Everything Has Changed (Chapter 15)

Everything Has Changed 4

 

Everything Has Changed

[ Chapter 15 | Romance, School life | General ]
with Kim Jongin,
Oh Sehun,
and OC Jung Yunhee as the main cast

by

Eunike

[ I own only the story. A big thanks to Tazkia (SpringSabila) from Cafe Poster for the awesome poster! Love yaa 😀 ]

Series : Prolog + Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 |  Chapter 5 |  Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8 | Chapter 9 | Chapter 10 | Chapter 11 | Chapter 12 | Chapter 13 | Chapter 14 | Chapter 15

***

“Dia menyuruhku pergi. Pergi dari pandangannya. Pergi dari kehidupannya. Pergi dari dunianya. Kau tidak mengerti apa artinya itu?…”

***

Previous chapter

Sekarang, atau tidak sama sekali. Lantas ia mengayunkan tangannya ke atas, menekan kenopnya ke bawah seraya menahan napas.

Ceklek.

“Yun?”

***

CHAPTER 15

 

“Yun?”

Sehun merasa gugup setengah mati, seakan tenggorokannya tercekik oleh seutas tali. Tangannya yang berkeringat entah karena apa perlahan melepas kenop pintu dan kini dilesakkan ke dalam saku.

Bukannya takut, hanya saja Sehun merasa belum siap untuk menerima kemungkinan yang ada; entah Yunhee akan menerimanya, atau menolaknya karena satu dan beberapa hal. Sehun sedikit mengulaskan senyum kaku dan berdeham pelan, “Kau tidur?”

Derit kasur di tengah ruangan itu terdengar nyaring di antara bunyi konstan kardiograf di sudut dinding. Tanpa sadar Sehun menahan napas.

“Kenapa… kau datang?” Gadis itu enggan berbalik dan menatap Sehun, ia kerasan menatap dinding polos di hadapannya.

“A-Aku hanya ingin—”

“Keluarlah.”

Sehun terdiam seribu bahasa. Bukan karena terkejut, hanya saja dadanya mendadak pilu mendengar seutas kata yang terucap begitu lugas sekaligus menyakitkan dari kedua bibir Yunhee. Begitu menusuk. Singkat namun tajam.

“Maaf,” Sehun bergumam, “Ini salahku.”

Saat itu keadaan kembali hening dan Sehun mati-matian menahan diri untuk tidak melangkah mendekat. Mati-matian menahan perasaan rindu untuk tidak memeluk tubuh ringkih gadis itu dan menyerukan kata ‘maaf’ berulang kali, dan Sehun hanya bisa memejamkan mata dan menunduk dalam. Menunggu kata selanjutnya untuk memecah keheningan.

Tapi ternyata Yunhee tidak bicara apa-apa lagi. Gadis itu tetap memunggunginya dan mengatup bibir rapat-rapat.

Sehun tahu gadis itu marah.

Sehun tahu gadis itu muak melihat wajahnya.

Sehun tahu dan mengerti segalanya. Namun sebagian dari dirinya tidak mau mengakui. Sebagian dari dirinya belum saggup menerima segala sesuatu yang terjadi saat ini.

“Kau… benar-benar tidak mau memaafkanku?” suaranya begitu lirih, seakan tenggorokannya dicekik oleh seutas tali. Ia menunggu selama beberapa saat hingga jarum detik berputar enam kali penuh, dan ia tetap tak kunjung mendapat jawaban.

Sehun kembali tersenyum pilu dan menunduk menatap secarik kertas lusuh di tangannya. “Apa bagimu lebih baik aku menghilang?”

“….”

Percuma. Segala sesuatu hanya akan percuma. Seharusnya Sehun tahu itu. Ia meremas kertas di tangannya dan bersusah payah menahan panas di area matanya. Sekali lagi ia menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan, sebelum akhirnya berujar lirih, “Kalau begitu aku pergi.”

“Terimakasih, Yunhee. Sampai jumpa.”

Dan berakhirlah segala sesuatu itu. Semuanya sudah selesai. Sehun tersenyum sekali lagi kearah Yunhee dan berbalik menuju pintu; membiarkan tangannya memutar kenop dengan sisa-sisa tenaga yang ada dan menyeret tubuhnya keluar.

Begitu pilu dak sesak di dadanya, namun Sehun tidak peduli. Ia hanya perlu belajar untuk melepaskan apa yang belum sempat digenggam, bukan begitu?

Namun kenapa rasanya sulit sekali?

***

“Permisi, Nyonya Jung?”

Wanita berambut cokelat kehitaman yang tengah duduk di bangku kafe rumah sakit paling pojok perlahan mendongak dan tersenyum ketika Luhan membungkuk sopan. Ia buru-buru bangkit berdiri dan ikut membungkuk.

“Selamat malam, Dokter Xi.”

