Christmas Eve

chris eve

Title: Christmas Eve

Cast: Kim Jongin and You

Length: Oneshot (5321 words)

Author: vorfreude28

Author note: There will be a lot of books, places, and songs written in this ff. Please google it to make it more ‘berasa’. The ‘kau’ and ‘gadis itu’ is the same people. Will confuse you a bit by parallel universes and stuffs, so please read carefully. Thanks for paying attention (;

New York, Dec 12th 2014

Tidak ada penerbangan ke Korea pada malam natal.

Penerbangan terakhir ke Korea adalah dua hari sebelum natal. Pukul 07.00 pagi.

Tetapi kau tidak bisa berangkat di dua hari sebelum natal tersebut karena hari itu adalah hari terakhir ujian akhir semestermu.

Kau menumpukan kepalamu di atas meja belajar. Laptopmu masih menyala, dengan laman situs tiket online terpampang pada layarnya. Tahun ini kau tidak akan bisa pulang ke Korea untuk merayakan natal bersama keluargamu.

Buruk, sangat buruk sampai-sampai kau ingin menangis.

***

New York, Dec 24th 2014

“Tidak, aku tidak di asrama, Jongin, aku baru saja membeli bahan makanan,” kau memindahkan ponselmu dari telinga kanan ke telinga kirimu. Tangan kananmu memegang payung dengan butiran salju yang memenuhi kubahnya. Sepertinya salju turun lagi. Bagus sekali, pikirmu sarkastik. Sepertinya tahun ini natal tidak berpihak padamu. Gagal pulang ke Korea saja sepertinya belum cukup membuatmu menderita, kau masih harus melawan salju hanya untuk mencapai asrama.

“Aku? Oh, mungkin aku akan menghabiskan malam natalku di apartemen. Memasak masakan Korea, menonton drama kolosal, atau membuat esai untuk mendaftar program summer camp.” Orang-orang berjalan memakai jaket wol tebal sama denganmu. Bedanya, mereka punya teman untuk diajak berbicara. Sementara kau, berjalan menyusuri trotoar seorang diri.

Sebenarnya kau tidak benar-benar sendiri. Jongin, teman Koreamu, meneleponmu beberapa menit yang lalu. Ia menanyakan rencana malam natalmu dan dengan kecewa kau harus menjelaskan bahwa kau tak punya rencana apapun. Teman-temanmu pergi ke club atau ke makan malam. Kau diajak, sebenarnya, tapi kau menolak. Entahlah, sepertinya setahun menuntut ilmu di negara beribukota Washington DC itu belum membuatmu terbiasa dengan budaya teman-temanmu.

Kim Jongin mungkin sama denganmu. Ia teman pertamamu di Columbia University. Ketika teman-teman Asia kalian yang lain mulai terbiasa dengan budaya barat, kalian berdua masih saja merindukan aroma kimchi atau lantunan nada musik Trot.

“Apa? Yang benar saja, aku menghabiskan malam natal di apartemenmu? Tidak, tidak, ibuku bisa marah,” kau terkejut dengan ajakan Jongin. “Kau benar, ibuku memang tidak disini. Tapi…jangan gila, Kim Jongin!”

Kau nyaris menabrak seorang pria yang berjalan dari arah berlawanan. Kau membungkuk meminta maaf, hal yang paling kau banggakan karena terlahir sebagai orang Korea.

“Heh, siapa yang berpikir macam-macam? Jangan kira aku punya pikiran kotor hanya karena aku ingin menghabiskan malam natal di apartemenmu!” kau berteriak saat Jongin mengutarakan pemikirannya di seberang sana. “Baiklah, baiklah, aku akan kesana. Tapi aku akan pulang ke asrama terlebih dahulu.”

Kau harus meyakinkan dirimu bahwa tidak ada salahnya menghabiskan malam natal di apartemen Jongin. Toh kau dan pria itu sudah saling mengenal, jadi bukankah tidak apa-apa? Lagipula, ini New York. Orang-orang tidak akan memandangmu seolah-olah kau baru saja membunuh orang hanya karena kau pergi ke apartemen pria, bukan?

*****

Kau sudah siap dengan pakaian super tebalmu. Kau tidak berpakaian spesial untuk malam ini, toh kau akan menghabiskan malam natalmu bersama Jongin, bukan teman-temanmu yang lain yang gemar mengomentari jaket yang kau kenakan, atau sepatu yang tidak cocok dengan pakaianmu.

Kau baru saja akan keluar dari kamarmu begitu ponsel di dalam tas ranselmu bergetar. Kau segera mengambilnya dan membaca nama sang pemanggil. Jongin.

“Halo? Sudah, aku sudah siap. Aku seharusnya sudah keluar kamar kalau saja kau tidak meneleponku. Tenang saja, aku sudah menelepon taksi –apa? Tidak perlu? Kau berada di depan asrama?!” kalimat terakhir terdengar seperti kekagetan yang luar biasa. Yang benar saja, Jongin sudah menunggumu di depan asrama?

****

Saat temannya mengatakan bahwa mereka akan menghabiskan malam natal di sebuah penginapan di Pottsville, pria itu membayangkan suasana hangat perapian dan lagu-lagu natal. Tetapi, alih-alih mendengar lantunan hangat lagu-lagu natal, yang pria itu dengar justru musik ramai yang memekakkan telinga. Jenis musik EDM. Sangat Amerika, tetapi bukan tipenya.

“Ayolah, ini Pottsville, bukan pedalaman Finlandia,” temannya menepuk bahu pria itu.

Seharusnya pria itu menolak ajakan temannya untuk menghabiskan malam natal di sebuah penginapan mewah di sudut kota Pottsville. Tetapi tinggal di apartemen saat malam natal juga bukan ide yang menyenangkan. Jadilah pria itu memutuskan untuk ikut.

Tetapi saat mengiyakan ajakan temannya, pria itu merasa ada yang hilang dari dirinya. Ia merasa tidak seharusnya ia berada disana. Tidak, penginapan Pottsville itu bukan tempatnya.

****

Jongin bersandar pada tembok tinggi yang memagari asrama saat kau keluar dari pagar utama asrama tersebut. Jongin tersenyum padamu dan kau membalasnya.

“Hei, kau terlihat….” Jongin menggantungkan kalimatnya sambil mengamatimu dari atas ke bawah.

“Hm?”

