[EXOFFIWC-002] – Beogeoshippoyo, Ge!

10177912_400239100131983_1439204871817710269_n

 

 

 

TITLE:Beogeoshippoyo, Ge!

LAGU YG MENGINSPIRASI: Miracle in December (Author ambil garis besarnya)

AUTHOR:Arlene Park

GENRE:Brothership, Angst, Hurt

RATTING:G

MAIN CAST: Oh Sehun& Xi Luhan

SUPPORT CAST:Other member (EXO)

SUMMARY: “Jika pada akhirnya kau tak pernah kembali, kau akan tetap hidup dalam kenanganku,” – Oh Sehun

ArlenePark.Dec.2014 © exoffi.writingcontest

 

 

Aku melingkari angka 3 di kalenderku dengan spidol merah.

3 Desember 2014.

Hari yang kutunggu-tunggu telah tiba.

Akhirnya kami dapat mengakhiri semuanya. Membebaskan diri dari segala ikatan drama yang menyusahkan, dan mulai malam ini dunia akan melihat wajah kami yang sesungguhnya. Tanpa topeng ataupun naskah palsu itu lagi.

“Memang harusnya seperti ini,” ujarku lirih, tanpa penekanan apapun. Terlalu datar dan pelan. Menyatu dengan desau angin di sekitarku hingga akhirnya tersamarkan begitu saja.

Setelah menandaskan Bubble Tea-ku yang tersisa, aku pun meraih rangkaian kubus yang tergeletak malang di atas nakas. Benda kecil inilah yang selalu menemani kesendirianku. Pengalih untuk segala kekosongan yang seringkali menghantuiku.

Rubik. Pemberian terakhirnya sebelum pergi.

Dengan kasar aku menggerakkan setiap deret kubusnya. Asal. Tanpa pertimbangan apapun. Karenaaku memang tak lagi memedulikan setiap patokan warna yang seharusnya kususun rapi pada setiap sisinya. Yang kubutuhkan saat ini hanya pengalih untuk segala kesakitan yang menyiksaku.

Aku candu akan kebersamaan kami layaknya seorang pesakitan.

Melupakan sosoknya bukanlah perkara yang mudah.

Adakah seseorang yang mengerti perasaanku saat ini?

Aish!” aku merutuk saat kurasakan kedua mataku yang memanas, perih karena terhalang lapisan kaca-kaca bening yang siap ber-transformasi menjadi ribuan tetes air mata.

Brakk! Setelah melayang dalam waktu sepersekian menit, rubikku pun menghantam dinding. Lalu berakhir dengan mengenaskan di lantai.

Untuk apa aku terus menjaga benda kecil itu?

Tak ada yang bisa kuharapkan darinya.

Rubik itu… tak ada gunanya lagi.

 

***

 

Are you ready for tonight, guys?”

Tao gege membuka percakapan pertama kami pagi ini.

“Ada apa dengan gaya bicaramu, Tao? Kau terdengar aneh,” sahut Baekhyun hyung cepat.

Kulihat Tao gege yang terkekeh pelan. “Ani. Aku hanya mempraktekkan apa yang pernah Kris hyung ajarkan padaku,” jawabnya kemudian.

Tidak. Jangan lagi. Jangan membuatku mengingat perpisahan –sialan- itu. Bahkan aku tidak bisa tidur semalaman hanya karena memikirkannya. Kumohon, hentikan percakapan ini.

“Kau merindukannya?” Suho hyung menimpali dengan begitu mudahnya. Semakin membuatku yakin bahwa Dewi Fortuna tak berada di pihakku kali ini.

Setelahnya, satu persatu hyung-ku mulai melontarkan kerinduannya. Membungkamku dalam kungkungan pilu yang mendesak untuk diluapkan. Dan tanpa kuminta, sakit itu kembali. Menyerangku dengan senjata andalannya. Kenangan.

Ingatanku kembali ke masa lalu. Menjelajah lembar demi lembar naskah hitam putih kami. Memutarnya seperti rangkaian film amatiran. Menghapus sekat di antara realita dan imajinasi, lalu membiarkan keduanya lebur menjadi satu dalam pikiranku. Menganggu cara kerja otakku serta membutakan akal sehatku.

