Pansy (EXO LOVE SERIES-FLOWER –Suho)

PNSYEDIT01

 

 

 

 

Chrispucchino

*sebelumnya menggunakan nama pena Rianocing*

| Friendship, Romance, Comedy, AU | PG-15 |

Cast(s) : Kim “suho” Joon Myeon, Sung Hae-kyung

Minor(s) : Oh Sehun, Byun Baekhyun, Lee Baek-ah, Im Dahyun

Pansy, kau pernah dengar nama itu? Ya itu nama sebuah bunga yang mungkin tidak familiar ditelingamu. Ya, bila kau bertanya siapa member EXO divisi K, banyak yang akan melewatkan nama Junmyeon, sang leader. Ya, Pansy itu sama sepertiku, Junmyeon yang transparan.

Kau tau bahwa Pansy punya arti lain? Ya, itu bisa kau berikan pada ‘gebetan’mu. Itu kalau kau mau diteror setiap hari, setiap malam. Sebenarnya, bagiku, diteror oleh ‘gebetan’ku bukan hal buruk kok. Aku mau kau memikirkanku setiap hari, baiklah, bersiaplah Junmyeon!

First publish in EXOFanfiction*

💙

 

“Junmyeon hyeong, ada email untukmu.” Aku menoleh ke arah Sehun. “dari siapa?” jawabku malas. “ehm, dari  Theo Thungtheol.” Sehun menoleh kearahku dengan sedikit keberatan. Oh, aku hampir lupa bahwa Sehun cadel ‘s’, yang artinya dia tak bisa mengucapkan kata ‘s’ dengan baik.

“ah, mianhae. Hyeong akan membacanya sendiri.” Sehun tersenyum, melemparkan IPhone 5 putih milikku yang sedari tadi ia utak-atik dengan hati-hati, mendarat tepat ke permukaan sofa di sebelahku.

“hei, kau mengecek emailku lagi ya? Sebenarnya apa sih yang kalian lakukan dengan emailku?” aku berdecak malas.

“apa saja boleh. Kami hanya berusaha menjadi dongsaeng yang baik untukmu.” Baekhyun cengengesan. Astaga, dia benar-benar mencurigakan.

Aku menatap mereka–Baekhyun dan Sehun- dengan tajam. Siapa yang tau rencana licik kedua makhluk yang berusia di bawahku itu?

Ya, katakan aku parno atau sejenisnya. Namun kau tidak tau apa yang mereka lakukan padaku kemarin. Minggu lalu aku baru saja dimarahi oleh dosen bahasa Inggris di kampusku karena kedua bocah sial ini mengirimkan email mesra pada dosenku.

“yoboseyo? Ne seongsaengnim. Junmyeon imnida, waeyo?” (hallo? Ya ibu guru. Ini Junmyeon sendiri, ada apa?)

“hah? Aku tidak mengirimkan email begitu, seonsaengnim. Jesunghamnida, seonsaengnim. Ne, ne.” (hah? Aku tidak mengirimkan email begitu, bu guru. Maafkan saya bu guru. Ya, Ya.)

Baekhyun dan Sehun menatapku dengan tatapan bersalah, kemudian mereka tertawa bodoh. “mian hyeong. Kami kira dia teman kamputhmu, habis dithplay picturenya thangat thekthi.”

“memangnya kalian mengirim apa?!” aku mengacak rambutku dengan kesal. Oh bagus, karena mereka berdua aku kini dihukum, tidak boleh mengikuti kelas bahasa Jepang selama tiga minggu.

“hehe, aku hanya mengirim kata hai, lalu Baekhyun hyeong yang mengetik thelebihnya.” Sehun menunjuk ke arah Baekhyun.

“mian hyeong, aku hanya mengetik ‘kau seksi sekali, kau mau check in denganku tidak?’ begitu. Tapi Sehun yang menekan tombol sendnya. Mian, habis kami sangat bosan kemarin dan kau sibuk dengan tumpukan bukumu itu. Jadi akhirnya, kami memutuskan bermain dengan emailmu.”

Dan astaga, mengingat apa yang mereka kirim, wanita mana  yang tak akan marah? Aku merasa otak Baekhyun harus dicuci dengan deterjen agar pikirannya bersih dan ia bebas pornografi, lalu Sehun harus diasingkan sementara dari Baekhyun.

