Tempus Fugit, Amor Manet [Chapter 01]

tfam

Ketika sang atlet lari dan drummer sebuah band yang belum debut dipertemukan dengan cara tidak terduga dan masing-masing mulai memiliki rasa. | “Sunbae, gumawo…” | “Aku… aku janji akan lebih mengenalmu.” | “The best love story is when you fall in love with the most unexpected person at the most unexpected time”

Len K present… Tempus Fugit, Amor Manet

Tempus Fugit, Amor Manet

Rate: T, PG-15

Romance, Hurt/Comfort, Supranatural, a bit humor

Chanyeol EXO, Cha Iseul (OC), Minho SHINee, Kai-Sehun-Chen-Lay EXO dan beberapa idol/actor dan OC sebagai support cast

Murni fanfiksi hasil imajinasi yang bertujuan untuk hiburan. Karakter non-OC bukan punya author.

Warning: AU, Semi-canon, OOC (maybe), typo, humor garing, rush

Poster by Aqueera at posterdesigner.wordpress.com

A/N                        : Disini Chanyeol dan Iseul beda sekolah. Hope you don’t get confuse.

.

.

Chapter 01 ― So Winter Ends and Spring Comes

.

.

.

                Chanyeol menghentikan langkahnya tepat beberapa meter sebelum ia memasuki gerbang sekolah barunya. Hawa dingin sisa-sisa musim dingin masih terasa di awal bulan Maret ini. Berlomba dengan hawa hangat khas musim semi yang mulai mengukuhkan keberadaannya. Chanyeol menghela nafasnya pelan dan berat. Tidak terasa kini dirinya sudah menjadi siswa SMA di Myeongji Godeunghakgyo.

Annyeong~! Sudah siap dengan debut SMA-mu, kawan?” tepukan pelan di pundak kanan Chanyeol membuat Chanyeol menolehkan kepalanya kesamping. Nada centil yang baru saja dilontarkan Jongdae membuatnya bergidik dan tertawa di saat bersamaan.

Chanyeol meredakan tawanya dahulu sebelum berkata, “Aku bisa melihat bahwa kaulah yang tidak siap akan debut SMA kita.”

Ejekan dari Chanyeol membuat Jongdae tergelak dan menubrukkan badannya ke Chanyeol dan lengan kirinya memiting leher Chanyeol. Tentu saja Jongdae sedikit kesusahan karena tinggi badannya yang kalah dengan Chanyeol. Duo itu lalu tertawa bersama dan kembali melangkah.

“Hai, dik. Bisakah kalian minggir untuk memberi senior kalian ini jalan dan berhenti tertawa seperti itu? Sungguh menyebalkan!”

Suara tepat di belakang Chanyeol dan Jongdae yang masih bercanda itu mampu langsung menghentikan candaan keduanya. Keduanya kemudian menoleh ke belakang dengan perasaan was-was. Ditegur oleh senior dengan nada dingin seperti itu di hari pertama bahkan sebelum upacara pembukaan dimulai bukanlah hal yang diinginkan oleh siswa baru manapun. Namun ketika Chanyeol dan Jongdae melihat sosok Sehun yang menyengir lebar pada mereka, Chanyeol dan Jongdae segera memiting leher Sehun dan memukuli punggungnya.

“Senior? Senior pantatmu! Kurang ajar kau!” Chanyeol masih bersemangat memiting leher Sehun. Yang dipiting justru tertawa senang meski kesusahan.

“Hei, tindak kekerasan dilarang di sekolah.”

Lagi, satu suara yang menyahut tepat di belakang mereka menghentikan aktivitas mereka yang cukup menarik perhatian sekitar itu. Mata Chanyeol, Sehun, dan Jongdae bertemu dengan wajah polos tak berdosa milik Yixing dan kekehan Jongin. Sudah jelas siapa yang berkata barusan. Hanya Yixing yang bisa mengatakan hal menggelikan seperti itu dengan mimik wajah polos tak berdosa seperti yang ia tampilkan sekarang.

Mengabaikan Sehun yang tadinya jadi sasaran Chanyeol dan Jongdae, Chanyeol dan Jongdae kini mengganti sasaran mereka dengan Yixing. Tentunya Sehun yang tadinya menjadi korban kini juga menjadi pelaku. Masing-masing dari mereka memiting leher Yixing, hingga mengangkat tubuh Yixing. Jongin tertawa kesetanan seraya menunjuk-nunjuk Yixing yang nampak kebingungan dan tidak terima.

Ya! Ya! Lepaskan aku!” seru Yixing. Tapi trio Chanyeol, Jongdae, dan Sehun tidak akan berhenti hanya dengan seruan seperti itu. “Teman-teman, lepaskan aku!” Yixing kembali berseru. Dirinya menjadi semakin panik ketika melihat beberapa pasang mata milik siswa yang akan memasuki sekolah menatap kearahnya dan teman-temannya dengan tatapan yang bervariasi.

