[EXOFFIWC-003] – Illusion

Illusion

 

 

-Title: Illusion

-Lagu yang menginspirasi: EXO – Heart Attack

-Author: OktaviaSH

-Genre: Angst, Hurt, lil bit Romance

-Rating: PG

-Main Cast: -Do Kyung Soo

                    -Anne Schein

                    -Kim Jong In

 

 

 

Perempuan itu tersenyum, menyesap Latte dalam cangkir Meissen, “Oh, sejak kapan kuku tanganku sebegini panjang?” ia menggerutu, merasakan tusukan kecil pada telapak tangannya.

 

Aku tak bereaksi, hanya mencium aroma Cappuccino olahan yang memikat. Kecuali mataku yang nyaris tak terpejam melihat lurus pada jari-jari mungil milik perempuan itu.

 

Jari itu mengingatkanku pada stik eskrim yang banyak dijual di Market Buyeo dan bertaburan glitter. Namun, bukan itu yang sebenarnya kupikirkan.

 

Baru kusadari, angin di luar Café sungguh kencang. Lamat-lamat dapat kulihat pengemudi Porsche yang baru beberapa detik lalu melewat, tengah mengamati keadaan Café.

 

“Kapan kau akan memutuskan untuk pulang?” aku bertanya.

 

Saat itu, kurasakan pengunjung Café yang baru masuk, tiba-tiba mendelik, entah padaku, atau pada semut yang merayap di bahuku.

 

“Entahlah,” perempuan itu menjawab, menyingkirkan semut di bahuku dengan jari mungilnya, “Aku ada di pihakmu.”

 

Aku mendengus, dipan single ini entah sejak kapan terasa memabukkan. Kepalaku bertemu dengan kepala dipan, mataku bertubrukan dengan tulisan di jendela Café, ‘ILLUSION’

 

 

Pagi ini, aku duduk di meja dapur, mencoba menekuni telur yang direbus setengah matang dalam mug peninggalan nenek. Mungkin sejak sarapan tiga hari yang lalu, rasa telur ini berubah hambar.

 

Teh pahit yang telah kusediakan sebelumnya terlalu panas untuk diminum, dan kurasa tumpukan surat yang berbaring di samping kananku beberapa kali tersenyum manja, meminta untuk dibaca.

 

Kusimpan mug berisi telur rebus di antara debu tak kasat mata yang terdapat pada permukaan meja, dan kubuka amplop mahogany yang pertama kali menjumpai pandanganku.

 

Kertas di dalamnya membuat hatiku mencelos, sobekan kertas muram dari buku kebendaharaan, lipatan yang tak masuk akal, dan tulisan yang—entah mengapa membahagiakan.

 

Secarik kertas tersebut berbicara:

 

Lieber Do Kyung Soo…

 

        Aku sampai di tempatku setelah mencoba menghilangkan beberapa bulu Persian yang menempel di celanaku. Kau tahu? Kucing di ujung gang itu sungguh agresif! Mungkin pemiliknya terlalu banyak memberi Whiskas.

 

        Aku bahagia sekaligus meminta maaf mengenai pertemuan kita tiga hari yang lalu. Sejujurnya, selama berada disini, aku ingin pergi ke Jerman, kudengar Mozart tinggal disana.

 

        Jika mendengar suara pianonya berdenting, maka kau akan tahu seberapa besarnya surga.       Namun, jika aku tak memiliki waktu yang tersisa untuk bertemu Mozart, mendengar suaramu di kedai eksrim merupakan hal yang membahagiakan. Jadi sebutlah seperti:

Bertemu di kedai eskrim, lusa pukul 9 pagi!

 

No other than you!

 

 

Aku Do Kyung Soo, pria yang menarikan Waltz di sebuah studio foto. Apa yang kucari selama ini, bukanlah wanita-wanita cantik sebagai objek fotografi, maupun gulungan film yang mahal. Namun, sebuah arti dari lagu-lagu yang telah kujumpai.

 

Di studio foto, aku telah menciptakan beribu-ribu lagu Jazz dan beratus-ratus foto dalam kehidupan. Kupikir itu tak begitu membantu. Tepatnya, pada 12 Januari di tahun sebelumnya, aku menyadari bahwa tarian Waltz dan lagu-lagu Jazz itu membuatku jatuh terlalu dalam.

 

Di tengah-tengah keterpurukanku, perempuan yang menyesap Latte dalam cangkir Meissen itu menemaniku di Café seberang jalan. Tepat dimana pada saat itu aku baru menyadari bahwa kaki cangkir milik Café memiliki logo aneh.

 

Appetizer di Café seberang membuatku bahagia.” Kim Jongin, fotografer baru, berdiri di antara pintu yang terbuka. Di tangannya banyak kertas-kertas Gloria yang terus berdecit.

 

Aku menegakkan punggung, menatap sosok Jongin dengan sedikit penekanan, “Kupikir kau membenci Café?”

 

Jongin terkekeh berat, “Gross!” ia menggerutu, “Nama Café itu membuatku tertarik. Illusion? Sungguh, itu cocok untuk orang-orang yang tersesat. Well, aku salah satunya…” ia meletakkan kertas-kertas Gloria  pada rak buku di sampingnya.

 

“Jangan mengejek,” aku menyela, “Aku tak tersesat… setidaknya belum.”

 

Crap! Jongin sialan… Ia membuatku teringat kambali mengenai mimpi burukku mengenai hidup dan mati beberapa hari yang lalu.

 

“Jika begitu, ikutlah denganku untuk mendapatkan beberapa piring Bulletten.” Jongin meregangkan otot, kemudian memainkan kunci Wagon tua dalam saku celana.

 

Walau aku tahu betul Jongin terlalu takut untuk mengendarai Wagon miliknya.

 

 

Café itu ada di depan mata, suara keran air diketuk terdengar seperti bunyi lonceng. Lantainya begitu licin, sehingga aku nyaris merasa berdosa untuk sekedar menginjaknya.

 

“Hari ini tepat tahun kedua setelah ia wafat.” Jongin berkata, dengan mata menerawang jauh, “Seharusnya aku tak membawa Wagon sialan itu tadi.”

 

Aku mulai meregangkan tubuh, dan tanpa sadar kedua bibirku telah mengapit sebatang rokok yang telah disulut. Sementara Jongin memesan Bulletten dengan wajah sendu.

 

Mungkin hari ini ia memulai hari dengan memakan sabun batangan mahal. Sejak kematian kekasihnya yang bahkan terlalu cantik untuk bajingan seperti Jongin.

 

“Aku mengerti, Jongin,” hembusan napas yang dipenuhi asap nikotin menguar dengan beraturan dari mulutku, “Janganlah jatuh terlalu dalam.”

 

Ekspresi Jongin setelahnya tak dapat membuatku tertawa, meskipun itu lucu, namun tak ada niatanku untuk tertawa.

 

Jongin mengurut pelipis, tanda ini biasanya menunjukkan bahwa Vertigo-nya kambuh. Sedetik kemudian, ia terkekeh berat, “Omong kosongmu yang terlalu dalam, dalam sekali,” ia mencoba menebarkan tawaan di suasana yang sepi. Namun, aku tak tertawa. Kucoba sekalipun, aku tak dapat merasakan inti dari candaannya.

 

Tawaannya lambat laun melemah, kemudian menghilang, “Yah, kau benar.” kemudian ia mengusap wajah dengan gerakan yang buruk, “Lupakan tentang itu, apa kau sudah menghubungi nomor model hari Selasa lalu? Wowzers! Dia terlalu high class untuk menjadi seorang model freelance! Perfect!

