손생님 때문에 ― Chapter 3

11054409_797189203685335_611182346276514984_n

 

Subtitle            : Because of You, Sir! (Sonsaengnim ttaemune)

Author             : Len K

Rate                 : T, PG-15

Casts               : Kim Junmyeon a.k.a Suho EXO, Song Yoonhee (OC), Kim Minseok a.k.a Xiumin EXO, Kim Jongin a.k.a Kai EXO, and another support casts

Genre              : school-life, romance

Disclaimer       : Standard disclaimer. I own the storyline but do not own the characters.

Chapter 3, 시작함니다…

손생님 때문에

 

“Oh, hai, Junmyeon ssaem!” Minseok mengangkat tangannya seraya tersenyum ramah pada Junmyeon yang baru saja tiba di UKS.

Pandangan Junmyeon mengedar ke seluruh penjuru ruangan. Matanya lalu terpaku pada tirai-tirai yang tertutup di jajaran tempat tidur di sana.

“Yoonhee ada disini?” tangan Junmyeon berkacak pinggang dan menatap tajam Minseok. Sama sekali tidak ada kesabaran untuk menanti jawaban dari Minseok.

Minseok duduk di kursi putarnya. “Kenapa kau bertanya hal yang sudah jelas jawabannya? Kau tidak bodoh, kan?”

Ya!” seru Junmyeon. Tanpa ba-bi-bu, Junmyeon menuju jajaran tempat tidur yang ada di sana dan menyibak tirainya satu-persatu dengan tidak sabaran.

“Hoiiii, kuperingatkan kau agar tidak membuat keributan di UKS! Kau tidak bisa memaksanya dan kau tahu itu!” Minseok memperingatkan Junmyeon karena melihat gelagat Junmyeon yang siap meledak.

Srraaaakk!!

Antara lega dan kesal yang dirasakan Junmyeon ketika ia melihat sesosok tubuh berbalut selimut. Tanpa ditanya lagi, itu pasti Yoonhee. Junmyeon menghela nafasnya.

Tangan Junmyeon lalu bergerak-gerak untuk menarik selimut yang menutupi tubuh Yoonhee. “Ya, ppalli ireona! Kau membolos lagi, uh?”

Tak ingin kalah dari Junmyeon, Yoonhee juga menarik selimutnya untuk makin erat menyelimutinya. “Berisik! Aku sakit dan ingin istirahat!”

Kening Junmyeon berkernyit. Sebagian uratnya sampai terlihat di kulitnya yang begitu putih itu. “Apanya yang sakit?! Yang kau lakukan hanyalah pura-pura sakit sehingga kau bisa membolos pelajaran. Iya, kan?! Jawab aku! Iya, kan?!”

“Aish, sikkeureo! Sekarang kepalaku jadi benar-benar sakit karena kau berteriak seperti itu!” balas Yoonhee tidak kalah kerasnya.

“Kepalamu itu tidak pernah sakit dan tidak akan pernah sakit!” seru Junmyeon hingga urat lehernya menegang dan menonjol.

Ctaakkk!!

YAAAAA! Sudah berapa kali kukatakan padamu agar tidak membuat keributan di ruang kerjaku, di UKS?! Apa kau tuli atau kau meninggalkan telingamu di rumah, huh, Junmyeon sonsaengnim?!” seru Minseok sepenuh hati setelah ia melempar sebotol revanol dan tepat mengenai belakang kepala Junmyeon.

Junmyeon mengusap belakang kepalanya yang terasa sakit. Botol revanol yang tergeletak tidak jauh di bawahnya ia ambil dan mainkan sejenak. Kesempatan emas ini tidak akan ia sia-siakan! Dalam sekejap, botol revanol yang tadinya berada di tangan Junmyeon sudah meluncur kearah Minseok. Tepat mengenai dahi Minseok.

“Dan sudah berapa kali kukatakan agar berhenti melempariku dengan benda-benda di ruangan ini?! Kau pikir dengan melempariku semua ini kau akan mendapat poin, huh?” Junmyeon merasa gusar.

Telunjuk Minseok tertuju pada Junmyeon. “Ya! Beruntung aku tidak melemparmu dengan gunting atau jarum jahit! Juga bukankah aku sudah sering berkata padamu agar tidak memaksa Yoonhee untuk masuk kelas jika dia tidak mau?!” urat Minseok ikut-ikutan menegang.

