See You Again – Chapter 2

[EXOFFI] Freelance – Agusthina Eylis Setiowati-Nana Kwon - Freelance - See You Again (Chapter 2)

Main Cast: Sehun, OC

Genre: Crime, Physiology, Hurt

Rating: PG-15

Previous: 1

Cr poster: Jazzyrocka@IFA

Sebelumnya pernah dipos: https://hunhunter.wordpress.com/

Aku merajutnya dengan sepenuh hati, agar kau percaya bahwa cintaku tidak akan pernah mudah terbongkar. Mulai sekarang, esok hingga kita tua –Ahn Sooyoung.

Musik bergema di seluruh ruangan. Dilihat dari sisi manapun tempat ini masih sama dipenuhi oleh orang-orang yang melepas penat dengan minum alkohol, menari di lantai dansa dengan musik dj atau mungkin sex bebas.

Suasana di lantai dua tempat dimana lelaki bermata tajam itu sedang memandang sekelilingnya itu  di penuhi oleh gadis dengan balutan dress ketat, dengan bagian dada rendah dan hanya menutupi pantat mereka. Ia hanya mendengus saat melihat tatapan menggoda dari wanita murahan yang ada di hadapannya.

“Oh Sehun, nikmatilah pemandangan ini. Sangat jarang kita mendapatkan tugas untuk menangkap penjahat di tempat seperti ini,” suara Kai terdengar di telinga Oh Sehun melalui wireless yang terpasang padanya. “Benar Hun, lagipula jika kau mendengus terus telinga kami menjadi sakit,” kini Chanyeol yang angkat bicara.

Sehun sama sekali tidak menanggapi ocehan teman-temannya itu, ia merasa muak di tempat ini. Oh, haruskah ia menyalahkan Shin Seunghwan –si pembunuh amatir menghabiskan waktunya di bar? Bahkan karena panggilan dadakan dari atasan mereka mengenai lokasi tersangka yang mereka cari-cari sejak sebulan lalu mereka tidak mempersiapkan rencana apa pun dan hanya menggunakan sumberdaya seadanya.

Ahn Sena.

Ia kembali mendengus begitu mengingat gadis itu dengan semangatnya secara sukarela menjadi umpan bagi Shin Seunghwan yang sangat menyukai wanita berpakaian minim. Sehun sendiri adalah orang pertama yang menolak keinginan adik Jaehyun itu. Menurutnya, ini terlalu berbahaya karena ia sama sekali tidak pernah belajar pertahanan diri. Bagaimana ia bisa melawan jika si brengsek melakukan sesuatu yang macam-macam padanya? Dan anehnya, Jaehyun mengijinkan adiknya itu menjadi umpan.

“Ck, kau memang gila hyung.” Batin Sehun saat ini.

Kini matanya menangkap gadis dengan balutan dress berwarna hitam tanpa lengan dan panjangnya hanya sampai menutupi pantat yang sedang duduk di depan bartender lantai satu dengan tatapan tajam. Entahlah, perasaannya tidak enak mengenai keputusan yang Ahn Sena ambil dan tentu saja persetujuan dari rekan timnya.

“Owh, Sena bagaimana kau bisa terlihat begitu sexy?” suara Jongin terdengar ditelinga Sehun –lagi.

“Diamlah Oppa, aku sekarang sedang membantu kalian untuk membekuk orang yang kalian cari,” katanya dengan nada yang terdengar berbisik.

“Ingat Sena ia seorang pembunuh, kau harus berhati-hati.” Kini Ahn Jaehyun yang bersuara. Sena hanya membalasnya dengan gumaman.

Sampai tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya dari belakang. Ia adalah Shin Seunghwan.

.

Sena pov

Aku sudah hafal betul raut wajah orang yang Jaehyun oppa perlihatkan kepadaku. Benar-benar mirip dengan orang ada didalam foto, orang itu sedang menatapku dengan seduktif. Uh, rasanya sangat menggelikan menggoda orang yang usianya lebih tua dua kali.

“Nona manis apa kau datang sendirian kesini?” tanya orang yang aku ketahui bernama Shin Seunghwan itu.

“Hn,” aku membalas dengan gumaman yang kubuat se-sexy mungkin.

