Everything Has Changed (Chapter 16)

Everything Has Changed 4

Everything Has Changed

[ Chapter 16 | Romance, School life | General ]
with Kim Jongin,
Oh Sehun,
and OC Jung Yunhee as the main cast

by

Eunike

[ I own only the story. A big thanks to Tazkia (SpringSabila) from Cafe Poster for the awesome poster! Love yaa 😀 ]

Series : Prolog + Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 |  Chapter 5 |  Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8 | Chapter 9 | Chapter 10 | Chapter 11 | Chapter 12 | Chapter 13 | Chapter 14 | Chapter 15 | Chapter 16

***

Gerimis kecil mengguyur kota Seoul malam ini, tepat tiga jam sebelum tengah malam. Sorot lampu pinggir jalan menemani langkahnya menyusuri deret demi deret emperan toko. Cahayanya temaram, namun susana begitu menggegap. Para pedestrian ramai mengisi trotoar dengan payung-payung penuh warna seakan hendak mengisi kekosongan di antara gelapnya malam.

Satu langkah lagi, dan Sehun sampai di sebuah bangunan khas eropa yang redup cahayanya. Sebuah bangunan di mana ia pernah di sana bersama seorang gadis. Sebuah bangunan di mana ia pernah menjejak masuk hanya untuk menemui senyum sapa gadis itu.

Sehun melesakkan kedua kepal tangannya ke dalam saku, lantas tersenyum kecil.

Apa semuanya benar-benar sudah berakhir?

Satu tarikan napas diambilnya seiring dengan langkah mundur menuju sebuah tiang lampu jalan. Punggungnya menyender di sana. Lantas ia menengadah menatap langit.

Ternyata gerimis masih merinai.

Wajahnya basah oleh rintik hujan.

Apa segalanya benar-benar akan percuma?

Satu lagi tanya menyambut benaknya.

Benarkah tidak ada jalan keluar?

Sehun mendengus pelan, kontan ia mengeratkan mantel cokelatnya.

Tepat pada saat itu sebuah dering ponsel seakan menarik kembali dirinya dan lamunan batin. Segera ia merogoh sakunya dan menatap layarnya dengan satu pandangan lurus.

Nomor tak dikenal.

Sehun memutar bola matanya dengan jenuh dan menolak panggilan. Namun tak lama ponselnya kembali berdering, dengan nomor pemanggil yang sama.

“Persetan,” Sehun bergumam pelan dan cepat-cepat melepas baterai ponsel. Ia butuh waktu untuk sendiri, pikirnya. Maka ia kembali memejamkan mata dan menengadah ke atas, membiarkan pikirannya kosong untuk beberapa saat sehingga dirinya bisa tenang dan lari dari kenyataan untuk beberapa saat, setidaknya sampai matahari terbit di ufuk barat dan saat itu ia berjanji untuk kembali bersitatap dengan realita, dan membereskan segalanya.

***

“Eomma.”

“Hm?” Ibu Yunhee menoleh ketika Yunhee mengembalikan ponselnya dengan tampang masam. “Kenapa, Yun?”

“Dia tidak menjawab telepon.”

“Sehun?”

“Hm,” Yunhee kembali menyenderkan punggungnya ke tumpukan bantal dan berbalik menatap tembok. Jendelanya sedikit basah terkena tempias hujan, membuat pandangannya mengabur dari gedung-gedung pencakar langit yang biasa menjadi pemandangannya. Bintang pun tertutup awan tebal. Yunhee hanya bisa menatap kegelapan di ujung sana.

“Dia benar-benar akan pergi?” Yunhee bertanya, namun sesungguhnya ia sadar; ia belum siap mendengar jawabannya. Bagaimana kalau lelaki itu benar-benar pergi?

Yunhee tiba-tiba tertawa kecil dan menghibur dirinya, tidak mungkin ‘kan Sehun akan pergi hanya karena itu? Bodoh.

“Kau mau menemui laki-laki itu besok?” Ibu Yunhee bersuara seraya menepuk pundak anaknya, “Besok ‘kan kau sudah boleh pulang.”

Yunhee menggerakan tubuhnya menghadap plafon dan terdiam sejenak. Bunyi kardiograf di ujung ruangan yang berbunyi konstan seakan menemainya menghitung waktu berputar.

“Aku tidak tahu,”  jawabnya tak mau ambil pusing.

Ibu menghela napas panjang. “Banyak hal yang harus kau bicarakan dengannya, benar begitu?”

“Benar―” Yunhee menggigit bibirnya, “―tapi bagaimana kalau―semuanya sudah terlambat?”

“Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Kau ini kenapa menjadi melankolis, sih? Sudahlah, semuanya akan baik-baik saja, Yun. Temui dia besok dan berhenti bersikap dramatis.”

Yunhee tertawa kecil, “Benar, aku terlalu dramatis, ya?”

“Kau terlalu mengkhawatirkan yang tidak-tidak. Kau tahu itu tidak baik untuk kondisimu ‘kan? Sekarang tidur dan siap-siap untuk besok, kita akan pindah ke apartemen baru kita, oke?”

Yunhee menatap ibunya sekilas dan tersenyum lebar, “Baik, eomma. Selamat malam.”

Ibu Yunhee mengusap puncak kepala anaknya seraya menarik selimut dan mematikan lampu utama. “Mimpi indah.”

“Terimakasih, eomma.”

***

Waktu terus berputar dan segalanya masih berjalan. Esok harinya Yunhee segera bersiap-siap untuk menangkat kaki dari kamar inapnya, meninggalkan segala bau obat-obatan di rumah sakit dan menghirup udara segar di luar sana. Oh betapa rindunya Yunhee untuk kembali duduk di bis kota, melayani pelanggannya di kafe, dan bertemu teman-temannya di sekolah.

Sayangnya, baru mulai besok ia boleh kembai ke sekolah. Kata Dokter Xi, ia masih harus menjaga kondisi tubuhnya untuk tetap stabil dan belum boleh kembali bekerja paruh waktu. Lagipula, ibunya masih setengah tidak setuju melihat ia pergi kerja paruh waktu.

Yunhee menghela napas panjang dan menutup pintu kamar inap di belakangnya dengan seulas senyum tipis.

“Ayo, Yun,” ucap ibu seraya menggandeng tangannya.

“Ah―sebentar, eomma. Aku ingin―hm―bertemu dengan Dokter Xi sebentar.”

“Hm?” Ibu melepas genggaman tangannya dan terdiam sebentar sebelum akhirnya mengangguk mengerti, “Baiklah. Jangan lama-lama. Eomma tunggu di bawah, ya?”

“Ya, eomma.”

Tepat pada saat itu Luhan tengah berjalan melintasi koridor, berjalan menuju kamarnya seraya tersenyum ramah seperti biasa. “Yun? Sudah mau pergi?”

“Hm, terimakasih, Dokter Xi.”

Luhan lagi-lagi tersenyum dan menepuk pundah Yunhee. “Jaga dirimu, Yun. Jangan terlalu membebani pikiranmu dengan hal-hal tidak penting.”

“Kuharap begitu,” Yunhee menjawab seraya terkekeh pelan. “Hm omong-omong―

―apa Sehun baik-baik saja?”

“E-Eh?”

“Kudengar kau teman dekatnya jadi.., hm, apa dia baik-baik saja? Dia tidak menjawab teleponku….”

Luhan terdiam sesaat, menatap Yunhee sungguh-sungguh sebelum akhirnya tersenyum lega dan terkekeh pelan. “Dia baik-baik saja. Kupikir kalian bertengkar?”

“Ah soal itu―kami memang sempat bermasalah sedikit tapi―yah, begitulah.”

“Yah, baguslah kalau begitu. Belakangan Sehun terlihat banyak masalah membuatku takut dia bertindak yang macam-macam. Omong-omong, kau mau menghubungi Sehun? Kau bisa menggunakan ponselku, kalau mau.”

