Siblings

Nean-Siblings

SIBLINGS

Oneshoot // Teen // Romance // Kim Jong In (EXO), Kim Min Seok (EXO), Kim Shi Yoon (OC)

→ thanks for this cute poster, KimiHam 

.

anneandreas

.

.

PicsArt_1448600142405

 

.

……………

…………

“Kau yang terbaik, noona! Shi Yoon noona, jjang!” kata seorang laki-laki

Gadis yang dipanggil Shi Yoon noona itu tertawa.

……….

Kim Jong In menghentikan langkahnya di depan pintu masuk perpustakaan umum saat melihat adegan yang terjadi di dalam perpustakaan itu. Bibirnya memberengut karena tidak menyukai apa yang baru saja dilihatnya. Ia membuka pintu perpustakaan dengan menahan kesal setelah laki-laki itu masuk ke lorong rak buku.

……….
Noona, appa mencarimu. Jam berapa kau pulang?” tanya Kim Jong In

“Aku pulang jam lima seperti biasa. Kau datang ke sini hanya untuk memberitahu hal itu?” Kim Shi Yoon mengangkat alisnya

“Jadi maksudmu aku tidak boleh datang ke sini? Geurae!”

“Bukan begitu, dasar kau anak kecil.”

Kim Jong In mendengus kesal.

“Jadi kau akan menungguku hingga jam lima atau kau akan pulang duluan?” tanya Shi Yoon

“Aku pulang saja, Shi Yoon noona jjang!” jawab Jong In dengan nada aku-lebih-baik-dari-pada-laki-laki-yang-tadi-mengucapkan-kalimat-ini lalu keluar dari perpustakaan

……….

^^^

……….

“Jong In-a.” panggil Shi Yoon sambil mengetuk pintu kamar Jong In

Mwo?” sahut seseorang dari dalam kamar

“Aku masuk ya?” tanya Shi Yoon

Eoh.

……….

Shi Yoon membuka pintu kamar Jong In dan menemukan laki-laki itu sedang berbaring tengkurap di atas tempat tidurnya. Ia menghampiri Jong In dan duduk di salah satu sisi tempat tidurnya.

“Sepertinya kamu marah padaku sejak tadi di perpustakaan?” kata Shi Yoon membuka pembicaraan

“Begitukah menurutmu?” tanya Jong In masih tidak bergerak tampak acuh tak acuh

Ne. Jadi jelaskan padaku apa salahku.”

Aniya. Kau tidak salah. Aku hanya tidak suka caramu tersenyum pada laki-laki itu.”

Nugu?”

“Laki-laki Shi Yoon-noona-jjang itu!”

……….

Shi Yoon tertawa melihat mimik wajah Jong In saat mengucapkan kalimat terakhirnya.

“Mengapa kau tertawa? Wae wae wae?” tanya Jong In, duduk dan menatap Shi Yoon

“Jadi ceritanya kau cemburu pada Jong Dae?” tanya Shi Yoon sambil tertawa

“Aah. Jadi laki-laki yang kau beri senyum itu namanya Jong Dae.”

“Sebagai penjaga perpustakaan yang baik tentu aku harus tersenyum pada setiap orang. Kupikir kau merajuk karena apa, ternyata hanya karena hal seperti ini, dasar anak kecil.” kata  Shi Yoon sambil mengetuk kepala Jong In

“Ah! Appo noona.” jerit Jong In sambil mengusap kepalanya

“Cepat keluar dari kamar untuk makan malam, hyungmu dan aku sudah kelaparan.” lanjut Shi Yoon lalu keluar dari kamar Jong In

……….

^^^

……….

“Jong In-a, malam ini kau tampak tidak berselera makan, wae?” tanya Kim Min Seok

“Dia sedang merajuk padaku.” sahut Shi Yoon yang duduk di samping Min Seok

Wae?” tanya Min Seok dengan alis berkerut

Aniya. Tidak, aku tidak merajuk. Noona apa kau sudah berbicara dengan appa?” potong Jong In mengalihkan pembicaraan

Appa? Uri appa? Bukankah appa sedang pergi ke Beijing?” tanya Min Seok

“Sudah, tadi aku bertemu dengannya sebentar sebelum ia berangkat ke bandara, karena itu aku pulang terlambat hari ini.” jawab Shi Yoon

“Apa yang appa bicarakan?” mata Jong In berkilat karena rasa ingin tahu menggelitiknya

“Bukan urusan anak kecil.” jawab Shi Yoon

Lagi-lagi Jong In mengerucutkan bibirnya, ia benar-benar tidak suka dianggap anak kecil.

……….

^^^

……….

Laki-laki itu menatapnya dengan kehangatan yang mampu mencairkan salju di sekitar mereka, sudut bibirnya melengkung membentuk senyuman terindah yang pernah tertangkap mata. Jantung Shi Yoon berdebar ketika laki-laki itu berjalan mendekat ke arahnya. Shi Yoon menatap lekat laki-laki yang sudah berdiri di hadapannya itu, ia mengulurkan tangan bermaksud menyentuh laki-laki yang ada di hadapannya, namun laki-laki itu menghilang.