Ya, ya, keumanhaja. Keumanhaja.” Kali ini komando dari Jongin berhasil membuat Chanyeol, Jongdae, dan Sehun berhenti. Tapi tidak dengan tawa setan mereka.

“Terima kasih, Jongin.” Yixing menepuk pundak Jongin seraya menatap pemuda berkulit tan itu dengan tatapan terima kasih yang sedikit berlebih. Jongin terkekeh dan mengacungkan jempol sebagai balasan. Kelima siswa baru itu kembali melangkah, bersama siswa-siswa lainnya.

“Myeongji Godeunghakgyo….” Chanyeol membaca tulisan besar-besar yang terdapat di atas kanopi sekolah baru mereka dan menghentikan langkahnya tepat sebelum memasuki gerbang sekolah. Keempat temannya ikut berhenti, berjajar, dan menatap halaman depan sekolah baru mereka.

“Akhirnya… hari debut SMA kita datang juga,” celetuk Jongin.

Eo, aku sudah tidak sabar.” Yixing tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi serta memamerkan lesung pipinya yang membuatnya nampak semakin manis.

Ja, kalau begitu… apa kalian sudah siap?” Sehun yang berdiri di ujung kanan melirik kekiri kearah teman-temannya.

Geureom! Aku terlahir untuk ini!” Jongdae berseru, melebih-lebihkan ucapannya dan membuat keempat temannya tertawa kecil.

“Kalau begitu, ayo kita mulai debut SMA kita!” Chanyeol bersemangat sekali.

“Ayo!” kelima siswa baru itu melangkah bersamaan. Kaki kanan mereka memasuki halaman sekolah dengan kompak. Kini, debut SMA mereka akan dimulai!

 


 

 

Upacara pembukaan tahun ajaran baru di Saejeong Godeunghakgyo―sekolah khusus atlet―baru saja selesai dilaksanakan. Kini para murid baru memenuhi aula depan sekolah untuk melihat nama mereka tertera di papan pengumuman―di kelas mana mereka akan berada. Ada yang bersorak kegirangan karena satu kelas dengan kawan mereka, tapi ada juga yang mengeluh karena berpisah dari kawan mereka. Namun mereka yang tidak begitu peduli akan pembagian kelas ini juga ada.

Iseul berjalan melewati koridor lantai dua yang dipenuhi murid-murid baru. Semua obrolan mereka seakan membaur jadi satu di udara, menyebabkan suasana menjadi berisik. Langkah Iseul berhenti di depan sebuah kelas. Didongakkan kepalanya untuk melihat papan yang tergantung di atas pintu itu. ‘1-4’. Itu angka yang tertera di papan berwarna putih tersebut.

Iseul bisa bernafas lega sekarang. Akhirnya ia menemukan kelasnya tanpa makan banyak waktu. Iseul kembali melangkah ke dalam kelas. Sebagian bangku sudah terisi. Bahkan teman-teman barunya sudah memulai obrolan dan beberapa membentuk kelompok-kelompok kecil. Pilihan Iseul jatuh pada bangku nomor dua dari belakang, baris ketiga.

Iseul merasa sedikit linglung karena ia benar-benar sendiri sekarang. Melihat teman-teman barunya yang sibuk mengobrol membuat Iseul ingin bergabung. Tapi ketika melihat betapa serunya mereka, Iseul mengurungkan niatnya. Mungkin jika ia ikut mengobrol yang ada suasana akan berubah menjadi canggung. Iseul tidak mau merusak hari pertamanya di SMA.

“Hai! Kau sendiri saja?”

Suara tinggi dan rada melengking namun jernih itu disertai tepukan di punggung Iseul membuat Iseul terkejut. Pandangannya lalu tertumbuk pada seorang gadis berambut lurus panjang dengan senyum lebar yang baru saja tiba dan menjadikan tempat duduk di sampingnya sebagai miliknya.

E… Eo.” Iseul mengangguk kikuk.

Gadis itu mengulurkan tangannya terlebih dahulu sebelum memperkenalkan diri. “Aku Jung Eunji. Atlet panahan. Banga-banga. Kau?”

Iseul membalas uluran tangan Eunji tanpa ragu. “Cha Iseul. Atlet lari. Bangawoyo.” Tak lupa, Iseul tersenyum. Bukan sebagai topeng atau apa, tapi memang sudah nalurinya.

“Cha Iseul? Cha Iseul yang atlet lari itu? Yang berhasil memenangkan kejuaraan nasional berturut-turut dan masuk dalam tim nasional serta mewakili Korea di kancah internasional?” kata-kata Eunji meluncur dengan cepat disertai ekspresi terkejut dari wajahnya.