Jongin mengangkat bahunya. “Kau terlihat tebal.”

“Apa?” tanyamu tidak mengerti.

“Jaketmu. Kau memakai jaket yang sangat tebal. Yeah, berjaga-jaga agar tidak terserang hipotermia memang bagus,” komentar Jongin

Kau tertawa. Asap putih berembus seiring dengan napas yang kau hela, menandakan bahwa suhu sangat rendah malam itu. “Ayo, aku mulai kedinginan,” ajakmu.

“Kau tidak keberatan kalau aku mengajakmu ke apartemenku? Kau tidak merasa bahwa aku tidak sopan dengan mengajak seorang gadis datang ke apartemen seorang pria, bukan?” Jongin mengajukan pertanyaan bertubi-tubi.

Kau tertawa kecil. “Tidak, aku tidak keberatan. Lagipula kau tidak akan bisa masuk ke asramaku karena peraturannya yang ketat, kan? Dan menghabiskan malam natal sendirian juga bukan ide yang bagus.”

Terlihat raut lega Jongin yang membuatmu senang bisa menemaninya melewati malam natal.

Kau berjalan di samping Jongin. Malam ini kau merasakan sesuatu yang berbeda dengannya tanpa tahu apa itu. Apa itu adalah caranya berpakaian? Tidak, dia berpakaian normal seperti kemarin-kemarin. Atau tatanan rambutnya? Ayolah, dia hanya punya dua pilihan gaya rambut, pushed back atau membiarkan poni menjuntai di dahinya. Hari ini ia menata rambutnya, mungkin dengan sedikit gel. Parfum yang ia gunakan, mungkin? Nah, ia tetap menggunakan parfum yang sama seperti setahun yang lalu saat kau pertama kali bertemu dengannya.

Lalu apa?

Jongin terasa berbeda namun tetap familiar. Seperti kue jahe yang diubah takarannya tetapi tetap sama rasanya karena kau tidak tahu bahan apa yang diubah takarannya.

Malam natal di Broadway memang tipikal malam-malam yang ramai, hidup, berenergi. Lampu-lampu emas berkerlip bersama lampu merah, hijau, dan putih dari pohon natal. Toko-toko dihiasi ornamen natal. Wangi kopi tercium dari kedai yang berjajar sepanjang Broadway, menguar bersama dengan lagu bernada ceria khas natal. Beberapa pohon natal dipasang berbaris di trotoar, menambah semarak malam yang relatif lebih dingin itu.

Kau dan Jongin berjalan dalam diam. Kadang diam memang momen kesukaanmu. Kau sendiri tidak terlalu banyak bicara kecuali kau membutuhkannya. Sementara Jongin, dia bukan tipikal pria yang gemar menjaga pembicaraan tidak terhenti.

“Stok novelku sudah habis,” tiba-tiba Jongin berbicara. Jongin selalu seperti itu, berbicara tiba-tiba dengan topik tak terduga.

“Lalu?”

“Yang mana yang menjual Keigo Higashino? Rizolli book store atau toko buku di China Town?” Tanya Jongin seakan-akan itu adalah pertanyaan tentang dimana tempat menjual hotdog. Kau bahkan tidak tahu siapa itu Keigo Higashino. Oh, penulis, tentu saja. Tapi kau tidak pernah mendengar namanya.

Kau berpikir sejenak sebelum menjawab sesuai logikamu. “China Town, kurasa? Keigo Higashino adalah nama Jepang, bukan? Yeah, China dan Jepang kan dekat, sama-sama Asia. Jadi kurasa toko buku di China Town menjualnya.” Ha, kau pintar sekali, kau memuji dirimu sendiri.

Jongin mengarahkan pandangannya kepadamu. “Tapi aku membeli Murakami dan Natsuo Kirino di Argosy.

“Astaga…” kau tanpa sadar bergumam. Terkadang Jongin bisa menyebalkan hanya karena ia kebingungan. “Baiklah, kita ke Argosy book store.”

Jongin benar-benar mencintai buku. Begitu masuk ke dalam Argosy book store, ia langsung mencari ke bagian novel tebal yang bahkan kau tidak yakin nama-nama penulis itu memang ada. Argosy book store memang menjual buku-buku yang jarang ditemukan di toko biasa dan tempat itu bagaikan surga untuk Jongin.

Anehnya, kau merasa tempat itu juga bagaikan surga untukmu. Kau menemukan buku-buku menarik disana. Novel Jepang yang sudah lama tidak terbit, literatur untuk bahan kuliahmu, bahkan kumpulan naskah drama dan puisi dari abad pertengahan. Jongin seperti sengaja mengajakmu kesana agar kau bisa menikmati toko buku itu, sama sepertinya. Kau mengambil salah satu buku dan membaca judul dan sinopsisnya. Menarik, tapi terlalu berat, pikirmu.

“Kau ingin membelinya?” tiba-tiba Jongin sudh berada di sampingmu. Kau menoleh dan menggeleng sambil meletakkan kembali buku itu pada raknya. “Tidak.”

“Kalau kau menginginkannya, ambil saja. Aku yang membayarnya.”

“Tidak, tidak. Novel seperti itu bukan tipe bacaanku,” tandasmu. Sedikit berbohong sebenarnya, karena kau tertarik untuk membacanya. Hanya saja kau tidak yakin apakah kau sanggup membaca novel tebal itu.

“Benar?” Jongin memastikan.

Kau mengangguk mantap. “Aku tidak terlalu suka novel itu.”

Usai Jongin membayar tiga buah novel setebal kotak sereal, kau dan Jongin berjalan kembali menuju keramaian Broadway.

“Berapa lama kau akan membaca novel-novelmu itu?” tanyamu ingin tahu.

Sebelum menjawab, Jongin lebih dulu bertukar tempat denganmu agar kau berjalan di sisi dalam trotoar. Meski sederhana, tapi kau merasa nyaman diperlakukannya seperti itu. “Tergantung berapa lama aku bisa berkonsentrasi.”

Kau mengangguk-angguk. Sebelum kau berbicara, Jongin lebih dulu menyentuh lenganmu. “Hey,” panggilnya. Ia terlihat ragu sebelum mengurai senyum kecil. “Menurutmu ini adalah sebuah kencan?”

