SOUL

SOUL COVER

Tittle                : SOUL

Author             : redapple

Length             : oneshoot

Genre               : romance, mistery (?)

Rating              : General.

Main cast        : oh sehun

Disclaimer      : NO PLAGIAT.

Author’s note            :

            Ff ini adalah murni buatan saya yang terinspirasi dari film yang pernah saya tonton. Jadi mohon hargai saya sebagai author dengan meninggalkan kritik dan saran agara saya bisa lebih baik lagi nantinya. Tolong dimaafkan jika ceritanya kurang menarik bahasanya berantakan karna saya masih pemula. JJ

 

Sehun’s POV

Aku sangat bosan dengan pria tua itu yang sedang menjelaskan rumus fisika yang tertera pada papan tulis. Memang sejak tadi aku memperhatikan papan tulis tapi bukan deretan rumus itu yang aku perhatikan. Melainkan seorang wanita muda cantik berkulit putih pucat yang tengah berdiri didepan tulis. Jangan mengira aku menyukainya karna dia bukanlah manusia, dia adalah hantu penghuni kelasku ini. Sejak kecil aku bisa melihat hal hal yang tidak dapat dilihat oleh orang biasa. Bahkan dulu aku sering berkomunikasi dengan mereka. Aku teringat masa kecilku dulu saat aku pertama kali pindah kerumah baru aku bertemu dengan seorang anak perempuan seusiaku. Dia berwajah sangat manis dan polos dia suka bernyanyi. Kami sering mengobrol dan menjadi sangat akrab. Anak perempuan itu juga memiliki luka bakar di tangan kirinya, oleh karena itu aku menghadiahkan sebuah sarung tangan untuknya saat malam tahun baru. Awalnya aku tidak tau bahwa anak perempuan itu adalah hantu dari anak seorang wanita muda yang tinggal dirumah tua sebelah rumah kami. Menurut kabar beredar anak yang dikandungnya adalah hasil hubungan gelap dengan seorang pengusaha kaya. Ia meninggal karna disiksa ibunya sendiri. Pantas saja ia memiliki banyak luka memar. Setelah mendengar cerita itu, ibuku sedikit khawatir denganku karna aku juga sering menceritakan teman hantuku itu. Kami pun pergi dari rumah itu dan tinggal diseoul. Semenjak itu ibuku selalu bertanya apa aku melihat sesuatu. Aku selalu menjawab dengan kata ‘ tidak ‘. Walaupun sebenarnya tidak juga kadang saat pulang sekolah aku melihat seorang anak kecil manis namun jika dilihat seksama mukanya akan berubah menjadi tua.

Akhirnya bel tanda pulang pun berbunyi. Semua murid terlihat bahagia termasuk aku. Aku segera memasukan semua buku da bergegas pergi. “ hoi oh sehun !” seseorang memanggilku saat aku melewati gerbang sekolah. “ ah kau kai, ada apa?” tanyaku pada pria berkulit sedikit gelap. “ apa kau ada acara sore nanti?” tanyanya. Aku mengingat-ingat acara yang mungkin ada sore nanti. “ sepertinya tidak, kenapa ?” ucapku. “ baguslah “ seru kai yang membuatku sedikit bingung. “ aku ingin mengajakmu dalam band kami, chanyeol sedang sakit jadi kami butuh gitaris pengganti” jelas kai. Aku mengangguk-angguk dan sedikit mempertimbangkan ajakan kai. “ baiklah “ jawabku. “ kalau begitu aku akan kirim alamatnya lewat sms, jangan sampai telat ya “ ucap kai lalu berlari pergi. Sesampainya dirumah aku langsung menuju dapur untuk mengisi perutku. “ eomma dan appa kemana?” tanyaku pada pelayan yang ada didapur. “ mereka sedang pergi ke pulau jeju tuan” ucap pelayan itu. Aku hanya mengangguk-angguk dan melanjutkan makanku. Sudah biasa orang tuaku meninggalkanku sendiri dirumah. Seperti inilah jika orang tua kalian memiliki sebuah bisnis dan terlalu sibuk dengan bisnisnya. Walau semua yang kuingini tersedia tetap saja aku merasa kesepian. Oleh karena itu aku sedikit beruntung memiliki kemampuan dapat melihat hantu, karna dengan begitu bisa mengurangi rasa jenuhku. Terkadang aku melihat hantu wanita berparas manis tengah duduk dihalte seakan menunggu seseorang. Anda saja dia manusia aku pasti sudah mendekatinya. Namun, ada satu hal yang aku benci, yaitu menghadiri pemakaman seseorang. Saat berada di pemakaman aku dapat melihat banyak sekali hantu bahkan banyak diantara mereka berpenampilan menyeramkan. Oleh karena itu saat menghadiri pemakaman seseorang aku lebih memilih menunggu diluar area pemakaman. Aku memasuki sebuah cafe tempat kai dan teman-teman bandnya tampil. Kulihat mereka sedang bekumpul disalah satu meja. Terlihat seorang wanita juga tengah ikut berkumpul disana. Siapa lagi jika bukan jira adik dari kai. “ akhirnya kau datang oh sehun “ ucap kai. “ maaf aku sedikit terlambat” ucapku. “ah oppa kau juga ikut dengan band kai oppa?” tanya jira dengan suara cemprengnya yang khas itu. “ aku disini menggantikan chanyeol. “ baiklah kalau begitu ayo kita bersiap” ujar baekhyun sang vokalis dalam band ini.

