Hacker (Chapter 3)

tumblr_mmzy17YBw81ru2gcgo1_500

 

 

 

Tittle :

Hacker

Author :

Bloomplinkrose

Length :

Chaptered

Genre :

Romance, Fantasy, School life, Sci-Fi

Rating :

For all readers are allowed

Containsmanyprofanities

Casts :

Nam Theyo (17 Years old | OC)

Luhan (17 Years old)

EXO

Additional Cast:

Disclaimer :

This story and all the things happened in it are purely mine. That’s all.

No plagiarism, okay?

Author’s note :

Check the story out, like this instant!

Visit me @ Asianfanfics

Bloomplinkrose

Add me as your friend and i certainly will accept it guys…

Read more chapter?

Here>>>

http://www.asianfanfics.com/story/view/850218/hacker-fantasy-general-indonesian-romance-schoollife-exo-luhan

Request song:

_____________________________________________

Page3: Magic And Logic

 

 

Langit sudah gelap, dan sebentar lagi akan berbunyi, alat yang menentukan taraf kewarasanku disekolah hari ini. Jika biasanya aku menjalani hari-hariku dengan santai tanpa beban, kalau biasanya aku selalu tenang dan bersikap dingin, dan kalau biasanya aku selalu diam tanpa berani mengucapkan kata-kasar-apapun didepan guru, dan terakhir, kalau biasanya aku bahkan tidak pernah melamunkan apapun selain belajar atau menyalin catatan. Dan karena sebuah pulpen, hancur statusku sebagai murid teladan dimata Mrs. Song, guru kima yang hatinya sangat susah ditaklukkan oleh murid manapun. Kukira dia menyukaiku karena selalu aktif dan serius saat belajar dengannya. Dan itu sedikit banyak membuatku merasa bangga.

Namun aku harus segera menyelesaikan masalah pikiranku. Ayolah, aku harus tahu website itu dari mulut Luhan. Agar ada sedikit jalan keluar dan aku berhenti memikirkan hal-hal aneh dan mistis dari… kemarin.

“Eh, kalau kau mau, mampir saja kerumahku. Dirumahku, ada dongsaeng-ku, dan hyung-ku.” Ketika aku selesai menyandang tasku, aku lalu menoleh kearahnya. Mengangkat sebelah alisku dengan tatapan mengajukan pertanyaan.

“Kau bicara padaku?”

“Bagaimana kalau kau kerumahku sekarang.”

Harapanmu. Aku memutar bola mataku mengabaikan permintaan anehnya itu. Segera aku berjalan santai untuk segera keluar dari… kau tahu, aku menyebut ruangan berisi dua puluh lima murid ini apa. Jadi aku tidak perlu menyebutkannya.

Sudah kutebak, dia mengikuti langkah kakiku. Berjalan sejajar disampingku sambil berusaha menarik ekor mataku agar menoleh kearahnya.

“Dan?”

“Dirumahku ada dongsaeng-ku, dan hyung-ku.” Tuturnya penuh harap. Harapan agar aku setuju. Dan bisa kutebak kalau aku menjawab tidak, dia akan memaksa.

“Kalau kau tidak mau… tidak apa-apa sih… Habis aku bilang akan memberitahumu mengenai hal tadi.”

Atau mungkin tidak.

Malah aku yang merasa terpancing sekarang. “Dan mana ibumu atau ayahmu?”

“Aku… tidak punya–”

“Cukup!” Dengan cepat, aku memotong perkataannya sekaligus menghentikan langkahku, dan dia pun berhenti. Menatapku dengan kedua alisnya terangkat, mulut terbuka,– dungu sekali, dia terlalu lucu. Aku memotongnya bukan bermaksud untuk mengalihkan pembicaraan dengan berkata ‘baiklah, ayo, aku mau’. Tidak. Aku tidak bermaksud membuatnya merubah raut wajahnya sekarang. “Aku minta maaf.”

“Karena?”

