The Succubus and The Vampire [Chapter 9]

tstv new poster - 002

The Succubus and The Vampire
(Sequel of The Killer)

Presented by : echaminswag~
Characters : Kai, Hyemin, Sehun, Jaerin, Kris, Ellie, Emma and Others | Genre : AU, Bit Action, Angst, Fantasy, Marriage Life | Lenght : Chaptered | Rating : PG-17+

Disclaimer : Cast belong to God and their agency. OC is mine. Story and poster are mine too. Don’t claim as yours and don’t be plagiator!

THE SUCCUBUS AND THE VAMPIRE © 2015

[Teaser][Prolog][1][2][3][4]
[5][6][7][8] – [9]

Backsong :

♪ Hwayobi – 그사람 (That Person)

 

.

.

 

 

Dari sekian banyak manusia, kenapa harus Hyemin?

Kai bergeming tatkala kedua bola matanya beradu dengan iris berkilat merah milik Hyemin. Keduanya kini tengah berburu bersama. Hyemin sudah menangkap buruannya, namun tidak untuk Kai. Pemuda itu setia dalam geming yang ia ciptakan sendiri tanpa berusaha mencari buruan untuk dirinya sendiri. Ia tak cukup lapar.

Sedang Hyemin yang tengah menatapnya, tahu betul bagaimana perasaan Kai saat ini. Gadis bersurai gelap itu tak begitu ambil pusing mengenai keadaan dirinya yang sekarang. Bagaimanapun ini pilihan yang telah ia buat.

Hyemin menjatuhkan bangkai rusa yang belum sepenuhnya ia habiskan darahnya kemudian menyusuri jalan setapak pegunungan untuk mencapai dimana Kai berdiri saat ini. Ia menggenggam pergelangan tangan Kai lalu menariknya menjauh dari area hutan.

Keduanya saling diam ketika mereka menggunakan teleportasi untuk mencapai rumah lebih cepat. Bahkan setelah mereka sampai di dalam kamar dan melihat Danny masih terlelap dengan nyenyaknya, Kai dan Hyemin urung berbicara satu sama lainnya.

Hyemin menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang. Mengusap pipi gembul putranya yang kemerahan sepelan mungkin agar ia tak membangunkan Danny. Hyemin bahagia. Ia memiliki segalanya yang ia inginkan saat ini. Kai dan Kim Danny.

Air matanya meluruh paksa membasahi pipinya yang sedingin es. Hyemin menampiknya lalu mendaratkan sebuah kecupan kecil pada pipi Danny. Entahlah, berbagai macam perasaan berkecamuk dalam dadanya. Ia bahagia, tapi bagaimana dengan Kai?

Hyemin mendengar derit pintu kamarnya terbuka lalu tertutup kembali. Kai keluar dari kamarnya bahkan sebelum Hyemin sempat memintanya untuk tinggal sebentar bersama buah hati mereka.

Setiap harinya Kai sibuk di kantor, berangkat pagi-pagi dan selalu pulang larut. Sepulang dari kantor, ia selalu mengajak Hyemin berburu. Kai tak pernah melihat bagaimana perkembangan Danny yang baru beberapa hari sudah seperti balita berumur tujuh bulan. Perkembangan yang begitu cepat, namun Kai tak pernah menyadarinya.

Hyemin merebahkan tubuhnya di samping Danny. Ia menengok jam dinding yang sudah pukul enam pagi. Tiga puluh menit sebelum Kai biasanya berangkat ke kantor. Hyemin menarik tubuhnya, merapikan selimut Danny dan beranjak keluar kamar untuk turun ke lantai satu kediaman keluarga Kim. Menyiapkan sarapan untuk Kai.

Hyemin melihat Kai tengah berbaring di atas sofa depan televisi disaat kakinya menjejak pada anak tangga terakhir. Vampir tidak pernah tidur, namun ia tahu Kai begitu lelah saat ini. Hyemin mendekat, kemudian duduk bersimpuh di samping sofa menghadap Kai. Menggenggam jemari Kai yang membuat pemuda itu akhirnya membuka sepasang matanya yang beberapa menit lalu ia biarkan terkatup rapat.

Belum sempat Kai bertanya, kenapa denganmu, Hyemin sudah lebih dulu mendekap tubuh Kai dan menenggelamkan kepalanya dalam dada bidang suaminya itu.

“Maaf, sudah membuatmu terbebani dengan keadaanku sekarang.” gumamnya kemudian.