“Kau berpikir seperti itu?” tanyamu, terkesan terlalu cepat. Kau sendiri tidak terlalu yakin apakah ini adalah kencan atau hanya sekedar jalan-jalan untuk menunggu malam berakhir.

Jongin membasahi bibirnya yang kering karena kedinginan. “Entahlah. Kurasa tidak terlalu buruk untuk disebut kencan, bukan?”

Kau tidak menjawab. Sebaliknya, Jongin menautkan jari-jarinya pada jari-jarimu seakan-akan ia tidak meninggalkan tanda tanya besar untukmu. “Ayo, bus ini akan membawa kita ke tempat selanjutnya.”

“Kemana?”

“Rudy’s Music Stop,” kata Jongin sambil menarikmu naik ke atas bus kota.

Tidak butuh waktu lebih dari 20 menit untuk sampai di toko musik favorit Jongin. Kau tidak pernah masuk ke dalam toko musik itu, tetapi kau tahu kalau teman-temanmu sering membicarakannya.

Kau benar-benar tidak mengerti. Kau kira Jongin akan langsung mengajakmu ke apartemennya. Tetapi ia justru membawamu ke toko buku, dan sekarang toko musik. Kau mulai menebak kira-kira tempat apalagi yang mereka datangi.

“Kau ingin mencari apa?” tanyamu. Toko musik itu memutar lagu yang ceria dengan dentuman beat yang membuatmu ingin menari.

“Sebuah CD musik yang akan kukirimkan pada kakakku,” Jongin tersenyum. “Oh, ya,” ia seakan teringat sesuatu. “Pilihlah salah satu CD musik favoritmu. Kutraktir.”

Kau tidak menyangka Jongin akan mengatakan hal itu, jadi kau hanya memandangnya tak percaya. “Kau serius?”

Jongin mengangguk. “Anggap saja hadiah natal dariku.” Kemudian ia menghilang di balik rak. Kau mengangkat bahu. Baiklah, sebenarnya ada satu CD musik dari musisi favoritmu yang sangat ingin kau beli. Kau mendengar medley lagunya di Youtube dan merasa wajib untuk membeli albumnya secara legal.

Saat kau menarik CD A Family Christmas karya Piano Guys, kau tidak tahu bahwa Jongin melihatmu dan tersenyum dari balik rak.

****

Pria itu hanya ingin pulang.

Beberapa temannya nyaris mabuk. Gadis-gadis berada di sekeliling mereka untuk menjaga pesta tetap berlangsung semarak, seakan-akan tanpa gadis-gadis tersebut pesta malam natal tersebut berjalan membosankan.

Sang DJ sepertinya sudah kesetanan karena ia memainkan tipe musik yang sama selama berjam-jam. Pria itu tidak peduli, bahkan kalau DJ itu pingsan mungkin pria itu yang akan tersenyum paling lebar.

Pria itu merindukan suasana temaram di apartemennya, dengan penerangan hanya dari lampu baca dan lampu kota di bawah sana. Pria itu hanya membutuhkan secangkir kopi untuk menemani Murakami –untuk kesekian kalinya karena novel-novelnya membuatnya ketagihan– dan dentingan tenteram musisi favoritnya, Piano Guys.

Seharusnya pria itu tidak disini. Ada yang membutuhkannya disana. Tetapi pria itu justru menghilang ke Pottsville.

****

“Kuharap kita tidak terlambat untuk mengagumi pohon natal di apartemenku,” Jongin mengalihkan pandangannya dari jendela bus dan berbalik memandangmu.

Kau, sambil memilin tali kantung kertas berisi CD Piano Guys, menggeleng yakin. “Tidak, tidak terlambat.” Akhirnya Jongin memutuskan untuk mengakhiri ‘safari’ Broadway ini setelah mendapatkan novel dan CD musik yang ia cari.

“Aku takut kau akan tertidur di apartemenku.”

Kali ini kau meninju lengan Jongin. “Tidak akan! Apa aku terlihat seperti sleepyhead?

“Tapi kau terlihat lelah,” Jongin menyentuh kedua pipimu dengan telunjuk dan ibu jarinya. Kau bagaikan tersengat saat ujung jarinya menyentuh pipimu yang dingin.

“Aku sedikit kedinginan, itu saja,” jawabmu tanpa berani menatap matanya.

Jongin terdiam sejenak, mengamati wajahmu dari samping. Astaga, kalau matamu adalah laser, aku mungkin akan terbelah menjadi serpihan karenanya, batinmu.

“Hei, ini mainkan game-ku supaya kau tidak bosan. Apartemenku sedikit lebih jauh daripada yang kau kira,” Jongin mengulurkan ponselnya padamu. Sebuah game yang sangat kau kenal terpapar pada layarnya.

Kau mengernyit pada awalnya, namun tersenyum sambil menerima ponsel Jongin. Sudah lama ia tidak memainkan game tersebut di ponsel Jongin. “Kau sudah melanjutkannya?”

Jongin menggeleng. “Belum. Aku tidak tertarik.”

Kau memicingkan matamu. “Kalau begitu kenapa kau mengunduhnya di ponselmu, hm?”

Wajah Jongin berubah datar. “Memang aku yang mengunduhnya, tapi kau yang memaksaku. Kau yang membuatku mengunduh game ini.”

Seakan baru teringat, kau hanya tersenyum malu. Ya, memang kau yang meminta Jongin mengunduh game yang menurut pria itu sangat membosankan. Kau tidak mau mengunduhnya di ponselmu agar kau punya alasan untuk selalu meminjam ponsel pria itu. Entahlah, kau hanya ingin memiliki sesuatu secara tidak langsung, yang membuatmu merasa bahwa Jongin akan selalu ada di dekatnya.

“Begitu, ya? Sini, biar kuselesaikan game ini,” katamu dengan nada riang.

Tidak terasa mereka sudah sampai di apartemen Jongin. Berada di persimpangan jalan, gedung apartemen Jongin terlihat megah dengan cat merah bata yang mencolok. Apartemen Jongin tidak terlalu luas, tetapi nyaman dan bersih karena tidak banyak barang ditaruh disana. Letaknya di lantai 14, jadi mustahil untuk tidak dapat menikmati pemandangan New York dari apartemennya.

Jongin sepertinya sangat mencintai buku dan musik. Bahkan ketika kau masuk, aroma pertama yang kau cium adalah aroma buku tua bercampur parfum pria itu. Lalu kau mendengar alunan lembut sebuah lagu yang menyambutnya seperti nyanyian selamat datang.

