Hacker (Chapter 2)

PicsArt_1414855497151

Tittle :

Hacker

Author :

Bloomplinkrose

Length :

Chaptered

Genre :

Romance, Fantasy, School life, Sci-Fi

Rating :

For all readers are allowed

Contains many profanities

Casts :

Nam Theyo (17 Years old | OC)

Luhan (17 Years old)

EXO

Additional Cast:

Disclaimer :

This story and all the things happened in it are purely mine. That’s all.

Author’s note:

_____________________________________________

 

Page2: Cold Boy, Doesn’t Smile

 

 

「Your POV」

Gerbang sekolah selalu terlihat horor dimataku. Lebih horor lagi mungkin pandanganku kali ini. Tetapi, mengingat kejadian kemarin sama sekali membuatku senyaman orang sakit gigi. Ayolah, aku belum pernah merasakannya. Dan aku hanya tahu bahwa sakit gigi itu menyebalkan. Aku terus berkeringat seperti habis olahraga berat. Atau layaknya orang yang habis berolahraga berat. Kepalaku hampir pecah akibat terfokus pada– jangan diungkit lagi.

Aku tahu, dan merasa lucu, aku jadi boneka? Apa maksudnya?

Okay, aku mengungkitnya lagi. Hal ini benar-benar mengusik pikiranku. Aku tidak mau menjadi gila secara otomatis akibat terlalu khawatir hanya karena ini. Dan… apa aku harus cerita pada seseorang?

Aku butuh bantuan dan… Disekelilingku hanya ada orang-orang bodoh dan idiot yang sekarang sibuk menyalin tugas rumah. Tugas kimia kemarin… Sudah kuselesaikan di perpustakaan bukan? Pikirku sambil mengingat-ingat kejadian, I mean kegiatan ku kemarin. Kenapa aku menyebutnya kejadian?

Aku cukup muda untuk mengingat sesuatu langsung. Dan aku ini tidak tua. Aku muda, bukan cukup muda. Dan, oh, aku ingin seseorang menimpuk kepalaku dengan batu besar. Buat kepalaku bocor dan buat aku amnesia tentang kejadian buruk. Dengan begitu, ketika kepalaku pulih dan hanya diisi kenangan indah, aku akan berterima kasih. Bahwa hal ini tidak ada dan tidak pernah terjadi padaku. Maksudku, kejadian dengan website itu. Berbaik hatilah kalian.

Boneka… Boneka, boneka. Apa yang akan terjadi padaku?!

Seraya menggerutu sendiri, tentu saja, mana mungkin aku menggerutu dengan seseorang sekarang. Aku membanting tasku ke meja yang berteriak kesakitan secara otomatis. Semua mata mengarah padaku sekarang. Dan aku dapat merasakan aura berbeda dari setiap pandangan mereka padaku. Ini. Kejadian. Biasa.

Tanpa beban, aku lalu duduk bersandar dikursi sambil kembali terdiam. Mereka masih memandangiku. Namun langsung berpaling kala aku menoleh perlahan dengan tatapan penuh ancaman. Why are they all looking at me like I’ve grown a nose on my forehead? Idiots! Makiku dalam hati. Pertanyaan itu jika kuutarakan dengan teriakan tentu dapat dijawab tanpa pikir panjang oleh mereka.

Setelah aku benar-benar yakin bahwa tidak ada satu ekor pun yang menoleh atau memandangiku. Aku kembali menatap lurus kedepan. Kosong.

Aku menunggu detik-detik berjalannya pikiranku yang tak lagi waras. Kejam sekali. Aku bahkan tak lagi berani melihat atau membuka handphoneku. Mereka saja bisa tahu namaku secara– oh yes, mereka ajaib. Wajar sekali. Dan sangat wajar juga kalau kubuka browser ku nanti, wajah kartun teddy bear itu kembali muncul. Oh, tidak. Gumamku menggeleng pelan dan memasang raut wajah calon pasien rumah sakit jiwa. Dan aku sedang tidak peduli pada kalian teman-temanku yang baik dan beruntung. Jangan memerhatikanku lagi. Ini bodoh.

Aku tidak berani bertindak apapun lagi. Setelah membaca kalimat kemarin, aku merasa bahwa sekarang hidupku terganggu sesuatu. Dan sesuatu itu tidak kasat mata. Dan semakin lama, mereka semakin menunjukkan wujud mereka. Dan mereka sedang menuju kearahku. Hanya itu yang bisa terlintas dipikiranku sekarang.