Kai terdiam. Ia bangun dari posisi baringnya dengan membiarkan Hyemin tetap memeluknya. Kai mengangkat tubuh Hyemin kemudian mendudukkannya diatas kedua pahanya. Merengkuh tubuh istrinya itu masuk dalam pelukan hangat dan begitu nyaman— kendati tubuh keduanya sama-sama terasa seperti salju di musim dingin.

“Bukan salahmu, Mint. Tak usah minta maaf.”

Hyemin terisak pelan. Ia tak mampu menahan air itu jatuh dari kedua kelopak matanya. Ia tahu, bahkan sangat tahu Kai tak menyukai sosoknya yang sekarang. Ia takut Kai berubah, ia takut Kai tak mencintainya lagi.

Dan perlahan, segala bentuk perhatian Kai menghilang seiring Hyemin memutuskan untuk menjadi sebangsanya. Apa ini awal? Atau.. entahlah.

Kai yang lebih dulu merenggangkan pelukan mereka. Ia mengusap rambut Hyemin dengan ekspresi yang sangat sulit diartikan.

Kai mendesah. “Aku harus bersiap pergi ke kantor.” ucapnya.

Hyemin menahan tubuh Kai untuk tak pergi kemanapun dengan kedua tangannya yang sudah mengalung bebas melingkari leher Kai.

“Kau tak menepati janjimu.”

Kai mengeryit. “Janji? Apa?”

“Kaubilang aku boleh pergi ke kantor meskipun kita sudah menikah.”

Kai tertawa kecil. Hyemin memang tak begitu sanggup untuk berdiam diri di rumah. Ia ingin menyibukkan dirinya kembali dengan pensil, penggaris, dan kertas. Begitulah Hyemin yang Kai kenal.

“Kau boleh kembali ke kantor jika Danny sudah berumur sepuluh tahun.”

Selesai mengucapkan itu, Kai mengangkat tubuh Hyemin lalu mendudukkan ke sofa tepat di sampingnya. Hyemin merengut sedangkan Kai memilih bersiap untuk pergi ke kantornya.

“Ya! Kai, kau sudah janji.” teriaknya tak mendapat balasan; Kai sudah menghilang di balik pintu kamar mereka. “Danny berumur sepuluh tahun? Itu sangat lama, ishh! Bagaimana jika aku lupa caranya menggambar? Bahkan, bagaimana jika aku tak bisa menggambar lagi?” gerutunya sembari berjalan kearah dapur— menyiapkan sarapan untuk Kai.

Hyemin memang sangat mencintai dunianya itu bahkan sebelum ia mengenal Kai. Bagaimana mungkin ia meninggalkannya begitu saja setelah ia menikah dengan Kai? Hyemin tak mungkin bisa meninggalkan hobi yang menjadi pekerjaannya itu sampai kapanpun.

.

Sedang Kai— pemuda itu tengah tertawa di dalam kamar mereka mendengar gerutuan sang istri. Ia tak begitu gila dengan membiarkan Hyemin pergi ke kantor sedangkan Kim Danny sangat membutuhkan sosoknya di rumah ini. Siapa yang mengurus Danny jika Hyemin dan Kai sama-sama sibuk di kantor?

Kai mendesah pelan. Ia menyeret tungkainya untuk mendekat ke arah ranjang; menatap buah hati mereka. Kai tersenyum. Pipi gembul yang selalu membuat Kai rindu dengan rumah. Kim Danny yang seakan fotokopi dirinya. Mereka begitu mirip. Dan Kai baru menyadari jika kini dirinya sudah menjadi seorang ayah.

Kai mendekat dan duduk di tepi ranjang. Maniknya lekat menatap sang buah hati yang tengah tertidur dengan pulas. Seulas senyum tipis menghiasi bibirnya. Tangannya terulur menyentuh permukaan kulit Danny yang putih bersih mirip dengan kulit milik Hyemin.

Lagi-lagi sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyum yang lebih lebar. Kai hanya sedikit kurang mempercayai keadaannya sekarang— jika ia sudah memiliki seorang keturunan. Kai berharap Danny tak akan sepertinya. Walau Kai belum tahu pasti apa dan seperti apa Danny kelak.

Maksudnya, apakah Danny akan menjadi seorang vampir seperti ayah dan ibunya, ataukah ia akan menjadi seorang manusia seperti Hyemin dulu? Kai belum bisa menyimpulkan. Yang pasti, jika ia menjadi sama dengan ayah dan ibunya sekarang, Kai hanya berharap Danny tak sepertinya—seorang vampir yang haus akan darah manusia.

