsung bertanya dengan harap-harap cemas begitu Yixing mengakhiri percakapannya di telepon.

Teman-temannya yang lain juga sama-sama harap-harap cemas.

Yixing kemudian tersenyum. Tapi senyumnya terasa berbeda. “Kita masih kurang beruntung, teman-teman.”

Desahan kecewa menyambut. Ini bukan yang pertama atau kedua, tapi rasa sakitnya masih tetap sama. Atau malah justru bertambah. Dewi Fortuna belum memihak mereka rupanya.

 


 

 

“Tapi apa benar tidak apa-apa membiarkan Iseul pergi dan bertanding ke Amerika, sonsaengnim?” ayah Iseul bertanya dengan cemas kepada Hongsik sonsaengnim.

Hongsik sonsaengnim tersenyum. “Gwaenchanayo, geokjeonghajima. Aku sudah mengontak pelatih yang nantinya bertanggung jawab akan Iseul dan seorang kenalanku di sana. Jadi saat jadwal check-up rutin tiba, Iseul bisa mengunjungi kenalanku itu bersama pelatihnya.”

Sonsaengnim sudah meminta pelatih untuk merahasiakan ini dari yang lainnya, ‘kan?” Iseul terkejut ketika ada seorang pelatih yang bertugas ‘mengawalnya’.

“Tenang saja, tentu itu sudah kulakukan. Bahasa Inggrismu bagus, bukan?” canda Hongsik sonsaengnim.

“Tentu saja. Apa sonsaengnim mengejekku?” Iseul tertawa kecil. “Nah, ayah sudah dengar sendiri, ‘kan? Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Bukan hanya aku yang akan merawat diriku sendiri di Amerika nanti.”

Ayah Iseul tidak mampu berbuat apa-apa lagi. “Eo, jagiah.”

 

***

 

Sama-sama musim gugur, tapi atmosfer musim gugur di Amerika dan Korea jelas sangat berbeda. Itulah yang dirasakan Iseul.

Perlombaan lari seratus meter yang akan diikuti Iseul diadakan di kota Los Angeles. Ia bersama rombongan tim tiba seminggu sebelum pembukaan olimpiade. Selama itu selain berlatih, mereka diberi kesempatan untuk sekedar berjalan-jalan di Los Angeles.

Dan sekarang adalah hari H. Hari dimana Iseul akan menghadapi pertarungan yang sesungguhnya. Bukan hanya kebanggan diri yang ia perjuangkan, tapi juga kebanggan negaranya, Korea. Ini adalah saat paling penting.

Mengingat itu membuat Iseul muak menatap pantulan dirinya di cermin toilet.

Dirinya tadi sudah selesai melakukan pemanasan dan bersiap di tempatnya. Tapi tiba-tiba rasa nyerinya datang menyerang. Membuat dia harus ijin pergi ke toilet ke panitia.

Tanpa membuang waktu, Iseul segera mengeluarkan obat-obat biasa yang diperlukannya di saat-saat seperti ini dan meminumnya. Rasa nyerinya memang berkurang, tapi belum hilang sepenuhnya. Namun pengumuman barusan mengharuskannya bersiap di arena sesegera mungkin.

Sekarang Iseul sudah bersiap di arena dengan peserta lain.

Begitu pistol ditembakkan, Iseul tidak punya pilihan lain selain berlari secepat yang ia bisa.

 

***

 

Chanyeol segera berjalan keluar lift begitu pintu terbuka. Sekarang ini dia tengah berada di salah satu kantor televisi untuk menjemput noonanya. Atau lebih tepatnya dia yang harus pulang bersama noonanya dikarenakan setelah ini mereka harus segera pergi ke rumah kerabat mereka.

“Studio berapa tadi? Stu-studio lima?” Chanyeol bergumam pada dirinya sendiri.

“Ah, jo-jogiyo!” Chanyeol menghentikan seorang pria dengan rompi bertuliskan crew, “apa siaran berita di studio lima sudah selesai?”

“Selesai sekitar lima menit yang lalu.”

“Aku mencari noonaku!” sergah Chanyeol cepat sebelum pria itu kembali berjalan, “dia salah satu penyiar disini. Park Yoora.”

“Ah, Park Yoora,” angguk pria itu, “dia ada di ruangan di sebelah studio lima. Kurasa masih berbincang-bincang dengan staff yang lain.”

“A, geuraeyo. Kamsahamnida.” Chanyeol tersenyum seraya membungkukkan badannya yang dibalas senyuman oleh pria tadi.

Chanyeol kemudian bergegas menuju ruangan yang dimaksud oleh pria tadi. Dari luar terdengar cukup ramai dan ia bisa lamat-lamat mendengar suara noonanya di dalam. Dengan gugup, Chanyeol membuka pintu ruangan itu perlahan.

Situasi yang ramai di dalam membuat Chanyeol ragu untuk masuk. Dia merasa kikuk untuk masuk begitu saja.

“Hei, nak! Ada yang bisa kubantu?” seorang pria dengan setelan jas warna abu-abu bertanya pada Chanyeol.

“A-aku mencari noonaku. Park Yoora.”

