[EXOFFIWC-008] – TMWIFS

Tell me When It First Snows

 

 

 

Title                                         : Tell Me When It First Snows

Lagu yang menginspirasi        : The First Snow

Author                                     : Anne Andreas

Genre                                      : Romantic

Ratting                                                : General

Main Cast                                : Xiumin

 

 

Reen memandang langit sore Seoul yang hari ini tampak kelabu baginya. Angin musim gugur menerbangkan daun-daun kering yang berjatuhan di sekitar kursi taman tempat Reen duduk. Dengan gelisah Reen melihat ke jam di tangan kanannya lalu ke arah koper besar yang ada di sampingnya.

 

“Kenapa kau masih belum datang? Jangan seperti ini, aku harus pergi sebentar lagi….” ungkap Reen dalam hatinya lalu menghela napas panjang.

Reen kembali menatap jam di tangannya lalu beranjak dari kursi taman dan mulai berjalan sampai ia melihat bayangan seseorang yang sangat dikenalnya di kejauhan.

 

“Kriiiinngg kriiiiiinngggg”

 

Reen menggeliat di atas tempat tidurnya, meraih alarm berisik itu dan melemparkannya ke kolong ranjang. “Aaaah mimpi itu lagi…..” batinnya.

 

***

 

Linna memperhatikan sahabatnya yang entah sudah berapa lama hanya memutar-mutar sedotan di gelas minuman miliknya tanpa minat di dalam kantin universitas mereka.

“Lo kenapa sih hari ini tempramen banget?” tanya Linna

“Gue? Enggak tuh.” jawab Reen sekenanya

“Lo mimpi itu lagi ya?”

Reen hanya mengangkat bahunya dengan enggan.

 

Carelles, careless

Shoot anonymous, anonymous

Heartless, mindless

No one, who care about me?

 

“Whoaa itu EXO!” jerit Linna sambil melihat ke arah TV di kantin

“Apaan? Boyband lagi? Korea lagi?”

“Lo liat dulu coba, ini dua belas cowok keren banget, Reen! Lo juga kan pernah pertukaran pelajar di Korea, kenapa sih lo kaya gak suka gitu sama tuh negara!” Linna mengomel sambil tetap memandang dua belas cowok keren yang tadi disebutnya dengan mata berbinar-binar.

 

Karena tidak tahan dengan omelan Linna, dengan enggan Reen ikut menonton juga music video itu. Music video itu menceritakan tentang kekuatan dua belas cowok dengan background lagu yang menurut Reen cukup aneh, semakin ditonton semakin aneh music video itu di mata Reen. Merasa sudah cukup muak menonton music video itu, Reen hendak memutar kepalanya kembali dari arah TV tetapi Reen justru terpaku di tempatnya dan memandang lekat-lekat ke arah music video dan secara tidak sadar berbisik, “Seokie Oppa..”

 

Music video EXO MAMA sudah berakhir berganti dengan music video boyband lain namun Reen masih memandang TV dengan tatapan kosong.

 

“Nah, lo jatuh cinta kan sama mereka. Udah gue bilang, pesona dua belas cowok itu memikat! Udah lagi, music videonya udah abis kali..” kata Linna

“Seokie oppa….”

“Apa? Seokie oppa?” tanya Linna bingung

Reen masih memandang ke arah TV dengan tatapan kosong.

“Seokie oppa? Maksud lo Kim Min Seok EXO yang barusan? Xiumin? Kok lo bisa tau nama aslinya? Lo pernah kenal sama Xiumin waktu lo di Korea?” tanya Linna panjang lebar

“Ah? Apa? Enggak. Gue duluan ya.. ” jawab Reen tersadar dari lamunannya lalu meninggalkan kantin dan Linna yang masih kebingungan.

 

***

 

Pikiran Reen terus berkecamuk sepanjang perjalanan pulang. Kim Min Seok, seseorang yang ia panggil Seokie oppa, seseorang yang menghantui alam sadar dan alam bawah sadarnya selama lima tahun terakhir, tiba-tiba muncul di televisi sebagai Xiumin EXO. Bagaimana Reen dapat menelan semua hal tersebut bulat-bulat secara tiba-tiba?

 

Sesampainya di rumah, Reen langsung menyalakan laptop, mengaktifkan koneksi internet, membuka browser dan menulis key word “profil xiumin exo”. Dengan jari gemetar Reen menekan tombol enter. Sedetik kemudian muncul berbagai link yang menjawab pertanyaan Reen.

 

EXO – M

Nama Asli : Kim Min Seok

Nama Panggung : Xiumin

Tanggal Lahir : 26 Maret 1990

Tinggi Badan : 173 cm

Gol. Darah : B

 

“Jadi, Seokie oppa? Xiumin?”

Masih merasa tidak yakin dengan apa yang baru dilihatnya, Reen mencari biodata lain yang bisa ia temukan tentang Xiumin EXO.

“Xiumin merupakan member terbersih di EXO”

“Xiumin pernah mempelajari taekwondo”

“Xiumin merupakan member yang sangat detail.”

“Xiumin merupakan lulusan Inchang High School di Korea Selatan”

 

Inchang High School. Tiga kata itulah yang berhasil membuat Reen menghentikan aktivitas membaca yang sejak tadi dilakukannya. Inchang High School, sebuah sekolah di Korea Selatan yang pernah menerima Reen sebagai siswa pertukaran pelajar selama satu setengah tahun. Sebuah sekolah yang akhirnya mempertemukannya dengan seorang senior bernama Kim Min Seok yang membuat hari-harinya di Korea penuh warna namun juga membuat semua warna tersebut berubah sekaligus menjadi kelabu.

 

Reen mencoba berpikir, jadi mantan pacarnya yang selama ini membuatnya belum sanggup memberikan hatinya untuk laki-laki lain sekarang menjadi seorang artis Korea? Member Boyband? Terkenal? Punya fans di seluruh dunia? Apa yang akan dunia katakan bila mereka tahu bahwa Xiumin EXO yang sangat terkenal itu memiliki mantan pacar seorang gadis yang tinggal di Indonesia? Reen tersenyum getir mengingat kenyataan itu. Mantan pacar.

 

***

Maret 2007

 

Reen berjalan di koridor sekolah yang sangat terasa berbeda dari biasanya, dengan seragam yang juga berbeda dari biasanya, dan yang sangat pasti tatapan orang-orang yang berbeda dari biasanya. Mereka semua putih dan terlihat cantik di mata Reen, baik itu laki-laki ataupun perempuan. Reen berjalan dengan cepat menuju ruang guru sambil menunduk sampai akhirnya ia merasa kepalanya membentur sesuatu yang tidak keras tetapi cukup kuat untuk membuat Reen terjatuh sekaligus membuat sesuatu yang tidak keras itu mengeluarkan suara, “Aaah.. Jinjja! Nuguseiyo?”

 

Reen masih jatuh terduduk saat sesuatu yang tidak keras itu sudah berdiri menjulang di hadapannya. “I’m sorry” jawab Reen setelah berdiri dan langsung pergi mencari ruang guru lagi, ia tidak mau membuat masalah di hari pertamanya sebagai siswa pertukaran pelajar.

 

Setelah selesai mengikuti kelas terakhir di hari pertamanya di sekolah baru, Reen lebih memilih duduk di kursi taman sekolah daripada langsung kembali ke asramanya. Reen mulai memperhatikan lingkungan barunya yang akan ia jalani selama satu setengah tahun ke depan. Memperhatikan para pasangan yang berjalan berduaan, sekelompok anak perempuan yang tertawa ceria, sekelompok anak laki-laki yang bermain futsal di lapangan. Semuanya tidak jauh berbeda dengan yang ada di negara asalnya, Indonesia, hanya saja semua orang yang ia lihat saat ini menggunakan bahasa yang belum sepenuhnya ia mengerti.