“Selamat malam, Nyonya Jung.”

Akhirnya mereka menundudukkan diri berhadapan; Luhan sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan sedangkan Nyonya Jung menyembunyikan tangannya yang terkepal cemas di bawah meja.

“Jadi.., bagaimana perkembangan Yunhee?”

Luhan terdiam sebentar dan kembali tersenyum tipis. Kedua tangannya yang terlipat di atas meja seakan menunjukkan sikap tenangnya, membuat Nyonya Jung sedikit relaks.

“Keadaannya sudah sedikit membaik,” ujar Luhan sambil menahan ekspresinya untuk tidak berubah. “Hanya saja…, sepertinya ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan.”

“…Apa?” Ia bergerak pelan, menegakkan tubuhnya.

Luhan yang semula tersenyum tipis perlahan berubah menjadi serius. Mata cokelat teduhnya bergerak menatap Nyonya Jung yang mulai gelisah, sebentar-sebentar wanita itu meremat tangannya dan berdeham pelan.

“Seperti yang sudah Anda ketahui, keadaan jantung Yunhee semakin lama semakin lemah. Walau ada obat-obatan sebagai penyokong, namun tidak berarti Yunhee bisa terlepas dari penyakitnya,” Luhan menarik napas sekilas dan menghelanya perlahan, “Apalagi Yunhee sempat mengonsumsi alkohol dan obat tidur, menyebabkan kinerja jantungnya semakin memburuk. Kalau begitu hanya ada satu-satunya cara. Jika hari itu terpaksa tiba, maka jalan keluar yang harus dilakukan ialah dengan transplantasi jantung.”

Suasana mendadak hening, hanya terdengar sayup-sayup obrolan pengunjung kafe yang berlalu-lalang. Aroma kopi-kopian serta keju panggang pun tak lagi tercium. Semuanya nampak menjadi abu-abu. Dengan tangan gemetar, Nyonya Jung menggigit bibir bawahnya dan berusaha menjawab dengan nada setenang mungkin.

“Transplantasi… jantung?”

“Ya. Ini satu-satunya jalan keluar untuk mengatasi masalah jantung kongenital. Kami tidak memaksa, namun harap ini menjadi bahan pertimbangan untuk Anda dan pasien.”

***

Suara musik terdengar samar dari tempatnya berdiri. Sebuah antrian panjang berada di depannya, memenuhi hall di depan sebuah bangunan megah yang kini dipenuhi lampu sorot. Suasana riuh, begitu menggegap di antara sapuan angin musim panas yang sedikit lembab oleh tepian musim gugur.

“Kau.. serius, Han?”

Hanna dengan rambut emasnya yang digerai bebas kesamping hanya tersenyum lebar. Sebuah kilat cemas memang sempat berselebat di kedua matanya, namun kini tergantikan dengan binar penuh harap begitu Jongin perlahan menarik kedua sudut bibirnya untuk ikut tersenyum lebar.

“Untukku?” Jongin menunjuk dirinya sendiri dengan tatapan tidak percaya, seakan ribuan kata tersekap di mulutnya, ia menelan ludah dengan gugup. “Kau benar-benar, Han.”

“Aku serius.”

“Aku tahu.”

“Kau suka?”

Jongin menunduk menatap sebuah tiket VIP di tangannya; di mana terletak tanggal hari ini dan sederet nama idola yang dikaguminya sejak lama. Ia tak percaya, sungguh. Dari mana Hanna mendapatkan tiket khusus yang tentu sudah menjadi rahasia umum bahwa hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mendapatkannya? Jongin nyaris beranggapan bahwa ia mungkin tertidur di suatu tempat dan bermimpi tentang hal mustahil seperti ini.

“Aku—

—tidak tahu harus berterimakasih seperti apa, Na-ya.”

Namun Hanna lagi-lagi hanya tersenyum dan mencondongkan tubuhnya ke dekat Jongin dan berujar, “Melihatmu senang saja sudah cukup sebagai ucapan terimakasih.”

Jongin tersenyum, “Terimakasih, Hanna…

.

.

…sayangnya, sepertinya aku tidak bisa bersenang-senang seorang diri.”

“Maksudmu?”

“Aku…—aku sama sekali tidak bermaksud untuk tidak menghargai pemberianmu ini tapi—kau tahu, Yunhee sedang berada di rumah sakit. Tidak mungkin aku meninggalkannya dan bersenang-senang sedangkan ia menderita di dalam sana, ‘kan? Oh, sungguh Hanna, aku tidak bermaksud membuatmu tersindir tapi—”

“Kau egois,” Hanna menyela, sambil memalingkan wajahnya dari tatapan Jongin. “Kau egois, Jong!”