Pria itu punya pohon natal di sudut ruang TVnya. Hei, kau bahkan tidak berminat memasang pohon natal di kamar asramamu.

“Duduklah, aku akan membuatkanmu cokelat panas,” kata Jongin usai melepas jaket tebalnya.

Kau duduk di salah satu sofa di sisi jendela lebar. Dari tempatmu duduk, kau menyingkap tirai yang menyembunyikan jendela tersebut. Mengagumkan, lampu kota terlihat cantik di bawah sana. New York masih bergerak tanpa kehabisan tenaga. New York tidak pernah tidur, apalagi di malam natal seperti malam ini.

Sayangnya, kau tidak pernah benar-benar tertarik menikmati New York yang tidak pernah tidur. Tidak seperti teman-temannya yang pergi ke pub atau shopping di malam tanpa tugas kuliah, kau lebih memilih untuk tidur. Atau kalau ingin lebih produktif, kau lebih memilih untuk membaca Buzzfeed, mendengarkan lagu –itu lebih baik daripada tidur, atau mencoba peruntunganmu di kompetisi menulis online.

Mungkin itu alasannya kau bisa berteman dengan Jongin.

Jongin, sama sepertimu, tidak suka berada di tempat ramai. Ketika teman-temannya mencoba mencari kesenangan di hiruk pikuk New York, Jongin memilih berada di kedai kopi yang menyediakan buku untuk dibaca. Dan akhir-akhir ini, Jongin menari.

Bukan untuk menjadi penari profesional atau tampil di panggung Broadway, Jongin menari untuk melampiaskan apa yang dipikirkannya. Ia mengaku bahwa ia pernah mengikuti kelas ballet jazz saat usianya 6 tahun namun berhenti ketika menginjak bangku SMA. Kau hanya melihat Jongin menari satu kali, di studio milik fakultas seni. Kau melihat Jongin menari dengan hentakan seakan-akan ada dinding di sekelilingnya yang ia harus robohkan, lalu ia beralih lebih lembut, seperti untaian benang yang terombang-ambing di permukaan air. Kau tidak pernah melihat seseorang dapat menari begitu indah kecuali Jongin.

Saat Jongin kembali dari dapur dengan dua cangkir cokelat panas, kau sedang memegang buku karangan Michio Kaku. “Parallel Worlds? Apa itu?” tanyamu saat membaca judulnya.

Jongin meletakkan dua cangkir tersebut di atas meja lalu berdiri di sampingmu. “Parallel Worlds,” ulangnya. “Kau tahu, ada sebuah teori yang menyatakan bahwa ada dirimu yang lain di luar sana.”

“Maksudmu?”

Jongin melipat tangannya di depan dada dan bersandar pada rak buku kayu berpelitur cokelat itu. “Alam semesta itu luas, bukan hanya tentang galaksi, bintang, dan benda-benda langit pada umumnya. Parallel Worlds adalah dunia lain yang isinya persis dengan isi bumi. Di dunia paralel, kau bisa menemukan dirimu yang lain, diriku yang lain, kota New York yang lain, beberapa negara yang tak kau temukan di bumi, dan, yeah, kita hidup berdampingan–”

“Tunggu, kau percaya dengan teori itu?” potongmu karena Jongin mulai berbicara hal-hal yang sulit kau percaya.

“Menurutmu?”

Kau hendak memberinya argumen bahkan nasihat untuk tidak terus-menerus membaca novel berat. Fungsi otaknya sepertinya terganggu. “Aku tidak percaya dengan dunia paralel. Itu teori terlucu yang pernah kudengar. Kalau memang benar ada aku yang lain di dunia paralel sana, untuk apa? Oh, baiklah, abaikan pertanyaanku, Jongin. Aku juga mulai gila sepertimu.” Kau menaruh buku Michio Kaku tersebut kembali pada raknya.

Mendengar kata-katamu, Jongin hanya tersenyum. Ia duduk di sampingmu dengan kaki menyilang di atas sofa. “Cokelat panasmu,” katanya sambil mendorong cangkir abu-abu itu ke arahmu.

“Jadi kau tidak ikut teman-temanmu berpesta?” tanyamu ingin tahu. Kau kira hanya kau yang satu-satunya warga New York yang memilih menghabiskan malam natal seorang diri.

Sambil menumpukan kedua sikunya di atas lutut, Jongin menggeleng. “Tidak. Terlalu berisik.”

“Hm, tipikal Kim Jongin.”

“Lagipula aku belum terbiasa dengan budaya disini.”

“Benarkah?”

Jongin mengangguk. “Bagaimana denganmu?”

Kau meraih salah satu bantal sofa dan memeluknya. “Sama denganmu. Aku masih merindukan Korea.”

Sempat ada keheningan beberapa saat sebelum Jongin berbicara lagi. “Ceritakan bagaimana kau bisa kehabisan tiket pesawat.”

“Oh,” kau menghela nafas. “Benar-benar buruk. Beberapa maskapai kehabisan tiket penerbangan ke Korea pada malam natal, sisanya tidak membuka penerbangan. Aku ingin pulang beberapa hari sebelumnya, tetapi ujian semesterku belum berakhir. Aku juga ingin pulang beberapa hari setelah natal, tetapi tanggal 28 aku sudah harus masuk kampus untuk kegiatan organisasiku. Menyedihkan, bukan?”

“Tidak juga,” Jongin bergumam. “Aku senang kau tidak jadi pulang ke Korea, jadi kau bisa menemaniku disini.”

Kau melemparkan pandangan tak suka ke arahnya. Tapi pria itu tertawa, tawa yang menular. Kau pun ikut tertawa.

“Hei, aku baru saja menciptakan koreografi baru. Kau mau lihat?” Jongin tiba-tiba berdiri.

Kau tertarik. Tidak biasanya Jongin memamerkan hal yang ia suka padamu. “Boleh.”

Jongin menggulung kemeja kotak-kotak biru tuanya. Ia berjalan ke arah pemutar musik dan berkutat dengan benda itu. Setelah mendapatkan lagu yang ia maksud, ia berbalik menghadapmu.

Duet dance,” katanya sambil mengulurkan tangan.

“Apa?”

“Aku menciptakan duet dance.”

