Gotta Get Babe

 

Genre : PG 15, School life, Romance comedy, fanfic Hunji / Seyeon

Type : ONEshoot

Author : Nick White

cover: Nick White

Cast : Oh Sehun and Park Jiyeon

other cast: Lee Jieun / IU , D.O / Do Kyungsoo [EXO] , and other OC

Disclaimer: story by me and the cast belong to GOD

https://authornickwhite.wordpress.com

Copyright © 2014

DON’T PLAGIAT!!!!..

.

.

.

.

Awan terlalu gelap bahkan hujan turun sangat deras. Untunglah angin tak begitu kencang. Seorang yeoja terjebak di sekolah karena tak membawa payung. Yeoja itu baru saja pulang dari kegiatan ekstra. Park Jiyeon. Sendiri menunggu hujan berhenti.

Rambutnya yang pajang bergelombang menari-nari diterpa angina. Kulitnya yang putih pucat terkena percikan hujan hingga dingin merambat ke sekujur tubuhnya. Ia berusaha menghangatkan dirinya dan menjaga rok yang ia pakai agar tak terbuka karena angin.

“Sepertinya aku akan di sini selamanya. . . ” Jiyeon mengehela nafas.

Badan Jiyeon kini terasa meriang. Gadis satu ini memang tak tahan dengan kondisi cuaca yang berubah drastis, mungkin flu akan menjangkit.

“Harusnya aku bawa ponsel . .” Dumelnya.

Dari belakang seorang namja keluar dari sekolah. Lantas namja itu membuka payung dan lewat begitu saja. Jiyeon hanya melihat namja itu berjalan kian menjauh dengan payungnya yang merah. Sialnya otak Jiyeon sangat lama memproses. Saat namja itu sudah hilang Jiyeon baru terpikirkan untuk menumpang di bawah payungnya.

Tanpa pikir panjang Jiyeon lari sekuat tenaga mengejar namja tadi. Ia belari sambil mendekap tasnya, sepatu yang tadi mengkilat menjadi kumuh akibat menginjak kubangan lumpur. Tak lama Jiyeon belari ia berhasil menemukan namja tersebut. Jiyeon main masuk meneduh di dalam payung. Namja itu tersentak melihat kehadiran Jiyeon yang tak terduga.

“Apa yang kau lakukan?” namja itu sedikit kesal.

“Maaf boleh aku menumpang sebentar sampai halte, aku tidak membawa payung.” mohon Jiyeon memelas.

Namja itu kehabisan kata. Dia ingin menghiraukan Jiyeon dan membiarkan Jiyeon kehujanan tapi bagaimana pun juga Jiyeon adalah yeoja. Dan namja itu hanya mampu menghela nafas.

“Terserah,” namja itu melanjutkan langkahnya.

“Gomawo!” ujar Jiyeon senang.

Mereka berjalan bersama. Tak satupun kalimat terucap di mulut mereka. Jiyeon melirik ke arah namja itu berulang kali, namja itu terganggu oleh sikap Jiyeon. Ia pun menoleh dan menatap mata Jiyeon. Jiyeon terkejut dan takut.

“Ada yang aneh di mukaku?”

“Aku hanya penasaran, aku tidak penah melihatmu di sekolah. Kau anak baru?”

“Karena aku tingkat 1″

“Oh iya . . Aku baru ingat kalau aku sudah tingkat 2. Nggak heran aku belum pernah melihatmu ha ha ha…” tawa sangat canggung.

Namja itu menghiraukan Jiyeon yang sangat aneh menurutnya.

“Kau harusnya bicara formal denganku karena aku noona. Tapi kali ini aku maafkan.” Jiyeon nyengir ke arah namja itu.

“Siapa namamu?”

“Sehun”

“Sehun? Seperti pernah dengar nama itu.”

“Kita sudah sampai,” ujar Sehun.

“Okh jinjja? Cepat sekali,”

Sehun langsung meninggalkan Jiyeon di halte. Ternyata arah pulang Sehun dan Jiyeon berlawanan.

“Gomawo,” ujar Jiyeon. Sehun tak menggubrisnya.

“Apa suaraku kurang keras?” Jiyeon takut jika ia dibilang orang yang tak tau berterimakasih, jadi dia mengulangi lagi dengan nada tinggi, “Gomawo Sehun! ^0^)/” dan sambil melambai ke arahnya.

Sehun malu karenanya, ia mempercepat langkahnya.

.

.

.

keesokan harinya.

Jiyeon tiba di sekolah pagi-pagi. Tak banyak siswa yang datang tentunya. Jiyeon memang suka datang ke sekolah lebih awal, ia tak repot-repot berdesakan apalagi bertemu guru yang memeriksa kerapian. Sangat mengganggu.

Tiba di depan kelas Jiyeon membuka pintu. Jiyeon berjalan perlahan sambil menikmati terpaan angin pagi yang sejuk dari jendela.

Jiyeon melihat jendela berurutan. Cahaya matahari menerobos hingga terbentuk garis, ditambah dengan tirai yang melambai-lambai. Tapi ada hal yang lebih mengagumkan. Sosok namja duduk di jendela. Ia sedang menikmati angin pagi hari. Karena sorot cahaya matahari datang dari belakang, wajah namja tersebut gelap. Entah apa yang membuat Jiyeon terdiam menatapi keindahan yang sulit dijelaskan, pemandang itu menghipnotis Jiyeon ke dalam sensasi baru.