“Yah, begitulah.” Iseul tersenyum kikuk. Merasa tidak begitu enak mendengar semua kalimat Eunji tadi karena dirinya merasa belum sehebat itu. Sepertinya ia tidak perlu khawatir untuk mencari teman pertamanya di SMA.

 

***

 

Kehidupan SMA Iseul berjalan mulus. Tiga bulan berlalu dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Prestasi akademiknya bisa dibilang tidak terlalu buruk―sebenarnya ia nyaris berada di tempat terbawah di kelas. Dia juga sudah mulai akrab dengan teman-teman satu kelasnya dan beberapa senior. Juga anggota tim lari sekolahnya.

Sebagai atlet lari tingkat nasional, tentu sudah menjadi kewajiban bagi Iseul untuk bergabung dalam klub lari. Itu aturan tak terbantahkan di Saejeong Godeunghakgyo. Dimana para siswa yang juga merupakan atlet ini wajib untuk bergabung dalam klub sesuai dengan olahraga yang mereka tekuni. Selain itu mereka juga bisa memilih maksimal dua klub lain yang tentunya tidak ada hubungannya dengan olahraga. Seperti klub audio-visual, penyiaran, jurnalis, fotografi, memasak, dan sejenisnya.

Dan sebagaimana remaja pada umumnya, Iseul juga sudah hati pada seorang pria. Dia adalah senior di sekolahnya. Sama-sama merupakan atlet lari tingkat nasional. Satu-dua tingkat di atas Iseul dalam hal nama dan prestasi. Namanya Choi Minho. Iseul pernah bertemu dengan Minho saat ia mengikuti perlombaan di tingkat nasional dan bahkan satu skuad dengan Minho saat tim lari Korea berlaga di kancah internasional. Tapi saat itu Iseul belum mempunyai cukup keberanian untuk berbicara. Hanya sapaan dan interaksi-interaksi lain yang lumrah terjadi antara junior dengan seniornya. Dan sampai sekarang hal ini masih berlanjut.

Beruntung bagi Iseul sekarang karena ia bukan hanya satu sekolah dengan Minho. Melainkan sudah satu klub. Artinya kesempatan Iseul untuk memandangi Minho dan berinteraksi akan lebih terbuka lebar. Seperti sore ini saat tim lari berkumpul menjadi satu untuk latihan rutin setiap minggunya. Fokus Iseul tercecer karena sibuk mencuri pandang kearah Minho yang memberi pengarahan di depan.

Satu aba-aba dari Minho membubarkan barisan. Para pelari yang akan maju sudah menempatkan diri. Pun halnya dengan petugas pencatat waktu dan mereka yang memegang stopwatch. Regu putri memulai latihan rutin mereka terlebih dahulu dan Iseul mendapat giliran pada gelombang kedua.

Tidak ada rasa gugup yang dirasakan Iseul. Toh ini hanya latihan rutin yang sudah jadi kebiasaannya. Tapi itu juga tidak menjadi alasan untuknya menganggap remeh latihan ini. Satu-satunya rasa gugup yang dirasakan Iseul hanyalah sosok Minho yang berdiri tidak jauh dari pencatat waktu. Kembali Iseul mencuri pandang kearah Minho. Namun saat pandangan mereka bertemu, Iseul langsung berpura-pura menali sepatunya. Padahal tali sepatunya baik-baik saja dan baru ia kencangkan sepuluh detik yang lalu.

Suara peluit menjadi tanda bagi Iseul untuk segera memacu larinya. Awalnya Iseul berlomba dengan pelari lain untuk posisi pertama. Namun semakin lama jarak yang dibuat Iseul dengan pelari lainnya menjadi semakin jauh. Hingga ia berhasil menyelesaikan satu putaran empat ratus meter di urutan pertama dengan waktu lima puluh detik. Rekor bertahan darinya sejak dua latihan rutin.

Yeoksi uri Iseul! Kerja bagus!” Gayoon dengan senyum mengembang menyodorkan sebotol minuman isotonik pada Iseul yang tengah memijit-mijit kakinya di pinggir lapangan.

Cengiran lebar Iseul membalas senyum manis Gayoon. “Gumawo.”

Iseul mengulurkan tangannya untuk menerima minuman yang disodorkan Gayoon. Namun yang terjadi adalah ia tidak bisa meraih botol minuman itu. Padahal jaraknya sudah jelas berada dalam jangkauannya. Tapi yang terjadi tangannya yang berusaha menggenggam hanya menggantung begitu saja di udara. Mulutnya melongo, kekagetannya tertutup jelas oleh wajah lelahnya.

