The Arrow #1

The arrow

The Arrow – First Day

Kim Sohyun, Kim Kai, Byun Baekhyun.

By Cca Tury

Previous: Prologue

Sohyun menggigit bibirnya, bahkan sebuket bunga di tangan agak diremas karena dia sangat gugup. Setelah apa yang dilakukannya kemarin, Sohyun yakin dia akan mendapat omelan panjang dari orang di dalam sana yang akan ditemuinya. Tapi Sohyun mencoba tenang, dia menghela nafas panjang menghimpun keberanian, lalu kemudian membuka pintu ruangan putih yang di kunjunginya.

“Bu, aku datang.” Dia tersenyum menyapa wanita setengah baya yang bersandar pada bantal di atas ranjang ruangan putih itu. Wajah wanita itu tampak pucat, badannya sudah terlihat sangat kurus sehingga baju seragam rumah sakit sangat longgar di badannya, dan kepalanya ditutupi semacam beanie khas pemberian rumah sakit. Kemoterapi yang berlebihan membuat wanita setengah baya itu hampir kehilangan rambut di kepalanya.

Meski dengan keadaan yang bisa dikatakan sangat parah seperti itu, wanita itu tetap tersenyum menyambut Sohyun dengan sebuket bunga di tangan. Begitulah seharusnya seorang ibu, dia tidak boleh terlihat sedih di depan anaknya walau dengan keadaan yang seperti apapun. Ibu ingin selalu terlihat kuat dan sehat di depan anaknya, “Oh, kau datang? Bagaimana kabarmu?” Ibu memeluk Sohyun dan mencium pipinya setelah Sohyun itu ganti bunga lama di nakas di samping ranjang dengan bunga baru yang dibawa.

Sohyun menarik kursi ke dekat ranjang ibu, dia tersenyum dan menjawab, “aku baik. Ibu bagaimana?” tanyanya, sebisa mungkin Sohyun menutup kesedihan yang nampak di wajahnya. Dia tidak bohong, dia ingin selalu menangis jika melihat keadaan ibu yang seperti ini. Tapi sebagai anak yang baik, dia tidak boleh menjatuhkan airmata sedikitpun di hadapan ibu, karena itu akan membuat ibu kecewa dan menyesal. Sohyun tidak ingin membuat ibu sakit hati.

“aku baik. Kemarin terapinya berjalan lancar.” Ibu menjawab dengan senyuman merekah dari bibir pucatnya.

“jangan lupa minum obatmu dan makan lah yang banyak!” nada Sohyun sedikit memerintah dan ibu mengangguk memberi respon seraya mengelus lembut kepala Sohyun.

“aku melihatmu di televisi kemarin…” ucap ibu tersenyum dan masih mengelus lembut kepala anaknya. Tapi, itu malah membuat Sohyun menggigit bibir bawahnya, dia yakin ibu akan membahas kelakuannya kemarin karena wartawan-wartawan itu dengan jelas mengambil gambar kelakuannya yang mungkin sangat laku jika dipublikasikan.

“Kenapa kau begitu?” ibu bertanya dengan nada sangat lembut namun entah kenapa menusuk Sohyun.

Sohyun berusaha tenang, dia tersenyum dan meraih tangan ibu di kepalanya, “aku tak apa, tak usah kau pedulikan berita-berita di televisi.” ucap Sohyun seraya menggenggam erat tangan ibunya.

“Medali perak tidaklah buruk, So”

“aku tahu, bu.”

“Lalu kenapa kau begitu? Hal seperti itu tak baik dilakukan oleh seorang atlet yang dipercayai masyarakat untuk membawa nama baik negara. Kau seharusnya bersyukur kepada Tuhan karena telah memberi kesempatan untukmu mendapatkan medali perak.” Kalimat rendah ibu yang sama sekali tak tampak kemarahan itu malah benar-benar menohok Sohyun. Ibu terlalu percaya Tuhan sedangkan selama ini Sohyun merasa tak pernah bersahabat dengan-Nya.

