0101 : Addiction [Chapter 2] by ARLENE

Arlene’s present

0101 AO

0101

“Being in love, addiction Amour obsessed”

.

Main cast :

Oh Sehun – Ilana Kim – Kai Kim

.

Supported cast :

Luhan Müller – Alena Kim,

and others.

.

Romance, Hurt/Comfort, Life, Psychology, AU

.

PG-17

.

http://arleenepark.wordpress.com

Disclaimer : Big thanks to @WhitePingu95 for your briliant’s basic idea, Dear. Love yaa~ Well, I absolutely own the plot, but the cast or places is still belong to God, their agency, and their ownership.

Hope you’ll enjoy the story guys^^

-0-

.

Previous chapter :

Amour Obsessed [1] | Addiction [NOW]

.

“Opera itu terputar, membekukan masa. Berakhir dengan sang pemilik ingatan yang terhenti di tempat, meski tahu awal kisahnya tak begitu menyenangkan.”

Sudah satu kali dua puluh empat jam lebih –berlalu semenjak perpisahannya dengan Luhan, juga pertemuannya dengan Ilana. Sesuai janjinya kemarin, Sehun akan membayar uang sewa Ilana hari ini juga, dan hal itulah yang membuatnya terkurung dalam ruangan kubus kedap suara bersama seorang pria paruh baya. Sedikit malas, tapi Sehun tetap harus melakukannya. Kenapa? Tentu saja karena ia bukan pria yang suka ingkar janji.

other

“Bagaimana bisa uangmu ada padaku?” pria paruh baya tadi memekik selepas mendengar penjelasan singkat Sehun. “Are you crazy? (Apa kau gila?)” imbuhnya dengan nada yang dua oktaf lebih tinggi.

Sehun mengangkat bahunya, acuh tak acuh. Bibirnya mencibir, lalu menjawab dengan enggan, “Lebih gila lagi jika aku menyimpan uang di tabunganku sendiri, Paman. Mereka bisa menemukanku dengan mudah.”

Ah, ya! Sebenarnya pria paruh baya ini memang Pamannya Sehun, nama aslinya Lay Silverstein dan sekarang berubah menjadi Lay Wiseman –adik kandung dari Ayah Sehun. Kecintaannya terhadap Jerman menjadikannya seorang … ngg … pengkhianat. Ya, kasarnya begitu. Lay lebih memilih mengubah kewarganegaraannya juga namanya, dan meninggalkan seluruh aset perusahaan yang dilimpahkan keluarganya secara turun temurun.

Lay inilah satu-satunya orang yang membuat Sehun bisa mewujudkan mimpi masa kecilnya seperti sekarang. Meski tidak tercatat sebagai anggota tetap, namun ia cukup puas dengan status mata-mata yang disandangnya. Berbeda dengan Luhan yang sudah dua bulan lalu ditetapkan sebagai anggota BND –singkatan dari Bundesnachrichendienst  atau Federal Intelligence Service, yaitu badan intelijen luar negeri Republik Federal Jerman.

bnd_dekoelement-2

BND menjadi pemain kunci dalam perekonomian, politik, kelompok pertahanan dan populasi yang semuanya berujung pada peningkatan kesejahteraan hidup Eropa. Permulaan abad ke-20, BND menetapkan prioritas utama dalam cakupan tugasnya yaitu penggunaan teknologi, terorisme internasional, kejahatan internasional, peredaran senjata internasional dan imigrasi illegal. BND juga dilengkapi dengan kewenangan penegakan hukum dalam memerangi terorisme dan ancaman lainnya.

BND memberikan kontribusi penting bagi keamanan luar negeri, termasuk memberikan jaminan perlindungan bagi warga negaranya yang menetap di luar negeri. Di samping itu, memberikan dukungan bagi Bundeswehr (militer Jerman) dalam menjalankan misinya di luar negeri. Tidak kalah pentingnya, BND memberikan informasi dan nasehat kepada Pemerintah Federal, terutama dalam masalah keamanan politik dan kebijakan luar negeri yang berbasis pada kepentingan global dan integrasi kerjasama internasional.

Sejujurnya Sehun sempat heran bagaimana kasus semacam kematian Suho Kim ini dapat masuk perhitungan BND, namun setelah dirinya membaca sejumlah artikel yang membahas mengenai penurunan saham Ritz-Carlton, bahkan jatuhnya perusahaan tersebut ke tangan perusahaan lain –yang namanya tak pernah ingin Sehun sebutkan, rasa herannya pun terjawab sudah. Kematian Suho Kim tidak sesepele yang ia bayangkan karena –sedikitnya- telah berimbas pada perekonomian negara.

“Jadi, bagaimana bisa uangmu ada di rekeningku, Mr. Stein?”

Sehun berdecak. “Namaku Oh Sehun sekarang,” ralatnya tak terima. “Dan harusnya kau tahu betapa cerdasnya keponakanmu ini, Paman. Semua kuatur jauh-jauh hari dengan pemikiran matang.” Sehun mengetukkan jari telunjuk ke dahinya lalu tersenyum culas. “Sudahlah, mana kartu debitmu? Aku membutuhkannya sekarang juga.”

How much? (Berapa banyak?)” tanya Lay. Punggungnya yang semula tegang ia biarkan mencium sandaran kursi, mencari kenyamanan baru. “Biar ak—”

“Dua puluh enam juta dollar,” jawab Sehun setengah menyela.

HAH? BERAPA BANYAK KAU BILANG?” Lay bertanya dengan nada yang cukup frustasi dan posisi tubuh yang kembali tegang. Rupanya bukan hanya keangkuhan yang diturunkan sang Kakak pada keponakannya, tapi juga kegilaannya. Biar dia ulangi: dua puluh enam juta dollar. Jelas sekali itu bukan nominal yang bisa dikatakan sedikit –baginya. “UNTUK APA UANG SEBANYAK ITU, OH SEHUN?” teriak Lay lagi. Untung saja ruangan ini kedap suara.

“Ayolah, Paman. Itu sedikit. Aku perlu untuk menyewa anak bungsunya Suho Kim,” bujuk Sehun. “Lagipula uangku yang ada di rekeningmu lima kali lipat lebih banyak dibanding jumlah yang kusebutkan tadi.”

Lay meneguk ludah. “Menyewa anak bungsu Suho Kim? Ilana maksudmu?” Sepasang alis pria ini menukik dilanda rasa terkejut. “Dia anak orang kaya, untuk apa kau menyewanya? Ya Tuhan, ada apa dengan anak muda jaman sekarang?” Lay mengerang, semakin frustasi.