Penampilan kami sangat sukses walau aku sedikit gugup karna sudah lumayan lama aku tidak bermain gitar. “ wah sehun oppa kau sangat keren tadi “ puji jira terlihat sedikit berlebihan. “ kau ini, kenapa hanya memuji sehun saja” protes baekhyun kepada jira. “ baiklah kau juga keren tapi tidak sekeren sehun oppa” ucap jira lagi. Aku hanya terkekeh mendengar debatan baekhyun dan jira. “ ah sehun ini untukmu” xiumin sang pemegang bass memberikan beberapa lembar uang kepadaku. “ eh? Aku kan hanya pengganti” ucapku menolak uang itu. “ tak apa, kau juga sering membantu kami kan?” ucap xiumin lagi. “ baiklah, gomawo hyung” aku pun menerima uang itu. Xiumin adalah anggota yang paling tua di band. “kalau begitu aku pulang dulu ya” pamitku. Aku pun pergi meninggalkan cafe. “ sehun oppa tunggu !” terdengar suara jira memanggil membuatku menghentikan langkahku. Ia berhenti tepat didepanku. “ada yang ingin aku bicarakan” ucapnya dengan nafas sedikit terengah-engah karna berlari mengejarku. “bicaralah” ucapku. “ besok disekolah akan diadakan promnight” ucapnya. “ lalu?” tanyaku. “ karna setiap siswa harus membawa pasangan. jadi….” dia berhenti sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya. “ em.. ma..maukah kau menjadi pasanganku di promnight?” tanyanya dengan wajah tertunduk. Aku yakin wajahnya sedang memerah saat ini. aku terkekeh sejenak sebelum akhirnya menjawab “ baiklah”. “ benarkah?” tanyanya seakan tak percaya, aku hanya membalas dengan anngukan. Wajahnya terlihat gembira dan bibirnya membentuk sebuah senyuman membuat wajahnya semakin menawan. “gomawo oppa !” tiba-tiba saja dia memeukku membuatku sedikit terkejut. “ em..cheonma” jawabku dengan nada sedikit gugup. Jira melepaskan pelukanya dariku “aku tunggu kau jam 7 malam. Jangan sampai telat”. Dia pun kembali masuk kedalam cafe. Kalau boleh jujur aku memang menyukainya selain karna wajahnya yang manis aku lebih menyukai kepribadiannya yang ceria dan ramah. Aku melanjutkan perjalanan pulang. Sesampai dihalte bus aku dikejutkan oleh seorang kakek-kakek dengan tangan kanan mengacungkan sebuah piasu daging berlari kearahku. Mulutnya bergerak seperti sedang memaki. Aku menengok kebelakang mencari seseorang yang di carinya tapi tidak ada siapapun disana . Sial, sepertinya orang kakek itu maki adalah aku dan sepertinya ia berniat membunuhku dengan pisau itu. Segera berlari menjauh dari kakek itu. Aku bersembunyi disalah satu gang sempit. Berharap orang tua itu tidak dapat menemukanku. Tunggu sepertinya aku kenal wajah kakek itu. Ah benar ! dia adalah kakek pemilik pohon apel. Pantas saja dia mengejarku aku sering mencuri buah apel miliknya. Tapi bukankah ia sudah meninggal seminggu yang lalu?. Ah sial sepertinya tadi adalah arwahnya. Pantas saja kulitnya terlihat pucat. Setelah merasa kondisi aman aku memberanikan diri keluar dari tempat persembunyian.