“Kau membuatku tergoda juga Sena-ya,” Chanyeol oppa berbicara dan terkekeh diujung sana, aku mencoba untuk menghiraukannya agar penyemaranku tidak terbobgkar.

Aku kini menggubah posisi menyilang kakiku, yang tadinya kaki kanan berada diatas kini kaki kiri yang berada diatas. Dapat kulihat mata Seunghwan yang tergoda melihat paha putihku yang mulus. Lalu aku kembali menyesap vodka yang telah aku pesan sebelumnya.

“Kalau begitu bagaimana kita berkenalan lebih lanjut?” tanyanya dengan tatapan tidak sabarnya.

“Maksud anda?” tanyaku pura-pura tidak mengerti.

Kemudian ia meraba pahaku yang terbuka, tangannya terus mengusap-usap paha putihku. Lalu ia mendekatkan bibirnya di telingaku. “Maksudku kita ke kamar VIP diatas bagaimana?” Oh, sudah kuduga ia benar-benar maniak.

Aku dapat mendengar seseorang mendengus dengan keras dari wireless yang terpasang ditelingaku. Lalu diikuti suara sangat dingin, “kau memang berbakat.”

Setelah mendengar kalimat yang dingin dan menusuk itu tanganku ditarik oleh lelaki brengsek ini dan aku dapat melihat dari lantai dua seseorang menghujaniku dengan tatapan tajamnya. Oh, kenapa tiba-tiba aku menjadi takut? Padahal sebentar lagi misi ini akan terselesaikan.

.

Sehun pov

Aku menghembuskan nafasku keras begitu melihat tangan gadis itu ditarik oleh lelaki yang berusia mendekati 50-an itu. Apa gadis itu benar-benar berbakat dan tidak takut akan sesuatu yang akan terjadi nantinya?

Aku segera melangkahkan kakiku setelah mendengar perintah dari Jaehyun hyung menuju lorong yang baru berada diujungnya saja sudah terlihat banyak orang bercumbu itu. Aku harus berhenti mendengus sekarang karena kami semua tidak tahu dimana Ahn Sena dibawa atau lebih tepatnya kamar nomor berapa.

Kami semua masih menunggu Sena untuk setidaknya memberikan petunjuk dimana ia berada. Sambil menunggu aku berjalan menyusuri lorong-lorong ini.

“Hun, aku rasa kita gagal” kata Jaehyun hyung. Kalimat Jaehyun hyung sontak membuatku berlari dan tidak peduli dengan orang-orang yang aku tabrak. “Kita ketahuan.”

“Sial.”

.

Author pov

Shin Seunghwan menatap bengis gadis yang sedang berada di pojok ruangan dengan menggenggam wireless yang beberapa saat lalu terpasang ditelinga gadis itu. Lalu ia menjatuhkannya ke lantai dan segera menginjaknya dengan kakinya hingga tak berbentuk.

Ahn Sena gadis itu bahkan sangat takut untuk memandang lelaki berumur yang ada didepannya ini.

“Kalian pikir bisa menjebakku, huh?” ia berbicara dengan senyum yang menambah kesan mengerikan dalam setiap perkataannya. “Apa para detektif itu tidak mengatakan bahwa aku seorang pembunuh?” tanyanya lagi.

Sena mencoba untuk tidak menangis ketika melihat lelaki itu mengeluarkan pisau dari dalam bajunya. Ia menodongkan pisau itu kearahnya dan terus mendekat.. terus mendekat.. terus mendekat.. Sena sendiri tidak tahu harus berbuat apa, kepalanya sangat pusing hingga ia jatuh terduduk.

BAM

Suara pintu di dobrak itu mengalihkan perhatian lelaki paruh baya itu. Sehun segera melayangkan kepalan tangannya itu pada Seunghwan, ia jatuh karena belum siap melawan. Sehun segera menghampiri Sena yang mulai kehilangan kesadarannya.

“Ahn Sena!” teriak Sehun. “Ahn Sooyoung”. “Sadarlah dan lari!” Sehun mengguncangkan pundak Sena sementara di belakangnya Seunghwan sudah siap dengan pisaunya untuk menusuk Sehun.

Jleb

Sehun merasakan ada yang mengalir dari bagian punggungnya. Ia segera bangun dan berbalik menatap tajam Seunghwan. Lelaki itu balik menatap Sehun takut, bagaimana bisa ia sama sekali tidak merasakan sakit dipunggungnya padahal sudah ditusuk oleh pisau?

