손생님 때문에 ― Chapter 2

11054409_797189203685335_611182346276514984_n

 

Len K’s storyline

Subtitle            : Because of You, Sir! (Sonsaengnim ttaemune)

Rate                 : T, PG-15

Casts               : Kim Junmyeon a.k.a Suho EXO, Song Yoonhee (OC), Kim Minseok a.k.a Xiumin EXO, Kim Jongin a.k.a Kai EXO, and another support casts

Genre              : school-life, romance

Disclaimer       : Standard disclaimer. I own the storyline but don’t own the characters

Happy reading~!!

Chapter 2, 시작함니다…

손생님 때문에

            Yoonhee bisa mendengar suara teman-temannya yang tengah berolahraga di lapangan. Terdengar seru tapi membosankan bagi Yoonhee. Yoonhee lebih memilih merebahkan dirinya di bangku panjang di atap sekolah. Menatap langit yang tidak begitu biru hari ini, diisi oleh arak-arakan awan-awan tipis. Lebih baik sendiri daripada ia harus berkumpul bersama teman-teman sekelasnya. Lebih baik tenang seperti ini daripada harus ramai.

Yoonhee memejamkan matanya dalam satu tarikan nafas. Udara musim gugur terasa semakin dingin tapi malah terasa sejuk dan menyegarkan layaknya udara musim semi bagi Yoonhee.

“Ini lebih baik daripada ruang kerja Minseok-ssi,” gumam Yoonhee pada dirinya sendiri.

Ketenangan yang dirasakan Yoonhee tidak berlangsung lama karena suara pintu atap yang dibuka paksa. Dengan sedikit dorongan dan tendangan sehingga menimbulkan bunyi gaduh yang cukup membuat risih telinga. Yoonhee segera terbangun dan melihat seorang siswa tengah mengumpati pintu atap yang memang sudah tua.

Mwohae?” tanya Yoonhee cukup keras.

Siswa itu berbalik. Harusnya ia tidak melakukannya secepat itu karena hal itu justru membuat Yoonhee terkejut.

“Membolos. Sepertinya kau juga melakukan hal yang sama denganku.” Jongin tertawa pelan dan berjalan mendekati Yoonhee. “Boleh aku duduk di sini?” Jongin menunjuk tempat kosong di bangku panjang yang diduduki Yoonhee.

Yoonhee mengangguk sekilas. “Geureom.”

Jongin melesakkan pantatnya ke bangku beton yang keras itu. Sedikit mengeluh karena hal itu justru membuat pantatnya terasa kesakitan. Yoonhee hanya terdiam. Terlalu gugup untuk memulai satu percakapan. Dia tidak terbiasa dengan kehadiran seseorang sedekat ini.

“Cuacanya cukup cerah hari ini, eo?” suara Jongin mengagetkan Yoonhee sekali lagi.

Eo…eo,” sahut Yoonhee gugup.

Jongin lalu melirik sekilas kearah Yoonhee dan kearah lapangan. “Itu…kelasmu, ‘kan?” Jongin menunjuk para siswa yang tengah melakukan lari estafet.

“Begitulah.”

Ya, sepertinya disana seru sekali. Kenapa kau tidak bergabung disana dan malah membolos disini?” ceplos Jongin.

Yoonhee sedikit terhenyak. Topik yang satu ini sangat tidak disukainya. Apa ada yang salah dengan senang menjadi sendiri? Toh, dia juga lebih sering diabaikan. Namun Yoonhee tersenyum tipis―teramat tipis. “Aku lebih suka ketenangan disini,” kilah Yoonhee.

“Ah, jadi begitu?”

Eo. Kau sendiri? Kenapa membolos?” tanya Yoonhee hati-hati.

Yoonhee pikir Jongin akan marah padanya. Tapi Jongin justru tertawa, dan Yoonhee kembali terpesona olehnya. “Yah…itu…” Jongin mengusap tengkuknya, “Pelajaran Woosuk sonsaengnim terasa begitu membosankan. Jadi aku menyelinap keluar dan pergi kemari.”

“Ah…begitu….” gumam Yoonhee pelan.

Jongin mengangkat kedua kakinya dan bersila, “Lalu kenapa kau kemari? Bukankah biasanya kau akan tertidur nyenyak di UKS?”

Cukup sudah Yoonhee merasakan serangan jantung karena kehadiran Jongin. Sekarang ia mengalami serangan kedua. “Eo…eotteohkae aro?”