“Aku sendiri juga aneh, Paman. Tapi aku membutuhkan gadis itu dan tak ada cara lain selain ini untuk mendekatinya. I’m sure that I can get a lot of information from her. (Aku yakin, aku bisa mendapatkan banyak informasi darinya.)”

Like what? (Misalnya?)” Lay menantang.

Satu sudut bibir Sehun terangkat ke atas. Tangan pria ini mulai sibuk membolak-balik buku catatan pribadi miliknya yang ia letakkan di meja, sampai akhirnya satu halaman yang ia butuhkan terbuka. Bibirnya mulai bergerak, mendiktekan beberapa poin yang ditulisnya di sana, “Ada beberapa artikel yang mengatakan bahwa kemarahan Ilana merupakan salah satu alasan yang membuat Suho Kim frustasi dan memutuskan untuk bunuh diri karena tak sanggup menahan rasa bersalahnya.” Manik sewarna obsidian Sehun masih sibuk bergulir, mencari bukti lain. “Dan ya … nomer terakhir yang tercatat di daftar panggilan Suho adalah milik Ilana, tapi sayangnya gadis itu selalu menolak untuk diwawancarai pers.”

Lay mendongak dan mendengus kasar. Baiklah, ia mengaku kalah. Sehun memang cerdas di balik segala keangkuhannya. Mungkin ini juga berkat bantuan komik seri Detektif Conan yang sering dibaca keponakannya itu sejak kecil. Dulu Lay memang sering memergoki Sehun yang menyembunyikan bacaan tipisnya itu dibalik buku pengenalan bisnis tebalnya secara diam-diam.

Okay, (Baiklah,)” sahut Lay sembari mengangsurkan kartu yang dibutuhkan Sehun. “Tapi apa kau yakin bisa mendekatinya dengan sifat angkuhmu itu, hah?”

Untuk ke sekian kali Sehun mencibir. “It’s easy. (Itu mudah.) Aku sudah terbiasa menaklukkan wanita, Paman,” jawabnya penuh keyakinan.

“Bagaimana jika sebaliknya? Justru kau yang takluk padanya,” goda Lay.

“Tidak akan pernah, Paman. Manusia sekelas Lucifer sepertiku diharamkan untuk jatuh cinta. Lagipula aku tak tahu sampai kapan aku bisa bebas seperti ini. The one that I want to do for now is resolve this case as soon as possible. (Satu-satunya yang ingin kulakukan sekarang adalah menyelesaikan kasus ini secepat mungkin.) Mungkin saja ini adalah kasus terakhirku.”

Lay tertawa sumbang, lalu menyahut ringan, “Kau berkata seperti itu seolah-olah kau akan menghadapi kematian saja.”

“Jika aku kembali ke sana, jiwaku memang akan kembali mati, Paman,” balas Sehun datar. Manik birunya menatap dingin ke arah Lay, seolah sengaja menyadarkan sang Paman bahwa mereka baru saja terlibat topik pembicaraan yang salah.

Lay berdeham kecil selagi pusat sarafnya bekerja menyusun kalimat lain guna mencairkan suasana. “How about Luhan? (Bagaimana dengan Luhan?)” tanya pria ini, basa-basi.

This morning he told me that he would apply for work at the Ritz-Carlton. (Tadi pagi dia mengatakan padaku bahwa dia akan melamar kerja di Ritz-Carlton.)”

HAH?”

-oOo-

Luhan tengah membenahi simpul dasinya yang sedikit berantakan ketika mendengar langkah kaki yang beradu tergesa dengan permukaan keramik. Diam-diam, ia menajamkan pendengaran, siap mencerna beberapa kalimat dialog yang sekiranya dapat tertangkap gendang telinganya, walaupun samar.

Jantungnya berpacu ketika mendengar suara pintu yang baru saja ditutup. Perlu diketahui, ruangan yang didiami Luhan saat ini memang cukup luas dan perlu melewati dua sekat pembatas dari pintu masuk untuk menuju tempatnya saat ini. Karena itulah, sepasang manusia yang tengah berjalan mendekat itu bisa berbincang sedikit lebih lama. “Kai mengangkat kasus ini lagi? Is he crazy? (Apa dia gila?)” Iris Luhan memicing mendengar nama rekannya disebut-sebut.

Yes, Sir. That’s the information that I got, (Iya, Tuan. Begitulah informasi yang Saya dapatkan,)” suara lainnya menyahut, sementara langkah kaki keduanya semakin mendekat. Sedikit terburu-buru, Luhan pun menyumpal kedua telinganya dengan handsfree yang disambungkan ke ponsel. Simbolis agar orang-orang tersebut mengira bahwa dirinya tuli selama beberapa saat dan tak mendengar secuil pun percakapan mereka.

“Dia mencoba bermain-main denganku rupanya. Ck.” Ini menjadi kalimat terakhir yang didengar Luhan sebelum sang pemilik suara dikejutkan oleh keberadaannya. “Siapa dia?” pria itu menurunkan nada suaranya.

New Applicants. (Pelamar baru.) Calon sekretaris Anda, Tuan,” jawab pria yang sedikit lebih pendek.

“Kenapa kau tak bilang bahwa ada orang lain di sini?”

“Saya juga tidak tahu kalau dia sudah datang, Tuan. Maaf.”

Luhan berakting begitu apik. Ia terlihat tenang, seolah benar-benar tak menyadari kehadiran dua manusia lainnya. Semua ini bertahan hingga sebuah lengan menepuk pundak Luhan. “Eh?” Luhan pun mendongak, pura-pura terkejut sembari melepas headset-nya dalam satu gerakan. “Oh, maaf. Saya terlalu asyik.”

Sang pemilik lengan menatap Luhan dengan tatapan menyelidiknya selama beberapa saat, lalu tersenyum begitu tahu tak ada ekspresi mencurigakan yang ditunjukkan Luhan. “It’s okay. I’m the one who came late. Sorry, (Tidak apa-apa. Sayalah yang datang terlambat. Maaf,)” pintanya sopan. “Saya Kris Wu.”

Keduanya berjabat tangan secara formal.

“Baennan … Luhan Baennan.” Identitas baru.

