Candy Jelly Love (Shoot 6 – FIN)

Candy Jelly Love[16-24-10]

Jstnkrbll’s Storyline

Genre :
Family, Life, lil’ bit Brother-Sister complex, Comedy

Cast :
Oh Sehwi
Oh Sehun
Other find by yourself

Length :
Short Chaptered

Ratting :
G

Standard disclaimer applied. Non profits taken. It’s mine and absolutely mine! ‘3’

Author’s Note :
Yah, sebenernya gak mau bilang tapi kayanya harus. INI SHOOT TERAKHIR GUYSSS, MOGA SUKA ENDINGNYA YAAAAAA.

Recommended BGM : EXO – Promise (EXO, 2014)

Preview Shoot 5 :

‘Sehwi menutup matanya. Ia menggeleng-geleng dan terus menangis. Ia benar-benar tidak mau ada orang lain yang terluka lagi gara-gara dirinya.
Apalagi kalau orang itu adalah Sehun.
“Sehwi-ya, bertahanlah!”
Sehwi ingin sekali menutup kedua telinganya dan tidak mendengar semua erangan Sehun yang bercampur dengan suara benda dipukulkan.
Tidak.
Sehun berkata padanya untuk bertahan. Maka ia harus melakukannya.’

Italic means flashback

Happy Reading, ppyeong!

BUGH
Belum apa-apa, Sehun sudah mendapatkan pukulan di perutnya. Dan setelah itu pukulan bertubi-tubi pun dilayangkan kepadanya. Ada yang meleset, ada juga yang tepat sasaran. Sehun yang memang tidak siap, hanya bisa pasrah dan sebisa mungkin menghindar meski sulit.
“Sehwi-ya, bertahanlah!”
Bodoh memang. Seharusnya ia yang bertahan saat ini. Tapi Sehun tak mau Sehwi khawatir padanya. Yang harus Sehwi lakukan sekarang adalah melepaskan ikatannya dan pergi dari sini sebelum Seyoung dan Minkyung menjalankan rencana mereka.
Ah, tak apa bila ia terluka. Ia hanya sedang mengulur waktu. Mungkin saja teman-temannya akan datang sebentar lagi–
“SEHUN-AHH!!!!”
–benar kan? Sehun sangat mempercayai sahabatnya, mana mungkin mereka akan diam saja?
Gerombolan yang tadinya memukuli Sehun kini mulai teralih perhatiannya pada 11 pemuda yang baru datang. Yap, sebelas. Atas makian Joonmyun, mereka semua akhirnya tetap pergi menyusul Sehun. Polisi sedang dalam perjalanan.
“Sudah ku bilang, akan ada perkelahian, Joon.” Kata Yifan pada Joonmyun.
“Terserah, aku akan menyelamatkan Sehwi. Kalian semua alihkan perhatian dua nenek sihir itu.” ucap Joonmyun. Dengan anggukan, mereka semua lalu pergi menyebar. Jongin, Yifan, Zitao, Luhan, dan Minseok ikut berkelahi membantu Sehun, sedangkan Baekhyun, Chanyeol, Jongdae, Kyungsoo, dan Yixing mengacaukan perhatian Minkyung dan Seyoung dari Sehwi, dan Joonmyun sendiri mengendap-endap ke arah Sehwi untuk melepaskan ikatannya.
“Sehwi-ya, kau tenang saja, ya,” bisik Joonmyun sebelum melepaskan ikatan Sehwi. Sehwi yang sedari tadi menunduk kini mendongak dan menoleh ke belakang.
“O-oppa?”
“Ne, kau tenang saja, kami akan membantumu keluar dari sini. Nah, sekarang kau sudah bebas. Cepat pergi, polisi sedang dalam perjalanan,” ucap Joonmyun lalu berusaha membawa Sehwi keluar dari gudang itu.
“Oppa awas!!!” seru Sehwi pada Joonmyun. Untung saja, Joonmyun berhasil menghindar dari pukulan salah satu gerombolan yang berniat memukulnya dari belakang. Dengan tangan menahan balok kayu, Joonmyun berujar pada Sehwi.
“Cepat pergi dari sini!!”
Sehwi mengangguk. Ia baru saja mencapai pintu gudang ketika tiba-tiba saja Minkyung menghadangnya. Sehwi segera mundur ketakutan.
“Mau lari kemana kau?” Minkyung terus mendekatinya sembari menodongkan pisau ke arah Sehwi. Sehwi terus menerus mundur. Namun sial, ia sudah terpojok. Minkyung menyeringai. Ia mengangkat pisaunya tinggi-tinggi. Sehwi menutup matanya pasrah. Mungkin, ini waktunya.
“Temuilah ibumu di neraka, anak haram!!!”
SRETT
Semuanya terasa berhenti bagi Sehwi.
Tapi mengapa otaknya tidak memutar kilasan-kilasan putih? Dan mengapa ia tidak merasakan sakit sama sekali?
Perlahan, Sehwi membuka matanya.
Dan ia melihat Sehun. Tengah memeluknya. Menghalanginya dari Minkyung. Dan ia tetap berusaha tersenyum meski menahan sakit.
“G-gwenchana?” tanya Sehun terbata sembari mengelus rambut Sehwi.
“O-oppa…”
“S-syukurlah…” Sehun tersenyum lagi. Tapi kemudian ia kehilangan kesadarannya dan menjatuhkan kepalanya di bahu Sehwi.
Sehwi meraba punggung lebar Sehun takut-takut. Tangannya mendadak beku ketika merasakan sesuatu yang pekat dan merah menetes di kemeja Sehun.
“Oppa ileona (ireona, red)…” Sehwi mengguncang-guncang bahu Sehun, berharap ia bisa sadar.
“Oppa…” kini Sehwi mulai menangis. Tak peduli Minkyung ataupun Seyoung sudah kabur entah kemana.
Seiring dengan bunyi sirene yang mendekat, Sehwi terus memanggil-manggil nama Sehun, berharap ia belum terlalu jauh dan melangkahi dunia putih di ujung sana.