Kai beranjak meninggalkan ranjang— berjalan membuka tirai kamarnya. Membiarkan sedikit sinar matahari membuat kulitnya berkilauan. Kai tak membenci sinar itu. Ia benci jika sinar itu membuat semua orang tahu siapa dirinya. Ia juga benci dengan takdir yang menyatakan bahwa dirinya kini tengah jatuh hati dengan sekretaris barunya— Emma Wu.

.

– oOo –

.

.

.

Tepatnya Emma tak mengerti, kenapa pemuda yang kerap kali berkunjung ke kafe tempatnya bekerja ini memintanya untuk bekerja di sebuah perusahaan besar yang bergerak dalam bidang fashion.

Sejujurnya Emma tak mengerti apa-apa tentang fashion.

Bahkan, untuk seorang wanita berumur 25 tahun sepertinya, ia tak cukup peduli dengan hal-hal yang menyangkut penampilan. Bagaimana mungkin ia bekerja dalam perusahaan yang menuntut karyawannya agar berpenampilan menarik? Untuk ukuran seorang sekretaris pula.

.

            Sore itu seperti biasa, Emma sedang bekerja di kafe. Dan seperti sudah biasa pula, pemuda bernama lengkap Kim Kai itu datang pula ke kafe tempatnya bekerja. Setiap sore, pemuda itu selalu datang. Emma sendiri juga tak mengerti, kenapa Kai sering datang menemuinya.

Mereka berbincang seperti biasa pula. Membicarakan segala hal dan kemudian dengan tak sengaja Emma menanyakan apa pekerjaan Kai. Seketika itu Kai teringat sesuatu; lusa sang sekretaris mengajukan surat pengunduran diri dari perusahaan dikarenakan sebuah beasiswa dari salah satu universitas terkenal di Rusia menerimanya menjadi seorang mahasiswa di universitas tersebut.

Kai kebingungan mencari pengganti sekretarisnya. Ia sempat berniat meminta Hyemin untuk menjadi sekretarisnya, namun urung ia lakukan; mengingat buah hati mereka yang membutuhkan sosok seorang ibu yang menjaganya.

Dan sore itu, entah apa yang mendorong Kai untuk berbicara, “..apa kau berminat menjadi seorang sekretaris?”

Saat itu Emma benar-benar bingung apa maksud Kai. Ia baru mengerti saat Kai bicara bahwa dirinya seorang CEO dari sebuah perusahaan fashion di jantung kota Seoul. Awalnya Emma tak percaya, sebab Kai terlihat masih muda. Bagaimana mungkin ia menjadi seorang CEO diusia semuda ini?

Emma percaya ketika Kai menyerahkan kartu namanya. Dan malam setelah kejadian itu, Emma menghubungi nomor ponsel Kai; bahwa ia setuju untuk menjadi sekretaris di perusahaan Kai— berdasarkan desakan dari sang kakak.

.

Emma menggaruk tengkuknya dengan gusar. Ada beberapa pasang baju yang kakaknya belikan khusus untuk dirinya bekerja di hari pertama. Bukannya Emma bingung memilih satu pasang baju yang ingin dipakainya hari ini. Melainkan Emma bingung, kenapa harus dirinya? Memiliki pengalaman bekerja saja tidak, bagaimana ia harus bekerja sebagai seorang sekretaris?

Emma mendudukkan tubuhnya di tepian ranjang. Kedua tangannya ia biarkan menopang dagunya. Pikirannya menerawang jauh; berpikir mengenai apa saja yang harus ia lakukan segabai seorang sekretaris nanti.

Tepat ketika itu, sang kakak masuk kedalam kamarnya dan seketika memekik tatkala sepasang bola matanya melihat adik kesayangannya ini masih santai tanpa bersiap sedikitpun.

“Emma Wu! Apa yang sedang kau lakukan?”

Emma sempat terkejut, namun tak lama karena setelah itu ia kembali menopang dagunya.

“Aku tak mengerti apa-apa tentang fashion. Aku tak mengerti apa-apa tentang tugas sekretaris, Kak.” gusar Emma.

Emily mendekat mengusap bahu adiknya ini dengan lembut. “Kau hanya perlu menuruti perintah bosmu, Emma. Ini kesempatan besar, mungkin saja dengan kau bekerja disana Kai mau membantumu.”

Emma sudah tahu. Ia tahu bahwa Kai sebenarnya adalah seorang vampir. Dan ia membiarkan Kai dekat dengan dirinya dengan harapan suatu saat Kai mau membantunya berdamai dengan kaum mereka. Walaupun Kai tak tahu apa-apa tentang peperangan yang terjadi beberapa tahun lalu; yang hampir merenggut nyawa kakaknya, suami kakaknya, juga putri kecil mereka.

