Let The Games Begin #4

Poster (19)(1)

《 Let The Games Begin #4 

Writers: Deerlights

 

▲ CHAPTER 4  ▲

Cast:

Xi Luhan

Choi Youra

Other Cast

Genre:

Romance

School Life

Marriage Life

Length:

Chaptered

Rating: PG-17

 

Disclaimer:

This story officially posted on my personal blog http://deerlights.wordpress.com/

 

▲▼▲

Author POV

Apa aku mulai menyukai si idiot itu? Ani –ini pasti karena udara dingin. Ugh, sial.

Kai-ah –aku harus memberimu jawaban apa?

Bus Station 06.00 PM

Seorang pria yang tengah terduduk di atas motor sport hitam itu mengerutkan dahinya. Raut wajahnya berubah menjadi cemas ketika Ia mulai mengenali sesosok gadis yang terduduk di kursi halte. Dengan sigap, pria berambut hitam itu melepas helm-nya seraya turun dari motornya, untuk menghampiri gadis itu.

“Youra-ah, gwaenchana?” ujarnya sangat lembut saat Ia menerima pancaran sinyal kurang baik dari gadis itu.

Dia –menangis?

Eoh –Kai, kenapa kau belum pulang?”

Youra memijat keningnya yang sedikit sakit karena kehujanan sambil berujar lemah. Keadaannya sangat jauh berbeda seperti yang Kai lihat siang tadi.

“Kau menangis?”

Aniya –udaranya sangat dingin, aku –“

“Kau harus segera pulang. Aku akan mengantarmu.”

“Kai –aku bisa pulang sendiri. Maaf merepotkanmu.”

Youra segera berdiri setelah melihat bus yang Ia tunggu berhenti di depannya. Gadis itu melambaikan tangannya seraya tersenyum setelah Ia duduk di kursi bus. Kai menghela nafasnya sejenak, Ia bergegas menyalakan mesin motornya. Mengekori bus yang Youra naiki, bermaksud mengawasi gadis itu.

Youra’s Home 07.30 PM

Ponsel gadis itu terus bergetar selama di perjalanan. Youra sama sekali tidak berniat untuk mengangkat panggilan dari siapapun, walaupun Ia tahu Luhan pasti sedang mencarinya. Mobil Luhan telah terparkir di garasi, ya –pria itu lebih dulu sampai di rumah dan masih terus berusaha menghubungi Youra. Disamping itu, Kai masih terus menunggu gadis itu hingga masuk ke rumah, Ia berdiri beberapa meter dari gadis itu untuk mengawasi keadaannya.

YOURA!

Kai memekik ketika melihat Youra limbung dan terjatuh di depan pintu rumahnya sebelum sempat membukanya. Tanpa ragu-ragu Kai memasuki halaman rumah gadis itu dan berlari menghampiri Youra. Kai menyentuh kening gadis itu, demamnya sangat tinggi.

Cklek!

Daun pintu yang tepat berada di depan mereka terbuka, menampakkan sosok yang tidak asing lagi bagi Kai.

“Lu-Luhan? Kenapa kau ada disini?”

Luhan mematung sesaat, wajahnya berkilat marah begitu melihat Youra terbaring lemah di dekapan Kai. Pria itu seakan lupa bahwa Kai seharusnya tidak ada di tempat ini. Kai seharusnya tidak melihat semua ini. Kai seharusnya tidak mengetahui tentang ini. Ia terlalu khawatir akan gadis itu. Tangan besarnya segera mengangkat Youra dari Kai,

“Dia urusanku.” ujar Luhan ketus. Pria berdarah China itu segera masuk dan menutup pintu rumahnya. Meninggalkan Kai yang masih bertanya-tanya tentang apa yang sedang terjadi.

Youra’s Room

“Bodoh, kemana saja kau?” Luhan bergumam pelan seraya membaringkan tubuh gadis itu ke kasurnya. Youra hanya memejamkan matanya tenang, bulir air mata gadis itu masih berkumpul disekitar kelopak matanya. Perasaan Luhan sangat berkecambuk begitu melihat wajah pucat gadis itu. Tangannya mengusap air mata gadis didepannya lembut. Luhan sangat mengkhawatirkannya hingga terus menyalahkan dirinya sendiri membuat gadis itu menjadi sekacau ini.

