Candy Jelly Love (Shoot 2)

Candy Jelly Love[18-44-20]

Jstnkrbll’s Storyline

 

Genre :

Family, Life, lil’ bit Brother-Sister complex

Cast :

Oh Sehwi

Oh Sehun

Other find by yourself

Length :

Short Chaptered

(it means; will end in 5 or 6 ch I guess, not a very long ch)

Ratting :

G

Standard disclaimer applied. Non profits taken. It’s mine and absolutely mine! ‘3’

Author’s note :

Makasih banyak buat yang udah baca shoot 1 nya! *bungkuk 90 derajat* Ini lanjutannya. Maaf nunggu lama L maklum pejuang UN. Sibuk tambahan sana-sini 😂 ✌ Garing kriukk gurih nyess cem jeskul dicemplungin ke air es tq.

Preview Shoot 1 :

 

‘ “Apapun yang terjadi, aku tetap akan menjadi kakaknya. Menjadi pelindungnya. Menjadi tumpuannya. Menjadi teman hidupnya. Bahkan jika dunia tak mengizinkanku, aku akan tetap melindunginya. Aku berjanji, bila jantungku belum berhenti, aku akan terus melindunginya. Terus berada di sampingnya. Selamanya.”

Dan diantara hingar bingar supermarket itu, Sehun membuat sebuah janji tak tertulis di hatinya.

Dia tidak akan pernah meninggalkan Sehwi.’

 

Italic means flashback

 

Happy Reading, ppyeong!

 

“Oppa, benal aku boleh membeli pelmen jeli?”

“Kau sudah bertanya 5 kali, Sehwi-ya. Makan saja. Kau juga tahu ‘kan Oppa juga suka permen jeli. Jadi untuk Oppa aku melarang?”

“Uhm. Tapi kenapa dulu Oppa selalu membuang pelmen jeli yang aku beli?”

“Oppa tidak membuangnya. Oppa menyimpannya di suatu tempat. Agar Eomma tidak menemukannya.”

“Jeongmallyo??! Huwaaaa Oppa baik sekali!!!” Sehwi refleks memeluk Sehun yang sedang membawa kantung plastik belanjaan. Hampir saja Sehun terjungkal ke belakang. Sehwi yang menyadari perbuatannya langsung melepas pelukannya. Mukanya langsung merah padam. Sehun hanya tersenyum.

“Kau lapar tidak? Ini sudah jam 6.” Tanya Sehun sambil memasukkan belanjaannya ke bagasi di bagian belakang motornya. Sehwi yang mendengar kata ‘lapar’ langsung mengangguk semangat.

“Aku belum makan siang. Hehehe,” jawab Sehwi dengan kekehannya. Sehun hanya tersenyum. Kali ini, ia tidak bisa lagi menutupi rasa sayangnya pada Sehwi. Terserah ibunya mau berkata apa, yang penting Sehun akan tetap bersama Sehwi.

“Kau mau makan apa? Dimsum? Seafood?” tanya Sehun lagi. Sehwi berpikir sebentar.

“Aku sedang ingin makan makanan yang pedas manis, Oppa. Bisa kita beli tteokbokki di Kedai Bibi Ahn? Aku sudah lama tidak pergi ke sana.” Jawab Sehwi sambil memakai helm dari Sehun. Sehun terkekeh geli.

“Kau ini. Jangan terlalu banyak makan yang manis-manis.” Ucap Sehun sambil mulai menstarter motornya. Lagipula, kau sudah manis.” Lanjutnya.

Wajah Sehwi makin memerah. Ia memegangi kedua pipinya yang sudah semerah tomat. Oh, ia bukan merona. Tapi malu. Sehwi tak ingat kapan terakhir kali Sehun memujinya. Yang jelas, pujian Sehun selalu berhasil membuat Sehwi memerah.

“Kau mau naik atau tidak?”

“E-eh, iya! Tentu saja!” Sehwi langsung naik ke atas motor Sehun. Sehwi hendak mengulurkan tangannya untuk memeluk Sehun, namun ia ragu. Sesaat sebelum Sehun menarik tangannya untuk melingkar di pinggangnya.

“Pegangan. Oppa takut kau jatuh,” ucapnya pelan. Sehwi hanya menurut. Ia lalu menyembunyikan wajah merahnya di punggung Sehun. Sehun tersenyum. Dan ia pun mulai menjalankan motornya. Dengan hati dinginnya yang mulai mencair.

“Thehwi-ya! Kau dimana?”

“Oppa!!!!”

“Kau darimana thaja Thehwi-ya?”

“Oppa, Cehwi takut…”

“Gwenchana, ada Oppa dithini. Thehwi jangan takut lagi, ya.”

“Uhm, tapi Oppa jangan pelgi…”

“Tidak kok! Oppa ada dithini, di pelukan Thehwi,”

Sehun berharap ia bisa merasakan pelukan Sehwi setiap hari.

Setelah memarkirkan motornya, Sehun dan Sehwi lalu berjalan menuju kedai yang mereka maksud. Kedainya cukup ramai, mengingat ini malam Minggu. Sehwi yang tidak sabar sedikit berlari. Sehun berjalan di belakangnya sambil tertawa kecil melihat kelakuan Sehwi.