Kai memang tak ada sangkut pautnya mengenai peperangan itu dan segala hal tentang kakaknya. Tapi Kai adalah seorang vampir yang sama dengan suami kakaknya yang berarti mereka juga akan ikut campur dalam pertempuran yang Kris rencanakan.

Telinga Emma tiba-tiba berdengung keras. Ia mencoba menutup telinganya dengan kedua tangannya; berharap dengungan itu menghilang. Namun nyatanya telinganya justru berdengung lebih keras.

Emma mengerang pelan— membuat Emily kebingungan.

“Ada apa denganmu?”

Emma tak bisa mendengar itu. Ia sampai terduduk ke lantai karena merasa telinganya sakit. Emily berusaha mencapai nakas dan meraih segelas air— menyerahkannya kepada Emma. Namun, Emma menampiknya hingga membuat gelas itu terpelanting dan menghantam lantai dengan suara cukup keras.

Mata Emily membulat sempurna. Tubuhnya juga seakan membeku di tempat. Tunggu, darimana Emma mendapat kekuatan sebegitu hebat? Caranya menampik gelas yang Emily berikan tadi benar-benar sangat keras. Hingga tangan Emily pun terasa sakit.

Emily berdiri dan menjauh— menatap Emma dari kejauhan. Ia tahu saat seperti ini adalah saat dimana mereka baru saja melakukan hubungan seks. Tapi, Emily ingat betul sejak kemarin malam Emma tak keluar sama sekali untuk berkencan dengan manusia. Pun sehabis melakukan hubungan, mereka tak pernah kesakitan seperti itu. Lantas Emma kenapa sekarang?

Beberapa saat kemudian, tubuh Emma terkulai lemas diatas lantai. Emily sontak kembali mendekat ke arah adik bungsunya itu.

You ok?” tanyanya panik.

Emma mengangguk pelan dan berusaha duduk kembali.

“Kak, alangkah baiknya kau cepat membawa Lauren kemari. Aku takut Kris menculiknya lebih dulu.”

Emily mengangguk. Ia kemudian membantu Emma untuk berdiri dan duduk di tepian ranjang.

“Aku akan mencarinya hari ini. Tapi, sebaiknya kau tak pergi bekerja. Aku khawatir dengan keadaanmu.”

Sunt bine, Emily.” ungkapnya dengan aksen Rumania. Aku baik.

Emily menggeleng; lekas pergi ke dapur untuk mengambilkan Emma minum. Ia kemudian kembali dengan segelas penuh air putih lalu memberikannya kepada Emma.

“Sebenarnya apa yang terjadi?”

Emma meraih gelas itu sembari menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan Emily.

“Aku tidak tahu. Tiba-tiba telingaku berdengung dan… sakit. Rasanya terjadi sesuatu yang buruk, tapi aku tak tahu apa itu.”

Emily mengeryit. Ia tak mengerti walaupun ia tahu betul bagaimana seorang succubus seharusnya. Ia sendiri tak pernah seperti itu.

“Baiklah, kau yakin ingin bekerja?”

“Oh.”

“Aku akan menyiapkan sarapan kalau begitu. Segera ganti pakaianmu.”

Emma mengangguk mengerti dan meletakkan gelasnya diatas nakas. Ia kemudian memilih satu pasang baju dan segera mengganti pajamanya dengan baju berwarna maroon itu.

.

– oOo –

.

.

.

“Apa kau butuh sesuatu?” teriak Himchan dari ambang pintu kamar Jaerin dan Sehun.

Jaerin menggeleng sebagai jawaban. Sudah dua hari ini, apa yang dialaminya sama persis dengan apa yang dialami Hyemin beberapa hari yang lalu. Seluruh organ tubuhnya terasa begitu sakit saat di gerakkan. Bahkan tak bergerak pun ia merasa sangat kesakitan.

Himchan mendesah pelan. Ia begitu khawatir dengan keadaan Jaerin. Tak ada yang merawatnya pula saat ini. Sehun sibuk dengan rumah sakit dan pasiennya. Ayah dan ibu Sehun sedang ada kunjungan ke Rumania. Dan Himchan lah yang bertugas merawat Jaerin sekarang.

Himchan menggaruk tengkuknya gusar. Ia sedikit trauma dengan seorang wanita hamil. Seketika ia teringat dengan apa yang terjadi dengan istrinya dulu. Bahkan umur putri kecil mereka baru beberapa hari, dan semuanya terjadi seperti mimpi buruk. Sangat cepat namun mengerikan.

Oppa.” Jaerin memanggil namanya. Himchan menelengkan kepalanya dan menatap Jaerin seakan bertanya; jadi, apa yang kaubutuhkan?