Aku merebahkan diri diatas kasur, badanku terasa sangat pegal. Mungkin ini efek berlari tadi. Aku baru ingat besok sekolah libur karna malamnya akan ada acara promnight. Ah ya promnight, tiba-tiba saja aku teringat degan jira. Entah kenapa aku tidak sabar untuk melihatnya di acara promnight nanti. Aku membayangkan bagaimana seorang jira yang tidak bisa diam terihat anggun memakai gaun di acara promnight nanti. Tanpa sadar bibir ku membentu sebuah senyuman. Entah kenapa pagi ini aku bangun lebih awal padahal biasanya aku akan bangun jam 11 siang dan akan tidur lagi sehabis sarapan jika tidak ada hal yang harus kukerjakan. Aku pergi ke dapur untuk sarapan. Namun sepertinya pelayan rumahku masih belum kembali dari supermarket. Dan akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke cafe terdekat. Aku tengah berada disebuah cafe yang berada tepat didekat sebuah halte yang juga tak jauh dari rumahku. Aku memilih duduk didekat jendela agar dapat melihat keluar. Aku melihat sesosok wanita bergaun putih berambut hitam dan berparas cantik duduk dihalte itu seperti sedang menunggu seseorang. Seorang pelayan datang kearahku. Pelayan itu meletakan sepiring pancake dan secangkir kopi diatas mejaku. “ em.. maaf” ucapku kepada pelayan itu. “ ada apa tuan?” tanya pelayan itu dengan sopan. “ apa kau mengenal wanita muda yang duduk dihalte bus itu? aku selalu melihatnya duduk disitu” tanyaku kepada pelayan itu. “ wanita yang mana tuan? Ada banyak sekali wanita muda disitu” ucapnya. “ wanita muda yang memakai gaun putih rambutnya hitam dan wajahnya sangat cantik itu” capku memperjelas. Pelayan itu terlihat bingung matanya mencari-cari keberadaa wanita yang kumaksud. “ maaf tuan aku tidak melihat wanita muda yang memakai gaun putih itu” ucapnya. Ternyata benar dugaanku dia hanya hantu. “ baiklah kalau begitu, maaf sudah menganggu pekerjaanmu”. Pelayan itu tersenyum ramah dan meninggalkan mejaku. Lagi-lagi sangat disayangkan seorang wanita cantik yang kulihat adalah seorang hantu.