Sekarang sudah hampir pukul setengah 12 malam, namun dokter yang menangani Sehun belum juga keluar dari ruang pemeriksaan. Sehwi bahkan sudah tertidur di pangkuan Joonmyun. Yang lainnya menunggu dengan bosan. Jongdae dan Yixing bermain kertas-gunting-batu untuk mengusir kantuk, Baekhyun terantuk di kursi tunggu beberapa kali, dan Jongin terus-terusan tersenyum memandangi Kyungsoo yang tertidur di bahunya. Zitao bermain tebak kata dengan Yifan yang setengah tertidur, Chanyeol dan Minseok hanya terdiam sambil menahan kantuk. Sedangkan Luhan mondar-mandir gelisah dari tadi.
“Lu, bisakah kau duduk? Aku pusing terus melihatmu mondar-mandir begitu,” ucap Minseok dengan datar.
“Tidak bisa, Min. Ini menyangkut hidup dan mati Sehun. Apakah kalian tidak khawatir?” suara Luhan meninggi di akhir. Beberapa dari mereka terlonjak kaget dan menghentikan kegiatannya.
“Tentu saja. Tapi aku yakin dokter pasti berusaha mati-matian di dalam sana. Tak usah khawatir, hyung.” Kata Jongin sambil membenarkan kepala Kyungsoo.
“Tak usah khawatir katamu??” seru Luhan.
“Sshh, jangan terlalu berisik, Lu. Kau bisa membangunkan Sehwi nanti.” Ujar Joonmyun pelan.
“Tapi kalian keterlaluan!”
CKLEK
Sebelum seruan Luhan menjadi lebih panjang, pintu ruang pemeriksaan akhirnya terbuka. Seorang dokter keluar dari sana.
“Uisangnim, bagaimana keadaan Sehun?” tanya Luhan cepat. Dokter itu tersenyum dan yang lain sudah merasakan tidak ada berita buruk yang harus mereka dengar.
“Untunglah kalian sigap. Dia belum terlalu banyak kehilangan darah. Dan pisau itu juga tidak mengenai organ dalam. Tapi ia butuh waktu pemulihan. Kira-kira 2 minggu, karena penutupan luka tusuk biasanya agak lama.” Ucapan dokter itu membuat Luhan bernafas lega dan yang lain memandangnya dengan tatapan ‘sudah-kubilang-tak-usah-khawatir’.
“Pasien baru bisa dikunjungi besok pagi. Saya permisi dulu,” lanjut dokter itu lagi sambil berlalu. Luhan mengangguk lalu duduk di sebelah Minseok.
“Huh, syukurlah. Aku bisa mati jantungan kalau mendengar berita buruk,” ucap Luhan.
“Kalau begitu, kita pulang saja. Kasihan, Kyungsoo besok harus sekolah.” Ucap Jongin sambil menggendong Kyungsoo di punggungnya.
“Hah? Besok kan Minggu, Jong.” Kata Chanyeol yang susah payah berdiri.
“Dia harus ikut pelatihan olimpiade lagi katanya.” Kata Jongin. Yang lain hanya mengangguk.
“Lalu, Sehwi bagaimana? Terlalu beresiko kalau kita pulangkan ke rumahnya.” Ucap Joonmyun.
“Ah, iya…” Luhan mendesah pelan.
“Ini sudah lewat tengah malam, Eomma tak akan mengizinkanku masuk rumah,” keluh Minseok dan Jongdae mengangguk mengiyakan.
“Bagaimana kalau kalian semua menginap di apartemenku?” usul Yixing.
“Memangnya orang tuamu kemana?” tanya Yifan.
“Aku ‘kan tinggal sendirian, jaraknya lumayan dekat dari sini. Lagipula, aku punya 2 kamar. Sehwi bisa tidur di satu kamar, sebagian di kamar satunya, lalu sisanya di ruang tengah. Aku punya banyak selimut dan makanan ringan dan–“
“Baiklah baiklah. Kita ke rumahmu,” potong Baekhyun cepat. Ia segera berdiri.
“Yifan ge, kau menyetir lagi, ya.” Ucap Zitao dan Yifan hanya mendengus.
Mereka lalu segera pergi ke parkiran. Lorong rumah sakit yang mulai sepi mempercepat langkah mereka. Yifan baru saja melewati sebuah kamar ketika matanya tak sengaja menangkap sesuatu dan menghentikan langkahnya.
Ruang inap itu tidak diberi tanda apapun. Hanya ada tulisan ‘Wu’ besar di pintunya. Yifan yang bermarga Wu tentu saja penasaran. Ia berusaha mengintip ke dalam, namun tirainya tertutup rapat. Yifan mengulurkan tangannya untuk mencapai knop pintu, saat seseorang menepuk bahunya dan membuatnya kaget.
“Hyung, kajja,” ajak Chanyeol, sang pelaku penepukan.Yifan hanya mengangguk. Dan sembari berjalan, Yifan menengok ke pintu itu. Entah kenapa, sesuatu mengganjal pikirannya.

Di tempat lain, Seyoung dan Minkyung tengah bersembunyi dari kejaran polisi yang memburu mereka. Mereka sudah lelah berlari.
“Jika aku tahu akhirnya akan seperti ini, aku tidak akan mau bekerja sama denganmu,” ucap Seyoung sembari terengah.
”Mwo? Jadi kau menyalahkanku? Begitu? Hey, siapa yang pertama kali mengusulkan ide ini? Kau, bukan?” Minkyung menatap marah pada Seyoung.
“Aku bahkan tidak mengusulkan rencana penusukanmu pada Sehwi. KAU TIDAK MELIHAT KALAU SEHUN YANG TERLUKA, EOH??” Seyoung mulai berteriak pada Minkyung.
“Itu diluar dugaanku! Lagipula, mana ada orang tua yang merencanakan ini semua pada anaknya sendiri? Seharusnya kau juga sadar diri!”
“AKU MELAKUKANNYA KARENA AKU MENYAYANGI SEHUN!! BISAKAH KAU TIDAK TERUS MEMOJOKKANKU SEOLAH AKU YANG SALAH? KARENA SEMUA INI TIDAK AKAN TERJADI KALAU SAJA AKU TAK MENURUTI KEINGINANMU!!”
“ITU MEMANG SALAHMU!”
“Terserah! Aku tak mau lagi berurusan denganmu!” ucap Seyoung. Ia lalu bangkit dan keluar dari tempat persembunyiannya.
“YA! Jangan berbuat bodoh! Kita akan ketahuan!” seru Minkyung sambil menyusul Seyoung.
“Aku tak peduli! Mau kau ditangkap karena tuduhan pembunuhan pun aku tidak peduli!”
Secara tiba-tiba, Minkyung membalik badan Seyoung mendekapnya erat.
“Maksudmu, seperti ini?”
Begitu pelukan Minkyung terlepas, terlihat sebilah pisau di tangannya yang berlumuran darah. Seyoung memegangi perutnya sembari meringis.
“K-kau… b-brengsek…” rintih Seyoung. Ia menjatuhkan dirinya ke tanah. Minkyung perlahan menjauh dari Seyoung.
“Semoga mereka menemukanmu dalam keadaan membusuk.” Ucapnya. Setelah itu, ia segera berlari pergi, meninggalkan Seyoung yang terluka.

Sehwi mengerjap-ngerjapkan matanya. Rasanya seperti de javu, bedanya bukan warna putih yang ia lihat. Tunggu, dia dimana?
Sehwi segera bangkit dari tempat tidur. Kamar ini rapi, pasti jarang digunakan. Sehwi bergegas meraih knop pintu dan membukanya.
“Oh, kau sudah bangun? Aku baru saja mau membangunkanmu,” ucap Baekhyun pada Sehwi. Sehwi tersenyum kecil.
“Ini dimana?” tanyanya. Baekhyun mengusak pelan rambut Sehwi lalu tersenyum.
“Ini apartemen Yixing. Kemarin kami pulang dari rumah sakit dini hari. Karena tak mau meninggalkanmu sendirian, jadi kami membawamu kesini.” Jawab Baekhyun. “Kau mau sarapan apa?” tanya Baekhyun.
“Ah, nanti saja. Lalu, Sehun Oppa, bagaimana?” ucap Sehwi.
“Tak usah khawatir. Ia baik-baik saja. Beberapa dari kami akan membesuknya hari ini. Kau mau ikut?” Sehwi menarik nafas lega dan mengangguk.
“Baiklah. Joonmyun hyung membawa beberapa bajumu tadi. Kau bisa mandi dan mengganti bajumu. Kita berangkat jam 9.” Ucap Baekhyun lagi dan Sehwi mengangguk.
“Gomawo, Oppa.” Ucapnya sambil tersenyum. Baekhyun ikut tersenyum.
“Tak masalah. Ada kamar mandi di dalam kamar. Kau bisa menggunakannya,” ujar Baekhyun. Sehwi mengangguk lalu kembali masuk ke kamar.
Setelah selesai bersiap, Sehwi keluar dari kamarnya – kamar Yixing – dan pergi ke dapur. Ia lapar.
“Oh, kau sudah siap,” sapa Yifan yang sedang memakan beberapa kue. Sehwi tersenyum kecil.
“Apa ada makanan? Aku lapal…” tanya Sehwi pada Yifan sambil melongokkan wajahnya ke pantry.
“Jongdae berusaha membuat japchae tadi. Kurasa layak untuk dimakan. Sebentar, aku ambilkan,” ucap Yifan sembari membuka lemari pantry dan mengambil sesuatu.
“Here you go, ku harap Jongdae tidak memasukkan sesuatu yang beracun ke dalamnya.” Ucap Yifan sambil menyerahkan sebuah piring yang mengalasi ‘Japchae Buatan Jongdae’. Sehwi tertawa.
“Gomawo, Oppa.” Ucapnya. Ia duduk di salah satu kursi pantry sebelah Yifan lalu mulai memakan japchae nya.
“Jal meokkesseumnida~,” ucap Sehwi lalu memasukkan sesendok japchae ke mulutnya. Setelah beberapa kali mengunyah, ia kembali bergumam.
“Ige mashitda,” ucapnya dengan mulut penuh. Yifan memandangnya sambil tersenyum.
“Aigo, kau mengingatkanku pada adikku,” ujar Yifan.
“Nde?” timpal Sehwi. Setelah menelan makanannya, ia kembali bertanya.
“Oppa punya adik? Kenapa aku tidak tahu?” tanya Sehwi.
“Wajar bila kau tak tahu. Aku juga tak tahu dia ada dimana sekarang.” Jawab Yifan.
“Eh, kenapa bisa begitu? Oppa kan kakaknya, sehalusnya Oppa bisa melindunginya,” ucap Sehwi. YIfan sempat, terdiam, sebelum akhirnya menjawab.
“Tak usah dibahas. Cepatlah makan. Kita akan pergi jam 9.” Elak Yifan sembari bangkit dari kursi. Sehwi hanya terdiam dan memandangi punggung Yifan.
“Ternyata,” gumamnya. “Yifan Oppa banyak menyembunyikan sesuatu dibalik punggung tegapnya,”

