IN YOUR EYES [Chapter 2] ~By JAERIKIM~

in your eyes-2

IN YOUR EYES CHAPTER 2 || Author : JaeriKim @yunin96

Main Cast : Kim Jongin (EXO) ; HaeSun (OC) ; Oh Sehun (EXO) ; Myungsoo (Infinite) other ||

romance ; School Life ; Sad ; Fluff || PG-15 || Chaptered

jangan lupa baca note dibawah ^^

[chapter 1]

“Grepp.”

“Ya !!! Mwoya ? Lepaskan tanganku !!!”

Seorang yeoja yang baru saja tangannya di tarik oleh Jongin tersebut tak henti-hentinya meronta. Bukan tanpa alasan Jongin menarik tangan yeoja tersebut dan membawanya pergi begitu saja. Ia tidak ingin terjadi sesuatu yang mungkin saja bisa melibatkannya dalam masalah tersebut. Ia tidak ingin itu terjadi.

Sementara itu, yeoja yang sedari tadi berteriak, meminta agar namja yang tak ia ketahui sama sekali identitasnya tersebut masih tetap saja berusaha untuk melepas tangannya yang di genggam paksa oleh namja yang kembali masuk dalam daftar orang yang paling menyebalkan dalam hidupnya setelah Kai ataupun Jongin yang ia sebut sebagai manusia es berjalan. Dan kini ia mengecap namja yang kini tengah menariknya sebagai manusia tuli sebab namja tersebut tak menggubris sama sekali teriakan dan juga kata-katanya

Yeoja yang tak lain adalah Haesun tersebut dibuat semakin geram dengan sikap namja yang sedari tadi masih setia menggenggam tangannya, membawanya pergi dari tujuannya semula yang berniat untuk ke perpustakaan dan kini niatannya seolah gagal begitu saja oleh namja yang sama sekali tak mau menolehkan wajahnya. Dan kali ini sebuah ide melintas begitu saja di pikirannya, ia berniat untuk sedikit membusungkan badannya dan menahan laju kakinya namun yang terjadi justru sebaliknya.

“Bugh.”

Ia terpeleset dan tentu saja tangannya yang masih setia di genggam oleh namja yang belum juga ia ketahui identitasnya tersebut secara tidak langsung membuat sang namja juga ikut terjungkal ke belakang. Dan kini posisi mereka, Haesun berada di bawah dan sang namja yang sedari tadi menariknya tepat berada dia atasnya. Sontak ia terpaku begitu tahu siapa namja yang sedari tadi menariknya tersebut.

Sementara itu, sang namja yang tidak lain adalah Jongin juga masih menatap gadis yang membuatnya dalam posisi seperti ini. Deg !!! Entah kenapa pandangannya tertuju langsung pada mata gadis tersebut. Bayangan-bayangan masa lalunya terputar kembali di otaknya. Tatapan itu, ia seperti tidak asing dengan semua itu. Bahkan ia masih mengingat dengan jelas pemilik sorot mata yang selalu membuatnya merasa hangat dan juga lebih nyaman tersebut.

“S-Sang-hwa ?”

Haesun hanya bisa mengernyitkan dahinya ketika mendengar Jongin menyebutkan nama Sanghwa padanya. Dengan sekuat tenaga ia mendorong namja tersebut agar beranjak dari posisinya. Setelah berhasil, ia pun berdiri merapikan seragamnya yang sedikit terlihat kusut tersebut. Kemudian menatap tajam ke arah namja yang masih saja menatapnya dengan pandangan yang sulit di artikan.

“Namaku Oh Haesun, bukan SangHwa.”

Haesun pergi begitu saja meninggalkan Jongin yang masih tampak terdiam di tempatnya. Ia yakin jika sorot mata itu adalah milik Sanghwa. Ia masih bisa merasakan hangatnya tatapan tersebut. Tatapan mata yang selalu saja ia rindukan. Namun kali ini tatapan mata tersebut ada pada gadis lain.

“Jongin Oppa.”

Lamunannya terbuyar begitu saja setelah mendengar suara seseorang memanggil namanya. Ia segera bangkit dari posisinya, berdiri dan menghampiri seseorang tersebut yang tidak lain adalah Seojin.

“Oppa, kenapa kau ada disini ?”

“…..”

Tak ada jawaban apapun dari Jongin. pikiranya masih di penuhi dengan tanda tanya besar perihal tatapan mata yang sama antara Haesun dan juga gadis yang masih sangat ia cintai, Sanghwa.

“Oppa, gwenchana ?” Seojin kembali bertanya setelah melihat Jongin yang tak merespon pertanyaannya tadi.

“Eoh, mian Seojin-ah. Aku harus pergi.”

Jongin pergi begitu saja meninggalkan Seojin yang kini masih terdiam dalam posisinya. Seulas senyuman yang sulit diartikan terukir di wajahnya. Hingga kemudian ia memilih untuk kembali menuju kelasnya.

********

Malam yang dinantikan keluarga Oh pun tiba. Haesun, Sehun, appa dan juga eommanya kini tampak tengah menunggu kedatangan seseorang ataupun bisa jadi beberapa orang yang Tn Oh sebut sebagai keluarga rekan bisnisnya.

Tn Oh dan putranya sehun tampak terlihat gagah dengan kemeja berwarna putih dipadu dengan jas berwarna hitam. Sementara itu, Ny Oh dan juga Haesun menggunakan dress dengan warna senada pula. Ny. Oh menggunakan dress panjang tertutup berwarna putih sedangkan Haesun menggunakan dress selutut terbuka yang membuat bahu tegapnya terlihat begitu anggun di tambah dengan kaki jenjangnya yang putih membuatnya semakin terlihat cantik malam ini.