Kini, kenyataan dan bayangan terlihat sama saja bagiku.Sama-sama diwarnai oleh kenangan akan dirinya.

Gwenchana?”

Chanyeol hyung menepuk pelan bahuku. Membuatku sadar bahwa kedelapan pasang mata lainnya tengah menatap penuh minat ke arahku.

Ne, hyung,” jawabku. Meski sedikit terkejut, aku tetap berusaha membuat segalanya terlihat normal. “Nan gwenchana,

Jeongmal?” tanya Chanyeol hyung lagi.

Aku mengangguk pelan. Tak bertenaga.

“Aku mengerti perasaanmu,” Xiumin hyung ikut bersuara, bahkan ini pertama kalinya dia benar-benar menatap lurus dua bola mataku setelah pertengkaran hebat kami dua hari yang lalu.

 

“Sekarang kau mengerti perasaanku, kan? Kau bahkan menghabiskan hampir seluruh waktunya di sini untuk dirimu sendiri. Egois!”

 

Aku ingat betul segelintir kalimat yang dilontarkan Xiumin hyung malam itu. Setiap penekanan dan intonasi yang ia gunakan, semuanya masih terngiang jelas di telingaku. Aku tak benar-benar marah, karena pada kenyataannya aku memang merampas kebersamaan mereka untuk diriku sendiri. Aku tak suka siapapun merebutnya dari sisiku. Aku benci saat dirinya sempat mengabaikanku dan lebih memilih bersama Xiumin hyung. Aku yang lebih dulu mengenal dan menghabiskan masa trainee bersamanya. Salahkah jika aku mencoba mempertahankan apa yang sejak awal menjadi milikku? Egoiskah aku?

Hyung, mianhae,”

Xiumin hyung tersenyum tulus. Menerima permintaan maafku yang sejak kemarin terasa berat untuk diungkapkan.

Jeongmal mianhaeyo,” tambahku lagi dengan suara yang sedikit bergetar.

Satu persatu kenangan itu muncul terlampau jelas. Seakan kerangkeng yang selama ini mengunci mereka terlepas, sehingga bebas menghantuiku tepat di depan mata.

 

“Luhan, bagaimana caranya menyelesaikan ini?”

“Ah ini—”

“Kau belum selesai membantuku, Luge,”

 

Lihatlah betapa egoisnya aku. Luge belum sempat menyelesaikan kalimatnya untuk menjawab pertanyaan Xiumin hyung karena aku dengan sengaja menyelanya.

 

“Saengil Chukhae, Min Seok~ah! Kau ingin hadiah apa?”

“Traktir aku makan siang, eotte?”

 

Namun lagi-lagi aku tak membiarkannya mengabulkan permintaan Xiumin hyung. Dengan keras kepala aku langsung merengek minta diajari rubik satu hari penuh. Aku yakin Xiumin hyung akan selalu mengingat kejadian ini.

 

“Kenapa kau tak membiarkan Luhan bersamaku, sebentar saja?”

 

Pertanyaan Xiumin hyung yang satu ini. Aku juga tak pernah melupakannya. Sudah lama aku membiarkan pertanyaan ini rumpang karena tak lekas mendapatkan jawaban.

Kini, aku tahu alasannya.

“Kau masih ingat pertanyaanmu waktu itu, hyung?”

Xiumin hyung menatapku dengan alis berkerut. Menuntut penjelasan untuk pertanyaanku yang mungkin terdengar ambigu baginya.

“Keegoisanku,” ujarku lagi.

“Oh,” Xiumin hyung mengangguk padaku kemudian tertawa hambar. Jelas, memang tak ada yang lucu dalam kalimatku sampai harus membuatnya benar-benar tertawa. “Apa kau sudah menemukan jawabannya, Sehunnie?”

Aku mengangguk kemudian mendesah tak kentara.