 

Reen masih sibuk berkutat dengan pikirannya saat seorang murid laki-laki berjalan dari lapangan futsal ke arahnya, berdiri di depannya dan mengeluarkan rentetan kata-kata dengan bahasa yang belum terlalu ia mengerti. Reen memang sudah mempelajari sedikit bahasa Korea sebagai bekalnya menjadi siswa pertukaran pelajar di negara ini, namun mendengar seseorang berbahasa Korea dengan begitu fasih tetap saja membuat Reen sulit mencerna apa yang dikatakan oleh lawan bicaranya.

 

“Excuse me, i don’t understand what do you talking about.” jawab Reen dengan perasaan bersalah.

 

Tatapan murid laki-laki yang berdiri di depannya melembut, dan ia mulai berbicara dengan bahasa yang dipahami Reen.

“Kim Min Seok” kata murid laki-laki itu sambil mengulurkan tangan

“Reen. Reen Kukyia” jawab Reen sambil menyambut uluran tangan murid laki-laki itu.

Murid laki-laki yang bernama Kim Min Seok itu tersenyum. Hangat. Sulit mengartikan senyumnya, hanya saja Reen merasa ingin selalu melihat senyuman itu.

 

***

 

 

April 2012

 

Reen tersenyum lalu menghela napas. Ia mengingat kembali masa lalu yang sudah bertahun-tahun ini dikuburnya dalam-dalam. Masih dalam ketidakpercayaan, Reen berjalan ke arah ranjangnya, bukan untuk tidur tetapi melihat ke kolong ranjang dan menarik sebuah kotak cukup besar yang ada di sana.

 

Lagi-lagi Reen menghela napas di depan kotak besar itu. Setelah mengumpulkan keberanian dan menata hatinya, Reen kembali membuka kotak yang entah sudah berapa lama tidak dibukanya. Reen menatap semua barang-barang berbau Korea yang ia masukkan ke dalam kotak itu.

 

Reen tersentak saat handphonenya berbunyi, ada panggilan masuk.

“Wooy! Lo dimana? Langsung pergi dari kantin gitu aja. Di kampus juga gak kelihatan.” omel Linna panjang lebar bahkan sebelum Reen benar-benar meletakkan handphone di telinganya.

“Gue di rumah. Ga enak badan.”

“Yakin? Tadi lo baek-baek aja di kantin. Lo begini abis liat EXO. Jangan-jangan lo lagi stalking EXO, ya?” kata Linna dengan nada menggoda

“Engga. Gue gak stalking EXO atau apapun itulah yang lo sebut. Gue gak suka Korea. Gue mau tidur siang, meriang.”

“Oke oke. Keep calm honey. Galak amat. Cepet sembuh, yaaa..” jawab Linna lalu menutup sambungan telepon.

 

Linna memang sahabat Reen yang paling pandai melihat gerak-gerik dan perubahan Reen. Semua dugaannya hampir selalu tepat, termasuk perihal Xiumin tadi siang di kantin. Namun untuk masalah ini, Reen tidak ingin menceritakannya kepada siapapun, termasuk Linna.

Reen kembali fokus ke kotak yang ada di hadapannya, mengeluarkan satu per satu barang yang ada di sana. Seragam sekolahnya, berbagai aksesoris yang ia beli di Korea yang akhirnya hanya mendekam di dalam kotak tersebut tanpa dipajang untuk membantu Reen melupakan Xiumin. Reen tersenyum melihat benda-benda itu, dan matanya mulai tertarik melihat satu benda kecil, tipis dan terlihat sudah cukup usang, plester luka bergambar pita-pita kecil.

 

***

Juni 2007

 

Sudah tiga bulan Reen ada di negara lain, seorang diri, ia sudah mulai beradaptasi dengan lingkungan barunya, bahkan sudah mulai fasih berbicara bahasa Korea. Namun, hari ini suasana hati Reen sedang berkabut, pasalnya Reen medapatkan nilai yang tidak memuaskan di kelas Sejarah Korea. Hal itu membuat Reen kesal, ia merenung di bawah pohon untuk waktu lama sesudah selesainya jam sekolah. Karena tidak merasakan ketenangan dengan duduk di bawah pohon, Reen merasa ia harus melampiaskan emosinya pada sesuatu, dan bola basket di pinggir lapangan menjadi korbannya.

 

Reen memasuki lapangan basket dengan masih memakai seragam lengkap. Mengambil bola basket, melakukan dribble padahal ia tak tahu cara melakukannya dengan benar, dan mulai melempar bola basket itu ke arah ring, yang tentu saja tidak masuk ke dalam ring. Reen berlari mengejar bola basket itu dan melemparkannya kembali ke dalam ring, gagal, lalu kembali mengejar bola basket itu dan melemparkannya lagi. Bukannya rasa tenang yang Reen dapatkan, justru kesal semakin merayap dihatinya, bahkan bola basket saja tidak bersahabat dengannya hari ini.

 

Reen memegang bola basketnya lagi dengan tekad yang sangat kuat. Ia harus berhasil memasukkan bola basket ini ke dalam ring. Reen melompat penuh tenaga untuk mendorong bola basketnya masuk ke dalam ring saat terdengar sebuah suara menjerit dalam bahasa Korea, “Hoy! Lagi ngapain?”

 

Reen yang sedang melompat sangat terkejut dan tidak mendapatkan keseimbangan saat kedua kakinya kembali menapaki tanah, ia justru mendarat dengan posisi yang sangat tidak enak.

“Awwww” jerit Reen

 

Sumber suara yang membuat Reen terjatuh berlari ke arah Reen, “Gwaenchanha?” tanya Kim Min Seok

“Ini sakit sekali…” jawab Reen sambil memegang pergelangan kaki kirinya

Min Seok memegang pergelangan kaki Reen yang tadi ditunjuknya dan mendengar jeritan gadis didepannya menguat.

“Sepertinya ini terkilir. UKS sudah tutup. Kita harus ke klinik. Kau bisa berjalan?”

Reen menggeleng.

 

Min Seok berkacak pinggang di depan Reen lalu berkata, “Lagipula, kau seharusnya tidak bermain basket jika kau tidak bisa memainkannya.”

“Hey, aku terjatuh karena tiba-tiba ada seseorang yang berteriak saat aku sedang melompat.” jawab Reen membela dirinya sendiri

“Jadi kau berkata bahwa akulah penyebab kakimu terkilir?”

“Oh, kau tidak mau mengakuinya?”

“Oke, baiklah. Aku mengalah. Ayo, naiklah ke punggungku, aku akan menggendongmu sampai ke klinik.” kata Min Seok sambil duduk dengan posisi membelakangi Reen

 

Reen menurut dan memegang pundak Min Seok sehingga Min Seok bisa menggendongnya di belakang. Reen merasakan darahnya mengalir lebih deras. Ia tidak pernah digendong oleh laki-laki manapun di dunia ini kecuali ayahnya.

 

“Hey, Reen. Kau seharusnya tidak boleh memanggilku hanya dengan sebutan ‘kau’. Biar bagaimanapun aku lebih tua setahun darimu” kata Min Seok

“Lalu? Bagaimana aku harus memanggilmu?”

Oppa. Kau harus memanggilku oppa. Seperti kau memanggil sunbae yang lain.” Jawab Min Seok dengan nada menyuruh-anak-kecil-untuk-berhenti-makan-permen.

“Bagaimana kalau aku tidak mau?”

“Lalu aku akan melepaskan gendonganku dan meninggalkanmu di jalanan ini sendirian.”

“Ha! Kau sanggup melakukan itu pada seorang murid pertukaran pelajar? Aku akan melaporkanmu pada duta besar.” Jawab Reen dengan nada mengancam

“Ayolah. Panggil aku oppa. Oppa. Oke?”

Araso. Aku akan memanggilmu oppa. Seokie oppa.

Min Seok tertawa mendengarnya.

“Nah itu lebih baik di dengar. Aku jadi bersemangat. Pegangan yang kencang, aku akan berlari ke klinik!” kata Min Seok lalu berlari.