“Hei, jangan memaksakan dirimu. Kau ini selalu ingin dimanja, eoh?” Gayoon pada akhirnya yang meletakkan botol itu dalam genggaman Iseul. Ruang kosong di samping Iseul segera diisinya.

“Hehehehe.” Kekehan Iseul lalu berhenti karena ia segera menghabiskan setengah isi botol itu dalam dua kali tenggak.

Tim pria yang akan memulai latihan rutin mereka langsung menarik perhatian Iseul. Tidak dipedulikannya keheningan antara dia dan Gayoon. Dua-duanya sama-sama lebih memperhatikan tim putra yang akan mulai.

Sosok yang ingin dilihat dan dimiliki Iseul, yang juga kapten tim―Minho, berada di gelombang pertama. Dalam sekejap Minho sudah berlari dengan sekuat tenaga setelah peluit dibunyikan. Minho memang sosok yang ambisius dan haus akan kemenangan. Tidak peduli itu latihan atau pertandingan sungguhan, yang ia incar adalah kemenangan. Dan akan sangat kesal jika ia gagal meraihnya.

Bibir Iseul melengkung keatas melihat Minho berlari. Rambut Minho yang mulai panjang tertiup ke belakang. Kaki-kaki Minho berlari dengan cepatnya. Rasanya seperti melihat Minho berlari tanpa membawa beban apa-apa termasuk beban tubuhnya. Rasanya seperti Minho berlari dengan bantuan sepasang sayap di belakang punggungnya.

“Bukankah ia hebat?” akhirnya Iseul bersuara.

“Eh? Siapa?” siapa sangka jika Gayoon mendengar suara Iseul yang bervolume amat kecil tadi dan dengan serius menanggapi.

Iseul tersenyum. Ia tidak keberatan untuk bercakap-cakap sekarang. “Minho sunbae.” Mata Iseul masih mengikuti Minho yang berbelok pada putaran terakhir.

“Tentu saja. Apa lagi yang kau harapkan dari kapten tim kita?” Gayoon memutar kedua bola matanya malas. Siapa yang tidak mengakui kemampuan Minho? Namanya bahkan mulai terukir di kancah internasional.

Sorakan senang dari Minho yang―lagi-lagi―bertengger di posisi sementara membuat Iseul terkekeh pelan. Jadi apa ini yang disebut orang-orang sebagai cinta? Ketika kau melihatnya senang, bahagia, kau juga turut merasakannya?

“…saat melihatnya, Minho sunbae, berlari… rasanya aku seperti melihat ia berlari dengan sepasang sayap yang terbentang di punggungnya. Bahkan larinya menyenangkan untuk dipandang.” Imajinasi Iseul mulai membayangkan khayalannya itu di dalam kepalanya. Senyumnya merekah kembali ‘melihat’ betapa indahnya imajinasinya.

Gayoon mengerang. Ocehan mengenai ‘sepasang-sayap-di-punggung-Minho-sunbae’ itu bukan pertama kalinya ia dengar. Faktanya, Gayoon sudah mulai jengah. Sampai ia hafal saat-saat kapan Iseul akan mengatakan hal itu lagi. Tapi anehnya Gayoon tidak bisa merasa kesal.

“Demi sayap khayalan yang tidak nyata, hentikan itu Iseul. Imajinasimu itu sungguh keterlaluan. Yah, maksudku itu bukan masalah besar. Tapi ocehanmu mengenai itu benar-benar membuatku sakit,” rutuk Gayoon. Iseul tertawa puas mendengarnya.

Tawa Iseul tidak bertahan lama. Makin pudar seiring dengan makin dekatnya Minho kearahnya. Kearah dirinya dan Gayoon yang duduk bersebelahan tepatnya. Tapi sudah jelas jika sasaran Minho adalah Iseul. Semua terlihat dari sorot matanya. Gayoon berpura-pura batuk. Tidak merasa kesal karena Minho lebih memperhatikan Iseul daripada dirinya. Toh Minho bukan incaran Gayoon dan melihat kedua atlet kebanggan Korea menjadi dekat… hmm, sepertinya hal itu amat wajar, lumrah sekali.

“Cha Iseul!” dengan semangat meski nafasnya kasar, Minho memanggil Iseul.

Ne sunbae?” sebenarnya Iseul hampir tidak bisa mendengar ucapannya sendiri. Yang beresonansi di antara tulang-tulangnya bukan suaranya. Melainkan detak jantungnya yang makin cepat, juga tidak teratur.

“Akhirnya…” Minho memberi jeda sebentar untuk pasokan oksigen ke paru-parunya, “…akhirnya aku berhasil menyamai rekormu!” lalu jempol Minho teracung. Diiringi senyum kepuasan yang sedikit aneh.

Ah, benar juga. Jika dilihat, sampai sekarang Iseul-lah yang memegang rekor lari tercepat di kelas seratus meter dan empat ratus meter. Bahkan mengalahkan catatan waktu dari regu putra.

