Say Something

Title : Say Something|| Author : Kazuha

Lenght : Oneshoot || Genre : Romance, Happy Ending

Main cast : Park Sena & Kim Jong In

Support cast : Ahn Youngmi&D.O Kyungsoo

Disclaimer : Fanfiction ini hasil karya saya sendiri, sedikit mengambil dari pengalaman pribadi. Semoga suka dengan ceritanya. Oh iya, saran dan komentar boleh banget loh. 🙂

~Say Something~

Percayalah, jangan langsung mengambil kesimpulan dengan apa yang kau lihat. Katakan sesuatu. Tanyakan sesuatu. Jangan menghilang yang hanya akan membuatmu menyesal pada akhirnya.

**

Aku melihatnya. Aku menatap matanya. Ingin sekali aku kirimkan senyumku iniseperti yang biasa aku lakukan saat ia melihat ku. Tapi aku sadar aku tak bisa melakukannya. Karena ia bukan milikku lagi, ia sudah milik orang lain

Hari ini tepat 4 tahun sejak ia memintaku untuk berteman saja, atau kata lainnya ia memutuskanku. Aku sungguh tersiksa dengan perasaan ini. Karena kami satu kampus, aku masih sering bertemu dengannya, dan kali ini lebih tersiksa lagi dengan seorang gadis yang berdiri disampingnya. Gadis yang lebih cantik, dan aku berharap lebih baik dariku. Dan gadis itu kini sedang menggandeng tangan pria yang sedang ku lihat. Ada perasaan aneh di hatiku, entah sakit, entah cemburu. Yang jelas aku tidak suka melihat tangan itu menggandengnya. Tapi tak ada yang bisa aku lakukan. Aku hanya bisa diam melihatnya.

Rasa tolong pergilah dari hatiku, karena tuannya sudah dimiliki oleh yang lain.

 

“Sena.” suara temanku membuatku mengalihkan pandangan dari sosok tadi ke gadis yang berdiri didepanku.

“Ya kenapa, Youngmi?”

Sebelum menjawab,Youngmi mengatur nafas dahulu. “Akumemanggilmu dari tadi. Kau malah diam saja.”

“Memang ya? Mian akutidak mendengarnya.”

“Tidak dengar atau pura-pura tidak dengar. Memperhatikan Kai mulu sih.”

“Kapan akumemperhatikanKai. Jangan sok tahu. Dosennya sudah datang, ayo masuk.” Aku menggandeng tangan Youngmi agar dia tidak bertanya apa-apa lagi. Sebelum masuk aku menoleh kebelakang sebentar untuk melihat namja tadi.

Yaa, benar. Sosok yang aku lihat tadi adalahKai. Dia kuliah di kampus yang sama denganku. Kami berada di tingkat yang sama hanya berbeda jurusan, dan aku mengenalnya sejak mengikuti acara kampus.Dia begitu baik dan rajin, membuat aku yang kala itu sedang tidak ada kegiatan, membantunya merapikan meja yang berantakan penuh kertas-kertas untuk kegiatan akhir bulan. Setelah selesai, aku memberanikan diri untuk mengajaknya berkenalan, dan sejak itu kami mulai dekat. Hampir 4 bulan dekat, dia mengajakku pergi ke suatu tempat.

*Flashback

“Kai, untuk apa kau menutup mataku seperti ini?” Aku berjalan dengan dibantu Kai, karena mataku ditutup sebuah kain.

“Tentang saja, kau hanya perlu mengikuti arahan dariku.”

Tidak lama kemudian, dia berhenti memegangiku. Karena tidak ada jawaban saat aku memanggil namanya, aku membuka penutup mataku. Terkejut adalah kata pertama saat mataku melihat apa yang dilakukan pria itu. Dia sedang memegang sebuah kertas kartonbertuliskan ‘Please be Mine, Sena’ di depan sana. Dengan pemandangan bukit sore ini, dan juga warna jingga di langit sangat membuatku terkesan. Aku memang menyukai senja, dan Kai tahu itu.

“Kai, kau sedang apa?” hanya kalimat itu yang mampu aku ucapkan dengan semua perbuatannya ini. Aku tidak tahu dia akan membawaku kesini, tempat yang sudah lama ingin aku datangi. Namun tidak sempat karena sibuk kuliah.

“Kau bisa membaca kan?” dia menunjuk tulisan di karton yang di pegangnya.