“Aku tidak ber—”

“Yang ada di pikiranmu hanya Yunhee, Yunhee, Yunhee, dan Yunhee. Kau ini buta? Atau pura-pura tidak tahu? Kau tidak sadar bahwa selama ini Yunhee hanya menganggapmu teman?” suara Hanna meninggi seiring dengan wajahnya yang memerah menahan emosi. “Ia mengaggapmu teman sedangkan kau menganggapnya lebih, apa kau tidak berpikir bahwa tindakanmu semua hanya percuma? Sampai kapanpun sahabat tetaplah sahabat, seharusnya kau tahu itu, Jong. Dengan mengejarnya sama saja dengan kau merusak hubunganmu dengan Yunhee, tahu?”

Jongin terdiam sejemang, mencoba mencerna setiap kata yang mengalir deras dari bibir Hanna.

“Kau benar-benar egois,” ulang Hanna.

“Lantas apa bedanya denganmu?” Jongin menoleh dan tersenyum ganjil, membiarkan irisnya bertemu dengan milik Hanna dengan tajam. “Bukankah kau juga egois?”

“A-Apa—”

“Kau meneleponku, menyuruhku datang ke sini, mengajakku menonton konser tunggal seorang idola ternama, sedangkan kau tahu Yunhee tidak sedang dalam kondisi baik. Kau ini—kau kira aku suka tingkahmu yang seperti ini?” napasnya menjadi berat dan putus-putus akibat ikut terbakar emosi. “Kalau begini caranya jangan hubungi aku lagi.”

Di sana Hanna terdiam membatu, tidak bisa berkata apa-apa. Matanya kembali berair dan tangis mengancam pecah, namun bibirnya yang bergetar masih hendak mengatakan beberapa patah kata ketika Jongin berbalik dan mengayunkan tungkainya menjauh.

“Kim Jongin bodoh! Kau tidak tahu kalau aku menyukaimu sejak dulu?!” Gadis itu berlari, mengabaikan berpuluh pasang mata yang menatapnya dengan sebelah alis terangkat. Tangannya yang menggegar terulur ke depan untuk memeluk pinggang lelaki itu, meletakkan dahinya di punggung Jongin dan menangis sejadi-jadinya.

“Aku menyukaimu, bodoh!” Hanna berteriak lantang di antara isak tangis, namun Jongin kerasan dalam gemingnya dan tak berniat menyahut.

“Dasar bodoh, bodoh, bodoh! Kau benar-benar tega meninggalkanku sendirian di sini?! Setelah perjuanganku mendapatkan tiket itu untukmu?!”

Bisik-bisik dari orang-orang di sekitar mereka yang kebetulan melihat mulai terdengar, diiringi tatapan ganjil bercampur iba dan tanya. Jongin mengedarkan pandang dan mendengus pelan, sekonyong mengangkat kedua tangannya dan melepas pelukan Hanna.

“Pulanglah,” Jongin berbisik, tidak mau menyebabkan tangis gadis itu semakin pecah. “Aku… benar-benar tidak bisa menerima perasaanmu, maaf.”

Setelah berujar begitu, Jongin mengambil tiket pemberian Hanna dari sakunya dan mengembalikannya ke tangan gadis itu. Sambil tersenyum tipis, Jongin mengulurkan tangannya untuk mengusap puncak kepala Hanna dan menghapus air matanya lembut.

“Maaf, Hanna.”

“Kim Jongin bodoh.”

“Maaf.”

“Kim Jongin bodoh.”

“Maaf…”

“Kim Jongin bodoh!”

“Ya. Aku bodoh. Maafkan aku.”

“…bodoh. Bodoh, bodoh, bodoh.”

Tidak mau memperpanjang masalah lagi, Jongin tersenyum tipis dan memutuskan untuk merangkul gadis itu melewati orang-orang di sekitar mereka yang terlanjur menyaksikan kejadian tadi. Hanna masih menangis dalam geming. Jongin terdiam seribu bahasa.

Keduanya yang sama-sama tengah menginjak fase remaja; kini berjalan di bawah temaram perak rembulan; membiarkan keheningan memimpin waktu.

“Kim Jongin bodoh…”

“Ya, maaf.”

***

Tok tok tok.

Derit samar terdengar seiring dengan daun pintu yang terbuka. Ibu Yunhee—Nyonya Jung—melangkah perlahan menyebrangi ruangan dan menghampiri anak gadisnya yang terbaring di atas ranjang.

“Yun?”

Ranjangnya berderit samar ketika Yunhee perlahan bangun dari rebah. “Eomma?”

“Hm.”

Eomma kembali lagi? Sudah dapat apartemen?”

“Belum. Eomma bawa buah-buahan, mau?”

Yunhee mengangguk kecil dan menerima sebuah apel dari tangan ibunya. Sebuah pisau buah yang berada di samping gelas mineral digunakannya untuk mengupas kulit, sedangkan ibu memperhatikan setiap gerak-gerik Yunhee dengan intens.

“Mau Eomma bantu?”