Sunbae benar. Chukkae!” Iseul bertepuk tangan sekali sambil tersenyum lebar.

“Lain kali, aku tidak akan kalah darimu.”

Sunbae mengejekku? Level sunbae sendiri sudah jelas berbeda dariku.”

Minho mendengus pelan. “Yah… tapi jika dibandingkan dengan tahun-tahun lalu, kau―kemampuanmu berkembang dengan pesat. Aku tidak melihat lagi sosok gadis dengan kucir kuda yang gugup setengah mati sebelum lomba dimulai, dengan wajah tidak meyakinkan seperti mau muntah tapi pada akhirnya ia menjadi pemenang dengan senyum konyolnya. Hahahaha.”

DEG!

Apa yang barusan diucapkan Minho membuat Iseul terhenyak. Entah kenapa kata-kata Minho barusan begitu mengena di hatinya. Rasanya seperti Minho sudah memperhatikannya sejak lama. Rasanya seperti mereka berdua benar-benar dekat.

“Kalau begitu aku juga tidak akan kalah dari sunbae,” balas Iseul.

Eo, kita adalah rival.” Minho menyodorkan kepalan tangannya pada Iseul. Sejenak Iseul merasa ragu.

Rival? Apa hanya itu perkembangan dari hubungan mereka yang sebelumnya hanya senior-junior? Kata ‘rival’ terdengar sedikit lucu. Akan lebih mudah dimaklumi jika mereka bertanding di lahan yang sama. Maksudnya, gender mereka saja sudah berbeda. Tapi untuk sekarang ‘rival’ terdengar lebih baik.

Iseulpun membalas kepalan tangan Minho. Rasa hangat itu menjalar ketika kulit mereka bersentuhan. “Eo, kita adalah rival.”

 

***

 

Chanyeol berlari dengan tergopoh menuju ruang musik dengan tangan kiri yang membawa sepasang stik drumnya kesayangannya. Dimana teman-temannya sekarang sudah pasti menunggunya. Dan sudah pasti dirinya akan dijadikan bulan-bulanan atas keterlambatannya.

Saking terburu-burunya, tubuh jangkungnya berkali menabrak siswa-siswa yang berkeliaran karena sekolah telah berakhir. Tidak jarang korbannya itu meneriakinya dan Chanyeol harus meminta maaf―berseru, sambil terus berlari. Lalu saat stik drumnya jatuh menggelinding di lantai, giliran Chanyeol yang mengumpat dan kembali berlari.

Melihat papan nama ‘ruang musik 1’ bagi Chanyeol seperti melihat oasis di padang pasir. Nafasnya semakin tidak beraturan dan Chanyeol merasa seperti anjing yang kelewat semangat ketika bermain frisbee atau lempar-tangkap tongkat bersama pemiliknya. Sekarang sebagian besar dirinya sudah pasrah jika nanti dirinya jadi bulan-bulanan teman-temannya.

Brak!!

“H-hai semua!” bersamaan dengan terbukanya pintu ruang musik, tubuh Chanyeol terhuyung ke depan. Keseimbangan yang dipertahankannya mati-matian harus kalah dengan rasa lelah dan gravitasi. Kini Chanyeol harus tersungkur di lantai.

“Dasar jam karet!” pick gitar milik Jongin bergerak secara parabola sebelum jatuh di punggung Chanyeol.

Tidak ada protes yang keluar dari bibir Chanyeol. Pemuda itu berdiri dengan acuhnya dan segera menuju ke instrumennya. “Salahkan Park sonsaengnim yang menyuruhku untuk mengurus absensi kelas. Kalian lupa jika aku ini bagian dari pengurus kelas, uh?!” Chanyeol membela dirinya.

“Aku juga anggota pengurus kelas tapi aku bisa membagi waktu dengan baik.” Sehun mulai menyombongkan diri. Jemarinya yang panjang-panjang memetik senar-senar bass dengan lihai meski bassnya itu belum terhubung dengan aliran listrik.

Mendengar bualan Sehun barusan membuat emosi Chanyeol naik satu tingkat. Dengan stik drum yang sangat jelas terarah pada pokerface Sehun, Chanyeol berseru, “Aku berbeda denganmu! Na.wa.neo.dallaya! Uriga dallaya, dalla! Aku ini ketua kelas yang berarti jadwalku lebih sibuk ketimbang kau yang hanya menduduki jabatan seksi kesenian!”

“Bukan berarti kau bisa menghina jabatanku seperti itu, derp.” Pokerface Sehun masih bertahan. Ditambah suara sengaunya membuat siapapun ingin melempar sepatu mereka ke kulit putih mulus di wajah milik Sehun.

