Tempus Fugit, Amor Manet [Chapter 02]

tfam

 

Ketika sang atlet lari dan drummer sebuah band yang belum debut dipertemukan dengan cara tidak terduga dan masing-masing mulai memiliki rasa. | “Sunbae, gumawo…” | “Aku… aku janji akan lebih mengenalmu.” | “The best love story is when you fall in love with the most unexpected person at the most unexpected time”― Anonymous

Len K present… Tempus Fugit, Amor Manet

Rate: T, PG-15

Romance, Hurt/Comfort, Supranatural, a bit humor

Chanyeol EXO, Cha Iseul (OC), Minho SHINee, Kai-Sehun-Chen-Lay EXO dan beberapa idol/actor dan OC sebagai support cast

Warning: AU, Semi-canon, OOC (maybe), typo, humor garing, rush

Poster by Aqueera at posterdesigner.wordpress.com

A/N                        : Disini Chanyeol dan Iseul (masih) beda sekolah. Hope you don’t get confuse.

.

.

.

Chapter 02 ― Summer’s Petrichor

.

.

 

Mobil Hyundai silver Chisoo sudah terparkir dengan baik di pelataran parkir rumah sakit. Si pengemudi turun bersamaan dengan si penumpang. Keduanya segera berjalan menuju pintu masuk rumah sakit yang langsung mengarah pada lobi rumah sakit yang luas.

Ada banyak orang yang berada di lobi. Ada juga mereka yang mengantri atau bertanya pada resepsionis. Para pekerja rumah sakit dalam balutan seragam atau para dokter dalam jas putih nampak hilir-mudik. Cukup sibuk sepertinya. Bau rumah sakit juga langsung menyeruak. Semua itu hal-hal yang sudah tidak asing lagi bagi Iseul.

“Hei!” teguran dari Chisoo yang sudah berdiri di depan lift menyentak kesadaran Iseul. Iseul segera berlari kecil ke samping kakak tersayangnya. “Dasar. Jangan berkeliaran sesukamu,” omel Chisoo.

Iseul terkekeh. Lalu ketika pintu lift terbuka, semua orang di dalamnya keluar. Iseul dan Chisoo masuk. Telunjuk panjang milik Chisoo menekan angka lima begitu pintu lift tertutup. Perlahan tapi pasti, lift mulai bergerak ke atas. Chisoo dan Iseul hanya berdua di dalam lift dalam diam. Satu-satunya suara yang mereka dengar adalah bunyi desisan lift yang begerak.

Bunyi ‘ting’ yang cukup keras disusul bunyi pintu lift yang mendesis terbuka mempersilahkan dua bersaudara itu untuk keluar. Lantai lima tidak seramai lobi tadi. Keduanya segera menuju ke ruangan Bae Hongsik sonsaengnim yang terletak tidak jauh dari lift. Hanya perlu berjalan lurus kemudian belok ke kanan pada persimpangan, setelahnya ruangan dokter itu berada di ruang ketiga di baris kiri.

Sonsaengnim! Annyeong!” Iseul langsung membuka pintu ruangan dan menyapa dengan keras dan riangnya.

Sosok dokter paruh baya menyambut sapaan itu dengan senyuman dilanjut kekehan. Matanya yang bersembunyi di balik lensa plus sedikit menyipit karenanya.

“Rupanya Cha Iseul. Oh, kau datang bersama kakakmu kali ini? Lama tidak bertemu denganmu, Chisoo. Semakin sibuk mendekati semester akhir?” perhatian Hongsik sonsaengnim tertuju pada pemuda bertubuh jangkung yang surai hitamnya kini diwarnai dengan warna brunette.

Chisoo dan Iseul sudah duduk tanpa dipersilahkan.

“Yah, begitulah. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya saat co-ass nanti.” Chisoo tiba-tiba menjadi curhat.

“Tidak begitu buruk, kok. Co-ass itu pengalaman yang seru meski kau akan lebih banyak merasa kelelahan. Ah, nanti aku ceritakan padamu beberapa pengalamanku saat co-ass,” ucapan Hongsik sonsaengnim terdengar seperti janji meski tidak ada kata ‘janji’ di dalamnya. “Sekarang bagaimana denganmu, Iseul? Kau tidak menelantarkan obatmu, ‘kan?” tanya Hongsik sonsaengnim dengan tatapan menyelidik.