-oOo-

url

Ilana memekik riang. Sekali lagi, karena masih sulit percaya, gadis itu melirik penunjuk waktu yang melingkar posesif di pergelangannya dan … tak ada yang berubah. Pukul sepuluh pagi, di mana pelataran kampusnya masih sangat sepi dari lalu lalang manusia. Hari ini –untuk pertama kalinya Ilana mendapat jadwal hanya satu jam pelajaran, dan itu artinya ia akan bebas untuk empat belas jam ke depan –sebelum menyambut hari esok.

How lucky I am, (Betapa beruntungnya aku,)” pekik Ilana, begitu riang. Bukan apa-apa, dengan begini, ‘kan, dirinya dapat menghindari Sehun dengan mudah. Hari ini ia pulang lebih cepat dua jam dari waktu yang ia janjikan bersama pria itu.

“Lana.” Satu gelombang suara terdengar dari kejauhan.

Meski enggan, Ilana tetap menolehkan kepalanya. Tak terkejut sama sekali kala manik violet-nya bertumbukkan dengan iris cokelat milik Kai. Sejatinya tanpa melihat pun Ilana telah menyadari siapa pemilik suara tidak asing yang baru saja menyapanya.

“Kau masih marah padaku soal kemarin?” tanya Kai setibanya di hadapan Ilana. “I’m so sorry, Dear. (Aku sangat-sangat menyesal, Sayang.)” Tanpa ragu, pria berkulit tan itu mendaratkan kedua telapak tangannya di pipi kanan Ilana, bahkan mengusap lembut sisi wajah gadis itu dengan ibu jarinya. “Maafkan aku, ya?”

Ilana menggenggam telapak tangan Kai selama beberapa detik, lalu menepisnya cukup keras. Satu helaan napas gadis ini terasa begitu berat ketika melihat wajah bermuram Kai. “Kau selalu bilang menyesal, tapi kau terus saja mengulanginya. Aku sudah katakan, ‘kan? Aku tak ingin disentuh berlebihan karena aku bukan gadis murahan, Kai!” sahut Ilana dengan nadanya yang terkontrol. Meski pelataran kampusnya saat ini terbilang sepi, ia harus tetap berjaga agar tak ada yang mengusik kehidupan pribadinya dengan Kai.

“Apa benar itu alasannya?” tanya Kai dengan satu alisnya yang terangkat. “Kita dibesarkan dengan budaya Eropa yang kental, satu ciuman bukanlah masalah yang besar, La,” tambahnya lagi. “Atau ini semua karena trauma masa lalumu bersama pria sialan itu? Iya, ‘kan?”

Tanpa sadar kedua tangan Ilana terkepal. Susah payah gadis ini memertahankan agar kepalannya tetap terkunci di sisi tubuh, bukannya melayang untuk meninju muka Kai yang berubah menyebalkan sejak beberapa detik lalu. Demi apa pun, ia tak pernah suka membahas masa lalu. Alasannya sederhana, ia tak pernah ingin mengingat kisah hidupnya yang kelam di beberapa titik, atau mungkin juga secara keseluruhan, di mana Ilana merasa tak pernah benar-benar memiliki keindahan untuk ia kenang di masa depan.

“Kenapa diam?”

“Lalu aku harus bagaimana?” Ilana membuang pandangannya dari Kai. Mencari apa saja yang dapat meredakan kemarahannya saat ini. Sebelumnya Ilana tak pernah sebegini kesal pada Kai karena pria itu selalu bisa meredam emosinya dengan tindakan yang begitu manis, namun untuk hari ini ia merasa Kai memiliki sisi baru yang begitu … berbeda. Sisi yang Ilana sendiri bingung untuk menjelaskannya.

“Ma—”

“Sudahlah,” tukas Ilana. “Aku pulang. Mengajarlah dengan serius, Mr. Kim.”

Dengan tergesa-gesa Ilana berlalu dari hadapan Kai. Berharap emosi yang menyumpal kelapangan hatinya dapat terkikis setelah ini. Menghindari masalah bukanlah kebiasaan Ilana, namun bertengkar dengan Kai juga tidak ada dalam kamusnya. Maka dari itu, Ilana memilih untuk pergi, mengabaikan ego juga sederet kata pedas yang sempat disusun pusat sarafnya guna membalas penghakiman Kai padanya.

Humboldt_University_Berlin_by_unfullfilledlove

Baru tiga langkah melewati gerbang kampusnya, sebuah lengan mencengkram milik Ilana. Tidak terlalu kuat, namun cukup untuk membuat gadis itu tertarik mundur dan berbalik, bahkan mendengus begitu tahu siapa yang melakukannya. “Untuk apa kau di sini?” tanya Ilana ketus. Dalam satu kali hentak gadis ini membebaskan lengan mungilnya. Sial beribu sial, ada apa dengan hari ini? Belum musnah kemarahannya pada Kai, sosok menyebalkan Sehun justru muncul secara ajaib dan ikut menambah porsi kesal di hatinya.

“Menjemputmu. Apa lagi?”

Ilana mendecak, lalu menghentakkan kedua kakinya ke tanah, bergantian. Dengan menggebu-gebu ia mengangkat tangan kanannya ke udara, mengarahkan penunjuk waktu yang ia kenakan tepat di depan wajah lawan bicaranya. “Masih kurang dua jam dari waktu yang dijanjikan, Mr. Oh,” ujarnya. “Dari mana kau tahu aku pulang cepat hari ini?”

“Tidak penting. Bukankah ini bagus? Kita jadi memiliki lebih banyak waktu untuk bersama,” sahut Sehun tenang.

No!” tolak Ilana tegas. “Aku hanya bekerja sesuai dengan perjanjian. Maaf.”

Sehun menyeringai. Satu tangannya mulai sibuk memainkan kunci mobil, sementara tangan yang lainnya terkunci dalam saku celana. “Aku bisa menambah bayaranmu,” ucap Sehun dengan nadanya yang begitu meremehkan. Besar dalam keluarga Silverstein membuat Sehun tumbuh menjadi sosok angkuh yang merasa kekayaannya dapat membeli apa pun. Ia bersahabat bukan lagi dengan manusia, melainkan dengan setumpuk nominal dalam rekeningnya.

“Apa aku terlihat seperti wanita bayaran untukmu?” balas Ilana sengit.

“Bukankah itu yang kau inginkan sejak pertama membuka usaha gilamu ini, Nona?”