BRUG

“Aww,” rintih Sehwi pelan saat ia tak sengaja menabrak seseorang yang baru keluar dari kedai. Ia segera membungkuk meminta maaf.

“Joesonghamn-“

“Seoya?”

Sehun yang melihat Sehwi menabrak sesorang segera berlari kecil menghampiri Sehwi. Namun ia terhenti ketika ia melihat kembali Sehwi yang tengah menunduk sambil mengepalkan kedua tangannya.

Mata Sehun terbelalak ketika melihat pria yang ditabrak Sehwi kini memeluk Sehwi. Ia segera berlari menghampiri mereka dan memisahkan mereka berdua.

BUGH

Sebuah pukulan Sehun daratkan di pipi pria itu. Sehun menatap pria itu marah sambil mengatur nafasnya. Sehwi masih terdiam di sampingnya.

“Jangan. Sentuh. Adikku.” Ucap Sehun penuh penekanan. Pria itu masih mengelus-elus pipinya.

“Oh, joesonghamnida. Aku tidak tahu kalau kau kakaknya.” Tukas pria itu. Sehun merangkul Sehwi yang sepertinya masih shock.

“Kalau kau tidak punya kepentingan lagi silahkan pergi.” Ucap Sehun lagi.

“Ah iya, baiklah. Maaf. Seoya, maafkan Appa…” ucap pria itu lirih. Ia membungkuk kecil, lalu segera pergi dari tempat itu.

Apa katanya tadi?

Appa?

Dan lagipula, siapa Seoya?

Sehun memandangi Sehwi yang masih terdiam.

“Sehwi-ya, gwenchana?” tanyanya pelan.

“APPA!!!! CEHUN OPPA MENGAMBIL PELMEN CEHWI!!!”

“Ani! Ini milikku Appa!”

“Sehun-ah, kau harus berbagi dengan Sehwi…”

“Huweeeeeee, Cehun Oppa jahat, huweeeeee,”

“Tuh, kau lihat sendiri kan? Sehwi jadi menangis,”

“Aiththh, ne arratheo, Thehwi-ya, maafkan Oppa, ne? Ini permen jelinya Oppa bagi untukmu, jangan menangith lagi, ne?”

“Huuu, Cehun Oppa jahat, huweeeee,”

Karena Sehun takut sudah merusak sesuatu milik Sehwi yang ia tidak ketahui sebelumnya.

BRUG

“Aww,” rintih Sehwi pelan saat ia tak sengaja menabrak seseorang yang baru keluar dari kedai. Ia segera membungkuk meminta maaf.

“Joesonghamn-“

“Seoya?”

Sehwi mendongak. Ternyata ia menabrak Minhyuk, ayah kandungnya. Sehwi mendadak beku.

“Kau benar Seoya ‘kan? Yang ku temui tadi siang?” pertanyaan Minhyuk membuat Sehwi menunduk dalam. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. Berusaha menahan dirinya untuk tidak memeluk Minhyuk saat itu juga.

“Seoya, Appa merindukanmu,” ujar Minhyuk lalu memeluk Sehwi. Sehwi tidak menolak, tidak juga balas memeluk. Ia masih terdiam.

“Maafkan Appa…” lirih Minhyuk. Sehwi masih terdiam sampai Sehun datang dan memisahkan mereka.

Semuanya terjadi begitu cepat. Sehun memukul Minhyuk dan segera melindungi Sehwi di rangkulannya. Dan Minhyuk pun segera pergi. Sehwi masih terdiam. Sehun menatapnya khawatir.

“Sehwi-ya, gwenchana?” tanya Sehun pelan. Sehwi terdiam. Buku-buku tangannya mulai memutih.

“Oppa,” ucapnya pelan. “Yang tadi itu… siapa?”

Karena kini hanya ada Oh Sehwi. Kang Seoya, hanyalah sebagian dari masa lalu Sehwi yang sudah ia buang dan kubur dalam-dalam.

Sehun yang menyadari rapuhnya Sehwi saat ini segera memeluk Sehwi erat. Sehwi meneteskan air matanya dalam diam.

“Gwenchana,” hibur Sehun. “Ada Oppa disini. Gwenchana.” Sehun mengusap-usap punggung Sehwi, berusaha menenangkannya.

Sehun melepaskan pelukannya, lalu menghapus air mata di pipi Sehwi. “Uljima,” ucapnya. Sehwi malah memajukan bibirnya.

“Oppa, kalau ahjussi tadi datang lagi, Oppa halus ada belsamaku, ya. Aku takut dia akan belbuat jahat padaku.” Ucap Sehwi setengah merajuk. Sehun tersenyum. Ia mengusap rambut Sehwi sayang.

“Ne, Oppa janji. Nah, ayo kita makan. Bukannya kau bilang kau lapar? Akan Oppa pesankan tteokbokki spesial buatan Bibi Ahn untukmu.” Hibur Sehun sambil setengah menyeret Sehwi ke dalam kedai. “Annyeonghaseyo, Ahn Eommonim!”