Aku menatap bayangan diriku dicermin. Aku rasa aku sudah cukup tampan untuk datang ke promnight itu dengan tuxedo hitam lamaku yang tidak pernah aku pakai. Berat badanku memang tidak pernah bertambah. Disekolah aku menunggu jira didepan pintu masuk aula tempat acara digelar. Aku harap dia tidak terlambat karna aku mulai bosan menunggu. Aku bisa saja pergi dengan mengajak siswa wanita lain, namun karna aku adalah pria bertanggung jawab jadi kuptuskan untuk menunggunya. Akhirnya aku melihat sosok jira dari kejauhan ia terlihat sangat menawan dengan gaun biru toska selutut tanpa lengan. Rambut ia gerai begitu saja. “ apa kau sudah lama menunggu?” tanyanya. “ cukup lama “ jawabku. “ maaf ya membuatmu menunggu” ucapnya. “ tak apa. Ayo kita masuk” ucapku. Ia memgang lengan kananku dan kami masuk kedalam aula bersama. Kami menikmati acara ini berdansa. Setelah lelah berdansa aku memutuskan untuk pergi ke balkon aura menghirup udara segar. Kulihat jira juga sedang asik mengobrol dengan teman-temannya jadi tak masalah jika kutinggal sebentar. Aku memjamkan mataku merasakan hembusan angin dari atas balkon ini. “ ternyata kau disini” ucap jira lalu berdiri disampingku. “ didalam sedikit panas makanya aku kesini” ucapku. “em.. oppa..” panggil jira dengan nada renda tidak seperti biasanya. “ ada apa?” ucapku seraya menoleh kearahnya. Pandangan kami pun bertemu namun jira terlihat gugup lalu mengalihkan pandangannya. Aku menjadi bingung dengan sikapnya akhir-akhir ini, ia sering gugup jika dekat denganku. Bukan hanya itu dia juga sering mengalihkan pandangannya bilang pandangan kami bertemu tanpa sengaja. “a..ada sesuatu yang ingin kubicarakan” ucapnya masih dengan posisi yang sama. “ hei, jangan mengalih pandanganmu pada lawan bicaramu. itu tidak sopan” tegurku. Jira memberanikan diri menatapku setelah mendengar perkataanku tadi. Ia menarik nafasnya perlahan. “ aku sangat menyukaimu sejak dulu tapi aku tidak pernah berani menyatakan persaanku pada oppa. Aku sangat senang saat oppa mau datang ke promnight dengan ku. Oleh karna itu maukah oppa menjadi pacarku?” ucap jira dengan cepat membuatku sulit untuk mencernanya. “ ah lupakan saja “ ucap jira lalu beranjak pergi. Dengan cepat aku menarik tangannya. “ kau menyukaiku?” tanyaku. Ia hanya mengangguk dengan wajah tertunduk. “ jika oppa tidak menyukaiku tak apa”. Aku terkekeh pelan. “ kau pikir kenapa aku setju datang ke promnight denganmu?” tanyaku. “karna kau kasihan padaku” jawabnya. “ tidak. Itu karena aku menyukaimu” jira mengangkat wajahnya dengan cepat. Menatapku tidak percaya. “ jinjayo?” tanyanya memastikan. Aku hanya menjawabnya dengan mengangguk. Ia tersenyum bahagia lalu memeluku. “ gomawo oppa” ucapnya. Tak lama salju turun. Aku dan jira berpacaran tepat saat pertama kali salju turun dikorea. Aku melepaskan tuxedoku lalu memakaikannya ketubuh jira. “ayo masuk kedalam diluar dingin” ajak ku. Kami berdua pun masuk kedalam aula. Sifat jira sekarang sangat berbeda dengan saat pertama kali kami bertemu. Dulu aku mengira jira mamiliki sifat pendiam dan sopan. Namun siapa mengira saat aku mengenalnya lebih deka dia adalah seorang yang ceria dan tidak bisa diam. Perpustakaan sekolah adalah tempat pertama kali kami bertemu. Saat itu aku sedang mengerjakan tugas biologi di perpustakaan sekolah. Aku duduk sendirian didekat jendela. Tiba-tiba saja seorang siswi mendekatiku .“ em… maaf sunbaenim bisa aku minta tolong?” ucapnya. Aku menoleh ke arahnya, aku rasa dia masih kelas 10. “ minta tolong apa?” tanyaku. “em.. itu.. bisa tolong kau ambilkan buku itu? aku tidak bisa mennggapainya karna terlalu tinggi.” Ucapnya seraya menunjuk rak yang dimaksud. Aku pun bangkit dari tempat dudukku menuju rak buku itu. Wajar saja ia tidak dapat menggapainya karna buku berada dirak yang tingginya melebihi tinggi badanku. Sedangkan tinggi siswi ini hanya sebatas dadaku. “ ini “ aku memberikan buku itu padanya. “ gomawo “ ia sedikit membukukan badannya saat berterima kasih. Aku membalasnya hanya dengan senyuman. Aku kembali ke tempat dudukku tadi. Aku memang lebih suka menyendiri. Sebenarnya aku memiliki banyak teman disekolah ini hanya saja tidak begitu dekat. Aku melihat kearah luar jendela. Diluar sedang hujan rupanya untung saja aku membawa payung. Aku segera beranjak dan menuju pintu keluar perpustakaan ini. Gedung perpustakaan sekolah ini dibuat terpisah dari gedung utama sehingga kita harus berjalan lumayan jauh untuk masuk kedalam gedung utama. Langkahku terhenti saat menyadara ada seorang siswa berdiri didepan pintu keluar perpustakaan sepertinya ia siwi yang tadi. Apa yang dia lakukan berdiri seperti ini. Tangannya mendekap buku-buku yang sepertinya baru ia pinjam dari perpustakaan. “ apa yang kau lakukan disini?” tanyaku. “em.. aku lupa membawa payung. Jadi harus menunggu hujan reda” jawabnya dengan suara pelan. Benar juga, jika ia memaksakan diri menerobos hujan yang cukup deras ini pasti seragamnya akan basah. Ditambah jarak antara pintu perpustakaan dan gedung utama cukup jauh. “ aku membawa payung. Kau mau kekelas bersama ku?” ajakku. Dia terlihat sedikit terkejut, bagaimana tidak kami tidak saling mengenal tapi aku menawarkan diri untuk berbagi payung dengannya. “ apa boleh?” tanyanya ragu. “ tentu saja. lagipula sampai kapan kau akan berdiri disini menunggu hujan ini berhenti?” ucapku. Akhirnya ia menyetujui ajakanku dan kami pun pergi menuju gedung utama bersama. Kami berjalan dengan hati-hati karna jalanan sangat licin saat hujan. Kami berjalan dalam suasana canggung. Kami pun sampai dikoridor utama sekolah. “ terima kasih sunbaenim” ucapnya pelan. “sama-sama” balasku. Setelah itu dia berpamitan untuk kembali kekelasnya. Pertemuan kedua kami adalah dicafe dimana kai menyuruhku menggantikan chanyeol. Sejak dulu memang sering menggantikan posisi chanyeol ketika dia sedang berhalangan hadir. Saat itu dia sedang menemani kai dan saat itu juga aku baru tau namanya adalah kim jira. Aku juga baru tau dia adalah adik dari kim jongin alias kai. Mulai saat itu aku mulai akrab dengannya. Ia sering meminta bantuanku jika kesulitan mengerjakan tugas sekolah. Dan sekarang aku dan dia adalah sepasang kekasih. Aku juga tidak menyangka wanita yang sudah kuanggap menjadi jadi adik sendiri ini menjadi kekasihku.

