Walkin’ in the Grey [2/2]

WIG [PreTFW]
OC’s Hyun Hee / Oh Sehun / slight Kim Jongin and other
Twoshoot / AU / Romance / Fluffy / Angst / Hurt / T

Before story of
To Find the White

Part 1

I own the plot

-RnR Please-

a present by l18hee

Bukan hitam atau putih.
Kisah mereka kelabu.

Dia baru akan menekan angka terakhir pada passwordnya ketika benda kotak yang ia genggam bergetar. Untuk sejenak ia memandang sang pemanggil sebelum memutuskan menerimanya.

“Apa?” nadanya terdengar datar. Sedikit berbeda dengan aura penasaran yang menyelimuti benaknya.

“Hanya ingin memastikan sesuatu.” Suara itu menyapa indera pendengaran sang gadis yang kini menggigit bibir bawahnya pelan sebelum meneguhkan hati untuk kembali menyahut dengan frasa yang sama, “Apa?”

Sebuah kekehan ia terima dari seberang sana sebelum sederet ucapan mulai terdengar, “Sudah mulai merindukanku, nona?”

Raut wajah Hyun Hee berubah kusut, ia masih saja menggingit bibir sebelum memutuskan mengakhiri panggilan setelah sebuah rangkaian kata ia lontarkan.

“Oh Sehun, jangan hubungi aku lagi.”

Dia sama sekali tidak tahu -mungkin tidak mau tahu- jika sang lelaki kini mengerutkan alis heran sembari memandang ponsel. Sehun sama sekali tak mengerti mengapa seperti ini jadinya. Padahal ia hanya mencoba memberi ruang bagi Hyun Hee untuk benar-benar memikirkan perkataannya waktu itu. Apa ini hal salah?

Jemarinya kembali menari di layar ponsel sebelum kembali menempelkannya di telinga. Nada sambung monoton yang membosankan membuat ia mendengus kasar. Ia mencoba kembali menghubungi sang gadis. Nihil. Di panggilan yang keempat, gadis itu justru mematikan ponselnya hingga Sehun hanya bisa mendengar suara gadis operator dari seberang sana.

Gelas air yang semula penuh ia teguk hingga habis. Suara benturan gelas dengan meja dapur memberikan gema di apartemen sunyinya. Berbagai perabotan terutama sofa, karpet, dan sejenisnya yang didominasi warna hitam semakin menambah kelam suasana. Ia benar-benar tak bisa mengerti jalan pikiran seorang gadis. Apa selalu sebegitu rumitnya? Atau ada sesuatu yang terjadi pada gadis itu?

Perasaan bingung bercampur heran dan khawatir masih bergelayut manja di benak Sehun kendati pagi hari telah menyapa. Langkahnya sudah menyusuri kampus sejak tadi walau tak ada kelas pagi yang harus ia ikuti. Sesekali sapaan seseorang di koridor ia balas seadanya. Hingga pada akhirnya ia harus segera masuk kelas. Ia sudah beberapa kali mengitari kampus yang sungguh sangat luas ini. Jadi saat kelas berlangsung yang ia lakukan justru tidur di bangku deret belakang. Moodnya sedang sangat buruk.

Sebuah tepukan pelan di kepala membuatnya tersadar. Jongin sudah duduk di mejanya dengan buku di tangan. Oh rupanya benda tebal itu yang menarik Sehun dari alam mimpi?

“Kau lebih suntuk dari biasanya. Bukankah sudah kupinjami game terbaru kemarin?” di mulut lelaki tan itu bersarang sebuah permen loli. Dengan wajah yang seperti Jongin bilang, suntuk -sangat suntuk- Sehun menyangga kepala, “Sejak kapan kau suka permen loli?”