“jawablah, apa yang kalian lakukan?!” aku berdecak kesal setelah ekor mataku menangkap isi email seonbaeku dikampus. Seo Sung-seol, dari jurusan Managemen Bisnis.

To : kimjunmyeon@kyungheestudentxx

From : seoseolsung@managementyeartwoxx

Junmyeon-a, mianhae. Aku tidak punya perasaan apapun padamu. Dan tidakkah itu sangat tidak bermoral, mengajak check in seorang yeoja yang adalah seonbaemu? Lain kali belajarlah mengetik dengan baik. Arraseo? 😏

Astaga, lihat apa yang dua mahluk sial ini kerjakan! “Byun Baekhyun, Oh Sehun! Apa yang kalian lakukan?!” aku menjerit tertahan, melemparkan dua buku sastra inggris tebal –ya, berisi 250 lembar.- ke arah mereka, masing-masing tepat sasaran.

ah, hyeong, appo! Kau tidak perlu semarah itu pada kami! Kami hanya takut kau jadi ahjusshi tua kesepian yang tak punya pengalaman percintaan dengan yeoja!” Baekhyun mengelus bagian kepalanya yang sedikit memerah –ya, karena lemparan bukuku, biar sajalah, rasakan.– ia kemudian membenarkan posisi duduknya.

“lalu kenapa kalian memakai cara bodoh begitu? Bagaimana mengirim ajakan check in dapat membuatku mendapatkan kekasih? Jelaskan! Itu malah akan membuatku dibenci dan direndahkan gadis-gadis di kampusku!”

hyeong, jangan marah-marah dulu. Kemarin aku membaca rithet, katanya thetelah melakukan thekth, hubungan akan themakin intim. Begitu.”

Astaga, Tuhan! Otak Sehun benar-benar rusak. “Sehun-a, aku mengerti kalau kau sedang dalam masa pubertas, dan rasa penasaranmu sedang tinggi sekali. Namun, apa kau harus membaca buku dan riset perusak masa depan begitu?”

Baekhyun dan Sehun tertawa, cengengesan seperti dua pasang mahluk idiot.  Ah, sudahlah. Nasi sudah menjadi bubur, aku hanya harus menjelaskan pada Sung-seol seonbae besok. Apalagi dia asisten dosen di kelasku.

Aku akan benar-benar memberi password pada handphoneku. Atau bahkan aku akan memasang sistem kejut elektrik bagi sidik jari asing. Ya, untuk sementara –sampai Baekhyun dan Sehun berhenti mengutak-atik emailku dan membuatku dibenci gadis-gadis seantero kampus. Oke, aku berlebihan-. Kuputuskan akan menggunakkan password. Ya, aku harus. Mengingat apa yang dua dongsaeng gila ini kerjakan, atau mungkin menjadi hobi baru mereka –mengirim ajakan check in pada tiap gadis di kontak emailku.- ini gila!

 

💙

 

 

“Hae-kyung –a, kau melamun lagi?” aku terkekeh, berusaha terlihat normal di depan Baek-ah, salah satu pekerja part-time disini, ya kami cukup akrab. “kau sebenarnya melihat apa sih?” Baek-ah mengikuti arah pandanganku. “dasshi, geu namja?Aigoo. Aish, jeongmal, neo. Kau pasti gila!” ia mendengus kesal.

Ya, Baek-ah memang tau bahwa aku sudah lama memendam perasaan pada pria tampan berkepribadian misterius itu. “kenapa tidak coba bicara saja padanya?” aku menggeleng pelan. “memikirkannya saja aku tidak sanggup, mau bicara apa?”

“ya, pembicaraan sehari-hari. Kau tidak bisa memandanginya setiap hari, seolah ia adalah manekin tampan di butik pakaian, ‘kan?” aku menarik nafas. “lagipula, kalian toh hidup di dunia yang sama. Dan kurasa peluangmu cukup besar, bila kau mengubah sedikit saja sikapmu.”

“Apa maksudmu, hah?!” umpatku kesal. “astaga, baru saja kukatakan. Berhentilah berteriak dengan lantang. Disini bukan pasar ikan. Apa kau gila?”

