Extreme Neighbour [FF Request]

Extreme Neighbour

OC’s Ahn Hyun Yi / Park Chanyeol / Xi Luhan and other

Oneshoot / AU / failed!Comedy / lilttleRomance / brokenFluff / PG 13 (for bad words)

a present by l18hee

and

a request by WhitePingu95

I own the plot

-RnR Please-

let’s taste my coffee

Antara Chanyeol yang katanya tidak pernah ganti celana dalam dan Hyun Yi yang katanya gemar mengorek hidung.

Minggu pagi, saat yang sangat bagus untuk mengembunyikan diri di balik gulungan selimut tebal dan bantal mimpi. Tak ada yang meneriaki untuk bangun. Tak ada yang menarik selimut dengan paksa. Tidak perlu bersiap ke sekolah. Haah… segalanya jadi terasa tenang bagi Chanyeol. Dia tak perlu mendengar teriakan ibunya dari lantai satu. Jadi tidur sampai jam berapapun ia mau, tak masalah.

Yah, sebenarnya itu hanya sekedar impian baginya. Bayangan hari minggu tenang seperti yang kebanyakan orang miliki termasuk dalam daftar yang -paling tidak- harus Chanyeol miliki selama hidupnya walau hanya untuk sekali. Sungguh, satu kali saja sudah cukup. Chanyeol sama sekali tidak tahan dengan kegiatan hari minggu yang sudah ia alami sejak kecil. Tetangga cantik bersurai ombre itu sungguh mengganggunya. Catat ini, namanya Hyun Yi. Ahn Hyun Yi. Tak ada yang pernah mengira jika gadis dengan tinggi semampai dan tubuh bak model ini adalah salah satu dari daftar orang yang Chanyeol rekomendasikan untuk dihindari.

Intinya jika kalian bertemu dengan gadis seperti ciri di atas dalam jarak kurang dari 10 meter sebaiknya lari. Jika tak ingin terjadi sesuatu, Chanyeol benar-benar merekomendasikan untuk berlari secepat-cepatnya. Dan jangan sampai bertemu dengannya lagi. Selamanya kalau perlu. Karena, astaga, Demi Tuhan gadis bernama Hyun Yi ini benar-benar membuat rotasi hidup Chanyeol berputar seribu kali lipat lebih cepat dari putaran normal. Jika tidak percaya lihat sa-

“PARK CHANYEOL!!!”

Nah, itu suaranya.

“PARK CHANYEOL BANGUN!!”

Gila. Ini bahkan baru pukul 05.30 pagi! Saat hari biasapun Chanyeol baru bangun pukul 07.00 –itupun setelah diteriaki sang ibu.

“PARK CHANYEOL BANGUN SEKARANG!”

Oh, apa tak ada yang mau memperingati gadis itu agar paling tidak mengecilkan suara di minggu pagi seperti ini? Kenapa tak ada yang peduli dengan gendang telinga Chanyeol yang seakan mau pecah? Sialan.

Kini Chanyeol dapat mendengar suara langkah kaki samar-samar menaiki tangga rumahnya. Lihat saja, lima detik lagi pasti pintu akan terbuka lebar. Menampakkan sosok Hyun Yi yang bercacak pinggang memasang tampang kesal.

5

4

3

BRAK!

Oh, lebih cepat dua detik rupanya.

Sekon selanjutnya Chanyeol dengan sigap berguling ke sisi lain tempat tidur. Sayangnya karena ukuran ranjangnya tak seberapa, ia terguling jatuh mencium lantai dengan bunyi bedebum keras. Sial, hidungnya pasti merah.

“AHN HYUN YI! KAU SERIUS MELEMPARKAN EMBER PADAKU?” untung saja Chanyeol sudah mengantisipasi dengan kegiatan berguling tadi. Ember yang dilempar Hyun Yi beberapa detik yang lalu sangat tebal, omong-omong. Lihat? Gadis itu punya kelakuan yang ekstrim. Hidup bersebelahan dengannya merupakan sebuah cobaan bagi Chanyeol.

“Ayo lari pagi,” sebuah cengiran terpeta di wajah si gadis cantik. Tak heran banyak yang mengagumi sang gadis. Salah satu yang membuat Chanyeol menyayangkan betapa tidak pantasnya gadis berkelakuan abstrak ini digilai.

“Tidak mau. Aku masih ngantuk,” mata sayu ditunjukkan Chanyeol yang kembali berbaring tengkurap di kasur. Membuat Hyun Yi mendengus kesal sebelum meraih embernya cepat. Sang lelaki tak pernah memprediksi jika si gadis akan menutupi kepalanya dengan ember. Bahkan sebelum protes terdengar, Hyun Yi seudah lebih dulu memposisikan wajahnya di celah ember. Menyebabkan Chanyeol dapat merasakan deru napas hangat merayap lehernya. Hanya sebentar sih, karena-

“AYO LARI PAGI!!”

-gadis itu sudah berteriak kencang. Membuat gema suara yang dapat memecahkan gendang telinga Chanyeol saat itu juga. Ya Tuhan, tidak bisakan Chanyeol tidur dengan tenang satu kali saja?