Mata Jongin terbelalak dan menunjukkan ekspresi tidak percaya. Tapi tawanya pecah tidak lama kemudian. “Siapa yang tidak mengenalmu? Song Yoonhee, siswi yang nyaris tidak naik kelas karena tingkat kehadirannya di ambang minimal tapi dengan mengejutkannya ia naik kelas―mendapat nilai yang…yah, tidak buruk, terbilang bagus malahan.”

Tidak ada respon yang dirasa Yoonhee tepat dikeluarkan setelah Jongin berkata seperti itu. Dia tidak tahu apakah dia harus tertawa atau muram.

“Aku tidak tahu aku seterkenal itu,” kelakar Yoonhee kemudian.

Jongin terkekeh. “Kau, benar-benar…!” telunjuk Jongin menunjuk-nunjuk Yoonhee dibarengi tawanya yang khas. Mau tidak mau Yoonhee ikut tertawa.

 

***

 

Junmyeon menatap sekeliling ruangan yang didominasi warna putih. Ada empat tidur di sana yang diberi sekat berupa gorden berwarna hijau pucat yang cenderung ke putih. Di sana juga ada meja berbentuk persegi panjang dengan desain unik berwarna hitam. Cukup kontras dengan dominasi warna di ruangan ini. Beberapa buku dan jurnal terlihat tergeletak di meja itu.

Dengan rasa keingintahuan yang cukup tinggi, Junmyeon mendekat ke meja itu. Beberapa pena dimainkan oleh Junmyeon dengan lincah di jarinya. Merasa bosan, Junmyeon lalu iseng membuka-buka beberapa buku disana. Sebagian besar berupa buku kesehatan―yang mungkin akan dipinjam dan dibaca Junmyeon nanti, lalu sebagian lagi berupa komik manga. Junmyeon sedikit tertawa ketika ia menemukan sebuah majalah dewasa yang terselip dengan rapinya disana.

Jurnal yang berada di meja itu juga menarik perhatian Junmyeon. Begitu membukanya Junmyeon tahu jika jurnal itu berisi daftar para siswa yang masuk ke UKS. Senyum Junmyeon kembali muncul ketika ia melihat betapa banyaknya nama Song Yoonhee ada dalam jurnal itu.

“Asal kau tahu, aku tidak suka jika seseorang bermain-main dengan mejaku ataupun barang-barang yang ada disana.”

Junmyeon menoleh ke sumber suara di belakangnya. “Ah, maafkan aku, Minseok sonsaengnim.” Junmyeon mengembalikan jurnal Minseok ke mejanya lagi.

Minseok mengangguk singkat lalu berjalan menuju kursinya. Kursi putarnya yang berwarna senada dengan mejanya terlihat begitu pas untuknya. Ia tidak langsung bicara pada Junmyeon, melainkan sedikit meneliti mejanya. Dirinya cukup terkejut ketika mendapati majalah dewasa miliknya sedikit bergeser dari persembunyiannya.

“Jadi…apa yang kau butuhkan, Junmyeon sonsaengnim? Apa kau sakit?” tanya Minseok sedikit gugup karena insiden majalah dewasanya.

Aniya,” Junmyeon mengibaskan tangannya, “Aku tidak sakit. Aku sehat-sehat saja, tidak ada masalah kecil ataupun serius.”

“Lalu?”

“Hanya ingin bertanya. Boleh?”

Minseok mengangkat bahunya, “Kau bisa duduk kalau begitu.” Dagu Minseok mengedik kearah kursi putar di seberangnya.

Junmyeon duduk di kursi yang sudah disediakan. Nyaman, pikir Junmyeon. Terlalu menikmati kursi yang tidak seberapa, Junmyeon lupa akan bertanya apa pada Minseok. Dirinya baru ‘sadar’ ketika Minseok menatapnya dengan alis terangkat. Seolah mengatakan ‘jadi-kau-akan-bertanya-apa?’.

“Jadi?” Minseok mengutarakan pikirannya.

“Oke. Tadi aku sempat melihat-lihat jurnalmu dan…tidak begitu terkejut ketika menemukan ada banyak nama ‘Song Yoonhee’ disana. Kelakuannya yang sering bolos sekolah sudah jadi masalah, ternyata dia juga masih ingin membolos pelajaran. Apa sekolah sebegitu membosankan baginya?” tanya Junmyeon panjang lebar.

