Just a Little Complicated [1/2]

Poster (Just a Little Complicated)

Oh Sehun / OC’s Runa / Kim Seokjin / slight Park Chanyeol

Twoshoot / Romance / Maybe Hurt / AU / PG15

 

I own the plot and OC

a present by l18hee

 -RnR Please-

Mereka bilang Runa membuat kesalahan besar dengan menyukai Kim Seokjin

Tapi Sehun meralatnya

Liburan musim panas hampir selesai. Masih tersisa beberapa hari lagi untuk bersenang-senang sebelum kembali disibukkan oleh berbagai tumpukan tugas sekolah –yang sungguh demi apa pun sangat menyiksa. Beberapa orang tentu saja tak akan menyia-nyiakan waktu berharga mereka. Ada yang memanfaatkannya untuk beristirahat setelah menjalani liburan, ada pula yang memilih kembali berlibur. Orang-orang disibukkan oleh kegiatan mereka masing-masing. Termasuk seorang lelaki yang sedang berdiri di depan sebuah bangku taman. Gadis yang duduk di bangku itu tengah memandangnya.

“Aku menyukaimu, Runa-ya,” sang lelaki masih pada tempatnya sembari memandang lurus ke dua iris coklat Runa. Terjadi keheningan selama beberapa detik, sampai akhirnya Runa beranjak dari duduknya, “Aku tahu,” ia meraih tasnya dan melangkah pelan.

“Ru,” sang lelaki tentu langsung memanggil gadis itu pelan. Berharap ada jawaban yang lebih pasti dari pernyataannya.

“Oh Sehun, ini sudah yang kesekian kalinya. Aku tak ingin menyakitimu lagi dengan jawabanku,” Runa hanya berhenti untuk beberapa detik sebelum ia kembali melangkahkan kaki menjauh. Dengan segera Sehun menghalangi jalan Runa, “Kau masih menyukai Kim Seokjin? Kau sadar perasaan itu salah?” mendengar ini Runa hanya mengangkat kepala untuk memandang Sehun, “Aku tahu. Tapi aku bisa apa jika hatiku tetap menyukainya?” ia kembali melangkahkan kaki meninggalkan Sehun yang masih termenung.

Runa masih saja diam dalam perjalanannya pulang ke rumah. Ia sudah begitu larut dalam pikirannya. Berbagai hal sudah berputar-putar di benaknya, terutama tentang lelaki yang dibicarakan Sehun. Lelaki yang ia sukai. Perasaan yang menurut Sehun salah, benarkah? Ia menyukai seseorang dan menurut Sehun itu salah? Bukan. Runa tahu persis apa yang dimaksud Sehun. Bukan perasaan sukanya yang salah. Hanya saja ia yang salah menaruh perasaannya. Ia salah memilih tempat hatinya. Ia salah menyukai seorang lelaki bernama Kim Seokjin.

“Oh, Na-ya. Kau sudah pulang? Tumben sekali kau baru pulang saat jam makan malam hampir tiba,” seorang lelaki dengan apron hijau langsung menyambut Runa begitu ia melangkah memasuki rumah. “Ah, kemari. Oppa akan memberimu pelukan,” sang lelaki merentangkan tangan membuat Runa memelukanya erat. “Kau lelah, adik kecil? Aku sudah membuat masakan untukmu,” lelaki itu masih memeluk Runa hingga sebuah suara dari arah dapur mengagetkannya, “Yaa! Kim Seokjin! Kau tidak melupakan masakanmu, bukan?” Dengan segera sang lelaki berlari ke arah dapur meninggalkan Runa yang menatap punggung itu menjauh.

Ini salah. Karena, yah, memang benar. Runa menyukai Kim Seokjin, kakak kandungnya.

Makan malam hari ini masih sama dengan makan malam hari sebelumnya. Masih penuh canda tawa yang berseling di antara bebrapa obrolan menarik.

“Oh Sehun mengatakannya lagi? Dan kau menolaknya lagi?” ujar Seokjin kemudian setelah mendengar penuturan Runa. Salah satu kebiasaan gadis ini adalah selalu menceritakan semua yang ia alami pada Seokjin –kecuali perasaannya. Setelah melihat Runa mengangguk, Seokjin segera kembali membuka suara sembari menunjuk adiknya menggunakan sumpit, “Dia sangat menyukaimu. Kenapa tidak kau terima saja?” belum sampai Runa menjawab, sebuah suara lebih dulu menyelanya, “Mungkin Runa menyukai orang lain. Kau tidak bisa memaksanya seperti itu, Tuan Kim,” seorag gadis mengambil tempat duduk di samping Runa. Seokjin menyunggingkan senyumnya, “Young Ra-ya, aku hanya ingin Runa bisa mesra seperti kita,”

“Yaa… Kau mulai lagi,” Young Ra memasang wajah kesalnya. Sikap sok manis Seokjin terkadang justru membuatnya kesal. Namun tiba-tiba saja Runa meletakkan sumpitnya dan beranjak, “Aku mau tidur. Jangan bangunkan aku besok pagi,” ia begitu saja melangkah menuju kamarnya di lantai dua.