***

Saat itu Sehun sedang menatap layar ponselnya lekat-lekat, mencari penginapan murah di luar Apgeujong agar ibunya tidak bisa mencarinya. Yah, setidaknya selama beberapa hari ke depan ia harus tinggal di sana sampai pesta pertunangan itu selesai. Persetan dengan sekolah.

Sehun menatap alamat yang sudah dicatatnya sebelumnya dan mendengus pelan. “Ini benar-benar―”

…ponselnya bergetar…

Luhan Hyung.

“―mau apa lagi sih dia,” Sehun bergumam pelan seiring melekapkan ponselnya ke telinga, “Ada apa hyung?”

“Kau sedang di mana?”

Sehun menyenderkan punggungnya ke punggung sofa, “Sedang di rumahmu. Kenapa?”

“Kau tidak sekolah?!”

“Persetan.”

Terdengar omelan khas Luhan dari ujung sana, yang entah sudah berapa kali Sehun dengar sepanjang hidupnya mengenal Luhan. Nasihat mengenai ini dan itu, serta beberapa ancaman tak berguna yang tidak pernah sanggup membuat Sehun takut dan menurut padanya.

“Berisik sekali sih, hyung.”

“Dasar anak kurang ajar, kau sudah absen berapa hari, hah?”

“Baru sehari hyung, jangan terlalu berlebihan.”

“Kalau lain kali kau berani bolos lagi, jangan harap aku mau menerimamu menginap, mengerti?”

“Jangan banyak omong, hyung. Kau membuang waktuku, cepat katakan ada perlu apa meneleponku segala?”

“Dasar anak kurang ajar kau―”

“―hyung, jangan buang-buang waktuku,” Sehun segera memotong dengan nada merajuknya. Yah, nasihat dari Luhan memang terdengar membosakan bagi Sehun.

Terdengar Luhan menghela napas panjang di ujung sambungan, mungkin sedang meredakan emosinya yang memuncak sebelum akhirnya berujar pelan, “Ada yang ingin bicara denganmu.”

“Siapa lagi? Hyung aku tidak punya waktu untuk ber―”

“Sehun?”

….ini gila. Suara gadis ini…

“Ini aku…, Yunhee.”

Oh Tuhan, jangan katakan bahwa Sehun baru saja terjatuh di suatu tempat dan hanyut di alam mimpi.

***

Butuh beberapa waktu untuk Yunhee menetralkan detak jantungnya seraya menunggu Luhan selesai bicara dengan Sehun di ponsel. Jantungnya berdetak kencang ketika bibirnya malah nyaris kehilangan kemampuan bicara. Demi Tuhan, sekarang atau tidak sama sekali, Jung Yunhee.

Gadis itu menarik napas dalam-dalam dan melekapkan ponselnya ke telinga.

“Sehun?” Ia berbisik pelan, nyaris mencicit. “Ini aku…, Yunhee.”

Barulah setelah itu Yunhee menunggu lima detik paling lama seumur hidupnya sebelum akhirnya Sehun angkat suara dengan nada ragu di ujung sana, “Maaf, salah sambung?”

Yunhee nyaris saja terjungkal mendengar jawaban bodoh dari lelaki semampai itu. Oh demi Tuhan, si bodoh ini benar-benar―”Aku tidak sedang bercanda, Tuan Muda Oh.”

“Kau… benar-benar Yunhee?”

“Ya!” Yunhee hampir saja kehilangan kesabaran, “Ini. Aku. Jung. Yunhee. Dan aku ingin bicara denganmu.”

Sehun kembali terdiam di ujung sana dan terdengar dehaman pelan. “Bicara saja.”

“Aku ingin bicara langsung.”

Hening lagi. Tanpa sadar Yunhee menahan napasnya menunggu sahutan dari Sehun, sedangkan Luhan hanya menatapnya dengan seulas senyum menengangkan, seakan mata lelaki berdarah korea itu berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Sayangnya Yunhee tidak bisa membiarkan jantungnya untuk kembali berdetak normal dan membiarkan dirinya untuk bernapas lega. Tidak sebelum Sehun menjawab ‘ya’.

“Sehun? Kau di sana?”

“Y-Ya.”

“Kapan kita bisa bertemu?”

Sehun berdeham lagi dan menghela napas panjang. “Aku tidak bisa.”

Rasanya seperti disambar petir, Yunhee kehilangan kata-katanya. Tenggorokannya tercekik dan ia tidak mampu menelan ludahnya membasahi kerongkongan. Tuhan, bangunkan ia dari mimpi buruk ini.

Yunhee menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. “Sehun kumohon―” ujarnya lirih, “Ada beberapa hal yang ingin kubahas denganmu. Ini serius.”

Namun Sehun tetap bersikukuh, “Aku tidak bisa, Yun. Aku harus pergi.”

“A-Apa? Kau pergi ke mana?” Yunhee semakin panik mendengar jawaban Sehun selanjutnya. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya seiring dengan kepalan tangannya yang mengerat.

“Aku harus pergi… secepatnya. Aku tidak mau menjadi saksi mata atas pertunangan… orang tua kita.”

Yunhee membelalak kaget dan spontan menatap Luhan yang terlihat cemas sejak tubuh Yunhee menegang. Matanya menatap Luhan memelas, namun Luhan juga tidak tahu harus berbuat apa.

“K-Kalau begitu aku ikut.”

Kini berganti Sehun yang terkejut. “A-Apa?”

“Aku ikut denganmu, Sehun!”

“Tapi―”

“Temui aku jam sebelas nanti di taman kota. Aku menunggumu, sampai nanti.” Cepat-cepat Yunhee memutus panggilan dan menghela napas panjang. Matanya terpejam sesaat selagi ia menetralkan deru napasnya dan menyerahkan ponsel Luhan kembali.

“Ini gila,” gumamnya sambil mengangkat sebelah tangan untuk memijat pelipisnya yang berdenyut. “Ini gila, ini gila, ini gila”

Yunhee mengacak rambutnya frustasi dan mendengus keras. Apa katanya tadi? Ikut pergi dengannya? Pergi kemana, Yun? Kau benar-benar sudah gila. Kemana akal sehatnya pergi beberapa saat lalu? Sialan. Ia benar-benar sudah sinting.

***

Dunia mungkin sudah jungkir balik. Oh yang benar saja, mungkinkah Sehun salah dengar? Atau jangan-jangan ia sudah mulai gila dan berilusi yang tidak-tidak. Apa kata gadis itu tadi?

“Temui aku jam sebelas nanti di taman kota.”

Jam sebelas? Nanti? Di taman kota? Sejak kapan mereka janjian untuk bertemu? Bukankah gadis itu mengatakan padanya untuk pergi?

“Aku menunggumu.

Sampai nanti.”

Sehun mengacak rambutnys frustasi dan menjatuhkan diri ke atas kasur. Haruskah ia benar-benar menemui gadis itu? Atau haruskah ia mengabaikannya?

Benar-benar, belakangan ini hidupnya terus dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan bodoh. Kenapa pula ia harus hidup selabil ini? Lagi-lagi Sehun mengisi satu lembar pertanyaan lagi.

Ia mendengus pelan dan berguling menatap tembok.

“Temui aku jam sebelas nanti.”

Ujaran gadis itu kembali terngiang seiring Sehun melirik jam dinding di atas lemari besar dekat pintu. Lantas ia terdiam sejenak. Hanya butuh empat puluh menit lagi sampai jarum jam menunjukkan pukul sebelas tepat.

“Haruskah…?” Sehun bergumam kepada dirinya sendiri dan memejamkan mata selama beberapa saat. Batinnya sibuk berargumen ini dan itu sampai akhirnya Sehun memutuskan untuk segera bangkit berdiri, memutar kenop pintu, dan segera berjalan keluar.

Ia tidak boleh membuat gadis itu menunggu.

