Andromalius and The Secret of The Blackpearl ( Chapter 2)

Andromalius And The Secret Of The BlackPearl

Andromalius And The Secret Of The Blackpearl ( Chapter 2)

 

Author                 : Kim SeHyun and Whirlwind

Lenght                  : Chapter

Genre                             : SchoolLife, Fantasy, Romance.

MainCast             : Kai/ KimJongIn, Suzy Wu, Choi SeRa, Oh Sehun

AdditionalCast     : Xiumin/ KimMInSeok, KimJongDae/ Chen, Taemin, ByunBekhyun, Park Chanyeol, Do KyungSoo.

Rating                  : PG- 17

AuthorNote                   : Annyeong yeoreobun, makasih semuanya atas good respon kalian di chapter sebelummya. Neomu neomu Mianhae, kita lama post next chapternya karena kita mengalami sedikit gangguan tekhnis disini. Semoga kalian masih mau menunggu sampai chapter terakhir yaa 😀 happy reading yaa.. don’t forget to leave a comment. Comment kalian sangat berharga. Don’t be a silent readers. Keep support us. Gomawoooooo

WARNING!! Typo bertebaran …

Chapter 2  : Back To Moruran

-Choi SeRa POV –

Setelah pelajaran selesai, aku segera bergegas keluar kelas dan berniat menghampiri JongIn di ruang UKS. Aku benar-benar Khawatir padanya, JongIn tiba-tiba saja pingsan pagi ini, padahal saat ia datang ia terlihat baik-baik saja.

“ ah.. annyeonghasaeyo JongDae seonsaengnim” sapaku sebelum menerobos masuk kedalam ruang UKS. Tapi… dimana JongIn? Apa dia baik-baik saja? Apa dia sudah sadar? Yatuhaann.. aku benar-benar panik sekarang.

“ SeRa-ssi, JongIn baik-baik saja. Dia sudah sadar” ucap JongDae seonsaengnim saat mengikutiku masuk kedalam ruang UKS.

“ Tapi…” Jongdae seonsaengnim menaruh telunjuknya di depan bibir yang menandakan bahwa aku tdak perlu bertanya lagi.

“JongIn tidak apa-apa, mungkin dia hanya sedang tidak enak badan Dan dia sudah keluar dari ruang UKS sedari tadi” Jongdae seonsaengnim tersenyum.

“ ahh, geurae… Gamsahamnida seonsaengnim. Saya akan mencari JongIn sekarang. Permisi” aku segera beranjak meninggalkan ruang UKS dan aku segera berlari untuk mencari JongIn.

******

Aku sudah mencarinya hampir ke setiap sudut sekolah, tapi masih belum bisa menemukan JongIn dimanapun. Hingga tiba-tiba saja aku teringat satu tempat yang selalu di datangi JongIn setapkali ia ingin menyendiri.

Dan dugaanku tepat.  Aku benar-benar lega melihat JongIn sedang berdiri disana. Dia sedang menatap kosong ke arah langit dengan tatapan yang sangat sulit dijelaskan.

“ Chagiya, wae eodisseo?” suaraku sepertinya mengejutkannya, jongIn langsung membalikan tubuhnya dan langsung menghampiriku dengan senyum merekah di wajahnya. Ia memeluk tubuhku erat lalu mencium puncak kepalaku dengan lembut.

“ sedari tadi aku mencarimu JongIn-ah. Aku sangat khawatir padamu” jongIn hanya tersenyum, tapi perlahan wajahnya mendekat  sehingga aku bisa merasakan hembusan nafasnya dan itu membuat saraf-saraf dan otakku membeku seketika. JongIn mengecup bibirku singkat.

Aku merasakan panas dipipiku. Aku yakin pasti pipiku sudah sangat merah sekarang.

“ maaf aku membuatmu khawatir Chagi.. na jinjja gwenchanande” jongIn menarikku kedalam pelukannya lagi. Aku berusaha mati-matian berusaha menenangkan detak jantungku yang hampir meledak. jongIn memang selalu seperti itu.

“ Kajja.. kita kembali ke kelas saja” ajaknya sambil menngenggam tanganku dan membawaku pergi.

