손생님 때문에 ― Chapter 1

11054409_797189203685335_611182346276514984_n

 

Subtitle            : Because of You, Sir! (Sonsaengnim ttaemune)

Author             : Len K

Rate                 : T, PG-15

Casts               : Kim Junmyeon a.k.a Suho EXO, Song Yoonhee (OC), Kim Minseok a.k.a Xiumin EXO, Kim Jongin a.k.a Kai EXO, and another support casts

Genre              : school-life, romance

Disclaimer       : Storyline yang udah lama mengendap di otak author tapi bereaksi dengan hebatnya sehabis author baca satu komik yang rada mirip ceritanya. Tapi author nggak comot storyline yang benar-benar mirip sama komik itu.

Happy reading~!!

 

Chapter 1

 

 

Sendiri. Diabaikan. Tidak dianggap. Aku sudah terbiasa dengan itu semua. Semua orang…aku membenci mereka. Mereka hanya orang bermulut banyak yang besar tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tidak, mereka memang suka bicara seenaknya tanpa ingin tahu apa yang benar-benar terjadi. Aku muak!

 

 

***

 

 

“Jika kalian mensubtitusikan langsung angka tersebut pada limit dan hasilnya merupakan bentuk tertentu, maka itulah limitnya. Tapi jika hasilnya bentuk tak hingga, maka kalian bisa menggunakan cara faktorisasi atau dalil l’hospital―”

Suara lantang dari Baek Woosuk sonsaengnim memenuhi penjuru kelas. Umurnya yang tidak muda lagi tidak menghalanginya untuk mengajar dan menjadi salah satu guru yang disegani para siswa. Suasana kelas yang tenang seperti sekarang adalah kesukaannya. Terlebih ketika ia menoleh sekilas ke belakang dan mendapati para muridnya fokus memperhatikan apa yang sedang ia jelaskan.

“Apa kalian sudah paham?” senyum Woosuk sonsaengnim terlukis hingga beberapa kerutan di wajahnya menunjukkan diri.

Nee!”

Braaakk!

Joeseonghamnida, aku terlambat.”

Suara muram dengan aksen yang sedikit aneh itu terdengar setelah bunyi pintu kelas yang dibuka paksa. Semua mata tak terkecuali Woosuk sonsaengnim mengarahkan pandangan mereka ke pintu depan kelas. Di ambang pintu, seorang siswi dengan muka masam berdiri mematung. Ekspresinya sama sekali tidak menyiratkan penyesalan. Woosuk sonsaengnim memandang siswi itu dari kacamata setengah lingkarannya yang dibingkai frame metal warna perak.

Wasseo, Song Yoonhee? Kau boleh duduk di tempatmu.”

Siswi bernama Song Yoonhee itu mengangguk sekilas kemudian berjalan menuju bangkunya. Bangku di pojok belakang kelas sebelah kiri kelas, tepat bersebelahan dengan jendela kelas. Dagu Yoonhee tidak tegak, poni rambutnya menutupi sorot matanya. Juga, bisik-bisik mengiringinya.

“Woosuk sonsaengnim terlalu baik padanya.”

“Sebenarnya ada apa dengannya?”

“Aku yakin setelah ini dia akan membolos lagi.”

Mwo? Dia masih punya muka untuk datang?”

Yoonhee tidak tuli. Semua bisik-bisik itu terlalu jelas baginya. Ia berusaha keras mengabaikan semua yang dikatakan orang tentangnya, tapi tidak bisa. Pun dengan semua tatapan aneh dan takut yang ditujukan pada dirinya. Dengan kaki gemetar dan jantung berdegup kencang, Yoonhee duduk di kursinya tanpa ada niatan mengangkat wajahnya kedepan.

 

 

 

“Kerja bagus, Gayoung ssaem. Kau berhasil membawa Yoonhee kembali masuk ke sekolah.” Woosuk sonsaengnim meletakkan secangkir kopi hangat buatannya di meja Han Gayoung sonsaengnim, lalu menarik satu kursi untuk duduk dirinya.

“Ah, Yoonhee sudah kembali masuk kelas? Aigo, tahaengida. Aku sangat senang mendengarnya. Yah, itu memang sudah tugasku sebagai wali kelasnya, Woosuk ssaem.” Binar mata Gayoung ssaem tidak bisa disembunyikan.

