Just a Little Complicated [2/2]

Poster (Just a Little Complicated)

2ND PART

Oh Sehun / OC’s Runa / Kim Seokjin / slight Park Chanyeol

Twoshoot / AU / Romance / Maybe Hurt / PG15

 Part dua lebih panjang dari sebelumnya (bahkan panjang banget dibanding yang part satu kemarin)

part 1

I own the plot and OC

a present by l18hee

Mereka bilang Runa membuat kesalahan besar dengan menyukai Kim Seokjin

Tapi Sehun meralatnya

“Hanya orang rendahan yang percaya semua ini,” Sehun tepat berada di depan Runa dan kembali berseru lantang, “Jangan pernah sekali-kali kalian menyakiti kekasihku!” ia kembali menatap Chanyeol tajam, “Karena dia milikku!” Itu seperti sebuah garis besar yang coba ditunjukkan Sehun.

Didetik selanjutnya hanya terdengar seruan tertahan dari beberapa mahasiswa. Alasannya hanya satu, seorang Oh Sehun dengan tiba-tiba mencium gadis bernama Runa di depan banyak orang. Ini gila. Ini gila. Ini gila. Sungguh! Lihat saja ekspresi Seokjin yang membelalakan mata. Serta Young Ra yang menutup mulut kaget. Dan mahasiswa lain yang sama terkejutnya.

“Kita harus pergi,” Sehun  menjauhkan wajahnya dan menggandeng tangan Runa yang masih terdiam. Hey, apa gadis ini belum sadar apa yang baru sja terjadi? Namun saat ia berpaling, sebuah pukulan mendarat tepat di pelipisnya. “Berengsek, apa yang kau lakukan?!!” Chanyeol menggerang marah. Dengan segera Sehun membalasnya dengan memukul dan menendang lelaki itu hingga tersungkur. Saat Chanyeol sudah bangkit kembali dan berniat untuk membalas, Seokjin lebih dulu memberikan kode pada mahasiswa lain untuk menahan Chanyeol. “Hentikan! Jangan lakukan hal bodoh!” Seokjin menatap Chanyeol dan Sehun bergantian.

“Ayo,” Sehun beralih pada Runa yang tanpa disadari adalah pihak yang paling kacau di kejadian ini. Genggaman Sehun semakin erat. Seokjin hanya bisa terdiam memandang punggung Runa berlalu menjauh bersama Sehun. Berbagai spekulasi muncul di otaknya.

Runa terus mengatur nafasnya. Ia tidak ingin menangis. Tanpa ia sadari, tangannya semakin menggenggam erat tangan Sehun walau mereka sudah jauh dari kerumunan mahasiswa. Hingga akhirnya Sehun menghentikan langkah setelah sampai di koridor yang dapat dibilang sepi, “Maaf. Kau boleh menamparku,” ucapnya kemudian sembari melepaskan genggaman pada Runa. Dia tak ingin bertindak semakin lancang nanti. Namun tangan Runa terulur memegang lengannya, “Jangan,” lirih sang gadis. Dan Sehun sepenuhnya yakin jika Runa sudah menangis sekarang.

“Kenapa kau melepas genggamanmu?” gadis itu berusaha berkata disela isak tangisnya, “Kakiku gemetar, tanganku sangat kaku untuk digerakkan. Kau ingin aku jatuh?” lanjutnya sembari mendekat ke arah Sehun. Dia menyandarkan dahi di dada Sehun sebelum kembali menangis sesenggukan, “Oh Sehun, bodoh!”

Sungguh di saat seperti ini Sehun ingin sekali memeluk Runa. Demi apa pun, ia ingin memeluk gadis di depannya. Membisikkan untaian kata menenangkan nan menguatkan. Tapi ini bukan haknya. Ia tak bisa memeluk Runa. Ia tak ingin kembali bersikap lancang dan mencuri kesempatan di saat seorang gadis begitu terpuruk saat ini, walau bukan itu tujuannya. Ayolah, Sehun tak sedangkal itu.

Tangisan Runa belum reda. Sudah lama dia tidak menangis selepas ini. Ia selalu apat bertahan, paling tidak untuk tidak meneteskan air mata. Tapi kali ini mungkin ia harus membiarkan dirinya menanggalkan sejenak kekuatan yang ia miliki untuk menyadari bahwa ia begitu rapuh. Dadanya begitu sesak hingga ia harus berusaha keras jika ingin mengatakan sesuatu.

“Bodoh,” berkali-kali Runa merutuk pelan sementara Sehun hanya bisa terdiam di tempatnya. Tenggelam dalam benak yang terus mengucap kata penyemangat yang tak berarti.

Dengan pandangan lelah, Runa memainkan kuku-kuku jari hingga sebuah botol minuman berhenti di depan wajahnya membuat ia menoleh. Sehun sudah di sana mengulurkan botol minum sembari menatap Runa tanpa berniat berucap sepatah kata pun. Plester sudah menghiasi pelipisnya. Perlahan ia mendudukkan diri di samping Runa.