Namja itu menoleh ke arah Jiyeon. Ia menyadari kehadiran Jiyeon,  namun Jiyeon semakin dibuatnya terpukau oleh bayangnya. Ia seperti melihat malaikat.

“Oh my god~” gumam Jiyeon.

Namja itu turun dan mendekati Jiyeon. Saat namja itu berjalan menghampiri Jiyeon,  seakan-akan waktu melambat. Slow montion. Sorot cahaya matahari mengikuti langkahnya, angin menerpa rambutnya dan alunan musik dari surga terdengar. Sangat tampan. Kini namja itu berdiri di hadapan Jiyeon,  memandangi Jiyeon dengan heran.

“Apa yang kau lalukan di sini?” Tanya namja tersebut.

“Untuk bertobat . . ” jawab Jiyeon tanpa sadar.

“Mwo?” Namja itu semakin heran.

Namja itu memetik jarinya hingga berbunyi ‘Tak’ di depan muka Jiyeon. Jiyeon langsung tersadar dari lamunan. Jiyeon sekarang dapat melihat jelas siapa namja itu.

“Sehun? Ap-aa-apa yang ka-kau lakukan di sini?” Ucap Jiyeon tersendat-sendat.

“Seharusnya aku yang bertanya, ” ujar Sehun santai.

“Ini kelasku,” jawab Jiyeon.

“Ini kelasku sunbae,” bantah Sehun.

Jiyeon pun sadar. Ia menepuk jidatnya, “Oh iya, sekarangkan aku tingkat 2 he he he …” ujarnya malu.

“Kalau begitu aku pergi,” Jiyeon pergi ke kelasnya yang baru.

.

.

.

Istirahat datang. Jiyeon dan Jieun berada di cafeteria. Mereka makan bersama dengan menu yang sama, salad dan roti, susu stroberi.  Mereka berteman sudah sangat lama hingga kebiasaan mereka sama bahkan mereka berbagai pakaian dalam.

“Jieun kemarin aku bertemu hoobae. Dia namja.” Ujarnya sambil mengunyah makan.

“Aishh, saliva mu sampai ke pipiku!” Jieun berusaha mengelap pipinya se-bersih mungkin.

“Mian,” ujarnya cool.

“Siapa dia?” Jieun kembali ke topik.

“Sehun,”

“Sehun?”

“Iya Sehun,”

“Sehun yang itu?” Jieun menuding Sehun yang tidak jauh dari meja mereka.

Mata Jiyeon membulat tak disangka orang yang kini ia bicarakan ada di depannya. Jiyeon langsung memukul tangan Jieun agar turun tidak menuding Sehun.

“Ya! Apa yang lakukan, nanti dia tau bagaimana!”

“Di mana kau bertemu dengannya?”

“Waktu pulang sekolah. Aku lupa bawa payung, dia lewat, aku kejar  dia  terus numpang payung ha ha.” Jawab Jiyeon polos.

“Sehun sangat terkenal di sekolahan ini,”

“Jinjja?”

“Kau kemana saja, masa kau tidak dengar kabar tentang Sehun.”

“Molla”

“Dia murid tingkat 1 yang dihebohkan siswi-siswi!”

“Oh jadi yang mereka maksud hoobae yang lagi trending topic Sehun itu, makanya aku tak asing mendengar nama Sehun. Ternyata dia~”

“Jadi selama ini kau bicara tentang Sehun tapi tidak tau yang mana Sehun. Mengejutkan!”

“Tadi pagi aku bertemu dengannya di kelas kita dulu. Dia duduk di jendela, wauu, aku mengingat kejadian itu tiba-tiba jantungku deg-deg-deg,” raut wajah Jiyeon berubah menjadi aneh.

“Kau suka padanya?”

“Jinjja?!”

“Kenapa kau balik tanya aku?”

“Jadi kalau kita bertemu orang, terus kita deg-deg-deg sangat cepat,  tiba-tiba dengar musik surga dan waktu melambat, itu berarti aku suka padanya?” Jiyeon menatap Jieun sungguh-sungguh menanti kepastian Jieun.

“Lebih tepatnya kau jatuh cinta saat pandangan pertama,”

“Eotteokhe?”

“Mwo eotteokhe?”

“Aku harus apa?”

“Nyatakan cinta,”

“Gimana kalau dia tidak menerima perasaanku, ini pertama kali dalam hidupku aku jatuh cinta,” ujarnya cemas.

“Kau tidak akan mati,”

“Hmnn… ” Jiyeon berpikir sambil melahap makanannya.

“Lakukan saja,” rayu Jieun.

Hal baru dan sensasi baru dalam hidupnya. Jiyeon berpikir matang-matang untuk ke depannya. Kyungsoo berjalan melewati mereka. Jieun langsung berdiri. Ya teman Jiyeon satu ini tergila-gila dengan Kyungsoo. Kemana dan di mana pun Kyungsoo pasti Jieun mengikutinya.

“Kyungsoo-ya!” Panggil Jieun girang.

“Jiyeon-ah, aku harus mengejar pangeranku, kau bisa cerita pas pulang sekolah nanti,” Jieun meninggalkan Jiyeon dan mengejar Kyungsoo.

“Na eotteokhe~” ujar Jiyeon lemah.