“Wah, wah, itu bukan pertanyaan yang bisa kujawab sebagai petugas kesehatan di sekolah ini. Kau harusnya menanyakan hal itu pada guru BK, Junmyeon sonsaengnim.” Minseok tersenyum lebar penuh kemenangan.

Junmyeon tertawa kecil. “Kalau begitu aku pindah ke pertanyaan lain.”

“Silahkan,” jawab Minseok enteng.

Tanpa basa-basi lebih lama lagi, Junmyeon bertanya, “Kenapa kau mengijinkan Yoonhee membolos di sini sementara dia baik-baik saja? Kau tidak merasa jika perilakumu sedikit membias pada Yoonhee?”

Minseok tersenyum kecil. “Junmyeon sonsaengnim, aku sama sekali tidak membias pada Yoonhee. Dan kenapa aku mengijinkan dia mengunjungi UKS? Karena dia memang sakit. Sudah menjadi tugasku untuk merawat siswa yang sakit, bukan?”

Junmyeon menatap Minseok tidak percaya. “Sakit? Apa kau serius?”

Geureom.” Angguk Minseok.

“Kalau begitu…bisa katakan apa sakit yang diderita oleh Yoonhee?” tanya Junmyeon. Junmyeon berharap Minseok akan kehilangan kata-kata dan dirinyalah yang akan memenangkan perdebatan konyol ini lalu setelahnya Junmyeon bisa membuat Yoonhee menajdi lebih disiplin lagi.

“Aku tidak bisa mengatakannya,” jawab Minseok setelah beberapa saat.

Mwo? Waeyo?”

Minseok tersenyum. “Menjaga kerahasiaan konsultasi pasien merupakan suatu kode etik mutlak yang tidak bisa dilanggar bagi kami, para dokter.”

Tawa pelan Junmyeon meledak. “Wah, kau benar-benar…. Tapi aku suka gayamu. Ja, kalau begitu…sepertinya sia-sia saja aku bertanya kemari.”

Minseok mengangguk-angguk pelan. “Memang. Ah, tapi Junmyeon sonsaengnim―!”

Ne?”

Kepalan tangan Minseok terangkat. “Tetaplah semangat terhadap Yoonhee. Aku tahu dia menyebalkan, tapi aku akan merasa kasihan padanya jika ia tinggal kelas. Otaknya lumayan encer untuk tertunda satu tahun.”

Araseoyo.” Junmyeon tersenyum. Kini ia bersiap untuk pergi meninggalkan UKS. Namun baru beberapa langkah, Junmyeon memutar badannya dan menunjuk Minseok. “Dan kau, Minseok sonsaengnim. Kau sangat menyebalkan rupanya, tapi aku suka itu.”

Eo, gumawo.”

 

***

 

Yoonhee hanya diam di bangkunya ketika siswa seisi kelasnya sibuk mencari anggota kelompok untuk tugas presentasi sejarah. Tugas kelompok. Yoonhee tidak pernah menemukan dirinya dalam posisi teratas sebagai siswa yang paling dicari untuk masuk ke dalam suatu kelompok. Berbeda dengan para siswa pintar atau supel yang selalu dicari, Yoonhee selalu dilupakan.

Lebih tepatnya tidak ada siswa yang mau bergabung dengannya. Awalnya memang terasa sakit, tapi Yoonhee mulai terbiasa. Ia tidak keberatan mengerjakan dan mengumpulkan tugas seorang diri daripada harus satu kelompok dengan orang-orang yang sejak awal tidak ada niat untuk bersamanya.

Sonsaengnim, apa kami boleh membentuk kelompok dengan tiga orang?” tanya seorang siswa.

Yoonhee hanya melirik sekilas. Beberapa pasang mata tengah menatap kearahnya dan itu membuatnya jengah.

“Eish, mworago? Aku sudah bilang pada kalian untuk membentuk kelompok dengan anggota empat orang? Eo, lihat…kalian masih bisa bergabung dengan Yoonhee. Masalah selesai!” sahut guru sejarah tanpa toleransi apapun.

Yoonhee tidak perlu mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya. Ketiga teman kelasnya―entah apa pantas menyebut mereka teman atau tidak―mendekatinya dengan canggung. Yoonhee sebenarnya juga tidak menginginkan ini, tapi guru sejarah bukanlah guru yang bisa dilawan, terlebih dengan keras kepalanya. Tidak ada pilihan lain selain ikut dalam kelompok ini meski hanya namanya saja yang terpampang.