“Sejak Daisy memberikan sebungkus besar permen loli padaku pagi ini.” Jongin meraba ransel sebelum melemparkan empat permen loli kehadapan karibnya, “Beberapa menit yang lalu kurasa aku melihat Lee Hyun Hee di kafetaria dekat kampus.” Sontak Sehun yang baru saja meraih benda manis pemberian Jongin dan menyimpan salah satunya di mulut menengadah cepat, “Kenapa tidak bilang dari tadi?” dengan segera ia meraih ransel dan melangkah meninggalkan Jongin yang hanya bisa tertegun heran, “Memangnya dia bertanya?”

Sementara itu Sehun sedang berfokus pada langkah jenjangnya menyusuri koridor kampus. Melewati beberapa orang yang sapaannya tak berbalas. Wajah serius Sehun sudah menggambarkan alasannya untuk begitu terburu saat ini. Tak sampai lima menit, ia sudah tiba di kafetaria yang dimaksud Jongin dan memarkirkan motornya di pelataran. Begitu helm terlepas dan surai hitamnya terkespos, ia langsung mendapati sosok yang sedang menelungkupkan kepala di atas lengan. Sehun yang sudah membuang permen lolinya kini mencoba melangkah setenang mungkin memasuki kafetaria. Setelah memesan sesuatu, langkahnya kembali tercipta dan baru berhenti di samping sebuah meja yang telah berpenghuni. Ia begitu saja menghempaskan pantat di kursi empuk di seberang sang gadis.

“Yaa!” serunya pelan. Karena tak ada respon, ia memutuskan kembali membuka suara, “Lee Hyun Hee? Kau tidak tidur ‘kan?” Lelaki ini sedikit kaget saat suara si gadis terdengar, “Memangnya aku gadis bodoh, tidur di tempat umum seperti ini?”

Hyun Hee menegakkan duduknya, menatap jengah manik Sehun, “Kenapa kau ada di sini?” Dengan gerakan santai -dan berkesan sok- sang lelaki merogoh saku jaket sebelum meletakkan dua buah permen loli di atas meja, “Aku baru mendapatkan ini dan berpikir jika mungkin kau suka. Jadi-” Ia tak berusaha melanjutkan kata-kata, lebih memilih menunjuk benda manis tadi dengan dagu.

Melihat Hyun Hee yang akhirnya mau memasukkan satu buah permen loli ke mulut, Sehun tersenyum simpul seraya melakukan hal yang sama. Mereka masih bersanding dengan hening hingga sang gadis yang pertama memecah semua, “Maaf tentang kemarin.” Melihat lelaki di depannya tak merespon dan lebih memilih memainkan benda bundar manis di mulut, ia memutuskan kembali bersua, “Aku hanya sedang terbawa perasaan saja.” Kali ini sepertinya sang lelaki akan memeberikan respon. Terlihat dari gerakan melepas permen loli dan menunjuk si gadis dengan ujungnya untuk beberapa sekon.

“Jadi itu artinya-” Lelaki itu menunjukkan seringan khas sebelum kembali melanjutkan, “-aku bisa menghubungimu lagi ‘kan?”

Rasanya permen loli dalam mulut Hyun Hee mencair lebih cepat. Rasa manisnya memenuhi seluruh mulut. Kendati sedikit tak dapat mengendalikan wajah memerahnya, ia tetap mencoba bersikap setenang mungkin, “Tergantung keperluanmu apa.”

“Emmm, aku tak begitu yakin. Tapi apa kau akan menerima panggilanku walau aku hanya sekedar ingin menanyakan sesuatu yang tidak penting nantinya?” Sehun kembali melumat permennya sembari menyangga dagu. Memperhatikan paras Hyun Hee yang rupa-rupanya lebih memilih menolehkan kepala ke dinding kaca.

“Mungkin saja.” Dan jawaban dari gadis yang mencoba terlihat tak peduli ini membuat senyum Sehun tersungging sempurna.

