손생님 때문에 ― Chapter 4

11054409_797189203685335_611182346276514984_n

 

Len K’s storyline

Subtitle            : Because of You, Sir! (Sonsaengnim ttaemune)

Rate                 : T, PG-15

Casts               : Kim Junmyeon a.k.a Suho EXO, Song Yoonhee (OC), Kim Minseok a.k.a Xiumin EXO, Kim Jongin a.k.a Kai EXO, and another support casts

Genre              : school-life, romance

Disclaimer       : Standard disclaimer. I own the storyline but do not own the charas

손생님 때문에

Chapter 4 begins…

 

Junmyeon melesakkan dirinya di kursi putar di bilik kerjanya. Hari yang cukup melelahkan baginya. Ketika mata Junmyeon tertuju pada tugas-tugas para siswa yang belum ia koreksi, Junmyeon mengerang. Sepertinya jam tidurnya malam ini akan kembali terpotong.

Tapi untuk saat ini Jumyeon ingin melupakan itu semua. Latte di mejanya sudah minta diminum, lehernya sudah minta dirilekskan. Junmyeon juga membalas sapaan beberapa guru dengan lalu. Sejenak saja Junmyeon ingin merasa rileks walau hanya beberapa menit. Ia lalu membaui lattenya sebelum benar-benar meminumnya.

“Junmyeon sonsaengnim,” panggil Baek Woosuk sonsaengnim.

“Ah ye, Woosuk sonsaengnim.” Seketika Junmyeon kembali dalam kondisi siaga.

“Apa kau sudah tahu soal hal ini?” Woosuk sonsaengnim memilih satu tempat duduk kosong di samping Junmyeon.

Animida. Memangnya ada apa, sonsaengnim?”

Woosuk sonsaengnim mendekatkan wajahnya hingga Junmyeon bisa melihat bola mata yang sedikit keruh milik pria paruh baya itu. “Song Yoonhee. Kehadirannya hampir menyentuh batas kehadiran minimal. Aku minta padamu agar ia tidak membolos sehari penuh lagi karena itu bisa mengancam tidak naik kelasnya dia.”

“Ah, begitu rupanya.” Junmyeon mengangguk mengerti. “Ne, anda tidak perlu khawatir. Aku akan mengurusnya.” Senyum Junmyeon sepertinya bisa menenangkan Woosuk sonsaengnim.

Geurae, aku mengandalkanmu.”

“Ah ya, anda ingin kopi?”

 

***

 

Hari ini Yoonhee lebih memilih untuk membolos sekolah. Pagi tadi ia memang berpamitan untuk pergi ke sekolah pada bibinya. Tapi sampai di tengah jalan Yoonhee mampir ke sebuah internet café dan mengganti seragamnya dengan baju bebas di toilet yang tersedia disana.

Internet café dua puluh empat jam langganan Yoonhee ini tidak pernah sepi dari pelanggan. Pada jam sepagi ini saja separuh biliknya sudah terisi. Yoonhee berjalan mencari bilik kosong untuk ditempati. Begitu dapat, Yoonhee segera duduk, menyalakan komputer, memasang headset, dan menghabiskan paginya yang khusyuk di depan layar komputer.

 

 

Junmyeon mendesah kesal saat ia mengetahui hari ini Yoonhee membolos. Bukan apa-apa, tapi hari ini adalah hari terakhir dimana Yoonhee bisa membolos. Setelah desakan dari Woosuk sonsaengnim dan Sanghyuk sonsaengnim tadi, kini Junmyeon merelakan dirinya keluar dari gedung sekolah untuk mencari Yoonhee. Tidak, Junmyeon melakukannya bukan karena desakan dua orang guru senior itu saja. Namun ia merasa ini sudah kewajibannya sebagai wali kelas Yoonhee.

Junmyeon membaur dengan orang-orang yang berkeliaran di kota Seoul. Ini sungguh membuatnya gila! Seoul bukanlah kota kecil dan dia harus mencari seorang gadis―tepatnya muridnya. Punya sedikit petunjuk akan membantunya tentu. Tapi sayangnya, Junmyeon tidak mempunyai petunjuk apapun untuk memulai pencariannya. Ia juga sudah mencoba menghubungi Yoonhee namun ponselnya tidak aktif. Di saat pikirannya berkemelut, Junmyeon teringat sesuatu.