Tak berapa lama, sebuah keluarga tampak datang menghampiri meja yang sudah di pesan oleh Tn Oh tersebut. Melihat siapa yang datang, Tn Oh segera menyambut tamunya tersebut bersama dengan Ny Oh tentunya. Sementara itu, Haesun terdiam begitu melihat keluarga yang appanya maksud adalah keluarga dari namja yang sudah masuk dalam catatannya sebagai namja yang sangat menyebalkan yang pernah ia temui. Ia juga melihat sahabat baiknya ada dalam keluarga tersebut. Otaknya tampak berpikir menerawang apa yang akan terjadi selanjutnya pada acara makan malam keluarganya tersebut.

“Sehun-ie, Haesun-ie kemari nak.”

Sehun dan Haesun berdiri menghampiri appanya yang baru saja memanggil mereka untuk ikut menyambut keluarga yang masih mereka sebut dengan keluarga rekan bisnis appanya tersebut. Keduanya berjabat tangan serta sedikit membungkukkan badan pada pasangan suami istri yang kini mereka ketahui sebagai Tn dan Ny Kim tersebut.

“Aigoo, Haesun-ie neomu yeppeuda. Sehun-ie juga sangat tampan.” Ny Kim melontarkan pujiannya pada Haesun dan juga Sehun yang malam ini memang tampak begitu cantik dan juga tampan dengan apa yang mereka kenakan.

“Gamsahamnida.” Haesun dan juga Sehun menjawab secara kompak lontaran pujian yang diberikan Ny Kim pada mereka berdua.

“Jongin kemari nak, beri salam pada Tn dan juga Ny Oh.”

Dan kali ini giliran Jongin yang baru saja di panggil oleh Tn Kim, appanya untuk menyambut sekaligus memberi salam pada keluarga Oh. Ia juga meakukan hal yang sama dengan Sehun dan juga Haesun. Tak lupa Ia juga memberikan senyuman terbaiknya pada Tn dan juga Ny Oh.

“Putramu juga sangat tampan.” Sebuah pujian juga terlontar dari Tn Oh pada Jongin yang memang terlihat sangat tampan dengan setelan jas berwarna hitam dan juga snetuhan dasi kupu-kupu pada kerahnya.

“Gamsahamnida.” Jongin pun juga menjawab dengan kata yang sama dengan Haesun dan juga Sehun sembari memberikan senyuman termanisnya.

“Jonghyun-ah bukankah kau hanya memiliki putra tunggal ?” tanya Tn Oh pada Kim Jonghyun, appa Jongin setelah melihat adanya seorang gadis yang juga tampak sangat cantik menggunakan dress berwarna biru muda tersebut.

“Ah, aku lupa mengenalkannya padamu. Dia Han Seojin, aku sudah menganggapnya sebagai anakku sendiri. Jongin sangat menyayanginya.”

“Geureyo. Kajja kita mulai acara makan malam ini.” Tn Oh mengajak seluruh keluarga Kim untuk duduk pada kursi meja makan yang sudah di persiapkan sebelumnya.

Selepas perbincangan singkat tersebut, kedua keluarga hangat ini pun memulai acara makan malam mereka. Sudah tidak asing di telinga tentunya. Oh Seyoung, direktur utama sekaligus pemilik perusahaan SE Corp, perusahaan yang bergerak di bidang asuransi terbesar di Korea Selatan. Kim Jonghyun, yang juga merupakan CEO dari KJEntertainment, salah satu agensi yang terkenal dengan banyak aktor dan juga aktris yang bernaung di bawahnya. Kedua keluarga pemilik perusahaan ternama di Korea Selatan tampak menikmati hidangan yang sudah di pesan sebelumnya.

Terkecuali Haesun yang masih mencoba menerawang apa maksud dari acara makan malam ini. Pandangannya sedari tadi tertuju pada namja yang ada di depannya tersebut yang kini juga tengah menatapnya dengan tatapan yang menurutnya sangat aneh. Ia tidak suka jika harus menerawang ataupun menebak apa maksud dari acara tersebut. Pandangannya beralih menatap Seojin, sahabatnya yang justru tampak tengah tersenyum malu karena ulah oppanya.

Sementara itu, namja yang duduk tepat berseberangan dengan Haesun yang tidak lain adalah Jongin terus saja menatap gadis yang berada di depannya tersebut. Hatinya masih dilanda rasa penasaran yang teramat dalam mengenai kejadiannya di koridor sekolah siang tadi. Terlebih hal itu menyangkut Sanghwa, seseorang yang sangat ia cintai.

Acara makan malam pun selesai, dan kini kedua kepala keluarga tersebut tampak masih asik berbincang, tak jarang pula muncul gelak tawa dari kedua pasangan suami istri tersebut. Tak berapa lama Tn Oh mengambil inisiatif untuk berdiri dan terlihat seperti ingin menyampaikan hal yang sangat penting.

“Haesun-ie kemari nak.” Haesun hanya menuruti perintah appanya. Ia berjalan menghampiri appanya dan kini tengah berdiri tepat di samping appanya. Jujur saja ia sudah sangat bosan. Ia ingin acara ini segera selesai tentunya.

“Jongin, kau juga kemari nak.” Dan kini giliran jongin yang juga hanya mengikuti perintah appanya sama seperti yang Haesun lakukan sebelumnya.

“Baiklah, acara makan malam ini merupakan awal dari rencana yang sudah aku sepakati dengan Jonghyun sebelumnya bahwa kami sepakat untuk menjodohkan Jongin dengan Haesun.”

Haesun begitu terkejut mendengar pernyataan appanya baru saja. Ia menatap eommanya yang kini justru tampak tersenyum padanya. Kemudian menatap appanya tak percaya.

“Appa, mengapa begitu tiba-tiba ? Dan aku tidak mau dijodohkan.” Haesun tampak merengek kepada appanya memohon agar perjodohoan tersebut dibatalkan.

“Haesun-ie dengarkan appa, perjodohan ini sudah kami rencanakan sangat lama. jauh sebelum kau dan oppamu lahir. Kau tidak bisa membatalkannya begitu saja nak.” Tn Oh memberi sedikit pengertian kepada putrinya tersebut.