“Tentu tidak, sonsaengnim. Mana bisa aku menelantarkan mereka? Hahahaha!”

Mendengar adiknya berkata seperti itu, membuat hati Chisoo terasa sesak. Hidup adiknya kini bergantung pada obat-obatan. Kenyataan yang menyedihkan tapi adiknya itu malah menanggapinya dengan riang. Seakan semua itu adalah hal normal.

“Oh ya, sonsaengnim. Sebelum liburan musim panas nanti sekolahku akan mengadakan festival dan class meeting. Aku akan mengikuti perlombaan estafet. Aku jadi pelari terakhir, lho. Aku pasti akan membawa kemenangan pada kelasku!” oceh Iseul lagi dengan bersemangat.

Hongsik sonsaengnim tertawa. Semangat Iseul selalu berhasil menggelitiknya dan membuat moodnya menjadi lebih baik. “Itu bagus. Tapi sebelumnya mari kita lakukan pemeriksaan rutin dahulu. Ah ya, apa obatmu hampir habis?”

“Baru saja aku akan meminta resep lagi. Sonsaengnim baik sekali ya? Ingatan sonsaengnim masih tajam, juga perhatian pada pasien. Aku beruntung jadi pasienmu, sonsaengnim!”

“Ya, ya, terima kasih atas pujianmu itu. sekarang bisa kita mulai pemeriksaannya?”

“Tentu!”

 

***

 

Kerumunan siswa di depan majalah dinding sekolah tidak jadi halangan bagi Jongin. Dengan tubuh jangkungnya ia tidak begitu kesusahan untuk melihat informasi yang tertempel di sana. Tetap saja, kerumunan yang ada tetap menghalanginya. Dan saat ini Jongin berharap tubuhnya bisa bertambah tinggi beberapa senti agar tingginya sepadan atau bahkan melebihi tinggi Chanyeol, drummer idiot di band mereka yang idiot pula.

“Permisi, permisi.” Menggunakan tangannya, Jongin membelah lautan manusia yang menghalanginya.

Tangannya terasa kikuk karena kehati-hatiannya. Bukan hanya siswa pria yang berkerumun, tapi juga siswa putri. Akan jadi masalah besar jika tangannya secara tidak sengaja menyentuh bagian–mm, kau tahulah apa itu.

Manik milik pemuda berkulit tan itu segera bergerak-gerak menyusuri deretan-deretan kalimat yang tercetak di selebar pamflet warna oranye cerah. Sudut-sudut bibirnya tertarik keatas membentuk sebuah senyum ketika ia menemukan apa yang ia cari. Tanpa buang-buang waktu lagi, Jongin keluar dari kerumunan itu dan berlari.

.

.

“Disini rupanya kalian.”

Jongin sudah berhenti berlari saat menemukan teman-temannya duduk-duduk santai di tepi lapangan sepak bola. Kini ia berusaha menormalkan pasokan oksigen di paru-parunya setelah berlari hampir mengelilingi komplek sekolahnya―hanya untuk menemukan teman-temannya. Tubuhnya membungkuk dengan kedua tangan yang bertumpu pada lututnya.

“Ya, kau benar. Kami… berada di sini, Jongin-ssi. Ada keperluan apa kau kemari?”

Decakan pelan keluar dari mulut Jongin. Chanyeol masih terbawa perannya sebagai seorang bangsawan di pelajaran sastra tadi. Atau Chanyeol memang sengaja–untuk menggodanya, tentu saja―setelah Jongin melihat senyum derp milik Chanyeol.

“Jadi?” Sehun menaikkan sebelah alisnya.

Kini semua mata tertuju pada Jongin. Membenahi posisinya, Jongin berdiri. Ritme pernafasannya kembali normal dan bibirnya menyunggingkan senyuman.

Band kita…”

“Ya?”

Band kita…”

“Uh-huh?”

Sengaja Jongin tidak menyelesaikan kalimatnya dengan cengiran lebar.

“Demi Tuhan, katakan saja Kim Jongin!” lengkingan tinggi Jongdae mengoak tak sabar.

“Oke, oke, cukup sudah main-mainnya. Lagipula aku juga tidak sabar mengatakannya. Jadi, gentlemenband kita lolos seleksi untuk mengisi acara festival musim panas sekolah!” antusiasme Jongin menular dengan cepat ke yang lain.

