To Find the White

Poster (To Find the White)

Oh Sehun / OC’s Lee Hyun Hee / slight Lee Jongsuk & Kim Jongin

Oneshot / lil bit Romance / Angst / Hurt / Fantasy / PG15

Aku saranin baca sambil dengerin lagunya EXO – El Dorado

Fic ini ada karena terispirasi lagu itu

(Ini memang agak mainstream, tapi aku coba pake gayaku sendiri)

I own the plot and OC

-RnR please-

a present by l18hee

Sehun menyukai hitam.

Hyun Hee menyukai putih.

Dan mereka melewati keduanya.

“Hyun Hee-ya tolong kunci gerbangnya, ibu lupa,” seruan sang ibu yang sedang memasukkan beberapa makanan -yang baru saja dibeli dari supermarket- ke lemari pendingin membuat seorang gadis yang sedang terduduk di sofa menonton benda kotak dengan gambar bergerak, segera beranjak, “Baik bu,”

Dia melangkah pelan menuju gerbang depan setelah melirik angka delapan yang di tunjuk jam dinding. Malam ini tak begitu dingin seperti malam sebelumnya, jadi ia hanya mengenakan piyama lengan pendek berwarna aqua blue.

Sebelum menutup pintu gerbang ia lebih dulu mengedar pandang ke sekitar rumah, tiba-tiba maniknya menangkap pergerakan seorang lelaki berpostur jangkung yang berlari sangat cepat. Tak ada waktu baginya untuk sekedar ternganga kaget atau sejenis itu karena entah bagaimana ia sudah jatuh dalam rengkuhan sang lelaki.

Dia yang merasakan kehangatan dalam pelukan hanya bisa mengantupkan bibir agar tak mengucap kata rindu yang hanya akan membuat tusukan kepedihan  semakin dalam. “Sehun, kau bisa dimarahi,” gadis yang memejamkan matanya itu berucap mengingatkan. Kendati begitu dalam hati ia merindukan rengkuhan ini. Terhitung sejak tiga minggu yang lalu ia tak merasakan kenyamanannya.

Sang lelaki tak berniat menjawab. Berada di sini bersama gadisnya, memeluk gadisnya, mendengar suara gadisnya, seakan membuat ia tak dapat memikirkan hal lain. Termasuk kemungkinan buruk akibat kedatangannya ke sini.

“Kau harus pulang. Ibuku bisa marah,” sang gadis tak mencoba membalas rengkuhan walau ia ingin. Bahkan amat-sangat ingin.

“Jangan membuatku khawatir dengan menjadi kurus seperti ini. Aku akan memikirkan jalan keluarnya,” suara lelaki jangkung itu terdengar menyiratkan luka. Dia yang sedang menahan diri agar tak menangis tetap tak dapat membalas rengkuhan sang kekasih. Dia bukan si gadis kuat seperti Cinderella atau putri dalam dongeng lain. Dia rapuh, namun tetap mencoba tegak. Paling tidak ia harus mencoba kuat untuk lelaki itu. Semua yang sudah mereka jalani sampai detik ini membuatnya semakin dapat mengontrol emosi.

Ditengah semuanya tiba-tiba rengkuhan Sehun terlepas. Ada hentakan kuat yang menariknya.

“HEI! AKU HANYA SEBENTAR! JANGAN GANGGU AKU!” Sehun berseru sekuat tenaga menyingkirkan lengan-lengan kekar para pesuruh berseragam dominan hitam. “Tuan Oh tidak mengizinkan anda pergi ke sini lagi,” salah seorang diantaranya menjawab datar. Oh sungguh Sehun benci itu. Seakan melihat seseorang yang terlihat tak peduli begitu saja mengatur hidupnya seenak hati. Bukan hanya seakan, bahkan sialnya ini kenyataan.

“Sehun,” baru saja Hyun Hee ingin melangkah menuju kekasihnya, sebuah sentakan pada lengan membuat ia terhenti dan menoleh. Ibunya yang sedang menatap tajam di sana membuat ia terdiam. Dia bukan tipe gadis pembangkang jadi ia menurut untuk mematuhi tatapan penuh arti itu.