 

***

 

 

April 2012

 

Lagi-lagi Reen tersenyum getir sambil memandang plester luka tersebut. Ia teringat Xiumin yang memberikan plester luka ini sepulang mereka dari klinik. Xiumin pula yang memakaikan plester ini. Xiumin tersenyum puas melihat hasil karyanya di kaki Reen yang baru saja dibebat, kembali menggendong Reen dan mengantarkan Reen pulang ke asramanya.

 

Reen meletakkan plester luka penuh kenangan di lantai, di tempat barang-barang lain sudah berserakan sebelumnya dan kemudian kembali menatap isi kotak, mengambil sebuah boneka beruang kecil, dan tenggelam bersama kenangan yang tersimpan di dalamnya.

 

***

September 2007

 

Reen menggeliat di atas tempat tidurnya, melihat jam dan segera beranjak bangun lalu mandi. Oh, hari ini Reen akan pergi ke taman hiburan dengan Seokie oppa. Berdua!! Reen sudah sangat bersemangat sejak tadi malam. Bagaimana tidak? Ketika kau diajak pergi berdua saja dengan seseorang yang kau suka bukankah kau akan sangat senang?

Pikiran Reen masih melayang-layang saat handphone Reen berdering tanda telepon masuk.

 

Annyeong, oppa..” jawab Reen riang

“Haha, mengapa kau terdengar sangat bersemangat?” tanya Min Seok dari ujung telepon

“Tentu, ini pertama kalinya aku akan pergi ke taman hiburan di Korea jadi aku sangat bersemangat!”

“Tahan semangatmu, young lady! Sebentar lagi aku akan ke sana..”

“Ne, oppa!”

 

***

 

“Bagaimana?” tanya Min Seok sesaat setelah mereka memasuki taman hiburan

“Daebbak!” jawab Reen

Min Seok tertawa, “Are you ready, girl?”

“Absolutely!” jawab Reen bersemangat

“Ajja..” kata Min Seok sambil menggandeng tangan Reen dan berjalan menuju komidi putar

 

Reen terkejut namun tidak menolak, ia memandang tangannya yang tenggelam di dalam genggaman Min Seok. Ia merasa sangat siap untuk menikmati hari ini sehingga tidak bisa mengeluarkan kalimat apapun yang ada dipikirannya. Memang kalimat apa yang ada di pikiran Reen? Ia hanya terlalu senang.

 

Satu per satu permainan di dalam taman hiburan itu ditaklukan oleh Min Seok dan Reen. Mereka membeli bando telinga kucing dan memakainya, berfoto bersama, memakan gula-gula. Min Seok tersenyum samar melihat gadis di sampingnya ini masih bersemangat walaupun bulan sudah mulai mengintip, sementara dirinya sendiri sudah sangat kelelahan.

“Reen, aku sangat lapar. Ayo kita pergi makan lalu pulang.”

 

***

 

Reen memandang ke sekeliling tempatnya duduk di restoran itu, ini pertama kalinya ia pergi ke Namsan Tower. Walaupun sudah cukup lama ia tinggal di negara ini, namun ia masih kagum dengan setiap hal yang yang ia lihat di sini. Restoran ini selain memanjakan lidah juga memanjakan mata dengan pemandangan Seoul yang sangat indah.

 

Reen sangat bersemangat, ia hendak berbicara kepada Min Seok namun ia mendapati Min Seok sedang melamun di hadapannya, ekspresinya terlihat cemas.

Oppa? Kau kenapa?” panggil Reen

 

Min Seok tidak menjawab, atau lebih terlihat tidak mendengar panggilan Reen.

Oppa?” panggil Reen lagi ketika ia tidak mendapati jawaban

“Ya?” Xiumin tersentak dari kesibukannya dengan pikirannya sendiri

Oppa kenapa?” tanya Reen cemas

“Aku? Tidak.. Aku tidak apa-apa.” jawab Min Seok tetap dengan ekspresi cemas

Oppa terlihat cemas. Apa oppa sakit?”

“Tidak, aku tidak sakit. Mungkin aku hanya terlalu lelah.” Min Seok mencoba tersenyum

“Lelah sekali, ya? Kalau begitu setelah makan kita harus langsung pulang.” jawab Reen penuh perhatian

“Baiklah.” Min Seok tersenyum senang.

 

Reen ikut tersenyum melihat Min Seok tersenyum. Oh, senyum lelaki itu memang bisa menular kepada orang-orang di sekitarnya.

“Hey, aku baru ingat, aku ingin memberikan hadiah untukmu.” ungkap Min Seok

“Wow! Kan aku tidak ulang tahun hari ini.”

“Tidak apa. Aku hanya ingin memberikannya untukmu.” jawab Min Seok

 

Mata Reen melebar dan senyumnya merekah melihat boneka beruang kecil yang dikeluarkan Min Seok dari tasnya. Ia menyambut boneka tersebut dengan senyum yang lebar.

“Gomawo, oppa.”

“CheonmaneoMin Seok tersenyum namun wajahnya terlihat menegang

Reen masih terlihat takjub pada boneka mungil itu. Ia menempelkan boneka itu di pipinya dan meremasnya.

 

“Saranghaeyo

 Reen menghentikan aktivitasnya. Ia terkejut akan apa yang baru di dengarnya. Ia menatap Min Seok yang terlihat tegang, namun suara itu tidak berasal dari Min Seok.

 

“Saranghaeyo”

Suara itu terdengar lagi ketika Reen menekan perut boneka beruang mungil itu. Itu suara Min Seok, ia sangat yakin. Boneka beruang mungil ini mengeluarkan suara Min Seok. Reen memandang boneka itu. Tidak tahu harus merespon apa.

 

“Saranghaeyo”

Suara itu terdengar lagi, namun kali ini Reen tidak menekan perut boneka beruang itu. Reen mengalihkan pandangannya kepada Min Seok. Suara yang kali ini keluar langsung dari bibir Min Seok.

“Reen, saranghaeyo. Maukah jadi pacarku?”

 

***

April 2012

 

Reen masih memandang boneka beruang penuh kenangan itu sambil tersenyum, getir. Kenangan tentang indahnya hari itu masih berkelebat di kapala Reen saat Reen mengambil syal dan sepasang sarung tangan rajutan berwarna merah dari dalam kotak. Reen memakai kembali sarung tangan itu, hangat.

 

***

Desember 2007

 

Setiap kali di bulan Desember, udara di Korea memang menjadi sangat dingin. Min Seok mempererat jaketnya, menahan dingin. Ia menyesali keteledorannya meninggalkan buku di perpustakaan kemarin sehingga hari ini ia harus menembus angin kencang dan cuaca dingin untuk berjalan dari asrama ke perpustakaan sekolah.

 

Sekeluarnya dari gedung sekolah, Min Seok merasakan angin lebih kencang dan udara lebih dingin dari sebelum ia memasuki sekolah. Saat ia mulai berjalan, ia merasakan benda putih bersih jatuh di mantelnya.  Min Seok berhenti sebentar dan melihat ke langit, ke arah datangnya benda-benda kecil putih bersih itu, “Salju pertama sudah turun…”. Min Seok mengambil handphone dari dalam kantongnya dan mulai menekan beberapa nomor telepon.

 

***

Reen menggeliat tak bertenaga di atas ranjang tempat tidur asramanya. Bahkan untuk mengangkat telepon yang ada di sampingnya saja ia merasa butuh kekuatan yang sangat ekstra, ditambah cuaca hari ini sangat tidak bersahabat, Reen tidak terbiasa dengan suhu sedingin ini.

 

“Halo? Oppa? Ah, Ya. Aku sedang sakit, sejak semalam tubuhku terasa demam. Ah? Tidak, tidak, oppa tidak perlu datang bila kau ada urusan lain. Iya, iya, beberapa hari ini kelasku libur jadi aku bisa beristirahat penuh, aku akan segera minum obat dan kau boleh menyeretku ke dokter bila aku tidak tampak membaik.” Reen menutup sambungan telepon dari Min Seok dan kembali memejamkan matanya.