“Aku tidak menghina jabatanmu, poker!”

Ani. Kau menghinanya. Secara eksplisit. Tersirat.”

“Ti-dak!”

“Kenapa kau mengelak sebuah fakta?”

“Sudah kubilang aku tidak menghi―”

Dangg!!

Satu nada minor yang memberi kesan horror ampuh menghentikan perdebatan tidak berguna dua orang bodoh itu sebelum bertambah parah. Kini Chanyeol dan Sehun sama-sama menoleh ke sumber suara. Mimik wajah linglung yang biasanya dipakai oleh Yixing kini sudah berganti menjadi mimik wajah stoic yang membekukan keduanya. Mimik stoic Yixing berarti ketenangan mutlak yang absolut, tak terbantahkan.

Yixing masih mempertahankan mimik stoicnya. Dua bola matanya menatap lurus kearah Chanyeol dan Sehun yang sekarang nampak kikuk. Pemandangan seperti ini justru mengundang gelak tawa dari Jongin dan Jongdae. Bahkan Jongdae sampai berguling-guling di lantai ruang musik. Di band mereka hanya Yixing-lah yang―mungkin―masih waras.

“Jadi kenapa kau masuk terburu-buru seperti itu, Chanyeol?” Yixing bertanya dengan nada yang biasa ia gunakan ketika mimik linglungnya ada, tapi wajahnya yang masih stoic memberi kesan aneh sekarang ini.

“Ah ya, itu―”

“Sepertinya kau ingin menyampaikan sesuatu.”

“Memang begitu adanya. Jadi―”

“Kenapa tidak menyampaikannya lebih awal?” wajah stoic Yixing kini sudah hilang. Diganti wajah linglungnya yang membuatnya nampak konyol.

“Bagaimana aku bisa menyampaikannya kalau kau terus memotong ucapanku?!” gertak Chanyeol kesal. Tawa ketiga personil lainnya pecah.

Ralat. Semua anggota di band mereka tidak ada yang waras. Termasuk Yixing.

“Katakan Chanyeol, katakan. Sebelum emosi itu membakarmu.” Jongdae yang sudah berhenti berguling menyahut.

“Jadi Chanyeol masih emosi karena Sehun?”

Satu pertanyaan bodoh dari Yixing kembali menyulut tawa ketiga personil lainnya. Chanyeol tentu saja keluar dari hitungan karena sekarang pemuda bertubuh lebih dari seratus delapan puluh sentimeter itu berjongkok memukul-mukul lantai menggunakan stik drumnya. Hanya sebentar lalu ia menghembuskan nafas dengan kasar.

“Hahahaha… ja, jangan… pedulikan dia. Cepat katakan ada apa,” kata Jongdae yang sedikit tersengal karena berusaha mengontrol tawanya yang bisa saja meledak lagi jika reaksi-reaksi konyol ditunjukkan oleh Yixing.

Chanyeol bangkit dari jongkoknya kemudian beralih ke kursi di belakang set drumnya. Jawaban tidak langsung keluar dari mulutnya. Keinginannya untuk menabuh drum lebih kuat. Tabuhan bertempo sedang lalu terdengar.

“Hoi! Kali ini mau kulempar dengan gitar?” tubuh Jongin memutar ke belakang. Meski bukan dia orang yang diacuhkan oleh Chanyeol, tapi tetap saja itu membuatnya kesal. Jongdae bukan satu-satunya orang yang penasaran dengan apa yang akan disampaikan Chanyeol.

Seperti yang sudah bisa diduga, Chanyeol masih bermesraan dengan drumnya.

“Hoi! Park Chanyeol!” Jongin berseru lebih keras.

Chanyeol masih menabuh drumnya namun dengan tempo yang lebih lambat. Tapi kali ini ia menjawab, “Audisi untuk band pengisi festival sekolah tahunan akan diadakan sebentar lagi. Hanya akan ada enam band yang terpilih…”

“Hanya itu?” Sehun menyadari nada menggantung di akhir kalimat Chanyeol.

“Tentu saja tidak!” Tak! Tak! Dum! Ctas! Sengaja, Chanyeol menggebuk drumnya untuk memberi efek dramatis. Tapi gagal.

“Jadi, apa? Tidak usah kau beri efek dramatisasi seperti itu. Kami tidak terpengaruh oleh efek payah darimu itu.” Tumben perkataan Jongdae tidak begitu tajam dan pedas.

Bibir Chanyeol mengerucut dengan tidak imutnya. Mungkin orang-orang yang melihatnya akan langsung menendang Chanyeol jauh-jauh dari jangkauan pandang mereka. Namun Chanyeol tidak punya kesempatan untuk berlama-lama bersikap sok imut seperti itu karena teman-temannya sudah menatapnya dengan tatapan membunuh. Kecuali Yixing. Tatapan Yixing persis seperti anak anjing.