“Aku terlalu menyayanginya, hyung. Diabegitu memahamiku. Aku takut kau merebutnya dariku. Aku takut kehilangan Luge,”

Siapapun pasti pernah merasa kehilangan, termasuk diriku sendiri. Berpisah jauh dengan keluarga adalah kehilangan terberat yang kualami saat ini, dan Luhan lah yang mampu mengusir rasa kesepianku. Dia sudah seperti kakakku sendiri. Karena itulah aku takut orang lain merebutnya. Aku tak ingin merasakan sakit yang sama untuk kedua kalinya.

Meski pada kenyataannya, aku kembali merasakan hal itu. Bahkan lebih sakit dari sebelumnya.

Ya.

Aku-kehilangan-Luhan.

 

***

 

“Bagaimana mungkin kau bisa menyelesaikannya semudah itu? Kau pasti curang!”

“Eeeeiiiyyy … Aku ini pintar bukannya curang!” dia mendaratkan kepalan tangannya di puncak kepalaku. Jengkel. “Kau saja yang sedikit lamban dalam menyerap ilmu yang kuberikan,” ledeknya kemudian.

“Aish! Jangan meremehkanku!”

Kulihat dia tertawa. “Kalau begitu selesaikan. Kuberi waktu sepuluh menit,”

“Geureu! Lihat saja! Aku pasti bisa menyelesaikannya,” sahutku tertantang.

Sementara aku fokus dengan kegiatanku, dia justru sibuk memotretku menggunakan kamera ponselnya. Mengambil wajah idiotku dari berbagai sisi. Menyebalkan!

“Luge! Berhentilah! Kau mengangguku!” bibirku kembali melayangkan protes. Tanganku terulur untuk menutupi kamera yang tertuju padaku.

“Tapi wajahmu yang sedang serius lucu sekali. Para penggemarmu pasti akan menyukainya,”

Mataku membulat mendengar perkataannya. Penggemar? Aku mulai menangkap aura tidak menyenangkan di sini.

Tanpa pikir panjang, aku mengabaikan rubik dalam genggamanku dan beringsut menatap layar ponsel miliknya. Bingo! Dia baru saja mengunduh fotoku di salah satu akun jejaring sosial miliknya.

“Ya! Ige mwoya?” telunjukku mengarah tepat pada layar ponselnya. “Cepat hapus fotoku, Luge!” aku berusaha merebut paksa ponselnya.

“Shireo!” dia berlari dan masuk ke dalam kamar kami. Mengunci pintunya rapat-rapat. “Waktumu sudah habis, Oh Sehun. Dan kau belum menyelesaikannya, kan?” kudengar ia berteriak dari dalam sana disusul tawanya yang meledak penuh kepuasan.

Aku mendesis sebal. Menggumamkan beribu kata sial dalam hati.

Hari ini aku dikerjai habis-habisan olehnya.

 

***

 

Aku menenggak habis minuman yang Kai sodorkan padaku. Penambahan jam latihan ini membuatku cepat dehidrasi. Rasanya cairan dalam tubuhku terkuras bersama dengan peluh yang mengalir di sekujur tubuhku. Belum lagi penambahan gerakan-gerakan baru yang membuat kepalaku pening.

Sudah banyak yang mengetahui bahwa aku ini tipikal orang yang sulit menghafalkan suatu gerakan. Tak aneh jika sepanjang latihan ini aku yang paling banyak melakukan kesalahan. Membuat member lain ikut terkena imbasnya karena harus mengulangi gerakan yang sama berulang-ulang.

Mungkin benar yang dia katakan bahwa otakku ini sedikit lamban dalam mengingat dan memahami sesuatu.

Tsk.  Di saat seperti ini pun aku tak bisa menghindar untuk tak merindukannya.

Merindukan segala perhatiannya.

 

***

 

“Mianhae,” ucapku tertunduk. Tidak berani membalas tatapan yang kini tertuju padaku. Seketika aku merasa menjadi orang paling menyusahkankarena terus saja mengulang kesalahan yang sama untuk kesekian kalinya.

“Bagaimana kalau aku mengajari Sehun sebentar? Kalian beristirahatlah!”

