Good Bye

PicsArt_1434296710978

GOOD BYE

ficlet // hurt – romance // Zhang Yi Xing (EXO), Kim Rae Ri (OC)

.

anneandreas

.

.

PicsArt_1448600142405

 

.

……………

Zhang Yi Xing baru saja merebahkan dirinya di atas tempat tidur ketika handphonenya berdering tanda pesan masuk.

Hari sudah larut malam dan ia merasa sangat lelah hari ini.

Ia terlalu sibuk sampai-sampai untuk bernapas pun terasa begitu menyita waktu.

Bahkan ia merasa dua puluh empat jam dalam satu hari tidaklah cukup untuk membagi waktunya pada semua kesibukannya, sehingga selalu ada satu yang ia korbankan. Satu.

……………

Ia ingin sekali mengacuhkan pesan itu, memejamkan matanya lalu tidur.

Ia akan membuka pesan itu besok pagi.

Pesan itu pasti bukanlah suatu hal yang penting.

Ya, itu akan baik-baik saja.

……………

Zhang Yi Xing mulai memejamkan matanya, namun rasa kantuk yang sedari tadi sudah menyerang raganya terasa semakin menguap begitu saja.

Ia gelisah, berbaring ke arah kiri lalu berbalik ke arah kanan.

Ia merasa tidak tenang.

……………

Ujung mata Zhang Yi Xing menatap handphone yang tergeletak di atas meja.

Sepertinya benda kotak kecil itulah yang mengganggu pikirannya.

Akhirnya ia mengulurkan tangannya dan meraih benda kotak kecil sialan yang mengganggu tidurnya itu.

……………

Mata Zhang Yi Xing mengernyit ketika cahaya terang yang menyeruak dari layar handphone tertangkap oleh matanya.

Ia menghela napas.

Walpaper handphonenya menampilkan tiga belas panggilan tidak terjawab dan satu pesan.

Pesan itu kiriman dari satu hal, seseorang, yang selalu ia korbankan.

……………

“Tidak bisakah gadis ini mengerti? Tidakkah ia tahu aku begitu sibuk?”

……………

Namun meskipun ia mengomel dalam hati, tetap saja ia membuka pesan itu. Biar bagaimanapun juga, satu hal yang selalu ia korbankan ini adalah gadis yang sangat ia cintai. Gadis yang ia inginkan untuk berbagi masa depan bersamanya.

……………

Zhang Yi Xing tersentak dan mulutnya menganga sesaat setelah ia membaca pesan yang dikirimkan ke handphonenya. Lalu ia langsung bangkit dari tempat tidurnya, mengambil jaket serta kunci motor, dan pergi meninggalkan rumahnya.

……………

***

……………

Zhang Yi Xing memarkirkan motornya secara sembarangan di depan sebuah rumah yang tidak seperti biasanya, tampak ramai di malam itu.

……………

Jantungnya berdebar sangat kencang namun di saat yang sama ia juga merasa begitu sulit untuk mengirup dan menghembuskan udara. Suara orang-orang ramai yang berkumpul di sana pun tidak dapat terdengar jelas di telinganya, semuanya berbaur menyatu menjadi satu ketidakjelasan dan kegelisahan yang terasa begitu menghujam dadanya.

……………

Kakinya berhenti melangkah saat ia melihat sebuah mobil ambulance dengan pintu belakang terbuka dan cahaya lampu yang menyilaukan mata ada di pekarangan rumah gadis yang dicintainya. Ia berjalan dengan langkah yang tertatih hingga kakinya berhenti di belakang mobil ambulance.

……………

Zhang Yi Xing berdiri di belakang petugas ambulance yang tampak sibuk mengeluarkan alat bantu pernapasan dan selang-selang yang tidak di kenalnya. Ia mencoba menerobos barisan petugas ambulance itu dan hatinya mencelos kala ia melihat seseorang yang sudah berbaring lemah dengan mata terpejam dan mulut berbusa di dalam bangsal mobil ambulance.

……………

“Rae Ri-a…” panggil Yi Xing lirih

……………

Sebuah mobil parkir tidak jauh di belakangnya dan kemudian dua orang berseragam putih yang keluar dari mobil itu segera menerobos kerumunan, termasuk Yi Xing yang juga mundur beberapa langkah, dan masuk ke dalam mobil ambulance.

……………

Seorang dari antara mereka meletakkan selang ke dalam mulut Rae Ri dan menyedot busa yang ada di sekitar mulutnya, sementara seorang yang lain menempel alat-alat di atas tubuh Rae Ri yang menghubungkannya dengan sebuah mesin.

……………

Mengapa pertolongan harus dilakukan di sini? Saat ini juga?

Mengapa Rae Ri tidak dibawa ke rumah sakit saja dan lakukan pertolongan di sana?

Apa yang sebenarnya terjadi di sini?