.

.

.

Saat pelajaran Jiyeon menyempatkan dirinya menengok keluar jendela. Suara gaduh yang memamerkan kesenang membuat perhatian Jiyeon beralih. Iya melihat dan mendengar seruan para namja yang asik bermain bola. Mereka saling oper bola, memanggil nama satu sama lain. Jaebum, Jackson, Jong in, Taemin dan Sehun. SEHUN?! nama Sehun terdengar di telinga Jiyeon, lantas ia mencari keberadaan Sehun.  Matanya mengabsen setiap pemain. Dan rambut Sehun yang khas tertangkap lensa matanya.

Jiyeon melihat Sehun yang tersenyum. Berbeda dengan sifatnya yang dingin. Sehun sangat cerah. Lagi-lagi Jiyeon mendengar alunan musik surga, senyuman manis menghiasi wajahnya yang cantik.

“Sehun~♥”

.

Pulang sekolah Jiyeon berencana untuk menyatakan perasaannya pada Sehun, ia menunggu di sebelah loker Sehun. Sudah lama ia menunggu Sehun, jantungnya makin tak karuan.

Dan Sehun datang saat senja tiba. Itu berarti Jiyeon menunggu selama 1 jam lebih. Jiyeon tersentak mendapati Sehun berdiri di hadapanya, Jiyeon hanya diam membatu. Sehun menghiraukan keberadaan Jiyeon,  ia mengambil barangnya yang di loker lalu menutup lokernya dan melangkah pergi. Jiyeon pun sadar dari lamunannya lagi, kali ini dia berpikir cepat. Jiyeon menyergap siku Sehun. Sehun berbalik dan menatap Jiyeon datar. Jantung Jiyeon berdetak kencang.

“Saranghae!” Kata itu keluar begitu saja dari mulut Jiyeon.

Jiyeon langsung membekap mulutnya. Mata Jiyeon pun terbelalak.

“Mwo?” Sehun terkejut.

Jiyeon memberanikan diri membuka mulut,  ia menatap Sehun dengan keberanian yang ia punya, “Nanuen neo reul joahae~”

“Ha?”

“Eotteokhe?” tanya Jiyeon dengan malu.

Kakinya merapat, rona wajah Jiyeon menjadi merah delima. Jiyeon berusaha menatap mata Sehun walaupun kadang menunduk kadang mendongak ke atas. Tangan Jiyeon berkeringat. Ia takut sekali mendengar jawaban Sehun.

“Aku,” ucap Sehun setengah.

Jantung Jiyeon kian berdetak kencang. Mendengar jawaban Sehun serasa mendengar suara  bom nuklir.

“Aku tidak suka yeoja tua.” sambungnya dengan wajah datar.

Sehabis Sehun berkata tiba-tiba Jiyeon mendengar suara pecah. PYAR! Dan yang pecah bukan jendela ataupun benda lain di sekitar mereka. Suara pecah itu dari hati Jiyeon.  Iya betul! Yang pecah hatinya. Betapa menyedihkan ditolak karena lebih tua satu tahun.

“Akh!” Jiyeon shock berat. Mutulnya menganga lebar.

Sehun berbalik dan pergi begitu saja. Jiyeon langsung menutup mulutnya dan belari ke depan mencegah Sehun, kedua tangannya terlentang. Sehun pun berhenti.

“Jamkaman!” seru Jiyeon. Antara takut dan dipaksa untuk berani menatap Sehun.

“Dengarkan aku sebentar!” seru Jiyeon yang gugup.

Sehun menatap Jiyeon dengan heran.

“Tak masalah kau menolakku karena aku tua. Tapi aku akan berusaha sekeras mungkin merubah pandanganmu padku. Aku akan membuatmu suka dengan yeoja tua ini, dan aku tidak akan berhenti. Jadi berhati-hatilah!” Jiyeon menuding wajah Sehun dengan percaya diri.

Keberanian Jiyeon pada akhirnya membara. Sekarang Jiyeon menatap dengan mantap tanpa keraguan, tak kalah dengan senyum percaya dirinya.

“Kau akan menyukai yeoja tua ini bahkan tergila-gila dengan tubuhnya yang kecil ramping, kulit yang mulus nan putih ini dan tak bisa lepas dari yeoja tua ini!! Ingat itu, okay?! Ha ha ha!” seru Jiyeon girang.

Jiyeon kehilangan kesadarannya bahkan ia tak ingat apa yang ia ucapkan baru saja. Jiyeon dengan riang melangkah pergi pulang ke rumah. Jiyeon puas sekali mengeluarkan isi hatinya.

.

.

.

Keesokan harinya Jiyeon menunggu Sehun di depan gerbang sekolah selama 30 menit. Beruntung bulan ini adalah musim semi jadi dia tidak membeku. Jiyeon menyaksikan setiap murid yang masuk, Jiyeon berfokus pada murid yang tinggi dan miliki rambut yang khas. Jika terdeteksi berarti murid itu adalah Sehun.

Kepala hitam, kepala pirang, kepala coklat, okh ‘0’)! kepala hitam lagi -__-), kepala kepala kepala…. SEHUN!!! Jiyeon berlari mengejar Sehun. Lalu ia melambatkan kecepatannya menjadi normal. Jiyeon membuatnya seolah-olah ia tak sengaja bertemu Sehun. Jiyeon berjalan santai lalu berjajar dengan Sehun.