Sehun yang melihatnya seketika menghentikan aksi memberontak. Sadar jika kenyataan bahwa gadisnya adalah tipe gadis penurut. Adegan kabur dengan berlari sekuat tenaga tak akan terlihat di sini. Dia tak kembali melawan. Lagipula jika mereka sama-sama ditahan seperti ini, melawan tak ada gunanya, “Baik aku akan pulang,” desisannya hampir tak terdengar. Para pesuruh yang tak sedikitpun melepaskan cengkraman menuntun tuan mudanya masuk ke mobil. Tuan muda? Cih. Sehun lebih terlihat seperti tahanan.

Manik Sehun menatap lurus pada milik gadisnya, memandang dalam Mereka berbicara dalam diam. Saling mengucapkan kata maaf, saling menguatkan, dan saling bertukar rindu sesaat sebelum sosok sang lelaki lebih dulu menghilang ditelan benda beroda empat yang langsung melesat pergi. Menyisakan asap tak kentara yang masuk dalam penciuman gadis itu, membuat dadanya semakin sesak.

“Aku masuk dulu Bu,” perlahan Hyun Hee melepas cengkraman sang ibu sebelum melangkah masuk ke dalam rumah melupakan kewajibannya menutup pintu gerbang.

Ekspresinya masih datar saat memandang keluar jendela kaca kamarnya. Sebuah cairan bening penanda tak ada lagi kekuatan untuk terlihat tegar terlihat menuruni pipi. Semakin deras dengan iringan isakan tertahan. Sebuah melodi sendu memenuhi seluruh kamar. Sulur berduri yang membelenggunya membuat luka perih tak kentara. Semakin terasa sakit ketika terkena air asin yang semakin menganak sungai di pipinya. Luka ini semakin menganga.

Kedua tangan itu kini mencengkram erat surai kecoklatan dan menariknya kuat, berkali-kali. Masa bodoh dengan segala hal yang berhubungan dengan pengendalian emosi yang telah ia pelajari. Terkutuklah semua hal yang membuatnya begitu tertekan. Tak ada pikiran rasional yang biasa hinggap dalam dirinya.

Kepalanya membentur dinding keras, menimbulkan bunyi. Merasa penasaran karena sakitnya tak terasa, ia melakukannya lagi, dan lagi. Ada bayang hitam dalam pandangannya, tapi kenapa tidak terasa sakit? Ia terbaring di lantai tanpa alas, memandang kosong langit kamar dengan air mata yang tak kunjung berhenti. Keadaannya sudah acak-acakan. Bersengsek dengan semua kenyataan yang membuatnya seperti ini.

Ketukan keras pintu kamar yang ia kunci sedikit mengusik indra pendengarnya, “Lee Hyun Hee. Berhentilah memukul tembok. Ibu akan membawakanmu kudapan, jadi bersikap baiklah seperti biasa,” Bersikap baik? Apa setelah bersikap baik Sehun akan datang padanya dengan kabar gembira? Omong kosong!

Pening mulai merambat ke kepala membuat ia mengerjapkan mata. Ternyata membenturkan kepala ke dinding berkali-kali itu sakit. Tapi sayang tak dapat mengalahkan rasa sakit di bagian hatinya. Dia menarik diri mendekati nakas di samping ranjang. Meraih botol berisikan benda bundar pipih. Dia harus tidur agar sakitnya tak terasa. Pil itu ia masukkan ke mulut sebelum menegak air. Untuk beberapa saat ia diam mengatur nafas sebelum berbaring seenaknya di ranjang. Ia masih mencoba tenang saat nafasnya tiba-tiba tersendat. Ada sesuatu yang melilit kuat, membuat dadanya benar-benar sesak dalam artian sesungguhnya. Tangannya bergerak meremas piyama di atas dada kiri sementara tangan lain mencoba meraih gelas air. Tak berhasil, gelas itu justru lebih dulu terbelah akibat beradu dengan lantai kamar.