“Tapi aku–“

Terlambat, Jongin sudah menarikmu ke tengah tengah ruangan, menari di atas karpet tebal yang membuat kaki telanjangmu terasa hangat .

“Lagu korea?” tanyamu saat lagu mulai terdengar.

Jongin mengangguk. “Lagu natal milik sebuah boygroup disana.”

EXO – Christmas Day.

“Aku tidak bisa menari,” katamu. Jongin memutar tubuhmu.

“Kau tidak harus bisa menari,” katanya.

“Lihat, aku kaku sekali, kan?” katamu lagi. Kali ini Jongin melakukan entah-gerakan-apa-itu yang membuatmu seperti terlempar tetapi kemudian berada di dalam pelukannya beberapa detik kemudian.

“Aku tidak peduli,” jawab Jongin lagi.

“Kakimu akan terinja –Jongin!” kau memekik saat Jongin mengangkat tubuhmu seolah-olah tubuhmu hanya sehelai bulu. Kau mencengkeram bahunya kuat-kuat. Rambut panjangmu menjuntai mengenai wajahnya.

Jongin tertawa sampai matanya menyipit. “Sudah kubilang, kau tidak harus bisa menari untuk membuatmu merasa menari.”

Wajah pria itu sangat dekat. Jelas dan sempurna. Lagu itu masih mengalun. Jongin benar, ia membuatmu menari. Pria itu membuatmu merasa seakan-akan kau adalah penari profesional. Bahkan saat kau menginjak kakimu sendiri yang membuatmu nyaris limbung, Jongin menahan tubuhmu dan memutarnya kembali, seakan-akan kejadian menginjak kaki adalah bagian dari tarian.

Jongin sangat indah.

Saat lagu berakhir, kau dan Jongin menjatuhkan tubuh kalian ke atas sofa, sama-sama mengusap peluh yang membanjir.

“Merasa hangat setelah menari?” tanya Jongin, tersenyum.

Kau mengangguk. “Menyenangkan.” Kau mengedarkan pandanganmu ke arah jendela. Salju masih turun, tetapi tidak sederas tadi sore.

Tiba-tiba bel apartemen Jongin berbunyi. Pria itu segera berdiri untuk membuka pintu. Kau juga ikut berdiri. Bagaimana kalau itu adalah polisi yang mencurigai Jongin membawa seorang gadis ke dalam apartemennya? Tapi, ayolah, ini New York, pikirmu sekali lagi.

Kau menunggu tanda-tanda kegaduhan di luar sana sambil memikirkan kemungkinan yang akan terjadi. Tetapi alih-alih melihat orang lain masuk, kau justru mendapati Jongin datang dengan dua kotak… ”pizza?”

Jongin mengiyakan sambil tersenyum. “Aku tidak bisa menyajikan makan malam ala malam natal. Tapi aku punya pizza.” Pria itu meletakkan dua kotak pizza tersebut di atas meja. Ia kemudian beranjak ke dapur dan kembali dengan sebotol cola di tangannya. “Mari berpesta!”

****

Pria itu memutar-mutar ponsel di tangannya, ragu apakah ia harus menelepon temannya itu atau tidak. Apa yang temannya lakukan di malam natal ini? Berpesta? Menonton serial drama di HBO? Atau justru tidur pulas?

We wish you merry christmaaas, hahaha!” salah satu teman pria itu menghampirinya dan bergelayut di bahunya seperti seorang gadis. Nafasnya berbau alkohol, membuat pria itu harus menjauhkan wajahnya dari temannya yang mabuk itu.

“Dimana gadis-gadis? Keluarkan gadis-gadis Pottsvillemu, kawan!” temannya berjalan sempoyongan meninggalkan pria itu. Lucu betapa temannya itu adalah seorang India yang kuliah bersamanya di Amerika. Tetapi saat temannya itu bahkan sudah melebur bagaikan pemuda barat, pria itu masih merindukan kampung halamannya, jauh di Asia Timur sana.

Satu-satunya yang membuat pria itu merasa seperti di rumah adalah gadis itu, teman Asianya satu lagi, yang dari tadi membuatnya ragu untuk meneleponnya atau tidak.

Seharusnya pria itu menghabiskan malam natal bersama gadis itu, gadis Korea yang jauh lebih membuatnya tertarik daripada gadis-gadis manapun.

****

Jongin membuang kotak pizza tersebut ke tempat sampah sementara kau membersihkan satu-satunya meja di ruang TV itu.

“Astaga kenyang sekali,” kau duduk di atas karpet dengan kaki terjulur ke depan.

Jongin datang dan duduk di sampingmu. Ia menyandarkan kepalanya di kaki sofa dan memejamkan mata tanpa berbicara apa-apa.

Kau menatap wajahnya. Benar, Jongin memang tidak berubah, tetapi tetap saja kau merasa ada hal yang tidak pada tempatnya saat kau melihat Jongin. Berusaha mengusir pemikiran tidak masuk akalmu, kau melihat jam tanganmu. Pukul 10.28 PM, sekitar dua jam lagi menuju natal.

Sepertinya tidak bisa pulang ke Korea tidak terlalu buruk. Kau diam-diam berterima kasih pada Jongin karena telah mengajakmu merayakan malam natal bersama tanpa pesta, tanpa orang lain, tanpa kemeriahan. Sangat sederhana memang, Jongin menjemputmu di asrama, membawamu ke tempat-tempat kesukaannya –yang anehnya menjadi tempat kesukaanmu juga, lalu menari dan mengajak makan malam meski tanpa makanan khas malam natal. Semua terasa menyenangkan, terlebih ketika mereka bertukar cerita saat sedang menikmati pizza.

Kau kini tahu bahwa Jongin menyukai buku lebih daripada apapun. Jongin mengoleksi banyak lagu, tetapi tidak suka mengoleksi film. Jongin lebih suka kopi murni yang ditambah perisa. Jongin suka membuat mixtape yang diberikan pada orang-orang yang ia anggap dekat.

Maka saat Jongin memberimu sebuah CD musik saat kau akan pulang, kau tertegun. “Untukku?”

“Untukmu.”

Kau membaca tulisan pada kertas yang melapisi keping CD tersebut.

They Might Be Giants – New York City

The Walkmen – While I Shovel the Snow

Beirut – Scenic World

EXO – Christmas Day

The Drums – I’ll be Home for Christmas

Jason Chen – Bestfriend

                                                                                                                   Merry Christmas!