“Aku tidak tahu kalau orangtuamu itu, yeah…” Aku lantas mengangkat bahuku bingung melanjutkan perkataanku. Dan dia malah tersenyum. Segera aku kembali menurunkan bahuku dan menghela nafas panjang. Kuharap dia memaafkanku. Tentu, karena aku sama sekali tidak tahu kalau dia tidak memiliki orang tua.

“It’s okay. You don’t need to apologize.” Dia tetap tersenyum. Sementara kini mulutku yang terbuka melihatnya. Jujur, aku benar-benar jujur, kalau tersenyum dia terlihat begitu cantik. Apalagi mengingat blonde hair-nya yang gayanya tidak ketinggalan jaman.

“Ahh… iya.” Aku pun mengangguk merasa senang dalam hatiku. Karena aku tidak perlu merasa bersalah pada siapapun, dan yang mana itu akan menambah beban pikiranku yang sudah terlalu berat. Sungguh.

Aku dan Luhan pun kembali berjalan pelan menyusuri koridor. Sebenarnya, aku yang lebih dulu melangkahkan kaki.

“Bagaimana? Kau belum menjawabku.”

Aku menyimak pertanyaannya. Namun tetap terdiam. Dia dan anggota keluarganya sedang berkumpul dirumah, dan dongsaeng dan hyung-nya, kurasa akan merasa aneh kalau Luhan mengajakku padahal kami baru bertemu dalam hitungan jam. Dan kenapa dia tidak berniat mengajak teman sekelasnya yang lain? Tentu kalau aku hadir ditengah tengah mereka, perkataanku akan berbalik padaku dan menyadari bahwa disitu aku adalah orang dungu. Aku orang asing. Sungguh aneh, jika dia membawaku dirumahnya dan pasti aku merasa tak enak hati mengingat aku satu-satunya orang asing disana.

Lagipula aku termasuk jarang jika harus pergi mengunjungi rumah teman.

“Aku bilang akan menceritakanmu tentang Hacker bukan?”

Benar juga… Pikirku mengangguk dalam hati.

“Bagaimana? Kau tidak perlu merasa sungkan, dongsaeng-ku, dan hyung-ku, orang baik-baik.” Ucapnya melancarkan bujukan keduanya. Sedikit banyak bisa kupercaya. Tapi, aku takkan langsung menerimanya. Sebelum… well, setidaknya aku pergi kerumahnya tanpa ada beban memikirkan bahwa aku takut anggota keluarganya itu tidak menyukai kehadiranku.

“I-iya aku mau-mau saja… tapi, aku merasa aneh. Kau tahulah, kita baru saling mengenal tadi pagi dan… mendengarmu berkata bahwa kau hanya mengajakku… itu akan aneh, bukan?” Aku berusaha menuturkan perkataanku dengan sangat hati-hati. Bahwa aku tahu dia begitu menyimak penuturanku itu tanpa berniat memotongnya.

“Dan?”

“Tidak ada… Tapi, apa aku… kembali menyinggungmu?”

Tiba-tiba saja dia terkekeh pelan. Dan aku hanya bisa mengernyitkan dahiku melihat responnya. Sepertinya tidak ada yang salah dengan perkataanku.

“Tidak… tidak ada keanehan apapun…” Jawabnya setelah berhenti terkekeh. Aku pun kembali mengangguk mengerti dalam hati. Oh… lantas apa?

“Lantas?”

“Intinya, kau mau datang kerumahku atau tidak? Kalau kau datang, kau juga akan tahu banyak mengenai Hacker. Kukira, sebegitu inginnya kau mengetahui itu. Habis, dengan begini, kita bisa lebih dekat ‘kan? Aku mau berteman saja, habis percaya tak percaya, aku tidak punya teman yang sepikiran mengenai Hacker sepertimu.” Dengan fasih, aku tahu dan menyadari bujukan ketiganya itu. Maka kali ini aku pun tidak akan terdiam dan menggumam lebih lama padanya. Lantas, aku pun menganggukkan kepala tanpa ragu sekarang.

