Walkin’ in the Grey [1/2]

WIG [PreTFW]

OC’s Hyun Hee / Oh Sehun / slight Kim Jongin and other

Twoshoot / AU / Romance / Fluffy / Angst / Hurt / PG-13

Before story of

To Find the White

I own the plot

-RnR Please-

a present by l18hee

 

Bukan hitam atau putih.

Kisah mereka kelabu.

 

Suhu rendah musim dingin serta sisa sisa salju putih yang baru turun malam tadi mendominasi hari ini. Namun tentu bukan penghalang yang cukup kuat untuk membatalkan upacara kelulusan yang sudah dipersiapkan dari jauh-jauh hari. Di antara para siswa berbalut mantel tebal yang menyembunyikan seragam lengkap mereka, terlihat seorang gadis menggerakkan matanya gelisah. Sepertinya sedang mencari sesuatu, atau mungkin seseorang. Orang-orang dengan tinggi menjulang di sana sedikit membatasi lingkup pandangnya. Ujung mantel hijau lumutnya sesekali dimainkan angin begitu pula dengan surai kecoklatan yang ia gerai. Sebuah tepukan pelan di pundak membuatnya sedikit terlonjak kaget.

“Mencari temanmu?” seorang lelaki jangkung berkulit salju ada di sana, menyapanya dengan wajah yang dapat dibilang datar. Sedikit menakutkan bagi sang gadis. Sepertinya lelaki ini sedang mencoba terlihat peduli, jadi gadis yang lebih pendek dari tingginya itu tersenyum simpul dan bergumam mengiyakan. Sembari mengedar pandang, sang lelaki kembali bertanya, “Kelas apa?”

“Eh?” si gadis kembali menengadah, namun dengan segera menjawab saat maniknya bertemu dengan milik sang pemuda, “3-4.” Sedikit tak yakin lelaki di sampingnya akan dapat membantu. Yah, jika ingin membantu sih.

“Oh, 3-4? Berarti kelas Kim Jongin.” lelaki itu bergumam sendiri sebelum kembali berucap setelah menemukan objek yang ia cari, “Mungkin Jongin tau di mana teman-temanmu. Ayo.” Ia lebih dulu melangkah membiarkan sang gadis mengekor. Keduanya melangkah dalam diam hingga sampai di depan gerombolan Jongin.

“Jong, kau tahu di mana teman gadis pendek ini?” Seketika si gadis menatap lelaki itu. Berusaha mencerna setiap kata-kata yang baru ia dengar sebelum suaranya terdengar, “Aku Lee Hyun Hee, jangan panggil aku pendek!” Sang lelaki menoleh cepat, menatap gadis itu sembari mengukir seringai menyebalkan, “Aku Oh Sehun.” Tunggu! Apa itu hanya sebuah pancingan? Sialan. Mengapa pula Hyun Hee harus merona seperti ini? Ia masih dapat mendengar kekehan pelan Jongin yang terkesan meledeknya.

“Sehun-a, aku kagum padamu.” Entah apa maksud ucapan Jongin, Hyun Hee tak ingin tahu, jadi ia langsung beralih ke topik lain, “Kau tahu di mana Ran?” Jongin menyilangkan tangan di dada seraya menunjuk ke gerombolan gadis di arah jam 2 dengan dagunya membuat Hyun Hee menoleh cepat. Ah, itu dia! “Terima kasih.” hanya itu dan ia langsung melesat pergi.

Meninggalkan Sehun yang menatap pungunggnya menjauh. Segera saja Jongin merangkul pundak karibnya, “Awal yang bagus, kawan.” Mereka kemudian bergabung dengan gerombolan lelaki lain sebelum memasuki aula utama tempat berlangsungnya upacara kelulusan.

Hari yang melelahkan bagi Hyun Hee kini ditutup dengan pesta perayaan kelas di sebuah kafe. Suasana ramai sebenarnya bukan tipikal seorang Lee Hyun Hee. Tapi ini acara kelas, dan ia akan menyesal jika melewatkannya. Sorak sorai teman-temannya kala sang pentolan kelas maju membuat ia ikut mengalihkan pandangan ke depan. Di sana, Kim Jongin, akan menampilkan kemampuan dance-nya. Rutinitas yang selalu ada saat acara apa pun di sekolah.