“Kalau kalian merasa tidak nyaman karena kehadiranku, abaikan saja diriku. Dan jika ada sesuatu yang harus kulakukan, kalian bilang saja padaku, akan kulakukan,” ujar Yoonhee.

“Ahhh, ne,” sahut teman-temannya dengan kikuk.

 

 

Ruangan BK terlihat sepi. Hanya ada Junmyeon dan Sanghyuk sonsaengnim―guru BK―di sana. Junmyeon mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang berukuran cukup kecil itu sementara Sanghyuk sonsaengnim tengah menggeledahi beberapa dokumen.

Rak-rak buku yang berisi beberapa dokumen para siswa memang sudah tertata rapi. Tapi entah kenapa kesan berantakan masih terasa. Pohon palem berukuran kecil yang ditanam dalam pot dan diletakkan di sudut-sudut ruangan serta vas berisi bunga segar di meja sedikit memberi hawa kehidupan para ruangan kecil itu.

Jendela yang terbuka lebar membiarkan udara keluar masuk dengan bebasnya. Menjauhkan ruangan BK itu dari kesan pengap. Tapi Junmyeon tidak habis pikir kenapa Sanghyuk sonsaengnim nekat membuka jendelanya di musim gugur seperti ini. Junmyeon berharap agar Sanghyuk sonsaengnim yang sudah berusia paruh baya itu tidak terkena deman atau penyakit lainnya karena nekat membuka jendela kantornya.

“Jadi kau ingin meminta alamat rumah Song Yoonhee, Junmyeon sonsaengnim?” tanya Sanghyuk sonsaengnim dengan suaranya yang sedikit bergetar.

Junmyeon sedikit tergagap karena pertanyaan yang terlontar tiba-tiba itu. “Ah ye. Aku rasa aku perlu berbicara dengan walinya mengenai Yoonhee. Sudah hampir sebulan sejak aku ditugaskan kemari tapi aku belum bisa membuat Yoonhee berubah menjadi lebih disiplin. Ia masih sering bolos seperti biasanya.”

Sanghyuk sonsaengnim berbalik dari rak di hadapannya kepada Junmyeon dengan membawa sebuah buku tebal bersampul hitam. Beliau lalu duduk di bangkunya. “Merubah keadaan seseorang tidak semudah membalikkan telapak tangan, Junmyeon sonsaengnim.” Sanghyuk sonsaengnim melirik sekilas Junmyeon lalu membuka buku tebal yang tadi dibawanya.

Senyum Junmyeon terkulum. Perkataan Sanghyuk sonsaengnim benar.

“Yoonhee tidak pernah mau bercerita padaku. Tentu saja, aku hanya pak tua yang membosankan baginya. Kuharap Yoonhee bisa sedikit bercerita padamu, Junmyeon sonsaengnim. Kau terbilang sangat muda dibandingkan aku.” Sanghyuk sonsaengnim menyerahkan secarik kertas bertuliskan alamat Yoonhee.

Junmyeon menerimanya dan membacanya sekilas. Alamatnya tidak begitu jauh dari sekolah. “Aku harap juga begitu. Kalau begitu saya permisi dahulu. Kamsahamnida.”

“Bukan masalah.” Senyum lembut Sanghyuk sonsaengnim mengantar kepergian Junmyeon.

 

 

“Nomor empat puluh lima…” gumam Junmyeon membaca alamat rumah Yoonhee di carikan kertas itu.

Jalan kecil yang padat ia susuri sendirian. Ada banyak mobil terparkir di tepi kanan-kiri jalan yang cukup menanjak ini. Rumah-rumah yang berjejer selalu berpagar tembok yang lumayan tinggi. Kompleks yang padat ini terlalu sepi untuk saat ini bagi Junmyeon. Sedikit mengejutkan bagi Junmyeon ketika mengetahui Yoonhee tinggal di tempat seperti ini.

Sebuah rumah berpagar tembok cukup tinggi dengan pintu gerbang yang terbuat dari kayu mahoni berpelitur mengilap yang lebar menghentikan langkah Junmyeon. Ada nomor empat puluh lima yang tertempel di samping pintu gerbang itu. Junmyeon menghela nafasnya lega karena ia tidak perlu melangkah lebih jauh lagi untuk menemukan rumah Yoonhee.

Junmyeon-pun menekan bel rumah. Bunyinya nyaring sekali di tempat yang sepi seperti ini.