Aku berjalan mendekatinya, dan menyamakan tinggi badanku dengannya karena dia sedang berjongkok. Aku menangkup wajahnya dengan tanganku, sambil tersenyum malu aku mengangguk.

“Yes, i do, Kim Jongin.” kataku akhirnya.

Dia tersenyum dan langsung menaruh kertas besar yang ada ditangannya kesampingnya, lalu menarikku kedalam pelukannya.

“Gomawo. Saranghae, Park Sena.” ucapnya pelan

“Nado. Saranghae, Kim Jongin.” kami tetap seperti itu untuk beberapa menit.

“Sampai kapan kau akan memelukku?” ujarku karena Kai tidak juga melepaskan pelukannya.

“Hehe. Mian.” Kemudian dia melepas pelukannya. Senyum bahagia terlukis diwajahnya.

Flashback end*

Namun, beginilah kita sekarang. Tak lagi saling sapa, tak lagi saling bertukar kabar. Semua seperti dulu, ketika kita tak saling kenal. Segalanya terasa asing. Apapun yang kita lakukan dulu seperti terhapus oleh masa.

 

“Hoam.. Itu dosen menerangkan atausedang berdongeng sih. Buatmengantuk saja.”

“Hahaha seperti kau mendengarkan saja.”

“Kau sendiri memang mendengarkan? Matamumemangmelihat kedepan, tapi aku yakin pikiranmu tidak ada di kelas. Pasti memikirkanKai. Duuh, Sena. Sudah lup..”

“Kau ini sok tahu sekali. Aku lapar, ayo ke kantin.” Aku memotong ucapan Sena. Percayalah aku sudah tahu ia akan mengucapkan apa.

Aku memang memikirkan Kai, sosok yang tadi pagi aku lihat di lorong kampus. Dia masih sama. Tetap manis, tetap dengan pesonanya. Namun bedanya, kini bukan aku yang mengisi hari-harinya. Tempat itu sudah digantikan sosok gadis cantik. Aku tidak mengenal gadis itu, hanya pernah melihat di akun jejaring sosial milik Kai. Hahaha, jujur aku masih suka men-stalking akun milik namja itu. Sederhana saja alasannya, itu karena aku masih menyayanginya. Aku memang sempat menjalin kasih dengan namja setelah dia. Namun itu hanya bertahan kurang dari sebulan, karena yaa aku masih menyayangi mantanku itu. Terdengar jahat mungkin, aku berpikir dengan memiliki kekasih aku dapat dengan mudah melupakannya.

But, how can i forget you. When you have given me somuch to remember.

**

“Youngmi, aku di perpustakaan. Kalau kau sudah berada di kampus, hubungi aku.” Pesan itu kukirim untuk Youngmi. Sudah dua bulan aku tidak melihat temanku ini. Itu karena aku sibuk dengan kerjaku. Karena kerjaan pula, hampir 3 bulan ini aku tidak melihat sosok Kai di kampus.

Hari ini aku ada kelas jam 11, tapi sekarang baru jam 9. Aku memang sengaja datang lebih awal untuk menghindari macet. Dan untuk menghabiskan waktu, disinilah aku, perpustakaan kampus.

Setelah memilih buku, aku mulai membaca. Bukan buku tentang materi kuliah melainkan sebuah novel. Aku mulai hanyut dengan novel yang ku baca.

“Sena..?”

Aku menghentikan kegiatanku membaca, dan mengalihkan pandangan ke arah suara yang memanggilku tadi.

“Kai.” Entah karena aku yang terlalu fokus membaca atau dia yang berjalan tanpa suara, aku tidak menyadari kehadirannya.

“Haha. Benar kau Park Sena.” Kemudian dia berpindah duduk kedepanku.

“Sedang apa?” sambungnya

“Sedang membacanovel.” aku mengangkat novel yang kupegang.Berusaha sebisa mungkin agar tidak gugup. Bagaimana bisa tidak gugup, sosok didepanku ini adalah orang yang membuat jantungku berdebar walau hanya melihatnya saja. Dan kali ini aku harus berbicara dengannya (lagi).

“Kau?”

“Emm aku hanya bosan di rumah jadilah aku kesini.”

Aku mengerutkan alis. “Memang tidak ada kelas?”