“Oi, Minseok-ssi,” panggil Junmyeon.

Ada apa kau meneleponku pagi-pagi begini? Jam ketiga baru saja dimulai, lho. Kau tidak sibuk ya?” balas Minseok di seberang.

“Aku lebih sibuk sekarang ini,” kata Junmyeon. “Bisa aku bertanya sesuatu?”

Mwo?”

“Apa kau tahu kebiasaan Yoonhee saat membolos?”

 

 

Monitor di hadapan Yoonhee ia tatap dengan serius sementara tangannya sibuk bergerak-gerak di keyboard dan mouse. Dengan headphone di telinga, suara bgm game online yang ia mainkan cukup menulikan telinganya dari sekitar. Begitu acuh pada keadaan sekitar. Seruan kecil keluar dari mulutnya ketika ia tahu bahwa dirinya dan timnya kalah dalam permainan.

Kotak chat Yoonhee berkedip. Yoonhee membukanya, sebuah pesan dari rekan satu timnya yang keberadaannya entah dimana. ‘Coba lagi? Tidak biasanya kau kalah, kkk’, tulisnya.

Yoonhee buru-buru mengetik balasan, ‘Tentu kita harus mencoba lagi. Tapi beri aku jeda sebentar. Makan, perutku berontak’.

Chat-chat lain dari rekan setimnya bermunculan. Dari lima orang dalam timnya termasuk dirinya, ada tiga orang yang meminta jeda. Yoonhee menghela nafas lega. Begitu ia mencopot headsetnya, suara berisik di internet café langsung menyapa pendengarannya. Yoonhee menolah-noleh ke sekitar sebelum mengacungkan tangannya dan seorang pegawai datang menghampirinya.

Ramnyeon instan…satu cup jumbo, dan satu cola juseyo,” pesan Yoonhee.

Pegawai itu mengangguk sekilas sebelum pergi. Kini Yoonhee menatap layar monitornya kosong. Tidak ada yang menarik perhatiannya saat ini. Terlalu malas untuk membuka SNS atau situs portal berita. Pikiran Yoonhee juga tidak bisa diam, sibuk memikirkan strategi baru untuk digunakan di permainan selanjutnya.

Beberapa menit kemudian pesanan Yoonhee datang. Mengalihkan pikiran Yoonhee yang sedari tadi terfokus pada strategi permainan. Suara seruputan ramyeon terdengar cukup keras dari bilik tempat Yoonhee berada.

“Heish, membolos demi bermain game? Kau tidak pernah berpikir soal kehadiran minimalmu, eo?”

Dengan perasaan horror, Yoonhee menoleh ke samping. Matanya membulat ketika sosok Junmyeon sudah berada di sampingnya dalam jarak yang begitu dekat.

Mwoya? Apa yang kau lakukan disini?!” seru Yoonhee. Cukup untuk menarik perhatian beberapa pengunjung.

Junmyeon melesakkan tubuhnya di kursi kosong di bilik samping Yoonhee tanpa mempedulikan reaksi dari pengunjung internet café yang lain. Bahkan tatapan menyelidik dari balik kacamata tebal si operator internet café. “Apa yang aku lakukan disini? Aku ada disini untukmu.”

Yoonhee bergidik ngeri mendengar ucapan Junmyeon. “Bisakah kau tidak mengatakan hal-hal mengerikan seperti itu? Kau terdengar seperti seorang pedofilia!”

“Sekarang bukan saatnya membicarakan hal itu! Fokuslah pada sekolahmu! Hari ini adalah hari terakhirmu untuk membolos penuh. Kau sudah mencapai batas kehadiran minimal. Lihat, aku sudah berbaik hati pergi mencarimu hanya untuk memberitahukan hal ini padamu secara langsung. Bisakah kau tidak bersikap ketus seperti itu?” Junmyeon mengoceh sekenanya.

Yoonhee kembali melahap ramyeonnya. “Lagipula kenapa kau kemari? Aku tidak pernah menyuruhmu untuk repot-repot kemari.”

“Aish, dasar bocah satu ini!” Junmyeon menjitak kepala Yoonhee. “Tidak bisakah kau bersikap manis? Atau baik? Seperti yang kau tunjukkan pada Jongin. Dasar!”