 

-JongIn/Kai POV-

“JongIn, YA !… Kim JongIn kemana saja kau ? aku hampir gila mencarimu”. Ucap Taemin saat aku hendak keluar dari kelasku.

Taemin adalah satu-satunya sahabat yang aku miliki di dunia ini, bahkan aku sudah menganggapnya sebagai saudaraku sendiri. Jujur saja aku sangat kagum padanya.

“Jongdae seonsaengnim mencarimu dan memintamu untuk menemuinya sebelum kau pulang.” Ucap Taemin

“Geurae… gomawo ! aku akan menemuinya sekarang” ucapku sebelum meninggalkan Taemin.

Setelah itu aku bergegas untuk menemui Jongdae seonsaengnim di ruangannya. Pikiranku berkecamuk tentang apa yang dikatakan oleh Jongdae seonsaengnim di ruang UKS tadi. Banyak sekali pertanyaan dalam otakku yang belum terjawab. Dan itu semakin membuatku penasaran !.

“Annyeonghasaeyo, seonsaengnim ! kau mencariku ?” aku membungkukan tubuhku saat melihat sosok Jongdae seonsaengnim sedang membuka-buka sebuah buku yang sangat tebal.

“Ah… JongIn-ah ! ya ya benar, aku memang mencarimu”. Jawabnya sambil menghampiriku.

“Seonsaengnim, sebenarnya ada yang perlu aku tanyakan juga padamu. Bagai…”

“Aku tau apa yang akan kau tanyakan padaku KAI”. Jongdae seonsaengnim memotong pertanyaanku dan tersenyum padaku.

“Duduklah, aku ingin menunjukan sesuatu padamu”. Aku hanya menurut saja.

Jongdae seonsaengnim menghampiri mejanya dan terlihat sedang mengambil sesuatu dari dalam laci mejanya. Lalu Jongdae seonsaengnim menghampiriku lagi dam memberikan sebuah kotak tua yang dipenuhi ukiran-ukiran rumit namun terlihat sangat cantik.

“Bukalah kotak ini Kai, hanya kau yang bisa membukanya”.

Tanpa berfikir panjang, akupun membuka kotak aneh itu. Saat kubuka, di dalam kotak itu terdapat sebuah cincin berwarna perak yang disetiap sisinya terdapat ukiran yang sama dengan ukiran yang aku lihat di kotak.

“Ige mwoya !?” aku bertanya dengan antusias.

“Itu adalah SEPATU Kai”. Jawab Jongdae seonsaengnim dengan ekspresi datarnya.

“M..mwo !?”. aku membelalakan mataku bingung O.O

“YAA!! Sudah jelas itu cincin ! masih saja kau tanya !”. Jawabnya kesal

“Aku tau itu cincin, maksudku itu cincin apa ?”. Jawabku menghela nafas.

“Ini cincin milikmu, simpan dan jagalah baik-baik. Suatu saat cincin itu akan sangat berguna untukmu”. Jelasnya

“Ne baiklah”. Jawabku seadanya

Hening………

“kau benar-benar tidak mengingatku Kai ?”.tanyanya dengan suara yang melengking.

Aku menatapnya heran. “Tentu saja aku mengingatmu, kau kan guruku”. Jawabku

“Aish… anak ini ! kau benar-benar, sungguh, sangat tidak mengenalku ?!”.

“Maksudmu ?” tanyaku bingung

“Kau tidak mengingatku Kai ? kau tidak mengingat sunbae yang selalu menolongmu, membelamu saat kau di Muroran ? Hah ?!”. tanyanya semakin kesal

“Ani” jawabku

“Semudah itukah kau melupakan sunbaemu yang paling tampaaann… menurut orang tuaku”. Tanyanya lagi sambil mengguncang-guncangkan tubuhku.

“Aigoo…. mungkinkah ??” tanyaku menggantung

“Kau mengingatku sekarang ? ah aku sangat terharu kau sudah mengingatku”. Jawabnya sambil memegang dada.