 

***

 

“Maaf  Reen, aku tidak bisa memberitahumu salju pertama turun hari ini.” gumam Min Seok sesaat setelah sambungan telepon mereka terputus.

Min Seok melanjutkan perjalanannya dari perpustakaan sekolah ke asrama dan mampir sebentar ke toko membeli obat untuk Reen.

 

Min Seok berdiri di depan pintu asrama Reen, memastikan tidak ada sisa salju di mantelnya karena ia yakin gadis itu akan menyeret dirinya sendiri keluar untuk melihat salju pertama turun tanpa mengingat kondisi badannya sendiri. Setelah ia yakin tidak ada satu butir salju lagi yang tersisa di mantelnya, ia masuk ke dalam asrama Reen.

 

Beberapa hari kemudian Reen merasakan tubuhnya sudah jauh lebih baik. Ia sedang membereskan kamarnya saat Min Seok muncul di depan pintu kamarnya dengan sebuah kotak.

“Apa itu?” tanya Reen penasaran

 

Min Seok membuka kotak itu dan mengeluarkan syal serta sarung tangan wol di dalamnya.

“Karena kau baru saja sembuh, kau tidak boleh keluar asrama tanpa syal dan sarung tangan. Nah, lihat! Lucunya!” kata Min Seok mengagumi syal dan sarung tangan yang saat ini sudah menempel di tubuh Reen.

“Terima kasih. Ah, aku mau keluar, oppa. Aku bosan beberapa hari ini hanya tidur di kamar.” kata Reen sambil menarik tangan Min Seok keluar asrama.

 

Sesampainya di depan asrama, Reen terkejut melihat taman kecil milik asramanya sudah berselimut salju. Ia memutar badannya ke arah Min Seok, meletakkan kedua tangannya di pinggang dan memandang laki-laki yang terlihat salah tingkah itu dengan marah.

 

“Hey, dengar dulu.” rayu Min Seok sambil mengejar Reen yang sudah berjalan ke taman di depan asrama

“Tidak! Oppa jahat! Oppa sangat tahu aku ingin sekali lihat salju pertama!” jawab Reen sambil terus berjalan diantara tumpukan salju

“Tapi kau sedang sakit!” jerit Min Seok

 

Reen menghentikan langkahnya, memutar badan dan melihat ke arah Min Seok.

“Tetap saja oppa jahat!”

“Baiklah aku jahat, aku minta maaf.”

“Aku sudah menantikan salju pertama saat pertama kali aku menginjakkan kakiku di Korea, dan aku melewati momen itu dengan terbaring di kamarku tanpa melakukan apapun. Kau tahu? Aku harus menunggu setahun lagi untuk dapat melihat….”

 

Reen menghentikan ucapannya karena sesuatu yang lembut dan hangat tiba-tiba ada di depannya, menempel di bibirnya. Ciuman pertamanya. Min Seok menariknya mendekat dengan lembut, mendekapnya sehingga ia merasa seluruh tubuhnya diselimuti oleh kehangatan yang sangat menenangkan.

 

***

April 2012

 

Reen menyentuh lembut bibirnya dengan tangan yang masih terbungkus sarung tangan hadiah dari Xiumin. Semua ingatannya mundur ke masa lalu, seolah hari-hari itu berlalu hanya seperti sebuah mimpi. Reen memandang kembali ke dalam kotak, mengambil sebuah jam tangan berwarna kuning cerah. Jam tangan yang sering hadir di mimpi Reen. Jam tangan yang dulu selalu melekat di tangan kanannya seolah menjadi sebagian dari dirinya. Jam tangan pemberian Xiumin.

 

***

Oktober 2008

 

Reen memandang langit sore Seoul yang hari ini tampak kelabu baginya. Angin musim gugur menerbangkan daun-daun kering yang berjatuhan di sekitar kursi taman tempat Reen duduk. Dengan gelisah Reen melihat ke jam di tangan kanannya lalu ke arah koper besar yang ada di sampingnya.

 

Hari ini hari terakhir Reen di Seoul. Reen harus kembali ke Indonesia karena masa pertukaran pelajarnya sudah habis. Min Seok berjanji untuk datang ke taman ini dan mengantarkan Reen ke bandara, namun yang ditunggu Reen tak kunjung datang.

“Kenapa kau masih belum datang? Jangan seperti ini, aku harus pergi sebentar lagi..” ungkap Reen dalam hatinya lalu menghela napas panjang.

 

Reen kembali menatap jam di tangannya lalu beranjak dari kursi taman dan mulai berjalan sampai ia melihat bayangan seseorang yang sangat dikenalnya di kejauhan. Namun, bukannya menghampiri Reen, sosok itu terlihat mengangkat telepon dan kemudian segera berbalik arah, menjauhi tempat Reen berdiri. Reen kecewa, namun tidak ada waktu lagi untuk mengejar Min Seok. Reen menghentikan taksi yang lewat, bergegas pergi ke bandara dan meninggalkan Korea.

 

***

April 2012

 

“Aku berharap detik jam ini akan mengingatkanmu bahwa setiap detik jantungku berdetak untukmu.” Reen tersenyum getir mengingat pesan Xiumin saat ia memberikan jam itu, dan senyumnya terlihat lebih pahit saat ia melihat jam itu sudah tidak lagi berdetik.

 

Terakhir, Reen mengambil buku harian dari dalam kotak, membukanya, membaca secara acak isi buku hariannya, mulai dari pembelajaran bahasa Korea hingga hari-hari yang ia lalui sebagai siswa pertukaran pelajar, termasuk hari-hari yang ia lalui bersama Xiumin. Reen membuka halaman terakhir buku harian tersebut dan mendapati masih ada nomor handphone dan alamat email Xiumin di sana.

 

Perasaan Reen bercampur, seluruh kenangan manis, kenangan pahit dan rasa penasaran berkelebat di otak Reen. Ia ingin memastikan secara langsung bahwa Min Seok yang ia kenal dulu adalah Xiumin yang menjadi sangat populer sekarang. Namun Reen terlalu ragu untuk menghubungi nomor handphone itu.

 

Dengan masih dihantui rasa penasarannya, akhirnya Reen membuka email di laptopnya, ia tidak pernah mengganti alamat emailnya sejak ia masih menjadi siswa pertukaran pelajar di Korea, dan mengklik “Compose Message” Reen mengetik alamat email lama Xiumin dan membiarkan kolom pesannya kosong. Reen mengklik “Send” dan muncul pemberitahuan bahwa email yang akan dikirim kosong. Muncul keraguan di hati Reen untuk mengklik tombol “Yes”, ia hanya memandang kosong ke layar laptop di hadapannya.

 

“Reen, ada temanmu di luar..” jerit mama dari depan kamar Reen

Reen segera keluar dan meninggalkan laptopnya dan menghampiri Linna yang ada di ruang tamu rumahnya.

 

“Ngapain?” tanya Reen

“Sewot bener. Gue kan khawatir kenapa lo tadi tiba-tiba pulang.” jawab Linna

“Gak papa, cuma gak enak badan tadi tapi udah mendingan.”

“Ke kamar yuk, gue mau cerita.”

“Ah? Ke kamar gue? Jangan!” jawab Reen dengan panik

“Kenapa?” tanya Linna bingung

“Lagi acak-acakan banget. Mending kita keluar aja..”

“Kan lo lagi gak enak badan?”

“Gak papa, jangan di kamar. Gue lagi gak pengen di kamar.” jawab Reen sambil berdiri lalu menarik lengan Linna keluar dari rumahnya.

 

Sekembalinya Reen setelah berpisah dengan Linna di depan rumahnya, Reen teringat akan emailnya yang tadi masih menggantung dan segera berlari ke kamarnya. Betapa terkejutnya Reen melihat laptopnya sudah tidak ada di tempatnya dan kamarnya masih berantakan karena barang-barang dari Korea yang tadi ia keluarkan satu per satu. Reen segera mencari tahu ke mana laptopnya pergi dan mendapati adiknya sedang memainkan laptop tersebut.