“bukankah kau memang tahu bahwa aku gila?” aku tersenyum miring, kembali memandangi Suho. Astaga, Tuhan. Demi pluto yang bukan termasuk jajaran planet lagi, Suho sangat tampan hari ini. Menyedihkan, bagaimana ia dan aku terpisah oleh tembok yang sangat jauh. Ia mahasiswa, dan aku bekerja di sebuah fastfood-delivery restaurant.

annyeonghaseo,” aku membungkuk saat mendengar suara Baek-ah yang melengking –suara khas Baek-ah saat ia menyambut tamu yang datang,- aku merapihkan apronku, ya setidaknya tampak rapih didepan pelanggan karena kau tidak mau dipecat oleh atasanku yang notabenenya, cukup memasuki kriteria kritikus.

annyeonghaseo, ada yang bisa kubantu?” aku mendongak, tersenyum manis. Oh, bukankah pria ini teman Suho? Ia selalu bersama Suho.

annyeonghaseo, Salmon Steam Rice hana jusseyo.” Aku dengan cepat menekan tombol R12 –tombol di mesin kassa yang mengindikasikan paket yang ia –teman Suho.- maksud- “ada yang lain?”

“bisa kau rekomendasikan sesuatu untuk orang yang sedang marah besar?” aku tersenyum. “chocolate oreo tea?” ia tersenyum. “ya, dan tambahkan sedikit bubble di yang satunya. Aku pesan dua.”

arraseo, biar kuulangi. Satu Salmon Steam Rice, dua Chocolate Oreo Tea, satu dengan toping ekstra bubble dan satu tanpa bubble. Ada tambahan?”

“tidak.” Aku menekan beberapa tombol lagi, “semuanya dua belas ribu won, tuan.” Aku tersenyum, membenarkan topiku. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang. “ya, jumlahnya pas. Mohon tunggu beberapa menit.”

“kenapa tempat ini sepi sekali?” aku menoleh. “ah, ini baru pukul tiga siang. Biasanya tamu mulai datang pada pukul enam sore, dan paling ramai saat pagi hari.”

“oh, kau sudah lama bekerja disini?” ia tersenyum ramah, sepertinya ia tipe social butterfly. “sekitar enam bulan. Aku tidak bisa melanjutkan jenjang kuliah, jadi setelah lulus tingkat sekolah menengah atas, aku memutuskan bekerja, dan tempat ini satu-satunya yang menerima lulusan sekolah menengah atas sepertiku.”

“apa mereka membayarmu dengan upah tinggi?” aku mengerutkan dahiku. “ya, kurang lebih 20.000 won perjamnya. Kau tertarik bekerja?”

“tidak, aku hanya ingin bertanya, kalau-kalau aku membutuhkan pekerjaan untuk praktekku. Oh ya, Baekhyun imnida. Bangapta.”

Ia memamerkan deretan giginya, mulutnya membentuk persegi saat ia tersenyum. “Hae-kyung. Nado bangeupseumnida.”

 

💙

 

 

hyeong, tebak apa?” aku menoleh dengan malas, hanya berdehem sebagai respon. “aku tadi bertemu seorang gadis, dan ia cukup menarik.”

“lalu?” aku menatap Baekhyun dengan malas. “hyeong, kau kejam sekali! Mana reaksimu?!” aku mendengus. “baiklah, oh jeongmalyeo? Dasshi yeoja yeppudasseoyo? Kyeopta?” aku memaksakan diriku untuk tampak tertarik. Oh Baek sadarlah aku sedang marah padamu.

“aku bertemu dua gadis sekaligus. Satu yang menyambutku di pintu sangat manis, dan yang menerima pesananku sangat menarik.”

“oh.” Aku mengangguk singkat. “hyeong! Aku butuh respon, memangnya kau patung besi apa?!” Baekhyun menjerit lantang.

“oke, lalu mana yang kau sukai?” jawabku malas. “kurasa, aku suka yang menerima pesananku. Ia sedikit cuek dalam berpakaian, tapi hidungnya indah sekali. Tingginya standar, sekitar seratus enam puluh. Aku bertanya tadi.”