Seorang ahjumma yang nampaknya sudah kepala 4 menyambut Sehun dan Sehwi. “Ah, uri Sehunnie! Oraenmanieyo! Whoa, kau sudah besar sekarang,” Ia melirik Sehwi yang masih ada di rangkulan Sehun. Sehwi yang merasa di perhatikan membungkuk hormat.

“Ah, uri Sehwi~ sudah lama kau tidak datang kemari. Eommonim sangat rindu celotehanmu!” ucap Bibi Ahn lagi sambil merentangkan tangannya. Sehwi pun memeluk Bibi Ahn yang sudah ia anggap sebagai ibu ketiganya – pertama ibunya sendiri, kedua Seyoung.

“Eommonim, uri Sehwi sedang bersedih. Bisakah Eommonim membuatkannya tteokbokki paling spesial disini?” pinta Sehun pada Bibi Ahn. Bibi Ahn melepaskan pelukannya pada Sehwi lalu menatapnya lekat-lekat.

“Hmm? Mengapa kau bersedih? Ah, kajja, kita buat tteokbokki ter spesial yang pernah ada untukmu dan kakakmu. Ayo ikut Bibi ke dapur!” Bibi Ahn menarik Sehwi ke dapur. Sehun hanya tersenyum di belakang. Setidaknya, ia merasa Sehwi tidak akan bersedih untuk sementara.

Setidaknya, ia bisa merasa tenang.

Esoknya hari Minggu. Sehwi dan Sehun sama-sama tidak punya jadwal. Karena hubungannya dengan sang adik sudah membaik, Sehun berniat mengajak Sehwi lari pagi.

TOK TOK TOK

Sehun mengetuk pintu kamar Sehwi. Ia sudah memakai setelan olahraga. Jaket biru toska dengan celana training pendek dan juga sepatu running membalut tubuhnya dengan sempurna.

“Ne, 5 menit lagi…” terdengar seruan dari dalam. Sehun terkikik. Sehwi memang susah sekali bangun jika hari ibur.

“Sehwi-ya, oppa mau lari pagi. Kau mau ikut atau tidak?” tanya Sehun. Di dalam kamar, Sehwi menggeliat pelan. Kalau saja itu bukan Sehun, ia tidak mau bangun pagi. Lagi pula, sekarang baru pukul 8. Jadwal bangunnya di hari Minggu baru mulai 1 jam lagi.

“Aku mau tidul saja, Oppa…” jawab Sehwi setengah mengantuk. Ia baru saja berguling ke sisi kasurnya yang lain ketika mendengar seruan Sehun.

“Hah, baiklah. Tadinya Oppa mau membeli macaroon dan kue beras madu untuk persediaan kita-“

“Alla alla (arra, red)! Tunggu 10 menit lagi Oppa!”

Sehun tersenyum lebar di balik pintu. Sehwi memang sangat menyukai makanan manis. Jadi tak usah pusing-pusing untuk membujuknya. Lagipula, Sehun memang berniat membeli macaroon dan kue beras madu. Sudah lama ia tidak makan makanan manis.

“Oppa, tunggu di bawah saja! Aku akan siap sebental lagi!”

Sehun terikikik geli, lalu memutuskan untuk turun ke bawah.

Akhirnya mereka jadi pergi lari pagi. Sehun mengajak Sehwi untuk berlari di taman kota. Kebetulan tidak terlalu jauh dari rumah mereka. Disana juga banyak penjual makanan ringan setiap hari Minggu. Semoga saja ada penjual kue beras madu yang masih hangat, batin Sehun.

Setelah mereka sampai di taman kota, mereka segera melakukan pemanasan dan mulai berlari kecil mengelilingi jogging track yang memang sudah disediakan di sana. Mereka berlari seperti biasa. Tak ada percakapan. Sampai Sehun memulai pembicaraan.

“Sehwi-ya,” panggil Sehun.

“Hmm?” yang dipanggil hanya bergumam.

“Apa kau merasa aneh dengan perubahan sifat Oppa?” tanya Sehun. Sehwi terdiam sebentar.

“Hmmm, aneh sih. Tapi, aku tak peduli. Yang penting Sehun Oppa-ku sudah kembali. Hehehe,” jawab Sehwi sambil terkekeh geli. Sehun hanya tersenyum kaku.

“Mianhae, Oppa tahu kau sangat merindukan Oppa yang dulu.” Ucap Sehun menyesal. Kenapa bukan dari dulu ia menaruh perhatiannya pada Sehwi? Untung saja Sehwi masih berbaik hati untuk menerima kembalinya. Sehwi hanya terkekeh geli.

“Gwenchana. Aku tahu Oppa mungkin masih belum bisa menelima kematian Appa.” Tukas Sehwi. Sehun agak meringis mendengarnya. Ternyata memang benar, Sehwi belum tahu alasan mengapa Sehun harus menjauhinya.

“Ah, baiklah. Lupakan saja. Bagaimana kalau kita membicarakan hal lain?”

“Hmm, boleh saja. Sepelti apa?”

“Seperti, keadaanmu di sekolah sekarang? Karena Oppa sudah lama tidak memperhatikanmu, Oppa jadi tidak tahu apa saja yang kau lakukan di sekolah.”