“Sudah kubilang jangan seperti itu. Mungkin saja Runa menyukai orang lain,” Young Ra memukul pelan kepala Seokjin menggunakan sendok. “Maaf. Aku tidak akan melakukannya lagi,” Seokjin hanya meringis dan kembali menikmati makanannya. Meninggalkan sang kekasih dengan wajah di tekuk sedikit membuat ia terkekeh kecil. Ah, ini akan jauh lebih indah bagi Seokjin jika Runa merestui hubungannya dengan Young Ra. Bahkan setelah sekitar empat bulan mereka berpacaran, Runa sama sekali tak memberi sinyal restu pada keduanya.

Di sudut lain, di kamar Runa, gadis ini sedang duduk tersungkur di karpet bulu. Ia tidak suka jika Seokjin dekat dengan semua gadis. Sekalipun itu Song Young Ra. Dia sadar jika Young Ra adalah gadis yang benar-benar sempurna di mata Seokjin. Parasnya bisa dibilang cantik, kepribadiannya juga baik. Ditambah Young Ra sangat padai dalam hal memasak dan sangat menyukai berbagai masakan –tipe idaman Seokjin.

Hembusan nafas panjang terdengar. Runa beranjak menuju  jendela kamarnya. Saat pandangannya menelusuri jalanan yang terdapat di sekitar rumahnya, ia menemukan satu sosok lelaki yang ia kenal. Menatap tepat ke arahnya dengan ponsel menempel di telinga. Tepat disekon selanjutnya ponselnya berdering. Ia menggeser cepat layar ponsel sementara berbagai pikiran negatif berkecamuk dalam benaknya.

“Park Chanyeol, kenapa kau…”

 

“Aku ingin bicara denganmu,” Klik! Sambungan terputus seiring dengan Runa yang melihat sosok lelaki tadi berjalan cepat ke rumahnya.

“Sial! Apa yang ingin dia lakukan?” rutuk Runa kemudian. Dia tidak suka jika Chanyeol mulai berulah. Sejak beberapa hari yang lalu Chanyeol terus saja berusaha memberitahu Seokjin tentang perasaan Runa. Ini hal gawat. Segera saja Runa berlari saat bel rumah berbunyi. Baru saja Seokjin membuka pintu, Runa sudah lebih dulu keluar. Ia menarik Chanyeol menjauh dari rumah menyisakan tatapan bingung milik Seokjin.

“Hentikan semua ini!” Runa mengehentakkan kasar tangan Chanyeol. Mereka sudah berada di depan mobil Chanyeol yang lumayan jauh dari rumah Runa. Hanya lampu redup jalanan yang menerangi mereka. Begitu remang, namun masih bisa menampilkan garis amarah pada paras sang gadis.

“Kenapa harus? Bukankah jika Kim Seokjin tahu jika kau menyukainya itu akan lebih baik? Kau akan lebih mudah melupakannya,” ujar Chanyeol santai, ia memberi jeda dua sekon sebelum kembali bersua, “Aku mencintaimu, Na-ya,” lanjutnya membuat gadis itu memegang dahi. Runa selalu merasa pening jika harus menghadapi sifat keras kepala Chanyeol. Tidakkah Chanyeol mengerti jika Seokjin tahu semua ini, dia akan lebih sakit nantinya? Dia tak ingin melihat sikap Seokjin berubah. Dia takut Seokjin menjauhinya, meninggalkannya sendirian. Sudah cukup dengan kedua orangtuanya yang pergi ke luar negeri dengan alasan klise bernama pekerjaan. “Cukup, Park Chanyeol,” lirih Runa putus asa. Dia lelah menghadapi Chanyeol. “Aku mencintaimu,” Chanyeol mendekatkan wajah sembari menyentuh pipi gadis di depannya.

Plak!

Sayang, Runa sudah lebih dulu menamparnya.

“Jangan coba-coba menyentuhku,” gadis yang matanya mulai memerah itu begitu saja berlari meninggalkan Chanyeol.

***

Suasana kampus sangat heboh ketika Runa baru saja melangkah masuk ke gedung utama. Bukankah upacara penerimaan mahasiswa baru akan dilaksanakan dua jam lagi? Lalu apa yang membuat para mahasiswa heboh seperti ini?

