The True Fans are Lucky Fans (Chapter 2)

the-true-fans-are-lucky-fans-bbon-cafeposter

Judul : The True Fans are Lucky Fans

Author : ninacitra

Lenght : Chapter

Rating : General

Genre : Reality, Friendship, and Romance

Cast : Chrisca, Cella, and All Member EXO

Disclaimer : FF ini hasil murni dari pemikiran dan hati terdalam author. Semua cast adalah milik Tuhan Yang Maha Esa dan keluarganya, jika ada kesamaan dalam hal apapun mungkin kita sehati sejiwa. Butuh banget komen dan saran. Plagiat? Dosa tanggung sendiri. Siders? Cepat tobat ya

Author’s Note : Kalimat yang dicetak miring adalah flashback dan maafkan virus typo author yang telah bertebaran.

Poster by bbones @ Cafe Poster

Happy Reading ^^

><><><

Sehun POV

“Cih, dingin sekali di luar,” keluhku. Udara sangat dingin, semua orang berada di dalam rumah mereka yang penuh dengan kehangatan termasuk mereka – member EXO lainnya – yang berada di dalam dorm. Kalian bertanya kenapa aku di luar sini? Ini karena aku mendapat reward dari hyungdeul. Reward yang tidak pernah kuharapkan.

 

Flashback

Suasana di dalam dorm sangat ramai. Kenapa? Karena mereka kini tengah bermain game. Tak memerlukan kekuatan, kecerdikan, atau kekonsentrasian pemain, mereka hanya butuh keberuntungan. Mereka bermain bukan untuk menghilangkan kebosanan, tapi untuk menentukan seorang di antara mereka yang akan mendapatkan sebuah reward.

 

“Hana…Dul….Set.” Ucap salah satu member. Tidak lain dan tidak bukan dia adalah Chanyeol, orang mengusulkan game ini.

 

Game pun dimulai. Botol itu berputar di tengah kerumunan member EXO. Ketika botol itu berhenti, maka semua member akan memperhatikan moncong botol yang entah akan mengarah kepada salah satu di antara mereka. Putaran botol itu kini mulai melambat. Semua member tengah was – was. Siapakah yang akan mendapat reward kali ini? Dan dia adalah….

 

“SEHUN!” Seru – atau lebihnya bisa dibilang teriak – dari semua member. Ya, botol itu berhenti dan mengarah pada Sehun yang masih setengah sadar, maklum dia baru bangun tidur.

 

“Wae?” Ucap Sehun polos yang memang tidak mengetahui apa yang dilakukan hyung – hyungnya itu.

 

“Kau mendapatkan reward, selamat!!!” Ucap Kai dengan cengirannya yang menawan. Jika para yeoja yang melihatnya mungkin mereka akan langsung berteriak histeris, oh bahkan mungkin ada langsung tak sadarkan diri.

 

“Chukhae Sehunnie!!!” Baekhyun pun ikut – ikutan mengucapkan selamat ke Sehun dengan senyum khasnya yang errrrr sulit diartikan. Sehun bergidik ngeri melihat cengiran si Kkamjong dan senyuman si Bacon.

 

“Reward apa?”

 

“Malam ini sangat dingin dan kami pun kedinginan. Untuk itu kami memutuskan membeli makanan di luar.” Jawab D.O.

 

“Lalu?” Sehun masih tidak mengerti.

 

“Karena tidak ada yang mau keluar membeli akhirnya kami memutuskan bermain game untuk menentukannya. Caranya dengan memutar botol ini. Jika botol ini berhenti, kita akan memerhatikan arah moncongnya. Member yang telah ditunjuk botol ini akan mendapat reward.” Jelas sang pencetus – Chanyeol – dengan menahan tawa.

 

“Dan itu adalah aku?” Tanya Sehun yang hanya dijawab anggukan dari para member dengan senyuman semanis mungkin yang terpampang di wajah kesebelas member.

 

“Ayolah Sehunnie!” Rengek Chanyeol, Baekhyun, dan Kai bersamaan, oh jangan lupakan Chen.

 

“Tapi hyung, di luar sangat dingin.”

 

“Tenang Hunnie.” Luhan pun angkat bicara.

 

“Kau akan menemaniku hyung?”

 

“Bukan begitu.”

 

“Lalu apa?”

 

“Kau bisa memakai sepedaku agar lebih cepat.” Tawar Luhan.

 

“Ya… hyung sama saja.”

 

“Jika tidak mau yasudah.”

 

“Arra… arra… aku menerima tawaranmu.” Jawab Sehun menyerah.