Seketika suasana tepian lapangan jadi lebih ramai hanya dengan lima orang siswa pria–yang pada mulanya sudah gila kini lebih gila lagi, mengalahkan mereka yang bermain bola di tengah lapangan sana. Ah, euphoria berlebihan kelima siswa itu langsung menarik perhatian sekitar―yang tentu sama sekali tidak digubris oleh kelimanya.

Mereka bicara tentang festival musim panas Myeongji Godeunghakgyo. Festival bergengsi tahunan yang sudah berlangsung sejak sekolah berbasis seni ini didirikan dan terbuka untuk umum. Tidak mudah untuk ingin tampil di festival ini, meski ini sekolahmu sendiri. Dan kini, mereka berhasil membuat langkah baru.

“Tapi bukankah artinya kita harus berlatih lebih keras untuk penampilan kita di festival sekolah besok?”

Kegaduhan mereka terhenti karena celetukan Yixing.

“Yixing benar. Jadwal kita akan semakin padat. Sekolah, tugas, PR, latihan, tampil di Eternal Memory juga Nowhere. Kelihatan sedikit, tapi aku yakin itu sangat sangat melelahkan.” Sehun bergidik membayangkan kesibukan macam apa yang sudah menanti dirinya.

Jeda tercipta. Masing-masing dari mereka memikirkan ucapan Sehun barusan. Mereka akui jika mereka cukup payah dalam hal manajemen waktu.

“Tapi kurasa… kita bisa memanfaatkan nama kita yang mulai melambung di Eternal Memory dan Nowhere.” Itu dia, smirk khas milik Jongin ketika ide cemerlang yang jarang mampir di otaknya tiba-tiba muncul.

Mwo?”

Jongdae menjentikkan jarinya dengan wajah secerah mentari pagi di musim panas. “Aku paham maksudmu, kkamjong.”

Dua orang dengan dua suku kata pertama nama mereka yang sama itu saling pandang lalu terkekeh. Lebih terlihat seperti duo partner-in-crime yang akan melancarkan aksi mereka.

“Apa aku satu-satunya yang kurang paham di sini? Apa Jongin dan Jongdae sudah bisa melakukan telepati sekarang?” Pertanyaan ngawur, Chanyeol.

“Ampun, pintarlah sedikit.”

Ya! Jongdae! Stop nada sarkastikmu itu!” balas Chanyeol.

Jongdae tidak menggubris peringatan Chanyeol. Toh, sarkastik bisa dibilang merupakan bawaannya sejak lahir.

“Maksud Jongin… bukannya kita berlagak sombong sih, tapi kita sudah mulai mendapatkan nama di Eternal Memory dan Nowhere, bukan? Kita bisa memanfaatkannya untuk menarik pengunjung dari luar untuk membeli tiket festival sekolah agar mereka datang menyaksikan penampilan kita.”

“Benar juga.” Sehun seperti tersadar dari kebodohannya.

“Ide bagus, Jongin.” Dimple manis muncul di pipi Yixing.

Anggukan Chanyeol menjadi tanda jika ia sudah paham sekarang. Tapi tidak ada reaksi berarti yang keluar darinya. Dirinya justru nampak berpikir sekarang.

“Ada apa… Chanyeol?” sepertinya hanya Yixing yang peka terhadap keadaan sekitar.

Senyum lebar khas Chanyeol muncul. “Ah, tidak. Hanya saja aku berpikir… jika kita bisa menjual tiket lebih, kurasa OSIS harusnya juga memberi kita komisi lebih.”

“Mimpilah saja! Lee Jinki tidak bisa dibujuk semudah itu meski kau membawakan satu truk ayam goreng kepadanya,” timpal Sehun.

Oh ya, Lee Jinki si ketua OSIS yang maniak ayam. Jika menyangkut kepentingan organisasi tidak ada yang bisa membuatnya goyah. Bahkan ayam sekalipun!

“Tapi setidaknya, siapa tahu jalan kita untuk debut makin lancar?”

“Kau benar, Yixing!”

 

***

 

Sorak-sorai para siswa Saejeong Godeunghakgyo memenuhi penjuru lapangan. Hari dimana festival sekolah dilaksanakan sudah tiba. Dan jadwal pertandingan class-meeting hari ini adalah lari maraton.

Seluruh perwakilan lomba maraton dari masing-masing kelas sudah menempati tempat mereka masing-masing. Duo Lee Joon dan Mir sudah mulai mengoceh dari tempat MC. Makin meramaikan suasana yang sudah ramai.