“Ah, tidak ada yang spesial. Aku punya seolang sahabat, namanya Seulgi. Dia baikk sekali. Dia mengelti kekulanganku. Dan juga ada teman dali klub lukis. Namanya Yelim (Yerim, red). Ugh, kalau Oppa tahu, lukisannya sangaaaatttt indah. Aku sepelti sedang melihat gambal aslinya. Dia memang sudah jago melukis. Bebelapa kali pembimbing kami, Jung Saem, menyuluhnya untuk mengikuti pellombaan melukis se-distrik Nohwon. Ia pelnah menang bebelapa kali-“

“Oppa bilang, ceritakan tentang dirimu.” Ucap Sehun memotong cerita Sehwi. Sehwi terkekeh. “Lagi pula, siapa itu Yelim?”

“Yelim, Oppa. Bukan Yelim.” Sanggah Sehwi.

“Apanya yang berbeda dari Yelim dengan Yelim?” Sehun sedikit menggoda Sehwi. Sehun tahu yang dimaksud Sehwi adalah ‘Yerim’.

“Yelim. Kim Yelim. Ah, Oppa pasti mau mengejekku,” ucap Sehwi sambil memicingkan matanya curiga. Sehun tertawa.

“Hahaha, geurae, geurae. Mianhae, eum? Kalau kau tidak memaafkan Oppa, Oppa tidak akan memberikanmu macaroon dan kue beras madunya.”

“Nde? Kenapa malah Oppa yang mengancam? Itu tidak adil!!” seru Sehwi sambil memukuli bahu Sehun yang lebih tinggi daripada dirinya. Sehun hanya tertawa lalu berusaha berlari lebih dulu dari Sehwi.

“Ya Oppa jangan kabul!!” seru Sehwi sambil mengejar Sehun.

“Kejar Oppa kalau bisa! Kau kan lamban!” ejek Sehun.

“Ya Opp-“

BRUG

GABRUSH

Sehun menoleh ke belakang. Terlihat Sehwi sudah jatuh dengan posisi wajah mencium tanah. Orang di belakangnya nampak terkejut. Sehun buru-buru menghampiri dan membantu Sehwi berdiri.

“Gwenchana?” tanya Sehun khawatir. Sehwi mengerjap-ngerjapkan matanya. Jogging track yang berpasir itu membuat matanya kemasukkan pasir.

“Joesonghamnida, aku tidak sengaja.” Ujar orang yang menabrak Sehwi. Sehun menatapnya sinis.

“Jika berlari gunakan juga matamu! Jangan hanya kakimu!” maki Sehun pada orang itu. Orang itu membungkuk beberapa kali, setelah itu berlari pergi. Sehwi masih mengucek-ngucek matanya.

“Kajja, kita basuh wajahmu.” Sehun lalu menarik Sehwi ke arah wastafel di taman itu. Sehwi menurut saja dan mulai membasuh wajahnya sampai semua pasir di wajahnya hilang.

“Oppa, bawa tissue tidak?” tanya Sehwi sambil memegangi hidungnya yang terasa perih.

“Ah, tidak. Oppa hanya bawa handuk kecil.” Jawab Sehun sambil mengeluarkan handuk kecil dari saku jaketnya. “Igeo, keringkan.”

Sehwi mengeringkan wajahnya menggunakan handuk yang diberi Sehun. Lalu memberikannya kembali pada Sehun setelah dirasa wajahnya kering. Ia terus-terusan mengusap hidungnya.

“Oppa, ada apa di hidungku? Kok lasanya pelih?” tanya Sehwi. Sehun mengangkat tangan Sehwi dari hidungnya. Dilihatnya sedikit lecet di hidung Sehwi.

“Ya ya ya, hidungmu lecet! Apa saat jatuh tadi hidungmu bergesekkan dengan tanah?” ucap Sehun khawatir. Sehwi menggelengkan kepala tidak tahu.

“Mungkin gesekannya tellalu kelas, Oppa.” Ujar Sehwi.

“Pulang nanti, jangan lupa pakai plester. Dan jangan lupa beri obat merah sebelumnya.” Sehun memulai nasihatnya. Sehwi mengangguk.

“Dan jangan menyenggol apapun lagi.” Lanjut Sehun. Sehwi menunduk malu. Sehun memperhatikan langit yang mulai terang dan cuaca di sekitar mulai menghangat.

“Sepertinya sudah mau siang.” Ucap Sehun. “Kita sarapan dulu, baru kita pulang. Setuju?” tawar Sehun. Sehwi mengangguk semangat. Perutnya memang sudah mulai keroncongan dari tadi. Mereka lalu membeli nasi gulung hangat di salah satu kedai.

“Uhm, Sehwi-ya, kita lanjutkan pembicaraan kita yang tadi.” Ujar Sehun. Sehwi yang sedang mengunyah memandangnya heran.

“Yang mana?”

“Tentang keadaanmu di sekolah sekarang.”