 

“Ini, pakai kartu kreditku.” Tentu saja hanya Suho yang mau memberikan kartunya.

 

Dia mengambil jaketnya yang tergantung di balik pintu. Dengan

 

“Hati – hati Hunnie!” Teriak member exo lainnya sebelum punggungnya benar – benar hilang di balik pintu.

 

Flashback End

 

Dan di sinilah aku sekarang. Berada di luar mengendarai sepeda Luhan Hyung. Salju masih turun menyelimuti permukaan bumi. Bagaikan selimut putih raksasa yang terlihat nyaman dan empuk. Setelah ini mungkin aku akan kena flu.

 

Salju semakin turun, penglihatanku pun mulai berkurang. Tak sadar di depan seorang yeoja tengah berjalan. Aku berusaha memperlambat laju sepeda.

 

Yak, kenapa sepedanya tidak melambat? Mwoga? Remnya tidak berfungsi

 

Aku berusaha menghentikan sepeda dengan kakiku. Tapi, sia – sia saja. Tetap tidak mau berhenti, kurasa aku mengayuhnya terlalu cepat. Karena tak kunjung berhenti, aku pun berteriak untuk memperingati yeoja itu.

 

“AWAS…”

 

Tapi, terlambat. Tabrakkan tetap tak terhindarkan.

 

“Awh.. YAK, APA KAU TIDAK PUNYA MATA HAH?”

 

Astaga, baru kali ini aku mendengar seorang yeoja berteriak begitu kerasnya. Yang kutahu hanya Baekhyun Hyung yang pandai melakukannya. Matilah kau kini Oh Sehun. Kau telah membangunkan seekor singa betina dari tidur panjangnya.

 

“Mi… mianhae agassi, gwenchana?” Tanyaku pada yeoja itu. Memastikan setidaknya dia baik – baik saja.

 

“Gwenchana, hanya sedikit memar.” Jawabnya.

 

Meski begitu, aku tetap harus bertanggung jawab.

 

“Kalau begitu, aku akan mengantarmu ke rumah sakit.”

 

“Tidak usah, ini hanya luka ringan.”

 

Dia beranjak ingin pergi, tapi kutahan tangannya. Tetap saja, aku harus bertanggung jawab.

 

“Aku hanya ingin bertanggung jawab. Aku tak bisa membiarkanmu pergi begitu saja.”

 

Dia ingin melepaskan genggamanku. Kuakui tenaganya besar untuk seorang yeoja. Karena terlalu keras, tangannya pun terhempas dan mengenai topiku. Gawat, kurasa dia mengenaliku.

 

“N…neo…”

•••

 

Chrisca POV

 

“N…neo….”

 

Apa aku bermimpi? Jika iya, bangunlah Chrisca! Berkali – kali aku menampar pipiku sendiri hingga merah. Dan…… dia tetap berdiri di depanku. Oh, dia tadi sempat menahan tanganku. Bukankah itu sudah termasuk kontak fisik?

 

“Agassi… neo gwenchana?”

 

Butuh waktu untuk mencerna kalimatnya. Sepertinya aku terpana menatapnya. Aku berani bersumpah bahwa ia terlihat sangat tampan. Sadar Chrisca, kau tetap harus tenang. Kau tidak boleh terlihat seperti fans yang langsung berteriak histeris ketika bertemu idolanya. Kau tetap harus menjaga imagemu.

 

“Gwenchana. Kau… Oh Sehun?” Dia terlihat seperti em…. menahan tawanya. Apa yang lucu? Apa aku salah? Mengingat aku sejak tadi aku memikirkannya. Apa ini efek dari aku melamun tadi?

 

“W… wae? Ada yang salah?”

 

“Tidak, hanya saja… wajahmu terlihat lucu sekali. Tenang saja, kau tidak sedang bermimpi sekarang.”

 

Bodoh, aku baru sadar pipiku memerah sedari tadi dan apa dia dapat membaca pikiranku?

 

“Tentang kejadian tadi aku benar – benar minta maaf.”

 

“Gwenchana.”

 

“Kajja!”

 

“Eo.. eodiga?”

 

“Sudah kubilangkan aku akan bertanggung jawab dan jangan menolak!”

 

Dia memakai topinya yang sempat terjatuh tadi untuk menutupi wajahnya. Jika tidak, pasti besok pagi tersiar kabar yang tidak – tidak. Kurasakan kehangatan menjalar ke tubuhku. Bagaimana tidak? Dia menarik tanganku, bermaksud mengajakku pergi. Yang jelas sekarang pipiku sudah merah seperti kepiting rebus. Apa ini benar – benar bukan mimpi?