Jiyeon pura-pura terkejut, “Omo!” Jiyeon memamerkan ekspresi terkejut yang dibuat-buat.

“Ternyata Sehun,” Jiyeon meringis ke arah Sehun. Sehun berjalan sambil menatap Jiyeon datar.

“Annyeong Sehun-ah!~”

“…. . . …” Sehun menghiraukan Jiyeon dan tetap berjalan.

“Kau tampak tampan sekali hari ini.”

“….. . . . …”

“Kau sudah sarapan? Makan apa? Pagi jangan lupa sarapan, makanlah yang berserat. Kalau tidak ada waktu buat makanan coba goreng kentang, kau tau satu kentang yang digoreng bisa menaikkan berat badan 1kg loh,”

Ya Jiyeon terus mengoceh tanpa jeda. Sehun pun tetap menghiraukan Jiyeon. Mereka berjalan bersama sepanjang koridor hingga semua siswa termasuk siswi cemburu melihat kedekatan mereka.

“Aku suka anjing, kau suka anjing?” Jiyeon bertanya dengan semangat.

“…… . .  .”

“Aku punya anjing, namanya Wang. Dia suka sekali makan lipstikku, jadi waktu aku beli aku simpan di lemari. Padahal aku beli lipstik itu pakai uang saku, harganya mahal tapi dimakan wang~”

“……..”

“Apa yang kau tidak suka Sehun?” Jiyeon memandangi Sehun dengan mata yang berbinar.

“Kau,” ujarnya santai.

“Gwenchana, aku suka kamu kok kekeke~!” Jiyeon terkekeh dan tersipu malu, ia memukul bahu Sehun sambil tangan satunya menutupi muka.

“Aku senang ternyata dari gerbang sampai sini ternyata kau mendengarkan ocehan kekekek~! Aiiiguuu!! Aku malu tau ih.. eotteokhe (っ^///^)”

Dan Jiyeon mulai bertingkah tidak wajar, senyum-senyum sendiri malu-malu sendiri dan malu-maluin diri sendiri. Jiyeon berada di dunianya sendiri.

“Otak mu memang bermasalah,” Sehun memandangi Jiyeon dengan pandangan aneh.

“Jinjja? Mungkin karena otakku penuh dengan NAMA MU(人´∀`*)!!” Dan Jiyeon terlalu polos hingga ia tak sadar telah menggombali Sehun.

Sehun yang mendengar Jiyeon menggombalinya langsung bulu kuduknya berdiri merinding seketika.

“Kau memang stress,” Sehun sangat risih apa lagi melihat Jiyeon kian bertindak aneh. Malu-malu sendiri.

“Aku stress karena kamu ~ kyaaaaa!!!o(≧∇≦o) ” Jiyeon heboh sendiri.

Dan Sehun yang mendengarnya ingin muntah.

“Kau perlu pergi ke rumah sakit, periksa kejiwaanmu sepertinya kau kejiwaanmu terganggu,” kata lain Sehun mengatai Jiyeon gila.

“Aku cuma butuh cinta kamu, Sehun. Kyaaa, eotteokhe aku malu kekeke~”

Sehun tak tahan mendengar gombalan Jiyeon, ia melototi Jiyeon penuh kekesalan. Sehun menghentikan langkahnya lalu menghadap Jiyeon. Jiyeon terkejut kenapa Sehun berhenti. Ia menatap mata Sehun dan Jiyeon melihat kemarahan Sehun

“Keumanhae,” ia memberi tekanan pada ucapannya bahkan gertakkan giginya terdengar.

Jiyeon otomatis membeku dan berhenti bertingkah aneh. Jiyeon mengerutkan bibirnya lalu mangguk-mangguk. Wajah Jiyeon terlihat melas dan imut. Sehun melanjutkan langkahnya dan mempercepat. Jiyeon mengekor dari belakang.  Tiba-tiba Sehun masuk ke dalam kelas. Jiyeon terkejut, ia merasa waktu sangat cepat hingga tak sadar sudah sampai.

“Sampai bertemu Sehun!  ^0^)/ ” seru Jiyeon dari luar kelas. Ia pergi menuju asalnya.

.

.

.

Waktu istirahat Jiyeon membeli dua puding, yang satunya ia berikan untuk Sehun. Langkahnya yang riang mengantarnya kepada Sehun. Sehun sedang menikmati makan siangnya dengan teman-temannya, mereka nampak sangat seru berbicara bahkan senyum tergaris sangat menyilaukan di mata yeoja.

Jiyeon berdiri di samping belakang Sehun. Jiyeon menaruh puding di meja, Sehun berbalik dengan raut wajah heran. Kornea Sehun telah menangkap jelas sosok Jiyeon, seketika mood-nya lenyap.

“Itu puding coklat dariku, Sehun-ah, dimakan oke?!” Jiyeon senang sekali tapi Sehun terganggu.

Sehun kembali makan dan menghiraukan Jiyeon.  Teman-teman Sehun asik menggoda Sehun karena ia mendapat puding dari kakak kelas yang cantik, yaitu Jiyeon.

“Cieee ~” goda teman Sehun bersamaan. Satunya menyikut lengan Sehun. Jiyeon tersipu malu.

“Kalian berdua pacaran hahahaha!”  Chunhee menggoda Sehun. Jiyeon makin tersipu malu mendengarnya.