“Oh yang itu. Sudah ku bilang tidak ada yang spesial. Waktu itu aku ingin sekali masuk klub dance. Tapi saat melihat pendaftalannya dengan audisi, aku jadi tidak mau. Aku malu. Belum apa-apa sudah disuluh menali. Lalu waktu itu ada tes stoly telling (story telling, red) bahasa Ingglis. Oppa tahu? Aku disuluh tampil di kelas lain kalena menulut Yoon Saem stoly telling ku sangat bagus!” cerita Sehwi bersemangat. Sehun hanya tersenyum.

“Hmm, apa ada seseorang yang kau sukai di sekolah?”

Sehwi menghentikan kunyahannya. Pipinya memerah. Sehun menahan kikikkannya.

“Ada sih. Tapi aku bahkan tidak tahu dia menganggapku ada atau tidak. Dia bintang sekolah. Jadi, wajal saja kalau banyak olang menyukainya.” Jelas Sehwi agak sendu.

“Lalu, kenapa kau tidak mendekatinya?”

“Untuk apa? Aku tidak belhalap banyak, kok. Dan lagi pula aku halus fokus pada ujian akhil. Jangan dulu belpikilan hal lain.” Jawab Sehwi polos. Sehun mengelus rambut Sehwi pelan.

“Nah, begini kan lebih baik. Kalau kau punya masalah, ceritakan saja pada Oppa. Tak usah sungkan. Oppa akan membantu sebisa Oppa. Arrasseo?” Sehwi mengangguk, membuat poninya memantul lucu.

“Oppa, kapan kita membeli macaloon nya?” tanya Sehwi sambil tersenyum lebar. Sehun tertawa.

“Hahahahaha, kau ini. Baiklah, kita pergi ke toko kue sebelah sana. Oppa dengar disana ada macaroon yang enak.” Ajak Sehun sambil bangkit dari kedai itu. Sehwi mengikutinya dengan bersemangat.

“Kau ini. Giliran tentang makanan manis saja, kau pasti semangat.” Cibir Sehun. Sehwi terkekeh.

“Hehehe, mian? Lagipula, aku kan memang sudah manis. Hehehe,”

Keesokkan harinya, Sehwi berangkat ke sekolah dengan riang. Hubungannya dengan Sehun yang membaik membuatnya semangat menjalani hari. Baru kali ini, Sehwi merasakan hidupnya berarti. Karena ada seseorang di luar sana yang menyayanginya. Siapa lagi kalau bukan Sehun.

Langkah ringannya ke kelas terhenti ketika seorang pemuda menghalangi pintu masuk ke kelasnya. Sehwi menarik kuat tasnya, merapikan poninya, lalu melangkah ke arah pemuda itu. Sehwi memang pemalu. Makanya ia butuh persiapan dan keberanian tinggi untuk berbicara dengan seseorang.

“Permisi, aku mau masuk…” ucap Sehwi meminta izin. Pemuda itu berbalik. Sehwi agak terkejut. Ia hendak masuk ketika pemuda itu memberikan sedikit celah untuknya, ketika pemuda itu mengulurkan sesuatu.

“Kau Oh Sehwi, kan?” tanya pemuda itu. Sehwi terbelalak melihat bungkusan di depannya. Ia lalu mendongak, melihat wajah pemuda itu. Pemuda itu tersenyum padanya. Rasanya suara ini familiar…

“Namaku Kim Jeno. Maaf, kemarin aku sudah menabrakmu. Kau tidak apa-apa, kan?” tanyanya. Sehwi tersenyum gugup dan membungkukkan badannya sedikit.

“Ah ne, gwenchana. Hanya luka kecil,” Ucap Sehwi sambil meraba hidungnya yang diberi hansaplast. ”Apa kau mencaliku?” tanya Sehwi. Pemuda itu, Jeno, tersenyum mendengar ucapan Sehwi yang khas.

“Ne. Aku ingin memberikan ini untukmu,” Jeno mengulurkan kembali bungkusan yang di pegangnya. Sehwi menunjuk dirinya sendiri.

“Untukku?”

“Tentu, ambillah. Sebagai tanda permohonan maafku.” Dengan ragu, Sehwi mengambil bungkusan itu dari Jeno.

“Gamsahamnida, Jeno-ssi,” ucap Sehwi sambil membungkuk. “Boleh aku makan sekalang?” tanyanya lagi. Jeno terkekeh geli.

“Tentu, itu ‘kan milikmu sekarang.” Dan dengan senang hati Sehwi membuka bungkusan itu. Bungkusan itu adalah permen jeli big edition yang terkenal. Sehwi tidak pernah bisa membelinya selain karenanya ukuran terlalu besar untuk di sembunyikan, harganya juga mahal. Tapi sekarang, seseorang memberinya secara cuma-cuma?

Nampaknya dewi fortuna berpihak pada Sehwi hari ini.

Sehwi mulai mengambil salah satu permen jeli dan memakannya. Begitu permen jeli itu menyentuh lidahnya, Sehwi tidak bisa untuk menahan senyumannya. Senyuman bahagianya. Sampai-sampai kedua matanya menyipit saking senangnya.