Terserah mau dia menganggap aku teman atau bukan, yang penting masalahku bisa segera selesai.

 

 

Aku dan Luhan lalu pergi naik sebuah bis jurusan Cheonsam. Cukup jauh letaknya dari sekolah, karena kami sudah melaju selama kira-kira 20 menit. Namun, karena selama ini aku menaiki bis hanya 10 menit kesekolah, makanya aku menganggap ini jalan pulang yang salah. Alias menyasar. Dia, kau tahu, aku bahkan enggan menyebutkan namanya terus-menerus dalam pikiranku. Sudahlah. Dia sempat mengakui sesuatu kalau dia pun tadi kesekolah menggunakan angkutan umum ini. Aku juga tidak tahu kenapa karena dia tidak mengatakan hal lainnya. Sementara setelahnya aku dan… Lu—Han, kembali membisu satu sama lain. Apa ini akibat kami yang tidak terlalu akrab? Atau, mungkin, dia ingin mengatakan sesuatu namun ia malu mengatakannya. Ayolah, jangan berpikir bahwa Luhan itu menyukaiku! Mana mungkin Theyo bodoooh!!!

“Apa ada sesuatu?”

“Eh?” Aku terkejut menatapnya dan berhenti menepuk-nepuk pipiku. Ini adalah kebiasaan langka yang ada padaku. Hal seperti ini hanya akan kulakukan kalau hanya ketika berusaha mengusir sesosok pria dalam otakku. Dan… tidak ada yang tahu dan tidak boleh ada yang tahu tentunya. Karena aku ini gadis polos yang tekun belajar dan tidak berkeinginan memiliki pacar sebelum aku lulus. Kerja. Maksudku, kuliah! Astaga! Aku belum pernah merasakan bergandengan tangan dengan orang yang kucintai. Sejak aku dilahirkan sampai– detik ini. Dan aku rasa, sekarang aku tidak merasa menyukai atau jatuh cinta pada siapapun. Hanya saja… aku sering berfikir bahwa pria yang tidak kukenal tiba-tiba perhatian padaku atau mungkin teman– temanku yang mana saja? Terserah, tiba-tiba sikapnya lain dari biasanya padaku, aku akan berfikir dan mengira dia menyukaiku. Untuk itu aku selalu bersikap dingin pada pria mana saja. Agar tidak ada seorang pun tahu aku ini, suka pada siapa. Termasuk harus pada Lu—Han. Maksudku, Luhan. Jangan harap aku akan tertangkap basah menyukainya didepan teman-temanku… yang mana? Terserah.

“Tidak ada. Apa masih jauh?” Tanyaku mengalihkan pembicaraan.

“Sudah mau sampai sepertinya.” Jawabnya datar sambil melihat kejendela bis yang ada disebelah kirinya. Dia lalu kembali menoleh kedepan dan berkata, “Sampai halte pemberhentian didepan, akan ada gang yang tidak terlalu kecil namun muat untuk dilalui mobil, kita masuk ke gang itu, dan berbelok kearah kiri melewati jalanan panjang dengan pemandangan sawah luas dikedua sisi jalanan yang sepi dan gelap itu, aku baru lihat tadi pagi kalau ada sawah. Namun selama perjalanan tidak akan terlalu gelap karena masih ada beberapa lampu jalannya yang berfungsi dan akan ada ribuan kunang-kunang disana.” Jelasnya dengan begitu rinci. Bahkan dia tahu bahwa kami akan berjumpa dengan kunang-kunang. Tapi…

“Kenapa jalanannya sepi dan kenapa ada persawahan? Aku baru tahu kalau dikota Seoul masih ditemukan persawahan. Kita ada dipusat kota. Kau tahu? Dan kenapa kau berkata seakan akan kita berdua akan melalukan petualangan kesebuah desa?” Tanyaku sekaligus menoleh dan memainkan tanganku sebagai bentuk protes sambil menggerutu padanya. Dan dia bahkan tidak mau menoleh dan menatapku untuk memberikan jawaban.