“Terima kasih,” Runa mengalihkan pandangan ke arah lain. Entah mengapa hatinya sedikit tak enak melihat wajah Sehun. Untuk beberapa saat keduanya tenggelam dalam lamunan masing-masing. Membiarkan keheningan menjadi atmosfer yang menyelimuti mereka.

“Aku salah, maafkan aku,” permintaan maaf tiba-tiba yang dicetus Sehun membuat Runa semakin menahan diri untuk tak menoleh dan memandang lelaki itu. Runa penasaran, tapi ia tidak bisa melihat wajah Sehun. Entah karena malu atau malas atau bahkan alasan lain. “Tentang perkataanku waktu di taman,” Sehun menghembuskan nafas sembari tersenyum, “Aku merasa menjadi lelaki bodoh saat aku mengatakan bahwa perasaanmu pada Kim Seokjin itu salah. Izinkan aku meralatnya,” ia memandang Runa yang masih belum mau memandangnya.

“Tidak ada yang salah. Perasaanmu, orang yang kau suka, semua itu tidak salah. Hanya keadaannya saja yang kurang tepat. Kau hanya menyukainya, apa salahnya? Lagipula jika semua orang di dunia mengatakan perasaanmu salah, hatimu akan tetap menyukainya,” Sehun terus saja berbicara membiarkan Runa tenggelam dalam perkataannya, “Ru, kau tahu, jika semua orang tahu perasaanmu, kaulah yang akan terluka. Maka dari itu aku mohon padamu, jika itu terjadi berlindunglah di belakangku,” kini Runa tak dapat lagi menahan dirinya untuk menatap Sehun, sementara lelaki ini masih saja melanjutkan ucapannya, “Jika kakimu mulai gemetar, atau jika tanganmu mulai kaku, kau bisa berpegang pada lenganku lagi,” Sehun yang terkikik pelan membuat Runa memasang ekspresi datarnya, “Hei, kau mau mengejekku?”

“Aku tidak melakukan apa pun,” Sehun mengendikkan bahu dan bersandar pada bangku taman. Runa hanya menghembuskan nafas panjang dan menyodorkan botol minumnya, “Terima kasih. Kau sangat baik,”

“Aku bukan orang baik. Apa seorang lelaki yang menciummu tiba-tiba di depan umum itu lelaki baik?” satu alis Sehun terangkat membuat Runa membelalakkan mata, “Hei! Kenapa kau membahas hal itu?” gadis itu memukul Sehun -yang hanya bisa tertawa- dengan botol air mineral di tangannya.

“Runa-ya,” sebuah suara membuat keduanya menoleh. Seokjin rupanya. Sontak wajah Runa berubah panik. Tanpa sadar ia meraih ujung kaus Sehun. “Kau akan baik-baik saja,” tangan Sehun meraih tangan sang gadis dan mereka beranjak seiring dengan Seokjin yang mulai mendekat. “Mereka sudah membubuarkan diri. Kalian baik-baik saja?” Seokjin mengatur nafas, wajar saja ia kan baru berlari tadi. Saat pandangan khawatirnya terarah pada Runa, gadis itu justru semakin merapat pada Sehun. “Kau baik-baik saja?” pertanyaan kali ini Seokjin khususkan pada Runa.

“Oppa… tidak marah?” Runa balik bertanya. Segera Seokjin tersenyum dan mengacak rambut adiknya pelan, “Maaf. Kau takut, ya? Aku yang bodoh karena sempat mempercayai Chanyeol. Kau pasti sangat tertekan. Mau aku peluk?” Seokjin merentangkan tangannya membuat Runa melepaskan genggaman Sehun untuk beralih memeluk Seokjin. “Maaf ya,” seperti biasa, Seokjin akan menepuk-nepuk pelan kepala adiknya. Di sisi lain, Sehun hanya terdiam memasang senyum simpulnya. Bohong jika lelaki ini tidak cemburu atau kesal saat Runa melepas genggamannya. Bohong jika lelaki ini tidak merasakan nyeri menusuk hatinya. Bagaimanapun juga Runa menyukai Seokjin bukan sebagai kakak.

 

Ru, aku harus bagaimana jika bahkan kakakmu bisa membuatku cemburu?

“Sepertinya kekasihmu cemburu,” tebakan Seokjin membuat Runa melepaskan pelukannya dan berbalik menatap Sehun. “Maaf, hyung. Apa sangat terlihat?” Sehun terkekeh pelan. “Tentu saja. Oh, astaga. Aku harus segera menemui Young Ra. Sampai nanti,” segera Seokjin bergegas pergi setelah mengacak pelan surai adiknya. Meninggalkan gadis itu yang hanya bisa memandang punggung sang kakak menjauh.