Potongan ingatan itu masih membekas sempurna diingatan Sehun kendati sudah hampir satu tahun terlewati. Lelaki yang kini sedang mengendap keluar melewati gerbang rumahnya ini mengenakan jaket tebal serta beanie hitam yang membungkus surai hitamnya. Seperinya kenyataan gerak-geriknya akan tetap tertengkap kamera pengawas sudah tak ia pedulikan. Buktinya ia begitu saja pergi menunju jalanan besar dengan ponsel menempel di telinga, “Jong, kau di mana? Aku sudah hampir sampai.” Belum genap dua sekon berselang, ia kembali melontar kata, “Oh, aku sudah melihatmu. Tunggu di sana.” Ia menyimpan ponsel di kantung jaket dan mempercepat larinya menuju ke tempat Jongin.

“Antar aku ke kampus. Ayah menyita motorku.” Ujar Sehun langsung pada maksudnya. Lelaki kulit tan itu mendengus kesal, “Memangnya aku ini supirmu?” Kendati begitu ia menyalakan mesin motornya dan memakai helm pertanda setuju dengan permintaan sang karib. Jongin sudah cukup paham dengan sikap Ayah Sehun yang begitu keras. Apalagi dalam hal hubungan anak lelakinya. Tuan Oh tak pernah sedikit pun memberi sinyal restu semenjak tahu jika Sehun berkencan dengan Hyun Hee.

Butuh beberapa menit hingga keduanya sampai di kampus. Hanya ucapan terima kasih dan tepukan pelan dipundaknya sebelum Jongin melihat punggung Sehun menjauh.

Langkah Sehun terlihat menyusuri koridor kampus. Maniknya menebar pandang gelisah. Namun ia tiba-tiba menghela nafas lega. Seakan mendapat tumpahan es di kepala berasapnya ketika ia melihat sosok Hyun Hee yang sedang melangkah santai di salah satu koridor kampus yang tak terlalu ramai. Dia yang terlampau girang tak sempat menyerukan nama sang gadis. Lebih memilih berfokus pada kekuatan kakinya untuk kembali berlari. Ia menghadang langkah gadisnya dengan nafas tersengal. Sebuah lengkung senyum lebar kini tengah beradu dengan raut wajah terkejut.

Suara tawa sang lelaki terdengar setelah sebelumnya ia merengkuh kekasihnya dalam dekapan hangat. “Woooaa… ini benar-benar gila. Kita bahkan hanya tak saling berinteraksi selama satu minggu penuh tapi aku sudah sangat rindu seperti ini.” Nadanya terdengar semangat. Maksud Sehun dengan tak-saling-berinteraksi di sini adalah tak saling berjumpa maupun bertukar kabar sama sekali. Oh, jangan lupakan ini semua karena Tuan Oh yang menyita ponsel anaknya -dan anak bengalnya itu berhasil mendapatkan ponsel lagi entah dari mana.

“Jangan melompat-lompat seperti ini. Kau membuatku malu.” Sang gadis berusaha membuat wajahnya tak terlihat oleh orang lain. Menyembunyikan fakta bahwa bibirnya sedang mengulum senyum bahagia. Sang lelaki yang masih tersenyum menyandarkan kepala di atas pucuk kepala gadisnya, “Ada lingkar hitam di matamu. Aku tahu kau mungkin sedang berusaha menyenangkanku karena itu adalah warna kesukaanku. Tapi aku sama sekali tidak terkesan, oke? Apa kau minum kopi?” Di tengah ia berceloteh tidak jelas, dia masih ingat satu kebiasaan yang sudah ia hafal. Hyun Hee tidak terlalu suka pada kopi yang dapat membuat dirinya sulit masuk ke alam mimpi.

Gadis itu memilih mengangguk dari pada mengelak cepat, “Tugasku banyak.” Sedikit berbohong mungkin. Walau pada kenyataannya ia memang memiliki tugas menumpuk, tapi ia tak sedikitpun meminum cairan pekat berkafein yang dimaksud sang kekasih. Bukan kopi yang sukar membuatnya terlelap. Tapi ada hal lain yang lebih mengganggu. Hubungannya dengan lelaki ini yang seperti berjalan di antara hitam dan putih.

“Mau jalan-jalan?” Keduanya melepas rengkuhan dan saling beradu pandang. Hyun Hee menggeleng pelan, “Tidak boleh! Ayahmu atau ibuku bisa mengamuk jika kita ketahuan.”