“Petugas kesehatan macam apa kau yang berbicara seperti itu? Yoonhee harus masuk kelas tidak peduli dia mau atau tidak!”

“Kau tidak mempertimbangkan sisi psikologisnya, huh?!”

Yoonhee makin menempelkan bantal UKS yang tebal ke telinganya. Berharap pertengkaran konyol antara Junmyeon dan Minseok tidak merasuki pendengarannya. Tapi intensitas bunyi pertengkaran konyol itu mampu merangsek ke dalam bantal tebal itu. Yoonhee berdecak kesal. Yang ia inginkan tiap kali berada di UKS adalah ketenangan. Hal yang tidak bisa ia dapatkan sekarang ini.

Braaakkk!! Bantal yang tadinya menutupi telinga Yoonhee, melayang di antara Junmyeon dan Minseok yang tengah berseru dan berhasil menabrak sebuah poster anatomi manusia yang di pigura. Beruntung tidak jatuh dan pecah. Pertengkaran Junmyeon dan Minseok juga sudah berhenti. Kini keduanya sama-sama menatap kearah Yoonhee yang sudah terbangun.

“Wah, baguslah kau sudah bangun! Kaja, kita harus ke kel―”

“Aku tidak akan pergi ke kelas dengan atau tanpamu!” Yoonhee memotong ucapan Junmyeon dengan seruannya yang tidak kalah keras.

Minseok mengangguk setuju, “Eo, kau bisa tinggal disini, Yoonhee-ya.”

Junmyeon berpaling pada Minseok. Masih diselimuti aura amarah. “Mworago? Aku yang berhak menentukan karena aku wali kelasnya, bukan kau!” telunjuk Junmyeon menusuk-nusuk dada Minseok.

“Haish, kenapa kau berisik sekali, guru payah?” gerutu Yoonhee.

“Siapa yang kau sebut ‘guru payah’?” geram Junmyeon. Wajahnya dan wajah Yoonhee kini hanya berjarak dua puluh senti. Saling pandang dan saling memancarkan kilat amarah juga aura permusuhan yang kental.

Yoonhee mengedikkan dagunya kearah Junmyeon. “Kau. Siapa lagi?”

Gyuutt!! Junmyeon menjewer telinga Yoonhee hingga Yoonhee mengaduh kesakitan. “Beraninya kau berkata seperti itu pada wali kelasmu?!”

Minseok hanya bisa berdecak dan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Junmyeon dan Yoonhee. Dirinya harus membiasakan diri akan keributan yang makin sering terjadi di ruang kerjanya.

Ja, kalau begitu kami pergi dulu, Miseok-ki!” pamit Junmyeon.

Minseok kembali tercengang melihat pemandangan di hadapannya. Lengan kanan Junmyeon sudah melilit leher Yoonhee dengan erat. Bisa dilihat dari bagaimana Yoonhee begitu ingin lepas dari belitan Junmyeon. Sebelum bisa Minseok berkata apa-apa, dalam keadaan seperti itu Junmyeon membawa paksa Yoonhee untuk keluar dari UKS.

“Tunggu! Se…sepatuku!” tangan Yoonhee menggapai-gapai udara kosong, hendak menggapai sepatunya.

Junmyeon meraih sepatu Yoonhee dengan kasar menggunakan tangan kirinya yang bebas. “Untuk sekarang, kau jalan dengan kaos kakimu saja!”

YA! Kau ingin mempermalukanku, huh?!”

“Memang itu tujuanku!”

“Wali kelas macam apa kau ini?!”

“Harusnya aku yang bertanya, murid macam apa kau ini?!”

 

***

 

Bel pulang merupakan bunyi favorit seluruh siswa sekolah. Kebebasan mereka yang terenggut karena jadwal dan terkungkung di dalam bangunan beton akhirnya bisa mereka dapatkan kembali. Meski untuk sebagian siswa beberapa tugas, pekerjaan rumah, dan kegiatan klub menanti. Setidaknya mereka bisa mengambil nafas sejenak.