Jaerin tersenyum kecil dan berusaha mengangkat tubuhnya untuk bersandar pada headboard. Himchan yang melihat itu lekas membantu Jaerin untuk bangun.

“Sebaiknya kau jangan banyak bergerak.” ucapnya.

“Aku ingin minum sesuatu.”

“Kau ingin minum apa? Susu? Cokelat panas? Atau jus?”

Jaerin terkekeh pelan lalu menggeleng. Ia tak ingin minum semua itu.

“Aku ingin… eum… darah?”

NDE??” teriak Himchan terkejut. Jaerin belum sepenuhnya menjadi vampir, bagaimana bisa ia ingin minum darah? “..kk… kau sungguh ingin minum darah?”

Jaerin mengangguk. Entahlah apa yang mendorongnya menginginkan darah saat ini. Tapi rasanya ia sangat haus, dan ia sudah berkali-kali minum air putih tapi dahaganya tak berkurang sedikitpun.

“Iya. Aku ingin meminumnya saat ini. Entahlah oppa, sepertinya janin di dalam sini yang memintanya.” ungkapnya sembari meraba perutnya yang mulai buncit.

Otak Himchan sudah di penuhi beberapa pertanyaan saat ini. Tapi ia urung menanyakannya, sebab Jaerin sendiri pasti juga tak tahu apa jawaban dari segala pertanyaan yang melayang-layang dalam otaknya.

Ia segera keluar dari kamar dan menuju dapur. Biasanya, ayah dan ibu angkatnya mempunyai persediaan darah di dalam lemari es. Dan benar saja, saat Himchan membuka lemari es nya, ada beberapa kantong berisi darah— yang entahlah darah apa saja. Himchan tak pernah meminumnya sama sekali. Ia tak pernah lagi meminum darah sejak ia menikah. Baginya, kafein atau alkohol saja cukup. Ia tak ingin minum darah lagi.

Himchan mengambil sekantong dari dalam lemari es, kemudian membawanya ke dalam kamar Jaerin.

Hyung.” sebuah suara menahan langkahnya. Himchan menoleh dan berdirilah sosok Sehun di depannya saat ini.

“Oh, kau sudah pulang?”

“Apa yang sedang kau pegang?” alih-alih menjawab, Sehun justru kembali bertanya pada kakak angkatnya ini.

“Ini..” Himchan bingung ingin memulai ceritanya dari mana. Ia mendesah kemudian berusaha menceritakan apa yang tadi terjadi. “… Jaerin memintaku mengambilkan ini. Ia.. eum.. ingin minum ini.” jelasnya dengan terbata.

Sehun mendekat lalu merebut kantong itu dari tangan Himchan. Sehun tahu apa itu. Ia sendiri yang meletakkannya di lemari es— bukan orangtuanya.

“Untuk apa Jaerin meminta.. darah?”

Himchan mengedikkan bahu; tanda tak mengerti. Ia sendiri juga dibuat bingung oleh permintaan istri Sehun itu.

“Sebaiknya, kau tanyakan sendiri saja pada Jaerin. Aku juga tak mengerti kenapa ia tiba-tiba ingin meminum itu.”

Tanpa menunggu lama lagi, Sehun melenggang pergi dari hadapan Himchan ke arah kamarnya. Ia membuka pintunya dengan hentakan kasar yang membuat pintu itu berdebum keras.

Jaerin terkejut, lantas memalingkan wajahnya menatap siapa sosok yang dengan seenaknya membanting pintunya dengan kasar.

“Tak bisakah kau membukanya pelan-pelan?” marahnya— setelah melihat siapa pelaku di balik itu semua. Oh Sehun.

“Untuk apa kau ingin darah?” ucap Sehun to the point.

Jaerin mengedikkan bahunya tak peduli. “Kemarikan kantungnya.” pintanya pada Sehun tanpa berusaha sedikitpun untuk menjawab pertanyaan suaminya itu.

“Jaerin-ah! Apa kau sering meminum ini saat aku tak ada di rumah?”

Jaerin nampak tak peduli dengan ucapan keras Oh Sehun padanya. Ini bukan keinginannya untuk meminum darah, melainkan si kecil yang sedang di dalam kandungannya ini yang meminta darah untuknya.

“Aku tak pernah meminumnya sebelum ini. Lagi pula, itu bukan keinginanku, Oh Sehun. Itu permintaan anakmu.” balas Jaerin.

Pundak Sehun yang tadinya sekaku baja, tiba-tiba melorot dibarengi dengan ekspresi wajahnya yang berubah sendu. Ia mendekati Jaerin dan duduk tepat di samping wanitanya itu.