“Ayolah. Sebentar saja. Aku bisa langsung ke rumah Jongin untuk membuat alibi. Oke?” Sehun memasang tampang memohon kala gadisnya mencoba berpikir. Pada akhirnya, gadis itu mengangguk juga walau terlihat sedikit ragu. Tak masalah bagi Sehun, ia justru langsung menautkan jemari mereka sembari mencipta langkah.

Di sepanjang perjalanan mereka tenggelam dalam hening sementara tengan mereka bertaut erat. Tak perlu untaian kata untuk menunjukkan betapa bersyukurnya mereka sore ini. “Kemana?” itu suara si gadis.

Sang lelaki terlihat berpikir beberapa sekon sebelum memutuskan menyuarakan ide, “Aku ingin makan sushi.” Namun Hyun Hee menggeleng pelan, “Yang lain saja, ya?” Alis Sehun tentu saja langsung berkerut menyuarakan ‘kenapa’.

“Hoddeuk atau ddokbokki saja. Jangan ke restaurant.” Segera saja Sehun mengerti ucapan Hyun Hee. Yah, memang mereka akan lebih sulit ditemukan jika berbaur dengan para pejalan kaki yang menikmati berbagai jajanan pinggir jalan.

“Baiklah. Tidak terlalu buruk.” Seulas senyum Sehun tunjukkan. Hyun Hee selalu suka senyum menenangkan itu.
Kini keduanya sudah memegang hoddeuk dengan asap mengepul di bangku taman yang lumayan ramai. Sudut mata Sehun tertarik ke gadis yang duduk di sampingnya. Ia terdiam, tenggelam bersama rangkaian kata yang sulit untuk ia ungkapkan. Ada hal penting yang harus ia utarakan saat ini. Namun penuturan ayahnya lusa kemarin membuat rasa takut membelenggu hatinya. Dia takut Hyun Hee akan membencinya jika ia menceritakan semua yang ia tahu. Tapi sepertinya berbohong akan lebih menimbulkan efek buruk. Ia sedikit terkejut saat sang kekasih balas menatap.

“Ada apa?”

Hanya satu pertanyaan namun sukses menenggelamkan Sehun dalam sebuah dilema. Hingga mereka tenggelam dalam keheningan. Hyun Hee tak berusaha mendesak, pun beralih ke topik lain. Berusaha memberi ruang bagi Sehun untuk berpikir.

“Tidak, aku hanya…” Kalimat Sehun menggantung. Sang gadis menatap heran. Memilih menaruh perhatian penuh pada sang kekasih. Ia merasa ada hal penting saat ini yang harus ia tahu.

Sehun tahu dia tak boleh membiarkan Hyun Hee larut dalam keheranan terlalu lama. Jadi ia menarik napas panjang sebelum menghembuskannya perlahan. Bersamaan dengan itu, suara khasnya terdengar.

“Aku minta maaf tak bisa menuntunmu dalam hubungan seperti pasangan lain yang berjalan mulus dan mendapat restu.”
Hyun Hee bermaksud menyela, namun Sehun lebih dulu melanjutkan, “Wanita yang berselingkuh dengan ayahmu itu ibuku.”
Seketika mata Hyun Hee membulat.

A-Apa?

Jadi yang membuat- tidak! Ini pasti bercanda. Mana mungkin wanita yang kerap ia kutuk adalah ibu Sehun? Bagaimana bisa ayahnya memutuskan pergi bersama wanita yang berstatus sebagai ibu Sehun? Sungguh, Sehun sangat mahir membual. Hyun Hee ingin tertawa, namun sirat mata kekasihnya membuat ia terdiam. Tenggelam dalam keterkejutannya sendiri. Menggenggam erat hoddeuk ditangan.

“Jangan bercanda, Oh Sehun.” Hati itu sedang menolak sebuah kebenaran.