Pria itu mengacak rambutnya gusar, mengingat Kai yang mungkin akan segera mengetahui segalanya. Tetapi Ia sedikit tenang, karena Kai mengawasi Youra saat Ia tidak ada. Ia memang tidak bisa menyalahkan siapapun atas kejadian tadi. Bahkan ini semua salahnya karena membiarkan Youra sendirian.

Luhan menggigit bibirnya cemas karena pakaian Youra sangat basah kuyup, dengan sedikit ragu Luhan melepas satu persatu kancing seragam gadis itu. Hei, dia bukan pria mesum yang mencari kesempatan, ini demi kesehatan Youra bukan? Ia melepas seragam Youra dan beralih mencari baju tebal di lemari gadis itu. Memakaikannya perlahan dan menutup tubuh gadis itu dengan selimut tebal.

“Apa yang harus aku lakukan?”

Luhan terus mengacak rambut coklatnya sambil mengetukkan jarinya ke dagu, Ia sama sekali tidak tahu cara merawat orang sakit. Jemari pria itu dengan lincah mencari informasi dari internet, dia benar-benar merasa payah sekarang. Bahkan kecerdasan otak dan kemampuan berolah raganya tidak berguna sama sekali di keadaan genting ini. Setelah mengikuti beberapa prosedur dari internet, Luhan segera menyiapkan kompres dan pergi ke apotik.

Youra’s Room 08.00 AM

Youra membuka matanya saat mendengar bunyi pesan masuk dari ponselnya. Gadis itu melirik ke arah jemarinya yang terasa hangat karena Luhan tengah menggenggamnya erat. Gadis itu memperhatikan Luhan yang terpejam dan duduk di samping tempat tidur gadis itu setelah melewati proses tidur tersulitnya. Ia mengurus Youra semalaman, bahkan Luhan masih menggenggam sendok di tangan kirinya. Bermaksud menunggu gadis itu hingga terbangun dan memberikan bubur buatannya yang sudah mendingin saat ini. Youra melirik ke arah jam dindingnya.

“Luhan, pabo-ya. Kenapa kau bolos sekolah?”

Gadis itu mengetuk-ngetuk kepala pria yang masih terlelap itu. Membuatnya sedikit mengerang dan membuka matanya malas. Ia menatap gadis itu datar, mengira-ngira bahwa keadaan gadis itu sudah membaik. Pria itu mendesah pelan,

“Tidurlah, aku masih mengantuk.”

Luhan kembali memejamkan matanya. Tangannya tetap menggenggam jemari gadis itu. Membuat Youra sedikit risih karena detak jantungnya mulai kembali tidak normal dan tubuhnya seperti terkena sengatan listrik.

“Aku sudah tidak mengantuk bodoh. Aish –apa kau tidak bisa melepaskan tanganmu?”

“Tidak bisa. Kalau begitu temani aku tidur.”

Luhan bangkit dari kursinya dan merangkak naik ke tempat tidur Youra, membuat gadis itu panik setengah mati. Ia hendak berdiri, namun tangan besar Luhan segera menahannya dan mengeratkan tangannya kepinggang gadis itu. Memeluk tubuh gadis itu tanpa mengetahui betapa Youra sangat gugup dan salah tingkah.

“Yak –tidurlah di kamarmu sendiri bodoh!”

“Aku harus menjagamu.”

“Aku baik-baik saja sekarang, kau bisa pergi Luhan.”

“Diamlah, wajahmu masih merah. Apa kau demam lagi?”

Youra menepuk pipinya sendiri. Suhu tubuhnya tentu saja sudah normal. Pria yang tengah memeluknya itu tersenyum jahil, ketika melihat Youra yang baru menyadari wajahnya bersemu sangat merah karena ulah pria itu.

“Pria idiot!” Youra memukuli Luhan cukup keras. Pria itu lantas manangkap kedua tangan Youra, membuat mereka berhadapan. Luhan menatap mata bengkak milik gadis itu lurus,

“Kenapa kau pulang tanpa memberitahuku?” ujar Luhan dengan nada bicara yang sedikit menampakkan emosinya. Pertanyaan Luhan membuat gadis itu kembali mengingat penyebab Ia sakit semalam.