“Ada, danbaru selesai.” Katanya sambil tersenyum memperlihatkan deretan putih giginya.

Aku hanya mengangguk. Ingin sekali aku menanyakan alasannya memutuskan hubungan kami. Tapi aku takut untuk tahu alasannya.

“Hanya satu matakuliah saja?”

“Ada dua, tapi nanti jam 3.”

“Emm sudah berapa lama yaa kita tidakberbicaraseperti ini?” sambungnya

‘Itu karena kau sibuk dengan kekasihmu.’

“Sepertinya sudah 4 tahun lebih.”

Kemudian hening diantara kami. Aku tidak berminat untuk bertanya, mataku hanya melihat sampul novel yang sedang kupegang.

“Emm, Sena..?

“Iya, kenapa?” aku mengalihkan pandangan dari novel lalu menatap matanya.

“Bagaimana kabarmu?”

‘Kabarku atau kabar hatiku?’

“Seperti yang kau lihat. Aku baik-baik saja. Kau sendiri, apa kabar?”

“Sama seperti dirimu,aku juga baik.” Dia menyunggingkan senyum manisnya yang sudah lama tidak aku lihat.

“Sudah makan?” tanyanya setelah melihat jam dinding menunjukan pukul 11.15.

Aku menggeleng.

“Bersediamenemaniaku makan?”

Aku tidak segera menjawab.

“Mengapa diam saja? Mau tidak? Aku yang bayar.”

Bukan itu alasan aku terdiam. Aku hanya memikirkan reaksi kekasihnya ketika melihat namja ini makan bersamaku, mantan kekasihnya.

“Kekasih mu bagaimana? Tidak akan marah?”

Dia tersenyum lalu menggeleng. “Akusudah putus dengannya.”

~

“Sudah putus? Kapan? Mengapa?” rentetan pertanyaan itu ku tanyakan pada sosok yang kini sedang sibuk dengan makanannya. Kini kami sudah berada di kantin kampus.Kai memesan bibimbap sedangkan aku hanya membeli minum saja.Dan Youngmi, tadi aku sudah mengiriminya pesan, aku bilang hari ini tidak jadi masuk kelas karena tidak enak badan. Semoga saja dia tidak kekantin dan menemukan aku sedang bersama namja ini.

“Entahlah. Aku merasa hubungan kami terasa semakin hambar saja.” ucapnya datar masih menyantap makanannya.

“Hahaha.”

Aku mendapat tatapan aneh darinya karena tawaku.

“Mengapa tertawa?”

Aku mengontrol tawa ku. “Hanya karena hambar kau putus dengannya. Hahaha kau ini lucu sekali.”

“Kai, akuberi tahu ya. Suatu hubungan itu tidak akan selamanya baik-baik aja. Pasti ada rintangannya. Begitupun hambar, itu juga termasuk rintangan. Mungkin kemarin kalian berdua sama-sama sibuk, jadi jarang bertemu. Kalau jarang bertemu, terlebih jarang berkomunikasi pasti akan terasa hambar. Namun putus bukan solusinya. Harus di pikirkan baik-baik.” Sambungku setelah tawaku mereda.

Dia seperti memikirkan apa yang barusan aku katakan. Sejurus kemudian dia tersenyum padaku. Aah aku merindukan senyum itu. Senyum yang tertuju untuk ku. Bukan senyum yang dia sunggingkan untuk kekasihnya waktu itu.

Kusadari hinggi kini kamu masih menjadi laki-laki dengan senyum manis yang sering kali kucuri keindahannya dengan diam-diam menatapmu.

“Memang benar apa yang kaukatakan tadi. Waktu itu aku sibuk, disaat bersamaan dia juga sibuk. Kami jadi jarang bertemu, hampir tidak pernah malah. Bertukar pesan juga hanya sesekali.Setiap kali aku mengajaknyabertemu dia selalu mengatakanlelah. Aku bisa apa selain memberi pengertian. Namun capek hati juga lama-lama kalau harus selalu memberi pengertian.” katanya tidak bersemangat.

“Biarlah, sudah berlalu. Emm, kau sudah selesai?” sambungnya

Aku mengangguk sebagai jawaban.

“Aku bayar dulu.” katanya sambil berlalu menuju kasir dikantin kami. Lalu kembali kemeja ku.

“Baru jam setengah 12.” Kai melihat jam tangannya.