 

“Kamu apain laptopku?” tanya Reen menahan marah

“Aku pinjam buat main.”

“Tadi ada email yang belum terkirim kan?” tanya Reen dengan cemas

“Ya sudah ku kirim, aku pikir kakak lupa mengirimnya karena kak Linna datang.” jawab adiknya tanpa perasaan bersalah

 

“Kamu kirim? Emailnya? Terkirim? Kamu kirim emailnya?” jawab Reen terbata-bata mendengar penuturan adiknya.

“Iya. memangnya kenapa sih?” tanya adiknya kesal

Reen meninggalkan adiknya tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya, masuk ke kamarnya, mengunci pintu dan duduk di lantai kamarnya.

 

Emailnya terkirim…..”

 

***

 

Beberapa hari berlalu setelah peristiwa pengiriman email kosong itu. Reen memandang laptopnya lekat-lekat. Ia harus mengirimkan tugas kuliahnya lewat email dan Reen merasa membuka email adalah pekerjaan paling sulit yang ia harus lakukan saat ini. Sesungguhnya, Reen tidak mau merasa kecewa bila ia tidak mendapatkan balasan atas email kosong beberapa hari yang lalu.

 

Email terbuka. Satu kotak masuk. Reen merasakan jantungnya berdebar dengan sangat keras sampai-sampai ia merasa bisa mendengar bunyi detak jantungnya sendiri. Reen membuka kotak masuk. Pesan masuk dari alamat email milik Xiumin.

 

***

 

Xiumin melihat handphonenya di sela-sela istirahat latihan bersama EXO dan raut wajahnya menunjukkan kegelisahan.

“Mengapa beberapa hari ini kau terlihat sering memandang handphonemu?” tanya Luhan

“Sedang menunggu balasan email yang tak kunjung datang.” jawab Xiumin masam lalu duduk sendirian di pojok ruang latihan.

 

Xiumin teringat beberapa hari lalu saat handphone miliknya bergetar tanda email masuk. Ia merasa cukup aneh karena sudah sangat lama tidak pernah ada email masuk untuknya. Xiumin membuka email itu dan terkejut melihat alamat pengirim pesan, reenkukyia@yahoo.com, namun isi pesan itu kosong. Apa maksud gadis ini?

 

Xiumin merasa ia harus membalas pesan itu. Ini adalah kesempatan pertama atau mungkin juga yang terakhir yang datang kepadanya untuk meminta maaf pada gadis yang pernah ia sayangi, bahkan yang masih ia sayangi sampai saat ini. Gadis yang ia korbankan perasaannya untuk ditukar dengan posisinya sebagai trainee SMEnt. Xiumin bukan tidak melihat Reen berdiri di samping kursi taman waktu itu. Namun telepon dari agensi SMEnt-lah yang membuat Xiumin berhenti dan memutar langkahnya. Detik itu begitu menentukan. Xiumin harus segera memilih antara gadis itu atau awal kariernya sebagai penyanyi yang selalu dimimpikannya.

 

Xiumin tampak begitu bingung, ia tidak tahu apa yang harus ia ketik. Ia harus mengirimkan kalimat yang membuat gadis itu mau membalas pesannya, akhirnya Xiumin teringat satu kata yang belum sempat diucapkannya sejak terakhir pertemuan mereka.

“Mianhae.

 

Xiumin mengirimkan pesan itu dengan ragu dan berharap menadapatkan balasan dari pesannya. Namun satu hari, dua hari email balasan tidak kunjung datang. Hal ini membuat pikiran Xiumin semakin dipenuhi dengan Reen. Apakah gadis itu masih marah padanya? Apakah ia terlalu marah padanya sehingga permintaan maafnya pun dihiraukan?

 

***

 

Reen masih memandang email satu kata yang dikirim Xiumin kepadanya. Oh oh, email itu dikirim beberapa hari yang lalu, hari yang sama saat adiknya secara tidak sengaja mengirimkan email itu pada Xiumin. Berarti Xiumin langsung membalas email darinya? Tidak hanya membalas emailnya tapi Xiumin juga meminta maaf padanya. Reen terlalu senang sampai ia merasa otaknya sudah tak berfungsi lagi. Apa yang harus ia balas? Reen berusaha mengalihkan pikirannya kepada tugas kuliah yang seharusnya ia kirimkan, namun tetap saja pikirannya tidak bisa pergi dari sana. Akhirnya Reen membuka pesan itu lagi dan membalasnya.

 

***

 

Xiumin yang sedari tadi masih memandang handphonenya dengan tatapan kosong kaget saat tiba-tiba handphonenya bergetar tanda email masuk. Akhirnya gadis itu membalas pesannya. Apakah butuh waktu selama itu untuk membalas permintaan maaf darinya? Ia tahu benar gadis itu pasti terluka perasaannya. Ia tahu gadis itu pasti marah dan mungkin ia masih menyimpan kemarahannya selama bertahun-tahun ini. Namun Xiumin tidak mau disibukkan dengan pikiran-pikiran yang mengganggu otaknya, ia segera membuka pesan tersebut.

“for what?” Isi pesan itu begitu singkat, namun Xiumin tersenyum.

 

Xiumin sangat mengenal gadis itu sehingga ia tahu gadis itu ternyata tidak lagi marah padanya walaupun isi pesannya sangat singkat. Xiumin merasa semua beban berat yang ia rasakan menindih pundaknya beberapa hari ini lepas begitu saja dan ia bisa tersenyum cerah sambil membalas pesan itu.

 

Hyung, ada apa denganmu? Beberapa hari yang lalu kau tampak sangat muram. Namun tiba-tiba tadi wajahmu berubah sangat cerah.” tanya Chen yang ternyata memperhatikan perubahan ekspresi Xiumin.

“Ah, tidak ada apa-apa, hanya saja suasana hatiku mendadak baik saat ini. Mari kita latihan lagi!” jawab Xiumin ceria.

 

***

Agustus 2012

 

Reen yang sedang duduk di kantin tampak serius memperhatikan handphonenya dan terkadang muncul senyum dari bibirnya. Sudah sekitar empat bulan ini ia sering berkirim email dengan Xiumin.

 

“Hoy, pesen makanan di kantin itu ya dimakan. Jangan didiemin aja.” kata Linna

“Nanti…” jawab Reen tanpa mengalihkan pandangannya dari layar handphone

“Lo kok kayaknya beberapa bulan ini berubah ya?”

“Iya? Berubah gimana? Biasa aja ah..” Reen menatap Linna sekali lalu kembali menatap handphonenya

“Lo jadi gadgetholic, lo download aplikasi email di handphone, emang email-an sama siapa sih sampe segitunya?”

“Sama temen lama.”

“Dari Korea?”

“Iya temen waktu di Korea.”

“Min Seok?”

 

Reen mengangkat wajahnya dari layar handphone dan menatap Linna tajam tapi tidak menjawab pertanyaan sahabatnya itu.

“Bener kan? Min Seok? Serius Min Seok EXO dulu temen lo?”

“Menurut lo?”

“Sangat sangat sangat sangat kecil kemungkinannya, sih.” Jawab Linna sambil tertawa

 

Reen tidak menjawab, ia hanya kembali sibuk dengan handphonenya. Baguslah Linna tidak mengetahui Min Seok EXO dan Reen memang pernah memiliki hubungan di masa lalu. Reen juga tidak ingin siapapun tahu bahwa ia dan Xiumin sering berkirim email di sela-sela kegiatan Xiumin yang padat. Hal itu tidak perlu diketahui siapapun, tidak akan berdampak baik bagi Reen, bagi image Xiumin, dan bagi fans EXO di seluruh dunia.

 

***

 

“Hyung!”

Tao mengintip teman sekamarnya yang terlihat sibuk dengan handphonenya di atas ranjang kamar, sementara member EXO-M lain berkumpul di ruang keluarga. Panggilan pertama Tao tidak mendapat respon dari Xiumin sehingga Tao menghampiri Xiumin dan mengambil handphone Xiumin dari tangannya.