Satu decakan lolos dari bibir mungil Ilana. Semurah itukah dirinya di mata Sehun? Sepertinya ada yang perlu ia luruskan di sini. Sejak awal, Ilana membuka usahanya bukan semata karena uang. Ia sudah lama membuka usaha ini, bahkan ketika ia masih resmi tinggal di kediaman lamanya bersama keluarga besar. Niat awalnya hanyalah membantu orang-orang yang ingin menunjukkan kepada dunia bahwa mereka layak untuk mendapat pasangan. Lagipula ia dibayar untuk sekadar meminjamkan status, bukan tubuhnya. Kebanyakan dari rekan Ilana sebelumnya juga adalah pria berpenampilan … oh, bagaimana gadis ini harus menyebutnya? Semacam kuno, menyedihkan, atau nyaris … idiot. Ya, begitulah. Tak jarang Ilana pun membantu sebagian dari mereka memperbaiki penampilannya.

Sayangnya Ilana terlalu malas untuk menjelaskan semua itu, terlebih kepada Sehun. Maka dari itu, gadis ini memutuskan untuk mengabaikan penghinaan tak kasat mata dari Sehun dan mengganti penjelasan panjangnya dengan sebuah pertanyaan. “Apakah hidupmu terus melulu tentang uang?”

Did I say something wrong? (Apakah aku mengatakan sesuatu yang salah?) Kau memang melakukan semua ini untuk mendapat bayaran, ‘kan? Lalu kau habiskan uangmu untuk belanja dan hura-hura. Aku sudah biasa menghadapi wanita sepertimu, Miss Kim.” Sehun masih bertahan dengan segala keegoisannya. Sepasang obsidian milik pria ini pun mulai memancarkan keangkuhan yang selalu dapat mengerdilkan kepercayaan diri siapa pun yang melihatnya.

Namun sepertinya tidak berlaku bagi Ilana. “Kita batalkan saja perjanjiannya, aku tidak sanggup bertahan dengan orang sepertimu,” putusnya.

Lagi-lagi Sehun mencengkram lengan Ilana yang hendak pergi menjauh, lalu berseru, “Aku sudah mengirimkan bayarannya ke rekeningmu.”

“Aku akan kembalikan. Te—”

“Kau jangan sok jual mahal!” potong Sehun.

“TAPI AKU PUNYA HARGA DIRI, TUAN OH SEHUN YANG TERHORMAT!” pekik Ilana dengan lantang akibat termakan emosinya sendiri. “Kau—” Ilana menekankan jari telunjuknya tepat di dada Sehun. “—sudah terlalu jauh meremehkan wanita.” Ilana mendesah kentara sebelum menarik jarinya kembali. “Tidak semua wanita serendah yang kau pikirkan. Apa kau tahu Cleopatra? Dia dikenal sebagai pemimpin wanita hebat yang mampu memertahankan kerajaan Mesir dari ancaman kekuasaan Romawi. Dia juga pandai berpolitik dan mempunyai dua sekutu –pemimpin besar dari Roma yaitu Marc Anthony dan Julius Caesar. Atau, kau pernah dengar mengenai Boudicca? Dia seorang pemimpin hebat dalam sejarah pada masa ekspansi Romawi yang mampu memperluas wilayahnya.  Dia memimpin pemberontakan melawan Romawi dan Inggris.”

Belum puas, Ilana terus menambahkan penjelasannya. “Hildegard … Dia itu seorang musisi, pengarang lagu, dan komposer yang paling berpengaruh pada era tahun 1150-an. Ada juga Joan of Arc, tokoh wanita hebat dunia dalam sejarah yang memimpin pasukan Perancis di usianya yang masih 17 tahun, bahkan mampu memenangkan pertempuran di Orlens. Dan yang paling kusukai adalah Mary Wollstonecraft. Seorang tokoh perempuan pejuang sejati dalam bidang hak-hak asasi perempuan. Dia yang memelopori pemikiran hak asasi perempuan, juga menerbitkan buku berjudul ‘Pembelaan Hak-hak Perempuan’—” Ilana mengutip beberapa silabel terakhir dengan jarinya. “—Apa kau tidak pernah dengar semua itu?”

Sehun berdecak. Sejujurnya terkesima pada pengetahuan yang Ilana miliki. Sangat jarang wanita di era sekarang yang benar-benar memedulikan sejarah semacam itu, namun Sehun terlalu keras kepala untuk menunjukkan kekagumannya. “Itu semua hanya sejarah. Tidak ada wanita sehebat mereka di jaman sekarang.”

“Ada. Eniya Listiani—” Ilana berdeham, agaknya sedikit kesulitan melafalkan nama asing tersebut. “—wanita asal Indonesia yang berhasil menemukan katalis baru untuk sel bahan bakar. Berkat penemuannya itu, ia mendapat penghargaan dari Masyarakat Ilmu Polimer Jepang. Aku cukup kagum padanya. Tidak terlalu lama, sekitar tahun 2008-an, dia mendapat penghargaan dari ASEAN Outstanding Engineering Achievement Award.” Gadis ini berhenti sejenak, sebelum meneruskan kalimatnya dengan semangat penuh. “Di bidang teknologi juga ada Katie Jacobs Stanton. Wanita yang dipercaya Twitter memegang jabatan penting sebagai vice president untuk pengembangan bisnis internasional sejak tahun 2010. Di bawah kepemimpinannya, Twitter  berhasil melebarkan sayap bisnisnya sebanyak 77% di luar Amerika Serikat. Kau tidak hanya harus berterimakasih pada Jock Dorsey yang sudah menciptakan twitter, tapi juga padanya, karena secara tidak langsung dia sudah membantu perkembangan aplikasi twitter hingga mendunia.”

Sehun yang sempat tertegun bergegas menjatuhkan jari telunjuknya di atas bibir plum Ilana. Baiklah, sudah cukup gadis itu memukau Sehun dengan segala pengetahuan yang dimilikinya. Meski tak disuarakan secara lisan, pria ini mengaku kalah telak. Lagipula ia sudah mendapatkan bukti yang jauh lebih nyata mengenai kehebatan seorang wanita dari Ilana sendiri. “Cukup. Kau sudah terlalu banyak bicara, Ilana. Kita masuk sekarang!” perintah Sehun dengan sifat otoriternya.

Don’t you have anything to say? (Tidak adakah yang ingin kau katakan?)” sahut Ilana, luar biasa dongkol.

What? Something about twitter? (Sesuatu mengenai twitter?) Sejujurnya aku tidak suka membuang waktuku untuk hal-hal seperti itu, jadi aku tidak main twitter.”

