Hacker

PicsArt_1414855497151

Tittle :

Hacker

Author :

Bloomplinkrose

Length :

Chaptered

Genre :

Romance, Fantasy, School life, Sci-Fi

Rating :

For all readers are allowed

Contains many profanities

Casts :

Nam Theyo (17 Years old | OC)

Luhan (17 Years old)

EXO

Additional Cast:

Disclaimer :

This story and all the things happened in it are purely mine. That’s all.

No plagiarism okay?

Author’s note:

Not much, just straight to the story

Visit me @ Asianfanfics

My username is my author name : Bloomplinkrose

Add me as your friend and i will certainly accept it guys…

More chapter on asianfanfics: Hacker (click here)

Request song:

EXO – Thunder

_____________________________________________

 

Page4: Dinner

 

Aku bejalan lunglai kearah pagar rumah. Membukanya perlahan seakan tidak ada lagi tenaga tersisa ditubuh dan mataku.

Setelah berjalan beberapa meter untuk menuju pintu rumah, yang mana menurutku rasanya bagaikan satu kilometer, aku lalu mengumpulkan sisa tenagaku pada tangan kanan berusaha membuka pintu rumah. Bagaimana pun juga, semuanya sekarang terasa melelahkan buatku.

“Cepat sekali kau pulang?”

Mendengar seseorang yang kutahu dia menyindirku aku lantas hanya memberinya tatapan sekilas. Dia bersandar duduk disofa dengan remote ditangannya. Aku tahu ibu sedang menunggu ayah dan anaknya pulang kerja.

“Yea, maybe.

Dan kembali terfokus pada khayalanku tentang nyamannya merobohkan diri dikasur. Segera ketika aku selesai menaiki dua puluh lima anak tangga ini.

“Apa yang terjadi padamu? Ceritakan pada ibu.”

Ceritakan pada ibu? Jangan bodoh. Mana mungkin ia percaya pada ceritaku ini. Namun aku juga begitu ingin menceritakan sesuatu tentang dosa Luhan padaku tadi padanya. Jadi aku lantas memutar kepalaku dan membalas tatapan cemasnya– yang mana ini jarang sekali terjadi.

“Tidak ada apa-apa.”

“Kau lesu. Ibu tahu ada sesuatu. Dan biasanya, kau sama sekali belum pernah pulang dalam keadaan–”

“Aku bilang padamu bahwa tidak ada apa-apa. Apa itu kurang jelas?” Potongku cepat. Sementara dia masih memasang ekspresi heran padaku dan nada bicaraku membentaknya barusan. Aku hanya merasa harus memotong perkataannya karena aku tahu maksud perkataannya. Dan dia tidak perlu menjelaskannya.

“Baiklah, ibu takkan memaksamu cerita. Dan… ibu membeli basket ice cream tadi sore di supermarket. Itu untukmu.” Jelasnya lalu kembali pada siaran drama korea yang ia tonton. Aku mengernyit. Sebagian dari diriku merasa bersalah karena membentaknya, padahal maksudnya itu begitu baik. Karena bagaimana pun juga, dia ibuku.

“Terima kasih.” Ucapku langsung kembali berjalan menuju tangga. Entah kenapa kali ini pun langkahku menjadi ringan-ringan saja. Tidak seperti sedang ada perekat di alas kakiku.

 

 

Setelah mandi rupanya aku tak segera menjatuhkan diriku dikasur, melainkan bergegas menuju dapur dengan piyama longgarku. Salah satu pakaian favoritku karena aku tidak suka memakai sesuatu yang ketat ketika menjelang tidur.

Aku menoleh kesekeliling. Hanya ada Ibu sedang memasak makan malam rupanya. Ayah dan yang lain belum pulang juga. Cocok aku merasa mereka pulang terlalu lama karena hari ini aku pulang terlalu cepat.