Nuguseyo?” tanya sebuah suara dari intercom.

Jeoneun Kim Junmyeon imnida, wali kelas Yoonhee yang baru, dan aku ingin melakukan kunjungan wali kelas,” kata Junmyeon lancar.

Tidak ada sahutan dari intercom, namun pintu gerbang yang kecil yang terletak tersembunyi di samping langsung terbuka. Junmyeon melangkah masuk, meniti tangga batu artistik sebagai pijakannya agar kakinya tidak merusak taman. Sebuah taman yang luas dan tertata apik menyambut Junmyeon.

Seorang wanita yang usianya berkisar di akhir empat puluhan namun masih terlihat menawan menyambut Junmyeon di kanopi rumah itu. Junmyeon pikir wanita itu akan memarahinya atau bahkan mengusirnya―wali Yoonhee pasti sudah lelah akan kunjungan semacam ini. Namun justru sebaliknya, wanita itu tersenyum ramah pada Junmyeon.

Sonsaengnim, apa anda ingin duduk di sini atau di dalam?” tawar wali Yoonhee.

“Ah, di sini saja,” jawab Junmyeon.

Wali Yoonhee itu mengangguk dan mempersilahkan Junmyeon untuk duduk. Begitu ia juga sudah duduk, ia memanggil seorang pelayan dan membisikkan sesuatu yang tidak begitu digubris oleh Junmyeon.

“Aku belum memperkenalkan diriku. Aku Song Mira, bibi Song Yoonhee sekaligus walinya. Senang bertemu dengan anda, sonsaengnim,” ujar wali Yoonhee kemudian.

Junmyeon menganggukkan kepalanya sekilas, “Senang bertemu dengan anda juga.”

“Jadi apa Yoonhee membuat masalah baru di sekolahnya?” tanya Mira to the point.

Pertanyaan dari bibi Yoonhee membuat Junmyeon terkejut. Jadi selama ini wali Yoonhee tahu mengenai semua perilaku Yoonhee di sekolah tapi membiarkannya? Wali macam apa itu? “Sebenarnya…tidak. Yoonhee masih terbilang patuh pada para guru meski kadang bersikap acuh tak acuh. Tapi terkadang ia masih suka membolos, meski sudah sedikit berkurang. Kurasa Yoonhee punya masalah dengan keadaan sosialnya di sekolah,” jelas Junmyeon.

Mira tersenyum tipis. Tapi, air mukanya langsung berubah sendu. “Yoonhee belum berubah juga, hm?” gumamnya.

Ne?” Junmyeon tertarik dengan gumaman barusan.

Mira tersenyum pada Junmyeon sejenak lalu beralih pada pelayan yang datang menyuguhkan dua cangkir teh di meja kayu bundar yang berdesain simple itu. Uap panas mengepul dari kedua cangkir itu. Hidung Junmyeon tergelitik oleh bau minuman yang baru disajikan itu, sedap. Ia makin terpana ketika menyadari jika di dalam cangkir tehnya terdapat bunga yang mengembang.

Melihat ekspresi terpana Junmyeon, Mira mengangkat cangkirnya dan melihat ke dalam cangkirnya. “Ini teh mawar hijau atau green mu dan. Aromanya sedap ketika diseduh dan lima puluh pucuk daun muda yang dijalin bersama pada teh mawar menggunakan tangan mengembang dalam bentuk utuh yang cantik. Kau tidak perlu meragukan rasanya.” Mira lalu mempersilahkan Junmyeon untuk minum.

Junmyeon mencicipi tehnya setelah dipersilahkan. Harus Junmyeon akui, ia jatuh cinta pada rasa teh ini yang begitu baru dan spesial di lidahnya.

“Jadi…Junmyeon sonsaengnim―aku benar, ‘kan?”

Ne,” jawab Junmyeon singkat.

“Kau adalah wali kelas Yoonhee yang baru? Dimana Gayoung sonsaengnim?”

“Ah. Gayoung sonsaengnim sedang mengambil cuti melahirkan jadi aku menggantikannya untuk sementara waktu,” jawab Junmyeon. “Anda sudah pernah bertemu dengan Gayoung sonsaengnim?”

Mira mengangguk, “Ne. Dia pernah berkunjung kemari beberapa kali. Membicarakan tentang Yoonhee juga mengobrol tentang hal-hal lain. Aku salut padanya yang mampu mencuri hati Yoonhee hingga Yoonhee mau mendengar perkataannya walau tidak sepenuhnya. Aku malu untuk mengakui ini…bahkan aku yang notabene adalah bibi dan walinya saja tidak pernah digubris oleh Yoonhee.” Mira tertawa kecil di akhir perkataannya.