“Jinjja neomu massiseoyo,” ucapnya dengan mulut penuh. Jeno tersenyum. Sehwi mengambil lagi permen dan memakannya kembali. “Jeongmal gamsahamnida, Jeno-ssi.” Ucap Sehwi sambil membungkuk lagi.

“Ah, tidak perlu terlalu formal. Lagipula kita seumuran,” tukas Jeno. “Kelasku 3-4, disana,” Jeno menunjuk satu kelas. Sehwi melihat ke arah yang ditunjuk Jeno lalu mengangguk.

“Oh, geulae. Tapi, dali mana Jeno tahu, kalau aku suka pelmen jeli?” tanya Sehwi. Jeno menggaruk tengkuknya.

“Eumh- itu mudah. Kemarin aku sedikit mendengar kau dan orang yang berlari bersamamu membicarakan tentang permen jeli.” Ujarnya agak gugup. Sehwi mengangguk-angguk. Ia lupa kalau kemarin Sehun dan dirinya hanya membahas macaroon dan kue beras madu.

“Hehehe, telnyata ada yang tahu ya,” ujar Sehwi sambil terkekeh. Jeno hanya tersenyum.

“Uh, tapi, maaf sebelumnya, Jeno, aku mau masuk kelas…” ucap Sehwi pada Jeno sambil menunjuk jalan yang Jeno halangi. Jeno yang segera sadar lalu memberi Sehwi jalan.

“Oh, mianhae, aku lupa,” Jeno tersenyum lebar. Sehwi juga tersenyum.

“Gomawo, Jeno-ya. Senang belkenalan denganmu.” Ucap Sehwi saat ia sudah masuk ke kelasnya. Jeno lagi-lagi tersenyum.

“Tak masalah,” balasnya. Lalu ia pergi kembali ke kelasnya, sambil terus bersenandung kecil.

Hatinya jadi seringan kapas pagi itu.

Setelah semua pelajaran berakhir, Sehwi berniat untuk langsung pulang. Hari ini Seyoung akan pulang, jadi ia harus pulang cepat.

“Annyeong, Sehwi-ya!” tiba-tiba saja Jeno ada di hadapannya. Sehwi sampai mengelus-elus dadanya karena kaget.

“Astaga. Kau membuatku telkejut, Jeno-ya.” Ucap Sehwi. Ia selesai membereskan perlengkapan sekolahnya dan sudah menyampirkan tasnya di bahu. “Ada apa?”

“Itu.. aku ingin mengajakmu suatu tempat. Sebagai permohonan maafku.” Ucap Jeno. Sehwi memiringkan kepalanya. Dan Jeno berusaha keras untuk tidak mencubit pipi Sehwi saat itu.

“Bukannya tadi Jeno sudah membeliku pelmen jeli?” tanya Sehwi. Jeno menggaruk tengkuknya lagi.

“Aku.. yah… aku hanya ingin lebih dekat denganmu. Bolehkah?” tanya Jeno meminta izin. Sehwi berpikir sebentar. Ia betul-betul harus pulang, atau ibu nya akan marah besar. Tapi, tak enak juga untuk menolak ajakan Jeno.

“Kalau kau tak mau tak apa-“

“Eh baiklah aku mau. Tapi hanya sampai jam 3, ya? Aku halus segela pulang.” Ucap Sehwi pada akhirnya. Jeno tersenyum.

“Baiklah, aku janji kau akan pulang tepat waktu.”

“Whoaa, ini sangat indah!” pekik Sehwi.

Mereka kini tiba di sebuah sungai yang airnya sangat jernih dan juga banyak tumbuhan baru mekar rimbun di sekelilingnya. Musim semi seperti ini memang cocok untuk melihat pemandangan di tepi sungai.

“Kau suka, kan?” tanya Jeno. Sehwi mengangguk bersemangat.

“Biasanya ada pertunjukkan musisi jalanan di sekitar sini. Kau mau melihatnya?” tawar Jeno. Sehwi mengangguk lagi.

“Ayo ikut aku,” Jeno menarik tangan Sehwi. Sehwi hanya mengikutinya. Dan setelah mereka melalui jalan setapak kecil, mereka bisa mendengar suara alunan gitar dari jauh. Benar saja, di balik ilalang tinggi, ada sebuah pertunjukkan musisi jalanan. Banyak orang yang menontonnya. Sehwi dan Jeno segera mendekat. Lantunan lagu Love Song memenuhi pendengaran mereka. Sehwi dan Jeno sama-sama menikmatinya. Tak menyadari kalau tautan tangan mereka belum terlepas sejak tadi.

I don’t wanna lose you, lose you, lose you

Cause I need you, I need you, I need you

So I want you to be my lady, you’ve got to understand

My Love~

Suara sang penyanyi membuat Sehwi merinding – saking bagusnya. Jeno hanya tersenyum-senyum mendengarnya.

You are beautiful beautiful beautiful

Beautiful beautiful beautiful girl~

Dan setelah outro dimainkan, semua orang yang menonton langsung bertepuk tangan. Dan saat itu pula Sehwi menyadari tangannya belum di lepas Jeno.

“Ehm, Jeno, maaf, tapi, tanganku,” ucap Sehwi. Jeno yang salah tingkah langsung melepaskannya.