Mengusir kembali semua dari dalam pikiranku. Aku lalu mengatupkan tanganku. Aku mulai menunduk dalam-dalam dan meminta dan memohon pada surga, dewa, Tuhan atau apapun itu. Aku gadis baik, jangan biarkan hal buruk terjadi padaku. Aku gadis baik. Dan aku menyayangi orang tuaku. Semoga aku akan baik-baik saja. Amien.

Aku kembali mengangkat kepalaku. Kini perasaanku sedikit lebih nyaman. Apa kalau berkaitan dengan agama akan seperti ini? Kusadari bahwa aku telah menjadi bagian dari sekelompok orang dungu dikelasku ini. Aku berdoa pada apa? Surga? Dewa? Aku ini… Atheis1… Lantas, pada siapa aku memanjatkan doaku tadi? Surga? Konyol.

Untuk beberapa saat aku terpikirkan sesuatu, well, ini keputusan yang sulit.

Aku harus memilih agama apa sekarang?

Lantas, kalau aku tidak memiliki agama, tentu doaku tidak akan didengar siapapun. Dan yang paling buruk, tidak akan ada yang mengabulkannya. The nerve of being an atheis.

 

 

Bel masuk berbunyi. Kini semua yang berada diluar berlari masuk kedalam dalam keadaan senang. Aneh. Gumamku ketika memandang mereka sekilas dan kembali untuk tidur melipat tanganku. Menutup wajahku dengan buku dan meletakkan kepala seberat batu ini diatas meja.

Entah kenapa, mereka makin berisik ditelingaku. Aku tidak tertarik tapi kali ini mereka meributkan apa sih?

Mereka kenapa senang? Aku mengangkat kepalaku beberapa milimeter dari meja dan menutup buku tulisku tadi. Aku mulai memerhatikan teman-temanku– sepertinya. Matanya terlihat berbinar. Shhh… Boy. Gerutuku mendesis dan kembali keposisi ternyamanku. Aku sudah tenang sekarang. Kalian tahu?!

Okay, class, perhatikan kedepan.”

Malas.

“Ini murid baru kita.”

Peduli apa aku?

“Dia pindah ke sekolah ini karena keluarganya baru pindah rumah.”

Blah, blah, blah… Gerutuku makin panjang kala Mr. Lee memperkenalkan murid baru itu dengan kalimat manisnya. Well, dia itu menjijikkan. Dan… murid baru? Aku tak tertarik. Dan aku tidak peduli. Karena murid baru itu membuat kelas makin berisik. Oh, shit. Tutup mulut kalian…

“Perkenalkan dirimu pada mereka.”

“Aku Luhan. Aku lahir di Beijing namun tinggal di Korea. Umurku tujuh belas tahun.”

Oh, pria macam apa dia. Kudengar pria itu memperkenalkan diri dengan datarnya. Seluruh isi ruangan tiba-tiba terdiam. Ajaib sekali. Banyak hal aneh yang kutemui dari kemarin. Beginikah aku harus berkata bahwa aku beruntung?

“Aaa… Luhan, kau terlihat kurang ceria.”

 

「Luhan POV」

Mendengar dia berkata begitu, aku lalu menoleh kearahnya perlahan. Mengisyaratkan sesuatu yang membuatku begitu ingin segera duduk.

“Bahasa Koreamu sungguh lancar, ya. Kau pasti sudah sangat lama tinggal disini. Lupakan perkataan bapak tadi. Kau boleh duduk di– Nah! Kau harusnya membawa alas tidur! Theyo!”

Ketika dia menoleh kearah salah seorang siswi, aku lalu ikut menolehkan kepalaku seperti magnet. “Dia tidur?” Tanyaku seraya kembali menoleh pada Mr.– aku lupa siapa guru ini. Dan aku kembali menoleh pada siswi tadi bahwa aku tahu Mr.– sekali lagi aku lupa bahwa aku lupa nama guru ini, yang jelas mungkin dia akan memarahi siswi yang tertidur itu. Siswi tadi mengangkat kepalanya dan menghela nafas panjang.

Dan mata kami bertemu. Sebuah aura mengerikan langsung muncul ketika ia pun mengalihkan pandangannya kepada Mr.– yang ku tidak tahu namanya. Dia perempuan dingin. Aku tahu hanya dengan melihat tatapannya. Dan… dia terlihat tidak menyukai kehadiranku.