Dengan mikrofon yang ia genggam, lelaki tan itu membuat setiap sudut ruang penuh dengan suaranya, “Sebelum aku mulai-” Ia menggantung kalimat seraya menunjuk ke salah satu lelaki di sana, “-tolong seret lelaki itu kemari.” Seketika sorakan-sorakan kembali terdengar. Membuat Hyun Hee semakin ingin menyudahi ini dan berbaring di ranjang empuknya. Saat melihat lelaki yang tadi pagi membantunya -dan memanggilnya pendek- pun ia hanya bergumam ‘oh’ saja. Mungkin Jongin mengundang Sehun kemari. Dan bodohnya setelah acara berlangsung lama, Hyun Hee baru menyadarinya.

Dia menegak air seraya menikmati pertunjukkan dance yang sedang berlangsung. Berusaha mengenyahkan kesuntukan berada di tempat yang ramai terlalu lama dengan tubuh lelah. Ia baru bisa merenggangkan tubuh setelah acara benar-benar berakhir dan satu persatu temannya mulai beranjak untuk pulang.

“Kau akan menunggu di mana?” Ran meraih tasnya seraya beranjak diikuti Hyun Hee yang segera manjawab, “Mungkin di depan saja. Apa Chanyeol sudah menunggu?” sebuah anggukan ia terima. “Ah itu dia. Chanyeol-a!” Ran berseru di akhir kata sembari menghampiri seorang lelaki jangkung dengan telinga peri yang tersenyum di sebelah motor sport berwarna merah. “Sampai jumpa Hee-ya.” Gadis itu melambai sebelum kembali fokus mengobrol dengan kekasihnya. Hyun Hee hanya tersenyum simpul.

Hingga saat dua sejoli itu pergi, senyumnya memudar berganti dengan kekosongan. Sedikit banyak ia bisa merasakan jantungnya yang berdegub kencang. Selalu seperti ini jika paras Chanyeol menyapa pandangnya. Yah, ini memang klise. Dia menyukai Chanyeol, bahkan sebelum lelaki itu menyatakan perasaannya pada Ran. Lebih sialnya lagi sampai saat ini ia baru mampu mengikis 33% perasannya pada Chanyeol. Ada tambahan, setelah tiga tahun. Itu waktu yang lama untuk berkubang dalam kebodohan menyukai lelaki yang tak pernah menatapnya.

“Tidak pulang?” Ia menoleh demi mendapati lelaki kulit salju yang tadi sempat berduet dance dengan Jongin. Ada sekitar jeda lima sekon sebelum ia sadar masih ada pertanyaan yang belum dijawab, “Oh, itu, kakakku belum datang.” Sebenarnya dia ingin membiarkan Sehun berbicara lagi. Namun karena sang lelaki tak kunjung berkata, ia memutuskan memecah keheningan, “Kau sendiri?” Sehun melirik dengan sudut matanya, “Sedang menunggu seseorang yang siapa tahu perlu bantuan.”

Hyun Hee hanya melepas kontak mata mereka dan memilih memandang jalanan yang tak terlalu ramai. Sama sekali tak berusaha kembali membuka pembicaraan. Mengantisipasi kemungkinan jawaban asal yang akan ia terima lagi. Jadilah kini keduanya berdiri berdampingan tanpa sepatah kata pun hingga getar ponsel putih Hyun Hee memecah keheningan. Sebuah pesan balasan dari kakaknya.

From: Jongsuk Oppa

Maaf aku ketiduran. Tunggu sebentar, aku segera ke sana.

Sungguh, Hyun Hee ingin berseru kesal saat ini. Tubuhnya sudah benar-benar butuh istirahat dan Jongsuk begitu saja menelantarkannya selama tiga puluh menit penuh tanpa kabar. Sehun yang tahu jika gadis di sampingnya bergerak gelisah memutuskan membuka suara, “Mau menunggu kakakmu di kafe?”

Yah, bukan ide yang buruk.

Kini mereka sudah duduk berhadapan dengan segelas Capuccino dan coklat panas di meja. Tadinya sang gadis berpikir jika lelaki di depannya ini akan berbasa-basi dengan menanyakan hal klise seperti kebanyakan orang yang baru ia temui. Namun yang terjadi hanya keheningan yang kembali menyelimuti keduanya. Sehun lebih memilih berkonsentrasi pada lantunan lagu lewat earphone yang menyumbat telinga serta sesekali menyesap cappucino.