Dengan penuh emosi Ilana mengibaskan kelima jarinya di udara. “Forget it! (Lupakan saja!)” Gadis itu baru akan berjalan menjauh, ketika suara Sehun menahannya.

Sorry.”

Ilana memutar tubuh mungilnya agar kembali menghadap Sehun. “It’s okay, no problem,” balasnya, kemudian mengunci seulas senyum tipis di bibir dengan terpaksa. “Aku permisi, Sehun.”

Satu cengkraman Sehun kembali menahan Ilana. Gesture tubuhnya begitu kentara, meminta agar gadis itu tetap tinggal. Tanpa membuang nada angkuhnya, Sehun pun berujar, “Aku membutuhkanmu untuk membuka mata hatiku yang telah lama buta.” Meski tak tahu kalimat itu berasal dari mana, benar-benar dari hati atau hanya sekadar simbolis untuk ambisinya mengenai penyelidikan kasus Suho Kim, yang jelas Sehun tengah merasa benar-benar membutuhkan Ilana.

Di luar dugaan, Ilana justru balas menggenggam tangan Sehun yang masih bertahan di lengannya. “Kau tahu? Kau mirip sekali dengan Ayahku …” lirihnya. Jika kebanyakan gadis yang dikenal Sehun akan berubah menyedihkan di saat seperti ini, bahkan tak jarang yang sampai membuang air matanya, Ilana justru tampak semakin kuat.

“Bagaimana bisa?” tanya Sehun.

Ilana menggigit bibirnya, sedikit gusar. Disuguhi pemandangan seperti ini membuat Sehun menelan ludahnya tanpa sadar. Ia tergoda, menghadirkan satu obsesi baru di otaknya yang mulai menggila. Sungguh Sehun ingin sekali—

“Sadar tidak?” Kalimat Ilana menginterupsi pemikiran diam-diam Sehun. “Kalian lebih sering menggunakan ini—” Ia beralih menekan dahi Sehun, sebelum akhirnya turun ke dada pria itu. “—dan mengabaikan ini.” Merasa tindakannya kurang sopan, Ilana pun bergegas menarik jemarinya. “Kalian terlalu sibuk mengejar kebahagiaan ke ujung dunia, tapi kalian lupa bahwa kebahagiaan yang sesungguhnya berada sangat dekat, di napas kalian sendiri. Jangan sampai kau berakhir seperti Ayahku, Sehun. Ayahku yang terlalu sibuk mengejar kebahagiaannya sejauh mungkin hingga melupakan napasnya dan … mati.”

Sehun pun membeku seketika.

-oOo-

Meja-Komputer-Model-Sudut-Minimalis-Dari-Kayu-Jati

Di sebuah ruangan minimalis dengan beberapa rak kayu bersandar di sisi dindingnya, seorang pria nampak termangu –terjebak dalam pemikirannya sendiri. Pria berkulit tan itu membatu tanpa mengindahkan kacamatanya yang sudah merosot hingga ke ujung hidung. Pertengkarannya dengan Ilana terasa begitu menghantui sekarang. Well, ia mengaku salah. Tidak seharusnya ia bersikap egois dan memuntahkan kalimatnya yang justru melukai gadis itu. Tidak untuk sekarang ini.

Shit!” umpatnya kemudian. Kamus bahasa Spanyol yang semula berada dalam genggamannya, ia lempar asal hingga teronggok mengenaskan di lantai. “Apa yang sudah kau lakukan, tolol?” makinya pada diri sendiri. Tepatnya, pada refleksi wajahnya yang terpantul melalui layar gelap komputernya.

Kai meraih kembali ponselnya. Mencoba menghubungi Ilana, namun gadis itu masih belum juga mengaktifkan nomernya. Apa Ilana mulai sengaja menghindarinya? Sialan! Tak bosan-bosan Kai mengumpat dalam hati, bahkan nyaris membanting ponselnya ketika benda tipis itu berdering tiba-tiba.

“Halo,” sapanya tergesa setelah panggilan tersambung. Kai tidak sempat melirik nama yang terpampang di layar saking bersemangat, terlalu berharap bahwa Ilana-lah yang menghubunginya. “Kau …?” Kai ganti mengernyit saat suara berat pria yang mampir di gendang telinganya.

Cukup lama Kai berpikir, sampai akhirnya satu sudut bibirnya terangkat sinis. Ia tahu dengan siapa ia berbicara saat ini, bahkan sebelum pria di ujung sana memperkenalkan diri. “Wow. Apa kabar, Kris? Kurasa aku merindukanmu. Tahukah kau? Aku menjaga Ilana dengan sangat baik. Apakah kau juga menjaga Alena dengan baik? Atau … kau terlalu sibuk mengurus harta barumu?”

Kai kontan menyeringai begitu mendengar nada penuh emosi yang menggema di speaker ponsel pintarnya. Sudah lama tidak terjebak dalam situasi seperti ini membuat Kai dilanda euphoria hingga sesaat Ilana pun terlupakan.

-oOo-

Luhan terkesima dengan ruang kerja barunya. Tidak terlalu besar memang, namun isinya tetap tak terbilang murah. Meja kaca, kursi putar, rak buku, juga beberapa alat elektronik di ruangan ini, semuanya dilabeli brand mahal dan terkenal kelas dunia. Meski ya … ia lebih mencintai ruang kerjanya yang lama.

Dehaman seseorang membuyarkan lamunan Luhan tanpa permisi. Pria itu menoleh cepat, lalu mengernyitkan dahi kala fokusnya mendapati seorang wanita dengan setelan mahal berdiri di pintu masuk ruang kerjanya.

“Selamat pagi,” sapa wanita tersebut lebih dulu.

“Selamat pagi, Nona,” balas Luhan ditutup dengan senyum manisnya. Berinteraksi dengan orang asing sudah bukan hal baru bagi pria ini, jadi ia tak merasa canggung sedikit pun. “Maaf, tapi Anda …?” Luhan membiarkan nadanya memanjang di akhir, rumpang tanpa penyelesaian karena wanita itu sudah siap menjelaskannya.

“Saya Alena Kim. CEO di sini.”

Luhan mengangguk paham. Ia sudah mendengar bahwa Alena adalah putri Suho Kim yang bertahan di perusahaan ini, sedangkan Kakak laki-laki dan adik perempuannya pergi dari rumah semenjak memarahnya kasus kematian sang Ayah. Dari sedikit biografi yang ia dapat dari ketua timnya, wanita yang berdiri berhadapan dengannya saat ini merupakan seorang workaholic seperti Ayahnya. Pembawaannya dingin, namun tidak layak dikatakan angkuh. Mungkin hanya … tidak mudah bergaul. Yang terakhir ini Luhan simpulkan sendiri setelah pertemuan keduanya.