“Uhm –kukira kau ada urusan penting.” Luhan mengeratkan genggamannya di lengan gadis itu, Ia sangat yakin gadis itu melihatnya bersama Park Seul kemarin.

“Kenapa kau meninggalkan payungmu di atas ranselku?”

“Kau bodoh tidak membawa ranselmu saat hujan.”

“Lalu menggantikannya denganmu yang sekarang sakit? Siapa yang lebih bodoh? Kau sangat merepotkanku Choi Youra.”

“Maaf…”

Luhan mengacak rambut gadis itu pelan, Ia mengusap pipi gadis itu lembut. Menatap kedua manik matanya yang masih menampakkan rasa bersalah. Mencoba membaca seluruh perasaan gadis itu. Meyakinkan bahwa pertanyaan di benaknya selama ini benar dan apa yang dirasakannya belakangan ini nyata.

Choi Youra –apa kau mulai mencintaiku?

Seongsan High School 08.00 AM

“Sehunnie! Dimana Luhan? Kenapa Ia belum datang?” gadis hitam berambut panjang itu menghampiri Sehun dengan gaya khasnya. Pernak-pernik asesoris cantik tersemat di setiap bagian tubuh gadis itu. Bibirnya melengkung indah dan matanya mengerjap mencari-cari sesosok Luhan.

“Entahlah, Ia tidak bisa dihubungi.”

Arraseo –aku akan mencoba menghubunginya sendiri.” Senyuman gadis itu memudar, Ia mencari-cari ponsel di dalam tas bermotif polkadot miliknya. Sehun mendelik ke arah gadis itu, memperhatikan jari mungil Park Seul yang tengah mengetik sebuah pesan singkat untuk Luhan.

Guru bidang studi di kelas mereka belum juga hadir. Gadis itu dengan gesit keluar dari kelas dan berlari ke kelas disampingnya. Ia memperhatikan kelas itu seksama dari luar jendela. Wajahnya berubah semakin murung ketika mengetahui murid bernama Choi Youra yang belakangan digosipkan dekat dengan Luhan juga tidak hadir di kelas hari ini.

Kenapa gadis itu sangat mengganggu?

Keesokan harinya,

Seongsan High School, Library 02.00 PM

“Youra, apa kau sibuk?” Kai duduk di samping Youra yang sedang menulis beberapa kata dari buku glosarium ke buku catatannya.

Ani-ya aku hanya sedang mencatat tugasku.”

“Kenapa kau tidak membawa pulang buku ini dan mengerjakannya di rumah?”

Aish –buku glosarium sialan ini sangat tebal Kai pabo. Aku pasti terlihat aneh jika membawanya.”

Kai meringis pelan setelah mendapat satu jitakan dari Youra.

“Bagaimana keadaanmu?”

Uhm –darimana kau tahu aku sakit?” Youra mengerutkan dahinya dan melepar pandangan pada pria di sampingnya.

“Luhan yang memberitahuku kemarin.” Ujar Kai santai, Ia menyandarkan kepalanya ke meja perustakaan sambil menatap gadis itu. Apa Ia tidak menyadari sedikitpun kejadian saat Ia pingsan? Batinnya.

Mwo? L-Luhan?” Kai mengangguk mantap seraya tersenyum.

“Oh, ya. Apa kau sudah menemukan jawabanmu?” Kai mencoba mengalihkan pembicaraan mereka. Ia tahu Youra sangat kebingungan saat ini. Ia tidak sadar bahwa Kai mengetahui suatu hal tentang gadis yang dicintainya dengan Luhan.

Mianhae Kai-ah, a-aku tidak bisa menerimamu.” Ucap Youra sangat berhati-hati. Ia menunduk dan memainkan jemarinya asal. Ia memang tidak bisa menerima Kai untuk saat ini. Kai mengulum senyuman di bibirnya, Ia tahu alasan gadis ini menolaknya.