Woosuk sonsaengnim menyesap kopinya. “Ah, kopi pahit memang yang terbaik,” komentarnya. “Bisa kulihat kau sangat peduli terhadap Yoonhee. Saat Yoonhee kelas satu dulu, Jaeho sudah menyerah pada Yoonhee bahkan sebelum semester satu berjalan setengah waktu.” Woosuk sonsaengnim sengaja mengeraskan suaranya dan menatap Jaeho sonsaengnim yang duduk tidak jauh darinya.

Aigo, Baek Woosuk ssaem,” erang Jaeho sonsaengnim, “…anak itu, Song Yoonhee, benar-benar susah diatur. Dia bahkan selalu mengacuhkanku yang saat itu berstatus sebagai wali kelasnya. Dia juga sering membolos hingga para guru hafal sosoknya. Dia juga sudah masuk daftar blacklist beberapa guru.”

“Untuk menghadapi Yoonhee, yang diperlukan adalah ketekunan dan kelembutan,” sahut Gayoung ssaem.

Jaeho ssaem menatap tidak suka pada Gayoung ssaem. “Eo, terserah. Tapi sampai kapan? Sekarang sudah semester dua tapi aku tidak melihat perubahan pada Yoonhee. Oke, Yoonhee memang sedikit berubah. Tapi itu saaaaaaangat sedikit sekali dan aku tidak yakin perubahan itu akan bertahan lama apalagi tidak lama lagi kau akan mengambil cuti melahirkan.”

Gayoung ssaem tersenyum kecut mendengarnya.

 

 

 

Minseok berdecak begitu ia melihat siapa pengguna kasur di ruang kesehatan. Seperti biasa, pengguna langganan kasur itu. Orang yang paling sering keluar-masuk UKS tapi tidak pernah benar-benar sakit.

Kursi putar dengan sandaran yang tinggi hingga kepala begitu pas dan cocok diduduki oleh Minseok. “Kau membolos lagi?” tanya Minseok.

Yoonhee membuka matanya perlahan. “Kenapa kau bertanya hal yang sudah kau ketahui?”

Geuraese…” jawab Minseok. “Kurasa itu pertanyaan otomatis dariku untukmu. Kali ini alasan apa yang harus kubuat jika guru untuk pelajara selanjutnya menanyakan dirimu hingga menerobos kemari?”

Molla. Kenapa kau harus bertanya? Kau kan ahli dalam hal seperti itu. Tidak perlu bertanya padaku, urus saja seperti yang biasa kau lakukan.”

“Wow, kau sensitif sekali hari ini!” kekeh Minseok. “Karena kau begitu sensitif sekali hari ini, maka alasan yang aku buat adalah PMS. Eottae?”

Yoonhee tidak menyahut lagi. Ia sudah kembali berusaha menyeret dirinya ke dalam alam mimpi. Minseok mendengus pelan karena dirinya diabaikan walau ini bukan kali pertama.

 

 

***

 

 

Kenapa…mereka harus menatapku seperti itu? Bukankah aku juga spesies homo sapiens sama seperti mereka? Apa yang aneh dariku?

Batin Yoonhee menjerit ketika ia melangkah masuk ke ruang guru. Tapi Yoonhee tidak ingin terlihat terintimidasi. Maka dari itu Yoonhee mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan guru. Yoonhee tidak bermaksud mengintimidasi para guru―yang menatapnya―dengan pandangannya, tapi setelah Yoonhee mengedarkan tatapannya, guru-guru yang menatapnya tadi kembali menundukkan kepalanya.

“Oh, Song Yoonhee. Mencari Han Gayoung sonsaengnim?” sosok pak tua Baek Woosuk sonsaengnim menghampiri Yoonhee.

Yoonhee sedikit melengkungkan bibirnya. Terasa kaku baginya. “Ne, sonsaengnim.”

Woosuk sonsaengnim tersenyum. “Gayoung ssaem sedang ke toilet. Dia akan kembali sebentar lagi. Kurasa dia juga tidak keberatan jika kau menunggunya di mejanya sana.”

“Ah, baiklah.”