“Saya—”

“Luhan Baennan, asisten pribadi Paman –oh, maksudku Mr. Wu, yang baru. Aku sudah tahu,” potong Alena, lalu membalas senyum Luhan sedikit terlambat. “Selamat datang di perusahaan kami. Semoga keseriusanmu dapat membantu perkembangan perusahaan ini.”

Luhan meringis menerima sambutan yang diberikan Alena secara pribadi itu. Bagaimana jika wanita itu tahu dirinya kemari hanya untuk singgah? Bukannya untuk membantu kemajuan perusahaan ini, tapi untuk kesuksesan penyelidikannya sendiri. Berakting lah dengan baik, Luhan! Batinnya menyemangati diri sendiri. Setelah membingkai ketampanannya dengan satu lengkungan sempurna, barulah Luhan menyahut, “Ah, ya. Semoga aku tidak mengecewakanmu.”

Alena menggeleng. Satu kalimatnya terasa cukup mengejutkan bagi Luhan. “Kau bukan bekerja untukku, tapi untuk perusahaan.” Wanita ini mendesah kentara sebelum melanjutkan ucapannya. “Jadi jika kau berniat mengkhianati kami seperti asisten Mr. Wu yang lama, bukan aku yang kau kecewakan, tapi Ritz-Carlton. Perusahaan kebanggaan … Ayahku.”

Satu gumaman diberikan Luhan, tanda mengerti.

“Sebenarnya aku lebih percaya jika Kai Kim yang mengisi posisimu sekarang. Tapi sayangnya mereka tidak terlalu akur.”

Luhan terhenyak. Mereka siapa? Kai Kim dan Kris Wu? Jika benar begitu, Luhan pun telah menyadarinya sejak awal. Bagaimana Kris Wu menyebut nama Kai dengan sangat tidak bersahabat sebelumnya. Tapi … kenapa? Pasti ada alasan di balik itu semua. Satu tanda tanya baru pun menambah rentetan daftar yang menuntut Luhan untuk segera diselidiki.

-oOo-

Volkswagen-Gol-2013-08

Volkswagen keluaran tahun 2013 yang dikemudikan Sehun berhenti di depan sebuah bangunan dengan papan besar bertuliskan ‘Red Barn Coffee Roasters’ terpaku di muka. Sehun tahu benar bahwa kafe yang akan ia kunjungi kali ini adalah milik dari anak sulung Suho Kim –kakak tertua Ilana. Dan pria ini yakin telah membawa Ilana ke tempat yang benar dilihat dari keterkejutan yang diperlihatkan gadis itu.

“Kenapa kau membawaku kemari?” tanya Ilana dengan manik violet-nya yang memenjarakan sepasang fokus Sehun.

Sehun berputar hingga menghadap lurus ke arah Ilana. Bahunya sengaja disandarkan pada jok mobil sebagai pertahanan. “Temanku bilang kopi di sini enak. Memangnya kenapa? Kau sudah pernah datang ke tempat ini?” Sehun pun balas bertanya dengan segala kepura-puraannya.

Ilana meneguk saliva-nya, lalu tersedak dan terbatuk kecil. Sepasang indera penglihatannya masih asyik menghujamkan tatapan penuh selidik ke arah Sehun. “Kau benar-benar tidak tahu?” tanya gadis ini tetap dengan iris ungunya yang memicing. Sadar bahwa Sehun tak berniat memberinya jawaban apa-apa, Ilana pun melanjutkan, “Ini kafe milik kakakku.”

Mulut Sehun membulat, membentuk huruf ‘O’ tanpa suara.

“Tidak bisakah kita ke tempat lain saja?” pinta Ilana kemudian. Tak ada nada merengek dalam kalimatnya, karena gadis ini tidak pernah suka merajuk pada orang asing. Yeah, Sehun memang masih masuk kategori asing baginya.

Bukannya menjawab, Sehun justru bergerak turun dari mobil, melepas jaket hitamnya, dan bergegas membukakan pintu untuk Ilana. Setelah keduanya berhadapan, kepala Sehun pun tertunduk hingga manik birunya jatuh ke area terlarang. Ini kali ketiga ia bertemu Ilana dan gadis itu masih bertahan dengan gaya berpakaiannya yang terlalu minim. “Kau boleh berpenampilan seksi, tapi hanya ketika kau berada di depanku,” ucap Sehun sembari memakaikan jaket hitamnya pada Ilana, menutupi belahan dada gadis itu yang semula terekspos. Sial! Sudah berapa banyak mata nakal yang menikmati keindahan gadis ini? Sehun menggerutu dalam hati.

“Apa yang kau lakukan?” Ilana berniat membuka resleting jaket Sehun, namun satu tangan pria itu menggagalkannya.

“Belahan bajumu terlalu rendah.”

“Lalu kenapa?”

Sehun menggeram sebelum memberi jawaban. “Aku tidak suka.”

“Aku juga tidak suka diperintah!” sahut Ilana tegas.

Lelah karena terus saja dibantah, Sehun pun melayangkan tinjunya pada badan luar mobil. Ilana yang terkejut sontak memundurkan tubuh, hingga akhirnya terkunci dalam kungkungan Sehun. Dari jarak sedekat ini, Ilana dapat melihat sepasang obsidian Sehun yang berkilat penuh emosi. Tak lama kemudian, pria itu berucap dengan suara seraknya, “Untuk kali ini kau harus suka!” Aah, Sehun benar-benar marah rupanya.

Tapi bukan Ilana namanya jika langsung menyerah hanya dalam sekali gertakan. Susah payah gadis ini menyembunyikan rasa takutnya. Memaksakan diri untuk menumpahkan satu kata tanya, “Kenapa?” Nadanya memang terdengar begitu tenang, namun tidak dengan gemuruh dalam dadanya yang tak terkendali. Pembuluh darahnya seolah meledak di kepala, lalu membakar wajahnya hingga merona ketika merasakan hembus napas Sehun yang terasa intim di keningnya. Lalu pada akhirnya Ilana hanya mampu berharap bahwa Sehun takkan menyadari respon konyolnya, meski tahu keinginannya yang satu ini mustahil.