 

Hembusan asap rokok yang keluar dari mulut menghilang di bawah cahaya remang dari lampu Café sebelum aku berkata, “Aku tak begitu tertarik.”

 

“Payah kau,” Jongin mencibir, “Nomor wanita itu kudapat dengan susah payah!”

 

Aku tahu betul Jongin memiliki maksud tertentu dengan memberikanku secarik kertas berisikan nomor seorang model baru. Well, biasanya itu akan berakhir dengan penyewaan motel bagi Jongin.

 

Aku terkekeh, mematikan api di rokok, kemudian mencuri satu suapan daging Bulletten miliknya, “Kuakui parfum Victoria’s Secret yang dipakainya sungguh menggoda. Hanya saja, wanita itu bukan tipe-ku.”

 

“Ya ampun,” Jongin terdiam, kemudian berfokus pada makanannya, “Jadi seperti apa tipe-mu? Demi Tuhan, di dunia ini kau membutuhkan wanita, man!”

 

Aku tak segera menjawab, memandangi air hujan yang turun diluar jendela terasa classic bagiku.

 

“Kau tahu, kau mengingatkanku pada agen biro pencarian jodoh ilegal yang tak mendapatkan liburan musim panas selama tiga tahun.” aku menaikkan bahu, angin yang berputar di sekitar penjuru ruangan membuatku begidik.

 

Kemudian aku berhenti untuk memesan Darjeeling, “Namun kurasa, aku menyukai wanita yang senang mendengarkan aku bernyanyi, dan memahami arti Waltz yang paling sempurna.”

 

Jongin tak berkutik—seolah kepalanya tertindih sekantung penuh emas. Ia mulai mengunyah makanannya bulat-bulat, seraya memandangi potret Mozart yang ada di belakangku.

Sejak Kim Jongin memutuskan untuk mengikuti klub foto dan bekerja di studio, aku dan Park Chanyeol—sebagai teman sepermainan, selalu merasa bahwa Kim Jongin tak memiliki perasaan apapun terhadap pekerjaannya.

 

Ia hanya memotret, memotret objek, dan memuji objek. Padahal seharusnya ia memotret seni, dan memuji seninya.

 

Aku selalu merasa bahwa hidupku lebih berkelas darinya, dan kurasa itu memang benar.

 

 

Berbicara mengenai wanita, wanita yang paling berpengaruh di hidup Do Kyung Soo adalah ibu, yang kini memutuskan untuk tinggal di Greenland. Bukankah itu gila? Itu memang kenyataan.

 

Dan berbicara soal wanita, aku dan wanita di tempo hari itu kini tengah duduk di balkon sebuah kedai eskrim.

 

Pistacchio adalah pilihan utamanya, sedangkan aku dengan perlahan mencoba memakan sampel green tea frappe yang rencananya akan dijual bulan depan.

 

“Jadi kau ingin mengetahui namaku?” wanita itu mengaitkan kelima jarinya di depan wajah. Aku tak berkutik, menatap bibir merahnya yang mengerut karena dinginnya Pistacchio.

 

Walau sebenarnya batinku tetap bernarasi. Entah mengapa, aku berharap jika namanya indah, seperti Krystal Jung, atau Jessica? Atau Kim Haneul? Atau Bang Mi-

 

“Namaku Anne,” ia berkata, menghancurleburkan setiap narasi yang ada di kepalaku, kemudian mengerutkan kening, “Mengapa wajahmu begitu pucat?” ia terlihat begitu panik.

 

Aku mengedipkan mata, tersadar dari lamunan, “Darjeeling yang kupesan di sebuah tempat, rasanya seperti kaos kaki Jongin yang tak dicuci selama satu abad.”

 

Anne tertawa kecil, “Apa itu Jongin? Sebuah merek makanan?”

 

Aku terdiam, membisu, dan kemudian berkomentar, “Semacam itu, Jongin adalah merek makanan ilegal, nona.” dan terakhir, meringis untuk mendramatisir keadaan.

 

Pertama kali dalam seumur hidup, seharusnya aku merekamnya dengan recorder dan mendaftarkannya di situs komedi dan aku dapat membawa jutaan won ke kamarku.

 

Naaaah, itu hanya keinginan muluk, tanpa sebuah gerakan lagi, aku segera menggelengkan kepala.

 

Seorang pelayan dengan baju lucu mendatangi meja kami, mungkin ia telah menyiapkan sebuah argumen kejutan untuk kedua orang di hadapannya.

 

“Harganya terlalu mahal untuk anak-anak. 7211 won?” aku berdeham, kemudian menunjuk kerumunan bocah di luar toko, “Mereka bahkan menunggu produk ini sejak lama.”

 

“Apakah tak sebaiknya Anda mengisi kertas angket itu, tuan?” pelayan itu menunjuk kertas yang ada di tangan Anne.

 

“Kupikir pemberitahuan secara lisan lebih berguna, bicarakanlah dengan manager berkepala botak itu bahwa kedai eskrim ini harus menurunkan harga produk-produknya.” aku berkata, kupandang sejenak wajah sang pelayan.

 

Man, wajah pelayan itu seolah-olah dilarutkan di dalam larutan pemutih Mama!

 

Atau mungkin, Dumpling yang ia makan telah basi.

 

Anne tak bereaksi apapun, hanya meletakkan kembali kertas yang ada di tangannya dan kemudian menatapku.

 

Aku balas menatapnya, terdiam sejenak, kemudian menunjukkan sebatang rokok, “Bolehkah aku merokok?” satu batang rokok yang tersisa, karena si tolol Jongin telah mencuci seluruh persediaan rokokku di wastafel studio.

 

Beberapa persen merupakan kesalahanku, yang meletakkan sebungkus rokok mint di piring.

 

Well, Jongin tertawa keras setelah mengetahui hal itu.

 

“Ya,” Anne mengangguk, glitter yang berlapis-lapis di kukunya terasa lebih memabukkan jika dibandingkan dengan segelas alcohol 80%.

 

Secepat mungkin aku mengeluarkan pemantik—sebelum Jongin datang kemari dan dengan paksa mencuci rokokku di wastafel. Menyulut ujung rokok, dan berpikir rupanya suasana saat itu tak semenyenangkan yang kukira.

 

“Siapa lelaki yang kemarin bersamamu?” Anne bertanya, seraya memakan sesuap Pistacchio.

 

Nyaris aku terbatuk, aku berdeham sebelum menjawab, “Orang itu? Namanya Jongin.” sedetik kemudian aku terdiam dan mengetuk puntung rokok perlahan, “Mengapa kau tahu tentang hal ini? Apa kau kemarin ada di Café?”

 

“Jongin? Bukankah sebelumnya kau bilang Jongin adalah sebuah merek makanan?” sebelumnya, kupikir Anne akan mengatakan sesuatu hal seperti itu.

 

Namun tidak begitu…

 

Anne menggelengkan kepala, “Ketika bersamanya, kau terlihat begitu bahagia. Kalian tampak serasi.” sejenak ia mulai menundukkan kepalanya.

 

GROSS!!!

 

Apakah ia tak menyangka bahwa aku adalah satu-satunya orang paling tertindas saat ia mengatakan hal itu? Apakah ia mengira bahwa aku berasal dari sindikat perdagangan lelaki?

Hell! Meskipun aku berasal dari sindikat perdagangan lelaki, aku tak mungkin mau dipilih Jongin!

 

Lagipula, itu tak akan terjadi…

 

Aku mengepalkan tangan, nyaris persimpangan kecil pertanda amarah muncul di dahiku, “Ya, terima kasih. Terima. Kasih. Banyak, Anne.”