“Oh, maaf, aku lupa.” Ucapnya. Sehwi hanya tersenyum. Tiba-tiba ia teringat sesuatu.

“Sekalang jam belapa?” tanya Sehwi pada Jeno. Jeno melirik jam tangannya.

“Jam dua lebih 15 menit.” Jawab Jeno. “Kau mau pulang sekarang?” Sehwi mengangguk. Jarak rumahnya cukup jauh dari sini.

“Mau kuantar?” tawar Jeno.

“Eh, tidak usah. Aku bisa sendili.” Tolak Sehwi halus. Jeno hanya mengangguk kecewa.

“Tapi, dali sini ke halte bus lewat mana ya?”

Jeno tertawa. “Sudah ku bilang, lebih baik kau ku antar.”

Sehwi terkekeh malu. “Hehehe, mian,”

“Sehwi-ya!”

Sehwi menoleh saat mendengar seseorang memanggilnya. Jeno yang ada di sebelahnya ikut menoleh. Sebuah motor yang Sehwi sangat hapal menghampiri mereka. Si pengendara melepas helmnya. Oh, ternyata Sehun.

“Apa yang kau lakukan di sekitar sini? Lalu siapa dia? Kenapa kau belum pulang? Kau tahu kan Eomma akan pulang hari ini?” cerocos Sehun pada Sehwi.

“Oppa, satu-satu,” ujar Sehwi. Sehun mendengus.

“Baiklah, tak usah di jawab. Kau, kau yang kemarin menabrak Sehwi, kan? Kenapa kau bisa bersamanya?” tanya Sehun pada Jeno. Jeno tersenyum lalu membungkuk kecil pada Sehun.

“Annyeonghaseyo, namaku Kim Jeno-“

“Aku tidak bertanya namamu.” Potong Sehun cepat. Jeno menghela nafas berat. Sehwi merasa tidak enak pada Jeno.

“Aku mengajak Sehwi ke sebuah sungai di daerah sini sebagai permohonan maafku atas kejadian kemarin. Maaf bila aku lancang, hyung.” Jelas Jeno pada Sehun. Tapi Sehun nampak tidak percaya.

“Sehwi, ayo kita pulang.” Ajak Sehun. Sehwi hanya mengangguk. Tak mau membuat Sehun marah.

“Aku duluan ya, Jeno? Gomawo atas ajakkanmu.” Ucap Sehwi pada Jeno. Jeno tersenyum.

“Tak masalah.”

“Sehwi-ya,” panggilan Sehun membuat Sehwi buru-buru mendekati Sehun dan motornya. Setelah memakai helm, Sehun langsung tancap gas. Sehwi melambai kecil pada Jeno. Jeno membalasnya. Sampai motor Sehun mengilang dari pandangannya, Jeno masih tersenyum.

“Sepertinya, agak sulit mendapatkan hati kakaknya,” gumamnya pelan.

Dan sepertinya juga, hari ini, ada satu orang lagi yang jatuh dalam daya tarik Sehwi.

Sehwi segera turun dari motor Sehun setelah sampai di rumahnya.

“Sehwi, lain kali, bilang pada Oppa jika kau mau pergi bersama seseorang. Oppa tidak suka kau berpergian bersama namja seperti Jeno-Jeno itu tadi.” Ucap Sehun. Sehwi menunduk.

“Allasseo. Mianhae,” ucap Sehwi pelan.

“Ayolah kita masuk. Eomma pasti sudah pu-“

“Dari mana saja kalian?”

Sehun dan Sehwi sama terdiam di tempatnya. Sehwi menoleh takut-takut. Terlihat Seyoung berdiri di depan pintu dengan tangan menyilang di dadanya.

“Eo-eomma…”

“Wae? Kaget?” tanya Seyoung sarkastik. “Cepat masuk ke kamarmu. Dan Sehun, Eomma tunggu di ruang tengah.” Ucap Seyoung lagi lalu kembali masuk ke rumah. Sehwi masih menunduk takut. Ia baru saja akan pergi ke kamarnya ketika mendengar lirihan Sehun.

“Sehwi-ya, mianhae…”

Dan setelah itu, Sehun langsung masuk ke rumah, tanpa menoleh ke arah Sehwi sedikitpun.

Meninggalkan Sehwi yang masih kebingungan.

The story endings isn’t here yet…

 

Shoot 2, ended!

 

Gimana? Dapet feel-nya kah? Atau malah makin ngilang? Hehehe, maaf ini ngebut ngetiknya sambil dimarahin Mama. Hehehe

Dan untuk shoot 3… author gak yakin bakal update cepet. Palingan sehabis UN baru di update. Maaf ya

Oh iya, jangan panggil author ‘author’ ya. Author 00 line, kalau yang dibawah bisa panggil kakak, kalau yang diatas bisa panggil ‘Ayas’ aja. Cukup author aja yang manggil diri sendiri author/? Ngerti gak? Yowes kalo gak ngerti mah /pundung

Okay that’s enough

Thanks for reading! Mind to leave a comment?

Kritik dan saran sangat diperlukan ^^

 

Regards,

 

Jstnkrbll.