Dalam satu kedipan saja Sehun sudah dapat menyadari wajah Ilana yang memerah layaknya kepiting rebus. Membuat pria ini tak kuasa untuk menahan tawa dan lupa akan kemarahannya. “Kau … gugup?” tanya Sehun, geli sendiri.

Ilana mengerjap beberapa kali. Ia bertanya dengan begitu polosnya, “Kau bisa tertawa juga?”

Tawa Sehun terhenti begitu saja. Ia mundur dua langkah dan membebaskan Ilana. “Ada apa dengan wajahmu?” tanyanya lagi dengan nada yang kembali dingin, datar, nyaris angkuh. Pria itu kembali menjadi Sehun yang Ilana kenal pertama kali.

“Aku hanya terkejut. Aku tidak pernah sedekat itu dengan pria selain … Kai.”

Kedua alis cokelat Sehun terangkat. “Benarkah?” tanyanya tak percaya. “Lalu rekan-rekanmu? Apa mereka tak pernah menyentuhmu?”

Ilana mendengus keras. Tersinggung dengan ucapan Sehun yang kembali meremehkannya. “Sudah kubilang aku bukan gadis murahan. Aku hanya membiarkan mereka menggandeng tanganku. Tidak lebih,” jelasnya, berapi-api.

Manik biru Sehun membulat sempurna. “Jadi kau belum pernah ciuman?” tanyanya lagi yang dibalas gelengan pasti oleh Ilana. “Are you still a virgin? (Kau masih perawan?)”

Absolutely yes. (Tentu saja iya.)”

Sehun menatap Ilana lamat-lamat dengan jari yang sibuk memijat pelipisnya sendiri. Mulutnya pun terkunci selama beberapa saat, meski batinnya berontak. Pria ini masih tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi ke depannya. Sejujurnya Sehun bukanlah pria alim. Menyentuh wanita, bahkan lebih dari itu sudah pernah ia lakukan. Jika biasanya wanita yang akan tunduk pada pesonanya, maka kali ini lain. Ilana tidak sama seperti gadis-gadis masa lalunya. Ia terlalu … berbeda. Dalam waktu kurang dari satu hari saja Ilana sudah bisa membuat Sehun terobsesi untuk mengecap rasa plum-nya. Tapi ia juga tak ingin merusak apa yang sudah gadis itu jaga hanya karena nafsu sialannya.

“Berhentilah menggigit bibirmu!” ucap Sehun ketus.

“Kenapa?” Entah untuk keberapa kali Ilana memuntahkan kata tanya yang sama.

Sehun membuang fokusnya ke arah lain. “Kau tidak pernah tahu kapan seseorang bisa berubah menjadi monster, ‘kan? Jadi berhentilah melakukan tindakan yang mengundang hal-hal tak diinginkan.”

What’s wrong with you, Sehun?”

“Bisakah kau mengikuti perintahku tanpa bertanya apa pun lagi?”

Satu gelengen dihadiahkan Ilana. “Aku tidak suka diperintah. Remember it!”

Fokus Sehun kembali tertuju pada Ilana. Ia menggeram sebal ketika fokusnya jatuh pada bibir ranum gadis di hadapannya. “Ini juga demi kebaikanmu,” jelas Sehun, dan sebelum Ilana sempat membatahnya pria ini pun lekas menambahkan, “—aku tak tahu sampai kapan aku bisa menahan diri untuk tidak … melakukannya. Mengerti?”

Ilana tertawa, sementara Sehun mengumpat dalam hati. Belum genap dua puluh empat jam berlalu semenjak perbincangannya dengan Lay, tapi Sehun sudah termakan ucapannya sendiri. Sehun berani bersumpah bahwa ini pertama kalinya ia menjadi benar-benar terobsesi untuk mencium bibir seorang gadis. Kenyataan bahwa bibir Ilana belum dijamah siapa pun membuat Sehun semakin menginginkannya. Oh, adakah yang lebih membebani dari ini?

“Jadi, aku berhasil membuatmu tergoda ya?” gurau Ilana dengan senyum mengejeknya.

“Tidak. Kau sama sekali bukan tipeku.”

tapi bibirmu. Itu canduku, Lana. Bahkan sebelum aku merasakannya.

 

– To be Continued

.

.

AUTHOR’S NOTE

Halo~ Aku yakin chapter ini cukup untuk menjelaskan siapa HunHan dan apa tujuan mereka. Mereka semacam agen rahasia, kalo Luhan udah terdaftar sebagai anggota resmi, Sehun sendiri -karena satu dan lain hal- cuma jadi agen lepas (lebih ke detektif gitu kali yaa …). Well, kurasa karakter pemain intinya udah cukup terbaca di sini. Maafkan part Kai yang sedikit banget cahpter ini, abisan dia bikin Ilana marah sih jadi gitu kan *apaan sih/?* Oh iyaaaa … Aku mau ngucapin terimakasih sebanyak-banyaknya sama readers yg kemarin udah mau ngeramein chapter 1 nya 0101 😀 Semoga dengan adanya chapter 2 ini bisa nambah rame yaaa~

Soal adegan Ilana gigit-gigit bibir itu, ah, oke aku ngaku~ (dan pasti banyak yang udah ngeuh juga) Saking cintanya sama Ana-Christian aku masukin scene itu di FF ini. Please lah, ada yang udah baca novelnya? Terlepas dari semua konten dewasanya itu cerita romantis banget dan aku envy sama Anastasia bisa ketemu cowok seromantis Mr. Greeeeeeyyy~~~ *OOT*

Sekali lagi, aku juga author biasa yang pengen karyanya dihargai. Jadi, dimohon dengan sangat buat kalian yang udah baca jangan kabur gitu aja ya. Inget-inget nih -> Aku bakal private 3 chapter terakhir dan yang bisa dapet passwordnya cuma mereka yang bener-bener ninggalin jejak di tiap chapternya (bolong-bolong apalagi lompat-lompat enggak diitung lho ya :p). Cuma pengen meminimalisir siders aja sih. Capek-capek nulis tapi penyemangatnya sedikit banget itu kan enggak enak. Padahal komentar readers itu something precious banget for me.  Buat yang nanyain WP pribadi aku kemarin, sekarang udah gak di-private kok. Kali aja mau mampir 😀

Oke. Sebelum ini A/N semakin OOT, aku stop di sini deh. Sekali lagi diinget-inget ya aturan mainnya [!]