“oh, dan yang menyambutmu?” aku mulai tertarik. Baekhyun terkekeh, ia tampak mengingat sesuatu yang menyenangkan, “dia manis, lebih pendek dariku sekitar duapuluh sentimeter, dia kurus, bentuk badannya bagus, rambutnya indah, kulitnya mulus, tapi aku merasa ia terlalu biasa. Mantan yeojachinguku bulan lalu setipe dengannya. Aku ingin mencoba yang baru, hyeong.” Oh astaga, memangnya mereka resep masakkan? Dasar gila!

“oh. Oke.” Aku mengangguk malas. “hyeong, aku berbohong. Sepertinya gadis itu suka padamu. Ia bertanya beberapa kali tentangmu.”

godjimal.” Aku mendengus. “sungguh. Ia terus menanyakanmu, kau harus mengunjungi restoran cepat saji di depan kampus kita. Kau bisa lihat apakah aku berbohong atau tidak!” Baekhyun membentuk angka tiga di kepalanya, pertanda ia bersumpah.

“memangnya ia menanyakan apa?” aku menutup koran yang kubaca, mulai antusias dengan pembicaraan Baekhyun, kuakui, seleranya dalam memilih wanita diatas seleraku. Ya, aku tahu pasti.

“seperti siapa kau, namamu, kelas di kampus, status sosialmu.. oh iya terkejut saat aku bilang kau termasuk golongan chaebol dua atau hampir kolongmerat. Ia juga menanyakan status hubunganmu dan kujawab bahwa kau selalu sendirian.”

“ah, benarkah?” bukankah itu pertanyaan yang hanya kau tanyakan bila kau menyukai seseorang? Aneh sekali, ini bercanda!

“kapan aku berbohong? –oke, beberapa kali, tapi kali ini aku serious, hyeong. Ia tampak tertarik padamu. Kau harus mencoba mendekatinya.”

“Baek, aku tidak mau tampak seperti badut sirkus didepannya, dan ia terlalu tinggi. Seratus enampuluh senti? Oh yang benar saja.”

“tenang saja, ia bukan tipe gadis yang suka mengenakan heels. Setidaknya, ia sangat cuek berpenampilan.”

“apakah kau mengajaknya check in lagi?” aku menghela nafas. Baekhyun tertawa, wajahnya kini mendadak serius. “michisseoyo? Tentu saja tidak!”

 

💙

 

“Hae-kyung –a, apa minggu ini kau sibuk? Kudengar kau cukup pandai menjaga anak kecil. Ada kenalanku yang memintaku menjaga anak kecil, tapi aku tidak bisa. Dan ia berjanji membayarku dengan tinggi, kebetulan ia eomma teman Sehun, namjachinguku. Tolong aku, maukan?” Dahyun –sahabatku sejak kecil yang berusia tiga tahun dibawahku. Usiaku dua puluh satu, yang artinya ia berusia enam belas.- memelas.

“aku tidak bisa janji.” Dahyun tersenyum manis, “seratus ribu won perjamnya. Aku jamin kau tidak akan kesulitan, kau hanya harus menjaganya, dia anak yang manis. Percayalah.”  Seratus ribu won perjam, astaga jika aku bekerja tujuh jam maka tujuh ratus ribu won, itu beberapa kali lipat bayaran lemburku perjam di restoran cepat saji milik tuan Kim.

“akan aku pertimbangkan.” Dahyun tersenyum cerah. “memangnya kau mau kemana?” pipi Dahyun merona merah. “ehm, kau tau aku dan Sehun sudah dua bulan ‘kan? Rencananya minggu ini, kita akan pergi ke Lotte.”

“ya, kuharap ia tepat waktu. Dan astaga, bagaimana kau bisa tertarik pada pria berusia empat tahun diatasmu, hah?”

“aku tidak tau. Sudahlah, eonnie. Aku pergi dulu ya. Aku harus belajar bersama dengan Nayoung dan Kyungsoo, teman sekelasku.”

Aku mengangguk. “arraseo, jangan terus menerus mengirim pesan pada Sehun saat belajar, mengerti?” Dahyun memanyunkan bibirnya. “arraseo.