“Aku tak ingin kau meminum ini, Rin. Aku takut kau kecanduan. Darah ini kusiapkan untuk ayah dan ibu, bukan untukmu ataupun aku dan Himchan.” tuturnya lembut.

Jaerin mengerti bahwa darah yang sering kali ia lihat di lemari es rumah Sehun ini adalah milik ayah dan ibunya. Sehun menyiapkan itu karena ia tak ingin ayah dan ibunya berburu lagi. Tapi, sungguh. Jaerin ingin meminumnya sekarang. Ia merasa sangat haus.

“Aku tahu. Tapi, bolehkah aku meminumnya sedikit saja? Hun, ini bukan untukku. Tapi dia—” Jaerin menunjukkan kepada Sehun perutnya yang mulai buncit itu untuk meyakinkan bahwa ini semua keinginan calon bayi mereka, bukan Jaerin.

Sehun mendesah pelan. Ia memang tak akan pernah bisa menentang istrinya itu. Sehun menyerahkan kantong darah itu pada Jaerin yang kemudian langsung Jaerin sesap seluruh isinya. Sehun sempat ingin menghentikannya, namun gagal.

Beberapa saat kemudian, iris Jaerin berubah keemasan. Sehun terkejut. Tentu saja. Dan Jaerin justru tersenyum lalu kembali merebahkan tubuhnya. Rasanya setelah menghabiskan sekantong penuh darah tadi, tubuhnya mampu bermetabolisme dengan cukup baik sekarang. Walaupun tidak sepenuhnya baik. Tapi, ini lebih baik dari beberapa saat yang lalu saat seluruh organnya terasa sakit.

“Jaerin-ah.”

“Eum..”

“Kau tak apa-apa?”

Jaerin mengangguk sebagai jawaban. “Aku justru merasa jauh lebih baik sekarang, Oh Sehun.”

Sehun ikut membaringkan tubuhnya di samping Jaerin. Ia mendekap tubuh istrinya itu seolah takut kehilangan sang istri. Sehun berharap proses persalinan Jaerin tak akan serumit proses Hyemin. Ia takut Jaerin meninggalkannya. Sungguh, ia tak bisa membayangkan jika hal itu terjadi padanya.

“Kau harus hidup. Kau harus tetap hidup, Jaerin-ah.”

“Aku akan tetap hidup, untukmu dan anak kita.”

Jaerin memejamkan matanya. Ia ingin beristirahat sebelum menghadapi hari besarnya yang mungkin akan datang beberapa hari lagi. Sehun juga ikut memejamkan matanya. Ia tidak tidur, tapi setidaknya beristirahat sejenak bersama orang yang di cintainya akan menghilangkan segala penatnya.

.

Sedang, Himchan yang berada di ambang pintu kamar mereka hanya mampu tersenyum. Ia ikut senang melihat kebersamaan kedua makhluk yang berbeda itu. Ia tahu jika Jaerin memiliki perasaan khusus terhadapnya. Ia memiliki kekuatan untuk menbaca semua itu.

Dan Himchan takut suatu saat ia akan menghancurkan kebersamaan mereka. Ia memang tak memiliki perasaan kepada Jaerin. Tapi, bagaimanapun perasaan Jaerin pada dirinya lama-lama juga pasti akan di ketahui oleh Sehun.

Ingin rasanya Himchan menjauh dan pergi dari keluarga ini. Tapi, itu tak mungkin. Ia tak punya tujuan lain setelah istri dan anaknya meninggalkannya beberapa tahun silam. Ingin kembali ke USA tak mungkin juga. Paman Lucas yang mengasuhnya sudah pindah ke Rumania dan ia tak tahu alamatnya. Himchan juga tak ingin merepotkannya lagi.

Himchan berbalik, lalu mendadak menghilang menggunakan teleportasinya ke suatu tempat.

.

– oOo –

.

.

.

 

Tubuh Mark terpelanting menghantam dinding kemudian merosot dan mendarat dengan suara debuman keras diatas lantai marmer. Sebuah pigura kayu kokoh juga ikut terjatuh diatas tubuhnya, hingga sesuatu berwarna merah pekat itu mengucur dari berbagai sisi tubuh Mark.

Mark meringis, menahan sakit yang kemudian semakin menjalar kala sebuah tangan mencengkeram lehernya dengan paksa. Tak cukup sampai disana. Sebuah ayunan pelan dari si pemilik tangan itu membuat tubuhnya kembali melayang dan menghantam dinding di sisi yang lain.