“Tidak, terimakasih.”

“Sepertinya kau masih le—”

“Aw!”

“Yunhee!”

Yunhee cepat-cepat melepas apel dan pisau buahnya ketika darah segar mengalir dari luka goresan akibat terbeset pisau. Sambil meringis pelan, ia menghisap lukanya dan tersenyum kecil agar ibunya tidak khawatir.

“Hanya luka kecil, Eomma.”

“Kenapa tidak hati-hati sih?” Ibu bangkit berdiri dan ikut melihat lukanya yang tergores di ujung jari telunjuk. “Butuh obat merah?”

“Tidak usah, nanti juga sembuh sendiri.”

“Yakin?” Ibu masih terlihat khawatir, dahinya berkerut cemas. “Perih sekali tidak?”

“Tidak, Eomma. Sungguh. Kau berlebihan,” Yunhee tersenyum kecil melihat ibunya yang panik hanya karena luka kecil.

“Kau tadi melamun, tahu,” ujar ibu sambil mengambil alih apel dan pisau buahnya. “Ada yang sedang dipikirkan?”

“Tidak,” dusta Yunhee sambil memaksakan seulas senyum. Ia menyelonjorkan tubuhnya pada tumpukan bantal dan melirik keluar jendela; membiarkan matanya menatap taburan bintang di antara kegelapan malam.

“Sepertinya sedang ada masalah,” bunyi —ting samar terdengar ketika ibu meletakkan pisau buahnya ke atas piring kecil, “bertengkar dengan Jongin?”

Yunhee buru-buru menggeleng dan menjawab, “Tidak,” dengan tegas. Namun ibu masih menangkap gelagat aneh dari Yunhee dan merasa ada yang tidak beres. Gadisnya tidak lagi tersenyum seperti biasa ia lakukan di keadaan seburuk apapun. Sedari tadi Yunhee hanya melamun, tatapannya kosong dan bibirnya sama sekali tidak membentuk seulas lengkung.

“Jujur saja. Matamu tidak berbohong.”

Yunhee menahan napas, lalu menggigit bibir bawahnya. “Aku bahkan tidak tahu apa yang salah denganku.”

“Ini bukan soal Jongin?”

“Bukan.”

“Masalah dengan temanmu?”

“Bukan.”

“Lalu?”

Yunhee diam tidak menjawab.

Ibu baru saja hendak bertanya lagi ketika tiba-tiba ia ingat sesuatu, “Apa ini tentang… lelaki itu?”

Kepala Yunhee menoleh cepat ketika ibu memaksudkan laki-laki selain Jongin. Dari mana ibu tahu? Yunhee meremas selimutnya lagi dan berbisik pelan, “Ya. Ini tentang… Oh Sehun.”

***

“Ya. Ini tentang… Oh Sehun.”

Yunhee kembali menunduk meremas selimutnya sambil mencoba menahan gejolak emosi yang tiba-tiba memimpin perasaannya. Dadanya menjadi sesak, napasnya kembali tak beraturan.

“Ada apa denganmu dan Oh itu?”

“Ada sesuatu yang… sulit dijelaskan.”

“Kau tidak mau cerita?”

Sebelah tangannya terangkat menyentuh surainya yang panjang dan menyelipkannya ke balik telinga. Ragu. Karena ia bahkan tidak yakin dengan perasaannya sendiri. Semuanya terasa begitu rumit, begitu sulit dimengerti, begitu memusingkan dan sulit diuraikan dengan kata-kata. Ia kembali menggigit bibir bawahnya dan menghela napas panjang.

“Aku menyuruhnya pergi.”

Kening ibu berkerut samar, “Lalu?”

“Tapi sepertinya dia salah mengerti.”

Yunhee menarik napas panjang dan menghelanya perlahan, mencoba mengusir sesak yang semakin menjadi-jadi. “Aku memang egois…”

“Kau tidak hendak memberitahunya?”

“…aku tidak tahu.”

“Beritahulah, jangan sampai kesalahpahaman ini menjadi berkepanjangan.”

Yunhee terdiam dan tersenyum tipis. “Semoga.”

Ibu mengulurkan buah apelnya yan sudah dikupas kulitnya lalu balas tersenyum. Tangannya menepuk puncak kepala Yunhee sekilas, sedangkan satu tangannya yang bebas merogoh sakunya.

“Ini, tadi ada di dekat pintu.”

“Apa?”

“Baca saja.”

***

Semakin dipikirkan semakin membuat pusing. Sehun duduk berselonjor di ruang tamu rumah Luhan, memejamkan matanya seraya memijat pelipis. Tak peduli lagi seberapa mewah rumah Luhan atau seberapa mengangumkannya ornamen-ornamen eropa di sana; Sehun hanya bisa memusatkan pikirannya pada Yuhee. Yunhee, Yunhee, dan Yunhee.