Dor!

Begitu pistol angin ditembakkan ke udara, para pelari pertama segera meluncur dengan kecepatan penuh di track. Teriakan dukungan dari siswa untuk perwakilan kelas mereka semakin ramai. Kesemuanya ingin berada paling depan. Posisi mereka sebagai awalan cukup krusial dalam menentukan posisi kelas mereka di garis akhir nantinya.

Dengan selisih waktu yang tidak begitu jauh, tongkat dari para pelari pertama sudah berpindah tangan ke pelari kedua. Saling salip dan memperlebar jarak tidak terelakkan lagi.

Sementara itu, Iseul yang berperan sebagai pelari keempat tidak mengalihkan pandangannya dari pertandingan yang tengah berlangsung. Sempat sekilas Iseul melihat kanan-kiri, siapa yang akan jadi saingannya. Bukannya bermaksud sombong, tapi saingan terberatnya adalah Minho.

Semuanya baik-baik saja dan sebentar lagi tongkat akan berpindah ke pelari ketiga. Hingga―

“Akh!” Iseul menggigit bibir bawahnya.

―rasa nyeri pada tulang-tulangnya mulai menjalar.

Kumohon, jangan sekarang!’ batin Iseul menjerit memohon.

Kini, pelari ketiga sudah mulai memasuki jalur. Iseul menoleh ke belakang. Perwakilan kelasnya, si Lee Minhyuk, sudah memperlebar jaraknya dengan pelari lain.

Aku tidak akan menyerah hanya karena ini!

“Iseul! Lari!”

Mengabaikan rasa nyeri pada tulang-tulangnya, Iseul meraih tongkat di tangan Minhyuk dalam sekejap dan berlari secepat yang ia bisa.

Iseul tahu ini aneh, terdengar mustahil malah. Tapi rasa nyeri itu perlahan-lahan menghilang. Kaki-kakinya semakin kokoh dan ringan untuk berlari. Ini memang bukan perlombaan bergengsi yang pernah ia ikuti berkali-kali, tapi Iseul sudah jatuh cinta pada olahraga lari.

“Iseul! Ppalliwa! Minho sunbae mulai menyusulmu!”

Iseul tersentak. Tidak ada waktu untuk tolah-toleh. Yang bisa dilakukannya sekarang ini hanya terus berlari. Makin cepat, makin cepat, dan makin cepat. Persetan dengan nyeri yang mulai menyerangnya lagi!

“Dan… pemenang lomba maraton antar kelas tahun ini adalah…”

Aku pasti menang! Bertahanlah!

“…Chukkahaeyo! Kelas 2-2 memenangkan lomba maraton ini dengan pelari keempat mereka, Cha Iseul!”

Sorak kemenangan terdengar. Iseul tersenyum puas mendengar nama kelas dan namanya sendiri disuarakan.

Tapi kemudian Iseul terjatuh dalam posisi terduduk hampir tersungkur. Beruntung dua tangan Iseul masih kuat menopang. Iris Iseul menatap nanar track lari di bawahnya. Rasa nyerinya kembali menyerang. Kali ini lebih kuat. Detak jantungnya juga meningkat.

“Iseul!”

Gwaenchanayo?”

Rekan satu timnya dan pelari lain adalah yang pertama menghampiri Iseul dengan ekspresi khawatir. Bagaimana jika Iseul tiba-tiba pingsan?

Yah, aku tidak bisa membuat mereka khawatir, ‘kan?

Gwaenchanayo! Aku hanya… terlalu senang!” Iseul mendongak, menatap wajah-wajah yang terlihat cemas dan tersenyum lebar hingga matanya hanya tinggal garis lengkung.

“Dasar kau ini!”

“Ingin mengejek kami, ya?”

Iseul tertawa pelan mendengar semua cibiran yang ditujukan pada dirinya. Ia tahu itu hanya candaan saja. Iseul ingin bangkit. Harusnya sekarang ia bersiap-siap bersama rekan satu timnya untuk menerima hadiah mereka. Tapi nyeri di tulangnya masih terasa. Hatinya sesak dan ingin menangis saja.

“Kau ini. Manja sekali ya?”

“Eh?”

Tidak jadi. Iseul tidak jadi menangis. Karena sekarang ia tersenyum, lebih hangat dari yang tadi. Di hadapannya, Minho sudah mengulurkan tangannya pada Iseul. Tanpa keraguan, Iseul menerima uluran tangan itu dan mencoba berdiri meski cukup menyiksanya.