“Oy, Yoora! Kau dicari adikmu!”

Begitu pria itu berseru, Chanyeol bisa melihat noonanya melihat kearahnya.

Yoora melambaikan tangannya dan berkata, “Masuklah. Tidak apa-apa.”

Dengan kikuk, Chanyeol berjalan masuk. Bahasa tubuhnya kaku sekali. Efek dari masuk tiba-tiba ke tempat yang begitu asing baginya.

“Jadi dia adikmu?”

Omo! Jinjja meossisseo!”

“Tinggi sekali!”

“Mirip denganmu, Yoora-ya!”

Belum lagi ocehan-ocehan itu.

A-annyeonghaseyo. Park Chanyeol imnida, Yoora noona-ui namdongsaeng.” Mau tak mau Chanyeol memperkenalkan dirinya.

Di luar dugaan, rekan-rekan kerja kakaknya menyapanya dengan ramah. Chanyeol mulai merasa nyaman berada di sini. Setelah membalas sapaan-sapaan dari rekan-rekan kakaknya, Chanyeol mendekati kakaknya.

“Ada apa kau kemari? Tumben sekali.” Yoora memulai pembicaraan.

“Setelah ini kita disuruh langsung ke rumah paman. Bibi tiba-tiba masuk rumah sakit. Ayah dan ibu sudah pergi terlebih dahulu, jadi aku disuruh pergi bersama noona,” jelas Chanyeol.

Yoora mengangguk-angguk. “Begitu. Tunggu sebentar lagi, ada beberapa barang yang masih harus kubereskan.”

Eo.”

Chanyeol mengamati sekelilingnya. Suasana kerja yang positif dan begitu hidup.

“Perasaanku saja atau orang-orang disini sedang bahagia?” Chanyeol bertanya pada Yoora.

“Bukan perasaanmu. Itu kenyataan.”

Wae?”

“Dua pelari muda kebanggan Korea berhasil merebut medali emas di nomor seratus meter di olimpiade yang diadakan di Amerika tahun ini.” Yoora menyodorkan tabletnya pada Chanyeol.

Chanyeol membaca judul headline yang tertera di sana. “Dua Emas Untuk Korea Dari Putra-Putri Berbakat Korea”. Sekarang Chanyeol lebih mengerti. Dua medali emas nomor seratus meter masing-masing di kategori putra dan putri. Chanyeol merasa salut pada kedua atlet itu.

“Kudengar mereka berdua dekat,” celetuk Yoora.

Nuguya?”

Yoora menunjuk-nunjuk dua atlet dalam foto berita tadi, “Dua orang ini.”

“Tidak mengejutkan. Mereka berdua sama-sama atlet,” sahut Chanyeol datar.

Kajja.” Yoora menarik tabletnya kembali dan memasukkannya ke dalam tas. “Yorobun, aku pulang lebih awal kali ini. Salah satu kerabatku sedang sakit.”

Eo, hati-hati Yoora-ya!”

“Sampai jumpa besok!”

Ne, ne!” Yoora menyahut cepat sebelum ucapan-ucapan sejenis membanjiri dirinya. Sementara Chanyeol membungkukkan badannya dengan hormat.

 

― Lanjut? ―

 

 

 

Glossary              :

  • Hot bar : Saudara kembarnya odeng (fish cake) berbagai bentuk yang ditusuk dan direbus dalam air kaldu sayuran yang sudah dibumbui. Tapi hot bar ini digoreng, bukan direbus, dan lebih banyak variasi. Ada yang diisi kue beras, juga ada sosis atau hot dog. Biasanya diberi saus tomat atau mustard, atau saus tteokbokki.
  • Eottae : Bagaimana? (menanyakan pendapat)
  • Naega jinjja butakhaeyo : Aku mohon banget
  • Junbi : Sedia (aba-aba)
  • Sijak : Mulai
  • Geokjeonghajima : Jangan khawatir
  • Jagiah : Panggilan sayang
  • Jogiyo : Permisi
  • Geuraeyo : Begitu (sopan)
  • Meossisseo : Tampan, good-looking
  • Yoora noona-ui namdongsaeng : Adik laki-lakinya Yoora noona

 

A/N      : First of all, maaf karena update chapter ini lama. Selain karena kena writer’s block dan niat tercecer kemana-mana, paketan juga udah habis -.-v Cukup kaget juga soalnya chapter ini selesai dalam dua hari padahal sebelumnya kena WB cukup parah. Semoga bisa menghibur dan memuaskan readers sekalian 🙂

Iseul sama Chanyeol udah ketemu tuh! Yah, bisa dibilang begitu. Tapi bukan dalam artian ‘ketemu’ yang sebenarnya. Di dalam rangka buat chap ini sebenernya gak ada scene Chanyeol sama Iseul ketemuan. Tapi kalo ditelisik lagi, nanti bakal aneh kalo mereka tiba-tiba ketemu (dalam arti sebenarnya) tanpa ada apa-apa(?) dulu. Jadinya begini deh 🙂

Scene Minho/Iseul. Len rasa masih kurang deh, huhuhu. Kurang sweet, kurang nge-feel, kurang kurang deh. Well, Len gak pinter dalam hal-hal berbau romance gitu. Kalo kata BIGBANG, “I’m so stupid in love.” Indeed. Tapi gimana menurut readers?