Sudah hampir setahun aku dan jira berpacaran. Semenjak aku dan jira berpacaran aku jadi sering ikut dalam band kai dan mungkin sekarang aku bukan gitaris cadangan lagi. Karna kai selalu mengajakku walaupun chanyeol hadir dalam band. Sebentar lagi adalah hari dimana kami resmi menjadi sepasang kekasih tepat di musim dingin. Aku berada disalah satu pusat berbelanjaan diseoul. Aku berniat membelikan sebuah hadiah dihari anniversary kami. Kira-kira hadiah seperti apa yang harus aku belikan untuk jira. Mataku tertuju pada toko hewan. Aku berniat untuk memberikan jira seekor anak anjing bukankah dia menyukai hewan. Pilihanku jatuh pada anak anjing poodle berwarna coklat. Aku rasa jira akan menyukainya. “baiklah anjing manis apa kau sudah siap bertemu dengan ibu barumu?” ucapku saat menggendong anjing itu dalam perjalanan menuju cafe tempa aku dan jira akan bertemu. Seperti biasa jira selalu datang telat. “maaf aku telat lagi oppa hehe” ucapnya. “kau tak marah kan?” tanyanya. “ menurutmu?” ucapku dengan suara dingin. “ maafkan aku lagi pula ini kan hari istimewa kita jadi kau jangan marah ya” ucapnya dengan wajah memohon. “aku tak marah” ucapku. “ah ya aku punya sesuatu untuk mu “ ucapnya. Ia meletakkan sebuah bingkisan diatas meja. “ ini adalah hadiah dariku”. Aku mengambil bingkisan itu lalau membukanya. Bingkisan itu berisi sepasang sepatu olahraga untuk pria. “ kai oppa bilang kau suka berolahraga jadi aku membelikannya untukmu” ucapnya dengan tersenyum yang menurutku sangat manis. “ terima kasih” aku mengelus kepalanya. Aku memang handal dalam berolahraga terutama pada basket. Dulu aku adalah anggota tim basket disekolah namun karna sebuah kecelakaan membuat kakiku cidera aku tidak lagi bergabung ditim. Namun aku selalu berlari pagi disekitar komplek saat libur sekolah. “ aku juga membawa sesuatu untukmu” ucapku membuat jira penasaran. “kau pasti sangat menyukainya” ucapku lagi membuat rasa penasarannya bertambah. Aku mengeluarkan anjing poodle kecil yang baru kubeli tadi dari dalam jaketku. Aku sengaja menyembunyikannya didalam jaket agar jira tidak mengetahuinya. “ omo ! lucu sekali !” seru jira saat melihat anjing kecil itu. “ kau menyukainya?” tanyaku. Ia hanya mengagguk tangannya tidak berhenti untuk mengelus anjing itu. “tapi, oppa memamng dicafe ini boleh membawa hewan masuk?” tanyanya. “entahlah aku tidak melihat larangan itu disini” jawabku santai. “bagaimana kalau kita ke taman? Aku ingin mengajaknya anjing ini jalan-jalan” usul jira. Aku pun menyetujuinya. Ditaman jira terus bermain dengan anjing itu. Aku hanya terkekeh melihatnya. Jira sepertinya memang ibu yang tepat bagi anak anjing itu. Ditaman aku melihat seorang anak kecil sedang duduk diatas ayunan. Ia seperti sedang menyanyi namun dari mata keluar airmata. Aku terus memperhatikannya sampai anak kecil itu tersadar, ia menatapku. Matanya terus melantunkan sebuah nyanyian yang tidak begitu jelas terdengar. Semakin lama air matanya berubah menjadi darah dan mata anak kecil berubah menjadi putih. Tidak, aku tidak takut melihatnya karna sudah sering kali aku melihat hal seperti ini. “ oppa ! yak ! sehun oppa !” terdengar suara teriakan jira membuatku kaget. “ kemana anak kecil tadi?” gumamku mencari-cari sosok anak kecil tadi namun tak ada. “kau mencari siapa?” tanya jira heran dengan tingkahku. “ ah tidak bukan siapa-siapa” ucapku berbohong. Aku tidak mungkin bercerita pada jira bisa-bisa nanti dia ketakutan dan tidak mau datang ke taman ini lagi. “ oppa… terima kasih atas hadiahnya. Aku sangat menyukai anjing kecil ini” ucapnya dengan tangan menggendong anak anjing poodle itu. “ kau harus menjaganya jangan sampai dia sakit. Rawat dia dengan baik jika dia mati aku tidak akan memberikanmu hadiah lagi” ucapku. “ ayay ! kapten !” serunya mengerti. “ oppa… bagaimana kita beri nama anjing ini shiu?” tanyanya meminta pendapat. “ bukankah sangat lucu jika kita memanggilnya dengan shiu-shiu”. “terserah kau saja. sekarang kan dia milikmu “ ucapku. “ annyeong shiu-shiu! Aku jira dan ini sehun oppa. Kami yang akan merawatmu jadi kau jangan nakal ya “ ucap jira berbicara pada anjing kecil itu. Aku hanya terkekeh melihatnya. ‘Dia memang seperti anak kecil’ ucapku dalam hati. “oppa.. apa kau sakit?” tanya jira tiba-tiba. “ aku tak apa” jawabku. Sebenernya kepalaku sedikit terasa pusing . “ kau terlihat pucat” jira nampak khawatir denganku. “aku tak apa. Ayo kita pulang hari mulai gelap” ajakku.