“Maaf,” berkali-kali ia menggumamkan itu. Teringat bahwa Sehun akan khawatir setengah mati jika ia seperti ini, tidak menghitung berapa pil yang ia minum sebelum menelannya. Kepalanya semakin terasa pening. Sehun mungkin akan membencinya karena ia tak menuruti perkataan lelaki itu. Demi Tuhan, bersikap baik dan mendapatkan balasan lain sungguh membuat semuanya semakin memburamkan hatinya.

Erangan dari bibirnya terasa begitu menyakitkan. Apa ia akan mati sekarang? Apa Tuhan ingin memanggilnya sekarang? Apa jika ia mati Sehun akan baik-baik saja?

“YA TUHAN! LEE HYUN HEE!” seruan  ibu di balik sang anak lelaki yang berhasil mendobrak pintu hingga engselnya lepas memenuhi ruang kamar. Sementara Hyun Hee dapat merasakan mulutnya dipenuhi busa putih.

Putih? Tak apa.

Itu warna kesukaannya.

***

Keadaannya sungguh membuat hati miris. Terbaring dengan kelopak mata tertutup sempurna. Selang yang dipasang di mulut untuk menyuplai oksigen ke paru-paru. Nadi ditusuk jarum infus. Dan beberapa kabel yang terpasang menghubungkan tubuhnya dengan monitor berbunyi monoton. Ruangan berbau khas itu dapat menggemakan suaranya walau tak begitu keras.

Jongsuk hanya memandang paras adiknya dengan batasan kaca trasparan. Adik manisnya yang biasa berkelakuan baik kini terbaring pucat. Ada perasaan bersalah memenuhi relung hatinya. Bagaimanapun juga ia juga ikut bertanggung jawab atas semua ini. Seharusnya ia sadar adiknya tak pernah tahan pada tekanan yang terlalu tinggi. Seharusnya ia tak bersikap egois dan membiarkan gadis itu terlilit pedih sendirian.

Sudah terhitung satu minggu Hyun Hee tertidur walau masa kritisnya sudah berakhir. Perkataan wanita berjas putih dengan stetoskop di leher membuatnya bungkam tenggelam dalam pikiran.

‘Seharusnya ia sudah sadar karena masa kristisnya sudah berakhir. Tapi dia punya keinginan kuat untuk tidak bangun. Dia ingin tidur,’

Ingin tidur? Apa gadis ini benar-benar lelah?

Jongsuk mengusap wajah kasar sebelum melangkah pergi meninggalkan ibunya yang masih memandang ke dalam ruangan dengan mata sendu. Perasaan menyesal mereka entah dapat sampai ke alam mimpi Hyun Hee atau tidak.

***

‘Dia tidak mau bangun,’

Ucapan Jongin, karibnya, membuat lelaki kulit salju itu menggerang keras. Terkurung di gedung rumah semakin membuat dirinya gila. Para pria berjas hitam terus saja berkeliaran di setiap sudut rumah, memantau tentu. Melakukan hal yang bahkan sangat tidak penting menurutnya. Tak habis akal, ia kembali memutar otak.

“Tuan Park, bisa bantu aku?”

Semoga ia berhasil.

Lima belas menit kemudian Sehun sudah berhasil menaiki taksi -yang sudah menunggunya di depan gerbang samping- yang langsung melesat pergi. Siasatnya bertukar pakaian dan mengecoh para pesuruh dungu yang kini sedang memburu koki keluarga mereka -yang membuat ulah sebagai dirinya- sukses. Dan ia harus memanfaatkan waktu sebelum para lelaki tolol berotot itu sadar. Hanya masalah kecepatan taksi dan kecepatan proses berpikir para anak buah ayahnya.

Setelah mengucapkan alamat rumah sakit dan meminta sang supir bergegas entah untuk yang keberapa kali, ia mengedar pandang ke jalanan kota. Belum sempat sedikit pun ia menghela nafas, pandangannya langsung terfokus pada sebuah truk besar yang entah mengangkut apa melaju kencang tepat di depan mata.