“Itu….” Lagi, Chanyeol sengaja memberi jeda. Untuk mencari perhatian, untuk lebih menarik rasa penasaran teman-temannya lebih tinggi. Tapi lagi-lagi usahanya gagal. Tatapan membunuh tiga temannya dan tatapan anak anjing dari Yixing masih tidak berubah. Tidak ada pilihan lain bagi Chanyeol selain melanjutkan kalimatnya, “…itu, kurasa band kita akan bisa segera tampil di Eternal Memory dan Nowhere.”

“Kau tidak bercanda?”

“Tidak mungkin!”

“Jangan membual lagi, bung!”

Eternal Memory… Nowhere?”

Reaksi yang terakhir merupakan reaksi milik Yixing. Tidak perlu diragukan lagi.

Eternal Memory dan Nowhere. Tidak heran kedua nama itu membuat adrenalin Jongin, Jongdae, dan Sehun memuncak diiringi rasa tidak percaya. Eternal Memory merupakan sebuah café yang terkenal. Bukan hanya karena hidangan-hidangannya yang enak serta konsep musik yang mereka usung. Café itu juga terkenal dengan live performancenya yang selalu memukau di hari Jumat hingga Minggu malam. Dan bisa dibilang untuk tampil di Eternal Memory cukup sulit. Belum lagi menjadi live-performer tetap.

Sedangkan Nowhere adalah tempat underground pertunjukan band indie. Setiap malam―setiap hari, Nowhere tidak pernah sepi mengguncang malam dengan penampilan-penampilan band indie. Mereka yang ingin menonton harus membayar tiket. Bisa dibilang Nowhere adalah tempat yang bagus untuk menggaet fans dan ‘membuat’ nama. Persaingan di sini juga tidaklah mudah. Terutama untuk mendapatkan tiket masuk untuk tampil.

Di tengah krisis kepercayaan itu, Chanyeol berdiri lalu merentangkan tangannya lebar-lebar. “Apa aku terlihat seperti seorang yang sedang membual sekarang ini? Teman-temanku yang budiman, percayalah pada perkataan Park Chanyeol ini.” Masih tidak ada reaksi. Chanyeol berdecak sebelum mengeluarkan senjata pamungkas miliknya. “Geurae… kalau kalian tidak percaya. Ini adalah jadwal perform kita.” Secarik kertas yang keluar dari saku seragam Chanyeol kini melambai-lambai dan dalam sekejap sudah menjadi bahan rebutan anggota yang lain.

Omona, ini bukan mimpi!” manik hitam milik Jongin terbelalak tak percaya.

“Ini benar-benar terjadi….” Sehun menunjukkan ekspresi terkejut.

“Wah, baru kali ini kau bisa diandalkan.” Kelakaran Jongdae yang biasanya akan disambut stik drum melayang kini hanya disambut tepukan keras di dada oleh Chanyeol. Kali ini kelakar Jongdae terdengar enak di telinga dan tidak tersangkut di hatinya. Malah membuat Chanyeol merasa bangga.

“Jadi artinya kita harus latihan lebih giat lagi, bukan?”

Celetukan Yixing menyadarkan semua. Buru-buru kelima anggota band itu menempati spotnya masing-masing dan mulai menyetem alat musik mereka. Setelah semua siap, dalam ketukan keempat dari Chanyeol latihan mereka dimulai.

 

***

 

Kamsahamnida Hongsik sonsaengnim!” Iseul mengucapkan salam perpisahan pada Hongsik sonsaengnim seraya membungkukkan badan. Pemeriksaan rutinnya baru saja selesai. Langkahnya di koridor rumah sakit terasa lebih ringan.

Sesekali Iseul berpapasan dengan beberapa perawat atau dokter dan saling menyapa juga menanyakan kabar masing-masing. Obrolan yang tidak bisa bertahan lama karena mereka yang bekerja di rumah sakit tidak punya banyak waktu. Lagipula saat ini belum saatnya istirahat.

“Cha Iseul!”

Tepukan di pundak itu menghentikan langkah Iseul yang baru saja menjejaki lobi rumah sakit yang cukup ramai sore ini.

Iseul memang terkejut tapi ia dengan segera menguasainya. “Ah, Minho sunbae… kenapa sunbae ada di sini?”

Senyum lebar khas Minho menyambut, “Aku menjenguk kerabatku yang sakit,” Minho mengangkat satu bingkisan yang berisi penuh dengan buah-buahan, “Kau sendiri?”

“Kalau begitu aku juga sama….” Iseul berbohong.

“Ah… geurae.” Minho mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. Sama sekali tidak mengendus aroma kebohongan dari jawaban tadi. “Kalau begitu aku pergi dulu, ya? Kurasa aku sudah terlambat.”