“Bisa kau perhatikan kedepan?”

“Rrrrr. Terserah.” Ucapnya acuh tak acuh dan langsung melipat tangannya dan– menatapku. Sepertinya dia seperti sedang ada masalah.

“Baiklah, Luhan, kau duduk di sebelah Theyo. Karena kau tahu–”

“Kalau dia duduk disini, aku bersedia hari ini juga pergi ke gudang dan mengambil meja dan kursi baru.” Tuturnya santai sekali setelah memotong pembicaraan Mr.– okay, mulai sekarang aku akan menyebutnya Pak guru saja sampai aku tahu namanya. Dan mengenai siswi tadi– itu. Bagaimana bisa, dia berkata begitu santainya, tapi terdengar tajam dan menusuk. Dia benar-benar dingin. Yeah, i guess…

“Tapi, kau boleh mencoba bergaul–”

“Aku permisi.” Dia berdiri dengan cepat menimbulkan suara decitan pada kursinya. Seketika aku tahu bahwa ia serius tidak menyukai kehadiranku ini. Dan ia melangkahkan kakinya cepat segera beberapa detik kemudian ia akan melaluiku dan Pak guru. Namun, aku bergerak cepat menggerakkan tanganku dan menyambar tangannya. Dia benar-benar dingin. Sebelum sempat berkata sesuatu, mataku langsung membaca cepat tulisan hangeul pada name tag miliknya. Nama yang unik.

“Nam Theyo? Kita bisa berteman ‘kan?”

 

「Your POV」

Sesuatu menahanku. Dan aku tahu itu cengkraman siapa. Dan dengan begitu, aku pun segera menoleh kesumber manusia macam apa yang menahan tanganku ini. Ingin sekali aku bertindak, melepas paksa tangannya sekarang dan menanyakan masalahnya.

“Apa yang kau lakukan?” Desisku mengancam. Dan dia tersenyum. Ayolah, aku berani bertaruh, bahwa murid baru di sekolahku ini cantik. Dan dia tidak meresponku dengan perkataan apapun.

Dan semua menjadi hening, menyaksikan kejadian langka yang sedang berlangsung dihadapan mereka. I guess, kurasa tidak. Ini tidak langka. Ini tontonan biasa. Tidak sampai salah satu dari bagian tubuhku akan mengenai alat vitalnya. I mean, kaki kiri atau kaki kananku, atau mungkin dengkul kakiku ini. Dan akan kulakukan didepan guru.

“Duduklah.” Tiba-tiba ia buka mulut. Aku memutar bola mataku kesal. Banyak sekali yang menantang kesabaranku dari tadi pagi rupanya. Dia menyuruhku duduk?!

“Pria aneh macam apa yang masuk kesekolah ini. Aku akan kekamar kecil. Kau mau ikut?” Ucapku lalu mengalihkan tatapanku pada Mr. Lee. “Mr. Lee?” Tanyaku menginginkan pembelaan darinya. Dan aku berusaha memberi kode padanya melalui tatapanku.

“Luhan, kau bisa melepas tangannya… Well, kau akan segera berteman dengannya, segera setelah ia kembali dari kamar kecil.”

“Kurasa dia berbohong.”

How the hell did he dare to say that! Dia berusaha meramalku rupanya. Buktinya, dia menggengam pergelangan tanganku erat sekali. Mungkin ini triknya. Dan dengan nada bicaranya itu, aku kembali memutar bola mataku.

Well, i see. Caught on scene. Ada murid cabul rupanya disini Mr. Lee. Dia ingin melihatku buang air kecil disini.” Ucapku santai. Kuharap itu benar-benar menusuk hatinya.

“Kalian berdua, saya harap, ini tidak akan panjangkan masalahnya?”

“Oh, tentu. Selama dia tidak menahan tanganku ini.”

Mr. Lee menghela nafas panjang mendengarnya. Aku masih menunggu tindakan guru ini. Sementara tangan kananku mulai menggeliat ingin lepas dari cengkramannya.

“Luhan.” Peringatan yang manis penuh ancaman pun terlontar. So, this jerk, will waive my right hand. Dan tanpa komentar lagi, dia melepas tangan kananku. Menghindari tatapannya lagi– yang mungkin akan membuatku kembali merasa kesal! Aku berjalan secepat mungkin keluar dari sarang orang dungu dan idiot itu.