Atau setidaknya, ia tidak boleh membuat dirinya menunggu untuk mendengar hal penting apa yang akan dibicarakan gadis itu. Benar begitu?

Sehun merapatkan mantelnya cokelatnya seiring udara musim gugur yang sayup-sayup mulai menayapa dan melirik arlojinya sekilas.

Setengah jam lagi maka ia akan dapat segera bertemu gadis itu. Seketika seulas senyum tipis tergambar, walau tak dapat dipungkiri sesungguhnya ia sedikit cemas mengenai apa yang mungkin akan gadis itu katakan nanti.

Apa pun itu, setidaknya Sehun bisa melihat kembali wajah Yunhee dan memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja.

***

Sehun sampai lebih cepat dari perkiraannya, namun gadis itu sepertinya sudah menunggu di bangku di bawah pohon rindang. Selama beberapa saat Sehun terdiam, membiarkan kakinya berhenti melangkah dan matanya menatap gadis itu lekat-lekat.

Gadis itu masih sama.

Rambut cokelatnya yang terurai masih terlihat selembut sutra. Mata cokelatnya masih terlihat bersinar di bawah pantulan sinar matahari. Hanya saja tubuhnya terlihat sedikit lebih kurus dan kulitnya masih agak pucat.

Setidaknya gadis itu baik-baik saja dan masih bisa merasakan udara segar, Sehun membatin.

Segera ia menghampiri Yunhee yang tengah memainkan sehelai daun di tangannya dan tersenyum canggung.

“Apa… kabar?” Sehun membuka pembicaraan lebih dulu seraya mendudukkan diri di samping Yunhee.

Gadis itu meliriknya sekilas dan tersenyum tipis, namun cepat-cepat ia mengalihkan pandangan ke depan dan menunduk menatap rematan daunnya di tangan. “Jauh lebih baik,” ujarnya pelan dan kembali menengadah, “Bagaimana.. denganmu?”

“Baik, tentu saja.” Sehun berdeham pelan dan menoleh ke arah lain. Gerah rasanya bersikap canggung dengan salah satu orang yang sesungguhnya sudah kau kenal dengan baik. Sayangnya Sehun tidak tahu harus bicara apa, dan semua rangkaian kata yang hendak diucapkannya buyar begitu saja.

Sehun menghela napas panjang dan menengadah menatap dedaunan yang mulai berwarna kecokelatan. Beberapa sudah jatuh ke tanah dan tertiup angin musim gugur. Sedangkan beberapa lagi masih mencoba bertahan untuk tidak terjatuh dari dahannya.

Bahkan pohon saja hidup penuh perjuangan, benar? Sehun mendengus pelan dan membuang pandang ke bawah; membiarkan pandangannya terpaku pada sepasang sepatu yang dipakainya.

“Ehm, Sehun―”

Kepalanya lantas menoleh begitu namanya dipanggil.

“―maafkan aku, Hun.”

Kedua alisnya berjengit heran, “Untuk apa?”

Yunhee tersenyum kaku dan mendesah panjang. “Untuk perkataanku kemarin. Sepertinya aku sudah berlebihan, maaf.”

Sehun terdiam sebentar dan hanya mengangguk dalam diam. “Kau.. sempat membuatku takut.”

Yunhee terkekeh pelan dan meremas ujung rok selutut berwarna peach-nya sambil mengulas senyum menyesal, “Maafkan aku. Aku benar-benar hilang akal kemarin.”

“Tidak apa-apa,” Sehun menoleh menatap gadis itu dan tersenyum tipis seakan mengatakan bahwa semuanya memang sudah baik-baik saja. “Tidak ada yang perlu dipermasalahkan lagi. Aku… benar-benar tidak apa-apa. Kau berhak marah, sikapku saat itu juga keterlaluan, seharusnya aku―”

“Sudahlah, Hun. Jangan diungkit lagi, itu bukan salahmu juga. Semuanya terjadi begitu saja.”

Keadaan menjadi hening selama beberapa detik. Hanya ada suara gesekan dedaunan di atas mereka dan sayup-sayup deru kendaraan di ujung jalan. Sehun yang tengah menunduk tiba-tiba memutuskan untuk bangkit berdiri dan menatap gadis itu lurus-lurus.

“Kau mau ikut denganku?”

“Eh?”

Sehun tersenyum penuh arti dan lantas menarik tangan gadis itu untuk bangkit berdiri. “Ayo.”

“Ke mana?”

Sehun melangkah sambil menimbang-nimbang tanpa melepas genggamannya di tengah Yunhee. “Kira-kira apa yang asik untuk dilakukan selagi kita membolos sekolah?”

“E-Eh?!”

“Ayo kita ke kedai es krim!”

Yunhee membelalak menatap Sehun tak percaya namun tak sanggup berkata apa-apa. Dirinya pun tidak menolak ajakan Sehun dan malah mengikuti kemana lelaki itu pergi. Bukankah ini sudah gila? Membolos sekolah bersama?

Diam-diam Yunhee menunduk untuk menyembunyikan wajahnya di balik helai rambutnya dan tersenyum lega.

Setidaknya untuk hari ini, biarkan ia untuk tersenyum dan tertawa lepas tanpa mempedulikan kenyataan yang menanti di depan.

***

Sehun menarik Yunhee menuju salah satu kedai es krim di pinggir dan tersenyum lebar. Rasanya sudah lama sekali ia tidak berkunjung ke deretan toko di sini dan memakan es krim seraya menikmati hari. Sehun langsung mendorong pintu, membiarkan bel kecil menyambut kedatangan mereka di dalam toko diiringi dengan aroma susu yang menguar lembut.

Mereka berdiri di depan etalase dan memandangi jejeran pilihan rasa yang tersedia.

Sehun segera menyenggol siku gadis di sampingnya dan menunjuk salah satu wadah es krim di ujung etalase. “Bagaimana kalau kita coba yang coklat?”

Yunhee mengerutkan keningnya dan menggeleng tidak setuju. “Aku mau yang lemon!”

Sehun mengikuti arah yang ditunjuk gadis itu dan menggeleng masam. “Bagaimana dengan yang mint?”

“Aku tidak suka mint, rasanya terlalu tajam. Sepertinya melon enak?”

Sehun mengerang lagi. “Ah, kenapa harus melon? Bagaiman dengan karamel? Sepertinya enak juga, rasanya manis dan―”

“Aku sudah pernah coba yang karamel. Aku ingin mencoba yang lain.” Yunhee memutar matanya mencari pilihan rasa yang tersedia dan segera menunjuk yang di ujung, “Yang itu! Kau suka vanilla blue?” tanyanya sambil menoleh menatap Sehun dengan penuh harap.

Tapi Sehun hanya menatapnya diam dan berujar, “Bagaimana kalau kau yang vanilla blue dan aku yang cokelat?”

Tanpa berpikir dua kali Yunhee langsung mengangguk setuju dan menyebutkan pesanannya kepada seorang wanita berusia sekitar tiga puluh tahunan dan menunggu hasil pesanan mereka di bangku dekat jendela.

Yunhee duduk bertopang dagu menatap buku menu yang terdapat di atas meja tanpa minat sedangkan Sehun bersandar pada punggung kursi dan menoleh keluar jendela. Matanya menatap para pedestrian yang berlalu-lalang; memperhatikan mereka yang terlalu sibuk dengan urusan masing-masing sampai-sampai mungkin tidak sadar bahwa hari ini matahari bersinar begitu cerah.

Samar-samar musik bermelodi santai mengaluni seisi kedai, seakan ikut menemani lamunan keduanya ketika tiba-tiba saja Yunhee menangkat suara. “Kau tinggal dimana?”

“Hm?” Sehun mengalihkan perhatiannya kepada Yunhee yang kini bertopang dagu menatapnya. “Aku masih tinggal di rumah Luhan Hyung.”

Yunhee ber-oh singkat dan mengangguk.