Shi Yoon terbangun dari tidur siangnya. Ia duduk bersila di atas tempat tidurnya, dahinya berkerut. Shi Yoon menghabiskan menit-menit berikutnya dengan memikirkan identitas laki-laki yang lagi-lagi hadir di mimpinya. Laki-laki itu memang sering hadir dalam mimpi Shi Yoon, tetapi belakangan ini intensitas kemunculannya dalam mimpi Shi Yoon menjadi lebih sering dari biasanya.

……….

Siapa kamu? Apakah aku pernah mengenalmu?

……….

Shi Yoon merebahkan kembali dirinya di tempat tidur, berniat melanjutkan tidurnya dan bila beruntung kembali bertemu dengan laki-laki di mimpinya sehingga ia bisa bertanya tentang identitasnya. Namun wangi biji kopi yang belum diolah membuat Shi Yoon mengurungkan niatnya, ia keluar dari kamarnya dan berjalan menuju dapur. Min Seok pasti sedang bereksperimen dengan benda-benda kesayangannya itu dan akhirnya ia memutuskan untuk bergabung bersama Min Seok. Sebenarnya hari libur memang lebih cocok digunakan untuk bereksperimen, bukan?

……….

Shi Yoon tersenyum bangga pada Min Seok saat ia mencicipi latte buatan laki-laki itu. Sementara itu matanya memperhatikan Jong In yang sedang adu lempar bantal dengan temannya.

“Coba lihat adikmu dan Kyung Soo, Min Seok. Dua anak kecil itu sok membicarakan cinta namun berakhir dengan lempar-melempar bantal.” kata Shi Yoon

“Kami bukan anak kecil lagi, noona!” sahut Jong In dan Kyung Soo bersamaan dari ruang tengah

Shi Yoon tertawa.

……….

“Kyung, kemari. Cicipi latte yang kubuat. Sepertinya ini berhasil.” jerit Min Seok

Ne, hyung!” jawab laki-laki yang dipanggil Kyung itu

……….

Tidak berapa lama kemudian bergabunglah dua orang laki-laki di dalam dapur dan bersama menikmati latte buatan Min Seok.

“Ini enak, hyung. Jinjja!” komentar Kyung Soo

“Ah, gomawo.”jawab Min Seok

“Simpan sebagian di dalam lemari es, aku akan membawanya ke perpustakaan besok.” kata Shi Yoon

“Untuk apa? Untuk kau berikan pada laki-laki Shi Yoon-noona-jjang itu?” sahut Jong In ketus

“Jong Dae. Laki-laki itu punya nama.” jawab Shi Yoon

“Aha! Kau membelanya! Kau pasti menyukainya!” kata Jong In lagi

Aniya! Dia anak kecil. Sama sepertimu.” jawab Shi Yoon

Jong In mendengus.

……….

Ia baru akan melawan pernyataan Shi Yoon saat handphone milik Kyung Soo berdering dan sahabatnya itu menjawab panggilan telepon dengan wajah yang serius.

“Ada apa?” tanya Jong In setelah sambungan telepon Kyung Soo berakhir

“Young Mi masuk rumah sakit.” jawab Kyung Soo

Mwo?” kata Jong In kaget

“Aku harus segera ke sana. Terima kasih lattenya, Min Seok hyung. Aku pergi dulu, noona.” kata Kyung Soo

…………..

“Kyung Soo tampak begitu khawatir.” kata Min Seok setelah Kyung Soo pergi

Ne. Jika itu aku, akupun akan seperti itu. Karena kami bukan anak kecil lagi.” jawab Jong In sambil melirik ke arah Shi Yoon

Wae? Kenapa kau melirik ke arahku? Wae?”

Aniya. Tidak ada maksud apapun.” jawab Jong In sambil berjalan keluar dari dapur

……………

^^^

……………

Shi Yoon berlari, ia tegang tetapi di saat yang sama ia juga merasa bahagia. Senyum yang lebar terpampang di wajahnya, begitu juga di wajah laki-laki yang menggenggam tangannya dan ikut berlari bersamanya. Lalu mereka berbelok ke salah satu bilik kosong dan bersembunyi di sana, Shi Yoon menahan napas ketika beberapa prajurit sibuk berlari di depan bilik tempat ia bersembunyi. Ia tidak boleh tertangkap, tidak sekarang.

Shi Yoon baru dapat bernapas lega ketika ia sudah tidak mendengar bunyi langkah prajurit-prajurit itu di sekitar bilik. Ia tersenyum dan menatap laki-laki yang sudah merangkulnya dari tadi. Laki-laki itu balas menatapnya, tatapannya masih hangat dan tenang, namun mampu menenggelamkan Shi Yoon ke dalam manik gelap di matanya.

……………

Shi Yoon membuka matanya, namun manik gelap yang menatapnya sudah tidak tampak. Shi Yoon duduk bersila di atas tempat tidurnya dan memijat pelipisnya. Mengapa laki-laki itu hadir terus-menerus di dalam mimpinya? Mengapa tiba-tiba ia begitu merindukan laki-laki itu padahal Shi Yoon merasa ia tak pernah mengenalnya.