Yoonhee membiarkan teman-teman sekelasnya meninggalkan ruang kelas terlebih dahulu. Dia juga tidak ingin dirinya harus berdesak-desakan dengan siswa lain. Begitu ruang kelas sudah sepi, baru Yoonhee menyambar tasnya di meja dan berjalan keluar.

“Aku senang kau mengikuti semua pelajaran hari ini.”

Yoonhee berjingkat kaget mendengar suatu suara yang tak asing baginya. Ia lalu menatap horror pada sosok Junmyeon yang bersandar di tembok di samping pintu belakang kelasnya yang menatapnya dengan senyum tidak tulus.

“Kenapa kau ada di sini?” tanya Yoonhee gusar seraya menunjuk-nunjuk Junmyeon.

“Memangnya tidak boleh?” Junmyeon balas bertanya.

Aniya! Sama sekali tidak boleh! Belum cukup kau menyiksaku?”

“Siapa yang menyiksamu? Aku membawamu ke jalan yang benar!” Junmyeon berkeras membela dirinya.

“Cih, jalan yang benar apanya.” Yoonhee berdecih pelan. “Cepat pergi sana, guru payah. Keberadaanmu membuatku muak.”

Ya! Jaga mulutmu itu!”

“Song Yoonhee!” suara sapaan itu mengurungkan niat Junmyeon untuk mengoceh sesuka hati pada Yoonhee―seperti memulai sebuah perang baru. Junmyeon segera meredam emosinya dan kembali ke mode guru-yang-sopan-dengan-senyum-angelic-yang-digandrungi-banyak-wanita.

“Oh, Kim Jongin!” balas Yoonhee ceria.

Sungguh, sekarang ini Junmyeon merasa kesal karena seorang Song Yoonhee bisa bersikap semanis itu pada seorang siswa. ‘Apa yang aku pikirkan? Ini bukan berarti aku ingin dia bersikap manis padaku, hanya saja…aku ini wali kelasnya! Tidak bisakah ia bersikap lebih baik padaku?!’ batin Junmyeon menjerit.

“Kau ada waktu luang setelah ini?” tanya Jongin.

Eo, ada apa?”

“Bagaimana dengan pergi ke taman bermain?”

“Ide bagus! Joah! Kaja!” Yoonhee mengangguk dengan semangat. “Kalau begitu sampai jumpa lagi, Junmyeon sonsaengnim,” lanjut Yoonhee dengan nada manis yang dibuat-buat sebelum pergi bersama Jongin.

Nada manis yang dibuat-dibuat Yoonhee tadi sudah membuat Junmyeon ingin muntah dan shock. Tapi Jongin justru menambah kadar kekagetannya dengan menyeringai padanya seraya menoleh pergi, ditambah tatapan tajam penuh kemenangan itu. Rahang bawah Junmyeon mungkin sudah jatuh kebawah jika ligamennya sudah tidak ada.

Aigo, aigo, apa maksud bocah tadi? Dia pikir aku cemburu karena ia berhasil membawa Yoonhee pergi? Maldo andwe, jeolttae! Aku justru merasa beruntung karena bocah itu membawa Yoonhee pergi dari hadapanku! Haish!” Junmyeon menjambak rambutnya frustasi.

 

 

Ini seperti mimpi bagi Yoonhee. Seorang Kim Jongin mengajaknya bermain. Dulu bahkan Yoonhee tidak berani memimpikan hal ini. Bisa bicara sepatah-dua patah kata pada Jongin sudah merupakan miracle of the day baginya. Tapi sekarang? Yoonhee berkali-kali harus mencubit lengannya hanya untuk memastikan jika dia berada di dunia nyata atau bukan rohnya yang berjalan-jalan.

“Kau sepertinya terlihat begitu akrab dengan wali kelas barumu, hm?” goda Jongin. Keriuhan di arcade yang mereka kunjungi membuatnya harus mengeraskan sedikit volume suaranya.

“Akrab? Jika definisi akrab bagimu adalah Tom and Jerry, maka jawabanku adalah ‘ya’,” balas Yoonhee diselingi candaan yang tidak begitu lucu.

Akan tetapi Jongin tetap tertawa. “Keundae…guru baru itu begitu perhatian padamu, eoh? Aku tidak pernah melihat seseorang yang begitu perhatiaanny padamu,” cibir Jongin. Masih dalam konteks bercanda.

