Automatic

1426473310788

Red Velvet Series Songfic

Automatic

EXO Chen | Red Velvet Wendy

Romance,Fluff

Claralaluchaipark aka TianiEXO

“Aku menyukai warna biru, biru mata-mu”

Blue

 

Chen bersandar di sebuah pohon maple besar di atas bukit, matanya tertuju kepada seorang gadis yang sedang memetik beberapa pucuk daun teh yang sudah siap dipanen.

Gadis itu berulang kali mengusap peluhnya. Terik matahari di siang hari, tidak menyurutkan semangat gadis itu dalam menjalani pekerjaannya. Dia tampak tersenyum sesekali berbincang dengan beberapa pekerja lainnya yang jauh lebih tua darinya.

Kemudian, dengan sebuah pensil yang sudah diruncing tajam, Chen melukiskan beberapa goresan dibuku sketsa miliknya. Sambil menatap gadis itu, Chen mulai melukis.

Tangan Chen terhenti ketika sampai dibagian menggambar mata, Chen merasa ada yang mengganggu pikirannya.

Mengapa?

Mengapa? Mengapa, Ia tidak bisa melukis mata gadis itu.

Matanya, sangat berbeda dari banyak orang. Mata berwarna biru, biru yang memancarkan sebuah cahaya dan di dalam manik mata itu terdapat sebuah black hole.

Chen menopang dagunya, berusaha berpikir, bagaimana cara Ia melukis mata gadis itu. Matanya,

Matanya,

Matanya,

Membuat Chen terpaku.

 

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

 

Wendy melepas keranjang berisi penuh pucuk daun teh di sebuah tempat bersama dengan para pekerja lainnya. Sebelum pergi meninggalkan tempat bekerjanya, Wendy dan para pekerja lainnya menerima upah mereka 10000 won masing-masing.

Dengan segera Wendy melangkahkan kakinya cepat keluar dari perkebunan tersebut, namun tangannya tiba-tiba di cekat dan ditarik oleh seseorang yang tidak Ia kenal. Ia sekarang berada di balik sebuah pohon maple besar.

Sebuah buku sketsa terjatuh di hadapannya menampilkan wajah seorang gadis yang sudah hampir sempurna, kecuali di bagian matanya.

Wendy merasa tangannya sudah mulai bebas, Ia langsung saja berbalik, melihat sapa yang tiba-tiba menariknya.
Seorang lelaki disertai senyuman manis yang menghiasi wajahnya, tersenyum kepadanya sambil memasukkan kedua tangannya di saku celananya.

“Siapa kau?” Tanya Wendy karena Ia baru pertama kali melihat lelaki di hadapannya ini.

“Aku? Kau pasti akan tahu nanti” Wendy mengerutkan keningnya bingung, Ia kemudian berbalik emmbelakangi lelaki itu dan mengambil buku sketsa yang ada di hadapannya.

“Apa ini, kau yang melukisnya?” Tanya Wendy sambil menunjukkan sketsa yang sudah terlukis tersebut kepada namja itu. Namja itu pun langsung saja mengangguk, mengiyakan pertanyaan Wendy.

“Kenapa matanya tidak kau gambar?” Tanya Wendy lagi, lelaki itu terdiam sejenak.

“Matanya terlalu indah untuk digambar” jawab lelaki itu.

“Oh, kalau begitu, aku permisi dahulu” Wendy segera memotong percakapan canggung antara Ia dengan seorang lelaki yang baru Ia kenal.

“Siapa dia?”

 

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

 

Chen menutup matanya, mengingat kembali, bagaimana Ia bisa memperhatikan seorang gadis.

 

On the illusions

That I’m waiting for everyday

My heart breathes before I know it~

 

Gadis itu muncul dalam ilusi yang dibuatnya sendiri. Namun, entah kenapa, gadis yang berada di dalam ilusinya tersebut muncul dalam kehidupannya di dunia nyata.

Dirinya yang selama ini mengurung diri dalam kamar, terus berada dalam ilusi. Sekarang telah keluar dari kamarnya dan melihat dunia.

Mungkinkah ini takdir?