Sumpit di tangan Yoonhee terbanting ke meja. “Jangan bawa-bawa Jongin,” desis Yoonhee dalam nada mengancam.

Kotak chat di layar monitor Yoonhee berkedip. Sebuah ajakan untuk melanjutkan game yang sempat kalah tadi datang. Yoonhee kembali memasang headphonenya dan berfokus pada permainannya yang baru dimulai, mengabaikan Junmyeon yang duduk di sampingnya.

Game apa yang kau mainkan?”

“DOTA 2.”

Aigo, apa untungnya bermain game seperti ini?” Junmyeon ikut melihat game yang dimainkan oleh Yoonhee.

“Dasar kuno. Sekarang kau bisa mendapatkan uang dari bermain game online. Seorang bocah laki-laki berusia lima belas tahun dari Pakistan mendapatkan uang sekitar satu setengah juta dollar Amerika dalam kontes DOTA internasional. Sekedar informasi saja, aku beserta timku masuk jajaran tim terbaik di Korea,” balas Yoonhee sambil terus bermain game.

Geot.ji.mal!” cibir Junmyeon.

Decakan kecil terdengar dari mulut Yoonhee, “Tsk! Oke, memang timku bukan best of the best in Korea, tapi setidaknya kami masuk dalam jajaran top team.”

Junmyeon tidak menanggapi perkataan Yoonhee lagi. Ia sudah bermain dengan komputer di biliknya sendiri.

Yoonhee melirik Junmyeon sekilas. Tidak bisa lama-lama karena ia harus kembali berfokus pada warnya. “Kau tidak mengajar?”

“Tugasku hari ini adalah membawamu ke sekolah,” balas Junmyeon malas.

“Kalau begitu lebih baik kau pergi saja. Aku tidak akan kembali ke sekolah hari ini. Biarkan aku menikmati hari bolos penuh yang terakhir.”

“Kalau begitu aku juga tidak akan pergi. Aku akan membuntutimu.”

“Tsk! Kau benar-benar terdengar seperti penguntit! Apa menjadi stalker adalah pekerjaan sampinganmu?”

“Jawabanku adalah ‘ya’ jika kau adalah targetnya.”

Yoonhee mendengus. Ia tidak ingin membuang-buang waktunya berdebat hal tidak berguna dengan Junmyeon. Warnya jauh lebih penting.

 

***

 

Berkas-berkas yang menumpuk di meja kerja Minseok akhirnya membuat Minseok tergerak juga untuk merampungkan semuanya walau dirinya lebih memilih untuk bermalas-malasan di ruang kerjanya. Minseok mengarahkan pandangannya ke sebuah tempat tidur yang terisi. Ia akui, ia merasa iri pada sosok yang tengah berbaring―entah tidur atau tidak―di sana. Siapa lagi jika bukan Song Yoonhee?

Sejak Yoonhee sudah mendapat teguran dari sekolah tentang kehadiran minimalnya yang sudah mencapai batas, sekarang Yoonhee lebih suka membolos di UKS. Cara yang licik. Masuk sekolah kemudian pergi ke UKS tidak dihitung sebagai membolos―tapi ‘ya’ jika kau menyebutnya membolos pelajaran.

“Minseok-ssi!” sebuah suara parau memanggil nama Minseok bebarengan dengan bunyi pintu yang digeser.

Kepala Minseok terangkat dari berkas-berkas di hadapannya. Matanya bertemu pandang dengan mata milik Junmyeon.

“Ada apa kau berkunjung kemari, heh?”

Junmyeon mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan seraya berkacak pinggang dan menjawab, “Mencari Yoonhee. Apa lagi menurutmu?”

Minseok mendesah pelan. Ditutupnya berkas dihadapannya dan ia tumpukan dagunya ke salah satu tangannya yang diletakkan di meja. “Percuma kau memaksanya.”

Seraya Minseok menjawab, Junmyeon sudah menemukan sosok Yoonhee. “Aku tidak akan tahu jika aku belum mencoba,” tukasnya sambil berjalan kearah Yoonhee. Minseok hanya mampu menggelengkan kepalanya. Tidak memahami kenapa Junmyeon begitu keras kepala dalam memaksa Yoonhee padahal pada akhirnya selalu sama.

