All The Same Thing and That Different One

tumblr_m5ddb2iv3L1r1yan6o1_r1_500

All The Same Thing and That Different One by sleepingpanda

EXO’s ZhangYixing and Luhan | Oneshoot | One hundred percent friendship,

not bromance not yaoi or something like that |

*

Luhan melihat semua hal dengan cara berbeda,

Yixing menganggap semuanya sama

*

Luhan, semua hal selalu terlihat berbeda di matanya. Seperti saat ia mencicipi sepiring panekuk buatan ibunya hari ini dan sepiring buatan ayahnya di hari lain. Ia sama-sama memasukkan adonan tepung, telur dan susu kedalam mulutnya, sama-sama menuangkan sirup mapel diatas kudapannya, lalu makan dengan cara yang sama. Tetapi baginya, yang terasa di lidah selalu berbeda.

Yixing, pria Changsa itu mengganggap semuanya sama. Ia beranggapan bahwa semua kicauan burung yang ia dengar pagi ini tak berbeda dengan pagi sebelumnya―yang kadang membuatnya bosan. Atau anggapan bahwa Jongdae dan Baekhyun sama, cerewet dan berisik.

Seperti pagi ini, ia mengendap-endap keluar dari dorm, menutup pintu sepelan mungkin dan menghela napas lega ketika ia tahu tidak ada satupun member yang terbangun atas kegaduhan kecil yang ia buat―terutama Jongdae dan Baekhyun yang sama-sama cerewet dan berisik. Bukan kebiasaan Yixing untuk bermain rahasia di pagi buta, ia tipikal yang selalu mengatakan apa yang ingin ia katakan, walaupun terkadang ia benci dengan sifatnya itu, sih. Tapi untuk pagi ini ia hanya tak mau ada seorangpun yang terlalu penasaran sehingga mengharuskan ia terjebak dalam interogasi pagi atas sikapnya yang diluar kebiasaan.

Ia menyusuri pinggiran terotoar yang basah, menenteng buku lusuh yang ia ambil dari rak buku Kyungsoo dan berakhir pada Starbucks 24 jam terdekat. Meringkuk di sudut kafe dengan secangkir likuid hitam pekat panas dan bagel merupakan pilihan paginya untuk kali ini―yang benar-benar diluar kebiasaan. Oh, masa bodoh dengan kebiasaan.

Ia memandang kosong buku bergambar manis di atas meja, buku Kyungsoo yang ia ambil diam-diam pagi ini. The Happy Prince milik H.C. Andersen sepertinya bukan termasuk buku yang keren untuk dibaca oleh pemuda seusianya, tapi hanya buku itu yang dapat ia sahut di tengah gelapnya kamar Kyungsoo. Ia tak begitu peduli toh ia tak hobi membaca. Bahkan ia tak begitu mengerti kenapa ia harus repot-repot membawa buku.

Sendirian di sudut kafe dengan hanya berteman butiran salju yang tengah meleleh di sepanjang kusen jendela sebenarnya bukan intensi utama kenapa ia harus mengendap-endap di pagi buta. Sesapan likuid pekat yang ia pesan tak membantu apapun―masih terasa pahit―sama sekali tak menghilangkan perasaan aneh yang sering menghinggapi paginya akhir-akhir ini, tak menghilangkan lubang-lubang hitam kasat mata yang semakin hari semakin bertambah.

Lantunan musik indie berdentum halus disepanjang ruangan tempatnya duduk. Ia kenal lagunya dan tanpa sadar sebelah kaki yang terbalut sepatu biru mengetuk-ketuk mengikuti alunan musik. Pikirannya melayang bersama hembusan udara yang keluar dari  kedua parunya. Ketika ia biasa berbagi earphone, mendengarkan lagu ini bersama seseorang, kenyataan menabraknya dengan keras―ia hanya sendiri sekarang dan mau tak mau semua pemikiran itu membuanya sedikit kalut.

Maka dari itu ia menyahut ponselnya dan berusaha membuat satu sambungan telepon.

“Halo?” Beberapa lengkingan nada sambung sebelum sapaan ramah terdengar dari seberang telepon.

“Hai, Lu.”

“Yixing?” Kikikan hangat terdengar memenuhi telinga Yixing, menyuntikkan gelenyar aneh pada sekujur tubuhnya. “How’s Seoul? Freezing? Same here.”

Sudut mulut Yixing terangkat sebentar. Suara Luhan masih sama seperti terakhir kali ia mendengar ocehannya. Manis, tapi berisik. “Yeah, its freezing here. Bagaimana Beijing?”