……………

Bunyi pesan singkat dari handphonenya menghentikan lamunan Shi Yoon, ia meraih handphone yang ada di sampingnya dan membuka pesan itu. Shi Yoon menghela napas panjang dan membenamkan dirinya di balik selimut tebal sambil memutar musik boyband kesukaannya dengan volume keras. Tidak lama kemudian terdengar suara ketukan dari depan pintu kamar Shi Yoon.

Nugu?” jerit Shi Yoon

Na ya.” jawab Min Seok dari luar kamar

“Masuklah, pintunya tidak terkunci.” sahut Shi Yoon

……………

Min Seok menghampiri Shi Yoon yang masih membenamkan dirinya di balik selimut, dan duduk di sisi tempat tidur gadis itu.

Wae?” kata Min Seok membuka pembicaraan

“Apa yang kau maksud dengan wae?” jawab Shi Yoon dari balik selimut

“Ayolah. Kita sudah tinggal bersama bertahun-tahun, aku tahu kalau kau sedang kesal. Wae?” tanya Min Seok

……………

Kepala Shi Yoon menyembul dari balik selimut.

“Jadi apa yang membuatmu kesal?” pancing Min Seok lagi

Aniya. Aku tidak kesal. Aku hanya bingung. Tidak siap.” jawab Shi Yoon sambil menyingkirkan selimutnya dan mematikan musik dari handphonenya lalu duduk berhadapan dengan Min Seok

Wae?” tanya Min Seok

Appa memintaku kembali ke Beijing.” jawab Shi Yoon

Mwo? Kenapa mendadak sekali.” tanya Min Seok tak berhasil menutupi keterkejutannya

……………

Shi Yoon menjawab dengan mengangkat bahunya

“Kapan? Kapan kau akan berangkat?” tanya Min Seok lagi

Molla, appa belum memberitahu. Ah, Min Seok-a bolehkah aku bertanya?” sahut Shi Yoon

……………

Min Seok mengangguk.

“Apakah kau pernah memimpikan orang yang sama beberapa kali namun kau tidak mengenal orang itu? Tapi kau merasa begitu merindukannya saat kau melihatnya di dalam mimpi.” tanya Shi Yoon

……………

Min Seok mengerutkan dahinya, terlihat berpikir. Lalu ia menggeleng.

“Tidak pernah?” tanya Shi Yoon lagi

Min Seok menggeleng, “Tidak pernah, wae?”

Aniya, cuma bertanya.” jawab Shi Yoon

……………

Min Seok mengangkat sebelah alisnya, tanda ia tidak mempercayai yang baru saja Shi Yoon ucapkan.

“Hey, jangan pasang ekspresi seperti itu! Kau tidak percaya padaku?” tanya Shi Yoon

Min Seok mengangguk.

Aniya, tidak ada apa-apa. Sudah sana keluar dari kamarku. Laki-laki tidak boleh masuk ke kamar gadis sembarangan!” jawab Shi Yoon sambil mendorong Min Seok keluar dari kamarnya

“Kita kan keluarga.” jawab Min Seok namun pasrah dengan dorongan Shi Yoon

……………

^^^

……………

Shi Yoon sedang membaca novel series favoritnya saat ia mendengar pintu perpustakaan berdecit. Ia mengangkat wajahnya untuk mencari tahu siapa yang baru saja datang, dan ia menemukan seorang laki-laki berdiri menjulang dari balik meja resepsionis.

Wae?” tanya Shi Yoon

Aniya. Hanya ingin menunggumu hingga pulang dan mengajakmu pergi makan ice cream.” jawab Jong In

Wae?” jawab Shi Yoon singkat

Wae? Kau tidak mau aku mengajakmu makan ice cream atau kau tidak suka aku ada di sini?” tanya Jong In

“Bukan begitu. Kenapa kau tempramen sekali. Baiklah, ayo kita makan ice cream sesudah aku menutup perpustakaan.” jawab Shi Yoon

……………

Shi Yoon memandang wajah Jong In yang saat ini sudah duduk di hadapannya bersama dengan semangkuk ice cream vanila.

“Kau kenapa?” tanya Shi Yoon lembut

“Kapan noona akan berangkat ke Beijing?” Jong In menjawab pertanyaan Shi Yoon dengan pertanyaan lain

……………

Shi Yoon tidak menjawab, tapi wajahnya jelas menunjukkan keterkejutannya.

“Aku menelepon appa ketika aku mendengarmu menyalakan musik dengan keras dan tidak keluar dari kamar semalaman, kata appa kau akan segera kembali ke Beijing. Kapan?” tanya Jong In

“Aku belum tahu kapan.” jawab Shi Yoon sambil tertunduk

“Tidak bisakah kau tidak pergi?”

“Aku harus pergi, Jong In.”

“Aku harus bagaimana supaya kau tidak pergi, naega eottokae noona?”

Shi Yoon tidak menjawab.

Noona, jaebal.” pinta Jong In

……………

Shi Yoon mengangkat wajahnya dan menatap Jong In.