Tuhan seharusnya tidak memberikan cobaan yang terlalu berat untuknya. Sejak kecil dia terhina karena terlahir dari keluarga yang kurang pendapatan. Ayahnya bahkan bunuh diri karena dituduh mengelapkan uang perusahaan tempat ayah bekerja. Busur panah pemberian ayahlah yang membuatnya bangkit dan berusaha agar sedikit diakui oleh orang-orang. Tapi baru beberapa kali Sohyun merasa sedikit bangga, Tuhan kembali memusuhinya ketika mendengar ibunya yang divonis mengidap leukimia stadium akhir. Nah, bagaimana cara Sohyun bisa bersahabat dengan-Nya jika dia selalu ditimpa cobaan berat? Semua ini lah yang membuatnya beranggapan medali perak bukan hal yang patut disyukuri.

“So, kau seharusnya—“

“Aku mengerti, bu. Jadi kumohon berhentilah mengomel.” Malas mendengar ocehan ibu lebih lanjut, Sohyun memotong kalimat ibu. “Lebih baik ibu beristirahat daripada mengomeliku.” Tambah Sohyun sembari membantu ibu berbaring di ranjangnya. Ibu hanya bisa tersenyum, anaknya memang sedikit keras kepala.

“Hei So, apa kau akan mengabulkan permintaan ibu?” Ibu menahan tangan Sohyun yang akan menjauhinya. Mau tak mau kembali Sohyun duduk di kursinya.

Sohyun mengangguk, “Apapun yang kau minta akan kulakukan.”

“Berjanjilah. Ibu tidak akan bicara padamu jika kau mengabaikannya.”

Sohyun mengangguk dan berkata, “iya bu, jadi apa permintaanmu?” Sohyun penasaran.

“Kembalikah ke sekolah. Kau sudah berada di tingkat akhir. Ibu ingin kau lulus SMA, So. Jangan hanya karena kau sibuk dengan latihan dan bertandingan di sana sini, kau lupa sekolah. Ibu tak ingin kau menjadi seperti ibu yang tak berpendidikan sama sekali.” Kali ini nada ibu menjadi sedih. Sohyun tidak suka itu. Jika kemudian ibu tiba-tiba menangis, Sohyun tidak akan memaafkan dirinya sendiri.

“Kembalilah ke sekolah, So.”

Jika bicara tentang sekolah, mungkin ini sudah masuk bulan kedua setelah liburan kenaikan kelas yang lalu. Karena kesibukannya untuk pertandingan antar Asia, Sohyun melupakan sekolah. Sejak liburan kenaikan kelas, dia sama sekali belum masuk kembali ke sekolahnya. Dia bahkan tak tahu kelas yang mana yang ia berada di tingkat akhir ini.

“Kau sudah berjanji, So. Kau tidak bisa melanggarnya. Memanah bukan segalanya, kau butuh ijazah untuk—”

Sohyun menghela nafasnya sebelum menjawab pertanyaan ibu, “Baiklah bu, aku akan kembali ke sekolah.” Sohyun benar tak bisa melanggarnya, bagaimanapun juga dia tidak ingin mengecewakan ibu.

Dan kembali ke sekolah berarti kembali ke asrama.

***

“Kau pikir apa yang kau lakukan!” Direktur agensi langsung saja melempar koran dengan kasar di atas meja begitu bertemu dengan Sohyun. Berita tertulis di sana sama dengan berita yang di lihat ibu di televisi. Sohyun sangat benci di ocehi. Jika dengan ibu mungkin dia tidak bisa membantah tapi jika dengan lelaki tua ini, Sohyun akan melawannya.

“itu hanya berita murahan, seharusnya kau tidak usah meladeninya.” Jawab Sohyun dingin dan tak peduli.

“Jangan bilang ini karena kau mendapat medali perak? Ya ampun Kwon Sohyun! Apa salahnya medali perak?!”