“Kau cemburu pada Song Young Ra?” Sehun meraih botol minuman dan mengosongkan isinya. “Entahlah. Aku merasa aneh. Aku tidak– Hei! Kenapa kau habiskan?” ujar Runa sembari memukul pelan lengan Sehun. “Jangan marah. Kita beli lagi,” kaki Sehun akhirnya melangkah untuk kembali ke minimarket terdekat. Sebenarnya Runa bisa saja duduk menunggu di bangku taman, namun ia memilih mengekor di belakang Sehun. Beberapa mahasiswa yang mereka lewati segera memandang keduanya heran. “Kenapa mereka memandangku seperti itu? Apa mereka masih mengira aku menyukai Seokjin Oppa?” bisik Runa pelan. “Dasar,” Sehun justru memasang wajah datar sembari meraih tangan Runa, “Mereka mengira kita sepasang kekasih,”

Anehnya gadis satu ini menurut  ketika lagi-lagi Sehun begitu saja menggandeng tangannya. Mereka berjalan beriringan menuju minimarket. “Kau mau yang lain?” tanya Sehun dengan dua botol air mineral yang ia genggam. Dengan sebuah gelengan Runa berucap, “Aku hanya haus,” baru saja Runa menyelesaikan kalimatnya sebuah suara terdengar, “Oh Sehun? Kebetulan sekali?” gadis cantik dengan postur tubuh yang tak terlalu tinggi menghampiri mereka.

“Junrim noona? Whoaa… kebetulan sekali,” Sehun tiba-tiba melepaskan genggamannya pada Runa. “Sudah lama kita tidak bertemu. Noona masih cantik,” mendengar pujian Sehun pada gadis itu Runa hanya diam tak berekspresi. Sebelum Sehun dan Junrim kembali tenggelam dalam obrolan, segera Runa membungkukkan badan ke arah Junrim dan meraih satu botol air mineral dari tangan Sehun, “Aku pergi dulu. Sampai nanti,” Dengan wajah bingung Sehun memperhatikan gadis itu pergi. Wajah Runa yang  sungguh tak mengekspresikan kekesalan sedikit pun membuat Sehun sedikit kecewa. Dalam hatinya ia sedikit –sebenarnya banyak– berharap Runa cemburu pada Junrim.

“Perubahan ekspresimu sangat cepat,” cletukan Junrim membuat Sehun menoleh. Ia hampir lupa jika Junrim masih di sini sekarang. “Ah, maaf,” ia hanya menggaruk tengkuk memasang senyum.

Sementara itu di tempat lain, Runa yang tengah duduk dan meneguk air mineralnya mengayun-ayunkan kaki malas. Matanya memandang orang-orang yang berlalu lalang.

 

Ada apa denganku?

Hembusan nafas kesal terdengar. Runa bingung harus memikirkan yang mana dulu. Yah, walaupun sebenarnya ia selalu mempunyai berbagai pikiran yang abstrak.

Dia merasa aneh saat Seokjin memeluknya tadi. Rasanya memang seperti biasa, Runa merasa dilindungi. Sangat berbeda saat ia bersandar pada Sehun tadi. Rasanya seperti, yah, sedikit sulit diungkapkan. Runa merasa aman, juga nyaman dan ada perasaan yang tak dapat ia jelaskan. Walaupun ia hanya bersandar, dan bahkan Sehun tak memeluknya perasaan itu benar-benar menggelitiknya. Perasaannya tak berubah sampai seperti ini walau pada Choi Junhong, kekasih pertamanya di sekolah menengah pertama dulu, atau pada Jung Ilhoon pacarnya di tingkat dua sekolah menengah atas. Oh, ada yang kaget jika Runa pernah berpacaran sebelumnya? Ia memang menyukai Seokjin sejak kecil, bisa dibilang Seokjin cinta pertamanya, namun ia tak mungkin berpacaran dengan kakaknya sendiri, bukan?

Kembali ke masalah perasaan Runa sekarang. Dia merasa begitu aneh. Oh, ada yang tertinggal. Saat menyandarkan dahi pada Sehun, ia ingat satu hal selain isak tangisnya. Dia ingat betul bagaimana suara detak jantung Sehun yang begitu cepat saat itu. Dan mungkin Runa harus bertepuk tangan karena Sehun tidak memeluknya. Lelaki itu akan mendapat masalah jika kembali melakukan hal lancang. Padahal ia sendiri sudah lancang bersandar pada Sehun. “Suaranya… sangat lucu,” Runa terkikik sendiri mengingat kejadian hari ini.

“Apa yang kau tertawakan?” sebuah suara membuat Runa terlonjak kaget. Sehun sudah berdiri di sampingnya. Ah, tidak lucu jika Runa mengatakan ia teringat bagaimana suara detak jantung Sehun tadi. Bisa-bisa Sehun mengejeknya karena mengingat hal itu. “Tidak ada. Oh, ya, dimana temanmu? Kalian tidak pergi untuk mengobrol?” dengan santainya Runa kembali mengayun-ayunkan kaki tak peduli. “Junrim noona harus mengurus hal lain,” Sehun mengambil tempat duduk di samping Runa. Jika ditanya apa Runa cemburu pada Junrim. Jawabannya tentu tidak. Dia tidak cemburu. Dia hanya sedikit merasa kesal pada Sehun yang bersikap seolah-olah tak mempedulikannya. Ingat, hanya sedikit.