Yoonhee memutar bola matanya malas. “Aku tahu kemana arah pembicaraanmu, Jongin-ssi. Tapi itu semua tidak seperti yang kau pikirkan, kau harus ingat itu.”

“Oke. Akan kuingat.” Jongin mengangguk. “Jadi kau ingin main basket denganku? Kita duet. Mungkin aku bisa menukar tiketnya dengan boneka kesukaanmu?”

Yoonhee tertawa pelan. “Oh, dengan senang hati. Aku tidak begitu buruk dalam olahraga satu ini.”

 

 

“Aaaa…sinanda!” Yoonhee mengangkat tangannya tinggi-tinggi sekeluarnya dari arcade.

Tanpa terasa mereka bermain hingga petang menjelang. Suasana di luar juga tidak jauh beda dengan suasana di dalam arcade. Sama-sama ramai dan riuh. Lampu-lampu jalan dan toko-toko mulai menyala. Trotoar juga belum sepi dari para pejalan kaki. Dari dalam, masih bisa terdengar suara hingar-bingar musik di arcade.

“Aku tidak pernah melihatmu sesenang ini di sekolah,” celetuk Jongin.

Yoonhee menoleh pada Jongin, tersenyum sekilas, tapi kemudian menundukkan kepalanya dalam sendu. “Semua orang seperti menjauhiku. Bicaraku juga aneh, juga ada beberapa gossip yang menyebar soal diriku dimana aku terlalu malas untuk meluruskan semuanya. Aku juga baru menyadari jika aku bisa sedekat ini dengan murid sekolahku―sekolah kita.” Jongin mendengarkan dengan saksama. “Lalu kenapa kau bersikap berbeda padaku, Jongin? Di saat yang lain menjaga jarak denganku, kenapa kau malah memperpendek jarak itu?”

Tiba-tiba saja Jongin merasa gugup. Pikirannya terasa langsung sibuk untuk mencari jawaban atas pertanyaan Yoonhee. “Yah…jika kau ingin berteman, maka berteman saja. Kau tidak perlu terlalu selektif dalam memilih teman, bukan? Lagipula…kurasa gossip tentangmu yang menyebar di sekolah tidak benar.” Jongin merasa jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya ketika jawabannya meluncur keluar dari mulutnya.

Yoonhee tersenyum kemudian tertawa pelan. “Aku tidak menyangka kau bisa mengucapkan kata-kata seperti itu. Demo…arigatou ne? (Tapi…terimakasih ya?)”

Jongin tersenyum sekilas. “Eo.”

 

***

 

Minseok menyibakkan tirai yang menutupi tempat tidur UKS yang tengah digunakan Yoonhee untuk membolos pelajaran terakhir. “Hoi, ireona Yoonhee-ya. Jibe an-ga?”

Yoonhee menggeliat di kasur UKS yang empuk. “Sekolahnya sudah selesai?”

Eo. Kau sukses melewatkan dua jam terakhir. Tadi Jungsoo sonsaengnim sempat datang kemari untuk mengecekmu. Semua guru juga sudah tahu akal bulusmu ini. Tapi saat ia tahu suhu tubuhmu yang hangat begitu ia membiarkanmu. Eh, tapi kau tidak apa-apa, kan? Kurasa kau meriang. Kau benar-benar sakit sekarang?” Minseok duduk di tepi kasur Yoonhee.

Yoonhee bangun dengan rambut sedikit acak-acakan. “Aniya, na gwaenchana. Aku hanya lapar dan malas seperti biasa. Mungkin setelah aku makan samgyetang di rumah aku akan kembali pulih. Geokjeongma, yang begini ini tidak bisa disebut sakit.”

Minseok lalu menyerahkan segelas teh hitam hangat dengan tambahan tiga blok gula ukuran kecil pada Yoonhee. “Kalau begitu segeralah pulang.”

Yoonhee menggeleng seraya menyesap tehnya, “Tidak bisa,” katanya cepat sebelum kembali menghabiskan tehnya.

Wae?”

“Aku harus ke toko buku. Ada beberapa manga yang ingin kubeli.” Yoonhee menyerahkan gelas kosongnya pada Minseok.

Gelas kosong di tangan Minseok itu lalu ia letakkan di nakas samping tempat tidur yang ditempati Yoonhee karena terlalu malas untuk bergerak. “Haish, dasar kau ini! Setelah itu lekaslah pulang.”