“Jelas mereka salah!” Kali ini Sohyun berteriak. “Selalu saja nomor dua! Kau tahu kan bagaimana aku benci menjadi nomor dua!!!” Sebenarnya Sohyun malas sekali membahas ini, tapi jika diungkit-ungkit terus berita murahan ini benar-benar merusak moodnya.

“Oleh karena itu kau seharusnya berlatih keras, bukannya malah marah-marah.” Nada Direktur sudah tidak meninggi lagi, karena percuma saja, semarah apapun dia dengan Sohyun maka Sohyun sama sekali mengacuhkannya. Jika bukan karena Sohyun yang nomor satu agensinya, mungkin dia sudah memecat Sohyun sejak dahulu.

Arraseo, arraseo. Aku tidak akan mendengarkan berita-berita itu lagi.” Lanjut direktur kemudian sambil memijat kepalanya. Dia benar-benar frustasi dengan atletnya yang satu ini. Sohyun terlalu arogan.

Sajangnim, aku akan kembali ke sekolah.” Entahlah, ini terdengar seperti permintaan, tapi lebih tepatnya Sohyun menuntut.

Direktur mengerut dahi, ini sungguh permintaan aneh yang keluar dari bibir Sohyun. Biasanya dia sama sekali tak peduli dengan sekolah. Bagaimana bisa sekarang dia akan kembali ke sekolah. “Ya, bukan kah kau benci sekolah?”

Benar, dia sangat benci sekolah. Sekolah, bagi Sohyun hanya tempat untuk menindas orang-orang lemah dan miskin, seperti dirinya yang dahulu.

“tetapi sekarang aku ingin kembali ke sekolah.” Walau Sohyun benci sekolah, dia harus tetap kesana. Ini adalah permintaan ibu, karena dia yakin jika tak bisa menurutinya maka dia akan menyesal.

“Untuk apa sekolah? Karirmu sudah bagus di sini, kau bisa keluar dari sekolah itu dan bayar sekolah lain untuk meluluskanmu. Lagi pula tiga bulan lagi kita ada pertandingan persahabatan antar klub se Korea Selatan, kau harus berpartisipasi.”

Sohyun meremas bajunya, Direkturnya selalu saja begini jika membahas sekolah. Bagi direktur sekolah hanya formalitas saja untuk mendapatkan ijazah, selebihnya sekolah benar-benar tak bermanfaat untuk orang-orang semacam Sohyun. Mereka sudah punya bakat yang cukup untuk menghidupi mereka, buat apalagi sekolah.

“Walau bagaimanapun aku harus kembali ke sekolah.” Sohyun tetap memaksa.

Ya Sohyun ah, jika kau tidak serius untuk pertandingan mendatang maka aku akan mengganti pemain single untuk Bora, dan kau akan menggantikannya sebagai pemain grup.”

Sajangnim!” Inilah yang Sohyun tidak suka. Direktur selalu saja mengancamnya. Padahal dia tahu sendiri kalau Yoon Bora adalah rivalnya di agensi.

Tapi Sohyun benar-benar tak peduli. Bukannya sudah seharusnya direktur mengabulkan keinginannya, selama ini Sohyun lah yang selalu menurutinya. “aku akan tetap sekolah.” Ucap Sohyun seraya beranjak dari sofa. “Kau mengizinkan apa tidak, aku akan tetap datang ke sekolah.” Lalu Sohyun melangkah pergi,

Ya Kwon Sohyun, aku tidak main-main dengan ucapanku!”

Masa bodoh saja, kali ini sudah giliran Sohyun menuruti permintaan ibu.

***

Sohyun hanya bisa melirik ke kanan kiri dan ke seluruh ruangan dengan tak acuh ketika berhadapan dengan wali kelasnya di ruang guru. Sohyun kelihatan tenang. Sejak dia masuk beberapa menit yang lalu gurunya itu masih saja membolak-balik buku catatannya,

“Jadi namamu Kwon Sohyun…”

Ne.”