Harum macaroni dan cream brokoli buatannya ini selalu memikat nafsu makanku. Ketika makan malam, menu yang ia buat selalu berubah-ubah. Tapi karena aku sering pulang kerumah telat, kadang aku pun harus melewatkan makan malamku itu. Dan aku tahu, mereka tidak akan menelepon sebab mereka tahu, aku pun sedang makan malam diluar sana. Tidak dengan laki-laki. Itu satu hal lagi yang mereka tahu.

Mereka percaya, bahwa aku ini tidak terlalu dekat dengan laki-laki bahkan perempuan karena kegiatan belajarku disekolah itu lebih penting. Mereka tidak pernah mempermasalahkan soal diriku yang memang tidak memiliki teman di sekolah. Karena mereka juga tahu aku ini bersifat individual. Aku tidak begitu suka ketika harus beramai-ramai menggossipkan sesuatu atau bercerita tentang makanan favorit pada teman-teman sebaya. Atau ketika harus menghadiri pesta ulang tahun mereka dan berbelanja tentang pakaian favorit masing-masing. Well, selama ini sekolah dan nilaiku selalu jadi yang terbaik. Adanya teman atau tidak, it doesn’t affect me at all.

Aku lalu menarik sebuah kursi dan langsung duduk memerhatikan wanita paruh baya itu sedang menata makan malamnya dimeja. Tidak ada timbul niatku untuk membantunya. Karena kurasa aku cukup memerhatikannya saja. Dapur bukanlah tempatku. Dan aku tak mau kejadian dimana ketika aku berusaha membantunya menyusun beberapa gelas, i mean, delapan buah gelas mungkin, tiga diantaranya pecah mengenai kaki kananku. Itu kurasa beberapa bulan lalu. Dan semenjak itu aku tidak pernah lagi membantunya mencuci piring atau mengeringkannya.

Dan baru-baru minggu ini, ibuku menyuruhku menuangkan sekantong berukuran sedang kedalam wadah putih tempat garam. Berarti bungkus itu berisi garam. Namun karena keteledoranku dan kecerobohanku, aku bahkan memasukkannya kedalam wadah gula seberat dua kilo yang ada diwadah itu. Dan semuanya terbuang. Dan sejak saat itu, selain memberi label pada wadah-wadahnya, dia juga tidak pernah meminta tolong apapun padaku lagi.

Tapi, dia cukup tidak meminta tolong padaku kalau urusan dapur saja, hal lainnya, ia sering mengembankannya padaku. Yea, seperti tugas-tugas rumah biasa– yang tidak berhubungan dengan dapur.

“Kami pulang.”

Mendengar dua buah suara, aku dan ibu pun langsung menoleh kearah dua orang yang baru muncul itu. Mereka langsung menuju dapur sebelum sempat meletakkan masing-masing tas mereka.

“Kalian sudah pulang. Cepatlah ganti baju dan kita akan makan malam bersama.” Ucap ibu sambil melepaskan jas ayah.

“Tentu, kali ini kita makan malam bersamamu, ya Theyo?”

Sebuah tangan besar menepuk-nepuk kepalaku perlahan. Namun berhasil membuatku jengkel, tapi aku pun membiarkannya saja. Karena aku tahu kalau dia ini memang hobinya menepuk-nepuk kepalaku.

“Kau terlihat lesu? Sesuatu terjadi?” Tanyanya lalu menarik kursi yang berada disebelahku dan ikut duduk dengan wajah mengarah padaku. Mungkin oppa bisa percaya kalau aku menjelaskan apa yang terjadi. Tapi, kurasa tidak perlu. Atau cerita bodohku mengenai website itu akan mengganggu pekerjaannya. Karena aku tahu dia adalah bawahan ayah yang bekerja sebagai seorang editor yang tekun dan sibuk. Walau umur kami berbeda delapan tahun, namun aku selalu merasa bahwa umur kami hanya berbeda beberapa tahun saja. Karena dia sungguh berbeda kalau sedang berada dikantor dan berada didekatku. Kalau dikantor dia pria tampan yang terlihat mandiri dan dewasa, dirumah dia hanya terlihat seperti seorang mahasiswa angkatan baru. Dia menipu semua mata yang memandanginya kalau ia dan aku berjalan sejajar berdua dimall. Yang mana semua orang akan mengira dia adalah pacarku. Senangnya.