Dengan segera Sehun memukul Seunghwan, setelah lelaki itu jatuh terseungkur ia menendangnya tanpa ampun dan ia duduk diatas di tubuh lelaki itu dan terus melayangkan pukulan membabi buta.

“Astaga, Oh Sehun! Hentikan ia bisa mati sebelum kau membawanya ke penjara,” kata Chanyeol ketika sudah sampai disana. Ia segera menarik Sehun dari atas tubuh Seunghwan dan melihat darah yang mengalir deras dari punggung temannya itu. “Apa yang terjadi padamu?” tanyanya dengan khawatir. Seketika itu juga Sehun jatuh tak sadarkan diri.

Sedangkan, Jaehyun tak kalah khawatir begitu mendapati Sena yang tengah menangis terisak di pojok ruangan itu. Ia segera memeluk adiknya itu. “Ssshhh, tidak apa-apa, ada Oppa disini,” katanya sambil mengusap punggung adiknya.

“Sebaiknya hyung mengantarkan Sena pulang dan Chanyeol mengantarkan Sehun segera ke rumah sakit biar aku yang mengurus bajingan ini,” kata Kai segera memborgol tangan orang yang sudah tak sadarkan diri itu.

***

Sehun pov

“Sehun, cepat turun. Ayo kita makan malam!” teriakan seorang wanita paruh baya membuatku menghentikan kegiatan bermain game di PC. Aku segera turun dan melihat makanan kesukaanku  terhidang di atas meja makan.

“Wah, eomma ada apa sehingga membuat sushi?” kataku pada ibuku.

Ia tersenyum, “Kenapa? Kau tidak mau makan sushi yang telah eomma buatkan?” tanyanya dengan nada dibuat sedih yang tentu saja membuatku terkekeh seketika. Belum sempat aku menjawab bel rumah terdengar.

Dan ketika pintu dibuka ibuku bersimbah darah karena tertusuk pisau. “Sehun, lari!” kata ibuku dengan semampunya, “lari!” bukannya lari aku malah menghampiri orang itu dan memukul kepala bagian belakangnya.

Ia lalu balik mencekikku dan melemparkanku ke dinding. Aku masih terus berusaha menghampiri ibuku sekali pun rasanya punggungku patah. Aku yakin ibuku sudah tak bernyawa karena dadanya terus ditusuk oleh orang yang tidak aku kenal ini dan semuanya tiba-tiba gelap.

.

Aku mengerjapkan mataku berusaha menyesuaikan sinar dari lampu yang ada diruangan serba putih ini. Oh, aku tahu betul ruangan ini. Rumah sakit. Aku menggerakkan kepalaku untuk melihat siapa yang tertidur di samping tempat tidur di kamar rawatku ini. Tangannya tertaut dengan tanganku, rambutnya yang berwarna coklat itu menutupi wajah kecilnya. Aku tahu betul siapa gadis ini.

Aku berusaha melepaskan tanganku agar tidak membangunkannya tetapi ia terbangun dan matanya itu langsung saja mengeluarkan airmata begitu melihatku.

“Hiks.. Sehun-ssi.. h-hiks.. maafkan aku,” katanya terus sambil menangis.

Aku akhirnya ingat saat dia menjadi sukarelawan tim kami untuk membekuk si brengsek Shin Seunghwan.

“Berhentilah menangis dan lepaskan tanganku,” kataku dingin.

Ia melepaskan tanganku dan melanjutkan tangisannya, “Hikss.. aku yakin kau pasti sangat membenciku, maafkan aku.”

Astaga, sampai kapan gadis ini akan meminta maaf dan menangis. Suara pintu terbuka membuat perhatianku dan gadis ini beralih. Aku melihat seseorang yang lain datang menghampiriku. Sudah ada satu gadis menyebalkan dihidupku dan sekarang satu lagi datang.

“Hun, kau tidak apa-apakan?” tanyanya dengan nada khawatir dan memelukku.

“Akh, lepaskan aku Hong Sera,” kataku mencoba melepaskan gadis maniak ini dari tubuhku.