“aku pulang !” seruku saat memasuki rumah. “ dari mana saja kau oh sehun?” tanya eommaku sepertinya ia baru punya dari pulau jeju. “ pergi dengan teman. eomma kapan kau tiba dirumah?” tanyaku. “ tadi siang, eomma sangat merindukanmu. Tapi saat sampai dirumah kau tak ada” ucap eomma dengan nada sedikit kecewa. “ apa kau sedang sakit?” tanya eomma sambil memegang wajahku. “ aku tak apa. Hanya sedikit pusing” . “ suhumu dingin sekali. apa kau sudah pergi ke dokter?” tanya eomma lagi. “ aku hanya pusing untuk apa pergi ke dokter “ jawabku. “ aku mau tidur dulu “. “kau tidak makan malam dulu?” . “tidak usah”. Aku meuju kamar dan merebahkan diri diatas kasur. Kepalaku terasa sangat pusing sekali. ‘mungkin setelah bangun rasa pusingku akan hilang’ pikirku. Aku pun memejamkan mata dan mencoba untuk tidur. Esok paginya aku bangun telat dan harus segera pergi kesekolah. Namun kabar baiknya pusing dikepalaku hilang. Aku berlari menuju pintu keluar rumah ini. Tidak memperdulikan eomma yang berteriak menyuruhku untuk sarapan terlebih dahulu. Cuaca seoul hari ini cukup dingin . ‘BRUUKK !!’ aku terjatuh ditangga gang sempitl dekat rumahku. Punggungku terasa sakit, kepalaku juga. Ini semua karena aku terburu-buru. Aku lupa jika ini musim dingin dan semua jalan ditutupi salju pantas saja tangga itu menjadi licin. Ah sial sudah hampir sekolah. aku segera bangkit dan berlari lagi menuju sekolah. Sepertinya kelas sudah dimulai karna koridor utam sudah sepi. Beruntung aku bisa lolos dari penjaga gerbang sekolah. “ maaf aku datang terlambat “ ucapku pelan sambil sedikit membungkukan badan. Namun sepertinya kim seonsaengnim tidak mendengarku. Ia sedang sibuk menulis rumus di papan tulis. Baiklah ini kesempatan yang bagus agar dapat masuk kekelas tanpa dihukum. Aku pun duduk dibelakang tempatku seperti biasa lalu memperhatikan kim seonsaengnim menjelaskan materi fisika.

“ aku pulang !” seruku seperti biasa saat memasuki rumah. Tak ada respon dari siapapun. Biasa eomma akan menyambutku kalau tidak ada eomma paling tidak seorang pelayan datang menanyakanku ingin makan apa. Aku tak menghiraukannya dan langsung menuju kamar. Mungkin saja eomma dan appa sedang pergi menemui rekan bisnisnya bukan?. Tentang pelayan mungkin mereka sedang membersihkan sesuatu. Aku mulai memejamkan mataku. Esok paginya aku bangun masih mengenakan seragam. Sepertinya aku sangat lelah sampai lupa mandi. Setidaknya hari ini aku bangun tidak telat. Pelajaran terakhir selalu membuatku bosan. Aku memperhatikan hantu wanita yang selalu berdiri di depan papan tulis dengan tatapan kosong. Ada yang aneh, kali ini dia terlihat nampak nyata bukan layaknya hantu yang kulihat. Sepertinya hantu itu menyadari jika aku memperhatikannya ia menatapku balik dengan tatapan bingung. Aku yang terkajut langsung memalingkan panadanganku ke arah jendela. Dalam perjalanan pulang aku memikirkan hal aneh yang hari ini terjadi. Hari ini aku melihat penampakan hantu tampak nyata. Mereka seperti bukan hantu melainkan orang biasa. “ HEI KAU PENCURI SIALAN !!! JANGAN LARI KAU !!” terdengar teriakan suara seorang pria tu dari arah belakang. Aku pun menengok ke sumber suara. Sial kakek-kakek itu lagi. Aku pun mengambil langkah untuk pergi dengan berlari. Aku segera masuk kedalam rumah dan mengunci pintu rumah. Rumah ini masih sepi. Sepertinya eomma dan appa sedang pergi keluar kota untuk bisnis lagi.