“Eotteokhe ^///^)” Jiyeon mengipas-ngipas mukanya yang panas oleh sensasi asmara.

“Mwo eotteokhe! Aku tidak berpacaran dengan yeoja tua ini!” ujar Sehun kesal.

“Tidak pacaran, kenapa kau bicara informal pada sunbae,” serang Daesung. Dan tertawa jail keluar dari mulus mereka.

“Yeoja tua gimana, orang sunbae sangat cantik dan belum beruban. Kau rabun cinta ya, Sehun wkwkwk!” ejek Chunhee lagi.

Sehun sangat geram dibuatnya. Emosinya memanas. Tapi Jiyeon kegirangan.

“Siapa namamu sunbae?” Dong Hoon bertanya dengan manis.

“Namaku Park Jiyeon, tingkat 2.” Jiyeon menjawab dengan lembut.

“Saya Lee Chunhee,”

“Saya Dong Hoon”

“Saya Daesung,”

“Dan yang itu Sehun pacar noona,” ejek Daesung lagi.

“Cheon manna-yo” ujar Jiyeon senang sambil menunduk berulangkali.

“Bangapseumnida sunbae,” sahut mereka kompak kecuali Sehun.

“Sunbae boleh saya panggil noona, agar kita cepat akrab.” ucap Chunhee.

“Ne, silahkan panggil aku noona,” jawab Jiyeon dengan senang hati.

“Wooooow!!” mereka terkesima bersama.

“Kalian bertiga berhentilah bertindak konyol,” geram Sehun yang malu.

“Noona bergabunglah dengan kami,” ajak Daesung.

“Kenapa kau mengajaknya makan bersama kita, aku tidak suka dia di sini,” protes Sehun yang marah-marah.

“Kau kasar sekali jadi namja,” ejek Dong Hoon.

“Ah tidak, aku makan bersama dengan temanku. Kalian lanjutkan makan tanpaku. Aku pamit dulu, annyeong!~ ” Jiyeon kembali ke mejanya.

“Ck, kau homo,” ejek Daesung.

“Mwo?!” Seru Sehun.

“Yeoja cantik disia-siakan kalau aku jadi kau bakal aku sikat!” ujar Dong Hoon semangat.

“Dia bukan tipeku,” Sehun membela dirinya sendiri.

“Aku pegang omonganmu, kalau sampai kau suka dengan Jiyeon noona kau kehilangan uang 10000 won dan sebulan mengerjakan tugas rumah kita” smirk Dong Hoon.

“Kalian saksi hidupnya ya,” tambah Dong Hoon sambil menunjuk Sehun, Chunhee dan Daesung berganti.

“Joah!” kompak Daesung dan Chunhee bersamaan.

.

.

.

Dan pulang sekolah Jiyeon menunggu dan memandangi Sehun yang  sedang menggubris loker. Jiyeon memasang muka yang menggemaskan.

“Sehun gimana tadi pelajarannya,”

“… . . ..”

“Okh!’ Jiyeon melihat benda yang tak asing di loker Sehun, “itu rilakuma! Kau punya?! Aku suka rilakuma!” sambungnya girang.

Sehun langsung membanting pintu lokernya.

“Ya, kau tidak menghargai privasi orang lain, berhenti melihat isi lokerku,” perintah Sehun.

“Arraseo, mianhae Sehun-ah,” ujar Jiyeon melas.

Sehun berjalan Jiyeon mengekor dari belakang sesekali berjalan di samping Sehun.

“Kau suka musim apa Sehun?  Aku suka musim dingin, biasanya waktu kecil aku dan oppa ku buat manusia salju.”

“… . . . ….”

“Kau tau tidak kalau kau pijat kupingmu saat pusing, pusingnya bisa hilang.”

“…. . . . …”

“Oh oh oh!” Jiyeon heboh lagi

“Kalau kau makan makanan pedas, tepuk kepala nanti kau tidak terasa pedas,” sambungnya.

“Apa kau akan terus mengikutiku sampai rumah?”

“Eh?”

“Berhenti mengikutiku, kau sangat mengganggu!”

“Arraseo, besok pagi aku akan menunggumu di depan gerbang lagi!” sahutnya riang.

Jiyeon berjalan ke arah perlawanan dengan Sehun. Sehun diam memastikan Jiyeon benar-benar pergi menjauh. Jiyeon berbalik. Ia menatap Sehun dari kejauhan sambil berjalan mundur.

“Sehun-ah!” Jiyeon berteriak dari kejauhan.

“Sehun tampan!!”

“Saranghae!” Jiyeon melambai ke arah Sehun.

“Sampai ketemu lagi! ^0^)/ ” Jiyeon berbalik dan berlari menjauhinya.

“Mwoya!” gumam Sehun kesal.

.

.

.

Biasa ia suka begadang menonton drama. Sekarang Jiyeon tidur lebih awal agar bertemu Sehun secepatnya. Yang dulu susah sekali dibangunkan sekarang Jiyeon baru satu detik mendengar alarm ia langsung bangun dengan energi penuh.  Dulu benci senin sekarang menunggu senin.

Dan berhari-hari Jiyeon selalu mengekor Sehun bahkan satu sekolah mengira Jiyeon dan Sehun sudah berpacaran. Setiap penghuni sekolah hapal betul jadwal Jiyeon setiap hari. Berada di depan gerbang, makan bersama saat istirahat dan menunggu Sehun di depan loker.