 

 

Yoonhee yang tengah berbaring di kasur empuk UKS bisa mendengar semuanya. Ia tidak benar-benar tidur kali ini. Ia tahu Minseok sedang mengerjakan beberapa berkas di meja kerjanya dan ia juga tahu jika Junmyeon datang. Ia juga tahu kalau Junmyeon tengah berjalan kearahnya.

Yoonhee melihat wajah Junmyeon yang sudah berada di sampingnya melalui sudut matanya. “Berisik!” umpat Yoonhee pada Junmyeon.

YA! Apanya yang berisik?! Aku bahkan belum mengucapkan sepatah katapun!” seru Junmyeon menolak umpatan yang ditujukan padanya tadi.

“Tapi wajahmu itu sudah cukup berisik untukku!” balas Yoonhee sengit.

Mwo?! Mworago?! Kau berani pada gurumu?!” Junmyeon berkacak pinggang lagi.

“Diam kau, guru payah!” titah Yoonhee dengan tegas seraya melemparkan sesuatu kearah Junmyeon. Mendarat tepat di wajah Junmyeon.

Junmyeon mengambil sesuatu itu yang jatuh di lantai. Rupanya itu adalah syal miliknya yang dulu ia pinjamkan pada Yoonhee. Junmyeon sendiri bahkan hampir lupa jika syalnya masih dibawa Yoonhee. “Beraninya kau melempari muka gurumu, huh!” geram Junmyeon. Tangan kanannya bergoyang-goyang menyodorkan syalnya di hadapan Yoonhee.

“Apa peduliku?” cibir Yoonhee.

YA! Song Yoonhee!”

Di meja kerjanya, Minseok memijat pelipisnya pelan. Rasa penat dan sumpek seperti ini tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Ruang kerjanya merupakan tempat yang tenang dan nyaman baginya hingga ia bisa menghabiskan sepanjang hari menikmati secangkir kopi ditemani alunan lagu bernada ceria sambil mengerjakan beberapa keperluannya. Tapi semenjak Junmyeon datang dan gencar memaksa Yoonhee untuk keluar dari UKS demi mengikuti pelajaran, hari-harinya yang tenang sirna sudah.

“Aku tidak pernah mengijinkan siapapun untuk membuat keributan di sini! Bahkan aku sudah pernah mengusir kepala sekolah dari sini!” dengan satu gerakan cepat, Minseok sudah mencengkram kerah belakang Junmyeon dan menyeretnya menjauh dari Yoonhee.

Ya! Apa-apaan ini, Minseok-ssi?!” protes Junmyeon tidak terima terhadap perlakuan Minseok padanya.

Kekuatan Minseok yang di luar dugaan Junmyeon mampu menyeret Junmyeon hingga keluar dari UKS. Junmyeon bahkan hampir menabrak tembok di seberang koridor karena Minseok sempat ‘melempar’nya.

Mwohae?” Junmyeon mengerang dalam nada protes.

Sekarang giliran Minseok untuk berkacak pinggang. “’Kan sudah kubilang agar tidak membuat keributan di ruang kerjaku. Dan lagi…” Minseok menghela nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan kalimatnya, “Kau tidak bisa memaksa Yoonhee untuk ikut pelajaran!” Minseok berseru dalam nada yang membuat Junmyeon jantungan. “Sekarang cepat pergi dari sini!” dengan seruan yang menggelegar seperti itu Minseok sudah berhasil membuat Junmyeon pergi.

Sepertinya Junmyeon juga tidak ingin menambah keributan di hari ini. Terlebih, itu baru pertama kalinya bagi Junmyeon untuk melihat amarah Minseok keluar. Junmyeon yakin tadi Minseok belum sepenuhnya mengeluarkan emosinya. Setelah memastikan Junmyeon benar-benar pergi, Minseok kembali masuk ke dalam ruang kerjanya.

“Maaf soal keributan yang tadi,” kata Minseok pada Yoonhee. “Tenang saja, kalau dia berani memaksamu lagi aku yang akan maju. Aku selalu ada di sisimu, kok!” lanjut Minseok.

“Hm, gumawo,” balas Yoonhee lirih.