Kali ini, sesuatu yang berbau anyir itu keluar dari kedua lubang hidung dan bagian belakang kepalanya. Pandangan Mark berangsur buram. Ia tak dapat lagi melihat dengan jelas sosok tinggi yang tengah berdiri di hadapannya dengan amarah meledak-ledak.

Mark tak mampu lagi untuk bangkit— bahkan untuk sekedar bergeser mendekat ke sosok itu dan membalas perlakuannya, Mark tak cukup mampu. Untuk bersuara saja, Mark kesulitan saat ini. Tapi ia tetap berharap, sosok itu tak membunuhnya sekarang. Ia ingin membantu Emma, bagaimanapun keadaan dirinya nanti.

“Masih bisa bergerak rupanya.”

Dan tanpa ampun memang, sosok itu kembali mencengkeram leher Mark kemudian mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara. Mark dapat melihat iris itu berkilat penuh amarah. Mark tahu, ini semua salahnya. Tapi, ia tak ingin mati sia-sia di tangan orang itu.

“Kau yakin ingin membunuhnya?”

Sebuah suara lain muncul dari ambang pintu utama rumah yang sebagian sisinya sudah hancur akibat ulah si pemilik. Sosok itu berdiri tepat di samping orang yang tengah menyiksa Mark. Ia mengeryit, sedikit kasihan pada Mark dengan luka yang cukup mengerikan di sekujur tubuhnya.

“Oh.” jawab si pemilik tubuh tinggi itu tanpa ragu dan lagi-lagi melempar tubuh Mark yang kali ini sampai keluar dari rumah. Terguling kemudian menghantam pot besar yang terletak di tengah-tengah taman.

Mark masih sadar. Ia masih bisa mendengar orang itu mengeram pelan karena aksinya dihalangi oleh si wanita yang baru datang— entah dari mana.

“Cukup. Kurasa kau tak perlu bertindak sejauh itu. Biarkan saja dia hidup, dan biarkan jika dia ingin membantu Emma. Seberapa kuatnya dia? Kita bisa lihat nanti.”

“Selama ini aku sudah mempercayainya. Dan ternyata… dia berkhianat. Aku benar-benar ingin membunuhnya sekarang juga.”

“Hentikan, Kris!” pria itu—Kris Wu—hanya bisa mengeram di tempatnya karena lagi-lagi Ellie menahan tangannya. “Kubilang biarkan saja jika dia ingin membantu Emma. Aku punya rencana lain untuk mendapatkan Lauren.”

Emosi Kris kembali stabil saat Ellie membicarakan sesuatu yang ditunggunya. Sedang Kris tengah bertanya-tanya cara lain apa yang Ellie ingin sampaikan, Ellie justru menampilkan smirk­-nya yang mengerikan; membuat Kris benar-benar penasaran dengan rencana adiknya ini.

“Apa rencanamu?”

.

.

.

.

.

.

.

.

To Be Continued—

 

Halo teman-teman, bertemu lagi ya ^^ Semoga gak bosen sama ceritanya. Sedikit bocoran sih, mungkin chapter depan, konfliknya dimulai. Dan bentar lagi, TSTV juga mau tamat 😦 Semoga endingnya nanti tidak mengecewakan ya. Hehe~ terimakasih banyak atas dukungan kalian selama ini. Tanpa kalian, mungkin saya gak pernah nulis lagi karena trauma.

Yasudah, mungkin ada yang masih bingung tentang silsilah keluarga Kris?
Okey ini sedikit potret mereka.

 

Bs2ql3nCQAATAzo.jpg-large 

Yang ini sudah jelas tahu donk siapa~ yup, kakak WuFan yang saya rindukan. Maafkan daku kak karena sudah menistakanmu di FF ini 😦

.

69a2b910

Untuk foto diatas, kakak ini di panggil Gui Gui. English name nya Emma, dan marganya Wu. Saya juga ga sengaja ketemu sama kakak ini pas liat WGM Taecyeon X Emma Wu. Namanya sama Emma Wu, dan dia dari Taiwan. Jadi, untuk karakter Emma yang kemarin saya ganti dengan kakak ini. Dia aktris, cantik, dan innocent banget ><

.

8830-4dk7r8we5r

Untuk yang ini Ellie Wu. Nama asli kakaknya Cyndi Wang. Dia aktris Taiwan juga dan seorang penyanyi.