Aku mendongak. Bagaimana mungkin dia mengatakan hal tersebut sementara dirinya sendiri juga sedang kepayahan mengusap peluh yang membanjiri pelipisnya. Rambutnya bahkan sudah basah oleh keringat.

Tanpa menunggu lama permintaannya disetujui oleh member yang lain. Dia benar-benar mengorbankan waktu istirahatnya untukku. Penuh sabar dan tanpa mengeluh sedikitpun.

“Istirahatlah, Luge! Aku akan mencoba menghafalkannya sendiri,” pintaku.

Kulihat ia menggeleng kuat. “Sedikit lagi selesai. Kau sudah mulai lancar, Sehunnie,”

“Tapi waktu istirahat kita sudah hampir habis. Paling tidak minumlah sedikit,” nadaku meninggi saat mengucapkannya. Berharap dengan begini dia akan mendengarkanku.

“Arraseo. Lihat ini!” dia menenggak setengah dari botol mineral yang dimintanya dari Suho. “Sudah, kan? Ayo berlatih lagi!”

“Kau tidak akan menyuruhku minum?”

Dan setelahnya aku melihat Luhan tertawa, renyah.

 

***

 

“Lihat ini, Luhan menghubungiku!” kelakar Xiumin hyung.

Jinjja?” Lay tampak tak percaya.

Xiumin hyung menganggukkan kepalanya. Sementara fokusnya tertuju pada layar ponselnya. “Dia mengirimiku pesan lewat SNS,”

“Kukira dia menghubungimu lewat video call. Aish! Keterlaluan sekali dia!”

“Suruh dia menelpon, ppali!”

Para hyung-ku yang lain mulai mendesak, namun Xiumin hyung sama sekali tak menggubris. Matanya masih sibuk, bergerak menelusuri kalimat demi kalimat yang tertera di layar ponselnya.

“Dia bilang apa saja?” tanya Chanyeol hyung sembari melirik ke arahku. Seolah ingin menunjukkan bahwa dirinya mencoba mewakiliku, mengatakan apa yang tak sanggup kukatakan sekalipun aku ingin.

“Skenario tidak berubah. Itu yang dia katakan di awal,”

“Berarti dia tidak akan kembali?” aku mulai memberanikan diri bertanya.

“Luhan menanyakan kabarmu. Dia juga menanyakan bagaimana latihanmu belakangan ini tanpa bimbingan darinya. Menanyakan pola istirahat dan pola makanmu. Menanyakan kebenaran tentang perubahan sikapmu. Dia mengirimkan pesan yang cukup panjang dan hampir semuanya tentangmu, Sehunnie,”

Aku mendesis. Bukan itu jawaban yang ingin kudengar.

“Jawab aku, hyung! Benarkah semua ini tak bisa dihentikan? Tak bisakah kita kembali utuh seperti dulu?”

“Kau sendiri sudah tahu jawabannya, Sehun,”

Aku menatap sebal ke arah Suho hyung. Masih tak puas dengan jawaban yang diberikannya.

“Kita bisa datang ke kantor agensi dan meminta mereka menghentikan ini, kan?”

“Kau baru saja mengatakan sesuatu yang mustahil, Sehun!” Kyungsoo hyung menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. “Semuanya sudah diatur, dan kita tak berhak merubah apapun. Kau jelas sudah mengerti hal ini. Untuk apa kita membahasnya lagi?”

Kau benar Kyungsoo hyung. Semuanya sudah tersusun rapi, bahkan terlalu rapi. Hingga aku nyaris melupakannya, dan benar-benar akan melupakannya jika saja perpisahan itu tidak sesegera ini terjadi.

 

***

 

“EXOOOOOO!”

“EXO SARANGHAJA!”

“EXO. WE ARE ONE!”

Teriakan mulai terdengar bergemuruh, riuh rendah, menggema ke segala arah. Mengiringi kali keempat kami naik ke podium untuk menerima penghargaan terakhir sebagai penutup acara malam ini.