Yang Hyun Hee lakukan pun tak jauh beda. Dia hanya menatap jalanan dalam diam. Menatap sedikit sisa salju berwarna putih. Warna favorit yang entah kenapa selalu membuat celah nyaman di sekitar kesuntukan. Mendadak pikiran mengenai Chanyeol hinggap di benaknya. Setidaknya setelah kelulusan ia tak perlu lagi berjumpa dengan Chanyeol. Universitas mereka berbeda. Tapi ia masih satu universitas dengan Ran. Kali ini ia berjaji pada diri sendiri untuk sebisa mungkin menjauhi Chanyeol, bagaimanapun caranya. Bahkan ia sudah memutuskan menjaga jarak dengan Ran.

Lamunannya terputus ketika maniknya menangkap sosok Jongsuk dengan wajah bingung di depan kafe. Segera ia beranjak seraya berucap, “Hei, kakakku sudah datang. Aku harus bergegas. Sampai jumpa.” dan ia pun meninggalkan Sehun yang termenung. Iris Sehun yang semula tertuju pada sosok Hyun Hee dan kakaknya yang melesat meninggalkan pelataran kafe kini berpindah menatap cangkir coklat panas di meja. Cangkir dengan warna hitam mengkilap itu membuat sudut bibirnya tertarik. Hanya beberapa sekon karena selanjutnya dia meraih ponsel yang bergetar dan langsung menggeser layarnya.

“Kenapa tidak diangkat dari tadi? Kau dimana ha? Aku sudah pulang. Ambil motormu besok di rumahku.”

“Jong, bawa motorku ke sini. Aku di kafe tadi.”

“Kau berlari terburu hanya karena ingin ke kafe? Memangnya ada apa di sana?”

“Aku baru memberi bantuan pada seseorang.”

Yang terdengar hanya dengus Jongin sebelum lelaki tan itu menutup telpon setelah berjanji akan tiba di kafe beberapa menit lagi. Sehun meletakkan ponsel hitamnya di meja. Tangannya melepas earphone yang sejak tadi tak mengantarkan satu nada pun ke telinga. Bukan karena Sehun tuli atau earphone itu rusak. Lelaki ini memang sengaja memakai earphone sebagai kamuflase. Melihat gadis tadi berwajah muram menjadikan ia yakin pembicaraan seringan apa pun tak akan berguna. Jadi ia lebih memilih menemani sang gadis dalam keheningan. Membiarkan pikiran keduanya saling berkelana jauh.

Pertemuan yang diiringi obrolan ringan kedelapan belas Sehun dan Hyun Hee terjadi di sebuah sauna saat keduanya sudah menjadi seorang mahasiswa yang kebetulan di universitas yang sama walau dengan fakultas berbeda. Pertemuan sebelumnya saat penerimaan mahasiswa baru dan sisanya tak sengaja bertemu di daerah kampus terutama di kafetaria.

Entah mengapa intensitas pertemuan mereka terus meningkat justru semenjak kelulusan. Sehun menyodorkan sebuah telur rebus yang sudah tak bercangkang pada gadis yang duduk di depannya. Manik sang gadis yang sedang berkonsentrasi pada hal lain membuat Sehun mengikuti arah pandangnya. Namun tak ada hal penting. “Melamunkan siapa?” Pertanyaannya membuat Hyun Hee menoleh. Sebelum menjawab, ia lebih dulu menerima telur rebus yang sang lelaki sodorkan, “Melamunkan seseorang yang seharusnya tak aku lamunkan.” Kadar rasa rindunya karena tak menatap paras Chanyeol dalam jangka waktu lumayan lama, sekitar tiga bulan sejak kelulusan, semakin meningkat. Padahal frasa rindu sama sekali tak pantas ia sematkan pada Chanyeol. Oh, ayolah, lelaki itu sudah milik Ran!

Sebuah kekehan terdengar dari arah Sehun, “Aku juga sering mengalaminya.” seketika Hyun Hee menengadah, membuat manik mereka bersirobok, “Benarkah? Rasanya tidak enak ‘kan? Aku bosan seperti ini.” Dia mendengus. Sudah jutaan kali ia mengeluh. Namun hatinya tak kunjung merespon selain dengan menyisakan 61% perasaan bodoh itu. Hanya menurun 6% dibanding saat kelulusan lalu. Itu pun masih rentan kembali meningkat karena rasa rindu sang gadis.