 

“Jongin adalah orang yang paling sulit melupakan sesuatu, yang kutemui di kehidupanku. Terkadang aku ingin menjadi sepertinya,” aku terkekeh, “Namun, setelah melihat wajahnya, aku pasti akan segera berubah pikiran.”

Anne tertawa, suara lirih itu begitu surgawi, bagaikan sinar mentari yang memancar dari dalam mulutnya, “Seperti lirik pada lagu ciptaanmu.”

 

Aku kembali terdiam, karena Anne mulai bernyanyi,

 

‘It’s too sad,

when I’m driving on my Wagon

and you sit on your Merci

 

Could our heart open?

So wide,

my heart widely opened,

These Latte isn’t mine

You did it, too slowly

 

Now you can’t drink it

 

My friend’s here with me,

told me that I can do it

When your warm hug gone.

When your sweet lips opened,

 

“I’m just your muse”, you said’

 

Ini bukan lagu Jazz dan ini adalah lagu yang kunyanyikan diam-diam di hari pemakaman kekasih Jongin. Dan ia merasa bahgia seperti gorilla, menangis seraya memelukku seolah aku adalah reinkarnasi dari kekasihnya.

 

Secara perlahan, lagu dan suara itu begitu menusuk hati. Aku mematikan rokok yang masih tersisa banyak nikotinnya. Aku melupakan fakta bahwa lagu itu adalah lagu paling indah yang pernah kuciptakan.

 

Anne melipat bibirnya ke dalam, “Di hari itu kau memutuskan untuk berhenti menulis lagu, kau ingat? Lagu-lagu yang kau ciptakan sangat cocok untuk dipadankan dengan sebuah tarian Waltz yang menyedihkan. Karyamu adalah yang terbaik.”

 

Aku tak bereaksi, mungkin penantianku selama ini telah berakhir.

 

Bahkan bibir itu terlihat indah saat tertutupi oleh cangkir Meissen.

 

Bahkan suara itu jauh lebih pantas untuk melantunkan syair-syair yang telah kuciptakan.

 

Bahkan mungkin ia adalah wanita yang dapat menghentikan pencarianku.

 

Lagu Jazz dan tarian Waltz itu mengalun bersamaan di depan mataku.

 

Selamat datang dunia…

 

 

Aku tengah mengganti film di Nikon ketika Jongin memasuki ruangan tempatku berada.

 

Crap,” ia mengurut kening, “Man, kau melihat aspirin pagi ini?”

 

Aku berbalik, mencoba satu jepretan dari kamera yang tengah kupegang, “Tidak, belum tepatnya.”

 

“Sial,” ia nyaris menabrak buffet Austria yang ada di dekatnya, “Dapatkah kau membantu?”

 

“Ya ampun,” aku kembali berbalik dan dan mulai mengatur kecerahan pada kamera, “Kau adalah orang paling ribut yang aku kenal.”

 

“Jika Kim Jong Dae model sialan itu tak mengomel, aku tak akan datang ke tempatmu!” Jongin sesaat kemudian terdiam, aku masih dapat merasakan aura aneh di belakangku.

 

Maka aku berkata, “Cobalah cari di buffet pendek itu, mungkin saja Chanyeol menyimpan sekotak inhaler disana.” aku memilih untuk duduk di sebuah kursi kecil.

 

Sedikit banyak, aku telah mengetahui banyak hal mengenai Jongin, salah satu kebiasaan buruknya adalah: ia adalah lelaki tulen yang sewaktuwaktu pergi ke Supermarket dan membeli beberapa daging kalengan dan berhenti di persimpangan jalan untuk belajar merangkai bunga!

 

Alias… cerewet seperti mama…

 

Jongin mendengus, seolah dapat mengetahui narasi dalam pikiranku, kemudian menunduk untuk mencari aspirin di dalam buffet, “Aspirin!” ia berseru. Well, benda yang ia cari telah ditemukan.

 

“Oh, apa diluar hujan?” aku bertanya pada Jongin.

 

Jongin mengedikkan bahu, tak peduli dengan pertanyaanku, “Mana modelmu?”

 

“Hari ini, seharusnya 18 menit lagi pemotretan dimulai. Namun ia belum datang sampai saat ini,” aku menatap arloji yang bergelung di pergelangan tangan kiriku, “Sejak kapan Seoul sebegini macet?”

 

“Oh,” Jongin tampak tertarik, ia membawa aspirin kesayangannya dan duduk di bangku kecil di dekatku, “Omong-omong, siapa modelmu hari ini? Mengapa tak kau saja yang mereka suruh ke tempat?”

 

“Model yang bertukar nomor denganmu, ia memilih untuk bertamu langsung kemari. Mungkin studio kita yang terbaik,” aku menatap dinding ruangan, yang tetap kokoh walaupun sudah menjumpaiku bertahun-tahun, “Dan… apa kau senang, Jongin?”

 

Jongin menegakkan punggung, “Senang?” ia bertanya, “Sheeeeshhh!!! Aku bahagia, man!!”

 

Aku mencibir, “Oh aku teringat sesuatu,” aku bangkit dari kursi, kemudian mengalungkan kamera di leher Jongin, “Aku ada janji, sebenarnya. Jadi apa salahnya jika kau yang jadi pahlawan hari ini?”

 

 

Wanita itu tersenyum, menyesap Latte dalam cangkir Meissen, “Oh, sejak kapan kuku tanganku sebegini panjang?” ia menggerutu, merasakan tusukan kecil pada telapak tangannya.

 

Aku tak bereaksi, hanya mencium aroma Cappuccino olahan yang memikat. Kecuali mataku yang nyaris tak terpejam melihat lurus pada jari-jari mungil milik perempuan itu.

 

Baru kusadari, angin diluar Café sungguh kencang. Pengemudi Rolls Royce yang baru beberapa detik lalu melewat, melihat keadaan Café.

 

“Jadi kau sudah lama diam disini?” aku memainkan mataku di antara wajah sempitnya. Saat ini, bagiku wajahnya merupakan pemandangan yang paling indah dibandingkan dengan desain interior Café.

 

Anne tersenyum kecil, “Cukup lama, namun tak masalah. Aku suka menunggu. Dan terima kasih kau telah memesankan Latte ini untukku.”

 

“Oh ya?” aku terkekeh, mencoba menaikkan kaki kiri ke atas paha kanan, kemudian memanggil pelayan yang tengah melintas, “Tolong, satu Rum Cappuccino!”

 

Pelayan itu mengangguk dan bergegas pergi ke tempat para barista berada.

 

Tak habis pikir, baru beberapa menit yang lalu aku duduk di dipan single ini, dan sebelum aku datang, Anne telah duduk di dipan single di depan selama 30 menit. Seharusnya ia dapat memesan beberapa onion bread atau minestorone barangkali? Namun, ia tidak.

 

“Seharusnya aku ada pekerjaan di seberang,” aku menunjuk tempat kerjaku yang ditampilkan di belakang jendela, “Namun bertemu denganmu disini rasanya lebih menyenangkan.”

 

Sebelumnya aku tak pernah berbicara seperti itu di depan seorang perempuan.

 

Oh, kecuali pada gadis di kelas drama waktu pementasan drama sekolah menengah.

 

“Oh,” Anne tampak senang, “Terima kasih…”

 

Aku tak tahu bagian mana dari ucapanku yang membuatnya tampak senang. Namun tanpa sadar, aku menceritakan sendiri kehidupanku sebagai seorang fotografer, juga mengenai Waltz, mengenai Jazz, mengenai Jongin dan kehidupannya, mengenai Chanyeol yang tak mempunyai banyak waktu, dan mengenai wanita yang kucari selama ini.