“Eomma…” Haesun berganti menatap eommanya penuh harap, akan tetapi hanya sebuah senyuman yang bisa dia artikan sebagai ‘appamu benar nak’. Baiklah ia rasa tidak ada lagi yang bisa membantunya.

“Baiklah, aku pergi.” Haesun pergi begitu saja meninggalkan acara makan malam yang menurutnya sangat konyol tersebut. Ia kesal, bahkan sangat kesal hingga ia memilih untuk menulikan pendengarannya dari appa dan juga eommanya yang sedari tadi meneriaki namanya.

Berbeda jauh dengan Jongin. Ia hanya terdiam mendengar pernyataan Tn Oh baru saja. Bahkan bibirnya serasa kaku untuk sekedar mengucapkan kalimat penolakan yang sama seperti apa yang dilakukan Haesun. Ia tahu jika hatinya juga menolak perjodohan tersebut, tapi entah mengapa tak ada satu kalimatpun yang terucap olehnya untuk menolak perjodohan tersebut.

“Jongin, kejar Haesun nak. Cuaca di luar sangat dingin. Eomma takut terjadi sesuatu padanya.”

Jongin hanya mengangguk dan menuruti perintah eommanya. Ia tampak berpamitan pada appa, eomma dan juga keluarga Oh yang tampak cemas mengkhawatirkan kepergian Haesun. Setelah itu ia bergegas mencari Haesun.

********

Haesun terus melangkahkan kakinya pergi menjauh dari tempat yang mulai malam ini ia cap sebagai tempat keramat untuknya. Bahkan ia bersumpah tidak akan pernah mau datang ke tempat yang membuatnya harus ada dalam perjodohan gila tersebut. Ia terus saja berjalan tanpa tujuan dan hanya mengikuti kemana langkah kaki akan membawanya.

“Wushh”

Baiklah sifat cerobohnya sekali lagi tak ia tinggalkan. Ia merutuki dirinya sendiri yang tak mengenakan cardigan ataupun blazer setidaknya untuk mengurrangi rasa dingin yang kini mulai menusuk bahkan sampai ke dalam tulangnya. Bagaimana ia tidak kedinginan jika saat ini yang ia pakai adalah dress di atas lutut terbuka yang menampilkan bahu tegapnya. Berulang kali ia mengusap kedua tangannya guna mendapatkan sedikit kehangatan, namun ia rasa percuma. Ia masih saja merasa sangat dingin. Dan ia kembali merutuki dirinya sendiri yang meninggalkan tas nya yang berisikan ponsel dan juga dompetnya di restoran tersebut.

“Oh ayolah, mimpi apa aku semalam. Kenapa aku sangat sial hari ini ?”

Ia berjalan tanpa arah tujuan mengingat ia memang tidak tahu daerah tempat ia berada saat ini. Kali ini ia memilih untuk berhenti di sebuah pemberhentian bis. Ia sedikit memijat pelan kakinya yang mulai merasa pegal karena berjalan lumayan jauh dari restoran tempat ia berada sebelumnya. Ia menyandarkan kepalanya pada sebuah bangku yang biasa orang-orang gunakan untuk menunggu datangnya bis. Perlahan ia mulai memejamkan kedua matanya berharap dengan seperti ini ia bisa mengurangi rasa dinginnya.

“Bugh”

Ia mendengar suara seseorang menutup mobil yang tak jauh darinya. Tentu saja ia memilih untuk tidak memperdulihan hal tersebut. Dan kini ia mendengar suara langkah kaki berjalan menghampirinya. Rasa takut tiba-tiba saja menyelimuti hati dan pikirannya. Terlebih keadaan halte tersebut kini tengah sepi, tak ada satupun yang hendak menunggu kedatangan bis. Sepertinya akan lebih baik jika ia terus dalam posisi seperti ini. Berpura-pura tidur. Namun sepertinya seseorang tersebut tak menyerah dan justru semakin mendekatinya.

“Grepp”

Ia membuka matanya begitu saja merasakan ada seseorang yang memakaikan jas untuknya. Ia terkejut begitu mengetahui sosok yang baru saja meletakkan jas pada bahunya guna mengurangi rasa dingin yang semakin menusuk tulangnya tersebut.

“Neo ? Bagaimana kau tahu aku ada disini ? Kau mengikutiku ?”

“…..”

Sementara itu seseorang yang ia lempar dengan pertanyaan bertubi-tubi hanya memasang wajah datarnya sembari terus berdiri menatapnya. Hal itu semakin membuatnya tidak salah jika memanggil sosok yang ada di depannya itu sebagai manusia es berjalan.

“Aku lupa jika adalah manusia es. Mau apa kau kesini ?”

“…..”

“Grepp”

Dan sekali lagi sosok ia sebut sebagai manusia es itu kembali tak menjawab pertanyaannya dan kini justru menarik tangannya begitu saja. Membawanya masuk ke dalam mobil. Dan pada detik berikunya seseorang yang baru beberapa waktu yang lalu ia dengar akan dijodohkan dengannya tersebut telah berada di sampingnya. Memasangkan seat belt untuknya. Setelah itu terdiam begitu saja menatap lurus ke arah jalanan yang tampak sepi tersebut.

Haesun semakin heran dengan tingkah laku manusia yang berada di sampingnya tersebut. Bagaimana ia tidak heran jika namja yang kini berada di sampingnya tersebut kembali diam setelah apa yang dilakukannya. Dan yang semakin membuatnya heran adalah namja tersebut tidak melajukan mobilnya sama sekali.

“Aku heran denganmu. Apa kau hanya bisa diam dan berwajah dingin seperti itu ?”

“…..”