“Ya, itu adalah mixtape,” ucap Jongin seolah ia bisa membaca keterkejutanmu. “Kubuat kemarin malam. Kuharap kau suka lagu-lagunya.”

Kau menatapnya dengan tidak percaya. “Terima kasih. Percayalah aku benar-benar berterima kasih tapi aku tidak tahu harus mengucapkannya dengan cara bagaimana lagi.”

“Terima kasih karena sudah merayakan malam natal bersamaku. Kau orang terfavoritku,” kali ini Jongin yang berbicara. Matanya tersenyum membentuk bulan sabit. “Ayo, kuantar kau pulang,” lanjutnya.

****

Pria itu sepertinya hanya satu-satunya orang yang masih tersadar di pesta itu. Teman-temannya sudah setengah mabuk, bahkan sangat mabuk hanya untuk bisa berdiri tegak.

“Ayolah, ini Amerika, bukan Korea.”

“Minumlah sedikit, kawan. Beginilah seharusnya malam natal dirayakan!”

“Hei, kalau kau tidak berani menyentuh gadis-gadis itu, lebih baik kau pulang ke China dan kembali mengenakan pakaian adatmu.” Begitulah, pria itu bahkan dianggap berdarah China.

Pria itu sudah muak dengan dentuman musik dan bau alkohol. Ia ingin segera keluar dari pesta itu. Sayangnya, mereka akan meninggalkan Potssville besok pukul 5 pagi.

Pria itu bertekad akan mengunjungi teman gadisnya itu esok hari.

****

New York, Dec 25th 2014

Saat kau terbangun di hari natal, hal yang kau rasakan pertama kali adalah rasa gembira yang tiba-tiba menyeruak. Sejenak kau melupakan kesedihanmu karena tidak merayakan natal di Korea. Tetapi pria itu, Kim Jongin, telah membuat natalmu menjadi hangat.

Kau meraih ponselmu dan mencari nama Jongin disana. “Halo,” sapamu begitu pria itu mengangkat panggilannya. “Selamat natal.”

Kau menjepit ponsel diantara pundak dan telingamu selagi kedua tanganmu mengikat rambut. “Ngomong-ngomong aku sudah mendengar mixtape buatanmu. Aku suka semua lagunya.”

Mixtape yang kau berikan kemarin, Kim Jongin, astaga kau bahkan sudah lupa?” kau tertawa. Di seberang, Jongin berbicara dengan nada ketidaktahuan. Dahimu berkerut selama Jongin berbicara. “Apa?” tawamu seketika berhenti.

“Kau berada di Pottsville kemarin malam? Jangan bercanda. Kau bersamaku kemarin malam, bahkan kau mengajakku ke apartemenmu!” tanpa aba-aba kau merasa degup jantungmu meningkat. Aliran darahmu seolah berhenti dan membeku seperti benda yang ditaruh di bawah salju.

“Jongin, kita harus bertemu.”

****

Sewaktu di Potssville bersama teman-temannya, Jongin sudah berpikir bahwa seharusnya ia tidak disana. Seharusnya ia berada di New York karena seseorang membutuhkannya.

Dan benar, gadis itu membutuhkannya. Teman pertamanya di Columbia University itu ternyata menghabiskan malam natalnya di New York, bukan di Seoul seperti yang ia selalu bicarakan minggu-minggu kemarin.

Tetapi gadis itu mengatakan bahwa ia merayakan malam natal bersamanya. Masalahnya sudah jelas, bagaimana mungkin Jongin bisa bersama gadis itu kalau pada malam yang sama ia berada di Potssville yang berjarak dua jam perjalanan dari New York?

Jongin dan gadis itu sudah duduk berhadapan di sebuah kedai kopi di dekat asrama mahasiswi. Gadis itu meremas jari-jarinya. Nafasnya tidak teratur.

“Kim Jongin,” panggilnya, seperti berusaha mengumpulkan tenaga untuk mengurai semua ceritanya.

“Ceritakan apa yang terjadi padamu kemarin malam,” desak Jongin.

Gadis itu mengangkat kepalanya. “Kau meneleponku kemarin sore, menanyakan apa rencanaku di malam natal. Lalu kau mengajakku merayakan malam natal di apartemenmu.”

Mustahil. Jongin sudah sampai di Potssville sejak siang.

“Lalu kau menjemputku ke asrama. Kita berdua pergi ke toko buku, toko musik, lalu ke apartemenmu. Kau… kau bahkan menari, Kim Jongin. Kita menari. Kau memesan pizza, kau memberiku ini,” gadis itu menyodorkan sebuah mixtape.

Jongin terkejut luar biasa. Mixtape itu berisi lagu-lagu yang sama persis seperti mixtape yang akan ia berikan pada gadis itu hari ini.

“Apa yang sebenarnya terjadi padaku?” gadis itu memucat. “Jangan berbohong, Kim Jongin. Aku tahu kau bersamaku kemarin malam.”

“Tidak,” Jongin menggeleng. Ia mengeluarkan ponselnya dan membuka galeri. “Ini fotoku bersama teman-temanku kemarin malam di Potssville. Lihat tanggalnya, 24 Desember 2014. Tanyakan pada teman-temanku kalau tidak percaya. Aku sama sekali tidak bersamamu kemarin.”

Gadis itu tidak menjawab apa-apa. Ia sepertinya sedang mencoba mengingat sesuatu. Wajahnya benar-benar pucat. “Apa kau suka membaca novel? Murakami? Keigo Higashino? Oh, ya, apa kau ingin membeli novel baru? Apa toko buku favoritmu adalah Argosy book store?”

Mencengangkan. Semua yang gadis itu katakan adalah benar. Dan kemarin Jongin memang berencana pergi ke Argosy kalau tidak jadi pergi ke Potssville. Tunggu, kalau gadis itu tahu tentang toko buku favoritnya, itu artinya gadis itu pergi kesana kemarin malam karena sebelumnya Jongin tidak pernah mengatakan fakta itu padanya. Dan itu bisa berarti….

“Apakah kemarin kau dan aku pergi ke Rudy’s Music Stop?” tanya pria itu hati-hati.

“Ya Tuhan.”

“Apakah lagu yang kuputar saat menari adalah lagu Christmas Day? Lagu dari Korea?” tanyanya sekali lagi.