“Lalu kau ingin kemana setelah ini?” sambungnya.

“Emm mungkinaku pergi perpustakaan lagi. Malas kalau langsung pulang, aku bosan di rumah.”

“Oh kalaubegitu aku juga ikut. Kalauaku pulang sekarang nanti jam 3 aku tidak yakin akankembali kesini lagi.”

Aku mengangguk dan berdiri. Kini kami berjalan menuju perpustakaan yang berada dilantai 5.

~

“Kau masih diperpustakaan?” tanyaKai di telfon. Sebelum dia meninggalkanku di perpustakan untuk masuk kelas, dia meminta nomor ponselku.

“Ne. Mengapa?”

“Aku sudah keluar kelas. Kauingin aku antar pulang tidak?”

Aku terdiam. Berpikir dengan seksama. ‘Antar pulang? Selama ini aku belum pernah di antar pulang olehnya.’

“Halo.. Sena”

“Eeh iya. Tidak merepotkanmu memang?” aku langsung tersadar dari lamunanku.

“Hahaha. Tidak merepotkan kok. Jadi mau tidak?”

Aku mengangguk yang tentu saja tidak dilihat oleh Kai.

“I..iya, aku mau.”

“Ya sudah aku tunggu di parkiran.”

Setelah mengatakan itu dia menutup telfonnya. Aku langsung menaruh novel yang kubaca tadi ke tempat semula. Kemudian turun menuju parkiran.

**

Setelah pertemuan di perpustakaan waktu itu. Aku dan Kai kembali dekat. Youngmi juga sudah tahu kalau aku kembali dekat dengan mantanku. Semula dia tidak setuju kalau aku dekat-dekat lagi dengan Kai, karenanamja itu pernah menyampakkan ku. Namun, melihatku selalu tersenyum setelah bertemu dengan Kai, Youngmi akhirnya setuju.

Kai selalu menjemput dan mengantarku. Dia juga kadang mengajak ku jalan-jalan, seperti sore ini. Dia tidak langsung mengantarku pulang, tapi dia mengajakku melihat danau dulu. Ini kali keempat dia mengajakku ketempat ini. Aku menyukai tempat ini, tenang tidak banyak orang. Kami suka menghabiskan waktu disini. Dengan beralaskan rumput, kami duduk menghadap danau.Terjadi keheningan di antara aku dan Kai.

“Kai? ucapku pelan namun tetap terdengar olehnya.

“Kenapa?” dia masih memadang lurus menatap danau.

“Emm aku ingin bertanya sesuatu. Boleh?”

Dia hanya mengangguk.

‘Aku harus bertanya. Tidak peduli apa jawabannya, aku harus kuat.’

“Mengapa kaumemutuskanku waktu itu? Apa alasannya?” kata-kata itu meluncur dengan lancar dari bibir mungilku.

“Hahahaaku sudah yakin kauakan menanyakan itu.” Kai menyampingkan duduknya menatapku.

“Akumemutuskan dirimu karena aku cemburu kau dekat sekali dengan Kyungsoo.”

“Kau cemburu dengan Kyungsoo? Kau tahu aku dengannya hanya berteman. Tidak lebih.” Bagaimana bisa dia cemburu dengan temannya itu.

“Tapi yang terlihat kalian bukan seperti teman biasa. Kau ingat ketika di lapangan basket, dia memelukmu erat saat kami memenangkan pertandingan.” Terlihat dia sedikit marah saat mengatakannya.

“Hei itu karena dia senang, hanya sebatas itu. Saat itu juga kau tidak mengatakan kau sedang cemburu. Kau hanya mendiami ku selama beberapa hari, dan setelah itu kau memutuskan hubungan kita.”

“Itu karena aku berpikir kalian saling menyukai, dan aku hanya menjadi orang ketiga diantara kalian. Tapi setelah aku memutuskanmu dan kalian tidak juga meresmikan hubungan kalian, aku tahu kalau aku salah. Aku hanya termakan oleh rasa cemburu saja, dan aku sangat menyesal. Aku minta maaf untuk kesalahanku itu.”

Sejurus kemudian dia menggenggam tanganku. Aku menoleh, menatap matanya.

“Sena, maukah kau jadi yeojachinguku lagi?”

Aku tidak mampu berkata-kata. Lidahku kelu. Otakku membeku. Tidak percaya dengan apa yang diucapkannya barusan. Aku hanya terdiam menatap matanya yang menunjukkan keseriusan.