Dan untuk kesekian kalinya namja tersebut tidak merespon sama sekali pertanyaan yang ia lontarkan. Rasa geram pun mulai tumbuh dalam hatinya. Ia mencoba untuk membuat namja yang ia cap sebagai manusia es tersebut menjawab pertanyaannya, sekalipun hanya satu kata setidaknya ia tahu jika manusia es tersebut hidup.

“Kenapa kau tidak menolah perjodohan itu ?” Haesun bertanya tampa melihat sedikitpun wajah namja yang ada di sampingnya yang tanpa sepengetahuannya kini tengah menoleh menatapnya.

“Karna aku tidak ingin.” Namja yang tidak lain adalah Jongin tersebut akhirnya mengeluarkan suaranya dan kembali menatap lurus ke arah depan.

Haesun sontak menolehkan kepalanya begitu saja. Ia tidak percaya jika namja es tersebut menjawab pertanyaannya. Bukan karna itu saja, yang lebih membuatnya tidak percaya adalah jawaban Jongin yang membuatnya semakin geram tentu saja. yang ia harapkan adalah Jongin juga menolak perjodohan tersebut, akan tetapi yang ia dengar justru sebaliknya.

“Baiklah dengarkan aku. Kau manusia es, jangan kau pikir aku mau dijodohkan denganmu. Aku masih belum memberikan jawaban pasti. Jadi perjodohan itu bisa saja dibatalkan.” Haesun tersenyum bangga setelah ia berhasil mengatakan semua penolakannya terhadap perjodohan konyol kedua orang tuanya.

“Kau salah. Akulah yang menentukannya.” Jongin kembali berucap dengan ekspresi wajah datarnya.

“Mwo ? Bagaimana bisa begitu ? Itu tidak adil.” Haesun mebulatkan matanya begitu sja mendengarkan pernyataan Jongin.

“Sudahlah. Belajarlah untuk menjadi anak yang menurut perintah orang tua. Jangan seperti anak kecil.”

Haesun semakin kesal. Bahkan sangat kesal. Ia hanya bisa menggerutu. Jujur saja ia lelah jika harus berdebat dengan manusia es seperti Jongin. Ia lebih memilih mengalah dan tidak lagi menjawab peryataan Jongin. Ia tahu jika jawaban yang akan diberikan namja tersebut hanya akan membuatnya menahan emosinya saja. Ia memilih untuk menyandarkan kepalanya dan menatap ke arah samping sembari melihat kerlip lampu yang bertebaran di kota Seoul, mengingat Jongin sudah mulai melajukan mobilnya.

********

Suasana makan malam yang awalnya penuh dengan kehangatan kini sedikit berubah karena kejadian dimana Haesun pergi begitu saja meninggalkan acara makan malam tersebut, kemudian Kai yang juga iku pergi karena menyusul Haesun. Dan mereka semua pun memutuskan untuk segera mengakhiri acara makan malam tersebut.

“Jonghyun-ah, aku minta maaf atas sikap Haesun yang seperti tadi.” Tn Oh mengucapkan segala rasa bersalahnya atas sikap Haesun yang seolah menolak begitu saja perjodohan tersebut sembari menjabat tangan sahabat sekaligus rekan bisnisnya tersebut.

“Gwenchana, mungkin Haesun sedikit terkejut karena kita tidak memberitahukan rencana itu sebelumnya.” Tn Kim berucap bijak menanggapi suasana yang ada saat ini.

“Hmm. Aku dan istriku akan berusaha membujuknya.” Jawab Tn Oh sembari merangkul dan tersenyum kepada istrinya singkat.

“Jangan terlalu memaksanya. Secara perlahan saja. Sebaiknya kita segera kembali ke rumah. Aku berharap Jongin dapat menemukan Haesun.” Ujar Tn Kim yang kini sudah menggandeng istrinya dan bersiap untuk pulang.

“Bolehkan saya mengantarkan Seojin pulang ?” Kali ini Sehun yang berucap. Dan ia berhasil membuat Tn Kim tersenyum untuk kesekian kalinya dan di hadiahi dengan anggukan sebagai jawaban pasti.

“Tentu saja Sehun-ah. Geure, Han Seojin kau diantar Sehun ne ?” Tn Kim berucap sembari menatap wajah Seojin yang sedikit merona dengan apa yang dilakukan Sehun baru saja.

“Ne, abeonim. Anda hati-hati di jalan.” Jawab Haesun sembari membungkukkan badannya singkat.

Setelah itu, Tn Kim keluar dari restoran tesebut bersama istrinya diikuti dengan Tn On dan juga bersama istrinya untuk pulang menuju kediaman mereka masing-masing. Meninggalkan Sehun dan juga Seojin yang kini tampak terdiam. Entah mengapa suasana canggung justru menyelimuti mereka.

“Kajja, aku akan mengatarkanmu pulang.” Sehun memilih untuk memulai pembicaraan. Ia mengulurkan tangannya begitu saja yang sontak mendapat tatapan bingung dari yeoja yang kini tepat berada di depannya tersebut.

“Eoh, n-ne oppa.” Seojin sedikit terkejut dengan perlakuan Sehun padanya. Dengan sedikit ragu ia membalas uluran tangan tersebut yang secara langsung tangannya di genggam oleh Sehun. Ia berjalan beriringan dengan Sehun, entah mengapa ia merasa sangat gugup ketika berada di samping namja yang kini tengah menggenggam tangannya tersebut. tanpa sadar seulas senyuman tersungging manis di bibirnya.

********

Jongin memberhentikan mobilnya tepat di depan sebuah rumah yang bisa di bilang cukup mewah atau bahkan sangat mewah. Sebuah rumah dengan halaman yang cukup luas dengan cat berwarna gold yang semakin menambah kesan mewah pada rumah tersebut. dan jangan lupakan desain ala Eropa yang begitu kental pada struktur bangunannya.