“Kau bisa menebak apa yang akan terjadi bila kau kembali ke Beijing kan?” kata Jong In lagi

Ara. Tapi apa yang bisa kulakukan?” jawab Shi Yoon

“Telepon appa dan katakan kau tidak akan kembali ke Beijing karena kau akan menikah denganku.” jawab Jong In dengan suara yang terdengar yakin

“Kim Jong In!” mata Shi Yoon berkilat marah

Wae? Kenapa aku tidak boleh menikah denganmu? Wae? Karena aku anak kecil? Aku bukan anak kecil lagi, noona! Aku sudah mengerti arti mencintai, dan aku mencintaimu, aku ingin menikahimu. Ingin memperjuangkanmu! Tapi tampaknya kau benar-benar tidak pernah sekalipun menganggapku sebagai seorang laki-laki.” jawab Jong In lalu meninggalkan Shi Yoon yang masih terpaku di tempat duduknya

……………

^^^

……………

Kim Min Seok menghentikan kegiatannya saat ia mendengar bunyi pintu depan terbuka dengan keras. Ia berjalan menuju ruang tamu dan menemukan Jong In berlari ke arah kamarnya dan membanting pintu kamarnya. Shi Yoon muncul dari pintu depan beberapa saat kemudian, namun berbeda dengan Jong In yang tampak marah, Shi Yoon justru tampak putus asa.

“Kalian kenapa?” tanya Min Seok

Mwo?” jawab Shi Yoon bingung

“Tadi Jong In masuk ke rumah dan langsung membanting pintu kamarnya.” tutur Min Seok

“Dia marah padaku, kali ini dia benar-benar marah.”

Wae? Apakah dia sudah tahu tentang Beijing?” tanya Min Seok

Shi Yoon mengangguk.

……………

Eottokae, Min Seokie?” tanya Shi Yoon dengan suara lemah

“Ini pasti berat juga baginya, kau tahu dia menyukaimu sudah sangat lama.”

“Dia memintaku menikah dengannya. Eottokae, aku benar-benar merasa bersalah.”

Min Seok tidak menjawab, mereka hanyut dalam pikirannya masing-masing sampai handphone Shi Yoon berdering tanda pesan masuk.

……………

^^^

……………

“Jong In benar-benar tidak datang mengantarmu.” kata Min Seok sambil menyeret koper Shi Yoon di dalam bandara Incheon

Ara. Sepertinya dia sangat marah padaku. Dia bahkan tidak keluar kamar selama aku ada di rumah.” jawab Shi Yoon

Min Seok tersenyum.

“Sampaikan maafku padanya saat kau pulang nanti.” lanjut Shi Yoon

“Dia butuh berpikir. Kau pun jangan terlalu mengkhawatirkannya. Ini bukan pertama kalinya ia marah padamu karena masalah ini. Tenangkan pikiranmu dan hubungi aku bila kau sudah sampai di Beijing. Ara?” tutur Min Seok panjang

Ara. Aku masuk dulu. Annyeong!” kata Shi Yoon sambil mengambil koper dari tangan Min Seok dan berjalan menuju terminal keberangkatannya

……………

^^^

……………

Shi Yoon berjalan ke ruangan CEO sebuah perusahaan besar di Beijing. Ia membungkuk memberi salam pada dua orang laki-laki paruh baya yang ada di dalam ruangan itu dan berjalan ke arah mereka.

“Bagaimana Beijing? Tidakkah kau merindukan tempat ini?” tanya laki-laki paruh baya yang duduk di sampingnya

“Beijing tampak tidak berubah, appa. Masih sama seperti yang ada diingatanku lima belas tahun yang lalu.” jawab Shi Yoon

“Lima belas tahun. Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat.” kata ayah Shi Yoon

……………

Ne. Kau masih gadis kecil waktu itu, aku tidak pernah melupakan wajahmu saat pertama kali datang ke Korea bersama ayahmu. Kau begitu mudah bergaul dengan anak-anakku, Min Seok dan Jong In. Tidak terasa waktu sangat cepat berlalu, kalian bertiga sudah dewasa dan tampak seperti layaknya saudara kandung.” sahut laki-laki paruh baya yang duduk di hadapannya

Ye. Kansahamnida Kim ajjussi karena menganggapku seperti anakmu sendiri selama ini.” jawab Shi Yoon sambil tersenyum

……………

^^^

……………

Shi Yoon sedang memainkan handphone ketika ayahnya mengetuk pintu dan masuk ke dalam kamarnya.

“Shi Yoon, kau tahu appa memanggilmu ke Beijing karena suatu alasan kan?” kata ayah Shi Yoon membuka pembicaraan

……………

Shi Yoon menatap ayahnya namun tidak menjawab.

“Kau tidak keberatan kan?” tanya ayah Shi Yoon lagi

“Apakah harus secepat ini, appa?” jawab Shi Yoon

Ayah Shi Yoon mengangguk, tahu bahwa permintaan ini memberatkan anaknya.