“Junrim noona itu, dia, cinta pertamaku. Kami bertetangga selama hampir delapan tahun sebelum dia pindah saat aku di tingkat pertama sekolah menengah atas,” sudut mata Sehun tertarik ke gadis di sampingnya yang masih saja memasang wajah datar sembari mengangguk-angguk tanda mengerti, “Oh, begitu,” Sialan. Sehun sangat malu jika jawabannya terdengar tak peduli seperti itu.

“Aku akan mengantarmu pulang. Kau pasti lelah,” tebakkan Sehun sepertinya benar. Runa baru saja sadar jika ia sendiri telah lelah karena kejadian hari ini. Penawaran sang lelaki terdengar bagus. “Ayo. Jalan atau naik bus?” gadis itu beranjak dari duduknya diikuti Sehun “Kita naik motorku,”

Dengan kecepatan yang Sehun gunakan keduanya cepat sampai di depan rumah Runa hanya dalam hitungan 14 menit. Sungguh kecepatan yang sangat sempurna untuk membuat rambut sang gadis benar-benar berantakan.

“Yaa… Oh Sehun, keren!” tiga kali tepuk tangan dan Runa segera membenarkan tatanan rambutnya. “Apa rencanamu?” ujar Sehun kemudian. “Tidur. Aku terlalu lelah. Badanku sangat lemas,” jawaban Runa membuat raut wajah Sehun berubah, err… khawatir? “Masuklah. Kau harus banyak istirahat,” tak ada jawaban, yang ada hanya Runa yang melambaikan tangan sembari tersnyum. Beberapa saat kemudian Runa sudah menghilang dari lingkup pandang Sehun.

“Sampai jumpa besok,” sesungging senyum muncul diwajah Sehun. Jantungnya terus bekerja dua kali lipat hari ini. Benar-benar membuatnya ingin meledak.

***

Sudah beberapa hari berselang setelah insiden menyebalkan yang dilakukan Chanyeol di aula kampus. Gossip sudah berganti seiring dengan berbagai kejadian yang terjadi. Orang memang mudah melupakan sesuatu jika ada hal lain yang lebih menarik. Sebut saja hukum alam.

Pagi ini seperti biasa Runa sudah siap dengan segala keperluannya –kecuali sarapan– untuk pergi ke kampus. Dan seperti biasa pula Seokjin sudah menyelesaikan urusan dapur. “Young Ra eonni tidak datang?” tanya Runa sembari menyuapkan makanan ke mulut. Mendengar itu Seokjin menengadah memperlihatkan kedua alisnya yang terangkat sebelum memberi seulas senyum, “Eonni katamu? Apa kau sudah merestui kami?” segera saja Runa menyangkal, “Merestui apanya. Aku hanya mencoba memangil seperti seharusnya,” Dia tidak akan merestui hubungan itu sampai kapan pun. Seokjin jadi berubah menyebalkan saat bersama Young Ra. Lelaki itu akan lebih fokus pada Young Ra dari pada adiknya sendiri. Tapi, tunggu, rasanya ini bukan hal baik. Ia terlalu mengekang Seokjin. “Oppa, maaf. Aku benar-benar seperti anak kecil ya?” Runa tak berani menatap wajah kakaknya yang hanya bisa tersenyum simpul dan menjawab, “Kau memang anak kecil. Tapi kurasa kau sudah semakin dewasa sejak ada Oh Sehun,”

“Apa?”

Tak ada jawaban lagi karena bel terdengar tiba-tiba. Runa hanya memutar mata sementara Seokjin mengendikkan bahu dan beranjak untuk membukakan pintu. Sembari menghabiskan setengah gelas air Runa memikirkan ucapan Seokjin yang menurutnya sangat tidak mungkin. Memangnya eksistensi Sehun berpengaruh pada perubahan sikapnya? Mana mungkin! Seokjin pasti mengada-ada.

“Runa-ya… Kau tidak berangkat sekarang?” seruan Seokjin membuat Runa segera meraih tasnya dan bergegas. Pasti Young Ra sudah datang. Runa bilang apa, kakaknya berubah menyebalkan saat bersama gadis itu. “Kenapa lama sekali?” Seokjin segera mendorong Runa keluar. Belum sempat Runa melayangkan protes, gadis ini sudah terdiam melihat seorang lelaki di depannya. Memandang tepat ke iris mata. “Oh Sehun, jaga dia. Hati-hati di jalan,” Seokjin mendorong gadis dan lelaki itu menjauh. Rupa-rupanya bukan Young Ra yang datang.

“Kau ada kelas pagi?” Runa yang pertama membuka suara saat keduanya mulai berjalan beriringan. Sedikit terkejut karena tebakannya salah tadi. “Tidak,” hanya jawaban singkat yang terdengar. Raut wajah datar yang Sehun pasang membuat berbagai pemikiran negatif muncul di benak Runa. Mungkin saja Sehun terpaksa datang kemari. “Tidak perlu mengantarku, kau bisa melakukan hal lain yang kau suka,” ujar Runa sembari menerima helm yang disodorkan Sehun. Dia serius mengatakannya, namun ia tentu tak akan membiarkan helm yang Sehun sodorkan beradu dengan aspal.