Dan… sekarang mereka tahu bahwa aku sedang ada masalah.

 

 

Selama duduk berdua, aku dan little jerk disebelahku ini, hanya diam membisu. Tidak bicara satu sama lain. Menghindari kalau-kalau mata kami bertemu secara tiba-tiba nanti, termasuk sentuhan semacam apapun itu.

Kukira, dalam pikiranku dia sebenarnya tidak menyebalkan. Hanya saja aku tidak menyukai, bahwa dari awal aku tahu bahwa kami akan dijadikan teman sebangku.

Aku mungkin aku bisa mengakui dia adalah pria cool. Namun cool dalam artian berbeda. Dia tidak menunjukkan ekspresi tertentu– aku sesekali meliriknya, aku kalah, dan entah kenapa dia pun tidak berkata apapun, maksudku walau dengan temanku yang lain– mungkin. Kukira dia hanya tidak mau mengajakku bicara. Ternyata tidak. Dia anak bermasalah? Dia kenapa? Maksudku, kami berdua kenapa?

Dan aku sedang berusaha menyalin rumus kimia dipapan tulis itu dan menghafalnya kau tahu? Tapi sekarang apa? Aku bahkan tak sadar bahwa aku menyalin dengan pulpen yang tintanya tidak lagi nyata.

“Shhhh…” Kuharap dia tidak menyadari kebodohanku. Bahwa aku melamunkan dirinya. Aku tahu ini bodoh. Bagaimana bisa aku menyalin cacatan dengan tinta kosong?

Segera aku membongkar tas sekolahku. Mengharapkan sebuah alat tulis apapun itu.

Mana kau benda sialan…

Aku kembali menggerutu sebal, tidak ada apapun untuk menjadi alat tulisku sekarang. Aku beruntung dia mengabaikanku– padahal aku sedang ribut sendiri dikursiku. Berdecit dan bunyi grasak dan tentu berisik. Jangan bilang aku harus meminjam. Oh, itu tidak boleh dibiarkan.

Fuck! Where are you idiot pen!” Tanpa sadar, aku menyadari bahwa selama bunyi tidak tenang dan keresahan, argumen, serta decitan kursiku membuat semua mata mengarah padaku. Kecuali little jerk ini yang mengabaikanku. Setidaknya bisakah dia berusaha tahu dan memberiku pulpen walau tanpa berkata atau menatapku.

Something wrong? Nam Theyo? Dan tentang perkataanmu tadi, kau bisa datang menemui wali kelasmu denganku.”

Aku pun duduk kembali pada posisiku. Hatiku makin panas dan aku harus dipanggil keruang guru? Yang benar saja? Hanya karena aku mencari sebuah pulpen?

Aku benar-benar tak waras lagi sekarang.

Perlahan, aku lalu melirik kearah– you-know-who– karena aku pikir kalau menyebutnya little jerk itu terlalu halus, dan dia sedang duduk menghadap kearahku. Menatapku tanpa ekspresi.

Apa maunya?

“Kenapa kau menatapku begitu? Kau tahu? Bahwa aku sekarang sedang banyak beban pikiran?” Tanyaku setelahnya langsung memutar bola mataku. Biasanya, kalau dipandangi seperti itu aku takkan merespon dan mengabaikannya dengan tatapan dingin. Namun kali ini, dia seperti mengundang masalah padaku. Terutama sekarang aku sedang banyak pikiran. Hal langka.

“Kau tahu website Hacker.”

Aku terkejut. Aku tidak menjawabnya karena itu bukan pertanyaan. Itu pernyataan. Sial, banyak sekali hal mistis disekelilingku. Dia bisa meramal, dan sekarang membaca pikiran? “Semua orang juga tahu.” Ucapku acuh tak acuh. Beruntung kelas bisa lebih ribut karena guru sialan didepan itu sedang mengoreksi pekerjaan rumah kami, sehingga tidak akan terdengar percakapanku dengan you-know-who. Ayolah, seakan-akan aku menyebutnya musuh Harry Potter.

“Tapi kau tidak tahu apa-apa.”

Dia mengajukan pernyataan lagi, kuharap aku bisa melihat kemampuan mistisnya yang lain.

“Um yea.”

“Kau mau kuberitahu?”

Seketika, aku mengernyitkan dahi mendengar, kali ini pertanyaannya. Okay, ini menarik. Dia tahu apa mengenai website itu rupanya?