Derit pintu samar terdengar, disusul sapa ramah dari si pemilik rumah.

“Kau pulang lebih dulu, hm?” Luhan meletakkan sepatunya di rak dan berjalan ke samping lelaki itu. “Kau sudah menjenguk gadismu?”

“Berisik.”

Sehun memalingkan wajahnya dari tatapan Luhan dan mendengus pelan, sedangkan lawan bicaranya hanya terkekeh kecil dan ikut berselonjor. Matanya ikut menatap televisi di hadapannya; namun sama sekali tidak berniat menonton satu tayangan pun.

Ia menepuk pundak Sehun dan berujar, “Bagaimana dia?”

“Apanya yang bagaimana.”

“Kau terlihat frustasi.”

Sehun berdecih kesal.

“Kau sudah menjenguknya, belum?”

“….”

“Belum?”

“Menurutmu?”

Luhan terdiam lalu mengangguk, “Sepertinya sudah?”

“Kalau sudah tahu jangan bertanya.”

Lelaki itu menghela napas panjang, sedikit jenuh menghadapi laki-laki labil seperti Sehun. “Kenapa? Terjadi sesuatu yang.. buruk?”

Matanya yang terpejam perlahan terbuka; menatap Luhan dengan sayu. Kontan, ia kembali memalingkan muka ketika Luhan menunjukkan keterkejutannya.

“Kau.. menangis?”

“Berisik.”

Matanya membulat ketika Sehun memutar badannya memunggungi Luhan, namun punggung laki-laki itu bergetar mencoba menahan ledakan emosinya. “K-Kau kenapa, Hun?”

“Berisik!”

Panik, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ini pertama kalinya untuk Luhan melihat Sehun menangis walau lelaki itu tidak menunjukkannya secara gamblang. Sebelah tangannya terangkat hendak menyentuh pundak Sehun, namun tiba-tiba terhenti ketika Sehun berujar dengan pelan—nyaris tidak terdengar.

“Dia menyuruhku keluar.”

Luhan mengerutkan keningnya, “Keluar? Keluar ke mana?”

“Ia menyuruhku keluar ketika aku datang ke kamarnya.”

Luhan masih tidak mengerti. “Lalu kenapa? Ah, maksudku, mungkin dia sedang ingin sendiri atau apa. Kenapa pula kau menangis hanya karena hal itu? Sejak kapan Sehun menjadi cengeng?”

“Berisik!” Sehun yang masih memunggungi Luhan langsung mengulurkan tangannya untuk memukul pundak lelaki itu. “Kau tidak tahu apa-apa.”

“Tapi Sehun kau—”

“Dia menyuruhku keluar! Kau tidak mengerti apa artinya keluar?”

Luhan semakin tidak mengerti.

“Dia menyuruhku pergi. Pergi dari pandangannya. Pergi dari kehidupannya. Pergi dari dunianya,” jelas Sehun. “Kau tidak mengerti apa artinya itu?…

….lagi-lagi kehadiranku tidak diinginkan.”

“Sehun-ah—”

“Apa hidupku benar-benar tidak seberharga itu, Hyung?”

Luhan menelan ludahnya, kaget bukan main dengan ujaran Sehun. Punggung lelaki itu semakin bergetar, sehingga Luhan tidak perlu melihat wajahnya hanya untuk mengetahui apakah ia menangis atau tidak.

“Kau tidak boleh bicara seperti itu.”

“….”

“Mungkin saja kau salah paham,” ujar Luhan menenangkan, namun Sehun tampaknya tidak peduli lagi.

“Lusa aku pergi.”

Luhan kembali mengerutkan keningnya. “P-Pergi kemana lagi? Sehun jangan macam-macam hanya karena seorang gadis!”

Sehun hanya menghela napas panjang lalu menegakkan tubuhnya. “Pergi menghindari pertunangan orangtuaku.”

Luhan terdiam sesaat dengan tatapan menilik, “Kau tidak akan macam-macam?”

Sehun bangkit berdiri, berjalan menuju kamar mandi dan hanya berdeham pelan, “Doakan saja.”

Ya! Oh Sehun!” Luhan ikut bangkit berdiri dan mengejar sobatnya, takut-takut lelaki itu serius dengan ucapannya. “Jangan main-main, hei! Jernihkan pikiranmu!”

Sehun tersenyum kecut melihat Luhan yang khawatir, namun ia hanya melepas genggaman tangan Luhan dari lengannya dan menepuk pundak lelaki bersurai emas kecokelatan itu dengan pelan. “Jangan tahan aku, sudah kebelet nih.”

“A-Apa—” matanya membulat tak mengerti, “Dasar sinting. Berjanji dulu padaku untuk tidak melakukan yang macam-macam!”

“Berisik.”

Ya!”