Woosuk sonsaengnim memberi jalan bagi Yoonhee. Selama lima menit menunggu wali kelasnya itu, Yoonhee merasa seperti orang bodoh. Tidak tahu harus berbuat apa. Dia bukan tipe siswa yang suka menerima pekerjaan tiap kali berkunjung ke ruang guru. Kunjungannya ke ruang guru pasti tidak jauh-jauh dari hukuman, penyerahan surat pemanggilan wali murid, mendengar ceramah-ceramah memuakkan dari guru, dan perintah untuk pergi ke ruangan guru bimbingan konseling.

“Oh, kau sudah disini rupanya!”

Yoonhee mendongakkan kepalanya. Senyum di wajah Gayoung ssaem mampu membuatnya ikutan tersenyum walau samar. Yoonhee bukannya membenci para guru, ia hanya tidak suka. Tapi Gayoung ssaem dan Woosuk sonsaengnim adalah dua orang teratas yang masuk daftar pengecualian.

“Kenapa ssaem memanggilku?” tanya Yoonhee langsung.

Gayoung ssaem kembali tersenyum lembut padanya. “Aku senang minggu ini kau lebih sering masuk sekolah, kau hanya bolos dua hari, bukan?”

Senyum tipis Yoonhee hilang. Kepalanya sedikit tertunduk hingga poninya menutupi pandangannya. “Hanya itu?”

Aniyo. Aku tidak akan memaksamu untuk terus berangkat sekolah.” Perkataan Gayoung ssaem membuat Yoonhee terkejut. Gayoung ssaem tertawa kecil melihat betapa bundarnya mata Yoonhee yang tengah menatapnya. “Itu mustahil, kan? Maka dari itu aku tidak akan memaksamu. Tapi alangkah baiknya kau mulai mengurangi jadwal bolosmu, seperti minggu ini.”

Yoonhee terdiam beberapa saat. “Ne.” Tidak ada motif lain bagi Yoonhee untuk menjawab ‘ya’. Bukan berarti ia menyetujui gagasan Gayoung ssaem sepenuhnya. Tapi ini lebih karena Yoonhee menghormati Gayoung ssaem.

“Yoonhee-ya.”

Ne, ssaem?”

Tangan Gayoung ssaem mengusap perutnya yang nampak membuncit. “Minggu depan aku sudah akan tidak masuk karena cuti melahirkan.”

Yoonhee menatap perut Gayoung ssaem sejenak. Tidak pernah menyangka jika waktu berjalan secepat ini. “Geuraeyo? Aku pasti akan mendoakan supaya kelahiran putra kedua ssaem berjalan dengan lancar. Nanti saat putra ssaem sudah lahir…apa aku boleh bertemu dengannya?”

Geureom. Keundae wae? Kenapa kau ingin menemuinya?” Gayoung ssaem bisa membaca makna tersirat dari wajah Yoonhee.

“Aku…ingin bilang padanya jika aku sudah―selalu membuat ibunya kesulitan selama mengandung dirinya,” jawab Yoonhee dengan polosnya.

Gayoung ssaem ternganga mendengar jawaban yang sama sekali tidak ia duga bisa keluar dari mulut Yoonhee. Orang lain boleh berkata hal-hal buruk tentang Yoonhee, tapi Gayoung ssaem yakin Yoonhee tidak seperti yang dikabarkan dan Gayoung ssaem yakin akan itu.

“Hm, begitu,” kata Gayoung ssaem setelah berhasil menguasai kekagetannya. “Kalau begitu…aku boleh minta sesuatu darimu?”

Mwoyeyo?”

“Bersikap baiklah selama aku cuti, terutama pada wali kelas penggantimu nanti. Dan…jangan sering-sering bolos, oke? Tahun depan kau sudah kelas tiga, lho!”

 

 

***

 

 

“Kau sudah dengar?”

“Apa? Apa?”

“Wali kelas kita―wali kelas pengganti Gayoung ssaem itu sangat tampan! Dia benar-benar seperti malaikat! Aku baru melihatnya sekilas pagi tadi!”

Jinjjayo?”

“Kau tidak bercanda?”

Aniyo! Kita lihat saja nanti!”

“Kyaaaa!”