“Kau kah orang yang menolongku saat aku terjebak di lubang yang dibuat oleh anak-anak nakal dulu ?” tanyaku lagi

“Aishh… kupikir kau sudah benar-benar mengingatku ! aku CHEN CHEN ! sunbaemu yang paling tampan dan mempunyai suara emas !”. Jongdae seonsaengnim berteriak tepat ditelingaku.

“Omoonaa …. jinjja ?? apa kau benar-benar Chen hyung ? kau berbeda sekali hyung. Kau sudah tumbuh besar sekarang. Aigoo…”. aku mengguncang-guncangkan bahu Chen hyung. Aku benar-benar tidak percaya. Bagaimana mungkin aku bisa melupakan sosok seorang Chen hyung.

Chen hyung sangat berbeda sekarang, dia terlihat lebih berwibawa dan terlihat jauh lebih tampan dari yang terakhir aku lihat. Tapi tetap saja, aku lebih tinggi darinya, dan yang terpenting sifat cerewet nya masih sama seperti dulu. Kekekeke :p

“YA ! tentu saja aku tumbuh besar. Kau berbicara seperti kau tidak tumbuh saja Kai”. Jawabnya dengan nada kesal.

“Mianhae hyung… jeongmal mianhae”. Kataku sambil terkekeh pelan.

“Baiklah.. serius ! Kai, kau harus secepatnya kembali ke Muroran. Sepertinya mimpimu mengatakan bahwa akan terjadi sesuatu yang buruk di Muroran”. Ekspresi Chen hyung kembali serius

“Hyung, aku ingin sekali kembali ke Muroran. Tapi Appa melarangku dan mungkin Appa akan membunuhku jika aku kembali ke Muroran”.

“Tenang saja, soal Appa mu aku yang akan mengurusnya”. Chen hyung menepuk bahuku sambil mengangkat sebelah alisnya.

“Hyung, jangan main-main dengan Appa. Kau bisa mati membeku ditangannya”. Aku mencoba mengingatkan Chen hyung. Kekuatan Appa memang tidak besar. Tapi kekuatannya cukup untuk membuat seseorang mati karena membeku.

“Aish.. apa pikiranmu sedangkal itu Kai ? aku hanya akan bicara pada ayahmu Xiumin-ssi. Memangnya kau pikir apa yang akan kulakukan ?”. Chen hyung meninggikan nada bicaranya. Sedangkan aku hanya menghela nafas lega.

“Lalu, apa yang harus kulakukan hyung ?”.

“Dengarkan aku baik-baik Kai. Kau harus kembali besok pagi. Namun ada syarat yang harus kau lakukan untuk membuka portal menuju Muroran. Pertama, kau harus membawa cincin Frost milik ayahmu. Kedua, kau harus merahasiakan ini dari siapapun. Dan terakhir, jangan lupa bawa cincin yang kuberikan tadi, arrachi ?”

Aku mengangguk mengerti. Namun, tiba-tiba saja ada yang menjanggal di pikiranku.

“Hyung, bagaimana dengan Choi SeRa ? haruskah aku meninggalkannya disini ?”

“Kai, kau bisa kembali kesini setelah urusanmu di Muroran selesai”. Jawabnya

“Ne, arraseo hyung. Kalau begitu sekarang aku pergi dulu”. Aku tersenyum pada Chen hyung lalu beranjak pergi meninggalkan ruangannya.

 

–Author POV—

Setelah kepergian Kai, raut wajah Chen berubah murung. Ada perasaan khawatir yang mengganjal dipikirannya.

“Semoga kau tetap hidup Kai. Kita tidak pernah tau, kekuatan seperti apa yang akan kau hadapi di Muroran nanti”. Gumam Chen.

Tanpa disadari, gumaman Chen terdengar oleh seseorang.

 

–Choi SeRa POV—

“Ah lelahnya… Akhirnya tugas menyebalkan itu selesai juga”. Akupun membaringkan tubuhku di kasur empuk kesayanganku. Tanganku masih terasa pegal, tugas dari Ryewook seonsaengnim memang selalu membuat murid-muridnya menderita.

Tok ! Tok ! Tok !