 

ŸŸŸ•••

 

“Bagimana? Lebih baik?”

 

“Gomawo.”

 

Kurasakan pipiku mulai memanas (lagi). Dia mengobati lukaku dengan plester yang dibelinya di minimarket tadi. Sekarang kami duduk di sebuah bangku yang tak jauh dari minimarket tersebut. Jantungku terus berdetak hebat. Bayangkan saja, kini aku duduk di sampingnya –  idolaku.

 

“Apa kau gila?” Kenapa dia bertanya begitu? Aku bukan orang yang dapat membaca pikiran orang lain.

 

“Maksudmu?”

 

“Orang – orang tidak ingin keluar dan lebih memilih menghabiskan waktunya untuk menghangatkan diri di dalam rumah mereka. Sedangkan kau sendirian keluar malam – malam dan hanya mengenakan selembar pakaian di cuaca yang seperti ini. Apa itu waras?”

 

“Aku hanya lupa memakai jaketku.” Jawabku seadanya. Aku sudah mengiranya bahwa saat ini aku terlihat seperti orang gila.

 

Tiba – tiba aku merasakan kehangatan yang menjalar. Dia memakaikan jaketnya kepadaku.

 

“Pakailah! Agar kau tidak terlihat seperti orang gila.”

 

“Bagaimana denganmu?”

 

“Gwenchana. Setidaknya pakaianku masih cukup tebal.”

 

“Ta.. tapi-”

 

“Kajja! Aku antar kau pulang.”

 

“Tidak usah. Rumahku dekat. Biar aku pulang sendiri. Bukankah kau ada urusan?”

 

Oh ayolah, apa lagi ini? Dia seenaknya sendiri menarik tanganku.

 

“Seorag yeoja berjalan sendirian malam – malam itu bahaya. Kudengar malam ini akan turun salju, aku hanya ingin memastikan agar kau sampai dengan selamat. Anggap ini rasa tanggung jawabku setelah menabrakmu tadi.”

 

“Baiklah.”

Oh tuhan, apa ini benar – benar kenyataan? Jika tidak, kumohon siapa saja bangunkan aku sebelum imajinasiku mulai berlebihan. Tapi, aku harap ini bukan mimpi.

 

ŸŸŸ•••

 

Author POV

 

Di Dorm…

 

“Kenapa Sehun lama sekali?” Keluh si Kkamjong.

 

“Ne, kenapa dia sangat lama? Ucap Bacon menyetujui pendapat Kai.”

 

“Apa terjadi sesuatu pada Sehun?”

 

“Bisa saja dia pingsan di jalan karena kedinginan.”

 

“Bisa saja.”

 

“Aku merasa bersalah padanya.”

 

Ucap para member karena Sehun yang tak kunjung kembali.

 

“GAWAT…” Di tengah – tengah sibuknya mereka melontarkan pendapat mereka masing – masing, tiba – tiba Luhan berteriak.

 

“Wae gege?” Tanya Lay dengan mata yang setengah terpejam. Dia tadi tertidur karena terlalu lama menunggu.

 

“SEHUN..”

 

“Ada apa dengan Sehun?”

 

“Apa dia menghubungimu?”

 

“Bagaimana dengan keadaanya?”

 

“Apa dia baik – baik saja?”

 

“Bagaimana dengan makanannya?”

 

Bertubi – tubi pertanyaan keluar dari mulut para member.

 

“Bukan itu.”

 

“Lalu apa?”

 

“Aku lupa kalau rem sepedaku tidak berfungsi.” Jawab Luhan.

 

“Aku kira apa hyung.”

 

“Rupanya hanya sepeda.”

 

“Berlebihan, begitu saja kau berteriak.”

 

Begitulah kalimat yang terlontar dari mulut mereka. Apa mereka tidak menyadari maksud dari Luhan?

 

“Pabo, bukan itu maksudku.” Ucap Luhan menanggapi.

 

“Terus?” Tanya mereka berbarengan.

 

Luhan memutar matanya. Apa sebodoh itukah mereka?

 

“Sehun tadi keluar menggunakan sepedaku, sedangkan sepedaku rusak. Pasti terjadi apa – apa.”

 

Jawab Luhan dengan menyesal. Dia merutuki dirinya. Kenapa tidak sejak tadi dia ingat?

 

“Lalu kenapa kau meminjamkan sepedamu padanya?” Apa Lay benar – benar selambat itu?

 

“Sudah kubilang aku lupa.” Kini dia juga menyesal berada di tengah – tengah orang seperti ini.