Segera saja si lelaki yang hanya mengenakan boxer dan kaus tipis tanpa lengan itu beranjak dan mendorong tetangganya menjauh. Dia masih sayang pada telinganya. Jadi dengan amat-sangat terpaksa ia menurut. Toh, ia bisa kabur nanti saat Hyun Yi lengah.

Kini keduanya sudah berada di taman. Jika dilihat seklias pandang, terlihat seperti sepasang kekasih. Yang satu cantik, yang satunya lagi tampan. Sungguh serasi.

Oke, perlu penekanan pada kata sekilas pandang. Jika diperhatikan baik-baik justru terlihat mengganggu.

Lihat saja kelakuan mereka yang saling mendorong dengan wajah menggerutu. Dilanjutkan dengan saling mencuri kesempatan untuk menginjak sepatu satu sama lain. Dan berakhir dengan bertukar toyoran di kepala. Sungguh tidak bisa tenang. Mereka memutari taman beberapa kali dan sukses mendapat perhatian sebagian orang yang ada. Yang tadinya memuji keserasian mereka, sekarang berubah sangsi. Sadar jika mereka terkesan ‘aneh’ untuk disebut sebagai sepasang kekasih.

Di putaran ke lima akhirnya mereka menghentikan langkah. Peluh sudah membanjiri tubuh keduanya. Yang pertama bersuara adalah Chanyeol, “Yang kalah harus membeli minum.” Hyun Yi mengerti itu adalah sebuah kode ajakan suit. Mereka sering melakukannya. Manik Hyun Yi berkilat semangat. Biasanya dia beruntung di saat seperti ini.

“Batu, kertas, gunting!” seruan keduanya berakhir dengan sorakan Chanyeol yang mengepalkan tangan. Mengalahkan Hyun Yi yang mengandalkan jari telunjuk dan ibu jari –simbol gunting gayanya. Baiklah, gaya gunting kebanggaannya sedang tidak memberi efek sekarang. Menjadikan ia berlalu sebal menjauhi Chanyeol yang tertawa bangga. Selang beberapa saat kemudian Chanyeol sudah duduk santai di bangku taman. Mengizinkan angin sepoi meniup-niup poni basahnya dan memberi kesejukan di sana. Dia baru akan mulai menggerutu  jika saja sebuah sapaan mengalun ke telinga. Suara lembut khas seorang gadis remaja. Tentu saja Chanyeol segera memasang tampang sok tampan andalannya sebelum menoleh pelan. Nasib seorang lelaki tampan adalah akan ada banyak gadis yang menyerukan namanya seperti ini.

Lihat? Sang pemilik suara adalah Kang Yoran, satu sekolah dan satu tingkat di bawah Chanyeol. Salah satu dari deretan gadis cantik yang menjadi incaran para siswa sekolah. Huh, bahkan Yoran bisa mendekat tanpa Chanyeol pancing. Semakin membuat ia bangga dengan setumpuk kharisma dalam dirinya. Jika Hyun Yi mendengar ini, pasti dia akan muntah ditempat.

“Ya?” Uh, suara baritonnya sangat dibuat-buat.

Sunbae sendirian?” suara ceria Yoran membuat Chanyeol tertawa dalam hati. Mengejek setiap lelaki di luar sana yang mengidolakan si gadis. Sebut saja Chanyeol angkuh, tapi bukan salahnya Yoran tertarik padanya, bukan?

“Sepertinya kau juga,” Chanyeol mengulas senyum tipis. Sudah cukup membuat Yoran merona di sana.

“Boleh aku duduk di sini?” mendengar pertanyaan Yoran, sang lelaki memasang lagak berpikir beberapa saat sebelum menepuk sisi kosong di sampingnya. “Kebetulan sekali aku bisa bertemu sunbae di sini,” si gadis menyunggingkan senyum yang tak dibuat-buat. Jiwa tebar pesona milik Chanyeol bangkit karenanya, “Mungkin takdir.” Yoran bisa saja menjerit senang dengan tanggapan Chanyeol. Pun senyum seringai yang Chanyeol pasang sungguh membuat dirinya meleleh. Tapi sebuah suara yang terkesan mengejek memecah percakapan mereka.

“Tapi sepertinya bukan takdir baik,” itu suara Hyun Yi, yang sudah kembali dan menyembulkan kepala dari balik bangku. Membuat ia terlihat di antara Chanyeol dan Yoran yang sedang bertukar pandang. Sebelum Chanyeol menanggapi, Hyun Yi kembali berucap santai, “Kau belum paham ya?” Nadanya terdengar mengejek, ia menunjuk sang lelaki sebelum kembali membuka mulut, “Dia ini playboy telinga lebar. Kau mau kencan dengan lelaki tiang listrik berdaun telinga lebar ini? Bahkan jika aku punya pesawat, aku bisa mendaratkan pesawatku di telinganya,” Ups. Chanyeol sedang menahan umpatannya sekarang.