Pandangannya beralih pada yeoja yang kini tampak tertidur pulas di sampingnya. Entah mengapa perasaannya menghangat begitu melihat yeoja tersebut tidur begitu damai. Tanpa terasa ia tersenyum singkat menatap yeoja yang tidak lain adalah Haesun. Ia masih ingat betul bagaimana pertemuan pertamanya dengan Haesun, jauh dari kata baik bahkan sampai menimbulkan kesan sangat buruk bagi Haesun.

Ia sedikit mendekatkan dirinya pada Haesun yang saat ini masih tertidur dengan lelapnya. Menatap setiap lekuk wajah gadis tersebut. Ia akui, Haesun memang sangat cantik. Tetapi buka itulah yang membuatnya penasaran. Mata. Mata Haesun lah yang membuatnya semakin penasaran dengan gadis tersebut. Pertama kali ia melihat mata tersebut, ia seolah melihat gadis yang sampai saat ini masih sangat berarti untuknya.

“Sebenarnya siapa kau ini ? mengapa aku justru mengenalmu sebagai masa laluku ?”

Jongin berucap pelan sembari terus menatap Haesun yang sekali lagi tak terusik sama sekali dari tidurnya. Perlahan ia melepaskan seat belt yang masih terpasang pada tubuh Haesun. Ia keluar dari mobilnya kemudian beralih pada sisi lain mobilnya. Membuka pintu mobil tersebut kemudian sedikit membungkukkan badannya dan beberapa detik kemudian ia kembali keluar dari mobilnya dengan Haesun yang berada pada gendongannya.

Ia melangkahkan kakinya berjalan menuju pintu rumah tersebut. Dan untuk masalah bagaimana ia bisa tahu alamat rumah gadis yang ada dalam gendongannya tersebut, tentu saja karena Sehun. Dan tak butuh waktu lama ia sudah sampai tepat di depan pintu rumah tersebut. Baru saja ia berniat untuk menekan bel, pintu tersebut terbuka dan menampakkan Ny Oh yang kini sedikit terkejut dengan apa yang dilihatnya.

“Eoh Jongin ? astaga Haesun-ie. Aishh anak ini selalu saja merepotkan. Sehun-ie !!!” Ny Oh tampak sedikit berteriak memanggil Sehun. Teriakan eomma Haesun tersebut tak juga membuat Haesun bangun dari tidurnya. Tak lama kemudian Sehun datang menghampiri eommanya. Dan seperti eommanya, Sehun juga sedikit terkejut dengan apa yang dilihatnya saat ini.

“Jongin-ah bagaimana kau bisa bersama Haesun ?” Baiklah sepertinya Haesun memang benar jika Sehun juga memiliki watak tak jauh dengannya. Bahkan ia lupa jika Jongin pergi untuk mencari Haesun saat makan malam yang kurang dari 1 jam yang lalu selesai.

“Kau ini banyak bicara Sehun, cepat ambil alih Haesun. Kasihan Jongin, pasti dia lelah menggendong adikmu itu.” Ny Oh memerintahkan Sehun untuk menggantikan Jongin menggendong Haesun. Dan dengan malas Sehun mengambil Haesun dari gendongan Jongin dan membawa adiknya tersebut ke kamarnya.

“Aigoo, mianhae jika Haesun merepotkanmu ne. Masuklah terlebih dahulu, aku membuatkan coklat hangat untukmu.” Ny Oh tampak melihat raut wajah yang sedikit lelah dari Jongin.

“Gamsahamnida eommonim, tidak perlu repot-repot. Saya harus segera pulang. Appa dan eomma pasti sudah menunggu.” Jongin menolak dengan halus tawaran Ny Oh padanya kemudian membungkukkan badannya pada eomma Sehun tersebut.

“Geureyo, hati-hati di jalan ne. Sekali lagi terima kasih karena sudah mengantarkan Haesun pulang.” Ny Oh memeluk Jongin kilas kemudian tersenyum menatap namja yang ia harapkan menjadi calon mantunya tersebut.

“Ne eommonin.” Jongin kembali membungkukkan badannya dan tersenyum kepada Ny Oh. Setelah itu ia melangkahkan kakinya menuju mobilnya dan bergegas pulang menuju rumahnya.

********

Pagi harinya, Haesun sama sekali tak bersemangat untuk sekedar mengisi perutnya dengan nasi goreng ataupun roti panggang buatan eommanya. Terlebih saat ini hanya ia dan eommanya yang tersisa di meja makan, mengingat appa dan juga oppanya sudah berangkat terlebih dahulu. Pikirannya masih saja tertuju pada kejadian semalam. Ia berharap jika itu semua hanyalah mimpi, tapi melihat suasana yang ada saat ini membuatnya harus menerima kenyataan jika itu semua nyata dan bukan mimpi.

“Haeseun-ie kenapa kau tak sarapan nak ? Apa mau eomma buatkan omelet ?” Ny Oh mendekati putrinya yang kini tampak sangat murung tersebut. Tentu saja ia tahu apa yang membuat putrinya seperti ini.

“Apa kau masih memikirkan masalah kemarin malam hmm ?” Ny Oh kembali bertanya pada putrinya sembari memilih duduk tepat di samping Haesun dan juga mengusap kecil rambut panjang putrinya.

“Eomma kenapa harus aku ? Kenapa bukan Sehun oppa ?” Kali ini Haesun menatap eommanya penuh harap.

Ny Oh tersenyum kilas, kemudian memegang tangan putri yang teramat ia cintai tersebut. Tangannya terulur menyibak beberapa helai rambut Haesun yang sedikit menutup matanya. “Haesun-ie dengarkan eomma ne, appamu dan Jonghyun ahjusshi sudah bersahabat sangat lama, bahkan sejak mereka masih kecil. Appamu dan juga Jonghyun ahjusshi pernah berjanji jika suatu saat jika mereka memiliki anak, mereka akan menjodohkannya. Dan suatu saat mereka harus berpisah karena appamu yang harus pindah mengikuti harabeoji yang saat itu sedang ada proyek besar di Busan. Hingga beberapa waktu yang lalu appa dan juga Jonghyun ahjusshi bertemu kembali berkat sebuat pertemuan besar yang di adakan di Myeongdong. Awalnya appamu juga ingin yang berada di posisimu saat ini adalah oppamu. Tapi setelah appamu tahu jika Jongin adalah anak tunggal, maka dari itulah kau yang harus melakukannya.”