Dahyun melambaikan tangannya, tersenyum, kemudian berbalik, “ah, eonnie.. jangan berpura-pura sibuk bila ada pekerjaan atau tawaran kencan, kau tau? Itu bisa jadi peluang akhirmu untuk kencan!” ia menjerit, kemudian berjalan menjauh, ditelan kabut malam hari. Astaga, anak itu! Dan udara Seoul sangat dingin malam ini.

 

💙

 

annyeonghaseo~” aku membungkuk, tersenyum ramah. Kebetulan Baek-ah tidak masuk dan aku harus bekerja ekstra, ini gila! Yasudahlah, apa yang bisa dilakukan wanita tanpa pasangan lulusan sekolah menengah atas sepertiku?

annyeonghaseo, apakah meja disudut kosong?” aku menengadah, oh astaga. Ini gila! Aku mengumpulkan suaraku, menarik nafas dalam-dalam.

Sebenarnya meja itu tidak benar-benar kosong, itu disewa sore nanti, dua jam lagi. Namun entah sihir apa yang membuatku mengangguk bagaikan seorang idiot. Astaga, aku pasti gila!

chocolate oreo tea, hana jusseyo.” Aku mengangguk, mencari pena dan mencatat pesanannya sesegera mungkin, segera berlari kebelakang mesin kasir.

“eh, lima ribu won.” Aku melemparkan senyuman terbaikku. “oh? Aku lupa kita membayar dulu di restoran cepat saji.”

Aku tertawa pelan. “uang anda pas, tuan. Ada tambahan lain?” ia menggeleng. “silahkan menunggu, apa anda ingin pesanan anda diantar?”

“tidak, aku akan menunggu.” Ia tersenyum, dan dengan itu jantungku berdetak ribuan kali lipat dari biasanya. –oke, baiklah bukan ribuan tapi hanya beberapa kali lebih cepat.-

“jadi, kau sudah lama bekerja disini?” aku menarik nafas, berusaha mengindari tatapan matanya yang bisa membuat detak jantungku menggila.

“ya, cukup lama. Chaebol tingkat dua sepertimu tidak mungkin berminat bekerja di restoran fastfood pinggiran seperti ini, ‘bukan?”

“darimana kau tau aku seorang chaebol? Oh ayolah. Orangtuaku yang kaya, bukan aku. Dan bila kau mendengar rumor itu dari pria bernama Byun Baekhyun, ia sedikit lunatik, kau tau?”

“jahat sekali. Bukankah dia sahabatmu? Kau tau, aku sering memperhatikanmu berdua dengannya, dan terkadang bertiga dengan kekasih sahabatku.”

“memperhatikanku? Oh ayolah, kau bukan stalker atau sejenisnya ‘kan, nona?” aku tertawa. Ia cukup humoris juga ternyata, ya, humor kaku yang tidak lucu sama sekali.

“aku Kim Junmyeon, semuanya memanggilku Suho.” Aku tersenyum, ya Tuhan, demi neptunus ia mengajakku berkenalan! “Sung Hae-kyung, kau bisa memanggilku apa saja.”

“baiklah, apa saja.” Aku merengut. “bukan itu maksudku. Kau bisa memanggilku Hae, Kyung atau bahkan nona Sung jika kau peduli pada marga depan dan status sosial.”

“tidak, tentu tidak. Hae-kyung.” Ia tersenyum, meremas tengkuknya. “bagaimana kau dipanggil Suho? Bukankah namamu Junmyeon?”

“ya, mungkin karena aku selalu membayar makanan dan tagihan sahabatku? Aku sendiri juga tidak tau.” Ia terkekeh.

“ah, pesananmu sudah selesai.” Aku tersenyum tipis, saat ahjumma (*bibi) yang bekerja di bagian dapur menekan bel.

“ini tuan.” Aku tersenyum, menyerahkan bon tagihan pada Junmyeon, ya kurasa memanggilnya Junmyeon lebih baik.

“hei, daripada memesan meja.. bisa aku minta nomor handphonemu?” aku tersenyum. “tentu. 08xx 534x 56xx, aku belum tidur sampai larut, ya kalau kau butuh antaran cepat saji ekstra?” astaga, kau terkesan wanita materialistis workaholic gila uang, Hae-kyung –a!