“Bagaimana dengan orangtua Yoonhee?”

“Mereka sudah bercerai sejak lama.” Mira tersenyum kalem.

Ne?” Kali ini Junmyeon sangat terkejut mendengarnya. Satu hal yang tidak pernah ia dengar dari siapapun di sekolah. Informasi yang sangat tertutup rapat. Junmyeon yakin Gayoung sonsaengnim mengetahui hal ini. Tapi pasti ada sesuatu yang lebih krusial lagi hingga Gayoung sonsaengnim tidak memberitahunya hal ini.

“Rupanya kau baru mengetahuinya, ya? Ayah Yoonhee adalah adikku. Dia bercerai dengan istrinya ketika Yoonhee di kelas empat SD. Setelah itu Yoonhee berada dalam asuhan ibunya di Jepang sementara kakakku berpulang ke Korea,” Mira bercerita.

“Jepang?” Junmyeon terlalu banyak menerima informasi baru nan mengejutkan yang membuat dirinya nampak seperti orang tolol yang tidak tahu apa-apa.

Mira menyandarkan tubuhnya ke belakang. “Oh, aku lupa mengatakannya. Ibu Yoonhee adalah orang Jepang dan Yoonhee tinggal di Jepang sejak kecil.”

Junmyeon mengangguk mengerti. Jadi inilah kenapa aksen yang terdengar aneh itu selalu melekat tiap kali Yoonhee berbicara.

“Sejak perceraian orangtuanya Yoonhee berubah. Ia jadi lebih muram dan emosional terhadap sekitarnya. Ia membenci orangtuanya, menganggap kedua orangtuanya telah menghancurkan mimpi indahnya tentang keluarga. Juga, ia masih terlalu kecil saat itu untuk tahu apa yang sedang terjadi.

“Tiga tahun setelahnya, kakakku menikah lagi. Ia terbang ke Jepang untuk membawa Yoonhee kembali padanya. Tapi berita pernikahan itu justru membuat Yoonhee makin membenci ayahnya. Yoonhee memilih tetap bersama ibunya. Namun dua tahun kemudian ibunya menikah dengan seorang duda. Yoonhee kini giliran membenci ibunya. Saat lulus SMP, ia nekat terbang ke Korea seorang diri lalu menemuiku. Ia bilang ia ingin jauh-jauh dari ibu maupun ayahnya, ia bilang ia ingin lepas dari ibu dan ayahnya dan tidak ingin bergabung di keluarga baru manapun. Sejak saat itu aku bertindak sebagai walinya.” Cerita Mira panjang-lebar.

Junmyeon terpekur menatap bunga yang mengembang di dalam cangkirnya. Sekarang ia tahu penyebab kenapa Yoonhee begitu murung.

“Kedua orangtua Yoonhee juga tidak pernah membujuknya? Mereka menyerah begitu saja?” tanya Junmyeon beruntun.

“Mereka bukannya menyerah begitu saja. Mereka sudah mencoba tapi Yoonhee terlalu keras kepala untuk dilawan, jadi mereka membiarkan Yoonhee. Tidak membiarkan sepenuhnya, mereka masih mengawasi Yoonhee melalui aku tentunya. Kurasa mereka sadar kenapa Yoonhee bisa berlaku seperti itu pada mereka.”

“Yoonhee tahu soal itu? Soal kau yang mengawasinya, untuk kedua orangtuanya?”

Mira mengangguk. “Yoonhee tahu. Tapi selama ayah dan ibunya tidak menyentuhnya, ia tidak peduli.”

Junmyeon hanya menatap kosong cangkir di hadapannya. Bahkan uap panas yang masih mengepul naik tidak ia pedulikan.

 

***

 

Novel klasik sebagai tugas bahasa Korea di tangan Yoonhee hanya dipandanginya tanpa dibacanya. Semua deretan Hangeul itu terasa hampa dan menjemukan baginya. Juga masih terasa asing. Lahir dan besar di Jepang membuat Yoonhee lebih akrab dengan hiragana, katakana, juga kanji. Bukan berarti ia tidak pernah belajar bahasa Korea sama sekali. Sejak kecil Yoonhee sudah dibiasakan untuk juga berbicara dalam bahasa Korea oleh ayahnya. Ia tidak sebuta itu tentang bahasa Korea, tapi tetap saja ia lebih akrab dengan bahasa Jepang.