“Hyun, maafkan aku. Aku juga tidak tahu jika alasannya seperti ini. Kumohon jangan benci a-”

“Hentikan! Jangan bicara apapun.” sang gadis menggeleng cepat. Meletakkan hoddeuk di bangku taman sebelum menundukkan kepala dengan kedua telapak tangan menutup wajah. Mencoba mengatur napas dan degub jantung yang memburu. Air mata tak berguna di saat seperti ini. Jadi ia hanya berfokus memendam berbagai umpatan kasar dalam benak. Kenapa harus ibu dari seorang Oh Sehun? Kenapa harus ayahnya? Kenapa tidak orang lain saja?

Tangan Sehun terkepat erat. Maniknya memandang surai coklat gadisnya yang menutupi wajah. Ia bisa merasakan sang gadis sedang mengatur napas. Hal yang sama dengan yang ia lakukan sekarang. Bersiap dengan segala keputusan yang ada itu hal yang sulit. Sehun tak ingin jika mereka harus benar-benar berakhir karena hal ini.

Entah berapa lama sudah mereka tenggelam dalam hening. Saling berperang dengan pikiran masing-masing. Mencoba mengatur sulur emosi yang melilit hati. Menit-menit yang berlalu mengizinkan mereka merenung. Bertanya dalam benak. Menjawab menurut kata hati. Dalam diam mereka berperang melawan ego.

Yang pertama bergerak adalah Sehun. Lelaki ini mencoba merengkuh kelasihnya dalam pelukan walau sedikit ragu. Namun sang gadis bergeming. Mambiarkan Sehun menyalurkan dekapan hangat dalam tubuhnya.

“Maaf.” Satu frasa itu segera membuat Hyun Hee menggeleng pelan sebelum berucap, “Ini bukan salahmu. Berhentilah meminta maaf.” Dia membalas rengkuhan Sehun. Tenggelam dalam suara detak jantung sang kekasih yang menelisik masuk ke telinganya. Membuat ia mengulum senyum. Selama jantung Sehun berdetak kencang seperti ini saat bersamanya, Hyun Hee tak masalah dengan apapun. Dia sudah cukup bahagia.

“Tidak ke rumah Jongin?” Perlahan Hyun Hee melepas rengkuhan. Dengan setengah hati Sehun melakukan hal yang sama, “Harus sekarang, ya?” Sebuah anggukan membuat ia mendengus pelan.

“Baiklah. Aku akan ke rumah Jongin setelah mengantarmu pu-”

“Tidak boleh! Aku bisa minta Jongsuk Oppa menjemputku di halte. Jangan banyak alasan.” Hyun Hee sudah lebih dulu memperingatkan. Membuat bibir Sehun mengerucut sebal, “Iya, iya, aku akan langsung ke rumah Jongin. Ayo, aku hanya akan mengantar sampai halte.” Ia beranjak, menggenggam tangan gadisnya erat untuk melangkah.

“Lain kali kita makan sushi, ya?” ajak Sehun dengan wajah berbinar. Tak menyadari Hyun Hee yang menggores senyum tipis.

Lain kali itu… kapan?

“Atau kita bisa pergi ke game center?” Sehun terkekeh pelan entah kenapa. Mungkin menertawai dirinya yang berangan terlalu tinggi. Dia sudah tahu bagaimana kejadian yang akan terjadi nanti. Bahkan ia sudah terlanjur hapal. Mengapa ia masih berusaha mengumbar janji? Jika pada kenyataannya hanya ada sedikit kemungkinan mereka akan bertemu lagi.
“Kita juga bisa ke taman bermain.” Kali ini Hyun Hee yang berbicara dengan nada riang. Berusaha beralih dari kubangan ketidaknyamanan. Bergabung dengan Sehun yang mencipta mimpi tinggi.

“Kau benar!” Sehun tergelak gembira sebelum kembali angkat bicara, “ Aku sampai lupa membeli bubble tea. Kencan kita selanjutnya ingatkan aku, oke?”

Hyun Hee mengengguk semangat, menyembunyikan wajah menahan tangisnya. Dia pasti terlihat jelek sekarang.