Chukkae,” ujar Minho disertai senyuman.

Ne, gumawo sunbae. Sunbae-do chukkae.”

“Eish! Kau mengejekku karena hanya bisa menyabet posisi runner-up? Ahhhh, tidak kusangka aku hanya tertinggal nol koma nol-lima detik darimu. Itu membuatku kesal, asal kau tahu.”

“Hahahaha.” Iseul tertawa. Sejenak ia melupakan soal nyeri yang ia rasakan.

 


 

 

Chanyeol memutar-mutar stik drum dengan tiga jarinya. Jongdae menggumamkan nada-nada sambil sesekali ber-a-o-a-o. Yixing memainkan piano imajinernya. Jongin merapalkan kunci-kunci gitar. Dan Sehun menepuk-nepuk jari-jarinya di pahanya sendiri.

Tidak ada keributan seperti biasa. Semuanya dalam mode tenang. Suatu mode yang hanya akan terjadi sebelum mereka tampil di sebuah acara.

“…selanjutnya akan kita panggilkan salah satu band kebanggan sekolah kita! The… FOO!”

Suara di pembawa acara dan sambutan sorakan dari penonton menyentak kesadaran Chanyeol dan lainnya.

“Giliran kita.” Sehun berusaha terlihat setenang mungkin meski sebenarnya ada gugup yang menyelip dalam dirinya.

Kelima pemuda itu berkumpul membentuk suatu lingkaran kecil. Kemudian tangan kanan mereka maju satu-persatu di tengah.

“The FOO! Five on one, rock the stage!”

Sorakan penonton semakin menggila ketika kelima pemuda yang tergabung dalam band The FOO itu naik ke panggung. Semua sudah siap dalam posisi masing-masing. Jongdae memegang mic. Jongin dan Sehun menyetem gitar dan bass mereka. Yixing mengetes keyboard. Dan Chanyeol memutar-mutar stik dengan tiga jari di tangan kanannya.

Jongdae menoleh kepada teman-temannya. Seolah tahu makna pandangan Jongdae, keempat personil lainnya mengangguk dan tersenyum.

Kembali menatap penonton, Jongdae tersenyum lalu berkata, “Selamat pagi menjelang siang semuanya! Kali ini kami akan mengguncang panggung festival ini dengan sebuah lagu dari sebuah drama populer. Lee Hongki, I’m Saying. Original soundtrack dari The Heirs.”

Teriakan histeris kembali terdengar. Intro mulai dimainkan.

Nan mollae on sarange nollaseo, gaseum sirin gieongman namge haennabwa
Ninune goin nunmuldo moreugo, aesseo oemyeon haetdaneunge huhoegadwae

Lama-lama rasa gugup yang menyelimuti Chanyeol dan kawan-kawannya mulai sirna. Sekarang mereka merasa lebih rileks dan menikmati penampilan mereka. Ditambah dengan fanchant dari penonton. Bahkan beberapa dari penonton ikut bernyanyi.

Sensasi inilah yang didambakan oleh personil The FOO. Reaksi positif dari penonton sudah seperti suplemen bagi mereka.

Neoman boindan mariya neol saranghandan mariya
Nuneul gamado neoman boindan mariya
Neoman burindan mariya neol saranghandan mariya
Ibeul magado neoman burindan mariya

 


 

 

Iseul melangkahkan kakinya ringan di trotoar yang cukup ramai. Hari sudah sore dengan mega yang nampak kelabu. Iseul hanya berharap agar hujan tidak turun sebelum ia tiba di rumah. Ia sedikit menyesal lupa menonton siaran ramalan cuaca hari ini. Juga karena mengabaikan nasehat ibunya untuk membawa payung atau jas hujan. Merepotkan, pikir Iseul.

Bagaimana dengan kakinya? Sekarang sudah tidak apa-apa. Setelah menerima piala atas kemenangannya dan timnya―tentu tidak lupa berfoto pula, Iseul langsung kabur menuju kamar mandi sambil membawa tas genggam kecil.

Di depan wastafel, Iseul mengeluarkan semua isi tas itu dengan rada panik. Ia juga tidak lupa mengunci pintu kamar mandi terlebih dahulu. Berbagai jenis obat-obatan langsung tumpah ruah. Dengan cekatan, Iseul membuka bungkus dari obat-obat tersebut dan melahapnya bersama air mineral. Rasa nyerinya mulai berkurang dan itu membuatnya bernafas lega.