Meski sudah berusaha menunjukkan senyum terbaikku, namun yang terpeta hanya seulas senyum tipis. Sekilas. Membuatku sedikit gamang juga. Takut jika wajahku malam ini terlihat begitu buruk di kamera.

Di luar dugaan, Suho hyung menyerahkan piala daesang keempat kami malam ini ke tanganku. Memintaku menyampaikan beberapa pesan melalui isyarat matanya.

Dengan sedikit enggan aku pun maju. Meraih ujungmic dengan satu tanganku yang bebas.

“Malam ini aku hanya ingin mengatakan satu hal. EXO, EXO-L I’m really thankfull and I love you. Wo ai ni ma, xie xie,”  Terima kasih juga untuk Kris hyung dan si jahat Luge yang pernah berjuang bersama kami. Lanjutku dalam hati.

Piala ini bukan hanya untuk kami, tapi ini juga untuk kalian berdua.

Seandainya saja kalian berdua berada di sini …

Seandainya saja kalian berdua masih menjadi bagian dari kami …

Seandainya saja dua hal yang kusebutkan tadi bukan hanya sekedar pengandaian …

 

***

 

Aku paham betul mengenai keberadaan akhir untuk segala awal. Aku pun tahu bahwa akan ada perpisahan untuk setiap pertemuan. Yang tidak kumengerti adalah jangka waktu untuk mencapai gerbang pelepasan tersebut. Mengapa terasa begitu singkat? Tak mungkin kan waktu berjalan lebih cepat menyalahi kuasa Tuhan?

Dan apalagi ini? Sudah satu jam berlalu namun kami tetap bertahan dalam sunyi. Tak ada pergerakan berarti yang kami lakukan sedari tadi. Hanya aku yang sibuk mengetukkan jariku di dahi, dan dirinya yang sesekali memijat pelipisnya. Kurasa tujuan kami sama: mengusir jenuh.

Sebenarnya ada yang ingin kusampaikan padanya. Namun aku terlalu bingung bagaimana harus menyampaikannya. Mengandalkan intuisi otak kanan, atau mengikuti rasionalisme otak kiriku?

Aku memang lebih suka berpikir dibandingkan berimajinasi. Tapi kali ini lain, ini bukan tentang Sains atau Matematika. Tak perlu rumus. Hanya membutuhkan hati untuk merasakan segala rasa yang berkecamuk dalam diriku.

Jangan salah paham. Rasa yang kumaksud di sini bukanlah cinta sesama jenis yang terlarang. Tapi cinta seorang adik kepada kakaknya. Kurasa dia juga merasakannya. Sama seperti dua sisi dalam cermin kehidupan. Ada yang tertebak dan tidak tertebak. ada keteraturan, ada pula ketidakteraturan. Kami pun memiliki cara yang berbeda untuk menyampaikan rasa ini.

Dia menyayangiku dengan sabar, aku menyayanginya dengan penuh tuntutan.

Dia selalu memerhatikanku dengan lembut, aku memerhatikannya dengan cara yang sedikit kasar.

Dia membebaskanku, aku mengekangnya.

Dan satu fakta yang membuatku semakin menyayanginya adalah … dia tidak pernah benar-benar mengeluh akan keegoisan sikapku selama ini.

Pernah sekali dia marah hingga akhirnya mengabaikanku satu minggu lebih dan berpaling pada Xiumin hyung. Dengan alasan kesal pada pola hidupku yang mulai tidak teratur.

See? Dia benar-benar menyayangiku, bukan? Bahkan aku tidak sedekat ini dengan kakak kandungku sendiri.

“Sudah malam,” ujarnya, jengah –mungkin-

“Lalu?”

Kudengar ia mendesis dan kembali menutup mulutnya rapat-rapat.

“Tak adakah yang ingin kau sampaikan padaku?”

Alisnya bertaut menerima pertanyaanku, menimbulkan kernyitan cukup dalam pada dahinya. Sepertinya aku yang harus memulai saat ini. Memastikan segalanya yang mulai terlihat tidak pasti, umpama kapal yang kehilangan nahkoda. Terombang-ambing di tengah lautan ragu bertepikan pilu.