 

“Sepertinya Chanyeol orang yang menyenangkan,” Anne membulatkan matanya, “Jongin juga…”

 

“Kau hanya belum tahu sisi buruk dari mereka. Karena itu sebagai guna sahabat, kau harus menutupi sisi buruk mereka dengan sisi baikmu. Ah—hei, apa ini?” sebelumnya aku mencoba untuk menyandarkan punggung ke dinding, namun ada sesuatu yang menahanku.

 

Anne bangkit dari dipannya, menungguku mengacungkan benda yang kutemui.

 

Sebuah digital camera yang masih tampak bagus, dan tak mempunyai foto apapun di galerinya.

Orang bodoh mana yang mau meninggalkan perangkat mahal ini di sebuah tempat umum?

 

Aku hanya mengangguk, melipat kedua lengan di depan dada.

 

Segelas Rum Cappuccino tersaji di hadapanku. Aku berterimakasih pada pelayan yang telah mengantarkan pesanan ke mejaku. Pelayan itu masih sama dengan yang kemarin-kemarin.

 

“Hei, aku punya permintaan,” Anne membungkukkan tubuhnya, “Maukah kau memotretku dengan kamera itu? Sekali saja…”

 

Aku menatapnya heran, sejenak kusadari dandanannya terlalu rapi untuk sekedar bertemu seorang fotografer sepertiku.

 

Oh, kupikir seorang model yang biasa kuperhatikan pun terkadang dandanannya terlalu rapi untuk sekedar bertemu seorang fotografer…

 

Wah, namun Anne bukanlah seorang model.

 

Namun tanpa kalimat apapun lagi, selanjutnya aku mengangkat sisi belakang kamera itu ke depan wajah, “Omong-omong kau mau kemana setelah ini?” aku bertanya.

 

Ia tersenyum di depan lensa kamera, sebelum sempat merapikan poninya. Satu jepretan dari Do Kyung Soo!

 

Ia mengernyit, sebelum kemudian kusuruh untuk merapikan poni, “Entahlah… kau mau mengajakku pergi?” baru kemudian, ia merapikan poninya.

 

Bukannya aku tak menyimpan beberapa uang untuk menraktirnya demi sekedar berkeliling, namun aku hanya… memiliki suatu firasat yang tak begitu menyenangkan, “Maaf, aku masih ada beberapa pekerjaan. Kau tahu bukan, pria sebatang kara sepertiku ini membutuhkan banyak uang untuk menghidupi seseorang?” aku menaik turunkan alis.

 

Mungkin Anne tak mengerti perkataanku yang sebelumnya, ia hanya tersenyum polos.

 

“Lagipula aku ingin mengetahui awal dari kisah cinta Jongin hari ini…” aku beranjak dan memakai kembali jaket kapas yang entah kapan kulepaskan. Tak kulupakan kopi yang telah kupesan, aku segera menyesapnya hingga habis.

 

“Kau mau kemana?” Anne menghabiskan Latte miliknya sesegera mungkin.

 

“Bukankah sudah kubilang?” aku mulai menyulut rokok, “Aku masih ada beberapa pekerjaan. Jadi aku harus ke studio sekarang.” aku berucap, seraya menunjukkan letak studio berada.

 

“Sebelum itu,” Anne beranjak dari duduknya, “Bisakah kita memotret foto kita berdua?” ia meraih kamera digital yang tengah kupegang.

 

Aku mengernyit, menatap arloji yang melingkar di pergelangan tanganku, kemudian meraih kembali kamera yang tengah dipegang Anne. Tanpa ragu aku mengangkat kamera itu ke atas, mata kami berhadapan dengan lensa kamera.

 

Satu jepretan lagi dari Do Kyung Soo!

 

Kemudian aku kembali ke studio tanpa menghiraukan foto-foto di galeri kamera itu.

 

 

Cahaya di studio terasa buram, ketika aku melihat Jongin dengan wajah gelapnya yang berjalan ke arahku.

 

Aku menghisap nikotin, kemudian menghembuskan asapnya di udara. Biasanya Jongin berwajah seperti itu disaat hari Selasa, setiap pengambilan gaji.

 

Namun, ini hari Sabtu.

 

Jongin berhenti tepat di hadapanku, menghalangi jalan yang terbentang di penglihatanku.

 

“Do Kyung Soo… aku tahu aku selalu kalah jika dibandingkan denganmu. Apa yang membuat semua itu? Hell!!” ia menginjak kakiku tanpa perasaan, kemudian berlari keluar studio.

 

Aku tak bereaksi pada sakit di kakiku, aku tahu Jongin lebih berat bebannya, namun aku tak segera bergerak.

 

Maka aku kembali berjalan di lorong untuk membelok di ujung. Banyak fotografer dan para model yang kusapa, dan bahkan model yang disukai Jongin turut menampilkan wajahnya di depanku.

 

Oppa!” ia menyapa, sedikit make up yang tebal masih tersisa di wajah mungilnya, sebenarnya aku tak suka wanita yang membubuhi wajahnya dengan make up tebal.

 

Namun wanita ini seorang model.

 

Aku tersenyum padanya, “Kapan kau sampai disini?”

 

“Dua jam yang lalu. Jalanan Seoul memang macet akhir-akhit ini.” ia memainkan rambutnya yang wangi mawar, bahkan aku bisa mengendusnya dengan hidungku sendiri, “Lagipula, hari ini hari Sabtu. Puncak akhir pekan!”

 

“Mm-hm…” aku mengisap rokok, dan kemudian meminta maaf, “Oh, maaf aku sedang merokok.”

 

Kumatikan api yang menyulut rokok, dan kemudian membuangnya di tempat sampah terdekat.

 

Model itu menggelengkan kepala, “Tak mengapa, aku menyukai pria perokok.” ia tertawa lirih, namun suaranya tak sejernih Anne.

 

Tunggu, Anne?

 

Serta merta, seseorang bertubuh jangkung menabrakku dan mengguncang-guncang bahuku. Itu Chanyeol, “Kau tahu Jongin pergi kemana?”

 

Kutatap wajah serius Chanyeol. Wajah serius Chanyeol biasanya kulihat di hari Kamis, ketika memilih di antara Jogaetang dan Oden.

 

“Aku baru saja sampai, Yeolsajin…” aku berucap dengan santai.

 

Yeolsajin adalah nama panggilan Chanyeol yang hanya disebut olehku dan Jongin. Awalnya, ia disebut Sajinsayeol, yang artinya fotografer Yeol, namun kupikir itu terlalu panjang.

 

Namun Chanyeol menggelengkan kepala, membuat beberapa kekhawatiran dalam diriku.

 

Tanpa kusadari, model yang tadi menyapaku telah pergi. Kini aku dan Chanyeol diam di tengah lorong. Menghalangi jalan fotografer lain.

 

“Tadinya aku memintanya untuk mengambil beberapa tissue toilet. Namun, ia segera membanting pintu toilet. Kau tahu bukan, suara pintu toilet kasar seperti apa? Aku pikir, ada sesuatu yang terjadi.” Chanyeol bernarasi.

 

Seketika, aku menceritakan kejadian beberapa menit lalu di awal lorong.

 

Chanyeol mengernyit perlahan, “Lebih baik, kini kita mencarinya…”

 

 

Di dalam Proton yang pembayarannya masih diangsur, suasananya tak semenyenangkan yang kukira. Smartphone milik Chanyeol terus berkicau, melacak keberadaan Jongin.

 

Aku yang memegang Smartphone itu, sedangkan Chanyeol masih mencoba menjinakkan Protonnya.

 

“Yeolsajin, apa kau berpikir Jongin berada di menara Namsan?” aku bertanya, melihat arah yang ditunjukkan navigator.