“Apa kau menyukai –Luhan?” Youra membulatkan matanya, lidahnya terlalu kelu untuk menjawab pertanyaan yang aneh dari seorang Kai yang seharusnya tidak menyebutkan nama Luhan disana. Gadis itu benar-benar bingung setengah mati.

Ommo, aku harus latihan futsal. Aku duluan ya nona cantik.” Kai tersenyum lebar, Ia menepuk puncak kepala gadis itu dan meninggalkan Youra yang masih mematung di kursinya.

 

Seongsan High School, Footbal Field 02.30 PM

Lapangan hijau di belakang gedung sekolah dipenuhi tim futsal yang sedang melakukan latihan. Sebentar lagi mereka akan mengadakan turnamen dengan sekolah lain.

“Wae-yo Lu?” ujar Kai seraya memakai sepatu futsalnya.

“Apa kau menyukai Youra?” Kai menatap Luhan heran, apa maumu Luhan? –batinnya.

“Begitulah… Apa kau juga menyukai gadis itu?”

“Kau lebih pantas dengan Youra.” Luhan berdiri dan mulai melakukan pemanasan.

“Aku bisa saja merebutnya Lu.” Kai terkekeh pelan, Ia menghentikan aktivitasnya dan memandang Luhan sejenak mencoba membaca ekspresi pria berdarah China itu. Tampak sedikit ekspresi Luhan yang tidak menyukai kata-kata yang dilontarkan Kai. Dan Kai melihat semua itu. Ia mulai berani menyimpulkan Luhan juga mencintai gadis itu.

“Aku bercanda Lu, tampaknya kau tidak suka aku merebutnya?” Raut wajah Luhan kembali tenang seperti semula, Kai terus memperhatikan Luhan lamat-lamat.

Ani-ya. Baguslah. Kalau itu kau, aku lega.” Luhan menepis pernyataan Kai dan menatap Kai serius.

“Apa maksudmu?”

“Kau bukan laki-laki brengsek sepertiku. Jadi jagalah Youra.”

Buagh!

Kai berdiri dari duduknya dan melemparkan satu pukulan keras di sudut bibir Luhan hingga Ia tersungkur. Ia benar-benar tidak habis pikir bagaimana jika Youra tahu, Luhan mengakatakan hal ini padanya. Ia sangat benci melihat gadis itu sedih. Apalagi karena belakangan ini Luhan dan Park Seul sering terlihat bersama. Apapun alasannya, Ia tahu gadis itu mencintai Luhan. Meskipun pria berkulit tan itu tidak dapat memungkiri, perasaannya sangat sakit melihat Youra mencintai orang lain. Tidak ada alasan baginya untuk cemburu, Kai bukan laki-laki egois.

Pria itu memicingkan matanya ke arah Luhan, tidak peduli berapa pasang mata yang akan melihat kejadian ini. Kai menarik kerah baju Luhan hingga pria itu berdiri.

“Baiklah kalau itu maumu, aku akan merebutnya.” Kai melepas kerah baju milik Luhan dan berjalan menjauh dari pria itu.

Youra POV

Choco & Cream Café 05.00 PM

Aku menata rambut coklatku melalui pantulan cermin café yang sering dikunjungiku dan Seulgi. Luhan baru saja mengirim pesan singkat, eomma dan appa akan pulang besok dan meminta aku dan Luhan menjemputnya di bandara sepulang sekolah. Aku menghembuskan nafasku berat, lantas tersenyum simpul mengingat serangkaian peristiwa aneh sejak bertemu dengan pria egois dan keras kepala itu. Aku bahkan tidak bisa mengelak bahwa sel-sel otakku telah dipenuhi oleh pria kekanakan bernama ‘Luhan’. Sangat nyaman berada di samping pria itu, walaupun terkadang Ia sangat menjengkelkan.

Saat di perpustakaan tadi aku mendapat pesan singkat dari nomor tak dikenal, karena ini tempat biasa Seulgi bertemu denganku, jadi itu mungkin dia? Entahlah. Sudah 25 menit berlalu, kenapa Seulgi belum juga datang? Aigoo –tidak biasanya dia menghubungiku menggunakan ponsel orang lain. Aku menekan tombol panggilan pada ponselku memastikan bahwa Seulgi yang mengajakku kemari.