Ayahnya, ya? Memikirkan sosok itu membuat Yoonhee muak. Muak akan ayahnya juga dirinya. Ya, dirinya sendiri. Karena ia tidak yakin apa yang ia rasakan tentang ayahnya. Kelewat tidak peduli untuk disebut benci, dan kelewat benci untuk disebut tidak peduli. Pun dengan apa yang ia rasakan pada ibunya. Ia sendiri bingung.

“Keberatan jika aku duduk disini?”

Bisikan pelan itu membuat Yoonhee mengangkat wajahnya dari buku dan menatap seseorang di hadapannya.

Yoonhee terkesiap. Itu Kim jongin! “Ah, aniya. Kau bisa duduk disitu.” Dalam hati Yoonhee mengumpat pada dirinya sendiri. Perkataannya barusan terdengar sangat aneh karena kegugupannya membuat aksen Jepangnya yang kental mengalir dengan lancar.

Yoonhee kira Jongin akan menertawakan aksennya seperti yang dilakukan oleh mayoritas orang saat ia pertama kali tiba di Korea―di sekolah ini, tapi di luar perkiraan, Jongin malah tersenyum padanya.

“Apa yang kau baca?” tanya Jongin.

“Oh,” Yoonhee menunjukkan cover buku di tangannya pada Jongin, “Hanya sebuah novel klasik untuk tugas bahasa Korea. Membosankan.”

Jongin tertawa, nyaris tidak terdengar karena ia harus meredam suara dan tawanya di sini―perpustakaan sekolah. “Memang, pelajaran bahasa Korea terasa begitu membosankan. Tugasnya juga melelahkan―dan membosankan juga.”

“Kau benar,” kata Yoonhee membenarkan. “Lalu apa yang kau baca?”

“Naruto.” Jongin mengangkat komik Naruto Shinppuden di tangannya.

“Aku tidak pernah membaca komik Jepang dalam terjemahan,” celetuk Yoonhee dengan bangganya.

Jongin terkesiap, menunjukkan ketertarikannya. “Bagaimana bisa? Kau bisa bahasa Jepang?”

“Yahh…aksen aneh saat aku bicara ini―” Yoonhee menunjuk bibirnya, “―itu karena aku lahir dan besar di Jepang. Aku tidak perlu menunggu subtitle dari anime kesukaanku keluar. Hanya tinggal mendownload rawnya saja dan aku sudah mengerti ceritanya.”

“Woah, aku iri padamu!”

Yoonhee tersenyum sekilas. Hatinya terasa makin hangat.

 

***

 

‘Memangnya kenapa jika bicaraku aneh?’ Ingatan Yoonhee melayang saat ia pertama kali tiba di Korea. Saat dirinya pertama kali memperkenalkan diri di depan kelas. Semua mata tertuju padanya hanya karena ia bicara dalam bahasa Korea dengan aksen yang cukup berbeda. Jadi pusat perhatian seperti itu bukanlah hal yang disukai oleh Yoonhee. Ia bahkan ogah-ogahan untuk masuk sekolah jika saja bibinya tidak memaksanya untuk ikut ayah atau ibunya.

Ah, ayah dan ibu. Lagi-lagi Yoonhee teringat akan dua orang yang kini seperti orang asing baginya. ‘Kenapa mereka harus bercerai dan memiliki keluarga baru lagi? Aku dicampakkan, ya?’ Yoonhee benci mengingat saat-saat itu. Ia masih ingat bagaimana ia memohon pada ayahnya untuk tetap tinggal bersamanya dan ibunya tapi pada akhirnya ayahnya tetap pergi. Dari situ Yoonhee mulai membenci ayahnya.

Lalu saat ibunya mulai berkenalan dengan seorang pria―lebih tepatnya duda beranak satu, Yoonhee mulai memberontak. Tapi pada akhirnya ibunya juga menikahi pria itu, mengabaikan protesnya yang sangat keras. Setelahnya baik ayah maupun ibunya sibuk dengan dunia mereka masing-masing, dengan keluarga baru mereka. Tidak, tidak seperti itu. Ayah dan ibu Yoonhee masih tetap menghubungi Yoonhee, baik secara langsung, tidak langsung, atau bertemu langsung. Tapi Yoonheelah yang menghindari mereka. Hatinya cukup terluka setelah semua itu terjadi.