Suara benturan keras seakan menulikan telinga. Ia menggerang hebat saat serpihan kaca jendela menghujani wajah dan tubuh bertubi-tubi. Bau anyir darah sudah memenuhi indra penciumannya. Rasa sakit yang mendera seluruh tubuh membuatnya kesulitan bernafas. Rusuknya remuk, lengannya mungkin patah. Dia yang kini sudah berlumuran darah bercampur serpihan kaca hanya bisa menggumam pelan disela erangan kesakitan.

“Hyun,” ia harap gadisnya mendengar. Bibirnya terus berucap melantunkan nama yang dapat menguatkannya, menahan segala sakit, perih dan nyeri yang mendera tak terhingga. Pandangannya sudah penuh warna merah, ia masih bisa melihat remang ke arah supir yang mungkin sudah tak bernyawa. Oh, apa dia selanjutnya? Apa Tuhan akan mengambil nyawanya sekarang? Lalu bagaimana dengan Hyun Hee? Apa gadisnya akan baik-baik saja?

Warna merah itu semakin mengalir di sekitar matanya.

Sungguh Sehun tidak terlalu suka merah. Dia lebih suka pada warna hitam yang kini justru membawanya ke dalam ketidaksadaran.

***

Putih. Gadis ini terlalu menyukai warna suci itu. Berjalan dalam sebuah aula besar bercat putih dengan halaman luas di depannya sungguh membuat ketenangan baginya. Putih mendominasi setiap sudut tempat. Lihat saja pilar-pilar penyangga aula, air mancur dengan patung cupid di atasnya, mawar yang tumbuh bebas di halaman, tiang lampu yang bersebelahan dengan sebuah bangku panjang, dan yang lainnya, semua hampir dipenuhi warna putih. Seperti tertutup salju namun tanpa iringan suhu rendah.

Dia tak mengingat apa pun tentang bagaimana ia sebelum sampai di sini. Yang ia tahu hanya warna putih membawa kedamaian hatinya. Tempat ini terlalu nyaman dengan suasana damai berlatar melodi yang tercipta dari air yang dituang patung cupid serta hembus ringan angin yang seakan membelai surainya. Kendati begitu ada sesuatu yang mengganjal di hati, entah apa.

Dia yang kini sedang memetik mawar putih kini tertegun. Melepaskan mawar yang baru ia petik hingga menyentuh rerumputan. Lihatlah, ada noda merah di sana, di jarinya. Oh, bukankah tanaman mawar di sini tak pernah berduri sebelumnya?

Seretan sebuah langkah membuat ia menoleh demi mendapati seorang lelaki kulit salju di sana. Berjalan terserok dengan kemeja putih bernoda merah. Kendati lelaki asing itu semakin mendekat, ia tak mencoba berlari. Jemarinya justru berusaha menggapai paras sang lelaki. Noda merah pada jarinya kini meninggalkan bekas pada pipi lelaki yang sedang menatapnya teduh. Demi Tuhan ada gejolak dalam hatinya. Rindu itu muncul, menyelimuti raga dan jiwa keduanya.

“Kau sakit?” lirihan ini membuat sang lelaki tersenyum tipis seraya menggapai tangan yang menangkup pipinya. Seakan noda merah di kemejanya bukan akibat dari masalah besar yang mengantarkan ia menuju jurang penderitaan.

“Kau juga ‘kan?” lelaki itu meraih jemari bernoda merah sang gadis, dan mengecupnya lembut. Gadis itu hanya terdiam memandang mata teduh yang seakan selalu membuatnya merindu. Tak ada detik jarum jam di sini, jadi ia tak tahu berapa lama kedua manik ini bertemu.

“Hyun, kau suka di sini?”

Dia yang memakai dress putih bersih hanya menautkan alis pertanda heran juga bingung, “Hyun? Aku?” Lelaki bernoda merah itu terkekeh pelan, “Iya, itu namamu. Lee Hyun Hee. Terdengar indah ‘kan?” Jemari  mereka saling bertautan sebelum sang lelaki menambahi, “Kau tidak ingat ya?”

Gadis itu mengangguk mengiyakan. Dia tak mengingat tentang apa pun, sedikit pun, kecuali warna suci kesukaannya, “Lalu namamu?”

Sang lelaki kembali tersenyum tipis. Sangat teduh membuat gadis ini kepalang nyaman.