Sudah hampir satu minggu rumah ini sepi. Aku merasa ada keanehan yang terjadi. Hari ini aku terlambat lagi dan membuatku harus pergi kesekolah dengan berlari. ‘BRUUUK !!’ aku tak sengaja menabrak seorang wanita yang mengenakan an putih. Tunggu, wanita gaun putih?. “ mianhe” ucap wanita seraya membungkukan badannya. “ kau wanita yang selalu duduk di halte bus kan?” tanyaku membuatnya terkejut. “ bagaimana kau tau?” bukannya menjawab ia malah bertanya balik kepadaku. Aku bisa berbicara kepadanya, itu berarti dia bukanlah seorang hantu. Karna aku sudah kehilangan kemampuanku berkomunikasi dengan hantu saat usia 12 tahun. “ aku selalu melihatmu disitu setiap hari. Apa yang sebenarnya kau tunggu?” tanyaku penasaran. “ aku menunggu ayahku. Ia berjanji akan menjemputku dihalte” jelasnya. Aku hanya menganggukkan kepala. “ aku harus pergi, sampai jumpa” pamitnya. Dia berbicara lembut sekali sepertinya dia orang baik. Sial ! aku lupa aku harus tiba disekolah secepatnya. Saat sampai dikelas beruntung seonsaengnim belum datang. Dari jauh aku melihat kai sedang berjalan membelakangiku. “ KAI !!!! YAK KIM JONGIN !!” panggilku dengan keras. Dia pasti sedang mendengarkan lagu lewat headset makanya tidak mendengarkanku. Saat aku ingin mendekatinya kai sudah menghilang kedalam kelasnya. Padahal aku ingin sekali bertanya tentang jira. Akhir-akhir ini jira tidak menghubungiku. Saat aku menelponnya tidak pernah tersambung. Ada apa dengannya? Membuatku cemas saja. Kali ini aku malas untuk pulang kerumah. Aku memilih untuk pergi ke taman kota. Taman ini nampak sepi mungkin karna hari sudah hampir gelap. Tiba- tiba saja aku merasa seseorang menarik-narik seragam sekolahku dari bawah. Orang yang menarik-narik seragamku adalah anak kecil. Kira-kira usianya sekitar 6-7 tahun jika melihat dari ukuran tubuhnya. “ ada apa?” tanyaku padanya. Tangannya terangkat, menunjuk sebuah pohon dekat tempatku berdiri. “tolong ambilkan “ ucapnya singkat. Aku melihat kearah benda yang dimaksudnya. Nampak sebuah balon tersangkut diantara ranting-ranting pohon. Aku pun mengambilnya dengan mudah karna pohon ini tidak terlalu tinggi untuk orang dewasa. “ ini “ aku memberikan balon itu kepada gadis kecil tadi. “ gomawo” ucapnya. “ hei gunakanlah bahasa yang sopan kepada orang yang lebih tua” tanyaku. “ memangnya kenapa?” tanyanya polos. “ tentu saja itu tidak sopan “ omelku. “ apa orang tuamu tidak mengajarimu?”. Gadis itu diam sejenak lalu menundukan kepalanya. Mimik wajahnya berubah menjadi sedih. “ aku tidak ingat orang tuaku” ucapnya kemudian membuatku terkejut. Mana mungkin anak kecil seperti dia tidak mengingat orang tuanya sendiri. “ bagaimana bisa kau tidak mengingat orang tuamu sendiri?” tanyaku. Ia hanya mengangkat bahunya. “ aku tidak ingat bagaimana bisa melupakan mereka. Yang aku ingat aku terbangun dijalan setelah sebelumnya aku tertabrak sebuah mobil “ jelasnya. Ini aneh dia tertabrak sebuah mobil tapi ditubuhnya tidak terdapat luka sama sekali. Atau jangan-jangan dia adalah hantu?. Tapi kulihat ia nampak nyata, biasanya aku bisa membedakan antara hantu dengan manusia. Jika dia hantu aku tidak mungkin bisa berkomunikasi dengannya. Aku sudah kehilangan kemampuan itu saat usiaku 12 tahun. Sekarang aku hanya dapat melihat mereka tanpa bisa berkomunikasi. “ lalu kau tinggal dimana?” tanyaku pada gadis kecil itu. Namun tidak ada jawaban, aku menoleh ke tempat gadis kecil itu duduk tadi. Namun gadis itu sudah menghilang entah kemana. ‘ cepat sekali ia pergi’ pikirku. Aneh sekali aku tidak merasa kedinginan padahal hari sudah gelap. Biasanya saat musim dingin pada malam hari akan terasa sangat dingin. Aku juga tidak merasa lapar setelah hampir seharian tidak makan. Dan aku baru menyadari bahwa semakin hari kulitku nampak semakin pucat. Aku memang sudah berkulit putih pucat dari lahir namun tidak sepucat sekarang.