 

“Apa? Mengapa begitu jauh?” Chanyeol membelokkan setir Proton ke kiri, menghindari suara klakson yang terus berbunyi di belakang kami. Ia menggaruk hidung, kemudian menatap ke navigator di layar Smartphone miliknya, “Ini menunjukkan Hangang, bodoh!”

 

Aku mengedikkan bahu, “Bukan begitu…” aku memelototinya.

 

Jongin adalah tipe melankolis yang rela menghabiskan waktu di menara Namsan, membeli satu padlock dan menulis sesuatu yang manis di sisi depannya.

 

Jika ia benar berada di Hangang, entahlah emosinya kini seperti apa…

 

 

Aku dan Chanyeol berdiri di tepi Hangang, di antara cahaya mobil yang menyeruak.

 

Kemungkinan hujan telah turun sejak 5 menit yang lalu. Aku melindungi kepala Chanyeol dengan jaket kapas, karena Chanyeol tak membawa jaket miliknya.

 

Mata kami memandang kejauhan, bahkan dari hal-hal yang terdekat. Mencari Jongin seperti mencari sekeping mutiara hitam.

 

Namun Jongin tak ada disana.

 

“Aku penasaran betul apa yang terjadi dengan kalian berdua,” Chanyeol berkata, suara beratnya teredam suara hujan, “Kalian tak memperebutkan gobchang sebelumnya?”

 

“Ha?” aku mendelik padanya.

 

“Tidak, lupakan.” wajah Chanyeol memucat, “Atau… apa kalian memperebutkan sesuatu?” ia mencoba menilik-nilik.

 

“Apa? Ah—sudahlah… Yeolsajin, lebih baik kita mencari tempat duduk. Ada beberapa meter dari sini. Matikan dulu mesin mobilmu.”

 

Kami berjalan, meninggalkan Proton yang menjaga keadaan disana. Aku tak tahu apa yang ada di dalam pikiranku, namun kupikir Jongin sebenarnya ada di menara Namsan.

 

“Di malam seperti ini, biasanya kakakku membawakan Hotpot ke rumah.” Chanyeol bercerita, aku tahu betul kakaknya adalah seorang DJ radio swasta, ia terkadang mampir ke studio dan membawakan kami beberapa samgyeobsal.

 

Bukannya aku tak memiliki jawaban apapun, namun aku mencoba memfokuskan pandanganku ke segala arah. Bahkan, hingga kami menemukan tempat duduk yang nyaman.

 

Namun ada orang yang duduk disana.

 

Sejenak kusadari tangan Chanyeol mengguncang bahuku, “Hei! Itu Jongin, bukan?”

 

Jongin! Ia yang duduk di tempat yang kumaksud. Jadi firasatku selama ini salah, sebenarnya ia berada di taman Hangang…

 

“Hei, hei, hei, Jongin!” Chanyeol berlari secepat mungkin, seraya menanggalkan jaket yang menutupi kepalanya. Sontak, aku menangkap jaket itu dan berlari menyusul.

 

Alat pendengaranku dapat mendengar sedikit suara Chanyeol setelahnya, “Hei kawan, duduk sendirian di taman Hangang di cuaca seperti ini sama sekali tak menyenangkan!”

 

Aku berinisiatif menutupi kepala Jongin dengan jaket kapas yang tengah kupegang, “Apa maksudmu diam di tempat seperti ini?”

 

“Diamlah,” Jongin tak menatapku, hanya menatap Chanyeol saja, “Kau menghancurkan segalanya.”

 

“Eh?” Chanyeol mendelik heran.

 

Aku mengepalkan tangan, “Maksudmu aku? Apa yang salah denganku?”

 

Jongin terdiam, ia berdiri. Kuakui ia sungguh tinggi, namun aku tetap mengikuti arah pandangnya.

 

“Aku berpikir kita sahabat, namun aku tak ingin mengakuimu sebagai sahabat jika begini!” ia menginjak kakiku, kemudian sebuah pukulan keras mendarat di pipi kananku.

 

Aku jatuh tersungkur, tak sempat menangkap jaket kapas yang jatuh dari atas kepala Jongin. Kini jaket kapas itu aman di tangan Chanyeol. Pipiku tak merasakan apapun, bahkan kakiku…

 

Chanyeol melerai Jongin sebelum tubuh Jongin meloncat untuk menindihku, “Lepaskan! Habis sudah kesabaranku!! Chanyeol!!!”

 

Aku sempat bergidik, teriakan itu sebelumnya tak pernah kudengar. Chanyeol menatapku seraya meringis.

 

Sahabat baik, betapa kerasnya kau mencoba menahan Jongin disana…

 

Kesadaranku hampir habis, namun air hujan telak membuatku kembali terbangun.

 

Aku berdiri dari posisiku yang semula, berjalan senormal mungkin ke depan Jongin, “Aku tak tahu apa yang kau maksudkan. Namun, setahuku Jongin yang kukenal tak seperti ini.”

 

Sejak tadi telah kusadari ada air lain yang mengalir di kedua pipi Jongin. Tubuh Jongin melemah, sesegera mungkin aku dan Chanyeol membopong tubuhnya ke dalam mobil yang masih agak jauh dari tempat itu.

 

 

Sebenarnya tubuh Jongin tak seberapa besar, yang membuat ia ditakuti hanya karena sumpah serapah dan kata-kata kasar yang sering ia keluarkan dari mulutnya.

 

Selebihnya, Jongin adalah pria yang sangat baik.

 

Aku melarang Chanyeol untuk menyuruh Jongin berbicara. Namun aku tak dapat berkutik ketika Chanyeol menepis, karena aku pun ingin tahu apa masalah Jongin.

 

Jongin memulai dengan suara serak, “Yeolsajin, Kyungsoo… maaf.”

 

Chanyeol beralih menatapku, sementara aku mengangguk perlahan, “Apa yang membuatmu seperti ini?”

 

Jongin menidurkan dirinya di jok mobil. Aku dan Chanyeol yang duduk di jok depan merasa iba melihatnya.

 

Ia kemudian mendesah, “Apa kau tahu apa yang Nara katakan sehari sebelum ia wafat, Kyungsoo?”

 

Aku menatap langit-langit mobil, aku tahu betul Nara adalah kekasihnya yang wafat dua tahun yang lalu, “Ada apa dengannya?”

 

“Ia berkata, ‘Jika Kyungsoo datang ke pesta itu, aku juga pasti akan datang.’”

 

“Bukankah kau masih mengingat pesta ulang tahun model Kim Jong Dae dua tahun lalu?” Jongin melanjutkan.

 

Chanyeol menarik napas perlahan, ia mendatangi pesta itu dua tahun lalu.

 

“Jika kau menjadi aku, apa yang akan kau rasakan?” Jongin bertanya, dengan suara yang terdengar rapuh.

 

“Itu… itu menyedihkan.” aku menjawab.

 

Jongin mengangguk, “Dan kau tahu apa yang ia katakan setelah aku menyatakan perasaanku padanya?”

 

Aku menggelengkan kepala.

 

“Ia berkata, ‘Terima kasih atas pernyataan cintamu, Jongin. Namun, apakah Kyungsoo ada di balik semua ini?’ ia berkata seperti itu, melihat ke belakang punggungku. Mencarimu… mencarimu, Kyungsoo.”

 

Aku menutup mulut, mengerti apa yang dimaksud Jongin.

 

“Dan kau tahu apa yang ia katakan setelah kau menolak perasaannya?”

 

Kembali, aku menggelengkan kepala.

 

“Ia berkata, ‘Kau tahu, Jongin? Aku telah berjanji dan berhutang dengan nyawaku. Jika aku tak dapat memiliki Kyungsoo, aku harus mati. Dengan cara apapun juga. Selamat tinggal…’ ia keluar dari Merci miliknya yang sedang kukemudikan, kemudian naik ke Wagon milikku. Lalu menghantamkan Wagon ke ujung jalan.”