Apa kita bisa berkencan lagi?

Celoteh Sehun masih mengalir hingga mereka menapakkan kaki di halte bis.

“Kau harus segera ke rumah Jongin.” Tangan Hyun Hee terulur membenarkan beanie milik Sehun yang sedang tersenyum.

“As your wish, your majesty.” Sehun membungkuk seperti seorang pelayan, membuat Hyun Hee tergelak.

“Sampai jumpa.” Sehun melambaikan tangan sembari berjalan mundur sebelum berbalik melangkah pergi. Meninggalkan Hyun Hee yang menggigit bibir bawahnya pelan. Berharap ‘sampai jumpa’ yang Sehun ucapkan benar-benar terjadi.

Genangan air mata membuat pandangannya buram. Namun getar ponsel membuat ia segera manahan napas, menetralkan suara sebelum menjawab panggilan.

“Aku pasti gila karena sudah merindukanmu. Padahal bayanganmu saja masih bisa terlihat dari sini.”

Sang gadis tersenyum. Mencoba mengedar pandang ke arah dimana Sehun melangkah pergi. Sayang, bayang-bayang gedung tinggi tak mengizinkannya melihat sosok sang kekasih.

“Berhentilah merayu, Oh Sehun.” Setelah deret kata ini, keheningan menyapa. Hyun Hee masih bisa mendengar deru nafas di sana. Membuat pandangannya kembali memburam. Ia tahu jika kemungkinan mereka bertemu lagi hanya sekian persen.
“Hyun.” Panggilan ini, Hyun Hee yakin ia akan merindukannya. Ia mengantupkan bibir. Meminimalisir kemungkinan isakan terdengar.

“Rekam ini.”

Permintaan Sehun segera Hyun Hee turuti. Sang gadis tak bisa bersuara. Dadanya terlalu sesak. Tangannya sudah bergetar hebat. Begitupun kakinya yang menapak tanah.

“Aku mencintaimu, Hyun. Sangat.”

Ingin Hyun Hee bertriak hal yang sama. Namun ia hanya akan menangis jika mencoba berucap.

“Jangan lukai dirimu. Kumohon jangan lakukan hal yang bisa membuatku khawatir.”

Ada banyak hal yang ingin Sehun sampaikan. Tapi keadaan tak memberinya cukup waktu karena kejadian klise akan menyapanya dalam hitungan beberapa detik lagi.

“Aku menyayangimu, sayang.” Selanjutnya ada sahutan lain di seberang sana, “Tuan muda. Anda harus pulang.” Suara bariton samar entah milik siapa.

“Sehun.” Seketika Hyun Hee bergumam khawatir. Pasti lelaki itu akan melawan para pesuruh ayahnya. Oh, ini buruk.
Suara pukulan membuat setetes cairan bening menetes dari ujung kelopak matanya. “Sehun, jangan melawan. Jangan terluka.” Kaki Hyun Hee sudah sepenuhnya bergetar. Membuat ia berpegang pada tiang di sampingnya sementara suara saling pukul masih menyapa telinga, “Hentikan. Berhentilah melawan, kau hanya akan terluka.” Dia sudah menangis sekarang. Namun masih menguatkan kaki untuk melangkah. Mencari sang kekasih yang nyatanya sedang beradu pukul dengan tiga orang tinggi tegap berseragam. Sehun memang suka hitam, tapi tidak dengan ketiga orang berseragam hitam itu. Mulut Sehun sudah penuh darah. Ia tahu ayahnya akan melakukan segala cara untuk menyeretnya pulang. Termasuk membiarkan para pesuruh sialan itu membuatnya babak belur.

Dan sebuah tendangan diperut membuatnya tersungkur. Ponsel dengan layar pecah itu masih bisa menyuarakan suara seseorang yang selalu membuatnya kuat.

“Oh Sehun, kumohon berhentilah melawan. Kau hanya akan terluka.”