“Omong-omong bisa-bisanya kau menghubungiku melalui ponsel Hyung.”

Yunhee tersenyum lebar dan menyenderkan diri ke kursi. “Tentu saja. Aku nyaris kehabisan akal untuk menghubungimu. Kemarin aku meneleponmu melalui ponsel eomma tapi kau tidak menjawab dan malah menonaktifkan ponsel.”

Sehun tiba-tiba terdiam dan mencondongkan dirinya, “Jadi semalam itu kau?”

“Hm, ya. Kau pikir siapa?”

“Ah―begitu. Kukira Jiae…”

Alis Yunhee berjengit heran, “Siapa? Jiae?”

Sehun yang sadar sudah salah bicara cepat-cepat menggeleng dan terkekeh pelan, “Ah tidak, tidak. Kukira nomor salah sambung.”

“Aku tidak tuli, Hun. Kau bilang siapa? Jiae?”

Sehun menjadi salah tingkah dan menggerakan tubuhnya canggung. “Aku―ah, tidak. Dia hanya… teman lama.”

Yunhee memicingkan matanya dan merubah posisi duduknya, “Teman lama? Yakin hanya sebatas teman lama?”

“Kau ini apaan sih? Memang kau tahu apa…”

Dengus pelan meluncur dari bibir Yunhee sebelum akhirnya ia bergumam rendah, “Terus yang kau cium itu siapa?”

“A-Apa?”

Yunhee mendengus tajam dan membuang muka, enggan melanjutkan konversasi mengenai Jiae-atau-entah-siapa itu. “Lupakan.”

Tepat pada saat itu seorang pelayan datang membawakan dua cone es krim; satu untuk Yunhee dan satu untuk Sehun. Rambut hitamnya digelung rapi ke atas dan aroma parfum tercium sekilas, membuat Yunhee sedikit mundur menjauh karena baunya yang terlalu menyengat.

Yunhee lekas-lekas meraih es krimnya dan mencicipi sedikit.

“Suka?” Sehun betanya sambil meraih es krimnya dan ikut mencicipi miliknya sendiri.

Yunhee tersenyum lebar dan mengangguk. “Cukup memuaskan,” ujarnya sambil kembali menjilat. Rasa vanilla blue yang manis dan lembut melumer di lidahnya, memberikan sensasi segar dan sejuk di tengah terik matahari dan sapuan angin musim gugur.

Saat itu juga tiba-tiba Sehun mencondongkan tubuhnya dan tanpa aba-aba ikut mencicipi es krim milik Yunhee. Satu detik, dan Yunhee langsung melayangkan pukulan ringan di pundak lelaki itu.

“Jauhkan wajahmu!”

“Kenapa? Vanilla blue ternyata enak juga.”

“Jangan main jilat seenaknya, dasar sialan.”

Sehun terkekeh pelan dan kembali ke posisi duduknya semula. “Kenapa? Kau gugup?”

Seketika Yunhee merasakan pipinya memanas dan kehilangan kata-kata. Oh ayolah, Yun. Masa hanya karena insiden es krim ini kau malah jadi orang tolol di depan seorang Oh Sehun?

Yunhee mendengus pelan dan menendang kaki lelaki itu dengan kesal. “Makan saja es krimmu Tuan Muda Oh.”

Lantas Sehun tergelak. Apalagi melihat pipi gadis itu yang memerah, membuatnya semakin geli melihat tingkah Yunhee yang terlihat lucu di matanya. “Kau lucu, Yun,” ujarnya sambil tertawa melihat Yunhee yang semakin beringsut di kursinya.

“Sama sekali tidak lucu, Oh Sehun.”

“Hahaha, tapi pipimu merah, Yun!”

“Karena aku kedinginan,” ujar Yunhee asal dan kembali menjilat es krimnya dengan tidak minat. Oh sialan, lelaki semampai itu berhasil menguapkan hawa nafsunya. Padahal di cuaca seperti ini sangat cocok untuk menikmati es krim dan―

“Apa? Kedinginan?”

Oke, Yunhee. Kau bodoh. Sejak kapan hari menjadi dingin?

“Sudahlah makan saja es krimmu dan jangan banyak oceh,” Yunhee berseru ketus dan membuang muka. Tapi Sehun malah semakin terpingkal nyaris terjatuh, bahkan es krimnya hampir saja naas jika ia tidak cepat-cepat menahan dan menggenggamnya lebih erat.

“Berisik!”

“Kau―kau benar-benar, Yun. Hahahaha.”

“Sudah makan saja sebelum tersedak, dasar keparat.”

Sehun meghentikkan tawanya dan membenarkan posisi duduknya. Mereka terdiam selama beberapa saat, mungkin hingga jarum detik berputar tiga kali penuh, ketika tiba-tiba Sehun teringat sesuatu.

“Omong-omong, kau bilang apa tadi? Siapa yang berciuman?”

Yunhee menoleh kaget dan geragap selama beberapa saat, “Kau salah dengar,” katanya asal.

Sehun memutar bola matanya dengan jenuh dan berujar, “Aku tidak tuli, Yun,” persis seperti yang Yunhee katakan beberapa saat lalu ketika ia salah bicara. Impas, ‘kan?

“Aku tahu kau tidak tuli, tapi sisapa saja bisa salah dengar, tahu? Mungkin yang kau dengar tadi suara bisikkan setan,” jawab Yunhee acuh tak acuh, membuat Sehun skak mat tidak tahu harus menyahut dengan argumen apa.

“Tapi aku yakin aku tidak salah dengar…,” ujarnya pelan sambil menijlat es krimnya dan mengingat-ingat apa yang didengarnya beberapa saat lalu. “Aku benar-benar yakin, Yun. Pendengaranku masih bagus.”

“Sudah makan saja es krimmu, kenapa banyak oceh sekali sih?”

Sehun merengut kesal dan membuang pandang keluar jendela. “Kalau kau tidak mau memberitahuku es krimnya bayar sendiri saja, ya?”

“A-Apa?”

“Aku tidak mau menraktir orang tukang mengalihkan pembicaraan sepertimu.”

“Y-Ya!” Yunhee mendengus kesal dan memicingkan matanya, “Kau ini maunya apa sih?”

“Katakan apa yang kau maksud tadi? Siapa yang berciuman?” Sehun bertanya dengan santainya sedangkan Yunhee mati-matian untuk menahan emosi. Demi Tuhan, apa ia harus bilang bahwa saat itu ia melihat Sehun berciuman dengan perempuan lain? Lantas bagaimana ia harus bereaksi? Biasa saja? Bertingkah tidak masalah seakan apa yang dicium Sehun adalah pohon? Astaga, siapa juga yang bisa bersikap ‘biasa-biasa saja’ setelah melihat―

“Hei,” Sehun mengetuk kepalanya pelan dan mendengus, “Malah melamun. Dasar.”

Yunhee mencibir kesal dan menyenderkan tubuhnya di sandaran. “Mau tahu banget atau mau tahu saja?”

Sehun memutar bola matanya dengan jenuh. “Inti dari kedua opsimu sama, ‘kan? Mau tahu banget atau mau tahu saja, ujung-ujungnya juga sama-sama memiliki keingintahuan. Sudahlah, kenapa bicara saja sulit?”

“Aku tidak mau bicara sebelum kau jawab siapa itu Jiae.”

“Haish―” Sehun mengerang frustasi, “―lalu kalau kujawab kau mau memberiku apa, heh?”

Yunhee mengerutkan keningnya seakan tengah menimbang-nimbang lantas tersenyum manis, “Bagaimana dengan traktir makan malam?”

Sehun menatap gadis itu dalam, seakan tengah membaca apa yang sedang direncanakan Yunhee dan menganggukan kepalanya sekilas, “Baiklah… walau sebenarnya kurang setimpal tapi karena aku sedang baik hati hari ini jadi yasudah.”