 

 

p.s. Tahu Jeno, kan? Itu lho, anggota SM Rookies. Yang sama-sama 00 line :3 Duh, dia ganteng banget, makanya author jadiin cast disini /apa hubungannya?/ Tapi bener kan marga dia Kim? Takutnya salah, ntar malu ._.

47 tanggapan untuk “Candy Jelly Love (Shoot 2)”

  1. Aaaaa suka sama ceritanya. Anti menstrim kkk. Sehun galak ya ._. tapi sehwi knp bisa ditinggak minhyuk ya? trus seyoung jga kno jahat ke sehwi? ._. btw kita theumulan *gananya*/plak

  2. Author 00L ? Aku 01L jadi aku panggil eonnie aja ya 😉 :v
    Btw emak Sehun knp galak amet :3 trus kek benci juga sama Sehwi–‘ Jeno *-* Jeno naksir Sehwi ya?

  3. Woahh kamu 00L?? Berarti kita seumuran, tapi kenapa kamu bisa berimagination bagus bangett. Makin penasaran bacanya. JENO YANG IMUT ITU KAN? TAU KOK KYAAA

    Minhyuk ngapain ninggalin sehwi ya grr BAIDEWEI MAU JUGA PUNYA KAKAK KEK SEHUNN /plak/

    1. Banyak yang lebih bagus qaqa ;;;;; ini udah tamat betewe, bisa di cek^^

      Anw Terima Kasih!^^

  4. Ommmooo…. kmu 00 line???? wahh.. kamu memang berbakat..aku yang setua ini belum tentu bisa nulis sebagus ini… (emang setua apa ya aku)… hehe…

    cerita ini bagus banget. Dan ceritanya aku sukaa.. kira2 kapan niee next chapternya keluar? Ditunggu yaa…

    1. Udah update sampe chapter 5 kak. Bisa di cek kok ^^
      ah kakak bisa aja:3 menurut aku ini acak acakan, aku gabisa nulis serius/?

      Anw Terima Kasih!^^

    2. Wawww… thank youuu… aku baru cek niee… habis ini cusss lanjut chap 5 …. hihi.. semangat2… hihi… oh iya request happy ending ya… pleaseeee.. 😀 hehehe…

  5. feelnya dapet ko yass,ishh seneng banget sehun jadi baik sama sehwinya tapi aku curiga kayanya sehun suka sama sehwi ya yas(?)
    daebak ffnya yas,semangat UNnya yasss

  6. haii ayas /sok kenal/ ngemeng ngemeng kita seline lhoo ._. /abaikan
    Ff mu emang Daebak banget dehh T.T selalu ngefeel entah kenapa si sehun disini pas banget jadi abang/?:v
    ohh buat marga jeno itu sebenernya Lee bukan Kim :v hehehehe tapi seterah kamu sihh mau di ganti marganya atau engga 😀 Ffmu tetep Terbaikk (y)

    1. Haii jugaaa/manggilnya apa nih._./
      Tuh kan aku udah punya firasat kalo jeno bukan kim marganya-_- yaudah anggep aja kim jeno itu sm rookies pada ribet:’v

      Anw Terima Kasih!^^

    2. hahaha iyadehh :’v wkwk
      sebut saja istrinya bang Sehun :’v akka Emil 😀
      Iyaa sama sama yaa^^

  7. Kereeeennn, yah sehun overprotective bgt hahah..
    eommanya serem banget :’ btw ak line 99, panggilnya ayas jg? atau adek wkwk
    semangat UNnya!!

  8. 00? 2000 ?? sama donk..
    Ceritanya keren kyk chap 1 kok… ehmm.. Lanjut penasaran.. Suka sama Sehun Sehwi.. semangat ya ..
    panggilnya kalau bukan author enaknya apa..??

  9. Wah dah di post kelanjutannya…
    Lucu bgt si sehwi disini polos polos gmn gtu tp ada2 malu nya yg bkin gemes hehehe
    Lanjut ya…. keren critanya

  10. bagus thor, feelnya dapat banget…
    aku penasaran ni knp ibu Sehun tidak menyukai Sehwi….

    update soon ya thor..
    fighting nulisnya ^-^

    1. Penasaran? Jangan kemana mana… wkwkwkw. Update soon nya abis UN yaaaa :’)

      Anw Terima Kasih!^^

  11. Jadi aku panggil author eonni ya, karna aku line’01..
    Nih ff beda daripada yg lain, anti-mainstream deh 😀
    Hmm.. Aku kepikiran kalo Sehun suka ama Sehwi.. Bener gak eonni?? #abaikan~
    Next ya eonni, jgn terlalu lama juga, entar readers nya pda lupa jln ceritanya.. Hehee

  12. Huaa bagus banget thor critanya!!
    Itu seyoung eomma knapa kok benci banget ama sehwi yee??
    Jangan bilang nanti sehun dingin lagi sikapnya gara gara eommanya balik,,,Andwee
    Ihh jeno manis banget suka ama sehwi,,malu malu gimana gitu

    Thor ditunggu chapter slanjutnya yee,jangan lama lama;-)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s