“Dia juga tidak pernah ganti celana dalam. Aku saksinya. Setiap pagi, saat membangunkannya dia pasti sedang memakai celana dalam spongebob pemberian temannya,” Oke, yang dimaksud celana dalam oleh Hyun Yi adalah boxer spongebob kesayangan Chanyeol. Segala ucapan yang meluncur dari bibir gadis ombre itu terdengar sangat santai. Tidak sesantai wajah Chanyeol, tentu. Dia sedang menahan malu –dan marah- di depan Yoran yang kini memasang tampang ‘tak enak’.

“Ja-jangan percaya. Dia memang senang meracau,” Chanyeol mencoba terkekeh pelan. Gaya sok tampannya sudah menguap sejak Hyun Yi datang. Penuturan kedua Hyun Yi terdengar sangat mengganggu dibandinding yang pertama.

“Oh, begitu,” Yoran juga terlihat memaksakan tawa, “Ini sudah hampir siang. Sepertinya ibu akan marah jika aku terlalu lama.” Dia beranjak untuk berpamitan sebelum berlalu pergi. Meninggalkan Chanyeol dengan segudang malu yang baru Hyun Yi lempar padanya. Sebenarnya Chanyeol ingin marah. Tentu saja, siapa yang tidak marah dipermalukan seperti tadi? Tapi melihat Hyun Yi adalah tipe gadis yang tak acuh pada berderet-deret umpatan kesal membuat ia mendengus kesal.

“Aku tidak akan pernah mendapatkan kekasih jika seperti ini,” ia merebut botol mineral dari genggaman si gadis.

“Maaf. Aku ‘kan hanya bercanda. Jangan marah ya?” Mana ada orang meminta maaf dengan nada datar dan wajah tak acuh seperti ini? Tidak ada keculai Hyun Yi. Dan lagi, mana bisa yang tadi itu disebut sebagai bercanda!

Setelah menegak air hingga setetengah kosong, Chanyeol menatap Hyun Yi yang sedang membenarkan tatanan kucir kudanya, “Kalau pun aku marah, memangnya kau mau melakukan apa?”

“Tidak ada, hehe,” nah, ini juga menjadi salah satu alasan Chanyeol merasa sia-sia memperlihatkan seculi pun amarah di depan si gadis. Hanya dalam sekian sekon, Chanyeol sudah mendekatkan wajahnya. Hingga tersisa jarak sekitar tujuh centi di antara mereka. Untuk beberapa saat kedua manik saling tertumbuk. Perasaan mual akibat sesuatu yang seakan terbang di perut sungguh membuat ingin muntah. Adalah Chanyeol yang pertama bersuara.

“Aku yang marah terlihat mengerikan, kau tahu?” terpaan napas sang lelaki bisa Hyun Yi rasakan. Bukannya memerah gugup atau bagaimana, sang gadis justru menggunakan telapak tangan untuk mendorong wajah lelaki di depannya seraya menutup mulut dan hidung dengan tangan yang lain, “Lain kali kau harus gosok gigi dulu sebelum mengancam orang lain.”

Hyun Yi bergegas pergi sebelum Chanyeol sepenuhnya sadar.

“A-apa katanya?” Mulut Chanyeol terbuka sempurna. Dengan kedua alis bertaut ia mencoba menyalurkan karbon dioksida dari mulut yang memantul ke telapak tangan agar masuk ke indera penciuman. Hyun Yi memang sialan. Tapi sayang, dia benar tentang bau mulut Chanyeol. Itulah alasan kenapa Chanyeol menyebutnya sialan sekian sekon kemudian.

Setelah serentet kejadian super tidak enak di minggu pagi, Chanyeol lebih memutuskan bersila di atas karpet kamar seraya memangku gitar kesayangan. Jemarinya sudah menyiapkan diri. Baru saja dipetikan pertama, ada perasaan aneh yang menyusup benaknya. Tanpa berpikir panjang ia langsung beranjak kejendela kamar dan menebar pandang. Tuh, kan, firasatnya selalu benar jika Hyun Yi berjalan melewati pagar rumahnya. Perlu diketahui jika Chanyeol punya sensor tersendiri terhadap eksistensi gadis itu.

Dia memutar otak. Tak ingin menghabiskan sisa hari minggunya untuk meladeli gadis abstrak itu. Dengan segera ia meraih hoodie miliknya dan membuka jendela lebar-lebar. Oke, kakinya panjang, jadi mungkin melompat dari lantai dua tidak akan berdampak terlalu buruk. Lebih terdengar indah ketimbang melihat paras si gadis Ahn.

Seriring dengan suara langkah kaki yang menaiki tangga, Chanyeol sudah sukses berpegangan pada jendela kamar. Dia berpijak pada rangka atas jendela lantai satu sebelum menjatuhkan diri ke rerumputan yang tidak empuk sama sekali. Sekon itu juga suara pintu kamar terbuka terdengar.

“Chanyeol?” ini suara Hyun Yi. Tapi anehnya tidak terdengar dari lantai dua. Membuat Chanyeol yang tadinya masih meringis kesakitan berubah mengedar pandang.

“Sedang berlagak jadi spiderman ya?” terlihat sosok Hyun Yi yang menyangga dagu di jendela lantai satu. Loh? Jadi yang naik ke kamarnya itu siapa?