“Annyeong –Seulgi-ah, eoddi?” dahiku berkerut ketika dengan santainya Seulgi bilang kalau dia di perjalanan pulang.

“Bukankah kau menyuruhku ke café?”

“Annyeong Choi Youra, aku yang memintamu kesini. Mianhae…” kedua bola mataku membulat ketika melihat Park Seul berjalan ke arahku dan duduk di kursi yang tepat berada di depanku.

“–Ah arraseo ­Seulgi-ah aku akan menutup sambunganya, ppai.”

Mwo? Apa yang akan dilakukan gadis ini?

“Park –Seul?”

Ne –aigoo kau bahkan sudah tahu namaku? Luhan pasti cerita banyak hal padamu bukan?”

Deg–

“Maaf, apa kau ada perlu denganku?”

“Tentu saja. Ku dengar kau sangat dekat dengan Luhan? Bagaimana perasaanmu bisa dekat dengan ‘namja-ku’ hmm?” gadis sialan, aku menggenggam jaket yang kukenakan. Gadis itu bertemu denganku hanya untuk mencemoohku? Apa dia punya sopan santun? Namjanya? Apa itu benar? Lalu mengapa Luhan memperlakukanku seperti –argh micheosseo!

“Youra-ah, apa yang kau lakukan?” suara berat Luhan menginterupsi kekacauan yang terjadi pada diriku. Aku menatapnya tajam ‘Apa yang kulakukan?’. Apa ini terlihat begitu konyol? Luhan masih berdiri meminta penjelasan. Park Seul lantas ikut berdiri dan memeluk lengan pria itu manja.

“Lu –kau sudah janji akan menemaniku ke lokasi photoshoot ‘kan? Kajja, annyeong  Youra-ssi. Maaf mengganggu waktumu, sebentar lagi aku ada pemotretan.”

Gadis itu tersenyum menjijikkan, tangannya menarik Luhan keluar dari café. Aku memijat keningku yang terasa pusing. Wajahku bahkan terasa memanas –memalukan. Apa gadis itu merencanakannya? Aish rasanya ingin sekali aku menjambak rambut si model sialan itu dan berteriak bahwa ‘aku-adalah-calon-istri-Luhan’. Tapi untuk apa? Jika Luhan bersikap lebih peduli pada gadis itu? Itu akan semakin memalukan.

“Youra-ssi, apa aku mengganggumu?” tiba-tiba aku mendengar sebuah suara yang cukup familiar. Kedua mataku menangkap sesosok pria berkulit pucat dengan rambut pirangnya. Oh Sehun.

Ani-ya, wae Sehun-ssi?”

“Aku tidak sengaja melihat kejadian tadi, apa kau mau mendengar penjelasanku?”

“Penjelasan –untuk apa?”

“Perkenalkan aku Oh Sehun, aku tahu kau telah mengenalku sebagai teman sekolahmu. Tapi kali ini aku memperkenalkanmu sebagai sahabat dekat Luhan. Aku mengetahui seluruh rahasia tentang kau dan Luhan. Bolehkah aku membantumu?”

Author POV

Angin berhembus kencang dan matahari mulai tenggelam. Ini sudah lewat dari pukul 5 sore, waktu yang dijanjikan gadis itu keapada Luhan untuk segera pulang. Youra tengah menikmati udara sejuk yang menetralkan pikirannya. Tentu saja dengan Sehun di sampingnya. Pria itu sengaja mengajak Youra keluar agar suasana hati gadis itu tidak semakin memburuk.

“Park Seul memang seperti itu. Kau harus tetap bersama Luhan apapun yang gadis itu lakukan.”

“Tapi sepertinya –Park Seul tidak menyukaiku.”

“Dia akan bertindak semaunya jika itu menyangkut Luhan. Dulu, saat kami masih berumur 5 tahun. Kami pergi berwisata bersama keluarga, kami adalah sahabat dekat sejak Luhan pindah dari Beijing. Park Seul yang meminta untuk pergi ke Namsan saat itu. Naasnya saat perjalanan menuju ke Namsan, mobil yang dinaiki Park Seul dan Luhan tertimpa kecelakaan.”