“Luhan?!” Panggilku emosi melihat sikapnya. Apa dia main-main? Aku sudah cukup sebal akibat kemarin.

Tiba-tiba dia menoleh kearahku, menatapku dan tersenyum. “Tenanglah, setelah itu kita akan menemukan gang yang semakin menyempit pada belokan ke empat belas dan disitu ada lorong yang hanya muat untuk satu orang, dan kita akan masuk bergantian, terakhir, ketika keluar, barulah sampai.” Tuturnya singkat. Membuatku mengernyitkan dahiku mendengarnya dan mengernyit semakin dalam kala aku memikirkan setiap suku kata perkataannya. Rumahnya benar-benar jauh berarti. Sungguh ada yang tidak beres saat ini.

Seoul-hamparan sawah luas-dan sebuah gua.

“Maksudmu kau tinggal disebuah gua?” Tanyaku sepolos mungkin dan tetap mengernyitkan dahiku kearahnya yang secara tiba-tiba, dia tertawa lepas sambil menutupi mulut lebarnya sekarang. Apa mau anak ini…

“Hahahaha! Kau ini sungguh bodoh! Itu hanya karanganku tahu!” Akunya disela-sela tawanya itu. Dia seperti baru saja menang adu mulut dari seorang bocah taman kanak-kanak. Tapi aku lebih bingung lagi mengenai kenapa ia mau membuat candaan yang menurutku itu tidak lucu itu?

“J-j-jadi dimana kau tinggal?” Tanyaku. Aku tetap mengernyitkan dahi menunggunya berhenti tertawa. Kalau karena bukan dia akan memberiku informasi mengenai website itu, akan kuhajar dia, selain itu, kenapa aku tak menanyakan temanku yang lain? Oh of course, itu tidak mungkin. Tapi, aku tidak ingat kalau aku pernah menghajar seseorang. Apalagi pria. Tidak… Aku tidak pernah berkelahi.

“Hey, kenapa kau tidak tertawa?” Ujarnya masih tersisa sedikit kekehan kecilnya. Dia berusaha menghiburku rupanya. Rupanya dia peka juga terhadap sesuatu. Selain oppa-ku.

“Kau berusaha menghiburku?” Tanyaku hati-hati.

“Apa?” Kali ini ia berhenti total untuk tertawa atau terkekeh sekecil apapun. Namun kala ia menatapku dengan tatapan pertanyaan, aku hanya terdiam. Juga menunggu jawabannya. Aku tidak mau mengulangi pertanyaanku karena aku sudah sangat yakin kalau ia mendengar jelas pertanyaanku tadi. “Ah… bukan. Itu, karena, aku sedang bosan. Makanya aku mau membuat lelucon. Dan rupanya itu lucu sekali. Tapi, aku sama sekali tidak terpikirkan untuk menghiburmu. Rupanya kau kenapa berfikir begitu?” Tanyanya. Kali ini dia yang mengernyitkan dahi. Dan aku hanya bisa terpaku menahan rasa malu dan geram mendengar jawabannya.

Aku-telah-mempermalukan-diri-sendiri.

Apa ini? Bagaimana bisa tadi aku berfikir bahwa ia itu sedang berusaha menghiburku. Akibat sejak tadi aku terlihat gila. Dia tidak tahu rupanya kalau aku sedang menanggung rasa malu karena terlalu percaya diri mengiranya sedang menghibur diriku ini. Kenapa aku bisa sampai sebodoh ini? Atau setidaknya bisakah dia berpura-pura dengan menjawab ya?!

“Ah, tidak… kita kapan sampai?” Aku lalu menunduk menatap jam tanganku– yang mana itu sebagai bentuk pengalihan pembicaraan. Aku memang harus mengalihkan pembicaraan tadi. Our conversation is sick. Dan ini… “Sudah… hampir setengah jam. Kau yakin kau tahu dimana rumahmu?” Tanyaku lagi dengan tatapan bingung. “Kau kan baru tahu jalan kesekolah hari ini.”