 

***

 

Melihat taman belakang sekolah yang sepi melalui jendela UKS yang lebar dan rendah jadi hiburan tersendiri bagi Junmyeon. Dalam hati ia menyukai ide Minseok yang memindahkan UKS ke bagian belakang sekolah. Taman belakang sekolah yang cukup jarang dikunjungi para siswa membuat suasana di sini menjadi tenang. Cocok sekali untuk tempat beristirahat.

Sraakk!! Suara pintu geser UKS yang dibuka membuat Junmyeon menoleh ke belakang.

“Membolos lagi?” tanya Junmyeon pada Yoonhee.

Yoonhee hanya melempar tatapan sengit pada Junmyeon dan langsung merebahkan dirinya di salah satu tempat tidur kemudian membuka komik yang dibawanya.

“Minseok dimana?” tanya Yoonhee singkat.

“Woahhh, berani sekali kau hanya menyebut namanya tanpa embel-embel apapun,” sahut Junmyeon.

“Bukan urusanmu. Dimana dia?”

“Tadi dia keluar sebentar. Mungkin membeli beberapa obat yang persediannya sudah menipis dan atau sudah habis.”

Jawaban dari Junmyeon tidak mendapat balasan lagi. Yoonhee sudah cukup mengetahui hal itu dan kembali sibuk membaca komiknya. Junmyeon juga sudah sibuk menatap taman di luar.

“Junmyeon sonsaengnim! Junmyeon sonsaengnim!”

Junmyeon menoleh kearah seruan-seruan yang memanggil namanya. Tiga orang siswa yang mengenakan seragam dan celemek berlari kecil menghampirinya. ‘Pasti mereka anak klub memasak’, batin Junmyeon. Salah satu dari mereka membawa sebuah kotak berwarna merah. Belum apa-apa, hidung Junmyeon sudah bisa mencium bau sedap. Sepertinya kue yang baru saja keluar dari oven berada dalam kotak merah itu.

“Ah, ada apa?” tanya Junmyeon ramah.

“Minseok sonsaengnim ada di dalam?” tanya seorang siswi yang mengenakan bandana warna merah.

Junmyeon menggelengkan kepalanya. “Aniyo. Dia sedang keluar membeli obat. Waeyo? Kalian ada perlu dengannya?” dari luar Junmyeon tampak begitu baik dan lembut dengan senyum mematikan miliknya. Namun siapa sangka jika di dalam hatinya Junmyeon sedikit kesal pada Minseok? Jujur saja, Junmyeon masih kalah populer dibandingkan dengan Minseok di sekolah ini. Junmyeon cemburu karena banyak siswi juga guru-guru muda yang menggandrungi Minseok.

“Yah, kami hanya ingin memberinya kue yang baru kami buat,” jawab seorang siswi yang lain sambil menimang-nimang kotak merah di tangannya.

Senyum Junmyeon kembali muncul. Pun halnya dengan sebuah ide yang baru saja melesat di kepalanya. “Kalau begitu kalian berikan saja padaku,” usul Junmyeon.

“Eeeehh? Memberikannya pada sonsaengnim?”

Junmyeon mengangguk sekilas. “Eo, memangnya kenapa? Lagipula Minseok juga sudah menjadi kawan dekatku. Kalian tidak mau memberikannya pada pak guru, ya? Tega sekali kalian.” Junmyeon langsung merubah mimik wajahnya, mempoutkan bibirnya ditambahi sedikit aegyo.

“Bukan begitu! Kalau begitu baiklah, ini untuk sonsaengnim! Tapi sampaikan salam kami pada Minseok sonsaengnim,” siswi itu kemudian menyerahkan kotak merah pada Junmyeon setelah bertanya pada kedua temannya.

Dengan senang hati Junmyeon menerima kotak merah itu. Aroma kue yang makin menggelitik Junmyeon membuatnya tak sabar untuk segera memakan kue itu tanpa sisa. “Joah! Tenang saja, nanti Minseok akan kusisakan setengah dan salam kalian pasti akan kusampaikan!” jempol Junmyeon teracung dibarengi dengan senyum mautnya.

Entah hanya perasaan Junmyeon saja atau memang mata ketiga siswi itu berbinar-binar sekarang ini. “Kamsahamnida sonsaengnim!” seru ketiganya bebarengan kemudian pergi.