“Aku segera kemari begitu sampai di Korea. Aku merindukanmu, Hun.” Katanya manja sambil memainkan tanganku, “harusnya kau tidak sakit sehingga kita bisa pergi berkencan.”

“Ehem,” deheman itu membuat Sera berhenti berbicara, “maaf aku mengganggu kalian, aku pergi dulu.” Sena dengan segera bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan kami. Oh Tuhan, haruskah aku bersyukur salah satu dari gadis aneh di hidupku sudah pergi?

“Siapa gadis itu?” Aku malas untuk menjawab pertanyaannya. Dulu aku masih kejadian dimana aku tak sengaja bertemu dengan Hong Sera saat aku bertugas dengan rekan wanitaku disekitar wilayah Gangnam dan dia ada pemotretan disana, ia langsung menjambak rambut rekanku dengan sadisnya. Padahal aku dengannya sama sekali tidak ada hubungan apapun.

“Siapa gadis itu, Hun?” kini aku dapat mendengar nada pertanyaan sekaligus marahnya itu. “Apa gadis itu yang membuatmu seperti ini?”

“Bukan, aku masih lelah jadi kau pergilah.” Ucapku singkat dan berusaha untuk pura-pura tidur kembali.

.

Author pov

Ahn Sena masih sangat merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Oh Sehun dan yang membuatnya lebih tidak mengerti lagi saat seorang wanita tadi yang ia ketahui adalah Hong Sera dengan begitu mudah memeluk Sehun. Bahkan ia sama sekali tidak pernah berani menatap Sehun lebih dari tiga detik setelah kekacauan yang ia sebabkan lima hari lalu.

Yap, Sehun tidak sadarkan diri selama lima hari dan tadi Sena menggantikan kakaknya untuk menjaga Sehun.

DUK

Ia tersandung dan jatuh di trotoar jalanan Myeondong. Mungkin memang kebiasaannya Sena sedari kecil matanya tidak pernah memperhatikan jalanan yang ada di depannya dan sangat memungkinannya mengalami kecelakaan 8 tahun lalu karena tidak tahu bahwa ia berlari ke jalan raya.

Segera saja Sena bangkit dari posisi terjatuhnya yang menurutnya lumayan elegan dan mengibaskan rok selututnya itu. Ia masih belum tahu arah tujuannya sekarang yang hanya dipikirannya Oh Sehun. Oh Sehun dan Oh Sehun.

.

Sena pov

Waktu masih menunjukkan pukul lima sore dan oppa pasti belum kembali ke apartemen, aku juga sangat bosan apabila di rumah sendirian. Aku mendengus keras begitu aku kembali memikirkan lelaki sialan yang sedang sakit itu. Apa rasa khawatirku ini wajar padanya? Aku tidak mungkin menyukainya bukan? Memang aku tertarik tapi.. ini tidak lebih dari rasa tertarik seperti fan terhadap idolnya aku yakin itu.

Aku kembali menyesap kopi yang ada dihadapanku dan segera bangkit meninggalkan kedai ini serta berjalan kemana pun asalkan tidak kembali ke apartemen sebelum jam 8 malam nanti. Kakiku menuntunku ke toko bahan pakaian.

Mataku beralih ketempat lain begitu melihat perlengkapan menjahit, khususnya jarum rajut dan benang wol. Aku teringat perkataan eomma bahwa dulu aku sangat pandai merajut tetapi entah mengapa saat aku bangun dari koma rasanya benang wol dan jarum menjadi musuhku.

Soal masalaluku jujur saja aku sangat ingin mengingatnya, saat aku tersadar aku tidak ingat namaku tetapi aku masih bisa mengenali eomma, appa dan oppa. Dan yang lebih anehnya lagi aku benar-benar hanya melupakan kejadian dimana aku mengalami kecelakaan. Dokter mengatakan mungkin kecelakaan itu merupakan kenangan yang menyakitkan bagiku sehingga otakku menguncinya sebagai harta yang akan terbuka suatu saat nanti.

Hentikan omong kosongmu, Ahn Sena. Eomma memintamu melupakan kejadian itu. kataku dalam hati.