Tik. Tik. Tik.

Iseul menengadahkan tangannya. Titik-titik air langit yang berjatuhan mulai tiba di telapak tangannya. Awalnya pelan, sedikit. Tapi lama-kelamaan menjadi semakin deras.

Air langit yang jatuh cukup tiba-tiba itu langsung membuat orang-orang di trotoar menjadi kocar-kacir. Mereka yang tidak membawa payung atau jas hujan terpaksa berlarian. Ada juga yang menggunakan tas atau barang lain yang mereka bawa sebagai pelindung kepala.

Tak terkecuali Iseul. Gadis itu mengangkat tasnya dan mulai berlari menerjang hujan. Trotoar mulai melengang. Lari Iseul terhenti di depan swalayan dua puluh empat jam yang depannya nampak sepi.

“Haaaa… h, lain kali aku akan mendengarkan ucapan ibu.” Keluhnya sambil melihat baju olahraganya yang basah. Terutama bagian lengan dan bawah celana trainingnya.

“Aku juga.”

Hah?

Sebuah suara ikut menyahut. Ternyata Iseul bukanlah satu-satunya orang yang berteduh di depan swalayan itu. Lebih tepatnya, ia berdua―bersama Minho sunbae.

Senyum khas Minho bagai mentari di tengah guyuran air langit ini.

Su… sunbae?!”

Yo! Sepertinya ini hukuman untuk anak bandel seperti kita eo?”

Iseul tertawa. “Kurasa sunbae ada benarnya juga.”

Minho meminimalisir jarak antara dirinya dan Iseul. Baju olahraga yan dikenakan Minho malah basah lebih parah dari milik Iseul. Tas selempang besar khas milik atlet yang tersampir di bahu Minho juga basah. Beruntung tas itu kedap air.

“Bagaimana keadaanmu?”

“E-eh?” Iseul tergagap.

Dagu Minho mengedik kebawah, ke kaki Iseul tepatnya.

“A-ahhh… kakiku.” Iseul menggoyang-goyangkan kakinya, “Sekarang sudah baikan. Kurasa tadi aku sedikit kram. Kurang pemanasan, mungkin. Hehehe. Sunbae tidak usah khawatir.”

“Dasar. Atlet nasional macam apa kau yang kurang pemanasan.” Ctak! Minho menyentil dahi Iseul.

Awalnya Iseul terkejut atas apa yang barusan Minho lakukan. Tapi kemudian ia tertawa seraya mengusap-usap dahinya. Lalu Minho… juga ikut tertawa. Cukup lama keduanya tertawa atas hal yang kurang begitu lucu. Tapi keduanya nampak menikmatinya.

“Sepertinya… hujannya akan bertahan lama.” Manik Iseul melihat ke atas langit yang nampak abu-abu putih.

“Kurasa juga begitu.”

Iseul tidak menyahut lagi. Gadis itu justru mengecek sisa uang sakunya hari ini.

“Uangku tidak cukup untuk membeli payung,” keluhnya.

“Aku juga.”

“…”

“…tapi bagaimana jika kita menggabungkan uang kita dan memakai payungnya bersama?”

“Eh?” Iseul terperanjat mendengar usulan Minho. “Tapi nanti sunbae bagaimana? Rumah kita ‘kan berlawanan arah dan cukup jauh.”

Gwaenchana.” Minho tersenyum. “Nanti kau akan kuantar sampai rumahmu.”

“Eh?”

“…”

“…”

“Soalnya… aku ingin tahu rumahmu. Bukan hanya itu, aku juga… ingin mengenalmu lebih jauh,” kata Minho malu-malu.

Pada akhirnya, keduanya sepakat patungan membeli payung bersama. Dan Minho menepati janjinya. Ia mengantar Iseul sampai rumah.

Air langit yang masih belum bosan turun jadi saksi bisu kala Dewi Amor mengiringi langkah dua orang atlet lari itu.

 


 

 

Jika air langit yang jatuh membuat sebagian orang menghindar dan buru-buru membuka payung atau mengenakan jas hujan mereka, maka hal berlawanan dilakukan oleh kelima pemuda yang mengenakan seragam Myeongji Godeunghakgyo.