“Naiklah,” mungkin Sehun tak ingin menjawabnya dan Runa tak ingin memaksa. Sungguh terkesan sebagai pertemuan canggung bangi sang gadis. Mengapa Sehun tak mengajaknya bicara seperti biasa? Sebenarnya ia ingin memulai pembicaraan, tapi apa yang akan ia tanyakan? Pada akhirnya Runa tak berhasil menemukan topik yang ia anggap benar-benar tepat. Saat mereka tiba di kampus, dan sampai mereka berpisah karena Runa harus segera masuk ke kelasnya tak ada percakapan berarti. Hanya sekedar aku-masuk-kelas-dulu-ya dan sampai-jumpa Semuanya membuat Runa sedikit bingung.

 

Apa dia benar-benar menyukaiku? Ini terasa seperti formalitas saja.

Bayangan tentang Sehun yang berubah sedikit aneh masih terngiang di benak Runa hingga kelasnya benar-benar berkahir. Sementara mahasiswa lain sudah meninggalkan kelas, ia justru memandang ke luar jendela seraya menyangga dagu. Melihat langit hanya dihiasi seberkas awan putih, dengusan terdengar darinya. Ternyata memang benar kata orang, hari yang cerah tak pasti membuat hati cerah.

 

Apa aku harus pulang bersamanya?

Alis Runa berkerut mengingat Sehun –lagi. Dia memang sudah menyelesaikan semua kelasnya hari ini. Yang dia bingungkan sekarang adalah sikap dingin Sehun. Sungguh ia tak mengerti terhadap perubahan sikap lelaki kulit salju itu. Sepertinya sejak sang lelaki bertemu dengan Junrim semuanya terasa begitu aneh. Seperti hanya sebuah formalitas saja Sehun mendekatinya. Mungkin saja Sehun bersikap begitu karena measa bertanggung jawab karena telah mengakui Runa sebagai kekasih.

“Hei, minggir!” sebuah dorongan dipundak membuat kaki Runa yang sedang menuruni tangga begitu saja tergelincir. Si penabrak hanya menoleh sebentar dan berucap maaf sebelum kembali meneruskan langkah meneuruni tangga. Tak peduli sama sekali pada Runa yang kini terduduk memegang pergelangan kakinya sembari mengaduh kecil. Huh, memang hari sial. Kenapa kakinya harus terkilir di saat seperti ini? Ah, sudahlah. Paling tidak ia jadi punya alasan untuk mengalihkan perhatiannya dari hal tidak penting.

“Kau terluka?” sebuah suara membuat Runa terlonjak kaget. Gadis ini menoleh dan mendapati seorang lelaki beralis tebal sedang membungkuk ke arahnya. Itu Kim Minseok, teman satu fakultas Seokjin. Yang pertama kali terpikir di otak Runa adalah jangan sampai Minseok mengadukan ini pada Seokjin. Bisa-bisa Seokjin akan mengawalnya seharian selama tiga hari kedepan. Tidak lucu! Runa ‘kan bukan anak kecil lagi. “Sepertinya kau terkilir. Mau aku obati?” dengan santainya Minseok duduk di anak tangga yang juga Runa duduki. Dengan wajah sedikit panik Runa menggerak-gerakkan maniknya gelisah sebelum menumpukannya pada milik Minseok, “Tapi jangan bilang Seokjin Oppa, ya?” Seketika Minseok terkekeh. Hanya sebentar karena selanjutnya ia hanya memandang lurus ke manik Runa seraya mengangguk mantap membuat sebuah janji tak kentara.

Runa dan Minseok baru saja memasuki kelas seni –kelas yang terdekat dari tangga tempat Runa tergelincir- saat ponsel sang gadis bergetar. Sebuah pesan masuk dari Sehun membuat gadis itu menggingit bibir bawahnya pelan.

From: Oh Sehun

Ada beberapa hal yang harus aku urus. Tunggu aku di kafetaria kampus jika kelasmu sudah selesai.

Ditengah kebingungannya untuk menyusun kata balsan, suara Minseok terdengar, “Duduklah. Ini mungkin akan sedikit sakit, tapi dapat membuatmu lebih baik nantinya,” sang lelaki mendudukkan Runa di kursi sebelum berjongkok melepas wedges milik si gadis. Sementara itu satu buah pesan balasan segera Runa kirimkan setelah ia ketik kilat. Hanya sekedar memberitahu Sehun tentang dia yang ada di ruang seni. Tunggu sebentar, apa ini artinya dia akan pulang bersama Sehun? Apa hal seperti itu tidak akan membuat semakin canggung? Apa boleh jika-

“Aaaaaa!” segera Runa menutup mulut menyadari sebuah teriakan lepas begitu saja saat Minseok menyentuh titik sakitnya. Semoga kakinya tidak terlalu parah. Oh, sungguh Runa ingin berteriak lebih kencang lagi. Tapi apa itu sopan?

“Kau boleh berteriak. Tapi jangan bergerak terlalu cepat, oke?”