Tidak memakan waktu lama Jiyeon dapat akrab dengan teman Sehun. Jieun pun ikut serta. Jieun dan Jiyeon makan bersama Sehun dan temannya. Seperti biasa mereka menggoda Jiyeon dan Sehun.

“Ya, hubungan kalian begini-begini saja?” goda Daesung.

“Jangan-jangan kau suka namja,” imbuh Chunhee.

“Ya ya ya, sudah hentikan,” pinta Jiyeon.

Tapi Sehun tak memperdulikan seperti biasa dan hari ini mood Sehun turun karena pertengkaran antar saudara, Oh Soo namanya. Oh Soo pergi dari rumah, ia tak pulang semalam. Oh Soo pergi membawa pergi guci kesayangan ibu mereka, sudah pasti ia menjual untuk membeli sesuatu. Ibu mereka stress memikirkan kelakuan Oh Soo yang kelewatan, dan Sehun yang bersusah payah mencari Oh Soo.

“Sehun kau ada masalah,” Jiyeon peka apa yang Sehun rasakan. Ia merasa ada yang aneh dari Sehun.

“Sehun salah tingkah berada didekat noona,’ cletuk Dong Hoon.

“Berhenti lah berlagak keren di depan Jiyeon noona,” goda Chunhee.

“Ya berhenti! Sehun sedang tidak enak badan,” ujar Jiyeon.

“Itu karena noona di samping Sehun,  dia jadi aneh,” tambah Dong Hoon.

“Woooow” kompak mereka bertiga ditambah Jieun.

“Ayo jadian! Jadian! Jadian! Jadian!” seru mereka berempat.

Brak! Sehun menghantam meja lalu berdiri diteruskan melangkah pergi. Semua orang melihat ke arah meja Sehun. Tiba-tiba sunyi dan tegang.

Jiyeon mengikuti Sehun dari belakang.

“Ada apa dengannya?” Dong Hoon dengan polos bertanya.

“Dia lagi menstruasi,” cletuk Daesung.

“Apa tidak apa-apa?” Jieun cemas.

“Tenang saja noona, besok masalah kelar,” jawab Chunhee.

Jiyeon berusaha mengejar Sehun dari belakang. Dan Sehun membawa dirinya di ruangan musik, ruangan itu sepi. Sehun masuk di ruangan musik di ikut Jiyeon setelahnya. Sehun diam di depan papan tulis. Ia menghela nafas. Jiyeon yang cukup jauh dari jarak Sehun, juga ikut diam. Ruangan menjadi kian sunyi.

“Sehun,” ucap Jiyeon ragu.

“Bisakah kau pergi, ” ujar Sehun lemah.

“Kau sedang dalam masalah?”

“…. . . . ..”

“Cerita lah padaku, aku akan membantu sebisa mungkin,”

“… . . ……”

“Sehun?”

“….. . . ….”

“Sehun?”

“… . . ….”

“Se-” Sehun berbalik menghadap Jiyeon.

Jiyeon terkejut melihat ekspresi marah Sehun, baru pertama kali ia melihat Sehun marah.

Sehun berjalan cepat menuju Jiyeon. Ia mencengkeram bahu Jiyeon lalu menghantamkan tubuh Jiyeon ke papan tulis yang tergantung di tembok.

Jarak antara mereka sangat dekat. Jiyeon dapat melihat dengan jelas wajah serta mata Sehun. Jiyeon dibuatnya takut. Kini kedua tangan Sehun mencengkeram pergelangan kedua tangan Jiyeon. Sehun menahan kedua tangan dan tubuh Jiyeon pada papan tulis, Jiyeon sama sekali tak bisa bergerak kalah tenaga dengan Sehun.

Sehun menatap Jiyeon dengan tatapan marah, “Menyingkir lah dari hidup ku!!” bentak Sehun.

Jantung Jiyeon terasa berhenti dan sesak nafas. Ia sangat takut melihat Sehun marah.

“Kau selalu mengikutiku kemana pun aku pergi, apa kau tak punya rasa malu, di mana harga dirimu! Kau mengganggu hidupku!” Sehun meledakkan emosinya.

Sehun dapat merasakan tangan Jiyeon bergetar hebat.

“Aku . .. ak-aku… hanya ingin membantumu …” sahut Jiyeon ketakutan.

“Aku tidak butuh bantuanmu!! Malah kau sebenarnya masalah bagiku!”

“Mi-mi-mianhae Sehun-ah~” Jiyeon bergetar hebat.

“Pergilah dari hidupku, jangan pernah muncul di hadapanku lagi, dan lupakan aku. Karena aku tidak akan mungkin menyukaimu apalagi mencintaimu!” Sehun tetap marah-marah.

“Eotteokhe? Aku tidak bisa~ kau orang pertama yang membuatku jatuh cinta. Tidak apa-apa kau tak membalas perasaanku tapi jangan larang aku untuk bertemu denganmu~” ujar Jiyeon sekuat tenang.

“Baik! Aku tau! Jika begini aku pakai cara lain” seru Sehun marah.

Sehun kian menekan tubuh Jiyeon pada papan tulis, kedua tangannya kian mengetatkan cengkeraman pada kedua pergelangan tangan Jiyeon. Jiyeon merintih kesakitan.