Yoonhee hanya duduk diam di kursinya dengan satu komik di tangan dan telinga yang disumpal headset warna hitam dan hijau. Sama sekali tidak tertarik dengan kerumunan siswa lain di kelasnya yang tengah sibuk membahas wali kelas pengganti mereka.

Yoonhee sama sekali tidak peduli. Sudah sangat lama ia tidak peduli pada sekitarnya. Sejak kejadian itu beberapa tahun silam.

Lamunan Yoonhee buyar saat bel masuk berbunyi. Musik yang didengarnya bahkan kalah dengar karena berlomba dengan kegaduhan kelas. Tidak lama kemudian bisik-bisik para siswa―terutama siswa perempuan, kembali terdengar. Kehebohan kecil itu tercipta ketika sesosok pria asing masuk ke kelas mereka.

Mata pria itu menyisir seisi kelas dan bertemu dengan mata Yoonhee yang menatapnya datar. “Kau!” serunya. “Kau yang disana.” Telunjuk pria itu yang tertuju pada Yoonhee memimpin tatapan satu kelas yang juga tertuju pada Yoonhee. “Lepas headsetmu atau aku akan menyitanya,” lanjutnya.

“Memang kau siapa?” tanya Yoonhee memulai argumen.

Naneun…Kim Junmyeon imnida. Wali kelas pengganti kalian selama Han Gayoung ssaem cuti melahirkan,” jawab pria itu. Tidak hanya ditujukan pada Yoonhee, tapi juga seluruh kelas.

Kelas menjadi riuh kembali. Bisikan-bisikan genit mulai terlontar dari mulut kebanyakan para siswi, kecuali Yoonhee. Alis Junmyeon terangkat menatap Yoonhee yang masih bergeming.

Ya, bukankah aku sudah menyuruhmu untuk melepas headsetmu?” tegur Junmyeon.

Yoonhee berdecak pelan. Dengan kesal ia mencopot headsetnya. Air mukanya yang tidak mengenakkan sudah mengundang tatapan aneh dari Junmyeon. Tapi Junmyeon tidak ingin mengambilnya dengan serius terlalu cepat.

Geurae, tidak perlu lama-lama untuk memulai pelajarannya. Mari kita mengenal satu sama lain lebih dekat sekarang.” Senyum manis yang dilontarkan Junmyeon kembali menimbulkan kegaduhan kecil di kalangan para siswi. Senyum yang terasa hangat dan begitu ramah. Tapi senyum itu terlihat sangat memuakkan bagi Yoonhee.

 

 

 

“Kim Junmyeon sonsaengnim,” panggil sebuah suara.

Junmyeon teralihkan dari beberapa berkas yang harus ia rapikan. Senyum angelicnya kembali muncul ketika melihat rekannya―entah masih terlalu dini menyebutnya rekan atau tidak, tapi sepertinya Junmyeon tidak bisa menemukan kata yang pas untuk Jaeho.

“Ah, Jaeho sonsaengnim. Anja?” Junmyeon menawarkan satu kursi kosong yang berada di dekatnya.

“O, geurae.” Jaeho ssaem langsung menduduki kursi itu. Kemudian ia meletakkan kopi latte yang baru saja ia beli dari vending machine di meja kerja Junmyeon. “Bagaimana hari pertamamu sebagai wali kelas dari kelas 2-2?” tanya Jaeho berbasa-basi.

“Ah, itu―” Junmyeon meminum lattenya sedikit, “―tidak ada masalah sejauh ini. Semua berjalan lancar-lancar saja.”

Mwo? Lancar?” pertanyaan bernada terkejut yang diajukan Jaeho dan mendapat anggukan dari Junmyeon tentu membuat Jaeho terkejut. “Apa tidak ada siswa yang bersikap kurang ajar padamu? Atau membolos?” selidik Jaeho.

Junmyeon nampak berpikir sejenak lalu menggeleng, “Aniyo. Tidak ada. Memangnya kenapa?”

Jaeho tidak menjawab langsung. Melainkan menatap Junmyeon dengan tatapan iri. Cukup sudah dia yang iri dengan visual Junmyeon yang tidak perlu dibandingkan dengan dirinya. Tapi kasus kali ini benar-benar membuatnya iri. Menurut Jaeho, seharusnya sudah ada sedikit kekacauan yang disebabkan karena Yoonhee. Bagi Jaeho ini sungguh tidak adil. Di hari pertama ia menjadi wali kelas Yoonhee, ia sudah naik pitam. Tapi kenapa Junmyeon bisa terlihat tanpa beban seperti itu?