Tak ada celah bagi Runa untuk menjawab atau sekedar menyusun jawaban karena yang selanjutnya ia lakukan selama beberapa menit hanya berteriak. Berteriak sekencang-kencangnya sembari mencubit kulit leher. Iya, memang aneh. Hanya sebuah inisiatif agar rasa sakit berpindah pada lehernya saja. Padahal hasilnya dia merasakan sakit di kedua-duanya. Sungguh telinga Minseok perlu diacungi jempol. Bagaimana bisa lelaki ini tak mengeluh saat teriakan memekakan milik Runa membobol indera pendengarannya bertubi-tubi?

Hingga saat yang paling ditunggu Runa tiba. Minseok sudah beranjak dari posisinya seraya meletakkan tangan dipinggang, “Sudah puas berteriak, nona?” Ingin rasanya Runa berseru ‘iya’ sekeras mungkin. Namun energinya sudah terkuras hingga ia hanya bisa mengangguk pelan dan mengacungkan ibu jari tepat di depan Minseok sembari berucap, “Terima kasih. Sunbaenim memang hebat,” Pujian ini membuat Minseok terkekeh. Ia terlihat ingin mengucapkan sesuatu saat pintu ruang seni terbuka tiba-tiba. Memunculkan sosok Sehun dengan tangan menggenggam plastik lumayan besar. Manik kedua lelaki itu saling bersirobok untuk beberapa sekon sebelum Minseok mengakhiri dengan beralih pada Runa, “Aku tidak akan bilang pada Seokjin. Sampai jumpa,”

“Sunbaenim, terima kasih,” Runa sedikit memaksakan diri saat berseru pada Minseok yang dengan cepat meninggakan ruang seni. Keheningan yang tercipta membuat ia menegak saliva pelan. Apa yang harus ia obrolkan sekarang? Mengapa ia harus membuat Sehun mengetahui keadaannya di ruang seni lewat pesan singkat tadi? Seharusnya ia bilang jika ia sudah pulang terlebih dulu. Jadi mungkin tak akan ada momen canggung seperti ini.

“Dimana heels-mu? Kau tidak bisa berjalan jika menggunakan heels,” mata Sehun terhenti pada sepasang alas kaki –yang ia anggap heels– berwarna biru tua yang ada di dekat kaki Runa. Segera sang lelaki meraih benda itu. Dan sibuk mengeluarkan sebuah kotak dri plastik yang ia bawa.

“Padahal itu wedges,” gumam Runa yang malas membenarkan perkataan Sehun. Suaranya bisa benar-benar habis jika perdebatan tak penting terjadi lagi. Pandangan Runa terarah pada Sehun yang sedang mengamati benda yang baru dibeli. Dia teringat sesuatu. Saat terakhir kali ia dan Sehun bertemu di taman dan saat Sehun kembali menyatakan perasaannya. Membuat bibirnya terbuka, memicu sebuah frasa meluncur indah dari sana.

“Hei,”

“Hmm?”

“Aku belum menjawabmu waktu itu. Saat kita bertemu di taman sewaktu liburan musim panas,” kata-kata itu begitu saja mengalir dari mulut Runa. Hanya beberapa detik Sehun berhenti, karena selanjutnya tanpa berucap sepatah kata pun lelaki ini berbalik sembari membawa sepasang sepatu kets. Sehun berjongkok dan perlahan memakaikan sepatu yang baru ia beli ke kaki Runa, “Kau sudah menolaknya. Tapi-” suasana kembali sunyi sampai akhirnya Sehun menegakkan kepala menatap Runa, “Jika aku masih menyukaimu, mau bagaimana lagi?” Setelah selesai mengikat simpul tali sepatu, Sehun berdiri kembali menatap Runa. Mereka saling menatap untuk beberapa saat hingga suara Runa terdengar.

“Maafkan aku. Sungguh,” untaian frasa ini menciptakan nyeri di hati Sehun. Lelaki ini sadar jika Runa lelah. Lelah jika hubungan mereka seperti ini. Bukan teman, bukan kekasih, hanya sekedar ‘yang satu menyukai yang lain yang tak pernah memberikan respon’. Iya, mengatakannya memang rumit. Tapi Sehun tahu maksudnya, jadi ia hanya menghela nafas panjang nan pelan. Membiarkan gema suaranya membuat gema lirih di ruangan.

“Aku bohong tentang masih menyukaimu. Jadi jangan berwajah seperti itu,”

Mendengar gema kebohongan sungguh sangat menyiksa batin.

***

Semua pecahan ingatan tentang ia dan Runa masih begitu membekas di benak Sehun. Kendati sudah tiga bulan berlangsung, ia masih dapat merasakan genggaman erat jemari sang gadis kala insiden di aula kampus. Suhu musim dingin seakan tak berpengaruh pada kulit tubuhnya ketika mengingat semua. Menyukai seseorang sungguh sangat melelahkan. Dia lelah mengontrol jantungnya agar berdetak normal sewaktu nama Runa disebut. Seperti saat ini.