“Apa yang terjadi setelahnya?”

“Appa dan Eomma Park Seul menjadi korban tewas dalam kecelakaan itu. Gadis itu melihat jelas bagaimana Appa dan Eommanya meninggal, karena hanya Luhan dan Park Seul yang sadarkan diri saat itu. Gadis itu sangat ketakutan dan tidak ingin Luhan pergi darinya. Luhan juga telah berjanji akan selalu ada di sampingnya dan melindungi gadis itu. Hanya Luhan yang dimiliki Park Seul. Namun, beberapa bulan kemudian Luhan harus kembali ke Beijing dan meninggalkan gadis itu sendirian.”

Youra tersenyum mendengarnya, melihat bagaimana Luhan tetap menepati janjinya untuk menjaga gadis itu meskipun Ia telah meninggalkannya bertahun-tahun. Ia bukan laki-laki biasa. Sangat miris rasanya mengetahui janji dan niat baik Luhan kepada Park Seul begitu menyakiti perasaan seorang Youra saat ini. Melihat mereka bersama sangat membuat Youra tertekan, Ia sedang dilanda perasaan cemburu. Apa yang bisa Ia harapkan dari Luhan jika lelaki itu tidak pernah menunjukkan perasaannya pada Youra. Semakin dekat dengan Park Seul, semakin membuat Youra yakin bahwa Luhan menyukai gadis yang mengacaukan pikirannya itu –Park Seul.

“Maafkan aku, baru memberitahumu. Apa kau mengerti tentang apa yang terjadi saat ini?”

“Aku mengerti, gomawo Sehun-ssi.”

“Ini keadaan yang sulit untuk Luhan.”

Ya –keadaan yang sulit.

Youra’s House 09.00 PM

Bunyi roaster di dapur membuat Youra terlarut dalam pikirannya. Ia merasa ada seseorang yang merenggut kebahagiaan yang baru saja dirasakannya. Terlalu berbeda dari sosok Youra yang cerewet, periang dan tukang marah-marah. Kali ini Ia lebih sabar dan enggan untuk berbicara terlalu banyak. Terutama pada Luhan. Bisakah Luhan dan dirinya kembali? Ayolah gadis itu sudah terlalu lelah dengan degup jantungnya yang bergemuruh di setiap Luhan mengatakan hal-hal manis atau bersentuhan dengannya. Ia mengacak rambutnya frustasi, Youra benar-benar tidak sanggup lagi.

Gadis itu tersadar dari lamunannya, begitu roti bakar di dalam roaster-nya terangkat. Ia mengambil satu potong roti dan menyisakan yang satunya. Gadis itu berjalan menaiki tangga menuju kamar Luhan. Pria itu belum juga pulang semenjak mengantar Park Seul ke lokasi pemotretan. Ia membuka kamar yang ditempati Luhan selama di rumahnya, menghirup wangi mint yang menguar di dalam kamar pria itu.

“Apa yang kau lakukan?”

“Kyaaaaaa–“ Luhan membekap bibir gadis itu dengan tangan kirinya. Mulut pria itu tengah dipenuhi roti bakar yang disisakan Youra. Luhan lantas mendorong gadis di didepannya hingga terjebak dengan pria itu yang sekarang berada di atas tubuhnya dan –mereka di kasur Luhan sekarang. Gadis itu memperhatikan sudut bibir Luhan yang meninggalkan bekas luka dan sedikit memar sejak tadi bertemu dengannya di café.

“Yak! –kau mengagetkanku idiot! Cepat menyingkir.”

“Kau mau mencuri barang-barangku? Ini kesempatan terakhirmu bukan?”

“Kau pikir aku psikopat gila?”

Luhan mengangkat tubuhnya dari gadis itu dan berjalan menuju kopernya yang masih setengah berantakan. Ia harus membereskan barang-barangnya karena besok Ia akan kembali ke rumahnya. Sementara Youra masih menetralkan detak jantungnya melihat kedatangan Luhan yang tiba-tiba.