“Kau benar.” Sehun tersenyum tipis sementara tangannya sibuk memisahkan cangkang telur dengan empunya, namun tiga sekon selanjutnya ia kembali bersua, “Kau terlihat sangat lelah melakukannya. Jadi kenapa tidak coba hal lain seperti memikirkan seseorang yang kadang kala melamunkanmu?” Seringannya membuat Hyun Hee mendengus malas sebelum mengirimkan potongan telur ke mulut, “Bagaimana aku bisa tahu siapa saja yang kadang melamunkanku? Ibuku? Jongsuk Oppa?”

“Dengar baik-baik. Akan kuberitahu petunjuknya.” Sang lelaki memilih meletakkan telurnya dan menatap gadis yang menggelung rambut tinggi itu, “Aku.” Seketika hening melanda. Telur yang belum lembut sempurna masih bersarang dimulut si gadis. Sungguh itu adalah petunjuk yang terlampau jelas.

Merasa cukup dengan acara tatap-menatap selama beberapa sekon -kendati begitu terasa sangat lama- Hyun Hee memutuskan melepas kontak mata. Ia mengantar telur yang sudah ia kunyah ke kerongkongan untuk menuju ke lambung sebelum berdehem pelan, “Siapa juga yang mau melamunkan lelaki sepertimu?”

“Kalau begitu pikirkan aku saja.”

“Apa bedanya?”

“Paling tidak kau bisa melupakan orang itu.” Ucapan Sehun yang tak menjawab pertanyaan kembali dapat membungkam Hyun Hee. Apalagi saat lelaki itu kembali berucap, “Aku akan perlahan menggeser orang itu dari daftar lamunanmu. Bahkan kau tak akan menyadari jika aku sudah berhasil nanti.” Kepalanya miring ke kanan, berusaha kembali menatap sang gadis, “Bagaimana?”

“Jika kau sudah mengatakannya tentu aku akan menyadarinya, bodoh!” Sungut Hyun Hee. Bukannya mengelak, Sehun justru menyeringai jahil, “Baguslah jika kau sadar. Itu artinya kau memang benar-benar ingin memikirkanku.” Oh, sungguh Hyun Hee kehabisan tenaga untuk menjawab sekarang. Terkutuklah wajah meronanya! Untung saja ini di sauna, jadi ia punya alibi mengapa wajahnya seperti ini. Itu pun jika ada yang bertanya.

“Ah, sudahlah! Aku mau pulang.” Hyun Hee beranjak meningalkan Sehun yang masih menyeringai. Ia masih dapat mendengar lelaki kulit salju itu berseru, “Mau aku antar?” “Tidak mau!” dan ia sepenuhnya menghilang dari lingkup pandang sang lelaki yang hanya bisa terkekeh pelan. Memutuskan kembali menikmati telur rebusnya sebelum pulang.

Berkat semua kejadian yang terjadi di obrolan ringan ke delapan belas mereka, Hyun Hee menjadi sedikit berubah. Ucapan Sehun seperti sebuah rapal kutukan baginya. Buktinya saja intensitas pelafalan kata ‘sial’ yang ia ucapkan semakin meninggi. Penyababnya sebenarnya mudah. Hanya sekedar sosok maupun ucapan Sehun yang tiba-tiba berterbangan dalam otaknya. Dan yang lebih mengganggu adalah Sehun yang tak pernah menyapa lingkup pandangnya sejak pertemuan di sauna. Tidak, bukannya Hyun Hee rindu atau bagaimana. Tapi ini aneh, mengingat mereka berada di lingkup kampus yang sama dan bahkan sekilas pandang pun Sehun tak pernah terlihat.

“Ah, masa bodoh dengan itu.” Hyun Hee merubah arah pandang, dari cangkir coklat panasnya menuju pelataran kafetaria yang berada tak jauh dari kampus. Mencari suasana baru sekaligus menjernihkan pikiran menjadi dasar ia menempati salah satu meja di kafetaria ini. Entah takdir atau hanya kebetulan, maniknya justru tertumbuk pada dua insan yang terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang berjalan beriringan dengan tawa renyah. Kenapa dia harus melihat Chanyeol dan Ran? Ia tak mendengar jelas tawa itu, tapi dari raut wajah bahagia yang menelisik masuk ke retinanya ia sudah cukup yakin mereka sedang bersenang-senang.