“Apakah aku benar-benar tidak bisa memilih?” tanya Shi Yoon lagi

“Shi Yoon, kau sudah mengenal bisnis seumur hidupmu. Kau juga memperoleh gelar ilmu bisnis dari sekolahmu walaupun pada akhirnya kau hanya menjadi penjaga perpustakaan di Korea.”

“Aku sangat menyukai dan menikmati pekerjaanku, appa.” ucap Shi Yoon memotong perkataan ayahnya

Appa tidak pernah melarang pekerjaan apapun yang ingin kau lakukan selama kau di Korea, bahkan appa mendukungmu menjadi penjaga perpustakaan. Kau tahu itu kan?” tanya ayah Shi Yoon

Ye, appa. Tapi..” jawab Shi Yoon

“Ini satu-satunya permintaan appa, Shi Yoon. Permintaan pertama dan terakhir appa padamu.”

“Tapi permintaan appa berdampak untuk masa depanku.”

“Juga masa depan bisnis appa.” jawab ayah Shi Yoon

……………

“Bagaimana aku bisa setuju untuk menikah dengan laki-laki yang bahkan wajahnya tidak pernah aku lihat?” ucap Shi Yoon lagi memecahkan keheningan yang sejenak menyelimuti mereka

“Karena itu aku memanggilmu ke sini, agar kau bisa lebih dulu mengenal calon suamimu. Dia berasal dari keluarga baik-baik, Shi Yoon. Dia laki-laki yang hebat dan baik. Appa dan Kim ajjussi berhutang budi padanya, ini waktu yang tepat untuk membalas kebaikannya kepada bisnis kami.” tutur ayah Shi Yoon

……………

Shi Yoon diam dan memandang ayahnya, ia tahu betul apa maksud perkataan ayahnya. Tepat seperti yang ayahnya katakan, ia sudah mengenal dunia bisnis seumur hidupnya. Ia mengerti apa yang dimaksud hutang budi dunia bisnis yang berakhir dengan pernikahan yang juga untuk dunia bisnis.

“Besok temuilah dia di megamall milik ayahnya, ayahnya sudah memesan meja atas namamu di salah satu restoran di sana. Kau boleh merajuk pada appa namun tunjukkan rasa hormat pada calon suamimu. Sekarang tidurlah dengan nyenyak.” kata ayah Shi Yoon lalu keluar dari kamarnya

……………

^^^

……………

Rumput-rumput kering berbunyi gemerisik saat Shi Yoon dengan hanbok sutra yang melekat di tubuhnya berlari dengan jantung berdetak keras. Namun sebuah ranting tajam yang melintang membuat tangan Shi Yoon yang terpaut dengan tangan laki-laki yang berlari di depannya terlepas dan Shi Yoon terjatuh di antara rumput-rumput kering itu. Laki-laki itu berbalik dengan penuh kekhawatiran dan mengulurkan tangannya pada Shi Yoon, membantunya berdiri dan berlari lagi semetara prajurit-prajurit kerajaan mengejar mereka.

Shi Yoon merasa takut, ia merasa sangat takut, namun ia tetap memaksakan dirinya untuk terus berlari sampai akhirnya kakinya berhenti mendadak dan sentakan berat terasa di sebelah tangannya. Laki-laki yang sedari tadi menggenggam tangannya kini tengah bergantung pada tangan Shi Yoon di pinggir jurang. Shi Yoon berusaha mengangkat laki-laki itu sementara suara langkah prajurit yang mengejar mereka semakin mendekat.

Laki-laki itu meminta Shi Yoon melepaskan tangannya dan membiarkannya jatuh, namun Shi Yoon menggeleng keras dan mempererat genggaman tangannya. Suara langkah prajurit terdengar sangat dekat dan berhenti dengan mantap. Shi Yoon menoleh ke belakang dan melihat semua prajurit itu sudah memegang panah dengan gerakan siaga.

……………

“Kami mendapat titah untuk dapat melepaskan anak panah ini bila anda tidak mau kembali sekarang, agassi.” kata salah seorang prajurit yang memegang panah

……………..

“Kembalilah, kau masih bisa diampuni. Lepaskan tanganku, biarkan aku jatuh.” pinta laki-laki itu

Aniya. Dari pada membiarkanmu jatuh, lebih baik aku ikut melompat bersamamu.” jawab Shi Yoon

“Kau tidak boleh melakukan itu, agassi. Kembalilah. Hanya izinkan aku mengucapkan kata yang tidak pernah berani kuucapkan pada agassi.” jawab laki-laki itu lagi

Shi Yoon menatapnya dalam sementara tangannya mulai terasa sakit karena menahan berat badan laki-laki itu.

Saranghamida, agassi.” kata laki-laki itu lalu melepaskan tangan Shi Yoon dari genggamannya yang mulai longgar

Aniya, Heo Yeom ssi!” jerit Shi Yoon saat tersadar tangannya tak lagi menggenggam tangan laki-laki itu

……………

Shi Yoon mencoba bangkit, ia ingin melompat ke dalam jurang seperti yang Heo Yeom lakukan saat ia merasakan ada rasa sakit di punggungnya yang begitu tiba-tiba, ia jatuh tersungkur di pinggir jurang sementara darah mulai mengalir akibat anak panah yang menancap di punggungnya. Shi Yoon tersenyum getir saat pandangan matanya mulai memudar.