Sehun tahu ini adalah kesalahannya membuat sang kekasih menangis. Seharusnya ia tak perlu menghubungi Hyun Hee. Ah, sudahlah, masa bodoh dengan kata seharusnya.

“Aku mencintaimu.” Ia berucap sebelum lengan-lengan kekar menarik tubuhnya kasar untuk masuk ke sebuah mobil. Dalam hitungan detik, mobil itu sudah melesat pergi. Menyisakan ponsel dengan layar pecah yang masih menyala terang.
Sebuah tangan bergetar meraihnya sekian detik kemudian. Hyun Hee sudah tak memedulikan kekacauan tatanan rambutnya, atau wajah penuh airmatanya. Kakinya masih bergetar, membuat ia berjongkok lemas dan kembali menangis.

“Aku juga mencintaimu.”

Seharusnya ia mengatakannya tadi jika tahu akan seperti ini.

.
.
Aku mencintaimu, Hyun. Sangat.
Jangan lukai dirimu. Kumohon jangan lakukan hal yang bisa membuatku khawatir.
Aku mennyayangimu, sayang.
Aku mencintaimu.
.
.
.
Aku juga mencintaimu
.
.
.
.
Hubungan mereka berda di atas ketidakpastian sang kelabu.
fin!

Yah ini semacam penjelasan dari alasan Sehun dan Hyun Hee nggak direstuin.
Jangan lupa reviewnya ya… Baik di part 1 dan 2, oke? 😉
Sedikit curcol, kemaren waktu Love Me Right udah muncul aku excited banget.
Dan yang paling aku banggain adalah bagian Sehun mengingkat!!! XD
Bayangin aja, sejauh ini Sehun paling banyak partnya di peterpan. Dan sekarang di LMR dia ngerapp panjang (ya nggak sepanjang Chanyeol sih), dua kali lagi…
Mungkin alay, tapi biarin aku seneng wkwkw
Sehun tambah tampan pake rambut item gitu
Oke, kebanyakan curcol.
Sekali lagi jangan lupa reviewnya yaa…
Terima kasih banyak semua 😀

20 tanggapan untuk “Walkin’ in the Grey [2/2]”

  1. dan haruskah seperti ini? berakhir? gk relaaaaaaaa *eh wkwkwkwk, cukup nguras emosi dimana manis” eh endingnya bikin gregetan aiihhh bagus ini

    1. enggak kak, gak berakhir, solanya lanjutannya itu yang To Find the White hehe
      emang agak agak sengaja sih kak, biar kek habis diangkat malah dijatuhin lagi/plak

  2. Angst beneran ‘-‘/
    ah tapi masih ada To Find The White(?).
    baca kalimat Sehun pas nelfon terakhir itu bikin nyesek masa T.T
    oh, mungkin alay(?), tapi beneran, kata2nya rasanya nusuk gitu T_T
    ah aku mau baca lanjutannya xD izinin ya kak Nida.

    nice ff! terus berkarya ^^

    1. iyakah? waah makasih sayang :*
      hehe aku aja gemes sendiri sama bagian waktu sehun nelfon kalo lagi baca ulang..
      yaaap silahkan rikaa xD

  3. Wih! Yang part 2 ini (menurut aku) lebih ngalir dari pada yang part 1. Enjoy banget nikmatin satu-persatu suguhan deskripsimu. Hanyut~

    btw! Aku juga salah satu yang yang keranjingan waktu liat Sehun di LMR (padahal bias gua D.O). Sumveh! Tamvan beudh! Makin alami malah makin enak dipandang tuh cowok.

    1. emang fokus ceritanya kebanyakan ada di part dua ini 🙂
      makasih yaaa 🙂
      emaaaaang hahaha aku jingkrak-jingkrak sendiri liat pacar saya itu #plak!
      sangat bangga karena di call me baby pun dia cuma sebaris doang :” (ama tambahan dikit di awalan)

  4. Cerita nya bener-bener kelabu. Ending nya pun kelabu. Hoho
    Joa lah! 😁
    aku juga seneng banget karena di LMR part nya Sehun banyak. Hehe 😁

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s