“Apa Kai menyatakan perasaannya padamu?” Luhan memulai kembali pembicaraannya seraya melipat pakaiannya. Youra menggigit bibirnya, entah harus mulai menjawab dari mana.

“Dia pria yang baik.” Ujar Luhan tenang.

Deg–

Gadis itu merasakan perasaan yang tidak enak. Degup jantungnya mulai kembali bekerja cepat.

“Kau bisa menerimanya dan membatalkan pertunangan kita. Aku bukan pria yang baik seperti Kai. Kau senang bukan? Jadi –anggapalah aku sebagai sahabatmu mulai sekarang.”

Youra menekan dadanya yang mulai merasakan sakit, air mata gadis itu telah menyeruak dan menuntut untuk keluar. Apa ini semua karena Park Seul? Batin gadis itu terus mengulang pertanyaan sekaligus pernyataannya yang nyaris pasti. Ia tidak sanggup berpikir lagi. Luhan mengalihkan pandangannya pada gadis itu. Pria itu terkejut ketika melihat kedua mata Youra yang sedikit memerah dan mulai mengeluarkan cairan beningnya.

“Luhan –aku pikir, a-aku tidak bisa menjadi sahabatmu lagi. M-mianhae…” gadis itu bergegas berdiri dari kasur dan berniat untuk pergi. Namun tangan besar Luhan menarik gadis itu hingga berbalik menghadapnya dan mendaratkan sebuah ciuman di bibir gadis itu. Youra memejamkan matanya erat, merasakan tangan Luhan menekan tengkuknya –semakin memperdalam ciuman mereka. Kedua tangan mungil gadis itu mencoba mendorong dada bidang Luhan, air matanya mengalir deras. Ia tidak mengerti apa maksud pria itu, memperlakukannya seperti gadis bodoh yang mudah dipermainkan.

Luhan melumat bibir gadis itu dalam dan mengunci tubuh Youra diantara kedua tangannya yang bersandar pada tembok di belakang gadis itu. Seolah menyalurkan berbagai emosi yang tak dapat Ia ungkapkan pada Youra. Perasaannya kacau, namun tak ada seorangpun yang dapat mengerti bagaimana seorang Luhan dapat menyampaikan bahwa Ia sangat menginginkan gadis itu. Ia hancur melihat Youra mengeluarkan air matanya. Setelah satu dorongan kuat dari Youra, Luhan melepas pertautannya dan memandang gadis itu dalam. Nafas keduanya memburu dan sangat menyesakkan.

“Aku harus bicara denganmu besok.” Luhan berujar sambil menggenggam erat kedua tangan gadis di depannya.

“Berhentilah bicara denganku Xi Luhan.” Youra menunduk, Ia menghapus air matanya dan melepas genggaman Luhan, lantas berlalu dari hadapan pria itu.

to be continued

▲▼▲

Annyeong~ How about this chapter? This fanfiction officialy posted on my personal blog:http://deerlights.wordpress.com/. Semoga kalian suka chapter ini, Let The Games Begin Chapter #Five’s coming soon. Jangan lupa tinggalin jejak ya~

                   ▲ your comment is my lights ▲

Iklan

12 respons untuk ‘Let The Games Begin #4

  1. baru bisa comment di chapter ini hehe soalnya pas aku baca udah sampe chapter ini jadi sekalian :), seru bgt ff nya tapi gasuka sama park seul huh nyebelin ><

  2. jadi luhan suka sama youra apa engga jangan main nyosor nyosor dong jelasin dulu baru nyosor gimana sih luhan kasian kan youra di gituin bikin bingung.. thor alu baca lamjutannya di blog pribadimu yaa^^

  3. Oh rupanya luhan memang menyukai youra namun karena janjinya sama park seul jadinya ia harus mengesampingkan perasaannya yang sebenarnya.
    Next chapternya ya thor.
    Semoga youra bisa bahagia dan pertunangan mereka tetap berjalan tanpa harus memikirkan park seul.
    Keep writing!!

  4. Waa TBCnya paraah banget thor, lagi seru-serunya banget x_x udah gitu kebawa feelnya lagi… Wah… Next thorr!! Jangan lama-lama yaa~ keren dah chapter ini>< fighting!!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s