Dan, lucky, dia lalu menatap kearah luar dan berkata padaku bahwa kami sudah sampai rupanya. Dan entah kenapa aku merasa sebagian dari diriku merasa penasaran. Tentang tempat tinggal, keluarga dan… dia pribadi yang seperti apa? Ini bodoh. Aku sebelumnya belum pernah tertarik pada pria mengenai pribadinya. Yah, hanya sesekali dengan seorang senior atau guru tampan disekolah yang kadang suka cari perhatian padaku. I mean, aku sadar aku cantik dan aku sadar banyak yang menyukaiku dan… karena sifat dinginku pada mereka, mereka jadi… entahlah, aku rasa aku tidak perlu memikirkan itu sekarang.

“Kulihat kau banyak melamun.” Sebuah suara tiba-tiba saja membuatku tersentak. Aku mengangkat kepalaku dan menatap matanya yang mengarah padaku. Aku bahkan hampir tidak sadar bahwa kami berdua sedang berjalan sejajar dijalanan aspal luas dengan kanan kiri adalah rumah mewah. Atau bisa kubilang, ini kompleks perumahan mewah? Oh, semua murid kaya disekolah beramai-ramai memamerkan kekayaan mereka. Tapi Luhan? Dia bahkan hanya naik bis padahal dia tinggal ditempat seperti ini. Dua kali lebih besar dari rumahku.

“Kau tinggal disini?” Tanyaku. Merasa masih belum percaya. Padahal tentu saja ini sudah begitu jelas adalah tempat tinggalnya. Tentu saja Theyo!

Luhan pun terkekeh pelan. Setelahnya ia diam dan kembali memandang kedepan. “Betul. Kau ternyata suka melamun. Kau bahkan mengabaikan pertanyaanku barusan.”

“Eii…” Mendengar perkataannya, aku lantas terdiam. Dia memang bertanya padaku. Tapi karena aku memikirkan hal lain, maka aku bahkan mengabaikannya. “Aku bukan seorang yang sering melamun… seperti ini. Hanya saja, aku sedang banyak pikiran karena… aku, menemukan banyak hal yang menurutku itu seperti hal mistis, supranatural dan… ajaib…”

“Dan tidak logis?”

Aku mengangguk pelan. “Umm yea. I guess.” Jawabku ringan menatap kedepan. Sama dengannya yang menatap kedepan karna kurasa rumahnya masih jauh.

“Hummm… Theyo sebenarnya, terkadang, hal mistis atau hal ajaib yang terjadi padamu itu benar-benar nyata. Maksudku itu logis dan terkadang masuk akal.”

What did he said?!! Mendengar perkataannya, aku langsung menghentikan langkahku. Aku memberi kode padanya dengan membuat hentakan sepatu agar dia berhenti. Dia yang berada sekitar satu meter didepanku pun berhenti dan berbalik. Dari sorot matanya ia ingin bertanya: apa?

“Logis? Masuk akal? Maksudmu dengan aku mengetikkan tanggal lahirku, on a fucking website, then, that website could know my name! Aku mengetikkan tanggal lahirku dan… dan… lalu, disitu muncul…” Aku mencoba menjelaskannya tanpa terbata-bata pada Luhan, namun karena ini benar-benar membuatku menanggung beban pikiran dan kurasa aku terlalu takut menemui hal seperti ini terjadi padaku. Aku takut pada hal yang kurasa itu mengancamku, atau sungguh tidak masuk akal kalau dipikir secara logisnya. Apalagi itu berbau hal mistis. Dan sekarang aku merasakan mataku yang perih. Aku tidak menangis. Hanya terasa perih. Mataku perih.

Kalau sampai berair itu ‘kan yang namanya menangis?