“Kau…serius dengan ucapanmu?”

Junmyeon mengangguk. “Ne. Waeyo? Apa ada siswa bermasalah di kelas 2-2?” kini giliran Junmyeon yang ingin tahu. Mungkin ada sesuatu yang dilewatkan olehnya atau Gayoung ssaem.

Jaeho membenahi posisinya. Badannya kini sedikit condong ke depan dan ia berkata dalam suara yang lirih. “Gayoung sonsaengnim belum memberitahumu?”

Alis Junmyeon bertaut heran kemudian ia tertawa kecil dengan hambarnya. “Kurasa Gayoung sonsaengnim melewatkannya.”

“Ah…” Jaeho mengangguk-angguk mengerti, “Di kelas 2-2 ada siswa yang sedikit…berbeda? Ah, bukan…bermasalah? Mungkin saja…ah, molla. Sangat susah untuk mendapatkan kata yang pas untuknya.”

“Kenapa bisa jadi seperti itu?”

Jaeho tersenyum sekilas melihat bagaimana kini Junmyeon mulai tertarik dengan topik pembicaraan. Jaeho lalu menyesap kopinya dengan gaya sok keren laksana seorang eksekutif perusahaan atau konglomerat sebelum berkata, “Aku pernah menjadi wali kelas murid itu saat ia kelas satu…” Jaeho sengaja memotong ucapannya. Matanya menatap Junmyeon dengan pandangan sayu.

“Lalu?”

Kali ini Jaeho benar-benar tersenyum puas karena Junmyeon telah benar-benar tertarik dengan pembicaraan mereka ini. “Kau tahu? Di hari pertama aku menjadi wali kelasnya dia sudah bertingkah kurang ajar. Dia sudah membolos di hari pertama. Bayangkan! Membolos di hari pertama! Setelah itu dia jadi kerap membolos. Bisa dibilang ia hanya datang ke sekolah untuk memenuhi daftar hadir agar ia tidak tinggal kelas.”

Junmyeon mengangguk-angguk mengerti. “Jadi apa dia bersikap kasar pada para guru? Atau suka membully teman-temannya? Lalu kenapa ia membolos?”

“Dia…” Jaeho berusaha menggali memorinya, sambil mengusap-ngusap dagunya yang bersih dari janggut karena baru saja ia cukur kemarin. Bahkan bau krim cukur barley mint sesekali masih bisa ia cium. “Dia…lebih sering bersikap cuek dan tidak peduli dengan para guru dan sekitarnya. Kau tidak bisa bilang dia kasar pada guru karena dia hanya akan melakukan itu jika merasa terusik. Tapi tindakannya yang sering bolos sekolah sudah berhasil membuatnya mendapat cap buruk dari para guru. Kenapa dia membolos? Belum ada jawaban pasti. Hanya saja saat itu dia pernah bilang jika dia tidak suka sekolah.”

“Masalah remaja biasa.” Junmyeon kembali menyesap kopinya seraya tersenyum.

Jaeho cukup terkejut dengan tanggapan Junmyeon yang begitu tenang―teramat tenang malah. “Tapi dia itu sangat menyebalkan! Aku memperingatkanmu!”

“Ah, kalau begitu terima kasih atas peringatannya. Akan kuingat itu, tidak akan kulupakan.”

“Bagus, bagus. Memang hal itu harus kau ingat!”

Keundae…siapa namanya? Siswa itu?”

“Song Yoonhee.”

 

 

***

 

 

Junmyeon berjalan tergesa menuju kelasnya padahal bel masuk baru saja berbunyi. Tapi Junmyeon adalah tipe orang yang selalu menghargai waktu. Ia sudah berkomitmen pada dirinya sendiri jika dia tidak boleh terlambat masuk kelas. Hal baik yang paling dibenci oleh mayoritas murid.