“Benar. Ya Tuhan itu benar,” raut wajah gadis itu mengeras. “Jongin, coba kau lihat ponselmu. Kemarin aku memainkan game yang biasa kumainkan di ponselmu. Kau masih ingat, kan, terakhir aku memainkannya sampai level 12, lalu kemarin aku memainkannya sampai level 21.”

Jongin cepat-cepat menyalakan ponselnya dan membuka game yang dimaksud. Ia membeku. “Masih level 12.”

“Itu artinya bukan ponselmu yang kumainkan, tetapi ponsel Kim Jongin yang lain.”

Jongin merasa seperti disiram air es di tengah hujan salju. Apa yang gadis itu lakukan bersama Kim Jongin sama persis dengan rencananya. Jongin sudah merencanakan malam natal dengan gadis itu. Mengajaknya ke toko buku, membeli CD musik, memesan pizza, dan membuatkan mixtape. Sayang sekali teman-temannya memaksanya untuk berpesta di Potssville. Karena mereka mengatakan sudah membayar penginapan dengan nama Jongin terdaftar di dalamnya, pria itu tidak bisa menolak.

Jongin mencoba tenang meski ia sendiri tidak yakin apakah dirinya dan gadis itu masih waras. “Baiklah, baiklah. Jadi ada Jongin yang lain yang bersamamu kemarin malam.”

Jongin yang lain. Kalimat itu seperti mengingatkan gadis itu pada satu hal.

Kau tahu, ada sebuah teori yang menyatakan bahwa ada dirimu yang lain di luar sana.

Gadis itu refleks mencengkeram tangan Jongin. “Astaga.”

“Ada apa?”

“Katakan padaku, apa kau punya buku berjudul Parallel Worlds di apartemenmu?”

Jongin mengangguk. Itu adalah buku favoritnya sepanjang masa. Tunggu, Parallel Worlds? Darimana gadis itu tahu bahwa ia punya buku tersebut? Belum sempat Jongin berpikir, ia merasakan tangan gadis itu bergetar dalam genggamannya.

Kim Jongin yang kemarin bersamaku menunjukkan buku itu padaku. Ia menjelaskan bahwa di luar sana ada kehidupan yang sama persis dengan di bumi. Ada aku yang lain, ada kau yang lain, ada bumi yang lain, dimana kita hidup berdampingan, melakukan aktivitas yang sama.”

Segala yang gadis itu katakan tentang teori itu adalah benar.

“Kau tidak berpikir bahwa Kim Jonginmu itu berasal dari dunia paralel, kan?” tanya Jongin.

Gadis itu mengernyit. “Memangnya bisakah orang melakukan perjalanan lintas dunia? Ah, otakku tidak bisa mencernanya.”

Raut wajah Jongin terlihat serius. “Di sekitar tahun 1960, ada seseorang mengaku dari Negara Taured datang ke Jepang untuk perjalanan dinas. Kau tahu sendiri bahwa tidak ada negara Taured di bumi ini, tetapi orang itu menunjukkan bahwa negaranya ada di Prancis dan Spanyol. Saat tahu bahwa negaranya tidak ada di peta, ia juga terkejut. Orang itu disuruh menunggu di kamar hotel selagi surat perjalanannya diinvestigasi. Di depan pintu kamar hotel, dua orang petugas berjaga-jaga. Tetapi saat kamar itu dibuka, orang itu sudah tidak ada. Padahal, jalan keluar dari kamar itu hanya pintu dan sebuah jendela tanpa tembok tepi. Sangat mustahil orang itu melompat turun karena kamar hotel berada di lantai 15.”

“Jadi kalau Kim Jongin yang kemarin melakukan perjalanan lintas dunia, dia memang bisa melakukannya? Tapi untuk apa? Apa ia tersesat? Tidak, tidak, ia mengenalku. ”

“Entahlah.” Kalaupun Kim Jongin dari dunia paralel yang bersama gadis itu kemarin malam, apa tujuannya?

Gadis itu mengerjap. “Sulit dipercaya.”

Tadi pagi, gadis itu meneleponnya lebih dulu. Nada bicaranya terdengar lebih riang daripada biasanya. Jongin sampai bertanya-tanya apa yang membuat gadis itu begitu gembira. Sempat terlintas di pikirannya bahwa gadis itu menemui seseorang ketika ia berada di Potsville. Tetapi nyatanya justru ada seseorang lain yang menemani malam natalnya. Dan orang itu adalah Kim Jongin. Ralat, Kim Jongin yang lain.

Mungkinkah Kim Jongin membuat gadis itu bahagia saat Jongin sedang berada di Pottsville?

Kalau begitu, apakah itu berarti gadis itu bahagia karena Kim Jongin? Bukan dirinya?

Seakan merespon pertanyaan terbesarnya, gadis itu tersenyum. “Siapapun yang bersamaku tadi malam, aku tetap menganggapnya adalah kau, Kim Jongin, temanku dari bumi, bukan dari dunia manapun.”

Jongin memaksakan seulas tawa.

“Kau,” gadis itu menunjuk Jongin dengan penuh penekanan seakan-akan ia tidak mau lagi berbicara tentang Kim Jongin yang lain. “Kau membuatmu gembira. Kupikir kemarin malam adalah malam natal terbaikku.”

Lucu sekali mengingat semalam Jongin justru berada di Pottsville, tersiksa karena ingin pulang. Terjawab sudah ketidakinginan Jongin berada disana. Itu karena gadisnya membutuhkannya. Karena gadis itu akan merayakan malam natal seorang diri kalau Kim Jongin itu tidak muncul.

“Terima kasih, Jongin, atas malam natalnya. Aku menyukainya,” gadis itu mengucapkan terima kasih lagi pada Jongin. Dua terimakasih pada dua Jongin yang berbeda.

Jongin mulai berpikiran bahwa Kim Jongin itu memang sengaja datang dari dunianya –entah dimana itu, untuk membantunya mengutarakan perasaannya pada gadis itu.

Karena sejujurnya, kalau tidak jadi pergi ke Pottsville, merayakan malam natal bersama gadis itu adalah kencan tidak langsung untuk menyatakan bahwa Jongin menyukai gadis itu.