 

Chanyeol dan aku terdiam, merasakan ketegangan yang tak menyenangkan.

 

“Itu dilakukannya demi siapa? Demi kau, Kyungsoo!” Jongin terisak, padahal sebelumnya aku tak pernah melihatnya menangis.

 

Chanyeol berinisiatif menepuk bahu Jongin yang basah terkena air hujan.

 

“Dan kau tak tahu apa yang model tadi katakan mengenaimu, Kyungsoo?” Jongin melanjutkan pertanyaannya.

 

Aku tentu saja menggelengkan kepala.

 

“Ia berucap dengan sangat kecewa ketika melihatku, ‘Kalau boleh jujur, aku sangat menyayangi fotografer bermata bulat itu… Kau dapat menyimpan rahasiaku?’ apa menurutmu aku tak pantas untuk kecewa?”

 

“Ti-tidak… aku tahu betul kau menyukai-”

 

“AKU MEMANG MENYUKAINYA!” Jongin berteriak, membuat petir di sana-sini, “Dan aku terlalu sakit untuk menyadari bahwa orang yang kucintai, malah mencintai sahabatku sendiri.”

 

Aku menundukkan kepala, sebelumnya tak pernah terjadi hal seperti ini.

 

Seandainya aku tak membanting semangka, dan membelahnya jadi dua, mungkin tak akan terjadi suatu hal seperti ini.

 

Barangkali suara Jongin sesegera mungkin melemah, “Sekarang tolong dengarkan aku. Jika kau memang menyukainya, dekatilah dan jangan membuatku merasakan euphoria yang sama seperti dua tahun lalu.” ia menghembuskan napas, “Dan jika kau tak menyukainya… tolong jangan mendekatinya. Dengan cara apapun.”

 

Chanyeol menatapku prihatin.

 

Suasana di dalam Proton seolah tak terkendali, di spion dalam mobil bahkan kau tak mampu melihat wajah Jongin yang sebegitu merana.

 

Namun sesungguhnya aku telah merangkai jawaban yang tepat, “Kau dapat mendapatkan wanita berapapun yang kau suka, man. Karena kalaupun kau memaksaku untuk mendapatkan seorang wanita, aku telah mendapatkannya…”

 

Sesungguhnya wanita yang kumaksudkan itu, lebih terang benderang dari bintang manapun.

 

 

Malam ini aku terduduk di tepi Hangang. Merasakan angin yang telah lama tak tersentuh olehku. Chanyeol memutuskan untuk pulang dan merawat Jongin.

 

Sedangkan aku memintanya untuk merawat Jongin secara baik-baik.

 

Walau suara hujan menghalangi, samar-samar aku dapat mendengar beberapa orang tengah bermain skateboard di taman Hangang. Orang-orang bodoh itu mampu bermain di dalam derasnya hujan?

 

Aku menarik napas, kemudian mengambil sebatang rokok dan menyulut api di ujungnya.

 

Csss… oh, aku lupa saat ini sedang hujan. Api kecil yang baru menyala itu membuat mood-ku turun seketika.

 

Aku segera membuang rokok yang basah ke sungai.

 

Lamat-lamat aku merasakan suatu kehadiran seseorang di belakang punggung. Aku berbalik, dan nyaris terlonjak tak percaya melihat kehadiran seorang wanita dengan sebuah payung transparan.

 

Itu Anne.

 

“Sedang apa kau disini?” ia menutupi kepalaku dengan payungnya, dan segera duduk di sampingku.

 

Aku masih menatapnya heran, ia seolah tak peduli jika rok putihnya terkotori oleh tanah basah yang didudukinya.

 

Sedetik kemudian aku menggelengkan kepalaku, “Hanya sedang membayangkan bagaimana jika dunia musnah…”

 

Anne membisu seketika, “Tolong jangan berkata seperti itu…”

 

Kelihatannya ia ketakutan, “Jika itu terjadi, akulah yang akan menjagamu.” aku berkata selembut mungkin.

 

Dapat kulihat Anne terdiam, namun aku tak mengatakan apapun lagi setelah itu.

 

“Apa kau berkelahi?” Anne menegakkan tubuh, menyentuh pipi kananku.

 

Aku meringis. Memar di pipiku terasa pedih. Segera kusingkirkan wajahku dari tangan mungil Anne.

 

Anne tak bereaksi, aku memandang langit tanpa bintang sekali itu.

 

“Mereka bilang, langit penuh bintang adalah yang terbaik,” aku menghela napas, kemudian menatap Anne, “Namun kupikir, langit tanpa bintang seperti ini lebih indah dari apapun.”

 

Anne sama sekali tak bereaksi, mata jernihnya menatapku sendu.

 

“Aku tak tahu apa yang kau pikirkan sehingga kau tahu aku berada disini. Terima kasih banyak untukmu, karena kehadiranmu sekarang membuat aku menyadari bahwa langit begitu luas. Sebelumnya tidak seperti itu.” aku berkata.

 

“Aku hanya ingin seorang pendamping hidup yang mengerti atas prinsipku selama ini. Namun baru kusadari itu begitu sulit.” aku berucap, dapat kurasakan buku jariku memucat, “Arti dari Waltz dan lagu Jazz yang telah kusebut sejak lama.”

 

Dan di akhir, aku terkekeh, “Aku memang bodoh.”

 

Terjadi keheningan selama beberapa waktu disana. Aku merasa sangat bodoh karena aku telah mengharapkan hal yang begitu muluk.

 

Sekali itu, Anne menggelengkan kepala, “Tak salah jika kau menginginkan arti dari Waltz dan Jazz yang sesungguhnya,” ia menggigit bibir, “Karena tarian Waltz dan lagu Jazz tak mungkin disatukan. Penonton tak akan bertepuk tangan ketika melihatmu menarikan Waltz yang diiringi Jazz yang bertempo cepat.”

 

Aku terdiam menatap wajah Anne yang begitu sejuk malam itu. Tanpa sadar, tanganku bergerak untuk merengkuh pinggang kecil miliknya.

 

Dan kukecup pipinya yang basah oleh air mata, seraya membisikkan, “Aku mencintaimu…”

 

 

Pagi ini, aku duduk di meja dapur, mencoba menekuni telur yang direbus setengah matang dalam mug peninggalan nenek. Mungkin sejak malam yang lalu, rasa telur ini berubah hambar.

 

Teh pahit yang telah kusediakan sebelumnya terlalu panas untuk diminum, dan kurasa tumpukan surat yang berbaring di samping kananku beberapa kali tersenyum manja, meminta untuk dibaca.

 

Kusimpan mug berisi telur rebus di antara debu tak kasat mata yang terdapat pada permukaan meja, dan kubuka amplop mahogany yang pertama kali menjumpai pandanganku.

 

Kertas di dalamnya membuat hatiku mencelos, sobekan kertas muram dari buku kebendaharaan, lipatan yang tak masuk akal, dan tulisan yang—entah mengapa membahagiakan.

 

Secarik kertas tersebut berbicara:

 

Lieber Do Kyung Soo…

 

        Aku tahu betul, kau bukan orang yang dapat dengan mudah menerima kebahagian. Jika begitu, dengan menghilangnya diriku, apa kau akan menganggap ini adalah sebuah kebahagiaan?

 

        Aku telah gagal untuk bertemu dengan Mozart, namun aku berhasil menemukanmu, Do Kyung Soo…

 

        Sebutlah, aku adalah suatu ilusi yang kau ciptakan sejak kematian wanita yang bernama Nara. Aku tak tahu siapa wanita itu, namun aku tahu masalahnya.