 

“Ya!!” teriak Xiumin

“Kau tidak menjawab panggilanku karena kau terlalu sibuk dengan benda ini.” jawab Tao sambil melambai-lambaikan handphone Xiumin di depan wajahnya.

Xiumin cepat-cepat merebut kembali handphonenya dari tangan Tao sebelum Tao melihat apa yang dilakukan Xiumin dengan handphonenya.

“Aku punya urusan.” jawab Xiumin beralasan

“Setiap hari? Kau terlihat seperti ini setiap hari. Sibuk dengan handphonemu setiap kali ada kesempatan. Aku peringatkan bila kau begini terus, manager hyung tidak akan tinggal diam. Ia mungkin akan menyita handphonemu.”

“Aku tahu. Aku akan ke ruang keluarga sebentar lagi. Makan apa kita hari ini?”

“Keluarlah maka kau akan tahu apa yang kita makan.” jawab Tao lalu keluar dari kamar.

Xiumin kembali menatap handphonenya, mengirim email lalu menyusul Tao keluar kamar.

 

Persis seperti yang diperingatkan Tao, malam itu juga Xiumin mendapat teguran dari manajernya karena dianggap kurang konsentrasi dalam latihan sedangkan mereka akan pergi ke banyak acara di Asia yang membutuhkan banyak latihan pula. Xiumin mengindahkan teguran dari manajernya dan mengurangi waktu berkirim email bersama Reen.

 

***

 

Handphone Reen bergetar, email masuk dari Xiumin. Reen membacanya lalu tersenyum, pasrah. Reen sangat mengerti keadaan ini cepat atau lambat pasti akan terjadi. Xiumin yang sekarang ia kenal berbeda dengan Min Seok yang dulu. Dulu, Reen dapat memiliki waktu Min Seok sendirian dan selama yang ia inginkan, namun sekarang Reen harus berbagi Min Seok dengan member EXO, manajer dan staf SMEnt, dan tentunya dengan fans Xiumin. Ia sudah cukup senang dapat berkirim email secara sembunyi-sembunyi dengan Seokie oppa yang disayanginya dan bahkan tidak berani berharap dapat kembali menempati posisinya sebagai kekasih Xiumin. Namun perasaan senang itu sepertinya harus ia tahan sekali lagi karena Xiumin mengatakan ia akan sibuk mengikuti banyak latihan sehingga ia tidak akan bisa sering berkirim email.

 

***

November 2012

 

Reen duduk di atas ranjang kamarnya. Menatap satu-persatu barang dari Korea yang sudah ia pajang di kamarnya. Mengalihkan pandangannya ke laptopnya lalu ke handphonenya. Sudah beberapa bulan ia jarang berkirim email dengan Xiumin karena jadwal Xiumin yang sangat padat. Ia merindukan email dari Xiumin, atau lebih tepat ia merindukan si pengirim email. Bolehkah ia mengirim email lebih dulu?

 

Saat sedang bergumul dengan dirinya sendiri tiba-tiba sebuah email masuk ke laptop dan handphone Reen. Sepertinya dewi fortuna sedang melihat ke arahnya. Harap-harap cemas. Reen segera membuka email masuk lewat laptopnya dan bibirnya tidak bisa menyembunyikan senyum yang merekah.

“Bogoshipoyeo

 

Lagi-lagi isi pesan yang sangat singkat. Xiumin memang tahu benar bagaimana cara memperlakukan Reen dan membuat gadis ini tidak berpaling darinya meski mereka dipisahkan samudera yang luas. Dengan yakin Reen membalas pesan Xiumin, ia tidak ingin menahan apa yang dirasakannya lagi.

 

Reen tidak mengalihkan pandangannya dari layar laptop, menunggu balasan. Namun seluruh layar laptop Reen berubah menjadi panggilan masuk dari Xiumin lewat skype.

Reen mengklik option “Jawab”. Ragu. Namun seluruh keraguannya langsung sirna sesaat setelah wajah Xiumin memenuhi seluruh layar laptopnya. Ia menyadari betapa ia merindukan laki-laki itu.

 

“Aku merindukanmu…” kata Xiumin dengan senyum yang menular

“Bolehkah aku berkata aku juga merindukan oppa?”

“Siapa yang melarang?” Xiumin tertawa

“Bogoshipoyeo, oppa..”

“Ah, melihat wajahmu lewat layar laptop ternyata tidak mengobati kerinduanku. Aku sungguh ingin bertemu denganmu. Bagaimana jika kau mengambil liburan dan datang ke sini?”

“Ke Korea?” tanya Reen dengan wajah kaget

“Iya. Ke Korea.”

“Ah, aku tidak bisa, oppa.

“Kenapa?” tanya Xiumin dengan wajah penasaran

“Aku sedang sibuk.”

“Bulan depan pasti ada hari libur di kampusmu. Semua universitas di semua negara pasti memiliki libur akhir tahun. Aku yakin!” jawab Xiumin dengan wajah yang sama yakinnya dengan kalimat yang baru saja ia lontarkan.

“Tidak bisa, oppa..”

“Apa kau sudah tidak ingin melihat salju pertama turun?”

Reen tidak menjawab. Sebenarnya ia ingin melihat salju pertama turun. Masih ingin.

 

Melihat ekspresi Reen, Xiumin semakin bersemangat membujuk Reen pergi, ia bisa melihat gadis itu sungguh ingin melihat salju pertama.

“Ayolah, kau bisa datang bulan depan, kan? Aku memiliki hari libur bulan depan, aku akan menemanimu berkeliling Korea dan tentunya melihat salju pertama turun bersamamu.” bujuk Xiumin

“Tidak bisa, oppa. Bulan depan aku ada dharma wisata.”

“Bukankah dharma wisata itu tidak wajib?” tanya Xiumin dengan wajah bertanya-tanya

“Ah, oppa. nanti kita lanjutkan. Aku harus pergi sekarang.” jawab Reen lalu memutuskan sambungan skype mereka, tanpa menunggu jawaban Xiumin.

 

Reen menghela napas. Reen tahu ia pasti akan berhasil terbujuk bila ia tidak memutuskan saluran skype. Reen tidak mau terlalu larut dalam kebahagian ini. Cukuplah ia bisa berkirim email dan berbincang dengan Xiumin. Ia tidak mau menjadi terlalu serakah dengan pergi ke sana dan menemui Xiumin. Ia tidak mau hatinya menjadi egois dan ingin kembali memiliki Xiumin seorang diri seperti dulu.

 

***

 

Reen baru saja menghempaskan tubuhnya diatas tempat tidur saat ia melihat sebuah email masuk di laptopnya. Otak Reen mulai berputar memikirkan alasan apalagi yang akan ia berikan bila Xiumin kembali membujuknya pergi ke Korea di dalam email yang baru saja diterimanya.

 

Reen langsung duduk dengan tegang sesaat setelah ia melihat isi email itu. Sejenak isi kepalanya kosong. Ia mencoba bernapas dan meraba kenyataan yang terpampang di layar laptopnya. Sesaat setelah ia memperoleh kesadarannya kembali, ia membuka skype dan membuat panggilan skype untuk Xiumin.

 

***

 

Xiumin sedang beristirahat  di kamarnya sambil memperhatikan laptopnya. Ia baru saja mengirim email untuk Reen, dan ia yakin email ini akan membuat Reen terkejut. Xiumin sudah tersenyum sendiri saat membayangkan ekspresi Reen ketika membuka email darinya.

Seketika layar laptop Xiumin berubah. Oh oh, gadis itu membuat panggilan skype untuknya. Ini rekor!

“Hai..” sapa Xiumin dengan wajah lugu dan tidak lupa senyum yang menular

“Apa yang kau kirimkan padaku?” tanya Reen tanpa basa-basi

“Apa yang ku kirimkan? Aku mengirimkan foto.”

“Apa kau sedang mabuk?”

“Tidak, aku tidak sedang mabuk. Kau lihat sendiri, kan?”

“Oppa!!”