“Sehun. Oh Sehun,”

Ada sulur tak kentara yang tiba-tiba membelenggu hatinya saat mendengar nama itu. Terasa sesak. Terasa amat-sangat sesak membuatnya kesulitan bernafas. Dia menggeleng kuat saat jemari mereka terlepas bersamaan dengan mengaburnya sosok Sehun. Tidak. Ini tak boleh terjadi. Kemana perginya lelaki itu? Kenapa terasa sangat menyakitkan? Sesak ini membuatnya terpuruk seketika di samping tanaman mawar putih. Tunggu, mawar-mawar itu tidak lagi putih sempurna seperti sebelumnya. Ada noda merah di sana. Bagaimana bisa?

“Sehun,” ia memegang dada kirinya. “Sehun suka hitam,” ia tak tahu apa alasannya mengucapkan itu. Pun bagaimana ia tahu. Manik coklatnya kini dapat melihat bayang hitam yang mulai menggantikan setiap warna putih yang selalu menjadi favoritnya bersamaan dengan nyeri di dada. “Tidak apa-apa. Sehun suka hitam,”

Dan hitam menelan kesadarannya. Membawa ia berputar-putar dalam rasa sakit yang teramat dalam, menusuk-nusuk setiap jengkal tubuhnya. Hingga kelopaknya terbuka perlahan. Menampilkan gambaran samar sosok lelaki dan wanita paruh baya yang memandangnya cemas.

“Jongsuk-a panggil dokter. Dia sudah sadar!” wanita itu berseru semangat. Hyun Hee sudah ingat sekarang. Semua rasa sakit yang ia alami, ia sudah mengingatnya.

Apa ini berarti ia tidak ditakdirkan mati?

***

Terkadang nafasnya berubah sulit, pandangannya tiba-tiba mengabur, kepalanya mendadak pening. Tapi Hyun Hee masih mencoba menahan semua. Berharap Sehun datang membawa kabar gembira jika hubungan keduanya akan berjalan lancar tanpa tentangan lagi. Gadis ini tak pernah tahu jika dia yang sedang dirindukan sedang dalam keadaan di antara hidup dan mati dengan tubuh penuh perban, kehilangan kesadaran hampir semalaman. Sehun kritis.

Tak ada yang akan memberitahunya. Semua orang membiarkannya bergantung pada harapan semu. Terus berharap kehadiran sang kekasih memunculkan kekuatan tersendiri dalam batinnya. Kekuatan yang selalu ia genggam erat kala sesak melanda dada. Hanya harapan itu yang bisa membuatnya menjalani setiap detik menyakitkan di ranjang kamar rumah sakit. Jika bukan karena harapan akan datangnya sosok Sehun, ia tak akan bisa tidur tenang saat lelah seperti siang ini. Bukan tidur sebenarnya, hanya memejamkan mata seraya menerawang kisah klasiknya. Membuat ia tersenyum dalam hati mengingat betapa kuat dirinya dan Sehun bertahan bersama sampai sejauh ini. Maaf adalah kata pertama yang ingin ia ucapkan jika Sehun datang menjenguk. Sedikit menyesal membayangkan raut khawatir lelaki yang sering memasang ekspresi datar di wajahnya itu. Dia sama sekali tak terusik pada ucapan Jongsuk yang ia yakin sengaja dipelankan. Gadis ini tak pernah peduli, sedikit pun tak pernah, hingga saat sebuah nama disebut, hatinya berdesir hebat. Ucapan Jongsuk membuat nafasnya tersendat.