Sekarang Junmyeon menatap senang kotak yang berada di tangannya. Senyumnya makin melebar ketika membuka kotak tadi. Sebuah tiramisu cake berukuran sedang yang baru saja selesai dibuat membuatnya tidak sabaran untuk segera mencoba. Telunjuk Junmyeon mencolek krim di kue tersebut untuk mencicipinya.

Massitda!” serunya senang.

“Selain payah kau itu genit juga ya? Harusnya kau lihat wajahmu sendiri saat kau berusaha merayu mereka tadi agar kue itu jatuh ke tanganmu. Kau benar-benar terlihat seperti seorang pedofil. Seleramu anak SMA, ya?” oceh Yoonhee dengan tatapan jijik pada Junmyeon.

Junmyeon hampir lupa jika Yoonhee ada di sana dan cukup kaget plus emosi saat mendengar ucapan Yoonhee tadi. Namun Junmyeon tidak langsung menggubrisnya. Ia mencari-cari pisau di meja kerja Minseok untuk memotong kue tiramisu yang enak itu.

“Bukan seperti itu, hanya saja aku tidak terima jika aku kalah populer dibandingkan dengan Minseok. Padahal aku jauh lebih menawan dari dia. Dan juga, anak SMA itu bukan tipeku. Mereka begitu kekanakan dan merepotkan, aku tidak suka anak SMA. Menjalin hubungan dengan anak SMA sama saja buang-buang waktu bagiku.” Akhirnya Junmyeon membalas ocehan Yoonhee setelah menemukan satu pisau kecil dan memotong kue tiramisu itu menjadi beberapa bagian.

Yoonhee tidak menyahut. Terlalu malas untuk berargumen meski sebenarnya ia ingin membantah mati-matian akan kenarsisan Junmyeon tadi.

Ya, kau mau kuenya? Enak, lho!” tawar Junmyeon.

Eo, berikan padaku agar aku bisa melemparkannya ke wajahmu.”

YA!”

 

***

 

Layaknya pagi-pagi yang lain, subway yang ditumpangi Yoonhee selalu penuh. Jika di hari lain ia bisa mendapat tempat duduk, kali ini tidak. Terpaksa ia harus berdiri dan berpegangan pada gantungan yang ada.

Semua yang berada di gerbong subway itu diam. Lebih banyak sibuk dengan gawai mereka masing-masing. Melihat itu Yoonhee jadi gatal untuk ikut-ikutan mengeluarkan ponselnya untuk sekedar surfing di internet atau mendengarkan lagu. Niatannya pas dengan bunyi sekali dari ponselnya.

Gayoung sonsaengnim mengiriminya sebuah foto melalui messenger. Yoonhee tidak begitu penasaran akan pesan dari Gayoung ssaem. Tapi ia juga tidak menunda untuk membukanya. Yoonhee tersenyum tipis saat melihat foto yang dikirim oleh Gayoung ssaem. Foto selca Gayoung ssaem dan putranya yang baru lahir.

‘Oremaniya Yoonhee-ya! Aku mengirimimu foto yang terlambat ini. Putraku menggemaskan, bukan? Namanya Park Joohwan. Ah ya, kapan aku bisa kembali mengajar? Kupikir sebentar lagi, kkk. Aku tidak sabar untuk menemuimu <3’

Dua kalimat terakhir di pesan Gayoung ssaem membuat Yoonhee sejenak terpekur. Waktu berjalan dengan cepat tanpa ia rasakan. Sebentar lagi Gayoung ssaem akan kembali dan Junmyeon juga akan pergi.

Yoonhee tidak berniat membalas pesan Gayoung ssaem. Mungkin ia akan membalasnya, tapi nanti. Tidak sekarang. Sekarang Yoonhee lebih memilih berdiri dalam diam saja. Sambil mengawasi keadaan sekitar yang ramai dan cukup sesak.

Di dekat pintu subway, Yoonhee melihat seorang siswi dengan seragam yang sama dengan dirinya tengah berdiri―satu sekolah tapi Yoonhee tidak tahu siapa siswi itu. Tangannya mencengkram tiang besi yang ada di sana dengan erat dan wajahnya menunduk. Dahi Yoonhee sedikit mengerut melihat gestur siswi itu yang dirasanya cukup aneh.