Hujan yang baru saja turun tidak menyurutkan niatan mereka untuk bermain sepak bola di taman yang sepi. Tidak ada siapapun di sana kecuali kelima pemuda yang saling mengoper bola itu. Tas mereka mereka letakkan di dalam bangunan berbentuk igloo warna biru yang ada di kawasan bermain anak. Dan mereka membiarkan badan mereka basah kuyup di lapangan terbuka.

Peduli setan dengan teror demam! Jangma tidak hanya dinikmati oleh anak-anak yang tinggal di pedesaan maupun kota. Mereka yang sudah besar dan tinggal di kota besar juga berhak menikmatinya.

“Penampilan kita sukses! Sukses! Sukses besar! Terima ini, Jongdae!” euphoria Chanyeol masih berlanjut.

“Siapa dulu vokalisnya!” suara Jongdae tidak kalah dengan hujan.

Bola di kaki Jongdae meluncur kearah Sehun.

“Dasar sombong! Yixing!”

“Intinya, kita semua keren!”

“YEAH!” Jawaban Yixing yang diplomatis mampu mengakhiri perdebatan konyol itu.

Dan permainan mereka belum berhenti. Mungkin akan berhenti ketika sudah lelah atau ketika hujan sudah berhenti.

 


 

 

“Iseul, dia pacarmu?” bisik ibu Iseul tepat di telinga Iseul.

“Eh? Bukan, bukan. Dia seniorku di sekolah dan tim lari.” Elak Iseul cepat. Adukannya pada coklat panas terhenti karena tebakan ibunya.

Tatapan ibunya kemudian berubah genit. “Eish, bilang saja jika dia itu pacarmu. Kenapa harus malu seperti itu, hm?”

Eommaaaa…” rengek Iseul, “Minho sunbaeneun, nae namjachingu aniyeyo!” tegas Iseul dalam nada rendah. Tapi rona merah di pipinya tidak bisa disembunyikan.

Berkat janji Minho tadi, sekarang Minho ‘terperangkap’ di rumah Iseul. Kala melihat putrinya pulang diantar seorang pria bertubuh tinggi dan punya paras tampan, ayah dan ibu Iseul langsung heboh. Ibunya buru-buru keluar dan memaksa Minho masuk ke rumah.

“Pasti kau kedinginan. Lihat seragammu itu, hampir basah kuyup. Mampirlah sebentar untuk mengeringkan bajumu dan minum segelas coklat hangat.” Itu dalih ibu Iseul.

Iseul kaget. Minho tidak bisa menolak. Terlebih saat ayah Iseul dengan paksa mendorong Minho masuk rumah.

Dan kini, Minho sudah duduk di ruang tamu. Berbincang dengan ayah Iseul sembari menanti seragamnya kering. Sekalian menunggu hujan reda, saran dari ayah Iseul yang hanya dibalas anggukan dan senyuman kecil oleh Minho. Baju Chisoo yang nampak agak kebesaran cocok juga dipakai oleh Minho.

“Iseul sering bercerita soal dirimu, Minho-ya.” Ibu Iseul yang baru datang langsung menyahut sebelum duduk tepat di samping ayah Iseul.

Dan apa tadi? Ibu Iseul sudah menambahkan suffix ‘-ya’ di belakang nama Minho? Mengatakannya dengan nada akrab? Duh, kelakuan ibunya membuat Iseul geleng-geleng kepala.

“Ah, geuraeyo?” Minho membalas dalam nada sopan.

Dia tidak tahu jika sekarang kedua orangtua Iseul sudah menjerit dalam hati melihat kelakuannya yang manis dan sopan.

“Ibu bicara apa, sih?” Iseul mengerucutkan bibirnya. Segera ia letakkan keempat gelas coklat hangat di meja. Rona merah itu kembali muncul saat ia menyodorkan gelas pada Minho.

Gumawo,” kata Minho.

“Kau ini yang bicara apa, Iseul. Bukankah kau sendiri yang bilang jika Minho-ya adalah senior yang paling kau kagumi?” perkataan ibunya membuat Iseul tak berkutik.

Eomma!”