“Alasan tidak masuk selama dua bulan?”

Sohyun mengerut dahinya, kenapa guru ini bertanya? Apa dia tak tahu siapa Kwon Sohyun?

Saem, kau tidak tahu siapa aku?” Sohyun bertanya meyakinkan.

“Apakah aku harus tahu siapa kau?”

Sohyun meniup kasar poninya. Guru ini tidak pernah menonton televisi atau tidak punya televisi? Bahkan dirinya sedang hangat-hangatnya diperbincangkan di media, saem ini bahkan tidak tahu. Lagi pula siapa sih guru ini? Sohyun bahkan belum pernah melihat guru ini sebelumnya.

“Biar kutebak, pasti saem adalah orang baru?” Tanya Sohyun.

Gurunya itu mengangguk, “Aku baru bekerja di sini sejak kenaikan kelas yang lalu. Namaku—“

“Song Joong Ki…” Sohyun membaca name tag yang menggantung di leher gurunya.

“Nah itu namaku…” Guru itu tersenyum jenaka, tapi tiba-tiba dia menjadi ingat sesuatu, “Ya! Kenapa kau malah bertanya tentangku! Aku tanya apa alasanmu tak masuk sekolah selama dua bulan?!”

Sohyun menghela nafas jengah. Siapapun yang melihatnya, Sohyun yakin, orang-orang akan mengira guru ini bodoh atau semacamnya. Dia terlalu ceroboh untuk bisa di sebut guru.

“Kau mengajar apa di sini?”

“aku adalah guru bahasa ingg—YA! Berhenti menanyaiku! Jawab pertanyaanku!” Guru Song meledak tiba-tiba.

“Aku mengikuti pelatihan dan pertandingan antar Asia selama itu. Kurasa agensiku sudah membuatkan surat izin dan kepala sekolah pun tak masalah dengan ketidakhadiranku di sekolah. Bagaimanapun aku membawa nama baik sekolah dan juga nama baik Korea Selatan.” Jawab Sohyun santai dan angkuh persis seperti sikap biasanya.

“Oh begitu ya, jadi kau adalah Kwon Sohyun yang ada di televisi itu? Kukira kalian hanya mirip nama saja.” Guru ini terlihat berpikir, bahkan dia menggaruk dagunya seraya melirik Sohyun dari ujung kaki hingga ujung kepala. Persis orang tolol bagi Sohyun. Hah, bagaimana bisa dia menjadi guru sih?.

“Tapi bagaimanapun juga, agensimu sama sekali tak memberikan surat izin selama kau tidak mengikuti pelajaran di sekolah.”

Ne?”

“Aku selalu mengontrol kelasku, tidak ada sama sekali surat izin atas nama Kwon Sohyun di sini. Jika merunut pada peraturan sekolah, kau sudah drop out karena tidak memberi alasan apapun untuk tidak masuk sekolah selama ini.” Nada guru Song semakin serius kali ini.

“tapi saem—“

“tidak ada tapi-tapi, aku akan mendiskusikan dengan kepala sekolah mengenai kasusmu ini. Hanya karena kau atlet nasional, bukan berarti kau seenaknya untuk tidak masuk sekolah. Kau kira bagaimana perjuangan temanmu yang lain?! Temui aku setelah selesai kelas hari ini!” Kali in guru Song benar-benar serius, tidak ada kejenakaan seperti pertama Sohyun lihat tadi, tarik lagi kata-kata tolol yang sempat diucapkan Sohyun. Gurunya ini berbeda.

”Kau pergilah ke kelasmu, pelajaran sudah akan di mulai.” Kalimat terakhir guru Song ditemani dengan senyuman. Sungguh Sohyun sama sekali tak bisa membaca sifat wali kelasnya yang sebenar-benarnya.