Harus segera diselamatkan jika tidak ingin kapal itu tenggelam.

“Apa?” dirinya balik bertanya.

Aku menggeleng lalu tersenyum sendiri. Dia benar-benar berusaha keras untuk membohongiku rupanya. Apa dia lupa bahwa kami sudah melewati banyak waktu bersama? Dan aku sudah cukup dewasa untuk mengerti percakapan diam-diamnya dengan member kami yang lain.

Aku hanya ingin dia jujur padaku. Cukup katakan dia harus pergi sebentar lagi. setidaknya aku jadi punya alasan untuk memuntahkan rasa penasaran yang membuatku mual.

Apakah kau akan kembali? Apakah kita bisa bertemu lagi?

Dua pertanyaan itulah yang kini bercokol di otakku. Menuntut untuk segera diungkap. Tapi kenapa dia lebih memilih menyembunyikannya dariku? Seakan lupa bahwa aku juga ikut andil dalam cerita ini. Aku pun tahu akhirnya akan begini. Hanya saja aku lebih memilih hidup dalam kepura-puraan, bersikap layaknya seseorang yang terkena amnesia. Padahal di dalam sini, otakku tak pernah berhenti menghitung waktu yang tersisa.

“Kau sendiri, apa ada yang ingin kau katakan padaku?”

Aku mengangguk mendengar pertanyaannya. “Ada,”

“Mwo?”

“Berhentilah membohongiku! Aku sudah cukup dewasa untuk menerima kepergianmu. Setidaknya setelah memastikan semua benar-benar berjalan sesuai rencana,”

Dia terkekeh pelan.

Respon macam apa ini?

“Kadang ada beberapa hal yang tidak kau mengerti dalam hidup ini, Sehunnie,”

“Bisakah kau kembali untukku?”

Luhan tercenung. Kudengar dirinya mendesah berat, napasnya tersengal getir.

“Jika aku mengatakan aku akan kembali, apa kau akan menungguku?”

Bahkan sebelum kau memintanya aku sudah berniat untuk selalu menunggumu, menunggu kepulanganmu, Luge. Jawabku dalam hati. Biar saja semuanya tersimpan di dalam sini. Aku tidak ingin membebaninya lagi.

Aku hanya akan menunggunya dalam diam, sekalipun aku tahu ini mustahil.

Jalan hidup kami sudah diatur sejak awal. Seakan bukan manusia, kami lebih mirip boneka.

Boneka-boneka malang.

 

***

 

Sesampainya di dorm, aku langsung melangkahkan kakiku masuk ke dalam kamar. Mengunci pintu rapat-rapat, tak ingin diganggu siapapun. Mataku berpendar ke segala arah. Mencari benda mungil yang tadi masih tercerai-berai di lantai dan kini lenyap begitu saja.

Aku mencoba mencarinya di kolong tempat tidurku, namun nihil.

“Padahal aku sudah berjanji akan menyelesaikannya sebelum dia datang,” umpatku pada diri sendiri. Terkutuklah sikapku semalam. Dikuasai emosi yang membabi buta akibat rindu yang tak terbendung.

Tiba-tiba saja seseorang mengetuk pintu kamarku.

Nugu?” teriakku dari dalam kamar.

“Ini aku,” suara bass khas Chanyeol hyung  dihantarkan angin melalui celah pintu hingga sampai ke telingaku.

Dengan langkah berat aku menggapai daun pintu dan membuka kuncinya.

“Ada apa, hyung?”

“Ini,” Chanyeol hyung mengulurkan tangannya. “Jangan dirusak lagi, aku tahu ini berharga untuk kalian berdua,” tambahnya seraya memindahkan sesuatu ke dalam genggamanku.

“Bagaimana bisa ini ada padamu?” tanyaku sedikit memekik.

Aku tak kuasa menyembunyikan sentuhan girang dalam kalimatku barusan. Bagaimana tidak? Rubik yang sejak tadi kucari sudah kembali dalam genggamanku dengan keadaan utuh.