Setelah melihat lebih seksama lagi, kini Yoonhee tahu kenapa gestur siswi itu terlihat aneh. Tepat di belakang siswa itu ada seorang pemuda dengan jaket tebal yang kelihatan sengaja menempel-nempel pada siswi itu. Yoonhee juga sempat melihat tangan nakal pemuda itu berusaha menyentuh paha belakang dan pantat siswi itu. Dengan ogah-ogahan, Yoonhee melangkah mendekati siswi dan pemuda itu.

Dan dalam sekejap, Yoonhee sudah menendang pemuda itu hingga ia jatuh tersungkur. Siswi tadi terkejut menatap Yoonhee. Bukan hanya siswi itu saja, melainkan seluruh penumpang di gerbong subway itu.

“Apa yang kau lakukan, bocah?!” pemuda itu bangkit memegangi rusuk kanannya. Matanya menatap nyalang pada Yoonhee.

“Aku yang bertanya apa yang kau lakukan? Tindakan pelecehan seksualmu itu sungguh menjijikkan!” Yoonhee berkata tanpa gentar. Desas-desus mulai memenuhi gerbong.

“Jangan bicara omong kosong!”

Kepalan tangan pemuda itu mengayun begitu cepat hingga membuat Yoonhee yang tidak siap menerimanya terkejut. Yoonhee langsung memejamkan matanya. Bersiap jika bogem mentah itu mendarat di wajahnya.

“Jadi kau berani memukul seorang gadis?”

Mata Yoonhee membulat mendengar suara yang tidak asing baginya. Begitu ia menoleh ke samping, ia sudah mendapati Junmyeon di sana. Dengan tangan kanan mencengkram kepalan pemuda tadi. Mencegah bogem mentah itu mendarat di wajah Yoonhee.

“Apa-apaan kau ini?!” pemuda itu berang karena pukulannya terhenti di tengah jalan.

Tanpa diduga, Junmyeon tersenyum. “Maaf, kurasa refleksku terlalu bagus.”

“Kau siapa hingga berhak menahanku?!”

Dari wajah tersenyum bak malaikat, kini raut wajah Junmyeon berubah menjadi sangat serius. Raut yang belum pernah dilihat oleh Yoonhee sebelumnya. “Aku tidak akan membiarkan orang lain macam-macam dengan muridku. Aku gurunya!”

 

 

Petugas stasiun memandangi ketiga orang di hadapannya dengan heran. Tadi ia terburu-buru berlari setelah mendapat laporan pelecehan seksual di salah satu gerbong subway. Dan sekarang telinganya hampir tuli karena mendengar ocehan tanpa henti dari pemuda yang ditengarai melakukan pelecehan seksual.

“Aku tidak melakukan apapun!” pemuda itu berseru keras membela dirinya.

“Kau mau kutendang lagi? Atau haruskah aku mematahkan tulang rusukmu kali ini?” kata Yoonhee dengan dingin.

Ya! Cukup! Jadi apa yang sebenarnya terjadi?!” petugas stasiun itu berkacak pinggang. Dalam nada tinggi ia berhasil menghentikan obrolan tidak berguna itu.

“Dia―”

“Dia tadi memegang pantatku.” Junmyeon memotong perkataan Yoonhee.

“EH?!” baik Yoonhee maupun pemuda itu nampak terkejut dengan perkataan Junmyeon. Juga terkejut dengan betapa tenangnya Junmyeon mengatakan hal itu.

Tak terkecuali petugas stasiun. Tiba-tiba saja ia merasa bulu kuduknya berdiri mendengar pengakuan Junmyeon. “Be…benarkah itu?” tanya petugas stasiun dengan terbata-bata. Imajinasinya langsung mengarah akan tuduhan pria ini homoseksual.

Junmyeon mengangguk. “Ne, tadi dia memegang pantatku juga.”

“Baiklah, sekarang kau ikut aku!” dengan perasaan takut, petugas stasiun tadi membawa pemuda tadi yang terus berontak.

“Cih, ‘memegang pantatku’? Apa-apaan itu?” cibir Yoonhee.

Wae? Dengan begitu masalahnya cepat selesai, kan?” Junmyeon membela dirinya. “Ja, sekarang ayo pergi ke sekolah. Kita hampir terlambat.”

“Kau pergi saja dulu.” Yoonhee berjalan terlebih dahulu.