Yunhee terkekeh pelan dan mencondongkan tubuhnya untuk mendengar cerita Sehun, “Kalau begitu ceritakan.”

Sebelah tangannya terangkat menyentuh meja dan bertopang dagu sambil menjilat es krim, “Tapi aku tidak tahu harus mulai dari mana,” ujarnya rendah. “Kau… berjanji dulu padaku untuk tidak kabur dari sini setelah aku menceritakannya padamu.”

“Baiklah,” Yunhee menyetujui tanpa berpikir dua kali.

“Aku tidak yakin kau akan suka mendengarnya.”

Semuanya seakan kembali ke titik di mana pikirannya dipaksa untuk mengingat memori lawas. Sehun membiarkan irisnya terfokus keluar jendela, walau tidak ada satu pun objek yang menjadi fokus pandangannya. Entah ragu, atau belum siap melihat reaksi Yunhee atas ceritanya dulu, Sehun merasa kurang yakin untuk membongkar segalanya.

“Sehun?” suara Yunhee berhasil menariknya kembali dari lamunan tatap. “Kau masih disana?”

“A-Ah, ya…,” Sehun menggaruk tengkuknya sekilas dan tersenyum canggung. “Harus dimulai dari mana ya…”

“Dari awal kau mengenalnya,” jawab Yunhee langsung, enggan membuang waktu lebih lama hanya untuk menunggu Sehun melamunkan ini-itu.

Sehun terdiam sejemang lalu menghela napas panjang. “Dulu kami berteman…

…kami tinggal bertetangga di Apgeujong sebelum ayah memutuskan untuk pindah ke sini. Saat itu kondisi keluargaku sedang tidak stabil karena satu dan beberapa hal, jadi mau tak mau aku terpaksa menghabiskan waktu lebih banyak di luar rumah daripada harus mendengar pertengkaran orangtuaku.

Mulai saat itu kami sering pergi bersama. Jiae sering menemaniku menghabiskan hari di taman, atau pergi mencuri apel di pekarangan rumah Bibi Hwang ketika uang jajan kami habis. Di samping itu Jiae juga menjadi orang pertama yang melihatku menari dan mendukung cita-citaku untuk menjadi dancer terkenal, jadi kami semakin sering bersama sampai akhirnya kebersamaan kami seakan menjadi sesuatu yang amat penting dalam kehidupan sehari-hari. Aku membutuhkan dia, dia membutuhkanku. Semuanya terus berjalan seperti itu sampai akhirnya kami tumbuh besar dan mulai mencari kesenangan masing-masing.

Aku masih ingat sekali saat itu, ketika aku diam-diam mengisi formulir pendaftaran untuk menjadi trainee di StarEnt dan mengajak Jiae untuk pergi bersamaku. Saat itu Jiae menolak, katanya keluarganya menolak cita-cita Jiae untuk menjadi seorang penyanyi. Tapi karena aku bersikukuh untuk pergi bersamanya dan mengancam untuk putus sekolah, akhirnya Jiae mau dan ikut mendaftar tanpa sepengetahuan orangutanya.”

Sehun terdiam lagi dan mengambil napas panjang. “Aku gila, ya?” ia menoleh ke arah Yunhee dan mengangkat salah satu sudut bibirnya ke atas. “Aku tahu. Aku memang hilang akal saat itu.”

“Lalu apa yang terjadi?”

“Orangtuanya mengamuk ketika tahu bahwa Jiae ternyata lolos audisi dan diterima menjadi trainee. Sedangkan ayahku saat itu hanya diam dan tidak bersuara apa-apa. Namun Jiae yang kukenal memang tidak pernah putus asa, entah bagaimana caranya ia kabur dari rumah sambil membawa tanda tangan persetujuan ibunya untuk ikut trainee di StarEnt.

Akhirnya kami pergi bersama, mengikuti banyak latihan ini dan itu untuk mengasah kemampuan masing-masing. Tapi karena jalur kami yang berbeda―Jiae penyanyi sedangkan aku seni tari―kami tidak bisa menghabiskan banyak waktu untuk bersama. Kami mulai sibuk dengan urusan masing-masing dan mulai melupakan satu sama lain.”

Yunhee menggerakan tubuhnya dan bersender pada kursi, “Dan kalian putus hubungan begitu saja?”

“Tidak, sayangnya tidak sampai di situ saja. Sesungguhnya alangkah baiknya kalau hubungan kita selesai sampai di situ namun ternyata tidak. Sesuatu yang lebih buruk ternyata sudah menunggu.”

Sehun menatap Yunhee yang balas menatapnya dengan kedua alis terangkat.

“Ia terlibat skandal besar-besaran. Kalau kau merupakan salah satu diantara mereka yang update dengan berita gosip kau pasti tau kejadian ini. Saat itu malam sudah larut, sudah lewat beberapa jam setelah tengah malam. Kami baru saja selesai berlatih dan mendapat ponsel kami kembali. Aku pergi ke dorm dengan teman sebayaku dan bersiap untuk tidur ketika tiba-tiba ada berita mengenai skandal Kim Jay dengan salah seorang wanita.

Yang membuat kami heboh saat itu ialah foto yang disebar media massa diambil persis di depan gedung StarEnt di bagian pintu belakang, menampilkan seorang pria yang jelas-jelas merupakan Kim Jay dan seorang wanita entah siapa. Orang bodoh sekalipun tahu bahwa tidak mungkin ada trainee yang berkeliaran di luar gedung semalam itu, dasar tolol.

Namun bisa-bisanya CEO kami menuduh Jiae dan mengkonfirmasi bahwa gadis itu yang telah melakukannya. Dasar bullshit!”

Yunhee berdeham sejenak melihat emosi Sehun yang berapi-api dan mencoba beriskap setenang mungkin. “Lalu… itu hanya omong kosong?”

“Tentu saja, sialan. Wanita itu jelas-jelas bukan Jiae dan aku yakin 100%. Jiae yang kukenal tidak mungkin melakukan hal itu. Ia saja yang sudah dibodohi dan menerima tawaran ratusan juta untuk menutup skandal ini dan menyerahkan dirinya sebagai tersangka,” Sehun menggigit bibirnya dan mendengus kesal. “Sebenarnya… mungkin ini tidak akan terjadi kalau saja aku tidak memaksanya untuk ikut.”

Sebelah tangannya terangkat untuk menyelipkan helai rambutnya ke balik telinga dan menunduk menatap pantofel, lantas menghela napas panjang dan berujar pelan, “Hal itu juga tidak mungkin terjadi kalau Jiae tidak menerima tawarannya, benar begitu Hun?” Kini ia beralih menatap Sehun dan memiringkan kepalanya, “Lagipula Jiae terlalu tergiur dengan uang yang dijanjikan. Sebegitu pentingnyakah harta benda?”

Sehun merentangkan tubuhnya dan membiarkan es krimnya tergeletak di atas meja. “Aku bahkan tidak mengerti jalan pikirnya. Aku juga tidak mengerti untuk apa ia melakukan hal itu dan memilih untuk pergi meninggalkanku di sini. Maksudku, kalau saja ia datang padaku sehari sebelum kepergiannya dari dorm dan menjelaskan semuanya mungkin aku tidak akan sebenci ini. Atau mungkin…, kami masih bisa bersama? Entahlah. Tapi Jiae tidak pernah mau mengungkapkan alasannya padaku. Dan aku terlanjur membencinya.”

Yunhee terkekeh pelan dan menggelengkan kepala, “Hei, bukankah kau terlalu kekanak-kanakan? Kau bahkan membencinya sebelum tahu alasan yang sesungguhnya.”

“Bagaimana aku bisa tahu kalau dia tidak mau cerita? Demi Tuhan, bahkan teleponku tidak sekalinya diangkat pada saat itu. Aku kabur dari dorm selama seminggu penuh dan mencari keberadaannya tapi ia tidak bisa ditemukan di manapun. Orangtuanya sudah pindah rumah dan orangtuaku tidak tahu kemana perginya. Kau kira aku bisa tetap waras dan berakting seolah ia tidak melakukan apa-apa?