‘Oh Sehun baru saja divonis meninggal. Jangan sampai Hyun Hee tahu,’

Kelopaknya tak mencoba terbuka kendati dari sudut mata ada linangan air mata yang mengalir. Bagaimana bisa? Apa yang menimpa Sehun sampai sejauh ini? Siapa dokter bodoh yang menjatuhkan vonis itu? Ia masih belum percaya sepenuhnya. Namun ini bukan perihal yang pantas untuk dijadikan bahan lelucon. Apalagi tak ada nada kebohongan pada ucapan Jongsuk. Dia menarik nafas dalam sebisa mungkin. Harapannya benar-benar sudah tiada. Tuhan sudah lebih dulu mengambilnya. Kekuatannya terkikis seketika. Sulur berduri kembali melilit tubuhnya erat. Menancapkan duri-duri beracun ke setiap jengkal tubuh. Membuat cairan pedih menetes dari sana. Pening di kepala mulai menyerang hebat. Oksigen sudah sulit menjamah paru-parunya. Triakan panik Jongsuk hanya terdengar samar di antara jeritan batin yang ia elukan. Bibirnya sudah tak sanggup untuk mengerang sakit. Kendati perih sudah menyelimuti tubuh, gadis ini tetap dapat merasakan sebuah tangan kekar menggenggam miliknya. Dia tak tahu deretan frasa apa yang terucap, tapi ia yakin itu sebuah kata-kata yang memintanya untuk kuat. Kuat? Bahkan Tuhan sudah mengambil apa yang menjadi alasannya untuk tetap kuat. Bahkan mereka tak pernah mengerti apa yang membuatnya kuat. Kuat hanya sebuah kata tak bermakna baginya saat ini.

Bayang-bayang aula dengan halaman luas menggapai ingatannya di sela-sela nyeri yang tercipta. Putih, dia sangat suka warna putih. Mungkin ruang hitam dapat mengantarnya menuju tempat putih suci itu. Hitam selalu menjadi kesukaan Sehun. Jadi melewati hitam untuk menemui putih bukan masalah untuknya.

Dia yang mulai tak dapat merasakan oksigen melewati paru-parunya kini mencoba menggoreskan senyum. Menepis segala derita yang membelenggu erat hatinya, menggores setiap inchi jiwanya, menguras habis tenaganya. Mencoba mengumpulkan sisa-sisa kemampuan bicara sebisa mungkin. Ia berucap pelan dan tersendat.

“Maaf,” frasa pertama yang terucap, membuat genggaman pada tangannya semakin erat, “Tapi Sehun suka hitam-” ya, hitam yang mungkin akan menelannya, “-dan aku suka putih,” putih yang ia yakin ada di ujung ruang kelam. Desisan itu benar-benar mengantarnya menuju ruang hitam. Seruan Jongsuk dan sang Ibu tak dapat menariknya kembali. Dia sudah tersedot masuk dalam ruang hitam yang membuatnya terombang-ambing sesaat sebelum sebuah tangan menggenggam miliknya erat.

Hangat.

Sangat hangat.

Dia tak lagi terbang. Kakinya mulai dapat menapak dasar tak kentara. Langkahnya pelan mengikuti langkah di depannya dalam kesunyian, sampai ruang hitam tertinggal dan berganti dengan gambaran putih yang selalu membuatnya merindu. Ia kembali ke aula itu. Rupanya mawar-mawar di sini sudah kembali putih sempurna.

Dia yang kini kembali mengenakan dress putih bersih dapat menatap sosok yang menggenggam tangannya, “Sehun?” Kali ini tak ada noda merah pada kemeja putih yang lelaki itu kenakan. Dan kali ini pula ingatannya masih sempurna, tak lebur sedikit pun.

“Kau suka di sini ‘kan?” senyum teduh terlihat. Menyalurkan segala jenis kenyamanan yang mengusir semua kegundahan di hati sang gadis yang mengangguk pelan. Apa kematian selalu seperti ini? Atau ini hanya sebuah hadiah dari Tuhan yang ingin berbelas kasih semata?

“Kau tahu ‘kan aku sangat suka hitam? Tapi-” Sehun masih menggenggam tangan gadisnya. Menatap dalam penuh arti dengan senyum tipis sempurna yang terpeta pada paras sempurnanya. Suara lembut namun menyiratkan kesungguhan mulai memasuki indra pendengaran Hyun Hee.

“Aku akan meninggalkan hitam. Dan tinggal di putih bersamamu,”

Kehangatan menjalar di hati mereka. Seimbang dan sama rata. Bayang-bayang pedih masa lalu berputar seperti rol film membuat keduanya semakin merasa bahagia telah melewati semuanya. Telah melewati kelamnya hitam untuk mencapai sucinya putih.