“Runa-ya,” suara lelaki. Tidak, bukan Sehun. Bukan pula Seokjin yang memanggil gadis bermantel merah marun itu. Hanya seorang lelaki dengan postur tubuh tak terlalu tinggi yang berjalan terburu menghampiri Runa yang tersenyum tipis. Tak sadar jika Sehun berdiri enam meter di belakang mereka. Telinga peka Sehun masih dapat mendengar percakapan kedua insan yang kini saling bertatap muka itu.

“Maaf, tadi sedikit antri. Kau pasti sudah merindukanku,” sang lelaki membentuk kepulan asap di sekitar mulut. Begitupun Runa, “Jangan terlalu percaya diri Kim Minseok,” nadanya penuh tekanan, namun bibirnya masih saja melukis senyum.

“Ayo, kita harus membeli banyak bakpao hangat sebelum pesta kembang api dimulai,” kedua jemari mereka bertaut. Entah candaan-candaan apa lagi yang dapat membuat mereka tertawa bersama setelahnya, Sehun sudah terlanjur menulikan telinga. Membiarkan gejolak dalam tubuhnya semakin memanas. Melihat sepasang kekasih itu menjauh perlahan dengan iringan tawa sudah cukup membuatnya semakin nyeri.

“Sehun-a, minumlah,” sebuah sapaan disertai sodoran cup kopi membuat sang lelaki menoleh hanya demi mendapati seorang gadis bermantel merah muda tersenyum manis. Sehun menerima sodoran cup berisi cairan pekat itu setelah berterima kasih. Sekon selanjutnya sebuah tangan sudah melingkar di lengannya.

“Kita kemana lagi? Pesta kembang api masih setengah jam lagi,” si gadis bersurai ikal itu mencipta langkah membiarkan Sehun mengikuti. “Junrim noona,” sebuah panggilan yang meluncur membuat sang gadis menoleh, “Ada apa? Kau ingin bubble tea? Tidak boleh Oh Sehun, malam ini terlalu dingin. Kita beli hoddeuk saja,”

Padahal bukan itu maksud Sehun. Tapi, yah, biarkan saja kekasihnya berspekulasi sendiri. Sudut bibir Sehun tertarik. Justru senyum terpaksa yang ia pasang mengingat gadis ini lebih terlihat seperti kakak –dalam artian sebenarnya- baginya. Perlakuan Junrim tak ubahnya seperti perlakuan kakak yang begitu melindungi adiknya. Memikirkan ini membuat Sehun lagi-lagi menghembuskan nafas panjang, membiarkan Junrim berceloteh panjang. Ada sebuah tarikan kuat pada kepalanya, membuat ia menoleh sekejap ke arah Runa dan Minseok. Ah, mereka masih saling bertukar canda rupanya. Mau tak mau Sehun juga tersenyum sebelum memilih kembali memandang Junrim yang ayik menunjuk kedai hoddeuk pinggir jalan. Senyumnya masih terpeta sempurna sebelum ia meneguk kopi pekatnya. Mengizinkan cairan pahit itu membanjiri kerongkongannya. Pahit seperti senyumnya.

“Ruapanya melelahkan menyukaimu,”

Tepat saat itu juga Runa menolehkan kepala. Mendapati sosok Sehun yang sedang berjalan bersama Junrim menuju kedai hoddeuk. Suara Minseok yang bercerita tentang rektor kampus tak ia cerna dengan baik. Melihat Sehun tersenyum di sana membuatnya ikut menekan bibir untuk membuat segaris senyum tipis penuh arti. Masih sangat membekas diingatannya, kala Sehun berkata sudah tak lagi menaruh perasaan padanya. Waktu itu Runa seakan merasakan penolakan. Ya, dia bahkan belum sempat mengatakan pada Sehun jika dirinya sudah mulai menyukai sang lelaki. Yah, mungkin ia terlambat. Ia pikir Sehun sudah lebih dulu menghapus perasaan itu hingga rasanya tak pantas baginya untuk mengatakan perasaan yang ia rasa. Mungkin dugaan Runa tentang Junrim yang membuat Sehun menghapus perasaannya itu benar. Dia jadi ingin tertawa. Menertawakan kebodohannya sendiri. Menertawakan rasa sesal dalam benaknya.

“Aku jadi tahu betapa lelah kau menyukaiku. Rupanya rasanya seperti ini,”

Keduanya kembali pada dunia masing-masing. Runa dan Minseok yang memilih berhenti di kedai kecil yang menjual bakpao dengan kepulan asap hangat di atasnya. Serta Sehun dan Junrim yang sibuk mengantri di depan kedai hoddeuk. Senyum yang Runa dan Sehun tunjukkan begitu terlihat sama.

Begitu terlihat lelah menahan perasaan yang mereka pikir seharusnya tak lagi ada.

.

.

Biarlah mereka tenggelam dalam hening ini

Memberi kesempatan bagi orang lain untuk merasakan indahnya cinta

Cukup beri mereka waktu agar senyum tulus kembali terpeta

Walau bukan dengan orang tercinta

Tapi dengan orang yang mungkin akan meraka cintai

.