“Tapi mengapa harus aku eomma ?” Ny Oh kembali tersenyum menanggapi pertanyyan putrinya tersebut. Sebenarnya ia sendiri juga tidak tega melihat putrinya yang biasa ceria kini tampak begitu murung, bahkan ia melihat mulai ada bendungan air mata pada pelupuk mata putrinya.

“Karena hanya kau nak putri appa dan eomma. Selama ini appa dan eomma selalu menuruti apapun kemauanmu. Bisakah kau mengabulkan permintaan appa dan eomma yang satu ini ? Hanya satu. Appa dan eomma tidak akan pernah meminta apapun darimu.” Ny Oh kembali meyakinkan putrinya yang kini sudah nampak terisak.

“Aku akan memberikan apapun yang appa dan eomma minta, bahkan nyawaku sekalipun. Tapi bisakah aku menolak yang satu itu ?” Haesun masih terus berharap jika perjodohan yang menurutnya sangat konyol itu bisa dibatalkan.

“Dengarkan eomma nak. Jika eomma bisa melakukan suatu hal untuk membatalkan perjodohan tersebut maka eomma akan melakukannya untukmu. Apapun itu, bahkan eomma rela jika harus menangis darah untukmu. Tapi eomma tidak bisa melakukan apapun saat ini. Appa dan eomma ingin yang terbaik untukmu. Bisakah kau percaya pada pilihan appa dan eomma ?” Ny Oh kembali meyakinkan hati putrinya. Ia berharap Haesun bisa mengerti dan paham dengan apa yang ia maksud. Jauh dalam lubuk hatinya ia tidak ingin melihat putrinya dalam tekanan seperti ini. Tapi kembali ia juga ingin melihat putrinya bahagia.

“Eomma, mianhae.” Haesun menghambur ke dalam pelukan eommanya begitu saja dan tentu saja disambut dengan hangat oleh eommanya.

“Maaf untuk apa hmm ?” Tanya Ny Oh sambil tangannya mengusap pelan punggung putri kesayangannya tersebut.

“Aku menyayangi appa dan eomma. Aku akan berusaha menerimanya.” Jawab Haesun yakin. Ia melakukan ini semua tentu saja demi appa dan juga eommanya. Entah mengapa ia teringat perkataan Jongin kemarin malam. Perlahan ia melepas pelukannya pada eommanya. Kemudian tersenyum menatap eommanya yang kini juga tengah tersenyum kepadanya.

“Eomma juga menyayangimu. Tunggu sebentar ne.” Haesun hanya mengangguk menatap eommanya yang kini tampak tengah menyiapkan seseuatu. Tak lama kemudian ia kembali membawa sebuah kotak bekal berwarna ungu muda.

“Eomma tahu kau sudah sangat terlambat. Eomma bawakan ini untukmu. Jangan lupa dimakan ne.” Ny Oh memasukkan kotak bekal tersebut ke dalam tas Haesun.

“Gomawo eomma. Aku berangkat.” Haesun segera berangkat menuju sekolahnya, tak lupa mencium pipi eommanya sebelum berangkat. Dan kemudian seperti biasa, ia harus berlari mengejar waktu yang terasa semakin sempit untuknya.

********

Suasana tampak begitu ramai di Seoul International High School, mengingat saat ini adalah jam istirahat. Banyak siswa yang berlalu lalang pada koridor atapun lorong sekolah untuk menuju kantin, tak jarang pula yang memilih hal lain selain menghabiskan waktu istirahat hanya untuk sekedar mengisi tenaga pasca mengikuti pelajaran yang menguras pikiran dan juga isi perut seperti dengan bermain basket, ataupun membaca buku di perpustakaan.

Dan disinilah Jongin saat ini. Menyendiri di gedung bekas aula yang terletak di paling ujung utara sekolah. Aula tersebut terletak di lantai 3. Tak banyak yang datang ke tempat tersebut setelah gedung aula sekolah pindah pada bangunan baru yang terletak di ujung barat tepat di sebelah ruang seni yang juga biasa ia datangi untuk berlatih dance.

Ketenanganlah. Hanya itu yang Jongin butuhkan saat ini. Sama halnya dengan Haesun. ia masih terbayang-bayang dengan rencana perjodohan kedua orang tuanya tersebut. Bukan hanya hal itu saja yang mengganggu pikirannya. Haesun. Lebih tepatnya mata Haesun. Ia terus saja memikirkan tatapan yang berhasil membuatnya memutar kilas balik masa lalunya. Ia merasa jika tatapan mata itu bukan hanya mirip bahkan sama persis dengan seseorang yang sampai saat ini terus bergelayut di pikirannya.

“Kenapa tatapan itu begitu sama ?”

Sesekali ia berguman kecil menanggapi setiap masalah yang begitu mengganggu pikirannya. Ribuan kali ia mencoba untuk mengelak jika tatapan mata Haesun dan Sanghwa berbeda, yang ada hanyalah sebah kenyataan yang justru berkebalikan dengan apa yang ia inginkan. Kini beban pikirannya bertambah satu dengan perjodohan yang dilakukan orang tuanya. Dan ia tak berucap sepatah katapun untuk menolak perjodohan tersebut. Sangat aneh tentunya. Baru kali ini ia merasa jika hati dan juga pikirannya tak sejalan.