Jam 9, mereka semua tiba di rumah sakit tempat Sehun di rawat. Sayangnya, jadwal besuk baru dibuka jam 10. Sehingga mereka harus menunggu di ruang tunggu. Sembari menunggu, Sehwi, Yifan, Luhan, dan Zitao (OMG Chinese line ;-;) menonton televisi yang disediakan di ruang tunggu. Chanyeol dan Jongin membeli beberapa camilan kecil untuk dimakan bersama, sedangkan Joonmyun tidak tahu pergi kemana. Mungkin ke kamar mandi.
“Apa berita di Korea memang selalu menayangkan politik, Ge?” tanya Zitao pada Luhan saat televisi itu menayangkan acara berita yang membahas tentang pemilihan partai politik.
“Kau seperti tidak pernah menonton berita di China saja. Semua berita di seluruh dunia selalu menayangkan hal politik, kau tahu,” jawab Luhan.
“Entahlah. Saat aku di China kegiatanku latihan terus menerus. Mana sempat aku menonton berita,” tukas Zitao.
“Kau ini,” Yifan menoyor kepala Zitao pelan. “Kau ‘kan bisa menonton berita tengah malam.”
“Ya, kukira kau akan bilang ‘jangan terlalu sering berlatih’. Heol, kau sama sekali tidak perhatian.” Timpal Luhan.
“Kenapa aku harus menaruh perhatian padanya? Memangnya dia siapaku?” elak Yifan.
“Kau yang bilang sendiri kalau Zitao itu ‘anak panda yang tersesat di kota dan butuh tumpangan’.” Ucap Luhan santai. Sehwi tertawa, sedangkan Yifan menatap Zitao takut-takut.
“Bukan begitu maksudku, Tao-er…” ucap Yifan takut-takut.
“Kenapa aku butuh tumpangan? Aku tidak tersesat,” ujar Zitao polos. Sehwi semakin terbahak. Yifan juga tak bisa menahan tawanya. Luhan memandangnya malas. Zitao hanya menatap bingung.
“Kalau aku memberitahu arti sesungguhnya, kau pasti habis sekarang,” ucap Luhan.
“Baiklah, aku mengerti.” Yifan lalu menghentikan tawanya meski kadang terkekeh geli.
“Aigo, apa tidak ada berita lain, apa?” keluh Zitao. “Dan mengapa orang-orang disini terlihat menikmatinya? Aku bahkan tidak mengerti semua yang mereka ucapkan,” lanjutnya sembari melihat ke sekeliling ruang tunggu.
“Cobalah menyesuaikan diri, Tao-er. Orang Korea tidak akan mau mendengarkanmu berbicara bahasa mereka kalau begitu.” Tukas Yifan.
“Tunggu, Gege, apa wanita itu wanita yang kita sebut nenek sihir?” Zitao menunjuk televisi, namun Yifan maupun Luhan terlalu malas untuk melihat.
“Nenek sihir itu menghilang, Tao. Dia kabur saat melihat Sehun terluka. Ck, ibu macam apa itu?” Luhan bergumam.
“Benarkah? Tapi televisi itu bilang ia ditemukan terluka di tempat yang jaraknya… berapa itu – ah, 5 kilometer dari tempat kejadian.”
Kali ini Yifan dan Luhan sama-sama menoleh ke televisi. Benar saja, berita itu menayangkan Seyoung yang ditemukan terluka dan sekarang dirawat di rumah sakit yang sama dengan tempat mereka sekarang.
“Lee Seyoung, 34 tahun, ditemukan tak sadarkan diri dengan luka tusukan di perutnya. Peristiwa ini cukup aneh, mengingat dirinya baru saja dilaporkan sebagai salah satu anggota komplotan penculik. Diduga ia baru saja ditusuk oleh komplotannya sendiri, mengingat tidak ada saksi mata lain ataupun barang bukti yang kuat selain sebilah pisau yang berlumuran darah. Motif penusukkan belum diketahui.”
“I-itu, pisau yang tteokbokki ahjumma tusukkan pada Sehun!” seru Yifan sambil berdiri.
“Majja! Dan rumput ilalang di sekitar tempat itu seperti yang ada di dekat gudang kemarin!” Luhan ikut berdiri. Zitao ikut berdiri, meski ia tidak mengucapkan apapun. Mereka bertiga menoleh ke kursi Sehwi yang kini kosong.
“Belitahu (beritahu, red) aku dimana kamal pasien Lee Seyoung!”
“Maaf, tapi tidak ada yang boleh masuk kesana. Lagipula, jam besuk baru buka–“
“DIA EOMMA KU! CEPAT BELITAHU AKU!!”

“Eomma, eomma mau pergi kemana?”
“Jangan banyak bertanya. Kalau kau ingin ikut Eomma cepat kemasi semua barang-barangmu sebelum Appa pulang.”
“Tapi, kenapa?”
“Kubilang jangan banyak tanya. Cepatlah. Pesawat kita akan take off setengah jam lagi.”
“Pesawat? Kita akan pergi ke luar negeri?”
“Ya. Dan kita akan memulai identitas yang baru kita disana.”
“Identitas baru? Apa sekarang kita buronan negara?”
“Tidak. Setidaknya belum. Cepatlah. Atau Appa akan mengetahui semuanya. Taksi pesanan kita sudah tiba.”
“Apa ini artinya… aku bukan anak Appa lagi?”
Wanita yang dipanggil ‘Eomma’ itu menghela nafas panjang, lalu menatap wajah putri satu-satunya itu.
“Seulgi-ya, kehidupan baru kita akan lebih baik lagi nanti. Eomma janji. Sekarang cepat bereskan barang-barangmu.”

Joonmyun baru saja keluar dari sebuah ruangan ketika Yifan berdiri di hadapannya.
“OMO! Ya! Kau mengagetkanku saja,” seru Joonmyun sambil mengelus dadanya.
“Apa yang kau lakukan disini? Bukannya jam besuk baru dibuka 15 menit lagi?” tanya Yifan. Joonmyun gelagapan.
“Hanya mengunjungi temanku. Ah, sudahlah. Aku mau menemui Sehwi dulu. Dia dimana?”
“Di ruang inap ibunya. Kau tahu, nenek sihir itu terluka dan dirawat disini juga.”
“Mwo? Lalu kenapa kau masih disini? Kenapa bukannya menenangkan Sehwi? Ah, kau ini,” Joonmyun lalu pergi meninggalkan Yifan. Yifan angkat bahu acuh. Ia baru saja akan meninggalkan tempat itu ketika melihat pintu ruangan tadi.
“Ini, pintu kemarin…” gumam Yifan. Yap, pintu dengan tulisan ‘Wu’. Yifan semakin penasaran.
“Joonmyun baru saja keluar, itu artinya ia sudah ada disini sebelum jam besuk dibuka. Apa artinya aku juga boleh masuk?” gumam Yifan pada dirinya sendiri. Ia menggapai knop pintu itu perlahan, lalu menengok ke sekelilingnya, memastikan tak ada yang melihatnya.
KLEK
Yifan terbelalak.
“Yi?”