.

fin!

Aku tau ini gaje dan mungkin endingnya nggak ngenakin gini (dan sayangnya aku suka wkwk).

Tapi makasih udah mau baca 🙂

37 tanggapan untuk “Just a Little Complicated [2/2]”

  1. halo halo.
    new reader di sini.
    hihi suka banget sama pairing sehun-runa, dari yang senyum2 sendiri ngebaca sehun-runa di cerita lain yg udah jadi kekasih trus ngedate ngejagain Lucy, sampe jambak rambut pas ngebaca ff ini + silent ending series saking sebelnya dibikin baper sama author, dan flashback ke masa sekolah pas baca backstage festival..hihi ditunggu ya kelanjutan dari backstage-nya dan jangan sampe endingnya gantung pake angst juga ya thor hahahhaha (lah kok malah komen di sini).

    keep up the good work! 🙂

    1. hai haaaai 😀 (aku gak tau manggilnya gimana hehe)
      jadi… makasih banyak loh udah suka piring SeNa buatanku hehe soalnya itu pairing kesukaan :3
      haha aku senyum-senyum loh liat komen kamu. semuanya muncul di sini wkwk
      aku seneng kamu baper hahaha *ditendang
      iyap, buat fic yang backstage festival itu aku tinggal nunggu poster jadi kok, tunggu aja oke :3 endingnya emmm ya rahasia mau kek gimana *ditendang lagi
      makasih yaa ❤ pokonya makasih udah baca dan mampir…

  2. Daebak eon..Keren bgt^_^
    Tpi kenapa Runa sma Sehun gk bersatu?? Gk kepikiran klo ending kaya gini.. Ada sequelnya gk eon?? Semoga ada ya??
    Keep writing eon..^_^

  3. yahh sad ending hiks hiks T.T
    baper nih eonn. sehunnya kasian… 😦
    sehunnya sama aku aja kalo gituu..

    daebakk eon. aku suka sama bahasanya gaya penulisannya. ending yg bener2 ga diduga. keep writing ya eon.. 🙂

    1. makasih yaaa^^ untuk inspirasi sih dari secuil pengalaman yang aku rombak habis-habisan sesuai dengan khayalan aku hehe (aku emang pengkhayal berat-__-)
      makasih yaa udah mau baca ^^

  4. Hai saya reader baru. Oiya btw aku nggak kasih komentar di chapter 1 *maaf. Tapi sumpah nggak ketebak banget endingnya, aku kira bakalan happy ending, tapi ternyata T.T suka banget sama ceritanya. Bikin nangis thor T.Toiya saya butuh sequel thor :3

    1. hai jess^^
      hehe nggak ketebak ya? emang sengaja nggak dibikin hepi-hepi sih (asyik tau nipu orang gini/?)
      yaaa baper yaa wkwkwk squel? belum kepikiran, kapan-kapan aja yah hehe
      makasih udah mau baca ^^

  5. Lebih suka ff yang sad ending :’v
    Oh iya aku suka banget sama kalimat yang ini ‘RUPANYA MELELAHKAN MENYUKAIMU’ Awww ngena banget di akunya T.T

  6. wuihh endingnya nyebelin bangeeet.. sumpah!
    harusnya Sehun bersatu sama Runa ajaaah…
    kenapa malah gituu…
    tapi baguuss baguuuss… keren dehh pokoknya (y)

  7. kok happen ending yaaa
    huhuhu padahal aku udah berharap lebih ma mereka berduaaa huaaaaa sediih
    berharap ada sequel deh jadinyaaa

    1. iyaaa maaf yaaa endingnya malah gini hehe
      untuk squel kapan-kapan ya, soalnya belum kepikiran 🙂
      makasih udah mau baca dari part awal fic gaje ini 🙂 😀

    1. untuk squel kapan-kapan yah, belum kepikiran soalnya hehe
      makasih yaa udah mau baca… jangan kapok baca fic gajeku 🙂 lain kali aku bikin yang hepi-hepian kok

  8. halloha…. perkenalkan saya reader baru… sebelumnya maaf nih baru komentar di chapter2.

    meskipun endingnya gak mengenakan tapi ini bagus thor.
    awalnya aku kira ini kisah cinta segitiga yg beneran antara Runa-Sehun-Seokjin. tapi ternyata, tak terduga nih…

    1. halo juga reina 😀
      iya santai aja, paling nggak kamu kan udah komen di part ini hehe
      iya aku tau ini nggak enak gitu endingnya, malah jadi sad gitu… makasih yaa udah mau baca 🙂

  9. udah ending ini ?? yahh padahal Runanya udah mulai suka sama sehunn.. lagian sih runa, udh ada org yg suka sama dia tapi di sia2in gitu ajah. lanjutin dong thorr

    1. iya sayangnya udah ending… iya runa emang udah mulai suka sama sehun, cuma dia ngiranya sehun udah nggak suka gitu dan akhirnya sama minseok
      squel kapan-kapan yah, aku belum ada gambaran hehe… makasih lo udah mau baca 🙂

Tinggalkan Balasan ke Jessica Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s