……………

Mesin yang sudah terhubung dengan alat-alat di atas tubuh gadis itu menampilkan grafik detak jantung Rae Ri yang terlihat semakin lama semakin lemah. Hingga akhirnya memperdengarkan bunyi monoton yang begitu menakutkan di telinga Yi Xing.

……………

Suara berikutnya yang terdengar adalah suara tangisan yang berasal dari wanita paruh baya yang juga berdiri di belakang mobil ambulance, wanita yang ia kenal sebagai ibu Rae Ri. Sementara seorang pria di sampingnya terlihat lebih tegar sambil memeluk istrinya.

……………

Hatinya semakin mencelos tatkala dokter yang memasang alat penghitung detak jantung itu melihat ke arah jam tangan yang ia kenakan dan menuliskan waktu yang terlihat dari jam tangannya di atas kertas. Sementara dokter yang lain mengeluarkan selang yang ada di dalam mulut Rae Ri dan menarik selimut putih hingga menutupi puncak kepala Rae Ri.

……………

Kedua dokter itu menghampiri ibu Rae Ri yang semakin meledak dalam tangisnya, kemudian menutup pintu ambulance setelah kedua orang tua Rae Ri ikut masuk ke dalam mobil. Dokter dan petugas ambulance secara teratur masuk ke tempatnya masing-masing. Kemudian mobil ambulance dan mobil yang ditumpangi dokter itu melaju meninggalkan pekarangan rumah Rae Ri.

……………

Kekosongan begitu terasa setelah kedua mobil itu pergi.

……………

“Selamat tinggal.”

Terngiang pesan terakhir yang belum lama tadi ia baca di dalam kamarnya.

……………

Zhang Yi Xing jatuh berlutut di atas pekarangan rumah Rae Ri. Sebelah tangannya mengcengkeram dadanya, berharap bisa mengalahkan rasa sakit yang berasal dari sana.

Kebodohan apa yang ia lakukan selama ini?

Relakah ia kini menukar segala kesibukannya dengan nyawa gadis yang dicintainya?

Meskipun ia rela, namun semua itu kini sudah terlambat.

……………

***

……………

Tiga jam sebelumnya

……………

Kim Rae Ri duduk memeluk lututnya sendiri sambil menatap bulan dari jendela kamarnya. Malam ini harusnya terasa begitu dingin namun mengapa ia merasa begitu panas dan begitu hampa?

……………

Sesekali ia menatap layar handphonenya.

Masih belum ada jawaban atas pesan yang ia kirimkan entah sudah berapa jam yang lalu.

Panggilan telepon dari dirinya juga tak satu pun diangkat.

Ia hanya ingin laki-laki itu tahu apa yang ia rasakan.

Ia memang berkata ia memaklumi kesibukan laki-laki itu.

Ia memang berkata ia akan terus menunggu.

Namun semakin waktu ia menunggu semakin sakit yang ia rasakan.

……………

Sekali lagi ia memandang ke arah bulan yang seolah balik memandangnya dengan kebisuan.

“Aku ingin ke sana.” pikirnya

……………

Kim Rae Ri mengangkat tangannya yang lain dan memandang sebuah kotak obat yang baru saja ia beli di toko obat pinggir jalan. Kata penjualnya itu obat penghilang rasa sakit.

Benar.

Obat itulah yang paling dibutuhkannya sekarang.

Ia ingin tidur, ia ingin menghilangkan rasa sakit yang ia rasakan.

……………

Sejenak keraguan menjalar di pikirannya. Namun desakan hatinya lebih kuat.

Setelah menatap semua pil yang sudah tertumpah di sebelah tangannya, ia mengambil handphone dan menuliskan pesan terakhir untuk laki-laki yang paling dicintainya.

……………

“Selamat tinggal..”

……………

Kim Rae Ri tersenyum. Ia meletakkan handphone di sampingnya dan menelan semua pil yang ada di tangannya.

Ia sudah siap tidur.

Entah apa yang akan ia alami selanjutnya.

Setidaknya yang ia tahu ia tidak akan merasakan sakit seperti ini lagi.

……………

~~ The End ~~

Author’s Note:

Hai anyeong readernim yeoreobun >.<

Aku kembali dengan ficlet gaje yang baru..

Makasi yang uda mo nyempetin baca yaa..

Seperti biasa, kritik saran komen selalu kutunggu.. hehe..

Kansahamnida.. *bow*

16 tanggapan untuk “Good Bye”

    1. hahaha sebenernya sedikit banyak ficlett ini dibuat atas kisah nyata aku..
      nulisnya pas lagi kesel banget karena si doi kelewat sibukk..
      #lohh jadi curcol
      wkwkwkwk..

      ternyata ada yg bernasip sama..
      #pukpuuukk

      bersabar aja ya kita.. semoga si doi diberikan pencerahan kalo kita butuh perhatian..
      hahahaha.. #curcol lagi

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s