***

“Ya,Ya, itu Kwon Sohyun. Kwon Sohyun.”

“Maja. Maja!”

“Kau lihat pertandingannya di televisi kemarin?”

“Dia benar-benar tak punya sopan santun.”

Sohyun benar-benar geram. Dia sudah tahu akan seperti ini. Hari pertama masuk sekolahnya benar-benar tidak indah. Jika tidak karena ibu, mungkin dia akan menuruti kata-kata direkturnya untuk pergi membayar sekolah lain untuk kelulusannya. “Kalian bahkan lebih tidak punya sopan santun! Hanya berani bicara dibelakangku!” Sohyun berucap kesal, sangat lirih dan bahkan tidak ada yang bisa mendengarnya. Dia sedang tidak ingin membuat masalah baru, masalahnya dengan guru Song saja belum terselesaikan.

Kaja Sohyun ah, cari kelasmu. 3-3.” Sohyun berucap sendiri seraya menyumpal telinganya dengan headset dan lagu-lagu kesukaannya. Dia benar-benar malas mendengarkan cemoohan orang. Mereka sama sekali tak merasakan bagaimana perasaannya. Mereka seharusnya mencoba menjadi dirinya sebelum berusaha menghinanya. Mereka seharusnya—

AKKH! YA!” Sohyun berteriak ketika seseorang laki-laki tak sengaja menabraknya. Dia menghela nafas kasar ketika melihat buku bawaan orang itu tercecer di lantai. “Ya! Matamu dimana?” ujar Sohyun, dia sama sekali tak berminat membantu lelaki itu memunguti buku-bukunya.

Lelaki itu juga sama sekali tak menuntut untuk membantunya, dia hanya menjawab dalam tunduk memunguti buku, “kau tidak seharusnya berjalan di tengah-tengah jalur. Kau pikir berapa banyak orang yang akan lewat? Kau menghalangi jalan mereka.” Ucap lelaki itu dengan suaranya yang berat. Sohyun yakin dia mengenal suara ini sebelumnya. Tapi dimana?

Seakan tak ambil pusing, Sohyun melewatinya begitu saja. Dia kembali berjalan mencari kelasnya sama sekali tak menghiraukan lelaki yang memunguti buku itu.

Lelaki itu pun hanya bisa melihat punggung Sohyun yang berjalan menjauh, dia tersenyum tipis. “Dasar arogan! Kau masih Sohyun yang sama ternyata…”

***

Masih sama seperti di koridor-koridor yang dilewatinya tadi, bahkan teman sekelasnya pun masih sibuk mengawasinya dengan mata tak senang, tapi ada beberapa juga yang yang kelihatan suka padanya.

Ya Kwon Sohyun. Long time no see!” gadis itu langsung saja berhambur kepelukannya. Sohyun tersenyum. Untuk gadis ini, dia tak pernah marah, karena gadis inilah satu-satu sahabatnya di sekolah ini.

“Kau juga berada di kelas ini, Sul?” Tanya Sohyun di balas anggukan oleh gadis itu. Namanya Choi Sulli, teman sekamar Sohyun di asrama.

“Ohya di situ tempat dudukmu.” Sulli menarik Sohyun menuju tempat duduknya. Namun Sohyun berkerut melirik teman di sampingnya. Kepalanya berbaring pada meja menghadap jendela sehingga Sohyun sama sekali tak bisa melihat wajahnya.

“dia Byun Baekhyun. Biarkan saja, dia memang selalu begitu.” Bisik Sulli di telinga Sohyun yang sedang mengerut dahi itu tapi kemudian dia menggangguk dengan senyuman. Dia mulai duduk di tempatnya.