“Percayalah cuaca Beijing tak pernah main-main. Aku terpeleset tiga kali hanya untuk membeli sekotak susu di minimarket.” Luhan mendengus dari seberang telepon.“Oh, apa ada masalah sehingga kau menelepon?”

“Tidak, aku hanya ingin tahu keadaanmu hari ini.”

Aneh, tapi beginilah mereka. Seolah semua keadaan masih seperti biasa, seolah yang terjadi di waktu-waktu lalu hanyalah sebuah kejutan pesta ulang tahun, seolah Luhan hanya mengunjungi kampung halamannya sebentar dan akan segera pulang dengan membawa sekantung besar oleh-oleh. Setidaknya hal-hal itu yang selalu ada di benak Yixing. Tapi toh ia sudah dewasa. Ia selalu dipaksa mengerti dan memahami keadaan, berusaha setengah mati tak mengungkit apapun yang baru saja terjadi dengan Luhan walaupun ia ingin.

“Membaca sendirian di sudut kafe ternyata tak begitu menyenangkan, makanya aku menelepon.” Cibir pria Changsa itu.

“Kau bahkan tak suka membaca, Yixing.”

Ia akui membaca atau apapun yang ia lakukan pagi ini hanyalah sebuah dalih tak masuk akal yang ia buat-buat sendiri. Membaca? Bahkan ia tak suka membaca apalagi buku dongeng yang tengah teronggok di samping jemarinya. Demi Tuhan ia hanya ingin terlihat baik-baik saja dengan membuat alasan padahal ia hanya rindu setengah mati untuk berbincang dengan sahabatnya dan butuh satu sambungan telepon.

Mengetahui bahwa Luhan dalam keadaan baik-baik saja tak terasa cukup menyenangkan untuknya saat ini. Tidak, bukan karena ia benci Luhan. Ia hanya benci mengetahui bahwa dirinya belum cukup baik, mengingat otaknya yang serasa bisa kapan saja meledak ketika memikirkan berjuta alasan mengapa Luhan pergi.

“Yah, kau yang paling tahu, dude. Bahkan aku salah mengambil buku dongeng dari kamar Kyungsoo.” Ia mencibir, tertawa dengan sedikit terpaksa.”

“Kau dan alasanmu.” Suara seberang telepon menambahkan.

Ia akui berbincang dengan Luhan masih terasa begitu menyenangkan bagi Yixing hingga saat ini. Mulai dari segala kebiasaan yang selalu mereka lakukan bersama, tinggi badan Chanyeol yang serasa bertambah setiap harinya, kelakuan Baekhyun yang semakin menggila, semua, sampai lelehan salju di kusen jendela berubah menjadi tetes-tetes air dingin. Sampai pada titik dimana Yixing tersadar jika pemuda itu―Luhan, tak lagi ada di sofa berseberangan dengan tempatnya duduk.

Terkadang percakapan dengan Luhan membuat otak dan matanya tidak bersinkronasi.

Luhan masih mengoceh tentang beberapa stylist pribadi miliknya yang terkadang membuatnya kesal setengah mati ketika mereka memilihkan setelan atau potongan rambut yang tak sesuai dengan keinginan Luhan ketika suara parau Yixing menginterupsi begitu saja rentetan cerita panjang Luhan, membuat ceritanya berhenti ditengah-tengah, menggantung seperti layang-layang yang putus lalu dengan malang tersangkut di salah satu ranting pohon.

“Pernah berpikir untuk kembali?” Itu mulut bodoh Yixing yang berbicara. Ada hening sedikit sebelum Luhan mendesah pelan. Tiba-tiba ia merasa ada satu buah jeruk tersangkut di tenggorokannya.

“Sudah kubilang, Yixing. Kita berbeda. ”

Mereka berbeda. Itu yang berkali-kali Luhan seolah tak ada alasan yang cukup tepat bagi Luhan untuk dibicarakan padahal Luhan hanya tak tahu bahwa Yixing bak orang gila berhari-hari berusaha memahami keadaan. Yixing tak akan pernah bisa marah pada Luhan atau siapapun, mekanisme tubuhnya selalu membuatnya seperti itu. Jadi yang ia bisa lakukan hanyalah mengangkat sudut-sudut mulutnya.

“Kalau itu alasanmu tak ingin kembali, kau salah, Lu. Tak ada yang membuatnya berbeda,kita sama―”

“―Kita sama-sama bertaruh atas hidup. Seperti bermain dengan labirin kalau boleh aku bilang. Kita memilih apa yang kita yakini benar, sama-sama bertahan atas semua kemungkinan,” Helaan napas terdengar setelahnya. ”We’re just doing gambling with our life, Lu.”