“Kai..”

“Emm..”

“Kau serius?”

Dia mengangguk. “Iya aku serius. Jadi jawabanmu?”

Karena aku tidak segera menjawab, dia melepas genggaman tangannya. Kemudian menatap lurus ke depan.

“Ah iya, aku baru ingat. Ini sudah 4 tahun lebih. Tidak mungkin kau masih menyayangiku terlebih aku memutuskanmu tanpa sebab waktu itu.”

Kini aku menyentuh pipinya, menyuruhnya menatapku.

“Jujur saja aku sakit waktu kaumemutuskanku tanpa sebab. Aku cemburu setiap melihatmubermesraandengankekasih barumu. Tapi, akutidak tahu mengapa aku masih belum bisa melupakanmu. Kai, mungkin kau sadar, aku sering melihat dirimu diam-diam. Mungkin kau juga sadar kalau aku pernah masuk kelasmu, yang jelas sangattidak aku mengerti tentang materinya karena kita beda jurusan. Itu aku lakukan karena aku masih menyayangimu, Kai.”

“Aku mau menjadi yeojachingumu lagi.” kataku akhirnya sambil tersenyum.

Kini ditemani semilir angin yang berhembus pelan, dan juga langit yang berwarna jingga. Kai menarik ku kedalam pelukannya sama seperti waktu di bukit, aku dengan senang hati membalas pelukan itu.

“Gomawo. Aku tidak akan mengecewakanmu lagi. Gomawo.”

Aku hanya mengangguk didalam pelukannya. Lalu dia melepaskan pelukannya. Terlihat senyum mengembang di wajahnya yang manis.

“Kalau kau melihatku dekat dengan namja selain dirimu, jangan cemburu lagi eoh. Karena aku hanya milikmu, Kim Jongin.” aku memperingatinya.

Dia hanya mengangguk lalu tersenyum manis.

“Sudah mau gelap, kajja kita pulang.” ajakku sambil berdiri.

“Kita sebentar lagi disini. Aku masih ingin berdua denganmu.” Dia menarik tanganku menyuruhku duduk kembali. Aku menuruti permintaannya.

“Kapan kau masuk kelas ku? Aku tidak pernah tau.”

“Tidak tau?”

Dia mengangguk. “Iya, aku tidak mengetahuinya. Aku tidak pernah melihat kau masuk kelasku.”

“Tidak mungkin juga kau melihatku. Waktu itu aku duduk di belakang. Sepanjang pelajaran yang aku lihat hanya dirimu. Kau yang sedang melihat penjelasan dosen, kau yang sedang berbicaradengan teman sebelahmu. Lalu juga kau yang bercanda dengan pacarmu. Itu membuatku ingin cepat-cepat keluar kelas. Tapi tidak mungkin aku lakukan, karena dosen mu masih menjelaskan, padahal aku tidak paham apa yang dia jelaskan.”

“Hahaha mengapa sampainekat masuk kelasku? Kita beda jurusan, ya sudah pasti kau tidak akan paham. Berapa kali kau masuk kelasku?”

“Hanya sekali. Saat itusaja aku tidak kuat lama-lama di kelasmu. Aku tidak akan pernah masuk kelasmu lagi.”

Dan begitulah kisah cintaku. Awalnya manis, lalu pahit, dan kemudian manis lagi. Semoga manis ini akan selalu terjaga. Karena dia milikku, dan aku miliknya.

My love for you is like time if you give me it just one moment it will last forever.

*end*

Hai. Terima kasih sudah membaca karyaku.

7 tanggapan untuk “Say Something”

  1. huuuaaa so sweet bngt!! happy ending pula..
    pertamanya kira bakalan sad ending tapi ternyata enggak..

    ok keep writing

  2. Say something and i giving up on you… /nyanyi/
    Ya ilah kai, kai .. naif sekale kamuuu
    Btw, nice story. Aku bisa ambil kesimpulannya. Bagus sih, apalagi jika sering nulis ff lagi, biar tambah terlatih.. tapi bagus kok. Aku suka 😊
    Keep writing ^^

  3. sena nekat amat sampe masuk kelas Jongin mana dapet pemandangan Jongin lagi becanda sama pacarnya ahaha sian.. tapi akhirnya mereka balikan..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s