Yoonhee bangkit dari tempat tidur, “Eo!” sahutnya sambil melompat kecil. “Ja, sampai besok. Ngomong-ngomong, besok aku ingin susu coklat hangat.”

Araseo,” sahut Minseok.

 

 

Yoonhee menatap layar ponselnya yang menampilkan jadwal terbit buku minggu ini. Ada beberapa judul manga yang harus ia beli. Artinya ada bahan bacaan baru yang bisa ia baca jika guru di kelas yang menerangkan pelajaran mulai membosankan atau bisa ia bawa ke UKS untuk menemaninya membolos.

Ponsel Yoonhee lalu masuk ke dalam saku blazer seragam Yoonhee. Angin musim gugur yang barusan berhembus cukup dingin dan membuatnya menggigil. Dalam hati Yoonhee merutuki dirinya sendiri yang lupa tidak membawa syal. Tapi Yoonhee meyakinkan dirinya sendiri jika dirinya bisa menahan dingin ini. Demi komik-komik yang ia ingin beli.

“Huaaaaa!! Eomma!! Huaaa…hiks, hiks. Eomma!”

Suara tangis seorang bocah laki-laki mengusik lamunan Yoonhee. Tidak jauh dari Yoonhee, Yoonhee bisa melihat seorang bocah laki-laki dalam balutan pakaian musim gugurnya yang lucu tengah menangis keras. Airmatanya jatuh dengan deras dan wajahnya juga mulai memerah karena menangis juga karena dinginnya udara. Dengan berlari kecil Yoonhee mendekati bocah laki-laki itu.

Yoonhee lalu segera berjongkok di depan bocah laki-laki itu, “Hei adik kecil, kenapa kau menangis? Dimana orangtuamu? Bagaimana dengan rumahmu?” tanya Yoonhee lembut.

Bocah laki-laki itu berhenti menangis. Penasaran pada siapa noona di depannya, juga karena mendengar aksen yang tidak biasa dari noona di depannya. “Per…permenku,” tunjuknya, “permenku jatuh dan kotor. Aku tidak bisa memakannya, uangku juga sudah habis. Huaaa!” bocah laki-laki menjawab dengan terbata-bata dan kembali menangis.

Yoonhee melihat kearah yang ditunjuk bocah tadi dan bisa melihat sebuah lollipop warna-warni sudah hancur berkeping-keping. Yoonhee lalu tersenyum dan tampak merogoh-rogoh sesuatu dari dalam tasnya.

Aigo, uljimarago. Noona punya sesuatu untukmu,” kata Yoonhee. Bocah itu berhenti menangis dan menatap Yoonhee dengan mata yang masih penuh dengan linangan airmata. “Ta-da!!” Yoonhee berseru seraya memamerkan lollipop miliknya. “Lollipop punya noona memang tidak sama dengan punyamu, tapi apa kau mau?”

Senyum bocah itu mulai mengembang. Dalam satu anggukan bocah itu berseru dengan girangnya, “Aku mau!”

Yoonhee langsung menyerahkan lollipopnya pada bocah itu. Ia ikut-ikut tertawa ketika melihat bocah kecil itu juga tertawa. “Lalu dimana rumahmu? Mau noona antar pulang?” Yoonhee menawarkan diri.

“Tidak usah, noona baik hati! Rumahku di dekat sini, kok. Aku berani pulang sendiri!”

Geurae, kalau begitu lekaslah pulang sebelum orangtuamu sibuk mencarimu, eo?” Yoonhee mengacak-acak rambut bocah laki-laki itu dengan gemas.

“Mm!” bocah laki-laki mengangguk dengan senang juga bersemangat sebelum mengucapkan ‘terima kasih’ lalu berlari pulang.

Yoonhee menatap bocah laki-laki tadi dengan senang. Ia pikir sesuatu yang gawat sudah terjadi, ternyata hanya karena sebuah lollipop. Beruntung pula ia masih mempunyai lollipop di tasnya.

“Kupikir kau ingin menculik bocah itu tadi,” sahut sebuah suara dari belakang.

Yoonhee kontan menoleh ke belakang dan menatap sengit si empunya suara. “Aku bukan seorang penculik, Junmyeon sonsaengnim,” balas Yoonhee dengan nada nyinyir.