“Kau ingin membolos?”

Langkah Yoonhee terhenti kemudian menoleh pada Junmyeon. “Cerewet sekali kau, guru payah. Aku membolos atau tidak itu bukan urusanmu. Dan aku juga tidak mau berangkat sekolah bersamamu. Bencana namanya,” tukas Yoonhee sebelum melangkah lagi.

“Oy, Song Yoonhee!” Junmyeon berseru lebih keras. Kali ini Yoonhee juga berhenti meski sebenarnya ia malas. Yoonhee hanya berbalik dan menatap Junmyeon malas. “Terima ini!” Junmyeon melemparkan sesuatu pada Yoonhee.

Hap! Yoonhee berhasil menangkapnya dan melihat apa yang baru saja Junmyeon berikan padanya. Sebuah gelang yang terbuat dari tiga utas tali warna hitam yang digabung dengan hiasan berbentuk ‘mystic knot’ di tengahnya berwarna putih.

“Untukmu. Katanya itu jimat keberuntungan. Liontinnya itu, mystic knot, katanya bisa membawa keberuntungan baik yang tidak pernah berakhir dan hidup yang bahagia bagi yang memilikinya,” kata Junmyeon.

Yoonhee hanya diam dan melesakkan gelang itu di saku blazernya tanpa mengucapkan kata terima kasih. Ia harus ke sekolah sekarang.

 

Go to the next chapter

 

 

A/N :   First, thank you for you all guys who’s always read this fic despite leave a comment or not. I know I’m still have lack at some points but I’m working hard to fix it ^^ Beberapa kesibukan dan halangan yang datang sering ngebuat fanfic terbengkalai dan akhirnya author lebih suka liat anime daripada nulis -.-v Bahkan buat nyelesain fic ini aja author masih ngerasa males ._. /dihajar/ Ah ya, sebelumnya author juga mau tanya, Tao hyung itu nasibnya gimana sekarang? Kekudetan ini disebabkan karena pembuluh dompet yang mau pecah dan profesi sampingan author yaitu fakir wi-fi yang menyebabkan author gak bisa online selama kurang lebih dua minggu. Ma, selain jawaban dari pertanyaan di atas, author juga menanti komentar-komentar kalian. Ja, author tamvan pamit dulu. See you next chapter and/or another fanfic!

 

 

10 tanggapan untuk “손생님 때문에 ― Chapter 4”

  1. karakter yoonhee yg sk bolos mapel (tdr di uks) tu sring’ny ada di tokoh cowo2 anime/dorama/drakor, jrng2 cewe ky gt. Suho bkl stay / udahan ngajar di sklh yoonhee stlh gayoung ssaem blk dr cuti? bkl stay kyny ya, kan msh da bbrp chap ke dpn. itu xiumin bneran disisain ga tiramisu cake’ny? wah. kai absen di chap ini.
    Tao dah way much better Len, skrg dy dah ga mrh sm Kris, mlh pengen minta maaf atas kslhn yg dy bwt ke Kris in d’past. Wlw kaki’ny msh aga sulit u/ dy grak-in ke arah tertentu tp slebih’ny fine bhkn u/ di pk lari jg bs dy bilang di vid yg dy di intrvw sm mjlh Sina kmrn.

    1. Tapi tetep Kak, ane masih ilfeel ama Tao gegara dia nyebut Kris betrayer padahal dia sendiri ujung-ujungnya juga out dari EXO -____- This won’t heal easily.
      Lah, emang ada apa ama kakinya Tao? O_O

  2. Huh, susah banget negur Yoonhee. Menjengkelkan dia >_<
    Minseok juga kenapa sih dia malah membiarkan murid freak itu. Apa dia pedofil yang sebenarnya?

  3. wait… ‘hyung’ ? ‘tamvan’ ? author cowo? haa? honto desu ka? lol it’s my first time read a fanfiction who created by a fanboy 😀

    1. wkakakaka, omae wa nihon ga desu ka?
      aduh gimana ya? kalo aku bilang aku ni hemaprodit gimana? xD

  4. Yeyeye update jg .. its okey kak smua manusia psti pnya kekurangan tp klo mau dtngkatkan psti bsa kok heheh
    Smangat ya kak .. ak slalu ska part suho sm yeon heee hohoho

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s