Pintu kamar mandi tertutup dari dalam, disusul dengan teriakan Sehun, “Terserah apa katamu, Noona cerewet.”

“A-Apa? Noona?!” Luhan menggebrak daun pintu dengan kesal dan mendengus, “Kurang ajar! Sudah bagus ada yang mempedulikanmu, hei!”

“Berisik.”

Luhan memutar bola matanya dengan jenuh lalu berbalik meninggalkan kamar mandi. Perkataan Sehun tadi masih terngiang di telinganya, seakan menghantui pikirannya dan justru malah menambah beban otaknya.

“Sialan lelaki itu—” Luhan mengumpat tertahan, “—sebegitu jauhnya ia mendefinisikan kata ‘pergi’.

***

Hanya untuk berjaga-jaga jika kau benar-benar tidak mau bicara denganku.

Jujur, aku tidak pandai menulis surat. Aku tidak pandai merangkai kata.-kata Aku juga tidak pandai menyampaikan perasaan. Tapi percayalah, aku benar-benar menyesal atas kejadian saat itu. Andai saja aku tidak memintamu untuk menemaniku mungkin malam itu tidak akan jadi berantakan. Ini kesalahanku, ok. Aku mengerti. Dan aku meminta maaf.

Semoga kau baik-baik saja. Cepat sembuh, Yunhee.

“Dari siapa?” Ibu bertanya sambil mengutak-atik ponselnya.

Yunhee melirik ibunya sekilas dan tersenyum tipis, “Tidak ada nama pengirim.”

“Tapi tentu kau tahu itu dari siapa, ‘kan?”

Dirinya terdiam selama beberapa saat dan menghela napas panjang. Tentu jelas, ia tahu siapa pengirimnya. Siapa lagi kalau bukan Oh Sehun? Yunhee menyenderkan tubuhnya ke tumpukan bantal dan memejamkan matanya.

Seharusnya bukan lelaki itu yang merasa menyesal. Seharusnya bukan lelaki itu yang meminta maaf.

Yunhee meremas kertas di tangannya dan melemparnya ke sudut ruangan. “Persetan.”

“Dari Sehun?”

Tepat sasaran.

Yunhee memalingkan wajahnya tak peduli.

“Dia bilang apa?”

“Sesuatu yang tidak penting.”

Ibu memicingkan matanya dan berujar sangsi, “Yakin? Harus berapa kali kukatakan bahwa matamu tak pernah berbohong?”

Yunhee terdiam dan masih kerasan memandang keluar jendela. Matanya terarah kepada salah satu bintang yang bersinar paling cerah malam itu. Saat itu juga, Yunhee menundukkan wajahnya dan meremas tangannya.

“Aku harus bicara dengannya. Secepatnya.”

***

Esok harinya Sehun bangun dengan tubuh sakit-sakit. Mungkin karena tertidur di sofa. Ia lantas bejalan menuju dapur, meraih botol mineral dan menegaknya hingga habis. Baru setelah itu ia berjalan menuju wastafel dan membasuh wajahnya secukupnya.

“Sudah bangun?” Luhan berjalan santai dengan pakaian tidurnya yang kedodoran. Celana abu-abunya sedikit kepanjangan, sedangkan baju v-neck berlengan panjangnya berhasil menenggelamkan telapak tangannya. Lelaki itu melangkah menyebrangi ruangan dan menghampiri Sehun yang sedang mengusap wajahnya dengan lap dapur.

“Dasar jorok. Itu ‘kan kain untuk mengelap piring.”

Sehun hanya memutar bola matanya tidak peduli dan melempar kain di tangannya ke wajah Luhan. “Kenapa tidak bilang dari tadi?”

“Cih, kau tidak tanya padaku lebih dulu.”

Lelaki itu langsung menghampiri stok penyimpanan roti tawar, mengambil mentega, dan langsung mengolesinya di atas.

“Kau tidak punya susu, Hyung?”

“Sudah kau habiskan semua.”

Sehun mendengus pelan dan menjatuhkan diri ke atas kursi. “Sepertinya aku—” tiba-tiba perhatiannya teralih pada ponselnya yang tiba-tiba berdering.

“Ada yang menelepon tuh,” ujar Luhan sambil menunjuk ponselnya yang diletakkan di atas meja dengan dagu.

“Aku juga tahu,” Sehun berdecih dan segera meraih ponselnya acuh tak acuh.

Ibu.

Sehun lantas memutar bola mata dan mendengus kesal.

“Siapa?”

“Si wanita tua itu.”

Luhan mengerutkan kening, “Ibumu?”

“Hm.” Sehun menimbang-nimbang sebentar, ragu dengan kabar yang mungkin akan disampaikan ibunya melalui panggilan. Namun setelah berdebat dengan batinnya, akhirnya Sehun menekan tombol panggil.

“Jangan bicara terlalu banyak,” ujar Sehun segera setelah melekapkan ponselnya ke telinga.