Para mahasiswa yang melihat Runa datang langsung saja memandang aneh ke sosok itu. Membuat Runa begitu keras berpikir apa salahnya? Dia baik-baik saja sampai detik ini. Ia tidak salah kostum. Rambutnya rapi seperti biasa. Dan ia yakin tidak memakai make-up berlebihan. Sejauh ini tak ada hal menghebohkan yang ia alami selain menjadi seorang adik dari mahasiswa terkenal bernama Kim Seokjin. Sedikit menyiksa karena akan ada banyak gadis yang mencoba menjilatnya. Cih. Dasar. Jika mengingat gadis-gadis penjilat itu Runa semakin muak saja. Ia terus berjalan memasang tampang tak peduli seperti biasa. Saat wedges birunya menapak lantai aula utama, sontak saja hampir semua mata yang ada tertuju padanya.

“Ooo… Runa sudah datang rupanya,” suara berat terdengar membuat Runa mengedarkan pandangan. Untuk apa Chanyeol menyapanya dengan mikrofon? Ada apa sebenarnya ini?

“Yaa! Park Chanyeol! Apa-apaan dengan beritamu itu?” sebuah suara familiar membuat Runa menoleh. Seokjin dengan wajah memerah sudah ada di sudut lain dengan Young Ra di belakangnya. Sungguh, Runa sama sekali tak mengerti ada apa sebenarnya saat ini. Tapi sepertinya terlihat buruk.

“Kenapa? Sunbae ingin aku mengulanginya lagi? Baiklah,” dan didetik selanjutnya sebuah suara memenuhi aula.

 

Maafkan aku Chanyeol-a… Sudah kubilang aku tidak bisa bersamamu karena ada orang lain yang kusuka. Kau memang benar selama ini, aku memang menyukai Seokjin Oppa.

Seketika Runa membeku. Itu suaranya. Rekaman ini, bagaimana bisa ada? Apa Chanyeol merekam pembicaraan telpon mereka dulu? Masa bodoh rekaman itu dari mana, yang jelas kini Runa benar-benar kehabisan seluruh kata-katanya. Dia takut. Seokjin ada di sana, dan lelaki itu mendengar semuanya.

“Bagaimana? Apa itu kurang jelas untukmu, sunbaenim? Apa kau tidak hafal sura adikmu sendiri?” Chanyeol menyeringai. Dia sudah gila. Sungguh.

“Na-ya…” Seokjin memandang Runa meminta penjelasan. Sedangkan Runa hanya bisa diam menahan kakinya yang gemetar. Bagaimanapun ia, sekacau apa pun hatinya, setidaknya ia harus tetap kuat untuk berdiri dan tidak menangis. Itu hanya akan memperparah keadaan saja. Melihat Runa hanya terdiam sembari memandang Seokjin, berbagai komentar mulai muncul menusuknya.

“Tidak tahu malu!”

“Tidak tahu diri!”

“Kau sudah gila?!”

“Dasar jalang!”

Mata Runa yang sudah memanas mulai terpejam. Seokjin hanya bisa memandangnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sekarang yang Runa takutkan terjadi. Semua orang mencercanya. Dan Seokjin akan bersikap aneh padanya. Dia akan sendirian.

“Berita bodoh macam apa ini?” sebuah seruan lantang terdengar membuat satu persatu mulut kembali bungkam. Sehun dengan wajah tak peduli berjalan pelan menuju tempat Runa yang masih memejamkan mata. “Berhentilah bertingkah seperti anak kecil! Jangan cerca seseorang jika kalian tak tahu kebenarannya!” Sehun masih saja melangkah pelan, matanya memandang tajam ke arah Chanyeol beberapa saat. Yang mendapat tatapan hanya memasang wajah remeh.

“Hanya orang rendahan yang percaya semua ini,” Sehun tepat berada di depan Runa dan kembali berseru lantang, “Jangan pernah sekali-kali kalian menyakiti kekasihku!” ia kembali menatap Chanyeol tajam, “Karena dia milikku!” Itu seperti sebuah garis besar yang coba ditunjukkan Sehun.

Didetik selanjutnya hanya terdengar seruan tertahan dari beberapa mahasiswa. Alasannya hanya satu.

TBC

Alasannya hanya satu, yaitu bersambung :3

Sampai jumpa di part 2 😀

28 tanggapan untuk “Just a Little Complicated [1/2]”

  1. Didetik selanjutnya hanya terdengar seruan tertahan dari beberapa mahasiswa. Alasannya hanya satu.
    TBC
    Alasannya hanya satu, yaitu bersambung :3
    hahahha…..tbc nya ngena bgt….

    1. iyaa terkadang (sering malah) tbc emang nggak tau sopan santun… tunggu chap dua yaa sebentar lagi post kok 🙂 makasih udah baca fic gaje sayaa

    1. haha iyakah? makasih yaaa… iya emang ini sedikit kecepetan (dan gaje) tapi makasih yaa udah mau baca… chap 2 sebentar lagi aku post kok 🙂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s