Junmyeon melangkah mendekat. “Yah, terserah kau saja. Kau mau kemana, huh? Belum cukup main-mainnya? Kau kan sudah melewatkan dua jam pelajaran terakhir hari ini.”

“Bukan urusanmu!” tukas Yoonhee lalu melangkah cepat menjauhi Junmyeon.

 

 

Junmyeon merasa mendengar suara tangis samar-samar. ‘Seperti seorang anak kecil menangis’, batinnya. Junmyeon mengikuti nalurinya untuk mendekat kearah tangis itu. Begitu ia berbelok di persimpangan jalan, ia bisa melihat seorang anak laki-laki yang berusia sekitar lima tahun tengah menangis.

Tapi bukan itu yang menjadi perhatian Junmyeon. Melainkan seseorang yang berjongkok di depan bocah laki-laki itu. Junmyeon hampir tidak mempercayai matanya sendiri ketika ia melihat seseorang itu adalah Yoonhee. Namun setelah maju beberapa langkah, Junmyeon yakin jika itu adalah Yoonhee.

Yoonhee nampak berbincang-bincang dengan bocah cilik itu. Tangis bocah kecil itu juga berhenti sejenak, tapi kembali lagi. Junmyeon memilih mengawasi keduanya dari tempatnya sekarang. Ia bisa melihat Yoonhee tengah merogoh-rogoh sesuatu di dalam tasnya.

Aigo, uljimarago. Noona punya sesuatu untukmu,” kata Yoonhee. Junmyeon juga tahu bocah itu berhenti menangis dan menatap Yoonhee dengan mata yang masih penuh dengan linangan airmata. “Ta-da!!” Yoonhee berseru seraya memamerkan lollipop miliknya. “Lollipop punya noona memang tidak sama dengan punyamu, tapi apa kau mau?”

Senyum bocah itu mulai mengembang. Dalam satu anggukan bocah itu berseru dengan keras dan girangnya, “Aku mau!”

Tanpa sadari, Junmyeon ikut tersenyum melihat pemandangan ini. Ia baru saja melihat sisi Yoonhee yang lain. Baru kali ini juga Junmyeon melihat Yoonhee bisa tersenyum lebar dengan tulus, hingga tertawa.

Yoonhee langsung menyerahkan lollipopnya pada bocah itu. Ia ikut-ikut tertawa ketika melihat bocah kecil itu juga tertawa. “Lalu dimana rumahmu? Mau noona antar pulang?” Yoonhee menawarkan diri.

“Tidak usah, noona baik hati! Rumahku di dekat sini, kok. Aku berani pulang sendiri!”

Geurae, kalau begitu lekaslah pulang sebelum orangtuamu sibuk mencarimu, eo?” Yoonhee mengacak-acak rambut bocah laki-laki itu dengan gemas.

“Mm!” bocah laki-laki mengangguk dengan senang juga bersemangat sebelum mengucapkan ‘terima kasih’ lalu berlari pulang.

Junmyeon lalu berjalan mendekati Yoonhee. “Kupikir kau ingin menculik bocah itu tadi,” ujar Junmyeon.

Yoonhee kontan menoleh ke belakang dan menatap sengit Junmyeon. Junmyeon ingin tertawa sekarang ini. Setelah ia melihat Yoonhee bisa tersenyum seperti itu sekarang ia kembali dihadapkan pada si judes Yoonhee. Perubahan mood yang sangat drastis.

“Aku bukan seorang penculik, Junmyeon sonsaengnim?” balas Yoonhee dengan nada nyinyir.

Junmyeon semakin melangkah mendekat. “Yah, terserah kau saja. Kau mau kemana, huh? Belum cukup main-mainnya? Kau kan sudah melewatkan dua jam pelajaran terakhir hari ini.”

“Bukan urusanmu!” tukas Yoonhee lalu melangkah cepat menjauhi Junmyeon.

Junmyeon tidak bisa menahan tawanya lagi. Ia tertawa lepas dan mengikuti Yoonhee dari belakang. Tidak mempedulikan berapa kali Yoonhee menoleh ke belakang dan menatapnya dengan tatapan tajam dan waspada. Seakan-akan Junmyeon ini seorang penjahat.