“Chanyeol, Luhan mencarimu,” seruan sang kakak yang kepalanya tersembul dari jendela lantai dua membuat rasa sakit pada punggung Chanyeol semakin menjadi. Apalagi kala dengan lantangnya Hyun Yi tergelak heboh memegang perut seakan mengejek betapa bodohnya Chanyeol ini. Yah, Chanyeol memang bodoh, omong-omong.

Sekian saat kemudian ia sudah duduk manis seraya memijat bahu di depan Luhan yang sedang masih terkekeh tak habis pikir. Jangan lupakan suara berisik Hyun Yi yang sedang merampok persediaan jelly milik keluarga Chanyeol di lemari pendingin.

“Ini gara-gara siapa, huh?” Chanyeol melotot marah. Yang dipelototi tak peduli, membuat Chanyeol kembali membuka mulut, “Memangnya ada apa mencariku? Tidak biasanya kau datang.” Dan seharusnya tidak perlu datang. Jadi dia tak perlu melompat dari lantai dua.

“Aku bosan di rumah. Mau main game?”

Chanyeol langsung memasang tampang kesalnya. Jadi alasan dia harus melompat dari lantai dua hanya karena Luhan yang mengajaknya bermain game? Dia baru saja akan menolak mentah-mentah jika saja sosok Hyun Yi tak hinggap di pelupuk matanya. Dari pada meladeni gadis itu bukankah lebih baik ia menyanggupi ajakan Luhan?

“Oke!”

Dan satu kata persetujuan itu berdampak pada Hyun Yi memandang jengah pada Chanyeol dan Luhan yang sedang saling berteriak seraya terfokus pada jemari tangan mereka yang menggenggam joystick. Seharusnya siang ini ia ingin menarik Chanyeol untuk menemaninya membeli persediaan buah untuk memenuhi lemari pendingin rumahnya. Tidak asyik ‘kan jika ia berjalan sendiri? Lebih asyik jika bersama Chanyeol. Paling tidak ia punya teman bicara –walau lebih bisa disebut teman bertengkar.

Huh, apa semua lelaki selalu bermain game selama ini? Bahkan sore sudah menyapa tapi kenapa kedua lelaki yang masih saling berteriak itu tetap bersemangat pada game mereka? Hyun Yi sudah kenyang makan jelly. Padahal Yura memintanya jangan menghabiskan persediaan jelly keluarga Park. Ah, sudahlah. Sudah cukup membosankan menunggu Chanyeol berhenti bermain game. Kenapa Luhan tidak pulang-pulang?

“Chanyeol,” satu panggilan disertai sebuah lemparan kacang polong mengenai kepala belakang Chanyeol. Sayangnya tak berefek.

“Chanyeol,” panggilan kedua kali ini diiringi lemparan bungkus kripik kentang dengan bonus rempah-rempahnya yang tercecer di karpet. Untuk yang kedua kali, tak memberi efek. Chanyeol masih berteriak memaki Luhan yang tergelak heboh.

“Chanyeol!” Bantal sofa melayang mengenai kepala Chanyeol hingga lelaki ini tertunduk ke depan. “Park Chanyeol!!” Segera Chanyeol menoleh. Mulutnya yang sudah bersiap melayangkan umpatan kesal seketika berubah haluan ketika melihat Hyun Yi bersiap melemparkan benda lain di sana.

“Ahn Hyun Yi letakkan vas bunga itu!!” Dia membuat tameng dengan kedua tangan. Mengantisipasi sang gadis benar-benar akan tega melemparnya dengan vas. Segala kemunginan buruk selalu ada bagi gadis ekstrim seperti Hyun Yi, bukan?

“Persediaan jelly-mu habis. Nanti aku bisa dimarahi Yura eonni. Temani aku membelinya,” ucap Hyun Yi seraya meletakkan vas bunga tak bersalah ke atas meja. Tentu Chanyeol menautkan alis heran, “Kau yang mengahabiskan, kenapa aku yang harus repot?” Luhan yang tadinya hanya menonton segera membuka suara, “Hei, bagaimana jika aku mengantarmu? Kebetulan aku juga mau pulang.”

“Nah, kau pergi saja dengan Luhan,” Chanyeol beralih menepuk pundak Luhan dan memasang wajah berterimakasih, “Kita impas. Kau membuatku lompat dari lantai dua dan sekarang kau membantuku menemani dia pergi.” Dia sepertinya sangat puas karena tak harus berjalan di samping gadis yang akan terus berceloteh panjang di sepanjang jalan nanti. Ada untungnya juga Luhan datang.

“Kau serius tidak mau mengantarku?” Ada sebuah kilat aneh yang terlihat sekilas oleh Chanyeol di manik si gadis. Ah, masa bodoh.

“Kau serius bertanya itu padaku?” Sang lelaki balik bertanya. Menimbulkan kekehan aneh yang keluar dari mulut Hyun Yi, “Tidak juga. Ya sudah, aku ambil dompetku dulu.” Lelaki memang tidak ada yang peka! Terutama Park Chanyeol! Kenapa lelaki telinga peri itu harus membolehkannya pergi bersama Luhan sih?