BE A GOOD READER, PLEASE~

Sincerely,

Arlene P.

1899957_806502956075815_1464398059105750316_n

102 tanggapan untuk “0101 : Addiction [Chapter 2] by ARLENE”

  1. idihh sehun kepedean, nanti kena karma lho tinggal suka sama ilana, akh karakternya sehun kereeen. kainyaa manaa dikit ya ka

  2. hallo kak, aku readers baru nih yg baca ff kakk 🙂 aku suka karakter ilana yg sangat membela hak perempuan, sehun kaya-nya Sombong bgt. Kai itu obsesi pada ilana ya? , Kasihan juga Kai dia sangat mencintai ilana, ahh Keren bgt kak Cerita-nya kaya ada tentang Ilmu Pengetahuan gitu, hehehe. Ijin baca next-nya 🙂

  3. waluyoo sehun senjata makan tuan. Makanya buktiin dulu jangan ngomong heheehehe, aku yakin pasti dia dulua yang jatuh ke pesonanya Ilana. Aku suka banget ff nya thor kerenn

  4. ouo skrg uda dijelasin hunhan apaan/? *ha.. tapi masih banyak tanda tanya dikepala hwhw.. kaya ny perlu lanjut baca.. oh iya. buat kata kata mata seobsidian uda gk trlalu bnyak kyk dipart awal/? hehehe..

  5. Katakatanya rapi walaupun ada sejarah2 yang aku rada gasuka tp aku coba baca^^
    sehun cie jagain Ilana tp dibantah terus =D

  6. WOW… aku bingung ma nulis apa. Tp ceritanya keren kak, mulai keliatan konfliknya. Aku jg suka pembawaan karakter ilana di sini. Tetap semangat ya kak nulisnya

  7. waahh .. suka sama karakter ilana 😀
    aku kira tadinya dia cewek bayaran , trnyata buat ngebantu cowok2 yg minus , hehehe
    kayanya sehun mulai trtarik sama ilana yah ?
    seru ceritanya thor 😀 hohoho ..

  8. Annyeong thor.
    Wahhhh bener2 berasa masuk ke alur ceritanyaaa. Niatnya mau baca chapter 1 aja, eh karna penasaran lanjut ke chap 2, dan sekarang makin penasaran lagiii. Cobaan banget padahal besok sbmptn. Hftt 😦
    Tapi aku suka kokk. Semangaat!
    Izin lanjut baca yaa

  9. ha
    hah ternyata sehun holang kaya juga 😀
    udah mulai paham sama ceritanua 🙂
    sifat illana bener kerennnn eonni ^^
    tuan oh sehun bener bener harus kuat iman 😀

  10. Hai kak :v Aku pembaca baru. Jadi ya baru komen :”v Kak kalo bikin ff sama KrisLu bawaannya beda ya. Kek ada baper-bapernya gitu 😭 Tapi terlepas dari baper aku grgr krislu… CERITA KAKAK KEREEEENNNN. Beneran. Soalnya sekarang itukan jarang banget ada yang bikin FF TEMA PSYCHO. Jadi kalo ada paling yang srek dihati cuma seupil sooman doang. Makin lopeh lopeh karna cast nya si Oseh aaaaa…. Rasanya bener-bener aw aw aw :v *komen apa doh gue*

  11. Ooooh jadi sehun sama luhan itu kaya agen rahasia gitu ya thor…

    Keren keren aku suka karakter sehun yg kaya gini dan aku juga lebih suka sama couple sehun ilana kkk~

    Langsung melayang aja deh ke next chapter. Tetep semangat thor😍

  12. Mkin menarik 😀
    Sehun mlai terperosot jtuh ke jebkn ny sendri *alah 😀
    hm. . Bner d sni part ny kai dkit bgt -_-
    ilana. . Ilana. .

    Hm. . Aq lgzg next aj ya unnie 🙂

    ps:mian, aq ijin manggil unnie ya. . Soalny THOR kedgrn aneh 😀

  13. Keren, … Akhirnya aku bisa komen juga d chap in! . Oh y kk aku reader bru . Aq udh bca dr chap 1-7 . tp komennya bkn d sni . d wp kk. chap 7 blm k’komen juga chap 4 yg k pw. ok ini keren .GOOD

  14. ati” mangkannya sama omongan hun *lirik sehun haha
    yg jatuh hati duluan kan situ jadinya haha
    penasaran next chapter dipass ya gimana dapetinnya 😮

  15. thor, Sehun nya gitu amat sih???? duh, ini kek mirip Healer gitu ya. tapi keren loh thor, bisa kepikiran bikin ff ini. semuanya teralur banget 🙂 aduh, semoga aja ya Srhun jadinya sama Ilana. hehe 😀

  16. eonniii i want to ask somethinggg kenapa sehun karakternya di bikin lebih mesum di bandingin kai? Kalo diliat dari muka kan kai lebih pervert ((KIDDING)) hahaha no i’m just asking eonnii

  17. I like this fanfic
    Buat saran aj sih menurut aku ada beberapa point tambahan disana sini yg ambigu yg malah membuat ff ini alurnya sedikit emh. . Sorry bertele-tele.
    tolong sedikit di kurangi saja yg bukan unsur inti cerita.
    Thank you and sorry if my comment haved bad worlds.

  18. Hai, Arlene. See me again? Ke ke ke 😀

    Aku belum bilang ya kalo aku suka sama karakter Ilana di sini? Dari cara dia yang mengemukakan pendapat tentang bagaimana itu “wanita” di depan Sehun, aku tebak kamu bikin karakter yang kuat buat Ilana ini. Tapi dari semua pengetahuannya tentang tokoh2 sejarawan dan tokoh-tokoh yang sukses yang ada di dialognya, ada yang kurang nih. Aku jadi penasaran kenapa Ilana bisa sangat paham tentang itu? Kamu kurang memberikan penjelasan tentang Ilana apakah dia memang pernah kuliah di jurusan sejarah atau Ilana hanya ngefans dan dia punya rasa keingintahuan yang besar tentang tokoh2 wanita atau gimana ya? O,o atau mungkin memang belum waktunya buat kamu jelaskan dalam cerita? 😮

    Tapi yang jelas ceritanya bagus dan semakin bikin penasaran. Lanjutin yaa 🙂

  19. oohhhh aku udh mulai paham sama alurnya..

    aku suka sama sosok sehun disini yh walaupun agak… yh gitu lah….
    keren kak…
    tetap semangat yh

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s