Mataku kembali berfokus ke jajaran jaket pria yang terlihat sangat fashionable. Jaket warna merah yang ada ditanganku ini sangat menarik perhatianku. Jaket ini akan sangat baik jika digunakan oleh pria dengan postur badan tinggi dan berkulit putih karena akan menampilkan aura maskulin dari si pria. Seketika diotakku kembali terlintas nama Oh Sehun.

“Huh, kenapa aku memikirkan lelaki itu lagi, sih” gerutuku.

Aku mengembalikkan jaket itu ditempatnya namun aku terkejut begitu berbalik dan melihat Park Jinyoung sunbae sedang menatapku dengan aneh.

“Hai, Sena,” sapanya dengan senyum mengembang dan kubalas dengan senyuman canggung. “Kenapa kau mengembalikkan jaket itu?”

Aku hanya mampu menggaruk tengkukku yang tidak gatal begitu menyadari pertanyaan Jinyoung sunbae.

“Kau marahan dengan pacarmu?” tanyanya dengan menyelidik.

“Tidak, aku tidak punya pacar,” jawabku jujur.

“Oh, kalau begitu orang yang kau sukai?” tanyanya lagi dengan nada menggoda. “Untuk informasi saja aku sudah berada disampingmu dari 10 menit dan kau hanya memandangi jaket itu lalu menggerutu soal lelaki itu.” Jinyoung sunbae menekankan lelaki itu dengan menggunakan tanda kutip dari jari-jarinya.

Aku tidak mampu mengelak lagi apa begitu terlihat.

“Aish, sudahlah sunbae. Kenapa sunbae bisa disini?” tanyaku mengganti topik pembicaraan.

“Aku mengikutimu.”

.

Author pov

Sena dan Jinyoung duduk disebuah kedai es krim. Ternyata Jinyoung melihat Sena keluar dari kedai kopi tadi dan terlihat seperti ada sesuatu yang mengganggunya sehingga ia mengikuti gadis itu.

“Hmm, ini sangat lezat terimakasih sunbae,” kata Sena sembari kembali menyendok es krim didepannya. Sedangkan, Jinyoung hanya terkekeh melihat tingkah Sena.

“Aku harusnya yang berterimakasih karena tempo hari kau sudah membantuku untuk merapikan buku di perpustakaan.”

“Itu bukan apa-apa, sunbae. Aku bersalah saat itu jadi anggap saja yang kemarin permintaan maafku,” balas Sena dengan senyuman.

.

“Terimakasih sudah mau repot-repot mau mengantarku, sunbae,” kata Sena membungkuk pada Jinyoung yang ada dihadapannya setelah keluar dari mobil pria itu. Yap, pria itu kekeh untuk mengantar Sena pulang karena hari sudah malam.

“Jadi, kau tinggal di apartemen ini dengan oppamu?”

Anggukan Sena menjawab pertanyaan dari Jinyoung. “Kalau begitu aku akan masuk sunbae,” kata Sena pamit sembari membungkuk.

Jinyoung menatap Sena yang sudah berbalik dan berjalan masuk, lalu ia teringat akan sesuatu.

“Ahn Sena!” teriak Jinyoung sembari mengejar Sena yang sudah sampai di lobi gedung apartemen itu.

Sena yang mendengar namanya dipanggil itu pun berhenti dan berbalik menatap Jinyoung dengan tanda tanya.

“Ini untukmu.”

.

Sena masih menatap horor paper bag di depannya. Ia berpikir Jinyoung akan memberi hadiah yang akan ia gunakan sendiri nyatanya tidak. Isinya dari paperbag itu adalah jaket berwarna merah di toko pakaian yang tidak sengaja ia dan Jinyoung bertemu.

“Ini untukmu, dan berikan pada lelaki yang sudah membuatmu jatuh cinta itu.”

“Isshh, aku tidak menyukainya.” Desis Sena dan berlanjut bermonolog sendiri sampai monolognya itu terputus ketika mendengar Jaehyun memanggilnya dari luar kamar dengan hebohnya.

“Ya! Cepat kemari, bantu oppa membawa Sehun kembali masuk ke kamarnya,” Sena masih belum mengerti ketika melihat Sehun dipapah oleh kakaknya itu. Perasaannya baru pagi ini Sehun bangun dari komanya dan sekarang ia sudah bisa dirawat jalan?

Melihat kakaknya yang kesusahan akhirnya ia membantu membuka pintu kamar Sehun dan setelahnya ia membantu memapah Sehun kekamarnya.