“Maaf Nona, kau benar-benar tidak bisa masuk.”
“Tapi aku anaknya! Aku hanya ingin memastikan kalau Eomma baik-baik saja!”
“Tidak, maaf. Beliau sedang berada di bawah pengawasan polisi–“
“Aku akan mencabut tuntutanku padanya! Tolong, bialkan aku masuk…” Sehwi memelas.
“K-kau, korban penculikannya? Anak Lee Seyoung sendiri?” ujar petugas itu tak percaya. Sehwi hanya mengangguk.
“Aku akan mencabut tuntutanku pada Eomma, juga pada Ahn – maksudku komplotannya yang lain. Kumohon izinkan aku masuk Ahjussi…” pinta Sehwi lagi.
“Baiklah. Tapi tolong jangan berbuat macam-macam di dalam.”
“Baik. Gamsahamnida, Ahjussi.” Sehwi membungkuk beberapa kali dan segera masuk ke ruangan tempat Seyoung dirawat. Lututnya terasa lemas begitu melihat Seyoung terbaring di ranjang rumah sakit.
“Eomma…” lirih Sehwi pelan, lalu segera menghampiri ranjang itu. Ia menggenggam tangan Seyoung erat.
“Eomma, kapan Eomma bangun?” Sehwi bertanya pada Seyoung yang tentu saja tidak akan Seyoung jawab. (cuman mau ngasih tahu, curhat ala-ala drakor dimulai/?) (backsound instrument piano my turn to cry/?)
“Eomma, sekalang aku tahu, kenapa Eomma membenciku. Eomma tidak mau aku menjadi penghalang masa depan Sehun Oppa. Aku sangat tahu kalau Eomma sangat menyayangi Sehun Oppa sampai melalangnya (melarang, red) untuk mendekatiku.” Sehwi menunduk.
“Maaf, kalena aku bukan anak yang baik bagi Eomma. Aku selalu melengek (merengek, red) kepada Appa dan Eomma untuk membelikanku sesuatu. Aku tidak pelnah mengelti kalau Eomma juga punya kebutuhan. Aku…” Sehwi menghela nafasnya, seiring dengan air matanya yang tumpah. “Maaf kalena aku mengganggu kehidupan Eomma selama ini…” Sehwi menunduk dalam-dalam.
“Mi…an…hae…”
Sehwi buru-buru mendongak saat dirasakannya tangan Seyoung mulai bergerak.
“Eomma…” Sehwi buru-buru menghapus air matanya.
“Harusnya… aku… yang…”
“Tidak, Eomma, jangan banyak bicala… Eomma belum sehat benal…” ucap Sehwi cepat.
“Gwenchana…” Seyoung tersenyum lemah. “Hanya… sebentar…”
“Eomma geumanhae…”
“Aku… tidak pernah tahu… kalau disampingmu… akan… terasa nyaman… seperti ini…” Seyoung mulai berbicara dengan suara serak dan terbata.
“Eomma minta maaf… Eomma… belum bisa… menjadi orang tua… yang baik untukmu… Eomma minta maaf…” Seyoung menarik nafas panjang, dan itu membuat Sehwi semakin khawatir.
“Aku sudah memaafkan Eomma, aku tidak pelnah membenci Eomma…” isak Sehwi. Seyoung tersenyum lemah. Tangannya mengelus tangan Sehwi dan menggenggamnya erat.
“Gomawo… mianhae…” ucapnya pelan.
“Belhenti meminta maaf Eomma…” isak Sehwi lagi.
“Ani…” Seyoung menggenggam erat tangan Sehwi. “Tolong sampaikan… pada Sehun… kalau aku… menyayanginya…”
“Eomma jangan katakan itu–“
“Dan juga… menyayangimu…” ucap Seyoung cepat. Sehwi terdiam.
“Eomma menyayangimu…” Seyoung tersenyum. Genggamannya perlahan mengendur.
“Eomma!!”
Tuhan memang baik. Ia bahkan memberikan kesempatan bagi Seyoung untuk meminta maaf pada Sehwi, sebelum ia benar-benar pergi meningalkannya.

“So, how’s life, Yi?”
“Ge, you’re asking the same question for the fifth time,”
Yifan mengusap tengkuknya.
“Because I don’t know what to do. It’s been a long time since last I met you.”
“Then you should asking the different question.”
Yifan terkekeh.
“Yeah, you’re right.” Gumam Yifan. “Jadi, bagaimana ceritanya, kau bisa dirawat disini? Apa kau… kehilangan kendali lagi?”
Orang yang Yifan panggil ‘Yi’ itu tersenyum pahit.
“Yeah, aku tidak tahu kapan tepatnya ini bermula… waktu itu Mom lagi-lagi membawa seorang laki-laki ke rumah. Gege tahu? Semenjak Dad dan Mom bercerai, Mom seolah-olah menjadikan dirinya… seorang pelacur.”
“What??? So, she did this to you???”
“No, no, she didn’t. She didn’t do anything to me. Just, listen to my story.”

*they’re speaking chinese-english*

Vancouver, 2007
Yifan was 10 years old

“So, did you enjoying the day, Yi?”
“Of course! This is the best day ever for me, Ge!”
“Thankfully. Di ulang tahunmu yang akan datang Gege akan mengajakmu ke Disneyland. Kau pasti suka.”
“Really?! Gege janji??”
“Tentu saja! Kapan Gege bohong padamu?”
“N, kalau tidak salah, saat Gege bilang di kamarku ada kecoa dan Gege mengambil semua cemilanku.”
“Hey, itu berbeda cerita.”
“Apa bedanya? Itu sama saja sebuah kebohongan.”
“Tidak, itu berbeda, Yi.”
“It’s same, Ge.”
“Different.”
“Same.”
“Different.”
“Same.”
“Oh ayolah, apa kita akan terus berdebat sampai masuk ke ru–“
“DASAR BAJINGAN!!”
Teriakan itu membuat Yifan dan adiknya segera bersembunyi di balik pintu. Yifan yang lebih dewasa dari adiknya itu segera menutup telinga adiknya, berharap ia tidak mendengarkan pertengkaran orang tua mereka.
“Aku muak terus diperlakukan seperti ini olehmu! Aku ingin kita bercerai!”
“Cerai katamu? Lalu apa yang akan kau lakukan pada Yifan dan Yijun?!”
“Aku mengambil Yijun bersamaku. Kau urus Yifan.”
“Tidak semudah itu Meizhi – “
“Ini akan mudah bila kau menyetujuinya. Anggap saja kita tidak pernah mengenal satu sama lain.”
“Meizhi, kumohon – “
“Tidak, Jack. Kurasa kau benar. Kita tidak akan menjadi orang tua yang benar jika setiap waktu kita habiskan dengan bertengkar. Kau benar. Aku secepatnya akan mengurus gugatan ini.”
“Jika untuk kebahagiaanmu dan anak-anak kita, aku tidak bisa berbuat apapun. Maafkan aku,”
“Tak ada yang bersalah, Jack,” Yifan melihat ibunya mencium pipi ayahnya. “Tidak ada.”
Begitu ibunya selesai berbicara, Yifan baru sadar kalau Yijun – adiknya, sudah bergetar hebat.
“Yi-Yijun…”Yifan buru-buru memeluk Yijun. Yifan tidak mau Yijun kehilangan kendali sekarang, orang tua mereka – maksudnya, Mom dan Dad bisa tahu kalau mereka ada disana saat bertengkar.
“AKU BENCI MOM DAN DAD!”
“Yijun? Kau disitu, sayang?”
Terlambat. Mom dan Dad sudah tahu. Dan Yijun mulai kehilangan kendali.
“Jangan panggil aku sayang! Aku bukan anak kalian!! Aku tidak mengenal kalian!! Aku benci kalian semua!! Aku tidak mau mengenal kalian!!!”
Setelah berteriak seperti itu, ia segera mendorong Yifan keras dan lari keluar rumah sembari terus berteriak ‘Aku benci kalian’ dengan keras sampai orang-orang memperhatikannya. Ia terus berlari, sampai akhirnya ia berhenti di sebuah taman bermain dan mulai menangis.
“Aku benci kalian…” isaknya keras. Ia terus menangis tak peduli hujan mulai turun di daerah itu. Yifan yang berlari menyusul Yijun melihatnya terduduk di tanah berpasir sambil terus menangis. Yifan segera menghampirinya dan memeluknya erat.
“Lepaskan aku!!! Kau orang jahat!! Aku benci!! Lepaskan!!!” Yijun berusaha meronta ronta namun Yifan tetap memeluknya erat.
“Tenanglah,” ucapnya sambil mengelus rambut Yijun yang mulai basah terkena hujan. “Ada Gege disini.”
“Gege jahat! Gege juga akan pergi bersama Dad! Tinggalkan aku!!!” Yijun tetap berseru meski tak lagi meronta. Tenaganya mulai habis. Dan Yifan tahu kalau Yijun sebentar lagi akan pingsan. Ia terus memeluk Yijun dan mengelus rambutnya.
“Tidak, tenanglah, Yi,” Yifan terus menenangkan adik perempuannya itu. “Gege tidak akan meninggalkanmu. Tidak akan. Gege janji.”
Sayang, Yijun sudah pingsan, sehingga ia tidak mendengar janji Yifan.
Karena jika Yijun mendengarnya, ia bisa menaruh benci pada Yifan yang tetap pergi meninggalkannya. Atau lebih tepatnya, ia yang meninggalkan Yifan.