“Kenapa kau mengikutiku?” Yoonhee berhenti melangkah dan menghentakkan kakinya dengan gusar.

Langkah Junmyeon ikut terhenti. Ia menatap Yoonhee tidak mengerti. “Siapa juga yang mengikutimu? Aku ingin ke toko buku asal kau tahu!” balas Junmyeon kesal.

Raut wajah Yoonhee seketika berubah. Sudah jelas ia salah tingkah dan kembali berjalan mendahului Junmyeon dengan cepat. Lagi-lagi Junmyeon tertawa karena tingkah Yoonhee yang tidak ia duga.

“Kau mau ke toko buku juga ya?” tanya Junmyeon terkikik tapi tidak mendapat tanggapan apa-apa dari Yoonhee yang berjalan cepat di depannya. “Kalau begitu kita bisa pergi kesana bersama, kan?” lanjut Junmyeon.

“Siapa yang ingin pergi bersama denganmu?” seru Yoonhee lalu makin mempercepat jalannya.

Junmyeon kembali tertawa dan berlari kecil beberapa langkah untuk menyusul Yoonhee. “Wae? Kau tidak mau? Jarang lho, gadis yang bisa jalan bersama denganku. Kau harusnya merasa beruntung.”

Yoonhee masih tidak mau menolehkan kepalanya pada Junmyeon. “Apanya yang beruntung? Justru itu merupakan kesialan bagiku!” serunya lagi.

Junmyeon tertawa kecil. “Ya! Song Yoonhee! Gidaryeo!” panggil Junmyeon ketika Yoonhee terlihat makin menjauh.

 

 

“Heish, seorang pelajar sepertimu harusnya membeli buku-buku pelajaran. Bukannya komik-komik seperti ini!” buku-buku jari Junmyeon mengetuk-ngetuk tumpukan komik yang ada di tangan Yoonhee.

Yoonhee kembali berdecak. Moodnya sudah hancur saat ia bertemu wali kelas barunya ini di jalan tadi. Ditambah pada akhirnya mereka terpaksa bersama-sama untuk ke toko buku meski Yoonhee tetap menjaga jarak dengan Junmyeon.

Ya, ibwabwa!” Junmyeon mencolek lengan Yoonhee. Tangan kirinya memamerkan satu-persatu buku yang sudah diambilnya. “Pelajar sepertimu harusnya membaca buku-buku bermanfaat seperti ini.”

Yoonhee menatap datar buku-buku yang dipamerkan oleh Junmyeon yang semuanya merupakan buku non-fiksi. Biografi, buku tentang psikologis, tutorial IT, dan sejenisnya.

“Aku sudah kenyang dengan buku paket yang tebal-tebal dari sekolah!” seloroh Yoonhee dengan tidak senang. “Kau bicara seakan-akan kau tidak pernah menikmati komik dan buku-buku fiksi saja!”

“Eish, bukan seperti itu. Hanya saja sebagai pelajar, prioritasmu harusnya buku-buku pelajaran dan buku-buku yang bisa memperkaya ilmumu,” sergah Junmyeon.

Yoonhee menatap Junmyeon tajam. “Selain payah, kau ini cerewet juga ya?”

Jamkan!” Junmyeon menahan lengan Yoonhee sebelum muridnya itu pergi.

Mwo?” tanya Yoonhee. Tidak ada sedikitpun minat dalam nada pertanyaannya.

“Membeli buku sebanyak itu sebaiknya kau letakkan di dalam tas.” Junmyeon mengambil tumpukan manga dari tangan Yoonhee dan memasukkannya ke dalam tas belanja yang disediakan oleh toko.

Eo. Sekalian bawakan ya?” cibir Yoonhee lalu pergi ke bagian toko yang lain.

Junmyeon menggeleng-gelengkan kepalanya karena tingkah Yoonhee. “Geu yeojaga cham…!”

 

 

Semakin malam, udara semakin dingin. Yoonhee dan Junmyeon baru saja selesai berburu buku. Kini keduanya berada di halte tidak jauh dari toko buku tersebut. Halte juga tidak kalah ramainya dengan trotoar yang penuh sesak oleh pejalan kaki. Bahkan tidak ada tempat duduk untuk keduanya di halte itu. Masih beberapa menit lagi sebelum bis mereka tiba di halte.