Sehun sendiri ia sama sekali tidak mengalami rasa sakit ditubuhnya sehingga ia ingin segera kembali saja ke apartemen daripada di rumah sakit. Kondisi sesungguhnya ia belum normal tapi mau bagaimana lagi toh ia sama sekali tidak merasakan sakit secara fisik.

“Oppa, bagaimana bisa ia pulang?” bisik Sena pada Jaehyun yang sedang merapikan baju Sehun ke lemari yang terletak di kamar Sehun.

“Tentu saja bisa,” jawab Jaehyun kalem.

“Issh, bukan itu, maksudku baru tadi ia sadarkan diri,” balas Sena tidak sabaran.

“Kau akan tahu sendiri,” Jaehyun mengulas senyum ketika menjawab pertanyaan Sena.

“Ahn Sena, bisakah kau membawakanku air putih? Aku haus,” Sehun yang sedang bersuara bersandar ketika melihat pemandangan gadis itu sedang mencaritahu keadaannya pada Jaehyun. Dengan segera gadis itu melangkah keluar dari kamar Sehun.

“Hyung, adikmu sungguh seseorang yang sangat ingin tahu,” desah Sehun diawal kalimatnya.

“Itu sudah gen kami,” Jaehyun menanggapi perkataan Sehun dengan tawanya yang menggelegar.

Beberapa saat kemudia Sena masuk dengan membawa air permintaan Sehun. Ia menatap Sehun saat meminum air itu. Sehun menyadari Sena menatapnya dari ujung matanya namun ia berusaha untuk tidak memedulikan keingintahuan gadis itu.

“Ehem, bajumu sudah aku bereskan tuan Oh,” kata Jaehyun yang sedang melihat Sena memandangi Sehun dengan mata memicingnya. Sehun hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda mengerti. “Aku keluar dulu, ingin membersihkan diri.”

Setelah Jaehyun menghilang dibalik pintu Sehun segera menyambar buku yang ada di nakas meja yang dekat dengan tempat tidurnya tanpa memedulikan eksistensi Sena disitu.

“Oh Sehun, aku mau bertanya dan kau harus menjawabnya dengan jujur,” kata Sena yang kesal karena lelaki Oh itu sama sekali tidak tertarik dengan apa yang akan ia bicarakan.

“Apakah–” Sena ragu melanjutkan pertanyaannya sendiri pada Sehun padahal rasa ingin tahu sudah sangat membuncah dihatinya, “ –kau kehilangan ibumu?”

Sehun menghembuskan nafas dan menutup bukunya. “Aku mengantuk, bisakah kau keluar dari kamarku?”

Sena tidak punya pilihan lain, ia mengikuti kemauan pria yang lebih tua darinya itu. Namun, sebelum itu ia berbalik, “saat kau tidak sadarkan diri kau terlihat sangat kesakitan bahkan sampai menangis dan terus memanggil ibumu, aku harap kau cepat sembuh.” Setelah itu yang terdengar hanyalah bunyi pintu yang ditutup dengan pelan.

“Ahn Sena, sebenarnya kau siapa? Mengapa kau begitu spesial?”

***

Hari ini adalah hari bermalas-malasan bagi Ahn Sena, ia masih meringkuk dikasurnya sekalipun jam dinding di kamarnya sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Rasanya, sudah sangat lama baginya untuk tidak melegakan dirinya dari rutinitas kesehariannya. Apalagi setelah semalam ia mengobrol panjang lebar dengan kakak semata wayangnya mengenai Sehun.

“Ibunya terbunuh di depan matanya sendiri.”

Kasihan sekali dia, batin Sena.

“Ia adalah satu-satunya saksi, ia sengaja tidak mengganti namanya agar si pembunuh mencarinya.” Jaehyun menerawang langit-langit ruang tengah itu. “Kau harus baik padanya Ahn Sena, ia bahkan tidak bisa merasakan sakit secara fisik dan hatinya sudah hancur berkeping-keping akibat kecelakaan 8 tahun yang lalu.”

Ya, Sena kini sudah tahu bahwa Sehun mengidap penyakit CIPA. Itulah mengapa saat menyelamatkan Sena dan pria itu tertusuk di bagian punggungnya ia sama sekali tidak menjerit kesakitan.