Terus Len pikir alur di chap ini kecepetan. Dari yang seleksi nasional ke olimpiade di Amerika. Habis di antara jeda waktu itu gak ada apa-apa yang berarti lagi. Kalo mau diisi romance, Len gak ahli buat scene romance-fluffy. Jadi ada Len cepetin, soalnya juga gak mungkin Len ulur sampe chap berikutnya. Soal detail lomba juga sengaja Len buat begitu, gak mendetail. Te-he! xP

Disini juga udah jelas kalo Iseul menyembunyikan penyakitnya dari orang-orang sekitarnya, kecuali keluarga dan dokternya. Dan udah jelas kalo demo The FOO masih ditolak, hahahaha. Dan Eunji disini (yang merupakan Eunji APink) jadi fangirlnya The FOO, wkwkwkwk.

Kasian The FOO, ditolak mulu. Iya, kasian. Doakan saja mereka supaya suatu saat diterima.

Minho/Iseul cuma segitu aja? Hoho, mari kita mata-matain mereka sama-sama buat yang satu ini.

Iseul sakit apa? Udah, ikutin aja fanfic ini 🙂

Ma, segitu aja dulu cuap-cuap Len. Bagi yang mau tanya-tanya, komen, review, kasih kritik atau saran, diskusi soal fanfic ini, atau yang masih berhubungan sama fanfic ini Len layani di kolom komentar. Dan buat fanfic Crescent Moon” kalo gak ada halangan, bakal update besok 🙂 Pantengin ya? Wkwkwkwk

Oh ya, satu lagi. Please banget… jangan panggil saya “thor”. Tau, maksud kalian itu “author”, tapi jatohnya malah kayak kalian manggil Thor The Avengers, abangnya Loki -_- Panggil aja “Pal”, “Vhasta”, atau “Len”. Pokoknya jangan “thor”, please banget.

Geuraeseo, see you next chapter! Masih sama author cakep ini 🙂

15 tanggapan untuk “Tempus Fugit, Amor Manet [Chapter 03]”

  1. Sempet khwtr 이슬 akan collapse, tp trnyt ngga ☺ mlh bs dptn gold medal 🌟 짱..!! 👏
    Cemungut eeaa my flower boys, 누나 ykn xan pasti bisa!! 파이팅 💪
    Wlw br dikit tp udah sweet kok moment’ny 민호 & 이슬. Kren jg jd atlet panahan, bebawaan busur & anak panah srasa jd ksatria gt. 은지 jd fangirl sjati ky di reply 1997, heboh.. 😄

  2. udah mulai ada hubungan antara Iseul sama Chanyeol di part ini, seneng karena biasanya ff slalu pemeran utama nya memang udah dipertemukan sejak awal atau langsung ada hubungannya , ini bner2 beda, banyak positifnya gk langsung happy tapi perjuangan, suka sukaa.. keren deh.. chaa lanjutin yaaa.. semangat

  3. salut sama iseul, sakit-sakit masih bisa bikin prestasi.
    alurnya emang kecepetan tapi entah kenapa aku suka.
    aku bener-bener nunggu moment iseul ketemu sama chanyeol
    semangat nulisnya…

  4. Hahhh ini chanyeol ama iseul kapan ketemunya T^T udh gasabar nihhh..
    Manggilnya unn aja gimana? ^^
    Keep writting ya unn! Fighting!

  5. keknya eunji bakal jadi jembatan iseul ketemu chan deh…
    aku sempet yes gitu waktu tau akhirnya ada adegan iseul-chan, walau sedikit nggak papa, aku tatap menantinyaaaa.. iseul-minho mulai manis-manis gitu yaa wkwk
    oh ya, len, cuma koreksi dikit bagian ‘mengacuhkan’, setau aku acuh itu peduli hehe 🙂
    btw len di garis berapa ya? mungkin aja aku seharusnya manggil kak hehe
    semangat terus buat fic-nyaaa^^

    1. Eh iya, makasih buat koreksinya 🙂 /tapi masih males ngedit orz/
      Hehehe, Len ada di garis horizon /plak/ Aih, gak usah repot-repot, Len aja cukup

  6. waaaa.. chap 3 akhirnya keluar jg hehe.. aku penasaran kpan si iseul ama chanyeol ketemu benaran… aku tunggu next chap nya ya 🙂

  7. akhirnya di post jgaa.. chap 3 nya udh di tunggu sebelum negara api menyerang. hehe, ihh. minho maen pegang pegang tangan isseul ajaa. wkwkwkw.penasaran deh gmna chanyeok sama isseuk ketemu. di tunggu chapt 4 nya ya?.

  8. Ah chukkae iseul dan minho. Woah daebak tapi aku penasaran dengan penyakit yang diderita iseul. Ah sepertinya minho menyukai eunjikah? Atau iseul? Iseul menyukai minho kan. Apa yang akan mempertemukan mereka .
    Next chapternya ya thor

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s