“Selamanya?” sang gadis menatap penuh harap. Segala penderitaan yang baru ia terima bertubi-tubi seakan melebur bersama hitam yang pergi. Kendati begitu ia tak pernah membenci hitam yang telah rela mengantarkannya pada putih. Lelaki kulit salju berpostur tinggi itu semakin mengeratkan genggaman, kembali merambatkan kenyamanan melalui senyum tipisnya.

“Iya, selamanya,”

.

.

Tak ada detik jam lagi yang mengingatkan mereka akan waktu

Mereka sudah bebas dari lilitan kejam sang waktu

Bebas dari sulur-sulur penderitaan

.

.

fin!

Mainstream? Pasti iya!

Tapi semoga suka 🙂

76 tanggapan untuk “To Find the White”

  1. Gegara bc love letter kamu yg ngbahas ttg ff debut kamu ini saya lngsng searching & bc deh, trus bc obrolan prtm antara anne & nida yg br knalan di kolom kmntr  ciyee.. ky lg ditarik ke 1st eps xan ktmu nih. Disini OC Runa blm ada ya? tema cinta tnp restu ortu emang mainstream tp isi ff kamu ni ‘khas nida’ /iyalah/ I mean, kata2 yg digunakan/rangakaian klmt2ny itu bgs, uncommon, ciri khas kamu lah. Cm ga sk sm cewe diposter -_- krng cntk! I found 1 more thing stlh bc komen2 readers jg blsn2 kamu di ff debut ini, yaitu : kamu biasa manggil nama aja ke readers yg pk pen name dg real name ky saya ini. /jd brasa dah tmn-an lama gt ^ ^ /pdhl age gap qt smp 1 decade!! >//<
    Msh krng jelas sih gmn awal mula’ny hub sehun & hyun hee, jg pertentangan antar klrg mrk, ky romeo & juliette gt kah? Beda background? Sykr lah klo di akherat mrk bs bersatu. Kamu yg bikin ini sambil nangis, tp saya ga smp nyesek/sedih sih bc’ny. Tp ff ini bgs! Pdhl br debut tp dah keren gt gaya bahasa/penulisan kamu, jjang..

  2. bukan mainstream lg ini mah anti mainstream bgt, walau sempet bingung di bagian hitam putih tp jujur ini keren. Keren bgt lah pokoknya 👍👍

    1. hehe iyakah? makasih yaaa cantikkk
      yapp, banyak yang bingung dibagian itu wkwk cuma permainan kata sama pikiran yang nulis aja sebenernya/dibuang
      hehe makasih makasih pokoknya ❤

  3. Kak mainstream dimananya ???
    Gk mainstream kak keren bgt malah !!!
    Air mata aku dah keluar buru buru aku apus pas tau ternyata mereka bisa nyatu dan gak ada yg misahin mereka lagi.
    Keren beneran deh kak 😄

    1. yang menurutku mainstream itu bagian gak direstuinnya hehe
      hehe makasih yaa udah bilang fic abal ini keren wkwk
      aku buat ini aja sampe nangis *ups ketahuan*
      iya untung aja mereka akhirnya bersatu walau di alam sana :”
      makasih cantik udah mampir 😀

  4. mainstream? mainstream itu kalau ini sad end sepenuhnya -_-
    menurutku ini double ending, ada happy nya karena mereka akhirnya bersatu/? (yeay!), ada sadnya karena mereka berdua meninggal T.T si Hyun Hee meninggalkan?
    ah jarang2 ada author yang bisa bikin cerita double ending kek begini T.T fix! ini anti mainstream!

    please dah, jantung aku sesak pas denger kalimat Jongsuk yang Sehun divonis meninggalT.T
    aku udah mau nangis sejak yg tangan Hyun Hee berdarah itu T_T

    ah sumpah ini KEREN!
    biar komen ini dikata alay, ini bener-bener KEREN! T_T

    nice ff! ditunggu karya lainnya yang lebih nyess(?)