Tokk.. tokkk.. tokkkk…

Suara gedoran pintu itu memutus lamunan Sena mengenai pria yang memasuki pikirannya akhir-akhir ini.

“Aku lapar, cepat buatkan aku sarapan.”

.

Sena menatap jengkel Sehun yang sedang melahap sandwich dengan lahapnya. Sejujurnya, ia masih tidak mengerti bagaimana bisa kakaknya itu meninggalkannya dengan lelaki seperti dia dengannya sendirian.

“Kau tidak makan?” tanya Sehun.

Sena hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban pertanyaan pria itu. “Bahkan melihatmu makan sudah membuatku kenyang,” jawab Sena sedikit ketus.

“Baguslah jatah sarapanku bertambah.”

“Demi neptunus Oh Sehun, apa kau begitu lapar sampai menghabiskan lebih dari lima sandwich?”

Sehun dengan cueknya terus melahap makanan yang terhidang di hadapannya itu.

.

Sena pov

Aku masih menatap pintu coklat dihadapanku dan menjinjing paperbag ditanganku dengan ragu untuk mengetuk pintu kamar Sehun. Bagaimana pun juga aku harus memberikan jaket ini bukan? Aku sudah berencana untuk berkata bahwa jaket ini tidak cocok digunakan oleh Jaehyun oppa sehingga aku memberikannya pada Sehun.

Belum sampai mengetuk pintu kamar itu, pintu itu terbuka dari dalam. Pemandangan yang tersaji dihadapanku pertama kali adalah Sehun dengan rambut basah dan masih menggunakan kimono bahkan bagian atasnya terekspos karena ia tidak mengikat tali handuknya itu. aku hanya bisa menggigit bibirku dengan gugupnya.

“Apa?” tanya Sehun.

Segera saja aku berbalik, sungguh aku sangat malu melihat pemandangan di hadapanku. Aku dapat menjamin bahwa mukaku sudah merah padam.

Aku merasakan tangan melingkar diperutku saat aku hendak memutar kenop pintu kamarku sendiri.

“Mungkin kita harus ‘bermain’ sebentar bukan?” suaranya itu menggelitik telingaku, Oh Sehun mengatakannya tepat di telinga kananku.

Ia membalikkan tubuhku dan segera mencium bibirku. Aku membelalakan mataku saat merasakan bibir tipisnya itu ada diatas bibirku dan aku menjatuhkan paperbag yang berisi jaketnya itu. Lama-kelamaan bibirnya mulai bergerak diatas bibirku, aku merasa aneh pada diriku. Seharusnya aku menolak bukan menerimanya tapi.. kenapa aku tidak bisa menolaknya bahkan kini aku sudah mulai menikmatinya, mataku tertutup dan mulai membalas lumatan Sehun.

Sehun melepaskan sebentar kontak ciuman kami lalu bergumam di depan bibirku, “aku mencintaimu Ahn Sooyoung.”

.

.

.

TBC

Hai, author kembali dengan Chapter 2 dari FF nggak jelas ini. Aku yakin kalian yang baca pasti merasakan ngantuk, dll karena ceritanya membosankan. aku juga merasa seperti itu kok jadi apalagi para readers sekalian. Dan ini nggak nyambungkan sama cerita sebelumnya?

Yaudah deh, segini aja cuap-cuap saya.

Regards,

Nana Kwon

18 tanggapan untuk “See You Again – Chapter 2”

  1. Hueee hebat banget penyakit sehun. Aku kirain sehun bakalan ngerasa nyeri dikit2, taunya malah gak ngerasa sama sekali.

    Btw authornya hebat ih, bisa banget naruh momen2 dimana sehun inget sama sooyoung. Keren kerem thoorrr. Btw fighting thoorrr muah muah :*

  2. Wah sehun udah inget sama sena?
    Nama kecil ahn sena itu anh sooyoung kan?
    Kok dia bisa inget gitu aaaaaa
    Ditunggu kelanjutannya authornim~

  3. itu kok bisa sehun tiba2 bilang cinta? Siapa juga itu ahn sooyoung? Ngigo kali yak? Hahahaha
    Tp ceritanya makin seru eonn XD
    Buruan dilanjut eonn!! >.< keep writing~

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s