Eomma masuk kedalam kamarku sambil tersenyum. “Ada seseorang yang ingin menemuimu sayang”.

“Nugu ?” tanyaku penasaran.

Eomma tidak menjawab pertanyaanku. Tiba-tiba saja aku melihat JongIn sudah berdiri di belakang eomma sambil tersenyum dan membungkuk kepada eomma.

“Gamsahamnida, eommonim aku hanya perlu bicara sebentar saja pada putrimu”. JongIn tersenyum pada eomma

“Silahkan saja JongIn-ah. Aku percaya kau tidak akan macam-macam pada SeRa”. Eomma terkekeh, setelah itu eomma langsung keluar dari kamarku dan tak lupa menutup pintu.

“Aigoo ! eomma….” rutukku dalam hati.

JongIn menghampiriku perlahan dengan senyum merekah di wajahnya.

“Wae geurae ? ada apa malam-malam kerumahku ?” tanyaku datar

“Chagiya…. kau tidak merindukanku ?. JongIn duduk disamping tempat tidurku. JongIn menatapku lekat-lekat, sebenarnya aku merasa sedikit gugup.

“Kau kenapa JongIn-ah ?” aku menutup kedua mata JongIn dengan kedua tanganku. Namun, JongIn cepat-cepat melepaskan tanganku lalu menggenggam tanganku dengan erat.

“Biarkan aku menatapmu chagi. Karena setelah aku pergi dari rumahmu malam ini, aku akan sangat-sangat merindukanmu”. Raut wajah JongIn berubah menjadi sedih. Aku masih tidak mengerti, ada apa dengannya. Tapi aku hanya diam saja dan membiarkannya menatapku.

Perlahan JongIn mencondongkan tubuhnya semakin mendekat hingga tidak ada jarak diantara kami. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang lembut dan hangat menyentuh bibirku. Kulihat JongIn menutup matanya dan akupun refleks menutup mataku juga.

Perlahan JongIn melumat bibirku dengan lembut dan akupun refleks membuka mulutku dan membiarkan lidah JongIn mengekspos setiap inci bibirku. Tiba-tiba saja JongIn menarik tengkuk leherku dan memperdalam ciuman kami. Tanpa sadar akupun mengalungkan kedua lenganku di leher JongIn.

Semakin lama, Ciuman yang semula lembut perlahan semakin panas. Perlahan JongIn membaringkan tubuhku di atas kasur.  Semakin lama aku merasakan berat ditubuhku karena sekarang tubuh JongIn sudah berada diatas tubuhku dan memperdalam ciumannya.

JongIn melepaskan ciumannya  dan beralih ke leherku. Mencium lembut setiap inci leherku. Dengan sekuat tenaga aku menahan suaraku. Namun sia-sia aku tidak bisa menahan desahan ku. Aku mendesah pelan, tapi JongIn dengan cepat beralih menciumku dan melumat bibirku.

Semakin lama, kurasakan oksigen dalam tubuhku semakin menipis. Akupun refleks mendorong dada JongIn pelan.

“JongIn-ah….” lirihku.

JongIn langsung menghentikan aktivitasnya lalu duduk disampingku.

“Mianhae chagiya, aku terbawa emosi”. Ucapnya dengan nada bersalah.

JongIn lalu mengusap lembut bibirku dengan jemarinya.

“Gwenchana chagiya”. Aku tersenyum padanya sambil membelai pipinya dengan lembut. JongIn tersenyum.

Tiba-tiba saja JongIn bangkit dari duduknya sambil mengacak rambutku pelan.

“Eodiga ?” tanyaku. Ia masih saja tersenyum.

“Sudah malam, sebaiknya kau cepat tidur. Kau pasti lelah. Lagipula, kalau aku tidak cepat pulang, Appa pasti  akan membunuhku”. JongIn terkekeh.

Akupun mengantarkan JongIn sampai di pintu.”Baiklah, hati-hati dijalan chagiya”.

“Ne chagiya.. Saranghae, jaga dirimu” ucap JongIn

Sebelum pergi, ia memelukku dengan erat lalu mencium puncak kepalaku. Malam ini ia benar-benar aneh. Ada apa dengan sikap JongIn ? tidak biasanya ia seperti ini. Aku merasakan ada yang janggal. Namun, aku mencoba untuk tidak memperdulikannya.