Ya, baiklah kalau itu yang kau mau,” suara ibunya terdengar di ujung, “Aku hanya ingin me—”

“Soal pertunangan?”

Ibunya berdeham.

“Aku sudah tahu.”

“Sudah tahu?”

“Besok, ‘kan?”

“Ya, kau benar.”

“Jangan mengharapkan restu dariku,” tukas Sehun langsung tanpa basa-basi, membuat Luhan langsung melirik dan melemparkan tatapan memperingati bahwa ucapannya sudah terlalu kasar.

Tapi apa pedulinya?

Sehun hanya mendengus.

“Jangan buang-buang waktuku, apalagi yang ingin kau bahas?”

“Kau harus datang, Sehun.”

“Dasar gila. Siapa pula yang sudi?”

“Sehun-ah dengar, aku—”

“Aku sibuk. Sampai jumpa,” Sehun cepat-cepat memutus sambungan dan melempat ponselnya ke atas sofa. Tak peduli apa ponselnya akan hancur atau tidak; sebab emosinya kembali terpancing.

Oh yang benar saja, setelah berselingkuh, berani-beraninya ibu memintanya untuk datang ke pesta pertunangannya? Sehun mendengus tak percaya. “Dasar sinting,” tukasnya.

“Apa katanya, Hun?”

“Dia bilang aku harus datang. Kubilang aku tidak mau.”

Luhan meletakkan teko kecil yang sedang dipakainya untuk menuangkan teh hangat dan berbalik menatap Sehun. Sebelah tangannya yang bersandar di konter digunakan untuk menumpu tubuhnya. “Kenapa tidak datang saja?”

“Kau gila?”

“Hhh, bukan begitu, Hun. Tapi bagaimanapun juga dia ibumu, yang sudah melahirkanmu ke dunia.”

Sehun memutar bola matanya. “Kau bukan Yunhee,” ujarnya begitu mengingat gadis itu yang mengucapkan perkataan tersebut persis ketika mereka tengah mengunjungi rumahnya.

Tapi—sialan. Yunhee lagi, Yunhee lagi. Sehun mengacak rambutnya frustasi dan kembali menjatuhkan diri ke atas kursi meja makan.

“Apa menurutmu… aku dan dia benar-benar akan menjadi kakak-adik?” Sehun tiba-tiba melontarkan pertanyaannya kepada Luhan, masih dengan ekspresi datar tak terbaca. Namun Luhan yakin, Sehun tidak sedang bercanda. Ada sinar keseriusan yang terpancar dari kedua matanya.

“Aku tidak tahu—” Luhan berujar pelan, “—tapi takdir tidak mungkin salah menentukan skenarionya, Hun. Kalau kau memang sudah digariskan bersamanya, kenapa tidak?”

.

.

.

— TBC —

.

.

[a/n]: Ekhm, ekhm, mic test one, two, three? Halo! Apa kabar? Hehe, akhirnya bisa update cepet (cepet?!). Maksudku, seenggaknya gak delay sampe berbulan-bulan huahaha :”D Makasih buat kalian yang masih setia ngikutin sampe chapter ini ❤ Love you to the moon and back! 😀 Btw, aku masih bingung mau bikin side story tentang Jiae-Sehun atau gak, menurut kalian gimana? Terimakasih 🙂

contact me:

LINE: euntheana || @eun_ryi || euntheana@gmail.com

Selalu terbuka buat kalian yang mau cuap-cuap tentang oppars(?), gak usah malu-malu 😀 ((sekalian kalo mau minta password colek aja salah satu kontak di atas))

XOXO, eunike.

Iklan

113 respons untuk ‘Everything Has Changed (Chapter 15)

  1. oh iya penyakitnya yunhee apa hanya itu caranya? Huhuhu. Semoga yunhee masih bisa bertahaan. Hanna suka jongin.jongin ga suka hanaa? Jadi mereka gimana kok aku bertanya2 yaak? Ahaha. Sehun maah bawa perasaan kayanya. Kali aja emang lagi pengen sendiri dulu yunhee nya makanya bersikap gitu. Mungkin mashi shock liat sehun jiae. Dan apa bner ibunya tunangan sama bpknya yunhee iya kaaah? Huaaaaa

  2. Jadi Sehun salah mengartikan nih maksud Yunhee nyuruh dia keluar tadi? Kenapa dia mikir sampe sejauh banget gitu sih yaampun mas ganteng bener-bener deh kamu. Dan disini Yunhee yang duluan sadar ya? Oke cepet selesaiin salah paham antara Sehun sama Yunhee ya aku mau liat mereka alur lagi mereka itu cocok abis

  3. ngoek sehun emang labil ya… klo pas sikap nya dingin aja nakutin.. eh pas galau rasanya melankolis sekali… hanna kau ego sekali nak… sebenernya hati yunhee itu buat siapa? kai atau sehun? ditunggu konflik2 yg lebih wow lagi