.

tumblr_mtnzc0GAY91snerhxo1_1280

Kalau yang ini, Emily Wu istrinya bang Himchan. Diperankan sama kakak Michelle Chen. Tau kan ya? Kakak ini aktris, penyanyi, model, dan dari Taiwan juga. Pertama saya liat kakak ini pas di film You Are The Apple of My Eye di pairingin sama abang Kai Ko yang kece badai 😀 Kakaknya cantik banget, punya dimple pula ><

.

tumblr_n3fsavjOtd1tpsazyo1_500

Dan yang terakhir Mark Tuan. Kemarin ada yang tanya peran Mark ini sebenernya siapa. Ya ini, Mark Tuan. Mark dari GOT7. Member dari China yang punya senyum manis banget >< Sebenernya Mark bukan anggota keluarga Wu, dia cuman ga sengaja ketemu sama Kris terus diajak Kris tinggal bareng di rumah mereka plus dijadikan orang kepercayaan Kris, karena Kris kira Mark incubus juga. Taunya, Mark bukan incubus. Disini peran Mark gak jahat loh ya~ dia pengen bantuin Emma malah 😀

.

.

Okey, mungkin itu peran-peran baru dari TSTV— yang dulu di The Killer kita cuman kenal Kai-Hyemin, Sehun-Jaerin doank. Untuk yang minta FF ini agar fokus ke Kai-Hyemin, kayaknya saya gabisa. Karena peran-peran baru yang saya cantumkan diatas juga adalah pemain utama, jadi saya gabisa meninggalkan cerita dari mereka.

Baiklah, ini kenapa author note nya serasa baca ficlet panjang banget 😀 Saya akhiri, terimakasih sekali lagi untuk teman-teman yang setia mengikuti cerita ini. Big hug {}

Iklan

78 respons untuk ‘The Succubus and The Vampire [Chapter 9]

  1. jadi gemes liat kai suka sama orang lain… iiihhh +_+
    kris jangan nyiksa mark dia punyaku tau….
    hehehe peace fans.
    di part ini kok aku greget banget iya kesel kasian ahh pokoknya kaya es campur…
    figthing buat thor…
    next>>>

  2. author!!!! wah aku ketinggalan ff ini >< astaga ini aku kehilangan ff ini, aku gk tau ff ini masih dilanjut..
    astaga aku tadi nemu ff ini langsung lompat kegirangan. tapi gmn ceritanya kalo jongin suka sama emma? terus istri jongin mau kemana? ah ni ff super pokoknya!

  3. Yaampuun kenapa bisa kai jatuh cita sama emma?? Trus nanti hyemin nya gimana?? Kai ngga mungkin selingkuh kan?? Trus lagi kanapa jaerin suka sama himchan? Astagaa ada aja konflik nya, belum lagi yang peperangan antar kaum/? Ckck, jjangg!!!

  4. oohhh god makin kesini kenapa makin banyak cinta segi segian yaa tuhan hahhaha,sehun bakal kecewa berat sm jaerin tuh aduuhh gk bisa bayangin 😞😞

  5. Kenapa jadi ribet sih ceritanya?? Kai suka emma? Jaerin suka Himchan? Duuuh, selesaikan yg ini dong min, kesian Hyemin 😦

  6. Aku benci jika sudah seperti ini -,- jojong have a feeling sama emma trus jaerin jugak begitu sama himchan .. Ah~ ayolah . Kembali ke pairing kalian masing2 dan ya … Kak author berhasil bikin kita greget

  7. Ummm keren keren ^^ jdi suka bnget sm ff ini,tpi aku greget bnget sma Kai nya :v

    Okkk tpi aku penasaran yg chp 6&2 dipw
    😦

  8. udahh nungguin kelanjutan ff ini selama 3 bulann ehh malah tetep gaada lanjutannyaaa,sakit nya tuhh dihati thorrT__T Ayolahh nexttt next nexttt

  9. Mian thor ak bru comment di part ini..
    Ahh knp kai hrs tertarik sm emma sih ,jd ksel sndri >_<

    Ditunggu next chp thor..

  10. Kak echaaaa ~ maaaf aku spot disini dlu,,aku lama ga bka site,jd ‘sdikt’ lupa sma karya kaka !! Mana ktinggalannya 5part lagi,nyicil dulu ya,ka !! Maaaf bngt,,kangen si sama ff ini ,apalgi Kai-Min-Emma !!
    Mundur dulu,ka !!
    Buat cast2nya aku ga terlalu tau,cuman pada cantik2 deh,,Wufan gege jga gimanaaa gituu !!

  11. nahloh ellie ngerancanain apa

    walah kai kau rakus….punya hyemin kok malah suka sma emma sih

    eeh visualnya emma wu aku tau….udah pernah liat di dramanya dia tpi lupa judulnya apa soalnya udah lama sekitar tahun 2008 mungkin

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s