“Ummm…” Kali ini aku ber-hum padanya lebih panjang. Padahal aku sama sekali tidak ragu menjawab ya dalam hatiku. “Okay...”

Dia sempat terdiam. Dan aku menunggu jawabannya setelah aku setuju. Kurasa matanya sedang memerhatikan sesuatu.

“Apa yang kau lihat?” Tanyaku menatapnya aneh. Segera dia menatapku kembali dan menggaruk tengkuknya pelan.

“Bukan apa-apa. Nanti, ya. Dan sebaiknya kau menyalin sampai habis.” Ucapnya kembali pada posisi duduknya tadi sambil mendorong sebuah pulpen dengan jari-jarinya.

Aku bahkan ingin tertawa sekarang. Rupanya dia juga memerhatikanku. Bodoh sekali aku memakinya terus dalam hati. Dan aku menyadari, kami ternyata saling memerhatikan satu sama lain.

Dan aku lalu menerima pulpennya itu. Kembali mencatat apa yang ditulis you-know-her dipapan tulis. Stupid!

 

_____________________________________________

*1  Atheis: Orang yang tidak menganut kepercayaan apapun.

 

Author’s note:

Holla. Holla. Short chapter but like it please. Luhan muncul muncul muncul. And, yap. Ceritanya bakal dimulai.. Member EXO yang lain nyusul hyeeh.. Dan sepertinya, disini Theyo bukan gadis dingin tapi kasar dan suka bicara kasar dan emosional. Tentu saja karena apa readers tahu kan… Dia sosok yang susah kalo udah punya beban pikiran. Yah itu nanti juga dijelasin :3

Dan disini, sudut pandang orang ketiga mungkin akan langka ditemukan -___-

Karena lebih banyak sudut pandang si perempuan sama si laki-lakinya aja. Kalau udah ada scene yang memungkinkan, akan dibuat sudut pandang orang ketiganya. :3

Yasudahlah… mempersingkat waktu, jangan lupa komen atau kritik saran emot yang buat cerita ini akan tetap dipost di EXOFFI..

THANK YOU… ~~~(━▽━)/(━▽━)/

40 tanggapan untuk “Hacker (Chapter 2)”

  1. Luhan akhirnya keluar juga,yes.Okey itu luhan juga bikin aku penasaran,dia tahu soal hacker kan,apa jangan-jangan dia salah satu dari mereka?sudah pasti iya.Yakin.
    Menunggu member exo yang lain muncul.Lanjut Author,di tunggu next chapternya..

  2. Thor di asianfanfic kan udh nyampe part 5,disana kok setengah ya ?? Kalau masuk harus punya akun?? Duh aku gk punya akunnya,cara masuknya gimana ya?? Kamu salin aja part 3-5 kesini thor please mau baca

  3. Kupikir disini image luhan bakal jadi seorang yg dingin,misterius,cool dan menggambarkan seorang psycopat tapi ternyata enggak bahkan waktu gugup pun dia bisa gugup sambil garuk tengkuknya wkwkwkw untuk bahasa bagus thor tapi bahasa yg kurang baik setidaknya dikurangi,untuk poster juga sangat bagus,alurnya pas dan bikin greget aku jadi penasaran tujuan hacker ini apa ya /? Wkwkwkw sampai jumpa di next part

    1. dia pelupa, keras kepala dan dingin memang. disini bloom buat dia itu dingin sama member exo lainnya yang akan muncul di chapter mendatang.
      beberapa fakta kalo luhan itu pelupa juga udah muncul dan akan bertambah lagi kasusnya.
      thank for the comment ‘All About Me’ 😀 maaf, gak tercantum nama sih kamu

  4. Hi author! Part2nya cepet juga ya. Nam theyonya sensian banget sama luhan😛author bahasa inggrisnya bagus banget tapi kalo bole saran kalimat b.inggrisnya jangan banyak – banyak author😆tapi ffnya udah keren kok. Penasaran maksud dari boneka itu apa? Fighting!!😘👌👍

  5. Ugh, keren! Member EXO lain nanti juga bakal jadi anggota website hacker ya? Kejadian mistis, apa mungkin website itu ada penunggu semacam roh?

  6. aduh tbc nganggu, padahal udah penasaran luhan mau bilang apa–”
    pasti anghota exo hacker ya, dan mungkin luhan salah satunya, aku masih penasaran sama ff nya ini dan berharap chapter 3 segera mendarat *eehh

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s