“Song Yoonhee!” teguran dari Junmyeon sonsaengnim menyadarkan Yoonhe dari lamunannya. Dan Yoonhee sangat membenci tatapan seisi kelas yang terfokus padanya. “Kau tidak bisa memperhatikan pelajaran?”

Yoonhee terdiam sejenak lalu menjawab, “Aniya.”

Wae?”

Tanpa langsung menjawab, Yoonhee sudah berdiri dari kursinya, “Aku ingin ke UKS. Badanku terasa tidak enak.” Tanpa menunggu ijin dari Junmyeon, Yoonhee sudah melangkah menuju pintu belakang kelas.

“Kau tidak sakit, kenapa kau harus kesana?” pertanyaan Junmyeon membuat Yoonhee berhenti.

“Aku sakit, kok. Maka dari itu aku harus ke UKS. Kalau sonsaengnim tidak tahu apa-apa, lebih baik sonsaengnim diam saja,” balas Yoonhee dengan tenang lalu berjalan keluar kelas.

Junmyeon menggigit bibir bawahnya. Song Yoonhee benar-benar mengujinya!

 

 

― To be continued ―

A/N : Ettooo, sebelumnya author mau minta maaf karena ada kesalahan dalam penulisan judul yang pake hangeul. Udah author koreksi tapi tulisan di cover cerita sudah jadi bubur T^T /Asri noona, why did you not tell me earlier?!/
Nah, gimana chapter keduanya? Maaa, author gak tau harus nulis apa di A/N ini. Well, author gak bakal maksa kalian buat ninggalin jejak di fanfic ini. Whether you want to give comment, feedback, or stay still as silent reader, it’s up to you /karena author sendiri juga lebih sering jadi silent reader -.-v/ digaplok/ But, it’d be glad to see your comment or feedback guys ^^ Alangkah senangnya hati author kalo liat komentar-komentar kalian semua, soalnya komentar dari para readers itu kayak dopping semangat buat (semua) author 🙂 Ja, fyi, fanfic ini rencananya bakal update seminggu sekali.  Inget, “rencananya”, jadi yaaa… paling cepet di-update ya seminggu, paling lama yaaaa gak tahu, hahahaha. Serame-ramenya komentar, tetep di-update paling cepet seminggu. Kalo sepi entahlah, I can delete this fanfic but… who knows? Soalnya fanfic ini masih in progress dan author terlalu sibuk buat namatin anime-anime sama film-film yang tersimpan di laptop, dan melakukan pekerjaan lain seperti yang manusia-manusia lain lakukan. But really, I’m so drawn into anime lately until I lazy to write! lol /dihajar readers/ Yosh, udah cukup authornya ngebacot, sekarang giliran readers yang bersuara. I’m sure there are lacks here and there in my fanfic.
P.S: Just call me Vhasta in short. Jangan dipanggil ‘thor’, ya? Author bukan Thor The Avengers, bukan juga abangnya Loki -.-v Mind to follow my twitter? @Nuevelavhasta ^_^

9 tanggapan untuk “손생님 때문에 ― Chapter 2”

  1. Sabar ya Len, no matter how often you have said or asked not to be called dg nm abang’ny loki, msh aja pd ga ngegubris. um.. trnyt anak korban broken home, apa yg dirasain yunhee, I’m so familiar with, pa lg di umur rmaja, msh blm dewasa, ignorance ke sktr, I did it too in d’past, dah jd karakter/mengakar smp skrg jg sih. klo dktr jaga/ptugas kshtn sklh’ny Xiumin, emang bikin betah bolos kls/mapel yg ga di sk, mendingan tdr di UKS dibikinin teh sm xiumin 🙂

    1. Ma, jangan panggil ‘thor’ ne? Takutnya nanti ada salah paham sama ‘Thor’ The Avengers xD Panggil aja Vhasta 🙂

  2. Chap 2 lebih keren dari chap 1
    Keren banget cielah
    Itu kasian banget ya Yoonhee ganyangka seriusan huhu;(
    Fanficnya jjang!!!

  3. baru baca chap 1,maaf ga komen di chap 1 nya/? Bagu banget thor, yoon hee suka sama jongin ya? Pinginnya sih, yoon hee udh ada lumayan perasaan buat suho/? wkwkwkkwk, fighting nulis nya ya thor! Kutunggu chapter ke 3 nya!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s