“Heo Yeom ssi. Aku berjanji untuk menemukanmu dan membuatmu bahagia di kehidupan selanjutnya.”

……………..

Shi Yoon mengerjap kaget dan duduk di atas tempat tidurnya. Napasnya terengah-engah dan kepalanya pusing. Mimpi apa lagi yang baru saja ia alami?

……………

^^^

……………

Shi Yoon berjalan di dalam megamall milik calon mertuanya sambil memperhatikan sekeliling dan entah mengapa langkahnya justru membawa dirinya ke arah taman dengan air mancur besar di pusat megamall itu. Shi Yoon duduk sambil menikmati bunyi air mancur yang menenangkan telinga, ia memejamkan matanya sejenak berusaha menjernihkan hatinya. Shi Yoon akhirnya mulai bangkit saat ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya sudah menunjukkan waktu yang ditetapkan untuk bertemu calon suaminya.

Jantung Shi Yoon mencelos saat salah satu sudut matanya menangkap bayangan laki-laki yang sangat mirip dengan laki-laki yang ada di mimpinya. Seketika pikirannya kembali pada alur mimpi itu, pada laki-laki yang ia panggil Heo Yeom. Shi Yoon sangat ingin mengejar laki-laki itu namun ia tidak bisa datang terlambat ke pertemuan makan siang yang telah di atur ini.

……………

^^^

……………

Shi Yoon duduk memberengut karena calon suaminya belum juga tiba. Ia merasa sangat kesal, mengapa ia harus datang tepat waktu. Lebih baik jika tadi ia mengejar laki-laki yang sangat mirip dengan seseorang yang berkali-kali datang ke mimpinya. Suatu keajaiban bisa menemukan laki-laki itu di sini, namun kesempatan emas itu dibuang Shi Yoon begitu saja demi bertemu dengan calon suami bisnis pilihan ayahnya.

……………

“Kim Shi Yoon?” panggil seseorang

Jantung Shi Yoon berdebar kencang dan kepalanya terangkat kaget ke arah sumber suara. Mulutnya hampir saja menganga saat menatap wajah dari si pemilik suara. Heo Yeom?

……………

Ye.” jawab Shi Yoon menggunakan bahasa Korea sementara dirinya berada di Beijing

“Maafkan aku datang terlambat. Ada urusan mendadak dengan manajemen mall sehingga aku harus membereskannya lebih dulu.” lanjut laki-laki itu lagi

“Ya, tidak apa-apa.” jawab Shi Yoon

“Bolehkah aku duduk?” tanya laki-laki itu sopan

“Ah, ya silahkan duduk.” jawab Shi Yoon

Laki-laki itu duduk dengan sikap berwibawa.

……………

“Aku sudah banyak mendengar cerita tentang dirimu dari ayahku. Aku menyukaimu saat mereka memperlihatkan fotomu kepadaku, dan ternyata kau lebih cantik dan menarik dari pada yang terlihat di foto. Aku sudah merasa begitu mengenalmu, namun aku yakin kau belum pernah mendengar tentangku. Karena itu aku akan memperkenalkan diriku padamu. Namaku Wu Yi fan, senang akhirnya bisa bertemu denganmu Kim Shi Yoon.”

……………

^^^

……………

Shi Yoon terduduk sambil merenung di dalam kamarnya. Pikirannya mengulang-ulang setiap peristiwa yang terjadi sejak ia bertemu Wu Yi Fan satu minggu yang lalu. Laki-laki itu, Wu Yi Fan, sangat mirip dengan sosok laki-laki yang berkali-kali hadir di mimpinya. Sorot matanya yang hangat, lengkung senyumnya yang menular, bahkan suaranya, terlihat dan terdengar sama dengan Heo Yeom. Bagaimana hal seperti ini bisa terjadi?

Lamunan Shi Yoon terhenti saat handphonenya berdering tanda panggilan masuk. Shi Yoon meraih handphonenya dan menggeser tanda hijau bulat pada layar handphonenya.

……………

Noona, mianhae.” kata Jong In begitu telepon mereka tersambung

Araso, Jong In-a.” jawab Shi Yoon

“Aku memang seperti anak kecil kemarin. Namun noona, aku serius dengan apa yang aku bicarakan padamu. Noona, aku mencintaimu dan aku ingin menikah denganmu. Aku tidak akan peduli apakah appa akan marah atau tidak.” tutur Jong In panjang lebar

“Jong In-a, dengarkan aku. Aku sudah bertemu dengan calon suamiku. Hal ini sudah diatur dan akan berjalan seperti yang seharusnya. Kau harus lebih dewasa Jong In-a. Hal seperti inilah yang terjadi di dunia bisnis.” jawab Shi Yoon

“Jadi kau menerima begitu saja untuk menikah dengan laki-laki yang tidak kau kenal!” jawab Jong In marah

……………

aku mengenalnya Jong In, di kehidupanku yang sebelumnya.