“Apa salahku? Aku hanya mengirimkan foto untukmu.” kata Xiumin menahan senyum

“Ya! Kau mengirimkan foto tiket pesawat Indonesia – Korea dengan namaku!”

“Apa yang salah dengan itu?” Xiumin sudah tidak bisa lagi menahan senyum lebarnya

“Aku tidak bisa pergi ke sana. Andwae!” Reen menggeleng-geleng

 

Reen melihat Xiumin tidak membalas ucapannya, namun ia tampak sibuk mengambil sesuatu dari sampingnya, Reen tidak dapat melihatnya melalui webcam.

Oppa, aku tidak bisa pergi. Aku ada dharma wisata. Kau tidak bisa memaksaku. Jadi, segera cancel tiket itu karena aku tidak akan datang.” lanjut Reen lagi setelah Xiumin telah kembali menatap Reen, lewat skype.

 

“Baiklah, aku tidak akan memaksamu. Tapi, aku juga sudah punya ini.” jawab Xiumin ringan sambil melambai-lambaikan sebuah kertas.

“Apa itu?” tanya Reen tidak dapat menutupi rasa penasarannya.

“Ini? Tiket Korea – Indonesia.” jawab Xiumin dengan tetap melambai-lambaikan kertas itu.

 

Mulut Reen menganga, ia tidak sanggup menjawab. Bahkan ia tidak tahu apa yang sedang berputar di pikirannya saat ini.

“Jika aku tidak melihatmu di bandara nanti. Keesokan harinya aku akan berangkat ke sana. Jika kau tidak bisa menemaniku melihat salju pertama di sini. Aku yang akan ke sana menemanimu berdharma wisata. Bagaimana?” tutur Xiumin ringan tanpa mempedulikan ekspresi Reen.

Oppa, bercandamu sungguh keterlaluan.” jawab Reen dengan tegang

“Siapa yang bercanda? Aku sangat serius dan sangat yakin ketika membeli tiket ini.”

“Aku  tidak… Aku… Apa yang harus ku katakan.” jawab Reen masih belum bisa mencerna semua yang baru saja terjadi

“Kau tidak harus mengatakan apa-apa. Kau hanya harus datang. Jika kau tidak datang, maka aku yang akan datang. Sesederhana itu.” Xiumin tersenyum lebar

 

***

Desember 2012

 

Xiumin duduk di lobby Bandara Incheon dengan cemas. Sesekali ia melihat ke arah pintu keluar penumpang pesawat dan kembali menunduk. Ia berharap topi hitam dan jaket kulit tebal ini dapat menyembunyikan identitasnya. Beberapa saat kemudian sekelompok orang keluar dari pintu keluar penumpang pesawat, Xiumin memperhatikan mereka satu per satu sampai akhirnya ia melihat sosok gadis yang sangat dirindukannya, berjalan seorang diri sambil menyeret koper kecilnya, menoleh ke kanan dan ke kiri seolah mencari seseorang.

 

Xiumin merasakan dorongan kuat dari dalam dirinya untuk langsung berlari dan memeluk Reen ketika gadis itu menoleh ke arah Xiumin dan pandangan mata mereka bertemu secara langsung untuk pertama kalinya. Reen tersenyum kepadanya. Senyum manis itu terlihat sangat nyata. Masih sama seperti dulu, selalu berhasil membuat Xiumin merasakan dunia menjadi lebih indah.

 

***

 

“Salju sudah menumpuk. Aku kehilangan momen salju pertamaku lagi.” ucap Reen sambil memandang salju di taman dekat asrama tempatnya tinggal dulu.

“Kalau begitu kau boleh datang lagi tahun depan, tahun depannya lagi dan lagi, sampai kau mendapatkan momen salju pertamamu. Atau kau boleh tinggal di sini saja bila kau mau.” jawab Xiumin yang duduk di samping Reen.

“Mudah sekali kau mengucapkannya, oppa!

Xiumin tersenyum, menatap Reen dan membetulkan letak topi rajut di kepala Reen agar gadis itu tidak merasakan kedinginan.

 

Oppa, Seoki oppa.. Apakah baik-baik saja kau ada di sini denganku?”

“Tentu, aku sedang libur hari ini..”

“Maksudku, bagaimana bila penggemarmu melihat hal ini?”

“Aku akan mengatakan bahwa kau pacarku.”

“Oh, ayolah, jangan bercanda.”

“Memangnya kau melihatku seperti sedang bercanda?”

 

Reen menatap Xiumin, berusaha meyakinkan dirinya bahwa kata-kata yang baru saja dikatakan Xiumin tidak nyata.

“Aku tidak bercanda.” Xiumin mempertegas ucapannya

“Tapi keadaannya berbeda sekarang, kau tentu saja mengetahui hal itu kan.”

“Aku tahu, maafkan aku. Itu semua kesalahanku dulu. Aku…”

Oppa…” Reen meletakkan telunjuknya di bibir Xiumin, berusaha menghentikan laki-laki itu melanjutkan perkataannya.

 

“Kau tidak perlu menjelaskan. Aku tahu keadaannya, aku tahu alasanmu, dan aku tidak marah. Aku hanya bingung saat itu karena aku tidak mengetahui apa alasan oppa pergi begitu saja, tetapi setelah aku tahu alasanmu, walaupun kau tak menyampaikannya kepadaku, aku mengerti. Aku mendukung mimpimu, oppa. Aku yakin kau akan berkembang, kau harus melihat ke sekeliling, duniamu bukan hanya aku lagi, duniamu sudah sangat luas. Oppa, jarak antara kita sudah terlalu jauh sekarang. Kau menyadari hal itu kan?” tutur Reen

 

Xiumin memandang Reen. Menyadari betapa lama mereka tidak bertemu dan betapa dewasa gadis dihadapannya ini telah tumbuh. Kata-katanya begitu teratur dan menenangkan. Xiumin merasa dunianya akan berjalan baik bila saja gadis itu bersedia terus berada di sisinya. Namun ia mengerti benar maksud perkataan Reen.

 

Xiumin tidak bisa menyusun kalimat untuk menjawab perkataan Reen, ia hanya mendekat dan menarik Reen ke dalam pelukannya. Ia berharap gadis itu tidak menolak pelukannya.

 

***

 

Oppa, jarak antara kita sudah terlalu jauh sekarang, kau menyadari hal itu kan?”

Setelah kata-kata itu keluar dari bibirnya, Reen melihat Xiumin menatapnya, ia tidak bisa mengartikan pandangan itu, begitu hangat. Beberapa saat tidak terlihat reaksi dari Xiumin sampai ia mendekat dan menarik Reen ke dalam pelukannya.

 

Secara logika, Reen seharusnya menolak pelukan Xiumin. Namun jantungnya berdebar dengan cepat. Ia rindu ada di dalam dekapan itu, bahkan ia merasa rela membayar berapapun agar tidak terlepas dari dekapan itu. Reen membalas pelukan Xiumin, sekali lagi saja dia ingin mendahulukan egonya dan melakukan apa yang ingin dilakukannya.

 

***

 

“Seokie oppa, besok aku akan pulang.”

“Cepat sekali.” jawab Xiumin tidak dapat menutupi raut kecewa yang muncul di wajahnya

“Aku tidak ingin mengganggumu dengan berlama-lama di sini. Oppa harus banyak latihan untuk persiapan tour EXO, kan?”

Araso. Jam berapa penerbanganmu besok?”

“Jam empat sore. Oppa tidak perlu mengantarku dan membolos dari latihan. Aku akan marah bila oppa lakukan itu.”

“Baiklah. Kau masih belum berubah, tetap mampu membuatku tidak bisa menolak apapun yang kau katakan.” kata Xiumin sambil membelai puncak kepala Reen.

 

Reen tersenyum, “Oppa, jaga dirimu baik-baik ya. Kau harus selalu sehat, makan teratur dan tidur yang cukup. Kau harus tetap kuat dan tersenyum sampai kita bertemu lagi.”