Sudut bibirnya tertarik pelan membentuk sebuah senyum sinis. Sebelum kembali menatap cangkir coklat panas, maniknya sekilas bersirobok dengan salah satu objek yang baru ia amati. Kendati begitu tak sedikitpun frasa peduli hinggap di kepalanya. Urusan hubungan Park Chanyeol dan Yoo Ran memang tak seharusnya ia pedulikan. Dia sudah membuang jauh-jauh presentase perasaannya. Perlahan ia menyesap coklat yang semakin menghangat. Memberi izin pada cairan pekat itu menghangatkan kerongkongannya. Juga hatinya. Jarum arloji yang melingkar di tangan kiri sudah hampir menyapa angka 8 dan Hyun Hee baru saja sampai di depan pintu apartemen. Terkadang ia begitu merindukan rumah. Rindu Ibu. Rindu kakak menyebalkannya. Rindu saat-saat di mana dia tidak sendiri seperti ini. Teman-teman dekatnya sudah tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Termasuk Yoo Ran. Jika ini semua terus berlanjut, Hyun Hee benar-benar tidak akan tahan.

Dia baru akan menekan angka terakhir pada passwordnya ketika benda kotak yang ia genggam bergetar. Untuk sejenak ia memandang sang pemanggil sebelum memutuskan menerimanya.

“Apa?” nadanya terdengar datar. Sedikit berbeda dengan aura penasaran yang menyelimuti benaknya.

.

.

.

TBC

Ini cerita tentang Hyun Hee-Sehun sebelum kisah mereka di To Find the White (kalau ada yang belum tau silahkan baca habis cerita ini aja wkwkw) Agak panjang jadi aku bikin twoshoot deh 🙂 Makasih yang udah kuat baca sampai sini 😀 Aku tunggu like dan review kalian 😀 😀 😀

29 tanggapan untuk “Walkin’ in the Grey [1/2]”

  1. haiii aku new readers, telat bgt sih yaakk duuhh wkwkwkwk,krn blm pernah baca to find the white jd gpp yaahh baca yg ini dulu,ringan bgt ini ceritanya alurnya jg bagus sukaaa

  2. Wooah bisa2 si hyun hee nya fall in love sama sehun hohoho~~ Ceritanya bagus nih, keep writing kak^^ btw, lanjutannya udh di pisting blm sih kak? Penasaran jadinya bca klanjutannya^^

    1. hmmm liat lanjutannya aja kalo mau tau mereka gimana wkwk
      udah aku post kok sayang, klik profilku aja (ato gak foto profil yang author and staff) itu udah ada postnya 😀
      makasih udah mampir cantik 😉

  3. himih, aku gak tau mau muji kak Nida gimana lagi -_-
    ini KEREN!
    nice ff! aku belum baca yang ada white-white nya itu tadi(?) entar aja abis baca yang ini :v XD

    izin baca lanjutannya ya kak! xD

  4. wooaaahhhh >< ini keren ka nida :3 sebenarnya to find the white itu ff pertama yang aku baca di blog ini:3 sayang banget yabaru nemu ff ini sekarang:3 misi ka aku mau lanjut ke chapter selanjutnya :3

  5. KERENNNNNNN THORRRRRR!!!!
    Gak tau kenapa semua obrolan sehun-hyun hee terasa pass bgt!!!!
    ouch, sehun pinter bgt ngejebak hyun hee

    1. panggil kak aja (kalo line kamu di bawah aku) oke? 🙂
      haha iyakah? makasih makasiiih say
      sehun emang gitu kok :3 pinter jebak wkwk
      makasih udah mampir 😀

  6. Nice! Aku suka bgt FF yang berbalut metafora frasa gini. Nyastra beudh dah!
    Ditunggu lanjutannya 🙂 fighting!

  7. aku baru baja yg to find the white tp gak bisa komen disana. Jdi disini bakal dijelasin kan kenapa mereka pada gak direstui. Awalnya manis tp akhirnya mengharukan. Lanjut ya thorrr

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s