 

 

 

― Lanjut? ―

 

Glossary              :

  • Petrichor : bau tanah sehabis hujan (one of my favorite scent >.< Ada yang samaan?)
  • Igloo : rumah khas penduduk Eskimo
  • Jangma : hujan musim panas
  • Minho sunbae-neun, nae namjachingu aniyeyo : Minho sunbae bukan pacarku

 

A/N        :

                Alohaaa~!! Kita sudah sampai di chapter 2. Terima kasih yang udah mau baca ^_^ Disini udah jelas ya, kalo Iseul itu sakit. Ada yang bisa tebak sakit apa? Kalo udah ada yang tau jangan dibocorin, nggak seru kalo ada spoiler :3 xD

Iseul sama Chanyeol kapan ketemunya, Vhasta? Ettoo… mungkin masih lama :3 Nanti pasti ketemu kok, tinggal tunggu waktu yang tepat aja, hehe. By the way, siapa yang ngeship Minho-Iseul siapa yang ngeship Chanyeol-Iseul? /hoi, momennya Chanyeol-Iseul aja belum ada boro-boro ngeship!/ 😀 Yah, siapa tau udah ada. Siapa tau… :3

Nama band. The FOO. Yang berarti ‘Five On One’. Maksudnya ada lima orang yang berdiri di satu panggung. Oke, namanya aneh, ga keren, apa-banget. Mohon dimaklumi soalnya aku gak pinter buat bikin nama-nama begitu. Jatohnya pasti absurd -_- v Daaaaaaannn… baru nyadar kalo nama ini hampir mirip sama boiben ‘The Foo and Conspiracy bla bla bla’ yang dulu sempet viral soalnya mereka plagiat dancenya Eksoh.

Tapi mereka jelas beda. Jelas beda. Jelas. Ga ada sama-samanya, kecuali nama. Itupun hampir. Cuma sekata. Beda lah, soalnya ‘The FOO’ disini bukan kumpulan cowok-cowok yang kerjaannya joget-joget sambil lipsync nyanyi di panggung. The FOO disini yang nyanyi cuma satu, yang lain main alat musik. Kenapa gak diganti aja? Aku udah males /lol. laziness level: up to 9k/ dan udah sreg sama nama itu buat bandnya Chanyeol.

Ja, segitu dulu buat chapter kali ini. Beberapa layanan yang aku layani lewat kolom komentar yaitu: kritik, saran, diskusi fanfic ini, review, koreksi, tanya-tanya (selama ga spoiler), keluhan (asal jangan keluhan soal gebetan atau pacar kamu). Bisa juga lewat akun twitterku yang baru netes @nuevelavhasta. Dan yang mau baca epep-epep-ku yang lain, bisa ‘klik’ pen-name aku di bawah judul atau yang ada di kolom penulis. Isinya yaaaa… epep-epep sederhana yang (semoga) bisa menghibur. Geurae, yeogi… oneuleun endingeu, annyeong… see you next chap/fanfic! Masih bareng author cakep ini 🙂

11 tanggapan untuk “Tempus Fugit, Amor Manet [Chapter 02]”

  1. Tipe mantu idaman ya 민호 😙
    Dr nm’ny kirain kk’ny 이슬, si 치수 tu 여자 😋
    Jd prasaan 이슬 ke 민호 ga cm spihak kah? Bgs deh, wlw blm da yg confess. Intro di atas da tlsn 이슬 & 찬열 (msh) beda sklh, ntar krn pnykt 이슬 yg makin prh smp ga bs lnjt jd atlet, 이슬 bkl pindah sklh ke sklh 찬열 kah? *spoiler ya saya 😅 aduh.. Flower boys pd bermultitasking maen bola sambil maen hjn2an gt, jgn smp cacth a cold lho, especially kamu 세훈아 😰

  2. ini kapan ketemunya… *oke.ini.nggak.sabaran.banget.deh -__-
    belum bisa milih nge-ship siapa..
    emm minho beneran suka sama iseul??
    di tengah cerita aku kok malah salah fokus sama cowok ganteng yang pada maen bola sambil ujan-ujanan yah, kok bayanginnya keren amat :3 *oke.abaikan.yang.satu.ini

  3. haloo.. aku reader baru ni.. hehe :-).. gk sabar nunggu next chapternya.. penasaran gimana iseul ama si chanyeol ketemu 😀

  4. Ahahhaa kebodohan chanyeol membuat teman2nya hanya bisa menggelengkan kepala mereka.
    Tapi sepertinya minho menyukai iseul.
    Kenapa gak ada momen iseul dan chanyeol.
    Ya ampun itu appa dan eommanya iseul heboh banget
    Next chapternya ya thor

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s