Gomawo, hyung. Kau bahkan memperbaikinya,” ujarku.

Chanyeol hyung tersenyum padaku.

“Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu, Sehunnie. Apa kau senggang?”

Aku mengangguk. “Masuklah, hyung. Kita bicara di dalam saja,”

 

***

 

Hidup. Sebuah kata yang terdiri dari dua silabel. Terkesan sederhana memang. Namun saat kau beranjak dewasa kau akan mengerti bahwa makna hidup tak pernah sesederhana pengucapannya.

Beradaptasi dengan lingkungan. Mengenal banyak orang. Menerima, juga memberi.

Kadang bahagia. Kadang terluka. Ada kalanya kau marah saat takdir seolah tak berpihak padamu, dan ada kalanya kau begitu meraja saat takdir itu seakan tergenggam dalam tanganmu. Pada akhirnya kau sadar bahwa hidup mengenalkanmu pada jutaan rasa yang kadang terkesan tidak rasional. Melampaui batas hingga akhirnya sulit untuk dikendalikan, terlebih saat kau kehilangan apa yang berharga bagimu.

Seperti apa yang kurasakan beberapa minggu ini ini. Berakhir dengan rindu yang bukan lagi sekedar rindu. Rindu yang dibumbui rasa takut serta kemarahan yang luar biasa menyiksa.

Aku terlalu takut menerima hal baru yang menanti di depan sana.

Aku marah saat sadar dia meninggalkanku, menjadikan segalanya terasa rumpang karena tak lagi utuh.

 

“Jangan bersikap seolah kau yang paling terluka di sini, Sehun. Kami sama terlukanya,”

 

Kalimat pembuka yang dilontarkan Chanyeol masih berbekas dalam ingatanku.

Mereka juga dihadapkan pada perpisahan yang sama. Mereka pasti sama terlukanya, hanya saja lebih memilih untuk menutupinya dengan berjuta pengabaian. Hingga rasa itu mati dengan sendirinya.

Berbeda dengan diriku yang terus larut dalam masalah ini. Aku bahkan membiarkan segumpal emosi beranak dalam hatiku, hanya karena penantian tak berujung ini.

Apakah aku menyesal? Ya, tentu saja.

Aku bukan menyesali keputusanku untuk menunggunya, namun aku menyesali cara dan jalan yang kupilih.

 

“Jangan biarkan sakit itu menguasaimu!”

 

Yang Chanyeol hyung katakan benar. Selama ini aku tidak seharusnya membiarkan diriku larut dalam luka yang mendalam, apalagi menikmati setiap rasa sakit yang tertoreh dengan begitu bodohnya.

Aku punya pilihan lain. Dengan menyelesaikan benda kecil –memusingkan- yang kini berada dalam genggamanku, misalnya. Terakhir sebelum dia meninggalkanku, dia pernah bilang akan kembali jika aku dapat menyelesaikan teka-teki rubik ini lebih cepat darinya.

Lihatlah, Luge! Aku pasti bisa menyelesaikan susunan warna pada kubus ini.

Aku akan terus menunggumu, terus mengharapkan kepulanganmu. Tanpa luka atau kesakitan itu lagi. Dan jika pada akhirnya kau tak pernah kembali, aku akan menghidupkanmu melalui setiap kenangan yang kumiliki. Mengais semua yang pernah kita lakukan hingga puing terkecil.

Kenanganku bersamamuadalah salah satu keajaibanku.

Aku merindukanmu, Ge!

 

END-

114 tanggapan untuk “[EXOFFIWC-002] – Beogeoshippoyo, Ge!”

  1. Ternyata eonni author x ..
    Sedih. Feel x dpt. Benar2 family. 😥
    .Bagus, baguuussssss banget :’)
    Juara 1 kan? Chukae eonni. 🙂 fighting n keep writing. D tnggu jg update-an x. 🙂

  2. keren.., daebak thor buat fanfictnya.. 😀
    feelnya lumayan dapet.., ^^
    kalimatnya lumayan mudah di pahami =D
    keep writing thor!! ^^
    fighting..,!! =D O:-)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s