Dengan cepat Sehun menundukkan kepala dan berusaha mencium bibir Jiyeon.  Jiyeon berusaha memberontak tapi tubuhnya terkunci oleh tubuh Sehun, hanya kepalanya yang bisa ia gerakkan untuk menghindari ciuman Sehun.

“Sehun!! Apa yang kau lakukan!! Kyaaa!!!” Jiyeon terus menggerakan kepalanya demi menghindari bibir Sehun.

Sehun dengan agresif mengikuti gerak kepala Jiyeon agar dapat mencium bibir Jiyeon.

“Aaaa!!! Hentikan!!!” ronta Jiyeon.

Sehun tak menyerahkan, ia bermain kasar dengan Jiyeon. Tak habis akal, Sehun menempelkan jidatnya di jidat Jiyeon. Tapi Jiyeon tetap berusaha keras.

“Sehun!! Sehun!! Se-!” Sehun berhasil membukam bibir Jiyeon.

“Emmnn! Mnnn!! Mnnnnn!!!” Erang Jiyeon.

Jiyeon mengerutkan bibirnya seperti bibir nenek yang tak punya gigi. Sehun berusaha masuk ke dalam mulut Jiyeon tapi ia kesulitan. Tangan Sehun satunya melepaskan cengkeraman pada tangan Jiyeon lalu turun dan menyentuh paha Jiyeon. Jiyeon tersentak dan tanpa ia sadari ia membuka mulut. Kesempatan bagi Sehun, tanpa menunggu lama Sehun melumat bibir Jiyeon.

Tanpa rasa ampun Sehun menekan bibir Jiyeon hingga kepalanya memiring ke kanan dan ke kiri. Begitu kasar dan ganas ciuman Sehun,  ia menyesap kasar bibir Jiyeon bergantian hingga suara decakan kecupan terdengar. Lidah Sehun bergesekan dengan lidahnya. Jiyeon berusaha berhenti tapi kian ia berusaha lepas, bibir Sehun semakin bebas mempermainkannya.

Pasokan oksigen Jiyeon hampir habis tenaga pun menipis. Jiyeon menggigit bibit Sehun dan akhirnya Sehun melepaskan dirinya. Jiyeon mendorong tubuh Sehun darinya. Jiyeon menghirup kasar udara agar memenuhi pasokan oksigen.

“Baik aku tidak akan mengikutimu lagi ~” ujar Jiyeon lemah.

“Aku tidak akan muncul di hadapanmu,” Jiyeon berjalan keluar dari ruangan itu. Jiyeon sangat lemah. Hatinya hancur.

Sehun berbalik, “Argh!!!” teriaknya frustasi.

.

.

.

Pulang sekolah Sehun tak lagi melihat Jiyeon berdiri di depan lokernya. Sehun merasa bebas. Ia berjalan pulang ke rumah. Iya sepi, sudah tak terdengar ocehan Jiyeon lagi. Seperti dulu.

Saat ditengah perjalanan Sehun bertemu dengan Oh Soo di jalan.

“Yakkk!! Neo ma!!” Sehun berteriak penuh amarah.

“Sial!” gumam Oh Soo.

Oh Soo langsung tancap gas kabur dari Sehun. Sehun pun mengejar Oh Soo.

“Yak berhenti!”

“Ampun hyeong!!!”

“Oh Soo!!”

Dan 200 meter mereka kejar-kejaran kemudian….

“Yak neo! Kau harus pulang ke rumah! Eomma menangis gara-gara kau!”

Sehun berhasil menangkap Oh Soo, ia menyeret Oh Soo kembali pulang.

“Hyeong Mianhae!!”

.

.

.

Sudah 3 minggu Sehun tidak diganggu Jiyeon. Tidak ada sapaan yang menjengkelkan, tak ada ocehan dan tidak ada yang menunggunya sampai pulang lagi. Semua warga sekolah mengira Sehun sudah putus dengan Jiyeon. Para siswi bahagia karena mendapatkan kesempatan lagi.

Istirahat Sehun makan bersama teman seperti biasa.

“Ya baikkan dengan Jiyeon noona sana,” ujar Daesung.

“Acara makan kita kurang ramai tanpa Jiyeon noona,” imbuh Chunhee.

“Kalian punya masalah apa sih?” tanya Dong Hoon.

“Memang dari dulu aku tidak punya hubungan dengannya,” tiba-tiba Sehun memakan cabai utuh.

“Wahhh!! Pedes!!” Sehun girap-girap.

“Minum minum!” Dong Hoon memberikan air padanya.

Sehun meminumnya.

“Tepuk kepalamu  biar gak kerasa pedas,” usul Daesung.

“…… . . …” Sehun mencoba menepuk kepalanya tapi tiba-tiba ingat perkataan Jiyeon.

Flashback

“Oh oh oh!” Jiyeon heboh lagi

“Kalau kau makan makanan pedas, tepuk kepala nanti kau tidak terasa pedas,”

Flash end

Dan saat pelajaran Sehun pusing karena pelajaran matematika, ia memijat kupingnya dan ia teringat Jiyeon lagi

“Kau tau tidak kalau kau pijat kuping mu saat pusing, pusingnya bisa hilang.”

Dan saat pulang ia bertemu di jalan anjing dan lagi lagi ia teringat Jiyeon.