 

        Aku tahu surat ini begitu janggal bagimu. Namun aku telah bersusah payah mengambil pulpen waterproof di sebuah toko, walau ketika aku mencoba untuk keluar dari toko, suara bisinglah yang keluar.

 

        Karenanya, aku telah menuliskan sesuatu yang kecil untukmu di balik kertas ini!

 

No other than you,

Viele danke und viele grüße!

 

Anne Schein’

 

Aku tercengang, kakiku yang terbalut perban mengenai lantai yang begitu dingin. Tanpa basa-basi aku membalik surat itu.

 

Terdapat tulisan besar:

“No other than you.”

 

dan beberapa tulisan berbahasa Jerman di pinggir bawah:

“Wasser geben…” yang berarti berikan air.

 

Aku tak mengerti apa maksudnya, namun aku beranjak berdiri tanpa menyadari rasa sakit pada kaki menuju wastafel. Aku membanjur kertas itu dengan air yang mengalir.

 

Terdapat beberapa huruf yang tintanya tak luntur terbawa air.

 

Lamat-lamat huruf-huruf itu terukir jelas. Kubawa perasaan sang penulis jauh ke dalam lubuk hatiku.

 

No other than you menyisakan 3 huruf:

 

N.e.o berarti Neo.

 

Neo berarti: Kau.

 

 

“Kebakaran di daerah Hongdae, tepatnya sebuah Café berjudul Illusion yang baru beberapa hari kemarin terjadi tak hanya membuat kerugian yang besar, klub Manga yang sering mengadakan pertemuan di lokasi kejadian menuntut dan berunjuk rasa sehingga menimbulkan kemacetan hingga ke jalan inti.”

 

Klik! Remote itu memerintah, televisi berganti channel.

 

“Sebelumnya tak pernah terjadi kebakaran dan kerusuhan seperti ini…”

 

Klik! Remote itu memerintah, televisi berganti channel.

 

“Kebakaran Café Illusion dua hari yang lalu membuat garis polisi melintang di depan tempat itu. Namun terbukti Café Illusion yang baru dibuka ini tak memiliki lisensi khusus sejak awal. Bahkan pendiri, manager, dan pegawai menghilang secara raib.”

 

Aku menikmati hari cuti di studio mulai hari ini. Menurutku sangat aneh untuk memulai hari cuti di tempat kerja. Aku hanya… tak memiliki tempat yang mampu menaungiku selain tempat kerjaku ini.

 

Tempatku menari Waltz, tempatku menulis banyak lagu, dan tempatku memulai untuk benar-benar hidup.

 

Aku tanpa sadar termenung di hadapan televisi yang menampilkan gambar lokasi kebakaran yang baru-baru ini terjadi. Chanyeol menampilkan diri ketika nafsuku untuk merokok keluar.

 

Ia membawa satu cangkir Meissen di tangan putihnya, kemudian tersenyum lebar seperti biasa, “Jongin memesan green tea untukmu. Peningkatan yang bagus, bukan?”

 

Aku terdiam, memperhatikan tangannya yang dengan cermat mengganti perban yang membalut di kakiku, “Apa kakimu masih sakit?”

 

“Demi kekuatan Jongin?” aku mendengus, “Demi bulan, Yeolsajin… aku tak mungkin kalah, kakiku pasti sembuh beberapa menit lagi.”

 

“Kau bergurau, kawan!” Chanyeol memukul tulang keringku perlahan. Kami tertawa bersama, ini hal yang sungguh langka.

 

Karena biasanya aku tak memiliki keberanian untuk tertawa.

 

Aku meraih cangkir Meissen berisikan green tea yang terletak di nakas di sampingku dan menanyakan keberadaan Jongin.

 

Aku tahu betul Jongin belum sembuh dari sakitnya, dan aku tahu betul kemarin ia pergi dari rumah semalaman untuk mencari rumah model yang disayanginya.

 

“Ya…” Chanyeol mengedikkan bahu, “Menggoda beberapa model wanita lainnya?”

 

Aku menyikut dada Chanyeol, tertawa mengejek ke arahnya, “Kau nakal, man!”

 

 

Satu bulan berlalu. Persahabatanku dan Jongin kembali seperti semula, berjalan tenang seperti angin musim semi.

 

Entah mengapa aku sungguh senang mendengar Jongin dengan tegas memutuskan untuk menjauhi diri dari wanita untuk beberapa saat. Memang jika kau menghubung-hubungkan wanita plus Jongin, itu benar-benar chaotic.

 

Di hari yang mengejutkan itu aku mengajak Jongin ke kedai eskrim yang sejak sebulan lalu kujadikan sebagai tempat beristirahat terbaik.

 

Sebelumnya, Jongin mengeluhkan Bentley barunya membutuhkan warna lain, seperti gambar Hello Kitty atau Woodkid, musisi favoritnya di bagian pintu, dan lain sebagainya.

 

Aku tak bisa menjawab apapun, kecuali mengambil alih kemudi, kemudian menyentuh kopling untuk turun ke gigi dua.

 

Dan kami sampai dengan alih-alih refreshing menyenangkan di pikiran. Jongin duduk di tepi jendela, terlihat seperti objek pemotretan dari awal.

 

Rambutnya disisir rapi ke belakang, namun terkadang rambutnya menjuntai turun menutupi dahi.

 

Begitu pula penampilanku, aku menyisir rambut ku ke belakang, kupikir itu lebih baik daripada tampilan geeky yang kutampilkan satu bulan belakangan.

 

Hei, meskipun tampilanku seperti itu, aku masih saja memiliki imej bad boy!

 

Kakiku menginjak ubin hitam di depan meja kasir, mencoba membawakan satu pelayan untuk membersihkan tempat kami duduk.

 

Seseorang di depanku berteriak ke arah dapur, “Hei, Jongin! Bersihkan meja di tepi jendela itu!”

 

“Siap, bos!” seseorang muncul dari dapur. Aku pikir, jantungku nyaris copot.

 

Makin hari, nama ‘Jongin’ menjadi mainstream.

 

Jongin yang baru saja disebut segera menghampiri meja tempat Jongin yang ada di tepi jendela berada. Jongin di tepi jendela tercengang, nyaris mendobrak brankas toko dan melakukan pencurian atas ketidaksetujuannya atas nama pelayan itu.

 

Aku segera menghampiri Jongin yang tengah duduk, hingga Jongin si pelayan pergi menjauh dari meja itu. Dengan wajah kusut, Jongin memberikan secarik kertas gloria ke tanganku.

 

“Lihatlah potret siapa ini?” Jongin dengan keingintahuannya menempelkan keningnya di bahuku. Ia bercerita bahwa ada seseorang yang memberikannya potret itu.

 

“Tentu saja aku…” aku meringis, entah mungkin kening Jongin terlalu berat menimpa tulang selangka milikku, “Kau dapat melihat seorang bintang disini, man!” kemudian aku berseru.

 

Jongin mengedikkan bahu, “Berfoto sendirian? Minimal kau seharusnya memiliki seseorang di sampingmu untuk mengambil sebuah potret dengan kamera.”

 

Aku tak menjawab, di potret itu hanya ada wajahku. Namun ada sisi kosong di samping kanan, hanya ada bayang-bayang hitam disana. Tak ada wajah wanita yang selama ini bersamaku.

 

Tak ada wajah mungil Anne disana.

 

Tak! Nampan yang ditunggangi segelas penuh potato float dan medium fever tree tonic muncul di atas meja kami. Pelayan bernama Jongin dengan wajah khidmat memberi kami masing-masing pesanan.