Hell, dia meninggalkanku demi uang, shit!”

Bukannya prihatin tapi Yunhee malah tertawa terpingkal dan menggeleng-geleng tidak percaya. Sehun yang melihatnya hanya memutar bola matanya dengan jenuh dan berdecih kesal.

“Kau keanak-kanakkan sekali, Hun-ah. Oh astaga, hahaha.”

Sehun mendelik tajam, “Ya! Kaupikir mudah membiarkan dia pergi? Kami sudah bersama sejak lama dan ia pergi begitu saja tanpa pamit demi setumpuk uang!”

Yunhee masih terpingkal dan nyaris menjatuhkan dirinya dari atas kursi. Pipinya sudah benar-benar sakit dan perutnya keram, “Oh astaga Tuan Oh, kau ini tidak sadar atau bagaimana sih?” ia bersusah payah bicara di antara ledakan tawanya, “Kalau sudah begitu bukankah artinya Jiae tidak menganggapmu seperti kau menganggap dia?”

“Apanya yang tidak―”

“Jiae seenaknya pergi meninggalkanmu tanpa pamit, bukankah itu berarti ia sama sekali tidak keberatan untuk hidup sendiri tanpa kehadiranmu? Itu sama saja bahwa kau tidak sepenting itu bagi hidupnya, Hun,” Yunhee menjelaskan dengan nada lebih tenang dan berusaha untuk tidak membuat Sehun merasa sakit hati. Walau begitu, dilihat dari sisi manapun ucapannya masih terdengar menusuk, apalagi bagi Sehun.

Lelaki itu hanya terdiam menatap Yunhee tajam-tajam dan mendengus kesal, “Terserah kau, dasar tidak punya hati.”

Yunhee menghela napas panjang dan mendekatkan dirinya dengan meja. “Sudahlah, lupakan Jiae. Tidak ada untungnya juga kau memikirkan dia yang mungkin tidak memikirkanmu.”

“Dasar berisik.”

Yunhee terkekeh pelan dan berusaha mengalihkan perhatian lelaki itu. “Kau mau kemana sekarang? Tidakkah kita masih punya banyak waktu untuk menikmati hari membolos kita?”

Sehun menggulirkan maniknya dari luar jendela dan menatap Yunhee dengan bibir terkatup rapat. “Kau mau punya ide?”

“Hmm, mungkin,” Yunhee tersenyum lebar dan bangkit berdiri. Tangannya segera menepuk pundak lelaki itu dan menarik siku sweater kremnya untuk mengajak Sehun berdiri.

“Aku punya suatu tempat yang ingin kukunjungi. Ayo.”

***

Sehun benar-benar tak habis pikir. Di umurnya yang sudah menginjak enam belas tahun, Yunhee bisa-bisanya mengajak mereka pergi ke taman bermain? Oh, demi Tuhan. Sehun merengut tak setuju begitu Yunhee mengutarakan idenya ketika mereka duduk berdua di dalam bis. Sayangnya sudah terlanjur, destinasi mereka sudah ditentukan dan mereka tidak bisa kembali.

Kalau sudah begini, jalani saja, pikir Sehun.

“Mau keman lagi?” Sehun bertanya acuh tak acuh ketika Yunhee menarik tangannya menuju deretan toko tak jauh dari sana.

Yunhee hanya memutar bola matanya dengan jenuh dan menyikut perut Sehun. “Berhenti bersikap manja, Oh Sehun! Temani aku ke sana.”

Sehun mendengus kesal dan mengikuti kemana gadis itu mau.

Sebuah kedai permen kapas berdiri di sana, lengkap dengan ornamennya yang rata-rata identik dengan warna pink cerah dan boneka beruang. Sehun memicingkan matanya dan menolak masuk, katanya kedai itu terlalu feminim dan Sehun tidak suka.

Yunhee yang mendengarnya tak bisa menahan tawanya dan langsung memukul pundak Sehun, “Jangan konyol, Hun. Masuk ke sini tidak membuatmu berganti jenis kelamin, tahu?”

Sehun tetap merengut dan menahan tarikan tangan Yunhee. “Pokoknya tidak mau,” ujarnya sambil membuang pandang dan mencibir kesal.

Ya! Jangan kekanak-kanakan, Hun. Nah, lihat. Bahkan pria itu mau masuk demi anaknya, masa kau tidak mau? Oh ayolah, temani aku sebentar sajaaa. Aku hanya akan memesan dan membawanya keluar, oke?” Yunhee memasang tampang sememelas mungkin agar hati lelaki itu tergerak sedikit, namun percuma. Sehun sama sekali tidak meliriknya dan malah memperhatikan gerombolan remaja yang sedang bersenda-gurau bersama teman sepantarannya.

Ya! Oh Sehun!” Yunhee berseru kesal dan menendang sepatu lelaki itu dengan gusar. “Cepat ayo masuk!”

“Tidak mau,” balas Sehun pendek dan malah membuat Yunhee semakin kesal.

“Kau mau kutinggal, hah?”

“Terserah.”

Yunhee memutar bola matanya dengan jenuh dan langsung meninggalkan Sehun dengan emosi. Diam-diam ia bersumpah-serapah dan mengomel ini-itu seraya jalan ke dalam kedai dan ikut berbaris bersama deretan anak-anak.

Tinggal dua anak lelaki lagi, dan Yunhee akan sampai di depan kasir.

“Permisi, ada yang bisa saya bantu?”

Yunhee tersenyum tipis dan menunjuk salah satu display di sana, “Permen kapas satu, yang rasa jeruk.”

Si pelayan wanita di hadapannya tersenyum sopan dan membungkuk, “Terimakasih, silahkan tunggu di sebelah sana,” ujarnya sambil menunjuk salah satu bangku di ujung kedai.

Yunhee segera pergi ke sana dan duduk bertopang dagu. Mungkin butuh sekitar lima menit, atau entah berapa lama untuknya menunggu. Tapi ternyata pelayannya tak kunjung datang dan memberikan permen pesanannya. Yunhee mendengus kesal dan melirik jam dinding di salah satu sisi.

Sudah sembilan menit.

Sialan.

Harus berapa lama ia menunggu hanya untuk sebuah permen?

Bukan, bukan. Bukan itu yang dikhawatirkannya tapi…

…apa Sehun masih setia menunggunya di depan?

Yunhee mendengus kesal dan menyenderkan punggungnya ke kursi. Baru saja ia hendak menghampiri pelayan di kasir ketika tiba-tiba seseorang dari samping mendatangi tempatnya duduk dan tersenyum manis seakan-akan ia tengah―

“Permisi?”

Eh?

“Maaf?” Yunhee menaikkan kedua alisnya heran, berasumsi bahwa lelaki itu telah salah mengenalinya. Atau mungkin lelaki ini adalah salah satu dari pria mesum yang katanya berkeliaran di taman bermain?

Oh, tidak, tidak. Tidak mungkin pria mesum menggunakan seragam sekolah, ‘kan?

Lelaki di hadapannya tersenyum canggung dan menggaruk tengkuknya yang Yunhee yakin sama sekali tidak gatal. “Ehm…, apa boleh adikku duduk di sana sebentar?”

“Eh?” Yunhee mengikuti arah pandang lelaki itu ke bangku di hadapannya sekilas dan kembali menghadapnya. “Adikmu?”

“Ya, adikku,” ujar lelaki itu seiring seorang laki-laki berumur dua atau tiga tahun muncul dari belakang kakinya dan menatap Yunhee dengan mata bulatnya yang bening. “Dia bilang dia lelah berdiri,” lanjut lelaki itu sambil menggandeng adiknya.

Yunhee yang tidak tahu harus berkata apa hanya mengangguk setuju dan membiarkan lelaki berambut cokelat itu menggendong adiknya dan meletakkannya di bangku seberang.