Aku membuka mataku perlahan. ‘dimana aku?’ tanyaku dalam hati. Aku mengerjapkan mataku menyesuaikannya dengan cahaya disini. Aku mencoba bangkit tapi punggungku terasa sakit karna tidur di kursi taman semalam. Entah bagaimana caranya aku bisa tidur dikursi ini. Aku juga tidak ingat mengapa aku ketaman dengan memakai seragam sekolah. Aku memutuskan untuk pulang kerumah. Sesampainya dirumah aku dikejutkan dengan keramaian yang ada dirumahku. Ada apa ini, mengapa ada mobil ambulan?mengapa semuanya berpakaian serba hitam. Aku melihat ada eomma dan appaku, jira dan kai serta teman-teman bandnya turut hadir. Wajah mereka nampak sedih. Perasaanku menjadi tidak enak. Kulihat dari kejauhan sebuah peti mati dikeluarkan dari ambulan. Tunggu, peti mati? Siapa yang mati?. Aku segera mendekat dan mengikuti peti mati itu dibawa. “ eomma, siapa yang ada didalam peti mati itu?” tanyaku. Tak ada jawaban darinya padahal aku berdiri tepat dibelakangnya. Aku semakin bingung dan takut. Karna sejak tadi eomma menangis begitu juga dengan appa. Wajah jira juga begitu sedih, ia menangis dalam rangkulan kai. Sebenarnya apa yang terjadi?. Aku terus saja bertanya sejak tadi namun, tidak ada yang menjawabku. Apa mereka semua menjadi tuli. Kenapa tak ada seorang pun yang menjawab. Aku melihat sebuah bingkai foto yang diletakan dimeja dekat peti mati itu berada. Aku terkejut saat melihat foto didalam bingkai itu adalah fotoku. “Tidak, ini tidak mungkin. Aku belum mati, aku masih disini, kalian jangan bercanda” seruku. “ AKU BELUM MATI !! AKU MASIH DISINI APA KALIAN BUTA !!!” teriakku sambil sedikit terisak. Mana mungkin aku bisa melihat kematianku sendiri, ini sangat konyol. ‘ mereka semua pasti sedang mengerjaiku’ pikirku. Namun seketika pikiran itu berubah saat peti mati itu dibuka, membuat tenggorokanku terkecat setelah melihat isi didalam peti mati itu. Didalam peti mati itu terdapat diriku sedang terpejam dengan memakai pakaian resmi. Tubuhku sangat pucat dan kaku. “ TIDAK ITU BUKAN AKU !!! AKU BELUM MATI !!!” teriakku.

 

Author’s POV

 

Semua kebingungan sehun terjawab sudah. Alasan kenapa ia melihat sema hantu begitu nyata, mengapa ia bisa berkomunikasi dengan para hantu yang dilihatnya. Wanita bergaun putih yang sehun tabrak ia adalah hantu dari seorang wanita yang mati saat menunggu ayahnya menjemputnya di malam musim dingin. Wanita itu mati kedinginan karna terlalu lama menunggu lsang ayah menjemputny. Semua itu bukan karna kemampuan sehun bertamah melainkan sehun juga seorang hantu. Sehun kehilangan nyawanya saat terjatuh dari tangga gang dekat rumahnya. Tangga itu memiliki lebih dari 10 anak tangga membuat sehun tergeliding dan mengalami luka parah pada kepalanya. Ia pun koma selama hampir seminggu lebih hingga akhirnya kehilangan nyawanya. Namun, sehun hanya merasa seperti jatuh biasa dan tetap melajutkan perjalanannya kesekolah tanpa menyadari jiwa dan tubuhnya telah terpisah. Sehun juga telah mendapatkan jawaban kenapai ia tidak kedinginan saat musim dingin, kenapa ia tidak lapar setelah seharian tidak memakan apapun. Karna dirinya bukan lagi manusia. Kaki sehun terasa lemas. Ia tidak berhenti menangis sejak tadi. Butuh waktu yang lama baginya untuk mengerti semua ini. Masih banyak hal yang ia ingin lakukan didunia ini. Namun, semua sudah terlambat. “ eomm, appa, jira, kai, teman-teman… selamat tinggal” lirih sehun. Pandangan sehun mulai mengabur dan berubah menjadi gelap.

 

 

THE END

 

            Akhirnya kelar juga ff ini. Terima kasih bagi kalian yang sudah mau baca. Maaf kalo ceritanya terlalu pendek, jelek, alurnya berantakan, bahasanya tak karuan. Karna saya masih pemula. Cerita ini terinspirasi dari film indonesia judulnya mirror. Bagi kalian yang baca tolong tinggalkan kritik dan saran ya. Terima kasih JJJ

4 tanggapan untuk “SOUL”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s