 

Jongin menerima float, sedangkan aku…

 

“Hei,” pelayan Jongin mendeteksi wajahku, mungkin wajahku terlalu terlihat familiar, “Bukankah kau pria yang mengunjungi kedai eskrim dulu?”

 

“Ya,” aku menghela napas, mencoba mengambil minumanku dari genggaman tangannya, “Apa kau memiliki masalah dengan itu?”

 

“Tidak… ya…” ia meletakkan cup medium di hadapanku, “Kau adalah pria gila yang berbicara sendiri di awal bulan, dan memesan pistacchio bukan untukmu sendiri. Namun, pegawai lain begitu terkejut melihat gelas berisi pistacchio kosong melompong seolah telah dimakan sebelumnya. Padahal kau hanya mencoba produk baru kami dan sama sekali tak menyentuh gelas pistacchio.” kemudian ia memainkan hidung, “Berkat itulah, aku merasakan meriang selama sebulan, dan hari ini hari pertama aku masuk setelah kejadian itu.”

 

Aku tercengang.

 

Jongin tercengang.

 

Sedangkan kudengar Anne terkikik di kejauhan.

 

Hei, walaupun aku tak bisa membiarkan harga diriku tercemar atas sebutan ‘orang gila yang berbicara sendiri di awal bulan’, aku dapat mendengar suara tawamu, Anne.

 

Masih bolehkah aku mencintaimu? Dan bagaimana kabarmu disana? Apa kau telah menemukan Mozart?

 

‘Apakah kau cukup senang telah menjadi ilusiku selama ini?’

 

 

THE END

33 tanggapan untuk “[EXOFFIWC-003] – Illusion”

  1. keren ffnya sukaa banget 😀
    sayangnya Anne hanya ilusi D.O semata .-.v sempet suka sih soalnya Anna tuh cocok banget sama D.O ini kayak drama It’s okay it’s love hanya ilusi semata hihi 😀

  2. keren… !! ^^
    ffnya daebakk =D
    love sama fanfic ini.. soalnya nggk langsung ketebak..,
    tapi jujur aku masih rada binggung sama fanfictionnya.., T.T
    tapi paham.., aaahh.. sial.., –”
    kebinggungn kata” aku nya. , -,-
    tapi keren…,
    nggak nyangka kalo Anne cuma ilusi -,-
    sempet potek </3 mbacanya..,
    kya.., keep writing thor ^^
    fighting!! =D ^^

    1. kya~ gomawo udah mau baca ff ini chinguu ^^
      hehehe aku juga bingung ff macem apa inihh??
      tapi sekali lagi gomawo so much! saranghaeyo chingu! 😀

  3. hey sisterku yang jagoooo bngt bikin ff. Yang ffnya gak abal kaya gueeee :”'(((
    ikutan lomba ni yeeee :>
    semoga menang yaaaaaaapppsss
    keren asliiii dehhhh

    1. weh… udah baca sampe selese gitu?? ff abal begimaneee
      tapi gapapalah. Gomawo so much buat posternya, chingu!
      Amin menang!! Saranghaeyo chingu 😀

  4. kereeennn!!!!!!!!!!!!daebakk binggo ^_^ ❤ ff ini keren bgt,apalagi castnya d.o n genrenya hampir kaya fiksi(emng fiksi ya) :3 ah,pokoknya daebaakkkk!!!! fighting ya,buat bikin ff yg kek gini lagi!!

    1. jinjja keren??? aigoo~ gomawo chingu ❤
      dyonya sengaja aku buat ganteng kalem disini kekekekeke
      gomawo buat dukunganmu, saranghaeyo chingu! 😀

  5. wah, ff ini pasti diciptakan tidak dengan waktu singkat. daebak! karena ff ini aku jd sedikit tau tentang bahasa jerman. kyungsoo disini adalah kyungsoo idaman ku. karakter yang cuek tapi memikat. tapi ada satu yg aku tidak mengrti, mungkin kurang memahami, disurat yg lain, apa kyungsoo sebenarnya menyukai nara?
    apakah proton yg dimaksud proton malaysia itu? hhh, luar biasa untuk authornya ❤

    1. kekeke~ walaupun dibuatnya gak dengan waktu singkat, tapi ff ini masih banyak kekurangannya. kya sedih ToT
      dan bahasa jerman yang dipakai disini cuma bahasa jerman dasar chingu. Syukur deh kalo chingu mengapresiasi. Bahasa Jerman rame kok ^^
      soal nara, sebenernya nara itu sendiri yang cinta mati sama kyungsoo. Pas giliran si nara punya kesempatan nembak, eh si kyungsoonya nolak kan? Dan soal proton, iya ini proton yang dari malaysia itu. Habisnya cuma ada mobil itu yang ada di otak aku. Ye, gomawo udah komen, saranghaeyo chingu! 😀 ❤

  6. yaakkk!!!! kereenn.. bahasamu berat hampir 2kilo #abaikan
    alurnya menarik, cara kamu cerita juga ga bikin bosen 😀
    seneng jg ada chanyeol nya walau ga jadi main cast:(
    Sukses ya nabil! semoga menang ff-nya..

  7. daebak! baca ff ini berasa kaya baca novel terjemahan *abaikanIni
    over all, keren thor 😉 semoga menang ya
    hwaiting!

    1. jinjja? gomawo, gomawo!!
      Iyanih… aku addicted sama ff terjemahan, jadinya ketularan kekeke~
      amin, gomawo udah baca dan gomawo buat dukungannya, chingu!
      Saranghaeyo! 😀

  8. Aduuuuhh, bahasanya berat banget. Ini author pasti pengetahuannya luas banget deh. Bahasa jerman dibawa2 lagi, keren. Tapi kok kek flashback it’s ok that’s love yah? Beda siiihh

    1. Kekekeke~ maapin xD
      Bahasanya rada pabaliut hehehe….
      Iyanih, aku ikut kelas jerman di sekolah, jadi kebawa2 sampe ke ff…
      Flashback it’s ok that’s love? Jinjja? 😮
      Aku belum selesai nonton serial itu sihh *memalukan*
      Gomawo udah mau baca ff ini, chingu!
      Saranghaeyo~ 😀

  9. HAHAHA omg banget ini ane ga sengaja liat2 ff eh ketemu ff thehun…. akhirnya di publish juga… wkwk jadi keinget kamu nebeng searchin cari ff ini waktu peminatan jerman wkwk…. duizhang doain ff mu menang yehet!!!

  10. Aku kira kyungsoo sudah benar2 menemukan soulmatenya, gak taunya sosok anne yg sempurna itu cuma ilusi kyungsoo.

    Ada satu part yg bikin aku ketawa,

    Man, wajah pelayan itu seolah dilarutkan dalam larutan pemutih Mama!

    dan dalam kepalaku langsung terbayang sosok sehun.
    Taunya pas akhir2, dia bernama jongin! Whatt??!
    aku ketawa2 aja loh, sama kayak jongin sma kyungsoo yg cengok pas tau nma pelayan itu,see? ngga cuma aku yg ketipu disini kan?v><

    bwt aku,Selain anne, nyatanya sosok sehun jg ilusi…-_-

    ini BAGUSS BANGET.
    bwt authornya illusion,oktaviaSH, semoga menang ya!

    1. kyakkyakkyak… gomawo sebelumnya udah mau baca ff yang penuh pertimbangan ini T^T
      iyahhh… ceritaanya aku mau kasih unsur komedi dikit, ameh gak serius2 teuing, aku kira bagian itu agak garing, tapi syukur, chingu nganggep sebaliknya ;D

      vielen dank!
      gomawo dukunganmu chingu! Saranghaeyooo!! 😀

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s