Sorry, a−aku―”

“Tak apa. Tak ada yang bisa disalahkan.”

Yixing tak pernah bisa menebak apa yang sedang Luhan lakukan dibalik sambungan teleponnya, untuk saat ini, setelah pertanyaan bodoh Yixing yang entah mengapa sama sekali tak ia sesali telah mengatakannya dan setelah permintaan maaf dari orang di seberang telepon. Entah ia sedang tersenyum atau menangis. Yixing tak pernah tahu, tapi jika toh pria itu menangis, ia tak pernah menunjukkanya atau membuatnya terlihat kentara. Begitulah Luhan.

“Lu, aku harus pergi.” Yixing berkata singkat.

“Tunggu Yixing, sebelum kau menutup sambungannya aku ingin mengatakan sesuatu,” Suara Luhan di seberang sambungan berubah berat dan helaan napas frustasi terasa memenuhi telinga Yixing.”Entah apa yang aku anggap berbeda telihat sama bagimu, atau drama konyol antara aku dan agensi masih terus terjadi. Tapi ketika suatu saat aku menelepon, pastikan angkat teleponmu,” kata-katanya terputus.

“Dan aku harap, begitu juga sebaliknya.”

Sure, buddy, kapanpun, kecuali saat kau menelepon dan aku sedang berada di kamar mandi.” Kekehan kecil Yixing lalu disusul sapaan ramah Luhan menutup obrolan panjang mereka hari itu. Matahari sudah cukup naik tanpa ia sadari. Yixing meletakkan ponselnya di sebelah buku dongeng yang menganggur sedari tadi. Matanya menatap, entah apa, dengan nanar namun perasaan-perasaana asing yang selalu menghinggapi ketika ia bangun tidur seolah sedikit berkurang, menguap entah kemana.

Sesapan cairan hitam dari cangkirnya untuk yang terakhir kali―kopinya tak lagi panas, sebelum ia beranjak kembali menyusuri terotoar licin dengan buku dongeng di genggamannya dan membayangkan ia akan bertemu dengan muka-muka kusut teman satu dorm nya karena sebenarnya―yah―hari ini jatahnya untuk membuat sarapan. Oh, tolong ingatkan Yixing tentang penyumbat telinga saat cicitan Baekhyun dan Jongdae menyambut paginya.

 

Yeah, take care, buddy

Finished!

A/N: About a-couple-of-month-draft and those damn golden trio (minus wufan) start to messing up my life again and how much I miss their moment and end up with just fiction really torn my heart into pieces, ugh you piece of bacon ;;;;;

 

 

 

About a-couple-of-month-draft and those damn golden trio (minus wufan) start to messing up my life again and how much I miss their moment and end up with just fiction really torn my heart into pieces, ugh you piece of bacon ;;;;;

6 tanggapan untuk “All The Same Thing and That Different One”

  1. sampe skrg kita ga tahu alasan yang sebenarnya mereka pergi n mgkin juga kita gak bakal tau.. drama antara mereka n agensi juga masih berlanjut.. kita sbgi fans cuma bisa ngeliat n ngedukung apapun yang mereka lakuin asalkan mereka bahagia.. mereka yg pergi psti punya alasan berbeda tapi terlihat sama.. 😀
    enak banget baca ff kamu.. kayak bener2 nyata..n berharap emang kayak gini hubungan mereka, gak cuma sama Luhan tapi sama Kris n tao.. ^^
    duh, bapeeer… kangen Luge 😥
    d tggu next karyanya thor..^^

    1. that’s how the whole world works, indeed :’) pas lagi kangen mereka terus ngarep aja kalo mereka tuh masih kaya gini sampe kapanpun haha makasih udah sempetin baca 🙂

  2. jumat pagi yang baper.. apalah gue baper dan puasa jadi plus plus bapernyaaa… apapun yang terjadi kita hanya perlu mendukung mereka.. terlepas dari keegoisan atau apapun itu.. pilihan orang dewasa itu membuat pusing jadi daripada pusing lebih baik kita tetap bertahan dengan dukungan untuk mereka dan menikmati seperti anak kecil yang menonton kartun lalu tertawa lepas meski tak tahu apa maknanya..

  3. Yahhhh jadi baper deh thor :” Aku juga masih bingung alasan mereka pergi kenapa. Soal honor kan bisa dibicarain baik-baik. Malah curhat yaudah thor ditunggu karya selanjutnya 😀

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s