Chanyeol dapat dengan jelas melihat Luhan menatap Hyun Yi menjauh. Senyum sepintas yang tergambar di wajah Luhan membuat Chanyeol memukulkan bantal sofa pada wajah lelaki itu, “Jangan bilang kau tertarik!” Luhan balik menatap sang teman heran, “Loh? Memangnya kenapa?”

“Dia pengorek hidung, tahu!” Chanyeol berlagak mengorek hidung sebelum menjentikkan jari seakan melempar kotoran hidung. Menjijikkan. Namun anehnya Luhan tertawa keras. Mengizinkan Chanyeol menatapnya aneh sebelum ia sendiri mengganti tawa dengan sebuah ucapan yang sama sekali tak Chanyeol prediksi.

“Kau tidak merasa gadis itu menarik?”

Entah apa yang Luhan maksud dengan frasa menarik itu. Chanyeol tak mengerti walau sampai Hyun Yi datang dan menyeret Luhan pergi. Tanpa ada rasa canggung, si gadis meraih lengan Luhan sebelum membuka pintu, “Kau tampan. Aku akan menyalahkanmu jika banyak orang mengira kita berkencan nanti, oke?” Sebuah gelak tawa dari Luhan terdengar sebelum pintu sempurna tertutup. Meninggalkan Chanyeol dengan tatapan tak percaya. Oh, ayolah. Luhan itu masuk dalam deretan lelaki dengan tampang tampan –dan cantik- serta tergolong pandai yang mempunyai reputasi luar biasa di sekolah. Mana mungkin Luhan tertarik pada gadis seperti Hyun Yi yang jelas-jelas sangat abstrak. Satu hal yang membuat Chanyeol begitu santai ‘menitipkan’ si gadis pada Luhan. Kecuali bagian fisik, Chanyeol tidak benar-benar yakin sembarang lelaki akan menerima Hyun Yi dengan tangan terbuka. Demi Tuhan siapa yang tahan dengan si gadis pengorek hidung yang sekali-kali dapat melemparkan kotoran hidungnya ke wajah orang lain?

Menarik?” Chanyeol tak pernah mengerti maksud perkataan Luhan. Walau ia berpikir keras ia tetap tak mengerti. Ini sudah gelas air ketiga belas yang ia tegak habis. Hari sudah menjelang malam dan Yura baru saja menanyakan persediaan jelly-nya yang tak kunjung datang. Tapi batang hidung Hyun Yi belum terlihat. Pun tak ada tanda-tanda akan terlihat.

Apa maksud menarik yang dikatakan Luhan itu- HEI! Seharusnya Chanyeol tak perlu berpikir hal aneh. Bukankah Luhan itu si lelaki baik-baik pujaan para penghuni sekolah? Tidak mungkin Luhan bertindak kotor, bukan? Terdengar sangat mustahil.

Tapi Luhan juga lelaki, bukan? Dan Hyun Yi itu sangat cantik dan aktif.

Sederet frasa yang tercipta di benaknya membuat Chanyeol mengetukkan jari di meja bar gelisah. Tapi seketika ia tersedar, “Serius aku memikirkannya sekarang?” Nadanya terdengar mengejek. Dia tergelak beberapa saat menyadari betapa bodohnya ia beberapa saat yang lalu. Hyun Yi bukan gadis yang gampangan, omong-omong. Jadi tidak mungkin jika-

“Kau di mana?” Chanyeol segera bersuara setelah menggeser layar ponselnya yang baru saja bergetar. Tawanya sudah hilang, mendadak memasang wajah tegang. Lihat? Siapa yang bodoh di sini? Hyun Yi yang sedang mencoba tak dipedulikan Chanyeol, atau Chanyeol yang sedang berusaha menutup rasa pedulinya pada Hyun Yi?

“Chan-Chanyeol, tolong-”

Masa bodoh dengan apa selanjutnya Hyun Yi ucapkan karena Chanyeol sudah lebih dulu berlari ke pintu. Dia memakai sepatunya terburu dan segera berlari lagi menuju gerbang rumahnya. Dan-

YA!!” Chanyeol segera memegang dadanya. Dia terkejut setengah mati mendapati Hyun Yi berdiri di depan pintu gerbang rumahnya dengan tangan menjinjing tas plastik putih. Peluh terlihat muncul dari sela pori-pori kening Hyun Yi. Napas sang gadis terdengar tak teratur. Seperti baru saja lari dari sesuatu yang mengerikan.

“Apa yang kau lakukan? Cepat masuk!” Chanyeol mengambil alih tas plastik dan menarik lengan Hyun Yi memasuki rumah. Dia tak lupa mengunci pintu gerbang, tentu saja.

Napas tersengal Hyun Yi yang sudah terduduk di sofa masih bisa Chanyeol dengar. Chanyeol memposisikan diri di samping si gadis, “Apa yang Luhan lakukan padamu?”