Tak lama anak itu bermain-main dengan buku menu yang ada di atas meja dan mulai menggigitinya dengan gemas. Yunhee yang melihat hanya tersenyum geli dan menarik bukunya kembali.

“Jangan yaa, adik. Nanti kertasnya tertelan,” ujar Yunhee gemas sambil mencubit pipinya sekilas. Tapi anak itu hanya terdiam menatap Yunhee dengan pandangan kosong dan menjauhi tubuhnya dari meja.

“Hahaha, maaf. Dia memang suka takut dengan orang tak dikenal,” ujar kakaknya sambil membungkukkan diri dan menopangkan sikunya pada meja. “Hano, kakak ini baik. Kenalan dong.”

Yunhee tersenyum gemas ketika anak itu mulai menjulurkan tangan dan memperkenalkan diri.

“Hano.”

“Hano?”

“Hano.”

Yunhee mengelus puncak kepala anak itu dan terkekeh pelan, “Berapa umurnya?”

“Baru dua tahun.”

“Ahhh,” Yunhee mengangguk mengerti dan menjulurkan lidahnya pada Hano. Anak itu hanya menyengir lebar dan ikut menjulurkan lidah pada Yunhee.

“Omong-omong kau tidak sekolah?” Si kakak dari anak laki-laki itu bertanya sambil menolehkan kepala kepada Yunhee yang jelas-jelas tidak menggunakan seragam sekolah.

Berdeham salah tingkah, Yunhee menyenderkan kembali punggungnya ke kursi dan tersenyum tipis, “Kau dari North Star High School, ya?”

“Eh? Tahu dari mana?”

“Haha, terlihat jelas dari seragammu, Jaehoon-ssi,” Yunhee menyahut sambil menatap name tag yang ada di kemejanya.

“Ah ya, benar juga,” lelaki bernama Jaehoon itu melirik name tag-nya sekilas dan kembali menatap Yunhee, “Bagaimana denganmu?”

“Hm, panggil saja Yunhee. Aku―”

“Yun.”

Tiba-tiba seorang lelaki semampai sudah berdiri di sampingnya, menatapnya tajam dengan kedua tangan dilesakkan ke dalam saku. Yunhee terpaksa memutus konversasinya sejenak dengan Jaehoon dan beralih menatap lelaki itu.

“Seberapa lama kau berencana duduk di sana, hem?” Sehun bertanya dengan nada santainya, namun matanya mendelik tajam dan membuat Yunhee sedikit salah tingkah di depan Jaehoon.

“Ehm.., aku sedang menunggu pesanan―”

“Permisi, ini pesanan Anda,” tiba-tiba seorang pelayan datang sambil membawa permen kapas pesanannya beberapa saat lalu dan langsung pergi meninggalkan mereka denan atmosfir canggungnya yang tiba-tiba menguadara.

Demi Tuhan, kenapa kemunculan Sehun justru membuatnya salah tingkah?

Yunhee berdeham pelan seiring Sehun yang menatapnya tajam bergulir menatap Jaehoon, “Maaf, tapi sepertinya gadisku tidak bisa berbincang lama-lama denganmu.”

“A-Apa?”

Sehun cepat-cepat menarik tangan Yunhee, mengabaikan seruan kaget dari gadis itu dan membawanya keluar kedai dengan emosi.

“Lepas, hei! Apa-apaan sih,” Yunhee menghempaskan lengan lelaki itu dan melirik tajam. “Katanya tidak mau masuk, hah?”

Sehun memutar bola matanya dan berdecih kesal. “Bagaimana mau tidak masuk kalau kau malah berlama-lama di dalam dan berduaan dengan dia, hah?”

“Dia, dia. Siapa yang kau sebut dia? Setidaknya Jaehoon mau menemaniku sebentar di―”

“Oh. Bahkan kalian sudah berkenalan rupanya?” Sehun menaikkan alisnya beberapa senti ke atas dan menggeleng tidak mengerti. “Bahkan aku baru mengalihkan tatapanku darimu sebentar saja dan kau sudah bersama lelaki lain?”

Yunhee mengedipkan matanya beberapa kali dan terbelalak tak percaya. “K-Kau ini bicara apa sih, Hun? Kami hanya berkenalan, tidak lebih. Kenapa juga kau harus sekesal ini sih?”

Baru saja Sehun hendak menyahut ketika tiba-tiba segerombolan gadis entah dari sekolah mana menghampirinya dan menepuk pundaknya sok akrab. Seakan sudah mengenal lelaki itu sejak lama dan langsung menyapanya, “Oi, Oh Sehun! Lama tak jumpa.”

“A-Apa―”

“Kau sudah banyak berubah, wah. Kau tidak lupa dengan kami ‘kan?”

Sehun melongo selama beberapa saat dan langsung mundur beberapa langkah. “Kalian―”

“Masa kau lupa? Aku teman sebangkumu dulu, astaga. Mentang-mentang sudah punya kekasih, ha?” Gadis berambut pirang yang sempat menepuk pundak Sehun tadi beralih menatap Yunhee dan terdiam selama beberapa saat.

“Seleramu… selaramu seperti ini, Hun?” Gadis pirang itu menaikkan sebelah alisnya dan berdecih. “Gadismu pendek sekali. Dandanannya juga kuno dan astaga, lihat bajunya. Benar-benar tidak trend. Kenapa pula kau memilih gadis seperti ini?”

“Oh, jangan-jangan dia selingkuhanmu, ya?” timpal gadis lain yang berambut hitam sebahu dan berbulu mata lentik. “Oi, jangan percaya dengan Sehun. Di hatinya itu hanya ada Jiae, Jiae, dan Jiae. Mana mungkin dia―”

BRAK!

Sehun sudah tidak tahan lagi. Sebelah tangannya terangkat untuk menggebrak dinding di sampingnya dan menatap gadis-gadis itu satu persatu dengan tajam, seakan tengah membunuhnya dari balik iris hitam gelap itu.

“Sudah puas ocehannya, nona murahan?” Sehun berdesis menahan emosi dan tersenyum sarkastis. “Waktuku dengan gadis itu terlalu berharga untuk dihabiskan dengan ocehan bangsatmu itu, mengerti?”

Sehun segera berbalik meninggalkan gadis-gadis itu dan menarik Yunhee pergi tanpa berkata apa-apa lagi. Persetan dengan seruan mereka dan sumpah-serapah yang diteriaki. Siapa peduli?

Yunhee membiarkan lelaki itu menariknya. Masih terlalu syok dengan kejadian singkat yang baru saja terjadi.

Apa? Tubuh pendek? Dandanan kuno? Baju tidak trend?

Seenaknya saja menghakimi orang. Yunhee mendengus kesal dan membuang pandangnya ke bawah dengan gusar.

“Kau tidak apa-apa?” Sehun bertanya sesampainya mereka di salah satu bangku dekat komidi putar.

Yunhee mengangkat dagunya sedikit dan tersenyum tipis, “Tidak apa-apa.”

“Kenapa? Kau ingin aku membalas mereka lagi? Atau kau ingin aku―”

“Tidak perlu, Hun,” Yunhee terkekeh pelan dan melahap permen kapasnya dengan santai. “Kau sudah membelaku saja itu sudah cukup.”

“Benarkah?” Sehun tidak bisa menatap wajah gadis itu yang tenggelam di balik permen kapas. “Kau benar tidak apa-apa?”

“Hm.”

Sehun mengerutkan keningnya karena Yunhee tak kunjung menyingkirkan permen kapas sialan itu dari depan wajahnya dan malah semakin menunduk. “Yunhee-ya kau ini―”

“Apa-apaan―”

“YA! OH SEHUN!”

Sehun terbahak bukan main begitu melihat reaksi Yunhee ketika ia mendekatkan wajahnya dan ikut melahap permen kapas bersamaan dengan gadis itu. Wajahnya memerah, benar-benar khas Yunhee yang tengah menahan malu.