Chen membuka matanya kembali akibat desiran angin yang menerpa wajahnya, Ia menoleh kepada seorang gadis yang selalu Ia perhatikan, kini telah tertidur di sampingnya.

Chen dan gadis yang selalu Ia perhatikan itu, telah menjadi teman semenjak pertemuan mereka di bawah pohon maple perbukitan perkebunan teh. Gadis ini bernama Wendy, nama yang cocok menggambarkan wajahnya.

 

Your warm velvet skin,

Your lips where light lies,

And your eyes that seem’s like they got soaked in the rain,

Everything is beautiful~

 

Chen mengamati wajah Wendy,

Matanya yang seperti terendam di antara hujan,

Kulitnya yang hangat,

Dan bibirnya yang penuh dengan perkataan yang menyejukkan,

Semuanya indah menurut Chen.

 

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

 

“Chen, aku masih penasaran dengan mata gadis yang belum pernah kau lukis. Kenapa?” Tanya Wendy kepada Chen yang tengah merangkai sebuah mahkota dari bunga yang dipetiknya.

“Matanya terlalu indah”

“Indah? Seindah-indahnya pasti semua orang, akan bisa menggambarnya. Kan hanya mata saja”

“Matanya berwarna biru, biru yang memancarkan sebuah cahaya dan di dalam manik mata itu terdapat sebuah black hole” Chen menoleh kepada Wendy sambil tersenyum. Wendy hanya menghela nafasnya, Chen mungkin terlalu banyak beimajinasi.

Wendy menutup matanya, sambil menghirup udara segar perbukitan. Badannya terasa nyaman
saat bersandar pada batang besar pohon maple.

 

The sounds that scatter in me, for a moment

They tell me about you,

That you are truly my love~

 

 

Sebuah suara entah darimana bersama angin mengagetkan Wendy,

“Chen, adalah cinta sejatimu”

Suara itu membuat Wendy segera menoleh kepada Chen yang masih sibuk merangkai bunga-
bunga menjadi sebuah mahkota.

“Chen” panggil Wendy membuat Chen berbalik menatapnya.

“Apa kau sudah selesai merangkai mahkotanya?”

“Sudah, aku sekarang hanya tinggal merapikannya” Chen tersenyum.

“Apa kau mendengar suara tadi?” Tanya Wendy.

“Aku hanya mendengar suara desiran angin, memangnya kenapa?”

“Ada suara yang mengagetkanku, katanya, kau adalah cinta sejatiku” perkataan Wendy membuat
Chen Membulatkan matanya terkejut,

“Aku juga pernah mendengarnya, katanya, kau adalah cinta sejatiku” Chen dan Wendy sama-sama Saling menatap satu sama lain.

“Aku, aku, tidak bermaksud, untuk-“

“Aku menyukai biru, biru matamu” Chen memotong ucapan Wendy sambil memakaikan
mahkota bunga di atas kepala Wendy.

“Aku sangat menyukai setiap perkataanmu Wendy, itu membuat hatiku terasa terisi. Saat
aku melihat gesture kecil dirimu akal sehatku berpindah, pertamanya, aku tidak tahu kenapa. Itu
datang secara otomatis, datang secara alami” Chen tersenyum setelah mengucapkan untaian
kalimat yang terus dipendamnya selama ini. Wendy hanya bisa terpaku melihat Chen.

 

Your tender hands,

Your smiles,

In a world, that is you

Everything is beautiful~

 

“Tangan Chen yang lembut, senyumanmu, di dunia ini hanya kau yang seperti itu, semuanya
indah”

Chen sedikit terkejut dengan tanggapan Wendy, mereka kemudian tertawa bersama.
I Love The Way

You wrap my heart, it’s filling me up

At first, I didn’t know that, it just comes automatic

Even on your very small gestures, my senses move

It just come so natural

It just comes Automatic

Red Velvet Series #5

Automatic

3 tanggapan untuk “Automatic”

  1. Ya ampun akhirnya nemu ff yg castnya chen ama wendy
    Entah kenapa pas pertama liat mereka duet Chemistrynya bagus n pernah ngayal mereka jd couple
    Eh ternyata kejadian di ff ini^^
    Nice story

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s