“Hah?” Manik itu terlihat tak percaya. Membuat hening tercipta di antara keduanya yang mungkin sedang tak memiliki jalan pikiran yang sama. Mereka saling menatap penuh tanda tanya. Oke, ini situasi yang aneh. Yang pertama menyadari situasi-aneh-ini adalah Hyun Yi. Ia tergelak seraya memukul lengan Chanyeol berkali-kali tanpa tenaga.

“Wajahmu aneh sekali,” dia masih tergelak. Meninggalkan Chanyeol yang sadar jika kenyataan tak sekotor bayangannya. Masih sambil tertawa, Hyun Yi mencoba menjelaskan kejadian yang baru saja menimpanya, “Aku dan Luhan sudah berpisah di persimpangan jalan tadi. Dan sialnya anjing milik Paman Song -yang sangat tidak suka padaku- melihatku dan langsung menggonggong keras. Dan kau pasti tahu lanjutan ceritanya.”

Chanyeol merasa bodoh.

Sangat bodoh.

Apalagi saat Hyun Yi kembali berusuara dengan nada tak tahu malunya.

“Kenapa? Kau khawatir padaku, Tuan?”

Oke, selain bodoh, ini sepenuhnya memalukan. Tapi, yah, sudah terlanjur. Jadi kenapa Chanyeol tidak mengakuinya saja?

“Iya. Aku sangat khawatir jika jelly-nya rusak atau bagaimana. Yura noona bisa-bisa melampiaskan amarahnya padaku,”

Dan percakapan malam ini berakhir dengan lemparan bantal sofa diiringi suara makian merdu. Sangat merdu hingga membuat telinga Yura berdengung kesal. Dia yang berbaring di lantai dua saja merasa bosan dengan kelakuan muda-mudi dengan umur beberapa tahun di bawahnya itu. Apalagi orang tuanya.

Keesokan harinya, seperti biasa Chanyeol dan Hyun Yi berjalan memasuki gerbang sekolah di waktu yang sama namun dengan jarak yang berbeda. Hyun Yi beberapa lengkah lebih jauh di depan Chanyeol. Jangan kira mereka mau berangkat sekolah bersama setelah pertengkaran tadi malam, oke?

Netra Chanyeol mengamati surai Hyun Yi yang terlempar pelan kesana kemari sesuai dengan irama langkah kaki. Rasa kesal–dan malu-nya kembali timbul mengingat kejadian tadi malam. Menyebabkan ia memasang wajah datar tanpa mempedulikan sapaan para gadis di sepanjang koridor. Dia tak pernah khawatir para fans-nya akan berkurang. Toh, dia memasang wajah tak peduli saja para gadis itu justru tetap memujinya. Nasib orang tampan memang seperti ini, jangan heran. Namun dibalik itu semua ada celah rasa lega di benaknya. Pikiran kotornya tentang Luhan tak terbukti, bukan?

“Chanyeol.”

Hampir saja Chanyeol menabrak Hyun Yi yang tiba-tiba saja menghentikan langkah dan membalikkan badan memasang tampang serius. Sebelum Chanyeol bertanya, sang gadis sudah lebih dulu mendekatkan kepalanya dan berbisik pelan, “Apa pendapatmu seandainya Luhan tertarik padaku? Seandainya dia mengajakku berkencan, menurutmu bagaimana?”

Balasan tatapan yang dilayangkan Chanyeol terlihat tak percaya. Baru saja ia merasa lega tapi… ah, sial. Jadi yang Luhan sebut menarik itu ini? Mereka bahkan baru bertemu sekali. Iya, memang Luhan lelaki baik-baik, kebanggaan sekolah, panutan para siswa, bertampang di antara tampan dan cantik. Tapi, apa harus secepat itu dia mengajak Hyun Yi berkencan? Serius, mereka baru saling berinteraksi satu kali kemarin!

“Jangan mau!” Tegas dan yakin. Sangat.

“Kenapa?”

“Pokoknya jangan mau!”

“Kenapa?”

Oh, Chanyeol bisa frustasi jika Hyun Yi terus bertanya.

“Alasan pertama, kau baru berbincang dengannya satu kali. Yang kedua, aku tidak punya kekasih karenamu, jadi kau juga tidak boleh punya kekasih,” –yang ketiga aku tidak rela. Sederet kata muncul tiba-tiba di benak Chanyeol. Siapa yang membisikkan kalimat mengganggu itu sih? Sialan. Chanyeol jadi semakin merasa buruk kala mengingat perkataan Hyun Yi tentang Luhan tadi.

“Kau ini protektif sekali,” senyum Hyun Yi terkembang lebar. Ada sensasi menggelitik diperut Chanyeol. Selama ini Chanyeol selalu mengganggapnya perasaan ingin muntah. Tapi karena ia tak kunjung menumpahkan menu sarapannya, berarti dia salah.

Hyun Yi terkekeh pelan sebelum meraih lengan Chanyeol dan mulai mencipta langkah. Lebih riang dari sebelumnya. Melihat si gadis yang tak kunjung membuka suara, Chanyeol yang tak tahan langsung saja membuka bibir. Meluncurkan segala ucapan yang menjadi sumber rasa penasarannya, “Kau akan menerima ajakan kencan Luhan?”