Oh Demi Tuhan, kenapa gadis ini lucu sekali sih?

Sehun membiarkan tawanya lepas begitu saja seraya memegangi perutnya yang mulai keram. Sialan. Jung Yunhee sialan.

“Berhenti tertawa kau keparat!” Yunhee mencubit kencang lengan lelaki itu yang malah membuat Sehun semakin terpingkal. “Apanya sih yang lucu?!”

Lelaki semampai itu malah menjulurkan tangannya dan mengacak rambut Yunhee dengan gemas. “Berhenti bersikap sok imut.”

“Siapa yang sok imut?!”

Sehun kembali terkekeh dan kembali melahap permen kapas dari genggaman Yunhee. “Omong-omong permen kapasnya enak juga. Mau belikan untukku?” ia mengedipkan matanya seakan tengah memelas dan malah mendapat toyoran dari Yunhee.

“Beli sendiri sana!”

Ya! Masa kau tidak mau memberiku apresiasi setelah membelamu tadi?”

“Persetan.”

Sehun mengikuti gadis itu bangkit berdiri dan langsung menggandeng tangannya. “Kalau begitu kita mau pergi kemana lagi?”

“…” Yunhee diam tidak menjawab.

“Kau mau mencoba komidi puter?”

Yunhee menoleh menatap wahana permainan di sampingnya dan berbalik menatap Sehun. “Kau bilang kau tidak mau main wahana permainan apapun?”

Skakmat. Sehun terdiam selama beberapa saat dan hanya menatap gadis di sampingnya.

But who cares? Yang penting mereka bersenang-senang hari ini.

Sehun kontan terkekeh pelan dan merangkul gadis itu untuk mengikutinya pergi. “Ayo kita ikut mengantri.”

Yunhee mencibir namun tetap mengikuti kemana lelaki itu mengajaknya. Entahlah, mungkin otaknya sudah rusak hari ini dan entah setan apa yang membuatnya nurut dengan lelaki itu. Yunhee tidak peduli.

Yang penting sekarang ia sudah keluar dari rumah sakit dan bisa tertawa lepas untuk beberapa saat. Setidaknya kini ia bisa kabur dari kenyataan buruk yang mungkin menanti di depan.

.

tapi harus sampai kapan?

harus sampai kapan mereka terus-menerus menutup diri dan berlagak pura-pura?

.

.

.

― TBC ―

.

.

[a/n]: Heiho! Apa kabar kalian wkwkwk. Kayaknya chapter ini panjang sekali ya hahaha, nyampe 25 lembar nihh X). Maaf kalo nge-post-nya (lagi-lagi) agak delay. Sebenernya aku punya target nge-post seminggu sekali entah hari Sabtu atau Minggu, tapi ternyata kemarin capek total karena ada event sekolah jadi yaah.., gitu deh. Hehe. Makasih buat kalian yang masih bersedia bacaaa ❤ Love you to the moon and back and back and backkk 😀

p.s) ngomong-ngomong maaf kalau aku baru sempet reply komen kalian di chapter sebelumnya T_T

p.s_part2) maaf juga kalo di sini jongin sama sekali gak muncul TT_TT


contact me:

LINE ID euntheana || @eun_ryi || euntheana@gmail.com


76 tanggapan untuk “Everything Has Changed (Chapter 16)”

  1. waaaaah. Jadi penasaran kelanjutannya bagaimana. Sehun yunhee sementara sama meninggal kan luka untuk bersenang2, bisa kah mereka seterusnya begitu? Asli sehun cemburuan banget ya. Ahahha. Dan bagaimana dengan jongin. Hanna, serta kedua org tua mereka . Huaaaah

  2. eonnie ini kapan dilanjut? alias ngepost chapter 17 nya? eonnie bilang di LINE (pas aku minta PW chap 7) ngepostnya abis UN? tapi sekarang eonnie udah kelas 1/2 SMA (maybe) kan?? next plsㅠㅠㅠㅠ

  3. wuahh eonni kapan di publish lanjutannya nih XD…
    di tunggu banget.. malahan hampir tiap hari aku kunjungi blog kamu tapi ga ada lanjutan nya 😥
    udah hampir 7 bulan nih eonni.. jgn lama2 hiatus nya donk..
    eonni jebal eoh XD
    #buing_buing

  4. Author..aku ngoment lagi nieh..sebelumnya thn 2014 bulan november kmaren.
    belum dilanjutin ya thor chapter 17nya…penasaraaaaaan bnget thor sama klanjutannya..jgn lama ya thor hiatusnya

  5. lagi hiatus ini ff nya? aku bakal nunggu sampai ada lagi chapter baruuuuu
    udah ga sabar sama sehun yunhee ngungkapin perasaannya, hehehehe

  6. aduuhhh koq saya telat banget baru baca??? 😦
    dichapter ini lagi happy yah huehehe tapi gk tau nnti lanjutannya (?)
    campur aduk deh kalo baca ff ini..
    lanjuut yah eunike knpa ini post dri bulan Nov 2014 sampe sekarang saya baca 12 Feb 2015 blum ada lanjutannya??
    ditunggu banggeettt 😀

  7. Asdfhjkl aku kira di chapter ini akan ada kejadian fenomenal antara Sehun sama Yunhee terus mereka bakalan pacaran gitu ternyata enggakT.T aku kesel deh sama mereka jadinya udah jelas-jelas saling suka tapi gak ada yang mau ngungkapin apa? Jelas-jelas Sehun berani bilang ke Jongin tapi kenapa dia gak berani bilang ke Yunhee sih huuuuu gemeesss

  8. huaaaaaaaa jongin.q gag ada sama sekaliii. . Huhuhuhuhu
    Aduh knpa sehun jd makin dket gt ya ama yunhee, , ,
    Aduh,jongin ny kmana saeng?kok gk muncul sih. . .padahal aq mau.nx orang yg ditemui yunhee stlh kluar dr rumah sakit itu jongin. . Huaaaa
    Plizt3, , jongin musti kudu ama yunhee,biarkan sehun kmbali sama jiae . .

  9. Haduuuuuh kalo gini maiin gatega– otrang tua mereka jangan nikah donk!! Biar yunhee sama sehun aja– kan kasiiihaaaaaan mereeeeka klop bgt gituuuu 😥

  10. aiih geregetan ama sehun ama yunhee… tpi kasihan juga klo mereka jdi kakak adik… tpi kasihan kai juga.. trus masalah yunhee yg alkohol sama obat tidur itu maksud yunhee buat apa? dan ternyata itu luhan nyembunyiin dri sehun awalnya… saeng ditunggu kelanjutannya ya.. jangan lama lama^^

  11. Gemes liat Sehun sama Yunhee, belum pacaran tpi udah romantis .. Sehun tu keliatan kyk orng yg pnya bnyak kepribadian tapi itu yg aku suka ..

    Sorry aku gk sempet comment di beberapa chapter yg lalu karna baca ngebut dan baru sempet serching ttng ff pas libur lama kyk skrng ._.v
    sekian ~

  12. aku jadi tertarik bikin ff, karena baca ff ini, jadi aku lagi nulis ff chapter walaupun masih 02 liner kayanya aku tertarik bikin ff. walaupun nanti banyak yang ga suka, tapi coba aja. Next chapter ya

  13. itu sebenarnya yunhe sakit apaan sih ?
    sehun sebenarnya masih kangen jiae kh ?
    perasaan sehun ke yunhee itu gimana sih sebenarnya ?
    gregetan jadinya sehun nda ngungkapin perasaannya ke yunhee ….
    oke fitunggu next chap

  14. Sehuuun…cepet donk ungkapin perasaanmu ke yunhee..mbikin reader gemez aza sma couple ini..ku pngen liat sehun ma yunhee jadian secepatnyaaaa….

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s