 

“Kalau begitu mari kita cari Sehun! Sebelum terjadi apa – apa padanya.” Ajak sang leader Kris.

 

“Aku ikut. Tetap saja aku yang salah.” Ucap Luhan menawarkan diri.

 

“Baiklah, biar aku, Luhan, dan Chanyeol yang pergi. Kalian tetap di dorm untuk berjaga dan jangan lupa hubungi aku jika Sehun pulang. Arra?”

 

“Ne.” Jawab para member serempak.

 

ŸŸŸ•••

 

Chrisca POV

 

“Sudah sampai.”

 

“Ini rumahmu?” Tanyanya.

 

“Ne, gomawo sudah mengantar.”

 

“Gwenchana.”

 

Hendak saja aku ingin masuk ke dalam rumah dan lagi – lagi dia menahan tanganku. Kenapa dia hobi sekali menarik tanganku?

 

“Ada apa lagi?”

 

“Ini, jaketku. Memang kau ingin membawanya sebagai kenang – kenangan dari idolamu?”

 

“Ba… bagaimana kau tahu jika aku fansmu?”

 

“Hanya insting seorang idol.”

 

“Cih, baiklah. Sekali lagi aku berterima kasih.”

 

“Chakkaman.”

 

“Apa?”

 

“Apa aku boleh tahu namamu?”

 

“Untuk apa?”

 

“Siapa tahu mungkin kita bertemu lagi.”

 

“Dan bertabrakan lagi? Tidak mau.”

 

“Oh ayolah.. setidaknya kau membalas kebaikanku.”

 

“Arra.. namaku Chrisca, puas? Jika sudah selesai bisakah kau pergi?”

 

Oh, apakah aku baru saja mengusir idolaku?

 

“Baiklah, sampai jumpa dan jangan terlalu banyak memikirkanku.”

 

Apa aku ketahuan memikirkannya? Senyum itu mengembang dan tidak lupa ia melambaikan tangannya. Oh tuhan, jika dengan bertabrakan aku dapat bertemu dengan malaikatku, aku rela melakukannya berulang – ulang.

 

ŸŸŸ•••

 

Sehun POV

 

Kurasa dia menarik juga. Jika fans – fans pasti akan berteriak ketika bertemu dengan idolanya, maka ia berbeda.

 

“Salju?”

 

Ah benar, malam ini salju pertama turun. Segera kukenakan jaketku yang sedari tadi terus kubawa. Bisa kucium aroma tubuhnya yang menempel. Wangi dan terasa lebih hangat setelah dia pakai.

 

“SEHUN!”

 

Seruan tadi membuatku menoleh pada sang pemilik suara.  Itu dia, Chanyeol Hyung. Oh, rupanya dia tidak sendirian. Ada Luhan Hyung dan Kris Hyung dibelakangnya.

 

“Yak.. kemana saja kau? Tidak tahukah kami khawatir karena kau belum pulang juga?” Omel Kris Hyung padaku.

 

“Mianhae, hanya terjadi sebuah insiden kecil.”

 

“Tapi, kau tidak apa – apa kan? Aku merasa bersalah telah meminjamkan sepedaku padamu.” Kali ini Luhan Hyung yang berbicara.

 

“Gwenchana.”

 

“Ngomong – ngomong dimana sepeda dan makanannya?” Tanya Chanyeol Hyung.

 

Gawat aku lupa. Aku terlalu panik mengajaknya pergi sehingga sepedanya kutinggalkan. Lebih tepatnya dengan makanannya.

 

“Kau meninggalkannya? Bersama dengan makanannya?”

 

“Mianhae hyung.”

 

“Sebenarnya apa yang terjadi hingga kau melupakannya Hunnie? Tapi, yasudah kita mencari sepeda – dan makanannya- dulu.”

 

“Ne hyung.” Jawabku pasrah dan jujur, aku merasa bersalah.

 

TBC

Bagaimana? Bosenin? Makin nggak nyambung? Tapi, kalau ada yang suka, nanti aku lanjutin. Sebelumnya, aku ini author baru. Awalnya cuma sekedar baca dan sekarang mulai tertarik bikin FF sendiri. Sekali lagi maaf kalo jelek banget soalnya aku ini masih pemula. Terima kasih yang udah baca dan aku hargai banget yang udah kasih komen dan sarannya.

15 tanggapan untuk “The True Fans are Lucky Fans (Chapter 2)”

  1. Thorrrr kereennn anjirr torrr kok diprotect sihh chapter 3nyaa…bagi passnyaa donggg thorrrr kereennn sekali baca dpt 3 tp yg ketiga diprotect😭😭😭😭

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s