Langsung saja Hyun Yi menoleh, menatap lelaki di sampingnya kaget, “Kau tidak benar-benar serius menganggap Luhan mengajakku berkencan, bukan?” Giliran Chanyeol yang menatap Hyun Yi heran. Memangnya ada arti lain dari perkataan Hyun Yi tadi?

“Oh, serius Park Chanyeol. Aku ‘kan tadi bilang ‘seandainya’. Sebuah ‘seandainya’ belum menegaskan kejadian yang sebenarnya ‘kan?” Hyun Yi menepuk kening berlagak prihatin. Seakan menegaskan betapa bodohnya Chanyeol. Lelaki ini mendengus kesal. Seharusnya ia berseru kesal. Tapi sebuah senyuman tipis justru terlihat bertengger manis di wajah.

“Benar juga. Lagipula, mana ada lelaki yang sanggup bertahan dengan gadis pengorek hidung sepertimu selain aku,” bersamaan dengan serentetan kata itu, Hyun Yi dapat merasakan sebuah genggaman erat pada jemarinya.

Untuk kali ini, Hyun Yi tak mencoba mengelak. Lebih memilih menikmati sensasi geli di perut kala hangat tangan Chanyeol merambati kulit tangannya. Pun tak peduli pada tatapan para gadis di sepanjang koridor yang menyaksikan mereka. Perpaduan antara sensasi ingin muntah dan degub jantung yang menderu sepertinya mulai terasa asyik.

“Aku akan memberimu kotoran hidung tepat di kening sebagai tanda terima kasih.”

Eeeeeww, apa Chanyeol harus menolak untuk yang satu itu?

.

.

.

Cinta: Saat kau tak perlu mengucapkannya tapi dia mengerti

Hyun Yi: “Cinta itu saat aku merasa nyaman menempelkan kotoran hidungku di kening seorang lelaki.”

Chanyeol: “Cinta itu saat aku rela keningku ditempeli kotoran hidung oleh seorang gadis.”

Luhan: “Bahagia itu saat aku tertawa ikhlas tanpa beban melihat gadis yang tadinya akan aku suka menempelkan kotoran hidungnya di kening temanku sendiri.”

Definisi cinta dan bahagia setiap orang berbeda, oke?

.

.

.

fin!

Aku balik dengan ff request dari WhitePingu95

Makasih buat kak Pingu yang udah ngebolehin aku take ini dan ngebebasin aku pilih jalan cerita ❤

Maaf jika jadinya hancur seperti ini, namanya juga masih belajar..

Ngomong-ngomong bagian celana dalam sepongebob itu sebenernya boxer yang dibeliin Kris waktu Chanyeol ultah di Showtime ep 2 dulu itu lhoo hehe

33 tanggapan untuk “Extreme Neighbour [FF Request]”

  1. wakakakak kocak thor ff nya kerenn ^_^d si chanyeol lucu, pacaran sama cewe unik gitu haha jadi pasangan anti mainstream dehh XD

  2. Chanyeol banget hahahaha ngakak beneran, seorang Yeol jatuh cinta dengan gadis absurd keren beneran. Sama sama absurd tuh pasangan.
    😂

  3. ya ampun ini lucu, bikib ngakak hahahaha
    apalagi adegan hyun yi yg tiba2 nongol dgn tampang tak bersalahnya pas chanyeol lgi ngbrol ama yoran omegod hahaha
    sama stu lgi adegan chanyeol yg dijendela hahaha gila 😀

    1. hyunyi emang kurang ajar ganggu moment orang wkwk
      haha aku juga suka banget adegan chanyeol jatuh…
      makasih yaaa udah mampir dan komen 😀

  4. Aahh asdfghjkl! *aku merasakan itu saat baca ini!* Tp sblmnya, aku maap bgt ya dek. Aku gatau klo udh jd scpt ptirnya Chen. Aku jrg bka wordpress soalnya T.T
    Ih aku salut dah pokonya. Beberapa hri jadi itu … hebat! 😀

    Dan, mau dikoreksi ga ffnya? Lumayan bnyk n pjg sih. Gpp ya, aku koreksi setau aku? :3

    Oke, yg prtama itu partikel -pun. Msh bnyk yg krg tepat. -pun dsmbung kala brhdapan dgn ada, andai, atau, bagaimana, biar, kalau, kendati, mau (maupun, bkn keinginan. Ok?), meski, sekali, sungguh n walau. Slain itu, dpsah. *yah, aku jd bka kamus xD*

    Yg kdua, partikel di-. Di- digabung apabila disertai dgn kata kerja. Jadi, kalo keterangan tempat sm waktu, dipisah ya dek :3

    Yg ktiga, kmu ada nulis memposisikan kan? Nah itu memosisikan. Ini kasusnya sm kyk memerlukan itu lho. 😀

    Yg keempat, kalimat.
    1. Oh, apa tak ada yg mau memperingati gadis itu agar paling tidak mengecilkan suara … akan lbih enak jika => Oh, apa tak ada yg mau memperingatkan gadis itu agar paling tidak untuk mengecilkan suara …
    2. Mengizinkan angin sepoi meniup-niup poni … => sbnrnya meniup itu aja udh ckup, ngga prlu tmbhn niup lg. :3
    3. Yoran bs sj mnjerit snang dgn tnggapan Chanyeol(.) Pun … => nah, brhbung pun ini brti ‘juga’, jdnya jgn dpsahin sm titik. Tp pakenya koma 😀
    4. Sekon itu jg suara pntu kmar trbuka trdngar. Akan lbih pas lg jk => Sekon itu jg suara pntu kamar yg trbuka, trdengar. Atau: Sekon it jg trdngar suara pntu kmar yg trbuka.