“Tentu saja sunbae.”

“Sampai jumpa besok, di sekolah!” tangan Minho melambai seiring dengan kakinya yang mulai melangkah lagi.

Eo, sampai jumpa besok di sekolah.” Iseul mengantar Minho dengan senyuman dan balas melambaikan tangannya. Senyum yang membuat langkah Minho semakin ringan.

 

 

― To be continued ―

Glossary:

Godeunghakgyo : SMA

Banga-banga : bahasa gaul dari bangawoyo/bangapseumnida (senang bertemu denganmu)

Yeoksi : As expected, seperti yang diharapkan (dari)… / hebat banget

Na wa neo dallaya : aku dan kamu beda (wa: dan, dalla: berbeda) / uriga dallaya: kita beda. (Uri bisa berarti ‘kita’ atau ‘-ku’ yang menyatakan kepunyaan, cth: uri Sehun-i jinjja meossisseo (Sehun-ku bener-bener ganteng) /Author dibakar/

Dokter dalam bahasa Korea adalah ‘uisa‘ (hangeul: 의사), tapi bisa juga disebut ‘sonsaengnim‘ yang berarti guru. Kalo liat drama-drama Korea pasti masyarakat Korea panggil dokter itu ‘sonsaengnim‘ bukan ‘uisa‘. Kurang tahu juga kenapa bisa begini. Mungkin ada yang bisa jelasin ke author? xD

 

 

A/N (lagi)       : Kelar juga chapter 1-nya. Pembuatan chapter ini cukup menyenangkan meski sempat berhenti di tengah jalan karena feelnya tiba-tiba terputus dan author sendiri juga merasa masih samar buat nulis chapter ini, kayak ada kabut yang menutupi pintu imajinasi author /halah/ . Tapi mudah-mudahan readers sekalian nggak ya? Kkkk. Chapter ini pacenya menurut author cukup cepet karena cuma menceritakan debut SMA Chanyeol dan Iseul dan awal-awal kehidupan SMA mereka. Jadi mohon dimaklumi kalau masih samar-samar :3 You can call it as an appetizer instead. Ah ya, nama band Chanyeol cs belum terungkap ya? Mungkin di chapter berikutnya. Di chapter berikutnya mereka juga masih dalam kehidupan SMA mereka dan mungkin pacenya bakal cepet (lagi), hwhwhwhw. Mungkin pacenya bakal cepet, kadang nggak /payah/ tapi semoga takarannya pas jadi enak dibaca juga sama readers sekalian. Selain itu silahkan sampaikan kritik atau review kalian di bagian yang kurang sreg di hati. Author bener-bener nunggu buat kritikan dan review kalian lho, daripada komentar minta cepet update new chapter :3 /smirk/ RnR please…! Sorede… see you next chapter! Masih sama dengan author cakep ini XD

16 tanggapan untuk “Tempus Fugit, Amor Manet [Chapter 01]”

  1. Kyaa~ dbut SMA para flower boys 😍 from d’very beginning ja dah sngt membahagiakanku, canda2an mrk di dpn gate sklh itu.. kyaa~ melting.. pengen poto2in 😁 pengen jd tmn 1kls mrk 😍 trus jd stalker ky trio fujo di KPF, 😂 ㅋㅋㅋㅋㅋ
    Jdl’ny diambil dr bahasa apa itu? Kren arti’ny ☺
    이슬 skt / cidera? Moga ga parah.
    우리 세훈이 emang bner2 ganteng 😍

  2. Hahahah, aku suka sama tokoh Iseul ini. Kelihatannya kayak “super-hyperactive but clumsy and shy heroine”. Len-san, tadinya aku pikir “eternal memory” itu maksudnya band mereka cuma bakal dalam kenangan, dan “nowhere” itu maksudnya mereka gabakal manggung dimana-mana. Ternyata salah toh. Aku ngakak sumpah baca pas bagian mereka berantem di ruang musik. Tiga bintang untukmu!

  3. Demi namaku sendiri ff ini kereeeeennnnnnn bangeeettt❤
    Walaupun ada kata ‘pantat’ tadi sedikit ‘tidak enak’ (mian,hanya pendapat😁) tapi SEMUANYA UDAH PERFECT!!
    Kalau Boleh tau,arti judulnya apaan ya?,-,

    1. Gyaaakkk! Makasih lho ya udah dibilang keren >.<
      Hahahaha, gak apa-apa, Len maklum.
      Artinya "Time flies, love stays" 🙂

  4. tertarik sama kisah si atlet lari dan drummer ganteng :3
    jadi… gimana mereka ketemu?
    iseul puya penyakit ya? apa ya kira-kira?
    oke, aku tunggu next chap nya… ^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s