“KELAS! Ini buku latihan kalkulus kalian.” Ucap lelaki di depan kelas yang meletakkan buku-buku di atas meja guru di depan sana. “Dan kau, Byun Baekhyun…” lelaki di depan sana juga memaksa teman di samping Sohyun mengangkat kepalanya. “Maaf. Tadi aku bertabrakan dengan seorang gadis di koridor—“ lelaki itu menjeda kalimatnya karena tiba-tiba kelas bersorak-sorai menyerunya. Lelaki itu kemudian memandang Sohyun, sambil mengangkat salah satu buku, dia melanjutkan kalimatnya, “—dan bukumu terinjak kaki gadis arogan itu” Dia berucap sambil terus memandangi Sohyun dengan senyuman.

Sohyun yakin lelaki itu yang menabraknya di koridor, suara beratnya sama dengan yang ia dengar tadi.

***

“Kau akan pindah dari asrama regular ke asrama Suri.”

“EH?!” Serius. Sohyun benar-benar terkejut. Dia tidak mungkin ada di asrama itu, dia adalah siswa yang cukup berprestasi di sekolah ini. Bagaimana bisa dia masuk ke asrama itu. Bahkan membayangkannya saja dia belum pernah, Sohyun tidak terima yang seperti ini.

“Saem! Bagaimana bisa—aku tidak mungkin masuk ke sana!” Sohyun membantah.

“Ini keputusan yang adil untukmu. Beruntung saja sekolah tidak mengeluarkanmu dari sekolah. Kau juga beruntung karena hanya dipindahkan tanpa diberi hukuman. Kepala sekolah dan bahkan direktur sekolah ini sungguh baik padamu.”

Jelas saja mereka baik dengannya, Sohyun bukan siswa biasa.

“Tapi saem—“

“kenapa selalu ada tapi keluar dari mulutmu. Kau seharusnya menerima, sekolah bukan tempatmu bermain dan bisa seenaknya keluar masuk!” Kembali nada wali kelas Sohyun itu serius. Demi apapun mulai sekarang Sohyun benci dengan wali kelasnya ini.

“Oh Baekhyun, kau datang!”

Sohyun ikut melirik kearah lelaki yang di sapa wali kelasnya. Itu adalah teman sekelas yang duduk di samping Sohyun. Lelaki yang terus tidur dan tak peduli kelas selama jam pelajaran berlangsung.

Tiga detik mata mereka bersiborok, lalu selanjutnya Baekhyun menunduk kepala memberi salam.

“Kau sudah tahu dia, kan?” Tanya guru Song pada Baekhyun.

Baekhyun nampak menyeringai, “siapa yang tak tahu dia. Seluruh sekolah membicarakannya. Bahkan dia menginjak buku kalkulusku.” Baekhyun berkata dengan wajah dingin melirik Sohyun di samping. Sohyun berani bertaruh, pasti ketua kelas mereka yang mengatakan soal buku yang diinjak itu pada Baekhyun.

“Ya. Ya. Apapun itu, yang jelas dia akan berada di asrama yang sama denganmu mulai saat ini. Sana tunjukan padanya.” Ucap guru Song santai.

Saem?! Jinjja! Kita belum selesai bicara.” Sohyun masih saja menolak keputusan gurunya itu. Baru saja Sohyun akan mengebrak meja gurunya tapi Baekhyun malah menarik tangannya.

Ya! kau mau jalan atau tidak, jika kau terus di sini, aku akan benar-benar malas menunjukan asramanya. Aku benci ruang guru.” Ucap Baekhyun dingin dan menarik tangan Sohyun untuk keluar dari ruang guru.

Ya! Lepaskan aku!” Sohyun memberontak. Siapa dia berani-beraninya menarik Sohyun seenaknya, bahkan Sohyun baru pertama kali melihatnya di kelas tadi.

Ya Byun Baekhyun atau siapalah. Kau kira kau siapa berani—“ Kalimat Sohyun terputus, karena Baekhyun benar-benar melepas tangannya ketika mereka berada di luar ruang guru. Baekhyun menyeringai menatap Sohyun di sampingnya.

Ya. Jika kau terus arogan seperti ini, kau akan merugikan dirimu sendiri.”