    Oke, kurasa koreksiku pnjang bgt. Maap y dek, bknnya mau mnggurui. Cuma, itu yg aku tau aja. Kita sama2 bljr breng. Ok? Oke dong, hrus ok. 😀

    Dan untuk crtanya, aku suka aku suka! Komedinya dpt. Apalagi, itu apa2an boxer kuning spongebob jman EST dbwa2? Wkwk apalagi itu si Hyun Yi … Kampret, cwek jadi2an ya kali tu orang. XD

    Oke, skali lg, mkasih bgt ya dek, udh di-take. Lbih2 bs sekilat petirnya Chen. N deskripsi kmu bgus, tp dilatih lg yah. Biar kdpnnya lebih keceh lagi. Smangat nulisnya ya dek. Sukses ya shay :* wkwk 😀

    1. ayeeee akhirnya kak pingu muncul :3
      hehe kebetulan aja ide lagi ngalir…
      tau aja sih kak, aku emang masih muter-muter tentang penerapan partikel -pun sama di-.. itu masih berusaha banget buat aku pahami, nggak tau kenapa otak aku lemot banget waktu mikir dua partikel itu -__- temen-temen aku aja sampe gemes kalo aku tanya tentang dua pertikel itu wkwk
      memposisikan jadi memosisikan, oke aku catat 😀
      nah, kalimat yang kak pingu sebutin ada salah tiganya yang emang aku nggak yakin banget tapi tetep nekat -__- lain kali nggak nekat lagi deh :3 yang pun juga itu aku sebenernya emang nggak tau sih… makasih yaaa kak udah ngoreksi…
      duuh aku seneng banget deh sumpah XD XD XD guling-guling tauk baca komen kakak hahaha
      haha iya, hyunyi emang kampret banget wkwk
      sekali lagi makasih kak pingu :3 😀

    2. Maap lama ye dek. Biasa, -sok- sibuk sm kuliah. XD

      Brdasar pngalaman, partikel -pun itu emg susah buat dihapalin.
      Beda sama partikel di- dan ke-, itu gampang ngapalinnya. Kalo sehabis partikel itu kata krja, dia disambung. Kalo sehabis partikel itu kterangan tmpt ato wktu, dia dipisah. Macem: di pagi, ke mana, di kala, di waktu, di saat, ke sana. Gitu :3

      Jangan! Tetep nekat aja, ntar abis itu di-scanning, dibaca lg gitu. :3

      Yasalaamm. Seseneng itukah kmu dpt komenan kek gini? Syukur deh kalo kmunya seneng. Ilmuku jg jd brmanfaat XD

      Samasama laahh. Aku ga nyangka, kmu pnya ide gila kek gni tau ga XD

    3. haha iya kak nggak papa…
      iya emang -__- muter-muter mahaminya wkwk
      oke, kak, wah, aku bener-bener tambah ilmu lagi hehe
      haha oke, aku tetap nekat :3
      iyaaaa seneng pake banget hehe

  5. aaaa… waaaaaaahhhhh…daebakkkkkkkk!!! sumpah keren lucu ngakak. wah chanyeol sama hyun yi couple antimainstream ya ahahahhha , keren apalagi pas lari pagi saling nginjek sama saling ngatain satu sama lain aku langsung ngakak, sama yg waktu chanyeol coba coba naik ke jendela buat ngehindari hyun yi ternyata yg dateng kakaknya. keren terus berkarya ya author^^

    1. haaai henna 😀 aaah aku senyum-senyum sendiri loh baca komenmu :3
      hahaha iya emang mereka couple aneh nan gila sebenernya wkwkw
      btw panggil kak aja say 😀
      makasih udah mampir yaa 🙂

  6. Owwhh…
    Boxer kuning itu…inget aq…
    Ahh..kangen sama exo showtime 😁😁😁
    Ceritanya lucu…sukaaa…
    Narasi dan ide nya fresh…hahahaha
    Gomawoyo

    1. iya, iya, yang itu tu wkwk
      sama, aku jadi baper kalo inget jaman itu :”
      haha iyakah? makasih yaa…
      makasih banyak udah mau baca 😀

    1. waktu kita nyaman ngelakuin hal gila sama seseorang yang bahkan bisa disebut memalukan kalau kita lakuin di depan orang banyak, itu berarti kita udah percaya dan nyaman banget sama orang itu. dan di sini hyun yi nunjukkin rasa percaya dan nyamannya dia ke chanyeol lewat kotoran hidung wkwk

Tinggalkan Balasan ke Henna Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s