*they’re speaking korean*

Itaewon, 2014
Yijun was 15 years old

Yijun saat itu sedang membereskan rumah, saat pintu rumahnya terus digedor tidak jelas.
“Tunggu sebentar,” ucapnya. Ia lalu segera membuka pintu dan terkejutlah ia. Ibunya, Meizhi datang dengan seorang pria mabuk yang masih memegang botol soju. Ini memang bukan pertama kalinya ia membawa seorang pria ke rumah, namun tidak dalam keadaan mabuk.
“Mom! Apa yang kau lakukan lagi?!” seru Yijun pada ibunya.
“Hey, seharusnya kau mengizinkan kami masuk terlebih dahulu,” ucap pria mabuk itu. Yijun berusaha bersabar.
“Mom, tolong jelaskan.” Ujarnya pada ibunya. Meizhi hanya tertawa.
“Ini pekerjaan Mom, kau lupa?”
“Tidak. Mom bilang Mom bekerja di sebuah perusahaan asuransi – “
“Dia bilang di klub tadi kalau semua itu hanya untuk menipumu,” ujar pria mabuk itu lagi.
“Apa??!!!” seru Yijun tak terima.
“Kau itu bawel sekali! Cepat minggir!” ujar Meizhi sambil berusaha mendorong Yijun, namun Yijun segera menepis tangannya.
“Kau bukan ibuku.” Ujar Yijun sambil menjauh.
“Oh tidak, Yijun, jangan sekarang, Mom banyak urusan –“
“Kau bukan ibuku!!!!!” teriak Yijun. Ia segera mendorong Meizhi dan pria itu, lalu segera berlari pergi dari rumah itu.
“Yijun! Kembali!!” teriakan Meizhi tak Yijun hiraukan sama sekali.
“Aku benci hidupku! Tidak ada yang pernah mengerti! Aku benci kalian!!!”
Yijun terus berteriak dan berlari. Kali ini ia tidak berhenti berlari. Ia terus berlari, sampai semua pandangannya mengabur dan gelap.

“Dan, saat aku bangun, aku sudah disini. Well, bisa dibilang, aku hampir satu tahun diam di ruangan ini. Menggambar apapun yang bisa aku bayangkan, dan berharap suatu hari bisa keluar sana dan menggambar apapun yang aku lihat.” Ucap Yijun mengakhiri ceritanya.
“Tunggu, kau bilang, rumahmu di Itaewon? Lalu kenapa kau bisa sampai kesini? Jarak Itaewon dan Nohwon kan jauh sekali!” ucap Yifan.
“I don’t know. Aku hanya berlari terus, tanpa tujuan. Dan Dokter Kim bilang, aku memang sudah tidak sadar 3 hari. Saat pertama bangun, kakiku bahkan tidak bisa di gerakan.” Jawab Yijun sambil menggerakkan jari kakinya.
“Maksudmu, kau…”
Yijun tersenyum.
“Tidak, Ge. Aku yakin aku hanya butuh waktu. Sekarang aku mulai bisa menggerakan kakiku, meski belum bisa dipakai berdiri.”
“Dan, gangguanmu?’
“Dokter Kim bilang, aku bisa mengontrolnya sekarang. Tak perlu khawatir.”
Yijun kembali melanjutkan menggambar di sketchbook miliknya. Yifan terdiam. Sebenarnya ia masih punya banyak pertanyaan untuk Yijun, namun semuanya mendadak tertelan oleh sebuah kata.
“Dui bu qi.”
Yijun berhenti menggoreskan pensilnya.
“Aku tahu seharusnya waktu itu aku tidak ikut Dad dan tetap bersamamu. Pasti kau tidak akan menderita seperti ini.” Ujar Yifan.
Yijun menghela nafas lalu menyimpan kembali sketchbooknya.
“Itu bukan salah siapapun, Ge. Aku tidak pernah menyalahkan siapapun–“
Ucapan Yijun terputus. Yifan memeluknya. Setelah 8 tahun terpisah, Yifan memeluk Yijun untuk pertama kalinya.
“Baiklah. Aku anggap aku dimaafkan. Yang terpenting aku sudah bersamamu. Dan aku benar-benar tak akan pernah meninggalkanmu lagi.” Ucap Yifan. Yijun tersenyum, mati-matian menahan tangisan harunya. Ia balas memeluk Yifan dan menenggelamkan wajahnya di dada Yifan.
“I miss you so much,” gumamnya. Yifan tersenyum dan mengelus rambut Yijun.
“Me too, Yijun,” ucapnya.
KLEK
“Yi, aku membawakanmu –“
Yijun dan Yifan sama-sama terkejut mendengar suara itu.
“O-oh, mian, aku mengganggu kalian,” Joonmyun baru saja akan keluar ketika Yijun memanggilnya.
“Gege! Coba tebak! Gege lamaku sudah kembali!”
“Mwo??? Gege???” koor Yifan dan Joonmyun bersamaan.
“Iya, Gege! Tunggu, kenapa kalian berteriak?” tanya Yijun.
“Kau memanggilnya ‘Gege’?” tanya Yifan.
“Dia ‘Gege’-mu??” tanya Joonmyun. Yijun mengangguk takut-takut pada keduanya.
“Hey, kau hanya boleh memanggil Gege padaku, Yi.” Ucap Yifan sinis pada Yijun
“Astaga, Ya Tuhan, salah apa aku sampai jadi calon adik ipar si tiang ini?” gumam Joonmyun.
“Mwo? Calon adik ipar?? Hey, memangnya aku mau berbesan denganmu??”
“Gege, aduh, Gege berdua, berhenti bertengkar…”
“Sebentar Yi. Dia mengaku-ngaku sebagai kekasihmu.“
“Siapa yang mengaku-ngaku? Memang benar, kok!”
“Hey, sejak kapan selera Yijun menjadi orang bertubuh pendek sepertimu?”
“AKU TIDAK PENDEK! KAU SAJA YANG TERLALU TINGGI!”
Baiklah, kita biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri.