Sumpah demi apapun, Sohyun sudah putuskan dia juga benci dengan lelaki ini.

Ya! Mau kapan kau tetap disitu? Ayo jalan!”

Ya, Ya, Ya. Kau kira aku tak ada nama.” Ucap Sohyun berucap kesal lalu mulai melangkah berjalan sesuai perintah Byun Baekhyun.

Tapi,

Baru beberapa meter mereka menjauh dari ruang guru, kembali Baekhyun membuka mulut, “Asrama Suri di sebelah sini…” serunya karena Sohyun mengambil arah yang berbeda.

“Kau kira aku tak butuh pakaian untuk tinggal di sana? Aku butuh mengemasi barang-barangku dari asrama regular!” Sohyun berkomentar sambil terus berjalan berlawanan arah dengan jalan Baekhyun. “Jika kau memang tak berminat menunjukan jalan untukku, aku akan cari sendiri. Kau pikir sudah berapa lama aku di sekolah ini? Hanya karena aku tak pernah masuk sekolah, buakn berarti aku tak tahu, Cih” Sohyun terus dengan ocehannya. “Dan besoknya aku akan mengatakan pada Song saem bahwa kau tidak menunjukkan jalan untukku, lalu dia akan menghukummu” Sohyun berbalik dan menyeringai kearah Baekhyun.

Lelaki yang sudah berjarak semeter dengannya itu mendesah kesal lalu menyerah dan mengikuti langkahnya. Sohyun tersenyum tipis. Dia menang.

***

“jadi kau akan pindah ke asrama Suri”

“eum…” Sohyun menjawab sambil mengemasi baju-bajunya masuk kedalam koper.

“Tapi kau tahu kan bagaimana asrama itu.” Sulli terlihat khawatir dengan temannya itu. Semua warga sekolah tahu bagaimana asrama mereka yang satu itu. Asrama itu sangat berbeda dengan asrama regular mereka. “Disana bahkan lelaki dan perempuan tidak terpisah.” Tambah Sulli mengingatkan Sohyun bagaimana asrama Suri sebenarnya.

“Mereka terpisah. Kamar lelaki di lantai satu dan perempuan di lantai dua.” Ucap Sohyun santai.

“tapi tetap saja mereka berada dalam satu rumah, So.”

Sohyun mengedik bahu, “mau bagaimana lagi, ini sudah hukumanku.”

“kau bisa minta keringanan, kau tidak masuk sekolah bukan semata-mata membolos ria, kau mengikuti pertandingan.” Kembali Sulli berkomentar.

“Aku sudah katakan pada Song saem, tapi tetap saja dia tidak menerima alasan apapun karena agensi sialanku tidak memberi surat izin pada sekolah. Bahkan dia bilang akan aku seharusnya dikeluarkan dari sekolah.”

“eum, begitu.” Sulli mendesah, kalau sudah begini memang tak ada gunanya meyakinkan Sohyun untuk tidak pergi ke asrama itu. “Tapi kau benar tak apa kan?” Tanya Sulli lagi.

“Memangnya kenapa?”

“Ada Byun Baekhyun di sana. Kau ingat lelaki yang duduk di sebelahmu, kan? Dia itu pembuat onar sekolah.”

“Aku tahu.” Sohyun menarik zipper kopernya. “Dia ada di lobi menungguku.”

“EHH??” Sulli beranjak dari ranjaknya tak percaya.

“Song saem menyuruhnya menunjukkan asrama Suri padaku.” Tambah Sohyun lagi.

“Gila. Gila. Ini gila. Ini pertama kalinya dia mendatangi asrama putri regular. Gila.” Tiba-tiba saja Sulli menjadi kacau membuat Sohyun mengerut dahinya.

“So, kau jangan sampai berurusan dengannya. KAU. Harus jauh-jauh darinya.” Sulii mulai khawatir kembali.