“Aku suka anjing, kau suka anjing?” Jiyeon bertanya dengan semangat.

“.. . . …..”

“Aku punya anjing, namanya wang. Dia suka sekali makan lipstikku, jadi waktu aku beli aku simpan di lemari. Padahal aku beli lipstik itu pakai uang saku, harganya mahal tapi dimakan wang~”

Flash end…

“Aku tak suka kau!” ujar Sehun emosi pada anjing.

Waktu tida di rumah ia melihat Oh Soo tiduran di sofa sambil menonton TV.

“Oh Hyeon kau pulang,”

“… . . ….”

“Eomma pergi dengan appa, tidak ada makanan tapi aku baru saja masak kentang goreng, aku letakan di meja. Makanlah!

Kesekian kalinya ia teringat ucapan Jiyeon lagi.

Flash back…

“Kau sudah sarapan? Makan apa? Pagi jangan lupa sarapan, makan lah yang berserat. Kalau tidak ada waktu buat makanan coba goreng kentang, kau tau satu kentang yang digoreng bisa menaikkan berat badan 1kg loh,”

Flash end ….

Sehun tidak memakan kentang goreng, ia langsung pergi kekamar, menghempaskan tubuhnya di kasur memandangi atap. Tanpa ia sadari, Sehun flashback mengenang hari-harinya bersama Jiyeon.

“Arghh!” Sehun menutupi mukanya dengan bantal. Ia tidak mau mengakui bahwa dirinya merindukan Jiyeon.

.

.

.

Paginya saat Sehun meletakkan barangnya di loker ia bertemu dengan Jiyeon tapi Jiyeon sama sekali tak memandang Sehun. Dan Sehun merasa aneh. Dulu dia yang menghiraukan Jiyeon sekarang Jiyeon lah yang menghiraukannya.

Dan pulang sekolah ia berjalan sendiri di koridor, tiba-tiba ia melihat Jiyeon tersenyum dengan Dong Hoon. Entah Sehun emosi sendiri melihatnya. Ia seperti dapat dorongan, Sehun berjalan cepat menghampiri Jiyeon dan Dong Hoon. Ia tidak tahan melihat senyum manis Jiyeon keluar di hadapan Dong Hoon. Tidak rela. Takut kehilangan sesuatu.

Sehun menarik tangan Jiyeon sebelumnya ia melempar uang 10000won pada Dong Hoon karena Sehun telah gagal dengan janjinya yang tidak akan suka dengan Jiyeon.  Jiyeon ditarik sampai lapangan sekolah. Sehun mengayunkan badan Jiyeon ke depannya.

“Yak neo, apa kau akan terus menghiraukanku?! Kau masih marah denganku?!’ Sehun meledakkan uneknya.

“Bukannya kau sendiri yang menyuruhku menjauhimu~” jawab Jiyeon lemah.

“Ak-” Sehun kehabisan kata. Benar semua yang dikatakan Jiyeon.

“Aku menepati janjiku. Aku tidak mau mengganggumu dan membuatmu kesal lagi.”

“Bagus! Aku hanya mengetesmu! Pergi!” Sehun mengusir Jiyeon.

“Eoh, annyeong~” ucap Jiyeon lemah. Jiyeon berbalik dan melangkah pergi.

“Kau benar-benar pergi!?” tanya Sehun emosi.

Jiyeon berbalik, “Kau yang menyuruhku pergi,” Jiyeon menangis.

“Aku cuma mengetesmu!” sahut Sehun kesal.

“Kalau kau melangkah lagi kau tidak akan boleh sama sekali melihatku, menemuiku apalagi berada di sekitarku!” ancam Sehun kesal.

Jiyeon tak bergerak sama sekali. Bingung memilih yang mana. Jiyeon masih ingin disisi Sehun dan melihatnya.

Akhirnya Jiyeon menangis, “Aaaaaa!!!(TToTT . . . . aku masih ingin melihat mu.. ak-akuu.. huaaaa bogoshipta~ bogoshiposeo~” Jiyeon merengek seperti bayi.

Sehun berjalan ke arahnya. Sehun menarik Jiyeon dalam pelukannya. Tangan kanan Sehun mengusap kepala Jiyeon dengan lembut dan penuh kasih sayang. Tangan kirinya mendekap erat tubuh Jiyeon. Sehun menumpangkan dagunya di kepala Jiyeon.

“Huaaaaa… bogoshipo Sehun-ah! Setiap hari aku ingin bersama mu huaaaa aaaa aa Sehun-ah!”

“Kau benar semuanya. Aku menyukai yeoja tua sepertimu,” ujarnya dengan senyuman hangat.

“Hisk hisk,”

Sehun memegang kedua pipi Jiyeon, ia mengarahkan kepala Jiyeon ke atas menatap matanya. Dengan perlahan Sehun mencium bibir Jiyeon. Kali ini Sehun mencium Jiyeon dengan lembut.  Jiyeon bahagia bersama Sehun dan tujuannya terkabul. Sekarang besok dan lusa, Jiyeon bebas bersama Sehun.

……Tamat…..

10 tanggapan untuk “Gotta Get Babe”

  1. Ngekk.. ngakak banget sama tingkah laku Jiyeon.. Jiyeon keren!
    Ceritanya bagus bikin ngakak..
    Keep writing buat Author!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s