A few months later…

Sehwi memandang etalase di hadapannya dengan bingung. Tangannya perlahan terulur untuk mengambil bungkusan, namun ia menariknya kembali. Ia mengulanginya sampai 3 kali.
“Oh, ayolah. Apa kau akan terus melakukan itu sampai jam 3 nanti?”
Sehwi terkekeh geli. Lalu segera mengambil sebuah bungkusan.
“Geulae, aku ambil ini saja. Kajja, Kyungsoo-ya,”
Kyungsoo tersenyum, lalu mengikuti Sehwi dari belakang menuju kassa.
Setelah membayar permen jeli milik Sehwi, mereka berdua keluar dari toko itu dan berjalan menuju sebuah café.
“Kau mau makan sampai kapan akan terus memakan permen itu?” tanya Kyungsoo saat melihat Sehwi memakan permen dengan semangat.
“Hm? Tentu saja sampai habis,” jawab Sehwi dengan mulut penuh permen.
“Aigo, tak baik terlalu banyak makan permen.”
“Tapi aku selalu menyikat gigi sehabis memakannya,” sanggah Sehwi.
“Lalu sekarang bagaimana? Memangnya di café nanti akan ada sikat gigi?”
“Ah, geulae…” ucap Sehwi. Kyungsoo menahan tawa melihat ekspresi khawatir Sehwi sekarang.
“Kyungsoo-ya, eottohkae?? Aku juga tidak membawa sikat gigi lipatku…” ucap Sehwi khawatir. Kyungsoo akhirnya tertawa.
“Aigooo, kau lucu sekali, sih.” Ujar Kyungsoo sambil mencubit kedua pipi Sehwi. Pipi Sehwi mendadak merah karena malu.
“Lagipula, mau kau memakan sebanyak apapun permen jeli, aku tetap menyukaimu. Jadi tak masalah,” lanjut Kyungsoo sambil memegang bahu Sehwi. Sehwi yang merona hanya bisa menunduk.
“Ah, kita hampir sampai. Kajja,” ajak Kyungsoo. Sehwi hanya mengangguk dan berjalan mendahului Kyungsoo. Padahal mereka sudah 2 bulan berpacaran. Namun Sehwi masih terlalu malu jika melakukan skinship dengan Kyungsoo.
Sehwi dan Kyungsoo masuk ke sebuah café bertuliskan ‘Café Latte’. Rupanya, disana sudah berkumpul teman-teman Sehun yang lain.
“Kyungsoo-ya!” seru Jongin begitu melihat Kyungsoo di pintu masuk. Kyungsoo tersenyum dan balas melambai. Sedangkan Sehwi sudah bergabung terlebih dahulu dan duduk di sebuah kursi kosong.
“Sehwi-ya, bisakah kau pindah ke kursi sebelah Yixing?” ujar Yifan.
“Eh? Waeyo? Apa aku tidak boleh duduk disini?” tanya Sehwi polos.
“Ani, bukan itu. Itu kursi untuk adikku,” jawab Yifan.
“Ah, Yijun Eonni?”
“Bukankah kalian satu kelas? Kenapa kau memanggilnya Eonni?” tanya Zitao.
“Sebenalnya Yijun Eonni lebih tua satu tahun daliku. Tapi entah kenapa dia dimasukan ke-mmphh,” ucapan Sehwi terpotong saat Yifan memasukkan marshmallow ke mulutnya.
“Ya hyung!!” seru Sehun saat melihat kejadian itu. Yifan tersenyum lebar.
“Mian,” ucapnya pendek.
“Baiklah, aku pindah saja ke tempat Sehun Oppa,” ujar Sehwi cepat. Ia segera berdiri dan berjalan menuju kursi di sebelah Sehun, namun tangannya ditarik oleh Kyungsoo.
“Di sebelahku saja,” ucap Kyungsoo. “Bolehkan, hyung?” tanyanya sambil menatap pada Sehun.
“Terserah.” Ucap Sehun sambil memakan kue beras madu.
“Ya Oppa….” Ucap Sehwi. Sehun hanya menahan tawa. Kyungsoo lalu menariknya agar duduk di sebelahnya.
“Ya, Joonmyun hyung kemana?” tanya Baekhyun.
“Seharusnya dia sudah tiba disini sekarang… ah, itu dia!” seru Yifan sambil menunjuk ke pintu masuk café. Terlihat Joonmyun datang bersama Yijun yang duduk di kursi roda.
“Maaf menunggu lama,” ucap Joonmyun sambil mendorong kursi roda Yijun ke sebelah Yifan.
“Hampir saja kami memulai tanpamu,” ucap Yifan.
“Berarti Gege juga akan memulai tanpaku,” ucap Yijun sembari memasukkan kue beras ke mulutnya. Yijun sangat suka makan, jadi wajar saja bila ia berbuat seperti itu.
“Bukan begitu, Yi. Ah sudahlah, lupakan.” Ucap Yifan kesal. Joonmyun menahan tawa.
“Apa Yoora Noona masih lama, Yeol?” tanya Luhan yang dibalas gelengan oleh Chanyeol.
“Kurasa dia terlambat. Atau mungkin tidak akan ikut. Dia bilang masih banyak urusan di kantornya.” Ucapnya malas.
“Hey, hyung, kau tidak mengajak Minrae?” tanya Yixing pada Minseok.
“Ne? Minrae? Ah, tidak usah. Aku takut Sehun tidak bisa makan dengan tenang bila Minrae diajak.” Ucap Minseok sambil menatap Sehun. Yang ditatap hanya mendengus kesal.
“Memangnya Minlae itu siapa?” tanya Sehwi.
“Adik Minseok hyung. Kau tahu, Sehun Oppamu menyukainya,” bisik Jongdae pada Sehwi. Sehwi mengangguk mengerti.
“Aku dengar, hyung.” Ujar Sehun malas.
“Lalu kenapa tidak diajak? Padahal Appa hali ini akan datang dan dia ingin melihat kekasih Sehun Oppa.” Tanya Sehwi. Sehun tersedak kue beras.
“Mwo? Appa pulang????” tanyanya terkejut. Sehwi mengangguk.
“Oppa tidak tahu? Kemalin kan aku sudah bilang,”
“Ah, kemarin. Kemarin aku tertidur.” Ujar Sehun lesu.
“Ya, kenapa kau tidak memberitahuku?” tanya Kyungsoo.
“Memangnya kenapa aku halus membelitahumu?”
“Kau lupa? Aku kan sekarang kekasihmu. Apa Appa mu tidak mau melihat salah satu calon menantunya?” goda Kyungsoo. Sehwi hanya merona mendengarnya.
“Baiklah, karena semua sudah berkumpul, kenapa tidak kita muai pestanya?” ujar Baekhyun.
“Pesta? Pesta apa?” tanya Sehwi.
“Astaga, Sehun jangan bilang kau –“
“Dia tidak mau diberitahu, Joonmyun hyung. Jangan salahkan aku.” Sela Sehun cepat.
“Hah, Sehwi. Ini pesta untuk ulang tahunmu. Kau lupa?” tanya Chanyeol.
“Oh, ulang tahunku.” Ucap Sehwi sambil memakan permennya kembali. “Nde??? Ulang tahunku???”
Semuanya menatap malas Sehwi.
“Hali ini aku ulang tahun???” ulangnya lagi.
“Sehwi-ya, hati-hati, permen jelimu bisa jatuh kalau kau membalikkan tanganmu seperti itu,” ucap Yijun mengingatkan sembari mengambil kue beras yang baru.
“Ah, gomawo Eonni,” ucap Sehwi lalu menyimpan bungkusan permen jelinya di meja. “Pantas saja Appa hali ini pulang.”
“Ada yang memanggilku?”
Semuanya menoleh ke sumber suara. Minhyuk sudah berdiri sambil membawa sebuah kue ulang tahun yang sudah menyala.
“Appa!”
“Kang Ahjussi!”
“Hey, sudah kubilang, panggil saja Paman. Jangan memakai marga,” ucap Minhyuk pelan pada mereka. Yang lain tertawa.
Dan mereka pun segera menyanyikan lagu ulang tahun bagi Sehwi. Tak lupa dengan acara tiup lilin dan potong kue. Potongan pertama dibagi 3 bagian dan di berikan kepada Minhyuk, Sehun, dan Kyungsoo.
“Ya, kenapa hanya sedikit?” protes Minhyuk.
“Aku tidak mau nanti Sehun Oppa dan Kyungsoo tidak enak pada Appa kalau aku membelikan potongan peltama padanya.” Jelas Sehwi sembari mencolek krim kue miliknya.
“Kau ini,” Minhyuk mengacak rambut putrinya itu.
Hari itu Sehun mengundang mereka beserta sibling mereka untuk merayakan ulang tahun Sehwi. Namun Baekhyun dan Minseok tidak datang dengan kakak ataupun adik mereka. Yixing dan Zitao yang memang merantau di Korea tentu tidak bisa membawa sibling mereka yang berada di sebrang pulau. Jongdae anak tunggal, dan Joonmyun bilang kakaknya sedang pergi ke Jepang. Sisanya memenuhi undangan Sehun, meski Chanyeol kesal karena noona nya belum datang juga. Kalian tahu sendiri kalau Jongin dan Kyungsoo adalah adik kakak (angkat). Yifan mengajak Yijun, dan Luhan… kalian tahu sendiri bagaimana kisahnya.
Setelah Seyoung meninggal, Minhyuk memutuskan untuk tinggal bersama Sehun dan Sehwi sebagai orang tua bagi mereka, karena Minkyung dan Seulgi pergi entah kemana. Yijun yang awalnya dirawat oleh Dokter Kim – ayah Joonmyun – kini sudah tinggal bersama Yifan. Kyungsoo dan Sehwi berpacaran, begitu juga Joonmyun dan Yijun.
Setelah acara pemotongan kue selesai, mereka mulai makan siang bersama. Minhyuk yang membayar. Lagipula ia yang paling tua disana.
“Hey, setelah ini kita harus mengambil foto,” usul Baekhyun.
“Lalu siapa yang mengambilnya?” tanya Yixing.
“Pelayan disini saja,”
“Tidak perlu, aku sudah membuat lukisan kalian semua,” ucap Yijun dengan mulut penuh japchae pedas.
“Nde? Siapa suruh kau menggambar kami?” tanya Minseok.
“Inisiatif, Ge.”
“Hey, sudah kubilang, kau hanya boleh memanggil Gege padaku saja.” Sahut Yifan.
“Tapi mereka semua lebih tua dariku, Ge.”
“Panggil saja Oppa. Kita kan sedang di Korea.”
“Tidak mau. Oppa itu hanya panggilanku pada Jun-ohokkk,” sebelum menyelesaikan ucapannya, Yijun keburu tersedak japchae. Joonmyun yang ada disebelahnya buru-buru memberinya air minum.
“Ya, jangan bicara dengan mulut penuh,” ucap Joonmyun sembari mengelus punggung Yijun.
“Hhh, Gomawo Oppa.” Ucap Yijun sembari tersenyum.
“Tumben sekali kau beraegyo pada orang lain.” Sindir Yifan. Yijun memandangnya tak suka.
“Mengapa kau terus berkomentar? Apa aku menyusahkan hidupmu?” ucapnya banmal.
“Ya ya ya, kau bicara apa tadi???”
“Yifan, tolong ingat, kita masih di meja makan.” Tenang Luhan. Yifan mendengus kesal, sementara Yijun terkikik geli di kursinya.
“Kalian ini berisik sekali,” komentar Minhyuk.
“Maklumi saja Appa, mereka tidak bertengkar hampir 8 tahun. Mungkin mereka rindu berbuat keributan.” Timpal Sehun.
“Sepelti Oppa tidak pelnah libut di meja makan saja,” timpal Sehwi. Sehun terdiam. Yang lain tertawa.
“Ya, jangan begitu pada kakakmu sendiri…” ujar Sehun.
“Tapi Appa tidak malah, ya kan Appa?” tanya Sehwi pada Minhyuk. Minhyuk hanya tertawa.
“Sepulang dari sini nanti, kalian harus langsung belajar. Minggu depan kalian kan sudah memasuki Ujian Tengah Semester.” Nasihat Minhyuk.
“Ne, Appa.” Koor Sehun dan Sehwi.
“Eh? Tapi Sehun Oppa belum membelikanku hadiah,” ujar Sehwi.
“Memangnya yang lain sudah?” tanya Sehun.
“Kami semua sudah menyimpannya di rumah kalian,” jawab Jongdae.
“Curang,” gerutu Sehun.
“Ah, begitu? Tapi Appa ada meeting satu jam lagi jadi tidak bisa mengantar kalian. Tidak apa?”
“Gwenchana, aku membawa motor,” ucap Sehun.
“Ah, baiklah,”
Dan mereka pun melanjutkan acara santap siang mereka dengan riang.