Namun aku tidak menyadari sepenuhnya hal itu. Aku hanya tetap menatapnya yang membalas tatapanku layaknya orang idiot. “… namaku. Disitu muncul namaku… Nam Theyo. S-selain itu, mereka menyebutkan boneka, boneka apapun itu dan mereka memberiku nama baru untuk akun atau apapun itu… Lalu, mereka bertanya, apa aku tidak suka nama baruku? Apa aku mau menggantinya dengan yang baru? Mereka juga bilang aku beruntung! Kau masih mau berkata kalau itu masuk akal? Aku bahkan hampir gila memikirkannya sampai detik ini. Dan kau bilang kau tahu Hacker, maka… maka kukira kau akan membantu. Karena aku tidak mau jadi gila! Aku tidak bisa mengabaikan hal ini karena aku takut… karena orang-orang berkata ini adalah website mengerikan! Setidaknya aku mempercayaimu karena kau tahu sesuatu.”

Aku tetap menatap Luhan. Dalam setiap suku kataku aku terus menambah intonasinya. Dengan nada kesal yang memang itu sangat menyebalkan. Aku berharap dia bertindak. Menenangkanku. Yang kuinngat itu yang dilakukan oppa-ku kalau aku menangis. Aku ini benar-benar lemah kalau aku bisa sampai menangis. Aku takut hal aneh… Semua ini terlalu tiba-tiba setelah kemarin malam menjelang pulang aku pergi ke cafe membeli ice cream… dan aku mengaduknya sampai mencair. Dan sekarang aku ada disini, dikompleks mewah teman baruku.

Dia lalu mengernyit padaku tiba-tiba. Lantas aku mengusap air mataku dan menatapnya kembali karena dia membuatku jengkel. “KALAU KAU TAHU SESUATU KAU BISA JAWAB!”

“Aku memang mau menjawab sesuatu tapi kau terus bicara.”

Apa?

Aku sempat terdiam. Meletakkan kedua tanganku disebelah pahaku. Dan aku merubah arti tatapanku padanya dengan sebuah arti penyesalan yang kuharap dia tahu itu. Tidak bisakah dia berpura-pura dan berkata sesuatu yang membuatku tidak akan merasa menyesal mengikutinya sampai kemari. Atau setidaknya dia memberi kata-kata yang dapat menghiburku. Karena mungkin itu adalah tindakan manusiawi. Apalagi kalau dia pria. Atau dia bukan tipe pria seperti itu? Stupid…

“Kenapa kau tidak mencoba untuk menenangkan atau berkata sebuah hal yang lebih bermanfaat, buatku…?”

Kusadari bahwa sedari tadi dia tetap mengernyitkan dahinya. Dan kali ini ia mengerutkannya sangat dalam. “Aku mengajakmu kemari karena ingin membahas soal Hacker. Aku tidak mengajukan diri untuk membuatmu tenang karena menangis.”

Dia kembali pada raut wajah datarnya. “Ini tidak lagi waktu yang tepat untuk membicarakan hal itu. Mungkin kau bisa kerumahku besok. Di kompleks ini, nomor 20.”

Aku tetap diam. Menunggunya selesai berkata. Menunggunya selesai dengan penjelasannya. Karena aku tahu dia akan kembali bicara pada waktu kurang dari dua detik lagi. Mungkin setidaknya kalau dia merasa dirinya normal dia akan tersenyum dan minta maaf padaku.

1… 2…

Dia berbalik.

Dia lalu berjalan pergi.

Dia melangkah makin jauh.

“Pulangnya hati-hati, ya Theyo.”

Atau mungkin tidak sama sekali.

He’s not normal..

“Kalau kau berani duduk disebelahku besok, jangan harap kau akan selamat, you jerk.”

 

 

_____________________________________________

Author’s note:

Hello. Sorry for being late this… chapter 3.

Please leave comment. I really appreciate it guys.

 

3 tanggapan untuk “Hacker (Chapter 3)”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s