********

Berbeda dengan Jongin, Haesun saat ini tengah menikmati roti panggang buatan eommanya di salah satu bangku taman sekolahnya. Ia akui cacing-cacing di perutnya sudah mulai memberontak sejak ia menginjakkan kaki di sekolahnya pagi tadi. Ia tidak sendiri, tentunya di temani dengan sahabat terbaiknya Han Seojin yang juga tampak menikmati nasi goreng buatannya sendiri. Tak butuh waktu lama kedua sahabat tersebut kini sudah selesai dengan acara sarapan pagi mereka yang tertunda.

“Haesun-ah.” Seojin memilih untuk memulai percakapan diantara mereka setelah selesai makan.

“Ne, ada apa ?” Jawab Haesun sembari berusaha membuka tutup botol air mineralnya.

“Masalah perjodohan itu, apa kau menerimanya ?” Tanya Seojin sedikit ragu dengan apa yang ingin ia tanyakan pada sahabatnya itu.

“Hmm. Bisakan kau merahasiakannya. Kau satu-satunya sahabatku yang tahu akan hal ini.” Jawab Haesun yang disertai dengan wajah penuh harapnya.

“Kau tidak perlu khawatir tentang itu. Lalu, bagaimana dengan Myungsoo oppa ?” Seojin kembali bertanya. Dan kali ini ia merutuki dirinya sendiri membuat pertanyaan bodoh yang membuat sahabatnya itu tiba-tiba terdiam sembari menundukkan kepalanya.

“Mianhae Haesun-ah, aku tidak bermaksud…”

“Entahlah, aku masih belum memikirkannya. Kemungkinan terburuk yang ada hanyalah aku harus mengakhiri hubunganku dengannya.” Sela Haesun memotong perkataan Seojin, kemudian menatap wajah sahabatnya tersebut yang kini tampak merasa bersalah dengan pertanyaannya.

“Ya ! Kenapa wajahmu seperti itu ? Sudahlah, aku tak ingin menbahasnya lagi.” Jawab Haesun santai. Sejujurnya hanya mulutnya saja yang bisa berkata dengan santainya. Tetapi hati dan pikirannya saat ini jauh dari kata santai tentunya.

“Bagaimana hubunganmu dengan Sehun oppa ?” Tanya Haesun mencoba mengalihkan topik pembicaraan mereka.

“M-mwo ? Apa maksudmu ?” Seojin sedikit gelagapan menanggapi pertanyaan Haesun yang justru mengarah padanya.

Haesun terkekeh geli melihat ekspresi sahabatnya yang kini mulai salah tingkah. “Aishh kau ini, bukankah kau kemarin Sehun oppa yang mengantarmu pulang ?”

“Dari mana kau tahu ?” Seojin sedikit membulatkan matanya, ia terkejut saat Haesun mengetahui jika semalam Sehun lah mengantarnya pulang.

“Sepertinya kau mulai tertuiar virus pelupaku. Tentu saja aku tahu, kau lupa jika namaku Oh Haesun, adik dari Oh Sehun.” hal itu tentu saja berhasil membuat Seojin sedikit memukul kepalanya dan di hadiahi kekehan geli Haesun.

“Sudahlah, aku tidak akan menanyakan hal itu lagi. Aku tidak mau pipimu itu semakin merah. Kajja kita kembali ke kelas. Sebentar lagi pasti bel berbunyi.” Haesun beranjak dari posisinya dan diikuti Seojin yang masih berusaha menyembunyikan semburat merah di pipinya.

********

Tak terasa semua pelajaran yang sangat melelahkan di hari Senin pun telah usai. Semua siswa pun mulai berhamburan keluar dari kelas mereka untuk pulang menuju rumah bereka, tak jarang pula yang masih berada di sekolah sekedar untuk mengikuti beberapa ekstrakurikuler yang ada.

Tak terkecuali Jongin. Namja berkulit tan tersebut kini baru saja memasuki sebuah ruangan kedap suara yang lumayan luas yang biasa ia gunakan untuk melatih kembali gerakan dance nya. 2 tahun belakangan ini ia sama sekali tak pernah menggeluti hal yang sudah menjadi hobinya tersebut. Setalah ia mengganti seragamnya dengan kaos berwarna hitam polos yang ia padukan dengan jaket abu-abu miliknya tak lupa juga dengan celana panjang warna senada dengan kaosnya.

Tak lama kemudian terdengar suara alunan musik yang mulai menggema memenuhi ruangan tersebut. Perlahan tapi pasti, ia mulai meliuk-liukkan tubuhnya sesuai dengan irama dan juga hentakan musik yang ada. Ia begitu menikmati setiap gerakan dan juga irama musik yang silih berganti mengiringinya. Bahkan ia sampai tak menyadari jika ada seorang namja yang kini tampak terdiam mengamatinya. Namja tersebut tampak sedikit takut melihatnya.

Hingga tak lama kemudian musik pun berhenti. Jongin terduduk begitu saja, tak lupa ia meluruskan kedua kakinya sembari terus menetralkan nafasnya yang memburu. Keringat pun tak hentinya mengucur di bagian pelipis wajahnya. Bukan hanya itu saja, kaos yang ia gunakan nampak basah hingga merembes pada jaket yang ia gunakan. Tangannya beralih membuka tutup botol mineral yang sengaja ia bawa sebelumnya, tak butuh waktu lama ia segera meneguk air mineral tersebut guna menghilangkan rasa dehidrasi yang mulai menggerogoti tenggorokannya. Dan kini ia beralih menatap namja yang sebenarnya sudah ia tahu keberadaanya saat ia sedang sibuk menggerakkan tubuhnya dan tak sengaja pandangannya menatap namja tersebut.

“Kenapa kau hanya diam ? Bukankah kau kesini juga untuk berlatih ?” Tanya Jongin pada namja tersebut dengan nada yang ia buat sebiasa mungkin.

“Hmm. T-tentu saja.” Namja tersebut tampak sedikit gugup menanggapi pertanyaan Jongin. Ia berusaha menutupi rasa gugupnya dengan berjalan acuh melewati Jongin begitu saja.