Sehun memperhatikan Sehwi yang masih memilih hadiahnya di counter. Tadinya ia mau membawa Sehwi ke Myeongdong, namun mengingat hari sudah sore, akhirnya Sehun mengajaknya ke toko hadiah terdekat.
“Oppa, menulut Oppa lebih cocok yang mana?” tanya Sehwi sambil menyodorkan dua buah jam tangan berwarna biru dan putih.
“Putih lebih bagus,” ujar Sehun. “Kau benar hanya ingin jam? Tidak mau sepatu?”
“Nde? Aku boleh membeli sepatu??” tanya Sehwi. Sehun hanya menghela nafas. Semenjak masuk SMA, Sehwi jadi semakin kurang tanggap. Mungkin karena ia terlalu banyak bergaul dengan Yixing, ia jadi tertular sifatnya.
“Beli apapun yang kau inginkan. Tapi jangan yang terlalu mahal,” ucap Sehun sembari melihat-lihat jam tangan pria yang ada di counter. Sehwi berseru kegirangan lalu menuju stand sepatu.
Sehun sendiri akhirnya menunggu di sebuah kursi yang disediakan. Sepuluh menit kemudian, Sehwi mendatanginya dengan membawa banyak sekali barang.
“Ya, kubilang jangan terlalu mahal!” seru Sehun.
“Tapi ini semua mulah Oppa,” ujar Sehwi. Sehun mendengus.
“Baiklah,” ia mengambil beberapa barang dari tangan Sehwi dan membawanya ke kasir.
Setelah membayarnya, mereka lalu keluar dari toko dan segera pulang.
“Kalau bukan kau yang berulang tahun, aku tidak akan membelikan semuanya untukmu,” ujar Sehun sambil mematikan mesin motornya. Sehwi terkekeh geli.
“Sehalusnya Oppa bilang jangan membeli tellalu banyak,” ucap Sehwi.
“Aku bilang seperti itu pun kau tetap akan membeli semuanya.” Sehun membawa dua buah plastik belanja dan Sehwi membawa satu buah.
“Aigo, rumah jadi sepi seperti ini,” ucap Sehun sambil memperhatikan ke sekeliling ruang tengah. Sehwi yang ada di sebelahnya mengangguk membenarkan.
“Hm. Aku jadi lindu celotehan Eomma…” ucap Sehwi. Sehun menghela nafas berat.
“Bahkan meski Eomma jahat padaku, aku tetap melindukannya,” lanjut Sehwi lagi. Sehun menyimpan barang bawaannya ke atas meja, dan sekali lagi memandang ke sekeliling. Ia menghela nafas lagi.
“Nado…” ucapnya pelan. Sehwi yang mengerti kegundahan kakaknya, memeluknya dari belakang, meski tangannya masih memegang barang bawaan.
“Mianhae,” ujar Sehwi. Sehun menoleh.
“Untuk apa?” tanya Sehun.
“Kalena aku membuat kehidupan Oppa lumit.” Jawab Sehwi. Sehun tersenyum. Ia melepaskan pelukan Sehwi dan memutar tubuhnya.
“Tidak. Kau tidak pernah membuat hidup Oppa rumit. Oppa justru sangat bersyukur kau hadir ke dalam kehidupan Oppa.” Ujar Sehun sembari tersenyum. Dan Sehwi bersumpah kalau itu adalah senyuman termanis Sehun yang pernah ia lihat.
“Gomawo,” ucap Sehun tulus, lalu memeluk Sehwi.
“Untuk?”
“Karena sudah hadir di kehidupanku sebagai adikku.” Jawab Sehun. Sehwi tersenyum lalu balas memeluk Sehun.
“Ini mungkin terdengar kejam, tapi aku senang Eomma tidak ada disini sekarang,” ucap Sehun lagi.
“Wae?”
“Karena sekarang aku bisa memelukmu kapan saja,”
“Ya, sejak kapan Oppa jadi cheesy sepelti ini,” Sehwi memukul pelan punggung Sehun.
“Jawab jujur,” Sehun memainkan rambut Sehwi yang kini sudah mulai panjang. “Kau lebih suka dipeluk olehku atau oleh Kyungsoo?”
“Eh?” Sehwi merona. “Aku belum pelnah dipeluk Kyungsoo.”
“Jinjja?”
“Betul. Saat Kyungsoo memegang tanganku saja aku sudah gemetalan. Apalagi kalau ia memelukku,”
“Bagaimana kalau dia menciummu?”
“Ya Oppa!”
“Wae? Kau suka, ‘kan? Apalagi bentuk bibir Kyungsoo sangat bagus. Penuh dan berbentuk hati. Astaga, aku iri padanya.”
“Oppa!”
Sehun terkekeh geli dan semakin mengeratkan pelukannya.
‘Apapun yang terjadi, aku tetap akan menjadi kakaknya. Menjadi pelindungnya. Menjadi tumpuannya. Menjadi teman hidupnya. Bahkan jika dunia tak mengizinkanku, aku akan tetap melindunginya. Aku berjanji, bila jantungku belum berhenti, aku akan terus melindunginya. Terus berada di sampingnya. Selamanya.’
Sehun tersenyum dan kembali mengulang janjinya itu, kali ini dengan perasaan yang lebih tenang.