Namun aku lebih suka jika dia menjadi oppa-ku saja.

“Tidak ada apa-apa.” Jawabku tanpa memandangnya. Yang kutahu matanya masih mengarah padaku.

“Aku tahu, kau tidak mungkin telihat lesu begini kalau tidak ada sesuatu. Kau bisa bilang padaku.” Bujuknya kali ini mengelus helai-helai rambut panjangku. Aku lalu mengalihkan pandanganku pada ibu yang sedang memerhatikan kami berdua. Dia pasti sedang berharap agar aku mau cerita pada Taehyun.

Kali ini aku lalu menoleh kearah Taehyun-oppa dengan wajahku yang terlihat sedih. Dia tidak menghentikan tangannya dan masih memainkannya pada rambutku. Aku bahkan suka kalau ia melakukan itu setiap hari kalau bisa. Itu kadang membuatku tenang. Dan sepasang mata yang ada dibalik kacamata bulatnya itu pun selalu berhasil membuatku semakin tenang.

There’s a new student,” Mulaiku.

Taehyun mengangguk. “Ya…”

I-i don’t like himHe’s really anoying. And i just have no idea… why my other classmates likes to drool over him so much. Seriously.” Tuturku seperti anak manja.

“Mmm… then?

“Kurasa dia telah berdosa banyak padaku walau kami hanya bertemu dalam hitungan jam.”

You hate that new boy?

“Dan bagian terburuknya, dia sebangku denganku.” Jelasku makin merasa bahwa Taehyun mungkin akan membelaku. Walau aku juga tidak berharap dia meninju Luhan.

What guilt? Example?”

“Taehyun, sebaiknya kau dan Theyo berhenti dulu bercerita, kau bisa ganti pakaian kerjamu dulu nanti kalian lanjutkan.” Suara ibu memaksaku kembali menutup mulutku yang tadi baru akan melontarkan kisahku pada Taehyun. Dia pun segera tersenyum pada ibu dan melancarkan tangan kanannya untuk mengacak-acak pelan rambutku dan berkata bahwa aku bisa melanjutkan ceritaku padanya jika aku mau. Dan aku membalasnya dengan anggukkan kepala polos.

 

 

Semuanya sudah berkumpul untuk makan malam. Seperti biasa, aku duduk disebelah Taehyun, ibu dihadapanku, dan ayah disebelahnya. Sebelum mulai makan pun Taehyun melancarkan doa-doa pada Tuhannya, yang mana aku dan tidak ikut berdoa karena aku tidak tahu harus bersyukur atas makanan ini untuk siapa.

Amien.” Terakhir Taehyun dan yang lain selesai dan membuka tangan yang mereka katupkan, aku lalu bergumam memandangi mereka bertiga bergantian.

“Apa punya agama itu… enak?” Tanyaku.

“Itu tergantung padamu. Kalau orang malas sepertimu, lebih baik tidak usah punya agama, yang ada kau akan berbuat banyak dosa.” Sahut Taehyun tiba-tiba setelah itu ia pun menusukkan garpu dan menggesekkan pisaunya pada tubuh udang goreng dipiring makannya. Aku masih mencerna perkataannya sekaligus memerhatikannya ketika ia memotong udang itu dengan santai dan tenang. Mengarahkan hasil potongannya kemulutnya dan menggigitnya. Mengunyahnya pelan lalu dia mengarahkan kepalanya padaku secara tiba-tiba. Mulutnya tetap mengunyah. “Mwo?”

“Aku tahu itu. Aku hanya mau tahu pendapatmu, ayah, dan ibu, ketika setiap Sabtu dan Minggu, kalian harus pergi ke tempat ibadah, I mean… church.