****

Sesampainya di apartemen, Jongin langsung mencari buku Parallel Worlds karya Michio Kaku tersebut. Ia ingin membaca ulang buku tersebut, memahami isinya lebih dalam supaya ia bisa meyakinkan pengetahuannya tentang dunia paralel.

Saat Jongin membuka halaman pertama buku itu, selembar kertas jatuh dari dalamnya. Jongin tidak ingat pernah menyelipkan kertas apapun dalam buku itu. Dengan penuh penasaran, pria itu membuka lipatan kertas tersebut.

Apa yang tertulis di dalamnya membuat Jongin nyaris kehilangan kesadarannya.

Saat kau membaca ini, teman, gadis Asiamu itu sedang berada di kamarnya, berharap kau mengajaknya kencan hari ini, di hari natal.

Salam kenal, namaku Kim Kai. Aku tinggal di dunia berjarak bermilyar-milyar tahun cahaya darimu. Aku sama sepertimu, seorang Korea yang menuntut ilmu di Benua Amerika. Kita punya selera buku dan musik yang sama. Aku juga mengikuti kelas balet jazz dan berhenti di bangku SMA. Perbedaan kita berdua adalah aku bisa menjelajah waktu, melintasi dunia.

Aku adalah dirimu yang lain. Kita berparalel.

Gadismu itu menangis karena kehabisan tiket pulang ke Korea, jadi kupikir lebih baik aku menemaninya. Maaf, aku mencuri ide-ide kencanmu karena sejujurnya aku bisa membaca pikiranmu. Tapi gadis itu menyukainya, kan? Kau bersenang-senanglah di Pottsville, aku sudah menjaganya untukmu. Kau juga harus berterimakasih padaku karena aku membuatnya lebih jatuh hati padamu, Kim Jongin.

Nyatakan perasaanmu padanya, teman.

                                                                                                                                                Kim Kai.

P.S: Di Argosy, dia tertarik dengan novel Departure karya A.G Riddle. Belikan itu untuknya. Setidaknya ada hal yang tidak kulakukan lebih dulu untuknya, kan? Hahaha.

Jongin melipat surat itu kembali. Jadi benar, ada dirinya yang lain di luar sana, dirinya yang lain yang menggantikannya saat ia tidak bisa menemani gadis itu di malam natal.

“Salam kenal, Kim Kai,” Jongin tersenyum. Ia lalu meraih ponselnya dan mencari nama gadis itu disana.

“Halo, kau ada waktu siang ini?” tanyanya langsung saat gadis itu menjawab panggilannya.

Jongin akan menyatakan perasaannya pada gadis itu. Hari ini, di hari natal.

****

FIN

Author note (again): Halo, been hiatus for months. Seneng rasanya bisa nulis di exoffi lagi setelah bulan-bulan kemarin sibuk jadi mahasiswa baru, hahaha. Semoga ga pada bingung ya bacanya, karena sejujurnya, ini adalah fanfiction aku yang nulisnya pake hati dan pake otak banget sampe googling peta Amerika segala. Jadi, aku harap feedbacknya banget, baik komen maupun likes, karena itu berarti banget. Oh, ya, seperti fanfiction aku sebelumnya, aku selalu nulis oneshot, biar langsung selesai (please kindly check my previous fanfictions). Nah, hope you like it and we can talk more, ya, readersss! (;

30 tanggapan untuk “Christmas Eve”

  1. This ff really nice aaaaa!!! 😆😆😆 aku kirain yg jongin di potssville itu adalah bbrp jam sebelum jongin ngajak yg ceweknya kencan ternyata…😂😍 pantas aja yg cewek ngerasain ada yg beda sama jongin 😂 jadi penasaran sm buku2/novel yg ada di ff ini 😂😅 bagus banget thorr suka❤ keep writing thor 😊

  2. Daebak!! Ini masuk list ff yang aku suka. Ceritanya bagus banget, awalnya emang sempet bingung. Tapi semua dijawab di akhir. Emm nice lah. ^^

  3. permisi~~ maafkan readers yg gk sopan ini:D aaaahhh damn!! ff’y kereeen author..i like it!! kai.. kai..cocok bngt meranin sifat kaya gini,trus cast’y ‘you’ lgii akuu jdii sukaaa…kereen deh jalan cerita’y keep writing ya buat author’y!! anddd salam kenal jg ya buat author yg udh bkin ff ini.. 🙂

  4. Ffnya keren! Benar2 berbeda dri yg lain dan ini pertama kalinya aku baca ff dgn alur begitu..teorinya benar2 sulit dipercaya.. keren lah pokoknya.. keep writing!

  5. keren! udh kyk baca novel, keren deh, mungkin klo karya author bisa dijadiin novel. pemilihan lokasinya jg bagus bgt gk terlalu korea bgt.
    Keep writting, sequelnya ditunggu

  6. anjerrr :”” ceritanya keren thor >< btw, buku Parallel Worlds karya Michio Kaku itu beneran ada thor ??? Behh kalau ada, wajib dibaca ntu mahh :g sequel thorr

    1. hai makasih! hehehe. iya, bukunya beneran ada. coba aja kalo mau baca (aku mau baca tapi baca depan-depannya udah pusing) haha

  7. bagus banget. Kakak kuliah sastrakah? referensi novel sama lagunya banyak banget (tapi gak ada yang aku tau kecuali christmas day wkwk), tempatnya jugs keren soalnya bukan di korea. Keep writing kak ^^

    1. bukan, aku bukan anak sastra hehe. haha, google sangat membantu haha. makasiiii. makasi juga semuanyaaa! (;

  8. Bagus bangeeeeeeeet 👏👏👏👏👏👏😍😍😍😍😍😍😍
    Bahkan tanpa ngedengrin lagu atau nyari ttg novenya pun udah berasa bgt
    Omg omg it’s really good

  9. awalnya rada bingung bacanya gimana tapi akhirnya ngerti juga sih (y)
    entah mengapa aku suka ff yg bikin aku bingung awalnya /?
    keep writing ya thor!~

  10. Keren bgt! Imajinasinya keren bgt kakkkk
    Baca ini, aku frowning terus kak, aku kira kakak salah ngetik atau gmn :/
    Jujur, love this fiction!

  11. GOKIL!
    buat ukuran ff, alur ceritanya ‘tingg’ banget, jadi ga kerasa feel exonya. terus bawa2 dunia paralel, nice plot. suka banget. my favourite. keep writing ya thor…

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s