Kelas berikutnya untuk Junmyeon adalah kelasnya sendiri. Kelas 2-2. Kelas yang terletak di lantai tiga. Membuat Junmyeon harus berterima kasih pada anak-anak tangga untuk membuat tubuhnya makin sehat dan betisnya mengencang. Baru saja Junmyeon akan tiba di kelasnya, ia sudah dikejutkan oleh seseorang yang berjalan dari kejauhan. Junmyeon segera mempercepat langkahnya.

“Kau ingin membolos?” Junmyeon menghalangi langkah siswi itu.

Siswi itu berhenti dan menatap Junmyeon. Dahi Junmyeon sedikit berkerut melihat siswi itu. Wajahnya seperti kurang ekspresi bahkan terkesan muram. Matanya terlihat sedikit cekung dengan kantung yang cukup lebar dan gelap. Bibirnya menempel di wajahnya dengan datar. Rasanya bibir itu kaku sekali untuk tersenyum.

Junmyeon mengernyit menatap siswa itu. Sekilas siswa itu memang tampak tidak baik-baik saja. Terutama jika melihat lebih jelas ke matanya. Mungkin siswa itu begadang semalaman atau apalah―Junmyeon tidak tahu dan tidak begitu peduli akan hal itu. Papan nama siswa itu bertuliskan ‘Song Yoonhee’ dan Junmyeon baru menyadari jika siswa itu adalah Song Yoonhee yang ia bicarakan bersama Jaeho sonsaengnim tempo hari. Dan Junmyeon juga ingat tentang kebiasaan membolos Yoonhee dari Jaeho.

Aniyeyo. Aku ingin pergi ke UKS, aku merasa tidak enak badan dan pusing,” sahut Yoonhee dengan suara pelan yang terdengar aneh. Apa karena ia kurang minum?

Ruang kesehatan. Mendengar itu Junmyeon jadi sanksi akan alasan Yoonhee. Tapi jika dilihat saja orang awampun bisa mengatakan Yoonhee memang ‘sedang sakit’. Junmyeon sedikit bingung apa ia harus menahan Yoonhee atau tidak. Tapi jika ia menahan Yoonhee dengan alasan ‘aku sudah tahu trik membolosnya’…bukankah itu terdengar sedikit lancang dan berani untuk seorang guru pengganti?

“Oke. Kau boleh ke UKS.” Pada akhirnya Junmyeon menyerah karena melihat wajah Yoonhee yang muramnya tidak tertandingi.

Yoonhee membungkukkan badan sekilas dan berlalu meninggalkan Junmyeon yang masih mengawasinya. Begitu Junmyeon teringat ia ada kelas, ia berlari kecil menuju kelasnya.

 

 

 

Yoonhee berjalan menuruni tangga dengan lesu. Kepalanya yang pusing ia paksa untuk berpikir kenapa wali kelas pengganti itu mengijinkannya ke UKS. Yoonhee yakin wali kelas baru itu sudah mendengar desas-desus dirinya di hari pertamanya. Dengan alasan tidak enak badan dan pusing dia percaya begitu saja?

Oh, kasus ‘tidak enak badan’ atau ‘pusing’ ini sudah jadi alibinya yang teramat kuno. Yoonhee tidak pernah benar-benar sakit. Pusing? Oh, itu hanya pusing ringan yang akan segera sembuh setelah ia minum teh panas–manis dibarengi dengan tidur di kelas. Ya, tidur di kelas, hal lumrah yang dilakukan para siswa. Tapi Yoonhee tidak suka tidur di kelas dan lebih memilih kasur empuk di UKS.

Ya, neo gwaenchana?”

Suara itu mengagetkan Yoonhee, membuatnya sedikit berjingkat terlebih saat mengetahui siapa orang yang sedang berbicara itu. Kim Jongin. Yoonhee mengedarkan pandangannya dan dia tidak melihat orang lain di tempat itu selain dia dan Jongin.

“Ka…kau bicara padaku?” kegugupan Yoonhee bukan tanpa alasan. Dia. Tidak pernah dekat dengan Kim Jongin. Hanya beberapa percakapan singkat yang tidak disengaja karena mereka satu sekolah dan kelas mereka bersebelahan, tapi TIDAK PERNAH dekat. Yoonhee berpikir Jongin berada di luar jangkauannya. Tapi sekarang apa? Sekarang Jongin malah memulai percakapan di antara mereka!