Yoonhee mengeratkan pelukannya pada tumpukan komik yang baru dibelinya. Dinginnya udara musim gugur terasa semakin menusuk-nusuk tulangnya. Bayang-bayang akan samgyetang hangat di rumahnyalah yang membuatnya menahan dinginnya malam ini. Tapi memeluk tumpukan buku bukan ide yang bagus karena Yoonhee masih merasa kedinginan. Yoonhee hanya berharap agar dirinya tidak benar-benar jatuh sakit nanti.

Junmyeon yang berdiri di samping Yoonhee berkali-kali melirik kearah muridnya itu. Berbeda dengan Yoonhee, Junmyeon merasa hangat karena trench coat yang dipakainya, berlapis dengan pakaian hangat dan syal yang melingkar di lehernya. Tanpa perlu bertanyapun, Junmyeon tahu jika Yoonhee kedinginan. Suhu malam ini benar-benar jatuh.

Junmyeon kemudian meletakkan buku belanjaannya di bawah dan melepas syalnya. “Pakai ini jika kau tidak mau sakit.” Tangan kiri Junmyeon terulur di depan Yoonhee, namun wajah Junmyeon tetap lurus kedepan.

Yoonhee mengerjap menatap uluran syal di hadapannya lalu bergantian menatap Junmyeon. “Tidak usah. Sebentar lagi aku juga sampai rumah,” tolaknya.

Mwoya? Pakailah!” paksa Junmyeon.

Ani.” Lagi-lagi Yoonhee menolak.

“Kenapa kau begitu keras kepala?”

Tanpa aba-aba, Junmyeon sudah berada di depan Yoonhee dan melingkarkan syalnya ke leher Yoonhee. Jarak di antara keduanya cukup dekat dan membuat Yoonhee terbelalak kaget. Di jarak sedekat ini, Yoonhee bisa mencium aroma pinus bercampur peppermint dari parfum yang digunakan Junmyeon.

“Nah, sebentar juga selesai. Apa susahnya menerima tawaran baik orang lain?” Junmyeon mengomeli muridnya itu. Yoonhee tidak menyahut. Tidak lama kemudian, sebuah bus berhenti di depan halte. “Ah, itu busku. Aku duluan. Hati-hati, eo?” Junmyeon mengambil buku belanjaannya yang tadi ia taruh di bawah dan berlari masuk ke dalam bus.

Yoonhee hanya menatap punggung Junmyeon dengan tatapan kosong.

 

 

 

A/N : Yossshhaa… author paling cakep kini kembali dengan fanfic chapter ketiga dan menepati janjinya sendiri, yaitu ‘mungkin telat post chapter baru’.lol /digampar/ Maa, chapter ini belum sampai klimaks sih, tapi gimana pendapat readers sekalian?

9 tanggapan untuk “손생님 때문에 ― Chapter 3”

  1. hm.. spt’ny kai had a crush on yoonhee.. yoonhee’ny jg ada rasa kan ke kai, tp blm ada confession dr msng2 jd sk2an dlm ht msng2 ja, ini yg nama’ny cinta monyet kah? sk2an/naksir tmn jmn sklh.. saya jg sk bgt bc komik jmn sklh dulu, tp ga sendirian ky yoonhee, cz dpt tmn2/shbt2 1 kls nge-genk thx 2 our same hobi–bc komik. ga da cewe2 yg ngfans/jd stalker’ny kai di sklh?

  2. waaah, enaknya jadi Yoonhee, pasti syal nya hangat bangett deh. moment mereka yang akur dong, dari kemarin musuhan mulu… 😀

    1. Lebih hangat pelukannya Junmyeon dong 😀 /plak/
      Sayangnya mereka belum ada tanda-tanda buat akur, hehehe

  3. Eyeee im the first ya kak ..
    Kk baik deh skrg lbih pnjangg dr yg kmrennn huhuhuhu
    Kak bnykin scenenya si yeonhee sm jeonmyeon dong ak udh mlai dpet feel mreka solanya :3:3:3

    1. nffk baa? bahasa baru ya? ‘_’
      Wahahaha, makasih banget lho ya. Nanti kalo kepalaku jadi gede kamu yg tanggung jawab 😀

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s