    1. demi apa aku senyum-senyum sendiri deh baca komenan kamu.. rika kuat bener baca banyak fic gini yah :3
      iya ini antara sad dan hepi, makannya aku tulis genre fantasy segala karena ada adegan di taman putih yang entah itu di mana hehe
      aku nangis loh waktu bikin ini *curhat
      makasih sayang :* nggak alay kok, aku malah seneng banget haha xD

    1. cerita ini ngegambarin gimana perasaannya hyun hee dan sehun tentang hubungan mereka yang nggak direstuin walau sampe mereka mati… mereka cuma bisa bersatu di alam sana yang aku gambarin sebagai taman serba putih di sini. nah kalau mau sampe di taman sera putih itu mereka harus ngelewatin hitam, yang aku gambarin sebagai kematian…
      hehe gitu aja sih sebenernya 🙂
      makasih yaa udah mampir 😀

    1. waaah nggak sesempurna itu kok 🙂
      tapi makasih yaa makasih udah mau mampir :3 kalau mau baca prequel (before story)nya silahkan lihat list fic aku yah (ini promosi haha)

  5. ini bagusssss..

    mungkin tema “gak direstui” nya memang bener-bener mainstream, tapi kamu membawakan sisi yang berbeda,, jadi keren banget..
    aku juga emang suka banget cerita yang ada mati-matinya.. hahaha.. *psikopat* wkwkwkw

    betewe kamu staff author juga yaa?
    aku juga staff author baru..
    salam kenaaall.. 😀

    1. iya tema ini emang mainstream, makannya aku tulis di awal wkwk kerenkah? makasih yaaa 😀
      suka yang ada mati-matinya? haha kok sama /eh?/

      iyaaa, nida garis 97 di sini :3
      wah, samaan dong… aku panggil siapa nih?
      salam kenal juga 😀 mari berteman 🙂

    2. iya keren beneran.. 😀
      aku suka baca plus nulis yang ada mati-matinya,, tapi temen-temen jdi bilang aku serem kaya psikopat.. wkwkwk
      aku gaperna bikin yang adegan mati-matinya dijelasin detail gitu..
      bagus..
      suka.. sukaa..

      aku anne, garis 91 ujung ampir 92, uda tua.. hahahaa..
      tapi gausah takut or segan gitu, aku perna jadi guru les anak SMA, jdi kek temen sama mereka.. *gaada yg nanya* *malah curhat* wkwkwk
      panggil apa aja boleee..
      hoho..
      mari berteman.. ^^

    3. haha aku malah dibilang aneh -__-
      hehe makasih banyaaaaaak banyaaaaak…
      waaah aku panggil kak dong ini 😉 kak nean aja gimana oke oke 😀 (maaf jika saran saya aneh -_- biar beda gituu)

  6. Wew, baru baca dan rasanya ini ff paling real buat ngambarin gimana rasanya kematian…
    Emang pada kenyataan ga seenak itu sih :v siksa kubur woy siksa kubur XD
    Untungnya cinta mereka bersatu ya.. cuma muter-muter aja soal hitam-putih itu. maklum ngantuk bacanya 😀

  7. huaaaa keren thorr ‘-‘/ tata bahasa nya aduhh bikin merinding/? sumpah,, pendek tapi keren banget gitu:v jadi pengen gitu nulis sekeren dirimu thorr
    keep writing/? thorr di tungguin deh ff bagus selanjutnya 😉 :v

    1. wah masa sih, tapi masih banyak loh yang lebih baik dan bagus dari ini 🙂
      kamu pasti bisa kok 😀
      makasih yaa udah mau baca 🙂

  8. Wahaha keren banget fanficnya author
    Feelnya dapet sampe bikin aku nangis ahaha;”)
    Aku juga dapet pelajaran dari fanfic ini hihi ^^
    Daebak deh!

  9. aduh bingung katanya authornya mainstream padahal menurutku enggak lho walaupun pendek tapi amanatnya ngena bnget di hati

    1. menurutku cerita tentang ‘enggak direstuin’ itu udah banyak, tapi ini aku sajiin (?) pake gayaku sendiri hehe tapi syukur deh kalo kamu bilang ini enggak mainstream, aku jadi terharu sendiri :”’ makasih makasih XD

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s