Candy Jelly Love, finally ended!

Aiguu, geter-geter gimana gitu ya, jadi pengen punya kakak kaya ohseh :’
Maaf nunggu lama ;-; banyak hal yang tak terduga/ceilah/ jadi rada sulit mau lanjutin ini. Tapi Alhamdulillah masih bisa nulis meskipun feel nya gak dapet sama sekali. Iya maaf kalau feelnya gak dapet huhuhu.
Makasih banyak buat semua readers yang udah baca ff ini dari shoot satu sampe tamat. Makasih semuanyaaaa /tebar permen. Kalau kangen, bisa baca cerita author yang Detektif Cogan, yah meski ff itu gak ada benernya sama sekali :’) /promosi.
Akhir kata, semoga kalian dapet makna ceritanya dan sampai jumpa lagi di ff yang lain!! Annyeong!! /bow with the cast.

EPILOG

“Oppa, kenapa Eomma tidak suka kalau kita memakan pelmen jeli?”
Sehun mengambil satu genggam permen jeli ke tangannya dan mulai memakannya. “Eomma tidak suka makanan manis,”
“Hanya itu? Tapi kenapa ia sampai melalang kita habis-habisan?” tanya Sehwi lagi.
“Menurut Eomma, makanan manis seperti itu hanya membuat bodoh kita saja. Dia pikir, semua yang bersifat manis di dunia ini hanyalah buatan, tak ada yang benar-benar tulus,” jawab Sehun lagi tanpa mengalihkan pandangannya dari film ’20 Once Again’ yang sedang mereka tonton. “Ya, dia itu nenekmu, bodoh. Jangan jatuh cinta padanya!” komentar Sehun. Sehwi hanya terdiam memikirkan ucapan Sehun.
“Tapi Oppa pelnah bilang kalau aku manis. Apa itu altinya aku juga tidak tulus?”
“Hahahaha! Dasar nenek-nenek!” Sehun tertawa tanpa menjawab pertanyaan Sehwi.
“Oppa! Kau mendengalku atau tidak?”
“Eh? Tentu saja tidak,” Sehwi baru saja mengangkat tangannya untuk memukul bahu Sehun ketika Sehun melanjutkan. “Kau manis apa adanya. Dan ketulusanmu datang begitu saja.” Lanjut Sehun tanpa memandang Sehwi. “Aisshh, dasar menantu tidak tahu diri,” komentar Sehun lagi.
“Oh, begitu…” Sehwi menurunkan tangannya dan merogoh bungkusan permen jelinya. Tiba-tiba ia terbelalak. Ia merogoh kembali bungkusan itu dan mulai membaliknya. Hanya ada satu permen tersisa.
“Ya Oppa!!! Kenapa Oppa menghabiskan semua pelmenku???? Ini kan hadiah dali Kyungsoo!!!!”

Regards,

Jstnkrbll.

24 tanggapan untuk “Candy Jelly Love (Shoot 6 – FIN)”

  1. Aaa happy ending tapi keknya aku sempet nangis deh ya di chapter yang ini wkwkwkw, cengeng bgt aku berapa chapter ff ini ada berkaca-kaca yang ini nangis xD

    Enak ya punya kakak kayak Sehun gitu ya ampun perhatian banget >< Pengen ngerasain punya kakak, sekalian orangnya Sehun asli wk ngayal xD

    Dan entah kenapa aku ketawa pas bagian si siapa Yujin yang pacarnya Suho itu pas “Tidak mau. Oppa itu hanya panggilanku pada Jun-ohokkk,” Jun ohokkk 😂 😂

    Keren bgt ffnya! Sukaaa<3 Kamu hebat bisa bikin ff sebagus ini :3 Apalah aku ha tak berbakat bikin ff hiks. Keep writing ya!! Terus buat ff sebagus atau bahkan makin bagus ❤

  2. Ceritanya agak sulit ditebak thor. Aku kira nanti Sehunnya bakalan jadian sama Sehwi karena ada tulisan ‘lil brother-sister complex’. Tapi ternyata Sehwi jadian sama Kyungsoo. Oiya, gimana tuh nasib Seulgi sama Minkyung?
    Oiya thor, yang aku agak bingung, kan waktu Sehwi masuk rumah sakit itu (pas Sehun bener-bener khawatir) dan Sehun sama Uisa kan bicara serius tuh? Mereka bicara apa? Apa ada penyakit lain dalam diri Sehwi? Kok Sehun bisa sampe kaget gitu?! Tolong jelasin ya thor, soalnya bingung-,- Overall aku suka, penulisannya rapih banget. Jalan ceritanya juga nyambung. Tapi ya itu tadi bingungnya, kukira Sehwi ada sedikit kelainan karena dia telat ngerespon (chapter ini yang ada kaitannya sam Yixing itu loh). Maaf thor komen panjang banget 😀

    1. Brother-sister complex bukan berarti incest^^ brother complex itu artinya keposesifan seorang kakak ke adiknya. Nasib mereka? Hmmm, mereka belum ngabarin nih. Hihihi:3
      Ah iya adegan itu ya? Sehun belum mau ngasih tau nih:3 Tapi emang sebetulnya dari dulu sehwi kurang tanggap. Mungkin aku kurang ngeekspos bagian itu di shoot yang lain? Mungkin kali ya.

      Anw Terima Kasih!^^ aku suka kok komen panjang panjang kaya kamu^^

  3. Wekekeke.. epilog nya lucu.. kakak adik bahagia banget.. keren2!! Suka final chap nya.. ditunggu karya selanjutnyaa.. kekeke ^^

  4. Hmm sweett^^
    Kirain si sehwi jadiannya ama sehun trnyta ama kyungsoo toh 🙂
    Ditunggu ff selanjutnyaaa semangat ! 😀

  5. wahhh daebak ceritanya terus comedynya jg dpt gk garing kriuk kriuk,,
    kayak ada manis”nya gtu… 😀

    ehm,, maaf ya kak aku gk bsa comment dari chapter prtama soalnya aku baru baru tau ada ff ini, jd aku baru baca dari chapter 1-6 dan aku baru bisa comment di chapter ini,,,
    //(udh deh kepanjangan aku mau bobo dulu (?) #eh 😀

  6. Aigoo endingnyaa
    Sehun sama aku ajaaa
    Jadi kakak aku jugaa dong
    Aku butuh kakak kyk kamuu
    Yang baiknya minta ampun deh

  7. aku kira sehun sama sehwi bakal pacaran. ternyata ngga. sehwi malah sama kyungsoo. tapi aku tetep suk sama ff nya.

    oke lah kalo begitu.. ditunggu ya ff berikut nya..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s