Jongin terkekeh, “Geureom! Mana mungkin aku bertanya pada tembok?”

“Mm,” Yoonhee bergumam pelan dan sedikit menundukkan kepalanya. Sungguh, dia tidak bisa tahan dengan mata seorang Kim Jongin yang menatapnya.

Neo jinjja gwaenchana?”

Kali ini giliran pernafasan Yoonhee yang berjalan tidak semestinya. Jongin mendekat padanya dan bagi Yoonhee itu terlalu dekat. Dan juga, Yoonhee berharap Jongin bisa berhenti menelisik wajahnya seperti itu.

Eo, gwaenc…gwaenchana. Sedikit kurang baik tapi kurasa…setelah istirahat di UKS aku akan baik-baik saja,” kata Yoonhee tergagap.

Jongin mengangguk-angguk dengan tampang polosnya. “Begitu.”

Eo, kurasa…aku harus pergi ke UKS sekarang. Mian.”

Aniya! Gwaenchana.” Jongin tertawa dan tidak mengetahui jika itu membuat jantung Yoonhee terasa diremas-remas. “Geurae, segeralah ke UKS dan buat dirimu lebih baik,” pesan Jongin sebelum pergi.

Yoonhee tanpa sadar tersenyum dan mengangguk kecil.

 

 

 

Aigo, bolos lagi?” tanya Minseok dengan nada tinggi pada Yoonhee yang sudah berbaring di salah satu kasur di UKS.

Yoonhee tidak berniat untuk duduk atau mengubah posisinya. Ia tetap berbicara pada Minseok dengan tubuh terbaring dan mata terpejam. “Kepalaku pusing dan aku butuh teh panas manis buatanmu, seperti biasa.”

Minseok berdecak dan segera membuatkan teh panas untuk Yoonhee. Teh panas kental dengan empat kotak gula berukuran kecil. Resep yang teramat simple yang sudah Minseok hafal di luar kepala sebagaimana ia hafal dengan hampir semua tindak-tanduk Yoonhee.

Igeo.” Minseok menyodorkan segelas teh dengan uap panas yang mengepul naik.

Aroma teh membuat Yoonhee terbangun. Tanpa mengucapkan ‘terima kasih’ Yoonhee segera meminum teh itu perlahan karena tidak ingin lidahnya terluka.

Minseok bergumam tidak jelas pada Yoonhee. Tapi kemudian, sesuatu menarik perhatiannya. “Ya! Lihat kantung matamu itu! Aigo…mengerikan sekali! Tidak bisakah kau merawat dirimu sendiri? Kau terlalu banyak begadang, tahu!”

Yoonhee menatap Minseok dengan tatapan sayu yang mengerikan. Semakin mengerikan karena efek kantung matanya itu. “Aish, sikkeureo! Memang kenapa kalau aku punya kantung mata, huh?” sewot Yoonhee.

“Itu hanya membuatmu jadi semakin menakutkan,” bisik Minseok.

Yoonhee tidak membalas Minseok lagi. Tehnya ia minum hingga hampir habis dan ia kembali bergelung dalam selimut.

“Bangunkan aku jika bel pulang berbunyi,” pesan Yoonhee dengan mata terpejam.

 

 

 

To be continued

A/N :

Yossshhaaa…this is the first chapter and what’s your thought about this? Idk, tapi apa cuma author yang ketagihan sama Junmyeon kalo dia jadi tipe bapak-bapak ato oom-oom kalo di fanfic-fanfic? xD Yah, author gak punya kata-kata buat cuap-cuap di chapter pertama ini. So, sampe disini dulu and see you next chapter! ^^

Regards,

Nuevelavhasta

11 tanggapan untuk “손생님 때문에 ― Chapter 1”

  1. Wahahahaha daebak fanficnya author!
    Keren disini suho jadi guru ahaha😆
    Tapi btw penasaran kenapa yoonhee kaya gitu?.-.

  2. Wuuuooo . Krn kak . Tnggu ini cast utamany jongin ? Ato junmyun ? Wkwkw

    Its okey . Biasany krang trtarik sm ff exo yg cast suho . Tp ini malah ktagihan wkwkw

    Smangat ya kak . XOXO ♥♡♥

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s