 

–JongIn/Kai POV—

Kejadian malam ini benar-benar diluar kendaliku. Aku terlalu takut untuk menerima kenyataan bahwa aku harus meninggalkan malaikatku. Benar-benar tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Aku pulang dengan pikiran yang berkecamuk.  Saat tiba dirumah aku langsung membaringkan tubuhku dan berusaha untuk memejamkan mataku. Tiba-tiba saja aku merasakan ponselku bergetar tanda ada pesan yang masuk.

‘jangan lupa mengambil cincin ayahmu Kai !’

*Chen

Setelah membaca pesan singkat dari Chen hyung, aku terlonjak bangkit dan merutuki diriku sendiri. “sial. Kenapa aku bisa sampai lupa. Aishh paboya !”.

Tanpa berpikir panjang aku langsung keluar dari kamarku dan segera mencari keberadaan ayahku. Ternyata Appa sedang asyik menonton TV, ada sedikit perasaan lega. Aku bisa menelusup masuk ke kamar Appa diam-diam dan mengambil cincin itu.

Suatu keuntungan juga untukku karena semenjak tinggal didunia manusia, Appa tidak pernah sekalipun menyentuh cincin itu.

Aku diam-diam masuk ke kamar Appa dan berusaha mencari cincin itu secepat mungkin. Akhirnya aku menemukan sebuah kotak di dalam laci yang aku yakini didalam lotak itu ada cincin Frost milik Appa karena kotak itu hampir sama seperti kotak cincin miliku hanya saja ukirannya berbeda.

Setelah mendapatkan cincin itu, aku cepat-cepat keluar dari kamar Appa sebelum ketahuan. Saat aku baru saja membuka pintu, tiba-tiba saja aku mendengar teriakan Appa.

“YA ! mwohaneun goya ?”. mendengar teriakan Appa aku refleks berlutut dan membeku di tempat. Jantungku berdebar ratusan kali lebih cepat. Aku yakin Appa akan membunuhku sekarang juga.

“YA ! apa yang kau lakukan ??”. aku mendengar teriakan Appa lagi. Aku bersujud berkali-kali berharap Appa akan mengampuniku.

“Appa jebal ! aku terpaksa. Appa jebal jangan bunuh aku… kumohon” aku bersujud sambil memejamkan mataku seakan pasrah.

“YA !! YA !! GOOOLL !!!!”

Aku terkulai lemas sekaligus lega. Yatuhaan ternya Appa sedang menonton pertandingan Bola. Aigoo aku pikir aku ketauan. Aishh jinjja ! jantungku masih berdebar sekali. Aku benar-benar takut sekali kalau Appa sampai tau aku mengambil cincin Frost miliknya.

 

-Keesokan Harinya-

 

–Kai Pov—

Aku bersiap-siap seperti biasanya. Memakai seragamku dan berangkat bersama dengan Appa. Aku tidak ingin membuat Appa curiga.

“Appa, kau bisa turunkan aku di toko buku dekat sekolahku ? ada buku yang harus aku beli” aku bertanya dengan nada senormal mungkin.

“Geurae !!”. Appa mengiyakan tanpa curiga sedikitpun.

Sepanjang perjalanan aku larut dalam pikiranku. Haruskah aku pergi ke Muroran dan membohongi Appa ? meninggalkan Choi SeRa kekasihku, meninggalkan dunia manusia ? tapi aku benar-benar ingin tau apa maksud dari mimpiku. Apa yang harus aku lakukan. Haruskah aku pergi ke Muroran ? atau tetap tinggal di dunia manusia  ?

-TBC-

 

 

6 tanggapan untuk “Andromalius and The Secret of The Blackpearl ( Chapter 2)”

  1. Siapa yg dengerin gumahan chen?
    Hahaha… Lucu liat kai sujud2 gitu minta maaf ama appanya… Padahalkan minseok lagi nonton bola XD
    Next! Keep writing!!! ^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s