“Itu hanya dilakukan agar kita mendapat ketenangan jiwa. Kau tahu bagaimana itu ketenangan jiwa?” Kali ini ibu yang menyahut. Aku hanya mengangguk pelan padanya. Sementara belum ada niatku untuk menyendokkan sesendok pun masakan buatannya kemulutku.

“Yah, kurasa aku tidak perlu memiliki agama seperti ayah, ibu dan Taehyun-oppa. Karena, kurasa aku yakin bahwa aku akan merasa terbebani ketika harus memilikinya. Aku tidak pernah merasa harus bergantung pada Tuhan selama ini semenjak aku memutuskan untuk tidak menganut kepercayaan apapun. Semua kulakukan dengan mudah-mudah saja. Tapi, entah kenapa banyak orang, yang kulihat, mereka selalu menunduk dalam-dalam, mengatupkan tangan, atau pun menangkupkan tangan mereka, serta memejamkan mata, itu aneh dilakukan sebelum kita harus melakukan sesuatu. Sungguh.”

“Agama akan rumit mungkin kalau buatmu, Theyo.” Ucap ayah tersenyum padaku. Aku mengernyitkan dahiku perlahan. Kini aku pun menunduk, memerhatikan setiap kuku-kuku jariku, memikirkan perkataan mereka bertiga. Tapi kurasa saat ini aku butuh. Setidaknya aku bisa bercerita atau meminta permohonan pada mereka yang dianggap agung sebelum aku tidur. Aku rasa aku benar-benar membutuhkannya sekarang. Akan tetapi aku juga bingung memikirkan perkataan ayah. Dia betul, agama mungkin akan rumit buatku. Dan aku harap setelah masalahku ini belum selesai, agama tidak akan makin mempersulit diriku. Tapi bagaimana dengan–

“Kau bisa mencoba ikut ke gereja denganku kapan-kapan.” Sahut Taehyun santai, memotong hal yang sedang kupikirkan dalam pikiranku.

Jjinja…yo?” Aku menoleh kearahnya dan memasang wajah tak percaya setelah mendengar perkataan Taehyun. Taehyun lalu membalas tatapanku dan tersenyum.

Ne.

Oh, baiklah, sekedar ikut dengannya ke rumah Tuhannya itu sesekali bukan masalahkan? Aku tidak perlu merasa berdosa bukan? Yes, aku berdosa pada siapa? Bukankah aku tidak memiliki Tuhan? gumamku lalu membalas senyuman Taehyun. “It will be great.

I know.

 

_____________________________________________

Author’s note:

Holla. Holla.Im back!!! How how how how?! Apakah ini sungsguh enak dibaca? (━_┳)(T^T)… Taehyun jadi oppanya si Theyo disini *jangandiabaikan. Jadi sedikit bocoran kalau umm, siapa ya, hehehe, gak enak juga kalau dibocorin deh. kalau gitu, tunggu update aja ya readers… ♥♥♥ Taehyun sama Theyo punya rahasia disini. Tapi mungkin akan terungkap bukan dichapter selanjutnya namun dichapter mendatang.♥♥♥

its okay kan? Dan disini author pengen fokus sama Theyo… Daaaan, fokus sama EXO nya nanti yaaaa~~~ soalnya kan si Luhan juga baru muncul-muncul aja tuh.

8 tanggapan untuk “Hacker”

  1. Keluarganya punya masak theyo enggak,bukan cuman Luhan yang gak normal,thwyo juga ding. Kok orang tuanya ngijinin ya-_-gak ngerti. Next tolong ini pendek bikin kepo dah

  2. wahh ini udah aku tunggu dari kemaren thor…ffnya beda dari yg lain 😀
    iyaaaa aku penasaran bnget sma luhan d sini…dan website nya itu jadi gimana? aduh bnyak bnget pertanyaan yg bersarang di otakku hahaha
    oke bakal d tunggu next chapnya

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s