Namun Sohyun menjawab dengan santai, “Arraseo. Na kanda.” Ucapnya pada Sulli dan menarik kopernya. “Ohya, tolong kemasi sisa-sisa barangku. Aku akan mengambilnya besok.”

“eum.” Ucap Sulli sembali melambai tangan mengantarkan temannya keluar dari kamar mereka.

***

Ya, kau tahu seberapa lama kau di dalam sana?! 49 menit.” Bukannya membantu Sohyun menarik salah satu kopernya, Baekhyun malah mengoceh begitu melihat Sohyun menuruni anak tangga asrama putri regular.

“dan kau berhenti lah mengoceh. Tidak bisa kah kau membantuku? Dimana hatimu membiarkan seorang gadis membawa dua koper seperti ini?”

“Eish, berisik sekali.” Baekhyun masih mengoceh tapi dia menarik kasar salah satu koper Sohyun berpindah di tangannya. Mereka mulai berjalan keluar dari asrama menuju asrama baru yang akan ditempati Sohyun.

Sohyun bahkan belum pernah membayangkan untuk tinggal di asrama yang sangat dihindari oleh seluruh warga Seungri High School. Dia benar-benar tak tahu apa yang akan terjadi setelah ini padanya. Jika sudah begini, kembali Sohyun menyalahkan Tuhan. Dengan membawanya pindah ke asrama saja Sohyun sudah berpikir bahwa Tuhan benar-benar mempermainkannya, berharap saja Tuhan tidak semakin jahat ketika dia tinggal di sana nanti.

“Hei Baekhyun. Kenapa kau tinggal di Suri?” Tanya Sohyun di sela-sela langkah mereka yang sejak tadi penuh kesunyian.

“Entahlah. Mungkin karena aku bosan di rumah dan asrama regular tak cocok denganku.” Baekhyun tersenyum tipis, sangat tipis tapi Sohyun menyadarinya. Sejak bertemu dengan Baekhyun hari ini, baru kali ini Sohyun melihat senyuman itu, sangat berbeda dengan seringaiannya beberapa waktu lalu.

“Apapun itu, berdoalah agar kau cocok tinggal di sana. Walau di sana sedikit berisik tapi asrama Suri tak seburuk yang orang-orang bayangkan” Baekhyun menghela nafas mengakhiri kalimatnya.

Sohyun tak menjawab ucapan Baekhyun, dia pun berharap begitu dan semoga saja ini memang jalan yang tepat yang harus di hadapinya.

***

25 tanggapan untuk “The Arrow #1”

  1. Ceritannya agak mirip anime sakurasou. Cuman ada beberapa perbedaan sih. Tapi tetep seru kok, lajut ya thor ^_^

    1. Eh, kamu nuntun sakurasou jugak hehe.
      Konsep asramanya sih memang pinjem konsep anime itu.
      Cuma aku jamin ceritanya bakal seratus persen beda sama anime itu kok ^^

  2. Wahhh…aq dalah…trnyata baeky uy bkn kris
    Hehehehehe
    Penasaran sma lanjutannya chingu
    Dan ga bosen bacanya
    Dilanjut yyyaa ^_^_
    Gomawoyo

  3. kak ini chapter 1 nya aja udah keren, penasaran sama alurnya yg masih belum ketebak sama sekali, jadi makin penasaran.. terus gimana tu kehidupan sohyun di asrama suri, ah ditunggu ya kelanjutan ceritanya kak^^

  4. Akhirnya ada yang bijin Sohyun jadi cast, cewek imut ini beneran pas deh kalau ama Baek. Ehm… faktor bias sih soalnya. Wkwkwkw
    Mbak Cca, mana ff baek x Clnya?

  5. Keren.
    Dan iya, masih ga ketebak sama jalan ceritanya. Ada apa dengan asrama Suri?
    Pemeran utama lakinya Baekhyun atau Kai ya?

    Oke nextnya ditunggu.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s