……………

“Aku akan mencintainya, Jong In.” jawab Shi Yoon

Khojimal! Kau hanya melakukan itu karena kau menuruti permintaan appa!” jawab Jong In

Aniya.” jawab Shi Yoon lagi

“Aku akan berangkat ke Beijing. Aku akan menemui appa dan berbicara dengannya. Aku akan menikah denganmu noona!” jawab Jong In lalu menutup sambungan telepon

……………

^^^

……………

Jong In berdiri dengan hati yang berdebar, sesekali ia merapihkan dasi kupu-kupu dan tuksedonya. Jantungnya berdebar lebih kencang ketika lonceng Gereja berbunyi dan pintu terbuka, memperlihatkan seorang gadis yang menggunakan gaun pengantin putih bersih, tampak sangat mewah.

……………

Jong In tersenyum melihat gadis itu. Walaupun semalam ia baru saja melihatnya, tapi ia tidak bisa menyembunyikan kerinduan dan kecintaannya pada gadis itu. Mata Jong In tidak lepas memandang gadis bergaun pengantin yang berjalan beriringan dengan ayahnya itu, seirama dengan alunan lembut piano klasik. Gadis itu terus berjalan teratur mendekat ke arah Jong In, hatinya semakin berdebar ketika langkah gadis itu semakin mendekat ke arahnya. Dan debaran di hatinya berubah menjadi rasa sakit yang amat sangat ketika gadis itu berjalan melewatinya dan mengulurkan tangannya pada laki-laki yang sudah menunggunya di depan altar.

……………

“Saudara Wu Yi Fan. Apakah anda bersedia menerima Kim Shi Yoon sebagai istri anda di saat susah maupun senang, sehat maupun sakit, sampai maut memisahkan kalian?”

“Ya, saya bersedia.”

“Saudara Kim Shi Yoon. Apakah anda bersedia menerima Wu Yi Fan sebagai suami anda di saat susah maupun senang, sehat maupun sakit, sampai maut memisahkan kalian?”

“Ya, saya bersedia.”

……………

“Demikianlah pernikahan ini telah dimateraikan. Apa yang dipersatukan Allah tidak dapat diceraikan oleh manusia. Mempelai pria dipersilahkan memasangkan cincin pernikahan ke jari manis mempelai wanita.”

……………

Jong In berusaha mempertahankan senyum yang ada di bibirnya, meski saat ini ia harus menahan rasa sakit di dalam hatinya. Namun seperti yang selalu ia katakan pada Shi Yoon, ia bukan anak kecil lagi, maka ia akan berusaha sendiri untuk membenahi hatinya yang hancur dan tetap berharap kebahagiaan untuk Shi Yoon dan suaminya.

……………

^^^

……………

Dua minggu sebelumnya.

……………

Shi Yoon menghela napas panjang dan berat setelah Jong In memutuskan sambungan telepon mereka. Ia tahu benar Jong In memang menyukainya sejak pertama kali ia tinggal di rumah Jong In, dan ia yakin Jong In akan benar-benar datang ke Beijing dan memohon hingga berdebat dengan ayahnya untuk apa yang diinginkannya. Ia selalu melakukan itu.

……………

Namun Shi Yoon akan menghentikannya, Shi Yoon akan berkata kepada ayahnya bahwa ia tetap akan menerima pernikahan yang sudah diatur dengan Wu Yi Fan dua minggu lagi, bukan karena untuk membalas budi kepada keluarga Wu Yi Fan tetapi karena janji yang ia ucapkan pada Heo Yeom. Meskipun tidak rasional, tetapi hati Shi Yoon terus mengingatkannya pada janji yang ia ucapkan pada Heo Yeon setiap kali ia melihat Wu Yi Fan.

……………

Tentu saja Shi Yoon tidak akan mengatakan apa-apa pada Jong In, pada Min Seok, ataupun pada ayahnya. Biarlah mereka semua berpikir seperti yang mereka inginkan. Shi Yoon akan menepati janjinya pada Heo Yeom, jika ia tidak bisa membuat laki-laki itu bahagia di kehidupan sebelumnya, maka ia akan membuat laki-laki itu bahagia di kehidupannya yang sekarang.

……………

Shi Yoon menatap satu lembar surat yang ia tulis untuk Jong In, ia memasukkan surat tersebut beserta undangan pernikahannya dengan Wu Yi Fan ke dalam amplop coklat dan menuliskan alamat rumah Jong In di bagian depan amplop itu.

……………

Jong In-a, kau baik-baik saja kan?

Noona yakin kau pasti baik-baik saja.

Karena kau sudah bukan anak kecil lagi, geurae?

Maafkan aku yang selalu menganggapmu anak kecil.

Maafkan aku yang selalu berpura-pura tidak tahu perasaanmu.

Maafkan aku yang mengambil keputusan ini tanpa memberikan penjelasan padamu.

Namun, karena kau sudah bukan anak kecil lagi,

aku yakin kau akan mengerti jalan yang saat ini kujalani.