“well, kau gadis yang manis.” Ia mengedipkan matanya, dan dengan itu, jantungku dan seluruh duniaku serasa berhenti bergerak.

💙

Sudah tidur?

aku mengetik pesan singkat yang kutujukan pada Hae-kyung, astaga Baekhyun benar, ia benar-benar manis.

Siapa?

Aku terkekeh, apakah ia lupa? Oh junmyeon bodoh! Kau bahkan belum menyebut namamu! Jemariku mengetik dengan cepat.

Aku, kau lupa?

Astaga, apa yang kukirimkan?! Ia akan memblokir nomorku dan menganggapku penguntit bila gaya bicaraku agressif begini!

Hmm.. Baekhyun? Kau menukar nomor ponselmu?

Oh, jadi dia sudah beberapa kali berkirim pesan dengan Baekhyun?

Baek, tadi Junmyeon bicara padaku!

Handphoneku bergetar, astaga, ia benar-benar mengira aku adalah Baek. Aku sendiri tidak tau harus bagaimana.

Ia tampan sekali, seperti biasa. Haha, kau tidak bohong saat kau bilang ia tidak punya kekasih ‘bukan? Aku mulai sedikit berharap.

Sudut bibirku tertarik, astaga, ia benar-benar lucu! Ia mengira aku Baek dan mulai mengirim pesan secara berulang kali. Yaampun!

Baek? Kau disitu? Apa kau sedang kencan dengan teman wanitamu?

Jemariku kaku, apakah keterlaluan bila aku berkata ‘ini Junmyeon, bukan Baek.’ Atau aku harus terus bersandiwara sebagai Baek? Bukankah itu lebih kejam?

Baek? Apa ini bukan Baekhyun? Baek, jawablah, kuharap kau bukan Junmyeon! Kumohon. Bila ini Junmyeon, ia akan merasa jijik padaku. Hei, Baek! Pulsaku terbatas, kumohon balaslah!

Aku tertawa geli, aku tidak jijik, malah aku merasa ia gadis yang menarik. Yaampun, jadi disini Baekhyun adalah matchmakerku? Aku harus mentraktirnya hanwoo (*daging) setelah ini.

Aku menekan tombol hijau.

 

💙

 

yoboseyo? Baekhyun –a? ini kau kan? Jangan membuatku takut. Kumohon jawablah!” aku mengigit bibir bawahku. Kuharap ini bukan Junmyeon, Tuhan tolong!

“yoboseyo, Junmyeon imnida.” Astaga, aku merasa ingin lenyap sekarang juga! “yoboseyo? Hae-kyung –a, kau manis sekali. Ah, bangapta~ aku lupa berkata itu tadi. Jaljayo.” BIPP

Astaga! Ia berkata aku manis, setelah pesan bodoh yang kukirimkan secara beruntut saat aku pikir ia adalah Baek?

Jemariku menekan beberapa digit nomor, menaruh handphoneku pada telingaku. “yoboseyo~ Dahyun imnida, nuguseyo?”

Hyun –a, soal tawaranmu.. apakah masih bisa?”

 

💙

 

“Junmyeon, bukakan pintu! Pengasuh baru Junhyun sudah datang!” aku melempar buku IPS yang kubaca keatas coffee table.

Aku mendengar bel ditekan beberapa kali. Dengan tergesa-gesa aku membukakan pintu. “annyeonghase- ah, neo?!” ia tampak sama terkejutnya sepertiku.

“Hae-kyung –a, urimaneyo.” Ia menelan ludah, dapat kudengar dengan jelas. “Junmyeon –a, karena kau sudah membaca pesanku semalam, aku suka padamu. Neomu joahae!”

 

💙 P 💙 A 💙 N 💙 S 💙 Y 💙

 

*bow* hallo ^^ ini tulisan pertama saya untuk fanfiction EXO. Maaf bila terdapat typo, alur membosankan, kurang menarik dan lain-lain. I’d be happy to hear your feedback ^^

4 tanggapan untuk “Pansy (EXO LOVE SERIES-FLOWER –Suho)”

Tinggalkan Balasan ke SungRaeNeul Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s