“Kau takut ?” Namja itu menghentikan langkahnya begitu saja saat ia mendengar sebuah pertanyaan menyangkut hal yang sedari tadi ia pikirkan saat bertemu Jongin.

“Apa yang harus aku takutkan ?” Namja berlesung pipit tersebut berusaha setenang mungkin menanggapi pertanyaan dari seseorang yang saat ini memegang kartu As nya.

“Kalau begitu, tunjukkan dan jangan bersikap seolah kau takut.” Jongin sedikit menekan kalimatnya pada kata terakhirnya. Ia mengambil tas nya setelah itu pergi begitu saja meninggalkan namja yang masih terdiam pada posisinya tersebut. Ia tersenyum tipis tapi syarat akan kemenangan untuknya. Entah mengapa ia seperti ini. Seolah ingin namja yang ia hadapi baru saja mendapatkan balasan yang setimpal atas apa yang ia lakukan di lorong bawah tangga beberapa waktu yang lalu.

“Ceklek”

Baru saja ia membuka pintu, pandangannya langsung tertuju pada seorang yeoja yang juga nampak terkejut melihatnya. Tatapan itu. Astaga jantungnya tiba-tiba berdetak lebih kencang ketika melihat mata itu.

Sementara itu sang yeoja yang tidak lain adalah Haesun tampak bingung dengan Jongin yang kini menatapnya dengan tatapan yang sangat sulit diartikan. Bahkan namja yang ia sebut sebagai manusia es tersebut tak berkedip sama sekali melihatnya. Baiklah siapapun tahu jika ia termasuk siswi yang pupoler di kalangan siswa di sekolah. Tapi ia rasa bukan karena itu Jongin menatapnya.

“Ya !!! Kenapa kau menatapku seberti itu ?” Perkataan Haesun yang bisa di bilang sedikit berteriak tersebut berhasil membuyarkan lamunan Jongin.

“Aishh manusia es ini. Bisakah kau minggir ? Aku ingin masuk.” Haesun berkata sembari berusaha mendorong tubuh namja yang lebih tinggi darinya tersebut. Akan tetapi usahanya gagal begitu Jongin menggenggam tangannya dan justru membawanya pergi dari tempat itu.

“Ya !!! Lepaskan tanganku !!!” Jongin mengabaikan teriakan Haesun yang mungkin bisa saja merusak gendang telinganya. Ia juga mengabaikan rasa sakit dari pukulan-pukulan kecil yang Haesun berikan pada lengannya. Ia terus berjalan, tangannya pun masih menggenggam erat tangan yeoja yang masih saja merengek seperti anak kecil yang tengah diculik. Namun sekali lagi ia menulikan pendengarannya. Hingga langkahnya berhenti begitu ia tiba di depan sebuah mobil mewah berwarna biru aqua. Tak lupa ia juga melepaskan tangan Haesun dari genggamannya.

“Ya !!! Kenapa kau membawaku kesini ? Aku belum ingin pulang. Aku sudah janji dengan Myung-hhmmpp…”

TBC…

Hai readersdeul ^^
makasih untuk readers yang setia membaca dan koment ff ini, meski ff ini masih banyak kekurangan. sebelumnya aku mau minta maaf karena update yang lama dan belumbisa balas koment readers semua 🙂 tapi, di chapter ini aku bakal usahain balas koment kalian 😀
aku harap responnya akan lebih baik dari sebelumnya.
memang tidak dipungkiri chapter awal belum jelas cerita apa yang akan dibahas. tapi, setidaknya biasakan untuk meninggalkan jejak. sebenernya aku atau bahakn semua author nggak suka kalo respon meledak pas mau diprotecatau pas diprotec malah.
aku selalu menunggu dukungan kalian. gomawo *bow saranghae

20 tanggapan untuk “IN YOUR EYES [Chapter 2] ~By JAERIKIM~”

  1. AAh kalau aku dijodohin ma jongin si ga bakal nolak deh (ditamparmafansjongin), tapi suka banget pas tau kalau yang dijodohin ma haesun adalah jongin meskipun manusia es tapikan ganteng hehe ^^
    Haesun mirip ma sanghwa? Kok bisa penasaran! Semangat thor!

  2. Oohh kai sama haesun di jodohin di chapter 2 ini sepertinya saya bisa menebak nebak tapi gak pasti. Baiklah dari pada sok tau mending aku izin baca next chapter. Tapi saya penasaran siapa orng yg masuk keruang dance trus kai sama haesun itu lagi ngapain ya apakah jawaban saya bakalan sama di next chapter. Author fighting

  3. Chapter 2.. Kerasa banget feelnya kayak chapter 1.. Sempet bayangin kalo jongin jadi suaminya haesun.. terus Sehun sama seojin. 😀 .. Bingung mau coment apalagi.. speechless.. soalnya Keren banget .. next.. fighting!!!!

  4. Haesunnyaa diapain tuh sama jongin?? Aaaahhh.. Lanjut ya authorrr… Katanya hari ini chap 3 nyaa mau di publish.. Ditunguuuu thor… 😀 fighting fighting (y) ({})

  5. Ahirr ny d post jgaa…
    Waaaaa jongin d jdohin sama
    ..haesunn xixixi…

    Ehhhh y jongin apa yg kmu lkukn eoh….jongin ngpain y kira”…

    Chingu ttp smngt y buat next chapter ny…
    Slalu d tunggu
    Fighting ❤ ^_^ ^^ :3

  6. Akhirnya di post juga 😀 itu haesun di apain sama kai pas di dpn mobil wkwk penasaran…
    Next ya thor,kalo bisa jan lama2 😦
    Keep writing thor ❤ hwaiting !

  7. Aaaaa Kai dijodohin sama Haesun yee !!!! Omo itu Kai ngapain pas sampe didepan mobil ? *hehehe
    Lanjut chapter 3 !! Semangat terus ya ka ^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s