Reen tidak bisa menahan gejolak dalam dirinya saat mengatakan kalimat terakhir, ia memeluk Xiumin erat.

 

Xiumin membalas pelukan Reen sama eratnya. Ia ingin hal ini berlangsung selamanya. Ia tidak peduli lagi bahkan jika ada orang yang melihatnya dan menyebarkan rumor tentang dirinya. Ia tidak peduli lagi bahkan jika ia harus menerima hukuman dari manajernya. Ia hanya ingin membiarkan gadis itu ada di pelukannya selamanya.

 

***

 

Selesai latihan, Xiumin duduk di ruang latihan sambil memegang botol minum dan menonton TV, ia membayangkan akan mengirimkan panggilan skype untuk Reen setelah Reen sampai kembali di Indonesia. Xiumin tersenyum dan kembali fokus melihat TV saat siaran TV berubah menjadi breaking news.

 

Botol air yang ada di tangannya terjatuh, air yang ada di dalamnya tumpah membasahi lantai. Xiumin terdiam, ia merasa seluruh dunianya mendadak gelap gulita dan ia tersesat di dalamnya. Matanya hanya memandang dengan kosong, kulitnya pucat seketika.

 

Dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya Xiumin bangkit dari tempatnya duduk, keluar dari ruangan latihan tanpa menghiraukan semua panggilan teman-temannya juga manajernya. Ia berjalan tergesa-gesa sambil mencoba melakukan panggilan telepon.

 

Xiumin bersandar di dinding sesaat setelah sambungan telepon dimatikan. Ia merasa kakinya sudah tidak sanggup menopang berat tubuhnya lagi. Ia meringsut di lantai, mengepalkan tangannya di dalam saku jaket berusaha menggapai kesadaran yang semakin menjauh dari dirinya. Setitik air keluar dari ujung matanya, tangisnya pecah dan ia tidak dapat menahan kesesakan yang memenuhi rongga dadanya lagi.

 

Breaking News. Beberapa saat yang lalu, dilaporkan telah terjadi kecelakaan pesawat di Bandara Incheon. Sebuah pesawat dengan penerbangan tujuan Indonesia diduga mengalami kerusakan mesin dan meledak di udara. Pihak bandara memperkirakan kecil kemungkinan adanya korban selamat pada kecelakaan ini.”

 

***

Dua jam sebelumnya

 

Reen masih menatap email dari Xiumin sesaat sebelum pesawatnya take off dari Bandara Incheon. Beberapa saat setelah pesawat mengudara, Reen merasakan pesawat bergoncang hebat dan udara di dalam kabin pesawat berubah panas, alat bantu pernapasan diturunkan dan awak pesawat mulai sibuk membantu para penumpang memasang alat pernapasan mereka. Beberapa saat kemudian Reen melihat percikan api di kabin pesawat bagian depan, percikan api itu menjalar begitu cepat di dalam kabin pesawat itu, menuju ke arah Reen.

 

From    : Seokie Oppa

Subject: (no subject)

Hati-hati di perjalanan pulang.

Aku akan makan dan tidur teratur,

aku akan latihan dengan baik dan berkembang menjadi artis seperti impianku.

Dan aku akan menepati janjiku membawamu melihat salju pertama turun.

Aku akan terus tersenyum sambil menunggu pertemuan kita yang selanjutnya.

Tunggu aku, ya..

Saranghae. Jeongmal saranghae.

 

 

***

Desember 2013

 

Xiumin mempersiapkan diri untuk penampilannya di salah satu acara TV Korea bersama member EXO lainnya. Satu tahun sudah ia lewati tanpa Reen. Kadang air matanya menetes tanpa ia sadari bila ia merindukan gadis itu, seperti hari ini. Hari ini tiba-tiba ia sangat merindukan gadis itu. Ia ingin merasakan kehadirannya, melihat senyumnya dan mendengar sapaannya. Namun ia sadar semua itu tidak mungkin terjadi.

 

Hyung, ayo. Kita akan segera naik ke stage.” panggil Suho

 

Xiumin berdiri dan mulai berjalan menuju stage. Di tengah perjalanannya, ia merogoh kantongnya dan mengeluarkan secarik kertas yang sudah mulai usang yang pernah ditinggalkan Reen di dalam saku jaketnya, di hari terakhir Reen ada di bumi.

 

Xiumin berusaha menutupi perasaannya dengan senyum, mengerahkan semua keterampilannya di atas panggung, berusaha memenuhi janjinya yang terakhir pada Reen. Penonton yang mayoritas adalah gadis-gadis menjerit, meneriakkan nama bias mereka dengan penuh semangat, menikmati alur acara hari itu.

 

Di akhir acara, MC berkata, “Sebelum acara ini berakhir, apakah kalian ingin menyampaikan sesuatu?”

Xiumin mengambil microfon dari Suho, memandang kamera dengan mata yang sendu dan berkata, “Aku ingin menyampaikan sesuatu. Sore ini salju pertama turun, dan itu sangat indah…”

 

***

 

Seokie oppa, aku pulang dulu ya..

Aku bersyukur bisa melihatmu lagi setelah

sekian lama. Sebenarnya, aku juga sangat

senang bisa datang lagi ke Korea

dan menemuimu.

Seperti yang kemarin kukatakan, jangan

lagi menyalahkan dirimu atas apa yang terjadi.

Jangan menyesal atas apa yang kau lakukan.

Aku sangat memahamimu, dan aku akan terus

ada di sisimu, mendukungmu apapun yang terjadi

pada dirimu.

Terus semangat dan kejar cita-citamu, oppa!

Aku mencintaimu.

 

 

*The End*

Iklan

54 pemikiran pada “[EXOFFIWC-008] – TMWIFS

  1. baru baca lagi setelah sekian lama tertunda,,,hehehe
    xiumin,,,jarang banget baca ff yang main cast nya xiumin,,,hehehe…
    dia romantis banget,,,
    lovely..
    gomawoyo..

  2. *ambil duit suho sebanyak banyaknya* *usap ingus sama airmata* sediiii sediiiii….. kasian si mimin. sumpa baper bet bacanya thooorrrrr….

    tapi entah kenapa aku jdi iada pemikiran kalo sebenernya member exo sebenernya kek gitu. sms an diem2, email2an diem2. tapi kamera aja yg kadang gak nemuin mereka.

    keyeeennnn keyeeennnn…. ditunggu chaptered nyaa yaaaaa muah muah

    • makasih jempolnya.. wkwkwk..
      wah seneng deh kalo pembaca bisa sampe ngebayangin ekspresinya xiumin oppa..
      aku juga suka banget sama xiumin oppa, kita sama.. wkwkwk..

    • hehe,, aduh..
      kenapa harus sad ending ya, aku jadi bingung mau jawab apa..
      maafkan jari ini ya yang terus mengetik ending yang tragsi begitu..
      TT _ TT
      betewe makasi komennya yaa.. ^^

  3. Bagus banget, author… sukses bikin air mataku jatuh. Hiks. Jalan ceritanya benar-benar bagus. Biasanya aku akan dengan mudah menebak akhir cerita. Tapi ini..apa ini? Author sungguh hebat!
    Terus berkarya! ^^

    • Makasi pujiannya dan semangatnyaa..^^
      Aku akan trus berkarya.. :))
      Rasanya masi belom pantes buat dibilang “sungguh hebat” hohoho,,
      Doakan aku bisa benar” jdi author yg sungguh hebat ya.. 😀

  4. Daebakkk….

    Ini bagus banget ff ya , sampe sampe perasaan ku terombang ambing dan alhasil meneteskan cairan dari mata ku….

    Lanjutkan karyamu yg lain thor. Aku yakin pasti akan lebih mengoyak hati.. di tunggu ya ff yg lainya…

  5. Huhuhu….. 😥 sedih banget
    Xiu oppa sama aku aja ne.? Aku bisa kok jadi pengganti nya
    Jangan nangis xiu oppa…huhuhu….cupcupcup
    Thor daebak…kerren banget siii bikin aku nangis kejer

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s