  4. Baru sempet baca lagi ff ini.. 😀 sehun bilang”berisik” terus,, tpi kasihan juga ternyata dia sakit hati gara-gara kata”nya Yun Hee… Makin seru banget thor.. Daebak

  5. Ya Allah kangen bgt sama ff ini:’3
    Aku mau berdoa. Pertama semoga yunhee cepet sembuh deh.. tp kalo transplantasi jantung berarti hrs pake jantung siapa ya?;(
    Terus yg kedua semoga endingnya yunhee sm sehun aja, aku hunhee shipper huehehe:’3
    Dan jongin sm hanna aja, sumpah ga tega sm hanna:'(

  6. itu hanna sama sehun miris banget aduh :”) yg sabar yak kalian! wkwkwk yunhee sama sehun aja udah, jiae mah cuma angin lewat/? :v
    kata-katanya jong yang ini “Aku… benar-benar tidak bisa menerima perasaanmu, maaf.” itu nyesss banget weh, nusukkk/? :”v

  7. Besok yunhee ekhm mati ato ada yg transplantasi jantung? siapa eon? Enggak sabar, tp kembangin ceritanya sbanyak mungkin 😀 soalnya kalo udh abis jadi gak bisa baca lagi, emm bikin aja eon side storynya ^^ Ganbatte ya eonnn,

  8. sehun sama yunhee please/maksa/

    yunhee kelihatan suka sama sehun
    sehun kan udah jelas

    aaiih sehun mengerikan
    segitu bencinya kah sampe” ngomong kasar dan nggak peduli gitu

  9. sehun nyesek bgt disuruh pergii.. Haduuh kai hanna so sweet.. Kira2 sehun yunhee bakal jadi adik kaka or pasangan ya?? Next chap ya chingu

  10. waaaahhhh setelah sekian lama aku nungguin.. 😥 akhirnyaa..
    jdi penasaran nnti akhirnya *yunhee jongin* atau *yunhee sehun* 🙂
    ahh ditunggu deh lanjutanny, *jgn lama2
    happy ending yah thor.. :-*

  11. hmm.. sehun nya galau tingkat dewa tuh.. kasian juga.. tapi lucu tuh pas HunHan lagi cekcok melulu kkk~. sebener nya kai sama hanna tuh ngalamin hal yg sama… iya gak sih(?).. duh.. semoga semua nya akan baik baik aja…… dan ditunggu ya eon, chapter selanjut nya… 😉

  12. yaampun greget sama hanna. he to the llooooo hello hello mbakeeee over bgt, udh tau jongin suka sama yunhee tetep aje maksa-_-
    oseha ya ampun ngedeksripsiin kata pergi aja sampe sejauh itu, jdinya salah paham kan kan kan u.u entah berapa kli di sini oseha ngomong ‘bersik’, bnyak ngedh wkwk.
    eii suka tuh sama kata2nya luhan yg terakhir, gue setuju hahah. konfliknya makin rumit, dan makin kerasa tsaaahhh/? di tungu chapter selanjutnya yoyoyo. mangat!!

    1. hahaha iyaa tuh the power of galau sampe ngedeskripsiin ‘jauh’ aja sampe kayak gitu :”) wkwkwk makasih yaa udah bersedia bacaaa 😀 mangats jugaa buat kamuuu!

  13. Hayo? Ini sih Sehun nya yg salah paham mah :’3 == definisi ‘keluar’ nya jauh amat sampai antartika sono (?)
    Huhuhu… Moga deh Sehun sma Yunhee baikan lgi T.T kangen sma moment” merekaaa 😦
    Aish jinjja, benar” kesal gua sma orng yg jdi emak nya sehun disini -_-
    Lanjut ne eon… Fighting!! 😀

  14. Aaaaa… aku baru baca part inii 😦 seperti biasa aku suka kalo sehun sama luhan udah bercekcok lucuuuu haha.. jadi yunhee bakal meet up sama sehun kah? Ayolahh sehun yunhee jangan jadi adik kakak 😦

  15. akhirnya dilanjut juga kkkkkkkk~ perang hati konflik batin nih (?) haha ditunggu next chapnya 😀 kepo sama yg bakal donor jantungnya–“

  16. Sedih bgt jadi sehun… 😥 yunhee kasian tuh sehun 😦 dijenguk malah marah kan kasian sehun 😦 btw GWS yunhee semoga cepet sembuh,si jongin sama hanna brantem pula,sudah sudah jangan berteman 😀 next chap ditunggu thor 😉 keep writing^^

  17. akhirnya keluarjuga setelah menunggu gatau kenapa aku masih setia sama ff ini karna ff ini ngga bikin bosen keren banget malah jadi aku tambah suka deh

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s