Karena aku bahagia dengan jalan yang telah kupilih.

Aku berharap kau akan datang ke pernikahanku dengan senyum yang cerah,

dan melanjutkan hidupmu dengan bahagia.

Jong In-a, kau tahu aku menyayangimu, kan?

Jeongmal. Noona saranghae.

……………

 ~~The End~~

……………

Epilog:

Panggilan telepon dari siapa yang diterima Kyung Soo di rumah Jong In?

Siapakah Young Mi?

Mengapa Kyung Soo harus segera ke sana?

Penasaran?

Temukan jawabannya di sini –> More Than Words

………….

Author’s Note:

Hai halo annyeonghaseiyeo..

Makasi para readernim yang uda mau baca oneshoot ini yaa..

Salah satu tokoh di cerita ini, punya kisah yang aku tulis di oneshoot lainnya, tokoh di oneshoot lainnya itu juga nanti punya kisah di oneshoot yang lainnya lagi, begitulah lagi dan lagi.. (apasih, gak ngerti.. wkwk)

Aku sih nyebutnya Sequel Character soalnya yang nyambung bukan ceritanya tapi tokohnya..

Sekali lagi, aku mengharapkan kritik saran dari para readernim buat cerita aku yaa..

Kansahamnida.. *bow*

17 tanggapan untuk “Siblings”

  1. ciee jodoh pasti bertemu, itu kyungsoo dapet telpon dari cewek yg waktu di ff milky chocolate bareng sama dia di cafe yg kasirnya chanyeol bukan? ihhh aku jadi kangen banget sama wu yi fan :3 btw keren banget deh ffnya kehubung2 gini, seru banget :3

    1. iya jodoh mah memang gak kemana.. #uhuk wkwkwkw

      iya betul,, ceweknya sama kaya yg di milky chocolate yg pesen ice greentea blended, cerita lengkapnya di more than words hahaha..

      sama,, jadi baper sama yifan TT____TT

      hehehe makasiii.. >,<

  2. Wahhh…
    Ceritanya kirain soal jong in…ternyata ada cerita lain…
    Hehehhe..
    Bagus ceritanya..ga bosen juga bacanya…
    Gomawoyo…
    Baca ceritq selanjutnya yaaa

    1. iyaa,, ga cuma tentang jong in doang..
      hohoho..

      bagus kah?
      makasi makasi.. hohohooo..

      makasi juga uda baca link cerita selanjutnyaa..
      makasi juga uda komeeenn.. >.<

    1. iyakah?
      rooptop prince itu apa?
      fanfic? drama? film?
      aku gaperna denger itu..
      haha..
      unsur ketidaksengajaan artinya kalo ceritanya mirip,, mungkin aku sama penulisnya rooptop prince sehati.. #eh wkwkwkwk

      iya sad ending buat jong in,, tapi nti jong in nya bahagia kok.. kan kebahagiaan noona nya kebahagiaan jong in juga..
      #eaaa..
      wkwk

      makasi ya uda komeen.. >.<

    1. hehe.. ga ketebak ya dari awal kalo mereka bukan saudara kandung?
      seneng deh.. hahahaa..

      iya bisa dibilang begitu..
      yifan sama shiyoon reinkarnasi..
      tapi yang mimpi shiyoon doang, yifannya engga..
      mungkin karena janji shiyoon dikehidupan sebelumnya..
      hohoho..

      makasi ya uda komeen.. >.<

  3. Omo, kasian banget Jongin. Cinta bertepuk sebelah tangan, dan menyaksikan pernikahan noona yang di cinta. Yang sabar yaa Oppa 🙂

    1. Oppa nya tegar kok, tenang saja KazuhA.. hohohooo..

      tapi karena noona nya bahagia mungkin jong in juga akan bahagia..
      #uhuk wkwk

      makasi ya uda mampir n komen.. >.<

  4. kak nean, ini setiap kejadiannya bikin penasaran…
    awalnya aku kira cowo dimimpi shiyeon itu jongin, tapi bukan. aku kira mereka saudara kandung, tapi bukan. aku kira yang mau dijodohin sama shiyeon itu kyungsoo (nah, ini aneh tapi beneran aku ngira gitu -_-), tapi lagi-lagi bukan. dan aku kira jongin yang mau nikan sama shiyeon, tapi bukan! aku sempet kesel si sama jongin soalnya dia kayak memaksakan banget mau nikah sama shiyeon, tapi di akhir dia kasian juga *pukpukjongin
    ceritanya semacam reinkarnasi gitu ya… yah, paling nggak kris kan tampan :3 (nggak ada hubungannya)

    1. masa?
      seneng deh ceritanya bisa bikin reader penasaran..
      wkwkwk..
      iya kasian ya jong in.. *pelukin jong in*
      hahahhaa..
      iya bisa dibilang begitu,, yifan sama shiyoon reinkarnasi gitu,, tapi yang diganggu mimpi cuma si shiyoon..
      mungkin karena janjinya shiyoon ke yifan di kehidupan sebelumnya..
      hohohooo..

      makasi loh first komennyaaaa.. >.<

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s